SATUAN LINGUAL PENGISI FUNGSI PREDIKAT DALAM ...repository.usd.ac.id/25269/2/014114008_Full[1].pdfvi...

of 100 /100
SATUAN LINGUAL PENGISI FUNGSI PREDIKAT DALAM WACANA “ADAM MALIK TETAP PAHLAWAN” PADA RUBRIK TAJUK RENCANA HARIAN KOMPAS EDISI SENIN 01 DESEMBER 2008 Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Indonesia Program Studi Sastra Indonesia Oleh Adi Cahyono NIM: 014114008 PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA JURUSAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2009

Embed Size (px)

Transcript of SATUAN LINGUAL PENGISI FUNGSI PREDIKAT DALAM ...repository.usd.ac.id/25269/2/014114008_Full[1].pdfvi...

  • SATUAN LINGUAL PENGISI FUNGSI PREDIKAT DALAM WACANA

    “ADAM MALIK TETAP PAHLAWAN” PADA RUBRIK TAJUK

    RENCANA HARIAN KOMPAS EDISI SENIN 01 DESEMBER 2008

    Skripsi

    Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

    Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Indonesia

    Program Studi Sastra Indonesia

    Oleh

    Adi Cahyono

    NIM: 014114008

    PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA

    JURUSAN SASTRA INDONESIA

    FAKULTAS SASTRA

    UNIVERSITAS SANATA DHARMA

    YOGYAKARTA

    2009

  • i

    SATUAN LINGUAL PENGISI FUNGSI PREDIKAT DALAM WACANA

    “ADAM MALIK TETAP PAHLAWAN” PADA RUBRIK TAJUK RENCANA

    HARIAN KOMPAS EDISI SENIN 01 DESEMBER 2008

    Skripsi

    Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

    Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Indonesia

    Program Studi Sastra Indonesia

    Oleh

    Adi Cahyono

    NIM: 014114008

    PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA

    JURUSAN SASTRA INDONESIA

    FAKULTAS SASTRA

    UNIVERSITAS SANATA DHARMA

    YOGYAKARTA

    2009

  • ii

  • iv

    PERSEMBAHAN

    JEJAK HARAPANKU MELUKIS HIDUPKU

    SUNGGUH TEGAS NADA DASARNYA

    GARIS-GARIS IRAMANYA MERONA

    TAK SELALU KERAS TERASA DI DADA

    HINGGA ALUNANNYA TERDENGAR

    SUKA PUN DUKA

    ( Adi Cahyono )

    Kuhaturkan skripsi ini kepada :

    Tuhan Yesus Kristus Juru Selamatku

    Bapakku Hariyanto dan Ibuku Linuber Ingsih

    Kakakku Yulius Hari Atmojo

    Dan semua orang yang kukasihi

  • v

    ABSTRAK

    SATUAN LINGUAL PENGISI FUNGSI PREDIKAT DALAM WACANA

    “ADAM MALIK TETAP PAHLAWAN” PADA RUBRIK TAJUK RENCANA

    HARIAN KOMPAS EDISI SENIN 01 DESEMBER 2008

    Adi Cahyono

    Universitas Sanata Dharma

    Yogyakarta

    2009

    Penelitian ini mengkaji satuan lingual pengisi fungsi predikat dalam wacana

    “Adam Malik Tetap Pahlawan” pada rubrik tajuk rencana Harian Kompas edisi

    Senin 01 Desember 2008. Pendekatan yang digunakan penelitian ini adalah

    Linguistik Deskriptif. Linguistik Deskriptif mendekati obyeknya dengan

    menggambarkan obyek penelitiannya.. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji satuan

    lingual pengisi fungsi predikat dilihat dalam tataran kalimat, dan meningkat pada

    tataran antarkalimat dalam wacana “Adam Malik Tetap Pahlawan” pada rubrik tajuk

    rencana Harian Kompas edisi Senin 01 Desember 2008. Dengan demikian didapatkan

    gambaran satuan lingual pengisi fungsi predikat yang lebih utuh dalam kedudukannya

    sebagai salah satu unsur dalam wacana “Adam Malik Tetap Pahlawan” pada rubrik

    tajuk rencana Harian Kompas edisi Senin 01 Desember 2008.

    Metode yang diterapkan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Langkah

    pertama yang dilakukan peneliti adalah menganalisis satuan lingual pengisi fungsi

    predikat dalam tataran kalimat untuk menemukan identitas satuan lingual dalam

    wacana “Adam Malik Tetap Pahlawan” pada rubrik tajuk rencana Harian Kompas

    edisi Senin 01 Desember 2008. Langkah kedua yang dilakukan adalah menganalisis

  • vi

    pengaruh satuan lingual pengisi fungsi predikat terhadap satuan lingual pengisi fungsi

    yang lain dalam kalimat yang ada dalam wacana “Adam Malik Tetap Pahlawan” pada

    rubrik tajuk rencana Harian Kompas edisi Senin 01 Desember 2008. Langkah ketiga

    adalah menganalisis hubungan antarsatuan lingual pengisi fungsi predikat

    antarkalimat dalam wacana “Adam Malik Tetap Pahlawan” pada rubrik tajuk rencana

    Harian Kompas edisi Senin 01 Desember 2008.

    Dari hasil analisis satuan lingual pengisi fungsi predikat dalam tataran kalimat

    dapat ditemukan bahwa satuan lingual pengisi fungsi predikat itu memiliki identitas

    lain, yaitu identitas berdasarkan kategorinya, perannya, tataran satuan lingualnya, dan

    jenisnya. Satuan lingual pengisi fungsi predikat dalam wacana Tajuk Rencana Harian

    Kompas berjudul “Adam Malik Tetap Pahlawan” berkategori verba, nomina, dan

    adjektiva. Dalam wacana ini ditemukan bahwa satuan lingual pengisi fungsi predikat

    adalah peran tindakan, kejadian, keadaan, dan pelaku. Tataran lingual satuan lingual

    pengisi fungsi predikat yang ditemukan ada dua, yaitu kata baik kata dasar ataupun

    kata turunan dan frasa. Jenis predikat yang ditemukan adalah jenis predikat tunggal,

    dan tidak ditemukan jenis predikat serial.

    Dari hasil analisis pengaruh satuan lingual pengisi fungsi predikat terhadap satuan

    lingual lain dalam kalimat ditemukan bahwa predikat mempengaruhi kehadiran

    satuan lingual yang mengisi fungsi lainnya. Kategori dan peran satuan lingual pengisi

    fungsi predikat berpengaruh terhadap kategori dan peran satuan lingual pengisi

    subyek, obyek, keterangan, dan pelengkap.

    Dari hasil analisis hubungan antarsatuan lingual pengisi fungsi predikat

    antarkalimat terhadap dalam wacana “Adam Malik Tetap Pahlawan” pada rubrik

    tajuk rencana Harian Kompas edisi Senin 01 Desember 2009 ditemukan bahawa

    satuan lingual pengisi fungsi predikat dalam satu kalimat berhubungan dengan satuan

    lingual pengisi fungsi predikat dalam kalimat lain. Hubungan tersebut antara lain,

    hubungan koreferensial antarpredikat antarkalimat, hubungan kolokasial

    antarpredikat antarkalimat.

  • vii

    Satuan lingual pengisi fungsi predikat wacana “Adam Malik Tetap Pahlawan”

    dapat diidentifikasi bukan hanya dalam lingkup kalimatnya berada, tetapi juga dalam

    hubungannya dengan satuan lingual pengisi fungsi predikat dalam kalimat yang

    lainnya. Hal itu menunjukkan bahwa satuan lingual pengisi fungsi predikat dalam

    wacana “Adam Malik Tetap Pahlawan” memiliki pengaruh terhadap keutuhan

    wacana dan tidak hanya berpengaruh dalam tataran kalimat tempatnya berada.

  • viii

    ABSTRACT

    LINGUAL UNITS FUNCTIONING AS PREDICATE

    IN THE EDITORIAL TEXT ENTITLED “ADAM MALIK TETAP PAHLAWAN”

    IN KOMPAS DAILY NEWSPAPER OF THE EDICION OF

    MONDAY, DECEMBER 1ST, 2008

    Adi Cahyono

    Sanata Dharma University

    Yogyakarta

    2009

    The study analyzes lingual units functioning as predicate in the editorial text

    of Kompas daily newspaper of the edition of Monday, December 1st, 2008 entitled

    “Adam Malik Tetap Pahlawan”. It uses a descriptive linguistic approach to describe

    its object. Its objective is to analyze the lingual units functioning as the predicate at

    sentence and whole text levels in the editorial text of Kompas daily newspaper of the

    edition of Monday, December 1st, 2008 entitled “Adam Malik Tetap Pahlawan”.

    Thus, a more complete figure of the lingual units functioning as the predicate is

    obtained in their position as one of the elements of the editorial text of Kompas daily

    newspaper of the edition of Monday, December 1st, 2008 entitled “Adam Malik Tetap

    Pahlawan”.

    It employs a descriptive method. The first step made by the author is to

    analyze the lingual units functioning as the predicate at sentence level in order to find

    the identity of the lingual units in the editorial text of Kompas daily newspaper of the

    edition of Monday, December 1st, 2008 entitled “Adam Malik Tetap Pahlawan”. The

    second step is to analyze the influence of the lingual units functioning as the predicate

    on the lingual units with other functions in the editorial text of Kompas daily

  • ix

    newspaper of the edition of Monday, December 1st, 2008 entitled “Adam Malik Tetap

    Pahlawan”. The third step is to analyze inter-lingual unit and inter-sentence

    relationships in the editorial text of Kompas daily newspaper of the edition of

    Monday, December 1st, 2008 entitled “Adam Malik Tetap Pahlawan”.

    Based on the results of the analysis of the lingual units functioning as the

    predicate at the sentence level it is found that the lingual units functioning as the

    predicate have other identities, which are the ones based on their category, role,

    lingual unit level and type. The lingual units functioning as the predicate in the

    editorial text of Kompas daily newspaper entitled “Adam Malik Tetap Pahlawan”

    have verbal, nominal, and adjectival categories. It is also found in the text that the

    lingual units functioning as the predicate indicate action, occurrence, condition, and

    doer. There are two lingual levels of the lingual units functioning as the predicate,

    which are words, including root words and derivatives, and phrases. Meanwhile,

    concerning with their predicate type it is found that the predicate is of the kind of

    singular predicate and not serial predicate.

    Based on the results of the analysis of the influence of the lingual units

    functioning as the predicate on the other lingual units it is found that the predicate

    influences the presence of the lingual units with other functions. The category and the

    role of the lingual units functioning as the predicate influence those of the lingual

    units functioning as subject, object, adverb, and adjunct.

    Based on the results of the analysis of the inter-lingual unit and inter-sentence

    relationships in the editorial text of Kompas daily newspaper of the edition of

    Monday, December 1st, 2008 entitled “Adam Malik Tetap Pahlawan” it is found that

    the lingual units functioning as the predicate in a sentence are related to the lingual

    units functioning as the predicate in other sentence. The relationships are inter-

    predicate and inter-sentence co-referential one and co-location inter-predicate and

    inter-sentence one.

  • x

    The lingual units functioning as predicate in the text “Adam Malik Tetap

    Pahlawan” can be identified not only in their sentence scope, but also in their

    relationship with the lingual units functioning as the predicates in other sentences. It

    indicates that the lingual units functioning as predicate in the text “Adam Malik Tetap

    Pahlawan” influence the cohesiveness of the text and not only at the sentence level

    where they are found.

  • xi

    KATA PENGANTAR

    Puji dan syukur kapada Tuhan Yesus Kristus yang telah memberikan kasih

    karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Satuan

    Lingual Pengisi Fungsi Predikat Dalam Wacana “Adam Malik Tetap Pahlawan”

    Pada Rubrik Tajuk Rencana Harian Kompas Edisi Senin 01 Desember 2008. Skripsi

    ini ditulis untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana SI pada

    Program Studi Sastra Indonesia, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, di

    Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

    Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik

    berkat dukungan dari berbagai pihak. Oleh sebab itu, pada kesempatan ini penulis

    mengucapkan terima kasih kepada :

    1. Dr. I. Praptomo Baryadi, M. Hum. selaku dosen pembimbing I yang selalu

    memberi bimbingan dan arahan serta masukan dalam penulisan skripsi ini.

