Buletin Sastra Lembah Kelelawar #3 (Hitam Bukan Berarti Penganut Setan)

of 24/24
  • date post

    17-Mar-2016
  • Category

    Documents

  • view

    229
  • download

    5

Embed Size (px)

description

http://lembahkelelawarsastra.blogspot.com/

Transcript of Buletin Sastra Lembah Kelelawar #3 (Hitam Bukan Berarti Penganut Setan)

  • Edisi 3/ April 2010

    [Hitam Bukan Berarti Penganut Setan]

  • Kali ini kemajuan teknologi telah meremas-

    remas pemikiran. Segala hal telah disuguh-

    kan secara instan. Sajian telah tercipta manis

    dalam kemasan yang beraneka warna dan

    beraneka rupa. Bermacam wujud dan bentuk-

    nya. Ada kemasan berbentuk kaleng sekali

    pakai langsung lempar, ada kemasan plastik

    sekali pakai langsung bakar, dan ada juga

    kemasan elastis sekali pasang satu klimaks

    langsung buang. Karena kali ini kita telah

    dihadapkan pada jaman kemasan. Dari

    segala yang berwujud dan akan bergegas

    hilang hanya lewat satu kepulan (baca: asap).

    Parahnya lagi, budaya kemasan pesan skripsi

    pun telah ikut-ikutan mengakar pada kalangan

    mahasiswa. Banyak terpampang pada pohon-

    pohon di jalanan, Skripsi, hubungi nomor ini

    085 xxx xxx xxx.

    Apakah kehidupan semudah itu? Kalau begitu,

    apa arti proses?

    Semua telah tergantung dan beralih fungsi.

    Dari generasi kutu buku menjadi generasi

    nggoogle yang sekali klik langsung beribu

    informasi terkantongi. Dari generasi surat

    pos disulap menjadi generasi update status

    facebook. Ibaratnya, kali ini tak lagi ada

    perenungan mendalam untuk segala bentuk

    penemuan. Semua ingin lansung, singkat

    dan cepat (baca: pesan pendek/ sms).

    Rasanya kita menjadi malas untuk berprosa.

    Tak lagi ada narasi yang tepat untuk mengung-

    kap perihal dalam sebuah penemuan. Jarang

    kita temukan salam pembuka, isi dan penutup.

    Tinggal ketik sms, ketemuan, langsung deh

    masuk kamar. Instan bukan?

    Jadi tak perlu repot-repot untuk memulai

    dengan berpuisi. Apa lagi berprosa/ men-

    cipta cerpen untuk melumpuhkan pacar.

    Tak lagi ada basa-basi. Jarang kita jumpai

    pertemuan kedua belah keluarga, apalagi

    ritual 'melamar'. Yang ada: ketemuan,

    lansung kunci pintu, lepas selimut dan tiga

    bulan kemudian telat deh.

    Maka jangan heran bila tak lagi ada per-

    jalanan diksi dalam proses penemuan

    keutuhan ungkap. Kali ini tradisi berprosa

    telah terpasung mati dan mendinosaurus.

    Semua ingin segala sesuatu menjadi cepat-

    cepat dan singkat. Maka jangan heran juga

    bila akan banyak kita jumpai orang tergeletak

    mati mendadak karena stroke.

    Mau bagaimana lagi?

    Sukses saja diperoleh dengan cara instan,

    jadi jangan kaget dong bila jatuh dengan

    jalan instan juga Hahaha. [red/ ka]

    Peringatan Lembah Kelelawar:

    Hura-hura Untuk Berkarya,

    Bukan Berkarya Untuk Hura-hura

    hanya secangkir kopi tanpa gula dan puisi

    ibu,

    jangan kau peluk aku dengan air matamu

    mendiamkan aku dengan bimbangmu

    lihatlah awan putih itu

    menggantung di sana doa-doamu

    yang kau kirim dari panci-panci yang tak lagi berisi

    kompor yang tak lagi berapi

    bakul yang tak lagi bernasi

    adakah Tuhan kirimkan pagi ini

    sarapan pagi meski hanya secangkir kopi

    tanpa gula dan puisi

    agar aku tak kantuk lagi

    ketika pak guru memintaku berdiri

    karena aku lupa mengerjakan tugas hari ini

    maret 2006

    sepotong senyum milik pak tua

    pak tua yang kupuja

    adalah pak tua yang selalu kutemu di sudut sana

    baju yang sama, senyum yang sama

    menyapaku dengan keramahan seorang tua

    belajar yang rajin ya, biar jadi orang kaya, katanya

    pernah suatu hari kubertanya

    mengapa pak tua selalu membagi senyumnya

    sedang tetangga sebelah yang punya harta berlimpah

    tak lagi bisa tersenyum ramah

    katanya, 'hanya senyum yang kupunya'

    pak tua yang aku puja

    tak lagi kutemu di sudut sana

    sebab dia telah berpulang kepadanya

    tapi senyumnya yang aku puja

    telah menjadikanku orang kaya

    seperti yang dia minta

    maret 2006

    :Beliau kini menyumbangkan ilmunya

    sebagai pengajar tetap di SMP N 20

    Semarang.

  • Kali ini kemajuan teknologi telah meremas-

    remas pemikiran. Segala hal telah disuguh-

    kan secara instan. Sajian telah tercipta manis

    dalam kemasan yang beraneka warna dan

    beraneka rupa. Bermacam wujud dan bentuk-

    nya. Ada kemasan berbentuk kaleng sekali

    pakai langsung lempar, ada kemasan plastik

    sekali pakai langsung bakar, dan ada juga

    kemasan elastis sekali pasang satu klimaks

    langsung buang. Karena kali ini kita telah

    dihadapkan pada jaman kemasan. Dari

    segala yang berwujud dan akan bergegas

    hilang hanya lewat satu kepulan (baca: asap).

    Parahnya lagi, budaya kemasan pesan skripsi

    pun telah ikut-ikutan mengakar pada kalangan

    mahasiswa. Banyak terpampang pada pohon-

    pohon di jalanan, Skripsi, hubungi nomor ini

    085 xxx xxx xxx.

    Apakah kehidupan semudah itu? Kalau begitu,

    apa arti proses?

    Semua telah tergantung dan beralih fungsi.

    Dari generasi kutu buku menjadi generasi

    nggoogle yang sekali klik langsung beribu

    informasi terkantongi. Dari generasi surat

    pos disulap menjadi generasi update status

    facebook. Ibaratnya, kali ini tak lagi ada

    perenungan mendalam untuk segala bentuk

    penemuan. Semua ingin lansung, singkat

    dan cepat (baca: pesan pendek/ sms).

    Rasanya kita menjadi malas untuk berprosa.

    Tak lagi ada narasi yang tepat untuk mengung-

    kap perihal dalam sebuah penemuan. Jarang

    kita temukan salam pembuka, isi dan penutup.

    Tinggal ketik sms, ketemuan, langsung deh

    masuk kamar. Instan bukan?

    Jadi tak perlu repot-repot untuk memulai

    dengan berpuisi. Apa lagi berprosa/ men-

    cipta cerpen untuk melumpuhkan pacar.

    Tak lagi ada basa-basi. Jarang kita jumpai

    pertemuan kedua belah keluarga, apalagi

    ritual 'melamar'. Yang ada: ketemuan,

    lansung kunci pintu, lepas selimut dan tiga

    bulan kemudian telat deh.

    Maka jangan heran bila tak lagi ada per-

    jalanan diksi dalam proses penemuan

    keutuhan ungkap. Kali ini tradisi berprosa

    telah terpasung mati dan mendinosaurus.

    Semua ingin segala sesuatu menjadi cepat-

    cepat dan singkat. Maka jangan heran juga

    bila akan banyak kita jumpai orang tergeletak

    mati mendadak karena stroke.

    Mau bagaimana lagi?

    Sukses saja diperoleh dengan cara instan,

    jadi jangan kaget dong bila jatuh dengan

    jalan instan juga Hahaha. [red/ ka]

    Peringatan Lembah Kelelawar:

    Hura-hura Untuk Berkarya,

    Bukan Berkarya Untuk Hura-hura

    hanya secangkir kopi tanpa gula dan puisi

    ibu,

    jangan kau peluk aku dengan air matamu

    mendiamkan aku dengan bimbangmu

    lihatlah awan putih itu

    menggantung di sana doa-doamu

    yang kau kirim dari panci-panci yang tak lagi berisi

    kompor yang tak lagi berapi

    bakul yang tak lagi bernasi

    adakah Tuhan kirimkan pagi ini

    sarapan pagi meski hanya secangkir kopi

    tanpa gula dan puisi

    agar aku tak kantuk lagi

    ketika pak guru memintaku berdiri

    karena aku lupa mengerjakan tugas hari ini

    maret 2006

    sepotong senyum milik pak tua

    pak tua yang kupuja

    adalah pak tua yang selalu kutemu di sudut sana

    baju yang sama, senyum yang sama

    menyapaku dengan keramahan seorang tua

    belajar yang rajin ya, biar jadi orang kaya, katanya

    pernah suatu hari kubertanya

    mengapa pak tua selalu membagi senyumnya

    sedang tetangga sebelah yang punya harta berlimpah

    tak lagi bisa tersenyum ramah

    katanya, 'hanya senyum yang kupunya'

    pak tua yang aku puja

    tak lagi kutemu di sudut sana

    sebab dia telah berpulang kepadanya

    tapi senyumnya yang aku puja

    telah menjadikanku orang kaya

    seperti yang dia minta

    maret 2006

    :Beliau kini menyumbangkan ilmunya

    sebagai pengajar tetap di SMP N 20

    Semarang.

  • Putra Mahkota Von Masoch

    Maka maki dan ludahi saja diriku yang telah meruntuhkan langit hijaumu. Padaku bergulung

    kesia-siaan yang akan melumatmu jika kau biarkan dirimu mendekat. Dan rapalkan kalimat

    kalimat yang tak ingin kau ingat. Dan kirimkan segala mala pada tiap garis wajahku, tiap

    lekuk tubuhku; serpihan serpihan yang selalu membuatmu ragu untuk dekat atau lewat.

    Padaku sesungguhnya berdiam kerinduan samudra pada tanah tanah basah dan lentik

    jemari bunda. Cinta yang lekat dikulitku adalah patahan patahan angin pantai; asin dan

    likat. Yang kau perlu hanya sekedar membesihkan diri. Kemballi ke rumah dan biarkan

    kamar mandi menyelesaikan semuanya. Sederhana.

    Tapi tentu kau tahu menjadi sederhana adalah tak sederhana. Maka kau pun kembali

    mengotori merah ranum payudaramu dengan tetesan tetesan liurku yang menjijikkan.

    Seperti ketika tengah malam kau terbangun dan menemukan kecoak merayap mantap

    di wastafel rumahmu.

    Ah, sesungguhnya cinta tak pernah salah memilih tempat jatuh. Kita pun telah mengatasi

    bentangan rintangan yang datang bersamanya. Mungkin kita, ah, tentu aku saja, yang salah

    mengambil dan menggunakannya. Dan kita pun terusir dari surga. Meski sekuat tenaga kita

    bertahan, sabda telah jatuh dan kita tak akan kuasa.

    Aku memang lelaki durhaka. Dan akhirnya kau harus ikut merasakan tuba dari torehan

    torehan khianat yang kucipta sendiri. Pada tubuhkulah berumah segala penyakit dan

    kesakitan. Dan aku rindu menjadi putra mahkota Von Masoch yang jelita. Maka tak

    perlu kau korbankan tubuh pualammu di altar persembahan de Sade.

    Aku sekedar tak sengaja menemunaiki kereta kuda sebelum memutuskan maju ke medan

    laga. Kemenanganan yang kudapatkan hanyalah lorong lorong gelap labirin pengap ciptaan

    lelaki tua yang sadar di ujung jidatnya malaikat melayang-layang hendak menyudahi dunia.

    Ya, labirin yang sangat sulit dan rumit bahkan jika kau bandingkan dengan labirin Daedalus

    di Kreta. Dengan apa pula kuciptakan sebelah sayap tanpamu?

    Kembalilah, karena malam ini jendela terbuka dan telah dibisikkan namaku menjadi putra

    mahkota Von Masoch yang jelita. Aku tak akan perlu siapa siapa untuk di sakiti, apalagi kau,

    kekasihku yang surga. Aku akan selalu mencintaimu, dan kupuja kau di lorong lorong yang

    gulita. Simpan saja diingatanmu: ketika kau mendengar lolongan serupa serigala, dengan

    beban berjuta derita, itulah saat ketika aku sungguh merindukanmu.

