Proposal Bayu

of 49 /49
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pulau Bali kaya akan keragaman budaya dengan kentalnya nilai adat dan dijiwai oleh agama Hindu sebagai dasar. Pulau Bali terkenal sampai ke luar negeri karena keunikannya dan keramah tamahan masyarakat yang membuat nyaman. Hal ini menjadi nilai tambah untuk Pulau Bali dan kepariwisataannya. ”Pulau Bali merupakan pintu gerbang utama pariwisata Indonesia bisa dipastikan sangat merangsang perkembangan seni pertunjukannya” (Pendit, 2001 : 3) Gorda (1996:64) menyatakan: Seni pertunjukan itu banyak meliputi: (1) Seni arca adalah seni tentang arca dilihat dari segi tekniknya (gaya cara dan ketentuan pembuatannya), (2) Seni drama adalah seni mengenai pelakonan di pentas, (3) Seni kriya adalah seni kerajinan tangan, (4) Seni lukis adalah seni mengenai gambar-menggambar dan lukis melukis, (5) Seni pahat adalah seni tentang pahat dan memahat dalam pembuatan patung, (6) Seni sastra adalah seni mengenai karang mengarang, (7) Seni suara adalah seni olah suara atau bunyi, (8) Seni tari adalah seni mengenai tari menari. 1

Transcript of Proposal Bayu

Page 1: Proposal Bayu

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pulau Bali kaya akan keragaman budaya dengan kentalnya nilai adat dan

dijiwai oleh agama Hindu sebagai dasar. Pulau Bali terkenal sampai ke luar negeri

karena keunikannya dan keramah tamahan masyarakat yang membuat nyaman.

Hal ini menjadi nilai tambah untuk Pulau Bali dan kepariwisataannya. ”Pulau Bali

merupakan pintu gerbang utama pariwisata Indonesia bisa dipastikan sangat

merangsang perkembangan seni pertunjukannya” (Pendit, 2001 : 3)

Gorda (1996:64) menyatakan: Seni pertunjukan itu banyak meliputi:

(1) Seni arca adalah seni tentang arca dilihat dari segi tekniknya (gaya cara dan ketentuan pembuatannya), (2) Seni drama adalah seni mengenai pelakonan di pentas, (3) Seni kriya adalah seni kerajinan tangan, (4) Seni lukis adalah seni mengenai gambar-menggambar dan lukis melukis, (5) Seni pahat adalah seni tentang pahat dan memahat dalam pembuatan patung, (6) Seni sastra adalah seni mengenai karang mengarang, (7) Seni suara adalah seni olah suara atau bunyi, (8) Seni tari adalah seni mengenai tari menari.

Dari uraian di atas terlihat Bali dengan berbagai aspek seni dan

kebudayaannya seperti seni tari, seni pahat, seni ukir, seni tabuh, dan seni suara

tidak kalah menariknya untuk menikmati seni sastranya. Dalam naskah seni sastra

ini terkandung tentang nilai-nilai kemanusiaan, problematika kehidupan manusia,

dan sarat dengan nilai pendidikan agama.

Seni sastra pada saat ini tumbuh subur di dalam masyarakat yang religius

dan tetap dipelihara dari dulu sampai sekarang. Tim Penyusun Sejarah Bali

(1986 : 140-147) menyebutkan bahwa setelah runtuhnya kerajaan Majapahit pada

abad ke 15, perkembangan seni sastra di Bali merupakan kelanjutan tradisi Jawa

1

Page 2: Proposal Bayu

Kuno yang berkembang cukup pesat. Hal ini dilihat dari banyaknya kemunculan

hasil karya sastra pada masa jayanya Kerajaan Gelgel di Klungkung abad ke 15.

Esten (1987:8) menyatakan “melalui cipta sastra, pengarang mampu

memperlihatkan nilai yang lebih tinggi, dan menafsirkan makna hidup, serta

hakikat hidup.” Naskah merupakan salah satu unsur budaya yang sangat erat

kaitannya dengan kehidupan sosial budaya masyarakat di tempat naskah tersebut

lahir dan berkembang. Naskah-naskah sastra di Bali memiliki fungsi kultural

dalam masyarakat.

Di dalam naskah terdapat ide-ide, ajaran moral, agama, filsafat,

pengetahuan tentang alam semesta menurut persepsi budaya masyarakat

bersangkutan. Untuk memahami nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra,

maka upaya pemahaman unsur-unsur dalam karya sastra tidak dapat dilepaskan

dari masalah membacanya. Oleh karena itu sebelum melaksanakan kegiatan

dalam rangka memahami isi amanat yang terkandung dalam isi karya sastra,

masalah membaca sedikit banyak harus dipahami oleh calon penilai. Memahami

dan menilai karya sastra merupakan salah satu usaha kearah pengembangan dan

kegunaan sastra itu sendiri bukan hanya dari aspek bentuk dan aspek teknik akan

tetapi lebih menonjolkan aspek isi, yaitu nilai atau ide yang terkandung dalam seni

khususnya seni sastra. Y. Sumandiyo Hadi (2006:263) menyatakan bahwa:

Seni menunjuk pada keteraturan susunan bagian dari bentuk seni atau aspek bentuk keselarasan unsure ataupun pola yang mempersatukan bagian-bagiannya atau “aspek teknik”. Tetapi di samping itu yang lebih penting adalah sesuatu yang bersangkutan dengan “aspek isi” atau makna maupun pesan-pesan yang dikandungnya.

2

Page 3: Proposal Bayu

Karya sastra tidak hanya menekankan pada keteraturan bentuk, teknik

bagiannya akan tetapi lebih dutekankan pada aspek isi atau nilai yang terkandung

di dalamnya. Sebagaimana dikatakan Horace (dalam Pradopo, 1997 : 2-3) bahwa :

fungsi Seni Sastra adalah Pulce et Uttle (menyenangkan dan berguna), ini berarti karya sastra Bali diharapkan dapat memberikan tuntunan-tuntunan hidup. Karena sifat berguna dan menyenangkan itulah sebuah karya sastra harus dianalisis untuk mengetahui isi kandungannya itu. Hakikat fungsi dari seni sastra tersebut dapat dilihat pada salah satu sastra tradisional yaitu gaguritan.

Selanjutnya pandangan senada mengenai karya sastra utamanya gaguritan

diungkapkan oleh Agastya (1980 : 25), yang menyatakan bahwa : ”Karya sastra

gaguritan mempunyai peranan penting dalam usaha pembinaan mental dan

spiritual masyarakat Bali dalam rangka mengembangkan kesenian khususnya dan

kebudayaan Bali pada umumnya”.

Dengan demikian karya sastra seperti gaguritan selain sebagai kesatuan

aspek seni sekaligus memberikan tuntunan hidup. Gaguritan juga memiliki peran

penting dalam usaha pembinaan mental dan spiritual manusia. Untuk itu,

masyarakat diharapkan tetap mengembangkan kesenian sastra ini khususnya dan

budaya Bali pada umumnya.

