switch to biogas

Click here to load reader

  • date post

    25-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    78
  • download

    2

Embed Size (px)

Transcript of switch to biogas

Switch to BiogasDari Energi Biogas ke Bisnis Ramah LingkunganLumajang, Jawa Timur 2009-2011

PT. BUMI HARMONI INDOGUNADARI ENERGI BIOGAS KE BISNIS RAMAH LINGKUNGAN

1

Kontak: Verania Andria Programme Manager for Sustainable Energy Environment Unit United Nations Development Programme (UNDP) Gedung Menara Thamrin Lantai 9, M.H. Thamrin Kav. 3, Jakarta 10250 Email: [email protected] Telp. 021-3141308 Ext.806 Faks. 021-3150382 Liputan tentang Swicth to Biogas dapat dilihat di: http://www.thejakartapost.com/news/2012/05/01/making-nature-work.html

2

SWITCH TO BIOGAS

Daftar IsiRingkasan Summary I. Tentang Switch To Biogas 1.1 Latar Belakang 1.2 Tujuan 1.3 Pelaksanaan Kegiatan II. Manfaat Energi, Lingkungan, dan Ekonomi 2.1 Kondisi Sosio, Ekonomi dan Lingkungan Petani Ternak Di Lumajang 2.2 Pembangunan Biogas UNDP di Kecamatan Senduro: Manfaat, Energi dan Lingkungan 2.3 Manfaat Sosial Dan Ekonomi Bagi Petani 2.4 Potensi Bisnis Limbah Biogas 2.5 Aspek Finansial Bisnis Limbah Biogas III. Penutup 5 8 13 13 16 17 21 21 23 33 37 44 47

DARI ENERGI BIOGAS KE BISNIS RAMAH LINGKUNGAN

3

4

SWITCH TO BIOGAS

Ringkasan

witch to Biogas (2009-2011) adalah proyek percontohan penerapan teknologi biogas yang terintegrasi yang dilaksanakan di Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur, oleh UNDP bersama-sama dengan Pemda Lumajang dengan dukungan Korean Energy Management Corporation (KEMCO). Penerapan teknologi biogas dengan pendekatan terintegrasi yang menggabungkan manfaat energi lingkungan ekonomi telah memberikan akses kepada petani sapi perah berpendapatan rendah berupa energi biogas, peningkatan kondisi lingkungan dan sanitasi, peningkatan pendapatan rumah tangga dan tumbuhnya investasi lokal di sektor pakan ikan dan pupuk organik.DARI ENERGI BIOGAS KE BISNIS RAMAH LINGKUNGAN

S

5

Dengan sistem kredit mikro, proyek membangun 15 unit biogas berukuran 10m3 yang dapat menampung limbah dari 2-3 ekor sapi dan menghasilkan biogas sekitar 2-4 m3/hari yang dapat digunakan untuk memasak selama 8 jam. Biogas yang dihasilkan digunakan untuk menyalakan kompor dan lampu gas. Satu unit biogas digunakan oleh 2-3 keluarga petani sehingga beban pembayaran kredit menjadi lebih ringan. Perhitungan awal menunjukkan potensi pengurangan emisi sebesar 6 ton CO2/tahun dari se ap biogas unit. Dengan pemanfaatan tersebut, limbah biogas digester masih belum termanfaatkan. Untuk itu, pembangunan unit pengering dan pela han pengolahan limbah biogas dilakukan untuk para petani sehingga limbah biogas kering dapat dijual kepada pabrik pembuatan pakan ikan dan pupuk organik. Dari hasil penjualan tersebut penghasilan petani ternak bertambah menjadi Rp 1 juta per bulan dari yang awalnya sekitar Rp 800 ribu. Tambahan pendapatan ini sekitar 75% dari penghasilan yang biasanya didapat dari penjualan susu ke koperasi, dan dapat digunakan untuk membayar kredit biogas. Untuk memas kan kegiatan ekonomi berjalan terkait pemanfaatan limbah biogas, UNDP membantu pendanaan kepada pihak pengusaha yang menginisiasi pendirian pabrik pakan ikan. Sampai saat ini, pabrik tersebut membeli limbah kering biogas6SWITCH TO BIOGAS

dari petani dan dapat menjual pakan seharga Rp 4.500/ kg dibandingkan dengan Rp 7.500/kg untuk pakan ikan dengan kualitas yang sama di pasaran. Pabrik pakan ikan ini sekarang berjalan dengan kapasitas produksi 1 ton/ hari dan mempekerjakan 7 orang lokal. Ini menunjukkan potensi ekonomi dari bisnis tersebut sekaligus membuka lapangan pekerjaan dan memotivasi petani lain untuk membangun biogas unit. Dengan melihat hasil tersebut, UNDP mengajak seluruh pemangku kepentingan termasuk pemerintah, pengusaha, perbankan dan lembaga pembangunan untuk dapat menerapkan program biogas dengan pendekatan yang sama untuk memastikan keberlanjutan energi, lingkungan dan ekonomi yang mengutamakan kelompok masyarakat marginal.

