PERILAKU SETAN - syamina.orgsyamina.org/uploads/Edisi_10_Agustus_2018_perilaku setan.pdf ·...

of 26/26
A.SADIKIN PERILAKU SETAN PERILAKU SETAN YANG MENYESATKAN MANUSIA MENYESATKAN MANUSIA
  • date post

    30-May-2019
  • Category

    Documents

  • view

    243
  • download

    3

Embed Size (px)

Transcript of PERILAKU SETAN - syamina.orgsyamina.org/uploads/Edisi_10_Agustus_2018_perilaku setan.pdf ·...

A.SADIKIN

PERILAKUSETANPERILAKUSETANYANG MENYESATKAN

MANUSIAMENYESATKANMANUSIA

PERILAKU SETAN

YANG MENYESATKAN MANUSIA

A. Sadikin

Laporan Edisi 10 / Agustus 2018

ABOUT US

Laporan ini merupakan sebuah publikasi dari Lembaga Kajian Syamina (LKS). LKS merupakan sebuah lembaga kajian independen yang bekerja dalam rangka membantu masyarakat untuk mencegah segala bentuk kezaliman. Publikasi ini didesain untuk dibaca oleh pengambil kebijakan dan dapat diakses oleh semua elemen masyarakat. Laporan yang terbit sejak tahun 2013 ini merupakan salah satu dari sekian banyak media yang mengajak segenap elemen umat untuk bekerja mencegah kezaliman. Media ini berusaha untuk menjadi corong kebenaran yang ditujukan kepada segenap lapisan dan tokoh masyarakat agar sadar realitas dan peduli terhadap hajat akan keadilan. Isinya mengemukakan gagasan ilmiah dan menitikberatkan pada metode analisis dengan uraian yang lugas dan tujuan yang legal. Pandangan yang tertuang dalam laporan ini merupakan pendapat yang diekspresikan oleh masing-masing penulis.

Untuk komentar atau pertanyaan tentang publikasi kami,

kirimkan e-mail ke:

[email protected]

Seluruh laporan kami bisa didownload di website:

www.syamina.org

SYAMINA

SYAMINA Edisi 10 / Agustus 2018

3

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI 3

EXECUTIVE SUMMARY 4

PERSPEKTIF AL-QURAN TENTANG SETAN 6

DOSA DAN PERAN SETAN DI DALAMNYA 12

EFEK DOSA 16

DOSA-DOSA BESAR 19

LANGKAH SETAN DALAM MENYESATKAN MANUSIA 23

BERTAUBAT DARI DOSA 24

PENUTUP 25

DAFTAR PUSTAKA 25

SYAMINAEdisi 10 / Agustus 2018

4

Kejahatan (syarr)lawan dari kebaikan (khair) dan sebagai tindakan yang dilakukan oleh manusiamasuk dalam diskusi ketika membicarakan perbuatan manusia secara individu dan kolektif. Kejahatan sering dipersonifikasi oleh Al-Quran sebagai iblis atau setan. Al-Quran menggambarkan

setan sebagai sosok yang mendurhakai perintah Allah, lebih sebagai musuh manusia

daripada sebagai musuh Allah.

Ide paling menonjol dari Al-Quran menyangkut setan adalah bahwa semua

perbuatan setan meliputi seluruh wilayah menusia sehingga manusia harus selalu

waspada dan hati-hati. Begitu lengah, manusia dapat masuk ke dalam perangkap

setan. Tipu daya setan sendiri sebetulnya tidaklah kuat. Hanya kelemahan,

karapuhan moral, dan kelengahan manusia yang membuat setan tampak sangat

kuat. Iblis dan setan tampaknya lebih berwatak licik dan licin daripada kuat; lebih

menipu dan bersekongkol daripada menantang secara terbuka; lebih menghasut,

curang dan menghadang daripada berperang berhadap-hadapan. Inilah mengapa

EXECUTIVE SUMMARY

SYAMINA Edisi 10 / Agustus 2018

5

setan membela diri di Hari Perhitungan kepada mereka yang menuduhnya menipu.

Oleh itu, muncullah keyakinan kuat Al-Quran bahwa keburukan dan kejahatan pasti

bisa dikalahkan oleh kebenaran dan kebaikan.

Lantaran setan menggunakan tipu daya yang licik dan melepaskan diri dari

tanggung jawabkarena usaha setan yang putus asa tersebut bersifat kontra-

produktifmanusia sering diseru oleh Al-Quran untuk tidak mengikuti langkah-

langkah setan. Ide bahwa manusia bisa betul-betul mengikuti langkah-langkah

setan memiliki dua aspek. Pertama, setan tidak pernah memaksa, dan memang tidak

akan pernah bisa memaksa, siapa pun untuk berbuat kejahatan, tetapi ia berusaha

mengajak atau menggoda manusia sebagai sasarannya. Kedua, langkah-langkha

setan ini membawa kehancuran bagi korbannya. Sungguh penting bagi manusia

untuk mengenali langkah-langkah setan; jika tidak, amatlah sulit, jika bukan

mustahil, bagi manusia untuk menyelamatkan diri dari bencana.

Dalam menyesatkan manusia, ada enam tahapan yang dilakukan setan: (1)

mengajak pada kekafiran, kesyirikan, serta memusuhi Allah dan Rasul-Nya; (2)

mengajak melakukan bidah; (3) mengaajak mengerjakan dosa besar (al-kabair); (4)

mengajak mengerjakan dosa kecil (ash-shaghair); (5) menyibukkan pada perkara

mubah; (6) menyibukkan dalam amalan yang kurang afdhal, padahal ada amalan

yang lebih afdhal.

Efek dosa yang dilakukan manusia dapat berdampak baik pada individu

pelakunya maupun pada komunistas di wilayah tersebut jika mereka tidak berusaha

mecegah dan mengingatkan pelakunya. Efek dosa perdahap individu di antaranya

yaitu: terhalangi dari ilmu, memperpendek umur, dapat memancing dosa yang lain,

melumpuhkan keinginan berbuat baik, dan sejenisnya. Adapun efek dosa terhadap

komunitas yaitu dapat menimbulkan kerusakan di bumi dan berbagai bencana.

Meski manusia memang tidak mungkin terbebas dari kesalahan (dosa-dosa

kecil), yang berarti pada suatu kesempatan manusia juga terbujuk oleh godaan setan

sehingga melakukan dosa, namun manusia bisa menjauhi seluruh dosa-dosa besar.

Tetapi, dalam Islam, pintu tobat senantiasa terbuka bagi mereka yang melakukan

dosa. Menariknya, dalam pandangan Islam, bukan persoalan dosa besar atau dosa

kecilkah yang dilakukan manusia, namun persoalan mendasar adalah kepada siapa

manusia sebenarnya melakukan dosa tersebut, yaitu kepada Allah, Rabb semesta

alam.

SYAMINAEdisi 10 / Agustus 2018

6

PERILAKU SETAN

YANG MENYESATKAN MANUSIA

I. PERSPEKTIF AL-QURAN TENTANG SETANKejahatan (syarr)lawan dari kebaikan (khair) dan sebagai tindakan yang

dilakukan oleh manusiamasuk dalam diskusi ketika membicarakan perbuatan

manusia secara individu dan kolektif. Kejahatan sering dipersonifikasi oleh Al-Quran

sebagai iblis atau setan, meskipun personifikasi kedua (setan) jauh lebih lemah

daripada yang pertama (iblis). Al-Quran, khususnya dalam surat-surat Makkiyah1,

berkali-kali menyebut setan dalam bentuk jamaknya, setan-setan (sayathin)yang

terkadang merujuk, mungkin secara metaformosis, kepada manusia juga.2

Sebagaimana yang disinggung Al-Quran, Dan apabila mereka (orang-orang

munafik) kembali pada setan-setan mereka.3

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan

(dari jenis) manusia dan jin.4

Tentang setan dan iblis, ia adalah makhluk yang sebaya dengan manusia

meski ia lebih dahulu ada sebelum Adam. Hal ini mengindikasikan fakta moral

yang fundamental, bahwa perjuangan antara yang baik dan yang jahat merupakan

kenyataan bagi manusia saja. Karena itu, Al-Quran menggambarkan setan sebagai

sosok yang mendurhakai perintah Allah, lebih sebagai musuh manusia daripada

sebagai musuh Tuhan. Sebab, Tuhan tidak mungkin terjangkau dan tersentuh

1 Surat Makkiyah menurut jumhur ulama adalah surat yang diturunkan sebelum Rasulullah g hijrah ke Yatsrib

(Madinah). Sementara surat Madaniyyah adalah surat yang diturunkan setelah Rasulullah g hijrah.2 Fazlurrahman, Mayor Themess of The Qur'an, 85-91.3 Al-Baqarah: 14.4 Al-Anam: 112.