Sebagai kesatuan seni gaguritan memiliki keteraturan susunan bagian atau

bentuk puisi yang khas. Hal ini dikemukakan oleh Granoko (1982 : 12) bahwa :

“Gaguritan dikemas dalam pada lingsa pupuh, yaitu banyaknya baris dalam tiap-

tiap bait”. Teori puisi modern bukanlah teori yang satu-satunya disajikan

menganalisis dari aspek bentuk dalam gaguritan karena pengkajian terhadap

karya sastra tardisional khususnya gaguritan tidak hanya terletak pada pandangan

yang membatasi analisis bunyi pada bunyi kata. Unsur-unsur lain yang

3

Page 4: Proposal Bayu

memaparkan bunyi kata, sebagai suatu sistem pada lingsa, yang membedakan

identitas bentuk yang lain sangat penting diungkap.

Dinas Pendidikan Pusat Dati I Bali (1991 : 254) menyatakan bahwa

gaguritan juga disebut dengan pupuh. Dalam satu bait diikat oleh bunyi akhir

masing-masing baris atau disebut padalingsa.

Dengan demikian, dalam melagukan suatu gaguritan tersebut akan

menghasilkan irama indah yang menghibur dan menyenangkan hati sekaligus

menanamkan petuah serta nilai-nilai agama dan nilai budaya yang luhur yang

terkandung dalam gaguritan.

Sehubungan dengan pernyataan di atas yaitu adanya suatu petuah-petuah

dan nilai-nilai budaya Bali khususnya dan nilai Agama Hindu pada umumnya.

Dalam penelitian ini dipakai kajian adalah Gaguritan Widura Niti Wakya.

Gaguritan Widura Niti Wakya adalah karangan yang diangkat dari karya sastra

atau epos besar Agama Hindu yaitu Mahabharata atu Bharatayudha.

Nilai yang terdapat dalam Gaguritan Widura Niti Wakya cukup menarik

dan memberikan teladan pada masyarakat Bali, khususnya bagi yang beragama

Hindu. Keteladanan tersebut berupa berbagai aspek seperti : nilai tattwa, nilai

etika, nilai susila. Agastya (1980 : 2) menyatakan bahwa : ”secara umum karya

sastra tradisional (gaguritan) memiliki isi sebagai satu kesatuan sastra dengan

nilai-nilai spiritual, kemanusiaan, dan kebenaran yang universal dan hakiki”.

Semua ini memang tergambar dalam karya sastra Gaguritan Widura Niti Wakya.

Karya sastra tradisional masih banyak perlu digali isinya., dan masih

relevan diterapkan dalam kehidupan saat ini. Sebagai suatu upaya nyata dalam

pelestarian naskah karya sastra pada khususnya dan kebudayaan Bali pada

4

Page 5: Proposal Bayu

umumnya. Karena itulah karya sastra Gaguritan Widura Niti Wakya sebagai salah

satu jenis karya sastra tradisional yang berbentuk tembang, sampai sekarang

mendapatkan tempat di hati masyarakat dengan nilai-nilai yang bersifat universal

yang terkandung di dalamnya. Nilai pendidikan Agama Hindu dalam Gaguritan

Widura Niti Wakya menarik untuk dibaca sehingga aspek-aspek yang membangun

gaguritan ini dapat dipahami secara mendalam.

1.2 Identifikasi Masalah

Dari latar belakang yang telah dipaparkan di atas muncul beberapa

masalah yang akan diangkat dalam kajian terhadap Gaguritan Widura Niti Wakya.

Adapun permasalahan-permasalahan yang dapat diidentifikasi adalah sebagai

berikut :

1.2.1 Masyarakat ada yang belum mengetahui isi cerita Gaguritan

Widura Niti Wakya.

1.2.2 Sebagian masyarakat belum mengetahui pupuh yang ada dalam

Gaguritan Widura Niti Wakya.

1.2.3 Masyarakat belum keseluruhan mengetahui struktur yang

membangun kesatuan cerita dalam Gaguritan Widura Niti Wakya.

1.2.4 Sebagian masyarakat belum mengetahui nilai pendidikan yang

terkandung dalam Gaguritan Widura Niti Wakya.

1.3 Ruang Lingkup Penelitian

Mengingat keterbatasan kemampuan serta luasnya lingkup masalah

gaguritan, maka dalam hal ini penulis hanya membatasi kajian tentang struktur

5

Page 6: Proposal Bayu

forma dan nilai pendidikan Agama Hindu dalam Gaguritan Widura Niti Wakya

yang mencakup nilai pendidikan tattwa, susila, dan budhi pekerti.

1.4 Rumusan Masalah

Dalam menyusun karya ilmiah ada beberapa hal pokok yang perlu dikaji.

Bertitik tolak dari masalah pokok di atas, maka dirumuskan masalah sebagai

berikut :

1.4.1 Bagaimana struktur forma Gaguritan Widura Niti Wakya?

1.4.2 Apa saja nilai pendidikan Agama Hindu dalam Gaguritan Widura

Niti Wakya?

1.5 Tujuan Penelitian

Melaksanakan sesuatu hal pasti mempunyai suatu tujuan. Penetapan tujuan

merupakan hal mutlak sebab kegiatan apapun tanpa memiliki tujuan yang jelas

dikatakan sebagai sesuatu yang sia-sia. Tujuan yang ingin dicapai mengenai nilai

pendidikan Agama Hindu dalam Gaguritan Widura Niti Wakya adalah tidak jauh

dari masalah yang berkembang di atas berdasarkian teori yang ada. Tujuan yang

dicapai hendaknya dirumuskan dengan jelas, karena tujuan yang jelas dan

langkah-langkah yang tepat, peneliti dapat meyelesaikan penelitiannya dengan

baik. Adapun tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah :

1.5.1 Untuk mengetahui struktur forma Gaguritan Widura Niti Wakya.

1.5.2 Untuk mengetahui nilai pendidikan Agama Hindu dalam

Gaguritan Widura Niti Wakya.

6

Page 7: Proposal Bayu

1.6 Manfaat Penelitian

1.6.1 Manfaat Teoretis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai sumber informasi

dalam pengembangan ilmu pengetahuan khususnya dalam hal gaguritan,

meningkatkan wawasan civitas akademika dan penelitian ini diharapkan

dapat menambah khasanah pengetahuan masyarakat, khususnya tentang

Gaguritan Widura Niti Wakya.

1.6.2 Manfaat Praktis

Penelitian ini secara praktis diharapkan dapat digunakan sebagai pedoman

atau petunjuk pelaksanaan tentang nilai pendidikan Agama Hindu yang

tersirat dalam Gaguritan Widura Niti Wakya guna meningkatkan kualitas

kehidupan masyarakat guna mencapai Moksartham Jagadhita.

7

Page 8: Proposal Bayu

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Struktur Forma Gaguritan

Struktur adalah susunan yang memperlihatkan tata hubungan antara unsur

pembentuk karya sastra atau rangkaian unsur yang tersusun secara terpadu

(Zaidan, 2007: 194). Selanjutnya Wisnu (2001 : 33) menyatakan bahwa : “struktur

forma adalah salah satu bagian dari keseluruhan struktur karya sastra yang

mengulas tentang bentuk atau kemasan dalam menampilkan karya sastra itu

sendiri, dan memiliki hubungan yang signifikan dengan isi yang dikandungnya.”

Selanjutnya Teeuw (1984:154) menjelaskan bahwa:

Struktur adalah suatu tahapan dalam penelitian yang sulit dihindari. Sebab teori struktur bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secara cermat, seteliti, semendetail, semendalam mungkin yang berkaitan semua ansir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan karya yang menyeluruh.

