SKRIPSI - metrouniv.ac.id...Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu (168).Sesungguhnya...

of 87/87
SKRIPSI TEORI KONSUMSI DALAM PERSPEKTIF MONZER KAHF Oleh : TRI WAHYUNI NPM. 13104594 Fakultas: Ekonomi dan Bisnis Islam Jurusan: Ekonomi Syariah INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) METRO 1439 H/2018 M
  • date post

    24-Mar-2021
  • Category

    Documents

  • view

    6
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of SKRIPSI - metrouniv.ac.id...Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu (168).Sesungguhnya...

  • SKRIPSI

    TEORI KONSUMSI DALAM PERSPEKTIF MONZER KAHF

    Oleh :

    TRI WAHYUNI

    NPM. 13104594

    Fakultas: Ekonomi dan Bisnis Islam

    Jurusan: Ekonomi Syariah

    INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

    METRO

    1439 H/2018 M

  • ii

    ii

    TEORI KONSUMSI DALAM PERSPEKTIF MONZER KAHF

    Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Memenuhi Sebagai Syarat

    Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi (SE)

    Oleh :

    TRI WAHYUNI

    NPM: 13104594

    Pembimbing I : Dr. Suhairi, S.Ag, MH

    Pembimbing II : Elfa Murdiana, M. Hum

    Fakultas: Ekonomi dan Bisnis Islam

    Jurusan: Ekonomi Syariah

    INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

    METRO

    1439 H/2018 M

  • iii

    iii

  • iv

    iv

  • v

    v

    ABSTRAK

    TEORI KONSUMSI DALAM PERSPEKTIF MONZER KAHF

    Oleh:

    Tri Wahyuni

    Konsumsi merupakan faktor vital yang mendasari munculnya aktivitas

    produksi dan distribusi. Banyak tokoh muslim yang telah memberikan

    pendapatnya mengenai teori konsumsi, salah satunya adalah Monzer Kahf. Beliau

    merupakan tokoh muslim yang berasal dari Damaskus, Syiria. Beliau merupakan

    lulusan dari University of Utah, Salt Lake City dalam bidang Ekonomi

    Internasional. Kiprahnya di dunia ekonomi tidak diragukan lagi karena karir

    beliau sangat gemilang, tercatat beliau pernah menjabat sebagai auditor, direktur

    keuangan di Masyarakat Islam Amerika dan Manajer Zakat Dana Nasional serta

    Koperasi Dana Islam bagi umat Islam di Amerika Utara, Senior Research

    Economist penelitian Islam dan lembaga pelatihan dari Islamic Development

    Bank (IDB) di Jeddah, Arab Saudi, dan sejak tahun 1999-sekarang, beliau bekerja

    sebagai konsultan, Trainer dan dosen perbankan syariah, keuangan dan ekonomi

    serta memiliki praktek pribadi di California, Amerika Serikat. Masalah yang

    diteliti dalam penelitian ini adalah: Bagaimana teori konsumsi dalam perspektif

    Monzer Kahf?

    Manfaat penelitian ini dapat dilihat dari dua segi, yaitu secara teoretis dan

    praktis. Manfaat secara teoretis adalah memberikan sumbangsih pengetahuan

    ekonomi syariah, khususnya tentang teori konsumsi. Manfaat secara praktis,

    adalah menjadi salah satu acuan dalam menjalankan muamalah sehari-hari,

    khususnya untuk perkembangan teori konsumsi.

    Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (Library

    Research) yang bersifat deskriptif dengan analisa data kualitatif. Untuk

    memperoleh data, peneliti menggunakan teknik dokumentasi. Semua data yang

    diperoleh kemudian dianalisis secara deduktif.

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam memberikan pendapat

    mengenai teori konsumsi dalam Islam, Monzer Kahf mengaitkan dengan tiga hal

    yaitu Pertama rasionalisme dalam Islam, yang meliputi konsep keberhasilan,

    skala waktu perilaku konsumen, dan konsep harta. Kedua, konsep Islam tentang

    barang. Dalam hal ini dua macam istilah yang digunakan dalam Al-Qur‟an adalah

    at-tayyibat dan ar-rizq. Ketiga, etika konsumsi dalam Islam yang meliputi halal

    dan baik, tidak israf atau tabzir. Berdasarkan pemikiran teori konsumsi tersebut,

    perilaku masyarakat saat ini masih bersikap tabzir dan israf. Karena masyarakat

    yang masih menuruti hawa nafsu dalam memenuhi keinginan baik untuk diri

    sendiri maupun keluarga tanpa memperdulikan manfaat yang ditimbulkan dari

    barang yang dibeli.

  • vi

    vi

  • vii

    vii

    HALAMAN MOTTO

    “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah disetiap (memasuki) masjid,

    makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan, sesungguhnya Allah tidak

    menyukai yang berlebih-lebihan” (QS. Al-A‟raf (7): 31)

  • viii

    viii

    HALAMAN PERSEMBAHAN

    Skripsi ini peneliti persembahkan untuk:

    1. Ayah dan Ibu tercinta, yang selalu memberikan semangat terbesar dengan

    doa-doa terbaik yang selalu dilantunkan untuk anak-anaknya, mendidik

    dengan penuh kasih sayang, cinta dan perhatian.

    2. Kakak tercinta Uswatun Khasanah dan Arif Mustakim yang selalu

    memberikan semangat, motivasi, nasehat, dan mendoakan dengan tulus.

    3. Keponakanku tersayang Mutiara Eka Putri dan Erlangga Danish Prayoga

    yang selalu memberikan semangat dan keceriaan.

    4. Semua teman-teman seperjuangan angkatan 2013 Jurusan Ekonomi Syariah.

    5. Almamaterku tercinta Jurusan Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi dan

    Bisnis Islam IAIN Metro.

  • ix

    ix

    KATA PENGANTAR

    Puji syukur peneliti panjatkan kehadirat Allah SWT, atas taufik hidayah

    dan inayah-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan penelitian skripsi ini.

    Penelitian skripsi ini adalah sebagai salah satu bagian dari persyaratan untuk

    menyelesaikan pendidikan program Strata Satu (S1) Fakultas Ekonomi dan Bisnis

    Islam IAIN Metro guna memperoleh gelar SE.

    Dalam upaya penyelesaian Skripsi ini, peneliti telah menerima banyak

    bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karenanya peneliti

    mengucapkan terimakasih kepada Ibu Prof. Dr. Hj. Enizar, M.Ag selaku Rektor

    IAIN Metro, Ibu Dr. Widhiya Ninsiana, M. Hum selaku Dekan Fakultas Ekonomi

    dan Bisnis Islam, Ibu Rina Elmaza, S.H.I., M.S.I selaku Ketua Jurusan Ekonomi

    Syariah, Bapak Dr. Suhairi, S.Ag., MH dan Ibu Elfa Murdiana, M. Hum selaku

    pembimbing yang telah memberi bimbingan yang sangat berharga dalam

    mengarahkan dan memberikan motivasi. Peneliti juga mengucapkan terima kasih

    kepada Bapak dan Ibu Dosen/Karyawan IAIN Metro yang telah memberikan ilmu

    pengetahuan dan sarana prasarana selama peneliti menempuh pendidikan. Rasa

    sayang dan terimakasih peneliti haturkan kepada Ayah dan Ibunda tercinta yang

    senantiasa mendo‟akan dan memberikan dukungan dalam menyelesaikan

    pendidikan.

    Kritik dan saran demi perbaikan skripsi ini sangat diharapkan dan akan

    diterima dengan lapang dada. Dan akhirnya semoga hasil penelitian yang telah

    dilakukan kiranya dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan agama

    Islam.

    Metro, Januari 2018

  • x

    x

    DAFTAR ISI

    Halaman Sampul .............................................................................................. i

    Halaman Judul .................................................................................................. ii

    Halaman Persetujuan ........................................................................................ iii

    Halaman Pengesahan ....................................................................................... iv

    Abstrak ............................................................................................................. v

    Halaman Orisinalitas Penelitian ....................................................................... vi

    Halaman Motto................................................................................................. vii

    Halaman Persembahan ..................................................................................... viii

    Halaman Kata Pengantar ................................................................................. ix

    Daftar Isi........................................................................................................... x

    Daftar Lampiran ............................................................................................... xi

    BAB I PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang ..................................................................................... 1

    B. Rumusan Masalah ................................................................................ 7

    C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ............................................................ 7

    D. Penelitian Relevan ................................................................................ 7

    E. Metodologi Penelitian .......................................................................... 10

    1. Jenis dan Sifat Penelitian ................................................................ 10

    2. Sumber Data ................................................................................... 11

    3. Teknik Pengumpulan Data ............................................................. 12

    4. Teknis Analisis Data ...................................................................... 13

  • xi

    xi

    BAB II PROFIL MONZER KAHF

    A. Biografi Monzer Kahf .......................................................................... 15

    B. Karya-karya Monzer Kahf.................................................................... 19

    C. Asumsi Dasar Pemikiran Monzer Kahf ............................................... 20

    BAB III TEORI KONSUMSI DALAM PERSPEKTIF ISLAM

    A. Pengertian konsumsi ............................................................................ 23

    B. Landasan Hukum Konsumsi ................................................................ 25

    C. Urgensi dan tujuan Konsumsi Islami ................................................... 28

    D. Prinsip dasar Konsumsi Islam .............................................................. 29

    BAB IV TEORI KONSUMSI DALAM PERSPEKTIF MONZER

    KAHF

    A. Rasionalisme Islam .............................................................................. 36

    B. Konsep Islam tentang Barang .............................................................. 42

    C. Etika Konsumsi dalam Islam ............................................................... 44

    BAB V PENUTUP

    A. Kesimpulan .......................................................................................... 53

    B. Saran ..................................................................................................... 53

    DAFTAR PUSTAKA

    LAMPIRAN-LAMPIRAN

    DAFTAR RIWAYAT HIDUP

  • xii

    xii

    DAFTAR LAMPIRAN

    Lampiran 1 Surat Keputusan Bimbingan Skripsi

    Lampiran 2 Nota Dinas

    Lampiran 3 Kartu Konsultasi Bimbingan

  • BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang

    Ekonomi adalah ilmu yang mempelajari bagaimana kita memilih

    untuk mengalokasikan sumber daya yang terbatas (limited resources), seperti

    tanah, tenaga kerja dan kapital, kedalam produksi barang dan jasa untuk

    memenuhi kebutuhan yang tak terbatas (unlimited wants).1 Adapun istilah

    ekonomi Islam berasal dari dua kata yaitu ekonomi dan Islam. Islam adalah

    bahasa Arab yang terambil dari kata salima yang berarti selamat, damai,

    tunduk pasrah, danberserah diri. Objek penyerahan diri ini adalah pencipta

    alam semesta yaitu Allah SWT. Michael Mayer dalam bukunya Instruction

    Morales et Religieusus, Lere Leson, mendefinisikan Islam sebagai

    seperangkat kepercayaan dan aturan yang pasti untuk membimbing dalam

    tindakan kita terhadap Tuhan, orang lain, dan terhadap diri kita sendiri. Dari

    dua kata tersebut terbentuklah satu istilah baru yaitu ekonomi Islam.2

    Muhammad Abdul Mannan mendefinisikan ekonomi Islam sebagai

    ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah-masalah ekonomi rakyat

    yang diilhami oleh nilai-nilai Islam.3 Definisi yang dikemukakan oleh

    Mannan meletakkan ekonomi Islam ke dalam sebuah disiplin keilmuan.