SYAMINA Edisi 10 / Agustus 2018

7

oleh iblis. Manusia-lah yang menjadi sasaran iblis, dan manusia-lah yang bisa

menaklukkannya atau takluk kepadanya.

Ide paling menonjol dari Al-Quran menyangkut setan adalah bahwa semua

perbuatan setan meliputi seluruh wilayah menusia sehingga manusia harus selalu

waspada dan hati-hati. Begitu lengah, manusia dapat masuk ke dalam perangkap

setan. Meskipun setiap manusia, dalam tatanan tertentu dan pada prinsipnya selalu

demikian, mendapat godaan setan, manusia yang bertakwa (yaitu yang terlindungi

dari kerusakan moral) tidak betul-betul terjerembab ke dalam kejahatan, tetapi cepat

menyadari tipu daya setan. Karena itu, Al-Quran mengingatkan Nabi Muhammad g,

Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah.

Sungguh Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Sungguh orang-orang yang

bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka

ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.5

Hal ini berarti bahwa misi utama iblis adalah menyesatkan manusia dan kadang

kalaatau dalam kasus manusia yang jahat, hampir secara permanenmenutup

kepekaan hatinya. Bagaimanapun, Al-Quran menekankan bahwa meskipun tidak

ada manusia yang sepenuhnya kebal dari perangkap setan, setan benar-benar tidak

bisa melancarkan serangannya terhadap orang-orang bertakwa yang telah memiliki

integritas moral. Karena itu, Allah berfirman kepada setan,

Sungguh hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka,

kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat.6

Sungguh setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan

bertawakkal kepada Tuhannya.7

Tipu daya setan sendiri sebetulnya tidaklah kuat. Hanya kelemahan, karapuhan

moral, dan kelengahan manusia yang membuat setan tampak sangat kuat. Menurut

Al-Quran, tipuan setan berakar dari keputusasaan dan ketiadaan harapan yang

memuncak. Hilangnya harapan, begitu juga lawannya (yaitu sombong), adalah

karakter utama setan. Mula-mula, setan menolak bersujud menghormat kepada

Adam lantaran keangkuhannya, karena ia merasa lebih tinggi derajatnya daripada

Adam. Setelah Allah melaknatnya lantaran keangkuhannya, mereka menjadi putus

asa dan kehilangan harapan.8

Keputusasaan yang memuncak itu dilampiaskan oleh setan berupaya

menjerumuskan manusia.

Iblis menjawab, Karena Engkau telah menghukumku tersesat, aku benar-benar

akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian aku akan

mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri

mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)

[kepada-Mu]. 9

5 Al-Araf: 200-201.6 Al-Hijr: 42.7 An-NAhl: 99.8 Baca Al-Hijr: 32-40.9 Al-A'raf:16-17.

SYAMINAEdisi 10 / Agustus 2018

8

Maka, iblis dan setan tampaknya lebih berwatak licik dan licin daripada kuat; lebih

menipu dan bersekongkol daripada menantang secara terbuka; lebih menghasut,

curang dan menghadang daripada berperang berhadap-hadapan. Inilah mengapa

setan membela diri di Hari Perhitungan kepada mereka yang menuduhnya menipu.10

Pada hakikatnya, kekuatan setan berelasi dengan kelemahan manusia, karena

setan sendiri hanya memiliki sedikit kekuatan intrinsik. Tipu daya utamanya

adalah menghiasi atau menyebabkan tampak menarik pesona duniawi yang

menjerumuskan atau menyebabkan tampak berat atau menakutkan hal-hal yang

bermanfaat.

Setan pun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka

kerjakan.11

Setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan (buruk) mereka.12

Sungguh mereka itu hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan

kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy). 13

Karena itu, kekuatan setan bergantung pada pilihan manusia itu sendiri. Setan

sendiri sering dilukiskan dalam Al-Quran sebagai pendurhaka kepada Allah,14 tetapi

padaa akhirnya sikap itu mengekspresikan keputusasaannya. Setan kelak mengakui

pada Hari Perhitungan kegagalan upayanya dan bahwa ia sebenarnya tak punya

kuasa atas manusia. Al-Quran menyatakan, Dan tidak ada yang dijanjikan oleh

setan kepada mereka melainkan tipu daya belaka15, yang berarti bahwa tidak ada

yang benar dalam janji-janjinya. Demikian juga, Orang-orang yang berperang di

jalan Allah, dan orang-orang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah

kawan-kawan setan itu. Karena sungguh tipu daya setan itu lemah.16 Dari keyakinan

bahwa kejahatan itu secara inheren lemah, sedangkan kebenaran secara inheren

kuat, maka muncullah keyakinan kuat Al-Quran bahwa keburukan dan kejahatan

pasti bisa dikalahkan.

Mereka itulah golongan setan. Ketahuilah bahwa sungguh golongan setan itulah

golongan yang merugi.17

Maka sungguh pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.18

Maka, setan kelak mengkhianati teman-temannya dan meninggalkan mereka

sendirian dalam kesusahan. Lebih jauh, setan akan meninggalkan manusia.19

Bahkan dalam kehidupan dunia ini, setelah manusia terperangkap tipu dayanya,

setan menolak ikut bertanggung jawab.

10 Baca Ibrahim: 22.11 Al-An'am: 43.12 Al-Infal: 48.13 Ali Imran: 175.14 BacaAsh-Shaffat:7,Al-Hajj:3,An-Nisa':117.15 Baca Al-Isra': 64, An-Nisa': 120.16 An-Nisa': 76.17 Al-Mujadilah: 19.18 Al-Maidah: 56.19 Baca Al-Furqan: 29.

SYAMINA Edisi 10 / Agustus 2018

9

Seperti (bujukan) setan ketika dia berkata kepada manusia, Kafirlah kamu,

maka tatkala manusia telah kafir ia berkata, Sungguh aku berlepas diri dari kamu

karena sungguh aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam.20

Maka, bukanlah setan yang kuat, tetapi kegagalan manusia dalam menunjukkan

kekuatannya melawan rayuan setan itulah yang menjadi acaman nyata bagi

manusia. Hiasan duniawi ini bagi manusia menyentuh hati dan pikirannya sehingga

ia tersesat dalam kepentingan jangka pendek dan lupa akan akhirat, akhir yang

sesungguhnya, berjangka panjang dan penuh konsekuensi, serta menjadi tujuan

penting. Hal inilah yang sebenarnya dieksploitasi oleh setan. Dapat dikatakan

bahwa setan hanyalah sebuah kekuatan yang memperkuat tendensi kejahatan

yang telah inheren di dalam diri manusia. Ketika kedua faktor tersebut berpadu,

aliansi itu tampaknya tidak terbendung. Jika ia hendak melepaskan aliansi yang

kuat ini, manusia harus secara sadar menyandarkan diri kepada Allah dalam rangka

memperkuat dan membangun potensi kebaikan yang inheren di dalam dirinya.

Lantaran setan menggunakan tipu daya yang licik dan melepaskan diri dari

tanggung jawabkarena usaha setan yang putus asa tersebut bersifat kontra-

produktifmanusia sering diseru oleh Al-Quran untuk tidak mengikuti langkah-

langkah setan, karena langkah tersebut membawa manusia ke arah kerusakan diri

sendiri. Setan adalah musuh yang nyata bagi manusia. Karena itu, langkah-langkah

setan tersebut meliputi segala jenis sejahatan yang dilakukan oleh manusia, entah

itu kemubaziran, korupsi, perang, atau kejahatan lain.

