PENGARUH PENERAPAN ICE BREAKINGrepository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/25459... · 2015....

of 84/84
PENGARUH PENERAPAN ICE BREAKING TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN SOSIOLOGI DI SMA DARUSSALAM CIPUTAT SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana (S.Pd) Pada Program Studi Pendidikan IPS Disusun Oleh: ALAENA SAROYA NIM : 109015000084 PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL (IPS) FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGRI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2014
  • date post

    19-Jan-2021
  • Category

    Documents

  • view

    4
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of PENGARUH PENERAPAN ICE BREAKINGrepository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/25459... · 2015....

  • PENGARUH PENERAPAN ICE BREAKING

    TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN

    SOSIOLOGI DI SMA DARUSSALAM CIPUTAT

    SKRIPSI

    Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana (S.Pd)

    Pada Program Studi Pendidikan IPS

    Disusun Oleh:

    ALAENA SAROYA

    NIM : 109015000084

    PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL (IPS)

    FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

    UNIVERSITAS ISLAM NEGRI (UIN)

    SYARIF HIDAYATULLAH

    JAKARTA

    2014

  • i

    ABSTRAK

    ALAENA SAROYA (109015000084). “Pengaruh Penerapan Ice breaking

    Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Pembelajaran Sosiologi di SMA Darussalam

    Ciputat”. Skripsi, Jakarta: Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas

    Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

    Jakarta, 2014.

    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan Ice

    breaking terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Pembelajaran Sosiologi di SMA

    Darussalam Ciputat. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Darussalam Ciputat pada

    bulan September sampai bulan Desember 2013. Metode penelitian yang

    digunakan adalah Quasi eksperimen, sampel diambil secara purposive sampling

    dan dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok

    kontrol. Instrumen penelitian yang digunakan adalah Angket Tes Pilihan ganda

    dan hasilnya diuji melalui statistik “t”. dari hasil perhitungan diperoleh nilai thitung

    sebesar 4,29 sedangkan ttabel pada taraf signifikansi 0,05 sebesar 0,325 atau thitung >

    ttabel. Maka Ha diterima dan Ho ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa

    terdapat pengaruh penerapan ice breaking terhadap hasil belajar pada

    pembelajaran Sosiologi. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan Penerapan Ice

    breaking membawa pengaruh yang signifikan terhadap hasil pembelajaran

    Sosiologi siswa.

    Kata kunci : Ice breaking, Hasil Belajar.

  • ii

    ABSTRACT

    ALAENA SAROYA (109015000084). "The influence of Application of Ice

    Breaking Against Student’s Results In Learning Sociology in Darussalam Senior

    High School". Thesis, Jakarta: Social Sciene Education Program, Faculty of

    Tarbiyah and Teaching Sciene of State Islamic University (UIN) Syarif

    Hidayatullah Jakarta, 2014.

    This study aims to determine the influence of the application of ice

    breaking on the Student’s Results In Learning Sociology in Darussalam Senior

    High School. This research was conducted at Darussalam Senior High School in

    September until December 2013. This research use Quasi experiment method,

    samples were taken by purposive sampling and divided into 2 groups: the

    experimental group and the control group. The research was using Questionnaire

    Multiple choice tests as the instrument and the results were tested by statistical

    "t". From the calculations, the tvalue is 4.29 while the t table at the significance

    level of 0.05 is 0.325 or tcount >

    ttable. It can be concluded that there are effects

    on implementing the ice-breaking against student’s results in learning sociology,

    by stating that Ha accepted or approved. This suggests that the use of Application

    of Ice breaking brings a significant effect on student learning outcomes Sociology.

    Keywords: Ice breaking, Learning Result.

  • iii

    KATA PENGANTAR

    Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas izin

    dan rahmat hidayah-Nya maka skripsi ini dapat diselesaikan. Penulisan skripsi ini

    merupakan salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Ilmu

    Pengetahuan Sosial pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam

    Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

    Disadari sepenuhnya bahwa kemampuan dan pengetahuan penulis sangat

    terbatas, maka adanya bimbingan, pengarahan dan dukungan dari berbagai pihak

    sangat membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Untuk itu penulis

    mengucapkan terima kasih, kepada yang terhormat:

    1. Ibu Dra.Nurlena Rifai, M. Pd,. Ph.D., selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah

    dan Keguruan.

    2. Bapak Dr.Iwan Purwanto, M.pd selaku Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu

    Pengetahuan Sosial.

    3. Bapak Drs. Syarifulloh M.Si selaku sekertaris jurusan IPS dan sekaligus dosen

    Pembimbing Akademik.

    4. Ibu Tri Harjawati M.Si , selaku dosen pembimbing yang selalu memberikan

    bimbingan dan pengarahan dalam penulisan skripsi ini.

    5. Seluruh dosen dan staf Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial.

    6. Bapak Marul Waid S.Ag., selaku Kepala Sekolah SMA Darussalam Ciputat

    yang telah membantu penelitian berlangsung.

    7. Bapak Ardila S.Pd dan Bu Nur Asma SE,MM selaku guru pamong tempat

    penulis melakukan skripsi.

    8. Abahku Ma’mun Bachro dan Mamahku Rohmah, serta kakakku Naely

    Farkhatin M.Kom, adikku tersayang Muhammad Nahdi Aulia Urrohman, serta

    Keluarga Besar Bapak Salim Bin Suaeb yang selalu mendukung agar skripsi

    ini dapat selesai dan doa tulus yang tiada henti.

    9. Arif setiawan, yang selalu setia menemani, membantu, mendukung dengan

    kasih sayangnya dalam pembuatan skripsi ini.