    241209

    12.54

    di gigir september 10 September 2009 jam 18:38

    ternyata tiap garis tangan kita

    menyimpan arah yang berbeda

    dan langkah kita menyampaikan

    jejak kepulangannya sendiri

    sendiri

    jengkal jarak ternyata punya engah yang beda juga

    hingga aku gagap menangkap nafasmu

    yang jatuh di tepian kuku

    aku gemetar menapaki gigir september

    yang membentang sepanjang kulitmu

    meraba betapa licinnya cuaca

    dan sepinya perak purnama

    aku berputar mengukur jejak jejak kita

    curiga jatuh bersama gerimis renta

    lalu semuanya tak ada

    tak ada.

    080909

    01.56

    beringin kupu kupu 27 Oktober 2009 jam 18:35

    serupa beringin di alun alun kota

    padanya dititipkan segala suka

    juga luka

    bersama dedaunan wajah wajah jatuh

    tanggal tanggal menua

    gerimis serasa tangis di muka jendela

    merupalah beringin di alun alun kota

    menjengkali langit

    dan menjaga rindu yang di tanam orang orang

    arah jalan cuma bayang bayang suram

    kita tetak dengan pisau lipat yang tumbuh di balik matamu

    lalu larungkan kata kata yang sempat terlupa

    di bawah lampu yang muram

    kaulah beringin

    ditumbuhi kupu kupu

    271009

  • Putra Mahkota Von Masoch

    Maka maki dan ludahi saja diriku yang telah meruntuhkan langit hijaumu. Padaku bergulung

    kesia-siaan yang akan melumatmu jika kau biarkan dirimu mendekat. Dan rapalkan kalimat

    kalimat yang tak ingin kau ingat. Dan kirimkan segala mala pada tiap garis wajahku, tiap

    lekuk tubuhku; serpihan serpihan yang selalu membuatmu ragu untuk dekat atau lewat.

    Padaku sesungguhnya berdiam kerinduan samudra pada tanah tanah basah dan lentik

    jemari bunda. Cinta yang lekat dikulitku adalah patahan patahan angin pantai; asin dan

    likat. Yang kau perlu hanya sekedar membesihkan diri. Kemballi ke rumah dan biarkan

    kamar mandi menyelesaikan semuanya. Sederhana.

    Tapi tentu kau tahu menjadi sederhana adalah tak sederhana. Maka kau pun kembali

    mengotori merah ranum payudaramu dengan tetesan tetesan liurku yang menjijikkan.

    Seperti ketika tengah malam kau terbangun dan menemukan kecoak merayap mantap

    di wastafel rumahmu.

    Ah, sesungguhnya cinta tak pernah salah memilih tempat jatuh. Kita pun telah mengatasi

    bentangan rintangan yang datang bersamanya. Mungkin kita, ah, tentu aku saja, yang salah

    mengambil dan menggunakannya. Dan kita pun terusir dari surga. Meski sekuat tenaga kita

    bertahan, sabda telah jatuh dan kita tak akan kuasa.

    Aku memang lelaki durhaka. Dan akhirnya kau harus ikut merasakan tuba dari torehan

    torehan khianat yang kucipta sendiri. Pada tubuhkulah berumah segala penyakit dan

    kesakitan. Dan aku rindu menjadi putra mahkota Von Masoch yang jelita. Maka tak

    perlu kau korbankan tubuh pualammu di altar persembahan de Sade.

    Aku sekedar tak sengaja menemunaiki kereta kuda sebelum memutuskan maju ke medan

    laga. Kemenanganan yang kudapatkan hanyalah lorong lorong gelap labirin pengap ciptaan

    lelaki tua yang sadar di ujung jidatnya malaikat melayang-layang hendak menyudahi dunia.

    Ya, labirin yang sangat sulit dan rumit bahkan jika kau bandingkan dengan labirin Daedalus

    di Kreta. Dengan apa pula kuciptakan sebelah sayap tanpamu?

    Kembalilah, karena malam ini jendela terbuka dan telah dibisikkan namaku menjadi putra

    mahkota Von Masoch yang jelita. Aku tak akan perlu siapa siapa untuk di sakiti, apalagi kau,

    kekasihku yang surga. Aku akan selalu mencintaimu, dan kupuja kau di lorong lorong yang

    gulita. Simpan saja diingatanmu: ketika kau mendengar lolongan serupa serigala, dengan

    beban berjuta derita, itulah saat ketika aku sungguh merindukanmu.

    241209

    12.54

    di gigir september 10 September 2009 jam 18:38

    ternyata tiap garis tangan kita

    menyimpan arah yang berbeda

    dan langkah kita menyampaikan

    jejak kepulangannya sendiri

    sendiri

    jengkal jarak ternyata punya engah yang beda juga

    hingga aku gagap menangkap nafasmu

    yang jatuh di tepian kuku

    aku gemetar menapaki gigir september

    yang membentang sepanjang kulitmu

    meraba betapa licinnya cuaca

    dan sepinya perak purnama

    aku berputar mengukur jejak jejak kita

    curiga jatuh bersama gerimis renta

    lalu semuanya tak ada

    tak ada.

    080909

    01.56

    beringin kupu kupu 27 Oktober 2009 jam 18:35

    serupa beringin di alun alun kota

    padanya dititipkan segala suka

    juga luka

    bersama dedaunan wajah wajah jatuh

    tanggal tanggal menua

    gerimis serasa tangis di muka jendela

    merupalah beringin di alun alun kota

    menjengkali langit

    dan menjaga rindu yang di tanam orang orang

    arah jalan cuma bayang bayang suram

    kita tetak dengan pisau lipat yang tumbuh di balik matamu

    lalu larungkan kata kata yang sempat terlupa

    di bawah lampu yang muram

    kaulah beringin

    ditumbuhi kupu kupu

    271009

  • di windu jenar

    di windu jenar

    segalanya tampak usang

    seperti topengtopeng lawas

    yang terpampang sambil dipaksa tersenyum

    juga seperti ibuku yang malas

    menanam album foto di jantung kami

    kita tak seperti windu jenar

    yang hanya menjual album foto lawas! katanya

    di windu jenar

    sebuah guci antik yang menyimpan langkah

    pecah di dadaku

    mengajakku menikmati gerimis di city walk

    dengan segelas laju kereta yang bisu

    lalu perlahan melupakan album foto lawas

    yang dihujat ibuku

    solo, 14 maret 2010

    fragmen kursi tunggu

    ketika ia kembali pergi

    bergegas mencari kenangan

    lampulampu di taman mengantarnya

    menuju banyak arah

    sedikit saja aku bersuara

    membaca setiap fragmen kursi tunggu

    dengan suara lantang

    ia tak kan kembali lagi

    ia selalu bercerita kepadaku

    : sepi adalah rindu tak terbaca

    dan kita selalu menginginkannya

    terhidang di meja makan

    Bhre Wijaya

    Lahir di Karanganyar, 1 Maret 1989.

    Aktif dalam Teater Tesa Fakultas Sastra

    dan Seni Rupa UNS, Teater Nglilir Karanganyar,

    Kelompok Bandul Nusantara

    Segala hal yang berkenaan

    dengan rencana antologi

    puisi sedang kami masak

    secara intensif di dapur

    lembah kelelawar.

    [Gambar Cover: Charier]

  • di windu jenar

    di windu jenar

    segalanya tampak usang

    seperti topengtopeng lawas

    yang terpampang sambil dipaksa tersenyum

    juga seperti ibuku yang malas

    menanam album foto di jantung kami

    kita tak seperti windu jenar

    yang hanya menjual album foto lawas! katanya

    di windu jenar

    sebuah guci antik yang menyimpan langkah

    pecah di dadaku

    mengajakku menikmati gerimis di city walk

    dengan segelas laju kereta yang bisu

    lalu perlahan melupakan album foto lawas

    yang dihujat ibuku

    solo, 14 maret 2010

    fragmen kursi tunggu

    ketika ia kembali pergi

    bergegas mencari kenangan

    lampulampu di taman mengantarnya

    menuju banyak arah

    sedikit saja aku bersuara

    membaca setiap fragmen kursi tunggu

    dengan suara lantang

    ia tak kan kembali lagi

    ia selalu bercerita kepadaku

    : sepi adalah rindu tak terbaca

    dan kita selalu menginginkannya

    terhidang di meja makan

    Bhre Wijaya

    Lahir di Karanganyar, 1 Maret 1989.

    Aktif dalam Teater Tesa Fakultas Sastra

    dan Seni Rupa UNS, Teater Nglilir Karanganyar,

    Kelompok Bandul Nusantara

    Segala hal yang berkenaan

    dengan rencana antologi

    puisi sedang kami masak

    secara intensif di dapur

    lembah kelelawar.

    [Gambar Cover: Charier]

  • PERPUSTAKAAN TERBUKA

    Membaca. Adalah hal mudah, karena sejak kecil kita diajari.

    Dan ketika kita memasuki dunia pendidikan, kita tidak pernah

    seharipun melepas buku bacaan, karena memang harus begitu.

    Membaca membuka jendela dunia, mungkin petuah itu sering

    kita dengar dari bapak atau ibu guru, dan karena betapa luasnya

    dunia, maka intiplah dulu lewat jendela biar tidak kaget.

    Anak TK diajari membaca kata kuda,- bebek,-kursi, anak SD

    diajari membaca kalimat ini bapak budi, budi sedang bermain

    bola , anak SMP mulai diajari membaca berparagraf, anak SMA

    sudah mulai membaca buku, mahasiswa diajari mambaca apa ?

    dan kalau siswa tidak pernah seharipun melepas buku bacaan,

    maka kita, mahasiswa, apa mau disamakan dengan siswa TK,

    SD, SMP dan SMA, atau bahkan apa mau kalah dengan mereka?

    tentu tidak mau bukan ?

    Di awal telah saya sebut, membaca adalah hal mudah, semudah

    apakah ? tentu saudara tahu bahwa membaca lebih mudah

    dilakukan dari tidur,

    Dalam Catatan Pinggir, Goenawan Mohamad pernah bertutur jika Thomas Alfa Edison

    kecil pernah mengerami telur ayam. Melihat kelakuan sang anak, Ibunya pun kaget. Tapi, itu

    lah yang terjadi, Edison kecil menduga bahwa telur menetas karena suhu yang hangat. Ia ingin

    tahu benarkah dugaannya itu. Ia pun mencoba.

    Ibu Edison yang miskin dan suaminya yang galak dan

    tak acuh ternyata tidak menghalangi apa yang hendak di-

    perbuat sang anak. Edison kecil

    cuma bersekolah tiga bulan lalu

    pada umur

    12 tahun

    Ia juga harus

    cari makan. Tapi,

    sang ibu telah menanamkan

    rasa ingin tahu dan semangat

    yang tak kunjung habis buat ber-

    eksperimen dalam diri Edison.

    Itu saja belum cukup rupa-

    nya. Edison ternyata kemudian

    berhasil melahirkan 1.093 ba-

    rang baru buat orang se-

    zamannya, dan tersohor sebelum

    usianya sampai 35 tahun. Lalu,

    kita pun bertanya, apa jadinya

    seandainya Edison jadi murid sebuah

    sekolah -- institusi yang bisa cuma sibuk dengan

    tata tertib, lembaga yang bisa hanya sekadar me-

    ngurus disiplin dan mendaftar prestasi. Jawabnya,

    barangkali, si anak akan menghargai kekuasaan

    lebih dari menghargai semangat ilmu.

    Memang, dalam hidupnya Edison, bukanlah

    seorang ilmuwan. Dia teknikus. Dia bukan seorang

    jenius yang menemukan teori, yang menyelidik ke

    alam kenyataan dengan sikap seperti seorang

    Einstein. Tapi ada persamaan antara seorang

    penemu alat-alat dan seorang penyusun konsep-

    konsep fisika. Mereka bermula dari kebebasan

    jiwa, dan berlanjut dalam kreasi. Keduanya me-

    nolak pengekangan. Keduanya melintasi tabu.

    Seperti itulah kiranya berkarya. Dalam hal ini,

    menulis. Entah apapun, baik sastra maupun

    non-sastra. Baik puisi, cerpen, novel atau esai

    sekalipun. Semua perlu kerja keras. Semua perlu

    keuletan dan ketekunan. Atau katakanlah berdarah-

    darah atau nggetih dalam satu visi

    menuju kualitas tulisan yang baik.

