Taman Atap

download Taman Atap

of 17

  • date post

    26-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    177
  • download

    11

Embed Size (px)

Transcript of Taman Atap

APLIKASI SEMEN DALAM PEMBANGUNAN TAMAN ATAP (ROOF GARDEN) SEBAGAI RUANG HIJAU ALTERNATIF DI KAWASAN PERKOTAAN (MEMAHAMI EKSISTENSI SEMEN DALAM MENDUKUNG PEMBANGUNAN KOTA YANG BERKELANJUTAN)

Pembangunan Kota Berkelanjutan (Sustainable City) Berbagai permasalahan lingkungan global dan isu keberlanjutan (sustainability issue) yang dalam dua dekade terakhir marak dibicarakan dalam forum-forum internasional telah berimplikasi luas dalam banyak bidang kehidupan, tak terkecuali bagi paradigma pembangunan kota (Roychansyah, 2006). Negara-negara maju seperti Amerika, Jepang, Korea, dan negara Skandinavia di kawasan Eropa telah melakukan pembangunan kota dengan menitik beratkan pada aspek keberlanjutan (sustainability) sejak dua dasawarsa terakhir. Saat ini telah berkembang banyak paradigma dan model pembangunan kota yang menghendaki terciptanya kota berkelanjutan (sustainable city). Beberapa diantaranya adalah paradigma kota kompak (compact city), kota sehat (healthy city), dan kota ekologis atau kota hijau (green city). Tampak di sini bahwa ketiga paradigma tersebut menghendaki substansi keberlanjutan sebagai suatu landasan ideal (esensi) bagi pembangunan kota saat ini dan masa mendatang. Pembangunan kota berkelanjutan sendiri terintegrasi dengan tiga aspek utama yaitu ekonomi, sosial, dan lingkungan dimana ketiganya harus dijalankan secara seimbang agar tujuan keberlanjutan dapat dicapai (Gambar 2.1). Menurut Dharma (2005) dalam wacana kota yang berkelanjutan, dapat dijelaskan bahwa hubungan aspek ekonomi dengan masyarakat kota tercermin dari taraf hidup, hubungan ekonomi dengan lingkungan tercermin dari kegiatan konservasi, dan hubungan masyarakat dengan lingkungan tercermin dari ko-eksistensi mereka. Wacana sustainability dalam arsitektur dan perencanaan tata ruang kota merupakan isu pembangunan kota yang sulit direalisasikan. Hal tersebut disebabkan karena banyaknya aspek yang perlu diperhatikan, antara lain: topografi dan iklim mikro, efisiensi infrastruktur, tata guna lahan, transportasi, dan sumber energi.External force: pemanasan global & keterbatasan SDA EKONOMI PERANGKAT UKUR : Teknologi Informasi Partisipasi publik Pendidikan KRITERIA : Rendah emisi Sehat Aman Nyaman Ramah (menyenangkan)

SOSIAL

LINGKUNGAN

Human Well Being (Sustainability) PRINSIP : pemerintahan, kebijakan terintegrasi, ekosistem, dan kerjasama (partnership)

Gambar 2.1 Sketsa Kasar Sustainable City (Dharma, 2005)

Kota secara garis besar, terutama dilihat dari makro-fisik kota, bisa dibedakan ke dalam tiga bagian yang besar atau trimatra. Pertama, bentuk kota yang menggambarkan perwujudan fisik kota yang sangat dipengaruhi oleh fungsi lahan perkotaan, termasuk pembagian maupun penggunaan ruang oleh beragam aktivitas dalam kota. Kedua, transportasi kota yang berfungsi sebagai penghubung warga, barang, dan kegiatan manusia antar-ruang kota. Keduanya menurut Wegener (2004) mempunyai hubungan kuat untuk mempengaruhi kondisi lingkungan kota. Ketiga, kondisi lingkungan yang secara langsung memberi umpan balik pada model morfologi sebuah kota dan model transportasinya (Gambar 2.2).MORFOLOGI

