Arsip Koe...Arsip Koe

of 39/39
KEWARISAN DALAM PERSPEKTIF HAZAIRJN Abclul Ghonr Hamlcl Kata kunci: Waxis, Hukum Islam, Bilateral. Abstraksi Hazainn adalah salah seoEng ulama Indonesia yang hidup di abad ke-20 Masehi. ia sangai m€ngkrjtik sikap taqlid ulama. Di antara pemikiran Hazairin yang paling banyak disoroti adalah mengenai sistemkewarisan bilaieral, yang ia tuangkan dalamkaryanya Huk'n Kewarisdn Rilateral MeMrut AI'Qur'at dan Hadith, yang dilulisnya kerika bensia 52 tahun atau sekitar tahun 1958 M. Buku ini membicarakan tentang kritikan terhadap sistem pdl,"t/rrea1 yang telah melekat pada nasyarakat Arab, ataudengan kata lain juga mengkilik mazhab Suini yang dianut nayoritasmasyarakar Indonesia. Hazainn menyatakan bahwa sistem kemasyamkatan yangterkandung dalsmAlquran adalal sistemkemasyarakatan bilateral,dan karenanya sistemkewarisannya pun bercorakbilateral jusa. Dalam peneiiiian ini penulis nemaparkan beberapa pemikiran Haz airin tentang kewarisan Islamuntukditeliti dan dianalisis. Metode penelitian dalan karya ini adalah Studi Kep$t^k^ar'llibrury rcsarch. Dalampenelitian ini disajikan peNpektif Hazairin tentang konsep konsep kewarisan lslam yans benolak belakans densan Ulama pada umumnya. Kemudian isi dari pemikian Hazaidntersebut dianalisis. Di sarnping itu, karena masalah pokok yans akan dipecahlan adalah masalah penikiran, yang berupa konsep dan metodeijlihad, maka penulis menggunakan pendekatan ushul fiqh, yalni pemikiran Huairin dilihat dari pe.spektif ushul fiqh. Hasil dari penelitian ini: (l) bahwasistemkewaisan yang t€rkandung dalam Alquran adalah sistem kewansan bilateral; (2) menetapkan ahli waris penssanti dalam kewarisan; (3) menetapkan golonsan ahli waris kepada 3 (tisa) kelompok yaitu: AdwilJiu mdh, dzawil qarabahdan nawali; (4) dala'rAh3'l kalalah talah orang yang tidak berketunnan tanpa syarat tidak ada ayah. Penulis adalah rnahasiswa pasca sarjana IAIN Antasari Jnrusan Filsafat Islam konsentrasi FilsafatHukumIslam JunalStudiAgona danMaslarak4t, lroluhe 4, Nohat I Juni 2007 29
  • date post

    05-Mar-2021
  • Category

    Documents

  • view

    20
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Arsip Koe...Arsip Koe

  • KEWARISAN DALAM PERSPEKTIF HAZAIRJN

    Abclul Ghonr Hamlcl

    Kata kunci : Waxis, Hukum Islam, Bilateral.

    Abstraksi

    Hazainn adalah salah seoEng ulama Indonesia yang hidup di abad ke-20 Masehi. iasangai m€ngkrjtik sikap taqlid ulama. Di antara pemikiran Hazairin yang paling banyakdisoroti adalah mengenai sistem kewarisan bilaieral, yang ia tuangkan dalam karyanyaHuk'n Kewarisdn Rilateral MeMrut AI'Qur'at dan Hadith, yang dilulisnya kerikabensia 52 tahun atau sekitar tahun 1958 M. Buku ini membicarakan tentang kritikanterhadap sistem pdl,"t/rrea1 yang telah melekat pada nasyarakat Arab, atau dengan katalain juga mengkilik mazhab Suini yang dianut nayoritas masyarakar Indonesia.Hazainn menyatakan bahwa sistem kemasyamkatan yang terkandung dalsm Alquranadalal sistem kemasyarakatan bilateral, dan karenanya sistem kewarisannya punbercorak bilateral jusa. Dalam peneiiiian ini penulis nemaparkan beberapa pemikiranHaz airin tentang kewarisan Islam untuk diteliti dan dianalisis.

    Metode penelitian dalan karya ini adalah Studi Kep$t^k^ar'llibrury rcsarch.Dalam penelitian ini disajikan peNpektif Hazairin tentang konsep konsep kewarisanlslam yans benolak belakans densan Ulama pada umumnya. Kemudian isi daripemikian Hazaidn tersebut dianalisis. Di sarnping itu, karena masalah pokok yans akandipecahlan adalah masalah penikiran, yang berupa konsep dan metode ijlihad, makapenulis menggunakan pendekatan ushul fiqh, yalni pemikiran Huairin dilihat daripe.spektif ushul fiqh. Hasil dari penelitian ini: (l) bahwa sistem kewaisan yangt€rkandung dalam Alquran adalah sistem kewansan bilateral; (2) menetapkan ahli warispenssanti dalam kewarisan; (3) menetapkan golonsan ahli waris kepada 3 (tisa)kelompok yaitu: AdwilJiu mdh, dzawil qarabah dan nawali; (4) dala'rAh3'l kalalah talahorang yang tidak berketunnan tanpa syarat tidak ada ayah.

    Penulis adalah rnahasiswa pasca sarjana IAIN Antasari Jnrusan Filsafat Islam konsentrasiFilsafat Hukum Islam

    JunalStudiAgona dan Maslarak4t, lroluhe 4, Nohat I Juni 2007 29

  • Perkembangan penikiran di dalam hukurn Islam adalah merupakan hal yang wajar,karenahukumlslamitu sendiribersifatdinamis. Oleh sebab itu,kepada senuapih*per1urnenbuka cakaw r p€miknan mereka te*adap ide dan gagasan baru d€ngan semangltkeilmuan untuk dapat menyesuaikan dengan perubahan zaman dan keadaan.

    A. Pendahuluan1. LatarBelakang

    Hukum waris merupakan bagian dari hukum yang memegang peranansangat p€nting, dan merupakan salah satu peraturan yang berlaku dalammasyarakat Indonesia. Hal ini disebabkan hukum waris sangat berkaitan eratdengan kehidupan manusia dan setiap manusia pasti akan mengalami suatupedstiwa hukum, yaitu meninggal dunia. Apabila ada suatu peristiwameninggahya seseorang maka sekaligus menimbulkan akibat hukum, yaitutentang bagoimana mengurus dan melanjutkan hak-hak serta kewajibanseseorang yang meninggal dunia tersebut. Penyelesaian terhadap masalah itudiperlukan adanya hukum waris yang dapat memenuhi rasa keadilan bagisetiappihak.

    Hukum kewarisan yang merupakan bagian dari hukum keluargamemegang peranan yang sangat penting, bahkan menentukan danmencemrinkan sistem dan bentuk hukum yang berlaku dalam masyarakat itu.Hal ini disebabkan hukum kewarisan sangat erat kaitannya dengan ruanglingkup kehidupan manusia.r Sehin itu, hukum kewa san yang dianggapsebagai bagian tidak terpisahkan dari hukum keluarga mengalami pelbagaipembaharuan dalam implementasinya. Dalam pelbagai variasinya,pembaharuan hukum waris Islam di pelbagai negara muslim berbeda-bedatingkat dan bobotnya sejalan dengan tantangan perubahan yang terjadi didalam lcta nilai mauoun srukfur mcsvarakct. '

    ' M.Idrus Ramulya,,rlrl m Wais Islam,Jakana:hd Hill,I987,h.l.' Ku"sniati Rofiah, "Pernbaharuan Hukum Waris di Indonesia", ,raiogla, Vol. 3 No. I,

    Januari-Juni 2005, h. 42.

    30 Ju al Sturli AE trto dnh Ma{a'ola!. v^lunp 1. \lonor Ltuni 240-

  • Kevarisnh lulen Perspektil I!u.oiri

    Pada pertengahan abad XX M, di kalangan Islam terjadi gerakan-gerakan pembaharuan di beberapa negara Islam untuk rnenghidupkan kembaliijtihad dengan rnenyerukan kembali kepada Alquran dan Sunnah. Gerakan inidipelopori oleh pemimpin-pemimpin terkenal seperti: Taqiyuddin lbnTaimiyah, MuhammadbinAbdul Wahab, Jarnaluddinal-Afghani, MuhammadAbduh, Muhammad Iqbal, Ahmad Dahlan dan lain-lain.' Kemudianmuncullah ulama-ulama yang menpsun kitab-kitab fiqh mawaris dan kitab-kitab tafsir (yang memuatjuga penafsimn ayat-ayat kewarisan). Di lndonesiapun muncul beberapa ulama penprsun ilmu faraidh atau hukum kewarisan.Kttab-kitab faraidh tersebut banyak menyebar dan dipelajari di Indonesia.Namun jika dilihat isi dari kitab-kitab tersebut, terlihat bahwa dalam kitab-kitab tersebut kebanyakan para pengalangnya masih menampilkan penafsiransebagaimana penafsiran ahli-ahli fiqh abad II H dahulu, bahkan kadang-kadang hanya nrennrguhkan hasil penafsiran yang sudahjadi. Karena itu, fiqhmawaris yang berkembang di Indonesia tidakjauh berbcda dengan fiqh-fiqhmawaris yang dihasilkanberabad-abad yang lalu, yang masih banyak diwamaiadatbudayaArab.

    Melihat kenyataan ini, di Indonesia muncul seorang mujtahid yangmencoba merambahjalan memunculkan pemikiran lahimya mazhab fiqh yangsesuai dengan kepribadian lndonesia, yaitu seorang ahli hukum adat yangbemama Hazairin. Beberapa konsep pemikirannya masih dianggap sebagaihal yangasing bagi masyarakat Indonesia padaumumnya.

    Menurutnya, umat Islam Indonesia sudahwaktunya melakukan ijtihadmenuju pembentukan fiqh mazhab Indonesia sebagaimana oraog Mesirmenlusun fiqh sesuai dengan ke-Mesirannya, orang lrak dengan ke-lrakannyadan orang Arab dengan ke-Arabannya.' Hazairin berpendapat babwa negaraIndonesia yang berfalsafah Pancasiladan berkonstitusiUUD 1945 hanya akanmencapai kebahagiaan, adil dan makmur apabila mendapat keridhaan Tuhan

    ' Abdullahsiddiq,H,*,,- Wari\ Islam,Jakana:Widj^ya, 1984,h. I l-12.

    hrhol Stu.li A sana dan Metarakat, Volutre 4, Nonot I Jrtj2007 3 l

  • Yang Maha Esa. l)an itu akan bisa tenvujudjika hukum yang bcrlaku dan yangdiberlakukan di Indonesia adalah syari'at agama atau sckurang-kurangnyahukunr yang tidak bencnlangan dengan syari atagamalslrrn.'

    Kesan inilah yang mendorong llazairin untuk tampil rnenjadi seorangmujtahid, dengan bekal kenampuan dan pengetahuannya di bidang hukumadat dan hukum Islam. Ia mencoba mengemhkan segala kcmampuannya(benjtihad) untuk meiumuskan fiqh yang sesuai dcngan nasyarakatIndoncsia, khususnya mengenai hukum kewarisan lslam. Sangat menarikbahwa konsep-konsep hasil ijtihad llazairin mengenai kewarisan ini temyatamerupakan hal yang baru yang berbeda dengan konsep-konscp mayoritasulama fiqh lainnya.

    Konscp-konsep Ilazairin terscbut misalnya mengcnai konsep ahliwaris pcngganti, selain itu juga rnengenai golongan ahli waris, di manamayoritas ulama Sunni membagi golongan ahli waris kepada tiga kelompok,yaitu: dzau'il ./iridh, aslnbalt

  • KeMrisan dik'h Perspektif Ha.ai, n,

    3. Tujuan PenelitianBerdasarkan fokus masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah

    untuk mengkaji bagaimana konsep hukum kewarisan menurut Hazaiin yatgmempunyai perbedaan dengan mayoritas ulama pada umumnya seata untukmenemukan relevansi dari konsep hukum kewarisan Hazairin dengan kondisisaatrnr.

