titik metklim

download titik metklim

of 26

Embed Size (px)

Transcript of titik metklim

BAB I Pendahuluan

1.1 LATAR BELAKANG Kondisi geografis Kota Blitar merupakan salah satu daerah di wilayah Propinsi Jawa Timur yang secara geografis terletak diujung selatan Jawa Timur dengan ketnggian 156 m dari permukaan air laut, pada koordinat 112 14 - 112 28 Bujur Timur dan 8 2 - 8 10 Lintang Selatan, memiliki suhu udara cukup sejuk rata-rata 24 C- 34 C karena Kota Blitar berada di kaki Gunung Kelud dan dengan jarak 160 Km arah tenggara dari Ibukota Propinsi Surabaya. Ketinggian Dari Permukaan Laut Rata-rata ketinggian Kota Blitar dari permukaan air laut sekitar 156 m. Ketinggian dibagian Utara sekitar 245 m dengan tingkat kemiringan 2 sampai 15, bagian tengah 175 m dan bagian Selatan 140 m dari permukaan air laut dengan tingkat kemiringan 0 sampai 2. Dilihat dari Topografi wilayah Kota Blitar masih termasuk dataran rendah.

Satu-satunya sungai yang mengalir di Kota Blitar adalah sungai Lahar dengan panjang 7,84 km. Sungai tersebut bermuara di gunung Kelud menuju ke sungai Brantas. Keadaan tanah di Kota Blitar berupa tanah Regusol dan Litusol. Jenis tanah Regusol berasal dari gunung Kelud (Vulkan) sedang jenis tanah Litusol mempunyai konsistensi gembur, korositas tinggi dan tahan terhadap erosi. 1.2 TUJUAN Untuk mengetahui kondisi iklim di Kabupaten Blitar menurut Iklim Matahari, Iklim Koeppen, Iklim Tornthwaite, Iklim Mohr, Iklim Oldeman, Iklim Junghuhn, Iklim Schmidt dan Ferguson, serta untuk mengetahui tingkat kenyamanan di daerah tersebut.

BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 PENGERTIAN IKLIM Iklim merupakan keadaan cuaca atau keseluruhan dari gejala cuaca di daerah tertentu sepanjang tahun atau keteraturan keadaan udara untuk periode yang lama. Menurut World Meteorological Organization, Warsawa, 1935, bahwa untuk menentukan iklim suatu daerah diperlukan data cuaca paling sedikit 30 tahun dan sebagai waktu standard dipakai tahun 1901-1930. Pengaruh iklim terhadap kehidupan di bumi ini (biosfer) sangatlah mendasar, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengaruh itu terutama disebabkan oleh keadaan unsur-unsur iklim di suatu daerah. Unsur-unsur iklim yang menunjukan pola keragaman yang jelas merupakan dasar dalam melakukan klasifikasi iklim. Unsur iklim yang umum dipakai adalah suhu dan curah hujan (presipitasi). Klasifikasi iklim umumnya sangat spesifik yang didasarkan atas tujuan penggunaannya. Pengklasifikasian iklim yang spesifik tetap menggunakan data unsur iklim sebagai landasannya, tetapi hanya memilih data unsur-unsur iklim yang berhubungan dan secara langsung mempengaruhi aktivitas atau objek dalam bidangbidang tersebut (Lakitan, 2002). 2.2 KLASIFIKASI IKLIM Indonesia adalah negara yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani, oleh sebab itu pengklasifikasian iklim di Indonesia sering ditekankan pada pemanfaatannya dalam kegiatan budidaya pertanian. Pada daerah tropik suhu udara jarang menjadi faktor pembatas kegiatan produksi pertanian, sedangkan ketersediaan air merupakan faktor yang paling menentukan dalam kegiatan budidaya pertanian khususnya budidaya padi. Variasi suhu di kepulauan Indonesia tergantung pada ketinggian tempat (altitude/elevasi), suhu udara akan semakin rendah seiring dengan semakin tingginya ketinggian tempat dari permukaan laut. Suhu menurun sekitar 0.6 oC setiap 100 meter kenaikan ketinggian tempat. Keberadaan lautan disekitar kepulauan Indonesia ikut berperan dalam menekan gejolak perubahan suhu udara yang mungkin timbul (Lakitan, 2002). Menurut Hidayati (2001) karena Indonesia berada di wilayah tropis maka selisih suhu siang dan suhu malam hari lebih besar dari pada selisih suhu musiman (antara

