Template Jurnal

download Template Jurnal

of 10

  • date post

    05-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    219
  • download

    0

Embed Size (px)

description

template contoh jurnal

Transcript of Template Jurnal

Pendahuluan

Region, Vol .4, No.1, Januari 2011: 1-10Pembayun Sekaringtyas dkk, Organisasi Keruangan...

Organisasi Keruangan Industri Budaya

Di Kota SurakartaPembayun SekaringtyasProgram Studi Perencanaan Wilayah dan Kota,

Jurusan Arsitektur, Fakultas TeknikUniversitas Sebelas Maret, Surakarta

Rizon Pamardhi UtomoProgram Studi Perencanaan Wilayah dan Kota,

Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik

Universitas Sebelas Maret, Surakarta

Istijabatul AliyahProgram Studi Perencanaan Wilayah dan Kota,

Jurusan Arsitektur, Fakultas TeknikUniversitas Sebelas Maret, Surakarta

Abstract: The cityof Surakartais oneof thecity'spotential to be thecenter forcreativeindustrydevelopmentinIndonesia,particularlyartsbasedcreativeindustriesandculturalorknownby the termculturalindustry.Culturalindustriescan not beseparated fromthe city, especiallythe spatial dimensionofclustering tendency. Creativemilieuprovidesamajorrolefor thecultural industryto experience the agglomerationorclusteringintoa cluster.Therefore, theneed toexplorethe spatial organizationof culturalindustriesin thecity ofSurakarta,to determinethe impactof spatialinterdependenceintheactivityofcreation,production,andcommercialization ofculturalindustries,as well asthe relationshipthatexists betweenthe culture industrywithitssupportinginfrastructure.

Keywords : spatialorganization,culturalindustries,creativemilieu,clusterPENDAHULUAN

UNESCO (2008) mendefinisikan industri budaya (cultural industries) sebagai industri yang memproduksi output kreatif dan artistik baik intangible dan tangible, yang memiliki potensi untuk daya kreasi serta pembangkit pendapatan melalui eksploitasi aset budaya dan produksi berbasis pengetahuan barang dan jasa. Industri budaya merupakan tataran upstream dari industri kreatif yang menempatkan inovasi dan kreativitas sebagai mesin pertumbuhan ekonomi.

Proses kreatif yang berkembang dalam suatu industri budaya memiliki kaitan erat dengan ruang kota, khususnya dari efek aglomerasi yang ditimbulkan (Cooke dan Lazzeretti, 2007). Creative milieu memberikan peran yang besar bagi industri budaya untuk mengalami aglomerasi atau pengelompokkan menjadi sebuah klaster. Creative milieu adalah sebuah tempatbaik sekelompok bangunan, suatu bagian dari kota, maupun sebuah kota sebagai bagian dari satu kesatuan wilayahyang mengandung prasyarat yang dibutuhkan untuk membangkitkan aliran ide dan penemuan, dalam hal ini infrastruktur lunak (soft) dan keras (hard) (Landry, 2008). Selain memberi kontribusi langsung di sektor perekonomian, klaster industri budaya juga merupakan sarana city branding yang baik.

Kota Surakarta merupakan salah satu wilayah yang potensial untuk dikembangkan menjadi daerah industri kreatif Indonesia, bersama dengan DKI Jakarta, Denpasar, Bandung, Yogyakarta, Jember dan Batam. Hingga saat ini subesektor industri kreatif yang berpotensi di Kota Surakarta, antara lain adalah subsektor kerajinan, fesyen dan seni pertunjukkan (Depdag, 2010b: 31), yang jika ditinjau dari klasifikasi industri kreatif, ketiga subsektor tersebut termasuk ke dalam golongan industri budaya (Depdag, 2010a).

Dalam rangka mendukung pencitraan Kota Surakarta sebagai kota budaya, maka pengembangan klaster industri kreatif di Kota Surakarta prospektif untuk ditekankan pada subsektor industri budaya, yang dapat menonjolkan keunikan lokal setempat. Pengembangan klaster industri budaya dalam suatu kota, tidak terlepas dari aspek tata ruang. Analisis organisasi keruangan yang terbentuk dari industri budaya yang ada perlu dilakukan sebagai dasar kajian untuk mengetahui karakter keruangan yang terbentuk. Organisasi keruangan adalah konsep wilayah fungsionalsuatu area yang didefinisikan oleh aktivitas ekonomi di dalamnya. Organisasi keruangan industri budaya dapat ditinjau melalui struktur dan pola keruangan yang tercipta akibat hubungan interdependensi yang terjadi antar elemen industri budaya maupun dengen infrastruktur keras dan lunak yang menunjang.

Dengan adanya globalisasi yang membawa kota-kota ke dalam kompetisi ekonomi skala dunia, maka setiap kota akan berusaha memainkan perannya sebagai sentra komando dan kontrol dari ekonomi global baru, mewujudkan diri sebagai lokasi yang lebih disukai oleh media, aktivitas kreatif, dan pariwisata (Hall dan Pfeiffer, 2000: 114). Maka dalam satu dasawarsa terakhir, sebuah paradigma pembangunan baru muncul, menghubungkan ekonomi dan budaya, mencakup pembangunan perekonomian, kebudayaan, teknologi dan aspek sosial baik pada tingkatan makro dan mikro. Menurut UNESCO (2008), industri budaya merujuk pada industri yang mengkombinasikan kreasi, produksi dan komersialisasi dari konten-konten kreatif yang sifatnya kebudayaan dengan menekankan pada warisan budaya, elemen artistik dan tradisional dari kreativitas manusia. Industri budaya adalah

industri yang memproduksi output kreatif dan artistic baik intangible dan tangible, yang memiliki potensi untuk daya kreasi serta pembangkit pendapatan melalui eksploitasi aset budaya dan produksi berbasis pengetahuan barang dan jasa (baik tradisional maupun kontemporer) (UNESCO, 2008).