    Secara umum, banyak buku-

    buku yang "menyengat" keterampilan

    kita perihal proses kreatif. Jika kita

    baca tuntas, cukuplah mungkin buku-

    buku "how to" itu membakar adrenalin

    kita untuk menulis dengan tips-tips

    ringan dan menyehatkan. Namun,

    sesungguhnya proses itu tidak sese-

    derhana yang ditawarkan di dalam-

    nya. Banyak hal yang patut diperhi-

    tungkan dengan matang dan sadar

    diri jika suatu proses kreatif yang

    dilematis itu tak segampang yang di-

    bayangkan.

    Pertanyaan yang muncul ke-

    mudian: apa makna dan mengapa

    proses kreatif jadi begitu sulit diwu-

    judkan? Mengapa pula ia membutuh-

    kan keberanian yang besar? Bukan-

    kah itu semata soal menjernihkan

    serapan mata dan pikiran atas seke-

    rumun ingatan, simbol dan mitos

    yang tak bernyawa? Betapa kita

    dihadapkan dengan gelimang teka-

    teki yang mustahil dapat dipecahkan.

    Oleh Heri CS

  • PERPUSTAKAAN TERBUKA

    Membaca. Adalah hal mudah, karena sejak kecil kita diajari.

    Dan ketika kita memasuki dunia pendidikan, kita tidak pernah

    seharipun melepas buku bacaan, karena memang harus begitu.

    Membaca membuka jendela dunia, mungkin petuah itu sering

    kita dengar dari bapak atau ibu guru, dan karena betapa luasnya

    dunia, maka intiplah dulu lewat jendela biar tidak kaget.

    Anak TK diajari membaca kata kuda,- bebek,-kursi, anak SD

    diajari membaca kalimat ini bapak budi, budi sedang bermain

    bola , anak SMP mulai diajari membaca berparagraf, anak SMA

    sudah mulai membaca buku, mahasiswa diajari mambaca apa ?

    dan kalau siswa tidak pernah seharipun melepas buku bacaan,

    maka kita, mahasiswa, apa mau disamakan dengan siswa TK,

    SD, SMP dan SMA, atau bahkan apa mau kalah dengan mereka?

    tentu tidak mau bukan ?

    Di awal telah saya sebut, membaca adalah hal mudah, semudah

    apakah ? tentu saudara tahu bahwa membaca lebih mudah

    dilakukan dari tidur,

    Dalam Catatan Pinggir, Goenawan Mohamad pernah bertutur jika Thomas Alfa Edison

    kecil pernah mengerami telur ayam. Melihat kelakuan sang anak, Ibunya pun kaget. Tapi, itu

    lah yang terjadi, Edison kecil menduga bahwa telur menetas karena suhu yang hangat. Ia ingin

    tahu benarkah dugaannya itu. Ia pun mencoba.

    Ibu Edison yang miskin dan suaminya yang galak dan

    tak acuh ternyata tidak menghalangi apa yang hendak di-

    perbuat sang anak. Edison kecil

    cuma bersekolah tiga bulan lalu

    pada umur

    12 tahun

    Ia juga harus

    cari makan. Tapi,

    sang ibu telah menanamkan

    rasa ingin tahu dan semangat

    yang tak kunjung habis buat ber-

    eksperimen dalam diri Edison.

    Itu saja belum cukup rupa-

    nya. Edison ternyata kemudian

    berhasil melahirkan 1.093 ba-

    rang baru buat orang se-

    zamannya, dan tersohor sebelum

    usianya sampai 35 tahun. Lalu,

    kita pun bertanya, apa jadinya

    seandainya Edison jadi murid sebuah

    sekolah -- institusi yang bisa cuma sibuk dengan

    tata tertib, lembaga yang bisa hanya sekadar me-

    ngurus disiplin dan mendaftar prestasi. Jawabnya,

    barangkali, si anak akan menghargai kekuasaan

    lebih dari menghargai semangat ilmu.

    Memang, dalam hidupnya Edison, bukanlah

    seorang ilmuwan. Dia teknikus. Dia bukan seorang

    jenius yang menemukan teori, yang menyelidik ke

    alam kenyataan dengan sikap seperti seorang

    Einstein. Tapi ada persamaan antara seorang

    penemu alat-alat dan seorang penyusun konsep-

    konsep fisika. Mereka bermula dari kebebasan

    jiwa, dan berlanjut dalam kreasi. Keduanya me-

    nolak pengekangan. Keduanya melintasi tabu.

    Seperti itulah kiranya berkarya. Dalam hal ini,

    menulis. Entah apapun, baik sastra maupun

    non-sastra. Baik puisi, cerpen, novel atau esai

    sekalipun. Semua perlu kerja keras. Semua perlu

    keuletan dan ketekunan. Atau katakanlah berdarah-

    darah atau nggetih dalam satu visi

    menuju kualitas tulisan yang baik.

    Secara umum, banyak buku-

    buku yang "menyengat" keterampilan

    kita perihal proses kreatif. Jika kita

    baca tuntas, cukuplah mungkin buku-

    buku "how to" itu membakar adrenalin

    kita untuk menulis dengan tips-tips

    ringan dan menyehatkan. Namun,

    sesungguhnya proses itu tidak sese-

    derhana yang ditawarkan di dalam-

    nya. Banyak hal yang patut diperhi-

    tungkan dengan matang dan sadar

    diri jika suatu proses kreatif yang

    dilematis itu tak segampang yang di-

    bayangkan.

    Pertanyaan yang muncul ke-

    mudian: apa makna dan mengapa

    proses kreatif jadi begitu sulit diwu-

    judkan? Mengapa pula ia membutuh-

    kan keberanian yang besar? Bukan-

    kah itu semata soal menjernihkan

    serapan mata dan pikiran atas seke-

    rumun ingatan, simbol dan mitos

    yang tak bernyawa? Betapa kita

    dihadapkan dengan gelimang teka-

    teki yang mustahil dapat dipecahkan.

    Oleh Heri CS

  • Menurut Fadrudin Nasrullah dalam

    blog Amongraga-nya, proses kreatif, bagi

    pengarang, seolah-olah lahir dari kuburan

    mimpi, semacam perjumpaan secara inten-

    sif antara manusia yang sadar dengan dunia-

    nya: antara yang nyata dan yang maya. Jika

    boleh dibilang bahwa hakikat proses kreatif

    berada dalam bebayang absurditas diri yang

    demikian personal dan nyaris tak tersadari,

    yang memantik kecemasan yang gulana,

    semacam kemuskilan sekaligus tertawan

    dalam ikhtiar mengenal dunia yang kita

    diami. Maka, dengan sendirinya, proses

    kreatif juga merupakan sebentuk upaya

    penanggulangan eksistensi diri.

    Tampaknya inilah yang tiada henti

    menghantui sebagian pengarang, bahkan

    menjadi kutukan, untuk menulis hingga

    berdarah-darah sampai mati. Mencambuk-

    nya demi melahirkan karya yang tak lekang

    oleh waktu dan ruang.

    Jika demikian, kenikmatan apa yang

    menggerakkan pengarang untuk berkarya?

    Lanskap indrawi macam apa yang menyusup

    ke dalam jiwanya saat ia menikmati teks yang

    dihasilkannya? Sekadar jouissance (kenikma-

    tan) atau ocehan yang tak rampung diomel-

    kan? Memang, dalam ranah sastra, mengutip

    Foucault, teks tak lebih sekadar a point of rest,

    a halt, a blazon, a flat. Sehubungan dengan itu,

    novelis Karel Capek pernah ditanya tentang

    apa yang membuatnya ingin jadi penulis, ia

    menjawab, Karena saya benci membicarakan

    tentang diri saya sendiri. Barangkali Camus,

    Goethe, Chateaubriand, Proust, Calvino,

    Faulkner, Kafka, dan Joyce tak memberon-

    dongkan gagasan besar. Mereka sekadar

    melahirkan makna keberadaan yang asing.

    Mereka tak memekikkan sabda, tapi semata

    mencari bentuk dari bayangan mimpi-mimpi

    mereka. Mungkin menulis adalah tindakan gaib

    atas nama kata dengan segenap penghancuran

    dan kepalsuan, dan berakhir dengan karya.

    Lantas bagaimana dengan bakat itu

    sendiri yang kerap dikaitkan dengan pengarang?

    Desiderius berdalih, Bakat itu tidak ada. Yang

    ada hanyalah keinginan yang kuat untuk-

    mewujudkan setiap impian. Tak seorang

    pun menghormati bakat, sejauh itu masih

    tersembunyi. Mungkin bakat secara neu-

    rologis dapat dikatakan sebagai berkah.

    Tetapi justru kreatifitas yang terus dinyala-

    kan harus menjadi tindakan yang nyata.

    Apabila menilik proses kreatif para

    pujangga Jawa kuno, sebagaimana ung-

    kapan Kuntara Wiryamartana bahwa,

    panca indra merupakan dimensi raga

    untuk memasuki jiwa. Pengendapan

    dimulai dengan semadi untuk menyesap

    pengalaman ragawi ke kedalaman jiwa.

    Di sinilah tahap penjinakan berbagai

    aktivitas untuk bisa masuk ke dunia

    sukma, dunia niskala: dunia tanpa ukuran,

    tanpa rasa, tanpa warna, semua serba

    kosong. Dalam dimensi inilah terjadi

    hubungan dengan Yang Maha Tunggal.

    Pada titik pertemuan itu, imbuhnya,

    ilham tidak dapat digambarkan sebelum

    masuk ke dimensi jiwa. Jadi, ada penjer-

    nihan ilham dari ruang sukma ke ruang

    jiwa, yang kemudian diwujudkan dalam

    ruang raga. Proses itu, tuturnya, terus

    berlangsung dalam diri para kawi (pu-

    jangga) yang berkreasi untuk menempuh

    kesempurnaan. Pengalaman yang luas

    tentang kehidupan di dunia nyata menjadi

    syarat mutlak para kawi untuk memuncul-

    kan kreatifitas. Pengalaman yang bersifat

    naratif maupun dramatik dikumpulkan

    sebanyak mungkin untuk diwujudkan

    dalam kakawin (karya sastra). Kakawin

    keluar dari puncak budi, kemudian me-

    nyurup ke diri pengarang, dan akhirnya,

    ia kuasa mewujudkan karyanya.

    Proses kreatif, intinya, adalah pe-

    ngenalan diri hingga bisa mengendalikan

    proses tersebut. Sebagaimana dalam

    cerita wayang Dewa Ruci. Pertemuan dua

    kesejatian antara Bima dengan Dewa Ruci

    yang melebur menjadi satu. Dewa Ruci

    adalah perwujudan jiwa Bima. Gambaran

    ini digambarkan dengan petuah Carilah

    kayu besar yang menjadi sarang angin.

    Makna kayu besar adalah wadag manusia-

    yang hidup karena ada siklus udara saat bernapas.

    (baca Agung Setyahadi Merefleksi Proses Kreatif

    Leluhur, Kompas, Sabtu 25 Maret 2006).

    Menurut W.S. Rendra, proses kreatif adalah

    manjing ing kahanan nggayuh ngarsaning Hyang

    Widi (melebur dalam dunia nyata dan merengkuh

    dunia keilahian). Pengarang harus memahami

    sekaligus menghayati proses kreatifnya sebagai

    bentuk yogabasa: sujud karya. Bahwa setiap karya

    harus menjadi roh ibadah; bahwa prinsip berkarya

    adalah untuk mewujudkan kebebasan, kejujuran

    dan keindahan.

    Lantaran menulis merupakan peristiwa magis

    demi menghadirkan dunia baru, maka proses kreatif,

    menurut Archibald MacLeish dalam Poetry and

    Experience, tak lain setakik usaha guna memper-

    temukan dua kutub: antara yang Ada dan yang

    Maya. Terus berjuang mengetuk keheningan atas

    ke-Tidak Ada-an untuk menghasilkan Ada.

    Sebab itu, segala hal yang bersentuhan

    dengan proses kreatif memang menjadi suatu

    keniscayaan yang musti dijalani oleh setiap

    pengarang. Melenyapkan bayangan kegagalan

    dan tak bersekutu dengan manusia berjiwa

    malang dan yang gentar menghadapi penderitaan.

    Di sinilah pengarang mempertaruhkan segenap

    hidupnya: hidup terkutuk sebagai pengarang

    atawa hidup dalam omong kosong yang

    menyedihkan.

