7a_Kegawatan muskuloskeletal

download 7a_Kegawatan muskuloskeletal

If you can't read please download the document

  • date post

    07-Aug-2015
  • Category

    Documents

  • view

    54
  • download

    4

Embed Size (px)

Transcript of 7a_Kegawatan muskuloskeletal

KEGAWATAN MUSKULOSKELETALROHMAN AZZAM, SPd., M.Kep., SpKMB., Ns

4 major problems of bone injury

Perdarahan Instabilitas tulang & sendi

Cedera jaringan lunak Amputasi

Instabilitas Tulang dan Sendi:Fraktur Dislokasi-Subluksasi

Fraktur

Introduction (1) Penyebab tersering ke-2 keterbatasan aktivitas di US, 33% dewasa Cedera krn kecelakaan > 58 jt/th, penyebab tersering ke4 kematian semua usia Trauma penyebab kematian di US antara usia 1-37th Tiap 6 mnt meninggal akibat trauma di US

(Maher, Salmond, & Pellino, 2002)

Type of fractures Klasifikasi dg berbagai cara Fr. Tertutup vs Fr. Terbuka Fr. Komplit vs Fr. Inkomplit Fr. Oblique Fr. Spiral Fr. Greenstick dll

LeMone & Burke, 2000

ClassificationTrauma Jaringan Lunak pd Fraktur Terbuka menurut Gustilo-Anderson

I. Luka < 1 cm II. Luka 1 10 cm III. Luka > 10 cm, tdd:IIIA: Soft tissue coverage IIIB: Bone exposed IIIC: Neurovascular injury

ClassificationTrauma Jaringan Lunak pd Fraktur Terbuka menurut Gustilo-Anderson

Tipe I

Deskripsi Luka 1cm (1-10 cm) Kontaminasi ringan Kerusakan jaringan lunak luas Crushing minimal-sedang Tidak ada flap, avulsion Pola fraktur lebih kompleksLuka dan kerusakan jaringan lunak lebih luas, meliputi otot, kulit dan seringkali struktur neurovaskuler Instability Kontaminasi tinggi Tdd 3 tipe: IIIA Luka >10 cm Good soft tissue coverage Severe contamination and severe crushing component. Luka >10 cm Expose bone fragment; extensive stripping of periosteum Severe contamination and severe loss of tissues Wound larger than 10 cm Severe contamination and neurovascular injury (including arterial)

III:

IIIB

IIIC

Fraktur femur 1/3 tengah terbuka grade IIIB

Derajat III B

Derajat III C

11

Fracture site and potential blood lossFracture site Potential blood loss (Liter) Humerus 1.0-2.0 Elbow Forearm Pelvis Hip Femur Knee 0.5-1.5 0.5-1.0 1.5-4.5 1.5-2.5 1.0-2.0 1.0-1.5

Tibia Ankle Spine/ribs

0.5-1.5 0.5-1.5 1.0-3.0

Manifestasi Klinik Fraktur Deformitasposisi abn tulang akibat fr & tarikan otot Swellingedema, krn cairan serosa & bleeding lokal Pain/tendernessspasme otot, trauma langsung jaringan, nervepressure, gerakan patahan tulang.

Numbnesskerusakan saraf Guardingnyeri Crepitusadanya udara yg terperangkap; gesekan fragmen tulang. Hypovolemic shockblood loss Muscle spasmskontraksi otot yg terdekat dg fr. Echymosisekstravasasi darah di subkutanLeMone & Burke, 2000

Komplikasi Fraktur Compartement syndrome Shock Fat embolism Deep vein thrombosis Infection Necrosis Delayed union Reflex sypathetic dystrophy

Assessment

Mekanisme Injuri Apa yg terjadi sebelum, selama dan setelah insiden (dapat ditanyakan pada orang yg berada disekitar klien/kejadian, pada keluarga atau klien). Jika kecelakaan melibtkan mobil, seberapa besar kerusakan ditimbulkan oleh mobil? adakah tanda tergelincir di jalan? Untuk luka tikam, seberapa besar ukuran pisau? Semua informasi ini penting utk memahami cedera pasien.