TRANSPORTASI

LINGKUNGAN

Pengaruh Umpan balik

Gambar 2.2 Tautan antara Morfologi, Transportasi, dan Lingkungan (Wegener, 2004). Perubahan berbagai faktor dalam sebuah entitas wilayah kota (penduduk, sosial, ekonomi, budaya, lingkungan alam, dan lain sebagainya) akan membawa perubahan pada ketiganya. Perubahan pada morfologi kota membawa perubahan cepat pada transportasi dan lingkungan kota. Sebaliknya kondisi transportasi yang berubah cepat ini akan membawa perubahan pada bentukan dan lingkungan kota selanjutnya. Akibat sifat perubahan yang cepat (fast speed of change) pada matra transportasi ini, maka perubahan kebijakan transportasi kota pun lebih dinamis dibandingkan matra yang lain. Tautan aksi-reaksi ini berjalan begitu dinamis dan terus-menerus seiring pembangunan kota. Di sisi lain, masalah pelik akibat degradasi lingkungan global maupun lokal, menuntut munculnya ide-ide responsif dalam mengusung pembangunan yang makin bersahabat dengan masa depan dalam sebuah ruang kota (sustainable urban development). Dalam pembangunan kota yang berkelanjutan, ketiga matra ini merupakan titik tolak menuju perubahan yang lebih baik (Roychansyah, 2006). Pengertian dan Manfaat Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kota Kecenderungan yang terjadi pada kota-kota dunia sampai saat ini adalah menata kembali kotanya menuju ke arah keseimbangan antara daerah hijau dengan non hijau sehingga tercapai lingkungan perkotaan yang layak huni yaitu kondisi lingkungan kota yang sehat, nyaman dan berkelanjutan. Dalam rangka mencapai keseimbangan tersebut maka penting untuk mempertahankan dan melestarikan ruang hijau yang berada di kawasan kota, salah satunya adalah ruang terbuka hijau (RTH) kota. Sebagai salah satu unsur kota yang penting khususnya dilihat dari fungsi ekologis, maka sudah seharusnya RTH Kota (Urban Green Open Space) dipandang sebagai salah satu komponen vital pembangunan kota. Menurut Purnomohadi, 1995 (dalam Direktorat Jenderal Penataan Ruang, 2006) pengertian Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah sebentang lahan terbuka tanpa bangunan yang mempunyai ukuran, bentuk dan batas geografis tertentu dengan status