    Sejalan dengan itu, Isaac Asimov juga ber-

    semboyan, Hidup adalah menulis sebagaimana

    hidup adalah bernapas. Stephen King dalam

    bukunya On Writing memancangkan anjuran

    senada dalam proses kreatif, Ada dua hal yang

    harus kau lakukan: banyak membaca dan banyak

    menulis. Setahuku, tidak ada jalan lain selain dua

    hal ini, dan tidak ada jalan pintas.

    Andaikata pengarang adalah sosok pence-

    cap rahasia tabir semesta demi menggetarkan jiwa

    pembacanya, seperti angin yang mendesir pada

    permukaan air, maka benarkah anggapan bahwa

    pengarang mengarang karena tersiksa menanggung

    misteri keberadaannya? Lalu apa yang diburu penga-

    rang sepanjang hayat? Mengukir nama di atas tinta

    emas dalam buku sejarah dan berharap dikenang

    sepanjang jaman? Ihwal ini, Lord

    Byron menyindir, Apa arti ketenaran?

    Kecuali mengisi bagian kertas yang

    tak pasti, selain sesuatu yang bakal

    hilang dalam uap.

    Sekadar untuk itu: manusia

    menulis, bicara, berkhotbah, mem-

    bunuh, dan membakar mimpi buruk

    mereka. Untuk merengkuh yang

    pada akhirnya hanyalah debu.

    Lantas bagaimana dengan penga-

    rang yang gagal, setelah bernanah-

    nanah menguras daya kreatifnya

    namun hanya menghasilkan karya

    sampah (atau plagiat)? Mungkin,

    bagi pengarang yang berhasil atau-

    pun yang gagal: itu adalah urusan

    batin mereka masing-masing. Seti-

    daknya, mereka telah berusaha se-

    kuat tenaga -- dengan segenap

    kesia-siaan dan kepedihan -- untuk

    memaknai hidup mereka.

    Artinya, untuk berkarya, penulis

    tidak harus mengandalkan publikasi

    media untuk wujud eksistensi dalam

    memuat karya-karyanya. Pasalnya,

    penulis-penulis dunia justru terlahir

    bukan dari publikasi karya di me-

    dia, namun oleh penerbitan buku-

    buku karya mereka.

    Di sinilah proses eksperimen

    itu hadir tanpa berkesudahan. Seperti

    halnya Thomas kecil, seyogianya, para

    calon penulis pun, selalu bereksperimen

    untuk mencari bentuk karya yang "mem-

    baru" tanpa berpikir apakah ada media

    yang memuatnya atau orang yang mem-

    bicarakannya. Eksperimen seharusnya

    menjadi nafas bagi orang-orang yang

    hendak serius menjadi penulis. Bukan-

    kah, menulis juga perlu keseriusan?

    Heri CS, koordinator Komunitas

    Lerengmedini Boja Kendal

  • Menurut Fadrudin Nasrullah dalam

    blog Amongraga-nya, proses kreatif, bagi

    pengarang, seolah-olah lahir dari kuburan

    mimpi, semacam perjumpaan secara inten-

    sif antara manusia yang sadar dengan dunia-

    nya: antara yang nyata dan yang maya. Jika

    boleh dibilang bahwa hakikat proses kreatif

    berada dalam bebayang absurditas diri yang

    demikian personal dan nyaris tak tersadari,

    yang memantik kecemasan yang gulana,

    semacam kemuskilan sekaligus tertawan

    dalam ikhtiar mengenal dunia yang kita

    diami. Maka, dengan sendirinya, proses

    kreatif juga merupakan sebentuk upaya

    penanggulangan eksistensi diri.

    Tampaknya inilah yang tiada henti

    menghantui sebagian pengarang, bahkan

    menjadi kutukan, untuk menulis hingga

    berdarah-darah sampai mati. Mencambuk-

    nya demi melahirkan karya yang tak lekang

    oleh waktu dan ruang.

    Jika demikian, kenikmatan apa yang

    menggerakkan pengarang untuk berkarya?

    Lanskap indrawi macam apa yang menyusup

    ke dalam jiwanya saat ia menikmati teks yang

    dihasilkannya? Sekadar jouissance (kenikma-

    tan) atau ocehan yang tak rampung diomel-

    kan? Memang, dalam ranah sastra, mengutip

    Foucault, teks tak lebih sekadar a point of rest,

    a halt, a blazon, a flat. Sehubungan dengan itu,

    novelis Karel Capek pernah ditanya tentang

    apa yang membuatnya ingin jadi penulis, ia

    menjawab, Karena saya benci membicarakan

    tentang diri saya sendiri. Barangkali Camus,

    Goethe, Chateaubriand, Proust, Calvino,

    Faulkner, Kafka, dan Joyce tak memberon-

    dongkan gagasan besar. Mereka sekadar

    melahirkan makna keberadaan yang asing.

    Mereka tak memekikkan sabda, tapi semata

    mencari bentuk dari bayangan mimpi-mimpi

    mereka. Mungkin menulis adalah tindakan gaib

    atas nama kata dengan segenap penghancuran

    dan kepalsuan, dan berakhir dengan karya.

    Lantas bagaimana dengan bakat itu

    sendiri yang kerap dikaitkan dengan pengarang?

    Desiderius berdalih, Bakat itu tidak ada. Yang

    ada hanyalah keinginan yang kuat untuk-

    mewujudkan setiap impian. Tak seorang

    pun menghormati bakat, sejauh itu masih

    tersembunyi. Mungkin bakat secara neu-

    rologis dapat dikatakan sebagai berkah.

    Tetapi justru kreatifitas yang terus dinyala-

    kan harus menjadi tindakan yang nyata.

    Apabila menilik proses kreatif para

    pujangga Jawa kuno, sebagaimana ung-

    kapan Kuntara Wiryamartana bahwa,

    panca indra merupakan dimensi raga

    untuk memasuki jiwa. Pengendapan

    dimulai dengan semadi untuk menyesap

    pengalaman ragawi ke kedalaman jiwa.

    Di sinilah tahap penjinakan berbagai

    aktivitas untuk bisa masuk ke dunia

    sukma, dunia niskala: dunia tanpa ukuran,

    tanpa rasa, tanpa warna, semua serba

    kosong. Dalam dimensi inilah terjadi

    hubungan dengan Yang Maha Tunggal.

    Pada titik pertemuan itu, imbuhnya,

    ilham tidak dapat digambarkan sebelum

    masuk ke dimensi jiwa. Jadi, ada penjer-

    nihan ilham dari ruang sukma ke ruang

    jiwa, yang kemudian diwujudkan dalam

    ruang raga. Proses itu, tuturnya, terus

    berlangsung dalam diri para kawi (pu-

    jangga) yang berkreasi untuk menempuh

    kesempurnaan. Pengalaman yang luas

    tentang kehidupan di dunia nyata menjadi

    syarat mutlak para kawi untuk memuncul-

    kan kreatifitas. Pengalaman yang bersifat

    naratif maupun dramatik dikumpulkan

    sebanyak mungkin untuk diwujudkan

    dalam kakawin (karya sastra). Kakawin

    keluar dari puncak budi, kemudian me-

    nyurup ke diri pengarang, dan akhirnya,

    ia kuasa mewujudkan karyanya.

    Proses kreatif, intinya, adalah pe-

    ngenalan diri hingga bisa mengendalikan

    proses tersebut. Sebagaimana dalam

    cerita wayang Dewa Ruci. Pertemuan dua

    kesejatian antara Bima dengan Dewa Ruci

    yang melebur menjadi satu. Dewa Ruci

    adalah perwujudan jiwa Bima. Gambaran

    ini digambarkan dengan petuah Carilah

    kayu besar yang menjadi sarang angin.

    Makna kayu besar adalah wadag manusia-

    yang hidup karena ada siklus udara saat bernapas.

    (baca Agung Setyahadi Merefleksi Proses Kreatif

    Leluhur, Kompas, Sabtu 25 Maret 2006).

    Menurut W.S. Rendra, proses kreatif adalah

    manjing ing kahanan nggayuh ngarsaning Hyang

    Widi (melebur dalam dunia nyata dan merengkuh

    dunia keilahian). Pengarang harus memahami

    sekaligus menghayati proses kreatifnya sebagai

    bentuk yogabasa: sujud karya. Bahwa setiap karya

    harus menjadi roh ibadah; bahwa prinsip berkarya

    adalah untuk mewujudkan kebebasan, kejujuran

    dan keindahan.

    Lantaran menulis merupakan peristiwa magis

    demi menghadirkan dunia baru, maka proses kreatif,

    menurut Archibald MacLeish dalam Poetry and

    Experience, tak lain setakik usaha guna memper-

    temukan dua kutub: antara yang Ada dan yang

    Maya. Terus berjuang mengetuk keheningan atas

    ke-Tidak Ada-an untuk menghasilkan Ada.

    Sebab itu, segala hal yang bersentuhan

    dengan proses kreatif memang menjadi suatu

    keniscayaan yang musti dijalani oleh setiap

    pengarang. Melenyapkan bayangan kegagalan

    dan tak bersekutu dengan manusia berjiwa

    malang dan yang gentar menghadapi penderitaan.

    Di sinilah pengarang mempertaruhkan segenap

    hidupnya: hidup terkutuk sebagai pengarang

    atawa hidup dalam omong kosong yang

    menyedihkan.

    Sejalan dengan itu, Isaac Asimov juga ber-

    semboyan, Hidup adalah menulis sebagaimana

    hidup adalah bernapas. Stephen King dalam

    bukunya On Writing memancangkan anjuran

    senada dalam proses kreatif, Ada dua hal yang

    harus kau lakukan: banyak membaca dan banyak

    menulis. Setahuku, tidak ada jalan lain selain dua

    hal ini, dan tidak ada jalan pintas.

    Andaikata pengarang adalah sosok pence-

    cap rahasia tabir semesta demi menggetarkan jiwa

    pembacanya, seperti angin yang mendesir pada

    permukaan air, maka benarkah anggapan bahwa

    pengarang mengarang karena tersiksa menanggung

    misteri keberadaannya? Lalu apa yang diburu penga-

    rang sepanjang hayat? Mengukir nama di atas tinta

    emas dalam buku sejarah dan berharap dikenang

    sepanjang jaman? Ihwal ini, Lord

    Byron menyindir, Apa arti ketenaran?

    Kecuali mengisi bagian kertas yang

    tak pasti, selain sesuatu yang bakal

    hilang dalam uap.

    Sekadar untuk itu: manusia

    menulis, bicara, berkhotbah, mem-

    bunuh, dan membakar mimpi buruk

    mereka. Untuk merengkuh yang

    pada akhirnya hanyalah debu.

    Lantas bagaimana dengan penga-

    rang yang gagal, setelah bernanah-

    nanah menguras daya kreatifnya

    namun hanya menghasilkan karya

    sampah (atau plagiat)? Mungkin,

    bagi pengarang yang berhasil atau-

    pun yang gagal: itu adalah urusan

    batin mereka masing-masing. Seti-

    daknya, mereka telah berusaha se-

    kuat tenaga -- dengan segenap

    kesia-siaan dan kepedihan -- untuk

    memaknai hidup mereka.

    Artinya, untuk berkarya, penulis

    tidak harus mengandalkan publikasi

    media untuk wujud eksistensi dalam

    memuat karya-karyanya. Pasalnya,

    penulis-penulis dunia justru terlahir

    bukan dari publikasi karya di me-

    dia, namun oleh penerbitan buku-

    buku karya mereka.

    Di sinilah proses eksperimen

    itu hadir tanpa berkesudahan. Seperti

    halnya Thomas kecil, seyogianya, para

    calon penulis pun, selalu bereksperimen

    untuk mencari bentuk karya yang "mem-

    baru" tanpa berpikir apakah ada media

    yang memuatnya atau orang yang mem-

    bicarakannya. Eksperimen seharusnya

    menjadi nafas bagi orang-orang yang

    hendak serius menjadi penulis. Bukan-

    kah, menulis juga perlu keseriusan?

    Heri CS, koordinator Komunitas

    Lerengmedini Boja Kendal

  • Berat juga untuk memulai membangun

    musikalitas, budaya dan kemerdekaan!

    Bahasa apa itu? Tapi nanti dulu, ini

    persoalan keseharian kita juga, di jalan-

    jalan kota, perempatan traffic light, gang-

    gang, lorong-lorong kumuh dan bahkan

    jalan sejuk menuju puncak gunung. Siapa

    sih yang asing dengan sosok bergitar?

