Sosialisasi Uu No 23 Tahun 2002

Click here to load reader

  • date post

    29-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    329
  • download

    2

Embed Size (px)

description

Bahan sosialisasi UU No 23 Tahun 2002 tentang prlindungan anak.bahan ini merupakan kegiatan SM3T pertama undana kupang untuk kegitan kemasyarakatan yang dilaksanakan di desa putat ,malinau utara,kalimantan utara.

Transcript of Sosialisasi Uu No 23 Tahun 2002

SOSIALISASI UU NO 23 TAHUN 2002

MALINAU UTARA TIMUR PUTAT, 23 JULI 2013Oleh:oktavianus U.Kuta,S.PdSOSIALISASI UU NO 23 TAHUN 20021

Norma-norma hak anak dalam perundangan nasional

Yang terpenting diantaranya:

UUD 1945 hasil amandemenUU No. 3/1997 ttg Pengadilan AnakUU No. 39/1999 ttg Hak Asasi ManusiaUU No. 23/2002 ttg Perlindungan Anak

SEJARAH HAK ANAKBila kita berbicara mengenai Hak Anak maka kita harus mengetahui definisi dari anak terlebih dahulu. Adapun menurut Konvensi Hak Anak bahwa anak adalah setiap manusia yang berusia dibawah 18 tahun bahkan UUPA No. 23 Tahun 2002 mendefinisikan anak sejak di dalam kandungan untuk lebih memberikan perlindungan yang menyeluruh terhadap anak. Sejarah dari hak anak itu sendiri tidak terlepas dari beberapa rentang persitiwa berikut :

1923 : Seorang aktivis perempuan bernama Eglantyne Jeb mendeklarasika 10 pernyataan hak hak anak yaitu hak akan nama dan kewarganegaraan, hak kebangsaan, hak persamaan dan non diskriminasi, hak perlindungan, hak pendidikan, hak bermain, hak rekreasi, hak akan makanan, hak kesehatan dan hak berpartisipasi dalam pembangunan. 1924 : Deklarasi hak anak diadopsi dan disahkan oleh Majelis Umum Liga Bangsa Bangsa.1948 : Diumumkan Deklarasi Hak Asasi Manusia.1959 : PBB mengadopsi Hak Hak Anak untuk kedua kalinya.1979 : Disebut juga tahun anak internasional dimana tahun ini juga dibentuk satu komite untuk merumuskan Konvensi Hak Anak (KHA).1989 : KHA diadposi oleh majelis umum PBB dan pada tanggak 20 November 1989 dimana KHA berisi 54 pasal.

1990 : Indonesia menandatangani KHA di markas besar PBB di New York.1990 : Indonesia meratifikasi KHA melalui Kepres No. 36 Tahuun 1990 tanggal 25 Agustus 1990.1990 : 2 September 1990, KHA disepakati sebagai hukum international.1999 : Indonesia mengeluarkan UU No.30 tahun 1990 oleh HAM.2002 : Indonesia mengeluarkan UUPA (Undang Undang Perlindungan Anak) No. 23 Tahun 2002 yangterdiridari14 Bab dan 93 Pasal.

DEFENISI ANAKAnak: setiap manusia yang belum berumur 18 tahun temasuk anak dalam kandungan (ps 1 UU No. 23/2002).setiap manusia berarti tidak boleh ada pembeda-bedaan atas dasar apapun, termasuk atas dasar ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, keyakinan politik atau keyakinan lainnya, kebangsaan, asal-usul etnik atau sosial, kekayaan, cacat atau tidak, status kelahiran ataupun status lainnya, baik pada diri si anak maupun pada orangtuanya.

MENGAPA PENTING MEMBANGUN DAN MELINDUNGI ANAKDasar pemikiran:Anak:-merupakan amanah dan karunia dari Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa yang harus dijaga dan dilindungimerupakan investasi bagi orang tua, bangsa dan negara. merupakan potensi kekayaan dan kesejahteraan bangsa di masa kini dan masa depan. Kualitas sumber daya manusia:indikator utama keberhasilan suatu bangsa dalam melakukanpembangunan, yang dimulai sejak usia dini.