Hai manusia! Makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi,

dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sungguh setan itu

musuh yang nyata bagimu.21

Demikian juga dalam hal perang, Wahai orang-orang beriman! Masuklah kamu

ke dalam kedamaian seluruhnya dan janganlah kamu turuti langkah-langkah

setan. Sungguh setan itu musuh yang nyata bagimu. Tetapi jika kamu menyimpang

sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah bahwa Allah

Mahaperkasa laga Mahabijaksana.22

Setelah mendiskusikan berbagai usaha orang-orang munafik untuk menyebarkan

hasutan di antara umat Islam, Al-Quran berbicara tentang kerusakan moral.

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah

setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya

setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya

tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak

seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu)

selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah

Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. 23

20 Al-Hasyr: 16.21 Al-Baqarah: 168.22 Al-Baqarah: 208-209.23 An-Nuur: 21.

SYAMINAEdisi 10 / Agustus 2018

10

Ide bahwa manusia bisa betul-betul mengikuti langkah-langkah setan memiliki

dua aspek. Pertama, setan tidak pernah memaksa, dan memang tidak akan pernah

bisa memaksa, siapa pun untuk berbuat kejahatan, tetapi ia berusaha mengajak

atau menggoda manusia sebagai sasarannya. Cara menggodanya adalah dengan

menyuguhkan berbagai tujuan palsu yang mudah dicapai dalam jangka pendek atau

menampakkan kehidupan dunia ini begitu menggiurkan sehingga banyak orang

menjadi korban; kebanyakan manusia terjebak dalam waktu tertentu tetapi banyak

juga yang bersifat permanengolongan terakhir inilah yang disebut teman-teman

atau golongan setan.

Kedua, langkah-langkha setan ini membawa kehancuran bagi korbannya.

Sungguh penting bagi manusia untuk mengenali langkah-langkah setan; jika tidak,

amatlah sulit, jika bukan mustahil, bagi manusia untuk menyelamatkan diri dari

bencana. Karena itu, masalah utamanya terletak pada diri manusia itu sendiri,

karena ia memiliki kecenderungan baik dan sekaligus jahat, bodoh dan sekaligus

cerdas, kuat dan sekaligus lemah. Benteng manusia adalah takwa, yang secara literal

bermakna pertahanan, tetapi berupa cahaya di dalam hati, sebuah percikan api

spiritual yang harus dinyalakan dalam dirinya sehingga ia mampu membedakan

antara yang benar dan yang salah, yang palsu dan yang sejati, yang fana dan yang

abadi, dan sebagainya. Begitu seseorang melakukan hal yang demikian, dia bakal

mampu mengenali langkah-langkah setan secara nyata dan tidak terjebak oleh tipu

dayanya.

Kenyataan bahwa manusia secara inheren mengandung dalam dirinya tendensi

kejahatan dan sekaligus tendensi kebaikan, menjadikan ia berbeda dari malaikat,

yang bebas dari tendensi kejahatan dan secara otomatis menjadi makhluk baik,

dan menjadikan manusia lebih dekat dengan jin. Dalam kasus manapun, selalu

ada pergulatan antara dua kecenderungan ini di dalam diri manusia. Namun,

kecenderungan jahat betul-betul menjadi sangat kuat lantaran setan, yang tipu

muslihatnya memiliki beragam bentuk dan cara (termasuk menciptakan rasa riya

dan ujub atas amal baik yang dikerjakan). Karena kecenderungan manusia kepada

hal-hal yang mudah dan segera (ditambah lagi dengan kecenderungan untuk menipu

diri sendiri), setan bisa membungkus dan menampilkan kejahatan sebagai kebaikan.

Jadi, setan bisa merusak kapasitas visi batin manusia yang disebut oleh Al-Quran

sebagai takwa.

Adanya penghubung antara faktor internal (kecenderungan jahat di dalam diri

manusia) dan faktor eksternal (godaan setan), menjadikan manusia perlu terus-

menerus bersama Allah atau selalu memohon perlongan-Nya. Menurut Al-Quran,

Allah tidak hanya menolong tetapi juga berjanji bahwa golongan-Nya pada akhirnya

akan memperoleh kemenangan.

Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman

menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti

menang.24

24 Al-Maidah: 56.

SYAMINA Edisi 10 / Agustus 2018

11

Ide tentang kejahatan subjektif dan kejahatan objektifsebagai lawan dari

kebaikan subjektif dan kebaikan objektifmenunjukkan bahwa keberadaan setan

pastilah bersifat objektif. Bagaimanapun, meskipun setan tidak berada di dalam

diri manusia kecuali secara metaforis, tetapi ia sebaya dengan manusia, karena tidak

ada setan sebelum adanya Adam dan tidak mungkin ada setan yang independen dari

manusia. Lebih dari itu, perbuatan-perbuatan setan ada di dalam duri manusia

sejauh setan mampu memengaruhi pikiran manusia melalui sugesti, rayuan, dan

ajakan.

Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan

kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan setan berkata:

Tuhan kamu tidak melarangmu mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu

berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam

surga).25

Namun pikiran manusia (tepatnya, hawa nafsunya) juga direpresentasikan

sebagai bisikan kepada manusia.26 Tentu saja, bahwa nafsu tidak hanya

menggodanya untuk berbuat jahat tetapi bahkan memerintahkannya untuk

berbuat demikian.

Dan (Yusuf berkata) aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena

sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang

diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha

Penyayang.27

Menyangkut istilah syaithan, meskipun biasanya digunakan dalam bentuk

tunggal, tetapi penggunaannya dalam bentuk plural (syayathin) juga tidak jarang.

Penggunaannya dalam bentuk plural dalam kasus-kasus tertentu jelas bersifat

metaforis, sebagaimana dalam frasa setan-setan dari golongan manusia dan jin28.

Dan bila mereka (orang-orang munafik) berjumpa dengan orang-orang yang

beriman, mereka mengatakan: Kami telah beriman. Dan bila mereka kembali kepada

setan-setan mereka (sesama kaum munafik), mereka mengatakan: Sesungguhnya

kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok.29

Karena setan telah diberi tangguh oleh Allah sampai Hari Akhir sehingga

memungkinkan dia melanjutkan misi utamanya, maka tampaknya tidak ada

pertanyaan lagi mengenai saat kebangkitannya kembali. Bagaimanapun, ada banyak

konteks ketika istilah setan-setan tidak bisa dimakna secara metaforis.

Sesungguhnya mereka (orang-orang kafir) menjadikan setan-setan sebagai

pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat

petunjuk.30

25 Al-Araf: 20.26 Baca Qaf: 16.27 Yusuf: 53.28 Baca Al-Anam: 11229 Al-Baqarah: 14.30 Al-A'raf: 30.

SYAMINAEdisi 10 / Agustus 2018

12

Juga disebutkan, beberapa setan bertugas menyelam mencari mutiara untuk

Nabi Sulaiman, di samping melakukan pekerjaan-pekerjaan lain.31 Meskipun yang

dimaksud setan di sini kemungkinan besar adalah jin yang jahat, kerena jin memang

mengabdi kepada nabi Sulaiman.32

Tentu saja, beberapa orangkhususnya para menyair yang terobsesi dengan

imajinasi liarmenerima pesan dari setan, tetapi Nabi Muhammad g memiliki

kekebalan terhadapnya sebagaimana yang dapat dipahami dari firman Allah berikut,

Dan Al-Quran itu bukanlah dibawa turun oleh setan-setan. Dan tidaklah

patut mereka membawa turun Al Quran itu, dan merekapun tidak akan kuasa.

