UNIVERSITAS INDONESIA DOKUMENTASI KOLEKSI...

of 110/110
UNIVERSITAS INDONESIA DOKUMENTASI KOLEKSI ARKEOLOGI DI MUSEUM NASIONAL SKRIPSI Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana humaniora FENNY MEGA VANANI 0706279326 FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN BUDAYA PROGRAM STUDI ARKEOLOGI DEPOK DESEMBER 2011 Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011
  • date post

    08-Mar-2019
  • Category

    Documents

  • view

    231
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of UNIVERSITAS INDONESIA DOKUMENTASI KOLEKSI...

UNIVERSITAS INDONESIA

DOKUMENTASI KOLEKSI ARKEOLOGI DI MUSEUM NASIONAL

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana humaniora

FENNY MEGA VANANI 0706279326

FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN BUDAYA PROGRAM STUDI ARKEOLOGI

DEPOK DESEMBER 2011

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

ii

SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME

Saya yang bertanda tangan di bawah ini dengan sebenarnya menyatakan bahwa

skripsi ini saya susun tanpa tindakan plagiarisme sesuai dengan peraturan yang

berlaku di Universitas Indonesia.

Jika di kemudian hari ternyata saya melakukan tindakan plagiarisme, saya akan

bertanggung jawab sepenuhnya dan menerima sanksi yang dijatuhkan oleh

Universitas Indonesia kepada saya.

Jakarta, 2 Desember 2011

Fenny Mega Vanani

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

iii

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri,

dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk

telah saya nyatakan dengan benar.

Nama : Fenny Mega Vanani

NPM : 0706279326

Tanda Tangan:

Tanggal : 2 Desember 2011

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

HALAMANPENGESAHAN

Skripsi yang diajukan oleh

Nama : Fenny Mega Vanani

NPM : 0706279326

Program Studi : Arkeologi

Judul : Dokumentasi Koleksi Arkeologi Di Museum

Nasional

ini telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima

sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar

Sarjana Humaniora pada Program Studi Arkeologi, Fakultas Ilmu

Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.

DEWAN PENGUJI

Pembimbing : Dr. Wanny Rahardjo Wahyudi

Penguji : Dr. Kresno Yulianto

Penguji : Dr. Ali Akbar

Ditetapkan di Tanggal

oleh

Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

Dr. Bambang Wibawarta ~IP. 196510231990031002)

iv

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

v

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas

berkat dan rahmat-Nya, saya dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulisan skripsi ini

dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana

Humaniora Program Studi Arkeologi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya,

Universitas Indonesia.

Saya menyadari dalam proses penulisan skripsi ini, saya mendapat banyak

bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, dari masa perkuliahan hingga pada

penyusunan skripsi ini. Tanpa bantuan dan bimbingan tersebut sangat sulit bagi

saya menghadapi kendala-kendala yang merintang datang silih berganti. Oleh

karena itu, saya mengucapkan terima kasih kepada:

1. Orang tua dan keluarga saya yang telah memberikan dukungan materil dan

moril. Skripsi ini saya dedikasikan untuk Mama dan Papa yang tidak pernah

lelah mendoakan dan menyemangati saya, serta tidak pernah meninggalkan

saya saat berada dalam kesulitan;

2. Dr. Kresno Yulianto, selaku Ketua Departemen Arkeologi FIB UI yang

banyak memberikan pinjaman buku-buku dan masukkan demi kelancaran

penelitian saya;

3. Dr. Ninie Susanti, selaku Koordinator Program Studi S1 Arkeologi yang

telah banyak memberikan bantuan dan dukungan;

4. Dr. Wanny Rahardjo Wahyudi, selaku pembimbing skripsi saya yang

dengan kesabarannya meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk

mengarahkan saya;

5. Prof. Dr. Agus Aris Munandar, selaku pembimbing akademis selama 4

tahun masa perkuliahan, dan semua pihak pengajar: Dr. Ali Akbar, Dr. R.

Cecep Eka Permana, Ingrid Harriet E. P, M.Si., Dr. Heriyanti Ongkodharma

Untoro, Dr. Irmawati Johan, Karina Arifin, Ph.D., Agi Ginanjar, M.Si., Dian

Sulistyowati, M.Hum., Ajeng Ayu Arainikasih, M.Arts., dan semua nama

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

vi

yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu, terima kasih atas kesabaran

dan semua ilmu yang telah diberikan kepada saya semasa kuliah;

6. Ibu Ekowati Sundari, M.Hum., selaku Kepala Bidang Koleksi Museum

Nasional yang tanpa bantuannya saya pasti tidak bisa melanjutkan penelitian

saya;

7. Bapak Trigangga, S.S., selaku Kepala Bidang Registrasi Museum Nasional;

Mas Gunawan, M.Hum, selaku staf Bidang Registrasi Museum Nasional

yang pertolongannya tidak terkira untuk mendapatkan data-data penelitian

dan semua pihak lainnya dari Museum Nasional saya ucapakan terima

kasih;

8. Teman-teman seperjuangan angkatan 2007, SEMUANYA, terima kasih atas

dukungan dan kebersamaan, terlebih atas penerimaan dan pengertiaannya

pada saya secara pribadi. Selalu berjuang dan tetap menjadi diri kita sendiri!

Akan sangat merindukan kalian;

9. Listya Desti Utami dan Huda Hafida, S.IKom., kalian pelengkap yang

Tuhan berikan sejak 10 tahun yang lalu. Terima kasih, kita akan terus

bersama selamanya;

10. Eka Vandesmar Prasetya Utama, S.T., mentor dan sahabat, untuk semua

suka dan duka, untuk semua kebersamaan dan pengorbanan, terima kasih.

Akhir kata, saya berharap Tuhan Yang Maha Esa berkenan membalas segala

kebaikan semua pihak yang telah membantu. Semoga skripsi ini membawa

manfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Tangerang, 2 Desember 2011

Fenny Mega Vanani

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

vii

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai sivitas akademik Universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan di

bawah ini:

Nama : Fenny Mega Vanani

NPM : 0706279326

Program Studi : Arkeologi

Departemen : Arkeologi

Fakultas : Ilmu Pengetahuan Budaya

Jenis karya : Skripsi

demi perkembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada

Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclusive Royalty-

Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul:

Dokumentasi Koleksi Arkeologi Di Museum Nasional

beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti

Noneksklusif ini Universitas Indonesia berhak menyimpan,

mengalihmedia/formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database),

merawat dan memublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan nama

saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Tangerang, 2 Desember 2011 Yang menyatakan,

(Fenny Mega Vanani)

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

viiiUniversitas Indonesia

ABSTRAK Nama : Fenny Mega Vanani Program Studi : Arkeologi Judul : Dokumentasi Koleksi Arkeologi Di Museum Nasional Skripsi ini merupakan penelitian mengenai sistem dokumentasi pada koleksi arkeologi di Museum Nasional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji penerapan sistem dokumentasi yang telah dilakukan oleh Museum Nasional dalam memenuhi salah satu perannya sebagai lembaga yang berorientasi pada pengembangan edukasi masyarakat. Penelitian mengacu pada pengelolaan koleksi (management collection) berdasarkan prinsip dokumentasi dalam arkeologi. Penelitian ini merupakan bentuk penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Hasil penelitian menyarankan bahwa perbaikkan dokumentasi koleksi arkeologi perlu dilakukan dalam rangka memenuhi prinsip dokumentasi dalam arkeologi secara optimal dan memberikan starting point yang informatif sebagai bekal dalam melakukan penelitian koleksi lebih lanjut. Kata kunci: Dokumentasi koleksi, management collection, dokumentasi dalam arkeologi

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

ixUniversitas Indonesia

ABSTRACT Name : Fenny Mega Vanani Study Program : Archaeology Title : Documentation of Archaeology Collection in National

Museum of Indonesia This graduate thesis is a study about documentation system of archaeology collection conducted in the National Museum of Indonesia. The purpose of this study is to examine the application of documentation system which has done by National Museum in order to meets one of its basic role as an institution concerned in public education development. The study referred to management collection in the term of documentation in archaeology. This research is qualitative method with descriptive explanation. The result of this study suggests that the development documentation of archaeology collection is needed in order to optimally apply documentation principal in archaeology and provide an informative provision as a starting point for further collection research. Key words: Documentation of collection, management collection, documentation in archaeology

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

xUniversitas Indonesia

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL... SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME . HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS LEMBAR PENGESAHAN KATA PENGANTAR LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ABSTRAK.. ABSTRACT.... DAFTAR ISI... DAFTAR GAMBAR.. DAFTAR FOTO. DAFTAR TABEL... DAFTAR LAMPIRAN... 1. PENDAHULUAN.

1.1 Latar Belakang. 1.2 Perumusan Masalah..... 1.3 Tujuan dan Manfaat. 1.4 Metode Penelitian.

1.4.1 Pengumpulan Data....... 1.4.2 Pengolahan Data........... 1.4.3 Sintesis dan Penyimpulan.....

1.5 Sistematika Penulisan...........

2. DOKUMENTASI DALAM ARKEOLOGI... 2.1 Hakikat Data Arkeologi... 2.2 Dimensi Arkeologi... 2.3 Manfaat Dokumentasi......

2.3.1 Dokumentasi Untuk Preservsi.. 2.3.2 Dokumentasi Untuk Penelitian..... 2.3.3 Dokumentasi Untuk Komunikasi.

3. KOLEKSI ARKEOLOGI MUSEUM NASIONAL

3.1 Keberadaan Koleksi Arkeologi. 3.2 Keberagaman Koleksi Arkeologi Di Museum Nasional..

3.2.1 Arca... 3.2.2 Prasasti.. 3.2.3 Alat Upacara. 3.2.4 Perhiasan.. 3.2.5 Alat Rumah Tangga.

iii

iiiivv

viiviii

ixx

xiixiiixivxv

1167889

1011

13131922252627

2929303338394042

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

xiUniversitas Indonesia

3.2.6 Bagian Bangunan...

4. DOKUMENTASI KOLEKSI ARKEOLOGI.. 4.1 Sistem Dokumentasi.. 4.2 Penerapan Sistem Dokumentasi 4.3 Hasil Dokumentasi

4.3.1 Dokumentasi Manual.... 4.3.2 Dokumentasi Digital.....

4.4 Tinjauan.

5. PENUTUP........... 5.1 Kesimpulan 5.2 Saran..

DAFTAR REFERENSI..