APAKAH UU NO 23/2002 SUDAH EFEKTIF?Jawabannya belum dan belum sepenuhnya maksimal karena masih terjadi kekerasan pada anak.Perlindungan anak indonesia mencatat tahun 2005 tindak pidana kekerasan sebanyak 736 kasus.327 kasus perlakuan salah secara seksual.233 kasus perlakuan salah secara fisik.176 kasusu perlakuan salah secara psikis.130 pelantaran anak.8KOMNAS ANAK mencatat selama tahun 2006 ada 1.124 kasus kekerasan terhadap anak.247 di antaranya kekerasan fisik 426 seksual,451 psikis.Tahun 2008 kekerasan fisik trhd anak di lakukan ibu kandung mencapai 9,27% atau sebanyak 19 kasus.Kekerasan yang di lakukan ayah kandung 5,85% atau 12 kasus.Ibu tiri 2 kasus atau 0,98 %.Thn 2008 meningkat mjd 1.626 bertambah mjd 1.891.Tahun 2009 tdpt 891 kasus kekerasan di lingkungan sekolah.Thn 2006 83 kasus perdgangan anak (pekan baru dan kalbar).Kasus eksploitasi seksual anak rawan trjdi di bali,manado dan batam.Data DEPSOS PSK yang berusis 15-20 thn mencapai 71.281 PSK.UNICEP Indonesia memperkirakan pelacuran anak 30% dari 150000 PSK.Situasi anak di Indonesia:Di bidang Kesehatan: Berdasarkan komitmen Milenium Development Goals Indonesia telah menetapkan target untuk menurunkan Angka Kematian Bayi (AKB) menjadi 23 per 1.000 KH dan Angka Kematian Balita (AKBA) menjadi 32 per 1.000 KH pada tahun 2015.Gizi buruk juga menjadi salah satu permasalahan pada kesehatan anak. Menurut KOMNAS PA pada tahun 2006 terdapat sejumlah 744.698 anak penderita malnutrisi dengan rincian 55,9% menderita kurang gizi yakni 42,7% menderita gizi buruk dan 1,3% menderita busung lapar. Selain itu anak-anak juga banyak terserang berbagai penyakit seperti diare (5.645 anak), demam berdarah (5.127 anak), polio (324 anak), lumpuh layu (451 anak), campak (1.652 anak), dan flu burung 43 anak.Tahun 1992 akba masih berada pada angka 97 per 1.000 kelahiran hidup, maka pada tahun 1994 angka ini telah turun menjadi 81 per 1.000 kelahiran hidup.Pada tahun 2000 indonesia telah mencapai dan melampaui target yang ditetapkan dalam World summit for children (Wsc) yaitu 65 per 1.000 kelahiran hidup.

Di bidang Penanggulangan HIV/AIDSSecara kumulatif, pengidap infeksi HIV dan kasus AIDS dalam rentang waktu 10 tahun terakhir sampai dengan 31 Maret 2008 terdiri dari 6.130 HIV dan 11.868 AIDS. Jumlah HIV dan AIDS 17.998 dengan angka kematian sebanyak 2.486. Pelaporan diberikan oleh 32 propinsi dan 194 Kabupaten/Kota. Cara penularan kasus AIDS kumulatif yang dilaporkan adalah melalui IDU (49,1%) dan hubungan heteroseksual (42,1%). Khusus dalam masa Januari sampai dengan Maret 2008, terdapat penambahan 64 infeksi HIV dan 727 kasus AIDS. Data diterima dari 19 propinsiBerdasarkan data dari Dit IV/Narkoba, Bareskrim, Mabes POLRI, 2008 mencatat jumlah kasus narkoba di Indonesia dengan usia tersangka < 16 tahun sebanyak 110 kasus, usia 16-19 tahun sebanyak 2.627 kasus (2007).(Ditjen PPM & PL Depkes RI, Maret 2008).

Kasus AIDS tertinggi dilaporkan pada kelompok usia produktif 20 29 tahun (53,62%). Mengingat AIDS biasa muncul sekitar 5 10 tahun sesudah seseorang tertular HIV, maka data tersebut memberi petunjuk bahwa mereka yang dilaporkan menderita AIDS pada usia 20 29 tahun sesungguhnya tertular HIV sebelum usia 20 tahun, yaitu sekitar usia 15 tahun bahkan lebih muda. Perempuan yang tertular AIDS (2.466 kasus) dan laki-laki (9.337 kasus), namun dampak AIDS pada perempuan/anak peremuan lebih signifikan. Hal ini berkaitan dengan kondisi sosial dan budaya yang masih ada dalam masyarakat termasuk tekanan teman sebaya, stigma dan diskriminasi (sebagai perempuan/anak perempuan dan sebagai pengguna Napza).Menurut Komnas PA tahun 2006 terdapat 199 anak yang terserang HIV/AIDS dan sekitar 144 bayi tertular HIV/AIDS dari ibunya laki-laki.