Dari pengertian di atas maka struktur forma Gaguritan Widura Niti Wakya

adalah rangkaian unsur yang terpadu dari struktur karya sastra untuk memaparkan

secara cermat aspek karya sastra dalam bentuk puisi berupa tembang yang terikat

oleh pada lingsa. Struktur forma terdiri atas: sinopsis, tema, latar, tokoh, alur,

bahasa, dan tembang.

2.1.1 Sinopsis

Sinopsis menurut kamus Bahasa Indonesia yaitu “kata benda abstraksi,

ringkasan sebuah tulisan atau karangan yang diterbitkan bersama-sama dengan

keterangan asli, ringkasan cerita yang ditampilkan di depan cerita yang utuh”

8

Page 9: Proposal Bayu

(Tim Prima Pena, tt : 598). Selanjutnya menurut Hardaniwati (2003 : 634) :

”sinopsis adalah ikhtisar karangan, biasanya diterbitkan bersama karangan

aslinya”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia menambahkan bahwa sinopsis

berarti “ikhtisar karya ilmiah yang biasanya diterbitkan bersama-sama dengan

karangan asli yang menjadi dasar sinopsis itu; ringkasan abstraksi” (Tim

Penyusun, 1996: 946). Dengan adanya sinopsis, pembaca dapat mengetahui isi

pokok sebuah cerita atau karangan tanpa harus membaca cerita atau karangan

tersebut secara menyeluruh.

Dapat dijelaskan bahwa sinopsis yaitu ringkasan cerita, yang

menggambarkan secara umum cerita yang sebenarnya dalam karya sastra.

Sinopsis juga sebagai bahan acuan awal dalam menjelaskan keterkaitan cerita dari

awal sampai akhir. Sinopsis memberi gambaran secara umum yang jelas terhadap

satu jalan cerita dan mempermudah pembaca memahami apa yang disajikan

dalam penulisan selanjutnya.

2.1.2 Tema

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dikemukakan bahwa tema berarti

”pokok pikiran ; dasar cerita (yang dipercakapkan dipakai sebagai dasar

mengarang, mengubah sajak, dsb.)” (Departemen Pendidikan Nasional, 2005 :

104). Lebih lanjut Sukada (1987 : 70) berpendapat bahwa : ”tema tidak lain dari

ide pokok, ide sentral atau ide yang dominan dalam karya sastra.”. Sedangkan

Sudjiman (1988 : 50) menyatakan bahwa : ”gagasan, ide, atau pikiran utama yang

mendasar dalam suatu karya sastra disebut tema”.

9

Page 10: Proposal Bayu

Berdasrkan lutipan di atas dapat dijelaskan bahwa tema adalah gagasan

utama, atau ide pokok yang dijadikan dasar atau pedoman dalam membangun

sebuah karya sastra.

2.1.3 Latar

Idrus (tt : 404) menyatakan bahwa latar adalah keterangan mengenai ruang

dan waktu suasananya saat berlangsungnya peristiwa (dalam karya sastra).

Selanjutnya Nurgiantoro (2000 : 227) mengemukakan bahwa : ”unsur latar dapat

dibedakan ke dalam unsur pokok, yaitu tempat dan sosial. Semua unsur itu,

walaupun masing-masing menawarkan permasalahan yang berada dan dapat

dibicarakan secara tersendiri, pada kenyataan saling berkaitan dan saling

mempengaruhi satu dengan yang lainnya”.

Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa:

Latar berarti: (1) permukaan, (2) halaman, (3) rasa, datar, (4) dasar warna, (5) keterangan mengenai waktu, ruang, dan suasana terjadinya lakon dalam karya sastra, (6) keadaan atau situasi (yang menyertai ajaran dan percakapan), (7) dekor, pemandangan yang dipakai dalam pementasan drama seperti pengaturan tempat kejadian, perlengkapan, pencahayaan. (Alwi, 2007: 643). Dapat disimpulkan bahwa latar adalah keterangan mengenai ruang, waktu,

tempat dan situasi terjadinya peristiwa dalam sebuah karya sastra yang memiliki

suatu keterkaitan dengan gambaran umum dari cerita yang dimaksud.

2.1.4 Tokoh

Idrus (tt : 643), Tim Prima Pena (tt : 652) mengatakan bahwa tokoh adalah

wujud atau keberadaan, bentuk dan potongan, orang yang terkemuka dan

kenamaan, pemegang peran utama dalam cerita. Sedangkan menurut Sudjiman

10

Page 11: Proposal Bayu

(1986 : 16) menyatakan bahwa : ”tokoh adalah individu-individu rekaan yang

mengalami peristiwa atau perlakuan dalam cerita sedangkan watak digunakan

dalam arti tabiat, sifat dan kepribadian”.

Dapat dijelaskan bahwa tokoh adalah wujud pelakon dalam cerita dengan

bentuk individu-individu rekaan yang mengalami peristiwa atau perlakuan serta

memegang peranan dalam cerita, yang memiliki watak tertentu sebagai

penggambaran sifat masing-masing tokoh dalam cerita. Biasanya dalam cerita,

penokohan terdiri dari peran utama, peran sampingan atau peran pembantu.

2.1.5 Alur

Dalam Bahasa Inggris kata alur disebut plot, dan dalam bahasa Prancis

disebut intrique yang artinya jalinan peristiwa dalam karya sastra untuk mencapai

efek tertentu (Hasanuddin, 2007: 43). Sedangkan menurut Beneton (dalam

Sudjiman, 1988 : 29) menyatakan bahwa : ”alur adalah rangkaian cerita yang

dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin sutau cerita yang

dihadirkan para pelaku dalam cerita”. Selanjutnya Retnoningsih (1985 : 12)

mengatakan bahwa alur adalah ”suatu rentetan kejadian antara satu dengan yang

lainnya, sehingga menimbulkan terjadinya sebab dan akibat”.

Berdasarkan pengertian tersebut di atas dapat dijelaskan bahwa alur adalah

rangkaian kejadian atau jalinan peristiwa yang dihadirkan oleh para pelaku yang

menimbulkan suatu efek atau akibat dari suatu sebab yang dirangkaikan dalam

jalan cerita.

11

Page 12: Proposal Bayu

2.1.6 Bahasa

Menurut Idrus (tt : 60) bahasa adalah “sistem lambang bunyi yang arbiter,

yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerjasama,

berinteraksi dan mengidentifikasikan diri, percakapan (perkataan) yang baik,

tingkah laku yang baik, sopan santun”. Senada dengan itu Departemen Pendidikan

Nasional (2005 : 30) menyatakan bahwa bahasa adalah sistem lambang bunyi

yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerjasama, berinteraksi

dan mengidentifikasi dirinya. Selanjutnya Hardaniwati (2003 : 39) menyatakan

bahwa : ”bahasa adalah alat berhubungan manusia yang dihasilkan alat ucap

manusia dan setiap karya sastra yang isi ceritanya merupakan maksud yang

disampaikan pengarang melalui cerita dengan bahasa tulisan”.

Dapat dijelaskan bahwa bahasa adalah sistem lambang bunyi yang dipakai

sebagai alat berhubungan anggota masyarakat untuk bekerjasama, berinteraksi dan

mengidentifikasikan diri. Dalam karya sastra bahasa merupakan unsur yang

dipakai untuk menyampaikan maksud pengarang yaitu dengan bahasa tulisan.