    4, Kajian PustakaBeberapa kajian sudah dilakukan untuk membahas pemikiran dan

    kiprahHazairin ulama kelahiran BukitTinggi,26 Nopember 1906 ini: MahsunFuad, dalam Hukum Islam Indonesia Dari Nalar Partisipaturis HitrygaEmansipatois mengkaji pemikiran tokoh-tokoh pcmikir hukum IslamIndonesia pada rentang wakhr 1970-2000, temasuk di dalamnya Hazairin.Fokus pengamatan adalah pada fenomena munculnya pemikiran pemikiranHazairin. scrta memerakcn dalam perspekrrf rrpologi. Dalam penelit ian inidisebutkan bahwa tema pemikiran Fiqh Mazhab Nasional yang digagas olehHazairin cenderung mengarah pada pola rekonstruksiinterpretatif responsisimpatis partisipatoris. Selain itu penelitian inijuga mengungkapkan settingsejarah sosial yang mempengaruhi konsep pemikiran Hazai n sertapemaparan asas bilateral yang dianut Hazairin. Dalam penelitian inidinyatakan bahwa asas bilateral yang digagas oleh Hazairin merupakan sebuahmetode hasil-hasil keilmuan kontemporer (khususnya antropologi) dalammenetapkan hukum-hukum fi qh (kewarisan).'

    Abdul Halim dalam Jurnal Penelitian Agama, Hazairin danPenikirannya tentang Pembaharuan Htkum Kekeluargaan dalam Islan,memfokuskan penelitian terhadap pandangan Hazairin tentang hukumkekeluargaan dalam lslam. Dalam penelitian ini diungkapkan mengcnai

    Mahsun Fu'arl, Hukun Islum lndonesia Dari Nalat Portisi?ato ! Hingga Emansipabri.t,Yogyakanai LKiS,2005, Cel.I, h. 10.Ibid., h.246.

    Jurnal Studi Agd'ra dah Masrarakat, Uolune 4. Nattot I Juri 2007

  • koDscp ll i latcral IIazairiD lDengcll0i kcrvarisan secara garis bcsnr saja, seflaaplikasi perrrikirai Hazairin dalarn hukum kekeluargaan nasional. '

    Peneiit ian lain tcntang llazairin adalah oleh Molrd. Idris Ranrulyodalarn Hukunr Perk$tin,n, lttkun Kcttarisan, ]lukunr Acuru Peradilan,tganu dtn Zakat, yang lebih urcnitik beratkan pada pe$andingan antorakonsep pcmikiran llazairin dengan ajaran Mazhab Syaf i, scbagai maz-habyang tclah lama dianut dan bcrkcmbang di Indoncsia. Dalan pcnclitian initerungkap bahwa menurutnya ijtihod llazairin akan dapat diterima sebagaisuatu hal yang meDdekati rasa keadilan hukum menuilt Alquran dan umatIslam di Indoncsia, lcbihjauh akan dapat diterima sebagai suatu surnbangsihdalam menetapkaD hukum kewarisan Nasional Indoncsia, setidak-tidaknyakhusus umat lslam.' '

    Knrya karya laifi tcnta]rg Ilazairin, adalah tulisan Iskandar Ritongadalarn Mimbai llukum. Ha:airlrr Gektr Pangeran Alantsyuh Harahap:Penbcla Hukun Islan l'ang Gigih. kajian ini lebih menekankan pada latarkehidupan Ilazairin sehingga mempcngarulri corak pemikirannya. Konseppcmikiran Ilazairin terutama dalam bidang kewarisan, |nenlang tcrdapatpcrbedaan dengan ulama pada umurnnya, namun ijtihad tcrscbut dilakukansetelah ia rrengumpulkan sumbcr-sumber kewarisan dariAlquran dan Hadis.Selain itu terungkap bal'rwa Ilazairin belajarlslam, dimana ayah dandatuknyamerupakan guru langsung baginya. Dernikian pula peranan ibunya sangatdominan dalalr membentuk watak dan karakter dirinya." Di samping ituDamrah Khair dalam Analisis, Hrkanr Keu arisan Islant di Inclonesid SuatuKaj ian Pemikiran l/azdir-il?, memfokuskan penelitiannya pada pgndckatanyaug dipergunakan Ilazairin dalam mcp.ujudkan hukum kewarisan lslam di

    " Ab,jtrll/,/ltn, 'llazainn dnn Pemikionnya lenrang Pembaharuan Hukun Kckeluargran4^iatn lsli\m". P cn el i t ia n Jr,'dl/gar,.r, No. l 8 Th. vll, 1 993, h. l 19.

    " Mohd. ldris Rdmulyo.,ryr*u Pt*a\\'inn , Huk|tn Kewisan, H&u lltum l!rudildnAgann .lat Zukat . laktfl]: S inrr Cralika, 2004, C€l. I tI, h. 108.

    ' lskandar Ritoliga, Hazairin Geldr Pang€nn Alamsyah ttarahlpr Pernbela llukum IslamYang Gigih",lv{inbar}I!t,n, Vol. 2 No. l, Juli I999, h.66.

    31 .rmul SntdiAgauo dor lt4osi'arakdt. hlrN 4. N.Dtot I Jui 2047

  • Kd risan ddlah Pe'tpektifHazaitut

    lndonesia se.ta faktor-faktor yang mempengaruhi Hazairin menggunakanpendekatan (metode) bilateral dalam mewujudkan hukum kewarisan Islam dilndon€sia. Selain itu, penelitian ini juga untuk membuat estimasikemungkinan penelitian Hazairin dapat diberlakukan bagimasyarakat Islam diIndonesia.' '

    Dari penelitian-penelitian di atas, penulis mengambil sudut lain dalampenelitian te.hadap konsep pemikiran Hazairin ini, yaitu lebih menitikberatkan pada konsep-konsep pemikiran llazairin dalam bidang kewarisanIslam. Di mana penelitian ini mendeskripsikan mengenai konsep sistemkewarisan bilateral, alrli waris pengganti, penggunaan rstilah dzawil furfidh,dzawil tlardbah dan ,raydli sebagai kelompok ahli waris, serta pemaknaanistilah kaldlah. Di mana konsep-konsep tersebut terdapat perbedaan denganulama pada umumnya. Selain itu penulis juga memfokuskan pada rclevansipemikiran Hazainn terhadap kondrsr saat Inl.

    5, Metode PenelitianDalam penelitian ini penulis menggunakan merode libratT research,

    yaitu penelitian yang dilakukan melalui bahan-bahan pustaka atau literatur-literatur kepustakaan sebagai sumber tertulis, dengan teknik pengumpulandata mengadakan penelaahan terhadap referensi-referensi yang relevan danberhubungan dengan permasalahan yang akan diteliti.''

    Referensi-referensi kepustakaan di atas dibagi menjadi tiga bagianyaiq bahanhukum primer, bahan hukum sekunderdan bahan hukum tertier,''Bahan hukum prirner meliputi karya yang lahir dari pemikiran Hazairin, yaituHukum Kewarisan Bilateral Menurut Al-Qur'an dan /{adlt}. Selain bahan

    'DamrahKhait"HukumK€warisanlslandi lndonesiaSuatuKaj ianPemikiranHazair in",

    dalarn,4narrlj. No. 44Th. X. 2002. h. 87.'' Lihat Bambang Sunggono, Metodologt Penelitian Hllitrn, Jakana: Raj, Crafindo Persada,

    1998, h. ll,f-117. Lihatjuga SuharsimiArikunto, Manatenen Penelitia . Jak3'rta: Ri'rekaCipta, t99o,h.8l-84.

    - tbid.

    JundlStud, Agana.laa MaslaHkot ttolufle a \ontdr I J rt 2A0'

  • AbdulGhoni Hamid

    hukum primer tersebut, sebagai bahan pendukung, penulis menggunakanbahan hukum sekunder dan tertier. Bahan hukum sekunder yaitu karya-karyaatau teori-teori yang membahas bahan hukum primer, Alquran, buku fiqh,tafsir dan pemikiran para cendekiawan dan agamawan. Sedangkan bahanhukum tertier yaitu hal-hal yang mendukung bahan hu|-um primer dansekunder seperti, kamus-kamus, ensiklopedi dan sebagainya.''

    B. Riwayat Hidup Hazairin1. LatarBelakangKeluargadan Sosial

    Di kalangan sarjana hukum di Indonesia, Hazaiin, bukanlah tokohyang asing. Ia seorang tokoh pembangun semangat baru bagi pembaharuanhukum di Indonesia, k:hususnya hukum Islam.'" Dia termasuk salah seorangpakar yang mempunyai kelebihan yang luar biasa. Pada dirinya melekat duakeahlian, yaitu pakar l{ukum Adat sekaligus pakar Hukum Islam. Keduakeahlran rni berjalan seiring dan sama-sama menonJol.l

    Hazairin dilahirkan di Bukittinggi,28 Nopember 1906, dan meninggalpada tanggal 12 Desember 1975. Nama lengkapnya adalah Hazairin GelarPangeran Alamsyah Harahap.'" Ayahnya, ZakariaBahari, adalah seorang guruyang berasal dari Bengkulu, sedangkan ibunya berdarah Minang. Kakeknya,Alrmad Bakar, seorang muballigh terkenal di masa itu. Hazairin adalah putasemata wayang di tengahtengah kehidupan keluarga orang tuanya. Sebagaiputa satu-satunya, tentunya Hazairin sangat disayang dan dimanja. Meskipundemikian, dia tetap digembleng sedemikian rupa. Ayah dan kakeknyamerupakan guru langsung baginya, demikian pula peranan ibunya sangatdominan dalam membentuk watak dan karakter di nva.'' Hazairin adalah'' .artd Lihat juga Soedor.o Soeka'tIo, Penelitian Hut ,z No,'7uaril Jakarta: CV Rajawali,

    1990,h.14-15.'' Abdullldlm, "Hazairin dan, h. 128.'' Iskandar tutonga, "Hukum Kewarisan, h. 65.^ TIM, EnsiHopedi Naiional Ihdonesia,lakana Delta panungkas, 1997, Jilid VI, h. 374.'' Iskandar Ritonsa, "Hukum Kewarisan", h. 66.

    36 Jtrhal Stutli Asona doa Masyolakat, lloluhe I, Nonar I Juni 2A07

  • K.wD isan daldn PenDeki|Hazairik

    suami dari Aminah,:o dari perkawinannya dengan Aminah itu, merekamempercleh 13 orang anak, yaitu Asmara Dewi, Nurlela Cindarwati, AbdulHakim, Saladin, Chaerati, Chaerani, Zulkarnain, Hermaini, Zulkifli (alm.),Zulfikat Puspa Juwita, Zainul Harmain dan Soraya Farida.

    Sepeni halnya H asbi ash-Shiddieqy { I 904- l9?5 I salah seorangpakarhukum Islam lainnya yang hidup semasa dengamya, Hazaiin juga tampilmen),uarakar perlunya dibentuk Mazhab Nasional bagi umatlslam Indonesia.Mazhab ini kemudian, setelah mengalami beberapa pertimbangan, iamenyebutnya menjadi Mazhab Indonesia."

    Munculnya ide akan fiqh mazhab Nasional tersebut, di antannyadilatarbelakangi adanya fenomena saat itu oleh Belanda untuk mengeliminasiperkembangan legislasi dan legilisasi hukum di Indonesia. Melalui ide yangdikemas dalam konsep Het IndicheAdatrechtdengan tokoh intelektualnya vanVollenhoven (1874-1933) dan Snouck Hurgronje (1857-1936), yangkemudian dikenal delrgat teoti Receptie", pemerintah kemudian melakukanupaya penyempitan terhadap keberlakuan huL-um Islam.

    Aminah adalah gadis yang masih punya hubugan danh dengan Hazairin, yaitu anak A.Gafir. Sedangkan ibunya adalah Rasida adalah wanita asal Minangkabau, anak dariMukmin. firi?.. h. 66.Hasbi ash-Shiddieqy dilahjrkan di Lhokseimuwe adalah keturunan ke-3 7 dad Abu Bakr alShiddiq. Ia adahn sahh seorang mujtahid Indonesia yang melontarkan gagasan fiqhberkepribadian Indonesia. Lihat Moh. Hefni, "M€rggagas Fiqh Indonesia (mer€tasPemikiran Muhanmad hasbi Ash Shiddiqi)", da.lam Jumal Studi Keisla'ar, STATNPamekasan.h.56.Perubahan tersebul dirnaksudkan untuk mengantisipasi id€ fiqh Indonesia sebagainanayang ditawarkan oleh Hasbi ash-Shiddiqi. Perbedaan antara pandangan Hasbi dan Hazairinadatah, Hasbi menginginlan membentuk fiqh Indonesia dengan menggmakan semuamazhab hukum yang ada sebaeai bahan dasar dan sumber rnat€ri utamanya. SedangkanHazairin justru meneinginkan pembentukan fiqh nazhab nasional d€ngan titik berangkathanya dari pengernbangan mazhab Syaf i. LihatMahsxnF\t^d,Hukun lslan,h.'76- t8.Li\^r lbid., h. l0 .