Primary Assessment Pengkajian primer (ABC) ditujukan pada kondisi yg mengancam hidup (termasuk perdarahan). Airway: bebas ?? Breathing: spontan? sesak?, RR?, penggunaan otot bantu? bunyi napas? Circulation: perdarahan? Nadi? TD?, CRT, pucat?

Jika tdk ada kondisi yg mengancam hidup, lakukan pengkajian sekunder

Secondary Assessment Pembengkakan Laserasi Abrasi Hematoma Warna Pergerakan Deformitas Crepitus

Jika klien sadar, tanyakan sensai (nyeri), kaji status neurovascular ekstremitas dan otot yang terlibat (pulse, pergerakan, sensasi)

Kaji Perdarahan Arteri Perdarahan arterial diidentifikasi selama primari assessment dan di atasi setelah airway dan breathing distabilkan. Semua tipe perdarahan biasanya mudah dikenali, tetapi kadangkadang susah diketahui jika pasien mengunakan pakaian gelap atau dibagian yg tersembunyi. Untuk itu semua pakaian harus dilepas. Perhatikan pembengkakan yang terus meningkat pada bagian ekstremitasmengindikasikan perdarahan arteri internal Estimasi kehilangan darah (kadang susah dilakukan terutama (a) jika warna pakaian gelap, (b) terabsorbsi melalui permukaan bawah saat pasien berbaring, (c) larut oleh air atau hujan Lakukan pengkajian cepat potensi kehilangan darah melalui ekstremitasyang trauma. Ini penting untuk menilai penurunan perfusi dan terjadinya shock.

Kaji fr. terbuka dan tertutup Fr terbuka: Mudah dikenali Kaji perdarahan Kaji ujung-ujung fragment tulang Kaji pulse, pergerakan, sensasi dan warna

Fr tertutup: Pembengkakan Hematoma Kaji pulse, pergerakan, sensasi dan warna

Lab & Diagnostic Tes Diagnosis frkajian riwayat, bisanyadikonfirmasi dg radiografi Test: X-rayAP & lateral view Bone scan Blood test Urine myglobin

Pd kasus fr. terbuka beratlab tesdiperlukanLeMone & Burke, 2000

Diagnosa1. Nyeri 2. Defisit volume cairan 3. Gg mobilitas fisik 4. Risiko infeksi 5. Risiko kerusakan perfusi jaringan 6. Risiko perubahan persepsi/sensori: tactile

Management Injury Ekstremitas

Prioritas yg harus dipertimbangkan dlm managemen trauma ekstremitasI. Menagement kondisi yg mengancam jiwa II. Menagement kondisi yg mengancam anggota gerak III. Menagement semua kondisi lain (jika waktu memungkinkan)

Jika ada perdarahan, atasi perdarahan dan lakukan management shock dan segera transportasi ke RS terdekat Managemen utk suspek fraktur: Bertujuan: Hentikan perdarahan dan atasi shock Immobilisasi ekstremitas cedera Reevaluasi setelah di immobilisasi

Perdarahan

Perdarahan Keluarnya darah dari pembuluh darah Kemampuan tubuh utk berrespon dan mengontrol robekan berkaitan dengan: Ukuran pembuluh darah Adanya faktor pembekuan Kemampuan pembuluh darah untuk spasme

Berpotensi shock (hipovolemic) Segera atasi/hentikan perdarahan

First aid: menghentikan perdarahan1. 2. 3. 4. 5. Balut tekan langsung Meninggikan bagian luka di atas jantung Penekanan pada titik-titik tertentu Kompres es Touniquet (controversial)

First aid: menghentikan perdarahan:a. Tekan langsung dg kasa steril b. Jika darah merembes (jangan diganti) tambahkan lagi kasa

First aid: menghentikan perdarahan:c. Jika perdarahan lebih berat, tinggikan bagian luka diatas jantung d. Jika perdarahan masih berlanjut, tambahkan kasa dan ikat agar menekan tempat luka

Cara Menghentikan Perdarahane. Jika penekanan langsung, meninggikan bagian luka dan balut tekan gagal, lakukan penekanan kuat pada suatu titik antara luka dan jantung. f. Dapat pula dikompres es dengan tekanan langsung.