musim kemarau dan musim hujan), sedangkan di daerah sub tropis hingga kutub selisih suhu musim panas dan musim dingin lebih besar dari pada suhu harian 2.3 FAKTOR FAKTOR PENGENDALI IKLIM 1. Matahari atau latitude Dalam geografi, garis lintang merupakan garis khayal yang digunakan untuk menentukan lokasi di Bumi terhadap garis khatulistiwa (utara atau selatan). Posisi lintang biasanya dinotasikan dengan simbol huruf Yunani . Posisi lintang merupakan penghitungan sudut dari 0 di khatulistiwa sampai ke +90 di kutub utara dan -90 di kutub selatan. Dalam bahasa Indonesia lintang di sebelah utara khatulistiwa diberi nama Lintang Utara (LU), demikian pula lintang di sebelah selatan khatulistiwa diberi nama Lintang Selatan (LS). Nama-nama ini tidak dijumpai dalam bahasa Inggris. Lintang Utara Lintang Selatan menyatakan besarnya sudut antara posisi lintang dengan garis Khatulistiwa. Garis Khatulistiwa sendiri adalah lintang 0 derajat. Setiap derajat lintang dibagi menjadi 60 menit (satu menit lintang mendekati satu mil laut atau 1852 meter, yang kemudian dibagi lagi menjadi 60 detik. Untuk keakurasian tinggi detik digunakan dengan pecahan desimal. Lintang yang cukup penting adalah Garis Balik Utara (2327 LU), Garis Balik Selatan (2327 LS), Lingkaran Arktik (6633 LU), dan Lingkaran Antarktik (6633 LS). Hanya antara kedua Garis Balik matahari dapat berada di zenith. Hanya di utara Lingkaran Arktik atau selatan Lingkaran Antarktik matahari tengah malam dapat terjadi. Perbedaan lintang akan menyebabkan perbedaan insolasi dan radiasi neto harian atau tahunan. Pada tanggal 21 Juni Insolasi harian maksimum terjadi pada lintang kirakira 300 utara. Sebaliknya 22 Desember terjadi pada lintang 300 derajat selatan. Seangkan pada tanggal 21 Maret atau 23 September insolasi harian maksimum terjadi di equator. Pencapaian insolasi harian maksimum disebabkan adanya posisi surya berada di atas masing-masing lintang pada tanggal atau hari yang bersangkutan. Lamanya penyinaran matahari pada suatu tempat tergantung dari letak garis lintangnya. Semakin rendah letak garis lintangnya maka semakin lama daerah tersebut mendapatkan sinar matahari dan suhu udaranya semakin tinggi. Sebaliknya, semakin tinggi letak garis lintang maka intensitas penyinaran matahari semakin kecil sehingga suhu udaranya semakin rendah. Indonesia yang terletak di daerah lintang rendah (6 LU 11 LS) mendapatkan penyinaran matahari relatif lebih lama sehingga suhu rata-rata hariannya cukup tinggi.

Untuk memahami bagaimana dinamika Bumi sebagai mesin cuaca bekerja, menjadi penting untuk memahami mengapa lintang yang berbeda menerima kuantitas yang berbeda dari energi mataharidan, mengapa kita mempunyai musim? Satu dari gerakan utama Bumi adalah rotasi, yaitu gerakan berputar dari Bumi pada sumbunya. Rotasi menghasilkan siklus harian dari siang dan malam. Satu rotasi memakan waktu 24 jam. Gerakan ke dua dari planet kita adalah revolusi, yaitu gerakan Bumi dalam orbitnya mengelilingi Matahari.