    Tentu boleh dong sambil membuka

    malaga atau anggur orang tua (hasil

    dari riungan... hiks) terus mengeluarkan

    suara sember dan falsnya kuat-kuat?

    Wa, Indonesia, tanah. Ha ha ha..

    I luph u pull!

    Keseharian yang seperti itu ada pada

    ranah kita. Serta lantaran rasa 'gue

    banget' so nyaman! Jadilah satu

    budaya! Budaya kita dan kita ini bisa

    siapa saja, mahasiswa, punk, pengamen,

    buruh bahkan anak papi-mami, anak

    pelacur atau koruptor sekalian. Yang

    penting 'muda' [dalam konteks pandangan

    hidup dan semangat] bukan dalam ukuran

    angka umur. Nah, semua jadi semangat

    muda, berbudaya muda. Tetap semangat

    dan tetap nggak nolak mendengar, menik-

    mati atau memainkan genjrang-genjreng.

    Bengawan Solo, wow sambil... sruput!

    Setenggak malaga atau anggur orang tua disela

    asap ganja membuat malam semakin syahdu.

    Sementara penjual mie dorong memukul-mukul

    penggorengannya. Ah, menggoda juga, tapi duwit

    cupet. Ya cukup menelan ludah saja sambil koar-koar

    nyanyi. Semangat, tapi tetep jaga nama sekolah, kata

    Ambon Marley: Hop! Opla....

    Nah dapat kan? Dua hal, musikalitas dan budaya. Lalu

    di manakah kemerdekaannya? Kata Alimin nerocos:

    Jangan! Bukan lantaran angka 17. Itu sih hari merdeka.

    Betul, tanya saja kepada Tuan SBY. Bukankah tadi di

    atas yang kita omongan, selimutnya merdeka? ah ya

    kita bebas dan membebaskan diri Untuk apa? Ya itulah

    kemerdekaan kita. Nggak percaya?

    Tanya saja kepada asap ganja yang

    mengalun!

    Pusing! memang aku nulis apaan?

    Serius ya, begini, yang penting bagaimana

    membangun musikalitas dengan kualitas

    artistik yang tinggi serta budaya organisasi

    yang rapi. Ideologi yang memerdekakan

    tetap terjaga. Sehingga kita nggak jadi

    tukang potret keadaan semata mirip Bang

    Iwan. Piss bang! Tapi sebagai pekerja seni

    kita juga turut turun langsung ke jalan untuk

    melawan penindasan. Jangan percaya

    JF Kenedi, bule amrik yang sudah di neraka,

    "Jika politik itu kotor, puisilah yang akan

    membersihkannya," Ngawur tuh, sekeras

    apapun puisi tetap nggak akan ngaruh

    terhadap perubahan kondisi. Yang penting

    adalah orangnya atau senimannya, musisinya,

    atau 'kamu' nya bagaimana bergerak.

    Ah haus, minum dulu nih malaga! Toast,

    sruppp!

    Oleh: Kelana Jelata

    Semangat baru, dan tentunya kreasi baru.

    Siapa sih yang ga' mau kalau semua serba baru? Ya nggak

    munafik lah, kita pasti menginginkan semua yang terbaru

    jika memang hal itu bisa memberikan kenyamanan dan

    kepuasan tersendiri. Misalnya saja pacar baru, masih

    seger-segernya, manis, cantik, masih hangat untuk

    ditenteng kemana-mana.

    Tapi bagaimana dengan yang lama, akankah

    dilupakan dan di biarkan begitu saja? Padahal

    yang terdahulu pastinya memberikan

    pengalaman berharga agar kedepan kita

    bisa lebih menghargai sesuatu.

    Kalau ada yang baru kenapa mesti pakai

    yang lama? Nggak salah dengan

    pernyataan tadi, karena pada dasarnya

    manusia membutuhkan pembaruan

    agar hidup lebih menantang. Tapi

    jangan salah sangka kalau yang lama

    begitu menyenangkan, kenapa mesti

    cari yang baru itulah dua sisi mata

    uang yang sama-sama benar. Jika yang

    lama masih layak dan (justru) lebih

    menyenangkan, kenapa mesti cari

    yang baru? Bukankah lawas itu

    bagus?heheheh kata temenku sih..

    Tapi ada benarnya juga. Banyak hal

    yang menjadi berharga justru setelah

    lama berlalu. Contohnya saja salah satu

    penyair besar Indonesia, Chairil Anwar.

    Beliau justru menjadi terkenal dan

    dikagumi setelah meninggal dunia.

    Ketika beliau masih hidup, karyanya

    tidak begitu dikagumi dan namanya

    tidak setenar sekarang.

    Lawang Sewu terkenal dan menjadi

    ikon kota Semarang justru setelah

    bangunan tak lagi digunakan. Dulunya

    Lawang Sewu hanya sebuah bangunan

    penjara milik penjajah dan (mungkin)

    karena itulah Lawang Sewu mempunyai

    nilai sejarah yang tinggi.

    Ada

    benarnya

    ketika lawas

    lebih bagus

    dari yang baru.

    Bisa dibayangkan

    jika Lawang Sewu

    dibangun sekarang,

    pasti tidak setenar

    sekarang.

    Yap..yang pasti nggak

    salah kalau mau mencari

    sesuatu yang baru, entah

    itu pengalaman baru,

    barang baru atau mungkin

    pacar baru.

    Karena lawas itu bagus..

    Tidak ada yang salah dengan hal baru

    asal itu tidak bersifat negatif, akan

    tetapi perlu diingat bahwa semua yang

    baru kelak akan menjadi lama dan yang

    lama masih bisa kita perbarui, tinggal

    bagaimana kita menyikapinya.

    Intinya ya kita mesti bisa memilih sesuai

    fungsi, kalau memeng harus ganti yang

    baru ya ganti aja. Tapi kalau yang lama

    masih pantas dan memang masih layak,

    kenapa mesti ganti yang baru? Karena

    lawas itu bagus..

    Lawas itu bagus

  • Berat juga untuk memulai membangun

    musikalitas, budaya dan kemerdekaan!

    Bahasa apa itu? Tapi nanti dulu, ini

    persoalan keseharian kita juga, di jalan-

    jalan kota, perempatan traffic light, gang-

    gang, lorong-lorong kumuh dan bahkan

    jalan sejuk menuju puncak gunung. Siapa

    sih yang asing dengan sosok bergitar?

    Tentu boleh dong sambil membuka

    malaga atau anggur orang tua (hasil

    dari riungan... hiks) terus mengeluarkan

    suara sember dan falsnya kuat-kuat?

    Wa, Indonesia, tanah. Ha ha ha..

    I luph u pull!

    Keseharian yang seperti itu ada pada

    ranah kita. Serta lantaran rasa 'gue

    banget' so nyaman! Jadilah satu

    budaya! Budaya kita dan kita ini bisa

    siapa saja, mahasiswa, punk, pengamen,

    buruh bahkan anak papi-mami, anak

    pelacur atau koruptor sekalian. Yang

    penting 'muda' [dalam konteks pandangan

    hidup dan semangat] bukan dalam ukuran

    angka umur. Nah, semua jadi semangat

    muda, berbudaya muda. Tetap semangat

    dan tetap nggak nolak mendengar, menik-

    mati atau memainkan genjrang-genjreng.

    Bengawan Solo, wow sambil... sruput!

    Setenggak malaga atau anggur orang tua disela

    asap ganja membuat malam semakin syahdu.

    Sementara penjual mie dorong memukul-mukul

    penggorengannya. Ah, menggoda juga, tapi duwit

    cupet. Ya cukup menelan ludah saja sambil koar-koar

    nyanyi. Semangat, tapi tetep jaga nama sekolah, kata

    Ambon Marley: Hop! Opla....

    Nah dapat kan? Dua hal, musikalitas dan budaya. Lalu

    di manakah kemerdekaannya? Kata Alimin nerocos:

    Jangan! Bukan lantaran angka 17. Itu sih hari merdeka.

    Betul, tanya saja kepada Tuan SBY. Bukankah tadi di

    atas yang kita omongan, selimutnya merdeka? ah ya

    kita bebas dan membebaskan diri Untuk apa? Ya itulah

    kemerdekaan kita. Nggak percaya?

    Tanya saja kepada asap ganja yang

    mengalun!

    Pusing! memang aku nulis apaan?

    Serius ya, begini, yang penting bagaimana

    membangun musikalitas dengan kualitas

    artistik yang tinggi serta budaya organisasi

    yang rapi. Ideologi yang memerdekakan

    tetap terjaga. Sehingga kita nggak jadi

    tukang potret keadaan semata mirip Bang

    Iwan. Piss bang! Tapi sebagai pekerja seni

    kita juga turut turun langsung ke jalan untuk

    melawan penindasan. Jangan percaya

    JF Kenedi, bule amrik yang sudah di neraka,

    "Jika politik itu kotor, puisilah yang akan

    membersihkannya," Ngawur tuh, sekeras

    apapun puisi tetap nggak akan ngaruh

    terhadap perubahan kondisi. Yang penting

    adalah orangnya atau senimannya, musisinya,

    atau 'kamu' nya bagaimana bergerak.

    Ah haus, minum dulu nih malaga! Toast,

    sruppp!

    Oleh: Kelana Jelata

    Semangat baru, dan tentunya kreasi baru.

    Siapa sih yang ga' mau kalau semua serba baru? Ya nggak

    munafik lah, kita pasti menginginkan semua yang terbaru

    jika memang hal itu bisa memberikan kenyamanan dan

    kepuasan tersendiri. Misalnya saja pacar baru, masih

    seger-segernya, manis, cantik, masih hangat untuk

    ditenteng kemana-mana.

    Tapi bagaimana dengan yang lama, akankah

    dilupakan dan di biarkan begitu saja? Padahal

    yang terdahulu pastinya memberikan

    pengalaman berharga agar kedepan kita

    bisa lebih menghargai sesuatu.

    Kalau ada yang baru kenapa mesti pakai

    yang lama? Nggak salah dengan

    pernyataan tadi, karena pada dasarnya

    manusia membutuhkan pembaruan

    agar hidup lebih menantang. Tapi

    jangan salah sangka kalau yang lama

    begitu menyenangkan, kenapa mesti

    cari yang baru itulah dua sisi mata

    uang yang sama-sama benar. Jika yang

    lama masih layak dan (justru) lebih

    menyenangkan, kenapa mesti cari

    yang baru? Bukankah lawas itu

    bagus?heheheh kata temenku sih..

    Tapi ada benarnya juga. Banyak hal

    yang menjadi berharga justru setelah

    lama berlalu. Contohnya saja salah satu

    penyair besar Indonesia, Chairil Anwar.

    Beliau justru menjadi terkenal dan

    dikagumi setelah meninggal dunia.

    Ketika beliau masih hidup, karyanya

    tidak begitu dikagumi dan namanya

    tidak setenar sekarang.

    Lawang Sewu terkenal dan menjadi

    ikon kota Semarang justru setelah

    bangunan tak lagi digunakan. Dulunya

    Lawang Sewu hanya sebuah bangunan

    penjara milik penjajah dan (mungkin)

    karena itulah Lawang Sewu mempunyai

    nilai sejarah yang tinggi.

    Ada

    benarnya

    ketika lawas

    lebih bagus

    dari yang baru.

    Bisa dibayangkan

    jika Lawang Sewu

    dibangun sekarang,

    pasti tidak setenar

    sekarang.

    Yap..yang pasti nggak

    salah kalau mau mencari

    sesuatu yang baru, entah

    itu pengalaman baru,

    barang baru atau mungkin

    pacar baru.

    Karena lawas itu bagus..

    Tidak ada yang salah dengan hal baru

    asal itu tidak bersifat negatif, akan

    tetapi perlu diingat bahwa semua yang

    baru kelak akan menjadi lama dan yang

    lama masih bisa kita perbarui, tinggal

    bagaimana kita menyikapinya.

    Intinya ya kita mesti bisa memilih sesuai

    fungsi, kalau memeng harus ganti yang

    baru ya ganti aja. Tapi kalau yang lama

    masih pantas dan memang masih layak,

    kenapa mesti ganti yang baru? Karena

    lawas itu bagus..

    Lawas itu bagus

  • Cahaya matahari sinar kehidupan.Cahaya

    bulan temani mimpi. Cahaya bintang penyejuk

    hati. Cahaya lilin terangi kegelapan. Seperti

    cahaya, Nur seorang gadis lulusan SMP, mem-

    beranikan diri pergi mengarungi nasib di negeri

    seberang untuk menyinari kehidupan keluarga.