Cara Menghentikan Perdarahang. Lakukan tourniquet Merupakan pilihan terakhir, jika tindakan di atas gagal Harus dilepaskan secara periodik utk mencegah kekurangan oksigen di jaringan tubuh h. Segera rujuk ke RS terdekat

33

Pemilihan treatmentTergantung pd : Tipe fraktur Lokasi fraktur Cedera lain

Dasar treatment Reduksi Immobilisasi

Treatment Jika ada perdarahan, atasi perdarahan Atasi nyeri. Awal diberikan narkotik im Antibiotiksbg profilaksis, terutama fr terbuka/kompleks Immobilisasi

Immobilisasi Immobilisasi: Bidai Traksi Gips Pembedahan Internal fixation (ORIF) External fixation (OREF)

Metode treatment Reduksi tertutup Reduksi terbuka Traksi Splinting Gips Fiksasi internal Fiksasi eksternal Brace Amputasi Kombinasi

Penatalaksanaan #

39

OREF

41

Dislokasi & subluksasi (1) Keduanya terjadi di dalam sendi Dislokasi: ujung-ujung tulang dlm sendi displace dan permukaan sendi hilang kontak Subluksasi: hanya sebagian dari permukaan sendi yang hilang kontak. Sering terjadi pada: Bahu/shoulder Siku Jari-jari tangan Knee Hip

Dislokasi

43

44

45

Dislokasi & subluksasi (2)Gejala dan tanda: Nyeri sendi Sendi tdk dpt digerakan/terbatas Kram otot Bengkak Deformitas sendi Ekimosis atau hematoma Pemendekan ekstremitas

47

48

Dislokasi & subluksasi (3)Intervensi: Splint sendi dan ekstremitas Beri anestesi/relaksan otot intra vena Relokasi/reduksi sendi Immobilisasi sendi: Bahusling Sikusling Pergelangan tangansplint, sling Jari-jarisplint Kneesplint

Arm sling

Sindrome Kompartemen (1) Salah satu komoplikasi fraktur Ekstremitas mengandung jaringan otot di dalam ruang tertutup yang dikelilingi oleh membran yang tidak dapat meregang. Trauma (crush injury, fraktur terbuka/ tertutup, atau kompresi) pada area ini dapat menyebabkan perdarahan dan pembengkakan dalam ruang tertutup. Bila tekanan > 30 atau 40 mm Hg Pembengkakan kemudian menekan pembuluh darah dan saraf. Terjadi pada hitungan jam sampai 6 hari post-injury Gejala awal: nyeri dan parestesia Harus dipikirkan diagnosis ini sebelum terjadi gejala lanjut. Gejala lanjut 5P: pain (nyeri), pallor (pucat), pulselessness (nadi tidak teraba), parestesia (baal), dan paralisis.

Sindrome Kompartemen (2)Intervensi: Elevasi ekstremitas tetapi TIDAK di atas level jantung Longgarkan balutan/bidai/gips Ukur tekanan kompartemen Siapkan pasien utk fasciotomy

AMPUTASI

Dislokasi terbuka sendi talokruralis

Penderita amputasi traumatis setinggi pergelangan tangan

Amputasi (1) Atasi perdarahan aktif Bilas stump dg cairan normal saline (NS) Tutup stump dg kasa steril yg dilembabkan NS dan tutup Tinggikan ekstremitas Berikan obat analgetik, ab, tt Rawat bagian tubuh yang terpotong: Kumpulkan bagian yang terpotong Bilas utk membuang kontaminasi Bungkus dg kasa steril kering atau kasa lembab NS Jangan mencucinya dg air karena dapat menyebabkan maserasi Tempatkan di dalam kantung plastik yang tertutup Masukan ke dalam kantung plastik yang berisi bagian tubuh yang terpotong tsb ke dalam es Tulis identitas pasien pada kantung tsb Transportasikan pasien dan bagian tubuh yang terpotong

Sling and Splinting

60

(1) Insert the splinted arm in the center of the sling (Figure 4-5).