    Menurut sholahuddin, ekonomi Islam juga dapat dikatakan sebagai sebuah

    1Toni Hartono, Mekanisme Ekonomi: Dalam Konteks Ekonomi Indonesia, (Bandung: PT

    Remaja Rosdakarya, 2006), h. 9 2Abdul Aziz, Ekonomi Islam Analisis Mikro dan Makro, (Yogyakarta: Graha Ilmu,2008),

    h. 2 3Muhammad Abdul Manan, Ekonomi Islam: Teori dan Praktik diterjemahkan oleh M.

    Nastangin, dari judul asli Islamic Economy Theory and Practice, (Yogyakarta:PT Dana Bhakti

    Prima Yasa, 1997) h. 19.

  • 2

    sistem ekonomi tersendiri. Aspek-aspek yang ada dalam kajian ekonomi

    Islam juga tidak jauh berbeda dengan sistem ekonomi lainnya, yaitu produksi,

    distribusi dan konsumsi.4

    Konsumsi merupakan faktor vital yang mendasari munculnya aktifitas

    produksi dan distribusi. Tanpa konsumsi tidak mungkin seseorang akan

    melakukan aktivitas produksi dan distribusi. Sistem ekonomi kapitalis secara

    langsung telah menyebabkan perilaku konsumsi masyarakat dunia lebih

    cenderung kepada pemuasan keinginan. Perilaku ini direpresentasikan dengan

    memaksimalkan penggunaan barang dan jasa yang cenderung kepada

    pemuasan keinginan. Semakin lama perilaku semacam ini akan bermuara

    pada munculnya budaya baru dalam perilaku konsumsi masyarakat dunia

    yaitu hedonisme dan permisivisme. Hedonisme adalah paham yang

    mengutamakan pemuasan nafsu duniawi semata sedangkan permisivisme

    adalah paham yang serba membolehkan (mengkonsumsi) segalanya.5

    Konsumsi merupakan suatu hal yang niscaya dalam kehidupan

    manusia, karena manusia membutuhkan berbagai konsumsi untuk dapat

    mempertahankan hidupnya. la harus makan untuk hidup, berpakaian untuk

    melindungi tubuhnya dari berbagai iklim ekstrem, memiliki rumah untuk

    dapat berteduh, beristirahat sekeluarga, serta menjaganya dari berbagai

    gangguan fatal. Demikian juga aneka peralatan untuk memudahkan menjalani

    kehidupannya bahkan untuk menggapai prestasi dan prestise (gengsi,

    4Muhammad Sholahuddin, Asas-asas Ekonomi Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo

    Persada, 2007), h.7 5Hari Mukti, Ubah Pola Pikir Hedonisme, Materi ceramah yang diakses dari

    www.antara.co.id/are/2007/9/27/hari-moekti-ubah-pola-pikir-hedonisme.

  • 3

    pengaruh, wibawa). Sepanjang hal itu dilakukan sesuai dengan aturan-aturan

    syara', maka tidak akan menimbulkan problematika. Akan tetapi, ketika

    manusia memperturutkan hawa nafsunya dengan cara-cara yang tidak

    dibenarkan oleh agama, maka hal itu akan menimbulkan malapetaka

    berkepanjangan.6

    Secara sederhana, konsumsi dalam ilmu ekonomi diartikan sebagai

    pemakaian barang untuk mencukupi suatu kebutuhan secara langsung.

    Konsumsi juga diartikan dengan penggunaan barang dan jasa untuk

    memuaskan kebutuhan manusiawi (the use of goods and services in the

    satisfaction of human wants). Menurut Yusuf al-Qardhawi, belanja dan

    konsumsi adalah tindakan yang mendorong masyarakat berproduksi hingga

    terpenuhi segala kebutuhan hidup. Jika tidak ada manusia yang bersedia

    menjadi konsumen, dan jika daya beli masyarakat berkurang, karena sifat

    kikir yang melampaui batas, maka cepat atau lambat, roda produksi niscaya

    akan terhenti selanjutnya perkembangan bangsa pun terhambat.7

    Saringan moral bertujuan untuk menjaga kepentingan diri tetap berada

    dalam batasan kepentingan sosial dengan mengubah preferensi individual

    menjadi preferensi yang serasi antara individual dan sosial, serta termasuk

    pula saringan dalam rangka mewujudkan kebaikan dan manfaat.8 Dalam

    konteks inilah kita dapat berbicara tentang bentuk-bentuk konsumsi halal dan

    6Idri, Hadis Ekonomi, Ekonomi dalam Perspektif Hadis Nabi, (Jakarta: Kencana, 2015),

    h. 96 7Yusuf Qardhawi, Norma dan Etika Ekonomi Islam, diterjemahkan oleh Zainal Arifin

    dan Dahlia Husin,dari judul asli Darul Qiyam wal Ahlaq Fil Iqtishadil Islami, (Jakarta: Gema

    Insani Press, 1997), h.138 8Muhammad Muflih, Perilaku Konsumen Dalam Prespektif Ilmu Ekonomi Islam,

    (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), h. 12

  • 4

    haram, pelarangan terhadap israf, pelarangan terhadap bermewah-mewahan,

    konsumsi sosial dan aspek- aspek normatif lainnya. Allah telah menjelaskan

    batasan-batasan konsumsi tersebut dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah [2]:

    168-169:

    Artinya: Wahai manusia! makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang

    terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan;

    Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu

    (168).Sesungguhnya (setan) itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji,

    dan mengatakan apa yang tidak kamu ketahui tentang Allah (169).9

    Dalam hal ini, Monzer Kahf mengaitkan kegiatan konsumsi dalam

    Islam dengan rasionalisme Islam, Konsep harta, dan skala waktu. Kahf

    menyatakan, konsumsi dalam Islam berimplikasi pada dua tujuan, yaitu

    duniawi dan ukhrawi. Baginya, memaksimalkan pemuasan (kebutuhan)

    tidaklah dikutuk dalam Islam selama kegiatan tersebut tidak melibatkan hal-

    hal yang merusak.10

    Jika kita lihat yang terjadi saat ini adalah banyak masyarakat yang

    melakukan hal-hal yang sebenarnya telah dilarang dalam Islam. Konsumsi

    berlebih-lebihan, yang merupakan ciri khas masyarakat yang tidak mengenal

    9QS. Al-Baqarah (2): 168-169

    10Monzer Kahf, Ekonomi Islam: Telaah Analitik terhadap Fungsi Sistem Ekonomi Islam,

    diterjemahkan oleh Machnun Husein, dari judul asli The Islamic Economy: Analitical of the

    Functioning of the Islamic Economic System, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,1995), h. 28.

  • 5

    Tuhan, dikutuk dalam Islam dan disebut dengan istilah israf (pemborosan)

    atau tabzir (menghambur-hamburkan harta tanpa guna). Pemborosan berarti

    penggunaan harta secara berlebih-lebihan untuk hal-hal yang melanggar

    hukum dalam hal seperti makanan, pakaian, tempat tinggal atau bahkan

    sedekah.

    Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Euromonitor International

    menunjukkan, dalam kurun waktu 25 tahun (1990-2015), rumah tangga

    Indonesia mengalami revolusi konsumsi yang luar biasa. Belanja konsumen

    untuk produk AC naik 332 persen, cable TV naik 600 persen, kamera naik

    471 persen, sepeda motor naik 17.430 persen, mesin cuci piring naik 291

    persen dan telepon naik 1.643 persen.11

    Dengan kata lain, dalam sebuah

    keluarga tidak cukup jika hanya memiliki satu TV, satu sepeda motor atau

    bahkan satu mobil.

    Berdasarkan uraian tersebut diatas, terdapat beberapa teori yang

    membahas tentang konsumsi. Setidaknya ada tiga tokoh yang membahas

    tentang teori konsumsi yaitu Muhammad Abdul Mannan, Fahim Khan dan

    Monzer Kahf. Dalam mengemukakan pendapatnya tentang teori konsumsi,

    M.A Mannan sangat menekankan pada redistribusi pendapatan dalam

    perilaku konsumsi seseorang melalui pola hidup wajar moderation dan

    pemberlakuan zakat atas harta berlebih dan sedekah. Sedangkan Fahim Khan

    yang mengungkapkan bahwa perlunya membentuk Kerangka (konsep)

    kelembagaan agar tercapainya tujuan syariah. Kerangka (konsep)

    11

    Kharies, Konsumerisme Menjebak Bangsa Indonesia ke dalam Kapitalisme, dalam

    http://ardian.awardspace.info/detail.php?recordID=2

  • 6

    kelembagaan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan syariah ini, berupa

    Lembaga Sukarela dan Lembaga Penegakan Hukum, yang bertujuan untuk

    membimbing dan memonitor aspek-aspek khusus perilaku konsumen. Dalam

    analisis lain, Monzer Kahf menekankan konsumsi terhadap tiga hal yaitu

    rasionalisme Islam, konsep Islam tentang barang dan etika konsumsi dalam

    Islam. Dalam upaya mengurangi pemborosan dan penghambur-hamburan

    harta Kahf lebih cenderung untuk memaksimalkan tabungan. Kahf juga

    mengaitkan rasionalitas manusia dengan konsep keberhasilan yang

    merupakan perbuatan-perbuatan baik yang selaras dengan nilai moral dan

    spiritual dan tidak memerlukan sebuah lembaga pengawas.

    Berdasarkan pemaparan diatas, teori yang dikemukakan oleh M.A.

    Mannan membahas mengenai pendistribusian harta yang berlebih dan

    sedekah, sedangkan Fahim Khan lebih menekankan pada pembentukan

    lembaga pengawas untuk mengawasi perilaku konsumen, berbeda dengan

    kedua tokoh tersebut Monzer Kahf lebih lengkap membahas tentang

    konsumsi yang meliputi rasionalitas perilaku, konsep barang dalam Islam,

    dan etika etika konsumsi dalam Islam. Dengan demikian pendapat Monzer

    Kahf sangat menarik untuk dikaji lebih mendalam mengingat perilaku

    konsumen saat ini yang konsumtif. Dengan bertitik tolak pada pemaparan

    diatas, maka penulis sangat tertarik meneliti tentang “Teori Konsumsi dalam

    Perspektif Monzer Kahf”.

  • 7

    B. Rumusan Masalah

    Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan di atas, maka

    rumusan masalah yang peneliti ajukan di dalam penelitian ini adalah:

    Bagaimana teori konsumsi dalam perspektif Monzer Kahf?

    C. Tujuan Dan Manfaat Penelitian

    1. Tujuan Penelitian

    Tujuan yang akan dicapai di dalam penelitian ini adalah untuk

    mengetahui teori konsumsi dalam perspektif Monzer Kahf.

    2. Manfaat Penelitian

    Adapun manfaat yang ingin diperoleh di dalam penelitian ini adalah:

    a. Manfaat Teoretis

    Penelitian skripsi ini diharapkan dapat memberikan

    sumbangsih pengetahuan ekonomi syariah, khususnya tentang teori

    konsumsi.

    b. Manfaat Praktis

    Penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu acuan dalam

    menjalankan muamalah sehari-hari, khususnya untuk perkembangan

    teori konsumsi.

    D. Penelitian Relevan

    Kajian pustaka (prior research) berisi tentang uraian mengenai hasil

    penelitian terdahulu tentang persoalan yang akan dikaji. Penelitian yang

    diajukan, yaitu mengenai Teori Konsumsi Perspektif Monzer Kahf.

