ANALISIS SENJANG PENAWARAN DAN PERMINTAAN .Analisis Senjang Penawaran dan Permintaan Jagung Pakan...

download ANALISIS SENJANG PENAWARAN DAN PERMINTAAN .Analisis Senjang Penawaran dan Permintaan Jagung Pakan dengan Pendekatan Sinkronisasi Sentra Produksi, Pabrik Pakan dan Populasi Ternak di

of 11

  • date post

    05-Feb-2018
  • Category

    Documents

  • view

    219
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of ANALISIS SENJANG PENAWARAN DAN PERMINTAAN .Analisis Senjang Penawaran dan Permintaan Jagung Pakan...

  • Analisis Senjang Penawaran dan Permintaan Jagung Pakan dengan Pendekatan Sinkronisasi Sentra Produksi, Pabrik Pakandan Populasi Ternak di Indonesia

    (Dewa K.S. Swastika, Adang Agustian dan Tahlim Sudaryanto)

    65

    ANALISIS SENJANG PENAWARAN DAN PERMINTAAN JAGUNG PAKANDENGAN PENDEKATAN SINKRONISASI SENTRA PRODUKSI, PABRIK PAKAN,

    DAN POPULASI TERNAK DI INDONESIA

    Dewa K.S. Swastika1 , Adang Agustian1 dan Tahlim Sudaryanto 2

    1 Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Jl. Ahmad Yani No. 70 Bogor 161612 Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Kerjasama Internasional, Jl. Harsono RM. No. 3, Ragunan-Jakarta 12550

    e-mail: pse@litbang.deptan.go.id

    (Makalah diterima, 9 Juni 2011 Revisi, Desember 2011)

    ABSTRAK

    Kebutuhan jagung untuk industri pakan tiap tahun terusmeningkat sejalan dengan perkembangan industri peternakan.Permasalahnnya adalah adanya ketidak-sinkronan antarapermintaan dan penawaran jagung untuk pakan. Pabrik pakansering mengeluh sulit memperoleh jagung, namun petani jugasering mengeluh sulit menjual jagung. Kondisi ini mendorongpenulis untuk mengkaji senjang penawaran dan permintaanjagung pakan dengan pendekatan sinkronisasi sentra produksi,pabrik pakan dan populasi ternak. Hasil analisis menunjukkanbahwa: (1) dari 10 provinsi sentra produksi jagung, 7 provinsidiantaranya merupakan sentra pabrik pakan; (2) kebutuhanjagung untuk pakan pabrikan 36,28% lebih tinggi daripendekatan populasi; dan (3) Pada tahun 2020, proyeksipermintaan jagung untuk pabrik pakan 28,52% diatas proyeksikebutuhan berdasarkan populasi ternak. Jika produksi pakanpabrikan disesuaikan dengan populasi ternak, maka kebutuhanjagung untuk bahan baku pakan jauh lebih kecil. Ada inidikasibahwa orientasi pabrik pakan saat ini tidak hanya untukpemenuhan kebutuhan pakan dalam negeri, tetapi juga untukekspor. Dengan sumberdaya yang terbatas, terutama produksijagung dalam negeri, maka sebaiknya pabrik pakanmemfokuskan produksi pakan konsentrat untuk kebutuhandalam negeri, sehingga tidak mengganggu perkembanganindustri peternakan dalam negeri.

    Kata kunci: Penawaran, Permintaan, Jagung Pakan, Pabrik Pakan,Populasi Ternak.

    ABSTRACT

    Gap analysis of supply and demand of corn forage productionapproach sync center, feed plant, animal and

    population in Indonesia

    The demand for feed maize continues to increase each year inline with the development of livestock industry. Feed millsoften complain of difficulties in getting maize, but farmers alsooften complain of difficulties to sell their maize. This promptedthe authors to assess the gap of supply and demand for feedmaize by synchronization approach to production centers, feedmills, and livestock population. The results showed that: (1) outof 10 provinces of maize production centers, 7 of which are thecenters of feed mills (2) the demand for maize for manufacturedfeed in 2010 is 36.28% above the demand base on livestockpopulation, and (3) in 2020, the demand for maize formanufactured feed is projected to be 28.52% above that of usingpopulation approach. If the production of manufactured feed

    is adjusted to meet only the existing livestock, the need for feedmaize is much smaller. There is an indication that theorientation of the feed mills is not only to meet domesticdemand, but also for export. With the limited resources,especially domestic maize production, the manufactured feedshould be focused to meet the domestic demand for feed, so thatwould not interfere the development of domestic livestockindustry.