    2. Drs. Hery Antono, M. Hum. selaku dosen pembimbing II yang selalu

    memberikan bimbingan dan arahan serta masukan dalam penyusunan skripsi

    ini.

    3. Bapak/Ibu staf pengajar Program Studi Sastra Indonesia, Drs. B. Rahmanto,

    M.Hum., Peni Adji, S.S, M.Hum., Drs.FX. Santosa, M.Hum., Drs. P. Ari

    Subagyo, M.Hum., Drs. Yoseph Yapi Taum,M.Hum., Dra. Fransiska

    Tjandrasih Adji, M.Hum., dan Prof.Dr. Alex Sudewa yang telah membekali

  • xii

    ilmu sehingga penulis dapat menyelesaikan studi di Universitas Sanata

    Dharma.

    4. Staf Sekretariat Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Sanata

    Dharma.

    5. Staf Perpustakaan Universitas Sanata Dharma atas bantuannya dalam mencari

    buku-buku referensi.

    6. Bapakku Hariyanto dan Ibuku Linuber Ingsih yang selalu memberikan kasih

    sayangnya dan perhatiannya kepada penulis.

    7. Kakakku Yulius Hari Atmojo yang selalu memberi doa dan dukungan kepada

    penulis.

    8. Teman-temanku di desa Sumberhadi, yang meskipun jauh selalu memberi

    dorongan semangat kepada penulis.

    9. Teman-teman GKJ Samironobaru. Terimakasih atas kebersamaannya dan

    dukungannya, sehingga penulis tetap semangat dalam mengerjakan skripsi.

    10. Teman-teman Sastra Indonesia Angkatan 2001. Terima kasih atas

    kebersamaan dan dukungan kalian selama ini.

    Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, tetapi penulis

    berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca.

    Yogyakarta, 08 Februari 2010

    Penulis

    Adi Cahyono

  • xv

    DAFTAR ISI

    HALAMAN JUDUL …………………………………………………………. i

    HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING …………………………….. ii

    HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI …………………………………… iii

    HALAMAN PERSEMBAHAN ……………………………………………… iv

    ABSTRAK …………………………………………………………………….. v

    ABSTRACT……………………………………………………………………. viii

    KATA PENGANTAR ………………………………………………………… xi

    PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ……………………………………… xiii

    LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI

    KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ………………. xiv

    DAFTAR ISI………………………………………………………………….. xv

    BAB I PENDAHULUAN

    1.1 latar Belakang Masalah ………………………………………………... …. 1

    1.2 Rumusan Masalah …………………………………………………………. 5

    1.3 Tujuan Penelitian ………………………………………………………....... 6

    1.4 Manfaat Penelitian ………………………………………………………… 6

    1.5 Tinjauan Pustaka …………………………………………………............... 7

    1.6 Landasan Teori …………………………………………………………….. 8

  • xvi

    1.6.1 Pengertian Sintaksis ………………………………………………………. 8

    1.6.2 Pengertian Fungsi, Kategori, Peran ……………………………………….. 9

    1.6.3 Pengertian Satuan Lingual Pengisi Fungsi Predikat ……………………… 10

    1.6.3.1 Pengertian Jenis Predikat Tunggal Dan Serial ………………………….. 10

    1.6.4 Pengertian Satuan Lingual ……………………………………………….. 11

    1.6.4.1 Pengertian Wacana ……………………………………………………… 11

    1.6.4.2 Pengertian Alinea ………………………………………………………... 12

    1.6.4.3 Pengertian Kalimat ………………………………………………………. 12

    1.6.4.4 Pengertian Klausa ……………………………………………………….. 13

    1.6.4.5 Pengertian Frasa …………………………………………………………. 13

    1.6.4.6 Pengertian Kata ………………………………………………………….. 13

    1.6.4.7 Pengertian Morfem ………………………………………………………. 14

    1.7 Metode Penelitian ……………………………………………………………. 14

    1.7.1 Jenis Penelitian ……………………………………………………………... 14

    1.7.2 Pendekatan ………………………………………………………………… 14

    1.7.3 Teknik Pengumpulan Data ………………………………………………… 15

    1.7.4 Metode Analisa Data ………………………………………………………. 15

    1.8 Sumber Data …………………………………………………………………. 16

    1.9 Sistematika Penyajian ………………………………………………………... 16

    BAB II KATEGORI, PERAN, TATARAN LINGUAL, DAN JENIS SATUAN

    LINGUAL PENGISI FUNGSI PREDIKAT DALAM WACANA

  • xvii

    “ADAM MALIK TETAP PAHLAWAN” PADA RUBRIK TAJUK

    RENCANA HARIAN KOMPAS EDISI SENIN 01 DESEMBER 2008

    2.1 Satuan Lingual Pengisi Fungsi Predikat Dalam Wacana“Adam Malik Tetap

    Pahlawan” Pada Rubrik Tajuk Rencana Harian Kompas Edisi Senin 01

    Desember 2008 ………………………………………………………….. 18

    2.1.1 Kategori Satuan Lingual Pengisi Fungsi Predikat Dalam Wacana “Adam

    Malik Tetap Pahlawan” Pada Tajuk Rencana Harian Kompas Edisi Senin 01

    Desember 2008 …………………………………………............................. 19

    2.1.1.1 Satuan Lingual Pengisi Fungsi Predikat Berkategori Verba Dalam Wacana

    “Adam Malik Tetap Pahlawan” Pada Rubrik Tajuk Rencana Harian Kompas

    Edisi 01 Senin 01 Desember 2008 ………………………………………… 20

    2.1.1.2 Satuan Lingual Pengisi Fungsi Predikat Berkategori Nomina Dalam Wacana

    “Adam Malik Tetap Pahlawan” Pada Rubrik Tajuk Rencana Harian Kompas

    Edisi 01 Senin 01 Desember 2008…………………………………………. 22

    2.1.1.3 Satuan Lingual Pengisi Fungsi Predikat Berkategori Adjektiva Dalam Wacana

    “Adam Malik Tetap Pahlawan” Pada Rubrik Tajuk Rencana Harian Kompas

    Edisi 01 Senin 01 Desember 2008…………………………………………. 23

    2.1.2 Peran Satuan Lingual Pengisi Fungsi Predikat Dalam Wacana “Adam Malik

    Tetap Pahlawan” Pada Rubrik Tajuk Rencana Harian Kompas Edisi Senin 01

    Desember 2008 …………………………………………………………… 25

  • xviii

    2.1.2.1 Satuan Lingual Pengisi Fungsi Predikat Berperan Tindakan Dalam Wacana

    “Adam Malik Tetap Pahlawan” Pada Rubrik Tajuk Rencana Harian Kompas

    Edisi 01 Desember 2008 ………………………………………………….. 26

    2.1.2.2 Satuan Lingual Pengisi Fungsi Predikat Berperan Kejadian Dalam Wacana

    “Adam Malik Tetap Pahlawan” Pada Rubrik Tajuk Rencana Harian Kompas

    Edisi 01 Desember 2008 ………………………………………………….. 27

    2.1.2.3 Satuan Lingual Pengisi Fungsi Predikat Berperan Keadaan Dalam Wacana

    “Adam Malik Tetap Pahlawan” Pada Rubrik Tajuk Rencana Harian Kompas

    Edisi 01 Desember 2008 ………………………………………………….. 28

    2.1.2.4 Satuan Lingual Pengisi Fungsi Predikat Berperan Pelaku Dalam Wacana

    “Adam Malik Tetap Pahlawan” Pada Rubrik Tajuk Rencana Harian Kompas

    Edisi 01 Desember 2008 ………………………………………………….. 29

    2.1.3 Tataran Satuan Lingual Pengisi Fungsi Predikat Dalam Wacana “Adam

    Malik Tetap Pahlawan” Pada Rubrik Tajuk Rencana Harian Kompas Edisi

    Senin 01 Desember 2008 .………………………………............................ 30

    2.1.3.1 Tataran Lingual Kata Sebagai Pengisi Fungsi Predikat Dalam Wacana

    “Adam Malik Tetap Pahlawan” Pada Rubrik Tajuk Rencana Harian Kompas

    Edisi Senin 01 Desember 2008 …………………………………………... 31

    2.1.3.1.1 Tataran Lingual Kata Dasar Sebagai Pengisi Fungsi Predikat Dalam Wacana

    “Adam Malik Tetap Pahlawan” Pada Rubrik Tajuk Rencana Harian Kompas

    Edisi Senin 01 Desember 2008 ………………………………………….. 31

  • xix

    2.1.3.1.2 Tataran Lingual Kata Turunan Sebagai Pengisi Fungsi Predikat Dalam

    Wacana “ Adam Malik Tetap Pahlawan” Pada Rubrik Tajuk Rencana

    Harian Kompas Edisi Senin 01 Desember 2008

    …………………………………………………………………………… 33

    2.1.3.2 Tataran Lingual Frasa Sebagai Pengisi Fungsi Predikat Dalam Wacana

    “Adam Malik Tetap Pahlawan” Pada Rubrik Tajuk Rencana Harian Kompas

    Edisi Senin 01 Desember 2008 …………………………………………... 36

    2..1.4 Satuan Lingual Pengisi Fungsi Predikat Berjenis Tunggal Dalam Wacana

    “Adam Malik Tetap Pahlawan” Pada Rubrik Tajuk Rencana Harian Kompas

    Edisi Senin 01 Desember 2009 …………………………………………... 37

    BAB III PENGARUH SATUAN LINGUAL PENGISI FUNGSI PREDIKAT

    TERHADAP SATUAN LINGUAL PENGISI FUNGSI LAIN DALAM

    KALIMAT DALAM WACANA “ADAM MALIK TETAP

    PAHLAWAN” PADA RUBRIK TAJUK RENCANA HARIAN

    KOMPAS EDISI SENIN 01 DESEMBER 2009

    3.1 Pengaruh Satuan Lingual Pengisi Fungsi Predikat Berkategori Verba Terhadap

    Satuan Lingual Pengisi Fungsi Lainnya Dalam Kalimat

    ………………………………………………………………………………… 41

    3.2 Pengaruh Satuan Lingual Pengisi Fungsi Predikat Berkategori Nomina Terhadap

    Satuan Lingual Pengisi Fungsi Lainnya Dalam Kalimat

    ………………………………………………………………………………… 51

  • xx

    3.3 Pengaruh Satuan Lingual Pengisi Fungsi Predikat Berkategori Adjektiva

    Terhadap Satuan Lingual Pengisi Fungsi Lainnya Dalam Kalimat

    …….................................................................................................................... 54

    BAB IV HUBUNGAN ANTARSATUAN LINGUAL PENGISI FUNGSI

    PREDIKAT ANTARKALIMAT DALAM WACANA “ADAM

    MALIK TETAP PAHLAWAN” PADA RUBRIK TAJUK RENCANA

    HARIAN KOMPAS EDISI SENIN 01 DESEMBER 2008

    4.1 Satuan Lingual Pengisi Fungsi Predikat Koreferensial Antarkalimat

    ………………………………………………………………………………. 61

    4.2 Satuan Lingual Pengisi Fungsi Predikat Kolokasial Antarkalimat

    ………………………………………………………………………………. 62

    4.3 Satuan Lingual Pengisi Fungsi Predikat Mempengaruhi Kontinuitas Topik

    Wacana ……………………………………………………………………... 66

    BAB V PUNUTUP

    6.1 Kesimpulan …………………………………………………………………… 74

    6.2 Saran ………………………………………………………………………….. 75

    DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………... 76

    LAMPIRAN DATA …………………………………………………………….. 77

  • 1

    Bab I

    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang Masalah

    Bahasa Indonesia memiliki ciri berupa keruntunan atau linearitas. Linearitas atau

    keruntunan tersebut dapat dilihat dari satuan lingual yang menjadi unsur bahasa

    tersebut dalam pemakaiannya secara lisan dan tulis. Bahasa Indonesia sebagai salah

    satu dari sekian banyak bahasa verbal yang ada juga memiliki ciri linearitas tersebut

    dalam setiap tataran satuan lingualnya. Misalnya, dalam bahasa Indonesia terdapat

    satuan lingual yang disebut kalimat. Kalimat dalam bahasa Indonesia dapat

    dikelompokkan menjadi dua berdasarkan ada atau tidaknya klausa di dalamnya, yaitu

    kalimat berklausa dan kalimat tak berklausa. Klausa merupakan satuan lingual yang

    predikatif, atau yang di dalamnya terdapat satuan lingual yang berfungsi sebagai

    predikat.

