Pengembangan Profesi Guru

download Pengembangan Profesi Guru

of 32

  • date post

    14-Nov-2015
  • Category

    Documents

  • view

    214
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Pengembangan Profesi Guru

TUGAS MANDIRIMATA KULIAH PENGEMBANGAN PROFESI

GURU PROFESIONAL DI TENGAH DUNIA PENDIDIKAN

Disusun Oleh:ASJON ABASStb. K 202 09 013

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SAINSPROGRAM PASCASARJANAUNIVERSITAS TADULAKO2010

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya, makalah ini dapat diselesaikan dalam waktu yang diharapkan. Makalah ini merupakan bagian dari kegiatan pembelajaran mata kuliah Pengembangan Profesi pada Program Studi Pendidikan Sains Program Pascasarjana Universitas Tadulako.Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai wahana latihan dalam menuangkan ide dan pikiran secara tertulis, logis, dan sistematis sesuai dengan konsep yang relevan serta untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pengembangan Profesi.Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan saran dan kritik guna perbaikan isi dan substansi dari makalah ini. Tak lupa pula penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Dr. Asep Mahpudz, M.Si. dan Bapak Dr. Samsurizal M. Suleman, M.Si. selaku Dosen Pembina Mata Kuliah dan semua pihak yang terlibat dalam penyusunan makalah ini. Semoga Allah SWT tetap memberikan petunjuk terhadap upaya yang telah dilakukan untuk peningkatan mutu pendidikan di masa yang akan datang.

Palu, Maret 2010

Penyusun

DAFTAR ISI

Halaman Sampul iKata Pengantar ...iiDaftar Isi iiiBABI PENDAHULUANA. Latar Belakang ..1B. Tujuan 2BAB IIPEMBAHASANA. Makna Kualitas Pendidikan 3B. Posisi Guru Dalam Pendidikan 4C. Masalah Pendidikan .....8D. Peluang dan Tantangan Pendidikan yang Profesional .15E. Upaya Membangun Guru yang Profesional .23BAB IIIPENUTUPA. Kesimpulan .26B. Saran 26Daftar Pustaka ..27

BAB IPENDAHULUAN

A. Latar BelakangSaat ini dunia pendidikan nasional Indonesia berada dalam situasi kritis baik dilihat dari sudut internal kepentingan pembangunan bangsa maupun secara eksternal dalam kaitan dengan kompetisi antar bangsa. Fakta menunjukkan bahwa kualitas pendidikan nasional masih rendah dan jauh ketinggalan dibandingkan dengan negara-negara lain. Berbagai kritikan tajam yang berasal dari berbagai sudut pandang terus ditujukan kepada dunia pendidikan nasional dengan berbagai alasan dan kepentingan. Bahkan ada beberapa pihak yang menuding bahwa krisis nasional sekarang ini bersumber dari pendidikan dan lebih jauh ditudingkan sebagai kesalahan guru. Benarkah ada unsur salah pada guru? Mungkin ya dan mungkin tidak tergantung dari sudut mana memandang dan menilainya. Namun yang pasti ialah bahwa kondisi guru saat ini bersumber dari pola-pola bangsa ini memperlakukan guru. Meskipun diakui guru sebagai unsur penting dalam pembangunan bangsa, namun secara ironis guru belum memperoleh penghargaan yang wajar sesuai dengan martabat serta hak-hak azasinya. Hal itu tercermin dari belum adanya jaminan kepastian dan perlindungan bagi para guru dalam pelaksanaan tugas dan perolehan hak-haknya sebagai pribadi, tenaga kependidikan, dan warga negara.Siapapun mulai dari presiden, wakil rakyat, para pejabat, dan semua warga masyarakat sangat setuju bahwa kualitas pendidikan kita harus dirtingkatkan untuk mengejar ketertinggalannya di dalam tantangan golal. Namun bagaimana upaya itu harus dilakukan secara sistemik agar dapat terwujud dengan baik. Tulisan ini akan mengemukakan satu pandangan bahwa upaya mencapai pendidikan berkualitas harus dimulai dengan guru yang berkualitas. Upaya meningkatkan kualitas pendidikan tanpa memperhitungkan guru secara nyata, hanya akan menghasilkan satu fatamorgana atau sesuatu yang semu dan tipuan belaka.Jika kita renungi masalah pembangunan pendidikan di Indonesia, sungguh mengundang kita semua untuk dapat mencermati betapa pendidikan di Indonesia baru sekedar mampu memberikan dampak langsung pendidikan yang diwujudkan dengan ijazah, tetapi belum sampai memberikan dampak pengiring pengajaran yang indikatornya adanya kemampuan daya saing sumberdaya manusia, baik untuk memenuhi kebutuhan dunia usaha maupun tuntutan dunia industry, apalagi persaingan dalam kancah percaturan dunia.Sehubungan dengan itu bahasan berikut akan menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan makna kualitas pendidikan, posisi guru dalam pendidikan, masalah dan kendala, serta upaya membangun pendidikan guru yang ideal. Bahasannya baru merupakan pikiran awal yang masih harus dikaji dan dikembangkan lebih lanjut berdasarkan kajian sumber-sumber empiris dari berbagai penelitian dan pengalaman nyata baik dalam maupun luar negeri. Dalam ketidaksempurnaan ini ibarat setitik air di tengah samudera luas, namun semoga memberi manfaat dan sumbangsih bagi kaum guru dan dunia pendidikan pada umumnya.