42

46465051567479

878790

91

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

xiiUniversitas Indonesia

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Perhitungan Atribut Bentuk ...................................... 20

Gambar 2.2 Tahap Penelitian Arkeologi... 22

Gambar 2.3 Fungsi Dasar Museum....... 24

Gambar 2.4 Hakikat Data Arkeologi. 26

Gambar 3.1 Pembagian Bidang Koleksi 31

Gambar 3.2 Pengelompokkan Koleksi.. 32

Gambar 4.1 Alur Penanganan Koleksi.. 51

Gambar 4.2 Database Koleksi.. 53

Gambar 4.3 Kelompok Koleksi Berdasarkan Jenis... 75

Gambar 4.4 Kelompok Koleksi Berdasarkan Bahan. 76

Gambar 4.5 Diagram Persentase Dokumentasi Koleksi 80

Gambar 4.6 Perbandingan Koleksi Dan Dokumentasi.. 81

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

xiiiUniversitas Indonesia

DAFTAR FOTO

Foto 3.1 Arca Parvati.. 34

Foto 3.2 Arca Bhrkuti. 35

Foto 3.3 Arca Harihara 36

Foto 3.4 Arca Nandi. ... 37

Foto 3.5 Arca Manusia. 37

Foto 3.6 Prasasti Nomor Inventaris D175.. 38

Foto 3.7 Alat Upacara: Mangkuk 40

Foto 3.8 Perhiasan: Hiasan Ikat Pinggang. 41

Foto 3.9 Bagian Bangunan: Relief Nomor Inventaris 433.. 43

Foto 3.10 Bagian Bangunan: Relief Kancil Nomor Inventaris 422.. 44

Foto 3.11 Bagian Bangunan: Makara 45

Foto 4.1 Lembar Inventaris Koleksi Halaman 1.. 54

Foto 4.2 Lembar Inventaris Koleksi Halaman 2.. 55

Foto 4.3 Informasi Pada Lembar Inventaris Koleksi.. 58

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

xivUniversitas Indonesia

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Kelompok Koleksi Arca 36

Tabel 3.2 Kelompok Koleksi Prasasti 39

Tabel 3.3 Kelompok Koleksi Alat Upacara... 39

Tabel 3.4 Kelompok Koleksi Perhiasan. 41

Tabel 3.5 Kelompok Koleksi Alat Rumah Tangga 42

Tabel 3.6 Kelompok Koleksi Bagian Bangunan... 44

Tabel 4.1 Tingkat Informasi Terisi 61

Tabel 4.2 Perhitungan Buku Katalog Koleksi Arkeologi.. 62

Tabel 4.3 Perhitungan Buku Katalog Koleksi Arkeologi (Setelah Eleminasi) 68

Tabel 4.4 Kelompok Koleksi Tanah Liat... 77

Tabel 4.5 Kelompok Koleksi Batu. 77

Tabel 4.6 Kelompok Koleksi Logam......................... 78

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

xvUniversitas Indonesia

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Tabel Informasi Terisi Pada Satu Buku Katalog Koleksi Arkeologi Museum Nasional (Koleksi Emas Wonoboyo)

Lampiran 2 Tabel Persentase Tingkat Informasi Pada Satu Buku Katalog Koleksi Arkeologi Museum Nasional (Koleksi Emas Wonoboyo)

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

1

Universitas Indonesia

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dokumentasi secara umum berasal dari kata document (Inggris) dan

documentum (Latin) yang berarti informasi atau data yang terekam atau dimuat

dalam suatu media yang digunakan untuk belajar, kesaksian, penelitian dan lain-

lain. Dokumentasi juga berarti mengumpulkan semua keterangan baik yang

berupa tulisan, foto, gambar, rekaman video, sketsa, peta atau karya-karya

monumental lain untuk kemudian disimpan dan digunakan bila diperlukan.1

Masih secara umum, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,

dokumentasi berarti pengumpulan, pemilihan, pengolahan dan penyimpanan

informasi di bidang pengetahuan, pemberian atau pengumpulan bukti dan

keterangan (gambar, kutipan, guntingan koran dan bahan referensi lain).

Dokumentasi juga memiliki fungsi sebagai suatu usaha untuk mengawetkan

informasi-informasi agar dapat dipergunakan lagi di masa mendatang sebagai

bahan untuk belajar, penyelidikan atau penelitian.

Dokumentasi (dokumen) dalam ilmu sejarah memiliki dua pengertian

sebagaimana yang dikutip dalam Buku Understanding History: A Primer

Historical Method, Louis Gottschalk menjabarkan pengertian pertama yang

berarti sumber tertulis bagi informasi sejarah yang merupakan kebalikan dari

informasi lisan, artefak dan peninggalan arkeologi lainnya. Pengertian kedua dari

dokumentasi (dokumen) adalah dikaitkan dengan surat-surat resmi dan surat-surat

negara, seperti surat perjanjian, undang-undang, hibah, konsesi dan lain-lainnya.

Gottschalk menambahkan secara lebih luas adalah berupa setiap proses

pembuktian yang didasarkan atas jenis sumber apapun, baik bersifat tulisan, lisan,

ataupun gambar (Gottschalk, 1986).

1DepartemenPendidikanNasional.KamusBesarBahasaIndonesiaEdisiKeempat.2008.Jakarta:GramediaPustakaUtama.Halaman338.

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

2

Universitas Indonesia

Dalam ilmu kebudayaan, dokumentasi merupakan usaha untuk

merekonstruksi proses kebudayaan yang terwakili oleh suatu benda budaya.

Konsep kebudayaan inilah yang perlu untuk dilestarikan. Menurut

Koentjaraningrat, kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan dan tindakan

manusia yang kemudian menghasilkan suatu karya dalam kehidupan manusia dan

dijadikan milik diri manusia dengan belajar (Koentjaraningrat, 2001: 72).

Manusia memiliki gagasan dan dengan bertindak manusia dapat

menghasilkan karya. Karya manusia tersebut merupakan benda budaya (material

culture). Dokumentasi penting dilakukan pada benda-benda budaya yang

dihasilkan oleh manusia sebagai upaya untuk merekonstruksi konsep kebudayaan

yang terwakili oleh suatu benda budaya. Konsep kebudayaan tersebut perlu untuk

dilestarikan.

Arkeologi yang merupakan disiplin ilmu yang mempelajari mengenai

kebudayaan manusia masa lampau melalui peninggalannya juga menekankan

pentingnya dokumentasi. Dokumentasi dalam arkeologi berarti merekam data

arkeologi dalam dimensi bentuk, ruang dan waktu, serta merekam hubungan

fungsional antara benda dengan hubungan temporalnya. Dokumentasi tersebut

dilakukan pada data arkeologi berupa benda-benda hasil modifikasi manusia yang

pada hakikatnya terbatas karena sebagian besar terkubur di tanah dan ditemukan

dalam keadaan tidak utuh.

Keberadaan benda yang terkubur tersebut mengharuskan para arkeolog

untuk melakukan ekskavasi yang terbatas secara ruang dan waktu. Dokumentasi

dilakukan dengan merekam konteks benda tersebut saat ditemukan dengan

melakukan perkaman verbal maupun piktorial. Dokumentasi dalam arkeologi juga

bermanfaat untuk memahami terjadinya proses formasi pada benda, seperti

terjadinya proses tingkah laku dan proses transformasi (Sharer dan Ashmore,

2003: 127128).

Dalam arkeologi, data arkeologi tersebut sebagian besar merupakan benda-

benda budaya yang tidak utuh dan berada di bawah tanah. Keberadaan benda yang

di bawah tanah tersebut mengharuskan para arkeolog untuk melakukan ekskavasi

yang tidak dapat diulang, sehingga dokumentasi perlu dilakukan dengan

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

3

Universitas Indonesia

perkaman verbal dan piktorial. Dengan demikian, dokumentasi merupakan tahap

penting dalam proses pengumpulan data.

Dokumentasi dalam penelitian ini terkait dengan dokumentasi dalam

museum, yaitu dokumentasi benda-benda budaya yang ada di museum.

Dokumentasi dalam museum berarti meregistrasi dan mengkatalogisasi setiap

benda yang masuk ke museum. Tujuannya adalah untuk memastikan benda

tersebut merupakan milik museum dan memudahkan pegawai museum untuk

dapat menanganinya secara efektif dan efisien serta memudahkan dalam

mengidentifikasi benda-benda bila ada kemungkinan terburuk terjadi pada benda

yang merupakan koleksi museum tersebut (Burcaw, 1997).

Dalam Buku Collection Management (1995), disebutkan hal yang sama

mengenai pentingnya melakukan dokumentasi koleksi bahwa dokumentasi

dilakukan untuk dapat memudahkan pegawai museum menemukan lokasi

penyimpanan koleksi dan memudahkan pengunjung ataupun peneliti mendapatkan

informasi terkait dengan koleksi tersebut. Koleksi harus didokumentasikan sesuai

dengan ketentuan tertentu sehingga museum dapat menghitung, melokasikan dan

menyediakan informasi mengenainya. Informasi tersebut kemudian dapat diakses

melalui pameran umum atau pelayanan informasi (Fahy, 1995: 2).

Di lain sisi, dokumentasi memiliki fungsi untuk menunjukkan makna pada

koleksi dan menunjukkan asosiasi serta konteks pada koleksi yang telah

kehilangan hubungan tersebut. Dokumentasi berfungsi mengembalikan konteks

dan menjadikannya bermakna. Dengan demikian dokumentasi koleksi dapat

menampilkan keterkaitan koleksi dengan konteks dan asosiasi dengan koleksi

lainnya.2

Dalam penelitian ini menggunakan definisi dokumentasi sebagaimana

yang dipaparkan oleh Burcaw, bahwa dokumentasi diperlukan untuk dapat

menangani koleksi secara efisien dan efektif. Sehingga pembatasan dalam

penelitian ini hanya menitikberatkan pada bentuk registrasi, inventarisasi dan

katalogisasi yang sudah ada di Museum Nasional.

2 Presentasi Guru Besar Universitas Indonesia Noerhadi Magetsari dalam forum diskusiPemaknaanMuseumuntukMasaKini,sepertiyangdikutipdariKompas,Selasa5Mei2009.

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

4

Universitas Indonesia

Konteks yang dikembalikan dapat menciptakan makna melalui interpretasi

dari koleksi yang dipamerkan dan hasil interpretasi tersebut berguna untuk

memahami masa lampau serta sebagai bukti telah dilakukannya pelestarian bagi

kepentingan generasi masa mendatang melalui dokumentasi. Mengetahui makna

tersebut merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh museum sebagai usaha

untuk merekonstruksi sejarah kebudayaan dan dengan demikian dapat juga

menjelaskan mengenai jati diri bangsa (Magetsari, 2008: 14).

Pada bagian ini terlihat bahwa melalui dokumentasi yang dilakukan oleh

museum sebagai lembaga yang menyimpan dan merawat benda-benda budaya

dapat memudahkan proses rekonstruksi kebudayaan. Hal tersebut tercermin dalam

fungsi museum sebagai tempat mengumpulkan, mendokumentasikan, merawat

dan menyediakan akses untuk melakukan penelitian (Fahy, 1995: 2).

Berbicara mengenai museum, International Council of Museum (ICOM)

mendefinisikan museum sebagai lembaga non-profit untuk kepentingan dan

pembangunan masyarakat yang terbuka untuk umum (ICOM, 1986)3. Banyak

fungsi museum lainnya lebih lanjut dijelaskan oleh lembaga-lembaga yang

menaungi museum.

Museum Association mendefinisikan museum sebagai tempat untuk

memamerkan koleksi dan interpretasi yang berkaitan dengan benda-benda budaya

untuk kepentingan masyarakat (Fahy, 1995: 2). American Association of Museum

mendefinisikan fungsi museum adalah untuk menyimpan koleksi demi

kepentingan pendidikan dan bertujuan untuk memberi keindahan bagi manusia

dan kesejahteraan manusia di masa depan (Kotler, 2008: 7). United Kingdom

Museums Association menjelaskan fungsi museum untuk memberikan informasi

yang berkaitan dengan keuntungan publik (McLean, 1997: 9).