  • iv

    10. Laila Fajri Mulyani, Nur Najmi laela, Gizca dilla priyanka sahabat yang selalu

    memberikan motivasi untuk merayakan kelulusan kuliah bersama semoga

    persahabatan kita tak lekang oleh waktu.

    11. Teman- teman tercinta di Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial angkatan 2009

    dan Khususnya Keluarga CCB (Comunity Class B) yang selalu memberikan

    masukan dan dukungan, menjalani aktivitas baik suka maupun duka selama

    perkuliahan.

    12. Semua pihak yang telah memberikan bantuan, dorongan dan informasi yang

    bermanfaat bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

    Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih banyak kekurangan

    karena terbatasnya kemampuan penulis. Untuk itu kritik dan saran yang

    membangun sangat penulis harapkan.Mudah-mudahan skripsi ini dapat

    bermanfaat bagi penulis khususnya dan umumnya bagi khasanah ilmu

    pengetahuan. Amin.

    Jakarta, Januari 2014

    Penulis

    Alaena Saroya

  • v

    DAFTAR ISI

    ABSTRAK ......................................................................................................... i

    ABSTRACT ........................................................................................................ ii

    KATA PENGANTAR ....................................................................................... iii

    DAFTAR ISI ...................................................................................................... v

    DAFTAR TABEL ............................................................................................. viii

    DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... ix

    BAB I PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah ........................................................ 1

    B. Identifikasi Masalah .............................................................. 4

    C. Pembatasan Masalah ............................................................. 5

    D. Perumusan Masalah .............................................................. 5

    E. Tujuan Penelitian .................................................................. 5

    F. Manfaat Penelitian ............................................................... 5

    BAB II KAJIAN TEORI

    A. Belajar ................................................................................... 7

    1. Pengertian Belajar ........................................................... 7

    2. Tipe –Tipe Belajar........................................................... 8

    3. Pengertian Hasil Belajar .................................................. 9

    4. Faktor – faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar......... 11

    5. Strategi Penilaian Hasil Belajar ...................................... 12

    a. Penilaian Hasil Belajar Tingkat Nasional ................. 12

    b. Penilaian Hasil Belajar Tingkat Sekolah................... 13

    c. Penilaian Hasil Belajar Tingkat Kelas ...................... 13

    6. Jenis Alat Penilaian Hasil Belajar ................................... 15

    a. Pre-test ( Tes Awal ) ................................................. 15

    b. Penilaian Proses ........................................................ 16

    c. Pos-test ( Tes Akhir ) ................................................ 16

  • vi

    B. Pembelajaran aktif ................................................................. 17

    C. Ice breaking ........................................................................... 18

    1. Pengertian Ice breaking................................................... 18

    2. Macam-macam Ice breaking ........................................... 18

    3. Teknik penerapan ice breaking dalam pembelajaran ...... 19

    4. Kelebihan dan kelemahan Ice breaking .......................... 20

    D. Hasil Penelitian Yang Relavan ............................................. 20

    E. Kerangka Berfikir.................................................................. 23

    F. Hipotesis Penelitian ............................................................... 26

    BAB III METODOLOGI PENELITIAN

    A. Waktu dan Tempat Penelitian .............................................. 27

    B. Metode Penelitian ................................................................. 27

    C. Populasi dan Sampel ............................................................. 28

    D. Prosedur Penelitian ............................................................... 29

    E. Teknik Pengumpulan Data ................................................... 30

    F. Instrumen Penelitian.............................................................. 31

    G. Teknik Pengolahan Data ....................................................... 33

    H. Teknik Analisis Data Hasil Belajar ................................... 37

    I. Hipotesis Statistik ................................................................ 40

    BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

    A. Deskripsi Data ....................................................................... 41

    B. Hasil Pengolahan instrument................................................. 42

    C. Data Hasil Belajar Sosiologi Siswa ...................................... 43

    D. Uji Prasyarat Analisis Data Hasil Belajar ............................ 50

    1. Uji Normalitas ................................................................ 50

    2. Uji Homogenitas ............................................................ 51

    3. Uji Hipotesis .................................................................. 51

    4. Uji Normal Gain ............................................................. 53

    E. Pembahasan ........................................................................... 54

  • vii

    BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

    A. Kesimpulan ........................................................................... 58

    B. Saran ..................................................................................... 58

    DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 60

    LAMPIRAN

  • viii

    DAFTAR TABEL

    Tabel 3.1 Desain Penelitian ............................................................................ 27

    Tabel 3.2 Kisi-kisi instrument interaksi social ............................................... 32

    Tabel 3.3 Kriteria Indeks Korelasi ................................................................. 34

    Tabel 3.4 Kriteria Reliabilitas ........................................................................ 35

    Tabel 3.5. Indeks kesukaran ........................................................................... 36

    Tabel 3.6 Klasifikasi daya pembeda .............................................................. 37

    Tabel 4.1 Instrument ...................................................................................... 42

    Tabel 4.2 Realibilitas Instrument ................................................................... 43

    Tabel 4.3 Hasil Pretest ................................................................................... 44

    Tabel 4.4 Posttest ........................................................................................... 46

    Tabel 4.5 Rekapitulasi Ukuran Pemusatan dan Penyebaran Data Hasil

    pretest dan posttest kelas eksperimen dan kontrol ......................... 48

    Tabel 4.6 Pretest dan posttest kelas eksperimen dan kontrol ......................... 49

    Tabel 4.7 Uji Normalitas ................................................................................ 50

    Tabel 4.8 Uji Homogenitas ............................................................................ 51

