PROCEEDING,SEMINARNASIONALKEBUMIANKE-11 ... GEOSITE KALI... ·...

download PROCEEDING,SEMINARNASIONALKEBUMIANKE-11 ... GEOSITE KALI... · proceeding,seminarnasionalkebumianke-11

of 14

  • date post

    19-Aug-2019
  • Category

    Documents

  • view

    212
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of PROCEEDING,SEMINARNASIONALKEBUMIANKE-11 ... GEOSITE KALI... ·...

  • PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-11 PERSPEKTIF ILMU KEBUMIAN DALAM KAJIAN BENCANA GEOLOGI DI INDONESIA

    5 – 6 SEPTEMBER 2018, GRHA SABHA PRAMANA

    1296

    tinggi

  • PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-11 PERSPEKTIF ILMU KEBUMIAN DALAM KAJIAN BENCANA GEOLOGI DI INDONESIA

    5 – 6 SEPTEMBER 2018, GRHA SABHA PRAMANA

    1297

    KATALOG GEOSITE KALI NGALANG DAN SEKITARNYA, KECAMATANWONOSARI, KABUPATEN GUNUNGKIDUL, D.I.YOGYAKARTA

    SEBAGAI PANDUAN LOKASI PEMBELAJARAN GEOLOGI

    Zahratun Nadirah1*

    Restu Dwi Cahyo Adi2

    Aya Shika V. Bangun3

    Lintang Putra Sadewa4

    Ivan Yogi Romulus Saragih5

    Indra Arifianto6 1Mahasiswa S1, Departemen Teknik Geologi, FT, Universitas Gadjah Mada 2Mahasiswa S1, Departemen Teknik Geologi, FT, Universitas Gadjah Mada 3Mahasiswa S1, Departemen Teknik Geologi, FT, Universitas Gadjah Mada 4Mahasiswa S1, Departemen Teknik Geologi, FT, Universitas Gadjah Mada 5Mahasiswa S1, Departemen Teknik Geologi, FT, Universitas Gadjah Mada

    6Dosen, Departemen Teknik Geologi, FT, Universitas Gadjah Mada *corresponding author: zahratundd@gmail.com

    ABSTRAK Kali Ngalang merupakan salah satu dari 13 geosite Global Geopark Gunung Sewu yang berada Provinsi DIY dan Jawa Tengah. Sejauh ini, Kali Ngalang hanya dikenal sebagai geosite bioturbasi, padahal Kali Ngalang dan sekitarnya memiliki obyek-obyek geologi lain yang menarik dan potensial untuk dikembangkan menjadi lokasi pembelajaran geologi. Metode pembuatan katalog didasarkan dari data pemetaan geologi dengan skala 1:25.000, pengukuran stratigrafi, pembuatan database dan peta persebaran singkapan. Penelitian ini menghasilkan data inventarisasi 28 singkapan geologi dengan rincian: geomorfologi 2 singkapan, straigrafi 10 singkapan, struktur geologi 7 singkapan, dan bioturbasi 9 singkapan. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai database lokasi pembelajaran geologi dan panduan dasar pengembangan geowisata di masa depan.

    Kata Kunci : katalog, geosite, kali ngalang, gunung sewu

    1. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang

    Gunung Sewu Global Geopark merupakan salah satu taman bumi Indonesia yang telah diakui oleh UNESCO (Oktariadi, 2015). Geopark Gunung Sewu memiliki 13 geosite, salah satunya adalah geosite Kali Ngalang yang terletak di Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Geosite Kali Ngalang selama ini hanya dikenal sebagai situs bioturbasi yang menampilkan jejak-jejak organisme laut pada batugamping. Padahal, pada kawasan geosite ini masih terdapat banyak objek-objek geologi menarik yang belum dikaji secara lebih detail. Objek-objek geologi di daerah ini memiliki potensi sebagai lokasi pembelajaran geologi yang baik bagi kalangan akademisi di bidang kebumian.

    Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasikan singkapan-singkapan yang berpotensi untuk dijadikan lokasi pembelajaran geologi di Kali Ngalang dan sekitarnya. Hasil akhir dari penelitian ini berupa katalog yang diharapkan dapat berguna sebagai panduan dasar dalam pengembangan geowisata di kawasan tersebut.