    Satu kalimat berklausa dapat terdiri dari satu atau beberapa klausa. Fungsi satuan

    lingual yang membentuk sebuah kalimat dapat diidentifikasi berdasarkan

    pengaruhnya terhadap keutuhan kalimat. Ketidakhadiran salah satu satuan lingual

    yang membentuk satu kalimat dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan

    keutuhan kalimat. Salah satu satuan lingual yang memiliki fungsi penting terhadap

  • 2

    kesatuan kalimat adalah satuan lingual pengisi fungsi predikat. Satuan lingual dalam

    bahasa Indonesia diidentifikasi sebagai kalimat yang terbentuk dari satu atau lebih

    klausa bila di dalamnya terdapat satuan lingual yang berfungsi sebagai predikat.

    Satuan lingual pengisi fungsi predikat tersebut dapat berupa kata maupun frasa.

    Misalnya, kalimat “Kita buka dengan mengutip pendapat Mensesneg Hatta Rajasa

    tentang isu buku Tim Wiener yang menulis mantan Wapres Adam Malik sebagai

    anggota CIA.” (KOMPAS, Adam Malik Tetap Pahlawan, Senin, 01-12-2008) Jika

    kata buka sebagai satuan lingual pengisi fungsi predikat tidak dihadirkan, maka akan

    berpengaruh besar terhadap susunannya, dan juga pada maknanya. Konstruksi *Kita

    dengan mengutip pendapat Mensesneg Hatta Rajasa tentang isu buku Tim Wiener

    yang menulis mantan Wapres Adam Malik sebagai anggota CIA tidak berterima

    maknanya.

    Hasil penelitian selama ini menunjukkan bahwa satuan lingual pengisi fungsi

    predikat merupakan pusat kalimat. Selain sebagai pusat kalimat, satuan lingual

    pengisi fungsi predikat memiliki peran dan kategori. Contohnya sebagai berikut :

    1.Satuan lingual pengisi fungsi predikat sebagai pusat kalimat.

    Contoh :

    1) Kita buka dengan mengutip pendapat Mensesneg Hatta Rajasa tentang isu buku Tim Wiener yang menulis mantan Wapres Adam Malik sebagai anggota CIA.

    Kata buka dinyatakan sebagai pusat dalam kalimat karena kehadirannya

    memungkinkan hadirnya kata ganti pertama jamak kita yang berfungsi sebagai subjek

  • 3

    kalimat dan frasa dengan mengutip pendapat Mensesneg Hatta Rajasa tentang isu

    buku Tim Wiener yang menulis mantan Wapres Adam Malik sebagai anggota CIA

    yang berfungsi sebagai pelengkap.

    2. Satuan lingual pengisi fungsi predikat dapat diisi kategori verba dan nonverba.

    Contoh :

    1) Kita buka dengan mengutip pendapat Mensesneg Hatta Rajasa tentang isu buku Tim Wiener yang menulis mantan Wapres Adam Malik sebagai anggota CIA.

    2) Pernyataan Mensesneg benar dan bijak.

    Konstruksi kalimat pertama berpredikat verba karena kata buka merupakan verba.

    Sementara kalimat kedua merupakan konstruksi kalimat majemuk setara berpredikat

    nonverba karena kata benar dan kata bijak berkategori adjektiva.

    3. Satuan lingual pengisi fungsi predikat tersebut memiliki peran, antara lain

    tindakan.

    Contoh :

    1) Kita buka dengan mengutip pendapat Mensesneg Hatta Rajasa tentang isu buku Tim Wiener yang menulis mantan Wapres Adam Malik sebagai anggota CIA.

    Kata buka memiliki makna tindakan, karena frasa tersebut menerangkan tindakan

    dari subjeknya.

    Penelitian yang selama ini dilakukan tentang satuan lingual pengisi fungsi

    predikat dalam bahasa Indonesia lebih banyak dalam tataran kalimat. Predikat dalam

  • 4

    bahasa Indonesia belum banyak dilihat pengaruhnya dalam tataran hubungan

    antarkalimat. Berdasarkan asumsi bahwa setiap satuan lingual pembentuk wacana

    memiliki kontribusi terhadap keutuhan wacana, satuan lingual pengisi fungsi predikat

    setiap kalimat dalam setiap wacana juga memberi pengaruh terhadap keutuhan

    wacana. Oleh karena itulah, penelitian tentang satuan lingual pengisi fungsi predikat

    dalam tataran hubungan antarkalimat akan dilakukan.

    Satuan lingual pengisi fungsi predikat tidak dapat diidentifikasi terlepas dari

    satuan lingual pengisi fungsi yang lainnya dalam sebuah kalimat. Satuan lingual

    pengisi fungsi predikat tidak akan dapat diidentifikasi tanpa mengidentifikasi satuan

    lingual pengisi fungsi lainnya, seperti satuan lingual pengisi fungsi subjeknya. Oleh

    karena itu, fungsi-fungsi satuan lingual setiap kalimat dalam wacana “Adam Malik

    Tetap Pahlawan” pada rubrik tajuk rencana Harian Kompas edisi Senin 01 Desember

    2009 perlu diidentifikasi lebih dahulu. Dengan demikian, satuan lingual pengisi

    fungsi predikat setiap kalimat dalam wacana tersebut dapat diketahui identitasnya.

    Setelah satuan lingual yang berfungsi predikat dalam setiap kalimat dalam

    wacana “Adam Malik Tetap Pahlawan” pada rubrik tajuk rencaja Harian Kompas

    teridentifikasi, dilakukanlah usaha untuk melihat kategorinya, perannya, tataran

    lingualnya, dan jenisnya. Kategori dan tataran satuan lingual pengisi fungsi predikat

    dapat diidentifikasi tanpa melihat hubungan antarsatuan lingual yang membentuk

    kalimat. Peran satuan lingual pengisi fungsi predikat perlu diidentifikasi dengan

    melihat hubungan antarsatuan lingual yang membentuk kalimat. Jenis predikatnya

  • 5

    dapat dilihat dari jumlahnya dalam setiap klausa yang membentuk kalimat. Setelah

    jelas kategori, peran, dan tataran lingual, dan jenis predikat satuan lingual yang

    berfungsi predikat setiap kalimat dalam wacana yang diteliti, barulah dapat dilihat

    pengaruh satuan lingual pengisi fungsi predikat terhadap satuan lingual pengisi fungsi

    yang lainnya dalam kalimat. Kejelasan identitas setiap satuan lingual pengisi fungsi

    predikat dalam setiap kalimat memungkinkan usaha untuk melihat hubungan satuan

    lingual pengisi fungsi predikat antarkalimat.

    1.2 Rumusan Masalah

    Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas,maka masalah yang relevan

    untuk diungkapkan adalah sebagai berikut :

    1.2.1 Apa kategori, peran, tataran lingual, dan jenis predikat satuan lingual pengisi

    fungsi predikat setiap kalimat dalam wacana “Adam Malik Tetap Pahlawan”

    pada rubrik tajuk rencana Harian Kompas edisi Senin 01 Desember 2008?

    1.2.2 Bagaimana pengaruh satuan lingual pengisi fungsi predikat terhadap unsur-

    unsur lainnya dalam kalimat pada wacana “Adam Malik Tetap Pahlawan”

    pada rubrik tajuk rencana Harian Kompas edisi Senin 01 Desember 2008?

    1.2.3 Apa hubungan antarsatuan lingual pengisi fungsi predikat antarkalimat dalam

    wacana “Adam Malik Tetap Pahlawan” pada Harian Kompas edisi Senin 01

    Desember 2008?

  • 6

    1.3 Tujuan Penelitian

    Berdasarkan rumusan masalah di atas, terdapat tiga tujuan yang hendak dicapai

    dalam penelitian ini, yaitu :

    1.3.1 Mengidentifikasi kategori, peran, tataran lingual, dan jenis predikat satuan

    lingual pengisi fungsi predikat dalam kalimat pada wacana “Adam Malik

    Tetap Pahlawan” pada rubrik tajuk rencana Harian Kompas edisi Senin 01

    Desember Tahun 2008.

    1.3.2 Menggambarkan pengaruh satuan lingual pengisi fungsi predikat terhadap

    unsur-unsur lainnya dalam kalimat pada wacana “Adam Malik Tetap

    Pahlawan” pada rubrik tajuk rencana Harian Kompas edisi Senin 01

    Desember Tahun 2008.

    1.3.3 Mengidentifikasi hubungan antarsatuan lingual pengisi fungsi predikat

    antarkalimat dalam wacana “Adam Malik Tetap Pahlawan” pada rubrik tajuk

    rencana Harian Kompas edisi 01 Desember Tahun 2008 .

    1.4 Manfaat Hasil Penelitian

  • 7

    Penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan sebagai berikut :

    1.4.1 Memberikan sumbangan di bidang sintaksis dalam mengidentifikasi kategori,

    peran, tataran lingual, dan jenis predikat satuan lingual pengisi fungsi predikat

    dalam kalimat bahasa Indonesia.

    1.4.2 Menambah kajian pengaruh satuan lingual pengisi fungsi predikat terhadap

    satuan pengisi fungsi yang lainnya dalam kalimat bahasa Indonesia.

    1.4.3 Meningkatkan pemahaman tentang hubungan antarsatuan lingual pengisi

    fungsi predikat antarkalimat dalam wacana bahasa Indonesia.

    1.5 Tinjauan Pustaka

    “Linguistik merupakan ilmu yang mengkaji seluk-beluk bahasa, dan bahasa yang

    dimaksud adalah bahasa keseharian manusia yang dipakai sehari-hari oleh manusia

    dalam masyarakat tertentu” (Sudaryanto, 1996 :5) Bahasa yang dipakai sehari-hari

    oleh manusia itu beragam dari berbagai aspek. Oleh karena itulah, linguistik sendiri

    mendekatinya dengan lebih baik melalui berbagai pendekatan melalui pengutamaan

    obyeknya yang merupakan bagian dari bahasa itu sendiri. Salah satunya adalah

    pendekatan struktural dengan obyek berupa tataran satuan lingual terkecil sampai

    yang terbesar. Salah satu cabang linguistik yang secara khusus mengkaji tataran

    satuan lingual tertentu itu adalah sintaksis.

  • 8

    “Sintaksis ialah bagian atau cabang ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk

    wacana, kalimat, klausa, dan frasa, berbeda dengan morfologi yang membicarakan

    seluk beluk kata dan morfem” (Ramlan, 1987 : 1) Dari itu, sintaksis dalam kerjanya

    membatasi obyeknya pada tataran wacana. Hal-hal yang dikaji itu antara lain

    hubungan antarfrasa klausa, hubungan antarklausa pembentuk kalimat, hubungan

    antar kalimat pembentuk alinea, dan hubungan antaralinea pembentuk wacana.

    Dengan demikian, analisis satuan lingual pengisi fungsi predikat dalam lingkup

    kalimat, dan analisis satuan lingual pengisi fungsi predikat antarkalimat dalam

    wacana dapat dilakukan.

    1.6 Landasan Teori

    Melihat obyek yang hendak diteliti merupakan satuan lingual pengisi predikat

    dalam tataran kalimat, dan kemudian meningkat dalam tataran hubungan

    antarkalimat, pendekatan sintaksis masih dapat diterapkan. Satuan lingual pengisi

    fungsi predikat dalam tataran hubungan antarkalimat tidak mungkin didekati tanpa

    terlebih dahulu mendekatinya dalam lingkup kalimat. Analisis satuan lingual pengisi

    fungsi predikat dalam tataran kalimat akan dilakukan lebih dahulu, dan baru

    kemudian analisis hubungan antarsatuan lingual pengisi fungsi predikat antarkalimat

    dilakukan.

  • 9

    1.6.1 Pengertian Sintaksis

    Sintaksis merupakan tatabahasa yang membahas hubungan antarkata dalam

    tuturan (Verhaar,2001 : 161) Usaha-usaha untuk mengkaji hubungan antarkata dalam

    kalimat sebenarnya tidak sepenuhnya terpisah dengan kajian tentang hubungan

    antarkalimat karena konstituen kalimat juga menjadi bagian dari hubungan

    antarkalimat. Batasan tuturan itu sendiri yang secara struktural belum pernah

    ditentukan secara pasti, memungkinkan usaha untuk mengkaji hubungan antarsatuan

    lingual dalam kalimat dan hubungan antarsatuan lingual antarkalimat dalam sebuah

    wacana.