    Bukan gadis biasa. Berbeda dengan teman-teman

    lainya yang masih sibuk mencari sekolah favorit.

    Bahkan, ada yang rela mengeluarkan biaya jutaan

    untuk masuk di sekolah favoit itu. Ah, sama saja.

    Sekolah dimana pun tetap mengikuti Ujian Akhir

    Nasional.

    ...

    Pagi itu, tiga tahun setelah Nur pergi.

    Tanpa pamit padaku, sahabatnya. Entah apa

    yang dipikikanya waktu itu, sampai hati tidak

    memberitahukan kepegianya menuju medan

    perang melawan kemiskinan. Waktu dia pergi

    aku ingin marah, tapi untuk apa aku marah?

    Aku hanya bisa berdoa semoga dia selalu

    dilindungi. Saat aku tengah duduk santai di

    ruang tengah sambil bercanda dengan adik

    kecilku, aku mendengar suara di balik pintu,

    Assalamualaikum. Suara seorang

    wanita. Aku berlari menuju pintu itu, tak sabar

    ingin tahu. Seolah kepalaku di penuhi tanda

    tanya, siapa orang di balik pintu rumahku?

    Waalaikum salam. Jawabku.

    Kubuka pintu dengan berlahan dan

    telah berdiri tepat dihadapanku seorang

    yang bercahaya tersenyum padaku. Aku

    kaget dan tercengang. Nur sahabatku,

    saudaraku. Tiba-tiba air mataku tak ter-

    bendung lagi. Benar-benar berbeda dari

    yang dulu, saat pertama kali aku melihat

    di hari pertama masuk kelas satu SD. Nur

    yang bercahaya, kulitnya putih, rambutnya

    panjang, tersenyum padaku. Tapi sekarang

    berubah, rambutnya dipotong pendek. Terlalu

    pendek, tubuhnya kurus, kuku jari-jari tangan-

    nya menghitam. Meski begitu, dia masih tetap

    bercahaya dengan senyum manisnya.

    Dia menjulurkan tangan, kami bersa-

    laman. Ya Allah, tanganya kasar karena

    luka-luka goresan. Aku ingin memeluknya

    dan menangis keras-keras. Tapi semua itu

    tidak aku lakukan karena dia terlihat bahagia.

    Pandanganya berpaling kearah

    dalam rumahku.

    Lia, kenapa masih diluar? Diajak

    masuk! Teriak ibuku sambil berjalan me-

    nuju kearahku.

    Bu?'' Sapa Nur pada ibuku sambil

    menjulurkan tanganya untuk bersalaman.

    Ini Nur? Tanya ibu sambil membalas

    uluran tangannya.

    Aku tahu yang dipikirkan ibuku waktu

    itu, prihatin. Aku dan ibu saling berpanda-

    ngan. Ibu tahu kalau Nur dan aku berteman

    dekat. Kami selalu akrab sejak pertama

    masuk SD hingga lulus SMP. Sudah tujuh

    tahun aku sekelas denganya, dari kelas

    satu SD hingga kelas satu SMP. Bahkan

    kami pernah satu bangku. Suka duka saat

    itu kami lalui bersama. Saat SD, Nur adalah

    siswa yang pintar. Lebih tepatnya siswa

    perempuan yang paling pintar. Tapi bukan

    rangking satu, namun dia selalu rangking

    dua. Rangking satu waktu itu Ndirin, anak

    laki-laki cerdas yang sok jagoan. Memang

    aneh? Nakal tapi pintar. Tapi waktu SMP

    prestasi Ndirin menurun drastis, mungkin

    karena pencarian jati diri. Sering keluar

    masuk ruang BK, karena bolos seperti

    biasa. Kurang bersyukur atas karunia

    kecerdasan yang di berikan oleh Allah.

    Ayo masuk ! Kata ibu.

    Kami bertiga berjalan beriringan me-

    nuju ruang tengah, tapi ibu tidak ikut berga-

    bung dengan kami. Ibu pergi menuju dapur.

    Tidak lama setelah duduk Nur

    berkata, Kenapa dek? Dari tadi kamu

    hanya diam saja?

    Aku tersenyum dan berkata,

    Aku masih belum percaya.

    Wah, kamu itu! Kemarin waktu

    aku baru pulang, aku bertemu Nana,

    dia cerita tentang kamu. Katanya kamu

    selalu bertanya tentang kabar aku. Maaf

    ya? Waktu itu aku belum sempat pamit

    karena aku benar-benar terburu-buru.

    Selain itu kamu sepertinya masih sibuk

    mencari sekolah. Tegasnya.

    Kapan sampai? tanyaku.

    Baru seminggu, jawabnya.

    Tiba-tiba ibu datang dari dapur

    sambil membawa penampan yang berisi

    dua gelas teh manis hangat dan satu

    toples kue kering.

    Ini minumnya. Seadanya ya?

    Iya Bu, terima kasih. Maaf mere-

    potkan.

    Ah, tidak repot! Balas ibu.

    Ibu meletakan penampan itu dan

    ikut duduk dengan kami.

    Bu, kabarnya ibu sudah tidak me-

    ngajar di SD N 2 Turunrejo lagi? Tanya

    Nur pada ibu.

    Iya, Ibu sekarang sudah pindah di

    SD N 1 Purwokerto. Sudah dua puluh lima

    tahun ibu mengajar di SD N 2 Turunrejo.

    Dari Mas Yudi belum lahir hingga sekarang

    menjadi mahasiswa.

    Sekarang sudah mengajar anaknya

    muridnya Ibu dulu, sudah punya banyak

    cucu. Sambungku.

    Ternyata sudah lama ya, Bu? Keada-

    an sekolah yang baru bagaimana, Bu?

    Sama saja, hanya tempat dan orang-

    nya yang berbeda. Jadi ibu harus memulai

    lagi hubungan baik dengan masyarakat di

    sana. Jawab Ibu.

    Kamu dek? Sudah punya pacar ya?

    Kata Nur mengejeku.

    Pacar? Makanan apa itu? Alhamdulilah

    belum. Candaku.

    Apa iya? Sindir Nur lagi.

    ''Nanti dulu setelah lulus. Sambung ibu.

    Itu, dengarkan dek? Ejek Nur lagi.

    Memang belum, untuk apa bohong?

    Bagiku punya pacar itu hubungan pertemanan

    dengan orang lain. Kemana-mana jalan berdua,

    tidak kreatif. Masih banyak hal yang bisa aku

    kerjakan. Terserah orang bilang, kalau pacaran

    itu bermanfaat karena wujud berbagi kasih sa-

    yang. Aku bisa membaginya dengan keluarga-

    ku, teman-temanku. Mungkin kamu sendiri

    yang sudah punya pacar? Kataku untuk mem-

    bela diri.

    Bagaimana mungkin? Kerja pagi hingga

    malam. Waktu paling luang saat keluarga maji-

    kanku liburan, pekerjaanya tidak seberat hari-

    hari biasa karena mereka mengajakku juga

    untuk menjaga anaknya dan mengurusi keper-

    luan mereka. Kata Nur.

    Kakakmu sekarang bekerja dimana?

    Tanya ibu mengalihkan topik pembicaraan.

    Alhamdulilah berkat kerja keras saya

    selama tiga tahun di Malaysia, saya bisa mem-

    biayai Kang Mus dipindah tugaskan di Makasar.

    Sudah satu tahun dia bekerja sebagai Marinir.

    Mudah-mudahan dengan hal ini bisa mengang-

    kat derajat hidup dan masa depan kedua adik

    saya yang masih kecil. Jangan sampai mereka

    menjadi seperti saya dan orangtua, pekerja

    kasar. Jawab Nur dengan raut wajah sedikit

    memelas.

    Aku kaget dan kagum padanya. Aku tak

    menyangka, Kang Mus bisa menjadi Marinir

    berkat usaha Nur. Seorang Nur memang pem-

    beri cahaya bagi keluarganya. Aku malu, benar-

    benar malu pada dirinya, keluargaku dan pada

    diriku sendiri. Sampai saat ini belum ada hal

    yang bisa aku berikan pada orang tuaku.

    Hanya mengeluh meminta dan menuntut.

    Ya Allah, begitu mulia dirimu Nur.

    Saya ikhlas, benar-benar ikhlas. Sete-

    lah apa yang saya lakukan meski begitu berat,

    berat sekali. Majikan saya non muslim. Jika

    shalat harus sembunyi-sembunyi. Jika ketahu-

    an puasa, dihukum. Jika anaknya menangis,

    dihukum. Dan jika saya nekat keluar sebelum

    kontrak selesai meskipun kurang sehari saja

  • Cahaya matahari sinar kehidupan.Cahaya

    bulan temani mimpi. Cahaya bintang penyejuk

    hati. Cahaya lilin terangi kegelapan. Seperti

    cahaya, Nur seorang gadis lulusan SMP, mem-

    beranikan diri pergi mengarungi nasib di negeri

    seberang untuk menyinari kehidupan keluarga.

    Bukan gadis biasa. Berbeda dengan teman-teman

    lainya yang masih sibuk mencari sekolah favorit.

    Bahkan, ada yang rela mengeluarkan biaya jutaan

    untuk masuk di sekolah favoit itu. Ah, sama saja.

    Sekolah dimana pun tetap mengikuti Ujian Akhir

    Nasional.

    ...

    Pagi itu, tiga tahun setelah Nur pergi.

    Tanpa pamit padaku, sahabatnya. Entah apa

    yang dipikikanya waktu itu, sampai hati tidak

    memberitahukan kepegianya menuju medan

    perang melawan kemiskinan. Waktu dia pergi

    aku ingin marah, tapi untuk apa aku marah?

    Aku hanya bisa berdoa semoga dia selalu

    dilindungi. Saat aku tengah duduk santai di

    ruang tengah sambil bercanda dengan adik

    kecilku, aku mendengar suara di balik pintu,

    Assalamualaikum. Suara seorang

    wanita. Aku berlari menuju pintu itu, tak sabar

    ingin tahu. Seolah kepalaku di penuhi tanda

    tanya, siapa orang di balik pintu rumahku?

    Waalaikum salam. Jawabku.

    Kubuka pintu dengan berlahan dan

    telah berdiri tepat dihadapanku seorang

    yang bercahaya tersenyum padaku. Aku

    kaget dan tercengang. Nur sahabatku,

    saudaraku. Tiba-tiba air mataku tak ter-

    bendung lagi. Benar-benar berbeda dari

    yang dulu, saat pertama kali aku melihat

    di hari pertama masuk kelas satu SD. Nur

    yang bercahaya, kulitnya putih, rambutnya

    panjang, tersenyum padaku. Tapi sekarang

    berubah, rambutnya dipotong pendek. Terlalu

    pendek, tubuhnya kurus, kuku jari-jari tangan-

    nya menghitam. Meski begitu, dia masih tetap

    bercahaya dengan senyum manisnya.

    Dia menjulurkan tangan, kami bersa-

    laman. Ya Allah, tanganya kasar karena

    luka-luka goresan. Aku ingin memeluknya

    dan menangis keras-keras. Tapi semua itu

    tidak aku lakukan karena dia terlihat bahagia.

    Pandanganya berpaling kearah

    dalam rumahku.

    Lia, kenapa masih diluar? Diajak

    masuk! Teriak ibuku sambil berjalan me-

    nuju kearahku.

    Bu?'' Sapa Nur pada ibuku sambil

    menjulurkan tanganya untuk bersalaman.

    Ini Nur? Tanya ibu sambil membalas

    uluran tangannya.

    Aku tahu yang dipikirkan ibuku waktu

    itu, prihatin. Aku dan ibu saling berpanda-

    ngan. Ibu tahu kalau Nur dan aku berteman

    dekat. Kami selalu akrab sejak pertama

    masuk SD hingga lulus SMP. Sudah tujuh

    tahun aku sekelas denganya, dari kelas

    satu SD hingga kelas satu SMP. Bahkan

    kami pernah satu bangku. Suka duka saat

    itu kami lalui bersama. Saat SD, Nur adalah

    siswa yang pintar. Lebih tepatnya siswa

    perempuan yang paling pintar. Tapi bukan

    rangking satu, namun dia selalu rangking

    dua. Rangking satu waktu itu Ndirin, anak

    laki-laki cerdas yang sok jagoan. Memang

    aneh? Nakal tapi pintar. Tapi waktu SMP

    prestasi Ndirin menurun drastis, mungkin

    karena pencarian jati diri. Sering keluar

    masuk ruang BK, karena bolos seperti

    biasa. Kurang bersyukur atas karunia

    kecerdasan yang di berikan oleh Allah.