Dilihat dari definisi museum tersebut, jika dikaitkan dengan ilmu

pengetahuan dan kebudayaan dapat lebih luas lagi dijelaskan. Museum merupakan

tempat untuk menyimpan koleksi yang merupakan objek penelitian ilmiah 3 The ICOM Code of Professional Ethics disahkan dengan kesepakatan bersama padaGeneralAssimblyke15diBuenosAires,Argentinapada4November1986.Kemudiandiamandemenpadapertemuanke20diBarcelona,Spanyolpada6Juli2001,menggantijudulmenjadiICOMCodeofEthicsforMuseumsdandirevisipadapertemuanke21diSeoul,KoreaSelatanpada8Oktober2004.Versiyangberedardi IndonesiamerupakancetakanDepartemenKebudayaandanPariwisata,DirektoratJenderalSejarahdanPurbakala,DirektoratMuseum,2008.Cetakantersebutyangdigunakanpenulissebagaikutipan.

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

5

Universitas Indonesia

bertugas untuk mengadakan, melengkapi dan mengembangkan tersedianya objek

penelitian ilmiah bagi siapapun yang membutuhkan. Selain itu museum juga

bertugas untuk menyediakan sarana untuk kegiatan penelitian, selain museum

bertugas melaksanakan kegiatan penelitian itu sendiri dan menyebarluaskan hasil

penelitian tersebut untuk pengembangan ilmu pengetahuan umumnya.4

Berdasarkan definisi-definisi tersebut dapat diketahui bahwa peran utama

museum dapat diintisarikan berkaitan dengan kepentingan masyarakat.

Diantaranya adalah sebagai penyediainformasi edukatif mengenai pengetahuan

kebudayaan kepada masyarakat pada umumnya melalui sistem dan tata penyajian

koleksi yang dapat menarik minat tertentu (Ambrose dan Paine, 2006).

Serangkaian kegiatan yang menyangkut dengan sistem dan tata penyajian koleksi

tersebut dimulai dari menyimpan, merawat, melakukan penelitian sampai

publikasi hasil penelitian tersebut tercakup dalam pengelolaan koleksi (Keene,

2002: 19).

Setelah memahami definisi museum sebagaimana yang telah dijabarkan

pada paragraf sebelumnya, maka disadari bahwa kegiatan museum berpusat pada

pengembangan koleksi, baik untuk pengembangan pengetahuan masyarakat

ataupun sebagai penyedia objek penelitian ilmiah. Sehingga untuk dapat

mengembangkan koleksi tersebut, museum perlu melakukan dokumentasi koleksi,

karena dokumentasi koleksi bertujuan untuk merekam kegiatan penelitian,

perawatan ataupun penyajian koleksi.

Perlu dipahami bahwa pemahaman mengenai dokumentasi koleksi tersebut

merupakan permasalahan krusial dan mendasar untuk dikembangkan pada

museum saat ini. Tanpa pengetahuan mengenai dokumentasi koleksi dan

pengembangan material budaya mustahil dapat merekonstruksi makna koleksi dan

memahami peran museum dalam masyarakat kontemporer (Fahy, 1995: 10).

Untuk itu, penerapan dokumentasi koleksi sangat menarik untuk dikaji

karena merupakan aspek terpenting dalam berlangsungnya kegiatan museum dan

lebih dari pada itu jika ditarik dari sudut pandang ilmu pengetahuan, maka

dokumentasi penting untuk melestarikan ilmu pengetahuan itu sendiri. Dalam

4 Sebagaimana yang dijelaskan dalam Pengelolaan Koleksi Direktorat Museum (2007) yangdikeluarkanolehDepartemenKebudayaandanPariwisata.

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

6

Universitas Indonesia

kaitan dokumentasi museologi dengan arkeologi, sebagaimana yang dikutip dari

Brian Fagan bahwa arkeologi memiliki tujuan dan satu prioritas utama, yaitu

untuk menjaga dan merawat peninggalan-peninggalan yang tersisa untuk generasi

seterusnya (Fagan, 2006: 63).

Konsep dokumentasi koleksi yang melatarbelakangi penelitian ini dapat

dilihat pada koleksi arkeologi di Museum Nasional. Diketahui bahwa koleksi

arkeologi di Museum Nasional sangat beragam dengan kuantitas yang banyak,

maka menarik untuk dikaji bagaimana penerapan sistem dokumentasi koleksi

arkeologi di museum tersebut berdasarkan prinsip dokumentasi dalam arkeologi.

Selain itu, Museum Nasional merupakan museum pusat yang sepatutnya

telah memiliki sistem dokumentasi yang dapat menjadi acuan bagi museum

lainnya. Dengan demikian, penelitian mengenai dokumentasi koleksi arkeologi ini

menjadi semakin menarik karena merupakan hal yang paling penting dalam

pengelolaan koleksi.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang, timbul pertanyan mengenai sistem

dokumentasi yang diterapkan di Museum Nasional dalam menangani dokumentasi

koleksi arkeologi. Hal tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan bagaimana

sistem dokumentasi koleksi arkeologi diterapkan di Museum Nasional dan apakah

sudah keseluruhan koleksi arkeologi Museum Nasional didokumentasikan?

Mengingat koleksi tersebut adalah koleksi arkeologi yang merupakan

benda-benda arkeologi untuk itu dokumentasinya harus sesuai dengan prinsip-

prinsip dokumentasi dalam arkeologi. Pertanyaan yang timbul kemudian adalah

apakah sistem dokumentasi yang telah diterapkan selama ini di Museum Nasional

telah memenuhi prinsip-prinsip perekaman dalam arkeologi?

Berdasarkan alasan-alasan pada latar belakang dan pertanyaan yang timbul

pada paragraf sebelumnya, maka permasalahan yang timbul dalam penelitian ini

adalah bagaimana sistem dokumentasi koleksi yang cocok untuk

diimplementasikan agar dokumentasi tersebut dapat menjadi sumber informasi

yang digunakan sebagai titik awal melakukan penelitian lebih lanjut.

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

7

Universitas Indonesia

Mengingat informasi yang terdokumentasi tersebut adalah hal yang

penting, maka hendaknya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Dokumentasi tersebut juga merupakan upaya untuk melestarikan koleksi itu

sendiri.

1.3 Tujuan dan Manfaat

Penelitian ini merupakan bentuk penelitian yang dimaksudkan untuk

menambah khasanah pengetahuan mengenai dokumentasi koleksi. Terutama

mengenai dokumentasi koleksi arkeologi yang berada di Museum Nasional.

Dengan melihat permasalahan yang terdapat pada penelitian ini, maka

tujuan penelitian adalah menelusuri keterkaitan antara koleksi dengan

dokumentasinya, memahami sistem dokumentasi yang diterapkan di Museum

Nasional dan mengetahui sistem dokumentasi yang cocok untuk diterapkan pada

koleksi arkeologi di Museum Nasional.

Selain itu, tujuan lainnya adalah memberikan rekomendasi dalam bentuk

deskripsi secara menyeluruh mengenai katalog koleksi sebagai output dari

dokumentasi koleksi. Dengan demikian dapat dipertanggungjawabkan

kebenarannya dalam upaya penambahan kualitas sistem penyediaan informasi

ketika akan disampaikan dalam pameran.

Manfaat yang dapat timbul dari penelitian ini adalah rekomendasi yang

akan diberikan nantinya diharapkan menjadi bahan pertimbangan dalam perbaikan

sistem dokumentasi koleksi arkeologi di Museum Nasional. Sehingga dapat

mengakomodir informasi-informasi arkeologi dalam dokumentasi koleksi

arkeologi Museum Nasional dan dapat dengan mudah diakses demi kepentingan

kemajuan ilmu pengetahuan secara umum dan ilmu arkeologi secara khusus.

Dilihat dari segi keilmuan diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi

titik awal ketertarikan penelitian mengenai arkeologi dan museologi serta

menimbulkan kerjasama yang baik antara arkeolog dengan praktisi museum untuk

berkolaborasi dalam memajukan ilmu pengetahuan. Secara keseluruhan hasil

penelitian ini diharapkan dapat menjadi suatu awal yang baik dalam praktek

permuseuman agar museum di Indonesia bisa menjadi jauh lebih baik lagi.

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

8

Universitas Indonesia

1.4 Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi tahap pengumpulan

data, pengolahan data, sintesis dan penyimpulan.

1.4.1 Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan pada dua kategori, yaitu data kepustakaan

dan data lapangan. Data kepustakaan dikumpulkan terkait dengan sistem

dokumentasi dan koleksi. Data yang dikumpulkan tersebut berupa buku, artikel

ataupun jurnal.

Pengumpulan data kepustakaan tersebut terutama berkaitan dengan ruang

lingkup dokumentasi koleksi arkeologi Museum Nasional dan termasuk di

dalamnya mengenai koleksi yang ada pada dokumen tersebut. Hasil pengumpulan

data kepustakaan diketahui bahwa museum nasional memiliki 9020 koleksi

arkeologi yang terdiri dari beragam jenis dan masanya, tetapi belum diketahui

secara pasti berapa koleksi yang sudah didokumentasikan.

Setelah pengumpulan data kepustakaan tersebut, kemudian dilakukan

observasi dengan menghitung koleksi arkeologi Museum Nasional. Perhitungan

ini dibatasi hanya pada koleksi arkeologi yang dipamerkan, karena sebagian besar

koleksi arkeologi memang berada di ruang pameran.

Data lapangan juga di dapat dengan melakukan pengumpulan lembar

inventaris yang merupakan output dari kegiatan dokumentasi koleksi yang

dilakukan oleh pihak Museum Nasional. Lembar inventaris tersebut kemudian

dibukukan (dijilid) dan disebut oleh pihak Museum Nasional sebagai buku katalog

koleksi manual. Dalam setiap buku katalog koleksi berisikan sebanyak 100 lembar

inventaris yang masing-masing lembar inventaris terdiri dari 1 koleksi.

Selain itu, diketahui juga bahwa selain lembar inventaris tersebut ternyata

juga ada database koleksi yang oleh pihak Museum Nasional disebut sebagai

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

9

Universitas Indonesia

katalog koleksi digital5. Hasil observasi juga ditemukan ada 202 buku katalog

koleksi arkeologi di Museum Nasional.

Pengumpulan buku katalog koleksi tersebut dimaksudkan sebagai efisiensi

cara kerja dalam penelitian ini untuk mengetahui jumlah koleksi arkeologi.

Sehingga data yang dikumpulkan adalah isi dan jumlah koleksi arkeologi dari

katalog baik yang manual ataupun digital.

1.4.2 Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan dengan menganalisis buku katalog koleksi

manual yang telah dikumpulkan dan memasukkan setiap informasi koleksi yang

ada di dalam buku katalog ke dalam tabel. Tabulasi dilakukan dengan melakukan

klasifikasi informasi koleksi yang terisi dan tidak terisi di dalam konten yang ada

di buku katalog.

Pada tahap tabulasi yang bertujuan untuk melihat informasi terisi ini,

digunakan satu buku katalog yang dianggap mewakili buku katalog lainnya. Hal

tersebut dilakukan mengingat konten pada setiap buku katalog adalah sama.