Jumlah Kumulatif Kasus AIDS Menurut Golongan Umur

GOLONGAN USIAAIDSAIDS/IDU< 15501 411405 1442315 1938711020 296.3643.97630 393.2981.38340 4993619950 5924330> 605812Tidak diketahui371121JUMLAH11.8685.834ANAK YANG DIPERDAGANGKAN UNTUK TUJUAN SEKSUAL KOMERSIALMenurut catatan Komnas Perlindungan Anak, di 33 provinsi, jumlah pekerja anak meningkat. Tahun 2006 jumlahnya mencapai 3,2 juta dan menjadi 4,8 juta pada 2007. Tahun 2008 diperkirakan menjadi 6,3 juta. (Kompas, 13 Juni 2008).Jumlah anak berusia 0-18 tahun yang bekerja sebagai pekerja anak sangat dimungkinkan jauh lebih besar dari yang dilaporkan menurut data-data Sakernas tersebut. Sebagai perbandingan, dalam laporan Indosiar News (2 Februari 2008) disebutkan, menurut laporan survei BPS tentang pekerja anak di Indonesia, jumlah pekerja anak mencapai 2,8 juta anak hingga tahun 2006. Dari jumlah tersebut, jumlah terbanyak adalah dari pekerja anak perempuan yakni 1.734.126 orang, sedangkan pekerja anak laki-laki 130.948 orang. Sedangkan menurut International Labour Organization (ILO), pada tahun 2007 jumlah pekerja anak di Indonesia mencapai 2,6 juta jiwa. Sebagian besar dari mereka bekerja disektor pertanian keluarga, perusahaan manufaktur, dan perdagangan skala kecil.(Website Serikat Pekerja PT. Jakarta International Container Terminal/SP JICT, 5 April 2008).

UNICEF [2005] menyatakan bahwa diperkirakan bahwa 30% dari perempuan pekerja seks di Indonesia berusia di bawah 18 tahun, meskipun diakui juga kenyataan bahwa anak-anak perempuan seringkali melebih-lebihkan usia mereka. Bahkan pada beberapa kasus ditemukan anak-anak perempuan yang masih berusia 10 tahun. Data dari Departemen Sosial menunjukkan perkiraan bahwa lebih dari 3000 wisatawan dari negara tetangga [Malaysia dan Singapura] berkunjung ke Batam setiap minggunya dengan tujuan untuk melakukan aktivitas seksual dengan pekerja seks di pulau tersebut. Sekitar 30 % dari total pekerja seks yang berjumlah 5.000 sampai dengan 6.000 orang adalah anak-anak di bawah usia 18 tahun.(Koalisi Nasional Penghapusan ESKA, 2006].

Kasus prostitusi anak dilaporkan banyak terjadi di sejumlah daerah di Indonesia, seperti Medan, Pontianak, Palembang, Jakarta, Indramayu, Jepara, Pati, Surabaya, Makassar, Manado, Maluku dan Papua. Batam, Bali dan Pontianak dalam hal ini merupakan daerah dengan prostitusi anak dalam jumlah besar. Praktek ESKA [Eksploitasi Seksual Komersial Anak] berlangsung terutama di pusat-pusat prostitusi, tempat hiburan, karaoke, panti pijat, pertokoan dll. Sedangkan pelaku [user] adalah penduduk lokal sendiri atau pengunjung domestik, namun demikian terdapat beberapa kasus yang melibatkan pengunjung atau wisatawan dari mancanegara [UNICEF, 2005; Koalisi Nasional Penghapusan ESKA, 2006].

ANAK YANG DIPERDAGANGKAN (TRAFIKING ANAK)Hasil pendataan Pusdatin [Pusat Data dan Informasi Kesejahteraan Sosial] Departemen Sosial Republik Indonesia pada tahun 2004 yang bersumber dari data-data LSM di 9 propinsi menunjukkan bahwa pada tahun 2004 tercatat ada 932 anak yang menjadi korban trafiking dan tersebar di provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sumatera Utara, Lampung, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Utara.

Berdasarkan data tersebut terlihat bahwa mayoritas anak yang menjadi korban trafiking [96%] adalah anak perempuan. Dari 9 provinsi tersebut, kasus yang tercatat paling banyak adalah di propinsi Nusa Tenggara Barat. Data lain yang perlu ditengok adalah data Bareskrim Kepolisian RI dari tahun 2003 2007 yang mencatat perdagangan orang sebanyak 492 kasus dengan melibatkan 1.015 orang dewasa (81 %) dan 238 anak-anak (19 %) .