  • 8

    Untuk melakukan tinjauan terdapat judul yang mengangkat tentang

    pemikiran Monzer Kahf, yaitu:

    1. Analisis Komparatif Pemikiran Fahim Khan dan Monzer Kahf tentang

    Perilaku Konsumen yang diteliti oleh Isyhar Malija Hakim. Hasil

    penelitiannya adalah dalam mengeksplorasi kajian mengenai

    perilaku konsumen Muslim, mereka menekankan pada poin-poin

    seperti keseimbangan dalam konsumsi, mengutamakan pemenuhan

    kebutuhan bukan pemuasan keinginan, mengkonsumsi barang-barang

    yang memenuhi kriteria mashlahah serta pemenuhan dari alokasi

    sumberdaya yang ada dari yang terpenting dan perilaku konsumsi

    yang sesuai etika konsumsi dalam ajaran Islam yang tidak melampaui

    batas wajar.12

    2. Analisis Komparatif Pemikiran Muhammad Abdul Mannan dan

    Monzer Kahf dalam Konsep Konsumsi Islam, yang diteliti oleh Irham

    Fachreza Anas. Hasil penelitiannya adalah variabel proses konsumsi

    milik Mannan dan keseimbangan konsumsi milik Kahf adalah sama.

    Eksplorasi pemikiran kedua tokoh pada konteks ini secara tidak

    langsung bermuara pada penjelasan mengenai penggolongan dari

    kegiatan konsumsi dalam Islam yang harus dilakukan secara

    seimbang. Variabel prinsip konsumsi Islam milik Mannan dan konsep

    barang dalam Islam serta etika konsumsi Islam milik Kahf adalah

    sama. Eksplorasi pemikiran kedua tokoh pada konteks ini secara tidak

    12

    Isyhar Malija Hakim, Analisis Komparatif Pemikiran Fahim Khan dan Monzer Kahf tentang Perilaku Konsumen, (Semarang: Skripsi Jurusan Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan

    Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Walisongo, 2015).

  • 9

    langsung bermuara pada penjelasan mengenai norma, prinsip dan

    hukum secara umum yang terkait dengan kegiatan konsumsi dalam

    Islam.13

    3. Perilaku konsumsi Islam Pemikiran Monzer Kahf (studi kasus di

    Perumahan Taman Suko Asri Sidoarjo), yang diteliti oleh Zahidatul

    Amanah. Hasil penelitiannya adalah Perilaku konsumsi masyarakat

    Perumahan Taman Suko Asri Sidoarjo sebagian masih bersikap

    konsumtif yang terlalu mengikuti hawa nafsu dalam memenuhi

    keinginan. Kemudian sebagian lagi masih bersikap wajar dalam

    berkonsumsi. Perilaku konsumsi masyarakat Perumahan Taman Suko

    Asri Sidoarjo dalam perspektif teori konsumsi Islam Monzer Kahf

    masih bersikap israf (berlebih-lebihan) atau tabzir (menghambur-

    hamburkan uang tanpa guna). Karena masyarakat Perumahan Taman

    Suko Asri Sidoarjo yang menuruti hawa nafsu dalam memenuhi

    keinginan baik untuk diri sendiri maupun keluarga tanpa

    memperdulikan manfaat yang ditimbulkan dari barang yang dibeli.14

    Berdasarkan ketiga kutipan tersebut terdapat persamaan yaitu

    tentang pemikiran Monzer Kahf. Sedangkan perbedaan penelitian yang

    akan peneliti lakukan terletak pada fokus permasalahan yang akan diteliti,

    yaitu teori konsumsi dalam perspektif Monzer Kahf.

    13

    Irham Fachreza Anas, Analisis Komparatif Pemikiran Muhammad Abdul Mannan dan Monzer Kahf dalam Konsep Konsumsi Islam, (Jakarta: Skripsi Jurusan Muamalat Fakultas Syariah

    dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, 2008). 14

    Zahidatul Amanah, Perilaku Konsumsi Islam Pemikiran Monzer Kahf (Studi Kasus di

    Perumahan Taman Suko Asri Sidoarjo), (Surabaya: Skripsi Program Studi Ekonomi Syariah

    Jurusan Syariah Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel, 2014).

  • 10

    E. Metode Penelitian

    1. Jenis dan Sifat Penelitian

    a. Jenis Penelitian

    Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan

    (Library Research), yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara

    mengambil dan mengumpulkan data dari literatur yang berhubungan

    dengan masalah yang dibahas. Dengan segala usaha yang dilakukan

    oleh peneliti untuk menghimpun informasi yang relevan dengan topik

    atau masalah yang akan diteliti. Informasi tersebut dapat diperoleh

    dari buku-buku ilmiah, laporan penelitian, karangan-karangan ilmiah,

    ensiklopedia serta sumber–sumber tertulis baik cetak maupun

    elektronik.15

    Pada penelitian ini, peneliti akan meneliti tentang teori

    konsumsi dalam perspektif Monzer Kahf.

    b. Sifat Penelitian

    Sifat penelitian ini adalah deskriptif. Penelitian deskriptif adalah

    penelitian yang berusaha untuk menuturkan pemecahan masalah yang

    ada sekedar berdasarkan data-data, juga menyajikan data menganalisis

    dan menginterpretasikan.16

    Menurut Husein Umar, deskriptif adalah

    menggambarkan sifat sesuatu yang berlangsung pada saat penelitian

    dilakukan dan memeriksa sebab-sebab dari suatu gejala tertentu.17

    15

    Muhammad Nadzir, Metode Penelitian, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2010), h. 62 16

    Cholid Narbuki dan Abu Achmadi, Metodologi Penelitian, (Jakarta: PT Bumi Aksara,

    2007), h. 46 17

    Husein Umar, Metodologi Penelitian untuk Skripsi dan Tesis Bisnis, (Jakarta: PT Raja

    Grafindo Persada, 2009), h. 22

  • 11

    Dengan sifat penelitian tersebut, peneliti dapat mengkaji

    persoalan tersebut dengan data-data yang diperlukan. Sifat penelitian

    dimaksudkan untuk menggambarkan bagaimana teori konsumsi dalam

    perspektif Monzer Kahf.

    2. Sumber Data

    Sumber data dalam penelitian adalah subyek dari mana data dapat

    diperoleh.18

    Sumber data ini bisa berupa orang, bisa benda yang berada

    dalam wilayah penelitian dimana fenomena terjadi.19

    Dalam penelitian ini

    peneliti memperoleh data dari berbagai sumber. Kemudian data tersebut

    diklasifikasikan menjadi bahan primer, bahan sekunder dan bahan tersier.

    a. Bahan Primer

    Bahan primer pada penelitian ini merujuk pada buku karya

    Monzer Kahf yang berjudul The Islamic Ekonomy: Analitical of the

    Functioning of the Islamic Economic System yang telah diterjemahkan

    oleh Machnun Husein yang berjudul Ekonomi Islam.

    b. Bahan Sekunder

    Bahan sekunder pada penelitian ini adalah seluruh literatur

    yang berhubungan dengan ekonomi Islam secara umum atau literatur

    lain yang dapat memberikan informasi tambahan pada judul yang

    diangkat dalam penelitian ini, yaitu: buku, majalah, jurnal, artikel dan

    lain sebagainya.

    18

    Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: PT

    Renika Cipta, 2010), h. 172 19

    Moh. Kasiram, Metodologi Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif, (Malang: UIN Maliki

    Press, 2010), h. 335.

  • 12

    c. Bahan Tersier

    Bahan tersier yaitu bahan yang memberikan petunjuk maupun

    penjelasan terhadap bahan primer dan bahan sekunder seperti, Kamus

    Besar Bahasa Indonesia, Kamus Ekonomi, internet.20

    3. Teknik Pengumpulan Data

    Teknik pengumpulan data merupakan cara mengumpulkan data

    yang dibutuhkan untuk menjawab rumusan masalah penelitian.21

    Teknik

    pengumpulan data yang peneliti gunakan adalah teknik dokumentasi.22

    Dokumentasi adalah cara mengumpulkan data melalui

    peninggalan tertulis, seperti arsip-arsip dan termasuk juga buku-buku

    tentang pendapat, teori, dalil atau hukum-hukum, dan lain-lain yang

    berhubungan dengan masalah penelitian.23

    Keuntungan menggunakan

    teknik dokumentasi ialah biayanya relatif murah, waktu dan tenaga lebih

    efisien. Sedangkan kelemahannya ialah data yang diambil dari dokumen

    cenderung sudah lama, dan kalau ada yang salah cetak, maka peneliti ikut

    salah pula mengambil datanya.

    Teknik ini peneliti gunakan untuk memperoleh data analisis pada

    dokumen tertulis yang berupa buku karya Monzer Kahf yang berjudul The

    Islamic Economy yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh

    Machnun Husein.

    20

    Amiruddin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: PT Raja

    Grafindo Persada, 2004), h. 32 21

    Juliansyah Noor, Metodologi Penelitian, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group,

    2011), h. 138 22

    Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Asdi

    Mahasatya, 2006), h. 41 23.

    S. Margono, Metodologi Penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), h. 181.

  • 13

    4. Teknis Analisa Data

    Masri Singarimbun dan Sofyan Efendi menemukan bahwa

    analisis data adalah proses penyederhanaan data dalam bentuk yang lebih

    mudah dibaca dan dipahami. Data deskriptif sering hanya dianalisis

    menurut isinya, dan karena itu analisis macam ini disebut analisis isi

    (content analysis).24

    Kelebihan teknik analisis isi adalah tidak digunakan manusia

    sebagai subjek penelitian, relatif murah, tidak terbentur masalah perizinan

    penelitian, bahan-bahan penelitian mudah didapat terutama di

    perpustakaan, dan biaya untuk coder relatif lebih murah dibandingkan

    biaya operasional pengumpulan data untuk survei. Sedangkan kekurangan

    teknik analisis isi adalah hanya meneliti pesan yang tampak, sesuatu yang

    disembunyikan dalam pesan bisa luput dari analisis isi, kesulitan

    menentukan media atau tempat memperoleh pesan-pesan yang relevan

    dengan permasalahan yang diteliti, dan pesan komunikasi tidak selamanya

    merefleksikan fakta.25

    Oleh karena itu, analisis ini hendak menggambarkan

    atau menguraikan pendapat Monzer Kahf tentang teori konsumsi.

    Adapun metode berpikir yang peneliti gunakan dalam

    merumuskan kesimpulan akhir Skripsi ini dengan cara berpikir deduktif,

    yaitu menarik kesimpulan berangkat dari pengetahuan yang sifatnya umum

    24

    Masri Singarimbun dan Sofyan Efendi, Metode Penelitian Survey, (Jakarta: LP3ES,

    1989), h. 263 25.

    Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Kualitatif: Aktualisasi Metodologis Ke Arah

    Ragam Varian Kontemporer, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), h. 192-193.

  • 14

    dan bertitik tolak pengetahuan yang umum itu kita hendak menilai suatu

    kejadian yang khusus.26

    26

    Sutrisno Hadi, Metode Research Jilid 1, (Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM,

    1984),h. 40

  • BAB II

    PROFIL MONZER KAHF

    A. Biografi Monzer Kahf

    Monzer Kahf (selanjutnya dibaca: Kahf) dilahirkan di Damaskus,

    Syria, pada tahun 1940. Kahf termasuk orang pertama yang

    mengaktualisasikan analisis pengggunaan beberapa institusi Islam (seperti

    zakat) terhadap agregat ekonomi, seperti simpanan investasi, konsumsi dan

    pendapatan.1

    Kahf menerima gelar B.A (setara S1) di bidang Bisnis dari

    Universitas Damaskus pada tahun 1962 serta memperoleh penghargaan

    langsung dari Presiden Syria sebagai lulusan terbaik. Pada tahun 1967, Kahf

    mencapai Diploma Tinggi dalam perencanaan sosial dan ekonomi dari PBB

    lembaga perencanaan, di Suriah. Selanjutnya, sejak tahun 1968 Kahf menjadi

    Akuntan Publik yang bersertifikat di Suriah. Pada tahun 1975, Kahf meraih

    gelar Ph.D untuk ilmu ekonomi spesialisasi ekonomi International dari

    University of Utah, Salt Lake City, USA.2

    Kahf dikenal sebagai seorang ekonom terkemuka, konselor, dosen

    dan pakar Syariah serta hukum-hukum Islam. Beliau juga memiliki

    pengetahuan yang kuat tentang Fiqh Islam dan studi Islam. Tidak diragukan

    lagi, dapat disebutkan bahwa kinerja Kahf cukup memuaskan dalam

    organisasi. Beliau tergabung dalam organisasi yang berbeda-beda dalam

    1https://junartibakhtiar.wordpress.com/2015/02/16/monzer-khaf/ diunduh pada 5 April

    2017 2 Ibid.

    https://junartibakhtiar.wordpress.com/2015/02/16/monzer-khaf/

  • 16

    universitas, lembaga penelitian, dan lembaga keuangan. Kahf bekerja dengan

    sangat baik sekali. Berikut ini adalah jenjang karir Kahf, antara lain:3

    1. Tahun 1962-1963, Kahf menjadi Instruktur dari School of Business,

    University of Damascus, Suriah.