    1.2 Geologi Regional

    Daerah penelitian meliputi Kecamatan Playen, Patuk, Nglipar, dan Wonosari yang terdapat di Kabupaten Gunungkidul seperti yang terlihat pada gambar 1. Secara fisiografis daerah ini termasuk ke dalam Zona Pegunungan Selatan Jawa dan termasuk dalam peta geologi lembar Surakarta dan Giritontro (Surono dkk., 1992). Stratigrafi daerah penelitian

  • PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-11 PERSPEKTIF ILMU KEBUMIAN DALAM KAJIAN BENCANA GEOLOGI DI INDONESIA

    5 – 6 SEPTEMBER 2018, GRHA SABHA PRAMANA

    1298

    dari tua ke muda tersusun atas batuan vulkanik Formasi Semilir, breksi dari Formasi Nglanggran, batuan sedimen klasitik dan batuan karbonat Formasi Sambipitu, batugamping Formasi Oyo, dan batugamping Formasi Wonosari. 2. Metode Penelitian

    Metode yang digunakan pada penelitian ini antara lain sebagai berikut:

    2.1 Pemetaan Geologi Pemetaan geologi dilakukan dengan skala 1:25.000. Pada pemetaan ini dilakukan

    pengamatan detail dan pencatatan aspek geologi meliputi koordinat lokasi, morfologi, singkapan dan jenis litologi, pengukuran stratigrafi, dan struktur geologi. Selain itu, dilakukan pula proses dokumentasi berupa pengumpulan foto-foto singkapan di lapangan.

    2.2 Pembuatan Database Singkapan Pembuatan database dilakukan dengan mengumpulkan keseluruhan data kemudian

    mengklasifikasikan objek geologi yang ditemukan menjadi stopsite morfologi, stopsite stratigrafi, stopsite struktur geologi, dan stopsite bioturbasi.

    2.3 Pembuatan Peta Persebaran Singkapan Pembuatan peta persebaran singkapan dilakukan dengan software ArcGIS dengan

    memplotkan lokasi singkapan pada peta dasar dan peta digital elevation model (DEM) disertai dengan jalur menuju lokasi stopsite yang ada. 3. Data

    Dari hasil pemetaan dan pengamatan lapangan yang telah dilakukan, terdapat setidaknya 28 stopsite, yang terdiri dari 10 stopsite stratigrafi, 7 stopsite struktur, 9 stopsite bioturbasi, dan 2 stopsite geomorfologi. Lokasi potensi goesite baru ini memiliki fitur geologi khas tertentu. Data-data mengenai tiap stopsite dirangkum dalam tabel 1. Persebaran lokasi-lokasi yang berpotensi menjadi stopsite dapat dilihat pada gambar 2. Selain persebaran lokasi, peta tersebut juga dilkengkapi dengan akses petunjuk jalan menuju ke lokasi setiap stopsite yang ada. 4. Hasil dan Pembahasan

    4.1 Stopsite Stratigrafi 1

    Singkapan ini berlokasi di Kali Kedungkeris, Desa Kedungkeris, Kecamatan Nglipar dengan koordinat UTM 456842/9129280. Singkapan ini memiliki dimensi setinggi 3 meter, melampar utara-selatan sebagai dinding sungai Kedungkeris. Pada singkapan dijumpai unit batuan berupa batupasir tufan dan breksi polimik yang berasal dari Formasi Sambipitu. Batupasir dan breksi ini memiliki warna kecoklatan. Pada bagian bawah dijumpai breksi polimik berwarna hitam kecoklatan, berukuran butir pasir-bongkah, matrix supported, dengan struktur masif. Di bagian atas satuan ditumpangi oleh batupasir tufan dan batulanau dengan struktur perlapisan dan laminasi. Stratigrafi batuan ini menggambarkan sekuen Bouma, terutama untuk bagian Ta, Tb, dan Tc seperti yang dilihat pada gambar 3. Kenampakan sekuen Bouma ini menunjukkan bahwa pengendapan batuan di lokasi ini dipengaruhi oleh mekanisme arus turbid dengan jenis aliran high density turbidity current pada bagian bawah yang mengendapkan litologi berupa breksi dan batupasir kerikilan. Kemudian, pada bagian atas mekanisme yang mengontrol adalah low density turbidity current ditandai oleh struktur perlapisan dan laminasi.

  • PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-11 PERSPEKTIF ILMU KEBUMIAN DALAM KAJIAN BENCANA GEOLOGI DI INDONESIA

    5 – 6 SEPTEMBER 2018, GRHA SABHA PRAMANA

    1299

    4.2 Stopsite Stratigrafi 2

    Singkapan ini berada di Kali Kedungkeris, berjarak sekitar 200 meter ke selatan dari Jembatan Kali Kedungkeris. Secara geografis, lokasi berada di koordinat UTM 455737/9127981. Pada lokasi ini, dijumpai struktur slump (gambar 4) yang tersingkap di tebing timur Kali Kedungkeris yang tersusun oleh litologi berupa perselingan antara batugamping wackestone dan mudstone. Kehadiran struktur slump mengindikasikan bahwa satuan ini diendapkan di bagian deep shelf margin hingga daerah slope pada paparan karbonat karena dijumpainya struktur slump yang menandakan lingkungan pengendapan berasosiasi dengan kelerengan yang cukup terjal (Wilson, 1975).

    4.3 Stopsite Stratigrafi 3

    Singkapan ini berada di Kali Oyo, Desa Karangtengah, Kecamatan Wonosari, dan terletak pada koordinat UTM 457212/9125187. Pada lokasi ini dijumpai tebing setinggi 2-4 meter yang berada di sisi utara dan sisi selatan, dengan sungai yang mengalir timur-barat. Pada tebing tersebut, dijumpai batugamping framestone, berwarna putih, struktur masif, dengan komposisi fosil alga yang dominan. Batuan ini termasuk ke dalam Formasi Wonosari. Pada lokasi ini juga dapat dijumpai batugamping floatstone dan batugamping packstone. Lokasi ini dapat dijadikan lokasi untuk mengamati batas formasi antara formasi Oyo di sebelah utara dan Formasi Wonosari di sebelah selatan (gambar 5). Berdasarkan jenis litologi yang dijimpai, batuan ini diinterpretasikan terbentuk dari material debris hasil erosi paparan karbonat oleh gelombang yang cukup tinggi di daerah yang relatif dangkal. Material debris karbonat ini kemudian tertransportasi dari seaward ramp carbonate dan diendapkan pada daerah slope. Berdasarkan klasifikasi Wilson (1975), asosiasi batuan yang menunjukkan kehadiran fragmen alga dan fragmen koral yang melimpah pada daerah ini serta kehadiran algae framestone menunjukkan bahwa lingkungan pengendapan batuan tidak jauh dari zona organic build up.

    4.4 Stopsite Stratigrafi 4

    Singkapan ini berlokasi di tepi Kali Oyo, di Desa Gari, Kecamatan Wonosari, dan terletak pada koordinat UTM 454319/9126493. Lokasi stopsite berupa dinding sungai setinggi 3 meter, memanjang timur-barat. Dinding sungai tersebut memiliki litologi berupa batugamping packstone. Batuan ini memiliki struktur secara umum berupa perlapisan dengan struktur tiap lapisannya menunjukkan struktur menghalus ke atas. Berdasarkan kenampakan di lapangan, batuan ini menunjukkan bagian Ta dan Tb dari sekuen Bouma yang mengindikasikan bahwa sedimen terdeposisi di bawah kondisi upper flow regime. Lokasi ini dapat digunakan sebagai lokasi pembelajaran endapan turbidit (gambar 6).

    4.5 Stopsite Stratigrafi 5

    Singkapan ini berada di desa Pilangrejo, kecamatan Nglipar dengan koordinat UTM 459471/9133524. Singkapan ini memiliki dimensi 50 cm tinggi, dan lebar 3 m. Pada singkapan dijumpai litologi batupasir tuffan pada tebing terjal dari Formasi Semilir dengan kenampakan adanya