PONEK UpakesRujukan 2011(Edit Nova)

download PONEK UpakesRujukan 2011(Edit Nova)

of 33

  • date post

    20-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    492
  • download

    16

Embed Size (px)

Transcript of PONEK UpakesRujukan 2011(Edit Nova)

  • 0

    Pelayanan Obstetri-Neonatal Emergensi Komprehensif

    (PONEK)

    Program, Investasi dan Impelementasinya di Rumah Sakit Provinsi/Kabupaten/Kota di Indonesia

    Sejak Tahun 2007-2010

    2011

    Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan Direktorat Bina Upaya Kesehatan Rujukan

  • 1

    BAB 1 PENDAHULUAN

    1. Latar belakang

    Data tentang persalinan oleh tenaga kesehatan menurut SDKI 2007 berkisar diantara 73% hingga 80.36%. Di tingkat desa, sebagian besar persalinan masih terjadi di rumah, dengan proporsi sekitar 64% - 78%. Dengan kondisi tersebut diatas maka Indonesia masih menempati peringkat pertama untuk kematian maternal dan neonatal di lingkup negara-negara Asean. Menurut data tahun 2008 rasio kematian maternal adalah 228 per 100.000 kelahiran hidup dan rasio kematian bayi adalah 34/1000 kelahiran hidup. Trend penurunan angka kematian maternal dari tahun 1985 ke tahun 2007, menurun secara landai. Penurunan secara tajam, seharusnya terjadi pada tahun 2000 ketika Indonesia menyepakati inisiatif global health for all by the year 2000 dalam upaya menurunkan rasio kematian maternal dari 450 menjadi 225 per 100.000 kelahiran hidup. Pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai upaya untuk memperbaiki status kesehatan ibu, bayi baru lahir dan anak, baik melalui upaya akselerasi kematian ibu dan bayi (menu KIA, Dana Dekonsentrasi, Desa Siaga, Program Persiapan persalinan dan Pencegahan Komplikasi, Keluarga Berencana, dsb) maupun ratifikasi program ICPD Cairo 1997 (Safe Motherhood, Making Pregnancy Safer, District Team Problem Solving, Postabortion Care, Healthy Timing and Spacing of Pregnacy, dsb) tetapi hingga tahun 2009, indikator-indikator status kesehatan ibu, bayi baru lahir, dan anak ternyata belum menunjukkan hasil seperti yang diharapkan.

    2. Status Saat ini Walaupun belum terjadi akselerasi perbaikan status kesehatan anak di Indonesia tetapi pada tahun 2007 angka kematian bayi tercatat sebesar 34/1.000 kelahiran hidup. Kondisi ini lebih baik apabila dibandingkan dengan kondisi tahun 1991 dimana angka kematian bayi (AKB) mencapai 68/1.000 kelahiran hidup dan 2002-2003 yang sebesar 35/1.000 kelahiran hidup. Indonesia diharapkan mampu mencapai target MDG untuk AKB. Angka kematian anak balita (AKBAL) pada tahun 1991 adalah 97/1.000 kelahiran hidup; tahun 2002/2003 menjadi 46/1.000 kelahiran hidup, dan pada tahun 2007 menjadi 44/1.000 kelahiran hidup. Status dan target untuk angka kematian neonatal, bayi dan balita serta angka kematian ibu ditampilkan pada tabel dibawah ini:

    Indikator AKBal/1000 KH AKB/1000 KH AKN/1000 KH

    Acuan Dasar (1991) 77 (SDKI) 68 (SDKI) 32 (SDKI)

    Saat Ini (2007) 44 (SDKI) 34 (SDKI) 19 (SDKI)

    Target Nasional (2014) 32 23 15 Angka Kematian Balita per 1.000 kelahiran hidup, Angka Kematian Bayi6 (AKB) per 1.000 kelahiran hidup Angka kematian neonatal per 1.000 kelahiran hidup, Target nasional (2014) ~ RPJMN 2010-2014

    Tabel 1: Situasi saat ini dan target nasional angka kematian bayi

    Indikator AKI/100.000 KH Linakes CPR ANC

    Acuan Dasar (1991) 390 (SDKI) 40.70 (Susenas) 47,1 (SDKI) K1: 75%, K4: 56%

    Saat Ini (2007) 228 (SDKI) 77,34 (Susenas) 57,4 (SDKI)

    Target Nasional (2014) 102 90 65,0 Angka Kematian Ibu per 100.000 kelahiran hidup, CPR (Contraception Prevalence Rate) usia 15-49 tahun, Target nasional (2014) ~ RPJMN 2010-2014

    Tabel 2: Situasi saat ini dan target nasional angka kematian ibu dan prevalensi kontrasepsi

  • 2

    Capaian angka prevalensi kontrasepsi (CPR) secara nasional masih rendah, yaitu 57,4% untuk cara modern dan 61,4% untuk semua cara (SDKI 2007). Selama periode 2003 - 2007, angka penggunaan kontrasepsi tidak menunjukkan peningkatan yang berarti terutama jika diacu pada CPR tahun 1991 2003 (1,1 % berbanding 3.5%). Untuk target MDG sebesar 102 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015, Indonesia harus bekerja lebih keras karena data SDKI 2007 menunjukkan angka kematian ibu sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup (2004-2007) karena hal itu menggambarkan penurunan AKI yang lambat yaitu 307 per 100.000 kelahiran hidup (1998-2002) dan 390 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1991.Menurut estimasi WHO, 15-20% ibu hamil tergolong sebagai risiko tinggi terhadap komplikasi kehamilan, persalinan dan nifas sehingga sekitar 711.111-948.148 perempuan dan remaja putri Indonesia termasuk dalam kelompok tersebut.