    Ayo masuk ! Kata ibu.

    Kami bertiga berjalan beriringan me-

    nuju ruang tengah, tapi ibu tidak ikut berga-

    bung dengan kami. Ibu pergi menuju dapur.

    Tidak lama setelah duduk Nur

    berkata, Kenapa dek? Dari tadi kamu

    hanya diam saja?

    Aku tersenyum dan berkata,

    Aku masih belum percaya.

    Wah, kamu itu! Kemarin waktu

    aku baru pulang, aku bertemu Nana,

    dia cerita tentang kamu. Katanya kamu

    selalu bertanya tentang kabar aku. Maaf

    ya? Waktu itu aku belum sempat pamit

    karena aku benar-benar terburu-buru.

    Selain itu kamu sepertinya masih sibuk

    mencari sekolah. Tegasnya.

    Kapan sampai? tanyaku.

    Baru seminggu, jawabnya.

    Tiba-tiba ibu datang dari dapur

    sambil membawa penampan yang berisi

    dua gelas teh manis hangat dan satu

    toples kue kering.

    Ini minumnya. Seadanya ya?

    Iya Bu, terima kasih. Maaf mere-

    potkan.

    Ah, tidak repot! Balas ibu.

    Ibu meletakan penampan itu dan

    ikut duduk dengan kami.

    Bu, kabarnya ibu sudah tidak me-

    ngajar di SD N 2 Turunrejo lagi? Tanya

    Nur pada ibu.

    Iya, Ibu sekarang sudah pindah di

    SD N 1 Purwokerto. Sudah dua puluh lima

    tahun ibu mengajar di SD N 2 Turunrejo.

    Dari Mas Yudi belum lahir hingga sekarang

    menjadi mahasiswa.

    Sekarang sudah mengajar anaknya

    muridnya Ibu dulu, sudah punya banyak

    cucu. Sambungku.

    Ternyata sudah lama ya, Bu? Keada-

    an sekolah yang baru bagaimana, Bu?

    Sama saja, hanya tempat dan orang-

    nya yang berbeda. Jadi ibu harus memulai

    lagi hubungan baik dengan masyarakat di

    sana. Jawab Ibu.

    Kamu dek? Sudah punya pacar ya?

    Kata Nur mengejeku.

    Pacar? Makanan apa itu? Alhamdulilah

    belum. Candaku.

    Apa iya? Sindir Nur lagi.

    ''Nanti dulu setelah lulus. Sambung ibu.

    Itu, dengarkan dek? Ejek Nur lagi.

    Memang belum, untuk apa bohong?

    Bagiku punya pacar itu hubungan pertemanan

    dengan orang lain. Kemana-mana jalan berdua,

    tidak kreatif. Masih banyak hal yang bisa aku

    kerjakan. Terserah orang bilang, kalau pacaran

    itu bermanfaat karena wujud berbagi kasih sa-

    yang. Aku bisa membaginya dengan keluarga-

    ku, teman-temanku. Mungkin kamu sendiri

    yang sudah punya pacar? Kataku untuk mem-

    bela diri.

    Bagaimana mungkin? Kerja pagi hingga

    malam. Waktu paling luang saat keluarga maji-

    kanku liburan, pekerjaanya tidak seberat hari-

    hari biasa karena mereka mengajakku juga

    untuk menjaga anaknya dan mengurusi keper-

    luan mereka. Kata Nur.

    Kakakmu sekarang bekerja dimana?

    Tanya ibu mengalihkan topik pembicaraan.

    Alhamdulilah berkat kerja keras saya

    selama tiga tahun di Malaysia, saya bisa mem-

    biayai Kang Mus dipindah tugaskan di Makasar.

    Sudah satu tahun dia bekerja sebagai Marinir.

    Mudah-mudahan dengan hal ini bisa mengang-

    kat derajat hidup dan masa depan kedua adik

    saya yang masih kecil. Jangan sampai mereka

    menjadi seperti saya dan orangtua, pekerja

    kasar. Jawab Nur dengan raut wajah sedikit

    memelas.

    Aku kaget dan kagum padanya. Aku tak

    menyangka, Kang Mus bisa menjadi Marinir

    berkat usaha Nur. Seorang Nur memang pem-

    beri cahaya bagi keluarganya. Aku malu, benar-

    benar malu pada dirinya, keluargaku dan pada

    diriku sendiri. Sampai saat ini belum ada hal

    yang bisa aku berikan pada orang tuaku.

    Hanya mengeluh meminta dan menuntut.

    Ya Allah, begitu mulia dirimu Nur.

    Saya ikhlas, benar-benar ikhlas. Sete-

    lah apa yang saya lakukan meski begitu berat,

    berat sekali. Majikan saya non muslim. Jika

    shalat harus sembunyi-sembunyi. Jika ketahu-

    an puasa, dihukum. Jika anaknya menangis,

    dihukum. Dan jika saya nekat keluar sebelum

    kontrak selesai meskipun kurang sehari saja

  • saya tidak akan digaji dan tidak akan

    dibiayai pulang. Sambung Nur sambil

    meneteskan air mata. Suasana berubah

    menjadi hening.

    Sabar ya Nur, apa yang kamu

    lakukan itu sudah sangat mulia. Mudah-

    mudahan apa yang kamu lakukan men-

    dapat balasan yang lebih baik. Hibur

    ibuku.

    Aku hanya bisa diam dan ikut me-

    nangis. Begitu sayangnya Nur pada ke-

    luarganya sehingga dia rela dan nekat

    pergi ke negeri seberang.

    Mengapa tidak melapor saja?

    Tanya ibuku.

    Tidak mungkin bisa Bu, mereka

    sudah bekerja sama. Saya hanya bisa

    menjalani. Karena saya juga butuh uang.

    Ibu cuma mau memberi pesan

    kepada kakakmu. Jika sudah berhasil,

    jangan pernah melupakan pengorba-

    nanmu, ingat terus keluargamu. Mus

    anak yang baik, dia pernah ibu ajar

    dikelas empat dulu.

    Iya Bu, nanti saya sampaikan. Kang

    Mus juga selalu bilang, jika sudah berhasil

    dia akan mengembalikan uang saya. Saya

    hanya bilang, untuk selalu ingat pada adik-

    adik. Jawabnya.

    Kamu tidak sekolah lagi? Untuk me-

    ngambil paket C. Nanti kamu bekerja di

    Indonesia saja. Ibuku menasihati.

    Wah, saya memikirkan sekolah adik-

    adik saya saja, Bu

    Nur masih saja memikirkan nasib ke-

    luarganya tanpa mempedulikan nasibnya

    sendiri.

    Sebenarnya kedatanganku kesini untuk

    pamit.

    Pamit? Kataku Keheranan.

    Aku mau bekerja lagi, tapi ke Taiwan.

    Seminggu lagi aku berangkat ke penampungan.

    Kenapa pergi lagi? Kamu kan baru

    datang? Tanyaku.

    Ada cita-cita besar yang yang harus

    aku raih. Aku mau membangun rumah untuk

    keluagaku. Aku tidak mau terus-terusan me-

    numpang di rumah Bulikku.

    Seminggu lagi ya? Tanyaku lagi.

    Iya, uangku sudah habis. Hanya ting-

    gal beberapa ratus ribu saja, uangnya sudah

    aku pakai untuk membayar hutang Emak,

    jawabnya lugu.

    Ya sudah, hati-hati di sana. Kata ibu.

    Nur bangun dari tempat duduk dan

    berkata, Saya pamit pulang dulu, Bu. Sudah

    siang. Dek kapan-kapan kerumahku ya?

    Kok cepat-cepat? Kata Ibu.

    Insya Allah aku kerumahmu besok

    pagi? Kataku.

    Aku dan ibu mengantarnya lalu ber-

    salaman.

    Assalamualaikum.

    Waalaikum salam.

    Hari itu benar-benar hari yang penuh

    dengan pelajaran. Tentang perjuangan hidup

    yang harus dijalani meskipun itu berat namun

    dijalani dengan ikhlas. Kita harus bersyukur

    karena diberi kenikmatan, bersyukur dalam

    keadaan apapun. Aku akan berjuang untuk

    belajar lebih keras, mungkin itu yang bisa

    kulakukan untuk keluargaku sekarang.

    Nur adalah cahaya. Cahaya yang

    selalu bersinar karena semangat juangnya.

    Nur, kamu adalah pahlawan tanpa tanda jasa

    di keluargamu. Pahlawan devisa di negaramu.

    : [untuk sahabatku, kakakku, sumber inspirasiku,

    penyemangatku. Nur yang selalu bercahaya.

    Selamat berjuang ya? Kamu mengais rejeki di

    negeri orang. Semoga mimpimu terwujud. Aku

    hanya bisa berdoa untukmu. Ini cerpen pertamaku

    yang muncul karenamu, telah dibaca oleh banyak

    orang, meski bukan nomor 1, tapi sangat berarti

    bagiku]

    Penulis adalah penimba ilmu di IKIP PGRI

    Semarang, Fakultas Pendidikan Bahasa

    dan Seni, Jurusan Pendidikan Bahasa dan

    Sastra Indonesia, semester 4.

    Ia mendapati otaknya sedang sibuk mencari

    bau anyir episentrum luka pada hatinya untuk digali

    dan mengabadikannya pada larik-larik puisinya yang

    melulu muram.

    Penyair luka, itulah julukannya. Segala bentuk

    luka: kemiskinan, bencana alam, krisis ekonomi,

    asusila, dan banyak lagi luka kehidupan yang ber-

    hasil ia eksploitasi dalam puisi-puisinya hingga pada

    titik estetik yang hampir membosankan. Kalau saja

    tak ada kritikus sastra yang menyatakan bahwa ada

    satu bentuk luka yang belum ia tuliskan, prihal cinta,

    barangkali ia sudah beralih tema dan memulainya

    dari titik awal kepenyairannya.

    Sejak saat itulah ia mulai mencari referensi

    prihal cinta dan segala gejolaknya yang membuat

    Julius Caisar bertekuk sujud pada Cleo Patra. Tapi

    ia tak memiliki empirik prihal cinta, puisinya terasa

    dangkal. Terlalu jauh untuk mencapai estetiknya.

    Dasar penyair kutu buku! Prihal cinta tak

    bisa dicari di buku, apalagi koran. Okelah, luka-luka

    yang kau tulis sebelumnya bisa dicari referensinya.

    Dengan tanpa empirik sekalipun kau bisa menulis-

    kannya dengan penghayatan yang dahsyat. Tapi

    prihal cinta kau harus lesap di dalamnya. Susunlah

    puncak perih luka itu. Dan hati-hati jangan sampai

    larutbahaya! Penamu bisa mandul! Ia teringat

    masukan temannya di sebuah pertemuan para

    penyair.

    Akhirnya ia tercandu mereka-reka pertemuan

    demi pertemuan dengan seorang gadispemilik sorot

    mata yang memancarkan bahkan memberikan ke-

    sejukan hijau daun pada tatapnyayang ia kenal

    sebelumnya. Goresan-goresan pada pertemuan

    yang puitik disusunnya dengan rapi dan dijadikan-

    nya luka untuk diperam di hatinya. Ruang dan waktu

    sengaja ia rentangkan menjadi jurang pemisah demi

    kentaranya rindu pada pertemuan yang mencipta l

    uka.

    Setiap kali otaknya menciumi luka yang ia

    peram, selalu saja susunan kata-katanya tak pantas

    disebut 'puisi'. Hanya baris kalimat yang membuatnya

    gila.

    Keratan malam yang kita nik-

    mati di meja hidangan yang puitik

    telah membuatku gila. Sungguh aku

    tergila-gila pada pertemuan itu.

    Pesan singkat pada perempuannya.

    Maaf, pertemuan yang mem-

    buatmu gila kini tak bisa kuhidangkan

    untukmu. Balasnya.

    Ia sadar akan kebosanan yang

    melilit perempuannya itu. Karenannya

    ia tak merasa heran jika perempuan

    itu lebih memilih laki-laki yang nama-

    nya sering disebutkan dalam setiap

    pertemuan dan menggoreskan luka.

    Ia bahagia, karena inilah puncak

    pedih dari luka yang ia susun selama

    ini untuk puisi-puisi luka prihal cinta.