    2. Tahun 1963-1971, Kahf menjadi auditor dari kantor Audit Negara

    Pemerintahan Suriah.

    3. Tahun 1971-1975, Kahf menjadi asisten dosen pengajar ilmu ekonomi

    di Universitas Utah.

    4. Dari tahun 1974-1999, Kahf menjadi anggota dari American Economic

    Association.

    5. Tahun 1975-1981, Kahf menjadi Direktur Keuangan di masyarakat

    Islam Amerika Utara dan Manajer Zakat Dana Nasional serta Koperasi

    Dana Islam bagi umat Islam di Amerika Utara.

    6. Tahun 1980, Kahf menjadi salah satu anggota pendiri „Assosiation

    International Economic Islam‟ dan „Asosiasi Muslim Ilmuwan Sosial‟

    dari Amerika Serikat dan Kanada.

    7. Tahun 1985-1999, Kahf menjadi peneliti ekonomi.

    8. Tahun 1989-1991, Kahf menjadi Kepala Divisi.

    9. Tahun 1995-1999, Kahf menjadi Senior Research Economist penelitian

    Islam dan lembaga pelatihan dari Islamic Development Bank (IDB) di

    Jeddah, Arab Saudi. Beliau telah menunjukkan hasil kinerja yang yang

    luar biasa dalam beberapa hal, seperti:

    3 http://monzer.kahf.com/about.html yangdiunduh pada 22 Agustus 2017

    http://monzer.kahf.com/about.html

  • 17

    a. Mempersiapkan rencana penelitian

    b. Mengevaluasi karya penelitian

    c. Mengorganisir seminar tentang ekonomi Islam, perbankan dan

    keuangan

    d. Menulis makalah penelitian asli

    e. Menghasilkan ide-ide untuk proyek-proyek penelitian

    f. Melakukan koordinasi dengan departemen lain dan jaringan

    dengan organisasi penelitian yang lain.

    10. Tahun 2004-2005, Kahf bergabung di Universitas Yarmouk, Jordan,

    sebagai guru besar ekonomi Islam dan perbankan dalam program

    pascasarjana serta mengajar ekonomi Islam.

    11. Mulai tahun 1999-sekarang, Kahf bekerja sebagai konsultan, Trainer

    dan dosen perbankan syariah, keuangan dan ekonomi serta memiliki

    praktek pribadi di California, Amerika Serikat. 4

    Kahf juga mendirikan negara Indiana berlisensi Credit Union

    asosiasi mahasiswa muslim dan Perumahan Koperasi Islam Indiana pada

    tahun 1980. Koperasi tersebut berada di Amerika Serikat dan Kanada. Selain

    itu, Kahf juga konsultan Islam Perumahan Koperasi, Toronto, Kanada, dan

    masyarakat Islam Amerika Utara serta masjid di Amerika Serikat dan Kanada

    pada hal-hal „prosedur kerja awal‟ dan hukum Islam yang berkaitan dengan

    properti di pernikahan, warisan, wasiat terakhir dan kepercayaan hidup

    4 Ibid.

  • 18

    masing-masing. Kahf juga menyediakan hukum syariah bagi lembaga

    keuangan Islam di Amerika Serikat, Kanada, Trinidad, Nigeria dan Guyana.

    Kahf juga telah mengunjungi banyak negara termasuk Amerika

    Serikat, Kanada, dan negara-negara Timur Tengah, Eropa, Karibia, Asia

    Tenggara, serta Afrika untuk tujuan kuliah dan seminar, konferensi serta

    sebagai konsultan bagi lembaga keuangan juga menyampaikan ceramah pada

    hukum Islam keuangan dan peraturan ekonomi Islam dan perbankan, wakaf,

    perencanaan perumahan Islam, amal dalam agama Islam (zakat), Khotbah

    Jum‟at di Masjid-masjid dan pusat Islam. Beliau juga speaker dalam dua

    program dari Islam Online. Net: Hidup Fatwa dan Hidup dialog dalam sesi

    khusus pada perbankan syariah, keuangan, zakat dan wakaf.5

    Kahf memiliki website sendiri yang memberikan informasi kepada

    Muslim AS dan Kanada pada isu-isu properti dan kepemilikan. Trust,

    hubungan keluarga dan tanggung jawab keuangan, perencanaan perumahan,

    pemberian amal dan Wakaf (yayasan amal Islam).6

    Kahf juga pernah menerima berbagai penghargaan (award) sebagai

    berikut:

    1. IDB untuk untuk kontribusi briliant di bidang ekonomi Islam, 2001.

    2. Presiden Suriah Award untuk mahasiswa lulusan terbaik, Juli 1962.

    3. Bahasa Inggris: membaca, menulis dan perkuliahan sangat baik.

    4. Bahasa Arab: membaca, menulis dan perkuliahan sangat baik.

    5 Ibid.

    6 Ibid.

  • 19

    5. Bahasa Perancis: reading dengan baik.7

    B. Karya-karya Monzer Kahf

    Kahf merupakan seorang penulis yang produktif dalam

    menghasilkan pemikiran-pemikiran di bidang ekonomi, keuangan, bisnis, fiqh

    dan hukum dengan dwi bahasa, yaitu Arab dan Inggris.

    1. Pada tahun 1978, Kahf menerbitkan buku tentang ekonomi Islam yang

    berjudul „The Islamic Economy: Analytical Study of the Functioning of

    the Islamic Economic System‟. Buku ini dianggap menjadi awal dari

    sebuah analisis matematika ekonomi dalam mempelajari ekonomi

    Islam, sebab pada tahun 1970-an, sebagian besar karya-karya mengenai

    ekonomi Islam masih mendiskusikan masalah prinsip dan garis besar

    ekonomi.

    2. A Contribution to the Theory of Consumer Behavior in an Islamic

    Society (Kairo: 1984).

    3. Principles of Islamic Financing: A Survey, (with Taqiullah Khan IDB:

    1992),

    4. Zakah Management in Some Muslim Societies (IDB: 1993),

    5. The Calculation of Zakah for Muslim in North Amerika, (Ed. 3,

    Indiana: 1996),

    6. Financing Development in Islam (IDB: 1996), The Demand Side or

    Consumer Behaviour In Islamic Perspective serta beberapa artikel dan

    paper lainnya yang tidak dapat disebut seluruhnya disini.8

    7 Ibid.

  • 20

    Beliau telah mengembangkan beberapa modul hak cipta di

    perbankan dan keuangan Islam, seperti Sukuk Islam dan Pasar Modal,

    Syariah Berbasis Wealth Management, konversi efek konvensional menjadi

    efek syariah, Penataan Produk Keuangan Islam, Leasing Islam, Takaful dan

    Asuransi, dan lain-lain.9

    Kahf juga menulis lebih dari 100 artikel dalam bahasa Inggris dan

    Arab pada ekonomi Islam, keuangan public dan swasta Islam, perbankan

    Islam, zakat, wakaf, termasuk entri untuk Oxford Encyclopedia of Islam

    dunia modern.10

    C. Asumsi Dasar Pemikiran Monzer Kahf

    Kahf melihat agen ekonomi dalam suatu sistem ekonomi Islam tidak

    dari sudut pandang afiliasi keagamaan, melainkan sebagai agen yang bersedia

    menerima paradigma Islam atau „rules of the game‟. Seorang agen individual

    dapat saja seorang muslim maupun non-muslim sepanjang ia bersedia

    menerima tata nilai dan noram ekonomi di dalam Islam yang berasal dari hal-

    hal berikut ini:

    1. Dunia ini benar-benar dimiliki oleh Allah Swt. dan segala sesuatu

    adalah miliknya. Manusia adalah wakil atau khalifah yang menjalankan

    atau melaksanakan semua perintah-Nya dan harus mengikuti Hukum-

    Nya. Hal ini antara lain memiliki implikasi dalam soal kepemilikan.

    8 https://irham-anas.blogspot.co.id/2011/04/profil-monzer-kahf.html diunduh pada 19

    April 2017 9 http://monzer.kahf.com/about.html

    10 Ibid.

    https://irham-anas.blogspot.co.id/2011/04/profil-monzer-kahf.html

  • 21

    2. Tuhan adalah Maha Esa, dan oleh karenanya hanya ada satu saja hukum

    yang harus diikuti, yakni syariah. Hal ini memiliki implikasi pada

    bagaiman agen harus mengatur sistem ekonomi dan semua institusinya

    yang hendak ditetapkan.

    3. Oleh karena dunia ini hanya sementara, dan hari kiamat sebagai hari

    pengadilan diterima sebagai suatu realitas, maka tindakan manusi

    haruslah didasarkan tidak saja pada keuntungan di dunia ini melainkan

    juga pahala di akhirat. Oleh karena itu, sekalipun aturan „maksimisasi‟

    dapat tetap dipakai, namun fungsi yang dimaksimumkan hendaklah

    mencakup unsur-unsur tersebut.11

    Jika si agen menerima ketiga pilar tersebut diatas, maka keputusan

    yang diambilnya pasti akan berbeda dari manusia ekonomi konvensional.

    Horison waktu yang mencakup kehidupan sesudah mati tentu akan mencakup

    pilihan-pilihan yang tidak tersedia bagi manusia ekonomi (konvensional),

    demikian pula pilihan-pilihan yang dianggap tidak masuk akal.

    Dalam menjelaskan teori konsumsinya Kahf menunjukkan

    bagaimana, karena adanya pemahaman yang berbeda mengenai sukses di

    dalam sistem Islam, pilihan seseorang terhadap barang dan perilaku

    konsumsinya secara rasional berada segaris dengan ketentuan Allah Swt.

    Namun Kahf menyadari bahwa perluasan horison waktu ini akan

    menyebabkan analisis menjadi amat kualitatif dan oleh karenanya, keinginan

    11

    Mohamed Aslam Haneef, Pemikiran Ekonomi Islam Kontemporer:Analisis Komparatif

    Terpilih, yang diterjemahkan oleh Suherman Rosyidi dari judul asli Contemporary Muslim

    Economic Thought: a Comparative Analisys, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2010), h. 9

  • 22

    untuk mengkuantifikasikan aspek-aspek kualitatif menjadi lebih sulit untuk

    dijalankan sekalipun penting.12

    12

    Ibid.