Sesungguhnya mereka benar-benar dijauhkan daripada mendengar Al Quran itu.33

Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu

turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa, mereka

menghadapkan pendengaran (kepada setan) itu, dan kebanyakan mereka adalah

orang-orang pendusta. Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang

sesat. Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap-tiap

lembah, dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak

mengerjakan(nya)? kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal

saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita

kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana

mereka akan kembali.34

Sebagaimana Allah menurunkan risalah-Nya kepada para nabi-Nya, begitu juga

setan mengirimkan pesan kepada para pengikutnya yang jahat. Sebagaimana para

nabi mendapat kekuatan dari kontaj dengan Tuhan, orang-orang jahat mengambil

kekuatannya dari setan. Hanya saja, kekuatan setan tidak dibangun berdasarkan

kebenaran, dan sesungguhnya tidak riil sehingga tidak bisa bertahan menghadapi

kekuatan ilahi dan karena itu bathil, yakni salah dan terkalahkan.

II. DOSA DAN PERAN SETAN DI DALAMNYASebagaimana disinggung sebelumnya, setan berusaha sekuat tenaga untuk

menjerumuskan manusia ke dalam kejahatan dan dosa. Karena, dengan kejahatan

dan dosa inilah setan berhasil menyesatkan dan memperdaya manusia.

Dosa merupakan di antara konsep penting dalam etika Islam. Seorang Muslim

memandang dosa sebagai sesuatu yang bertentangan dengan perintah Allah. Selain

juga berupa pelanggaran hukum dan norma yang ditetapkan oleh agama. Islam

mengajarkan bahwa dosa dapat berupa tindakan, ucapan, maupun keyakinan

yang terdapat dalam hati seseorang. Islam juga menjelaskan bahwa Allah akan

memberikan ganjaran besar kepada setiap indivudu yang melakukan kebaikan dan

melawan dosa-dosanya pada Hari Kiamat berupa surga, dan menghukum orang-

31 Baca Al-Anbiya': 82.32 Baca Saba: 12.33 Asy-Syuara: 210-212.34 Asy-Syuara: 221-227.

SYAMINA Edisi 10 / Agustus 2018

13

orang yang perbuatan jahatnya melebihi perbuatan baik mereka. Orang-orang ini

disiksa dalam neraka.

Al-Qur'an menggambarkan dosa-dosa ini di seluruh teksnya dan menunjukkan

bahwa beberapa dosa mendapat hukuman yang lebih berat dibanding yang lain.

Perbedaan yang jelas dibuat antara dosa besar dan dosa kecil, yang menunjukkan

bahwa jika seseorang menjauh dari dosa besar, maka dia akan diampuni dari dosa-

dosanya yang kecil. Meski demikian, Islam mengajarkan bahwa Allah itu Maha

Pemurah, dan individu mana pundapat diampuni dari dosa-dosa mereka jika mereka

bertobat.

A. Terminologi Dosa dalam Al Qur'an Beberapa kata berbeda digunakan dalam Al Qur'an untuk menggambarkan dosa

(1) Dzanb (2) ,() Itsm (3) ,() Khati'ah (4) ,() Jurm (5) ,() Haraj (), Junah (), dan Sayyi`ah (). Dengan memeriksa pilihan kata-kata dalam ayat-ayat Al-Quran yang digunakan sehubungan dengan istilah-istilah ini, para ahli telah

berusaha untuk menentukan dosa-dosa mana yang terkait dengan istilah-istilah itu.

Dzanb Secara literal, dzanb pada asalnya berarti ekor hewan melata. Lantaran pada

umumnya bagian ekor hewan melata merupakan wilayah yang kotor dan menjijikkan,

kata dzanb kemudian digunakan untuk setiap perbuatan yang menghasilkan sesuatu

yang dianggap buruk dan tercela.35

Dzanb (plural: dzunub ) sering diterapkan pada dosa besar dan keji yang

dilakukan terhadap Allah. Salah satu contoh utama Dzanb dalam Al-Qur'an adalah

mendustakan dari tanda-tanda kekuasaan Allah, atau memiliki kebanggaan yang

berlebihan sehingga mencegah seseorang mempercayai tanda-tanda kekuasaan

Allah.

"Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya. (Yaitu) orang-orang yang berdoa,

'Wahai Tuhan kami! Kami benar-benar beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami

dan lindungilah kami dari azab neraka."36

Penggunaan dzanb dalam Al-Qur'an ini menunjukkan bahwa jenis dosa ini dapat

dihukum di akhirat. Bahkan, dzanb dianggap sebagai dosa besar dan sering digunakan

dalam Al-Qur'an untuk bertolak belakang dengan sayyi`ah , yang menunjukkan dosa

yang lebih kecil. Al-Qur'an menyatakan bahwa jika Anda menghindari dosa-dosa

besar ini, perbuatan jahat Anda yang lebih rendah atau sayyi'ah akan diampuni.

"Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang

mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu dan akan Kami

masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)." 37

35 Raghib Al-Ashfahani, Al-Mufradat fi Gharib Al-Quran, h. 331.36 Ali Imran: 1516.37 QS An-Nisa': 31.

SYAMINAEdisi 10 / Agustus 2018

14

Itsm Itsm secara literal berarti setiap perbuatan yang dapat menangguhkan dan

memperlambat diberikannya suatu upah atau ganjaran.38

Sebagian ulama percaya bahwa bermakna sama. Namun beberapa ahli lainnya

percaya bahwa makna dasar dari itsm adalah perbuatan yang melanggar hukum

yang dilakukan dengan sengaja. Ini berbeda dengan dzanb. Dzanb dapat berarti

perbuatan melanggar hukum yang disengaja dan tidak disengaja. Namun, definisi

ini agak samar dan deskripsi terbaik dari kata tersebut didasarkan pada situasi

kontekstual. Dalam Al Quran, kata tersebut cukup sering ditemukan dalam deskripsi

legislatif (persoalan hukum). Misal, mengambil kembali harta (mahar) yang telah

diberikan seorang suami kepada istrinya (melalui jalan yang tidak dibenarkan

syariat) dianggap sebagai itsm.39 Namun, itsm juga digunakan dalam hubungannya

dengan haram, atau melakukan perbuatan yang melanggar hukum, tabu, seperti

mengkonsumsi makanan atau minuman yang dilarang oleh Allah:

Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang khamar dan judi.

Katakanlah, Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat agi manusia.

Tetapi dosanya lebih besar dari manfaatnya.'40

Itsm juga terkait dengan apa yang dianggap sebagai dosa terburuk dari semua

dosa, yaitu syirik. Syirik menandakan penerimaan kehadiran Tuhan lain di sisi Allah.

Al-Qur'an menyatakan bahwa, Barang siapa yang mempersekutukan Allah maka

sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar.41

Hubungan dengan syirik ini patut dicatat karena syirik dianggap tidak termaafkan

jika tidak bertobat. Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (mempersekutukan

Allah dengan sesuatu), dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia

kehendaki. Dan barangsiapa mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka

sungguh, dia telah tersesat jauh sekali.42

Khathi'ah Khati'ah secara literal berarti tidak tepat atau tidak benar.43 Khathi`ah dianggap

oleh banyak ahli untuk menjadi kesesatan moral atau kesalahan. Berkebalikan

dengan itsm, khathi`ah sering pada umumnya dipakai untuk menunjuk suatu

kesalahan yang tanpa disengaja. Penafsiran ini telah menyebabkan beberapa sarjana

percaya bahwa khati'ah adalah dosa yang lebih rendah daripada itsm. Dalam

ungkapan lain, khathiah adalah dosa kecil, sementara itsm adalah dosa besar.44

Namun, kata khati'ah sering digunakan bersama dengan itsm dalam Al Qur'an.

38 Raghib Al-Ashfahani, Al-Mufradat , h. 63.39 Baca An-Nisa`: 4: 20.40 Al-Baqarah: 219.41 An-Nisa: 48.42 An-Nisa: 116.43 Raghib Al-Ashfahani, Al-Mufradat , h. 287-288.44 Al-Qurthubi, Al-Jami li Ahkam Al-Qur`an, vol. V, h. 381.