B. TujuanAdapun tujuan penulisan makalah ini adalah:1. Memahami makna kualitas pendidikan2. Memahami posisi guru dalam pendidikan3. Memahami masalah pendidikan4. Memahami peluang dan tantangan yang profesional5. Memahami upaya membangun pendidikan guru yang profesional

BAB IIPEMBAHASAN

A. Makna Kualitas PendidikanDalam konsep yang lebih luas, kualitas pendidikan mempunyai makna sebagai suatu kadar proses dan hasil pendidikan secara keseluruhan. Kualitas pendidikan yang menyangkut proses dan atau hasil ditetapkan sesuai dengan pendekatan dan kriteria tertentu. Proses pendidikan merupakan suatu keseluruhan aktivitas pelaksanaan pendidikan dalam berbagai dimensi baik internal maupun eksternal, baik kebijakan maupun oprasional, baik edukatif maupun manajerial, baik pada tingkatan makro (nasional), regional, institusional, maupun instruksional dan individual; baik pendidikan dalam jalur sekolah maupun luar sekolah, dsb. Dalam bahasan ini proses pendidikan yang dimaksud adalah proses pendidikan Proses pendidikan yang berkualitas ditentukan oleh berbagai faktor yang saling terkait. Kualitas pendidikan bukan terletak pada besar atau kecilnya sekolah, negeri atau swasta, kaya atau miskin, permanen atau tidak, di kota atau di desa, gratis atau membayar, fasilitas yang wah dan keren, guru sarjana atau bukan, berpakaian seragam atau tidak. Faktor-faktor yang menentukan kualitas proses pendidikan suatu sekolah adalah terletak pada unsur-unsur dinamis yang ada di dalam sekolah itu dan lingkungannya sebagai suatu kesatuan sistem. Salah satu unsurnya ialah guru sebagai pelaku terdepan dalam pelaksanaan pendidikan di tingkat institusional dan instruksional.Dalam konteks yang lebih luas, hasil pendidikan mencakup tiga jenjang yaitu: produk, efek, dan dampak. Hasil pendidikan yang berupa produk, adalah wujud hasil yang dicapai pada akhir satu proses pendidikan, misalnya akhir satu proses instruksional, akhir semester, akhir tahun ajaran, akhir jenjang pendidikan, dan sebagainya. Wujudnya dinyatakan dalam satu satuan ukuran tertentu seperti angka, grade, peringkat, indeks prestasi, yudisium, UN, dan sebagainya sebagai gambaran kualitas hasil pendidikan dalam periode tertentu. Hasil pendidikan berupa efek, adalah perubahan lebih lanjut terhadap keseluruhan kepribadian peserta didik sebagai akibat perolehan produk dari proses pendidikan (pembelajaran) dari satu periode tertentu. Perolehan produk pendidikan yang dinyatakan dalam bentuk hasil belajar seperti angka dalam rapor, dan sebagainya, seharusnya memberikan pengaruh (efek) terhadap perubahan keseluruhan perilaku/kepribadian peserta didik seperti dalam pemahaman diri, cara berfikir, sikap, nilai, dan kualitas kepribadian lainnya. Selanjutnya hasil pendidikan yang berupa dampak, adalah berupa pengaruh lebih lanjut hasil pendidikan berupa produk dan efek yang diperoleh peserta didik terhadap kondisi dan lingkungannya baik di dalam keluarga ataupun masyarakat secara keseluruhan.

B. Posisi Guru Dalam PendidikanSetiap tahun ajaran baru dimulai, guru-guru Sekolah Dasar Kelas I dengan rajin mengajari peserta didiknya untuk menguasai dan dapat membawakan Hymne Guru agar pada saat upacara dan kesempatan-kesempatan lain mereka dapat ikut menyenandungkan nyanyia itu bersama kakak-kakak kelasnya. Bila suara dan pengahayatannya bagus, di antara anak-anak tersebut mungkin ada juga yang terpilih untuk bergabung dalam kelompok paduan suara yang mewakili sekolah dalam perlombaan antar Sekolah Dasar di tingkat kecamaan. Seorang guru Sekolah Dasar mengakui, kadang-kadang ada perasaan rikuh ketika ia mengajari murid-murudnya menghafalkan lagu ini karena seakan-akan ia minta dipuji oleh para muridnya.Sejalan dengan itu, kesadaran dan kepedulian para guru, calon guru, sebagian masyarakat dan pejabat pemerintah terhadap perbaikan nasib guru serta upaya mengangkat citra dan martabat guru dirasakan semakin kuat. Kesadaran itu tumbuh melihat kenyataan bahwa imbalan yang diterima oleh para guru belum layak dibandingkan dengan beban tugas yang dipikulnya dan standar kehidupan yang sepantasnya diperoleh sesuai dengan predikatnya sebagai pendidik generasi bangsa.Dalam menjalankan tugasnya, guru tidak jarang pula mendapatkan perlakuan-perlakuan yang kurang pada tempatnya. Misalnya pemotongan gaji untuk sesuatu yang sebenarnya kurang perlu dan pengurusan kenaikan pangkat yang dipersulit oleh orang-orang tertentu di atasnya.Kalangan yang peduli itu kemudian melihat kembali lirik Hymne Guru, menyimak kata demi kata, kalimat demi kalimat, serta merenungkan makna eksplisit maupum implisitnya. Ditemukan bahwa hingga baris kedua terakhir, tidak ada masalah. Memang demikianlah guru adanya. Hanya ada saja, tidak ada masalah. Pertama, tidak ditemukan kata, kalimat, atau makna baik secara eksplisit maupun implisit yang mengarah pada kesejahteraan dan perlindungan terhadap diri dan profesinya sebagai guru sebagaimana dijamin dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Kedua, kandungan yang ditekankan di dalamnya lebih pada pengabdian dan pengorbanan para guru untuk peserta didik dan bangsanya, dan untuk itu mereka dihargai dan dijunjung tinggi. Tetapi, penghargaan itu baru penghargaan moral berupa pengakuan