  • BAB III

    TEORI KONSUMSI DALAM PERSPEKTIF ISLAM

    A. Pengertian Konsumsi

    Konsumsi merupakan faktor vital yang mendasari munculnya aktivitas

    produksi dan distribusi. Tanpa konsumsi tidak mungkin seseorang akan

    melakukan aktivitas produksi dan distribusi. Sistem ekonomi kapitalis secara

    langsung telah menyebabkan perilaku konsumsi masyarakat dunia lebih

    cenderung kepada pemuasan keinginan. Perilaku ini direpresentasikan dengan

    memaksimalkan penggunaan barang dan jasa yang cenderung kepada

    pemuasan keinginan. Semakin lama perilaku semacam ini akan bermuara

    pada munculnya budaya baru dalam perilaku konsumsi masyarakat dunia

    yaitu hedonisme dan permisivisme. Hedonisme adalah paham yang

    mengutamakan pemuasan nafsu duniawi semata sedangkan permisivisme

    adalah paham yang serba membolehkan (mengkonsumsi) segalanya.1

    Keinginan manusia agar terpenuhi kebutuhannya telah melahirkan

    konsep teori konsumsi. Perilaku konsumsi manusia bisa bersumber pada

    dualitas yaitu economic rasionalism dan utilitarianism yang menekankan

    keduanya lebih menekankan kepentingan individu (self interest) dengan

    mengorbankan kepentingan pihak lain. Meskipun secara ekonomi terkesan

    baik, konsep self interest rationality tetap mengandung konsekuensi terhadap

    perilaku konsumsi yang lebih longgar karena ukuran rasional adalah selama

    memenuhi self interest tersebut. Sedangkan utilitarianisme yang menekankan

    1Hari Mukti, Ubah Pola Pikir Hedonisme, Materi ceramah yang diakses dari

    www.antara.co.id/are/2007/9/27/hari-moekti-ubah-pola-pikir-hedonisme.

  • 24

    bagaimana manfaat terbesar dapat diperoleh meski harus mengorbankan

    kepentingan atau hak pihak lain.2

    Ada perbedaan diantara para ekonom dalam mendefinisikan

    konsumsi, namun mayoritas definisi berkisar pada penggunaan barang/jasa

    untuk memenuhi kebutuhan manusia.3 Secara bahasa, konsumsi berasal dari

    bahasa Belanda yaitu “consumptie” yang berarti suatu kegiatan yang

    bertujuan mengurangi atau menghabiskan daya guna suatu benda, barang

    maupun jasa dalam rangka memenuhi kebutuhan.4 Konsumsi dalam Kamus

    Besar Bahasa Indonesia berarti pemakaian barang hasil produksi, baik

    pakaian, makanan dan lain-lain. Sedangkan pelakunya disebut sebagai

    konsumen.5

    Istilah konsumsi dipahami sebagai aktivitas menggunakan,

    menghabiskan, atau memanfaatkan barang atau jasa untuk mememuhi

    kebutuhan hidup. Ada barang yang langsung habis, ada yang berangsur habis.

    Tujuan konsumsi dibedakan menjadi 1) konsumsi sosial, 2) produktif, 3)

    keindahan, 4) masa depan, 5) keamanan dan kesehatan, 6) kesenangan / hobi /

    kepuasan.6

    Menurut Departemen Pendidikan dalam Kamus Besar Bahasa

    Indonesia, yang dimaksud dengan konsumsi adalah pemakaian barang-barang

    2 Arif Pujiyono, “Teori Konsumsi Islam”, dalam Dinamika Pembangunan, () Vol.3 No. 2/

    Desember 2006, h. 196. 3 Jaribah bin Ahmad Al-Haritsi, Al-Fiqh Al-Iqtishadi Li Amiril Mukminin Umar Ibn Al-

    Khaththab, yang diterjemahkan oleh Asmuni Solihan, (Jakarta: Khalifa, 2006), h. 135. 4 Abdul Aziz, Etika Bisnis Perspektif Islam Implementasi Etika Islami untuk Dunia

    Usaha, (Bandung: Alfabeta, 2013), h. 159. 5 Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI), Ekonomi Islam, (Jakarta:

    PT. RajaGrafindo Persada, 2008), Edisi.1-1, h. 728. 6 Suwito NS,”Pola Konsumsi dalam Islam dan Konsep Eco-Sufisme Muhammah Zuhri”,

    dalam Ibda’ Jurnal Kebudayaan Islam, Vol. 9 No 1/Januari-Juni 2011, h. 73

  • 25

    hasil produksi baik berupa bahan pakaian, makanan, dan lain sebagainya.

    Atau dapat juga dikatakan konsumsi adalah barang-barang yang langsung

    memenuhi kebutuhan hidup kita.7

    Berbeda dengan sistem lainnya, Islam mengajarkan pola konsumsi

    yang moderat, tidak berlebihan tidak juga keterlaluan, lebih lanjut Al-Qur‟an

    melarang terjadinya perbuatan tabzir dan mubazir. Seorang muslim untuk

    mencapai tingkat kepuasan harus mempertimbangkan beberapa hal: barang

    yang dikonsumsi tidak haram termasuk didalamnya berspekulasi (menimbun

    barang dan melakukan kegiatan di pasar gelap, tidak mengandung riba,

    memperhitungkan zakat dan infak). Oleh karena itu, kepuasan seorang

    muslim tidak didasarkan atas banyak sedikitnya barang yang dikonsumsi,

    tetapi didasarkan atas berapa besar nilai ibadah yang didapatkan dari apa yang

    dilakukannya.8

    B. Landasan Hukum Konsumsi

    Perbuatan untuk memanfatkan atau mengkonsumsi barang-barang

    yang baik itu sendiri dianggap sebagai kebaikan dalam Islam. Sebab

    kenikmataan yang dicipta Allah SWT adalah untuk manusia. Sebagaimana

    yang tercantum dalam Al-Qur‟an :

    7 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta:

    Balai Pustaka, 1997), Cet. Ke-9, h. 521. 8 Heri Sudarsono, Konsep Ekonomi Islam Suatu Pengantar, (Yogyakarta: Ekonisia,

    2004), h.169.

  • 26

    Artinya: (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan

    shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada

    mereka.9

    Menafkahkan sebagian rezeki atau memberikan sebagian dari harta

    yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT kepada orang-orang yang

    disyari'atkan oleh agama, seperti orang-orang fakir, orang-orang miskin,

    kaum kerabat, anak-anak yatim dan lain-lain.

    Etika ilmu ekonomi Islam berusaha untuk mengurangi kebutuhan

    material yang luar biasa sekarang ini, untuk mengurangi energi manusia

    dalam mengejar cita-cita spiritualnya. Perkembangan batiniah yang bukan

    perluasan lahiriah, telah dijadikan cita-cita tertinggi manusia dalam hidup.10

    Al-Qur'an memberi peringatan keras kepada orang-orang yang

    menimbun harta tanpa dimanfaatkan dan tidak membelanjakan untuk

    kebaikan dirinya dan masyarakat tidak menggunakan harta sesuai fungsinya

    untuk kemanfaatan diri, keluarga dan masyarakat akan membawa kekacauan

    ekonomi masyarakat.

    Islam berada diantara suatu paham kebebasan soal makanan dan

    ekstrimis dalam soal larangan. Oleh karena itu, Islam kemudian

    mengumandangkan kepada segenap umat manusia dengan mengatakan:

    9 QS. Al-Baqarah (2): 3

    10 Eko Supriyanto, Ekonomi Islam, Pendekatan Ekonomi Makro Islam Dan Konvensional,

    (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2005), Cet-1, h.92.

  • 27

    Artinya: Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang

    terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan;

    karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.11

    Disini Islam memanggil manusia supaya makan hidangan besar yang

    baik yang telah disediakan Allah, yaitu bumi lengkap dengan isinya, dan

    kiranya manusia tidak mengikuti kerajaan dan jejak syaitan yang selalu

    menggoda manusia supaya mau mengharamkan sesuatu yang telah dihalalkan

    Allah, dan mengharamkan kebaikan-kebaikan yang dihalalkan Allah dan

    syaitan juga menghendaki manusia supaya terjerumus dalam lembah

    kesesatan.12

    Dengan harta yang kita miliki dan makin bertambah, hendaklah

    dipakai untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Misalnya menggali

    ajaran agama lebih mendalam, membeli buku-buku agama untuk ditelaah,

    digunakan untuk kemaslahatan umat dengan menolong sesama, dan beramal

    yang benar sesuai petunjuk-petunjukNya.13

    Islam sebagai rahmatan lil alamin menjamin agar sumberdaya dapat

    terdistribusi secara adil. Salah satu upaya untuk menjamin keadilan distribusi

    11

    QS. Al-Baqarah (2): 168 12

    Yusuf al-Qardhawi, Halal Dan Haram Dalam Islam, yang diterjemahkan oleh

    Mu‟Ammal Hamidy, dari judul asli(Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1995). Cet-1, h. 52. 13

    Buchari Alma, Dasar-Dasar Etika Bisnis Islami, (Bandung: CV. Alfabeta, 2003), Cet-

    3, h. 364.

  • 28

    sumberdaya adalah mengatur bagaimana pola konsumsi sesuai dengan

    syariah yang telah ditetapkan oleh Al-Quran dan As-Sunnah.

    C. Urgensi dan Tujuan Konsumsi Islami

    Beberapa hal yang melandasi perilaku seorang muslim dalam

    berkonsumsi adalah berkaitan dengan urgensi, tujuan dan etika konsumsi.

    Konsumsi memiliki urgensi yang sangat besar dalam setiap perekonomian,

    karena tiada kehidupan bagi manusia tanpa konsumsi. Oleh sebab itu,

    sebagian besar konsumsi akan diarahkan kepada pemenuhan tuntutan

    konsumsi bagi manusia. Pengabaian terhadap konsumsi berarti mengabaikan

    kehidupan manusia dan tugasnya dalam kehidupan. Manusia diperintahkan

    untuk mengkonsumsi pada tingkat yang layak bagi dirinya, keluarganya dan

    orang paling dekat di sekitamya. Bahkan ketika manusia lebih mementingkan

    ibadah secara mutlak dengan tujuan ibadah, telah dilarang dan diperintahkan

    untuk makan/berbuka. Meski demikian konsumsi Islam tidak mengharuskan

    seseorang melampaui batas untuk kepentingan konsumsi dasarnya, seperti

    mencuri atau merampok. Tapi dalam kondisi darurat dan dikhawatirkan bisa

    menimbulkan kematian, maka seseorang diperbolehkan untuk mengkonsumsi

    sesuatau yang haram dengan syarat sampai masa darurat itu hilang, tidak

    berlebihan dan pada dasarnya memang dia tidak suka (ayat).14

    14

    Arif Pujiyono, “Teori Konsumsi Islami” dalam Dinamika Pembangunan Vol. 3 No.2/

    Desember 2006, h. 198

  • 29

    Tujuan utama konsumsi seorang muslim adalah sebagai sarana

    penolong untuk beribadah kepada Allah. Sesungguhnya mengkonsumsi

    sesuatu dengan niat untuk meningkatkan stamina dalam ketaatan pengamdian

    kepada Allah akan menjadikan konsumsi itu bemilai ibadah yang dengannya

    manusia mendapatkan pahala. Konsumsi dalam perspektif ekonomi

    konvensional dinilai sebagai tujuan terbesar dalam kehidupan dan segala

    bentuk kegiatan ekonomi. Bahkan ukuran kebahagiaan seseorang diukur

    dengan tingkat kemampummya dalam mengkonsumsi. Konsep konsumen

    adalah raja menjadi arah bahwa aktifitas ekonomi khususnya produksi untuk

    memenuhi kebutuhan konsumen sesuai dengan kadar relatifitas dari

    keinginan konsumen.15

    Al-Qur'an telah mengungkapkan hakekat tersebut

    dalam firman-Nya:

    Artinya: "Dan orang-orang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka

    makan seperti makannya binatang".16

    D. Prinsip Dasar Konsumsi Islam

    Konsumsi Islam senantiasa memperhatikan halal-haram, komitmen

    dan konsekuen dengan kaidah-kaidah dan hukum-hukum syariat yang

    mengatur konsumsi agar mencapai kemanfaatan konsumsi seoptimal

    mungkin dan mencegah penyelewengan dari jalan kebenaran dan dampak

    15

    Ibid. 16

    QS. Muhammad (47): 2

  • 30

    mudharat baik bagi dirinya maupun orang lain. Adapun kaidah/ prinsip dasar

    konsumsi Islami adalah:17

    a. Prinsip syariah, yaitu menyangkut dasar syariat yang harus terpenuhi

    dalam melakukan konsumsi di mana terdiri dari:

    1) Prinsip akidah, yaitu hakikat konsumsi adalah sebagai sarana untuk

    ketaatan/ beribadah sebagai perwujudan keyakinan manusia

    sebagai makhluk yang mendapatkan beban khalifah dan amanah di

    bumi yang nantinya diminta pertanggungjawaban oleh penciptanya.