SYAMINA Edisi 10 / Agustus 2018

15

Dan barangsiapa berbuat kesalahan atau dosa, kemudian dia tuduhkan kepada

orang yang tidak bersalah, maka sungguh, dia telah memikul suatu kebohongan dan

dosa yang nyata.45

Ayat Al-Qur'an ini menunjukkan bahwa khathi'ah dianggap sebagai itsm, sebuah

dosa besar.46 Bahkan, kata khati'ah dikaitkan dengan beberapa dosa religius yang

paling keji dalam Al Qur'an. Dalam satu ayat Al-Qur'an kata ini digunakan untuk

menggambarkan dosa membunuh anak-anak sendiri karena takut kemiskinan.47

Para sarjana percaya bahwa dzanb atau itsm dapat digunakan sebagai pengganti

khati'ah dalam hal ini. Namun, pilihan kata menunjukkan bahwa khati'ah lebih dari

sekadar kesalahan atau kesalahan moral dan dapat dihukum.

Jurm Kata Jurm sering dianggap sebagai sinonim dari dzanb karena kata itu digunakan

untuk menggambarkan beberapa dosa yang sama: mencoba membuat kebohongan

terhadap Allah dan tidak mempercayai tanda-tanda kekuasaan-Nya. Dalam Al

Qur'an, kata itu sebagian besar muncul dalam bentuk mujrim, seorang yang

melakukan jurm. Orang-orang ini digambarkan dalam Al-Qur'an memiliki arogansi

terhadap orang-orang beriman.

Sesungguhnya orang-orang yang berdosa adalah mereka yang dahulu

menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka (orang-orang

yang beriman) melintas di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan

matanya. Dan apabila kembali kepaa kaumnya, mereka kembali dengan gembira

ria. Dan apabila mereka melihat (orang-orang yang beriman), mereka mengatakan,

'Sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang sesat.48

Junah / Haraj Junah dan Haraj memiliki arti yang sama dengan itsm; dosa yang menjamin

hukuman. Bahkan, kata-kata ini digunakan hampir secara bergantian dengan itsm

dalam bab-bab yang sama dalam Quran. Seperti itsm, kata-kata ini sering ditemukan

di bagian-bagian legislatif dari Al-Qur'an, khususnya yang berkaitan dengan

peraturan tentang pernikahan dan perceraian.

Tidak ada dosa ( junah ) bagimu meminang perempuan-perempuan itu dengan

sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginanmu) dalam hati.49

B. Terminologi dalam HadisDosa dibahas secara luas dalam hadis, (kumpulan perkataan Nabi Muhammad ).

Diriwayatkan oleh An-Nawwas bin Sam'an, dia berkata

45 An-Nisa': 112.46 Lihat penjelasan Al-Qurthubi, Al-Jami li Ahkam Al-Qur`an, vol. V, h. 380.47 Baca Al-Isra': 31.48 Al-Muthaffifin:2932.49 Al-Baqarah: 235.

SYAMINAEdisi 10 / Agustus 2018

16

Nabi (Muhammad) berkata," Kebaikan adalah budi pekerti yang baik, dan dosa

adalah apa yang terlintas dalam dadamu dan kamu tidak suka jika hal itu diketahui

orang lain.50

Wabisah bin Ma'bad juga meriwayatkan:

Saya mendatangi Rasulullah g dan saya ingin agar tidak ada sesuatu baik

berupa kebaikan dan keburukan kecuali aku telah menanyakannya kepada beliau.

Lalu ia melaporkan sabda Rasulullah g, "Wahai Wabishah! Mintalah petunjuk

pada hatimu dan mintalah petunjuk pada jiwamu--beliau mengulanginya tiga kali.

Kebaikan itu adalah sesuatu yang dapat menenangkan dan menentramkan jiwa.

Sedangkan dosa itu adalah sesuatu yang meresahkan hati dan menyesakkan dada,

meski manusia memberi fatwa kepadamu dan membenarkanmu. 51

Dalam Sunan al-Tirmidzi , sebuah hadis yang diriwayatkan bahwa Rasulullah

g bersabda, Setiap putra Adam pernah berbuat dosa. Dan sebaik-baik dari orang-

orang berdosa adalah mereka yang bertobat.52

Dalam Sahih Muslim , Abu Ayyub al-Ansari dan Abu Huraira meriwayatkan:

Rasulullah berkata, Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya! Jika kamu tidak

melakukan dosa sama sekali, niscaya Allah akan memusnahkan kamu. Setelah

itu, Dia akan menggantikan (kamu dengan) orang-orang yang pernah melakukan

dosa. Kemudian mereka akan meminta pengampunan dari Allah, dan Dia akan

mengampuni mereka. 53

C. EFEK DOSADalam Islam, dosa mempunyai banyak dampak buruk yang dapat membahayakan

tidak hanya jiwa, namun juga badan. Daripada itu, selain berdampak di akhirat, dosa

juga dapat berdampak di dunia. Efek buruk terpenting dosa di antaranya yaitu bisa

membahayakaan hati (jiwa), sebagaimana bahayanya racun bagi tubuh. Karena

hati (jiwa) yang sakit inilah awal dari berbagai dosa dan kejahatan. Disebabkan

dosalah Nabi Adam dan Hawa dikeluarkan dari surga; tempat berbagai kenikmatan,

kesenangan, dan kebahagiaan. Disebabkan dosa juga Iblis dilaknat oleh Allah dan

diusir dari kerajaan langit.

Lantaran dosa yang dilakukan oleh kaum Nabi Nuh, bumi tempat tinggal mereka

Allah tenggelamkan dengan air yang tingginya melebihi puncak gunung. Lantaran

dosa yang dikerjakan oleh kaum Ad, datanglah musibah angin yang memporak-

porandakan rumah, sawah, ladang, dan hewan ternak, sehingga mereka juga ikut

mati bergelimpangan di atas tanah bagaikan tunggul-tunggul kurma yang telah lapuk.

Lantaran dosa juga, Allah memerintahkan malaikat untuk mengangkat desa-desa

kaum Nabi Luth, lalu desa mereka dibalik. Lalu disusul dengan hujan batu dari alngit

yang menyebabkan mereka mati semua. Lantaran dosa jualah Allah menurunkan

50 HR. Muslim, no. 2553.51 HR. Ahmad, no. 17320, dan Ad-Darmi, no. 2575.52 HR. al-Tirmidzi, no. 2499.53 HR. Muslim, no. 2749.

SYAMINA Edisi 10 / Agustus 2018

17

bencana berupa awan kepada kaum Nabi Syuaib. Awan tersebut menaungi mereka

ibarat payung menghitam. Tetapi saat awan itu berada di atas kepala mereka,

turunlah dari awan tersebut api yang menjilat-jilat sehingga membinasakan mereka.

Karena dosa, Allah menenggelamkan Firaun dan bala tenteranya. Karena

dosa, Allah juga menenggelamkan Qarun beserta istananya, harta bendanya, dan

keluarganya. Dan karena dosa jugalah, Allah mengirimkan kaum yang sangat kuat

pada Bani Israil yang membunuh anak-anak laki mereka dan membiarkan anak-

anak perempuan mereka, membakar rumah mereka, serta merampas harta benda

mereka. Selain itu, kaum tersebut juga membunuh mereka, menawan mereka,

menguasai mereka dengan kezaliman, bahkan terdapat di antara Bani Israil yang

dikutuk menjadi kera dan babi.54 Serta, karena dosa yang dilakukan oleh sebagian

pasukan Rasulullah g saat Perang Uhud yang menyebabkan gugurnya 70 sahabat

beliau dan mereka ditimpa kesedihan.55

Di antara efek dosa yaitu sebagai berikut:

Terhalangi dari IlmuDampak buruk dosa bagi jiwa di antaranya yaitu dapat menghalangi tercapainya

ilmu. Karena dalam pandangan Islam, ilmu tidak sekedar kognitif (pengetahuan

tentang sesuatu), namun juga mencakup moral dan spiritual. Ilmu sering disebut

dengan nurullah (cahaya Allah) yang terdapat dalam hati manusia. Oleh itu, ilmu

tidak bisa menyerap dalam hati manusia yang tidak taat kepada Allah.