Sehingga satu buku katalog tersebut mewakili katalog lainnya dalam perihal

konten yang digunakan.6

Buku katalog koleksi yang dianggap mewakili itu berasal dari koleksi

emas Museum Nasional. Diketahui bahwa koleksi emas tersebut berasal dari

penggalian arkeologi di situs Wonoboyo yang oleh pemerintah diserahkan kepada

Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Sejarah dan disimpan di Museum

Nasional sejak 18 Januari 1991. Karena koleksi tersebut merupakan koleksi emas

yang dianggap prestisius dan juga merupakan hadiah dari pemerintah, maka

5PihakMuseumNasionalmemilikikatalogkoleksiyangdicetakdalambentuk lembar inventariskoleksiyangkemudiandibukukan(dalampenelitianinidigunakanistilahkatalogmanual)dankatalogkoleksidenganmengunakan sistemkomputer sebagaidatabase (dalampenelitian inidigunakan istilah katalog digital). Diketahui juga bahwa katalog digital tersebut diisiberdasarkaninformasiyangterdapatdidalamkatalogmanual.

6 Konten yang dimaksud dianataranya, jenis/nama benda, nomor registrasi, nomor inventaris,deskripisibenda,riwayatbenda,dll.

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

10

Universitas Indonesia

sebagai bentuk pertanggungjawaban katalog koleksi tersebut dibuat sebaik dan

selengkap7 mungkin setelah koleksi tersebut masuk ke Museum Nasional.

Setelah tabulasi tersebut selesai selanjutnya dilakukan perhitungan

mengenai informasi yang ada pada buku katalog koleksi arkeologi tersebut untuk

menunjukkan kadar informasi yang disajikan apakah sudah informatif atau belum

berdasarkan terisi atau tidaknya informasi dalam masing-masing konten.

Perhitungan ini disajikan dalam bentuk persentase menggunakan diagram batang

supaya terlihat jelas tingkat informasi yang tersaji pada masing-masing konten. Tabulasi selanjutnya dilakukan untuk mengetahui jumlah koleksi

arkeologi. Hal ini dilakukan dengan perhitungan 202 buku katalog koleksi

arkeologi berdasarkan nomor registrasi dan nomor inventarisnya. Sehingga akan

terlihat berapa banyak buku yang akan dieleminasi berdasarkan kesamaan nomor

registrasi atau nomor inventaris (akibat cetak ganda/duplikasi).

Setelah tahap eleminasi tersebut, maka didapat hanya ada 167 buku

katalog. Dengan demikian akan didapat jumlah koleksi arkeologi berdasarkan

perhitungan jumlah lembar inventaris yang diketahui bahwa satu lembar

inventaris koleksi mewakili satu koleksi arkeologi.

Perhitungan mengenai jumlah selanjutnya juga dilakukan terhadap katalog

koleksi yang ada pada database (katalog digital). Hal ini dilakukan untuk

memastikan bahwa dokumentasi yang dilakukan berjalan dengan sinkron. Dari

data yang dikumpulkan diketahui bahwa database tersebut diisi berdasarkan

buku-buku katalog manual.

1.4.3 Sintesis dan Penyimpulan

Penarikan kesimpulan dilakukan setelah tabulasi selesai dilakukan

sehingga dapat menunjukkan jumlah koleksi arkeologi yang terdokumentasi

berdasarkan katalog manual dan digital. Kesimpulan juga dilakukan dari hasil

7SebagaimanayangdiketahuipenulisdarihasilperbincangandenganIbuEkowatiselakuKepalaDivisi Koleksi Prasejarah dan Arkeologi Museum Nasional pada bulan Mei 2011. Setelahdilakukan observasi dan mengamati keseluruhan buku katalog koleksi arkeologi MuseumNasional ternyata benar bahwa hanya buku katalog koleksi emas Wonoboyo yang dapatdikategorikanlebihbaikdanlengkapdaripadabukukatalogkoleksiarkeologilainnya.

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

11

Universitas Indonesia

tabulasi informasi yang tersaji dalam konten yang terdapat pada buku katalog

koleksi manual dengan melihat persentase tertinggi dan terendah.

Kemudian dalam penelitian ini, hasil akhir penelitian berisi kesimpulan

dan saran yang disampaikan dalam bentuk rekomendasi atau usulan. Rekomendasi

didapat dari hasil mensintesiskan keseluruhan komponen penelitian (teori dan data

lapangan) untuk mendapatkan suatu sistem dokumentasi yang baru, yang

mencakup prinsip dokumentasi dalam arkeologi dan dapat diimplementasikan

pada dokumentasi koleksi arkeologi Museum Nasional.

Penelitian ini bersifat ilmiah dengan demikian hasil yang dijelaskan akan

mendahulukan kenyataan hasil penelitian daripada mempertahankan pendirian

awal. Hasil akhirnya akan memberikan rekomendasi sistemdokumentasi yang

lebih efektif dan efisien untuk memberikan informasi yang berkualitas sesuai

dengan teori dan standar yang telah dijelaskan sebelumnya untuk bisa

diimplementasikan menjadi katalog koleksi arkeologi Museum Nasional yang

dapat diakses oleh siapa saja yang membutuhkan.

1.5 Sistematika Penulisan

Kerangka penulisan penelitian berdasarkan proses dan tahapan pekerjaan

yang dilakukan:

Bab 1 merupakan bab pendahuluan yang berisi mengenai 1) latar belakang

penelitian yang berisi mengenai definisi dokumentasi secara umum dan kaitannya

dengan keilmuan, cakupan dan pentingnya melakukan dokumentasi; 2) rumusan

permasalahan penelitian; 3) tujuan dan manfaat; 4) metode penelitian yang terdiri

dari metode pengumpulan data, pengolahan data, sintesis dan penyimpulan; 5)

sistematika penulisan.

Bab 2 merupakan bab teori penunjang yang memaparkan teori berkaitan

dengan 1) dokumentasi dalam arkeologi yang mencangkup mengenai hakikat data

arkeologi, dimensi arkeologi dan konsep atribut.

Bab 3 merupakan uraian deskriptif mengenai 1) keberadaan koleksi

arkeologi di Museum Nasional; dan 2) keberagaman koleksi arkeologi dan

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

12

Universitas Indonesia

pengelompokan koleksi arkeologi yang telah dilakukan oleh pihak Museum

Nasional.

Bab 4 berisi mengenai deskripsi penerapan dokumentasi koleksi yang

telah dilakukan oleh Museum Nasional diantaranya dalam bentuk lembar

inventaris koleksi yang dibukukan menjadi buku katalog koleksi. Selanjutnya

adalah pengolahan data yang dilakukan dengan membuat tabel analisis. Analisis

dilakukan pada data dokumentasi manual, yaitu dokumentasi yang dilakukan

tanpa menggunakan teknologi komputer (berupa katalog manual) dan pada data

dokumentasi digital, yaitu dokumentasi yang dilakukan dengan menggunakan

teknologi komputer (berupa katalog digital atau database).

Bab 5 merupakan bagian penutup berupa kesimpulan dari hasil penelitian

dan saran.

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

13

Universitas Indonesia

BAB 2 DOKUMENTASI DALAM ARKEOLOGI

2.1 Hakikat Data Arkeologi

Arkeologi adalah ilmu yang mempelajari tentang manusia masa lalu

melalui benda-benda peninggalannya. Dalam kajian kepurbakalaan Indonesia,

benda-benda peninggalan itu dikategorikan berasal dari periode prasejarah, klasik,

islam dan kolonial. Melalui benda-benda peninggalan tersebut arkeologi berusaha

merekonstruksi sejarah dan perilaku manusia masa lalu.

Benda-benda peninggalan tersebut dimodifikasi sedemikian rupa oleh

manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Benda-benda tersebut merupakan

benda-benda budaya atau material culture. Dalam perjalanannya benda-benda

tersebut mengalami proses yang panjang, baik yang mengalami proses pembuatan,

penggunaan, tidak digunakan lagi dan kemudian dibuang oleh penggunanya.

Sharer dan Ashmore dalam Buku Archaeology: Discovering Our Past

menjabarkan bahwa pada dasarnya arkeologi mempelajari peninggalan-

peninggalan masa lalu yang sudah berlangsung hingga ratusan abad lalu. Dengan

adanya aktivitas alam, maka peninggalan tersebut sebagian besar terpendam di

dalam tanah atau di dalam air dan ditemukan dalam keadaan tidak utuh. Dari yang

ditemukan hanya sebagian kecil yang dapat di rekonstruksi sebagai data arkeologi,

baik bentuk, ruang atau waktu. Dari yang direkonstruksi tersebut hanya sebagian

kecil yang dapat ditafsirkan.

Bentuk-bentuk data arkeologi, sebagaimana yang dijelaskan oleh Sharer-

Ashmore (2003: 120124), terdiri dari:

a. Artefak: semua benda yang dibuat atau diubah oleh manusia dan dapat

berpindah.

b. Ekofak: benda-benda berbahan dasar dari lingkungan hidup yang

berperan dalam kehidupan masyarakat di masa lampau terdiri dari abiota

dan biota.

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

14

Universitas Indonesia

c. Fitur: artefak yang tidak dapat berpindah tanpa merusak tempat

kedudukannya (matriks). Misal, bangunan, lubang bekas tiang, dll.

d. Situs: sebidang tanah yang mengandung tinggalan-tinggalan kebudayaan

manusia masa lalu yang pernah berlangsung di suatu tempat dan

dilakukan oleh sekumpulan masyarakat.

e. Wilayah: sekumpulan situs atau data arkeologi yang cakupannya lebih

luas.

Sedangkan menurut Brian Fagan (2005: 120), data arkeologi adalah

material yang diakui oleh arkeolog memiliki nilai penting, semuanya

dikumpulkan dan direkam di dalam suatu penelitian. Bentuk data arkeologi

menurut Fagan, antara lain:

a. Artefak: benda yang dibuat dan dimodifikasi oleh manusia, benda keras.

b. Fitur: artefak dan asosiasi artefak yang tidak dapat dipindahkan dari

matriksnya, seperti postholes atau selokan/parit.

c. Struktur: rumah, lumbung, kuil, dan bangunan-bangunan lainnya yang

dapat diidentifikasi sebagai sisa-sisa yang masih berdiri, pola postholes,

dan bangunan lainnya yang berdiri di atas tanah.

d. Ekofak: seperti sisa-sisa makanan, misalkan tulang, bibit, atau lainnya

yang ditemukan dan dinyatakan sebagai akibat dari aktivitas manusia.

e. Subassemblages : sekumpulan artefak yang ditemukan di suatu asosiasi

yang berpola sehingga mencerminkan adanya pembagian perilaku budaya

suatu kelompok kecil (Fagan, 2005: 129).

f. Assemblages : sekumpulan subassemblages yang ditemukan di dalam

asosiasi kontemporer yang mencerminkan pola aktivitas semua komunitas

(Fagan, 2005: 129).

Bentuk data arkeologi tidak hanya empat data yang disebutkan diatas,

tetapi juga termasuk konteks ruang dan waktunya (Fagan, 2005: 120). Data

arkeologi dapat diidentifikasikan menjadi empat dimensi variabilitas di dalam

perilaku manusia yang ditunjukkan di dalam konteks ruang, antara lain:

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

15

Universitas Indonesia

a. Artefak: aktivitas individu manusia

b. Struktur: aktivitas kelompok atau aktivitas rumah tangga

c. Site: aktivitas komunitas, kelompok kontemporer dapat berupa rumah,

toko, kuil, dan struktur lainnya.

d. Wilayah: aktivitas kelompok manusia yang direfleksikan dengan

persebaran situs di suatu lanskap. Keempat level konteks ruang tersebut

mencerminkan perilaku budaya manusia (Fagan, 2005: 126).