    Tabel 4.9 Uji hipotesis Uji t Nilai pretest ...................................................... 52

    Tabel 4.10 Uji Hipotesis Uji-t Nilai Post-test .................................................. 53

    Tabel 4.11 Uji Normal Gain ............................................................................. 53

  • ix

    DAFTAR GAMBAR

    Bagan 2.1 Kerangka Berfikir........................................................................... 27

    Grafik 4.1 Hasil Pretest kelas Eksperimen dan control ................................... 45

    Grafik 4.2 Mean, Median, Modus, Simpangan Deviasi .................................. 45

    Grafik 4.3 Posttest kelas ekperimen dan Kontrol ............................................ 47

    Grafik 4.4 Mean, Median, Modus, Simpangan Deviasi .................................. 47

    Diagram 4.1 Hasil Pretest dan postest kelas eksperimen dan kontrol................. 50

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    Sebagaimana dengan kodrat kehidupan manusia di dunia ini, manusia

    bukan hanya makhluk biologis seperti halnya dengan hewan. Manusia adalah

    makhluk sosial dan budaya. Ada titik dimana manusia berbeda dengan

    makhluk lainnya, yakni dimana manusia bisa menggunakan akal fikiran untuk

    belajar dari hal-hal yang sebelumnnya tidak diketahui sampai mengetahuinya.

    Jelaslah kiranya, belajar sangatlah penting bagi kehidupan seorang manusia.

    Berbicara tentang belajar, “belajar merupakan suatu perubahan dalam

    tingkah laku, dimana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang

    lebih baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang

    lebih buruk.”1 Sebagai contoh perubahan yang mengarah kepada tingkah laku

    yang lebih baik, “pada Olimpiade Sains Kuark, dimana kesenangan belajar

    sains majalah komik kuark membuat Emilia Anagya, finalis dari Blora, Jawa

    Tengah, tidak jijik bermain cacing dengan teman-temannya. Mereka asyik

    menggali tanah basah di sekitar rumah untuk bisa mempelajari soal cacing

    yang bermanfaat untuk kesuburan tanah.”2 Sedangkan contoh perubahan yang

    mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk, seperti pembelajaran

    internet, bagaimana cara membuka aplikasi ke internet dan

    mengoperasikannya, sehingga tidak jarang banyak situs yang menjerumuskan

    anak ke ranah negatif (misalnya game yang bercorak tawuran, gulat, bahkan

    seks).

    Dari penjelasan di atas, kita cermati bahwa manusia dan makhluk

    hidup lain membutuhkan dunia untuk mengembangkan dan melangsungkan

    hidupnya. Dengan kegiatan belajar atau menyesuaikan diri, maka berbagai

    macam cara mereka gunakan sebagai pembelajaran diri, salah satunya

    pembelajaran yang terdapat di sekolah.

    1 Ngalim Purwanto, psikologi pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2007) h.83

    2 Kompas, senin, 8 juli, h.12

  • 2

    Dalam pembelajaran di sekolah, banyak faktor yang mempengaruhi

    keberhasilan proses pembelajaran diantaranya: guru, siswa, kurikulum,

    lingkungan belajar dan sebagainya. Belajar merupakan hal yang kompleks

    yang bisa dipandang dari dua subjek, yaitu dari siswa dan guru. Dari segi

    siswa, belajar dialami dalam satu proses yaitu mental, dimana bahan

    belajarnya berupa alam, hewan, tumbuhan, manusia, dan bahan yang telah

    terhimpun dalam buku-buku pelajaran. Dari segi guru belajar lebih ke dalam

    tahapan, menyiapkan, tahapan dimana seorang guru mengenal anak, melihat

    psikologi, mengatur pembelajaran yang sesuai untuk anak didiknya, serta

    perancangan pembelajaran yang lain. “Guru sebagai pengelola kegiatan

    belajar mengajar memiliki tugas yang tidak mudah, karena ia merupakan

    faktor yang besar pengaruhnya terhadap pencapaian kualitas pembelajaran

    yang baik”.3

    Secara umum, dalam pembelajaran terdapat beberapa kendala yang

    dapat menghambat berjalannya belajar. Misalnya, pada beberapa sekolah

    masih terdapat beberapa guru yang belum bisa menggunakan metode serta

    media yang menarik untuk belajar. Bahkan kurangnya informasi teknologi

    (komputer) dikarenakan keterbatasan sarana dan prasarana. Sehingga proses

    belajar mengajar terbilang monoton. Dari siswa sendiri, masalah secara umum

    adalah kurangnya daya konsentrasi dan motivasi siswa.

    Untuk melihat kualitas pembelajaran maka dapat diukur dari dua sisi,

    yakni proses dan hasil belajar. Proses belajar berkaitan dengan pola perilaku

    siswa dalam mempelajari bahan pelajaran. Sedangkan hasil belajar berkaitan

    dengan perubahan perilaku yang diperoleh sebagai pengaruh dari proses

    belajar. Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, dibutuhkan persiapan

    yang maksimal agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan

    diikuti dengan hasil belajar yang baik pula. 4

    Berdasarkan dari observasi awal sebelum penelitian, ditemukan

    masalah tentang proses pembelajaran pada mata pelajaran Sosiologi yaitu,

    3 W.S Winkel, psikologi pengajaran, (Bandung: PT Rosda karya, 2007) h.53

    4 Wina Sanjaya, penelitian tindakan kelas, (Jakarta: Kencana, 2010) H.2.

  • 3

    siswa-siswa masih banyak mengobrol pada saat pembelajaran sehingga

    menyebabkan kurangnya konsentrasi siswa terhadap mata pelajaran tersebut,

    kurang variatifnya guru dalam menyampaikan materi sehingga siswa bosan

    dan cenderung mengantuk dikelas, keterbatasan sarana dan prasarana (tidak

    ada buku paket) sehingga siswa tidak bisa mengembangkan materi dari buku

    paket, karena hanya terbatas dari LKS. Sedangkan masalah yang berhubungan

    dengan hasil belajar, ditemukan masih adanya nilai siswa dibawah nilai KKM

    yang sudah ditetapkan.