Hal ini ditunjukkan dalam sebuah kisah terkenal antara Imam Syafii muda dan

Imam Malik. Disebutkan bahwa suatu ketika Imam Syafii duduk di hadapan Imam

Malik untuk membacakan sebuah kitab dengan hapalannya. Melihat itu, Imam

Malik kagum atas kecerdasan kognitif Imam Syafii muda. Serta merta meluncurlah

dari lisan Imam Malik berupa nasehat untuk Imam Syafii, Sungguh, aku melihat

Allah telah memberi cahaya di hatimu. Oleh itu, janganlah engkau padamkan cahaya

itu dengan kegelapan dosa.

Islam memandang bahwa ketaatan adalah cahaya, sementara dosa merupakan

kegelapan. Karenanya, semakin bertambah kegelapan hati seseorangyang

disebabkan dosa yang ia lakukanmaka semakin bertambah juga kebingungan

dan kebodohannya. Ia bisa saja mempunyai banyak pengetahuan, namun dalam

memutuskan sesuatu atau bertindak, ia tidak menggunakan ilmunya; tetapi lebih

mendahulukan hawa nafsunya.

Abdullah bin Abbas, salah seorang sahabat Nabi g dan termasuk salah

seorang ulama di kalangan sahabat, menuturkan hal yang sama tentang dampak

dosa tersebut. Ia menyebutkan bahwa kebaikan akan menyebabkan wajah dan

hati seseorang bersinar, rezekinya dilapangkan, badannya kuat, dan membuatnya

disenangi oleh sesama manusia. Sebaliknya, menurutnya, dosa dapat menyebabkan

wajah seseorang menjadi gelap dan hatinya menjadi hitam. Selain itu, dosa bisa

54 Ibnul Qayyim, Ad-Daa` wa Ad-Dawa`, h. 41-44.55 Baca Ali Imran: 152-154.

SYAMINAEdisi 10 / Agustus 2018

18

menjadikannya tubuhnya lemah, rezekinya sempit, dan mampu menghadirkan

benci dalam hati sesama manusia.

Dari sana, kekuatan fisik seorang Muslim terletak pada hati dan jiwanya. Sehingga

semakin kuat hati dan jiwanya maka semakin kuat juga fisiknya, meski secara fisik

tubuhnya terlihat lemah. Justru kelamah fisiknya tersebut akan lenyap manakala ia

bertekad untuk melakukan sesuatu.

Lebih dari itu, dampak dosa paling berbahaya adalah pada jiwa dan akhirat

seseorang. Dosa dapat menghalangi seorang Muslim untuk melakukan ketaatan

kepada Allah. Jelasnya meski secara lahir dosa tidak berdampak secara langsung di

dunia, namun dosa dapat menghalangi seseorang dari ketaatan kepada Tuhan.56

Memperpendek UmurDampak lain dosa dalam Islam yaitu dapat memperpendek umur dan mengurangi

keberkahannya. Sebagaimana ketaatan dapat memperpanjang umur dan menambah

keberkahannya. Memperpendek umur di sini dapat bermakna hakiki, namun

dapat juga bermakna majazi, dalam arti bahwa berkah usianya semakin berkurang.

Yang pasti, setiap dosa yang dilakukan seseorang dapat menyebabkan keberkahan

usianya semakin menurun. Ini karena, dalam pandangan Islam, hidup yang

sebenarnya adalah dengan hidupnya jiwa (hati). Sementara umur manusia di dunia

ini sangat terbatas. Seseorang yang melakukan kebaikan sehingga kebaikan tersebut

diingat oleh orang lain maka sebenarnya ia telah mempanjang kebaikannya. Dan

karena sesorang masih dapat mendapat kebaikan setelah kematiannyalantaran

kebaikannya semasa hidupmaka ia dianggap memiliki umur yang panjang. Sebab,

Islam memandang bahwa tujuan utama dari umur manusia adalah untuk berbakti

(beribadah) kepada Allah dan melakukan kebaikan.57

Suatu Dosa Dapat Memancing Dosa yang LainSatu dosa akan menimbulkan dosa yang lain, sehingga seseorang akan merasa

kesulitan untuk meninggalkan dan berhenti dari dosa tersebut. Sebagian ulama

mengatakan bahwa di antara hukuman suatu dosa adalah memancing dosa yang

lain. Jika seseorang melakukan suatu dosa maka dosa yang lain akan berkata kepada

dosa sebelumnya, Kerjakan juga aku. Apabila dosa tersebut telah dilakukan maka

dosa yang berikutnya juga berkata seperti itu. Begitulah seterusnya sehingga berlipat

gandalah kerugian dan bertambah pula keburukannya.58

Dosa Melumpuhkan Keinginan Berbuat BaikTermasuk dampak dari dosadan ini adalah suatu yang membahayakan

yaitu dapat melumpuhkan jiwa untuk melakukan kebaikan, sehingga membuat

keinginanannya untuk berbuat dosa, serta secara bertahap juga melemahkan

56 Ibnul Qayyim, Ad-Daa` wa Ad-Dawa`, h. 51-52.57 Ibnul Qayyim, Ad-Daa` wa Ad-Dawa`, h. 52.58 Ibnul Qayyim, Ad-Daa` wa Ad-Dawa`, h. 55-56.

SYAMINA Edisi 10 / Agustus 2018

19

keinginannya untuk bertobat. Bahkan keinginannnya untuk bertopat bisa lenyap

sama sekali.59

Tidak Hanya Menimpa Pribadi, Dosa juga Dapat Menimbulkan Kerusakan di BumiDi antara pengaruh dosa adalah ia dapat menyebabkan terjadinya berbagai

bencana. Allah berfirman, Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan

karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian

dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).60

Dosa yang merajalela di muka bumilantaran minimnya amar makruf nahi

munkardapat menyebabkan tenggelamnya daratan, gempa, dan hilangnya

berkah bumi. Suatu ketika Rasulullah lewat di suatu wilayah yang merupakan bekas

perkampungan kaum Tsamud terdahulu, kemudian beliau melarang para sahabat

memasuki rumah-rumah di perkampungan tersebut kecuali sambil menangis;

melarang meminum dari mata air mereka; bahkan melarang para sahabat memberi

makan dan minum unta-unta dari sumur dan mata air mereka. Hal ini disebabkan

air mereka sudah tercemar keburukan akibat dosa yang dilakukan sebelumnya.

D. DOSA-DOSA BESARDalam Islam, umumnya dikenal dua tingkatan dosa: dosa besar dan dosa kecil.

Dosa paling besar dan keji dalam Islam dikenal sebagai Al-Kabirah. Sementara setiap

dosa dipandang sebagai dosa besar kepada Allah, al-Kaba'ir, adalah pelanggaran

yang berat dan parah parah dari yang dilakukan oleh seseorang.

Kalangan ulama berbeda pendapat tentang berapa banyak dosa besar yang ada.

Sebagian mereka berpendapat bahwa dosa besar itu berjumlah tujuh. Pendapat ini

berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, dari Rasulullah

g beliau bersabda,

Jauhilah tujuh perkara yang merusak (dosa besar)! Lalu beliau menyebutkan,

Mempersekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah

kecuali karena alasan yang dibenarkan, memakan harta anak yatim, memakan riba,

meninggalkan medan perang, dan menuduh wanita beriman yang baik-baik telah

berzina.61

Sementara ulama lain, seperti Ibnu Abbassalah seorang ulama di kalangan

sahabat Rasulullahyang juga didukung oleh Adz-Dzahabisalah seorang pengikut

madzhab Syafiiberpendapat bahwa dosa besar berjumlah sekitar 70an.62

Namun, tidak setiap dosa setara dan beberapa dianggap lebih merusak secara

rohani daripada yang lain. Dosa terbesar yang digambarkan sebagai al-kaba'ir adalah

mempersekutukan Allah atau Syirik .