Di bidang Pendidikan:Perkembangan angka putus sekolah sendiri mempunyai kecenderungan meningkat sejak tahun ajaran 2001/2002 sampai 2005/2006. antara tahun ajaran 2001/2002-2002/2003 terdapat 683 ribu atau 2,66 persen siswa sekolah dasar putus sekolah, lalu meningkat menjadi 767,8 ribu atau 2,97 persen pada 2002/2003-2003/2004, kemudian mencapai 777 ribu atau 2,99 persen pada 2003/2004-2004/2005, dan kemudian mencapai 824,7 ribu atau 3,17 persen pada 2004/2005-2005/2006. Jumlah siswa yang mengulang juga juga masih cukup besar walaupun persentasenya terus menurun dari tahun ke tahun. antara tahun ajaran 2001/2002-2002/2003 terdapat 1.4 juta atau 5,9 persen siswa sekolah dasar yang mengulang, menjadi 978 ribu atau 5,4 persen pada 2002/2003-2003/2004, kemudian menjadi 1,17 juta atau 4,51 pada 2003/2004-2004/2005, dan kemudian menurun menjadi sekitar 1 juta atau 3,95 persen pada 2004/2005-2005/2006.(Depdiknas: 2006).

Di bidang PerlindunganPekerja anak

Jumlah pekerja anak usia 10-14 tahun di Indonesia selama periode tahun 2001-2002 selalu di atas 500.000 anak atau di atas 6% dari jumlah anak usia 10-14 tahun. Pada tahun 2003, jumlah pekerja anak usia 10-14 tahun mengalami penurunan menjadi sekitar 367.610 anak (43,62%), namun kembali mengalami kenaikan sekitar 488.850 anak (5,83%) pada tahun 2004. Sedangkan pada tahun 2005, jumlah pekerja anak usia 10-14 tahun kembali menurun sekitar 383.210 anak (4,43%).Dari data tersebut, bisa diperkirakan bahwa pada kurun waktu tahun 2001-2005, dalam setiap 100 anak usia 10-14 tahun terdapat 4 sampai 6 pekerja anak, yang memiliki kondisi yang pasti berbeda dengan anak-anak lainnya di usia yang sama, bahkan kehilangan hak dan kesempatan untuk hidup selayaknya anak dalam usia tersebut.Perkembangan Pekerja Anak Usia 10-14 TahunTahun 2001-2005 (dalam ribuan)TahunAnak Usia10-14 TahunPekerja Anak UsiaUsia 10-14 Tahun200120,862.8 1,322.706.34200221,263.9 1,414.056.65200319,450.4 898.614.62200420,998.9 1,224.245.83200521,686.3 960.704.43KETENTUAN PIDANA DLM UU NO 23 THN 2002 DLM PERKARA PENYIKSAANPasal 80 Ayat 1: setiap orang yang melakukan kekejaman,kekerasan atau penganiayaan trhd anak,di pidana dengan penjara paling lama 3 (tiga) thn 6 (enam) bulan dan atau denda paling banyak Rp 72.000.000 00;Ayat 2,dalam hal anak sebagaimna dimaksud dlm ayat 1 luka berat,maka pelaku pidana,di pidana dengan penjara paling lama 5 (5) thn atau denda paling banyak Rp 100.000.000 00;Ayat 3,dalam hal anak sebagaimana di maksud dlm ayat 2 (dua) mati,maka pelaku pidana dgn pidana penjara paling lama 10 tahun dan atau denda paling banyak Rp 200.000 000 00;Argumentasi Hak Asasi Manusia - Anak memiliki hak untuk hidup dan berkembang sampai kepada potensi penuhnya Argumentasi Nilai Moral - Melalui anak-anak, nilai moral ditumbuh-kembangkan Argumentasi Ekonomi dan Sosial - Pembangunan anak merupakan investasi untuk meningkatkan produktivitas bangsa dan masyarakat - Kesiapan anak memasuki kehidupan mandiri - Kesetaraan gender

Argumentasi pentingnya membangun anak

Tahap pertumbuhan anak: Masa pralahir, yaitu sejak pembuahan sampai dengan full term. Masa bayi, yaitu masa sejak lahir sampai dengan usia 1 tahun. Masa batita, yaitu bayi berusia 1-3 tahun. Masa prasekolah, yaitu anak yang berusia 4-5 tahun.Masa sekolah dasar, yaitu anak yang berusia 6-12 tahun.Masa remaja, yaitu masa pada saat anak berusia 12,5-18 tahun (laki-laki) dan 10,5- 18 tahun (perempuan).