    2) Prinsip ilmu, yaitu seorang ketika akan mengkonsumsi barang yang

    akan dikonsumsi dan hukum-hukum yang berkaitan dengannya

    apakah merupakan sesuatu yang halal atau haram baik ditinjau dari

    zat, proses, maupun tujuannya.

    3) Prinsip amaliah, sebagai konsekuensi akidah dan ilmu yang telah

    diketahui tentang konsumsi Islami tersebut. Seseorang ketika sudah

    berakidah yang lurus dan berilmu, maka dia akan mengkonsumsi

    hanya yang halal serta menjauhi yang halal atau syubhat.

    b. Prinsip kuantitas, yaitu sesuai dengan batas-batas kuantitas yang telah

    dijelaskan dalam syariat Islam, di antaranya

    1) Sederhana, yaitu mengkonsumsi yang sifatnya tengah-tengah

    antara menghamburkan harta dengan pelit, tidak bermewah-

    mewah, tidak mubadzir, hemat.

    17

    Arif Pujiyono, “Teori Konsumsi”, h. 199

  • 31

    2) Sesuai antara pemasukan dan pengeluaran, artinya dalam

    mengkonsumsi harus disesuaikan dengan kemampuan yang

    dimilikinya, bukan besar pasak daripada tiang.

    3) Menabung dan investasi, artinya tidak semua kekayaan digunakan

    untuk konsumsi tapi juga disimpan untuk kepentingan

    pengembangan kekayaan itu sendiri.

    c. Prinsip prioritas, di mana memperhatikan urutan kepentingan yang

    harus diprioritaskan agar tidak terjadi kemudharatan, yaitu

    1) primer, yaitu konsumsi dasar yang harus terpenuhi agar manusia

    dapat hidup dan menegakkan kemaslahatan dirinya dunia dan

    agamanya serta orang terdekatnya, seperti makanan pokok.

    2) sekunder, yaitu konsumsi untuk menambah / meningkatkan tingkat

    kualitas hidup yang lebih baik, misalnya konsumsi madu, susu dan

    sebagainya.

    3) tersier, yaitu untuk memenuhi konsumsi manusia yang jauh lebih

    membutuhkan.

    d. Prinsip sosial, yaitu memperhatikan lingkungan sosial di sekitarnya

    sehingga tercipta keharmonisan hidup dalam masyarakat, di antaranya:

    1) Kepentingan umat, yaitu saling menanggung dan menolong

    sebagaimana bersatunya suatu badan yang apabila sakit pada salah

    satu anggotanya, maka anggota badan yang lain juga akan

    merasakan sakitnya.

  • 32

    2) Keteladanan, yaitu memberikan contoh yang baik dalam

    berkonsumsi apalagi jika dia adalah seorang tokoh atau pejabat

    yang banyak mendapat sorotan di masyarakatnya.

    3) Tidak membahayakan orang yaitu dalam mengkonsumsi justru

    tidak merugikan dan memberikan madharat ke orang lain seperti

    merokok.

    e. Kaidah lingkungan, yaitu dalam mengkonsumsi harus sesuai dengan

    kondisi potensi daya dukung sumber daya atam dan

    keberlanjutannya atau tidak merusak lingkungan.

    f. Tidak meniru atau mengikuti perbuatan konsumsi yang tidak

    mencerminkan etika konsumsi Islami seperti menjamu dengan tujuan

    bersenang-senang atau memamerkan kemewahan dan menghambur-

    hamburkan harta.18

    Pemikiran tentang ekonomi dalam Islam semakin berkembang dengan

    pesat. Hal ini ditandai dengan munculnya tokoh-tokoh yang memberikan

    argumennya tentang ekonomi Islam. Kaitannya dengan teori konsumsi,

    banyak diantara tokoh tersebut yang telah membahasnya, misalnya saja

    Muhammad Abdul Mannan, Fahim Khan, dan Monzer Kahf.

    Menurut M.A. Mannan, proses konsumsi adalah kegiatan

    mendapatkan dan menggunakan penghasilan seseorang. Mannan membagi

    konsumsi dalam tiga bagian yaitu konsumsi individu, konsumsi atas sosial

    18

    Ibid.

  • 33

    atas dasar Allah dan investasi intuk menyokong kehidupan masa datang.19

    Mannan juga mengaitkan proses konsumsi dengan pendapatan, konsumsi

    pribadi, konsumsi untuk keluarga, konsumsi untuk sosial (tetangga dekat),

    zakat dan sadaqah. Pendekatan ini ia sebut sebagai fungsi konsumsi dalam

    Islam. Dalam analisisnya M.A Mannan sangat menekankan pada redistribusi

    pendapatan dalam perilaku konsumsi seseorang melalui pola hidup wajar

    moderation dan pemberlakuan zakat atas harta berlebih dan sedekah.

    Berbeda dengan M.A. mannan, pemikiran Fahim Khan tentang

    konsumsi didasarkan pada kerangka yang tidak dapat digunakan untuk

    menjelaskan semua aspek perilaku konsumen. Beliau berpendapat bahwa

    perilaku konsumen seharusnya didasarkan pada pemenuhan kebutuhan dan

    bukan pada keinginan memuaskan.20

    Menurut Beliau, ada beberapa faktor

    yang mempengaruhi pertimbangan dan pengambilan keputusan (decisions

    making) seorang konsumen dalam berperilaku yang semuanya saling

    berhubungan yaitu pendidikan, agama (kepercayaan), pengaruh lingkungan

    sosial dan sekitarnya, budaya, adat dan juga tradisi.

    Dari uraian tersebut terdapat perbedaan mendasar tentang corak

    pemikiran terhadap tiga tokoh muslim tersebut. Hal ini dikarenakan latar

    belakang pendidikan, keluarga, jaman, lingkungan, tradisi yang berbeda.

    Muhammad Abdul Mannan dilahirkan di Bangladesh, pada tahun 1918. M.A.

    19

    Muhammad Abdul Manan, Ekonomi Islam: Teori dan Praktik diterjemahkan oleh M. Nastangin, dari judul asli Islamic Economy Theory and Practice, (Yogyakarta: PT Dana Bhakti

    Prima Yasa, 1997), h. 15 20

    M. Fahim Khan, An Alternative Approach to Analysis of Consumer Behavior: Need for

    Distinctive “Islamic” Theory, Journal of Islamic Bussiness and Management Vol. 3, No. 2, 2013,

    h. 1.

  • 34

    Mannan menerima gelar master di bidang ekonomi dari universitas Rajashahi

    pada tahun 1960. Kemudian Mannan melanjutkan studinya di Michigan State

    University, Amerika untuk program MA (economics). Setelah mendapatkan

    gelar MA, mannan mengambil program doktor di bidang industri dan

    keuangan pada universitas yang sama.21

    Fahim Khan merupakan pemikir Muslim yang lahir di India pada

    tahun 1946. Beliau merupakan lulusan dari Universitas Punjab, Pakistan pada

    tahun 1968 dalam bidang statistik, Serta memperoleh gelar M.A. pada tahun

    1977 dan juga Ph.D dalam ilmu Ekonomi dari Universitas Boston, USA pada

    tahun 1978.22

    Sedangkan Kahf dilahirkan di Damaskus, Syria, pada tahun 1940.

    Beliau menerima gelar B.A. di bidang Bisnis dari Universitas Damaskus pada

    tahun 1962 serta memperoleh penghargaan langsung dari Presiden Syria

    sebagai lulusan terbaik. Pada tahun 1975, Kahf meraih gelar Ph.D untuk ilmu

    ekonomi spesialisasi ekonomi internasional dari University of Utah, Salt Lake

    City, Amerika Serikat. Selain itu, Kahf juga pernah mengikuti kuliah

    informal yaitu Training and Knowledge of Islamic Jurisprudence (Fiqh) and

    Islamic Studies di Syria. Sejak tahun 1968, beliau telah menjadi akuntan

    publik yang bersertifikat. Pada tahun 2005, Kahf menjadi seorang guru besar

    ekonomi Islam dan perbankan di The Graduate Programe of Islamic

    Economics and Banking, pada Universitas Yarmouk, Yordania.

    21

    https://irham-anas.blogspot.co.id/2011/04/profil-muhammad-abdul-manan.html diakses

    pada 22 oktober 2017. 22

    Isyhar Malija Hakim, Analisis Komparatif Pemikiran Fahim Khan dan Monzer Kahf tentang Perilaku Konsumen, (Semarang: Skripsi Jurusan Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan

    Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Walisongo, 2015).

  • 35

    Perbedaan latar belakang jaman, lingkungan, budaya, pendidikan yang

    ditempuh membuat pemikiran teori konsumsi ketiga tokoh ini sangat berbeda.

    Meskipun terdapat beberapa persamaan, namun jika diteliti lebih jauh akan

    terlihat perbedaan itu. Misalnya saja pada pemikiran Mannan, teori konsumsi

    difokuskan pada pendistribusian kembali kekayaan pada harta yang berlebih.

    Menurut beliau, dengan meningkatkan sadaqah akan menstabilkan konsumsi

    masyarakat terhadap barang mewah. Sedangkan pada pemikiran Fahim Khan,

    lebih difokuskan kepada pembentukan lembaga pengawas untuk mengawasi

    perilaku konsumsi. Berbeda dengan kedua tokoh tersebut, Kahf mengaitkan

    konsumsi dengan rasionalitas perilaku konsumen, konsep barang- barang dan

    norma- norma etik mengenai konsumen Muslim.23

    23

    Monzer Kahf, Ekonomi Islam: Telaah Analitik terhadap Fungsi Sistem Ekonomi Islam,

    diterjemahkan oleh Machnun Husein, dari judul asli The Islamic Economy:Analitical ofthe

    Functioning of the Islamic Economic System, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995), h. 15

  • BAB IV

    TEORI KONSUMSI DALAM PERSPEKTIF MONZER KAHF

    Dalam memberikan pendapatnya tentang teori konsumsi, Monzer Kahf

    mengaitkan dengan tiga unsur pokok yaitu rasionalisme Islam, konsep Islam

    tentang barang dan etika konsumsi dalam Islam.1

    A. Rasionalisme Islam

    Rasional mengandung pengertian tentang keputusan dan tindakan

    yang didasari atas pertimbangan akal budi. Konsep rasionalitas telah

    mengakar kuat sejak masa neo klasik. Gagasan awal konsep ini sebenarnya

    muncul dari Jeremy Bentham, meskipun banyak ekonom menyangkal bahwa

    konsep ini dirujukkan dari ide Adam Smith. Menurut Bentham, tindakan

    rasional manusia adalah pemuasan diri untuk memperoleh kesenangan dan

    menghindari rasa sakit, bukan semata-mata sebagai cara pemenuhan motif

    ekonomi manusia dalam pasar.2

    Rasionalisme adalah salah satu istilah yang paling bebas digunakan

    dalam ekonomi, karena segala sesuatu dapat dirasionalisasikan sekali

    mengacunya kepada beberapa perangkat aksioma yang relevan.3 Pada

    dasarnya konsumsi dibangun atas dua hal yaitu kebutuhan dan kegunaan atau

    1 Monzer Kahf, Ekonomi Islam: Telaah Analitik terhadap Fungsi Sistem Ekonomi Islam,

    diterjemahkan oleh Machnun Husein, dari judul asli The Islamic Economy: Analitical of the

    Fuctioning of the Islamic Economic System, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995), h. 15 2 Laila Imaroh, Rasionalitas dalam Ekonomi Syariah, http://Lhaelyimma-Makalah-

    Rasionalitas-Dalam-Ekonomi-Syariah/24/22/2014.html yang diakses pada tanggal 11 Desember

    2017. 3 Monzer Kahf, Ekonomi Islam, h. 16

  • 37

    kepuasan.4 Dengan berpikir secara rasional, kita harus dapat membedakan

    antara kebutuhan dan hasrat akan suatu barang sehingga kita lebih bijak

    dalam melakukan konsumsi.

