Pkl Laporan

download Pkl Laporan

of 48

  • date post

    20-Jul-2016
  • Category

    Documents

  • view

    107
  • download

    8

Embed Size (px)

Transcript of Pkl Laporan

BAB 1PENDAHULUANA.Latar BelakangLaut merupakan suatu tempat mata pencaharian bagi orang orang diseluruh dunia yang telah berabad abad lamanya. dapat diketahui bahwa lautan banyak mengandung sumber sumber alam yang melimpah jumlahnya dan bernilai jutaan dolar, dimana pada saat ini kebanyakan dari sumber sumber alam tersebut sebagian besar masih belum dikelola dan akan dapat menjadi penting artinya dimasa yang akan datang mengingat masih terus meningkatnya jumlah penduduk di dunia dan makin meningkatnya pula kebutuhan mereka untuk dapat hidup yang lebih layak (Hutabarat, dan Steward,1985).Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki potensi sumberdaya ikan yang sangat besar dan memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, dimana perairan indonesia memiliki 27,2% dari seluruh spesies flora dan fauna yang terdapat di dunia yang meliputi 12,0% Mamalia, 23,8% Amphibia, 31,8% Reptilia, 44,7% Ikan, 40,0% Moluska Dan 8,6% Rumput Laut. Nelayan tradisional adalah subyek yang secara langsung memanfaatkan potensi sumberdaya alam indonesia, khususnya potensi perikanan yang melimpah. namun dalam kenyataan kebanyakan mereka merupakan kelompok masyarakat yang sedikit pengetahuan tentang sumberdaya kelautan. hal ini disebabkan oleh kurangnya akses terhadap informasi dan penguasaan teknologi yang membantu nelayan untuk memperoleh hasil tangkap yang optimal. penentuan daerah penangkapan ikan misalnya, lebih didasarkan pada pengetahuan secara turun temurun (mitos) ataupun lebih dibentuk karena pengalamanya selama menjadi nelayan. akibatnya dalam melakukan kegiatan penangkapan ikan mereka memperoleh hasil tangkapan yang minim.Menurut Sutanto (1994), teknologi penginderaan jarak jauh adalah alternatif yang tepat dalam menyediakan informasi tersebut. penginderaan jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang obyek, daerah, atau gejala dengan jalan menganalisis data yang diperoleh dengan menggunakan alat tanpa kontak langsung terhadap obyek, daerah, atau gejala yang dikaji. Ada empat komponen penting dalam system penginderaan jauh adalah (1) sumber tenaga elektromagnetik, (2) atmosfer, (3) interaksi antara tenaga dan objek, (4) sensor. secara skematik dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Sistem Penginderaan Jauh (Sumber : Sutanto, 1994)Tenaga panas yang dipancarkan dari obyek dapat direkam dengan sensor yang dipasang jauh dari obyeknya. penginderaan obyek tersebut menggunakan spektrum inframerah termal (Paine, 1981 dalam Sutanto, 1994). dengan menggunakan satelit maka akan memungkinkan untuk memonitor daerah yang sulit dijangkau dengan metode dan wahana yang lain. satelit dengan orbit tertentu dapat memonitor seluruh permukaan bumi. satelit-satelit yang digunakan dalam penginderaan jauh terdiri dari satelit lingkungan, cuaca dan sumberdaya alam.Permintaan untuk memenuhi kebutuhan akan data potensi sumberdaya perikanan yang cepat, akurat dan murah, mengakibatkan pemetaan sumberdaya potensi perikanan merupakan suatu kebutuhan yang penting. Penginderaan jauh merupakan suatu cara pengamatan objek tanpa menyentuh objek secara langsung. sistem ini dapat mencakup suatu areal yang luas dalam waktu bersamaan, selain itu sistem ini relatif lebih murah dibandingkan dengan penelitian secara langsung. penginderaan jauh dapat digunakan untuk mendeteksi sebaran konsentrasi klorofil dan suhu pemukaan laut secara cepat untuk wilayah yang luas.Pemanfaatan teknologi penginderaan jauh mempunyai arti yang sangat strategis bagi indonesia. menurut Sutanto (1986), bahwa remote sensing atau yang akrab disebut dengan istilah penginderaan jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang obyek, daerah, atau gejala, dengan jalan menganalisis data yang diperoleh dengan menggunakan alat tanpa kontak langsung terhadap obyek, daerah, atau gejala yang dikaji. alat yang dimaksud adalah sensor dari satelit sedangkan data yang dihasilkan berupa citra satelit. sejak 1996, teknologi penginderaan jauh sudah menyentuh sektor perikanan juga yang dimana antara salah satunya departemen kelautan, khususnya badan riset kelautan dan perikanan, sudah mengaplikasikan teknologi ini dalam bentuk berupa peta prakiraan daerah potensi ikan (PDPI), dan informasi ini disebarkan ke berbagai instansi, seperti dinas kelautan dan perikanan tingkat provinsi atau kabupaten, selanjutnya diharapkan dapat diditribusikan sehingga Informasi Zona Potensi Penangkapan Ikan (ZPPI) dapat mendukung peningkatan hasil tangkapan ikan bagi para nelayan dan mengurangi biaya operasi penangkapan ikan.B.Tujuan Dan Kegunaan1. Tujuan praktek kerja lapangKegiatan praktek kerja lapang bertujuan untuk menambah pengalaman dan ilmu pengetahuan penulis dari berbagai kegiatan yang direncanakan dalam suatu instansi, sehingga dapat menerapkan apa yang diperoleh dibangku perkuliahan agar sesuai dengan tuntutan yang dibutuhkan di dunia kerja.Secara umum pelaksanana praktek kerja lapang bertujuan untuk Penerapan dan Pengembangan pengetahuan serta ketrampilan yang dimiliki penulis selama belajar di suatu instansi.Secara khusus tujuan dari Praktek Kerja Lapang (PKL) adalah :a. Membekali penulis dengan pengalaman kerja sebenarnya didalam dunia kerja.b. Memantapkan ketrampilan penulis yang diperoleh selama masa perkuliahan.c. Mengetahui dan dapat mengaplikasikan teknologi sistem informasi geografis yang dipadukan dengan beberapa software seperti ER Mapper, ENVI, dan ArcGIS dalam menentukan Zona Potensi Penangkapan Ikan.d. Mendapatkan informasi tentang fungsi dari Lembaga Penerbangan Dan Antariksa (LAPAN) Deputi Pengindraan Jauh Pare Pare sebagai tempat pelaksanaan Praktek Kerja Lapang.e. Sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan program studi di Jurusan Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Muslim Indonesia.2.Kegunaan Praktek Kerja Lapanga. Mampu membandingkan antara ilmu yang diperoleh di bangku perkuliahan secara teori dan selama mengikuti Praktek Kerja Lapang.b. Melatih dan menambah pengalaman serta meningkatkan ketrampilan penulis dalam melakukan pekerjaan sebagai bekal dalam memasuki dunia pekerjaan.c. Menjalin dan meningkatkan hubugan kerja sama yang harmonis antara Balai Pengindraan Jauh Pare-Pare dan Universitas Muslim Indonesia umumnya serta Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan khususnya.