penguasaan apapun, yang di dalamnya terdapat tetumbuhan hijau berkayu dan tahunan (perennial woody plants), dengan pepohonan sebagai tumbuhan penciri utama dan tumbuhan lainnya (perdu, semak, rerumputan, dan tumbuhan penutup tanah lainnya), sebagai tumbuhan pelengkap, serta benda-benda lain yang juga sebagai pelengkap dan penunjang fungsi RTH yang bersangkutan. Sementara itu, menurut Direktorat Jenderal Penataan Ruang Departemen Pekerjaan Umum, RTH didefinisikan sebagai bagian dari ruang-ruang terbuka (open spaces) suatu wilayah perkotaan yang diisi oleh tumbuhan, tanaman, dan vegetasi (endemik, introduksi) guna mendukung manfaat langsung dan/atau tidak langsung yang dihasilkan oleh RTH dalam kota tersebut yaitu keamanan, kenyamanan, kesejahteraan, dan keindahan wilayah perkotaan (Departemen Arsitektur Lanskap IPB, 2005) Dalam masalah perkotaan, RTH merupakan bagian atau salah satu sub-sistem dari sistem kota secara keseluruhan. Keberadaan RTH di kawasan kota mempunyai fungsi dasar yang secara umum dibedakan sebagai berikut (Direktorat Jenderal Penataan Ruang, 2006): 1. Fungsi bio-ekologis (fisik); RTH menjadi bagian dari sistem sirkulasi udara (paru-paru kota) dan pengatur iklim mikro sehingga sistem sirkulasi udara dan air secara alami dapat berlangsung lancar; sebagai peneduh, produsen oksigen, penyerap air hujan, penyedia habitat satwa, penyerap (pengolah) polutan udara, air dan tanah, serta penahan angin; 2. Fungsi sosial, ekonomi (produktif) dan budaya; RTH mampu menggambarkan ekspresi budaya lokal, sekaligus merupakan media komunikasi warga kota, tempat rekreasi, tempat pendidikan, dan penelitian; 3. Ekosistem perkotaan; produsen oksigen, tanaman berbunga, berbuah dan berdaun indah, serta bisa menjadi bagian dari usaha pertanian, kehutanan, dan lain-lain; 4. Fungsi estetis; meningkatkan kenyamanan, memperindah lingkungan kota (baik dari skala mikro: halaman rumah, lingkungan permukiman, maupun makro: lansekap kota secara keseluruhan). Mampu menstimulasi kreativitas dan produktivitas warga kota. Juga bisa berekreasi secara aktif maupun pasif, seperti: bermain, berolahraga, atau kegiatan sosialisasi lain, yang sekaligus menghasilkan keseimbangan kehidupan fisik dan psikis. Dapat tercipta suasana serasi, dan seimbang antara berbagai bangunan gedung, infrastruktur jalan dengan pepohonan hutan kota, taman kota, taman kota pertanian dan perhutanan, taman gedung, jalur hijau jalan, bantaran rel kereta api, serta jalur biru bantaran kali. Taman Atap (Roof Garden): Sejarah, Manfaat, dan Aplikasinya Pengembangan taman atap modern (roof garden atau green roof) merupakan fenomena yang relatif baru. Teknologi taman atap pertama kali dikembangkan di Jerman pada tahun 1980-an yang selanjutnya menyebar ke berbagai negara Eropa lainnya seperti Swiss, Belanda, Austria Inggris, Italia, Perancis, dan Swedia (www.efbgreenroof.eu). Bahkan saat ini diperkirakan 10% dari semua bangunan yang ada di Jerman telah memiliki taman atap. Selain Jerman, Austria (kota Linz) telah mengembangkan proyek taman atap sejak tahun 1983, demikian juga dengan Swiss yang mulai intensif mengembangkan taman atap sejak tahun 1990. Di Inggris, pemerintah kota London dan Sheffield bahkan telah membuat kebijakan khusus mengenai pengembangan taman atap. Pengembangan taman atap juga populer di Amerika meskipun tidak seintensif di Eropa. Di Amerika konsep taman atap pertama kali dikembangkan di Chicago, kemudian menjadi populer di Atlanta, Portland,

Washington, dan New York (Wikipedia, 2008). Beberapa negara di Asia seperti Jepang, Korea, Hongkong, China, dan Singapura merupakan penggiat dalam proyek-proyek taman atap. Beberapa contoh proyek pengembangan taman atap yang sukses adalah Flying Green Project (Tokyo dan Hong Kong), Skyrise Greening Project (Singapura), Ecoroof Project (Berlin), Green Roof Project (New York dan Washington) (Joga, 2008). Keberadaan taman atap, khususnya di kota-kota besar (metropolis) memiliki peran penting seperti halnya ruang hijau lainnya. Ancaman terhadap eksistensi RTH akibat pembangunan infrastruktur-infrastruktur kota dapat diimbangi atau dikompensasi dengan mengembangkan taman atap. Pada umumnya manfaat taman atap (roof garden) adalah sebagai berikut (Green Rooftops, 2008; Holladay, 2006): 1. Mengurangi tingkat polusi udara, vegetasi pada taman atap mampu merubah polutan (toksin) di udara menjadi senyawa tidak berbahaya melalui proses reoksigenasi; taman atap juga berperan dalam menstabilkan jumlah gas rumah kaca (karbon dioksida) di atmosfir kota sehingga dapat menekan efek rumah kaca; 2. Menurunkan suhu udara, keberadaan taman atap dapat mengurangi efek panas radiasi sinar matahari ya