    Teori lain yang sependapat dengan teori konsumsi Islam Monzer

    Kahf yakni teori konsumsi Muhammad Nejatullah Siddiqi. Menurut

    Muhammad Nejatullah Siddiqi dalam bukunya, The Economic Enterprise in

    Islam mengingkari koordinasi kegiatan ekonomi yang dilakukan secara tidak

    sadar. Jadi dalam perspektif ekonomi Islam pengertian rasional tidak selalu

    sejalan dengan pengetian secara material.5

    Perilaku konsumsi sejatinya teori yang dikembangkan dari muara

    pemahaman akan rasionalisme ekonomi dan utilitarianisme kapitalis.

    Rasionalisme ekonomi menafsirkan perilaku manusia sebagai sesuatu yang

    dilandasi dengan perhitungan cermat akan arah pandangan kedepan dan

    persiapan akan keberhasilan ekonomi (materil), sedangkan utilitarianisme

    ditafsirkan sebagai sesuatu yang berlandaskan pada nilai dan sikap moral.6

    Terdapat tiga sifat dasar dalam ekonomi, yakni kelengkapan

    (completeness), transivitas (transivity), dan kontinuitas (continuity).7

    Kelengkapan berarti setiap barang yang akan dikonsumsi memiliki

    kelengkapan sesuai dengan kebutuhannya. Misalnya seseorang dihadapkan

    4 Jenita dan Rustam, “Konsep Konsumsi dan Perilaku Konsumsi dalam Islam” dalam

    JEBI (Jurnal Ekonomi dan Bisnis Islam), Volume 2, Nomor 1, Januari-Juni 2017, h. 76 5 Nur Chamid, Jejak-jejak Langkah Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, (Yogyakarta:

    Pustaka Pelajar, 2010), 343. 6 Andi Bahri S, “Etika Konsumsi dalam Perspektif Ekonomi Islam” dalam Hunafa:

    Jurnal Studia Islamika, Vol. 11, No. 2, Desember 2014, h. 350 7 Laila Imaroh, http://Lhaelyimma-Makalah-Rasionalitas-Dalam-Ekonomi-

    Syariah/24/22/2014.html

  • 38

    pada barang A, barang B, dan barang C, maka orang tersebut akan memilih

    barang yang memiliki semua kebutuhannya. Sedangkan transivitas berarti

    orang tersebut bersifat konsisten dalam memilih barang sedangkan

    kontinuitas menyatakan bahwa situasi-situasi yang mendekati pilihan, maka

    situasi tersebut harus pula menjadi prioritas pilihan.

    Dengan demikian rasionalisme sangat dibutuhkan dalam teori

    konsumsi. Dengan pemahaman ini, konsumen akan dapat memilah dan

    memilih mana yang akan menjadi prioritas kebutuhan sehari-hari. Kasus yang

    terjadi saat ini adalah banyak diantara muslim yang mengonsumsi barang

    dengan berlebih, misalnya pada penggunaan tas, sepatu, pakaian, alat

    komunikasi dan barang-barang komplementer lain yang seharusnya bisa

    diminimalisir pemilikannya.

    Unsur-unsur pokok rasionalisme adalah konsep keberhasilan, skala

    waktu perilaku konsumsi, dan konsep harta. Konsep keberhasilan senantiasa

    dikaitkan dengan nilai-nilai moral. Kahf mengutip pendapat M.N Siddiqi

    yang mengatakan bahwa keberhasilan terletak dalam kebaikan. Dengan

    perilaku manusia yang semakin sesuai dengan pembakuan-pembakuan moral

    dan semakin tinggi kebaikannya, maka dia semakin berhasil.8

    Manusia dilahirkan dengan kebutuhan-kebutuhan yang tidak

    terhitung, berusaha memenuhinya adalah wajar. Semakin baik kebutuhan-

    kebutuhan ini dipenuhi, maka semakin baik pulalah dia. Ini dimaksudkan

    ketika kebutuhan dipenuhi dengan cara yang baik maka akan menjamin

    8 Monzer Kahf, Ekonomi Islam, h. 18

  • 39

    kedamaian jiwa, kepuasan dan rasa aman. Dengan demikian upaya untuk

    mendapatkan kemajuan ekonomik bukan kejahatan dalam Islam. Bahkan,

    sebenarnya ia menjadi salah satu kebaikan bila ia diseimbangkan dan

    diniatkan untuk mendapatkan kebaikan.9

    Sebenarnya, Islam banyak memberi kebebasan individual kepada

    manusia dalam hal masalah konsumsi. Mereka bebas membelanjakan harta

    untuk membeli barang-barang yang baik dan halal demi memenuhi keinginan

    mereka dengan ketentuan tidak melanggar batas-batas kesucian. Batasan

    tersebut tidak memberi kebebasan pada kaum muslimin membelanjakan harta

    mereka atas barang-barang yang tidak bermanfaat bagi kesejahteraan

    masyarakat.10

    Dari uaraian tersebut dapat dipahami bahwa Islam memberikan

    kebebasan dalam membelanjakan hartanya. Namun, Islam juga menganjurkan

    selain memenuhi kebutuhan kita juga dianjurkan untuk berbagi dengan orang

    lain. Berbagi adalah salah satu perbuatan baik yang dipandang sebagai suatu

    keberhasilan. Maksudnya seseorang dikatakan berhasil apabila ia mampu

    menerapkan nilai-nilai moral dan berbuat baik pada sesamanya.

    Perbuatan baik tersebut dapat digunakan sebagai sarana untuk lebih

    mengingatkan kita kepada akhirat. Menurut ajaran-ajaran Islam, setiap

    muslim wajib mempergunakan sebagian waktunya untuk mengingat Allah,

    dia harus menyumbangkan sebagian hartanya untuk menyiarkan kebenaran

    9 Ibid, h. 20

    10 Afzalur Rahman, Doktrin Ekonomi Islam Jilid 2, diterjemahkan oleh Nastangin

    Soeroyo, dari judul asli Economic Doctrines of Islam, (Yogyakarta: Dana Bakti Wakaf, 1995), h.

    20

  • 40

    dan amal saleh serta harus selalu memanfaatkan waktu dan usahanya untuk

    meningkatkan kehidupan spiritual, moral, dan ekonomi masyarakat.11

    Dapat dipahami bahwa setiap muslim harus mempergunakan

    waktunya secara imbang untuk kehidupan dunia dan akhirat. Kaitannya

    dengan konsumsi adalah setiap muslim akan menggunakan sebagian

    waktunya untuk mengingat akhirat sehingga dalam bekerja ia akan

    menerapkan nilai-nilai moral dan bijak dalam menggunakan hartanya.

    Semangat Islam dalam kaitannya dengan harta dan pembelanjaannya

    dirangkum dalam dua sabda Nabi Muhammad saw. Berikut ini: Suatu ketika

    Nabi (Muhammad saw.) bertanya kepada para sahabatnya. “kepada siapakan

    di antara kamu harta milik ahli warisnya lebih berharga daripada miliknya

    sendiri?” Mereka menjawab setiap orang menganggap harta miliknya sendiri

    lebih berharga dari milik ahli warisnya.” Kemudian Nabi bersabda “hartamu

    adalah apa yang kamu pergunakan dan harta ahli warismu adalah yang tidak

    kamu pergunakan.

    Tidak ada sedikitpun di antara yang kami punyai (yakni harta dan

    penghasilan) benar-benar jadi milikmu kecuali yang kamu makan dan

    gunakan habis, yang kamu pakai dan kamu tanggalkan, dan yang kamu

    belanjakan untuk kepentingan bersedekah, yang imbalan pahalanya kamu

    simpan untukmu. (HR. Muslim dan Ahmad)

    Inilah komponen-komponen dalam keberadaan perilaku mukmin.

    Kajian terhadap ekonomi menunjukkan bahwa asumsi terhadap motivasi yang

    11

    Monzer Kahf, Ekonomi Islam, h. 21

  • 41

    sekedar materealistik sangat tidak realistik. Namin demikian, faktor-faktor

    non-materealistik dapat disisihkan dari analisis ekonomik dengan maksud

    memisahkan gejala-gejala ekonomiknya. Namun demikian meskipun hal ini

    bisa menyederhanakan persoalannya demi mencapai tujuan kajian, faktor-

    faktor non-material itu seharusnya diintergrasikan kembali dalam tahap

    analisis yang lebih tinggi.12

    Etika ilmu ekonomi Islam berusaha untuk mengurangi kebutuhan

    material yang luar biasa sekarang ini, untuk mengurangi energi manusia

    dalam mengejar cita-cita spiritualnya. Perkembangan batiniah yang bukan

    perluasan lahiriah, telah dijadikan cita-cita tertinggi manusia dalam hidup.

    Tetapi semangat modern dunia barat, sekalipun tidak merendahkan nilai

    kebutuhan akan kesempurnaan batin, namun rupanya telah mengalihkan

    tekanan ke arah perbaikan kondisi-kondisi kehidupan material.13

    Dapat dipahami bahwa setiap harta yang dimiliki oleh seorang

    mukmin bukanlah miliknya sendiri. Di dalam harta itu terdapat hak orang

    lain, misalnya saja ahli waris. Harta kita yang sesungguhnya adalah harta

    yang telah kita gunakan dalam memenuhi kebutuhan konsumsi dan yang kita

    gunakan untuk bersedekah. Untuk mengendalikan konsumsi yang berlebih

    Islam menggunakan prinsip keadilan, prinsip kebersihan, prinsip

    kesederhanaan, prinsip kemurahan hati dan prinsip moralitas.

    12

    Monzer Kahf, Ekonomi Islam, h. 25 13

    Eko Suprayitno, Ekonomi Islam Pendekatan Ekonomi Makro Islam dan Konvensional,

    (Yogyakarta: Graha Ilmu,2005), h. 93

  • 42

    B. Konsep Islam tentang Barang.

    Barang-barang dalam Islam, adalah anugerah-anugerah yang

    diberikan oleh Allah SWT kepada umat manusia. Penelaahan terhadap Al-

    Qur‟an memberikan kepada kita konsep unik tentang berbagai produk dan

    komoditas. Al-Qur‟an senantiasa menyebut barang-barang yang dapat

    dikonsumsi dengan istilah-istilah yang mengaitkan nilai-nilai moral dan

    ideologik terhadap keduanya. Dalam hal ini dua macam istilah yang

    digunakan dalam Al-Qur‟an adalah at-tayyibat dan ar-rizq.14

    Istilah yang pertama, yaitu at-tayyibat, diulang-ulang sebanyak 18

    kali dalam Al-Qur‟an. Dalam menerjemahkan istilah ini kedalam bahasa

    inggris, Yusuf Ali secara bergantian mempergunakan lima macam frasa untuk

    menyatakan nilai-nilai etik dan spiritual terhadap istilah itu. Menurut

    pendapatnya, at-tayyibat berarti barang-barang yang baik, barang-barang

    yang baik dan suci, barang-barang yang bersih dan suci, hal-hal yang baik

    dan indah, dan makanan diantara yang terbaik.