2.1.7 Tembang

Tembang dapat diartikan sebagai lantunan lagu. Isi sebuah karya sastra

Gaguritan dalam penyampaiannya umumnya diucapkan dengan dinyanyikan atau

ditembangkan. Menurut Hardaniwati (2003 : 691) menyatakan bahwa : “tembang

adalah syair-syair yang berirama atau lagu untuk dinyanyikan”. Selanjutnya

Budiyasa (1997 : 1) menerangkan bahwa : ”Tembang merupakan bagian seni yang

dituangkan dalam alunan suara, irama, dan ritme.”

12

Page 13: Proposal Bayu

Jadi dapat dijelaskan bahwa tembang adalah penyampaian isi dari sebuah

karya sastra dalam bentuk alunan suara, syair-syair yang berirama atau lagu untuk

dinyanyikan dengan ritme tertentu.

2.2 Pengertian Nilai

Nilai memiliki arti yang beragam tergantung dari aspek yang dibicarakan.

Horton (dalam Narwoko, 2006 : 55) mengemukakan bahwa :

Nilai adalah gagasan mengenai apakah suatu pengalaman itu berarti atau tidak berarti. Nilai pada hakekatnya mengarahkan perilaku dan pertimbangan seseorang, tetapi ia dapat menghakimi apakah sebuah perilaku tertentu itu salah atau benar. Nilai yang dianggap sah – artinya secara moral dapat diterima – kalau harmonis dengan nilai-nilai yang disepakati dan dijunjung oleh masyarakat dimana tindakan itu dilakukan.

Selanjutnya Koentjaraningrat (1977 : 677) menyatakan bahwa : ”nilai

adalah suatu hal yang berisikan, yang mengkonsepsikan hal-hal penting, berguna

dalam kehidupan masyrakat”. Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia

(2001 : 783) menyatakan bahwa kata nilai mengandung arti : “ (1) sifat-sifat (hal-

hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan; (2) sesuatu yang

menyempurnakan manusia sesuai dengan hakikatnya”

Dari beberapa pendapat di atas, dapat dijelaskan bahwa nilai adalah suatu

gagasan yang mengkonsepsikan hal-hal yang penting atau berguna dalam bentuk

prilaku pada kehidupan masyarakat.

2.3 Pendidikan Agama Hindu

Pendidikan dapat diartikan sebagai usaha untuk membentuk sikap mental,

membina pribadi dan akhlak anak didik. Mahfud (2006 : 32) menyatakan bahwa :

“secara sederhana dan umum, pendidikan bermakna sebagai usaha untuk

13

Page 14: Proposal Bayu

menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi bawaan baik jasmani

maupun rohani, sesuai dengan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat dan

kebudayaannya”. Selanjutnya John Dewey (dalam Ahmadi, 2001 : 69)

menyatakan bahwa pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan

fundamental secara intelektual dan emosional ke arah alam dan sesama manusia.

Syah (2005 : 10) berpendapat bahwa : ”pendidikan berasal dari kata

“didik”, lalu kata ini mendapat awalan me- sehingga menjadi mendidik artinya

memelihara dan memberi latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan,

diperlukan adanya ajaran, tuntunan, dan pimpinan mengenai akhlak dan

kecerdasan fikiran”.

Berdasarkan pendapat di atas dapat dijelaskan bahwa pendidikan adalah

usaha untuk mengembangkan dan menumbuhkan potensi-potensi yang ada di

dalam masyarakat dan kebudayaannya, dengan memelihara dan memberi latihan

melalui suatu ajaran, tuntunan, dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan

pikiran.

Pudja (1985 : 9) menyatakan bahwa pendidikan Agama Hindu adalah :

”suatu pendidikan untuk pembentukan watak, sikap dan pribadi seseorang untuk

meningkatkan ketaqwaan dan mendorong perkembangan ilmu”. Selanjutnya

dalam Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-aspek Agama Hindu

I-VI (2005 : 23 – 24) dinyatakan bahwa :

(1) Pengertian pendidikan Agama Hindu di dalam sekolah ialah suatu upaya dalam rangka membina pertumbuhan jiwa raga anak didik, sesuai dengan ajaran agama Hindu, (2) Pengertian pendidikan Agama Hindu di luar sekolah adalah merupakan suatu upaya untuk membina pertumbuhan jiwa masyarakat dengan agama Hindu itu sendiri sebagai pokok materinya.

14

Page 15: Proposal Bayu

Dari rujukan di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan Agama Hindu

ialah usaha untuk mengembangkan watak, sikap dan pribadi anak maupun jiwa

masyarakat untuk meningkatkan ketaqwaan dan mengembangkan ilmu berdasrkan

ajaran Agama Hindu.

2.4 Pengertian Nilai Pendidikan Agama Hindu

Nilai pendidikan Agama Hindu semestinya dapat diamalkan umatnya

dengan sebaik-baiknya. Zutan (1994 : 2) menyatakan bahwa : ”pendidikan dalam

karya sastra tidak hanya berarti penyampaian pengetahuan, akan tetapi

merekomendasikan apa yang baik, nilai-nilai dimana pengetahuan itu diperiksa

dan diarahkan pemanfaatannya dalam kehidupan”.

Selanjutnya Gorda (1996 : 36) mengemukakan bahwa :

Nilai Agama Hindu dikenal, dipahami dan dihayati masyarakat Hindu di Bali, sejak mereka masih kanak-kanak melalui dua cara : pertama ; melalui penuturan (lisan) dengan mengambil bentuk cerita, terutama cerita-cerita yang berasal dari bentuk Ramayana dan Mahabrata. Dalam pandangan umat Hindu cerita-cerita keagamaan dalam kedua sumber tersebut disajikan dan diperkenalkan melalui berbagai pertunjukan tradisional melalui berbagai pertunjukan tradisional melalui berbagai media pertunjukan, seperti wayan kulit, arja, topeng dan drama gong. Yang kedua ; pengenalan dan penghayatan nilai-nilai Agama Hindu melalui kegiatan lahir yang mencakup beragam upacara keagamaan.

Sedangkan BMPS (2007:1) menyatakan bahwa nilai yang terkandung

dalam Pendidikan Agama Hindu dimaksudkan untuk menumbuh kembangkan dan

meningkatkan kualitas Sradha dan Bhakti melalui pemberian, pemupukan,

penghayatan dan pengamalan ajaran agama.

Dari beberapa pendapat di atas, dapat dijelaskan bahwa nilai pendidikan

Agama Hindu adalah suatu nilai yang direkomendasikan melalui perbuatan yang

sesuai ajaran Agama Hindu dengan maksud untuk menumbuh kembangkan dan

15

Page 16: Proposal Bayu

meningkatkan kualitas Sradha dan Bhakti melalui pemberian, pemupukan,

penghayatan dan pengamalan ajaran agama.

2.5 Tujuan Pendidikan Agama Hindu

Tujuan pendidikan Agama Hindu selaras dengan tujuan Agama Hindu.

Sudibya (1994 : 85) menyatakan bahwa : ”tujuan dari Pendidikan Agama Hindu

adalah kesejahteraan rohani, jasmani di dunia dan di akhirat”. Sependapat dengan

hal tersebut, di dalam buku Upanisad dinyatakan bahwa: “tujuan pendidikan

Agama Hindu atau tujuan Agama Hindu ialah untuk mencapai kedamaian rohani

(moksa) dan kesejahteraan hidup jasmani (jagadhita)” (Parisada Hindu Dharma,

2003 : 13).