2. Pusat Tekanan Rendah dan Tinggi Akibat bumi yang condong 23120 menyebabkan gerak semu matahari berkisar pada garis balik utara 23120 LU (tropic of cancer) dan garis balik selatan 23120 LS (tropic of Capricorn). Pergerakan semu matahari ini menyebabkan perbedaan intensitas isolasi untuk berbagai letak lintang. Pengaruh selanjutnya pada perbedaan suhu di berbagai letak lintang tersebut yang berakibat pada perbedaan tekanan udaranya. Sebab

suhu mempunyai hubungan terbalik dengan tekanan udara, yaitu jika suhu udara tinggi maka tekanannya rendah, hal ini karena udara bersuhu tinggi akan naik dan berkembang. Perbedaan tekanan udara pada berbagai lintang dapat dikelompokkan, yaitu pada daerah lintang yang bertekanan rendah disebut sebagai pusat tekanan rendah dan daerah lintang yang bertekanan tinggi disebut disebut dengan pusat tekanan tinggi. Kondisi yang demikian menyebabkan dinamika udara, dimana udara bergerak dari tekanan tinggi ke tekanan rendah. Udara yang bergerak ini mempunyai arah pergerakan dipengaruhi oleh gaya coriolis, arah inilah yang selanjutnya mempengaruhi permusiman atau iklim wilayah. Sifat pusat tekanan rendah dan tekanan tinggi serta arah angin adalah semi permanen yang berubah secara periodic sebagaimana pergerakan semu matahari. Pusat-pusat tekanan rendah dan tekanan tinggi adalah sebagai berikut ; a. Pusat tekanan rendah equator, yang terdapat di sekitar equator, kondisi ini disebabkan karena suhu tinggi yang berakibat pada naik dan berkembangnya massa udara sehingga tekanannya rendah, dan merupakan daerah doldrum (tenang). b. Pusat tekanan tinggi subtropik yang disebut daerah lintang kuda (horse latitude) karena adanya gerakan udara bagian atas (konvergensi) yang turun dan mengakibatkan penempatan massa udara sehingga tekanan udara menjadi lebih tinggi. Daerah lintang kuda berada pada garis lintang 30 LU/LS. c. Pusat tekanan rendah subpolar, karena efek termal yaitu semakin kea rah kutub suhunya semakin rendah dan tekanannya semakin tinggi, sehingga pada subpolar tekanan udaranya lebih rendah daripada di kutub. Daerah pusat tekanan rendah subpolar terletak pada garis lintang 60 LU/LS. d. Pusat tekanan tinggi kutub, karena efek termal maka tekanan di kutub lebih tinggi. Daerah pusat tekanan tinggi kutub berada pada garis lintang 90 LU/LS. 1. Arah Angin Angin merupakan udara yang bergerak horizontal dan gerakan udara tersebut merupakan gerakan udara relative terhadap permukaan bumi ( Prawirowardoyo, 1996). Angin adalah salah satu faktor yang paling bervariasi dalam membangkitkan arus. Selain itu juga angin berperan dalam pembangkitan gelombang laut. Sehingga kondisi fisik dari laut dapat kita pahami secara terintegrasi, baik yang berkaitan dengan sumber maupun faktor-faktor yang mempengaruhi fenomena ini. Walaupun gerakan udara vertical sangat penting dalam pembentukan awan dan hujan, kecepetan pergerakan horizontal jauh lebih besar dan mempengaruhi iklim dan perubahan cuaca di suatu tempat, yang nantinya akan berguna bagi seluruh pihak, terutama pihak penerbangan.