HAK-HAK DASAR ANAK Bertahan hidup: standar hidup yang layak; papan, sandang, makanan bergizi, pelayanan kesehatan, penghidupan yang layak, perlindungan dari segala bentuk kekerasan.-Tumbuh kembang: segla hal yang memungkinkan anak tumbuh dan berkembang secara penuh sesuai dengan potensinya pendidikan, bermain dan memanfaatkan waktu luang, aktivitas sosial budaya, akses terhadap informasi, dll.- Perlindungan: semua yang diperlukan untuk melindungi mereka dari kekerasan, perlakuan salah, dan penelantaran.-Partisipasi: memungkinkan anak untuk memainkan peran aktif dalam komunitasnya sesuai dengan kelebihan dan keterbatasan mereka terutama dalam berbagai hal yang menyangkut kepentinganmereka.Hak-hak partisipasi:Setiap anak berhak untuk menguatarakan pikiranya secara bebas. Untuk itu, maka anak harus ditanya pendapatnya dan pendapat tersebut harus dihormati serta diperhitungkan dalam semua keputusan yang menyangkut hidup anak tersebut, baik dalam keluarga, sekolah, lingkungan masyarakat bahkan sampai ke pengadilan sekalipun.Hal yang sering terjadi dalam lingkungan keluarga, orangtua menganggap anak yang berani bicara dengan orangtua sebagai anak yang kurang ajar, apalagi bila anak berbeda pendapat dengan orang tua. Begitu juga dengan guru sekolah. Masih banyak guru yang tidak bisa menerima pendapat anak. Anak hanya mendengarkan saja selama belajar di kelas dan tidak ada diskusi atau upaya untuk mendorong anak berpikir dan mengeluarkan pendapatnya.

Anak masih dalam proses belajar sehingga orang dewasa perlu membimbing dan memperbaiki cara anak mengemukakan pendapatnya. Sesungguhnya banyak manfaat ketika orang dewasa berbicara dengan cara baik kepada anak, antara lain :Melatih anak berpikir kritis, mampu memecahkan masalah, dan mandiri karena terbiasa melatih pikirannya;Mendorong anak untuk terus giat belajar dan mengembangkan sikap percaya diriMembina hubungan yang akrab dan menyenangkan diantara orangtua dan anakMengembangkan sikap sopan santun dan toleransi kepada orang lain karena anak yang dihargai pendapatnya juga akan belajar menghormati pendapat orang lain.

Termasuk didalam hak partisipasi anak adalah hak anak untuk mengungkapkan pandangan dan perasaannya terhadap situasi yang mempunyai dampak pada anak. Selain itu juga memungkinkan anak berperan aktif dalam berbagai hal yang menyangkut kepentingan mereka. Pasal tentang hak partisipasi dalam KHA : Pasal 12 Pasal 13 Pasal 15

Kebebasan dalam menyatakan pendapat dan berekspresi adalah hak partisipasi anak. Tetapi kebebasan tersebut senantiasa diikuti dengan tanggungjawab untuk menghargai hak orang lain.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan, dalam hal ini Deputi Perlindungan Anak, berdasarkan literatur yang ada telah mencoba menterjemahkan partisipasi anak sebagai keterlibatan anak dalam proses pengambilan keputusan dan menikmati perubahan yang berkenaan dengan hidup mereka baik secara langsung maupun tidak langsung yang dilaksanakan dengan persetujuan dan kemauan semua anak berdasarkan kesadaran dan pemahaman (buku Panduan Pelaksanaan Rencana Aksi Partisipasi Anak, Kementerian PP, tahun 2008).

HAK-HAK ANAK SECARA UMUM MELIPUTI HAK UNTUK:

1. bebas beragama2. bebas berkumpul secara damai3. bebas berserikat4. berekreasi5. bermain6. berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan seni budaya7. hidup dengan orang tua8. kelangsungan hidup dan berkembang9. tetap berhubungan dengan orang tua, bila dipisahkan dengan salah satu orang tua10. mendapatkan perlindungan dari penangkapan yang sewenang-wenang

11. mendapatkan identitas12. mendapatkan informasi dari berbagai sumber13. mendapatkan kewarganegaraan14. mendapatkan nama15. mendapatkan pelatihan keterampilan16. mendapatkan pendidikan dasar secara cuma-cuma17. mendapatkan standar hidup yang layak18. mendapatkan perlindungan dari perampasan kebebasan19. mendapatkan perlindungan dari perlakuan kejam, hukuman dan perlakuan tidak manusiawi20. mendapatkan perlindungan dari siksaan