59 Ibnul Qayyim, Ad-Daa` wa Ad-Dawa`, h. 56.60 Ar-Rum: 41.61 HR. Al-Bukhari, no. 2766, dan Muslim, no. 89.62 Adz-Dzahabi, Al-Kaba`ir, h. 8.

SYAMINAEdisi 10 / Agustus 2018

20

Beberapa dosa besar atau al-Kaba'ir dalam Islam di antaranya yaitu sebagai

berikut:

Syirik Dalam Islam, dosa terbesar adalah syirik, mempersekutukan Allah. Syirik dapat

dibagi menjadi dua. Pertama, menjadikan sesuatu sebagai tandingan bagi Allah dan

atau beribadah kepada selain-Nya, baik berupa pohon, matahari, bulan, nabi, guru,

bintang, raja, atau pun yang lain.

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni

segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa

yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.63

Barang siapa mempersekutukan Allah lalu mati dalam keadaan seperti itu maka

ia termasuk penghuni neraka. Sebaliknya, siapa saja yang mati dalam keadaan

beriman maka ia termasuk penghuni surga.

Kedua, menyertai amal dengan riya. Syirik seperti ini disebut dengan syirik kecil

(asy-syirk ash-ashghar). Rasulullah g bersabda, Sesungguhnya yang paling aku

khawatirkan dari kalian adalah syirik kecil.

Para sahabat lantas bertanya, Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah?

Beliau kemudian bersabda, Riya yaitu ketika Allah berfirman kepada mereka

pada Hari Kiamat saat orang-orang diberi balasan atas amal-amal mereka, Temuilah

orang-orang yang dulu kau perlihat-lihatkan di dunia lalu lihatlah apakah kalian

menemukan balasan di sisi mereka!.64

Termasuk dari yaitu meninggalkan suatu amal karena manusia. Sebagaimana

yang dikatakan oleh Fudhail bin Iyadh, "Meninggalkan amal karena manusia itu

riya', sedangkan mengerjakannya karena manusia itu syirik."65

Membunuh Membunuh tanpa alasan yang dibenarkan merupakan dosa besar dalam

pandangan Islam. Rasulullah g bersabda, Jauhilah oleh kalian tujuh perkara

yang membinasakan! Kemudian beliau menyebut salah satunya yaitu membunuh

manusia yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan alasan yang dibenarkan-Nya.

Mengenai ancaman bagi perbuatan membunuh yang disengaja di akhirat

disebutkan dalam Al-Quran.

Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka

balasannya adalah Jahannam, ia kekal di dalamnya, Allah murka kepadanya, dan

mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.66

Rasulullah g juga bersabda, Sungguh, pembunuhan atas seorang mukmin itu

lebih besar dari pada luluh lantaknya dunia di sisi Allah.67

63 An-Nisa: 48.64 HR. Ahmad, no. 22523.65 Adz-Dzahabi, Al-Kaba`ir, h. 9-11.66 An-Nisa': 93.67 HR. Al-Bukhari, no. 6870.

SYAMINA Edisi 10 / Agustus 2018

21

Mendurhakai Orang TuaDosa lain yang dipandang sebagai dosa besar dalam Islam yaitu mendurhakai

orang tua. Hal ini berdasarkan firman Allah f,

Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia

dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika

salah seorang di antaranya keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut

dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepadaa

keduanya perkataan ah dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah

kepada mereka perkataan yang mulia.68

Rasulullah g bersabda, Maukah kalian aku kabarkan tentang dosa-dosa besar

yang paling besar? Yaitu mempersekutukan Allah, membunuh, mendurhakai kedua

orang tua, dan berkata dusta.69

Juga sabda beliau, Tidak akan masuk surga seseorang mannan (orang yang

berbuat baik kepada seseorang namun menyebut-nyebutnya di hadapan banyak

orang), pendurhaka kepada kedua orang tuanya, dan pecandu arak.70

Zina Allah berfirman, Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu

adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.71

Allah menyebutkan bahwa di antara sifat hamba-hamba-Nya yaitu tidak berzina,

Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan

tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan

(alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian

itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya).72

Samurah bin Jundub meriwayatkan dari Rasulullah g tentang kisah Isra' Mikraj

beliau bersama malaikat Jibril. Beliau bersabda, Kami berangkat sehingga sampai

di suatu tempat semisal 'tannur' bagian atasnya sempit sedangkan bagian bawahnya

luas. Dari situ terdengar suara gaduh dan ribut. Kami menengoknya, ternyata di

situ banyak laki-laki dan perempuan telanjang. Jika mereka dijilat api yang ada

di bawahnya mereka melolong oleh panasnya yang dahsyat. Aku bertanya, Wahai

Jibril! Siapakah mereka? Jibril menjawab, Mereka adalah para pezina perempuan

dan laki-laki. Itulah azab bagi mereka sampai tibanya Hari Kiamat.73

68 Al-Isra': 23.69 HR. Al-Bukhari, no. 6871.70 HR. Ahmad, no. 6587.71 Al-Isra': 32.72 Al-Furqan: 68.73 HR. Al-Bukhari, no. 1386.

SYAMINAEdisi 10 / Agustus 2018

22

Melakukan RibaAllah berfirman, Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan

riba dengan berlipat ganda] dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu

mendapat keberuntungan.74

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan

seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit

gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata

(berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah

menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai

kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba),

maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan

urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka

orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.75

Memakan Harta Anak Yatim Allah berfirman,

Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim,

sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke

dalam api yang menyala-nyala (neraka). 76

Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih

bermanfaat, hingga sampai ia dewasa.77

Abu Sa'id Al-Khudri meriwayatkan dari Rasulullah g tentang kisah Isra'

Mikrajnya, beliau bersabda, Tiba-tiba aku berhadapan dengan orang-orang yang

mulut mereka dibuka secara paksa oleh para malaikat azab, lalu datang malaikat-

malaikat lainnya sambil membawa bebatuan dari neraka, kemudian dimasukkan

ke dalam mulut mereka hingga keluar melalui dubur mereka. Aku bertanya kepada

Jibril, Wahai Jibril! Siapakah mereka itu? Jibril menjawab, Mereka adalah orang-

orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan

apai sepenuh perut mereka.78

Melarikan Diri dari Medan PerangDi antara yang termasuk dosa besar yaitu melarikan dari dari medan perang.

Allah f berfirman,

Barangsiapa yang membelakangi mereka (melarikan diri) di waktu itu, kecuali

berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan

yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan

dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat

kembalinya.79

74 Ali Imran: 130.75 Al-Baqarah: 275.76 An-Nisa': 10.77 Al-An'am: 152.78 HR. Ibnu Jarir. Beberapa ulama menyebutkan bahwa sanadnya lemah.79 Al-Anfal: 16.

SYAMINA Edisi 10 / Agustus 2018

23

Abu Hurairah meriwayatkan dari Rasulullah g, beliau bersabda, Juahilah tujuh

perkara yang merusak! Para sahabat bertanya, Apa saja itu, wahai Rasulullah? Beliau

menjawab, Mempersekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang di haramamkan

oleh Allah kecuali karena alaan yang dibenarkan, memakan riba, memakan harta

anak yatim, meninggalkan medan perang, dan menuduh wanita mukmina baik-

baik melakukan zina.80

Minum Khamar (Alkohol)Allah berfirman,

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi,

(berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk

perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat

keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan

permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan

berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka

berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).81

Rasulullah g juga bersabda, Jauhilah khamar, sebab ia merupakan induk

segala hal yang keji.82

Muslim meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah dari Rasulullah g, beliau bersabda,

Sungguh Allah memberi ancaman bahwa orang yang meminum minuman yang

memabukkan akan diberi minum dari thinatul khabal. Ada yang bertanya, Apa

yang dimaksud thinatul khabal? Beliau menjawab, Keringat atau air perasan

penghuni neraka.83

Selain dosa-dosa yang disebutkan di atasyang berupa perbuatan melakukan

sesuatu yang dilarang Allahtermasuk dosa-dosa besar juga adalah tidak

mengerjakan sesuatu yang diwajibkan oleh Allah dan Rasul-Nya untuk dikerjakan,

seperti meninggalkan shalat, tidak membayar zakat (bagi mereka yang hartanya

telah mencapai nishab dan haul), tidak berpuasa di bulan Ramadhan tanpa udzur,

dan meninggalkan haji padahal mampu.84

Meski dosa-dosa kecil berada di bawah dosa-dosa besar, tetapi dosa-dosa kecil

tersebut dapat menjadi dosa besar disebabkan beberapa sebab. Menurut Al-Ghazali,

penyebab tersebut ada enam, yaitu:

Pertama, dosa kecil tersebut terus-menerus dilakukan.