    Key Words: Supply, Demand, Feed Maize, Feed Mills, LivestockPopulation.

    PENDAHULUAN

    Jagung merupakan komponen terpenting pakanpabrikan di dunia, terutama di daerah tropis. DiIndonesia, sekitar 51 persen komponen pakanpabrikan (terutama pakan komplit) adalah jagung.Kandungan energi, protein dan gizi lain pada jagungsangat sesuai untuk kebutuhan ternak, terutamauntuk unggas dan babi. Berbagai upaya untukmenggantikan jagung dengan bahan pakan lain diIndonesia belum berhasil. Kedelai segar, selain mahaljuga tidak dapat digunakan langsung sebagaikomponen pakan, kecuali dalam bentuk bungkilkedelai yang merupakan hasil sampingan pabrikminyak kedelai dan seluruhnya masih diimpor.Ubikayu, meskipun berlimpah, masih memerlukanpengolahan antara, sebelum digunakan sebagai bahancampuran pakan pabrikan. Gaplek (ubikayu kering)mempunyai kandungan protein rendah, sehinggamasih memerlukan tambahan sumber protein agardapat memenuhi kebutuhan ternak. Sorgum adalahsatu-satunya bahan pakan yang mempunyaikandungan gizi hampir sama dengan jagung, namunketersediaannya di Indonesia sangat terbatas(Tangendjaja, et al. 2003).

    Kebutuhan jagung untuk industri pakan tiap tahunterus meningkat secara signifikan sejalan denganpesatnya perkembangan industri peternakan (Rachman,2003). Zubachtirodin, et.al (2007) mengungkapkanselama periode 2001-2006, kebutuhan jagung untukbahan industri pakan ternak, makanan, dan minuman

  • Informatika Pertanian, Vol. 20 No.2, Desember 2011 : 65 - 75

    66

    terus meningkat sekitar 10 sampai 15 persen per tahun.Data FAO menunjukkan bahwa total kebutuhan jagungdi Indonesia tahun 2007 sebesar 13,98 juta ton. Daritotal tersebut, sebesar 4,20 juta ton atau sekitar 30persen digunakan untuk pakan (FAO. 2010b).

    Di negara-negara berkembang, telah terjadipeningkatan permintaan terhadap pangan yang berasaldari produk ternak. Hal ini merupakan dampak daripeningkatan pendapatan per kapita dan pengetahuanmasyarakat tentang gizi, sehingga terjadi perubahanpola makanan (Hutabarat, 2003). Peningkatanpermintaan terhadap pangan asal ternak telahmenyebabkan usaha peternakan meningkat pesat. Halini tercermin dari pertumbuhan produksi ternak. Sebagaicontoh, daging unggas, telur, susu dan daging babimeningkat masing-masing: 7,3 persen, 8,5 persen, 2,3persen, dan 5,4 persen per tahun selama periode 2000-2007 (FAO, 2010a).

    Selama periode 2000-2007, konsumsi daging unggasdan telur meningkat masing-masing 7,1 persen dan 8,5persen per tahun. Konsumsi susu dan daging babi jugameningkat masing-masing 5,9 persen dan 5,4 persen pertahun (FAO, 2010a).

    Perkembangan industri peternakan berdampak padaperkembangan permintaan terhadap pakan (utamanyapakan pabrikan). Jenis ternak yang banyakmengkonsumsi pakan pabrikan adalah ayam ras, babi,dan sapi perah (Kasryno, 2003; Swastika, 2005). DataDirektorat Jendral Peternakan menunjukkan bahwaproduksi pakan pabrikan selama periode 2004-2008meningkat rata-rata 8,1 persen per tahun (DitjenPeternakan, 2010a).