Pada tahap pengumpulan data, semua bentuk data arkeologi yang

ditemukan tersebut tidak bisa lepas dari konteksnya. Fagan menjelaskan lebih

lanjut mengenai penentu data arkeologi yang kemudian dapat memudahkan

peneliti dalam mengidentifikasi benda-benda temuan (dimensi bentuk),

meletakkanya dalam suatu tempat tertentu dan menghubungkannya dengan benda-

benda temuan lainnya (dimensi ruang) dan memahami asal benda tersebut di masa

lampau (dimensi waktu).

Menurut Fagan (2005: 120127) dan Sharer-Ashmore (2003: 132), faktor-

faktor penentu data arkeologi ada yang memiliki kesamaan definisi, antara lain:

a. Matriks, adalah fisik yang mencakup benda-benda yang berasosiasi di

dalamnya, contohnya batu kerikil, pasir, lumpur, dan banyak lainnya.

b. Provenience, adalah keletakan benda diukur tiga dimensinya secara

geografis. Horizontal, yaitu keletakannya dalam lintang dan bujur;

vertikal, yaitu kedalaman benda dari permukaan laut.

c. Asosiasi, adalah beberapa benda yang dianggap memiliki hubungan fisik

satu sama lain, berasal dari matriks yang sama. Asosiasi ini dapat dilihat

berdasarkan keterkaitan dengan permukaan dan stratigrafi.

d. Konteks, adalah seperangkat asosiasi data arkeologi, terutama berkaitan

dengan keadaan deposisinya. Konteks merupakan interpretasi hubungan

antara matriks, provenience dan asosiasi.

Sharer dan Ashmore menjelaskan konteks terbagi menjadi dua:

a. Konteks primer

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

16

Universitas Indonesia

Konteks primer adalah kondisi matriks dan provenience belum mendapat

gangguan dari proses transformasi, baik oleh alam atau manusia sejak

pengendapannya yang pertama dibuat oleh pembuatnya atau pemakainya.

- Use Related Primary Context

Artefak belum pernah dipindah oleh si pembuat, diendapkan di tempat

di mana benda itu dibuat oleh masyarakat masa lalu dan digunakan.

Contoh, benda di ruang tamu.

- Transposed Primary Context

Artefak yang dibuat dan digunakan oleh si pembuat mengalami

perpindahan. Contoh, benda di gudang atau di tempat sampah.

b. Konteks sekunder

Konteks sekunder adalah kondisi matriks, provenience dan asosiasi telah

diubah sebagian atau seluruhnya oleh proses transformasi. Asosiasi data

dihasilkan dari proses transformasi.

- Use Related Secondary Context

Artefak yang dibuat oleh pembuatnya kemudian diambil dan

digunakan kembali dengan fungsi lain.

- Natural Secondary Context

Artefak sudah tidak ada lagi hubungannya dengan si pembuat, sudah

ditinggalkan.

Faktor-faktor penentu data arkeologi sebagaimana yang dituliskan dalam

Archaeology: Discovering Our Past, ada dua faktor penentu data arkeologi.

Pertama adalah behavioral processes dan transformational processes.

Dijelaskan lebih lanjut oleh Mundardjito, bahwa dalam teori arkeologi

terdapat diskusi dan studi mendalam mengenai proses-proses budaya dan bukan-

budaya yang bertanggung jawab atas terbentukknya data arkeologi. Dijelaskan

oleh Schiffer, terdapat satu perjalanan panjang dari sebuah artefak, mulai dari saat

dibuat, dipakai dan dibuang, sampai kepada saat tidak berperan lagi dalam sistem

tingkah laku masyarakat masa lalu, untuk selanjutnya terbenam atau terendapkan

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

17

Universitas Indonesia

dalam tanah sampai akhirnya ditemukan oleh arkeolog (Mundardjito, 1982: 498

509).

Dalam perjalanan panjang tersebut terdapat faktor-faktor dan proses-

proses yang mengakibatkan terjadinya transformasi data arkeologi, yaitu artefak

mengalami perpindahan tempat, perubahan bentuk, pengurangan atau

penambahan jumlah dan pertukaran hubungan satu dengan yang lainnya.

Sedangkan faktor lainnya adalah proses tingkah laku dan proses

transformasi yang dinyatakan menurut Sharer-Ashmore, yaitu: proses tingkah laku

merupakan langkah pertama didalam formasi data arkeologi, setelah sisa-sisa

material tersebut terpendam, maka terjadi proses deposisi yang merupakan proses

transformasi. Proses transformasi ini ada yang terjadi secara natural dan ada yang

merupakan transformasi budaya.

Contoh dari transformasi natural adalah pembusukan material organik,

atau terkubur oleh sisa-sisa erupsi vulkanik. Sedangkan contoh transformasi

budaya (akibat aktivitas manusia) adalah pemakaian kembali artefak-artefak,

pembajakan tanah, penyimpanan artefak sebagai benda pusaka, dan pengrusakan

gedung.

Proses tingkah laku manusia adalah aktivitas manusia yang menghasilkan

peninggalan materi. Proses ini ada empat tahap, yaitu:

a. Acquisition, perolehan bahan baku untuk membuat alat atau suatu benda.

b. Manufacture, proses pembuatan alat atau benda.

c. Use, penggunaan.

d. Deposition, dibuang.

Proses formasi adalah proses, peristiwa apapun yang menghasilkan atau

mengubah data arkeologi. Proses formasi ada dua, yaitu:

a. Behavioral, aktivitas manusia yang menghasilkan peninggalan materi.

b. Transformational, baik manusia (budaya), maupun proses alamiah yang

mengubah peninggalan yang dihasilkan oleh tingkah laku (Sharer-

Ashmore, 2003: 127128).

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

18

Universitas Indonesia

Faktor-faktor dan proses yang mengakibatkan terjadinya transformasi data

arkeologi adalah artefak mengalami:

a. Perpindahan tempat,

b. Perubahan bentuk,

c. Pengurangan/penambahan jumlah,

d. Pertukaran hubungan satu dengan yang lain (Sharer-Ashmore, 2003: 128).

Proses Pembentukan Budaya (Yang Mempengaruhi Data)

a. Cultural Formation Processes (Proses-Proses Pembentukan Budaya),

adalah proses-proses budaya yang mempengaruhi pembentukan data

arkeologi.

b. c-Transform (Cultural Transform), adalah prinsip atau hukum yang

digunakan untuk menangani masalah perubahan data arkeologi yang

dilakukan terutama oleh kegiatan manusia.

c. n-Transform (non-Transform), adalah transformasi bukan budaya, prinsip

atau hukum yang menggarap masalah perubahan yang disebabkan oleh

alam (Sharer, 2003: 128).

Menurut Fagan, semua itu terbagi dalam konsep dibawah ini:

a. Diawali dengan tingkah laku manusia tidak semuanya menghasilkan

kebudayaan materi

b. Kemudian kebudayaan materi ada yang bertahan dan ada yang tidak

bertahan

c. Kebudayaan materi yang masih bertahan lama

d. Kebudayaan materi yang ditemukan

e. Kebudayaan yang tahan lama dan dapat dianalisis/gejalanya dapat

dimengerti (Fagan, 2005: 120)

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

19

Universitas Indonesia

2.2 Dimensi Arkeologi

Arkeolog menekankan perhatian pada penjelasan mengenai tiga dimensi

arkeologi, yaitu bentuk, ruang dan waktu. Dengan mengetahui ketiga dimensi

tersebut dapat membuka kemungkinan-kemungkinan yang lebih luas menuju

tahap penafsiran. Dengan memperhatikan ketiga dimensi tersebut, menurut

Spaulding dalam The Dimensions of Archaeology8, secara implisit juga dapat

dijelaskan hubungan antar dimensi (interrelationship).

a. Bentuk (form)

Fisik benda, keseluruhan ciri yang terlihat secara langsung pada benda

tersebut dan dapat dilakukan pengukuran. Untuk menganalisis bentuk dapat

dilihat dari atribut yang menempel pada benda tersebut. Atribut yang dimaksud

adalah ciri-ciri atau sifat yang terdapat pada setiap benda yang memungkinkannya

menjadi dasar untuk dikelompokkan. Atribut terdiri dari bentuk (ukuran),

teknologi (bahan baku yang digunakan) dan stilistik (gaya, ciri-ciri fisik seperti

warna, tekstur dan hiasan) (Fagan, 2005: 252). Atribut terbagi menjadi dua jenis,

yaitu atribut kuantitatif dan atribut kualitatif (Spaulding, 1971: 2530).

Atribut kuantitatif adalah perhitungan atribut dengan mengunakan skala

matematis dan alat pengukur satuan. Misal, panjang, tinggi, lebar dan berat.

Sedangkan kualitatif atribut biasanya menggunakan penilaian personal yang

memungkinkannya terbagi dalam rasio tertentu. Misal, benda digolongkan ke

dalam kategori besar, kecil atau sedang. Atribut membantu peneliti untuk

melakukan klasifikasi yang berguna dalam penyusunan data yang acak menjadi

teratur, menyederhanakan ciri-ciri yang bermacam-macam dari sekumpulan

artefak, dan memudahkan pemahaman hubungan kronologis dengan

membandingkan kelompok atribut yang lain.

8TulisanAlbertC.SpauldingdalamBukuMansImprintFromThePastolehJamesDeetz,1971.

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

20

Universitas Indonesia

b. Ruang (space)

Posisi artefak secara tiga dimensi geografis diukur berdasarkan bujur,

lintang dan kedalaman benda saat ditemukan. Perhitungan tersebut dilakukan saat

posisi benda masih in situ yang didokumentasikan dengan memperhatikan

asosiasi dengan temuan disekitarnya. Pengukuran ruang yang juga menghasilkan

titik koordinat temuan.

Dalam beberapa kasus, perhitungan ruang ini memiliki informasi yang

istimewa dengan asosiasinya, seperti bekal kubur, diketahui karena ditemukan

dekat dengan tulang manusia dan artefak lain yang dikuburkan dalam posisi yang

dekat dengan tulang-tulang tersebut ditemukan. Tentunya perhitungan tersebut

sangatlah penting untuk dapat melakukan interpretasi berdasarkan hubungan

Gambar 2.1 Perhitungan Atribut Bentuk Ilustrasi: Vanani

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

21

Universitas Indonesia

vertikal (perbedaan stratigrafi) dan horizontal (persebaran artefak dalam satu

stratigrafi). Perhitungan tersebut juga tidak lepas dari hukum superposisi yang

harus selalu disadari saat melakukan penggalian arkeologi.

c. Waktu (time)

Dimensi waktu berbeda dengan dimensi bentuk dan dimensi ruang yang

dapat melakukan pengukuran langsung saat ditemukan. Perhitungan waktu

didapat setelah perhitungan bentuk dan ruang telah didapat untuk memastikannya

secara kronologis dan mengetahui waktu artefak itu berasal, waktu dibuat hingga

tidak digunakan lagi lalu terdeposisi. Perhitungan dimensi waktu terbagi menjadi

dua tipe, yaitu perhitungan waktu relatif dan perhitungan waktu absolut.