    Jumal Studi Agotua dan Mastarokat, lloluhe 4, Nosor I Juhi 2007

  • Teorr Receptie menyatakan, hukum yang berlaku bagi umat Islamadalah hukum adat mereka masing-masing. Hukurn lslam dapat berlakuapabila telah diresepsi oleh hukum adat,.jadi hukum adatlah yang menentukanada tidaknya hukum Islam." Snouck Hurgronje yang merupakan seorangpenasihat pemerintah Hindia Belanda berpendapat bahwa musuh kolonialismebukanlah lslam sebagai (hukum) agama, melainkan Islam sebagai doktrinpolitik. Namun, mereka tidak rela jika di bidang hukum masyarakat pribumidiberi kebebasan untuk menjalankan hukum (Islam)nya. Karena itu, ia inginmempertentangkan antara hukum Islam disatu pihak dengan hukum adat dipihakyang lain."

    Sejak dilancarkannya teori Recept ie tei'seb]ut oleh pemerintah Belanda,sejak itu pulalah masyarakat Indonesia yang mempunyai hubungan denganmasalah-masalah hukum mulai merasakan pengaruh teori Receptie yang kuattersebut. Seakan-akan, masyarakat Indonesia telah melasakan sesuafu yangbenar dan biasa bahwa hukum Islam itu bukan hukum di Indonesia. Telahtertanam pada pikiran orang bahwa yang berlaku adalah hukum adat danhukum lslem baru menjadi huk!rn. apabila telah menjadi hukum adar.:6

    Klaim provokatif dan distorsif teo tersebut sangat berpengaruhterhadap eksistensi hukum Islam ketika itu, bahkan hingga sekarang ini,sehingga olelr Hazairin dlintroduksr dengan nrma reon /6/Lr.: yang secarakonstitusional tidak berlaku lagi di dalam tata hukum di Indonesia." Sebagaicounter theot! terhadap teod ini, paling tidak ada tigateori yang muncul, salahsah\'\y^ teorr Receptie Exl, oleh Hazairin. Teori ini menyatakan bahwa teoi

    15 Warkum Sumitlo, Pe,'/rarbahgan Hrkum Islan di Tengah Kehi.hpan Sasiat Potitik diIndonesia,M^lane:B^yu\1edia, 2005, Cet. I, h. 41 .

    ' I b i d . , h . 5 3 .:'] Disebur t€or,t Iblis, ka.ena menurut Hazairin teori ini yang rnenghalang-halangi berlakunya

    Hukum Islam di Indonesia ini sena mengajak orang hlam untuk tidak mematuhi danm€lalGanakan perintah Allah dan Sunnah Rasul Nya.

    " warkum Sumitro, Perien bansan Hukum,h. t88.

    38 Jtmal Stutli ,4satta dar Mosytakal, yolune 4. Nonot I Juki 2007

  • Keta rha, .lokl Dt Pe6Dakt il Ha:atin

    Receptie hanls .ii/ (keluar) dari teori hukum Islam Indonesia, karenabertentangan dengan UUD 1945 sertaAlquran dan Hadis."

    Teorikedua adalah teori Receptio a Cotltrario yang dikemukakan olehSaluti Thalib, menyatakan bahwa hukum yang berlaku bagi rakyat Indonesiaadalah hukum agamanya, hukum adat hanya berlaku jika tidak bertentangandengan hukum agama- Dan teori ketiga adalah teori Existehsi yangdikemukakan oleh lctijanto, yang mana teori ini sebenamya hanyamempeftegas teori Receptio a Contrario dalam hubungannya dengan hukumnasional. Menurut teoritrister.rl ini, hukum Islam mempunyai spesifikasi: (a)telah ada dalam arti sebagai bagian integral dari hukum nasional; (b) telah adadalam arti dengan kemandirian dan kekuatan rvibawanya, ia diakui olehhukum nasional sena diberi status sebagai hukum nasional; (c) telah ada dalamarti norma hukum Islam berfungsi sebagai pcnyaring bahan,bahan hukumnasional; dan (d) telah ada dalam arti sebagaibahan utama dan sumber utdmahukum nasional.'"

    2. LatarBelakangPendidikanPendidikan formal Hazairin tidaklah diawali di kota Bukittinggi

    tempat kelahirannya, melainkan di Bengkulu. Pendidikan formalnya adalahHIS (Hollaruls Inlandsche School, di Bcngkulu, tamat tahun 1920).'' Setamatdari HIS, Hazairin kemudian melanjutkan pelajarannya ke MTJLO (MeerUitgebreid Lagere Ondetwijs) di Padang, dan tamattahun 1924. Dalam usia l8tahun, dia meneruskar pendidikannya ke AMS (Algemene MiddelbareSclool)" di Bandung, dan berhasil lulus tahun 1927. Berikutnya, atas inisiatif

    - 'Mohd. ldr isRamulyo,,4sas-asasHukumIslah,JakLrf ta:Sinarcrsf ika,2004,h4l.'' Mahsun Fuad, Hrirrr ./s/an. h. 5 6.'fAlNSyarifHi&yatuLl^h,EnsiklopedilslanIndo,.rd,Jakada:Djambatan,2002,h.189.' Tamat dari MULO Hazairir untuk kedua kalinya mendapar beasiswa dari pemerinrahan

    B€landa utrh* melanjutkan pendidikan pada lingkal AMS. Liha( Abdut Halin,..Haairindan, h. ll2.

    Jutnal Studi Agana don Lla,araka. y.luDk 4, NoDot I Juni 2007 l9

  • sendiri, ia meninggalkan kota Bandung menuju Batavia (Jakarta) danmenenrskan studinya di RSH (Rerchtkundige Hoogeschootl atau SekolahTinggi Hukum, jurusan Hukum Adat." Selama delapan tahun dia berkutatmendalami bidang ini, dan berkat kegigihannya, dia berhasil meraih gelarMesster inideRechtel? (Mr) tahun 1935.

    Di samping ,elaJzl pendidikan umum, ia juga belajar pendidikanagama dan bahasa Arab dari ayahnya, terutama dari kakeknya. Untukm€mahami lebib lanjut ajaran Islam ia belajar sendiri. Ia nenguasai bahasaBelanda,Inggris dan Perancis secara aktif, dan bahasaArab, Jerman dan Latinsecara pasif.

    Hazairin bukanlah tipe orang yang mudah merasa puas! SarjanaHukum yang telah diraih baginya belum berarti apa-apa. Dia ingin meraihgelar yang lebih tinggi lagi. Begitu dda kesempatan, dia punmemanfaatkannya sebaik mungkin. Dia mendapat tugas mcngadakanpenelitian lapangan mcngenai Adat Redjang-" Penelitian ini dilakukannyasebagai syarat untuk meraih gclar doktor dalam bidang Hukum Adat,Penelitian ini dilakukannya di bawah bimbingan promotor Mr. B. Ter Haar,pakar Hukum Adat terkenal masa itu. Berkat kegigihan dan keuletannya,hanya dalam waktu yang sangat singkat, yaitu hatya dalam waktu tiga bulao,penelitian itu telah berhasil dirampungkannya. l{asil penelitian itu, yangmerupakan disertasinya berpdul De Redjat?g berhasil dipertahankannya padatanggal29Mei 1936."

    3. Karya-karya HazairinHazairil temasuk penulis yang produktif, dia setidaknya mewariskan

    17 buah buku. Karyanya yang paling penting antara lain di bidang lrukumyaitu:'r Lihat Iskandai Rilonga, "Hukum Kewarisan, h. 66." Redjang adalah salah satu suku yang terdapat di Keresidenan Bengkulu (sekarang propinsi

    Benskulu).rJ LihatIskandarRitonga,"HulomKewarisan,h.66.

    40 JumalStudi Agonadai MN)aruka. yolune 4. No'rot I Juri 2007

  • Kara r 6 a h d a I a d P eN pe kt if Hazo n ih

    a. De Redjang (diseftasi doktomya, 193 6);b. De Gevolgen |an de Hwrelijksontbinding ia Zuid Tapanuli (Aktbat

    Perceraian Perkawinan di Tapanuli Selatan, l94l );c. Le Droit Sur Le Sol en Indonesia (Hukum tentang Petanahan Indonesia,

    t9s2);d. Reorganisatie yan het Rechhaesen in Zuit Tapanuli (Reorganisasi Hukum

    di Tapanuli Selatan).'"

    Dalam kaitan hukum adat dan hukum Islam, iajuga menulis beberapakarya, di antaranya:a. P€rgolakan PenyesuaianAdat kepada Hukum Islam (1952);b. Bahasannya tentang Hukum Perkawinan Nasional dapat dilihat dalam

    kary^nya Huhlm Kekeluatgaan Nasional (1962). Di dalan buku ini dapatditemukan lembaran kerja untuk RUU Hukum Perkawinan dan HukumKewarisanNasional;

    c. Hukum Islam dan Masyarakat;d. Hukum Kewarisan Bilateral Menurut al-Qur'an dan Hadis Kewarisan

    Sistem Bilateral. Kedua karya ini telah disatukan met\j^d] HukumKewarisan Bilateral Me urut Qur'andan Hadis (I958)t

    e. Flendak ke Mana Hukum Islam ( 1960);f. Hukum Kekeluargaan Nasional ( 1962);g. Perdebatan Dalam SeminarHukumNasional tentang Faraidl (1963);h. IndonesiaSatuMesjid;i. Isa al-Masihdan Roh.r?

    Gagasannya dalam bidang pidam Islam serta keinginannya untukmemberlakukan hukum pidana Islam di Indonesia dapat dilacak dalamkaryanya:

    " lAlNSyarifHidayatullah, Ensiklopedi Islan,h. 189.' IskandarRitonsa,"HukumKcwarisan".h.69.

    Juraal StudiAgadd dah Mararakat, yoluhe I, Nonor I Juri 2007

  • a.

    b .

    Hukum Pidana lslam Ditinjau dari segi-segi, dan Asas-asas Tata IlukumNasional;Demokrasi Pancasila (1970). Dalam buku ini dia menguraikan tentangpengertian Demokasi Pancasila, kcdudukan Piagam Jakarta dalam tatahukum Indonesia, serta kedudukan kedaulatanAllah SWT. dalam negara.Negara Tanpa Penjara. Tak luput pula dari analisanya mengenai bagaimanamekanisme pelaksanaan Demokasi Pancasila hingga tcgaknya negarahukum.Tujuh Serangkai tentang Hukum (t973), merupakan kumpulan karya-karyanya, yaitu: Negara Tanpa Penjara; Sekelumit PersangkutpautanHukum Adat; Fungsi dan Tujuan Pembinaan Hukum dalam Negara RIyang Demokratis dan Berdasarkan Ilukum; Hukum Baru di lndonesia; danIlmu Pengetahuan Islam dan Masyarakat, karyanya yang terakiir adalahTinjauan Mengenai UU Perkawinan Nomor 1 Tahun I 974."

    d .

    C. Kewarisan DalamPerspektif Hazairinl. Kewarisan Bilateral

    Dalam literatur hukum adat Indonesia, pada dasamya sistern ataubentuk kekerabatan yang terdapat di dalam masyarakat Indonesia terdiri atassistem patrilineal (garis ayah), matrilineaL (garis ibu), dan parental ataubilateml (garis ayah-ibu seimbang) yang oleh Hazairin dapat dibangsakankepada orang Batak, orang Minangkabau dan orang Jawa. Ketiga sistemtersebut memiliki ciri yang berbeda.