    Dari kedua subjek yang mendukung proses dan hasil belajar itulah, ada

    beberapa faktor yang mungkin bisa dilakukan dalam implementasinya. Secara

    umum, seorang guru memiliki kreativitas dalam mengembangkan profesinya

    melalui empat kompetensinya, yaitu, pedagodik, professional, kepribadian,

    dan social. Contohnya:

    1. Kompetensi pedagogik, seorang guru harus bisa mengembangkan

    ilmunya. Tahu bagaimana cara mengajar yang baik dan mengetahui apa

    yang harus dilakukan sebagai seorang pengaja.

    2. Kompetensi profesional, seorang guru harus bisa menempatkan diri,

    dimana dia sedang mengajar, belajar, dan berinteraks.

    3. Kompetensi kepribadian, seorang guru yang baik, harus berkepribadian

    yang baik juga, karena guru yang baik akan ditiru kebaikannya, melalui

    ucapan, perilaku, bahkan penerapan sehari-hari dalam beraktifita.

    4. Kompetensi sosial, seorang guru, untuk mengetahui lebih dalam

    bagaimana seorang murid, sekolah atau yang lainnya, perlu adanya

    interaksi terhadap murid, orang tua, bahkan lingkungan setempat.5

    Dengan demikian, seorang guru harus menjadi motivasi bagi diri dan

    peserta didiknya dengan memberikan suguhan model dan materi pembelajaran

    secara aktif, salah satunya dengan menerapkan model pembelajaran ice

    breaking di dalam pembelajaran.

    Ice breaking merupakan permainan atau kegiatan yang sederhana,

    ringan dan ringkas yang berfungsi untuk mengubah suasana kebekuan,

    5 Ardilla S.Pd, guru Sosiologi SMA Darussalam Ciputat

  • 4

    kekakuan, rasa bosan atau mengantuk dalam pembelajaran. Sehingga bisa

    membangun suasana belajar yang dinamis penuh semangat dan antusias yang

    dapat menciptakan suasana balajar yang menyenangkan, serius, tapi santai.

    “Dengan demikian, disinilah peran ice breaking sangat diperlukan untuk

    menghilangkan situasi yang membosankan bagi pengajar dan siswa, serta

    kembali segar dan menyenangkan.”6

    Adapun kelebihan ice breaking adalah “membuat waktu panjang terasa

    cepat, membawa dampak menyenangkan dalam pembelajaran, dapat

    digunakan secara sepontan atau terkonsep, membuat suasana kompak dan

    menyatu.”7

    Dalam melakukan ice breaking, guru memerlukan panduan-panduan

    atau cara untuk menjalankannya agar ice breaking berjalan optimal yang

    hasilnya juga akan dirasakan oleh guru dan siswa. Salah satunya dengan cara

    mengingat panduan atau cara yang sudah di siapkan terlebih dahulu, agar tidak

    lupa dan tersalurkan kepada tujuannya, yaitu siswa didik.

    Berdasarkan latar belakang masalah, maka penulis tertarik untuk

    meneliti dan membahas skripsi dengan judul “ Pengaruh Penerapan Ice

    breaking Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Pembelajaran Sosiologi

    SMA Darussalam Ciputat”.

    B. Identifikasi Masalah

    Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka dapat di

    identifikasikan beberapa permasalahan yang ada, diantaranya:

    1. Masih ada beberapa guru belum bisa menggunakan model serta media

    yang menarik.

    2. Proses belajar mengajar monoton.

    3. Keterbatasan sarana dan prasarana

    4. Kurangnya daya konsentrasi dan motivasi siswa

    5. Siswa masih banyak mengobrol

    6 Sunarto, icebreaker dalam pembelajaran aktif, (Surakarta: Cakrawala media, 2012). H. 3

    7 Sunarto, icebreaker dalam pembelajaran aktif, (Surakarta: Cakrawala media, 2012).

    H.118

  • 5

    6. Kurang variatifnya guru dalam menyampaikan materi

    7. Siswa bosan dan cenderung mengantuk didalam kelas

    8. Masih ada nilai siswa dibawah KKM.

    C. Pembatasan masalah

    Dari uraian identifikasi masalah yang telah disebutkan, maka penulis

    membatasi masalah yang akan diteliti agar tidak melebar kepada masalah yang

    lain dan mengingat keterbatasan waktu penelitian. Agar pembatasan masalah

    lebih terarah dan tidak menimpang dari judul penelitian, maka peneliti

    membatasi permasalahan pada:

    1. Masih ada beberapa guru belum bisa menggunakan model serta media

    yang menarik.

    2. Masih ada nilai siswa dibawah KKM.

    D. Perumusan Masalah

    Perumusan masalah pada penelitian ini adalah: “ Bagaimana pengaruh

    penerapan ice breaking terhadap hasil belajar siswa pada pembelajaran

    sosiologi di SMA Darussalam Ciputat”.

    E. Tujuan Penelitian

    Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana

    pengaruh penerapan ice breaking terhadap hasil belajar siswa pada

    pembelajaran sosiologi di SMA Darussalam Ciputat.