Istilah industri budaya seringkali dipertukarkan dengan istilah industri kreatif, namun sebenarnya keduanya memiliki makna yang berbeda. Industri budaya merupakan bagian dari industri kreatif (UNCTAD, 2009). Dimana industri kreatif dapat didefinisikan sebagai lingkaran kreasi, produksi dan distribusi barang dan jasa yang menggunakan kreativitas dan modal intelektual sebagai input primer. UNCTAD (2009) membuat perbedaan antara aktivitas upstream (aktivitas kultural tradisional seperti seni pertunjukkan) dan aktivitas downstream (lebih dekat pada pasar, seperti periklanan, percetakan dan aktivitas terkait media). Aktivitas upstream memiliki nilai komersial di dalam dirinya sendiri, sementara aktivitas downstream memberikan nilai komersialnnya secara prinsip dari aplikasinya pada aktivitas ekonomi lain. Dalam hal ini, industri kreatif mencakup gabungan dari aktivitas upstream dan downstream, sementara industri budaya hanya terdiri dari aktivitas upstream saja.

Industri budaya memiliki kecenderungan untuk mengklaster sebagaimana karakter industri lainnya. Klasterisasi tersebut dipengaruhi oleh adanya tendensi aglomerasi ekonomi serta keberadaan creative milieu yang mendorong iklim kreatif. Klaster adalah sekelompok perusahaan dan institusi terkait pada bidang tertentu yang saling berdekatan secara geografis, terhubung oleh adanya persamaan dan hubungan saling melengkapi. Klaster dapat terbentuk karena beberapa faktor, antara lain: konsentrasi tenaga kerja terampil, diversitas produksi, berdekatannya para pemasok spesialis tersedianya fasilitas untuk mendapatkan pengetahuan, dan transfer pengetahuan antar pelaku industri. Satu hal spesifik yang membedakan karakter aglomerasi industri budaya dengan aglomerasi industri pada umumnya adalah unit ekonomi bergabung bersama dengan lingkungan sosial dan perkotaan dalam kombinasi yang sinergis.

Creative milieu adalah suatu karakteristik lingkungan kota yang mendorong aktivitas kultural, sosial, inovasi dan kreativitas, dan kelas kreatif (Landry, 2008). Dengan adanya creative milieu inilah sebuah klaster industri budaya akan dapat berkembang lebih maju. Faktor soft agglomeration seperti suasana, serta nilai simbolis dan kualitas tempat dianggap memiliki peran yang vital dalam klaster industri budaya yang semakin kurang bergantung pada faktor-faktor hard agglomeration seperti bahan baku, ketersediaan bahan baku, harga sewa lokasi yang murah.

Dari interdependensi yang terjadi di dalam aktivitas kreasi-produksi-komersialisasi industri budaya, maupun hubungan yang muncul antara industri budaya dengan infrastruktur penunjang, kemudian akan menimbulkan dampak spasial berupa organisasi keruangan tertentu. Organisasi keruangan dapat ditinjau dari struktur dan pola keruangan yang terbentuk. Struktur keruangan industri budaya adalah susunan sistem jaringan antar elemen-elemen yang memiliki hubungan fungsional dalam suatu kesatuan ruang. . Struktur keruangan industri budaya dapat ditinjau dari hubungan horizontal dan vertikal yang terjalin di antara unit-unit produksi industri budaya atau para aktor yang terlibat (Heur, 2009: 1538), serta hubungan penunjang dengan infrastruktur terkait.

Hubungan vertikal terdiri dari titik-titik industri budaya, yang dalam hal ini adalah tempat proses kreasi-produksi-komersialiasi berlangsung yang mana secara fungsional berbeda, namun melakukan kegiatan yang saling melengkapisebuah situasi yang seringkali dideskripsikan sebagai sistem produksi dari hubungan input/output. Adapun dimensi horizontal terdiri dari titik-titik yang melakukan kegiatan serupa dan oleh karena itu hubungan yang terjadi bersifat kompetisi, karena keberhasilan dari satu pelaku akan mengorbankan pelaku yang lain. Hubungan penunjang merupakan hubungan yang terjadi antara industri budaya dengan infrastruktur lunak/keras, maupun hubungan yang terjalin di antara infrastruktur lunak/keras tersebut. Hubungan penunjang adalah hubungan yang menguatkan pemaknaan kultural, sense of place, aliran pengetahuan, kreativitas dan inovasi yang tidak terkait dengan proses hierarki vertikal maupun horizontal dalam aktivitas ekonomi industri budaya. Hubungan penunjang ini menjadi elemen struktural yang penting dalam mengisi ruang antara unit industri budaya dengan creative milieu.

Pola keruangan industri budaya adalah ekspresi keruangan secara morfologis yang merupakan dampak dari persebaran titik-titik industri budaya. Salah satu pendekatan untuk menganalisis pola keruangan adalah dengan menggunakan teknik tetangga terdekat (nearest-neighbor analysis). Dalam metode ini diterapkan pengukuran jarak terdekat antara sejumlah titik industri budaya dan infrastruktur penunjangnya dalam suatu lu