    1.6.2 Pengertian Fungsi, Kategori, Peran

    “Ada tiga cara untuk menganalisis klausa secara sintaksis. Pertama, ada “Fungsi-

    Fungsi” di dalam klausa, ada “Peran-Peran” di dalam klausa, dan ada “Kategori-

    Kategorinya” (Verhaar,2001 : 162) Fungsi, kategori, dan peran satuan lingual

    merupakan identitas satuan lingual berdasarkan fungsi, kategori,dan peran satuan

    lingual yang membentuk kalimat.

    Fungsi satuan lingual terbentuk dari hubungannya dengan satuan lingual lain

    dalam konstruksi satuan lingual yang lebih besar, seperti fungsi kata dalam kalimat.

  • 10

    “Fungsi sintaktis adalah konstituen yang formal-tidak terikat dengan unsur semantis

    tertentu dan tidak terikat pula pada unsur kategorial tertentu “(Verhaar,2001 : 167)

    Kategori tidak ditentukan berdasarkan hubungan satuan lingual dengan yang lain

    dalam konstruksi yang lebih besar, tetapi lebih didasarkan pada kelas katanya.

    “Kategori sintaktis adalah apa yang sering disebut ‘kelas kata’, seperti nomina, verba,

    adjektiva, adverbial, adposisi (artinya, preposisi dan posposisi), dan lain sebagainya”

    (Verhaar, 2001 : 170) Kelas kata itu sendiri dalam setiap bahasa berbeda-beda dalam

    hal jumlah dan jenis.

    Dengan pengertian tuturan sebagai peristiwa, peran lebih menekankan pada apa

    yang terjadi pada satuan lingual yang menempati fungsi-fungsi dalam konstruksi

    satuan lingual yang lebih besar. “ ‘Peran’ sintaktis adalah segi semantis dari peserta-

    peserta verba” (Verhaar,2001 : 167) Segi makna dalam hal ini berbeda dengan

    kategori, karena makna yang dimaksud merupakan makna satuan lingual berdasarkan

    hubungannya dengan satuan lingual lain dalam konstruksi yang lebih besar.

    1.6.3 Pengertian Satuan Lingual Pengisi Fungsi Predikat

    Satuan lingual pengisi fungsi predikat merupakan konstituen kalimat yang

    bersifat inti karena kehadirannya dalam konstruksi kalimat yang berklausa bersifat

    perlu ada. Bersifat perlu ada, karena satuan lingual pengisi fungsi yang lainnya

    ditentukan oleh satuan lingual pengisi fungsi predikat. Predikat pada umumnya

  • 11

    berkategori verba, tetapi ada pula predikat yang berkategori nonverbal, seperti

    nomina. Predikat dapat menjadi penyebut dari subyek atau yang menerangkan subyek

    ( Lyons,1995 : 328).

    1.6.3.1 Pengertian Jenis Predikat Tunggal Dan Serial

    Predikat serial merupakan predikat yang jumlahnya lebih dari satu dalam satu

    klausa. Sedangkan predikat tunggal adalah predikat yang hanya satu saja yang utama

    dalam sebuah klausa (Verhaar, 2001 : 188). Satuan lingual pengisi fungsi predikat itu

    dikatakan ada lebih dari satu dalam satu klausa bila kehadiran salah satunya saja

    sudah berterima konstruksinya, dan kehadiran keduanya pun juga berterima, karena

    keduanya sama-sama merupakan inti dari satuan lingual pengisi fungsi predikat.

    Berbeda dengan itu, kalau dalam satu klausa itu terdapat satuan lingual pengisi fungsi

    predikat dengan hanya salah satunya saja sebagai intinya, klausa demikian itu

    diidentifikasi berpredikat tunggal.

    1.6.4 Pengertian Satuan Lingual

    Satuan lingual adalah satuan kebahasaan atau satu entitas kebahasaan yang

    berwujud. Wujudnya dapat lisan pun tulis. Satuan lingual itu antara lain, morfem,

    kata, frasa, klausa, kalimat, dan wacana.

  • 12

    1.6.4.1 Pengertian Wacana

    Wacana merupakan satuan gramatikal tertinggi. Wacana juga dimengerti sebagai

    satuan lingual (linguistic unit [s]) yang berada di atas tataran kalimat (Baryadi, 2002 :

    1). Sebagai satuan lingual yang berada di atasa tataran kalimat, wacana secara umum

    terdiri dari lebih dari satu kalimat. Namun pengertian di atas tataran kalimat itu tidak

    hanya menyangkut strukturnya, tetapi juga fungsinya dalam penggunaan bahasa.

    Dengan demikian, ada juga wacana yang hanya terdiri dari satu kalimat saja. Wacana

    yang terdiri dari satu kalimat dinilai berdasarkan fungsinya dalam penggunaan bahasa

    daripada strukturnya dalam penggunaan bahasa.

    1.6.4.2 Pengertian Alinea

    Dalam sebuah wacana, umumnya terdapat beberapa tema yang terungkapkan

    dalam beberapa alinea. Secara struktural alinea dapat disebut sebagai satuan bahasa

    yang berisi satu tema, yang terdiri satu atau lebih kalimat (Kridalaksana, 2008 : 173).

    1.6.4.3 Pengertian Kalimat

  • 13

    Tuturan adalah apa yang dituturkan orang. Sedangkan kalimat merupakan salah

    satu satuan tuturan. Dengan demikian kalimat merupakan sebagian dari hal yang

    dituturkan orang dengan penanda khusus, yaitu adanya intonasi tertentu sebagai

    pemarkah tuturan tersebut. Pemarkah itu sendiri dapat berupa pemarkah ortografis

    berupa tanda titik, tanda tanya, dan tanda seru (Verhaar,2001 : 161).

    Penentuan identitas satuan lingual sebagai kalimat lebih banyak didasarkan pada

    intonasinya (Ramlan, 1987 : 4). Identifikasi demikian itu mencukupi mengingat tidak

    semua kalimat berunsur klausa.

    1.6.4.4 Pengertian Klausa

    Gabungan dua kata atau lebih yang bersifat predikatif. Yang dimaksud dengan

    predikatif adalah satuan lingual yang memiliki predikat sebagai salah satu unsur

    pembentuknya. Setiap susunan kata yang salah satu unsur penyusunnya berfungsi

    sebagai predikat dapat dikatakan sebagai klausa.

    1.6.4.5 Pengertian Frasa

  • 14

    “ Frasa adalah kelompok kata yang merupakan bagian fungsional dari tuturan yang

    lebih panjang” (Verhaar, 2001 : 290). Frasa dapat terdiri dari gabungan dua kata atau

    lebih. Dinyatakan fungsional karena frasa merupakan konstituen yang memiliki

    fungsi dalam struktur yang lebih panjang.

    1.6.4.6 Pengertian Kata

    Kata memiliki pengertian sebagai satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri, yang

    terbentuk dari satu morfem atau lebih (Kridalaksana,2008 : 110). Kata memiliki

    makna yang penuh, dan dapat dimaknai terpisah dari satuan lingual yang lebih besar

    daripadanya. Kata itu sendiri dapat berupa kata dasar, yaitu satuan lingual yang dapat

    diturunkan menjadi satuan lingual lainnya melalui proses perubahan, seperti afiksasi.

    Sedangkan kata turunan adalah kata yang diturunkan dari kata dasar tertentu melalui

    proses perubahan.

    1.6.4.7 Pengertian Morfem

    Morfem merupakan satu satuan lingual terkecil yang bermakna. Satuan lingual itu

    dapat disebut sebagai satuan minimal gramatikal (Verhaar, 2001 :97). Satuan minimal

    gramatikal tersebut dapat berupa satuan minimal gramatikal yang terikat dan yang

    bebas. Satuan minimal gramatikal terikat tak dapat berdiri sendiri, dan perlu

  • 15

    bergabung dengan satuan minimal gramatikal yang lainnya untuk menjadi satuan

    gramatikal yang lebih besar. Sedangkan satuan minimal gramatikal minimal bebas

    dapat berdiri sendiri

    1.7 Metode Penelitian

    1.7.1 Jenis penelitian ini adalah penelitian sintaksis dengan obyek penelitian satuan

    lingual pengisi fungsi predikat dalam kalimat dan antarkalimat. Sumber data

    yang digunakan adalah wacana “Adam Malik Tetap Pahlawan” pada rubrik

    tajuk rencana Harian Kompas edisi Senin 01 Desember 2008.

    1.7.2 Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini ialah pendekatan diskriptif.

    Pendekatan diskriptif merupakan usaha mendekati obyek kajian dengan

    menggambarkan obyek penelitiannya, yaitu satuan lingual pengisi fungsi

    predikat dalam wacana “Adam Malik Tetap Pahlawan” pada rubrik tajuk

    rencana Harian Kompas edisi Senin 01 Desember 2008. Obyek penelitian

    tersebut digambarkan untuk memecahkan masalah yang sudah dirumuskan

    dalam rumusan masalah penelitian.

    1.7.3 Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik

    kopi, yaitu usaha mengumpulkan data dengan cara mengkopi data yang

    relevan dengan masalah yang hendak dipecahkan dari sumber data yang telah

    ditetapkan.

  • 16

    1.7.4 Analisis data dilakukan setelah data yang terkumpul memadai. Analisis data

    dilakukan dengan menggunakan metode agih dan metode padan.

    1.7.4.1 Metode Agih

    Metode Agih alat penentunya adalah bagian dari bahasa yang bersangkutan

    (Sudaryanto,1993 : 15).

    1.7.4.1.1 Teknik bagi unsur langsung (BUL). Teknik Dasar itu diterapkan dengan

    varian Teknik Lanjutannya untuk mengidentifikasi fungsi satuan lingual

    penyusun kalimat. Misalnya, diterapkan untuk mengidentifikasi satuan

    lingual pengisi fungsi predikat.

    1.7.4.2 Metode Padan

    “Metode padan, alat penentunya di luar, terlepas,dan tidak menjadi bagian

    dari bahasa (langue) yang bersangkutan.” (Sudaryanto,1993 :13)

    1.7.4.2.1 Metode Padan Referensial. Metode ini diterapkan dengan Teknik Pilah

    Unsur Penentu (PUP). Teknik ini diterapkan untuk mengidentifikasi

    kategori dan peran satuan lingual pengisi fungsi predikat dalam wacana

    yang diteliti. Pengaruh satuan lingual pengisi fungsi predikat terhadap

    keutuhan kalimat dapat diidentifikasi berdasarkan teknik ini.

    1.8 Sumber Data

    Judul : Adam Malik Tetap Pahlawan.

  • 17

    Penulis : Jakob Oetama.

    Penerbit : Harian Kompas.

    Tahun terbit : 2008.

    1.9 Sistematika Penyajian

    Sistematika penyajian dalam penelitian ini dirinci sebagai berikut :

    Penelitian ini dibagi menjadi empat bab. Bab I pendahuluan, berisi latar belakang,

    rumusan masalah, tujuan penelitian,manfaat penelitian, tinjauan pustaka dan landasan

    teori, metode penelitian,sistematika penyajian, jadwal penelitian, rincian biaya. Bab II

    berisi kategori, peran, tataran lingual, dan satuan lingual pengisi fungsi predikat

    dalam wacana “Adam Malik Tetap Pahlawan” pada rubrik tajuk rencana Harian

    Kompas edisi Senin 01 Desember 2008. Bab III berisi pengaruh satuan lingual

    pengisi fungsi predikat terhadap unsur-unsur lain dalam kalimat pada wacana “Adam

    Malik Tetap Pahlawan” pada rubrik tajuk rencana Harian Kompas edisi Senin 01

    Desember 2008. Bab IV berisi hubungan antarsatuan lingual pengisi fungsi predikat

    antarkalimat dalam wacana “Adam Malik Tetap Pahlawan” pada rubrik tajuk rencana

    Harian Kompas edisi Senin 01 Desember 2008. Bab VI penutup, berisi kesimpulan,

    dan saran.