    Dengan demikian barang-barang konsumsi terikat erat dengan nilai-

    nilai dalam Islam, dengan menunjukkan nilai-nilai kebaikan, kesucian dan

    keindahan. Sebaliknya benda-benda yang buruk, tidak suci (najis) dan tidak

    bernilai tidak dapat digunakan dan juga tidak dapat dianggap sebagai barang-

    barang konsumsi dalam Islam.15

    Istilah yang kedua, yaitu ar-rizq, dan kata-kata turunnya diulang-

    ulang dalam Al-Qur‟an sebanyak 120 kali. Dalam terjemahan Al-Qur‟an

    14

    Monzer Kahf, Ekonomi Islam, h. 25 15

    Ibid.

  • 43

    Yusuf Ali kata ar-rizq digunakan untuk menunjukkan beberapa makna yaitu

    makanan dari Tuhan, pemberian Tuhan, bekal dari Tuhan dan anugera-

    anugerah dari langit. Semua makna ini menunjukkan konotasi bahwa Allah

    adalah pemberi rahmat yang sebenarnya dan pemasok kebutuhan semua

    makhluk.16

    Dari kedua istilah tersebut, dapat diartikan bahwa dalam konsep

    Islam barang-barang konsumen adalah bahan-bahan konsumsi yang berguna

    dan baik yang manfaatnya menimbulkan perbaikan secara material, moral

    maupun spiritual pada konsumennya. Barang-barang yang tidak memiliki

    kebaikan dan tidak membantu meningkatkan manusia, menurut konsep Islam,

    bukan barang dan juga tidak dapat dianggap sebagai milik atau aset umat

    muslim. Karena itu barang-barang yang terlarang tidak dianggap sebagai

    barang dalam Islam.

    Didalam menghalalkan dan mengharamkan suatu barang selalu

    mempertimbangkan kemaslahatan dan kemudharatan. Segala yang

    diharamkan pastilah mengandung seratus persen bahaya atau memuat unsur-

    bahaya yang dominan. Syarat suatu barang (pangan atau barang) dikatakan

    halal adalah: 1) tidak terdiri dari atau mengandung bagian atau benda

    binatang yang dilarang dan binatang yang tidak disembelih sesuai ajaran

    islam, 2) tidak mengandung najis, 3) dalam proses penyimpanan dan

    menghidangkan tidak bersentuhan dengan makanan yang haram.

    16

    Ibid, h. 26

  • 44

    C. Etika Konsumsi dalam Islam

    Menurut Islam, anugerah-anugerah Allah itu milik semua manusia

    dan suasana yang menyebabkan sebagian diantara anugerah-anugerah itu

    berada di tangan orang-orang tertentu. Namun, tidak berarti mereka dapat

    memanfaatkannya untuk mereka sendiri, sedangkan orang lain tidak memiliki

    bagiannya. Karena itu,banyak diantara anugerah-anugerah yang diberikan

    kepada umat manusia itu masih berhak mereka miliki walaupun mereka tidak

    memperolehnya.17

    Hal ini seiring dengan firman Allah dalam QS. Al-Baqarah

    Artinya:

    261. Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang

    menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang

    menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat

    gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. dan Allah Maha luas

    (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.

    262. Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, Kemudian

    mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-

    nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima),

    mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. tidak ada kekhawatiran

    terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.18

    17

    Euis Amalia, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam Dari Masa Klasik Hingga

    Kontemporer, (Depok: Gramata Publishing, 2010), h. 311 18

    QS. Al-Baqarah (2): 261-262

  • 45

    Dapat dipahami bahwa setiap harta yang kita peroleh didalamnya

    terdapat hak-hak orang yang kurang mampu. Islam mewajibkan kepada

    pemilik harta agar menafkahkan sebagian hartanya untuk kepentingan diri,

    keluarga, dan fi sabililah.

    Ekonomi dan harta kekayaan (al-Mal) itu antara lain dengan jalan

    yang serba halalan tayyiban, baik dalam hal produksi dan distribusi, maupun

    dalam memperoleh dan mengonsumsi. Mengonsumsi barang dan jasa yang

    halal merupakan syarat utama bagi kehidupan manusia Muslim yang

    menghendaki kehidupan yang baik.

    Artinya: dan Kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu

    surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana

    saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang

    menyebabkan kamu Termasuk orang-orang yang zalim”.19

    Artinya: Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang

    terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan;

    karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. 20

    19

    QS.al-Baqarah (2): 35 20

    QS.Al-Baqarah (2): 168

  • 46

    Karena itu, orang mukmin berusaha mencari kenikmatan dengan

    menaati perintah-perintah-Nya dengan memuaskan dirinya sendiri dengan

    barang-barang dan anugerah-anugerah yang dicipta (Allah) untuk umat

    manusia. Konsumsi dan pemuasan tidak dikutuk dalam Islam selama

    keduanya tidak melibatkan hal-hal yang tidak baik atau merusak.21

    Hal senada juga diungkapkan oleh Vinna Sri Yuniarti dalam

    bukunya Ekonomi Mikro Syariah. Menurutnya, setiap mukmin berusaha

    mencari kenikmatan dengan cara mematuhi perintah-Nya dan menggunakan

    barang-barang dan anugerah yang diciptakan (Allah) untuk umat manusia

    demi kemaslahatan umat. Akan tetapi, sebagian orang berpendapat bahwa

    harta kepunyaannya adalah mutlak miliknya. Tidak ada orang yang boleh

    menikmatinya. Allah Swt. mengutuk dan membatalkan argumen yang

    dikemukakan oleh orang kaya yang kikir karena tidak ada kesediaan

    memberikan bagian atau miliknya ini.22

    Artinya: “Dan apabila dikatakan kepada mereka, “infakkanlah sebagian

    rezeki yang diberikan Allah kepadamu,” orang-orang yang kafir itu berkata,

    “Apakah pantas kami memberi makanan kepada orang-orang yang jika Allah

    menghendaki dia akan memberinya makan?” kamu benar-benar dalam

    kesesatan yang nyata.”23

    21

    Monzer Kahf, Ekonomi Islam, h.28 22

    Vinna Sri Yuniarti, Ekonomi Mikro Syariah, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2016), h. 85 23

    QS. Yaasin (36): 47

  • 47

    Islam menganjurkan umatnya untuk membeli barang-barang yang

    baik dan halal dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, dengan ketentuan tidak

    melanggar batas-batas yang suci serta tidak mendatangkan bahaya terhadap

    keamanan dan kesejahteraan orang lain. Islam menutup semua jalan bagi

    manusia untuk membelanjakan harta yang mengakibatkan kerusakan akhlak

    di tengah masyarakat, seperti judi yang memperturutkan hawa nafsu.24

    Menurut Kahf, konsumsi berlebih-lebihan, yang merupakan ciri khas

    masyarakat yang tidak mengenal Tuhan, dikutuk dalam Islam dan disebut

    dengan istilah israf (pemborosan) atau tabzir (menghambur-hamburkan harta

    tanpa guna). Pemborosan berarti penggunaan harta secara berlebih-lebihan

    untuk hal-hal yang melanggar hukum dalam hal seperti makanan, pakaian,

    tempat tinggal atau bahkan sedekah. Ajaran-ajaran Islam menganjurkan pola

    konsumsi dan penggunaan harta secara wajar dan berimbang, yakni pola yang

    terletak diantara kekikiran dan pemborosan. Konsumsi diatas dan melampaui

    tingkat moderat (wajar) dianggap israf dan tidak disenangi Islam. 25

    Hal ini

    dipertegas pula oleh pendapat Yusuf Qardhawi bahwa memboros-boroskan

    harta sangat dilarang kecuali untuk sesuatu yang bermanfaat.26

    Artinya:

    24

    Vinna Sri Yuniarti, Ekonomi Mikro, h. 85 25

    Monzer Kahf, Ekonomi Islam, h. 28 26

    Yusuf Qardhawi, Norma dan Etika Ekonomi Islam, diterjemahkan oleh Zainal Arifin

    dan Dahlia Husin dari judul asli Darul Qiyam wal Ahlaq fil Iqtishadil Islami, (Jakarta: Gema

    Insani Press,1997), h. 137

  • 48

    26. Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya,

    kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu

    menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.

    27. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah Saudara-saudara syaitan

    dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.27

    Kemudian Amin Suma juga menjelaskan tentang larangan boros.

    Menurut beliau larangan boros merupakan sifat yang hanya menuruti hawa

    nafsu untuk bermewah-mewahan dan tidak bermanfaat.28

    Dari beberapa

    pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa Islam tidak menyenangi

    pemborosan yang tidak bermanfaat karena pemborosan adalah sifat yang

    tidak mengenal Tuhan.

    Hal ini juga dipertegas dalam firman Allah pada QS. Al-A‟raf (7):31

    Artinya: “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah disetiap

    (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan,

    sesungguhnya Allah tidak menyukai yang berlebih-lebihan.”29

    Pelarangan sikap boros juga dikatakan oleh Afzalur Rahman.

    Menurutnya agar pemborosan kekayaan terkontrol, Islam melarang umat

    untuk memberikan atau mensedekahkan harta benda mereka kepada orang-

    orang yang belum sempurna berakal dan belum dewasa.30

    Dari uraian di atas, sudah jelas bahwa Islam menganjurkan untuk

    memakai pakaian yang indah dan malarang konsumsi suatu barang yang

    27

    QS. Al-Israa: 26-27 28

    Amin Suma, Ekonomi dan Keuangan Islam, (Ciputat: Kholam Publishing, 2008), h 327 29

    QS. Al-A‟raf (7): 31 30

    Afzalur Rahman, Doktrim Ekonomi, h. 24

  • 49

    berlebihan. Pemborosan juga dapat dihindari apabila kita memberikan

    sedekah pada orang yang tepat, yaitu orang yang berakal sempurna dan sudah

    dewasa.

    Dalam ekonomi Islam, konsumsi dikendalikan oleh lima prinsip

    dasar yaitu, prinsip keadilan, prinsip kebersihan, prinsip kesederhanaan,

    prinsip kemurahan hati dan prinsip moralitas.31

    Syarat pertama adalah prinsip

    keadilan. Syarat ini mengandung arti ganda yang penting mengenai mencari

    rezeki secara halal dan tidak dilarang hukum.dalam soal makanan dan

    minuman, yang terlarang adalah darah, daging binatang yang telah mati

    sendiri, daging babi, daging binatang yang ketika disembelih diserukan nama

    selain Allah.32

    Artinya:

    173. Sesungguhnya Allah Hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah,

    daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain

    Allah. tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia

    tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka tidak ada

    dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha

    Penyayang.33

    Tiga golongan pertama dilarang karena hewan-hewan ini berbahaya

    bagi tubuh sebab yang berbahaya bagi tubuh tentu berbahaya pula bagi jiwa.

    Larangan terakhir berkaitan dengan segala sesuatu yang langsung

    membahayakan moral dan spiritual, karena seolah-olah ini sama dengan