Kemudian dalam buku Himpunan Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir

terhadap Aspek-aspek Agama Hindu I-XX dinyatakan bahwa tujuan pendidikan

Agama Hindu adalah membentuk manusia yang astiti bhakti kepada Ida Sang

Hyang Widhi Wasa dan membentuk moral, etika, spiritual anak didik sesuai

dengan ajaran Agama Hindu. (Parisadha Hindu Dharma Pusat, 2005 : 13-24)

Dari beberapa pandangan di atas, dapat dujelaskan bahwa tujuan

pendidikan Agama Hindu adalah membentuk manusia astiti bhakti, kepada Ida

Sang Hyang Widhi Wasa, dan membentuk moral, etika, spiritual anak didik sesuai

ajaran Agama Hindu, guna mencapai kesejahteraan hidup jasmani dan kedamaian

rohani (Moksartham Jagadhita).

16

Page 17: Proposal Bayu

2.6 Gaguritan Widura Niti Wakya

2.6.1 Pengertian Gaguritan

Agastya (1980 : 17) menyatakan bahwa : “gaguritan adalah suatu karya

tradisional atau klasik yang dibangun oleh beberapa pupuh dan tiap-tiap pupuh

diikat oleh padalingsa yaitu bunyi akhir masing-masing baris”.

Senada dengan hal tersebut Dinas Pendidikan Dati I Bali (1991 : 254)

mendifinisikan arti dari Gaguritan yakni.

Secara etimologi Gaguritan berasal dari kata ”gurit” yang mengandung arti karang atau sadur. Kemudian kata ”gurit” mendapatkan akhiran –an sehingga menjadi guritan yang berarti gubahan, saduran atau karangan cerita dalam bentuk tembang. Kata guritan mengalami pengulangan dwi purwa sehingga menjadi kata Gaguritan yang berarti sebuah karangan cerita dalam bentuk tembang. Gaguritan juga disebut dengan pupuh. Dalam satu bait diikat oleh masing-masing Pupuh diikat oleh bunyi akhir masing-masing baris atau disebut padalingsa.

Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001 : 118) menyatakan

bahwa gaguritan berasal dari kata gurit, dimana gurit berarti sajak atau syair.

Sedangkan dalam Kamus Indonesia-Bali dinyatakan bahwa Gaguritan berasal

dari kata gurit, artinya goresan, dituliskan (Tim Penyusun Kamus, 1996: 118).

Berdasarkan pendapat di atas, dapat dijelaskan bahwa Gaguritan adalah

sebuah karya tulis berbentuk cerita yang dikemas dalam bentuk tembang atau

pupuh dan terikat oleh padalingsa atau bunyi akhir masing-masing baris.

2.6.2 Tembang Dalam Gaguritan

Tembang dalam gaguritan berbentuk pupuh atau sekar alit. Budiyasa

(1997 : 5) menyatakan bahwa : “gaguritan menggunakan tembang macepat atau

sekar alit. Istilah tembang macepat diambil dari Bahasa Jawa yang berarti suatu

sistem untuk membaca syair tembang atas empat-empat suku kata”.

17

Page 18: Proposal Bayu

Lebih lanjut Budiyasa menjabarkan skema atau ortenan pupuh adalah

sebagai berikut:

No

Nama Pupuh Banyak

baris

PadalingsaBaris ke

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 121 Pucung 6 4u 8u 6a 8i 4u 8a - - - - - -2 Mijil 7 4u 6i 6o 10e 10i 6i 6u - - - - -3 Maskumambang 4 12i 6a 8i 8a - - - - - - - -4 Pangkur 7 8a 11i 8u 7a 12u 8a 8i - - - - -

5 Ginada 7 8a 8i 8a 8u 8a 4i 8a - - - - -6 Ginanti 6 8u 8i 8a 8i 8a 8i - - - - - -

7 Sinom 10 8a 8i 8i 8i 8u 8a 8i 4u 8a - - -8 Dangdang 12 10i 4a 6a 8e 8u 8i 8a 8u 8a 4a 8i 8a9 Semarandana 7 8i 8a 8e 8a 8a 8u 8a - - - - -10 Durma 7 12a 7i 6a 7a 8i 5a 7i - - - - -

(Budiyasa, 1997:5)

Selanjutnya dalam buku Dharma Gita dipaparkan sifat, watak, dan fungsi

pupuh (macepat) sebagai berikut:

(1)Pupuh Mijil, wataknya melahirkan perasaan. Sepatutnya untuk menguraikan nasehat, tetapi dapat juga digubah untuk orang yang mabuk asmara. (2) Pupuh Pucung, wataknya kendor, tanpa perasaan yang memuncak. Sepatutnya untuk cerita yang seenaknya tanpa kesungguhan. (3) Pupuh Maskumambang, wataknya nelangsa, sedih/ merana. Sepatutnya untuk melahirkan perasaan sedih, hati yang merana atau menangis. (4) Pupuh Ginada, melukiskan kesedihan, merana atau kecewa. (5) Pupuh Kinanti (Ginanti) senang, kasih cinta. Sepatutnya untuk menguraikan ajaran, filsafat, cerita yang bersuara asmara, keadaan mabuk cinta. (6) Pupuh Semarandana (Asmarandana) wataknya memikat hati, sedih, kesedihan karena asmara. Sepatutnya untuk menceritakan cerita asmara. (7) Pupuh Sinom, wataknya ramah tamah, meresap sedap. Patutnya untuk menyampaikan amanat, nasehat, atau bercakap-cakap secara bersahabat. (8) Pupuh Durma, wataknya keras, bengis, marah, atau untuk cerita perang, saling menantang, dan sebagainya. (9) Pupuh Pangkur, wataknya perasaan hati memuncak. Sepatutnya untuk cerita yang mengandung maksud kesungguhan. Jika nasehat yang bersungguh-sungguh, jika mabuk asmara yang sampai puncaknya. (10) Pupuh Dangdang gula, wataknya halus, lemas, umumnya melahirkan suatu ajaran, berkasih kasihan, juga untuk penutup suatu karangan Warjana (1996:31).

Gaguritan Widura Niti Wakya terdiri atas 106 (seratus enam) pada (bait)

dan terdiri atas 8 (delapan) pupuh yakni: Pupuh Sinom dua kali (2x) yang terdiri

18

Page 19: Proposal Bayu

dari 26 (dua puluh enam) pada, Pupuh Durma satu kali (1x) yang terdiri dari 18

(delapan belas) pada, Pupuh Ginada satu kali (1x) terdiri dari 20 (dua puluh)

pada, Pupuh Mijil satu kali (1x) terdiri dari 7 (tujuh) pada, Pupuh Semarandana

satu kali (1x) terdiri dari 10 (sepuluh) pada, Pupuh Dangdang Gula satu kali (1x)

terdiri dari 10 (sepuluh) pada, Pupuh Ginanti satu kali (1x) terdiri dari 12 (dua

belas) pada, Pupuh Pangkur satu kali (1x) terdiri dari 3 (tiga) pada. Tiap-tiap

pupuh menunjukkan episode tertentu menceritakan peristiwa yang membangun

keutuhan gaguritan secara keseluruhan.