  • 18

    BAB II

    KATEGORI, PERAN, TATARAN LINGUAL SATUAN LINGUAL

    PENGISI FUNGSI PREDIKAT, DAN JENIS PREDIKAT

    DALAM WACANA “ADAM MALIK TETAP PAHLAWAN”

    PADA RUBRIK TAJUK RENCANA HARIAN KOMPAS

    EDISI SENIN 01 DESEMBER 2008

    2.1 Satuan Lingual Pengisi Fungsi Predikat

    Dalam Wacana “Adam Malik Tetap Pahlawan”

    Pada Rubrik Tajuk Rencana Harian Kompas Edisi 01 Desember 2008

    Secara fungsional setiap satuan lingual dalam kalimat memiliki fungsi. Fungsi

    satuan lingual tersebut diidentifikasi berdasarkan hubungannya dengan satuan lingual

    lainya. Sesuai dengan landasan teori yang diterapkan dalam penelitian ini, usaha

    untuk mengidentifikasi satuan lingual pengisi fungsi predikat itu adalah dengan

    melihat cirinya. Salah satu cirinya adalah satuan lingual pengisi fungsi predikat itu

    menerangkan subyeknya.

    Satuan lingual dalam kalimat yang diidentifikasi berdasarkan fungsinya dan juga

    diidentifikasi berdasarkan peran,kategori,jumlahnya dalam setiap klausa,dan tataran

    satuan lingualnya. Hal itu dapat diterapkan dalam satuan lingual pengisi fungsi

  • 19

    predikat dalam wacana “Adam Malik Tetap Pahlawan”. Dengan demikian setiap

    satuan lingual pengisi fungsi predikat dalam kalimat yang ada dalam wacana “Adam

    Malik Tetap Pahlawan” akan diidentifikasi berdasarkan hal lainnya. Hal lainnya yang

    dimaksud adalah kategorinya, perannya, tataran satuan lingualnya, dan jenisnya.

    2.1.1 Kategori Satuan Lingual Pengisi Fungsi Predikat

    Dalam Wacana “Adam Malik Tetap Pahlawan”

    Pada Rubrik Tajuk Rencana Harian Kompas

    Edisi Senin 01 Desember 2008

    Seperti yang sudah diketahui secara umum dalam bidang sintaksis bahwa satuan

    lingual pengisi fungsi predikat juga memiliki identitas lain berdasarkan makna

    leksikalnya yang terlepas dari kedudukannya dalam kalimat. Beberapa penelitian

    menunjukkan bahwa tingkat keproduktifan penggunaan verba yang berfungsi sebagai

    predikat cukup tinggi daripada penggunaan kelas kata yang lainnya. Namun

    demikian, dalam wacana “Adam Malik Tetap Pahlawan” ditemukan bahwa satuan

    lingual pengisi fungsi predikat itu tidak hanya diisi dengan verba, tetapi juga kategori

    nomina, dan adjektiva.

  • 20

    2.1.1.1 Satuan Lingual Pengisi Fungsi Predikat Berkategori Verba

    Dalam Wacana “Adam Malik Tetap Pahlawan”

    Pada Rubrik Tajuk Rencana Harian Kompas

    Edisi Senin 01 Desember 2008

    Predikat berkategori verba merupakan predikat yang diisi dengan satuan lingual

    yang berkelas verba. Dalam wacana “Adam Malik Tetap Pahlawan” ditemukan

    bahwa verba dominan dalam mengisi fungsi predikat. Hal itu dapat dilihat dari

    contoh berikut ini :

    1) Kita buka dengan mengutip pendapat Mensesneg Hatta Rajasa tentang isu buku Tim Wiener yang menulis mantan Wapres Adam Malik sebagai anggota CIA.

    2) Tuduhan dalam buku itu berlebihan. 3) Jika mengikuti emosi, pastilah bangsa Indonesia emosi. 4) Balas (tuduhan) dengan tulisan. 5) Gambaran semacam itu bahkan juga tercermin dalam judul buku karya wartawan

    The New York Times itu, yakni Membongkar Kegagalan CIA atau dalam bahasa aslinya Legacy of Ashes, the History of CIA.

    6) Sepanjang kita mengikuti jejaknya sejak pergerakan kemerdekaan, perang kemerdekaan, diplomasi kemerdekaan Indonesia, sampai beragam jabatannya yang berakhir sebagai wakil presiden, sosok revolusioner tapi tenang dan diplomatik itulah kesan kuat yang kita peroleh.

    7) Sampai akhirnya setelah wafat, Bung Adam memperoleh gelar Pahlawan Nasional, sosok dan gelar itu tetap kuat.

    8) Penerbitan buku semacam itu, pada sisi lain, memberikan pengalaman dan pembelajaran.

    9) Masuk akal, dengan lajunya perjalanan sejarah, terhadap masa lampau, peristiwa, ataupun peranan para pelakunya, bisa timbul narasi yang berbeda fakta ataupun interpretasinya.

  • 21

    10) Meskipun disertai kejujuran, keahlian, dan tanggung jawab penulis atau ahlinya, perubahan fakta dan interpretasi bisa terjadi.

    11) Hal semacam itu logis jika bisa menimbulkan beberapa reaksi.

    Sebelas kalimat di atas bepredikat verba. Satuan lingual yang berfungsi sebagai

    predikat diberi tanda cetak miring tebal. Untuk membuktikan bahwa kalimat-kalimat

    memiliki predikat yang berkategori verba, berikut ini akan diberikan contoh

    analisisnya.

    Kalimat 1) dan 2) berpredikat buka dan berlebihan. Salah satu ciri verba adalah

    dapat dinegasikan dengan kata tidak (Sudaryanto,1993 : 16). Dengan mengikuti cara

    itu, maka kata buka dan kata berlebihan dapat dinegasikan dengan kata tidak. Berikut

    ini perbandingan kalimatnya setelah diberi tambahan kata tidak di depan kata

    berlebihan.

    1) a Kita buka dengan mengutip pendapat Mensesneg Hatta Rajasa tentang isu buku Tim Wiener yang menulis mantan Wapres Adam Malik sebagai anggota CIA. 1) b Kita tidak buka dengan mengutip pendapat Mensesneg Hatta Rajasa tentang isu buku Tim Wiener yang menulis mantan Wapres Adam Malik sebagai anggota CIA. 2) a Tuduhan dalam buku itu berlebihan . 2) b Tuduhan dalam buku itu tidak berlebihan.

    Hal yang sama juga berlaku pada predikat kalimat 2) sampai dengan kalimat 11),

    yang berturut-turut dapat dinegasikan dengan kata tidak, kecuali kalimat 3). Kalimat

    3) lebih tepat bila dinegasikan dengan kata jangan karena konstruksi tidak balas

    kurang berterima dibandingkan frase jangan balas. Untuk lebih jelasnya, proses

  • 22

    penegasian kesebelas satuan lingual pengisi fungsi predikat itu, dapat dilihat pada

    tabel berikut ini.

    Tabel 2.a

    Satuan lingual pengisi fungsi predikat Penegasian dengan kata tidak dan jangan untuk membuktikannya sebagai verba

    Mengikuti emosi Tidak mengikuti emosi Balas Jangan balas Juga tercermin Tidak juga tercermin Mengikuti Tidak mengikuti Memperoleh Tidak memperoleh Memberikan Tidak memberikan Bisa timbul Tidak bisa timbul Bisa terjadi Tidak bisa terjadi Bisa menimbulkan Tidak bisa menimbulkan

    2.1.1.2 Satuan Lingual Pengisi Fungsi Predikat Berkategori Nomina

    Dalam Wacana “Adam Malik Tetap Pahlawan”

    Pada Rubrik Tajuk Rencana Harian Kompas

    Edisi Senin 01 Desember 2008

    Predikat berkategori nomina merupakan satuan lingual pengisi fungsi predikat

    yang diisi dengan kelas kata nomina. Dalam wacana Adam Malik Tetap Pahlawan

    diperoleh predikat berkategori frasa nomina. Predikatnya berupa frasa karena tidak

    hanya terdiri dari satu kata, tetapi terdiri dari dua kata dengan konstituen inti nomina.

  • 23

    1) Adam Malik tetap pahlawan.

    Frasa tetap pahlawan pada kalimat 1) menjadi satuan lingual pengisi fungsi

    predikat karena frasa tetap pahlawan memberi keterangan terhadap Adam Malik

    yang menjadi subyek dalam kalimat tersebut. Kata tetap menerangkan kata

    pahlawan, sehingga dapat dikatakan bahwa frase tetap pahlawan berinti kata

    pahlawan. Pahlawan merupakan kata benda atau nomina, yang teridentifikasi dengan

    menegasikannya dengan kata bukan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa

    kalimat tersebut berpredikat frase nomina, yaitu frase yang berintikan nomina.

    2.1.1.3 Satuan Lingual Pengisi Fungsi Predikat Berkategori Adjektiva

    Dalam Wacana “Adam Malik Tetap Pahlawan”

    Pada Rubrik Tajuk Rencana Harian Kompas

    Edisi Senin 01 Desember 2008

    Predikat berkategori adjektiva merupakan satuan lingual yang berfungsi sebagai

    predikat yang diisi kata sifat. Dalam wacana “Adam Malik Tetap Pahlawan”

    ditemukan satuan lingual pengisi fungsi predikat yang diisi kategori adjektiva. Untuk

    dapat membuktikan bahwa predikatnya merupakan adjektiva, dapat dilihat pada

    analisa berikut ini.

    1) Namun, tetap tenang 2) Pernyataan Mensesneg benar dan bijak.

  • 24

    3) Bagi bangsa Indonesia, segala sesuatu yang berkonotasi dengan CIA peka, sensitif, dan negatif.

    4) Meskipun demikian, karena konteks sejarah di atas (sejarah CIA dalam kaitannya dengan pergerakan dan perjuangan kemerdekaan Indonesia), tulisan yang menyangkut Adam Malik itu sensitif lagi provokatif.

    5) Argumen negasi itu sangat kuat, di antaranya dilihat dari sudut ideologi dan gerakan politik Bung Adam sejak muda, yakni gerakan Partai Murba-nya Tan Malaka, sikap, pernyataan, dan aktivitas politiknya dalam pergerakan ataupun dalam pemerintahan kemudian.

    6) Adalah benar, meskipun sebutlah ideologi politiknya radikal dan revolusioner, sikap, pernyataan, dan tingkah laku politik Bung Adam tenang dan rasional.

    7) Maka, lagi-lagi relevanlah saran Mensesneg agar reaksi kita tidak emosional, tetapi rasional dan terkendali.

    Ketujuh kalimat di atas berpredikat adjektiva dan diberi tanda huruf miring tebal.

    Seperti usaha mengidentifikasi satuan lingual pengisi fungsi predikat sebelumnya, ciri

    khas yang diterapkan adalah satuan lingual itu menerangkan subyek.

    Kalimat 1) berpredikat tetap tenang. Frasa tetap tenang terdiri dari tetap dan

    tenang. Kata tetap merupakan adverbia yang memberi keterangan pada kata tenang.

    Sedangkan kata tenang merupakan adjektiva. Dengan demikian, dapat dinyatakan

    bahwa tetap tenang merupakan frasa adjektiva, sehingga satuan lingual pengisi fungsi

    predikat tersebut dapat dikatakan berkategori adjektiva.

    Hal yang mirip juga berlaku pada predikat kalimat selanjutnya.

    Frasa benar dan bijak pada kalimat 2) merupakan dua adjektiva yang digabung

    bersamaan untuk menjelaskan subyeknya. Untuk membuktikan bahwa frasa tersebut

    frasa adjektiva dapat dilihat dari referennya, yaitu konsep benar dan konsep bijak

    yang diacu.

    Kalimat 3),4),6),dan 7) diidentifikasi berpredikat adjektiva berdasarkan penanda

    akhirnya. Dalam bahasa Indonesia, kata serapan berkategori sifat biasanya

  • 25

    mengalami perubahan. Perubahan itu terutama pada akhirannya. Akan diambil satu

    contoh saja yang mewakili, yaitu kata negatif. Kata negatif berasal dari bahasa

    Inggris negative yang berkategori adjektiva.

    Sementara itu, kalimat 5) jelas berpredikat adjektiva, karena frasa sangat kuat

    berintikan kata kuat. Kata kuat itu sendiri merupakan adjektiva yang diterangkan

    dengan penyangatan menggunakan adverbial sangat.