    Produksi jagung selama periode 1970-2000 meningkatrata-rata 4,07 persen per tahun dan Indonesia mampuberswasembada jagung sebelum 1976, selama 1983-1984, dan tahun 2008 (Swastika, 2002; Swastika, 2010).Selama dekade terakhir (2000-2009), pertumbuhanproduksi cukup tinggi, yaitu rata-rata 7,03 persen pertahun (BPS, 2010). Namun demikian, produksi dalamnegeri belum mampu memenuhi kebutuhan, sehinggamasih diperlukan impor. Puncak impor mencapai 1,83juta ton pada tahun 2006 (FAO, 2010b).

    Masih rendahnya produksi jagung disebabkan olehproduktivitas jagung nasional yang masih rendah yaitusekitar 4,23 ton/ha (BPS, 2010). Padahal potensiproduktivitas jagung hibrida berkisar antara 7-12 ton perhektar (Puslitbangtan, 2009). Produktivitas jagungyang rendah secara nasional sejalan dengan hasilpenelitian Bachtiar, et.al (2007) yang mengungkapkanbahwa pada beberapa sentra produksi jagung seperti diSulawesi Selatan, Lampung, Sumatera Utara dan JawaTimur masih banyak petani yang menanam varietas lokaldan varietas unggul lama yang benihnya belum

    diperbaharui. Permasalahan dalam penyebaran benihbermutu adalah ketidak tersediaan benih di tingkatpetani sesuai waktu tanam, dan harga benih unggulbermutu yang mahal. Masalah yang paling mendasarialah tidak adanya sinkronisasi antara permintaan danpenawaran jagung untuk pakan dalam negeri. Pabrikpakan sering mengeluh sulit memperoleh jagung daridalam negeri, sebaliknya petani juga mengeluh sulitmemasarkan jagung pada harga yang memadai.

    Berdasarkan masalah-masalah di atas, studi inibertujuan untuk: (1) Mengkaji kesesuaian sebaransentra produksi jagung, pabrik pakan, dan populasiternak di Indonesia; (2) Menganalisis kebutuhan pakanpabrikan untuk ternak; (3) Menganalisis kebutuhanjagung untuk pakan pabrikan; dan (4) Menyusunalternatif kebijakan dalam upaya memenuhi kebutuhanjagung untuk pakan.

    METODOLOGI

    Kerangka Pemikiran

    Sejalan dengan perkembangan industri peternakandan industri pakan yang pesat, Indonesia harusmeningkatkan prioritas peningkatan produksi jagung.Pemenuhan kebutuhan jagung yang mengandalkanimpor akan berisiko menghambat indutri peternakandan pakan dalam negeri. Sebab sebagian besarproduksi jagung dikonsumsi oleh negaraprodusennya. Hanya sekitar 12-14 persen produksijagung dipasarkan di pasar dunia (Pasandaran danKasryno, 2003; Kasryno, 2003). Masalah mendasarpemasaran jagung yang sering muncul ke permukaanadalah kesenjangan antara permintaan danpenawaran. Di satu sisi, petani sulit memasarkanjagung dengan harga yang layak, di sisi lain pabrikpakan sering kesulitan memperoleh jagung dari dalamnegeri, sehingga harus mengimpor.

    Gambar 1. Diagram sinkroniasi kebutuhan jagung untuk pakanberdasarkan produksi pakan dan populasi ternak

  • Analisis Senjang Penawaran dan Permintaan Jagung Pakan dengan Pendekatan Sinkronisasi Sentra Produksi, Pabrik Pakandan Populasi Ternak di Indonesia

    (Dewa K.S. Swastika, Adang Agustian dan Tahlim Sudaryanto)

    67

    Gambar 1 adalah kerangka pikir sinkronisasi produksipakan oleh pabrik pakan dengan kebutuhan pakanberdasarkan populasi ternak yang menggunakan jagungsebagai bahan baku utama pakan. Sinkronisasi antarakebutuhan jagung untuk pakan berdasarkan produksipakan (diberi simbol D1) dengan kebutuhan jagunguntuk pakan dapat diketahui berdasarkan populasiternak (D2).

    Dari diagram sinkro