2.6.3 Bahasa Gaguritan

Penggunaan bahasa dalam karya sastra sangat penting sebagai

penyampaian ide yang dimaksudkan oleh pengarang. Medera (1989: 23)

menyatakan bahwa: “bahasa yang sering digunakan dalam karya sastra Hindu

pada umumnya Bahasa Jawa Kuno (Bahasa Kawi), tetapi kadang-kadang yang

dipakai bahasa campuran yaitu Bahasa Jawa Kuno dengan Bahasa Bali”.

Selanjutnya Jenek (1996: 42) menyatakan bahwa: “ada gaguritan yang memakai

bahasa Melayu (bahasa Indonesia) seperti gaguritan Pan Balang Tamak, dan

gaguritan I Nengah Jimbaran. Bahasa Jawa Kuno (Kawi) seperti gaguritan Bima

Swarga. Bahasa campuran yakni bahasa Bali-Kawi, yaitu gaguritan Salya”.

Berdasarkan pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa bahasa yang

digunakan dalam gaguritan umumnya menggunakan bahasa Jawa Kuno dan

campuran Bahasa Jawa Kuno dengan bahasa Bali. Dalam hal ini bahasa yang

digunakan dalam gaguritan Widura Niti Wakya adalah bahasa campuran antara

bahasa Bali dengan bahasa Jawa Kuno (Kawi).

19

Page 20: Proposal Bayu

2.6.4 Gaguritan Widura Niti Wakya

Widura Niti Wakya berasal dari kata Widura, niti dan wakya. Widura

adalah saudara tiri dari Dhrtarastra dan Pandu atau paman dari Korawa dan

Pandawa.

Dalam Kamus Bahasa Bali, niti berarti ilmu kenegaraan (Gautama dan

Sariani, 2009: 429). Sedangkan Zoetmulder (1995: 707) menyatakan bawa niti

berarti “cara bekerja/ menjalankan yang betul/ baik/ benar, tabiat/ sikap/ tingkah

laku yang baik/ benar atau bijaksana, ilmu tata negara atau politik, kebijaksanaan

politik, kebijaksanaan duniawi, taktik/ siasat atau rencana yang ditimbang-

timbang dengan baik, garis perbuatan, rencana”.

Dalam Kamus Jawa Kuna Indonesia dinyatakan bahwa wakya berarti cara

berbicara, kata-kata, pengajaran (Zoetmulder, 1995: 1371).

Dapat disimpulakan bahwa Widura Niti Wakya adalah kata-kata atau

pengajaran tentang ilmu kenegaraan, ilmu tata negara atau politik, kebijaksanaan

politik, taktik, siasat atau rencana yang diajarkan oleh Widura.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa Gaguritan Widura Niti

Wakya adalah sebuah karya tulis berbentuk cerita yang dikemas dalam bentuk

tembang atau pupuh yang menceritakan tentang wejangan atau pengajaran tentang

ilmu kenegaraan, ilmu tata negara atau politik, kebijaksanaan politik, taktik, siasat

atau rencana yang diajarkan oleh Widura kepada Dhrtarastra sebelum terjadinya

perang Mahabaratha.

20

Page 21: Proposal Bayu

BAB III

METODE PENELITIAN

Dalam penulisan karya ilmiah, penggunaan metode sangat penting agar

hasil penelitian mengandung nilai ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dengan metode yang tepat, peneliti memperoleh data yang dapat digunakan

menjawab masalah dalam penelitian. Dengan kata lain, keberhasilan suatu

penelitian sangat tergantung pada penggunaan metode.

3.1 Pengertian Metode Penelitian

Usman dan Akbar (2004 : 42) menyatakan bahwa : “metode ialah suatu

prosedur atau cara untuk mengetahui sesuatu yang mempunyai langkah

sistematis”. Kemudian Mardalis (2006: 24) menyatakan bahwa: “metode adalah

sebagai suatu cara atau teknis yang dilakukan dalam proses penelitian.”

Sedangkan Nurbuko dan Achmadi (2001: 1) menyatakan bahwa: “metode artinya

cara yang tepat untuk melakukan sesuatu.”

Dapat dijelaskan yang dimaksud metode adalah suatu cara atau teknis

dengan langkah-langkah sistematis untuk melakukan sesuatu utamanya dalam

suatu penelitian.

Selanjutnya Bungin (2007 : 75) menyatakan bahwa : “penelitian

merupakan suatu kegiatan (ilmiah) yang ditempuh melalui serangkaian proses

panjang.” Kemudian Azwar (1999 : 1) menyatakan bahwa : “penelitian (research)

merupakan rangkaian kegiatan ilmiah dalam rangka pemecahan suatu

permasalahan”. Nurbuko dan Achmadi (2001 : 1) memberikan pengertian tentang

21

Page 22: Proposal Bayu

penelitian bahwa : “penelitian adalah suatu kegiatan untuk mencari, mencatat,

merumuskan dan menganalisis sampai penyusunan laporan”.

Dari pengertian di atas dapat dijelaskan bahwa penelitian adalah suatu

kegiatan ilmiah untuk mencari, mencatat, merumuskan dan menganalisis yang

dilakukan dengan suatu metode tertentu untuk memecahkan suatu permasalahan.

Selanjutnya dapat disimpulkan bahwa metode penelitian adalah suatu cara

atau jalan dengan langkah-langkah sistematis untuk memecahkan suatu

permasalahan secara ilmiah.

3.2 Metode Pendekatan Penelitian

Menurut Arikunto (2006: 25) bahwa : “yang dimaksud dengan pendekatan

adalah metode atau cara mengadakan penelitian seperti halnya eksperimen atau

non eksperimen.”. Ini berarti, menurut Arikunto pendekatan penelitian dapat

dibagi dua yaitu pendekatan eksperimen dan non eksperimen. Selanjutnya

Sugiyono (2007 : 11) menyatakan metode pendekatan dapat dibagi tiga yaitu

metode eksperimen, survey dan naturalistik / kualitatif yang ditekankan sebagai

berikut :

Metode penelitian eksperimen merupakan metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh treatment (perlakuan) tertentu. Misalnya : pengaruh ruang kelas ber AC terhadap efektifitas terhadap pembelajaran. Metode Survey digunakan untuk mendapatkan data dari tempat tertentu yang alamiah (bukan buatan), tetapi peneliti melakukan perlakuan dalam pengumpulan data, misalnya dengan mengedarkan kuesioner, tes, wawancara tersetruktur dan sebagainya (perlakuan tidak seperti dalam eksperimen). Metode penelitian naturalistik / kualitatif, digunakan untuk meneliti pada tempat yang bukan alamiah, dan penelitian tidak membuat perlakuan karena peneliti dalam mengumpulkan data bersifat emic, yaitu berdasarkan pandangan dari sumber data, bukan pandangan peneliti.

22

Page 23: Proposal Bayu

Dari pandangan di atas dapat dijelaskan bahwa penelitian dapat dibagi

menjadi dua yaitu pendekatan eksperimen dan non eksperimen. Pendekatan

eksperimen adalah suatu cara untuk mencari hubungan sebab akibat antara dua

faktor yang sengaja ditimbulkan oleh peneliti yaitu dengan melakukan perlakuan.

Metode pendekatan non eksperimen yaitu metode pendekatan dengan tanpa

melakukan perlakuan karena hal yang diteliti sudah ada. Metode pendekatan non

eksperimen dibagi menjadi dua yaitu metode pendekatan survey dan naturalistik.