    2.1.2 Peran Satuan Lingual Pengisi Fungsi Predikat

    Dalam Wacana “Adam Malik Tetap Pahlawan”

    Pada Rubrik Tajuk Rencana Harian Kompas Edisi 01 Desember 2008

    Peran satuan lingual predikat merupakan identitas predikat berdasarkan makna

    gramatikalnya. Makna gramatikal merupakan makna yang terbentuk berdasarkan

    makna leksikalnya dalam hubungannya dengan kedudukannya sebagai konstituen

    kalimat. Dengan demikian, peran satuan lingual diidentifikasi berdasarkan

    hubungannya dengan satuan lingual lain dalam konstruksi kalimat. Dalam hal ini,

    ciri-cirinya adalah apa yang terjadi pada satuan lingual tersebut dalam kalimat. Dalam

    wacana “Adam Malik Tetap Pahlawan” ditemukan bahwa ada satuan lingual pengisi

    fungsi predikat yang berperan sebagai tindakan, kejadian, keadaan, pelaku.

  • 26

    2.1.2.1 Satuan Lingual Pengisi Fungsi Predikat Berperan Tindakan

    Dalam Wacana “Adam Malik Tetap Pahlawan”

    Pada Rubrik Tajuk Rencana Harian Kompas Edisi 01 Desember 2008

    Satuan lingual pengisi fungsi predikat yang berperan tindakan itu dapat dikenali

    dari hubungannya dengan satuan lingual lain dalam kalimat. Peran satuan lingual

    pengisi fungsi predikat dapat diidentifikasi dengan mengajukan pertanyaan, apa yang

    terjadi pada subyeknya. Bila jawabannya adalah melakukan sesuatu, maka dapat

    diidentifikasi bahwa predikatnya adalah tindakan. Dalam wacana “Adam Malik Tetap

    Pahlawan” dapat ditemukan adanya satuan lingual pengisi fungsi predikat yang

    berperan sebagai tindakan. Berikut ini disajikan beberapa contoh analisa data dari

    wacana tersebut.

    1) Kita buka dengan mengutip pendapat Mensesneg Hatta Rajasa tentang isu buku Tim Wiener yang menulis mantan Wapres Adam Malik sebagai anggota CIA.

    2) Balas (tuduhan) dengan tulisan. 3) Sepanjang kita mengikuti jejaknya sejak pergerakan kemerdekaan, perang

    kemerdekaan, diplomasi kemerdekaan Indonesia, sampai beragam jabatannya yang berakhir sebagai wakil presiden, sosok revolusioner tapi tenang dan diplomatik itulah kesan kuat yang kita peroleh.

    4) Sampai akhirnya setelah wafat, Bung Adam memperoleh gelar Pahlawan Nasional, sosok dan gelar itu tetap kuat.

  • 27

    5) Penerbitan buku semacam itu, pada sisi lain, memberikan pengalaman dan pembelajaran.

    Satuan lingual pengisi fungsi predikat pada kelima kalimat di atas ditandai

    dengan dicetak miring tebal. Setiap fungsi predikat tersebut dapat diidentifikasi

    perannya dilihat dari makna yang terbentuk dalam hubungannya dengan satuan

    lingual lain dalam kalimat.

    Kalimat 1) berpredikat buka. Dilihat dari subyeknya buka merupakan kata kerja

    dasar yang berarti tindakan yang dilakukan subyeknya, yaitu memulai sebuah

    pembicaraan. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa buka merupakan predikat

    yang berperan sebagai tindakan. Proses identifikasi yang sama juga dapat diterapkan

    terhadap satuan lingual pengisi fungsi predikat kalimat 2) sampai 5). Kata balas,

    mengikuti, memperoleh, dan memberikan merupakan verba yang bermakna tindakan.

    Hal itu dapat dilihat dari hubungannya dengan subyeknya, yaitu menerangkan

    subyeknya melakukan tindakan.

    2.1.2.2 Satuan Lingual Pengisi Fungsi Predikat Berperan Kejadian

    Dalam Wacana “Adam Malik Tetap Pahlawan”

    Pada Rubrik Tajuk Rencana Harian Kompas Edisi 01 Desember 2008

    Predikat juga dapat berperan sebagai kejadian, karena menerangkan kejadian

    yang terjadi pada subyeknya. Hal itu dapat dilihat pada contoh berikut ini.

  • 28

    1) Gambaran semacam itu bahkan juga tercermin dalam judul buku karya wartawan The New York Times itu, yakni Membongkar Kegagalan CIA atau dalam bahasa aslinya Legacy of Ashes, the History of CIA.

    2) Meskipun disertai kejujuran, keahlian, dan tanggung jawab penulis atau ahlinya, perubahan fakta dan interpretasi bisa terjadi.

    3) Hal semacam itu logis jika bisa menimbulkan beberapa reaksi.

    Kata juga tercermin dalam kalimat 1) memiliki makna kejadian memantulkan

    sesuatu yang menerangkan apa yang terjadi pada subyeknya. Sedangkan pada kalimat

    2) dan 3) ciri predikatnya berperan sebagai kejadian jelas terlihat dari obyeknya yang

    beruntun.

    2.1.2.3 Satuan Lingual Pengisi Fungsi Predikat Berperan Keadaan

    Dalam Wacana “Adam Malik Tetap Pahlawan”

    Pada Rubrik Tajuk Rencana Harian Kompas Edisi 01 Desember 2008

    Peran keadaan satuan lingual pengisi fungsi predikat diidentifikasi berdasarkan

    keadaan apa yang diterangkannya terhadap subyeknya. Hal itu akan lebih jelas bila

    dilihat pada uraian berikut.

    1) Tuduhan dalam buku itu berlebihan. 2) Namun, bangsa Indonesia tidak perlu emosional menanggapinya. 3) Namun, tetap tenang. 4) Pernyataan Mensesneg benar dan bijak. 5) Bagi bangsa Indonesia, segala sesuatu yang berkonotasi dengan CIA peka, sensitif,

    dan negatif. 6) Terutama dalam konteksnya dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia, Perang

    Dingin, dan penegakan politik bebas aktif Indonesia.

  • 29

    7) Meskipun demikian, karena konteks sejarah di atas (sejarah CIA dalam kaitannya dengan pergerakan dan perjuangan kemerdekaan Indonesia), tulisan yang menyangkut Adam Malik itu sensitif lagi provokatif.

    8) Terutama di antara kita yang mengenal langsung ideologi, pergerakan, dan perjuangan Bung Adam Malik sejak muda sampai akhirnya menjabat wakil presiden.

    9) Argumen negasi itu sangat kuat, di antaranya dilihat dari sudut ideologi dan gerakan politik Bung Adam sejak muda, yakni gerakan Partai Murba-nya Tan Malaka, sikap, pernyataan, dan aktivitas politiknya dalam pergerakan ataupun dalam pemerintahan kemudian.

    10) Adalah benar, meskipun sebutlah ideologi politiknya radikal dan revolusioner, sikap, pernyataan, dan tingkah laku politik Bung Adam tenang dan rasional.

    11) Maka, lagi-lagi relevanlah saran Mensesneg agar reaksi kita tidak emosional, tetapi rasional dan terkendali.

    Predikat pada kalimat 1) sampai dengan 11) merupakan satuan lingual yang

    berkategori adjektiva. Makna sifat memberi keterangan pada subyeknya, dan itu

    dapat dinyatakan sebagai keadaan subyeknya. Dengan demikian kalimat-kalimat di

    atas predikatnya berperan keadaan. Contohnya,kalimat 1) berpredikat berlebihan

    yang bermakna lebih daripada keadaan yang senyatanya, sehingga dapat disimpulkan

    berperan keadaan.

    2.1.2.4 Satuan Lingual Pengisi Fungsi Predikat Berperan Pelaku

    Dalam Wacana “Adam Malik Tetap Pahlawan”

    Pada Rubrik Tajuk Rencana Harian Kompas Edisi 01 Desember 2008

    Dalam wacana “Adam Malik Tetap Pahlawan” juga ditemukan predikat

    berkategori nomina yang berperan sebagai pelaku. Hal itu dapat dikenali dari

    hubungan predikat dengan subyeknya.

  • 30

    1) Tidak masuk akal bahkan "absurd" pernyataan bahwa Bung "Kecil" itu-sebagai kontras terhadap Bung Besar, yakni Bung Karno-adalah agen CIA.

    Kalimat 1) di atas merupakan kalimat majemuk bertingkat. Klausa induknya

    bersubyek tidak masuk akal bahkan absurd. Sementara klausa anaknya

    berpredikat agen CIA. Agen CIA dinyatakan sebagai predikat anak kalimatnya,

    karena frasa Bung “Kecil” itu diterangkan dengan frasa agen CIA. Dalam konteks

    kalimatnya, agen CIA mengacu pada sebuah profesi. Dengan demikian dapatlah

    dinyatakan bahwa kalimat 1) di atas predikatnya berperan pelaku.

    2.1.3 Tataran Lingual Satuan Lingual Pengisi Fungsi Predikat

    Dalam Wacana “ Adam Malik Tetap Pahlawan”

    Pada Rubrik Tajuk Rencana Harian Kompas

    Edisi Senin 01 Desember 2008

    Tataran satuan lingual merupakan tingkatan satuan lingual yang dirumuskan

    secara formal dari satuan terkecil sampai yang terbesar. Umumnya kita mengenal

    satuan terkecil bentuk bahasa sampai dengan satuan terbesar bentuk bahasa. Secara

    umum tataran satuan lingual yang dapat memenuhi fungsi predikat itu minimal

    berupa kata. Dalam wacana Adam Malik Tetap Pahlawan, ditemukan bahwa satuan

    lingual pengisi fungsi predikat dilihat dari tataran satuan lingualnya dapat ada yang

    berbentuk kata dan frasa.

  • 31

    2.1.3.1 Tataran Lingual Kata Sebagai Pengisi Fungsi Predikat

    Dalam Wacana “ Adam Malik Tetap Pahlawan”

    Pada Rubrik Tajuk Rencana Harian Kompas

    Edisi Senin 01 Desember 2008

    Kata memiliki pengertian sebagai satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri, yang

    terbentuk dari satu morfem atau lebih (Kridalaksana,2008 : 110). Berdasarkan

    definisi tersebut, maka kata dapat merupakan kata dasar yang tak dapat dibagi lagi

    menjadi satuan lingual yang bermakna, dan kata turunan yang terbentuk melalui

    proses penurunan dan dapat dibagi lagi ke dalam satuan lingual yang lebih kecil

    dengan tetap mempertahankan adanya makna dari satuan lingual yang lebih kecil itu.

    2.1.3.1.1 Tataran Lingual Kata Dasar Sebagai Pengisi Fungsi Predikat

    Dalam Wacana “ Adam Malik Tetap Pahlawan”

    Pada Rubrik Tajuk Rencana Harian Kompas

    Edisi Senin 01 Desember 2008

  • 32

    Kata dasar dalam bahasa Indonesia umumnya merupakan morfem bebas, yang tak

    dapat dibagi lagi ke dalam satuan yang lebih kecil sebagai satuan lingual bermakna.

    Dalam wacana Adam Malik Tetap Pahlawan ditemukan jenis kata dasar yang mengisi

    fungsi predikat, seperti pada uraian berikut ini.

    1) Kita buka dengan mengutip pendapat Mensesneg Hatta Rajasa tentang isu buku Tim Wiener yang menulis mantan Wapres Adam Malik sebagai anggota CIA.

    Kalimat 1) berpredikat kata buka. Kata buka merupakan kata dasar karena tak

    dapat lagi dibagi lagi ke dalam satuan lingual yang lebih kecil lagi dengan tetap

    mempertahankan adanya makna dalam satuan lingual tersebut.

    2) Balas (tuduhan) dengan tulisan

    Kata balas merupakan kata kerja dasar, yang masih dapat berubah menjadi bentuk

    satuan lingual lain yang lebih besar, tetapi tidak dapat berubah menjadi satuan lingual

    lebih kecil dengan tetap mempertahankan maknanya. Oleh karena itulah, dapat

    diidentifikasi bahwa kata balas merupakan kata dasar.

    3) Adalah benar, meskipun sebutlah ideologi politiknya radikal dan revolusioner, sikap, pernyataan, dan tingkah laku politik Bung Adam tenang dan rasional.