Untuk perhitungan waktu relatif bisa dilakukan dengan mengkaitkan

temuan dengan suatu kejadian tertentu yang pernah berlangsung di lokasi tersebut.

Tentunya harus memperhatikan asosiasi, stratigrafi dan memperhatikan hukum

superposisi serta faktor formasi yang bisa saja mempengaruhi keberadaan artefak.

Perhitungan waktu absolut dapat dipastikan melalui sistem pertanggalan,

misal candrasangkala atau angka tahun dan temuan-temuan yang berasal dari

masa prasejarah bisa dipastikan masuk dalam skala waktu prasejarah. Perhitungan

absolut juga dapat dilakukan dengan carbon dating, geochronology, dan hidrasi

obsidian.

Ketiga dimensi tersebut dapat juga dilihat sebagai hubungan antar dimensi,

seperti bentuk-ruang, bentuk-waktu, ruang-waktu dan bentuk-ruang-waktu.

Dengan memahami dimensi arkeologi, diharapkan pada akhirnya dapat

memahami mental template kebudayaan tertentu. Mental template adalah gagasan

atau ide tentang suatu benda yang diekspresikan pada benda tersebut. Mental

template dipengaruhi oleh teknologi, fungsi, tradisi dan inovasi.

Mengetahui gagasan tersebut merupakan salah satu tujuan arkeologi, yaitu

merekonstruksi sejarah kebudayaan, cara-cara hidup dan memahami proses

budaya. Dimensi-dimensi merupakan langkah awal dalam mencapai rekonstruksi

tersebut, sehingga penting untuk dipahami dan direkam (didokumentasikan) untuk

dapat menghasilkan interpretasi yang sesuai dengan data arkeologi.

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

2.3 Manfa

Seb

telah dijel

pada haki

dibatasi r

membantu

lainnya y

penelitian

Pa

dokument

tersebut

keseluruha

semua asp

pengamata

aat Dokum

bagaimana

laskan pada

katnya data

ruang dan

u berjalanny

yang memi

observasi,

ada tahap o

tasi (pereka

dapat men

an. Dokum

pek yang b

an.

mentasi

yang telah

a subbab d

a arkeologi

waktu, se

ya proses p

iliki tahap

deskripsi da

Gambar 2.2

bservasi (p

aman) data

nunjukkan

mentasi terse

berhubunga

Observas

disinggung

di atas, dok

terbatas. P

ehingga do

penelitian a

an peneliti

an eksplana

2 Tahap PenIlustrasi: V

pengumpula

a yang di

matriks,

ebut dilaku

an dengan b

i

Deskrip

pada bab se

kumentasi a

Proses pengu

okumentasi

arkeologi.

ian, arkeol

asi (Deetz, 1

nelitian ArkVanani

an data) dip

itemukan d

provenienc

ukan secara

benda terse

psi

Ek

Unive

ebelumnya

arkeologi d

umpulan da

penting d

Sama seper

logi juga

1967).

keologi

perlukan ke

di lapangan

ce, asosias

a verbal da

ebut tidak t

splanasi

ersitas Indo

dan seperti

dilakukan k

ata tersebut

dilakukan u

rti disiplin

memiliki

ecermatan d

n. Dokume

si dan ko

an piktorial

tertinggal d

22

onesia

yang

karena

t juga

untuk

ilmu

tahap

dalam

entasi

onteks

agar

dalam

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

23

Universitas Indonesia

Dokumentasi bertujuan untuk dapat merekam ketiga dimensi pada benda

yang akan mempengaruhi proses deskripsi (pengolahan data) dan eksplanasi

(penafsiran data). Ketiga dimensi tersebut adalah bentuk, ruang dan waktu. Dalam

tahap deskripsi, yaitu integrasi data bertujuan untuk meletakkan data tersebut

dalam konteks suatu tempat tertentu dan hubungannya dengan data lain yang

ditemukan (dimensi ruang) dan meletakkannya dalam kronologi kejadian di masa

lampau (dimensi waktu) dan kemudian mengidentifikasinya kedalam beberapa

tipe berdasarkan atribut yang terlihat (dimensi bentuk).

Dokumentasi arkeologi dapat dilakukan dengan cara penggambaran,

pemetaan dan fotografi. Penggambaran artefak dengan menggunakan pengukuran

panjang, lebar dan tinggi. Penggambaran ditunjukkan dari berbagai sisi (misal

tampak depan dan tampak samping, tampak atas atau bawah). Penggambaran

wilayah dilakukan dengan terlebih dahulu membagi wilayah menggunakan garis

imajiner axis dan ordinat (garis x dan y) untuk memudahkan pengukuran.

Pemetaan wilayah juga dapat dilakukan dengan menggunakan alat bantu,

seperti teodolit. Dalam membuat peta yang harus diperhatikan diantaranya, arah,

ukuran dan ketinggian (kontur). Peta sederhana biasanya digambarkan dengan

denah. Dalam pemetaan skala besar arkeologi dibantu dengan teknologi GPS

(Geographical Positioning System) atau GIS (Geographical Information System)

yang memungkinkan perekaman data spasial.

Dokumentasi arkeologi harus merekam keadaan dan kondisi benda atau

wilayah sebagaimana adanya tanpa ada yang terlewatkan. Setiap detail yang ada

pada wilayah harus terekam, seperti vegetasi atau rumah penduduk, sedangkan

pada artefak, seperti patahan atau retakan. Fotografi arkeologi juga digunakan

karena dapat memberikan data apa adanya dengan objektif dan ringkas. Artinya

fotografi tidak mengubah secara visual benda yang terekam menurut besar,

dimensi, jumlah dan warna sesuai dengan data sebenarnya.

Fotografi melengkapi data verbal dan piktorial yang mengurangi

sedikitnya keaslian data karena baik atau buruk penggambaran dan penulisan

bahasa tergantung pada kemahiran si penulis atau si penggambar. Fotografi

memiliki keunggulan lain, yaitu mempersingkat waktu yang dibutuhkan untuk

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

24

Universitas Indonesia

perekaman dan daya penglihatan lebih baik dari mata sehingga cahaya yang tidak

terlihat oleh mata bisa ikut terekam.

Namun demikian, fotografi juga memiliki kekurangan seperti sifatnya

yang sekali kerja, artinya jika perekaman itu gagal maka kemungkinan data yang

terekam tidak bisa dipakai sama sekali dan tidak mungkin bisa diulang lagi. Selain

itu, secara teknis dapat terjadi distorsi, misalnya sebuah kotak akan terlihat

trapesium karena perekaman dari sudut yang salah, parallax atau garis lurus akan

terlihat melengkung (asimatis) dan kerumitan dalam pencahayaan.

Dalam manfaatnya bagi museum, dokumentasi merupakan alat

penghubung antara peran museum sebagai lembaga yang bertugas dalam

pengembangan koleksi yang dimiliki. Pengembangan koleksi dapat dilakukan

dengan preservasi, penelitian koleksi dan komunikasi.

Hal tersebut dijelaskan lebih lanjut oleh Peter van Mensch, seorang pakar

museologi dari Reindwardt Academie Amsterdam dalam presentasinya yang

disampaikan sebagai keynote speech dalam konferensi Japanese Museum

Gambar 2.3 Fungsi Dasar Museum Sumber: van Mensch, 2003

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

25

Universitas Indonesia

Management Academy pada tanggal 7 Desember 2003 di Tokyo9, bahwa museum

memiliki suatu konsep manajemen memori kultural yang merupakan kunci dalam

pengaktualisasian peran museum.

Dari Gambar 2.3 diketahui bahwa konsep kunci yang dimaksud oleh van

Mensch adalah penelitian, preservasi dan komunikasi. Preservasi mencakup

pengertian pemeliharaan fisik ataupun administrasi koleksi, termasuk di dalamnya

masalah manajemen koleksi yang terdiri dari pengumpulan, pendokumentasian,

konservasi dan restorasi koleksi. Penelitian mengacu pada penelitian terhadap

koleksi dan berkaitan dengan disiplin ilmu tertentu dan komunikasi mencakup

kegiatan penyebaran hasil penelitian berupa pengetahuan atau informasi yang

berkaitan dengan koleksi dalam bentuk pameran, program-program pendidikan

dan publikasi (Magetsari, 2008: 13).

2.3.1 Dokumentasi Untuk Preservasi Koleksi

Preservasi berarti melakukan perwatan dan pemeliharan pada koleksi agar

koleksi tersebut tetap awet hingga masa mendatang. Dalam kaitannya dengan

perawatan tersebut terdapat sistem dokumentasi yang diterapkan agar segala

sesuatu yang ada pada koleksi tersebut dapat dipergunakan sewaktu-waktu jika

dibutuhkan.

Preservasi dalam hal ini berarti juga pemeliharaan dan pelestarian koleksi

museum dan berhubungan dengan penelitian dan komunikasi. Dengan melakukan

perawatan yang berkelanjutan dapat menjamin ketersediaan objek untuk

penelitian selanjutnya dan pengembangan pengetahuan yang dapat

dikomunikasikan. Dalam pengertian tersebut, maka preservasi memiliki hubungan

yang terkait erat dan berkelanjutan dengan penelitian koleksi dan komunikasi (van

Mensch, 2003).

9 Keynote address, konferensi Japanese Museum Management Academy ke4 (4th annualconference Japanese Museum Management Academy (JMMA)), Tokyo, 7 Desember 2003.Dipublikasi oleh E. Mizushima (ed.), Museum management in the 21st century (MuseumManagementAcademy,Tokyo2004)319.

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

2.3.2 Do

Un

perannya d

yang bers

yang men

sebagaima

Ar

fragmenta

fragmenta

data yang

mengetahu

Pro

gejala-geja

itulah dok

yang timb

Dokument

dipertangg

okumentasi

ntuk dapat m

dalam kron

sifat ilmiah.

nentukan rua

ana yang dit

rkeolog m

aris dan terp

aris itu yang

potensial d

ui kebudaya

oses penelit

ala yang tim

kumentasi a

bul dari pen

tasi berper

gungjawabk

Untuk Pene

menghasilk

nologi sejara

. Dalam pe

ang liingku

tunjukkan p

melakukan

pendam di

g kemudian

dan lebih se

aan masa la

tian yang pa

mbul selam

arkeologi pe

ngumpulan

ran penting

kan.

Gambar 2

elitian Kole

kan informa

ah kebudaya

enelitian ini

up penelitian

pada bagan

penelitian

bawah tana

dapat ditem

edikit lagi y

ampau.

anjang mem

ma proses p

erlu dilakuk

n data, peng

g untuk m

2.4 Hakikat Sumber: Deet

reko

dat

eksi

asi yang dap

aan, harus d

i arkeologi

n koleksi, m

2.2.

yang sis

ah atau di d

mukan dan

yang dapat

mbutuhkan k

penelitian te

kan untuk d

golahan dat

menghasilka

Data Arkeotz, 1967

interpretas

onstruksibe

ta yangterk

Unive

pat dipertan

dilakukan pe

merupakan

memiliki ta

stematis d

dalam air,

dibina ulan

di rekonstru

kecermatan

ersebut berl

dapat merek

ta hingga i

an informa

ologi

si

entuk

kubur

ersitas Indo

nggungjawa

enelitian ter

n subject m

hapan pene

dari data

sedikit dari

ng untuk me

uksi untuk

dalam mer

langsung. U

kam semua

interpretasi

asi yang

26

onesia

abkan

rlebih

matter

elitian

yang

i data

enjadi

dapat

rekam

Untuk

jejak

data.

dapat

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

27

Universitas Indonesia

Penelitian arkeologi juga seringkali dilakukan pada benda-benda arkeologi

yang menjadi koleksi museum sebagai objek penelitian. Hasil penelitian arkeologi

tersebut memaparkan pengetahuan atau informasi yang terkandung dalam suatu

objek dan menjadikannya bermakna.