21. mendapatkan perlindungan hukum jika mengalami eksploitasi seksual dan kegunaan seksual22. mendapatkan perlindungan khusus dalam situasi yang genting23. mendapatkan perlindungan khusus dari penculikan, penjualan, dan perdaganan anak24. mendapatkan perlindungan khusus jika mengalami eksploitasi sebagai anggota kelompok minoritas atau kelompok adat25. mendapatkan perlindungan khusus jika mengalami konflik hukum

26. mendapatkan perlindungan khusus jika mengalami eksploitasi dalam penyalahgunaan obat-obatan27. mendapatkan perlindungan khusus sebagai pengungsi28. mendapatkan perlindungan khusus, jika mengalami eksploitasi sebagai pekerja anak29. mendapatkan perlindungan khusus dalam konflik bersenjata30. mendapatkan perlindungan pribadi31. mendapatkan perlindungan standar kesehatan yang paling tinggi

SIAPA YANG MEMENUHI HAK kewajiban ANAK ?

Kewajiban dan tanggung jawab keluarga dan orang tuaOrang tua berkewajiban dan bertanggung jkawab untuk:Mengasuh,mememlihara,mendidik,dan melindungi anak.Menumbuhkembangkan anak sesuai dengan kemampuan dan minat anak.Mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak.Dlm hal ortu tdk ada/tdk di ketahui keberadaannya/karena sesuatu sebab,tdk dpt melaksanakan kewajiban dan tanggungjawab,maka kewajiban dan tanggung jawab beralih pd keluarga.Kewajiban dan tanggung jawab masyarakatKewajiban dan Tanggung Jawab Negara dan PemerintahKewajiban anak1.Pemerintah membuat program, misalnya: Penerbitan akta kelahiran gratis bagi anak; Pendidikan tentang cara pengasuhan tanpa kekerasan kepada orangtua dan guru; Layanan kesehatan untuk anak; Meningkatkan anggaran pendidikan dasar dan menggratiskan biaya pendidikan dasar.2.DPR/ DPRD membuat UU/ Perda untuk melindungi anak dari tindak kekerasan dan eksploitasi, mengancam pelaku dengan ancaman hukuman efek jera.3.Jajaran penegak hukum (polisi, jaksa) dan penegak keadilan (hakim) memproses setiap pelanggaran hak anak dengan tegas, tanpa pandang bulu, dan memberi sanksi yg setimpal dengan pelanggaran yang dilakukan.

Bagaimana kewajiban Negara Melaksanakan ?

Perlindungan Anak

Di Indonesia, perlindungan anak, salah satunya diatur dalam Undang-Undang No. 23 tahun 2002. Lahirnya Undang-Undang Perlindungan Anak merupakan salah satu bentuk keseriusan pemerintah meratifikasi Konvensi Hak Anak (KHA) Tahun 1990. Rancangan Undang-Undang Perlindungan Hak Anak ini telah diusulkan sejak tahun 1998. Namun ketika itu, kondisi perpolitikan dalam negeri belum stabil sehingga RUU Perlindungan Anak baru dapat dibahas pemerintah dan DPR sekitar pertengahan tahun 2001.

Anak yang dilahirkan memiliki kedudukan yang sama dengan orang dewasa sebagai manusia. Seorang anak juga memiliki hak mendapat pengakuan dari lingkungan mereka, rasa hormat atas kemampuan mereka, pemajuan dan perlindungan, serta harga diri dan partisipasi tanpa harus mencapai usia kedewasaan terlebih dahulu. Hak dan kewajiban anak diatur dalam pasal 4 hingga pasal 12 Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002. Dalam undang-undang tersebut, hak anak antara lain beribadah menurut agamanya, mendapatkan pelayanan kesehatan, memperoleh pendidikan dan pengajaran, mengutarakan pendapatnya sesuai tingkat kecerdasan dan usianya, memanfaatkan waktu luang untuk bergaul dengan anak sebayanya, bermain, berekreasi sesuai minat, bakat dan tingkat kecerdasannya dalam rangka pengembangan diri.Dengan diaturnya hak dan kewajiban anak dalam sebuah undang-undang, pemerintah menaruh harapan bahwa negara, keluarga, dan masyarakat mengetahui dan melaksanakan sesuai dengan apa yang telah diatur.