Perbedaan suhu menyebabkan perbedaan tekanan, dan tekan menyebabkan perbedaan gaya yang tibul di suatu daerah. Dalam hal ini daratan dan lautan menerima energi radiasi matahari, tetapi laju pemanasannya berbeda. Perbedaan ini tercermin dari suhu dan udaranya, udara pada suhu tinggi akan mengembang dan bergerak ke atas sehingga tekanan lebih rendah dari sekitarnya. Perbedaan ini yang menimbulkan gradien tekanan yang memicu terjadinya angin. Adapun fungsi angin yang terpenting : a. Memindahkan panas dari daerah lintang rendah ke lintang yang lebih tinggi, sehingga merupakan tenaga terpenting bagi keseimbangan panas antara lintang rendah dan lintang tinggi. b. Memberikan kepada massa daratan uap air atau kelembaban yang digunakan untuk memungkinkan jatuhnya hujan. 1. Gunng Penghalang (Mountain Barrier) Kondisi fisiografis wilayah Indonesia dan sekitarnya, seperti posisi lintang, ketinggian, pola angin (angin pasat dan monsun), sebaran bentang darat dan perairan, serta pegunungan atau gunung-gunung yang tinggi berpengaruh terhadap variasi dan tipe curah hujan di wilayah Indonesia. Berdasarkan pola umum terjadinya, terdapat 3 (tiga) tipe curah hujan, yakni: tipe ekuatorial, tipe monsun dan tipe lokal. Tipe ekuatorial proses terjadinya berhubungan dengan pergerakan zona konvergensi ke utara dan selatan, dicirikan oleh dua kali maksimum curah hujan bulanan dalam setahun, wilayah sebarannya adalah Sumatra dan Kalimantan. Tipe monsun dipengaruhi oleh angin laut dalam skala yang sangat luas, tipe hujan ini dicirikan oleh adanya perbedaan yang jelas antara periode musim hujan dan kemarau dalam setahun, dan hanya terjadi satu kali maksimum curah hujan bulanan dalam setahun, wilayah sebarannya adalah di pulau Jawa, Bali dan Nusa tenggara. Tipe lokal dicirikan dengan besarnya pengaruh kondisi lingkungan fisis setempat, seperti bentang perairan atau lautan, pegunungan yang tinggi, serta pemanasan lokal yang intensif, pola ini hanya terjadi satu kali maksimum curah hujan bulanan dalam waktu satu tahun, dan terjadi beberapa bulan kering yang bertepatan dengan bertiupnya angin Muson Barat, sebarannya meliputi Papua, Maluku dan sebagian Sulawesi. Jumlah curah hujan juga dipengaruhi oleh arah datang angin, pada sisi pegunungan atau gunung yang menghadap arah datang angin lembab (windward side) curah hujannya tinggi dan pada sisi sebelahnya (leeward side) curah hujannya sangat rendah atau rendah. Pola curah hujan di Indonesia juga dipengaruhi oleh keberadaan deretan pegunungan. Pegunungan merupakan penghalang fisik bagi pergerakan angin.

Hujan orografis akan terjadi jika udara lembab terdorong naik karena pergerakannya terhalang oleh keberadaan pegunungan, Curah hujan untuk sisi arah datang angin lembab (wind-ward side) akan tinggi dan pada sisi pegunungan disebelahnya (leeward) curah hujan akan sangat rendah. Nama gunung penghalang ini diberikan karena menghalangi angin yang bergarak membawa uap air yang akan menuju daerah sekitar, searah dengan arah angin tetapi dihalangi oleh gunung tersebut. Sehingga uap air yang dibawa oleh angin terhalang dan naik ke atas gunung dengan gaya adiabatik. Keberadaan gunung menjadi barrier atau penghalang yang memaksa angin bergerak menaiki gunung. Udara lembab yang dipaksa naik ini berakibat pada perubahan suhu dan kelembapan relatif yaitu suhu menjadi dingin karena gradien suhu vrtikal sehingga kelembapan relatif menjadi naik, sekalipun tanpa penambahan uap air. Kelembapan relatif yang semakin tinggi menyebabkan udara menjadi jenuh uap air dan terkondensasi menjadi titik-titik air yang kemudian turun sebagai hujan. Hujan yang demikian disebut hujan orografik.

2. Massa Udara Udara yang menetap untuk waktu yang cukuo lama di atas suatu bagian permukaan bumi, sifatnya cenderung menjadi ciri khas permukaan bumi itu, dimana permukaan bumi itu berada. Jika sifat permukaan tersebut kurang lebih sama untuk daerah yang luas, seperti bentangan samudra yang luas atau bentangan daratan yang luas, maka sifat udara diatas permukaan yang luas dan hampir seragam tu menjadi hampir seragam pula dalam bidang horisontal. Udara yang mempunyai sifat hampir seragam untuk daerah yang luas itu disbut massa udara. Sifat-sifat udara yang dimaksudkan itu terutama suhu dan kelembaban