    Dalam masyarakat patrilineal, setiap orang baik laki-laki atauperempuan menarik garis keturunannya ke atas hanya melalui penghubungyang laki-laki sebagai penentu garis keturunan. Hal ini dimaksudkan bahwadalam kekerabatan ini setiap orang hanya menarik garis keturunannya kepadaayahnya saja, kemudian garis itu ditarik lagi dari ayah kepada ayah ataudatuknya, Masyarakat Indonesia yang menganut sistem bentuk kekerabatan

    '" tbi,l.,h.10.

    42 Junol \uJtASann ddn M6)utdloL volhat r'. No,t.t IJurt 200?

  • Kcwn i {Dt rla I a Dt I'e rs pe kr i I H a:t nnt

    patrilineal adalah rnasyarakat Batak, Tanah Cayo, Alas, Ambon, Irian Barat.Timordan Bali.'"

    Berbeda dcngan sistem patrilineal, pada masyarakat matrilineal,seomng senantiasa menghubungkan dirinya kcpada ibunya atau ke dalam klanibunya. Pada dasamya, prinsip matrilineal adalah memperhitungkan suatuhubungan kekerabatan melalui perempuan saja; karena itu setiap individudalam masyamkat adalah semua kerabat ibunya masuk ke dalam batashubungan kekerabatan, sedangkan kaum laki-laki (kerabat ayahnya) jatuh diluarbatas itu. Masyarakat yang menganut sistem ini terdapat pada masyarakatMina[gkabau dan Tenggano Timor."

    Sistem yang ketiga adalah sistem parental atau bilateral, yaitu sistemketurunan yang ditaik menurut garis orang tua atau menurut garis dua sisi(bapak-ibu) di mana kedudukan pria dan wanita tidak dibedakan di dalamkewarisan. Contoh rnasyarakat ini terdapat diAceh, Riau, Jawa, Kalimantan.Sulawesi, Temate dan Lombok.'' Sistem ketiga inilah yang merupakan isusentral pemikiran Hazairin. Bilateral menurut llazairin adalah setiap oranedapal menarik garis kerurunannya ke atas mclalui ayahnya ataupun inelaluiibunya; demikian pula yang dilakukan oleh ayahnya dan ibunya, itu terustedadi terus menerus. Lebih lanjut, pokok dasar pemikiran Hazairin adalahKonsepnya mengenai kewa san bilateral. Yaitu hak kewarisan yang berlakudalam dua garis keturunan atau kekerabatan, baik dari garis ayah atau ibu."Masyarakat bilateral inilah yang palingdominan di Indonesia."

    Hazairin menyatakal bahwa sistem kemasyarakatan yang terkandungdalamAlquran adalah sistem kemasyarakatan bilateral, dan karenanya sistem

    Damrah Khair, "llukum Kewarisan, h. 89-Mohd. ldris Ramulyo, l/!,tln Pe *aw i n d n, h. 9 5.Hilman Hadikusuma. r'ftl,(um WarisAdat,B^ndu g: CitiaAditya Bakri,2003, Cet. VII, h.23.Darnrah Khair. "Hukum Kewarisan", h.90.Srdarsono, Hukwn Watis dan Sistem Bilaterul,Jakana RinekaCipla, I99l,Cet.I, h. t 74.

    Jumal Sludt Agrn!.ln MtratuAa!. yolnn. 4. Nnn., I Juni 20tt7 43

  • kewarisannya pun bercorak bilateraljuga. Ia merujuk dan menyimpulkan ini,dengan rnendasarkan pada sural dn-NrsA (4) a yt 2 3 dan 24.'"

    'feorinya ini berbeda dengan pendapat ulama yang terdapat dalamkitab-kitab fiqh klasik yang telah dikenal luas oleh masyarakat IslamIndonesia, yang nerumuskannya dengan sistem kewarisan bercorakpatrilineal. Menurutnya, Alquran anti terhadap masyarakat yang unilateral(berklan-klan) seperti paft ilineal atau natrilineal."

    Berdasarkan hasil penelitiannya terhadap hukum adat yang berlaku dibebenpa daerah Indonesia, ia nenyatakan bahwa hukum kewadsan Sunniyang bercorak patrilineal itu, bukannya tidak ada masalah (konflik) denganhukum patrilineal yang ada di lndonesia, dan konflik-konflik itu sendiribukandisebcbkan oleh kitab sucr Alqurcn. letalr oleh iklrt i la fmanusia itu send iri. 'd

    Teori Hazairin tersebut didasarkan pada penyelidikamya terhadaphukum Islam yang memberikan perhatian istimewa kepada bagian hukumkekeluargaan, yang tolah berhasil mendapatkan pengertian yangjenial tentangayat 23 dan 24 surat an-Nisa, dengan pendekatan ilmu antropologi sosial.Menurut Hazairin, sistem kewarisan berpatok pada sistem keluarga,sedangkan keluarga berpatok pada sistem perkawinan dan kedua patokan itumenentukan bentuksistem kemasyarakatan dari suafu bangsa itu yang kembalimempenganrhi sistem perkawincn dln keu arrsamya.'

    Mengenai segi batas larangan perkawinan dalam hukurn Islamdidasarkan pada surat an-Nisd (4) ayat 23-24. Hazairin meninjau danmengupas hubungan ayat 23-24 tersebut dari segi ilmu .social arthropologi.

    Secara garis b€sar ayat 23 dan 24 suat an-Nisa ini berbicara tentang larangan-laranganperkawinan- Dalam ayat tersebut, Allah secarajelas m€nyatakan se;ain yang temisuk kedrlam laranganlarangan itq perkalvinrn antarn seorang laki laki dengan seorang s,anitaadalah halal dilarssunskan. Lihat Hazairin, Hukun Ke\rarkan Bilatercl Menurut al-Qur'ai dan Ha.lith,. Jakana: Tintamas. 1982, Cet. VI, h. l-2.Ibid.rbid..h.2.Abdul Halim. "Hazairin, h. I i4- I 3 5.

    4 1 .lurnal SrudiAeen! dan Mavarakat, vohore 1, Nortor I JMi 2047

  • K ?i dri4h./a I a tn P a 6 De kt i t I llat i t i r t

    Menurut llazairin ayat-ayat tersebut sccara jelas memperinci pcrcmpuan-perempuan yadg boleh dikawini oleh seorang laki-laki, makajelaslah bahwaAlquran tidak mengenal larangan perkawinan di antam orang-orang yangdalam istilah annopologi sosial disebut cros s cousis dan paralell cousins.'*

    Pemikiran di atas didasarioleh perkawinan sahabarAli binAbiThatibdan puteri Nabi Muhanmad, Fatimah al-Zahra, yang sama-sama berasal darisatu klan, yang dibenarkan oleh Alquran."'Dalam pandangan masyarakat ber-klan, sebagaimana terjadi di Arab sebelum datangnya Islam, perkawinansepertiini, yangjuga disebut eksogami.jarang sekali dilakukan, dianggap tabu,dan karena itu tidak dapat dibenarkan.

    Dengan adanya r"e.st dari Alquran yang terwujud dalam pemikahanantara Ali dan Fatimah, Hazairin menarik pemahaman bahwa sistemkekeluargaan dalam Alquran adalah sistem bilateral, bukan patrilinial.Pengandaian sistem kekeluargaan seperti itu berimplikasi pada sistcmkewarisannya. Harta yang ditinggalkan oleh orang yang masih hidup jugaharus diatur menurut hukum kewarisan bilatcral. Dalam ranah antropologi,hukum kewarisan itu adalah kelanjutan dari hukum perkawinan, dan hukumperkawinan tidak boleh berbedadengan hukunr kewarisan-r0

    2, AhliWaris PenggantiDalam konsep ahli waris pcngganti atau rmlrAll, Hazairin sebenamya

    mengatakan bahwa pemakaian kata "ahli waris pengganti" sebagai padanan//,drrdl/, sesungguhnya tidak begitu tepat. Namun, istilah itu digunakan jugakarena perkataan "ahli waris pengganti" terdapat dalam hukum adat.r'

    Konsep ahli waris pengganti iniberanjak dariayat 33 darisurat an-Nisa(4), di mana tafsiran Hazairin terhadap ayat ini mengenai rnawdli dipahami

    rbid.,h. t15.Lih1r Mohsun Fuad, Hukun Islan,h.82.tbid. ,h.82-83.H^z irin, Hukum Kewaisan.h. 19-25 .

    IcndlStudiAguna dan MasyatukaL l'olu,ne 4, Not at I Juni2007 45

  • sebagai waris pengganti atau Plaatsvenulling dalari Burye ijk ll/eetboek.Mawdli adalah orang-orang yang rrenjadi ahli waris karena tidak ada lacipcnghubung antara mereka dengan pewaris. dan rnenurutnya iajuga tennas;idalam pengertiana4raDin.': FirmanAllah tersebutadalah:. ' " t i : ' 2 ' . . , : , . ' . . " .1 .

    " ' . , ' ( r i . . . , . ,n_ r :_ . r . . , , . ' , , . . , . i . . ' , 2 , .

    F-rte.-!rd' .,r,'e j,-rt, " J.cl)r-, JrJtrr .:JilJ Jr,"uL; JsJj(rt ,.u-.,tr) ,:# .n" l? * ts ir'Jtd

    Artrnya:'. Bagi.tiap-tiap harta peninggalan dari herta yang tlitinggalkan ibu bapak dankarib kerabat, kamijadikan pewarispewarisnya. Dan (ika ada) ctrang-orangyang kanu telah bersumpah setia dengan nrereka, naka berilah kepatlonereka hahagiannya.. SeJrutggt/' nyo Allah mc yaAsik,tn regale s(.sua t u.(QS. An-Nisa (4): 33 )."

    Hazairirmente.jemahkan surat an-Nisa (4) ayat 33 adaiah:Dan untuk setiap orang iht Allah telah nengadaktn mawdli bagi hartapeninggalan a;uh Jan mak tihut dan bagt harld pennggalan keluada dekar.demrkian Juga harla pcntnggalan bag tolau ftpe4anjiannu, karena ituberikanlah bagiah-bagian kex,arisannya. Dan Altah menyaksikan segalasesuatu.

    Menurut tafsiran Hazairin kata nawdli atau Ahti waris penggantiadalah ahli waris yang menggantikan seseorang untuk m.-perolih 6igianwarisan yang tadinya akan diperoleh orang yang digantikan. Meng enai maiAl iini, Hazairin berprircip bahwaAlquran meletakl

  • K.rrrilun datun Pq vektil iIuatnitl

    dasar penalian darah antara yang mati dengan anggota keluarganya yangmasih hidup. Olch karena itu pengganti oleh waris yang sebenamya harusmempunyai penghubung dengan orang yang digantikan itu, di mana ia adalahseorang yang seharusnya menerima warisan ketika ia masih hidup, tctapidalam kasus yang bersangkutan telah meninggal lebih dahulu dari si pewaris.Mereka yang menjadi mawdli inilah keturunan orang yang mengadakansemacam perjanjian mawaris." Hubungan kekeluargaan antara pewarisdengan mawdli berupa hubungan darah ke garis bawah atau ke garis sisi, atauke garis atas.'"

    Mengenai masalah ahli waris pengganti ini muncul, karena Hazairinmerasakan adanya ketidakadilan dalam pembagian warisan yang selama initerjadi, yakni bahwa cucu percmpuan yang ayahnya meninggal terlcbih dahulutidak mendapat harta warisan dari harta warisan yang ditinggalkan kakeknya.Dalam masalah ini, ulama Ahlusunnah dan juga Syi'ah, sepakat bahwa anaklaki-laki menghijab (menutup) cucu laki-lakidan pcrempuan. Oleh karenanya,cucu yang ayahdya meninggal tcrlebih dahulu. meskipun sangat berjasa dalammengurus kakeknya, karena ada anak kakek (saudara ayah anak laki-laki)yang masih hidup yang menghijabnya, meskipun ia (paman) tidak pcmahberbuat jasa mengurus ayahnya."

    Khusniati Rofiah menyatakan, penafsiran terhadap kata mawili yangdilakukan Hazairin adaiah dengan suatu pendckatan gramatikal yang berbedadengan.[Lk]ahA dan mufassir awal. Konsep ahli waris pengganti dalampandangan tlazairin bukan sekedar ketidaksesuaian dengan landasan sosiohistoris, melainkan karena kesalahan interpretasi terhadap kata mawdli it])senditi. Menurut Hazairin makna rrdrnili dalam Alquran semestinya diartikanahli waris yang menggantikan seseorang dalam memperoleh bagianpeninggalan orang tua dan kerabatnya."