(2) Bring the ends of the sling up and tie them at the side (or hollow) of the neck on the uninjured side (Figure 4-6).

(3) Twist and tuck the corner of the sling at the elbow (Figure 4-7)

b. Apply two belts, a sling, and a cravat to immobilize a fractured collarbone, as illustrated in Figure 4-24.

c. Apply a sling and a cravat to immobilize a fractured or dislocated shoulder, using the technique illustrated in Figure 425.

Spinal cord injury Pada injuri spinal perlu diimobilisasi utk mencegah paralisis seumur hidup atau bahkan kematian akibat cedera medula spinalis. Tempatkan pasien pada Long Spineboard, dengan cara Logroll.

Cedera Jaringan Lunak: Sprain and Strain

Pendahuluan Sprian dan strain merupakan cedera yang sering terjadi pada sistem musculoskeletal Dua kata tersebut sering dipergunakan secara tumpang tindih. Sesungguhnya ada perbedaan tipe cedera diantara keduanya.

Definition dan Gejala Sprian Sprain adalah cedera yang melibatkan peregangan atau robekan pada ligamen Ligamen adalah serat yang kuat, fleksibel yang menghubungkan tulang satu dengan tulang lainnya. Ketika suatu ligamentum mengalami tarikan terlalu jauh atau robek, sendi akan nyeri dan bengkak

Definition dan Gejala Sprian Kerusakan berat pada ligamen atau kapsul sendi dpt menyebabkan instabilitas sendi Gejala: nyeri, inflamasi, edema, kebiruan, dan pada beberapa kasus tidak dapat digerakan (lengan, kaki) Sprains terjadi ketika suatu sendi bergerak melebihi ROM normal, misalnya gerakan putar, melintir.

Tipe/Grade Sprain Tipe/Grade I Sparin ringan Sering pada sendi ankle Cedera inversi saat kaki rotasi ke dalam Peregangan ligaments minimal

Tipe/Grade II Sprain sedang Peregangan ligamen komplit

Tipe/Grade III Sprain berat Semua ligamen robek, dan sendi instabil

Definisi dan Gejala Strain Strains adalah cedera regangan atau robekan otot dan tendon Terjadi ketika regangan dan kontraksi otot mendadak (misalnya saat lari, melompat) Sering terjadi pada pelari mengenai otot hamstrings Gejala: nyeri, spasme otot, loss of strength, and limited rom. Strain kronik akibat stress berulang, dapat menimbulkan tendinitis. Contoh: pada area bahu pemain tennis

Tipe Strain Tipe/Grade I Strain ringan Regangan/robekan otot ringan

Tipe/Grade II Strain sedang Regangan/robekan otot parsial namun masih utuh

Tipe/Grade III Strain berat Regangan/robekan otot komplit Sendi instabil

Treatment

Treatment Penanganan Dini Cedera R I C E : rest : ice : compression : elevation

Ibuprofen Paracetamol (sejenisnya) Rehabilitasi (physical therapi)

Tujuan Physical Therapy Restore the ROM Reduce swelling, reduce pain Restore balance and co-ordination

Promote tissue healing Regain strength and flexibility

ANKLE SPRIAN REHABILITATION ROM exercise Initially, start by using a towel to gently pull the foot towards you. Repeat this several times a day, Later use calf muscle stretches against the wall.

Strengthening Initially start by pushing the foot outward against a wall. Hold for 3 seconds - repeat 20 times, several times a day. Later use an elastic band that is tied to a heavy object and move the foot outward against this.

Balance Initially, start by balancing on one foot - hold for as long as possible - repeat several times a day. Later a 'wobble' board can be used.Balance

Diskusi, RSAL, 2-6-12 Rina: diagnosa keperawatan Yeti: dx, risiko trauma

SekianWassalam