Informasi tersebut kemudian dapat direntangkan dalam kronologi sejarah

untuk melengkapi penelitian sebelumnya atau membuka peluang dilakukannya

penelitian lebih lanjut terkait topik tertentu. Sekali lagi, dokumentasi bertugas

untuk merekam informasi dari setiap penelitian tersebut.

Dokumentasi koleksi bertujuan untuk mengumpulkan informasi fisik dan

informasi lain yang mungkin diperlukan dalam penelitian lebih lanjut. Dengan

demikian dokumentasi juga berperan sebagai titik awal dilakukannya penelitian

lebih lanjut mengenai nilai atau makna lain dari objek yang berguna untuk

menampilkan berbagai sisi nilai dan makna yang sebelumnya tidak diketahui.

Delibas i10 menjelaskan, dalam proses untuk memastikan makna dari

suatu objek museum faktor terpenting yang timbul adalah makna objek tersebut

secara individual dan kolektif, sama pentingnya dengan hubungan (asosiasi) objek

tersebut dengan objek lain dan dengan ruang objek tersebut pernah ditempatkan.

(Maroevi, 1995: 24). Dengan demikian setiap kali dilakukan pemastian terhadap

makna benda tersebut melalui penelitian, peneliti harus melihatnya dari berbagai

aspek yang bisa ditimbulkan oleh benda itu sendiri dari hasil penelitian

sebelumnya mengenai objek yang sama. Di bagian ini penting sekali untuk

merekam setiap hasil penelitian sebelumnya agar dapat terlihat perkembangan

makna yang telah tercapai pada suatu objek museum.

2.3.3 Dokumentasi Untuk Komunikasi

Sebuah koleksi museum adalah suatu setting yang memiliki banyak sisi

sebagai objek museum yang dihasilkan melalui interpretasi yang dilatarbelakangi

subject matter peneliti. Koleksi tersebut bertindak sebagai suatu unit objek

individual yang tidak digunakan lagi dan dengan demikian mengandung lebih

10Maroevimengutipnya dariDelibas i, E. 1991. Znak IMuzej (Sign andmuseum).Diplomathesis,FacultyofPhilosophy,UniversityofZagreb.Halaman34.

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

28

Universitas Indonesia

banyak kisah yang terakumulasi dan tertransfer menjadi nilai yang lebih tinggi

lagi.

Melalui interpretasi penelitian sebagaimana yang telah dijabarkan

sebelumnya, maka kisah-kisah yang terakumulasi tersebut merupakan

pengetahuan atau informasi yang harus dikomunikasikan. Pengetahuan atau

informasi tersebut dapat berupa data sebuah objek, fisik dan strukturnya, sejarah

dan lingkungannya, atau makna dan spesifikasinya yang dapat dipindahkan ke

dalam media tulisan, kertas, ilustrasi, film atau rekaman lainnya, sebagai suatu

upaya untuk mengkomunikasikannya (Maroevi, 1995: 26).

Komunikasi tersebut juga dapat diakses melalui pameran atau penyajian

objek penelitian yang merupakan koleksi museum. Penyajian objek yang disertai

dengan hasil interpretasinya menyampaikan pesan yang dapat merangsang

pengunjung untuk melihat objek bukan sebagai benda mati (Magetsari, 2008: 13).

Sebagaimana yang dijelaskan Delibas i, bahwa museum merupakan

institusi yang memungkinkan informasi-informasi dari hasil interpretasi penelitian

tesebut tercipta dan kemudian merepresentasikan informasi-informasi dan

gagasan-gagasan kebudayaan tertentu dengan berbagai macam cara penyajian atau

pameran. Penyajian atau pameran tersebut dapat berupa berbagai macam jaringan

yang berkelanjutan dan interaktif melalui simbol-simbol atau sistem simbol yang

dimengerti oleh pengakses informasi untuk dapat diserap, yaitu masyarakat

(Maroevic, 1995: 28).

Mengingat informasi yang akan disajikan tersebut adalah hal yang sangat

fundamental, maka dibutuhkan kecermatan dan keteraturan dalam proses

dokumentasi. Dengan adanya dokumentasi tersebut kegiatan museum seperti

pengumpulan, preservasi dan konservasi, serta komunikasi ini akan dapat berjalan

berkesinambungan jika tidak dapat dikatakan saling ketergantungan (Magetsari,

2008: 13).

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

29

Universitas Indonesia

BAB 3 KOLEKSI ARKEOLOGI MUSEUM NASIONAL

3.1 Keberadaan Koleksi Arkeologi

Koleksi arkeologi yang merupakan milik Genootschap van Kunsten en

Wetenschappen. Sekarang Genootschap van Kunsten en Wetenschappen bernama

Museum Nasional berada di Jalan Merdeka Barat 12, Jakarta 10110.

Pada abad ke-18 di Eropa berkembang kegiatan intelektual yang

menghasilkan kemajuan pengetahuan ilmiah. Salah satu perkumpulan ilmiah

adalah De Hollandsche Maatschappij der Wetenschappen (Perkumpulan Ilmiah

Belanda) yang didirikan di Haarlem tahun 1752.

Berdasarkan pada perkumpulan tersebut, maka di Batavia didirikan pula

perkumpulan ilmiah yang sifatnya independen pada 1778 yang disebut

Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen yang mempunyai

semboyan Ten Nutte van het Gemeen.11 Salah seorang pendirinya yang bernama J.

C. M. Radermacher menyumbangkan salah satu rumah di Kalibesar sebagai

markas perkumpulan tersebut.

Selama masa pendudukan Inggris (18111816), Letnan Gubernur Sir

Thomas Stamford Raffles menjadi ketua perkumpulan ilmiah tersebut. Karena

ketertarikannya pada sejarah, antropologi dan arkeologi dan semakin

bertambahnya jumlah koleksi perkumpulan tersebut, Raffles memerintahkan

pembangunan baru untuk digunakan sebagai museum dan ruang pertemuan untuk

Literary Society.12

11Rufaedah,Dedah.,dkk.,2006.,hlm.13.Arti semboyan Ten Nutte van het Gemeen adalah untuk kepentingan masyarakat umum.Karenagagasanpendirianlembagailmiahiniadalahindependen,makatujuanlembagainijugabersifat luas, yaitu memajukan penelitian dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan danmenerbitkanhasilpenelitian.Mengingatjasaperkumpulantersebutyangbesarbagikemajuanbidangilmiah,makapadatahun1933perkumpulantersebutmemperolehgelarKoninklijkdanberubah nama dari Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en WetenschappenmenjadiLembagaKebudayaanIndonesia.

12Idem.LiterarySocietyduludisebutSociteitdeHarmonie,berlokasidiJalanMajapahitno.3.SekarangtempattersebutberdirikompleksgedungSekretariatNegaraRI.

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

30

Universitas Indonesia

Jumlah koleksi milik perkumpulan ilmiah tersebut terus meningkat hingga

museum di Jalan Majapahit tidak dapat lagi menampung. Pada tahun 1862

pemerintah Hindia-Belanda memutuskan untuk membangun sebuah gedung

museum baru di Koningsplein (sekarang jalan Medan Merdeka) dan baru dibuka

untuk umum pada 1868.

Museum ini sangat dikenal dikalangan masyarakat Indonesia sebagai

Museum Gajah atau Gedung gajah, karena pada bagian depan museum terdapat

sebuah patung gajah perunggu hadiah dari Raja Chulalongkorn dari Thailand yang

pernah berkunjung ke museum pada tahun 1871. Mengingat pentingnya museum

ini bagi bangsa Indonesia, maka sejak 1962 Lembaga Kebudayaan Indonesia

menyerah museum kepeda pemerintah Indonesia menjadi Museum Pusat.

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.

092/O/1979 tertanggal 28 Mei 1979, Museum Pusat ditingkatkan statusnya

menjadi Museum Nasional dan berada dibawah Direktorat Jenderal Kebudayan.

Sistem pedokumentasian koleksi sudah dilakukan sejak Museum Nasional

ditangani oleh bangsa Belanda. Buku registrasi yang pertama kali dibuat oleh

pengurus Museum Nasional adalah TBG13.

3.2 Keberagaman Koleksi Arkeologi

Dalam katalog terbitan Museum Nasional tahun 2004 dikatakan bahwa

koleksi arkeologi di Museum Nasional mencapai 9020 benda. Setengah dari

jumlah tersebut dipamerkan di ruang pamer gedung arca Museum Nasional dan

setengahnya lagi disimpan dan hanya dipamerkan di waktu-waktu tertentu

(Soemadio, 2004: 5).

Di dalam penyusunan koleksi arkeologi yang beragam tersebut, Museum

Nasional telah membatasi ruang lingkup koleksi arkeologi. Koleksi arkeologi

yang dimaksud tidak mengacu pada keilmuan arkeologi yang ruang lingkupnya

termasuk dari masa prasejarah. Di Museum Nasional koleksi arkeologi yang

dimaksud adalah yang berasal dari masa klasik di Indonesia

13 Tijdscriftvoor IndischeTaal,LandenVolkenkundeBataviaaschGenootschapvanKunstenen

Wetenschappen.

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

Be

arca, alat

terbuat da

tersebut d

Nasional s

Di

karena me

tambahan,

Koentjaran

Manusia d

Sosial dan

enda-benda

upacara, al

ari emas, p

didasarkan p

sebagaiman

dalam ruan

engikuti tem

, tema p

ningrat, tap

dan Lingku

n Pola Pemu

SeksiPra

yang terma

at rumah ta

perunggu,

pada pemba

na yang di il

ng pamer, k

ma dari pam

pameran

pi hanya te

ungan; 2) I

ukiman dan

asejarah

GambarS

asuk ke dal

angga, perh

tanah liat,

agian bidan

lustrasikan o

koleksi arke

meran terseb

disesuaikan

erbagi berd

Ilmu Penge

4) Khasana

BidaPrasejaArkeo

SeksiArk

3.1 PembagSumber: Mus

lam koleks

iasan dan b

dan batu

ng koleksi y

oleh gamba

eologi tidak

but. Di ruan

n dengan

dasarkan em

etahuan dan

ah dan Kera

angarah&ologi

keologi

gian Bidangeum Nasional

Unive

i arkeologi

bagian bang

(Gambar 3

yang diterap

ar 3.1.

k di kelomp

ng pameran

tujuh u

mpat tema

n Teknolog

amik.

SeksiNum&Kera

g Koleksi l

ersitas Indo

adalah pra

gunan, baik

3.2). Pemb

pkan di Mu

pokkan terse

n pada bang

unsur univ

besar, yai

gi; 3) Organ

mismatikamik

31

onesia

asasti,

yang

bagian

useum

endiri

gunan

versal

itu 1)

nisasi

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

Ko

dan telah

dikumpulk

kegiatan p

tersebut te

karena itu

nilai relig

Buddha.