    " Abdul Halim,'Hazairin", h. l17.' Ha?j'irin, Hukum KNa tiso n, h. 36." Isl€ndarRitonga, HazairinGelar,h.T5." Lihat Kusniali Rofiah, "Pembaharuan Hukum,h.43-44.

    Ju ol Sitdi ,4|arn dan Maslarukal, llolune 4, Nonot I Jtri 2007

  • 3. Dzawil Furidh, Dzawil Qarihah dan MawAliDari segi lrak kewarisan, llazairin ncrnbogi tiga golongan ahli waris

    menurut ajaranyang ia seb ut sebagai aj aran kewarisan bilateral. Tiga golongantersebut adalah dzdlf,ilJ ridh, dzuwil qanibalt dan ntaudli.ltal ini berbedadengan konsep ulanra Sunni pada umumnya, di nlana mereka membagigolongan yang menerima ahli waris yaitu: r/zauil lirridh, ushabah dandzawil

    Menurut Damrah Kiair, Pcrbedaan di atas berpangkal dari pendapatHazairin yang tidak menerima konsep rrsiba h ata.u ushahah. Menurut Hazairinkonsep ashabah terdapat dalam masyarakat unilateral (patrilideal ataumatrilineal), sedangkan dalam masyarakat bilateral (parental) tidak mengenalistilah tersebut. Kalau dalam masyarakat patdlineal (seperti Amb dan Batak)hanya mengenal garis keturunan (klar ata,r ushabah) laki-laki (bapak) saja.Begitu pula dalam masyarakat nutrilineal (seperti Minangkabau) hanyamengenal garis keturunan percmpuan (ibu). Sedangkan dalam masyarakatbilateral l idak mengenal garis keturunan tersebut."

    Dalil utama tentanga-shabah yang dignakan olch ulama Sunni adalahHadis lbnuAbbas y^ng berbunyil

    ' - , : ' ;r atu i\, , i . , t 3 , . . , " , \

    .l,-: * 4$r J, . Jl .p l..-l.:.e At ' 4b ,Y '

    r{s v

    jar\jJt fr;.J\ Jt;

    ((J;Jtt!r 6iJJ.l . i ) Fj J-,)

    Artrnya:"[email protected] dari Musa bit 'lsnnil dari Wuhaib dari lbn Thawus dariavahnya dari lbnu Abbas ra. Dari Rasulullah SAll. beliau bersabda: berikan

    " Damrah Khair, "Hukum Kewansan", h- 85.

    48 Jumal ShtdiAEotha da, M6\,uttkat. Volude 4, Nodor I Juti 2007

  • Ken utisdn .!alon' Pe'spaktif HEoi rn'

    warisak kepada orangyang berhak dan sisahla serahkan kepada lelaki yang

    Hazairin sendiri memaknai l-ladis tersebut denganr bayarkanlahfaraidh kepada yang berhak atasnya, maka sisanya (yaitu apa yang masihtinggal sesudah pengeluaran faraidh) untuk orang lakilaki yang terdekat(terutama). Disimpulkannya, bahwa Hadis tersebut adalah mengenai suatukasus tertentu, sehingga garis hukumnya tidak dapat diberlakukan secaramenyeluruh.'' Dari pemahaman inilah bahwa Hazairin menolak konsepasiabalr ulama Sunni yang menggunakan Hadis IbnuAbbas tersebut.

    Penolakan Hazairin tidak menerima konsep ushbah ata! athabahtersebut, merupakan hasil ijtihadnya dengan melihat kepada aspek bahwadalam masyarakat bilateral (parental) tidak mengenal istilah garis keturunan(kl^n ̂ ta[ ashahah) dari pihak laki-laki (bapak) saja atau pihak perempuan(ibu) saja. Melainkan dalam istilah Hazairin adalah tlzaN,il qardbah, lnixronng-orang yang mempunyai hubungan-hubungan kekeluargaan dengan sipewaris melalui dua garis keturunan, yang nendapat bagian warisan yangtidak tertentu jumlahnya (bagian terbuka atau bagian sisa).

    Dafam konsep Hazairindzavil/ ridh adalahahliwaris yang mendapatbagian warisan tertentu dalam keadaantertentu, sepertianak perempuan, ayah,saudara laki-laki atau perempuan.o'Adapun dzawilfutfrdh itu sendiri, telt,irratas:a- Anak perempuan yang tidak bersama-sama dengan anak laki-laki atau

    mawdli bagi mendiang anak laki-laki, maka anak perempuan tersebutbagiannya (brd)nyaadalah I /2 dan 2/3 jika dua orang atau lebih;

    b. Ayah mendapat fard 1/6jika pewaris berketurunan;

    Muhammadbinlsmailal-Bt]tr'J:.^ri,ShahihBukha,Qahirah:Daras-Sya'bi,JuzVl,t.th.,h.5 .Hazaltin, Huku n Kev'aris an, h. 9 4 -95.LihatAbdul Halim, "Hazairin", h. | 36.

    Jrrhal Studi Agdhd dan Masyatukat, yolutne 4, Nonat I Juni2007 49

  • c .

    d.

    g.

    h.

    lbu mendapat fard l/3 j ika pcwaris tidak berketurunan dan I /6 j ika pewarisbgrkcturunanlSeorang saudara laki-laki dan seorang saudara perempuan, maka bagisaudara tersebut masing-masing l/6 bagian hanajika pewaris mati punah,danjika saudaranya adalah berbilang beberapa saudara, semuanya saudaralaki-laki atau semuanya perempuan atau semuanya campurantara laki-lakidan perempuan, maka harta tersebut bagi semua saudara pelbagai samaatas l/3 bagian dari harta peninggalan;Jika orang mati kalalah itu menpunyai seorang saja saudara perenrpuan,maka ia memperoieh l/2 .].a.r hafta peninggalan darl jika orang matikaldlah/punah mempunyai dua orang saudara perempuan (atau lebih)maka bagiannya 2/3 darr hafia peninggalan bersama-sama. Penjelasanmengenai kaldlahiniakandiuraikandalambahasanberikutnya;Suamimendapat l/2jika isterimeninggal tanpa keturunan dan l/4 fardjikaisteri berketurunan:lsteri mendapat 1/4jikasuaminyayangmeninggal tidakbcrketurunandanl/8 fard suaminya meninggal berketurunan;Mawali dengan bagian masing-rnasing sebagai pengganti.

    Golongan ahli waris kedua adalah dzawil qardbalr, yaitu ahii warisgolongan kedua yang dipahami oleh Hazairin berdasarkan pada sebutan-sebutan ahli waris dalam Alquran. Menurut Hazairin beruiang-ulang dalam

    Alqurandisebuthubungankewarisandenganpenyebutan i ' j j l aqrattin.

    seperti dalam surat al-Baqarah (l) ayat 180 dan su.at an-Nisa ayat 7 dan 30,ayaFayat ini diartikan oleh Hazairin dengan ibu bapak dan keluarya terdekat.Ibu bapak padanannya adalah anak, sedangkan aqrubin padanannya adalahaqrab,nn yarglain (keluarga terdekat satu sanra lainnya).*

    ' A. SukrisSarmadr, Ia9T,Hulaa Waa',h 45-aI '* Abdul Halim. "Hazairin", h. 1 3 6.

    50 JurntlShtdi Aso"n dan Mostatukat. ttolrme 4. NoDtor ! Juri 2007

  • Kat atiiut dalan P.tiDeLtif H.Ea ititt

    Dari dqr-dlrrlr tcrsebut diataslah diarnbil kata-katakerabat z[rl qardbahatatr d.avil qardhah yatg bernrti mereka yang mempunyai l'tubungankekerabatan, yang mendapat bagian warisan yang tidak tertentu jumlahnya(bagian tcrbuka atau bagian sisa)."' Hal tersebut apabila dilihat baik dari segijumlah bagian dalara warisan rnaLrpun dali segi hubungan si pewaris, makadzawil qariibah adalah orang-orang yang mempunyai hubungan-hubungankekeluargaan dengan si pewaris dapat mclalui garis rvanita serentak tidakterpisah. llubungan gans keturunan yang demikian inilah oleh Hazairindisebut dengan hubungan garis keturunan bilateral.

    Dzau,il qardbah dlkelompokkan Hazairin atas:a. Anak laki-laki dan perempuan yang bersamanya anak laki-laki atau

    keturunannya. Mereka mengambil bagian menurut kctentuan nilaibagianyaDg telah ditentukan sebagai dzau,il .liriclh sekaligus akan rncngambilsisahartajika ada sisa dimana ia sekaligus sebagai dzawil qardhah;

    b. Ayah, apabila pewaris mati punah;c. Saudara laki laki dan saudara perempuan yang bersamanya saudara laki-

    laki atau keturunannya jika pcwaris mati punah (ka I d la h) ;d. Kakekdan nenek.o'

    Dalam dza*il qardbolr hijab dan mahjub antara para ahli waris akanmempcDgaruhi sistem ini, di mana apabila bcrtemu masing-masing orang yangberhak sebagai r/zawi I qardbah maka akan terjadi dua kgmungkinan. Pertana,masing-masiDg dzav,il qardbah akan memperoleh radd secaft berimbangmenunrt bagian masing-masing. Kemungkinan kedua, akan ditentukanbagiannya karena begitu dekatnya derajat salah satuahliwaris. Seperti, apabilabertumpul ayah, ibu dan anak laki-laki, maka anak iakilaki lah sebagatdzattilquritbah. Hal ini terjadi karena kemampuaf anak mampu mempengaruhi

    " 1bft l . ,h.136-137."' A. Sukris Slmadi. H'll",, WAris, h. 46. Lihat juga A. R.ih'nad

    Ilukt n Kewai.tan Isldn di./rdor.,ria, Bandungr CillaAdilya Bikli,22.

    Junlal Sludi Agaha dtk Musyara*d|, tbhne 1. Nonot I Juni 2007

    Budi,ono, Penbaruatl1996, Cer. Ke- I , h .2 l -

    5 l

  • perolehal ayah dan ibu sehingga -mereka hanya memperoleh apa yangditentukan saja tidakboleh yang lain."'

    Ahli wais golongan ketiga adalah nawdli, sebagaimana telahdiuraikan dalam bahasansebeIwnryabahwa mawdli atalu ahli waris penggantiini adalah ahli waris yang menggantikan seseorang untuk memperoleh bagianwarisan yang tadinya akan diperoleh orang yang digantikan. Baik berupahubungan darah ke garis bawah atau ke garis sisi, atau ke garis atas. Sebagaicontoh tentang adanya kemungkinan bagi orang tua pihak ayah atau pihak ibuuntuk menjadi manlill bagi ayab atau ibu si-mati, jika ayah dan ibu itu telahmati pula terdahulu dari anaknya yang meniggalkan harta itu. Contob lainadalah tentang seorang pewaris diwarisi oleh maw'4li satdaranya yang matiterlebih dahulu; seorang pewaris diwarisi oleh keturunan mendiang anaknya.""

    4. KalAIahDalam Alquran masalah kalAlah hanya disebut dalan dua ayat yaitu

    dalam surat an-Nise (4) ayat 12 dan ayat 176, demikianjuga Rasulullah sawsendiri tidak pemah /renjelaskan pengefii^n kallilah terseb]ut, sehingga paraUlamabahkan sahabat pemah berbedapendapat dalam masalah ini.

    Sebagaimana firman Allah swt dalam Alquran surat an-Nisa (4) ayat12 l

    bfs' i , 1 ' ' l ' ( ' t ' i ., P\.! (:-tl !r r I 4J !

    't))<att Jn .t 'JI') olj . . .

    ('\ \ : ,-u-rlt) ... n.ril,

    Arhnya:"...Jika seseorung mati, baik laki-laki maupun percmpuan yang tidakmeninggalkan ayah dan tidak meningg.llkan anak, tetapi mempunyai seorcngsaudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja),

    " ' rbid. ,h. l63.- H^zainn, Hukun Ke$arisan,h.36.