DARI ENERGI BIOGAS KE BISNIS RAMAH LINGKUNGAN

7

Summary

S

witch to Biogas (2009-2011) is a pilot project on integrated biogas technology in Lumajang District, East Java Province, implemented by UNDP in collaboration with Lumajang District Government with support from the Korean Energy Management Corporation (KEMCO). The implementation of integrated energy-environmenteconomy approach has resulted in access to biogas energy for low income farmers, better environmental and sanitation conditions, increase of farmers income and promotes local investment in the sh feed and organic fertilizer sectors. Through a micro-credit scheme, the project installed fteen 10m3-concrete biogas digesters capable of8SWITCH TO BIOGAS

digesting manures of 3-5 cattle and producing 2 4 m3 biogas/day, sucient for cooking with a gas stove for 8 hours. Each biogas digester provided energy to fuel stoves and lamps and is shared among 2-3 poor farm households. By sharing the utilization of biogas digester with their neighbors, farmers burden to repay the credit is reduced. Preliminary calculation indicated potential emission reduction of about 6 tCO2 eq/year for each biogas digester. Following the provisions of drying equipment and training on biogas waste processing, dry biogas waste are sold to local sh feed and organic fertilizer manufacturer. By selling dry biogas waste, farm households are able to increase their monthly incomes from $ 88 to $ 100 per month. The additional income is about 75% higher compared to selling fresh milk to the cooperative, and can be used to pay back credit for biogas installation. In addition to private investment from entrepreneurs, nancial support was provided by UNDP to a pioneering sh feed pellets manufacturer. To date, the factory purchases dry biogas waste from farmers who own biogas digesters and is able to sell the sh food pellets produced at a competitive price of IDR 4,500/kg, while the common market price for the same product of the same quality is IDR 7,500/kg. The factory is now running with a production capacity of 1 tonne/DARI ENERGI BIOGAS KE BISNIS RAMAH LINGKUNGAN

9

day and has 7 employees. This demonstrates economic viability of the business while promoting employment and stimulating other farmers to install biogas digesters in their backyards. Based on the result, UNDP encourages all stakeholders, including the government, business community, nancing institutions and development agencies to apply a similar approach to ensure energy, environmental and economic sustainability that benets marginal communities.

10

SWITCH TO BIOGAS

Peta Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur

12

SWITCH TO BIOGAS

I. Tentang Switch to Biogas1.1 Latar BelakangKabupaten Lumajang merupakan salah satu daerah di Jawa Timur yang sangat potensial sebagai daerah pengembangan sapi perah. Salah satu Kecamatan yang memiliki populasi sapi perah terbanyak adalah Kecamatan Senduro. Kecamatan ini berada pada ke nggian 300 1200 m dpl. memiliki luas wilayah 228,68 km2 dengan jumlah penduduk sebesar 4.9072 jiwa dan 13.086 rumah tangga. Berdasarkan data dari dinas terkait dan KUD Tani r Makmur Kecamatan Senduro, populasi ternak yang dipelihara oleh petani di Kabupaten Lumajang adalah sapi perah (4.492 ekor), sapi potong (138.608 ekor), kerbau (3.286 ekor), kambing (77.868 ekor), dan domba (30.045 ekor). Adapun jumlah petani ternak sapi perah sebanyak 2.447 orang, petani ternak sapi potong 326 orang dan petani ternak kambing 1.260 orang.DARI ENERGI BIOGAS KE BISNIS RAMAH LINGKUNGAN

13

Umumnya limbah ternak yang dihasilkan dibuang di sekitar kandang atau dialirkan ke sungai, sehingga mencemari lingkungan dan berpotensi meningkatkan pemanasan global melalui emisi gas metana akibat penumpukan limbah ternak. Kondisi ini akan mengganggu kesehatan dan dapat menurunkan produktivitas keluarga petani maupun ternak. Jumlah populasi ternak yang demikian besar di Lumajang berpotensi menimbulkan permasalahan lingkungan. Oleh karena itu perlu adanya penanganan limbah secara baik dan benar yang dikelola oleh petani ternak sekitar sekaligus dapat memberikan nilai tambah untuk dimanfaatkan sebagai pemenuhan kebutuhan energi, bahan pakan ternak/ikan dan pupuk tanaman. Sejalan dengan itu, Pemerintah telah mengeluarkan Undang Undang Republik Indonesia No. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Limbah ternak yang dikelola dengan baik dan benar diharapkan dapat mencegah pencemaran udara dan air. Kondisi ini akan dapat dicapai dengan memasukkan limbah ternak ke dalam unit biogas atau disebut juga Unit Gas Bio (UGB). Tangki UGB akan menghasilkan biogas yang dapat digunakan sebagai sumber energi (bahan bakar kompor dan listrik). Pada proses pembakaran tersebut biogas terurai menjadi H2O dan CO2 yang berguna bagi14SWITCH TO BIOGAS

tumbuhan maupun makhluk hidup yang lain. Sisa limbah padat dari UGB dapat digunakan sebagai bahan pakan ternak maupun campuran pakan ikan. Selanjutnya limbah UGB yang berupa cairan dapat digunakan sebagai pupuk organik dan pemicu dalam pembuatan kompos. Pemanfaatan biogas akan mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kayu bakar dan mengurangi perambahan hutan, sehingga konservasi hutan dan fungsinya akan terjaga dengan baik. Hal ini menjadi bagian yang sangat penting khususnya di wilayah

DARI ENERGI BIOGAS KE BISNIS RAMAH LINGKUNGAN

15 15

Kecamatan Senduro, karena wilayah ini merupakan sentra pertanian (kawasan agropolitan) di Kabupaten Lumajang. Pengelolaan limbah ternak menjadi biogas menimbulkan lingkungan rumah menjadi bersih, sehat dan asri serta meningkatkan pendapatan rumah tangga petani ternak. Berdasarkan uraian tersebut, Kecamatan Senduro merupakan salah satu daerah yang sangat tepat untuk kegiatan pengembangan UGB sekaligus sebagai daerah percontohan untuk penerapan teknologi biogas yang terintegrasi, yang memberikan manfaat energi, lingkungan dan e