    Gambar 1: Trend AKI di Indonesia

    Di Indonesia, sekitar 80% kematian ibu disebabkan oleh penyebab langsung obstetrik seperti perdarahan, sepsis, abortus tak aman, preeklampsia/eklampsia, dan distosia atau partus macet. Sekitar 20% akibat penyebab tak langsung, yaitu penyakit yang diperburuk oleh kehamilan atau persalinan. Meskipun sebagian besar penyebab kematian ibu dapat ditangani, namun masalah pendidikan, stigma sosial,dan keterbatasan akses terhadap pelayanan kesehatan, menyebabkan jutaan perempuan Indonesia memiliki risiko tinggi mengalami komplikasi fatal kehamilan/persalinan yang terkait dengan ketidak tahuan masyarakat terhadap tanda-tanda bahaya kehamilan/persalinan (Donnay dan Weil 2004). Persentase persalinan di fasilitas kesehatan (pemerintah dan swasta) lebih tinggi di daerah kota/ perkotaan (70,3%) dibanding di daerah perdesaan (28,9%). Ibu berpendidikan rendah lebih cenderung bersalin di rumah (81,4%) daripada ibu berpendidikan tinggi (28,2 persen). Ibu yang tidak melakukan asuhan antenatal, cenderung melahirkan di rumah (86,7%) daripada ibu yang melakukan kunjungan antenatal hingga 4 kali atau lebih (45,2 persen). Ibu dengan tingkat sosioekonomi rendah lebih banyak bersalin di rumah (84,8%) daripada ibu dengan tingkat sosio-ekonomi tinggi (15,5%). Terdapat kesenjangan yang substansial pada pemilihan tempat persalinan antarprovinsi maupun antardesa-kota. Apabila proporsi cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan, rasio persalinan di fasilitas kesehatan dengan persalinan di rumah, persentase tenaga kesehatan yang kompeten dan kemampuan fasilitas untuk memberikan pelayanan berkualitas masih seperti kondisi sekarang ini, tampaknya upaya akselerasi penurunan angka kematian maternal dan neonatal, tidak akan pernah mencapai Target Pembangunan Milenium (MDG 2015). Program Persiapan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) Ditjen Binkesmas Depkes RI merupakan intervensi inovatif yang akan memberi hasil guna yang tinggi apabila dilaksanakan secara tepat dan didukung oleh semua pihak yang terkait.

  • 3

    Intervensi kunci untuk menurunkan AKI adalah perilaku hidup bersih dan sehat serta pengenalan dini tanda bahaya kehamilan/persalinan, program KB, asuhan antenatal terfokus, mencegah abortus tak aman, pertolongan persalinan oleh tenaga terampil, rujukan dini-tepat waktu kasus gawatdarurat obstetri, dan pertolongan segera dan adekuat kasus gawatdarurat obstetri di rumah sakit rujukan. Hal yang disebutkan terakhir ini sangat penting karena studi tentang risiko kematian dan saat persalinan di Matlab-Bangladesh (2005), menyebutkan risiko kematian ibu adalah 100 kali pada hari pertama dan 30 kali pada hari kedua persalinan

    Tabel 3: MMR in South-East Asia Countries

    Asia, southeast 1980 1990 2000 2008

    Burma 1052 (4012171) 662 (2491484) 411 (155874) 219 (87495) Cambodia 499 (324751) 409 (237658) 511 (322786) 266 (171398) East Timor 1445 (5493201) 1016 (4022184) 953 (3632081) 929 (3742077) Indonesia 423 (274631) 253 (148411) 290 (166477) 229 (133379) Laos 1780 (11722715) 1215 (7961816) 630 (377996) 339 (215511) Malaysia 137 (118160) 76 (6689) 59 (5167) 42 (3749) Maldives 1057 (4052277) 366 (145776) 125 (48272) 75 (28167) Mauritius 122 (100144) 65 (5377) 34 (2643) 28 (2136) Philippines 443 (289661) 174 (112261) 103 (65160) 84 (53130) Sri Lanka 92 (81105) 52 (4660) 40 (3646) 30 (2535) Thailand 115 (101131) 44 (3950) 43 (3848) 47 (4253) Vietnam 336 (218504) 158 (102233) 84 (55125) 64 (4295) Total 438 (337573) 248 (187337) 212 (155293) 152 (112212)

    www.thelancet.com Published online April 12, 2010 DOI:10.1016/S0140-6736(10)60518-1

    3. Kebijakan dan Strategi

    Dengan pendekatan kualitas, persiapan persalinan adalah penyediaan tenaga kesehatan yang kompeten untuk memberikan pelayanan sesuai dengan praktik terbaik atau standar yang telah ditetapkan. Agar hal tersebut dapat memberi manfaat maksimal maka setiap anggota masyarakat harus mempunyai akses dan memperoleh asuhan persalinan oleh tenaga terampil tersebut. Dengan pendekatan program, persiapan persalinan diartikan sebagai perencanaan dan penyediaan pertolongan persalinan yang bersih dan aman, terutama apabila hal itu terjadi di fasilitas pelayanan kesehatan yang ada di dalam sistem kesehatan nasional. Pencegahan komplikasi menggunakan kedua pendekatan tersebut diatas dan bertujuan untuk membuat ibu dan bayi baru lahir dapat memperoleh derajat kesehatan yang tinggi dan terhindar berbagai ancaman atau risiko fungsi reproduksi. Tujuan tersebut harus dicapai melalui kemitraan lintas program dan sektor, pemerintah dan masyarakat, serta publik dan swasta untuk memobilisasi potensi dan sumberdaya kesehatan yang ada, upaya pemberdayaan keluarga terutama tentang budaya hidup sehat dan mengenali tanda-tanda bahaya kehami