BAB IIMETODOLOGI PRAKTEKA. Waktu Dan TempatPraktek kerja lapang dilaksanakan dari tanggal 1 Februari sampai 28 Maret 2014. pelaksanaan praktek kerja lapang ini bertempat di kantor LAPAN Deputi Pengindraan Jauh, Kabupaten Kota Pare Pare Sulawesi Selatan, khususnya di bagian pengolahan dan pemetaan.B.Alat Dan Bahan1.Alat a. 1 (satu) unit laptop Porcessor Intel(R) Core(TM) i3 M380 @ 2,53GHz, 32-Bit Operation System, Windosw 7b. Perangkat lunak ArcGIS 10.1c. Perangkat lunak ErR Mapper 7.0d. Perangkat lunak ENVI 4.7e. Modul pengenalan tingkat dasarf. Alat tulis menulisg. Microsoft 20102.Bahana. Data Citra Modis-Terra Tanggal 07 Maret 2014, b. Peta tematik dan peta dasar sebagai rujukan dalam proses layout peta.C.Metode PelaksanaanKegiatan yang dilaksanakan pada Praktek Kerja Lapang (PKL) ini pada tahap pertama yaitu perkenalan diri kepada pimpinan dan seluruh staf kantor balai pengindaraan jauh dan dilanjutkan dengan pengenalan dan pembelajaran modul tingkat dasar Zona Potensi Pengkapan Ikan (ZPPI) setelah itu penyedian citra yang akan di proses yaitu citra terra modis. citra terra modis diperoleh dari pembimbing lapang dan staf pengolahan.D.KegiatanSecara umum lingkup kegiatan praktek kerja lapan ini yaitu Penentuan Zona Potensi Penangkapan Ikan ( ZPPI) dengan menggunakan citra modis serta memadukan Pengindraan Jauh Dan Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk memetakan Zona Potensi Penangkapan Ikan. untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada diagram alir ZPPI (Lampiran).