    Namun tak ia sangka, luka

    yang ia reka telah mencipta episen-

    trum luka di hatinya yang tak bisa ia

    tuliskan dan membuatnya tersiksa.

    Kerinduannya pada pertemuan yang

    ia reka demi sebuah inspirasi tak bisa

    ia dapati lagi. Atau mungkin sajak-

    sajak yang hendak ia tuliskan sudah

    tak lagi menjadi hal penting baginya.

    Ia merasa telah melanggar pantangan.

    Penanya telah kering.

    Terima kasih, Manis. Pedih

    yang kutanam di atas episentrum

    luka yang perlahan meretak kini telah

    berbunga. Aromanya menebar kema-

    tian pada setiap sudut ruang kosong

    jiwaku. Anggap saja ini pengakuan

    dosa; aku benar-benar mencintaimu.

    A

    Pondok AS S, Bandung 130108

    Episentrum; titik pada permukaan

    bumi yang terletak tegak lurus di

    atas pusat gempa yang ada di

    dalam bumi

    (KBBI edisi ke tiga)

  • saya tidak akan digaji dan tidak akan

    dibiayai pulang. Sambung Nur sambil

    meneteskan air mata. Suasana berubah

    menjadi hening.

    Sabar ya Nur, apa yang kamu

    lakukan itu sudah sangat mulia. Mudah-

    mudahan apa yang kamu lakukan men-

    dapat balasan yang lebih baik. Hibur

    ibuku.

    Aku hanya bisa diam dan ikut me-

    nangis. Begitu sayangnya Nur pada ke-

    luarganya sehingga dia rela dan nekat

    pergi ke negeri seberang.

    Mengapa tidak melapor saja?

    Tanya ibuku.

    Tidak mungkin bisa Bu, mereka

    sudah bekerja sama. Saya hanya bisa

    menjalani. Karena saya juga butuh uang.

    Ibu cuma mau memberi pesan

    kepada kakakmu. Jika sudah berhasil,

    jangan pernah melupakan pengorba-

    nanmu, ingat terus keluargamu. Mus

    anak yang baik, dia pernah ibu ajar

    dikelas empat dulu.

    Iya Bu, nanti saya sampaikan. Kang

    Mus juga selalu bilang, jika sudah berhasil

    dia akan mengembalikan uang saya. Saya

    hanya bilang, untuk selalu ingat pada adik-

    adik. Jawabnya.

    Kamu tidak sekolah lagi? Untuk me-

    ngambil paket C. Nanti kamu bekerja di

    Indonesia saja. Ibuku menasihati.

    Wah, saya memikirkan sekolah adik-

    adik saya saja, Bu

    Nur masih saja memikirkan nasib ke-

    luarganya tanpa mempedulikan nasibnya

    sendiri.

    Sebenarnya kedatanganku kesini untuk

    pamit.

    Pamit? Kataku Keheranan.

    Aku mau bekerja lagi, tapi ke Taiwan.

    Seminggu lagi aku berangkat ke penampungan.

    Kenapa pergi lagi? Kamu kan baru

    datang? Tanyaku.

    Ada cita-cita besar yang yang harus

    aku raih. Aku mau membangun rumah untuk

    keluagaku. Aku tidak mau terus-terusan me-

    numpang di rumah Bulikku.

    Seminggu lagi ya? Tanyaku lagi.

    Iya, uangku sudah habis. Hanya ting-

    gal beberapa ratus ribu saja, uangnya sudah

    aku pakai untuk membayar hutang Emak,

    jawabnya lugu.

    Ya sudah, hati-hati di sana. Kata ibu.

    Nur bangun dari tempat duduk dan

    berkata, Saya pamit pulang dulu, Bu. Sudah

    siang. Dek kapan-kapan kerumahku ya?

    Kok cepat-cepat? Kata Ibu.

    Insya Allah aku kerumahmu besok

    pagi? Kataku.

    Aku dan ibu mengantarnya lalu ber-

    salaman.

    Assalamualaikum.

    Waalaikum salam.

    Hari itu benar-benar hari yang penuh

    dengan pelajaran. Tentang perjuangan hidup

    yang harus dijalani meskipun itu berat namun

    dijalani dengan ikhlas. Kita harus bersyukur

    karena diberi kenikmatan, bersyukur dalam

    keadaan apapun. Aku akan berjuang untuk

    belajar lebih keras, mungkin itu yang bisa

    kulakukan untuk keluargaku sekarang.

    Nur adalah cahaya. Cahaya yang

    selalu bersinar karena semangat juangnya.

    Nur, kamu adalah pahlawan tanpa tanda jasa

    di keluargamu. Pahlawan devisa di negaramu.

    : [untuk sahabatku, kakakku, sumber inspirasiku,

    penyemangatku. Nur yang selalu bercahaya.

    Selamat berjuang ya? Kamu mengais rejeki di

    negeri orang. Semoga mimpimu terwujud. Aku

    hanya bisa berdoa untukmu. Ini cerpen pertamaku

    yang muncul karenamu, telah dibaca oleh banyak

    orang, meski bukan nomor 1, tapi sangat berarti

    bagiku]

    Penulis adalah penimba ilmu di IKIP PGRI

    Semarang, Fakultas Pendidikan Bahasa

    dan Seni, Jurusan Pendidikan Bahasa dan

    Sastra Indonesia, semester 4.

    Ia mendapati otaknya sedang sibuk mencari

    bau anyir episentrum luka pada hatinya untuk digali

    dan mengabadikannya pada larik-larik puisinya yang

    melulu muram.

    Penyair luka, itulah julukannya. Segala bentuk

    luka: kemiskinan, bencana alam, krisis ekonomi,

    asusila, dan banyak lagi luka kehidupan yang ber-

    hasil ia eksploitasi dalam puisi-puisinya hingga pada

    titik estetik yang hampir membosankan. Kalau saja

    tak ada kritikus sastra yang menyatakan bahwa ada

    satu bentuk luka yang belum ia tuliskan, prihal cinta,

    barangkali ia sudah beralih tema dan memulainya

    dari titik awal kepenyairannya.

    Sejak saat itulah ia mulai mencari referensi

    prihal cinta dan segala gejolaknya yang membuat

    Julius Caisar bertekuk sujud pada Cleo Patra. Tapi

    ia tak memiliki empirik prihal cinta, puisinya terasa

    dangkal. Terlalu jauh untuk mencapai estetiknya.

    Dasar penyair kutu buku! Prihal cinta tak

    bisa dicari di buku, apalagi koran. Okelah, luka-luka

    yang kau tulis sebelumnya bisa dicari referensinya.

    Dengan tanpa empirik sekalipun kau bisa menulis-

    kannya dengan penghayatan yang dahsyat. Tapi

    prihal cinta kau harus lesap di dalamnya. Susunlah

    puncak perih luka itu. Dan hati-hati jangan sampai

    larutbahaya! Penamu bisa mandul! Ia teringat

    masukan temannya di sebuah pertemuan para

    penyair.

    Akhirnya ia tercandu mereka-reka pertemuan

    demi pertemuan dengan seorang gadispemilik sorot

    mata yang memancarkan bahkan memberikan ke-

    sejukan hijau daun pada tatapnyayang ia kenal

    sebelumnya. Goresan-goresan pada pertemuan

    yang puitik disusunnya dengan rapi dan dijadikan-

    nya luka untuk diperam di hatinya. Ruang dan waktu

    sengaja ia rentangkan menjadi jurang pemisah demi

    kentaranya rindu pada pertemuan yang mencipta l

    uka.

    Setiap kali otaknya menciumi luka yang ia

    peram, selalu saja susunan kata-katanya tak pantas

    disebut 'puisi'. Hanya baris kalimat yang membuatnya

    gila.

    Keratan malam yang kita nik-

    mati di meja hidangan yang puitik

    telah membuatku gila. Sungguh aku

    tergila-gila pada pertemuan itu.

    Pesan singkat pada perempuannya.

    Maaf, pertemuan yang mem-

    buatmu gila kini tak bisa kuhidangkan

    untukmu. Balasnya.

    Ia sadar akan kebosanan yang

    melilit perempuannya itu. Karenannya

    ia tak merasa heran jika perempuan

    itu lebih memilih laki-laki yang nama-

    nya sering disebutkan dalam setiap

    pertemuan dan menggoreskan luka.

    Ia bahagia, karena inilah puncak

    pedih dari luka yang ia susun selama

    ini untuk puisi-puisi luka prihal cinta.

    Namun tak ia sangka, luka

    yang ia reka telah mencipta episen-

    trum luka di hatinya yang tak bisa ia

    tuliskan dan membuatnya tersiksa.

    Kerinduannya pada pertemuan yang

    ia reka demi sebuah inspirasi tak bisa

    ia dapati lagi. Atau mungkin sajak-

    sajak yang hendak ia tuliskan sudah

    tak lagi menjadi hal penting baginya.

    Ia merasa telah melanggar pantangan.

    Penanya telah kering.

    Terima kasih, Manis. Pedih

    yang kutanam di atas episentrum

    luka yang perlahan meretak kini telah

    berbunga. Aromanya menebar kema-

    tian pada setiap sudut ruang kosong

    jiwaku. Anggap saja ini pengakuan

    dosa; aku benar-benar mencintaimu.

    A

    Pondok AS S, Bandung 130108

    Episentrum; titik pada permukaan

    bumi yang terletak tegak lurus di

    atas pusat gempa yang ada di

    dalam bumi

    (KBBI edisi ke tiga)

  • HAYALAN PADANG TANDUS

    karya :Setia Naka Andrian

    jika alam punya mata

    perlihatkanlah aku,

    saat kutadahkan jari-jemari

    dan katakan kepada-Nya

    bila perkataanku lah, yang sesungguhnya

    mengumpamakan perasaan

    agar Tuhan mau mendengar

    Ditengah bentangan luas rerumputan yang

    telah lama mengering. Sepi dan tak nampak

    aktifitas kehidupan. Hanya penggembala

    yang tersisa di sebuah perkampungan mati.

    Terlihat gubuk reot yang digunakan sebagai

    tempat berteduhnya saat masih menggembala

    kambing. Ketika rerumputan di perkampungan

    tempat tinggalnya masih membentang lebat

    dan memberi kemakmuran bagi masyarakat.

    Sebelum ada yang serakah, menghancurkan

    dan memusnahkan kehidupan kampung.

    Penggembala:

    (Menatap langit dan memohon menadahkan

    tangan).

    Ya Tuhan, sudah terlalu lamakah aku berdiri?

    Perlahan melangkahkan kaki mengitari rerum-

    putan kering ini. (Sembari seorang adik datang

    disekitar tempat itu yang tak diketahui oleh

    penggembala).

    Ternyata tak ada lagi yang mau tumbuh, walau-

    pun hujan mengguyur dan melucuti butiran

    tetes-tetes keringat yang telah menemani

    lelahku. Hingga sampai menjamur tapi belum

    juga mereka melambaikan tangannya. Hadirkan

    kesejukan setelah lama pergi dan membuat

    semua binatang ternakku kehilangan nyawa.

    Tiga ekor kambing peninggalan orang tuaku.

    Oh, telah ludes mati kelaparan.

    Terus apa lagi yang bisa kuperbuat setelah tidak

    ada lagi yang bisa kupegang dan kukendalikan.

    Haruskah kumelamun hingga hayalan-hayalan

    itu terlahir menjadi nyata dan membelai tubuhku

    karena anugerah-Mu?

    Terus bagaimana caranya menumbuhkan rumput-

    rumput itu tanpa memohon kepada-Mu?

    Apakah layak bila pembunuh rerumputan ini

    diberi hidup karena keinginan dan per-

    mintaan-Mu?

    Apakah belum cukup permohonanku

    berlarian dan membela berdesak-

    desakan untuk menghadap dan meng-

    harap pengertian-Mu?

    Ya Tuhan Yang Maha Agung...

    Aku terlalu lama menghayal, mengha-

    rap kedatangan anugerah-anugerah-Mu.

    Karena memang hanya aku satu-satunya

    yang masih kuat dan berdiri, memohon

    dan terus memohon kepada-Mu Ya Tuhan.

    Karena semua telah pergi, jauh hari se-

    telah mereka menghancurkan habis re-

    rumputan hijau yang dulu mengharum-

    kan dan selalu memberikan kesejukan

    dan selalu memberi makan kambing-

    kambing dan seluruh hewan ternak di

    perkampungan ini.

    Tapi setelah semua r