Sehubungan dengan uraian di atas, maka pendekatan penelitian yang

digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan non eksperimen. Adapun

metode pendekatan non eksperimen yang digunakan yakni metode naturalistik /

kualitiatif, karena peneliti memperoleh hasil penelitian berdasarkan pandangan

dari sumber data, bukan pandangan peneliti. Adapun yang dijadikan kajian

penelitian yaitu nilai-nilai pendidikan Agama Hindu yang terkandung dalam

Gaguritan Widura Niti Wakya.

3.3 Penentuan Subjek Penelitian

Dalam penelitian, metode penentuan subjek penelitian harus dilakukan

untuk menentukan siapa yang akan menjadi subjek penelitian sebagai sumber

data. Azwar (1997: 34) menyatakan bahwa: “subjek penelitian adalah sumber

utama data penelitian yaitu yang memiliki data mengenai variabel yang diteliti”.

Sedangkan Dwija (2006: 14) menyatakan bahwa: “subjek penelitian adalah setiap

individu yang mendukung gejala penelitian, ke dalam pengertian individu

termasuk : manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda anorganis”.

23

Page 24: Proposal Bayu

Jadi dapat dijelaskan bahwa subjek penelitian adalah setiap individu yang

mendukung gejala penelitian, dalam pengertian individu termasuk: manusia,

hewan, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda anorganis yang memiliki data

mengenai variabel yang diteliti.

Untuk menentukan jumlah yang akan dijadikan subjek penelitian, ada

empat metode penentuan subjek yaitu: (a)Metode Longitudinal (Longitudinal

Method) adalah suatu cara pengambilan subjek yang subjeknya hanya berjumlah

satu individu, (b)Metode Krosseksional (Crossectional Method) adalah suatu cara

pengambilan subjek penelitian yang terdiri dari beberapa individu yang jumlahnya

terbatas, misalnya dua, tiga, empat dan paling banyak lima, (c)Study Populasi

adalah penelitian yang melibatkan individu secara keseluruhan, dan (d)Metode

Sampling (Sampling Method) adalah suatu cara penentu subjek penelitian terdiri

dari sebagian individu yang mewakili jumlah individu yang lebih besar atau

sering disebut populasi (Sugiyono, 2006: 20-22).

Sehubungan dengan uraian di atas maka dalam penelitian ini, penentuan

subjek penelitian menggunakan Metode Sampling yaitu Non Probability Sampling

kategori Purposive Sampling. Non Probability Sampling adalah suatu teknik

pengambilan sample yang tidak menggunakan teori-teori probability, sedangkan

Purposive Sampling adalah suatu teknik pengambilan sample terhadap anggota

populasi yang bersifat khusus dan mempunyai kompetensi tertentu dengan

maksud agar informasi yang tergali sesuai dengan tujuan penelitian. Dalam

penelitian ini yang dimaksud adalah orang yang memiliki kompetensi di bidang

gaguritan yang termasuk di dalamnya adalah penulis dan pengarang daripada

Gaguritan Widura Niti Wakya.

24

Page 25: Proposal Bayu

3.4 Sumber dan Jenis Data

3.4.1 Pengertian Data

Dalam penelitian ilmiah data merupakan bahan mentah yang akan diolah

atau dianalisis. Tanpa diolah atau dianalisis data tidak mempunyai arti apa-apa.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dicantumkan bahwa : ”data - keterangan

yang benar dan nyata” (Tim Penyusun, 2001 : 239). Arikunto (2006 : 118)

menyatakan bahwa : “data adalah hasil pencatatan peneliti, baik yang berupa fakta

maupun angka”. Selanjutnya Kerlinger (2004 : 218) menyatakan bahwa : “data

adalah hasil-hasil penelitian yang darinya ditarik inferensi : biasanya hasil

numerikal seperti skor tes dan statistik-statistik”. Senada dengan itu Sudarmayanti

(2002 : 177) mendefinisikan bahwa : “data adalah kumpulan angka-angka yang

berhubungan dengan observasi”.

Dari beberapa rujukan di atas dapat disimpulkan bahwa data adalah bahan

mentah yang berupa keterangan nyata dalam bentuk fakta maupun angka yang

digunakan dalam sebuah observasi.

3.4.2 Sumber Data

Subagyo (1997 : 129) menyatakan bahwa: “sumber data dalam penelitian

dalam penelitian adalah subjek darimana data diperoleh”.

Selanjutnya Azwar (1999 : 91), menyatakan bahwa:

menurut sumbernya data penelitian dapat digolongkan sebagai data primer dan data sekunder. Data primer atau data tangan pertama adalah data yang diperoleh langsung dari subjek penelitian dengan mengenakan alat pengukuran atau alat pengambilan data langsung pada subyek sebagai sumber informasi yang dicari. Sedangkan data sekunder atau data tangan kedua adalah data yang diperoleh melalui pihak lain, tidak langsung diperoleh oleh peneliti dari subyek penelitiannya. Data sekunder biasanya berwujud data dokumentasi atau data laporan yang tersedia.

25

Page 26: Proposal Bayu

Sedangkan Hasan (2002: 167), menyatakan bahwa: “data primer adalah

data murni yang akan diolah yang diperoleh langsung dari informan”. Selanjutnya

Iqbal (2002: 16), menyatakan bahwa: “data sekunder adalah data yang diperoleh

atau dikumpulkan dari sumber-sumber yang ada, data ini biasanya diperoleh dari

perpustakaan atau dari penelitian-penelitian”.

Dari pendapat di atas, dapat dijelaskan bahwa sumber data adalah subjek

dari data yang dapat dibagi menjadi dua yaitu data primer dan data sekunder. Data

primer adalah data mentah atau data murni yang diperoleh secara langsung

contohnya melalui wawancara dan observasi, sedangkan data sekunder adalah

data yang diperoleh dari pihak lain atau sumber yang telah ada dapat berasal dari

dokumentasi atau kepustakaan.

Dalam penelitian ini, sumber data yang dipakai adalah data primer dan

data sekunder. Data primernya yaitu berupa data yang diperoleh dari teks

Gaguritan Widura Niti Wakya dan wawancara yang dilakukan. Sedangkan data

sekundernya adalah data yang diperoleh dari kepustakaan sekolah berupa teks

atau kepustakaan yang terkait dengan Gaguritan Widura Niti Wakya dan berbagai

pengertian mengenai kajian penelitian.

3.4.3 Jenis Data

Moleong (2006: 157) menyatakan bahwa jenis data dalam penelitian dapat

berupa kata-kata dan tindakan, sumber data tertulis, foto dan statistik. Selanjutnya

Subagyo (1997 : 97) menyatakan data menurut jenis atau wujudnya dapat

dibedakan menjadi dua yaitu data kualitatif dan data kuantitatif. Lebih lanjut

dijelaskan bahwa data kualitatif adalah data dalam bentuk uraian, sedangkan data

26

Page 27: Proposal Bayu

kuantitatif diwujudkan dalam bentuk angka-angka. Senada dengan itu Azwar

(1999 : 91), menyatakan bahwa : “data primer dan data sekunder dapat pula

digolongkan menurut jenisnya sebagai data kuantitatif yang berupa angka-angka

dan data kualitatif yang berupa kategori-kategori”.