Be

kuat dan

tinggi unt

arca dewa

arkeologi

Le

prasejarah

dengan m

oleksi arkeo

dikumpulka

kan dari Pu

pengumpul

erdapat kete

u banyak sek

gi yang ke

enda-benda

demikian ju

tuk menyen

a-dewi Hind

di Museum

ebih lanjut

h, yaitu mas

munculnya k

KoleksBerdasa

Arcaman Arcadewa Arcabinat Prasasti Alatupaca Perhiasan Alatruma Bagianba

ologi seluru

an sejak ak

ulau Jawa,

an benda t

ertarikan kh

kali benda-

ental mewa

seni terseb

uga pada b

nangkan de

du-Buddha

m Nasional.

, masa kl

sa sejarah y

kerajaan-ker

siArkeologiarkanBentu

usiaa&dewitang

aranahtanggaangunan

Gambar 3.Su

uhnya beras

khir abad XV

karena pad

terutama d

husus meng

-benda yang

akili ciri kh

but banyak

benda-benda

wa-dewi ya

yang mend

lasik secar

yang telah m

rajaan yang

uk

.2 Pengelomumber: Soema

sal dari ber

VIII. Kolek

da masa pem

dilakukan d

genai hubun

g dikumpulk

has masyar

menunjukk

a religi yan

ang dijunju

dominasi se

ra umum

mengenal tu

menganut

KoleBerda

Batu Terakota Kayu Emas Perak Perungg Campura

mpokkan Kadio, 2004

Unive

rbagai temp

ksi arkeolog

merintahan

di Pulau Ja

ngan antara

kan memili

rakat penga

kan pengar

ng memiliki

ung. Sehing

ebagian bes

merupakan

ulisan. Masa

sistem relig

ksiArkeologasarkanBah

a

uanlogamla

Koleksi

ersitas Indo

pat di Indo

gi sebagian

Hindia-Be

awa. Pada

a seni dan r

iki nilai sen

anut Hindu

ruh agama

i nilai seni

gga tidak se

sar jenis ko

n masa se

a klasik dit

gi tertentu,

gian

in

32

onesia

onesia

besar

elanda

masa

religi,

ni dan

u dan

yang

yang

edikit

oleksi

etelah

tandai

misal

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

33

Universitas Indonesia

Hindu dan Buddha. Dalam sejarah kebudayaan diketahui bahwa masa klasik

berkembang antara abad ke-4 sampai abad ke-15 (Poesponegoro, 2008: 3).

Dalam buku Sejarah Nasional Indonesia Jilid II menjelaskan bahwa

karakteristik masa klasik dipengaruhi oleh unsur kebudayaan india yang sangat

kental dengan unsur-unsur seni. Dengan ditemukannya prasasti-prasasti batu yang

menceritakan kejadian-kejadian tertentu dan perintah-perintah sang raja yang

harus dituangkan dalam nasakah-naskah kuno yang juga berisi mengenai keadaan

alam saat itu. Adapun pengaruh yang sangat kental terlihat pada masa awal

perkembangan kerajaan Hindu terpengaruh oleh India dikuatkan dalam tulisan Edi

Sedyawati dalam artikel The Making of Indonesian Art.

Sumber yang banyak digunakan dari masa klasik adalah naskah yang

banyak menggunakan bahasa Sanskerta aksara Pallava, arca-arca batu, arsitektur

batu dan prasasti batu. Kesemua sumber tersebut menunjukkan adanya suatu

keterdesakan untuk menghasilkan suatu bentuk gaya baru di Indonesia sebagai

hasil persentuhan dengan kebudayaan India.

Menurut Sedyawati sebagaimana mengaci pada pernyataan F. D. K. Bosc

yang berjasa dalam pengembangan koleksi arkeologi Museum Nasional, terlihat

bahwa dalam penggunaan gaya naturalistik tersebut terdapat suatu hubungan yang

berjalan beriringan antara penggambaran tubuh manusia dengan tumbuhan yang

ada pada arca-arca klasik. Contohnya adalah banyaknya penggambaran tumbuhan

teratai pada relief-relief candi yang memiliki makna filosofis kehidupan yang

tercipta dari air sebagai hal yang dianggap suci dan membawa kebaikan dari

Brahma (dewa pencipta) (Sedyawati, 1999: 99).

Untuk menjelaskan lebih lanjut, seperti yang digambarkan pada Gambar

3.2, maka koleksi arkeologi diuraikan berdasarkan klasifikasi bentuk dan bahan.

3.2.1 Arca

Keberagaman koleksi arkeologi ini juga dapat dilihat dari ragam hias yang

digunakan pada pemahatan arca batu sebagai contoh. Lihat pada arca Parvati

dengan nomor inventaris 256a/103b, tinggi 2 meter terbuat dari batu dan berasal

dari Candi Rimbi, Jombang, Jawa Timur abad ke-13 dan arca Harihara (Foto 3.3).

Arca Parvati yang terletak di ruang pamer bangunan induk Museum Nasional. Ciri

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

khas masa

sehingga m

perwujuda

Ar

dipamerka

138 cm d

Bhrkuti in

terlihat da

bharali bh

a Majapahi

menurut Ke

an Tribhuwa

rca lain y

an permane

dan berasal

ni memiliki

ari akarnya

hrkuti (Soem

it terlihat d

empers di d

ana, yaitu ib

yang juga

en adalah ar

dari Cand

ciri keraja

a. Pada bag

madio, 2004

F

dari hiasan

dalam Ancie

bu dari Hay

menjadi b

rca Bhrkuti

di Jago, Ma

aan Singasa

gian kepala

4: 75).

oto 3.1 ArcFoto: Va

teratai yan

ent Indones

yam Wuruk

bagian dar

dengan no

alang, Jawa

ari, yaitu hi

a arca terda

ca Parvati anani

Unive

ng keluar

sian Art arc

(Soemadio

i koleksi

omor invent

a Timur ab

iasan terata

apat tulisan

ersitas Indo

dari jamba

ca ini merup

, 2004: 67).

arkeologi

taris 112a, t

bad ke-13.

ai yang lang

n yang berb

34

onesia

angan,

pakan

.

yang

tinggi

Arca

gsung

bunyi

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

Ad

nomor inv

Nasional.

186b, arca

berasal da

inventaris

bangunan

Siva.

Be

dipamerka

yang berju

da pula arca

ventaris 226

Ada pula

a Bhairawa

ari abad ke

49150, arca

induk deng

erdasarkan

an keseluruh

umlah 278

a Dhyani Bu

6, 227, 225

arca Ganes

yang menar

e-14 ditemu

a Nandi (Fo

gan nomor

Tabel 3.1

han berjum

, arca dew

F

uddha yang

, 224 yang

sha dari C

rik perhatia

ukan di Pa

oto 3.4) yan

inventaris

, diketahui

lah 535. Te

wi 72, arca

Foto 3.2 ArcFoto: Va

g berasal da

terletak di

andi Banon

an karena uk

adang, Sum

ng berada d

324d, nand

i bahwa j

erdiri dari ar

manusia y

ca Bhrkuti anani

Unive

ari Candi Bo

aula pintu

n dengan n

kurannya ya

matera Barat

di tengah tam

di merupka

umlah kol

rca dewa hi

ang termas

ersitas Indo

orobudur de

masuk Mu

nomor inven

ang sangat t

t dengan n

man ruang p

n wahana D

leksi arca

indu dan Bu

suk di dalam

35

onesia

engan

useum

ntaris

tinggi

nomor

pamer

Dewa

yang

uddha

mnya

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

adalah ar

berjumlah

Arca

Dewa Dewi ManusiBinatanLingga Yoni

ca perwuju

h 32.

a TanaLiat

0 0

ia 0 ng 0

0

udan raja/ra

Ta

Hinduah t Batu

18265

12232

29

F

atu dan pe

abel 3.1 Kel

u Logam

22 0 0 0

2

Foto 3.3 ArFoto: V

endeta berj

lompok Kol

Tanah Liat

0 0 0 0

0

rca HariharaVanani Unive

umlah 122

leksi Arca

Buddha

Batu L

45 6 0 0

0

a

ersitas Indo

2, arca bin

JuLogam

29 21 0 10

0

36

onesia

natang

umlah

278 72

122 32

31

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

Foto 3

Foto 3.Fo

3.5 Arca MFoto

.4 Arca Nanoto: Vanani

anusia (Per: Vanani

Unive

ndi

empuan)

ersitas Indo

37

onesia

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

3.2.2 Pra

Pra

menjadi o

inventaris

175. Prasa

untuk men

asasti

asasti juga

objek pene

D 16 yang

asti dibuat d

ngurus bang

F

a merupaka

elitian. Pras

terdapat di

dengan alas

gunan keaga

Foto 3.6 Pra

an bagian

sasti batu

beranda tim

san khusus s

amaan yang

asasti NomoFoto: Van

dari kolek

tulis sebag

mur dan pra

seperti pem

g disebut pra

or Inventarisnani

Unive

si arkeolog

gai contoh

asasti bernom

mbebasan pa

asasti sima.

s D175

ersitas Indo

gi yang ba

dengan n

mor inventa

ajak suatu d

38

onesia

anyak

nomor

aris D

daerah

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

39

Universitas Indonesia

Prasasti yang dipamerkan sebagaimana yang terdapat di dalam Tabel 3.2

keseluruhan berjumlah 161, terdiri dari prasasti dengan Bahasa Sansekerta

berjumlah 17, Bahasa Jawa Kuno berjumlah 125, Bahasa Sunda kuno berjumlah 5

yang terdiri dari lempengan perunggu, Bahasa Melayu Kuno berjumlah 3 dan

Bahasa Jawa Modern berjumlah 2. Prasasti yang tidak terbaca karena hurufnya

yang terpahat tidak terlihat lagi sehingga tidak dapat diidentifikasikan bahasa

yang digunakan sejumlah 10 prasasti.

Tabel 3.2 Kelompok Koleksi Prasasti

3.2.3 Alat Upacara

Kelompok koleksi alat upacara kebanyakan merupakan koleksi yang

berbahan logam, yaitu emas dan perunggu berjumlah keseluruhan 67. Di

antaranya adalah tasbih, mangkuk upacara, jimat/amulet, piring upacara, wadah

jimat, peripih, cepuk, genta (lonceng) dan tempat air suci.

Tabel 3.3 Kelompok Koleksi Alat Upacara

Alat Upacara Tanah Liat Batu Logam Jumlah Tasbih 0 0 2 2 Mangkuk 0 0 27 27

Prasasti Tanah Liat Batu Logam Jumlah

Bahasa Sansekerta 0 17 0 17 Bahasa Jawa Kuno 0 87 37 124 Bahasa Sunda Kuno 0 0 5 5 Bahasa Melayu Kuno 0 3 0 3 Bahasa Jawa Modern 0 2 0 2 Tidak Teridentifikasi 0 10 0 10

Dokumentasi koleksi..., Fenny Mega Vanani, FIB UI, 2011

Jimat/APiring WadahPeripihCepuk Genta Tempa

3.2.4 Pe

Di

koleksi pe

emas berju

Amulet

h Jimat h

at Air Suci

rhiasan

antara kole

erhiasan ya

umlah kesel