    F. Manfaat penelitian

    Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi semua pihak

    yang terlibat baik dunia pendidikan, guru, siswa, peneliti, maupun peneliti

    lain.

    1. Bagi Dunia Pendidikan

    Penelitian ini diharapkan menumbuhkan kreativitas dan

    profesionalisme dan menumbuh-kembangkan budaya social di lingkungan

  • 6

    sekolah untuk proaktif dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan/

    pembelajaran secara berkelanjutan.

    2. Bagi Guru

    Diharapakan bagi semua guru harap tidak monoton penggunaan

    model dalam pembelajaran, perlu wawasan yang terbaru untuk mengatasi

    atau menyiasati kejenuhan di kelas, sehingga siswa semangat dan gembira

    dalam belajar.

    3. Bagi siswa

    Bagi siswa sendiri, diperlukan tuangan ide dari murid-murid untuk

    lebih mengembangkan atau menciptakan ice breaking dalam

    pembelajaran, baik pembelajaran intern maupun ekstern.

    4. Bagi peneliti

    Selesainya penelitian bukan berarti selesainya kreativitas peneliti,

    anggaplah penelitian dan hasil penelitian yang di dapat merupakan awal

    mula seorang guru memulai kreativitasnya.

    5. Bagi peneliti lain

    Penelitian yang peneliti lakukan masih kurang sempurna, bagi peneliti lain

    alangkah baiknya mengembangkan kreatifitasnya tiada henti dan menarik

    untuk di teliti.

  • 7

    BAB II

    KAJIAN TEORI

    A. Belajar

    1. Pengertian Belajar

    Menurut Bambang Warsita, Belajar merupakan kewajiban bagi

    setiap manusia, karena sebagai makhluk sosial dan berbudaya memerlukan

    perkembangan yang baik antara dirinya dan lingkungannya. Sehingga

    dengan belajar manusia dapat mengembangkan dirinya.1

    Menurut Wina sanjaya, “Belajar adalah proses berfikir. Belajar

    berfikir menekankan kepada proses mencari dan menemukan pengetahuan

    melalui interaksi antara individu dengan lingkungan.”2 Belajar atau yang

    disebut dengan learning adalah perubahan yang secara relatif berlangsung

    lama pada perilaku yang diperoleh dari pengalaman-pengalaman.

    Pendapat Zikri, “Belajar adalah proses peubahan dari belum

    mampu menjadi sudah mampu, terjadi dalam jangka waktu tertentu.”3 Dan

    menurut Ngalim Purwanto, “Belajar merupakan suatu perubahan dalam

    tingkah laku, dimana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku

    yang lebih baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah kapada tingkah

    laku yang leih buruk.”4

    Dari beberapa pengertian mengenai belajar di atas dapat

    disimpulkan bahwa belajar memiliki arti proses untuk mendapatkan

    pengetahuan yang berhubungan dengan perubahan, yang meliputi tingkah

    laku maupun perubahan pada beberapa aspek dari kepribadian individu,

    seperti kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian atau suatu pengertian.

    1 Bambang Warsito, Teknologi pembelajaran landasan dan aplikasinya, (Jakarta:Rineka

    Cipta, 2008). h.6 2 Wina Sanjaya, Strategi pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan, (Jakarta:

    Kencana, 2010). h.107 3 Zikri Neni Iska, Psikologi pengantar pemahaman diri dan lingkungan. (Jakarta: Kizi

    Brother, 2006). h. 82 4 Ngalim Purwanto, Psikologi pendidikan, (Bandung: PT. Rosdakarya, 2007) h. 85

  • 8

    2. Tipe –Tipe Belajar

    Menurut Gagne, sebagai suatu proses ada delapan tipe perbuatan

    belajar dari mulai perbuatan belajar yang sederhana sampai perbuatan

    belajar yang kompleks.

    a. Belajar signal. Bentuk belajar ini paling sederhana, yaitu memberikan

    reaksi tehadap perangsang, misalnya reaksi jantung kita berdebar

    ketika mendengar suara gemuruh guntur.

    b. Belajar mereaksi perangsang melalui penguatan, yaitu memberikan

    reaksi yang berulang – ulang manakala terjadi reinforcement atau

    penguatan.

    c. Belajar membentuk rangkaian, yaitu belajar menghubung – hubungkan

    gejala atau faktor yang satu dengan yang lain sehingga menjadi satu

    kesatuan (rangkaian) yang berarti.

    d. Belajar asosial verbal, yaitu memberikan reaksi dalam bentuk kata –

    kata, bahasa terhadap persangsang yang diterimanya.

    e. Belajar membedakan hal yang majemuk, yaitu memberikan reaksi

    yang berbeda terhadap perangasang yang diterimanya.

    f. Belajar konsep, yaitu menempatkan objek menjadi satu klasifikasi

    tertentu. Kemampuan konsep berhubungan dengan kemampuan

    menjelaskan sesuatu berdasarkan atribut yang dimilikinya.

    g. Belajar kaidah atau belajar prinsip, yaitu menghubung – hubungkan

    beberapa konsep.

    h. Belajar memecahkan masalah, yaitu menggabungkan beberapa kaidah

    atau prinsip untuk memecahakan persoalan.5

    Kedelapan tipe di atas tersusun secara hirearki, yang memberi

    petunjuk bagaimana perbuatan belajar itu dilakukan, atau bagaimana

    terjadinya perbuatan belajar. Bukan petunjuk mengenai hasil belajar yang

    harus dicapai siswa.