Jadi dapat dijelaskan bahwa menurut jenisnya, data dapat dibagi menjadi

dua yaitu data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif yaitu data dalam

bentuk uraian-uraian atau kategori-kategori, sumber data tertulis dan foto.

Sedangkan data kuantitatif data yang diwujudkan dengan angka-angka dan

statistik.

Dalam penelitian ini, jenis data yang dipakai adalah data kualitatif berupa

uraian dalam wawancara, teks asli Gaguritan Widura Niti Wakya dan sumber data

tertulis lain yang berhubungan dengan nilai-nilai pendidikan Agama Hindu dalam

Gaguritan Widura Niti Wakya.

3.5 Metode Pengumpulan Data

Menurut Subagyo (2004 : 37) “pengumpulan data pada dasarnya

merupakan suatu kegiatan operasional agar tindakannya masuk pada penelitian

sebenarnya”. Sedangkan Arikunto (2003 : 134), dan Sukmadinata (2007 : 215)

menyatakan bahwa metode pengumpulan data yaitu cara yang digunakan untuk

memperoleh data yang dijadikan dasar kajian, dianalisis dan disimpulkan.

Selanjutnya Suryabrata (2004 : 41) menyatakan bahwa : “metode pengumpulan

data adalah suatu cara yang digunakan untuk mengumpulkan data, yaitu : tes,

observasi, wawancara, angket, sosiometri, dan pencatatan dokumen”.

27

Page 28: Proposal Bayu

Jadi dapat dijelaskan bahwa metode pengumpulan data adalah kegiatan

operasional atau cara yang dilakukan untuk memperoleh data dalam penelitian

yang dijadikan dasar kajian, yang selanjutnya dianalisis dan disimpulkan. Adapun

metode pengumpulan data yang dipakai yaitu:

3.5.1 Metode Wawancara

Esterberg (dalam Sugiyono, 2006 : 260), dan Saebani (2008: 190)

menyatakan bahwa wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar

informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna

dalam suatu topik. Usman dan Akbar menyebutkan bahwa “wawancara adalah

tanya jawab lisan antara dua orang atau lebih secara langsung” (2004 : 57).

Jadi dapat disimpulkan bahwa metode wawancara adalah pertemuan antara

dua orang atau lebih secara langsung untuk bertukar informasi dan ide melalui

tanya jawab. Maksud dari penggunaan metode wawancara adalah untuk

memperoleh keterangan atau penjelasan dari informan.

3.5.2 Metode Pencatatan Dokumen

Usman dan Akbar (2004 : 73) menyatakan bahwa: ”metode pencatatan

dokumen adalah teknik pengumpulan data dengan cara dokumentasi yaitu

pengambilan data yang diperoleh melalui dokumen-dokumen”. Selanjutnya

Moleong (1996 : 161), “metode pencatatan dokumen adalah suatu cara untuk

memperoleh suatu data efigrafis dalam sumber-sumber tertulis berupa : buku,

lontar, transkripsi lontar, majalah, surat kabar dan dokumen-dokumen lainnya”.

Senada dengan itu Arikunto (2006: 231) menyatakan bahwa: “pencatatan

28

Page 29: Proposal Bayu

dokumen atau dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel

yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat,

lenggur, agenda dan sebagainya.”

Jadi dapat dijelaskan bahwa metode pencatatan dokumen yaitu teknik

pengumpulan data dengan mengkaji bahan-bahan pustaka atau dokumen dengan

tujuan untuk mendapatkan informasi secara lengkap dalam kegiatan ilmiah.

Adapun dokumen-dokumen yang dapat dikumpulkan seperti catatan, lontar,

transkripsi lontar, buku-buku, majalah-majalah, jurnal, surat kabar, prasasti,

notulen rapat maupun agenda yang ada kaitannya dengan materi penelitian.

Dalam penelitian ini pencatatan dokumen yang dilakukan dengan

mengkaji teks daripada Gaguritan Widura Niti Wakya.

3.6 Metode Pengolahan Data

Untuk dapat memberikan gambaran sesuai dengan tujuan penelitian maka

data yang terkumpul perlu diolah. Saebani (2008 : 199) menyatakan bahwa

pengolahan data adalah melakukan analisa terhadap data dengan metode dan cara-

cara tertentu yang berlaku dalam penelitian.

Riyanto, (2001 : 105) menambahkan ada tiga metode pengolahan data:

(1) Metode Deskriptif adalah suatu cara pengolahan data yang dilakukan dengan jalan menyusun secara sistematis sehingga diperoleh suatu kesimpulan secara umum, (2) Metode Komparatif adalah suatu cara pengolahan data dengan jalan mengadakan bandingan secara sistematis serta terus menerus sehingga diperoleh kesimpulan umum, (3) Metode Analisa adalah suatu cara pengolahan data yang dilakukan dengan jalan mempergunakan suatu teknik analisa tertentu sehingga diperoleh tesa.

Jadi dapat dijelaskan bahwa metode pengolahan data untuk data kualitatif

dapat dibagi menjadi tiga yaitu:

29

Page 30: Proposal Bayu

1. Metode deskriptif

Metode deskriptif adalah suatu cara pengolahan data yang dilakukan

dengan jalan menyusun secara sistematis data hasil penelitian sehingga

diperoleh suatu kesimpulan umum.

2. Metode komparatif

Metode komparatif adalah suatu cara pengolahan data yang dilakukan

dengan mengadakan perbandingan secara sistematis serta terus-menerus

sehingga diperoleh suatu kesimpulan.

3. Metode analisis

Metode analisis adalah suatu cara pengolahan data yang dilakukan

dengan jalan mempergunakan suatu teknik analisis tertentu sehingga

diperoleh suatu dugaan atau kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas dalam penelitian ini dipergunakan Metode

Deskriptif yaitu cara pengolahan data dengan jalan menyusun secara sistematis

sehingga diperoleh suatu kesimpulan secara umum.

Di dalam penggunaan metode ini dipergunakan beberapa teknik. Menurut

Azwar (1999: 99 – 100) ada tiga teknik yang bisa digunakan dalam pengolahan

data, yakni :

(1) Teknik Induksi adalah terlebih dahulu dikemukakan fakta-fakta yang bersifat khusus, atas dasar fakta tersebut ditarik suatu kesimpulan, (2) Argumentasi yaitu memberikan komentar dan alasan yang rasional terhadap informasi yang tergali lewat penelitian selanjutnya ditarik simpulan yang logis, (3) Teknik spekulasi yaitu menarik kesimpulan yang semata-mata didasarkan atas ketajaman rasio peneliti

Selanjutnya Netra (1974 : 75) menyatakan bahwa ada tiga teknik analisa

data yaitu :

30

Page 31: Proposal Bayu

(1) Teknik induksi yaitu dilakukan dengan mengungkapkan fakta-fakta khusus. Atas dasar fakta-fakta ini ditarik suatu kesimpulan. (2) Teknik argumentasi yaitu dengan memberikan komentar-komentar atau alasan-alasan pada setiap penarikan kesimpulan. (3) Teknik spekulasi yaitu dengan menggunakan ketajaman rasio atau akal pada setiap penarikan kesimpulan.

Dari uraian di atas teknik yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah

teknik induksi dan argumentasi yaitu dengan cara terlebih dahulu mengemukakan

fakta-fakta yang bersifat khusus kemudian menarik kesimpulan dan memberikan

komentar dan alasan pada setiap kesimpulan.

31