Namun, anak sering kali hidup, tumbuh dan berkembang tanpa diperhatikan pemenuhan terhadap segala hal yang menjadi haknya. Banyak anak yang putus sekolah dengan alasan kedua orangtuanya tidak lagi mampu membiayai kebutuhan pendidikan mereka. Anak-anak yang putus sekolah ini juga sering kali menjadi sasaran eksploitasi entah dari orangtuanya sendiri maupun dari orang lain. Banyak anak-anak dipaksa bekerja untuk membantu mengurangi beban hidup keluarga. Mereka pun pada akhirnya kehilangan waktu untuk bisa bergaul atau bermain dengan anak sebayanya. Artinya, perhatian serta penerapan KHA dan UU Perlindungan Anak belum terealisasi dengan baik.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)

KPAI merupakan lembaga independen yang kedudukannya sejajar dengan Komisi Negara lainnya. KPAI dibentuk pada 21 Juni 2004 dengan Keppres No. 95/M Tahun 2004 berdasarkan amanat Keppres 77/2003 dan pasal 74 UU No. 23 Tahun 2002. Dalam keputusan Presiden tersebut, dinyatakan bahwa KPAI bertujuan untuk meningkatkan efektifitas penyelengaraan perlindungan anak.

Alasan Dibentuknya KPAIkarena dalam Konvensi Hak Anak (KHA) disebutkan bahwa setiap negara (yang turut meratifikasi) harus memiliki komisi nasional. Terbentuknya KPAI memperlihatkan suatu realita bahwa pemerintah menaruh perhatian dan berupaya untuk memberikan perlindungan terhadap anak agar anak terhindarkan dari perbuatan-perbuatan yang merugikan.Sebagai lembaga independen, KPAI diharapkan mampu secara aktif memperjuangkan kepentingan anak. KPAI bertugas melakukan sosialisasi mengenai seluruh ketentuan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan perlindungan anak, mengumpulkan data dan informasi, menerima pengaduan masyarakat, melakukan penelahaan, pemantauan, evaluasi, dan pengawasan terhadap penyelenggaraan kepentingan anak.KPAI juga dituntut untuk memberikan laporan, saran, masukan, dan pertimbangan kepada Presiden dalam rangka perlindungan anak.

KONVENSI HAK ANAKKomisi Perlindungan Anak Indonesia yang bertugas mengawasi pemerintah maupun masyarakat dalam rangka pemenuhan hak hal anak.Apakah Konvensi Hak Anak (KHA) ?Perjanjian internasional yang memberikan pengakuan serta menjamin penghormatan, perlindungan dan pemenuhan hak-hak anak. (konvensi = pakta, perjanjian)KHA disetujui dengan suara bulat oleh Majelis Umum PBB pada tanggal 20 November 1989.

Konvensi Hak Anak telah diadaptasi dan terbuka untuk ditandatangani, diratifikasi dan ditingkatkan dengan resolusi Majelis Umum tanggal 20 November 1989. Konvensi ini telah diratifikasi oleh 191 negara.Mukadimah Negara-Negara Peserta/Penandatangan KonvensiMengingat bahwa, sesuai dengan prinsip-prinsip yang dinyatakan dalam Piagam PBB, pengakuan atas martabat yang melekat, dan hak-hak yang sama dan tidak dapat dicabut yang dimiliki oleh seluruh anggota keluarga manusia, merupakan landasan dari kemerdekaan, keadilan dan perdamaian di seluruh dunia.Mengingat bahwa bangsa-bangsa dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menegaskan lagi dalam Piagam itu keyakinan mereka pada hak-hak azasi manusia, dan pada harkat dan martabat manusia, dan berekat meningkatkan kemajuan sosial dan taraf kehidupan dalam kemerdekaan yang lebih luas,

Menyadari bahwa Peserikatan Bangsa-Bangsa, dalam Sedunia tentang Hak-Hak Azasi Manusia dan dalam Perjanjian-Perjanjian Internasionl Hak-Hak Azasi Manusia, telah menyatakan dan menyetujui bahwa setiap orang berhak atas seluruh hak dan kemerdekaan yang dinyatakan didalanmya tanpa perbedaan dalam bentuk apapun.Mengingat bahwa, dalam Hak-Hak Azasi Manusia Sedunia, Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menyatakan bahwa kanak-kanak berhak atas perawatan dan bantuan khusus,

Meyakini bahwa keluarga, sebagai kelompok inti dari masyarakat dan sebagai lingkungan yang alami bagi pertumbuhan dan kesejahteraan seluruh anggotanya khususnya anak-anak, harus diberi perlindungan dan bantuan yang diperlukan agar keluarga mampu mengemban tanggungjawabnya dalam masyarakat,

Menyadari bahwa anak, demi pengembangan kepribadiannya secara penuh dan serasi, harus tumbuh dalam suatu lingkungan keluarga, dalam iklim kebahagiaan, cinta kasih dan pengertian,

Menimbang bahwa anak harus sepenuhnya dipersiapkan untuk menjalani kehidupan sebagai pribadi dalam masyarakat dan dibesarkan dalam masyarakat dari cita-cita yang dinyatakan dalam Piagam PBB, dan khususnya dalam semangat perdamaian, bermartabat, toleransi, kemerdekaan, kebersamaan dan solidaritas, kemerdekaan, kebesamaan dan solidaritas.