    5 Wina Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: Kencana, 2010) h.232

  • 9

    3. Pengertian Hasil Belajar

    Hasil belajar adalah seluruh kecakapan yang dicapai melalui proses

    belajar di sekolah yang dinyatakan dengan nilai atau angka berdasarkan tes

    hasil belajar, dalam hal ini daftar nilai siswa semesteran merupakan salah

    satu bentuk laporan prestasi hasil belajar yang dinyatakan dalam bentuk

    angka atau nilai.

    Menurut Mulyasa, bahwa: “hasil belajar merupakan prestasi

    peserta didik secara keseluruhan yang menjadi indikator kompetensi dasar

    dan derajat perubahan perilaku yang bersangkutan.”6 Pada hakekatnya

    hasil belajar merupakan perubahan terhadap hasil yang sudah tercapai.

    Pengajaran dikatakan berhasil apabila pada proses dalam pembelajaran

    terdapat perubahan-perubahan pada siswa akibat dari hasil belajar.

    Menurut Nana Sudjana, bahwa: “penilaian hasil belajar adalah

    proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai siswa

    dengan kriteria tertentu. Hal ini mengisyaratkan bahwa objek yang

    dinilainya adalah hasil belajar siswa. Hasil belajar siswa pada hakikatnya

    adalah perubahan tingkah laku mencakup bidang kognitif, afektif dan

    psikomotorik.”7

    Menurut Gagne, : ada lima jenis atau lima tipe, hasil belajar yakni:

    a. Belajar kemahiran intelektual (kognitif )

    Yaitu belajar membedakan atau diskriminasi, belajar konsep, dan

    belajar kaidah.

    b. Belajar informal verbal

    Belajar menyerap atau mendapatkan, menyimpan dan

    mengomunikasikan berbagai informasi dari berbagai sumber.

    c. Belajar mengatur kegiatan intelektual

    Belajar untuk memecahkan masalah dengan memanfaatkan konsep dan

    kaidah yang telah dimilikinya.

    6 Mulyasa, Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Kemandirian Guru dan

    Kepala Sekolah, (Jakarta : Bumi Aksara, 2009 ), h.212 7 Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung : PT Remaja

    Rosdakarya, 2012), h.3

  • 10

    d. Belajar sikap

    Yaitu kesiapan dan kesediaan seseorang untuk menerima atau menolak

    suatu objek berdasarkan penilaian terhadap objek itu, apakah berarti

    atau tidak bagi dirinya.

    e. Belajar keterampilan motorik

    yaitu berhubungan dengan kesanggupan atau kemampuan seseorang

    dalam menggunakan anggota badan, sehingga memiliki rangkaian

    gerakan yang teratur, luwes, tepat, cepat, dan lancar. 8

    Penilaian hasil belajar pada dasarnya adalah mempermasalahkan,

    bagaimana pengajar (guru) dapat mengetahui hasil pembelajaran yang

    telah dilakukan. “Pengajar harus mengetahui sejauh mana pembelajar

    (learner) telah mengerti bahan yang telah diajarkan atau sejauh mana

    tujuan atau kompetensi dari kegiatan pembelajaran yang dikelola dapat

    dicapai.”9

    Menurut Bloom hasil belajar merupakan perubahan tingkah laku

    yang didapat setelah proses belajar. Klasifikasi hasil belajar secara garis

    besar terdiri dari :

    a. Domain Kognitif, proses pengetahuan yang lebih banyak didasarkan

    perkembangannya dari persepsi, intropeksi atau memori siswa. Tujuan

    kognitif, dibedakan menjadi enam tingkatan yaitu : pengetahuan,

    pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, evaluasi.

    b. Domain Afektif, proses pengetahuam yang lebih banyak didasarkan

    pada pengembangan aspek – aspek perasaan dan emosi. Tujuan

    kognitif, dibedakan menjadi lima tingkatan yaitu : menerima,

    menjawab, menilai, mengorganisasi, mengkarakterisasi atas dasar nilai

    kompleks.

    c. Domain Psikomotorik, pengetahuam yang lebih banyak didasarkan

    pada pengembangan proses mental melalui aspek – aspek otot dan

    membentuk keterampilan siswa. Tujuan kognitif, dibedakan menjadi

    8 Wina Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: kencana, 2010). h.233 - 234

    9 Ahmad Sofyan, Tonih Feronika, dan Burhanudi Milama, Evaluasi Pembelajaran IPA

    Berbasis Kompetensi, (Ciputat : UIN Jakarta Press, 2006), h.4

  • 11

    tujuh tingkatan yaitu : persiapan, penetapan, reaksi atas dasar arahan,

    mekanisme, reaksi terbuka dengan kesulitan kompleks, adaptasi, asli.10

    Dengan beberapa pendapat di atas mengenai pengertian hasil

    belajar dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah hasil yang di dapat

    oleh siswa setelah mengalami proses pembelajaran dengan adanya

    perubahan kepandaian, kecakapan atau kemampuan, dan tingkah laku pada

    diri siswa.

    4. Faktor – faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

    Secara global, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa

    dapat dibedakan menjadi tiga macam, yakni :

    a. Faktor Internal (faktor dari dalam siswa), yakni keadaan/kondisi

    jasmani dan rohani siswa. Faktor yang berasal dari dalam siswa

    meliputi dua aspek, yakni aspek fisologis (yang bersifat jasmaniah)

    dan aspek psikologis (yang bersifat rohaniah).

    b. Faktor Eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan di

    sekitar siswa. Faktor eksternal terdiri atas dua macam, yakni : faktor

    lingkungan sosial dan faktor lingkungan nonsosial. Lingkungan sosial

    yaitu orang tua dan keluarga siswa itu sendiri. Sifat-sifat orang tua,

    praktik pengelolaan keluarga, dan demografi keluarga (letak rumah),

    dapat memberi dampak baik ataupun buruk terhadap kegiatan belajar

    dan prestasi yang dicapai oleh siswa. Faktor yang termasuk lingkungan

    nonsosial ialah gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal

    keluarga siswa dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca, dan

    waktu belajar yang digunakan siswa.

    c. Faktor pendekatan belajar, yakni jenis upaya belajar siswa yang

    meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan

    kegiatan mempelajari materi-materi pelajaran.11

    10

    Sukardi, Evaluasi Pendidikan Prinsip dan Operasionalnya, (Jakarta : Bumi aksara,

    2009), h.75-77 11

    Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta : PT.Raja Grafindo Persada, 2005), cet.4,

    h.144.