Massa udara dapat terbentuk jika udara itu diam atau bergerak untuk waktu yang lama diatas daerah yang luas yang memiliki sifat hampir seragam. Hal ini berarti daerah yang dikuasai oleh antisiklon yang bergerak lambat sebab biasanya antisiklon mempunyai daerah yang luas da berangin lemah.agar massa udara dapat terbentuk, angin lemah dan sifat permukaan yang seragam harus terdapat bersama-sama. Angin lemah ini yang dapat menjamin bahwa udara berada dalam suatu daerah cukup lama, sehingga mendekati keseimbangan dengan daerah itu. Berbagai sifat pokok daerah sumber yang menentukan sifat massa udara adalah suhunya dan apakah daerah tersebut berupa ddaratan dan lautan. Sebagai petunjuk mengenai suhunya, daerah sumber digolongkan menurur jalur lintang yaitu equator, tropika, dan artic (antartika), dan sifat permukaannya ditunjukkan sebagai benu atau lautan. Berdasaran kelompok daerah sumber itu, massa udara dugolongkan sebagai berikut a. Massa udara artika............................A b. Massa udara kutub mariim.................mP (maritim Polar) c. Massa Udara Tropika maritim............mT 9maritim tropikal) d. Massa udara kutub kntinental.............cP 9continental Polar) e. Massa udara tropika kontinental.........cT (continental tropikal) f. Massa udara equator........................E

Berdasarkan suhu udara di bawah massa udara itu suatu massa ada yang lebih panas (W) dan ada yang lebih dingin (K). Massa udara (W) mengalami pendinginan bagian bawah dan massa udara (K). Mengalami pemanasan bagian bawah. Oleh sebab itumassa udara (W) merupakan massa udara stabi, dan massa udar (K) merupkan massa udara tidak stabil. Perubahan stabilitas udara tidak hanya diengaruhi oleh alih panas antara massa udara dan ermuaan di bawahnya, tetapi juga dipengaruhi oleh kenaikan dan penurunan arus udara. Udara naik dan turun akibat konvergensi dan divergensi akan mempengaruhi stabilitas massa udara. Udara yang turun menjadi lebih stabil dan udara yang naik disertai kecuraman gradien suhu vertikal akan cederug labil. 1. Arus laut Arus adalah proses pergerakan massa air menuju kesetimbangan yang menyebabkan perpindahan horizontal dan vertikal massa air. Gerakan tersebut merupakan resultan dari beberapa gaya yang bekerja dan beberapa faktor yang mempengaruhinya. Arus laut (sea current) adalah gerakan massa air laut dari satu tempat ke tempat lain baik secara vertikal (gerak ke atas) maupun secara horizontal (gerakan ke

samping). Contoh-contoh gerakan itu seperti gaya coriolis, yaitu gaya yang membelok arah arus dari tenaga rotasi bumi. Pembelokan itu akan mengarah ke kanan di belahan bumi utara dan mangarah ke kiri di belahan bumi selatan. Gaya ini yang mengakibatkan adanya aliran gyre yang searah jarum jam (ke kanan) pada belahan bumi utara dan berlawanan dengan arah jarum jam di belahan bumi selatan. Perubahan arah arus dari pengaruh angin ke pengaruh gaya coriolis dikenal dengan spiral ekman (Pond dan Pickard, 1983).

Gambar. 1 Ketika berbicara tentang air, kita juga akan mengacu pada gerakan atau arus air. Arus ditemukan di sungai, kolam, rawa-rawa dan bahkan kolam renang. Arus laut adalah arus yang memiliki sistem yang rumit. Pada dasarnya, arus laut diakibatkan oleh gerakan udara di atas permukaan air laut. Selain itu, dipengaruhi juga oleh beberapa faktor, salah satunya adalah rotasi bumi yang menyebabkan pembelokan arah arus laut (gaya coriolis). Menurut letaknya, arus dibedakan menjadi dua, yaitu arus atas dan arus bawah permukaan laut. Jika menurut suhunya, kita mengenal adanya arus panas dan arus dingin. Sedangkan berdasarkan penyebab terjadinya, arus terdiri dari: arus ekman, arus termohaline, arus pasut, arus geostropik, dan Wind Driven Current. Arus laut sangat mempengaruhi iklim di dunia. Arus laut yang dingin akan menurunkan suhu udara di daratan, sedangkan arus laut panas akan menaikan suhu udara di daratan. El Nino dan La Lina juga berkaitan dengan adanya arus laut. Kedua fenomena tersebut membawa dampak positif dan negatif terhadap lingkungan. Program pemantauan laut Indonesia semakin digencarkan agar kita mampu memprediksi kehadiran El Nino dan La Nina untuk 12 bulan sampai 24 bulan ke depan. Ini penting karena menyangkut gagal panen atau panen raya, perlu atau tidak impor beras, kekeringan atau kebanjiran, menyangkut kebakaran hutan dan sebaran asap yang bisa meningkatkan penyakit pernapasan, serta mengganggu negara tetangga.