Mengingat bahwa perlunya memberi perawatan khusus bagi anak telah dinyatakan dalam Jenewa tentang Hak-Hak Anak tahun 1924.Dalam Hak-Hak Anak yang disetujui Majelis Umum PBB pada tahun 1959 dan diakui dalam Deklarasi Universal tentang Hak-Hak Azasi Manusia, Dalam Perjanjian Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik (khususnya pasal 23 dan 24), Hak-Hak Ekonomi Sosial dan Budaya (khususnya pasal 10)Dalam ketentuan-ketentuan dan perangkat-perangkat yang terkait dan badan-badan khusus dan organisasi-organisasi internasional yang berkepentingan dengan kesejahteraan anak,

Mengingat bahwa, sebagaimana yang dinyatakan dalam Deklarasi Hak-Hak Anak,

anak, karena ketidakmatangan fisik dan mentalnya, membutuhkan perlindungan dan perawatan khusus, termasuk Perlindungan hukum yang layak, sebelum dan sesudah lahir,

Mengingat ketentuan-ketentuan dan tentang Pninsip-prinsip Sosial dan Hukum yang terkait dengan Perlindungan dan Kesejahteraan Anak, dengan Rujukan Khusus padaPengangkatan Anak dan Adopsi secara Nasional maupun Internasinal, Ketentuan-Ketentuan Minimum PBB yang Baku bagi Pelaksanaan Penadilan Anak (ketentuan-ketentuan Beijing), danDeklarasi tentang Perfindungan terhadap Wanita dan Anak-anak dalam Keadaan Darurat dan Konflik Bersenjata,

Mengakui bahwa, di semua negara di dunia, tendapat anak-anak yang hidup dalam keadaan yang sangat sulit, Dan bahwa anak-anak seperti itu membutuhkan perhatian khusus.Memperhatikan pentingnya nilai-nilai tradisi dan budaya dan setiap bangsa bagi perlindungan dan pengembangan anak yang serasi,Mengakui pentingnya kerjasama internasional untuk meningkatkan kondisi kehidupan anak di setiap negara, khususnya di negara-negara berkembang.APAKAH KHA MENGIKAT?BAGAIMANA STRUKTUR KHAKHA dibagi menjadi 4 (empat) bagian:Mukadimah: memberikan konteks/ latar belakang Konvensi.Bagian I: berisi pengakuan atas hak-hak anak dan jaminan atas penghormatan, perlindungan dan pemenuhan hak anak.Bagian II: mengatur bagaimana hak anak dilaksanakan dan dipantau.Bagian III: mengatur kapan KHA mulai berlaku bagi Negara (atau Negara-Negara)Isi KHA (Bagian I)KHA dibagi menjadi 8 cluster/ kelompok:Langkah-langkah implementasi umumPrinsip-prinsip umumDefinisi anakHak & kebebasan sipilLingkungan keluarga & pengasuhan penggantiKesehatan & kesejahteraan dasarPendidikan, waktu luang & kegiatan budayaLangkah-langkah perlindungan khusus.

LANGKAH2 PERLINDUNGAN KHUSUSA. Pengungsi anak & anak dlm situasi konflik bersenjata.B.Anak yang berkonflik dgn hukum.C.Anak dlm situasi eksploitasi & kekerasan: -Eksploitasi ekonomi, - Penyalah-gunaan narkoba, - Eksploitasi & kekerasan seksual, -Penculikan, penjualan & perdagangan anak, -Eksploitasi dlm bentuk lainnya.D.Anak dari kelompok minoritas dan masyarakat adat terasing.

Anak merupakan aset strategis, generasi penerus dimasa mendatang. Banyak hasil karya anak bangsa, hasil dari anak yang di didik dengan benar. Bahwa anak adalah amanah dan karunia dari Tuhan yang maha esa dalam dirinya melekat harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya yang mempunyai potensi sebagai penerus cita-cita bangsa. Dengan demikian perlu mendapat kesempatan yang seluas luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal baik fisik, mental dan sosial serta beraklak mulia.

KATA Mutiara