    52 J*Aal Studi Agaha dar Mdsrdtakdt, roluhe 4. Nomot I Ini 2407

  • KrM ris 4t.t otan p. rspekt i I Ha:a ni n

    naka bagi masing-nasing dari kedua.ienis saudaro itu seperetlan, harta._.',(QS. An-Nisa(4): l2)[email protected]

    Dan firman Allah swr ayat 176 surat an-Nisa (4):, , 1 , i . . , . , 1 . . i , . . r , .c->r 4JJ -ur.J.JJ ':JLa ljr., J) c ij)sjl ;

    iivr,,i*r,i' 2 " . ' ^ . . . ! . . - t - " ,f\;4r 4!t J

    g.U !:r:-."J

    r ' . , . , t r , a '. ..' Ji L. ,_i.aj t{1,

    Arhnya:"Mereka meninta fafira kepadarnu (tentang kulalah). Katakanlah: ..Allahmenberi fatwa kepadamu tentang Iulalah tyaitul; jika seorang meninggal4un,ta. dan M ltclak mempunyai anak dan nrcmpunyti suudara perenpuan.naka bagi saudaranya yang peretnpua itu sepeftlua dari'harla'vangditirl ggalkanrya...(QS. An-Nis6 (4): I 76).?0

    Pembicaraan mengenai istilah kalti!,Lh dan proses pembentukannv.rrelah dikemukakan. Kaldloh bcft>al dan kat:r al_iki l yang berani .mahkJrayang membelit kepala semua sisi,. Oleh karcna itu, kibanyakan ulamamenafsirk-annya dengan 'orang yang rnenrnggal tonpo unui dan ayah,.Aoapula ulama yang mengarakan bahwa kaldlah beranr orang yang tidakmemil iki anak. Sebagarmana pendapar Abu Bakar ash_shiddi-q Raiahwakatatah tatah seorang yang meninggal dunia ttdak ada ayah dan tidak ada anaklagf, sedangkan Umar Ra. berpendapat bahwa [email protected](ilah l, 'lah orang yang ridakmempunyai anak lagi, walaupun pendapat tersebut ditarik kembili larenabeliau malu pendapatnya bertentangan dengan pendapatAbu Bakar.',

    "' An-Nisa [4]: 12." An-Nisal4l : l?6.'' Lihat Ismail lbnu Karsir,Tdlsir lbnu Katsn, BeiuLrDarutFik, t986, Jilid Il, h.464. Liharjugn R. Lubis Zamakhsari, Tafsit Ayat-q,at Hukuth,Bandung: AI Matif, t9S'0, Cer. I, Jilid

    ImtlSndi Aaand.lot Mostnro*at. uolu\p 4. Nomor t Jnni2007 53

  • Berbeda dengan pendapat jumhut l{azairin berpendapat bahwakaldlah adalah seofang meninggal duma tidak meninggalkan anak (walad),tanpa disyaratkan ayah harus meninggal dahulu (tidak ada ayah). Adapun yangdirnaksud walad di sini adalah anak secara umum baik laki-laki maupunperempuan. Pengertian anak di sini masih diperluas lagi dengan denganketurunan, yakni setiap orang digaris bawah baik melalui laki-laki maupunperempuan.': Dengan demikian menurut Ha zairir\ kali;lah adalahseorang matipunah tidak berketurunan.

    Perbedaan pengertian tersebut berakibat perbedaan pula dalammendudukkan kewarisan saudam. Menurut Jumhur ulama saudara dapatmewa s be$ama-sama dengan anak perempuan atau cucu perempuan pancaaIaki laki asal tidak ada anak laki-laki atau cucu laki-laki atau cucu laki-lakipancar laki-laki walaupun jauh ke bawah dan tidak ada ayah, atau denganistilah lain dalam ilmu faraidh saudara hanya terhijab oleh anaVcucu pancarIakilaki dan ayah, bahkan cucu-cucu (baik laki-laki atau perempuan) pancarperempuan tidak akan dapal mewrris selama rnasih ada saudara.

    Sedangkan menurut Hazairin saudara selamanya tidak dapat mewarisbersama-sama dengan anak laki-laki ataupun perempuan atau bersama-samacucu-cucu baik laki'Iaki maupun perempuan pancar lakilaki maupun panc,lrperempuan wilaupunjauh ke bau oh. tanpa drsyaralkan tidak ada ayah. "

    Dalam menafsirkan lafadz walacl pad,a ayaFayat mawaris khususnyatefiang kalAhh jrmhrr.fuqaha membatasrpada anak laki-laki atau cucu laki-laki pancar laki-laki, di samping itu disyaratkan tidak adabapakkarena dalamsistem ashabah jihat rbuwwah harus didahulukat darrpada jilnt ukhuwwalt.Sedangkan Hazairin mengartikan d/.rd memasuktan anak perempuan di

    II, h. 86. Bandingkan denean Muhammad Rawwas Qal'ahjt, Ensiklapedi Fiqh Unar,Jakarta: Raja Crafindo Persada, 1999, Cet.l,h.330-

    " Hazainn,Hukun Ke\\,arisan,h.50.'r Kasrori,"Kalalah",h.4l.nazztfin,nukum Ker a4\ah,n, )).

    54 JunalStudiAsauadan Masrarakot, fotune I, Nonot 1Juni2A07

  • Kewn nan.lakik PeBpektil Haza i rn'

    samping anak laki-laki, sebagaimana pendapat Ibnu Abbas bahwa vzldd disinr mencakup anak lakr-laki dan perempuan.-'

    Perbedaan lain disebabkan juga terhadap klasifikasi saudara dalamilmu mawaris. Menurut Jumhur Ulama saudara dibedakan menjadi saudarasekandung, seayah dan seibu." Sedangkan menurut Hazairin saudara tidakdibedakan antara saudara sekandung, seayah dan seibu, mereka dapatmewaisselama tidak ada anak (keturunan), dalarn hal ada ayah diberikan bagianberdasarkanQS. an-Nis6(4)ayat l2 dan dalam haltidak ada ayah dengan dasarQS. an-Nis6 (4) ayat 416 dengan dipetluas QS. an-NisA (4) ayat 33, carapembagiannya l: I dalam hal ada ayah (sebagai dzawilfuridh) dan 2: I dalanrhal tidak ada ayah (dzawil qetAbal, antara lakilaki dan perempuan tanpadibedakan sekandung, seayah dan seibu."

    Hal tersebut di atasjuga berakibat pada anak-anak merekayang selaludapat menggantikan orang tuanya yang telah meninggal lebih dahulu daripewaris. Bahkan mereka (natAIiry,a) lebih diutamakan daripadakakek-/nenek, sehingga kakek/nenek tidak dapat mewaris selama masih adasatdara/ nawilinya. Juga dalam hal mewaris bersama ayah ada kemungkinanayah tidak mendapat bagian harta peninggalan dikarenakan telah habisdrbrgikan kepada lza wilJitrudh sedangkan ayah ler,nasuk dzatrilqdr,rbah.'

    D. Pendekatan Pemikiran Kewarisan HazairinMahsun Fuad menyatakan, pendekatan yang digunakan Hazairin

    dalam upaya memmuskan hukum lslam adalah pendekatan sosio-kultural-

    Kasror i ,"Kalalah,h.44.Dalam sisrem dsl'aba, ahli waris yans m€miliki dua jalur kekerabatan (ialurayah dan ibu)lebih didahulukan dari kerabat yang memiliki hanya satu jalur kekerabatm saja. Lihatt'"fuhammad Jawad Mughniyah. Fiqh Lima Mazhah, alih bahasa MasykurAB dkk., Jakarta:Lentera. 2005. Cer.xIlI. h. 554.Damrah Knan-"Hukum Kewarisan". h. 86.Kasror i ,"Kalalah".h.43.

    Jutnal Stulilgonta da, Maswru*at. volun'e 4, Nootot I Juri2UT 55

  • historis, tentunya dengan tetap mengacu pada dalil-dalil raslr.?' Upaya untukmembangun dan merum{rskan ijtihad atas berbagai ketetapan hukum Islamselalu berhadapan dengan kondisi dan situasi tefientu sehingga nuansarekayasa dan sublimasi akan selalu tampak di dalamnya. Secara umum,sebagaimana diungkapkan oleh Joachim Wach yang dikutip Mahsun Fuad,pengalaman dan pemikiran keagamaan yang terjaditidakbisa dilepaskan darikonteks yang melingkupinya, yang meliputi: konteks waktu, konteks ruaog,koDteks sejarah, konteks sosial, konteks budaya, konteks psikologi, dankonteks agama.'n

    Usaha penafsiran yang dilakukan Hazairin terbilang baru untukkonteks zamannya, bahkan hingga sekarang. Sebagai bagian dai usahamerekonstruksi format fiqh yang ada, dia menawarkan upaya penafsinnotentitik atas Alquran, yaitu suatu usaha penafsiraD yang akan menghasilkankebenaran hakiki (suatu kebenaran yang tidak akan diperselisihkan lagi tingkatakurasinya, karena sudah final)."' Karena konsentrasi kajian Hazai.in adalahmasalah kewarisan, maka operasionalisasi dari pola penafsiran ini bisadilakukan dengan menghimpun semua ayat dan Hadis yang berhubungandengan kewarisan, dan lalu menafsirkannya sebagai suatu kesafuan yangsallng menerangkan. Untuk membantu menjelaskan pengertian dan konsep-konsep yang ada dalam ayat yang dimaksud, Hazairin menyarankan periunyapemakaian kerangka a cu (frame ofreference) i lmu antropologi.

    Dengan memanfaatkan hasil-hasil keilmuan kontemporer (dalam halini ilmu antropologi), sebagai pertimbangan utama dalam memahami nash,bisa dikatakan bahwa Hazairin telah mernperkenalkan pola penafsimn baruatas Alquran. Dalam pandangannya, kelahiran dan perkembangan ilmuantropologi telah membuka peluanguntuk melihat ayat-ayat kewarisan dalam

    r" Mahsun Fuad, H&irr', ft1d,", h. 83." ' Ib i ,1. ,h. ts 16.'' Eddi Rudiana dkk., (ed. ), Hukun lslam di lndonesr?, Banduns: Remaj a Rosda Karya, l99l,

    h . 2 9 .

    56 Jutha!Studi AEanta do, Masyrakat, tlolufte I, Nohor I Juri 2A07

  • rcran kot dalan Pe,sPekli/ H6!in,

    kerangka lebih luas, yaitu sistem kekeluargaan dalam pelbagai masyarakatdunia. Oleh karena itu, ayat-ayat Alquran haruslah dipahami secarakontekstual. Alquran tidak boleh dipalrarni hanya dalam konteks adat danbudaya Tirnur Tengah saja, karena hal itu akan membawa implikasi padaterjadinya benturan dan perasaan asing bagi sebagian masyarakatmuslim yangmempunyai adat dan budaya l ang berbcdc.

    i

    Metode Hazairin dalam penafsirannya, ialah membandingkan secaralangsung segala ayat yang ada sangkut pautnya dengan pokok persoalan,meskipun persangkutannya itu dala jarak yang jauh. AyaGayat yang adapersinggungannya dengan sesuatu hal dihimpunkan menjadi kebulatansebagaikeseluruhanyangmenentukanarti bagisetiapbagiandarikeseluruhanitu, dengan demikian menurut sistem tafsir ini tidak diperbolehkanm€ngartikan suatu ayat terlepas dari makna dan maksud keseluruhannya."Dengan demikian tidak ada kemungkinan lagipengertian tentang sesuatu ayatyang menasakhkan ayat yang lain. Semua ayat Alquran berlaku sepenuhnya,masing-masing dengan pengertiannya sebagai bagian yang tidak terpisahkandari satu totalitas yang penuh.

    E. Analisis Ke$'arisan HazairinSistem bilateral yang ditawarkan Hazairin dalamkonsep kewarisannya

    telah memberikan wama baru dalam sistem penafsiran yang telah ada. Dapatdikatakan bahwa sistem pemikiran baru (,tizhant al-ma'riJi) yang dilakukanHazairin adalah seb agai rekonstruksi penafs iran. Selain itu mcngutip pcndapatMahsun Fuad, bahwa hasil ijtihad Hazairin cenderung menampakkankesejajarannya dengan modemisasi-pembangunan! temtama ketika teori inidiambil menjadipolakebijakandanpembangunanresmi negara."