    Kalimat 3) salah satu satuan lingual pengisi fungsi predikatnya merupakan kata

    dasar, yaitu kata benar. Kata benar diidentifikasi sebagai kata dasar, karena tidak

    dapat dibagi lagi ke dalam satuan lingual yang lebih kecil dengan tetap

  • 33

    mempertahankan adanya makna. Dengan demikian, jelas bahwa kata benar

    merupakan kata dasar.

    2.1.3.1.2 Tataran Lingual Kata Turunan Sebagai Pengisi Fungsi Predikat

    Dalam Wacana “ Adam Malik Tetap Pahlawan”

    Pada Rubrik Tajuk Rencana Harian Kompas

    Edisi Senin 01 Desember 2008

    Kata turunan merupakan kata yang diturunkan dari kata dasarnya. Dalam bahasa

    Indonesia, perubahan bentuk kata itu dapat terjadi melalui beberapa proses. Antara

    lain, reduplikasi,afiksasi,pemajemukan. Dalam wacana tajuk rencana ini ditemukan

    kata turunan yang lebih banyak terbentuk dari proses afiksasi. Antara lain konfiks,

    yaitu ber-/-an dan me-/-i,di-/-i,dan me (N)-/-kan. Prefiks ter-, dan me (N)-.

    Contohnya adalah sebagai berikut.

    1) Tuduhan dalam buku itu berlebihan.

    Kata berlebihan pengisi fungsi predikat kalimat 1) merupakan kata turunan yang

    berkata dasar lebih. Kata dasar lebih mendapatkan awalan ber- dan akhiran –an

    menjadi berlebihan. Kata lebih merupakan kategori adjektiva. Perngaruh konfik ber-

    /-an tersebut merubah bentuknya dan juga maknanya, sehingga dapat diterapkan

  • 34

    dalam kalimat tersebut. Apabila kata dasar lebih tidak dirubah bentuknya, maka tidak

    akan dapat digunakan dalam kalimat tersebut.

    2) Terutama dalam konteksnya dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia, Perang Dingin, dan penegakan politik bebas aktif Indonesia.

    3) Terutama di antara kita yang mengenal langsung ideologi, pergerakan, dan perjuangan Bung Adam Malik sejak muda sampai akhirnya menjabat wakil presiden.

    Dua kalimat di atas, yaitu kalimat 2) dan 3) berpredikat terutama. Kata Terutama

    itu sendiri berkata dasar utama yang berkategori adjektiva. Awalan ter merupakan

    penyangat makna sifat yang diemban kata dasarnya, sehingga menjadikannya dapat

    diletakkan di awal dua kalimat di atas.

    4) Sepanjang kita mengikuti jejaknya sejak pergerakan kemerdekaan, perang kemerdekaan, diplomasi kemerdekaan Indonesia, sampai beragam jabatannya yang berakhir sebagai wakil presiden, sosok revolusioner tapi tenang dan diplomatik itulah kesan kuat yang kita peroleh.

    Kalimat 4) berpredikat mengikuti, yang berkata dasar ikut dengan konfiks me-/-i.

    Konfiks tersebut tidak merubah kategori kata dasarnya, tetapi merubah maknanya.

    Kata ikut sebagai kata dasarnya adalah kata kerja, dan mengikuti tetap merupakan

    kata kerja. Namun demikian, konfiks me-/i merubah maknanya dari netral menjadi

    aktif.

    5) Sampai akhirnya setelah wafat, Bung Adam memperoleh gelar Pahlawan Nasional, sosok dan gelar itu tetap kuat.

  • 35

    Predikat kalimat 5) adalah kata turunan adalah kata tersebut tidak dapat diganti

    dengan kata dasarnya. Kata oleh memiliki makna keterangan pelaku. Sedangkan

    memperoleh bermakna mendapatkan, sehingga tepat untuk diletakkan di antara

    subyek dan obyek kalimat tempatnya berada.

    6) Keyakinan itu yang menyebabkan riak reaksi atas terbitnya buku itu, tidak seperti yang dikhawatirkan oleh Mensesneg dan banyak di antara kita.

    7) Penerbitan buku semacam itu, pada sisi lain, memberikan pengalaman dan pembelajaran.

    Kalimat 6) dan 7) berpredikat kata turunan, yaitu kata dasar yang mendapatkan

    awalan dan akhiran atau konfiks me-/-kan. Hanya saja, karena kata dasarnya berbeda,

    maka kata turunan yang terbentuk pun berbeda. Kata menyebabkan berkata dasar

    sebab. Fonem /s/ yang mengawali kata dasar tersebut menyebabkan perubahan bunyi

    ketika mendapatkan imbuhan me-, menjadi menyebabkan. Predikat kalimat 7)

    terbentuk dari konfiks yang sama, tetapi kata dasarnyalah yang menyebabkan

    perubahan yang terjadi tidak sama. Kata dasar beri berfonem awal /b/ yang berakibat

    pada terjadinya perubahan pada proses perubahan pada awalannya, dan tidak pada

    akhirannya, menjadi memberikan.

    8) Meskipun disertai kejujuran, keahlian, dan tanggung jawab penulis atau ahlinya, perubahan fakta dan interpretasi bisa terjadi.

    Predikat kalimat 8) salah satunya adalah kata turunan berkonfiks di-/-i, yaitu

    disertai. Kata dasarnya adalah serta. Kata serta sendiri memiliki makna yang bisa

  • 36

    dipertukarkan dengan kata dengan dalam beberapa kasus, untuk mengungkapkan

    makna bersama.

    2.1.3.2 Tataran Lingual Frasa Sebagai Pengisi Fungsi Predikat

    Dalam Wacana “ Adam Malik Tetap Pahlawan”

    Pada Rubrik Tajuk Rencana Harian Kompas

    Edisi Senin 01 Desember 2008

    Frasa merupakan gabungan dua kata atau lebih yang tidak predikatif. Dalam

    wacana “Adam Malik Tetap Pahlawan”, ditemukan adanya satuan lingual pengisi

    fungsi predikat yang bertataran frasa. Frasa dalam bahasa Indonesia dikelompokkan

    berdasarkan berbagai bentuk. Dalam hal ini, frasa pengisi fungsi predikat tidak

    diidentifikasi berdasarkan kelas katanya, karena dalam uraian sebelumnya sudah

    diungkapkan kategori dari satuan lingual pengisi fungsi predikat. Pada bagian ini

    akan dilihat frasa berdasarkan hubungan induknya dan atributnya.

    1) Namun, bangsa Indonesia tidak perlu emosional menanggapinya 2) Jika mengikuti emosi, pastilah bangsa Indonesia emosi. 3) Namun, tetap tenang. 4) Pernyataan Mensesneg benar dan bijak. 5) Bagi bangsa Indonesia, segala sesuatu yang berkonotasi dengan CIA peka, sensitif,

    dan negatif. 6) Gambaran semacam itu bahkan juga tecermin dalam judul buku karya wartawan The

    New York Times itu, yakni Membongkar Kegagalan CIA atau dalam bahasa aslinya Legacy of Ashes, the History of CIA.

    7) Meskipun demikian, karena konteks sejarah di atas (sejarah CIA dalam kaitannya dengan pergerakan dan perjuangan kemerdekaan Indonesia), tulisan yang menyangkut Adam Malik itu sensitif lagi provokatif.

    8) Tidak masuk akal bahkan "absurd" pernyataan bahwa Bung "Kecil" itu-sebagai kontras terhadap Bung Besar, yakni Bung Karno-adalah agen CIA.

  • 37

    9) Argumen negasi itu sangat kuat, di antaranya dilihat dari sudut ideologi dan gerakan politik Bung Adam sejak muda, yakni gerakan Partai Murba-nya Tan Malaka, sikap, pernyataan, dan aktivitas politiknya dalam pergerakan ataupun dalam pemerintahan kemudian.

    10) Adalah benar, meskipun sebutlah ideologi politiknya radikal dan revolusioner, sikap, pernyataan, dan tingkah laku politik Bung Adam tenang dan rasional.

    11) Masuk akal, dengan lajunya perjalanan sejarah, terhadap masa lampau, peristiwa, ataupun peranan para pelakunya, bisa timbul narasi yang berbeda fakta ataupun interpretasinya.

    12) Meskipun disertai kejujuran, keahlian, dan tanggung jawab penulis atau ahlinya, perubahan fakta dan interpretasi bisa terjadi.

    13) Hal semacam itu logis jika bisa menimbulkan beberapa reaksi. 14) Maka, lagi-lagi relevanlah saran Mensesneg agar reaksi kita tidak emosional, tetapi

    rasional dan terkendali.

    2.1.4 Satuan Lingual Pengisi Fungsi Predikat Berjenis Tunggal

    Dalam Wacana “Adam Malik Tetap Pahlawan”

    Pada Rubrik Tajuk Rencana Harian Kompas

    Edisi Senin 01 Desember 2009

    Berdasarkan jumlahnya dalam satu klausa, predikat dapat dikelompokkan

    menjadi dua bagian, yaitu predikat tunggal dan predikat serial (Verhaar,2001 : 188).

    Kalimat majemuk yang berklausa lebih dari satu memang memiliki predikat lebih

    dari satu dan dalam hal ini apa yang dimaksud predikat tunggal dan serial itu adalah

    predikat yang ada dalam satu klausa. Dalam wacana Adam Malik Tetap Pahlawan

    juga ditemukan satu klausa yang berpredikat tunggal. Sedangkan jenis predikat serial

    tidak ditemukan.

    Predikat tunggal merupakan satuan lingual pengisi fungsi predikat yang hanya

    satu saja satuan lingual utamanya. Ketunggalan predikat itu tidak dilihat dari

  • 38

    jumlahnya satuan lingual yang mengisi fungsi predikat dalam satu klausa, tetapi

    dilihat dari satuan lingual yang utama dari satuan lingual pengisi fungsi predikat

    tersebut. Jika ada kalimat dengan predikat berupa lebih dari satu kata, maka belum

    tentu itu berpredikat serial. Dalam wacana Adam Malik Tetap Pahlawan hanya

    ditemukan jenis predikat tunggal, dan tidak terdapat predikat serial.

    Beberapa kalimat dalam wacana Adam Malik Tetap Pahlawan memang

    berpredikat satuan lingual yang terdiri dari lebih dari satu kata, tetapi umumnya

    selalu memiliki satu pusat. Dalam penggunaannya, bila salah satunya tidak dapat

    dilesapkan agar klausanya berdiri sendiri, maka itu dapat menunjukkan bahwa

    predikat tersebut bukan predikat serial.

    Uraian berikut ini menunjukkan bahwa tidak ditemukan predikat serial dalam

    wacana “Adam Malik Tetap Pahlawan”.

    1) ADAM MALIK TETAP PAHLAWAN 2) Kita buka dengan mengutip pendapat Mensesneg Hatta Rajasa tentang isu buku Tim

    Wiener yang menulis mantan Wapres Adam Malik sebagai anggota CIA. 3) Tuduhan dalam buku itu berlebihan. 4) Namun, bangsa Indonesia tidak perlu emosional menanggapinya. 5) Jika mengikuti emosi, pastilah bangsa Indonesia emosi. 6) Namun, tetap tenang. 7) Balas (tuduhan) dengan tulisan 8) Pernyataan Mensesneg benar dan bijak. 9) Bagi bangsa Indonesia, segala sesuatu yang berkonotasi dengan CIA peka, sensitif,

    dan negatif. 10) Terutama dalam konteksnya dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia, Perang

    Dingin, dan penegakan politik bebas aktif Indonesia. 11) Gambaran semacam itu bahkan juga tercermin dalam judul buku karya wartawan

    The New York Times itu, yakni Membongkar Kegagalan CIA atau dalam bahasa aslinya Legacy of Ashes, the History of CIA.

  • 39

    12) Meskipun demikian, karena konteks sejarah di atas (sejarah CIA dalam kaitannya dengan pergerakan dan perjuangan kemerdekaan Indonesia), tulisan yang menyangkut Adam Malik itu sensitif lagi provokatif.

    13) Terutama di antara kita yang mengenal langsung ideologi, pergerakan, dan perjuangan Bung Adam Malik sejak muda sampai akhirnya menjabat wakil presiden.

    14) Tidak masuk akal bahkan "absurd" pernyataan bahwa Bung "Kecil" itu-sebagai kontras terhadap Bung Besar, yakni Bung Karno-adalah agen CIA.