  • 12

    Menurut Darsono, Nana Syaodih mengelompokan faktor-faktor

    yang mempengaruhi keberhasilan belajar seseorang ke dalam dua

    kelompok besar yaitu faktor dalam diri individu, dan faktor lingkungan.

    Faktor dalam diri individu meliputi faktor jasmaniah (termasuk kedalam

    faktor ini yaitu: kesehatan badan serta kondisi kesehatan panca indra) dan

    faktor psikis atau rohaniah (termasuk kedalam faktor ini yaitu kondisi

    kesehatan psikis, kemampuan-kemampuan intelektual, sosial, psikomotor

    serta kondisi efektif dan kognitif dari individu). “Faktor lingkungan

    meliputi kondisi lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan

    masyarakat.”12

    Jika kita cermati bersama, dari kedua pendapat tersebut sebenarnya

    terdapat kesamaan. Walaupun pada pendapat yang ke-tiga ada sedikit

    perbedaan di mana ia mengelompokannya kedalam tiga faktor, namun

    pada dasarnya terdapat dua faktor yang mempengaruhi prestasi belajar

    yaitu:

    a. Faktor Internal, meliputi kesehatan fisik dan psikologis, motivasi, usia,

    jenis kelamin, pengalaman, serta kapasitas mental.

    b. Faktor Ekternal, meliputi lingkungan keluarga seperti suasana rumah

    serta motivasi belajar yang diberikan keluarga, lingkungan sekolah

    meliputi suasana belajar di kelas, guru, kurikulum dan ketersediaan

    berbagai fasilitas belajar, lingkungan masyarakat meliputi suasana

    lingkungan tempat tinggal, teman bermain dan lingkungan sebagainya.

    5. Strategi Penilaian Hasil Belajar

    a. Penilaian Hasil Belajar Tingkat Nasional

    Menurut Mulyasa, bahwa: “Penilaian hasil belajar tingkat

    nasional dilakukan oleh pemerintah melalui pencapaian kompetensi

    lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu dalam kelompok

    mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi, dan dilakukan dalam

    bentuk salah satunya dengan ujian nasional. Ujian Nasional dilakukan

    12

    Nana Syaodih , Landasan Psikologi Proses Pendidikan, (Bandung: Rosdakarya, 2003),

    h.162 - 165

  • 13

    secara objektif, berkeadilan dan akuntabel, serta diadakan sekurang

    kurangnya satu kali dan sebanyak banyaknya dua kali dalam satu tahun

    pelajaran (SNP).”13

    b. Penilaian Hasil Belajar Tingkat Sekolah

    Menurut Mulyasa, bahwa :”Penilaian hasil belajar tingkat

    sekolah atau satuan pendidikan bertujuan menilai pencapaian

    standar kompetensi lulusan untuk semua mata pelajaran. Penilaian

    hasil belajar tingkat sekolah atau satuan pendidikan identik dengan

    Ujian Berbasis Sekolah (UBS) atau School Based Exam (SBE),

    yang sering juga disebut EBTA. Pelaksanaan ini dapat dilakukan

    pada setiap akhir jenjang sekolah untuk mendapatkan gambaran

    secara utuh dan menyeluruh mengenai ketuntasan belajar peserta

    didik dalam satuan waktu tertentu dan keberhasilan sekolah secara

    keseluruhan. Hasil UBS atau SBE dapat juga digunakan untuk

    sertifikasi, menilai kinerja, dan menentukan hasil belajar yang

    dicantumkan dalam Surat Tanda Tamat Belajar.”14

    Dalam pelaksanaanya, penilaian hasil belajar oleh satuan

    pendidikan mencakup pula tes kemampuan dasar dan benchmarking.

    Tes kemampuan dasar dilakukan untuk mengetahui kompetensi dasar

    peserta didik, terutama dalam membaca, menulis, dan berhitung yang

    diperlukan dalam rangka memperbaiki program pembelajaran

    (program remedial). Materi tes kemampuan dasar dikembangkan dan

    diperluas cakupannya oleh guru sesuai dengan keperluan sekolah

    masing-masing.

    c. Penilaian Hasil Belajar Tingkat Kelas

    Menurut Mulyasa, bahwa: “Penilaian hasil belajar tingkat kelas

    adalah penilaian yang dilakukan oleh guru atau pendidik secara

    langsung. Penilaian hasil belajar pada hakikatnya merupakan suatu

    kegiatan untuk mengukur perubahan perilaku yang telah terjadi pada

    diri peserta didik.”15

    13

    Mulyasa, Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Kemandirian Guru dan

    Kepala Sekolah, h.203 14

    Mulyasa, Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Kemandirian Guru dan

    Kepala Sekolah, h.207 15

    Mulyasa, Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Kemandirian Guru dan

    Kepala Sekolah, h.208

  • 14

    Penilaian hasil belajar oleh pendidik dapat dilakukan terhadap

    program proses, dan hasil belajar. Penilaian program bertujuan untuk

    menilai efektifitas program yang dilaksanakan: penilaian proses

    bertujuan untuk mengetahui aktivitas dan partisipasi peserta didik

    dalam pembelajaran: sedangkan penilaian hasil bertujuan untuk

    mengetahui hasil belajar atau pembentukan kompetensi peserta didik.