    " MahsnFud, Hukun Islan,h. 222.'1 Hazaiin. Hukun Kc\,artsan,h.3." MahsunFvd, Hukun Islan.h.24'|.

    Jwnll Sttdi Agnma rlan Mararakat, l/ohhe 4, Nomat I Juri 2A07

  • AbdulGhoniHamid

    Hal tersebut di atas menurut penulis terlihat yaitu dimasukkannyabeberapa konsep Hazairin mengenai kewaristn dalam Kompilasi HukumIslam. Di antaranya ahli waris pengganti, talilah dankonsep radd, sekalipunada sisi-sisi yang berbeda. Sehingga sangatlah relevan asas bilateral dalamkewarisan diterapkan saat ini, karena asas bilateral ini lebih menceminkanaspek keadiian. Karena tidak hanya berpihakpada satu garis keturunan, tetapikepada duagaris keturunan (ayah dan ibu).

    Konsep bilateral menurut Hazairin di atas sudah diakomodir dalamKompilasi Hukum Islam, yaitu Pasal 174 ayat (l). Di rnana dalam pasaltersebut kedudukan ahli waris laki-laki sejajar dengan ahli waris perempuan,yang mernbedakan hanyalah hubungan darah dan perkawinan.Pasal 174:(l) Kelompok ahli waris terdiri dari:a. Menurut hubungan darah:- golongan laki-laki terdiri dari: ayah, anak laki-laki, saudara

    pamandankakek;- golongal perempuan terdiri dari: ibu, anak perempuan,

    perempuan dan nenek.b. Menurut hubunganperkawinan tgrdiri dari: duda ataujanda.

    Salah satu pemikiran Hazairin yang banyak rnendapat tantangan daripara pakar hukum Islam dijamannya, adalah mengenai ahli waris pengganti.Mahmud Yunus dan Thaha Umar Yahya adalah beberapa fuqaha yangmenentang keras konsep Hazairin tersebut. Dasar penolakan tersebut adalahkarcna mereka menganut sistem asltabah d^l^n kewarisan sebagaimanakewarisan Sunni pada umumnya. Scmentara Hazairin tidak mengenal sistemas h ab a h dalam konsep kewarisannya.

    Berdasarkan penafsiran Hazairin at..s kat^ mahrali yang berarti ahliwans pengganti, yaitu orang orang yang menjadi ahli waris karena tidak adalagi penghubung antara mereka dengan pewaris, dan menurumya ia jugatermasuk dalam pengertian aqrabin. Oleh karena itu pcngganti oleh warisyang sebenamya harus mempunyai penghubung dcngan orang yang

    laki-laki,

    saudara

    58 JunMlStudi Agaud dan Matlatakat, Volture 4, Nanot I Juni 20A7

  • Ke\aitut tlalu, Per ektiI lluatirnt

    digantikan itu, di nlana ia adalah seorang yang seharusnya mcnedma warisanketika ia masih hidup, tctapi dalam kasus yang bersangkutan telah meninggallcbih dalrulu dari si pcwaris. llubungan kckeluargaan antara pewaris clengannnxrili berupa hubungan darah ke garis bawah atau ke garis sisi, atau ke garisatas-

    Dalam hal lnengcnai ahli waris pengganti, pendapat Hazairin dirasarelevan namun dalam konteks kasus cucu mcnggantikan kedudukan ayahtyayang tclah men inggol terlebih dahulu. Halini didasarkan atas rasa keadil&n dankemanusiaan, karena tidak layak dan tidak adil serta tidak manusiawimenghukum seseorang tidak berhak mencrinra uarisanyang semestinya harusdiperoleh ayahnya hirnya krrcna faktor kebctulan ayahnya meninggal lebihdulu dari kakeknya. Ilal ini dikaitkan deDgan lakta, pada saat kakek meninggalanak-0naknya semua sudah kaya dan mapan. Sebaliknya si cucu karenaditinggal yatirn, melarat dan miskin.l lal iniselirras dengan kaidah ushull

    F3i6n'), . , " - i i . . . " ' .r) r> t 4rJl ^-. , r-rJ' Hukun itu ntengikuti (be&isar) pada ada clan tkulaqtd illal "

    Lebih dari itu pcndapat azairin rnengenai ahli waris pengganti,melalui hubungan darah kc garis barvah atau ke garis sisi, atau ke garis atastidak terbatas penulis tidak scpakat. Penulis hanya sependapat bahwa ahliwaris pengganti hanya sebatas anak menggantikan kedudukan orang tuanya.Menurut Penulis hal ini dikhawatirkan akan dapat menimbulkan kerancuandalampenetapan hukum sertatidak akanmernberikankeadilan.

    lr,lengenai siapa yang dinraksud dengan ahli waris pcngganti, apakahhanya sebatas anak laki-laki saja at?ru juga anak percnrpuan. Bahtva yangdimaksud adalah anak laki-laki dan perempuln. Merujuk kepada pellgertiandalan bahasa Indonesia mengenai pengertian alak, bahwa anak diartikansebagai keturunan yang kedua."'Juga kata anak mcmpakan padanan kata

    "' Tin] Penyusun Kamus Pusrt Pembinaln dff PengcnlbaDgan Bahasi, /(dr,rr Beso,.Sardsa/,r./o,r?sra, artikel !nak", Jxkarta: Bala i Pustaka, 1998. h. i0.

    JurntlA diAsama.l Musnrakat. tbhn,c 4. r"omot IJtti:i07 59

  • Abdul Choni Hanid

    walad ya\g dalam bahasa Arab artinya mencakup anak laki-laki dan anakperempuan.'u Adapun pendapat penulis mengenai banyaknya bagian yangdigantikan oleh ahli waris penggarti, adalah tidak melebihi banyaknya bagianwaris yang satu derajat dengan yang digantikan. Dengan konsekuensi ketikaahli waris pengganti bersama dengan ahli waris yang sederajat, makahartasisaharus di raddkan kepada semua ahli waris.

    Secan umum pendapat Hazairin mengenai ahli waris penggantibersesuaian pula dengan Pasal 185 Kompilasi Hukum Islam (KHI) Indonesia,yaitu:(l) Ahli wads yang meninggal lebih dahulu daripada sipewaris maka

    kedudukannya dapat digantikan oleh anaknya, kecuali mereka yangtersebut dalam Pasal 173.

    (2) Bagian bagi ahli waris pengganti tidak boleh melebihi dari bagian ahliwaris yang sederaj at dengan yang diganti.

    Berikutnya, dalam hal Dzawil Furidh, Dzawil Qardbah dan Mawdli.Hazairin menyatakan bahwa golongan orang-orang yang menerima warisanada tiga, yaiir:. dzorsil furfrdh, dzawil qardbai dan mawrli. Selain itu juga iatidak sepakat dengan konsep ashabah sebagaimana yang terdapat padamasyankat unilateral (patri lineal atau matrilireal)-

    Konsep dzawil furidh yang dikemukakan Hazairin hampi samadengan konsep Sunni pada umumnya, perbedaan hanya terletak ketika iamemasukkan mawdli sebagai dzawil furtrdh, karena /fiaprli tersebutmenggantikan kedudukan dzawil furidh. adapun konsep dzawil qafibahHazairin b€rbeda dengan konsep ashabah p da Sunni, yaitu terletak padaklasifikasi ahli warisnya.

    Hazairin menetapkan ada 4 (empat) ahli waris yang termasuk /zalvilqoftbah. Sementara dalam konsep as}abafr Sunni ada 3 (tiga) golongan yangtermasuk ke dalamnya, yaitu ashabah bi nafsih. ashaboh bi al-ghair dan

    " Ahbik Ali dan Ahmad Zuhdi Muhdlor, rKanrr a/- 1riri, Yogyakarta: Multi Karya Grafika,1996,h.2039.

    60 JurralStudi Asona daa M6t-orakat, volune 4. No4or I Juri 2007

  • Keta r i.\1xt d a I d ta P!,\ pe kt iJ Hn:a i ritt

    ashabih m'o al-gh,til'. Srtu hal yang scjalan, bahwa konsep rLaril qardbahdr,n usltL ttrlt urenliliki kesimran dllanr hal konsep, yaitu omng-orang yangnrcnerima sisa haftr dalam situasi tertentu, namun berbeda dalampenggolol1gannya.

    Selanjulnya, u)cngenri konsep arafl11, sebagaimana analisisscbelumnya bah\\'o hirl clirraksuclkan untuk dapat menlbcrikan aspek keadilAnkepada senrua pihak clAn mcnghindarkan adaoya udhlrat. I\4isalnya, ketikacucu yang lcrhaldng nrendailatkan hlria warisan dari kakeknya, padahalkolldisi ckonorni si cucu yang yJtin i tu sendir i lcnrah (Driskin), makadikl,awatirkrn akrn bcrpengaruh atas kehidupan si cucu, baik dalan holpcndidikan atau penlenullnll kehuluhan schtri hariuya. Sebcgairnana kaidalyang nrcnyatakan:

    etLj 3'r-','t^st a'' Hukultr itu ntengikuti (harkisur) pada ada tltut tiadatl) a illut "

    Dalam hal ,(rr1ri1alr, jumhur beryendapat b:tltwir kalikrh oritng yangmeninggal tanpa aailk dan ryah, sementara flazairi nrenyatirkan bahwilkaltiluh adalah seorang meninggal dunia tidak meninggalkan anak (I'olarl),tanpa disyarrtkarl ayah hanrs nrcninggal dahulu (tidak ada ayAh). Pangkalpc'rbedaan antara junihur ularra (Sunni) tersebut dengan pemikiran tlazairintentang kalilah terletak kepada dua aspck, yaitu penafsiran lafadz valaddalam surat an-Nisa (4) I 76 dan adanya klasifikasi atas saudara.

    PeDdopat Ilazairin yang rnengartikan r?/ldd sebagri ke[irunan, yaitucnak hki-hki ditn percmpuan, menurut pcnulis adalah tepat. Sebab dikaitkandengan pend0pat lbnu Abbas bahrva rr alarl di sini mencakup laki-laki danpr'lcrnpuan, dan ini beraiti menrbcrlakuksn sesuai dengon keunuman lafadztersebut, hal iDi adalal i sej ir lan dengan pcndapat sekelompok ahli ushultemasuk jugs Ulanra Hirnofiyah yanlg menycbutkan bahw d1-'.1r1 yaDg tidakditt*shish itu pasti Calam keumurnannya, jadi belsifit pasti dalalahnya atau

    J . -n l Sh , l Ag , tnL t ln ' . r t . t \ \ r . rL t t . to l , L J . . \o r t - I J i : t :u . ' 6 l

  • AbdulOhoniHamid

    semua satuan-satuannya. Sebagaimana kaidah ushul yang berbunyi:. t . '

    9lA 1\ ua.tt I

    " Keumuman in yang dimalcsud dari sudut lafadznya "Keumuman lafadz walad juga dikuatkan dengan ayat 233 surat al-

    Baqarah (l), ayat 77 surat Maryam ( l9), ayat 33 surat L0qman (31) dan ayat 2lsurat Noh (71) yang menghendaki arti lralad mencakup anak laki-laki danperempuan." Pendapat ltazairin berikutnya, bahwa ia tidak membeda-bedakan saudara kandung, seayah atau seibu, penulis sepakat akan haltersebut. Dasar penulis adalah apabila ada klasifikasi atas saudara (saudarakandung, seayah atau seibu), rnaka dikhawatirkan akan timbul dishiminasiyang akan merugikan atau bahkan merusak hubungan persaudaraan terscbut.Sehingga dalam hal ini haruslah mclihat aspek mana yang lebih mengandungmaslahat, sebagaimana kaidah berikut:

    " Hukum ilu mengikuti naslahat yang lebih ktat/banyak"

    Konsekuensi pendapat Hazairin mengenai r'nwdli dalam hal kaldlahadalah terhijabnya/terhalangnya saudara menerima warisan dikarenakan adaanak laki-laki atau perempuan atau bersama-sama cucu-cucu baik laki-lakiatau perempuan, tanpa disyaratkan adanya ayah. Dalam halinipcnulis sepakatdengan pendapat Hazairin, yang menyatakan bahwa saudara baru dapatmewaris kalau tidak ada anak dalam arti keturunan. baik laki-laki mauounperempuan ataupun cucu ( lakr-laki/perempuan) tanpa syarat t idak ada ayah.