    15) Argumen negasi itu sangat kuat, di antaranya dilihat dari sudut ideologi dan gerakan politik Bung Adam sejak muda, yakni gerakan Partai Murba-nya Tan Malaka, sikap, pernyataan, dan aktivitas politiknya dalam pergerakan ataupun dalam pemerintahan kemudian.

    16) Adalah benar, meskipun sebutlah ideologi politiknya radikal dan revolusioner, sikap, pernyataan, dan tingkah laku politik Bung Adam tenang dan rasional.

    17) Sepanjang kita mengikuti jejaknya sejak pergerakan kemerdekaan, perang kemerdekaan, diplomasi kemerdekaan Indonesia, sampai beragam jabatannya yang berakhir sebagai wakil presiden, sosok revolusioner tapi tenang dan diplomatik itulah kesan kuat yang kita peroleh.

    18) Sampai akhirnya setelah wafat, Bung Adam memperoleh gelar Pahlawan Nasional, sosok dan gelar itu tetap kuat.

    19) Keyakinan itu yang menyebabkan riak reaksi atas terbitnya buku itu, tidak seperti yang dikhawatirkan oleh Mensesneg dan banyak di antara kita.

    20) Penerbitan buku semacam itu, pada sisi lain, memberikan pengalaman dan pembelajaran.

    21) Masuk akal, dengan lajunya perjalanan sejarah, terhadap masa lampau, peristiwa, ataupun peranan para pelakunya, bisa timbul narasi yang berbeda fakta ataupun interpretasinya.

    22) Meskipun disertai kejujuran, keahlian, dan tanggung jawab penulis atau ahlinya, perubahan fakta dan interpretasi bisa terjadi.

    23) Hal semacam itu logis jika bisa menimbulkan beberapa reaksi. 24) Maka, lagi-lagi relevanlah saran Mensesneg agar reaksi kita tidak emosional, tetapi

    rasional dan terkendali.

    Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa satuan lingual pengisi fungsi

    predikat dalam wacana “Adam Malik Tetap Pahlawan” memiliki identitas lain baik

    secara struktural dalam penggunaannya maupun terlepas dari penggunaannya.

    Identitas itu antara lain kategorinya, perannya, tataran satuan lingualnya, dan

    jenisnya.

  • 40

    Hal itu dapat dibuktikan bahwa predikat dapat berkategori verba pun nonverba,

    yang diidentifikasi berdasarkan kelas satuan lingualnya. Identitas peran satuan lingual

    pengisi fungsi predikat tidak dapat dilepaskan dari penggunaannya dalam teks.

    Tataran satuan lingual pengisi fungsi predikat dapat diidentifikasi terlepas dari

    penggunaannya. Jenis predikat dapat diidentifikasi dengan melihat jumlah predikat

    dalam satu klausa.

  • 41

    BAB III

    PENGARUH SATUAN LINGUAL PENGISI FUNGSI PREDIKAT

    TERHADAP UNSUR LAIN DALAM KALIMAT

    DALAM WACANA “ADAM MALIK TETAP PAHLAWAN”

    PADA RUBRIK TAJUK RENCANA HARIAN KOMPAS

    EDISI SENIN 01 DESEMBER 2008

    3.1 Pengaruh Predikat Berkategori Verba Terhadap Satuan Lingual Pengisi

    Fungsi Yang Lain Dalam Kalimat

    Berdasarkan beberapa penelitian yang sudah dilakukan, penggunaan verba

    sebagai predikat dalam kalimat dapat ditelusuri pengaruhnya terhadap unsur-unsur

    lain dalam kalimat. Pada bagian berikut ini akan diuraikan pengaruh satuan lingual

    pengisi fungsi predikat berkategori verba terhadap satuan lingual pengisi fungsi yang

    lainnya pada kalimat-kalimat dalam wacana “Adam Malik Tetap Pahlawan”.

    1) Kita buka dengan mengutip pendapat Mensesneg Hatta Rajasa tentang isu buku Tim Wiener yang menulis mantan Wapres Adam Malik sebagai anggota CIA.

    Satuan lingual pengisi fungsi predikat merupakan pusat kalimat. Sebagai pusat,

    penggunaan verba buka dalam kalimat di atas berpengaruh terhadap satuan lingual

    lain dalam kalimat yang sama. Penggunaan kata buka berkonsekuensi logis pada

  • 42

    penggunaan satuan lingual pengisi fungsi subjeknya, yaitu kata ganti orang pertama

    jamak kita, dan frasa dengan mengutip pendapat Mensegneg Hatta Rajasa tentang

    isu buku Tim Wiener yang menulis mantan Wapres Adam Malik sebagai anggota CIA

    sebagai pengisi fungsi keterangan. Hal itu dapat dibuktikan dengan melesapkan

    satuan lingual pengisi fungsi predikat atau mengganti satuan lingual pengisi fungsi

    predikat dengan satuan lingual yang lain.

    Jika kata buka dilesapkan, satuan lingual pengisi fungsi subyek dan keterangan

    tidak perlu hadir dalam konstruksi kalimat. Hal itu dapat dilihat dari proses

    perubahan kalimatnya menjadi sebagai berikut :

    1.a *Kita dengan mengutip pendapat Mensesneg Hatta Rajasa tentang isu buku Tim Wiener yang menulis mantan Wapres Adam Malik sebagai anggota CIA. 1.b *Kita 1.c *Dengan mengutip pendapat Mensesneg Hatta Rajasa tentang isu buku Tim Wiener yang menulis mantan Wapres Adam Malik sebagai anggota CIA.

    Penggantian satuan lingual lain selain pengisi fungsi predikat masih

    memungkinkan konstruksinya diterima, tetapi tidak bila yang diganti atau dirubah

    adalah satuan lingual pengisi fungsi predikatnya. Jika kata kita sebagai subjek

    diganti dengan kata dari kategori yang sama, konstruksinya masih mungkin diterima,

    tetapi jika kata buka yang diganti, maka kehadiran satuan lingual pengisi fungsi

    subjek dan keterangan dalam kalimat tersebut tidak perlu hadir. Hal itu terjadi, karena

    satuan pengisi fungsi subjek dan keterangan mengikuti kehadiran satuan lingual

  • 43

    pengisi fungsi predikat. Jadi, dalam kalimat tersebut, jika kata buka tidak ada, satuan

    lingual pengisi fungsi subjek dan keterangan tidak bisa hadir.

    Satuan lingual pengisi fungsi subjek dan keterangan dalam kalimat tersebut masih

    mungkin diganti dengan satuan lingual lainnya dengan kategori yang sama agar dapat

    berterima konstruksinya. Contohnya sebagai berikut :

    1.d Kami buka dengan mengutip pendapat Mensesneg Hatta Rajasa tentang isu buku Tim Wiener yang menulis mantan Wapres Adam Malik sebagai anggota CIA.

    Kata kita masih mungkin diganti dengan kata kami yang sama kategorinya dengan

    kata kita. Pergantian semacam itu masih memungkinkan konstruksi kalimatnya dapat

    diterima. Hal itu menunjukkan bahwa satuan lingual pengisi fungsi sujek tersebut

    mengikuti kehadiran satuan lingual pengisi fungsi predikat.

    Hal yang sama juga berlaku terhadap satuan lingual pengisi fungsi keterangan.

    Salah satu pembuktiannya adalah dengan mengganti atau merubah salah satu kata

    pembentuk frasa pengisi fungsi keterangan, menjadi seperti berikut :

    1.e Kita buka tanpa mengutip pendapat Mensesneg Hatta Rajasa tentang isu buku Tim Wiener yang menulis mantan Wapres Adam Malik sebagai anggota CIA.

    Salah satu konstituen frasa yang berfungsi sebagai keterangan dapat diganti

    dengan kata yang lain, dan itu masih memungkinkan konstruksi kalimat yang

    terbentuk dapat diterima, yaitu kata dengan diganti dengan kata tanpa. Sekalipun

    salah satu konstituennya diganti, konstruksi kalimatnya masih berterima. Hal itu

  • 44

    membuktikan bahwa satuan lingual pengisi fungsi keterangan tersebut hadir sebagai

    tuntutan dari kehadiran kata buka sebagai satuan lingual pengisi fungsi predikat

    dalam kalimat tersebut.

    2) Tuduhan dalam buku itu berlebihan.

    Kalimat 2) berpredikat berlebihan. Penggunaan kata berlebihan tersebut

    berdampak pada satuan lingual pengisi subjeknya, yaitu frasa tuduhan dalam buku

    itu. Hal itu dapat dibuktikan dengan melakukan perubahan pada frasa pengisi fungsi

    predikatnya. Jika predikatnya diganti dengan satuan lingual lain, kehadiran satuan

    lingual pengisi fungsi subjek dalam kalimat tersebut tidak dapat hadir. Sedangkan

    bila satuan lingual pengisi subyeknya yang diganti dengan satuan lingual lainnya,

    masih memungkinkan satuan lingual pengisi predikat dalam kalimat tersebut hadir.

    Contohnya sebagai berikut :

    Satuan lingual pengisi predikat dilesapkah.

    2.a Tuduhan dalam buku itu

    Pelesapan kata berlebihan pada kalimat 2.a menyebabkan subjeknya tidak dapat

    hadir atau kehadirannya tidak lengkap. Hal itu menunjukkan bahwa satuan lingual

    pengisi fungsi subyek mengikuti kehadiran satuan lingual pengisi fungsi predikat.

    3) Jika mengikuti emosi, pastilah bangsa Indonesia emosi.

  • 45

    3.a

    Identitas satuan lingual

    Jika Mengikuti Emosi Bangsa Indonesia

    Pastilah Emosi

    Fungsi Penanda logika

    P1 Objek S P2 Objek

    Kalimat 3) bepredikat mengikuti dan pastilah. Kalimat itu merupakan kalimat

    majemuk dengan satu subjek. Subjek pada klausa pertama dilesapkan, dan subjek

    pada klausa kedua diapit dua kata yang masing-masing dapat berfungsi sebagai

    predikat dan obyek. Kata pastilah sebagai predikat dapat dipindah ke kanan sebelum

    kata emosi untuk mempertegas frasa bangsa Indonesia sebagai subjek klausa kedua

    atau anak kelimatnya.

    Penggunaan predikat pada klausa pertama berdampak pada tuntutan kehadiran

    kata emosi yang berfungsi sebagai objek kalimat. Sedangkan predikat pada klausa

    kedua menuntut kehadiran subjeknya yang sudah dilesapkan pada klausa pertama.

    Jika kata emosi tidak hadir, klausa pertama tidak akan dapat berterima. Demikian

    pula bila subjek dan objek pada klausa kedua tidak hadir, konstruksi kalimatnya tidak

    utuh. Hal itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa predikat klausa pertama dan

    kedua mempengaruhi satuan lingual yang mengisi fungsi subjek dan objek kalimat.

    Lihat tabel 3.a.

    4) Balas (tuduhan) dengan tulisan.

  • 46

    4.a

    Identitas satuan lingual

    balas (tuduhan) Dengan tulisan

    Fungsi P Ket.

    Kalimat 4) hanya terdiri dari predikat dan keterangan. Subjek kalimat dilesapkan,

    dan tampak jelas dengan keterangan kalimat yang diapit tanda kurung yang dapat

    berfungsi sebagai objek jika dimasukkan ke dalam konstruksi kalimat. Penggunaan

    kata balas itu sendiri berdampak pada pelesapan subjeknya. Kata kerja dasar balas

    dapat diidentifikasi memberi pengaruh pada pelesapan subjek kalimat dengan

    melakukan perubahan pada kata kerja tersebut menjadi kata kerja turunan dari kata

    balas, seperti kata membalas. Kata membalas tidak akan memungkinkan pelesapan

    subjek, dan menuntut kehadiran subjeknya.

    5) Gambaran semacam itu bahkan juga tercermin dalam judul buku karya wartawan The New York Times itu, yakni Membongkar Kegagalan CIA atau dalam bahasa aslinya Legacy of Ashes, the History of CIA.

    5.a

    Identitas satuan lingual

    Gambaran semacam itu

    Bahkan juga tercermin

    Dalam judul buku karya wartawan The New York Times itu

    Yakni Membongkar kegagalan CIA atau dalam bahasa aslinya Legacy of Ashes, The History of CIA

    Fungsi S P1 Pelengkap Kopula P2

  • 47

    Satuan lingual pengisi fungsi predikat kal