2. Badai Badai merupakan angin yang bergerak sangat cepat bisa > 100 km/jam dan pada isobar yang lurus angin ini bergerak secara horizontal, tetapi pada isobar yang melengkung angin ini merupakan angin sikolonal yang bergerak melingkar. Namun ada sumber lain mengatakan bahwa badai adalah cuaca yang ekstrem, mulai dari hujan es dan badai salju sampai badai pasir dan debu . Badai disebut juga siklon tropis oleh meteorolog, berasal dari samudera yang hangat. Badai bergerak di atas laut mengikuti arah angin dengan kecepatan sekitar 20 km/jam. Badai bukan angin ribut biasa. Kekuatan anginnya dapat mencabut pohon besar dari akarnya, meruntuhkan jembatan, dan menerbangkan atap bangunan dengan mudah. Tiga hal yang paling berbahaya dari badai adalah sambaran petir, banjir bandang, dan angin kencang.Terdapat berbagai macam badai, seperti badai hujan, badai guntur, dan badai salju. Badai paling merusak adalah badai topan (hurricane), yang dikenal sebagai angin siklon (cyclone) di Samudera Hindia atau topan (typhoon) di Samudera Pasifik. Wilayah Indonesia pada tahun 2007 terjadi badai lokal (angin kencang) dan angin siklonal yang disebut angin putting beliung atau lesus, tetapi bukan badai tropis. Badai tropis yang siklonal dapat mempercepat proses terjadinya hujan (rain) ataupun hujan es (hail). Adanya badai tropis menunjukkan cuaca buruk, selain angin yang kencang disertai hujan lebat. Alat pendeteksi badai adalah X-Net. Cara kerjanya cukup mudah dengan menempatkan sistem radal model Doppler yang dipasang dilima titik dsegala penjuru kota tokyo,radar Doppler tersebut disambungkan untuk memantau pergerakan angin lewat monitor,setelah itu radar utama X-Net akan bekerja dengan melihat serta mengontrol kadar udara,lalu mengukur kecepatan angin melalui kecepatan angin melalui perubahan awan yang berubah terus menerus.alat ini mampu bekerja dengan mendeteksi kehadiran angin dalam jarak radius 60-80 km,sehingga jika angin tersebut berpotensi membahayakan maka dengan cepat radar akan mengirim sinyal,sehingga kedatangan angin topan dan badai bisa segera diantisipasi. Klasifikasi iklim 1. Iklim Matahari Iklim Matahari merupakan metode klasifikasi iklim berdasarkan banyaknya radiasi matahari yang diterima oleh permukaan bumi di beberapa tempat. Oleh karena posisi bumi terhadap matahari mempunyai kemiringan 23 1/2o maka selama berevolusi terjadi perubahan posisi matahari terhadap bumi. Perubahan posisi ini merupakan