Kedua, saat melakukan dosa kecil tersebut terdapat anggapan bahwa hal itu

hanya dosa kecil saja.

Ketiga, adanya perasaan gembira bahkan bangga ketika melakukan dosa kecil

tersebut.

80 HR. Al-Bukhari, no. 2766, dan Muslim, no. 89.81 Al-Maidah: 90-91.82 HR. Ibnu Hibban, no. 5248, dan An-Nasa'i, no. 5156.83 HR. Muslim, no. 2003.84 Untukpenjelasanyanglebihdetiiltentangdosa-dosabesarsilakanbacaAdz-Dzahabi,Al-Kaba`ir.

SYAMINAEdisi 10 / Agustus 2018

24

Keempat, menganggap remeh dosa tersebut karena tidak ada manusia yang tahu,

atau karena orang lain tidaka berani menegur dan mengingatkan,

Kelima, dosa kecil tersebut dilakukan secara terang-terangan (mujaharah).

Keenam, orang yang melakukan dosa kecil tersebut adalah seorang alim yang

diikuti oleh banyak orang.85

E. LANGKAH SETAN DALAM MENYESATKAN MANUSIADalam menyesatkan manusia, sebagaimana yang diungkap oleh Ibnul Qayyim,

ada enam tahapan yang dilakukan setan86:

Pertama, mengajak pada kekafiran, kesyirikan, serta memusuhi Allah dan Rasul-

Nya.

Kedua, mengajak melakukan bidah.

Ketiga, mengaajak mengerjakan dosa besar (al-kabair).

Keempat, mengajak mengerjakan dosa kecil (ash-shaghair).

Kelima, menyibukkan pada perkara mubah.

Keenam, menyibukkan dalam amalan yang kurang afdhal (utama), padahal ada

amalan yang lebih afdhal.

F. BERTAUBAT DARI DOSAMenurut Islam, seseorang dapat diampuni dosanya jika bertaubat dengan tulus

(taubatan nashuha), dan ini wajib dilakukan.87 Taubat yang secara harfiah berarti

kembali. Sementara secara terminologi, taubat berarti meninggalkan dosa-dosa

secara cara yang terbaik (meninggalkan seluruh dosa, menyesalinya, dan bertekad

untuk tidak kembali mengulanginya).88

Dan hendaknya kamu memohon ampunan kepada Tuhanmu dan bertaubat

kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik padamu sampai

waktu yang telah ditentukan.89

Dari sini, taubat berbeda dan lebih tinggi tingkatannya dibanding itidzar

(pembelaan diri). Orang yang melakukan itidzar hanya melakukan salah satu dari

tiga hal: mengaku tidak melakukan suatu kesalahan; atau mengakuinya seraya

menyebutkan alasan ia melakukannya; atau mengakui mengerjakannya dan merasa

bahwa apa yang ia kerjakan merupaka suatu dosa serta meninggalkan dosa tersebut.

Sementara taubat, selain ketiga hal tersebut juga ditambah adanya tekad untuk tidak

kembali mengulanginya pada masa yang akan datang.90

85 Lihat Al-Ghazali, Ihya` Ulumiddin, vol. IV, h. 32-44.86 Lihat Ibnul Qayyim, Bada`i Al-Fawaid, vol. II, h. 260-261.87 Lihat An-Nawawi, Riyadh Ash-shalihin, h. 14.88 Lihat Al-Ashfahani, Al-Mufradat ..., h. 169. 89 Hud: 3.90 Al-Ashfahani, Al-Mufradat ..., h. 169.

SYAMINA Edisi 10 / Agustus 2018

25

Secara umum, dosa dalam dikelompokkan menjadi dua jenis: dosa yang

berkaitan dengan hak-hak Allah (huququllah), dan dosa yang berkaitan dengan hak

sesama manusia (huququl ibad). Ketika seorang manusia melanggar atau tidak

menaati Tuhan, untuk bertaubat darinya, seseorang harus melakukan tiga hal: (1)

menyesali perbuatannya, (2) meninggalkan dosa-dosa terbuat, dan (3) bertekad

untuk tidak akan mengulangi kesalahan di masa depan. Sementara itu, apabila

seorang manusia telah melanggar hak-hak manusia lainnya, untuk bertaubat

darinya, seseorang selain diharuskan melakukan tiga hal sebelumnya juga ditambah

satu hal lagi yaitu membebaskan dirinya dari hak-hak manusia lainnya tersebut. Baik

hak-hak tersebut bersifat materi maupun non-materi. Bersifat materi yaitu dengan

mengembalikannya kepada pemiliknya. Sedangkan untuk yang bersifat non-materi

yaitu dengan meminta maaf dan minta dihalalkan.91

III. PENUTUPSetan, terkhusus Iblis, telah bersumpah untuk menyesatkan manusia dengan

berbagai langkah, cara, dan tipudaya mereka, bahkan di saat detik-detik akhir hidup

manusia. Meski demikian hebat tipu daya tersebut, Al-Quran menegaskan bahwa

sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah. Jadi, berhasil tidaknya setan

menyesatkan manusia, lebih tergantung pada manusia sendiri; bukan tipu daya

setan.

Meski manusia memang tidak mungkin terbebas dari kesalahan (dosa-dosa

kecil) sama sekali, yang berarti pada suatu kesempatan manusia juga terbujuk oleh

godaan setan sehingga melakukan dosa, namun manusia bisa menjauhi seluruh

dosa-dosa besar. Tetapi, dalam Islam, pintu tobat senantiasa terbuka bagi mereka

yang melakukan dosa. Menariknya, dalam pandangan Islam, bukan persoalan dosa

besar atau dosa kecilkah yang dilakukan manusia, namun persoalan mendasar

adalah kepada siapa manusia sebenarnya melakukan dosa tersebut, yaitu kepada

Allah, Rabb semesta alam. [A. Sadikin]

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur`an

Adz-Dzahabi, Muhammad bin Ahmad Syamsuddin Abu Abdillah. tt. Al-Kaba`ir.

Beirut: Darul Nadwah.

An-Nawawi, Yahya bin Syaraf Abu Zakariya Muhyiddin. 2007. Riyadh Ash-Shalihin.

Damaskus: Dar Ibni Katsir.

91 An-Nawawi, Riyadh Ash-shalihin, h. 14.

SYAMINAEdisi 10 / Agustus 2018

26

Al-Ghazali, Muhammad bin Muhammad Abu Hamid Hujjatul Islam. tt. Ihya`

Ulumiddin. Beirut: Darul Ma'rifah.

Al-Qurthubi, Muhammad bin Ahmad Abu Abdillah. 1964. Al-Jami' li Ahkam Al-

Quran. Kairo: Darul Kutub Mishriyyah.

Ashfahani, Al-Husein bin Muhammad Abul Qasim. 1412 H. Al-Mufradat fi Gharib Al-

Quran. Damaskus: Darul Qalam.

Ibnul Qayyim, Muhammad bin Abu Bakr Syamsuddin. 1997. Ad-Daa` wa Ad-Dawa`.

Maroko: Darul Ma'rifah.

---------------------, tt. Bada`i' Al-Fawaid. Beirut: Lebanon.

Rahman, Fazlur. 1994. Major Themes of The Qur'an. Bibleotheca Islamica.

Page 1