BAB IIIHASIL DAN PEMBAHASANA.Keadaan Umum Lokasi1. Sejarah Berdirinya LAPAN Pare - Pare LAPAN Parepare merupakan lembaga non-departemen yang didirikan pada tanggal 27 November 1963 berdasarkan Keputusan Presiden No. 236 tahun 1963.seiring berjalannya waktu dan berkembangnya teknologi, fungsi, tugas maupun peran LAPAN telah diperbaharui dan disempurnakan guna mengarah kepada optimasi kedalam bidang penelitian dan teknologi kedirgantaraan serta pemanfaatannya berdasarkan keputusan presiden No. 17/2001. dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya LAPAN membentuk tiga deputi yaitu deputi pengindraan jauh, deputi sains, pengkajian dan informasi kedirgantaraan, dan deputi bidang teknologi dirgantara, lihat Gambar 2Gambar 2. Kantor Balai Pengindraan Jauh Pare Pare Sulawesi Selatan

Pada tahun 1986-1999 merupakan tahun dimana telah adanya keputusan tentang pengembangan stasiun bumi pengindraan jauh yaitu Instalasi Pengindraan Jauh Sumber Daya Alam LAPAN Parepare (IISDA Lapan Parepare). IISDA LAPAN Parepare merupakan salah satu fasilitas struktur organisasi LAPAN, LAPAN Parepare terletak dibawah pusat data pengindraan jauh. IISDA LAPAN Parepare mampu menerima data satelit Landsat TM (Thematic Mapper) dan ETM (Enhanced Thematic Mapper), satelit SPOT 1,2,dan 4 (Sysem Protoire de Observation de la Terra), satelit ERS-1 (Eart Resources Satelit-1), JERS-1 (Japanese Earth Resources Satelit-1), SAR (syntetic Aperture Radar), Satelit Modis-Aqua dan Modis Terra.Lembaga penerbangan dan antariksa nasional merupakan lembaga pemerintah non-departemen yang berkedudukan dibawah tanggung jawab bapak presiden republik indonesia. didalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya dikoordinasi oleh menteri riset dan teknologi republik indonesia.Secara garis besar LAPAN didalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dipimpin oleh kepala LAPAN yang dibawahi secara langsung oleh presiden indonesia. dalam pelaksanaan tugas LAPAN membagi dua bagian yaitu inspektorat dan sekertaris umum. adapun struktur organisasi Balai Pengindraan Jauh Pare-Pare sebagai berikut, lihat Gambar 3.

Gambar 3. Struktur Organisasi Balai pengindraan Jauh Parepare2. Visi dan Misia. VisiMenjadi stasiun bumi satelit penginder