gerakan semu matahari. Daerah yang berada pada lintasan gerak semu matahari yaitu antara 2312LU - 2312LS mendapatkan radiasi matahari dalam jumlah yang lebih besar dibandingkan dengan daerah dengan lintang lebih tinggi. Pembagian iklim matahari adalah sebagai berikut: a. Iklim Tropik (2312LU - 2312LS) Iklim tropik mempunyai ciri adanya suhu yang selalu tinggi sepanjang tahun dengan amplitudo suhu tahunan rendah, sehingga permusiman didasarkan pada curah hujan. Curah hujan sangat tinggi dengan tipe hujan konvergen dan konvektif. b. Iklim Sub Tropik (2312LU - 40LU dan 2312LS- 40LS) Iklim sub tropik mempunyai ciri amplitudo suhu tahunan yang lebih besar daripada iklim tropik tetapi dengan curah hujan yang kecil sebab terjadi pergerakan angin divergen dan konvergensi. Pada musim dingin curah hujan tinggi sedangkan pada musim panas sangat kering. c. Iklim Sedang (40LU- 6612LU dan 40LS - 6612LS) Iklim sedang mempunyai ciri adanya amplitudo suhu tahunan yang lebih besar, sehingga pada aerah iklim sedang terdapat permusiman berdasarkan perbedaan suhu yaitu musim panas, musim gugur, musim semi dan musim dingin. Terjadi pergerakan massa udara konvergensi sehingga terjadi hujan yang cukup banyak. d. Iklim Kutub (6612LU - 90LU dan 6612LS - 90LS) Iklim kutub bercirikan suhu udara yang sangat dingin sepanjang tahun dengan musim panas pendek sebab sudut datang radiasi matahari sangat rendah. Suhu rata-rata tahunan mencapai -17C. 1. IklimFisis iklim di daerah tertentu. Kondisi fisik yang dimaksud adalah topografi, arus laut, dan jarak suatu daratan terhadap laut. 3. Iklim Junghuhn Junghuhn melakukan klasifikasi iklim di Indonesia berdasarkan ketinggian tempat dihubungkan dengan kehidupan tumbuh-tumbuhan. Junghuhn membagi iklim menjadi empat zone/daerah iklim, yaitu:

Dasar pembagian iklim fisis adalah kondisi fisik atau alam yang mempengaruhi

a. Zone Panas, daerah yang berada pada ketinggian 0 600 m dpl. Suhu udara rata-rata di atas 22C. Tanaman budidaya yang cocok antara lain tembakau, kelapa, padi, jagung. b. Zone Sedang, ketinggian antara 600 1500 m dpl. Suhu udara antara 22C 17C. Tanaman budidaya yang tumbuh antara lain tembakau, padi, kopi, teh, coklat, sayur-sayuran. c. Zone Sejuk, ketinggian antara 1500-2500 m dpl. Suhu udara antara 17-11C. Tanaman budidaya yang tumbuh antara lain kina, kopi, teh, sayur-sayuran, pinus. d. Zone Dingin, ketinggian 2500 m dpl ke atas. Suhu udara di bawah 11C dan tidak ada tanaman budidaya yang tumbuh. 4. Sistem Klasifikasi Koppen Wladimir Koppen (1846-1940) membuat klasifikasi iklim berdasarkan perbedaan temperatur dan curah hujan rata-rata bulanan dan tahunan. Koppen memperkenalkan lima kelompok utama iklim di muka bumi yang didasarkan pada prinsip kelompok vegetasi. Kelima kelompok iklim ini dilambangkan dengan lima huruf besar dimana tipe iklim A adalah tipe iklim hujan tropik (tropical rainy climates), iklim B adalah tipe iklim kering (dry climates), iklim C adalah tipe iklim hujan suhu sedang (warm temperate rainy climates), iklim D adalah tipe iklim hutan bersalju dingin (cold snowy forest climates) dan iklim E adalah tipe iklim kutub (polar climates) (Safii, 1995). Indonesia memiliki iklim tipe A yang merupakan iklim hujan tropis tanpa musim dingin. Iklim A mempunyai suhu bulan terdingin > 18C (16,44F) dengan suhu bulanan < 18C tanaman tropis tertentu yang peka tidak dapat hidup, jadi wilayah iklim ini merupakan kawasan tanaman megaterm yang memerlukan suhu yang tinggi secara terus-menerus dan hujan melimpah. Kelompok iklim A, yaitu: a. Af (iklim basah tropis), f: curah hujan pada bulan paling kering 60mm (2,4 inch). Iklim ini terdapat variasi musiman suhu minimum dan hujan yang tetap tinggi sepanjang tahun. b. Aw (iklim tropis, basah dan kering), w: musim kering yang jelas dalam periode musim dingin. Irama curah hujan musiman yang jelas, sekurangkurangnya satu bulan