    Pendapat di atas, didasarkan penulis karena kedudukan anak baik laki-laki atau perempuan lebih dekat dari saudara. Adapun mengeDai pemyataan

    " tbid.,h.2ol9.

    JunalStudiAgtna dan M6latukaL Vofuht.1, Nonot IJuhi 2007

  • K.trd ^ dh llula Pe tvelri I HEa i r i n

    "tanpa syarat tidak ada ayah", karena tidak ada nash yang menyebutkanterhijabnya saudara olelr ayah, sekalipun didapatkan bahwa ayah sejajardengan anak akan tetapi kesejajaran ayah dengan anak ini bukanlahsepenuhnya. Hal ini terbukti dalam hal ada anak dan ayah, bagian ayah hanyaseperenam sedang anak mendapat seluruh sisa.

    Sebagaimana kaidah ushul fi qh, yang menyatakan:

    " Keluarga yang lebih dekat harus ciidahulukan, dariparlu keluarga yanglebih

    Maksud dari kaidah di atas, adalah apabila anak lakilaki atauperempuan mewarisi bersama-sama dengan saudara maka mereka menjaditerhtab. Sebab dilihat dari hubungan dengan pewaris,jelas bahwa anak laki-laki maupun perempuan hubungannya lebih dekat dibanding dengan saudarabaik dari segiTiiat, kerabat atau kekuatan.

    Dari analisis di atas beberapa hal, menurut penulis tcrdapat kelemahanatas pendapat jumhur, yaitu:a. Kebolehan saudara mewaris bersama anak perempuan atau cucu

    perempuan pancar laki-laki betapapunjauh ke bawah;b. Ketidakbolehan cucu pancar perempuan mewaris selama masih ada

    saudara atau anak laki-laki saudara betapapun jauh;c. KetidakbolehaII saudara mewaris bersarna ayah.

    Bahwa Konsep kaldlah di,axlkan sebagai orang yang tidakberketurunan tanpa syarat t idak ada ayah, mempunyai implikasimengakibatkan terhijabnya saudara jika bersama anak (laki-laki/perempuan)atau anak dari anak laki-laki/perempuan, sekalipun ada ayah. tlal ini dirasalebih mengandung aspck keadilan, karena kedudukan anak lebih dekatdarioada saudara.

    ';\ji JLr;\i{'r"

    Jumal Sturli Agoha doh Maslatukat, voloE 1, [email protected] I Juri 2007

  • F. KesimpulanDari pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya tentang perspektif

    Hazairin mengenai kewarisan Islam maka dapat disimpulkan sebagiiberikut:l. Tentang konsep utama llazairin, bahwa sudah saatnya bangia lndonesia

    memiliki produk hukum (fiqh) yang berkepribadian Indonesia. Haltersebutdiyakini akandapatmencapaikebahagiaan,adildanmakmurbaqimasyarakat Indonesta yang menjalaninya.

    2. PerspektifHazairin tentang kewarisan | (a) menurut Ilazairin bahwa sisternkemasyarakatan yang terkandung dalam Alquran adalah sistemkemasyarakatan bilateral, dan karenanya sistem kewarisamya punbcrcorak bilateraljuga; (b) dalam hal ayah meninggal terlebih dahuludaripada kakek, maka cucu (laki-laki atau pirempuan) dapatmenggantikan kedudukan ayah sebagai ahli waris, yang dalam istilahnyadisebut ahli waris pengganti; (c) Hazairin mengklasifrkasikan golonginahli waris kepada 3 (tiga) kelompok, yaitu: dzawil furidh, dzat il qarLbahdan nuwali: (d) dalam hal kalt)lult. l lazainn rncnlarakan bahwt kaLilaltialah orang yang tidak berketurunan tanpa syarat tidak adaayah.

    3. Relevansi pemikiran Hazairin tentang kewarisan tslam: (a) konsepkewarisan bilateral yang dikemukakan Ilazairin sangatlah relevanditerapkan pada masyarakat Indonesia, karena asas bilateral ini lebihmencerminkanaspekkeadilan danjugaasas ini tidakhanyaberpihakpadasatu gans keturunan, tetapi kepada dua garis keturunan (ayah dan ibu). (b)bahwa penerapan ahli waris pengganti di lndonesia adalah relevant tetapidengan batasan. hanya sebatas pada cucu (laki-laki,percmpuanl yangmenggantikan kedudukan ayahnya serta bagiannya dengan tidak melebihibagian ahli waris yang sederajat. Hal ini didasarkan atas rasa keadilan dankernanusiaan, karena tidak layak dan tidak adil serta tidak manusiawimenghukum seseorang tidak berhak menerima wansan yang semestinyaharus diperoleh ayahnya hanya karena faktor kebetulan ayahnvameninggal lebih dulu dari kakeknyai {c ) adapun konsep Hazairin mcngenaigolongan ahli wa s, yaitu: dzawil furitlh, dzawil qardbah dal' miwili

    64 Jnn'al Sltrli Agano dat l4asyaralat, yohue L No'nor I Jrri 2007

  • K?vat is a,.! al a n Pc BNkt il Eazai ti n

    mengandung relevansi terutama dalam masyarakat Indonesia yangdemokatis saat ini; (d) dalan hal kuldlah yang diartlkan scbagai orangyang tidak berketurunan tanpa syarat tidak ada ayah, adalah relevanjugabila diterapkan di Indonesia. Karena dengan terhijabnya saudara jikabersama anak (laki-laki/perempr.ran) atau anak dari anak laki-laki/perempuan, sekalipun ada ayah, hal ini dirasa lebih mengandungaspek keadilan, karena kedudukan anak lebih dekat daripada saudara.

    4. Pendekatal yang digunakan Hazairin dalam upaya merumuskan hukumIslam adalah pendekatan sosio-kultural-historis, yang tentunya dengantetap mengacu pada dalil-dalil nasl. llal tersebut didasari bahwa hukumIslam./fiqhbisabe.ubah menurutsituasi dan kondisi yangmengitarinya.

    DaftarPustakaAli, Atabik dan Ahmad Zuhdi Muhdlor, Kamus al-'Ashri, Yogyakana: Multi

    KaryaGrafika, 1996.Arikunto, Suharsimi, Ma najemen Pe elitian,lakarta: Rineka Cipta, 1990.Budiono, A. Rahmad, Pembaruan Hukun Ke\taisan Islam di Indonesia,

    Bandung: CitraAditya Bakti, Cet. KeJ, 1996.Al-Bukhari, Muhammad bin lsmail, ,Srdrl, ,lllarl, Qahirah: Dar as-Sya'bi,

    Juz VI, t.th.Depag.RJ,Al-Qur 'an dan Terjemahnfa,Surabaya: Jaya Sakti, 1990.

    , Bahan Penyuhthan Hukum, Jakarta: Direktorat JenderalPembinaan KelembagaanAgama Islam, 2001.

    Fuad, Mahsun, Hukum Islanr Indonesia Dari Naldr Partisipatoris HinggaEmansipatoris,Yogyakarta: LKiS, Cet. I, 2005.

    lladikusuma, Hilman, Huklm lfaris Adat,Bandung: Citra Aditya Bakti, Cet.vII,2003.

    Halim, Abdul, "Hazairin dan Pemikirannya tentang Pembaharuan HuL-umKekeluargaan dalam Islam", dalam Penelitian Jurnal Agana,No. 18Th. vII, 1998.

    Jurndl Studi Agana dan Maslarakal, Volude 4, Nohar I JMi 1007

  • Hj Rahmaniar da! Ajahad

    Harahap, Syahrin, Metodologi Stndi Tolioh Pentikiran Islart, Cet. I, Jakarta:Istiqamah Mulya Press, 2006.

    Hazairiry Hukun Kewarisan Bilateral Menurut al-Qur'an dan Hadith,Jakarta: Tintamas. Cet. VI. 1982.

    Hefni, Moh, "Menggagas Fiqh Indonesia (meretas Pemikiran Muhammad asbiAsh Shiddiqi)", dalam JumalStLtdi Keislaman, STAIN Pamekasan.

    IAIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islan lt\donesia, lakattat Djambatan,2002.

    Katsir, lsmail lbnu, rd/i ir lbtlu KatsiLBeiJ.utt Darul Fikr, Jilid II, 1986.Khair, Damrah, "Hazairin Gelar Pangeran Alamsyah Harahap: Pembela

    I-Iukum lslam Yang Gig1h", dalalr' Minbar Hu f!r?, Vol. 2, No. l, Juli1999.

    Mahali, A. Mudjab, lsbabun Nuzul, Jakarta: Raja Grafindo Persada, Cet. l,2002.

    Masykur, dkk., Ieryenah Fiqh Lima Mazhab, Jakarta: Lentera, Cet. XIII,2005.Qal'ahji, Muhammad Ra*was, Ensiklopedi Fiqh Umar, Jakarta: Raja

    Grafindo Persada. Cet.I. 1999.Ramulya, M. Idris, -Ftu kunt Waris Islam,Jakarta: Ind. Hill, I 987.

    , Hukum Perkawinan, Hukun Ketlarisan, Hukun AcaraPeradilanAgama dan Zakat, Jakarta. Sitar Grafi ka, Cet.lll,2004.

    .Asas-asas Hukunt Islan, Jakartat Sinar Grafika, 2004.Ritonga, Iskandar, "llukum Kewarisan Islam di lndonesia Suatu Kajian

    Pemikiran Hazairin", dalamlnalrsis, No- 44Th. X,2002.Rofiah, Kusniati, "Pernbaharuan Hukum Waris di Indonesia", dalam Jumal

    Dialogra, Vol.3 No. I, Januari-Juni 2005.Rudiana, Eddidkk, (ed).,Hukum Islam di Indorerld, Bandung: RemajaRosda

    Karya,1991.Sarrnadi,A. Sukis, Z-ansendensi Keaclilan Hukun lllaris IslamTransformatif,

    Jakartar RajaGrafindo Persada, Cet.l, 1997.Siddiq,Abdullah, flrlern lyaris Is lan, Jakafta Widjaya, 1984.Soekanto Soerjono, Penelitian Hukum Notnarrl Jakarta: CV Rajawali,l990.

    66 JtrndlS tdiAgana dan M6fat.ka. Uolu,ne 4, Nontor l Juni 2007

  • Kaa sah dolan Percpehif Hdairin

    SvAatsono, Hufun Waris dat Sistem Bilaterar, Jakarta: Rineka Cipta, Cet. II,1991.

    Sumitro, Warkum, Perkembangan Hukum Islam di Tengah Kehidupan SosialPolirik di Indonesia,Malang: Bayumedia, Cet. I, 2005.

    Sunggono, Bambang , Metodologi Penelitian Hukum, lakart^. Raja GrafindoPersada,l998.

    TIM, Ensiklopedi Nasional Indonesia, I^karte: Deltapamungkas, 1997.Tim Penywun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamns

    Resar Rahasa Indonesra, Jakarta: Balai Pustaka, 1998.Zamakhsari, R. Lidbis, Tafsir Ayq.t-ayat Hukum, Bar\d]Jr'jg: Al Ma'rif, Cet, I,

    Jilid II. 1980.

    hmal Shtdi A8M da,IainN,o*aa volune L NoBor l Juti 2u7 67

    SAM070027.PDFSAM070028.PDFSAM070029.PDFSAM070030.PDFSAM070031.PDFSAM070032.PDFSAM070033.PDFSAM070034.PDFSAM070035.PDFSAM070036.PDFSAM070037.PDFSAM070038.PDFSAM070039.PDFSAM070040.PDFSAM070041.PDFSAM070042.PDFSAM070043.PDFSAM070044.PDFSAM070045.PDFSAM070046.PDFSAM070047.PDFSAM070048.PDFSAM070049.PDFSAM070050.PDFSAM070051.PDFSAM070052.PDFSAM070053.PDFSAM070054.PDFSAM070055.PDFSAM070056.PDFSAM070057.PDFSAM070058.PDFSAM070059.PDFSAM070060.PDFSAM070061.PDFSAM070062.PDFSAM070063.PDFSAM070064.PDFSAM070065.PDF