    Seluruh penilaian ini dilakukan oleh guru untuk mengetahui kemajuan

    dan hasil belajar peserta didik, mendiagnosis kesulitan belajar,

    memberikan umpan balik untuk memperbaiki proses pembelajaran,

    dan menentukan kenaikan kelas bagi setiap peserta didik.

    Menurut Mulyasa, bahwa: “Penilaian kelas dilakukan dengan

    ulangan harian, ulangan umum, dan ujian akhir. Ulangan harian

    dilakukan setiap selesai proses pembelajaran dalam kompetensi dasar

    tertentu. Ulangan umum dilaksanakan secara bersama untuk kelas

    kelas paralel, dan pada umumnya dilakukan ulangan umum bersama,

    dan baik tingkat rayon, Kecamatan, Kota Madya atau Kabupaten

    maupun Provinsi. Ujian akhir dilakukan pada akhir program

    pendidikan. Bahan bahan yang diujikan meliputi seluruh kompetensi

    dasar yang telah diberikan, dengan penekanan pada kompetensi dasar

    yang dibahas pada kelas kelas tinggi.”16

    Hasil belajar merupakan kesuksesan peserta didik yang

    menggunakan indikator kompetensi dasar serta perubahan perilaku

    yang dapat terlihat. Pada dasarnya di sekolah terdapat standar

    kompetensi tantangan hasil belajar dengan menggunanakan raport. Di

    situlah penilaian hasil belajar dari aspek yang ada dalam ranah afektif

    dan ranah kognitif. Seharusnya dalam standar kompetensi perlu

    ditambahankan adanya observasi dan penelitian langsung untuk

    menambah penguatan akan adanya perubahan perilaku yang

    didapatkan.

    16

    Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( Bandung : PT Remaja Rosdakarya,

    2007), h.258-259

  • 15

    6. Jenis Alat Penilaian Hasil Belajar

    Penilaian pembelajaran pada umumnya mencakup pre-tes,

    penilaian proses dan post-tes. Ketiga hal tersebut dijelaskan berikut ini :

    a. Pre-test ( Tes Awal )

    Pada umumnya pelaksanaan proses pembelajaran dimulai

    dengan pre tes. Pre tes ini memiliki banyak kegunaan dalam menjajagi

    proses pembelajaran yang akan dilaksanakan. Oleh karena itu, pre-test

    memegang peranan yang cukup penting dalam proses pembelajaran,.

    Fungsi pre-test ini antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut :

    1) Untuk menyiapkan peserta didik dalam proses belajar, karena

    dengan pre tes maka pikiran mereka akan terfokus pada soal-soal

    yang harus mereka jawab atau kerjakan.

    2) Untuk mengetahui tingkat kemajuan peserta didik sehubungan

    dengan proses pembelajaran yang dilakukan. Hal ini dapat

    dilakukan dengan membandingkan hasil pre-tes dengan post-tes.

    3) Untuk mengetahui kemampuan awal yang telah dimiliki peserta

    didik mengenai bahan ajaran yang akan dijadikan topik dalam

    proses pembelajaran.

    4) Untuk mengetahui dari mana seharusnya proses pembelajaran

    dimulai, tujuan tujuan mana yang telah dikuasai peserta didik, dan

    tujuan tujuan mana yang perlu mendapat penekanan dan perhatian

    khusus.17

    Untuk mencapai fungsi yang ketiga dan keempat maka hasil

    pre-tes harus segera diperiksa, sebelum pelaksanaan proses

    pembelajaran inti dilaksanakan (sebelum peserta didik mempelajari

    modul). Pemeriksaan ini harus dilakukan secara cepat dan cermat,

    jangan sampai mengganggu suasana belajar dan jangan sampai

    mengalihkan perhatian peserta didik. Untuk itu, pada waktu memeriksa

    pre tes perlu diberikan kegiatan lain, misalnya membaca hand out, atau

    17

    Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2007),

    h.257

  • 16

    buku tes. Dalam hal ini pre tes sebaiknya dilakukan secara tertulis,

    meskipun bisa saja dilaksanakan secara lisan atau perbuatan.

    b. Penilaian Proses

    Penilaian proses dimaksudkan untuk menilai kualitas

    pembelajaran dan pembentukan kompetensi dasar pada peserta didik,

    termasuk bagaimana tujuan-tujuan belajar direalisasikan. Kualitas

    pembelajaran dapat dilihat dari segi proses dan dari segi hasil. Dari

    segi proses, pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila

    seluruhnya atau setidaknya sebagian besar (75%) peserta didik terlibat

    secara aktif, baik fisik, mental maupun sosial dalam proses

    pembelajaran, di samping menunjukkan kegairahan belajar yang

    tinggi, semangat belajar yang besar, dan rasa percaya diri sendiri.

    Sedangkan dari segi hasil, proses pembelajaran dikatakan berhasil

    apabila terjadi perubahan perilaku yang positif pada diri peserta didik

    seluruhnya atau setidaknya sebagian besar (75%). Lebih lanjut, “proses

    pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila masukan

    merata, menghasilkan output yang banyak dan bermutu tinggi, serta

    sesuai dengan kebutuhan, perkembangan masyarakat dan

    pembangunan.”18

    c. Post-test ( Tes Akhir )

    Pada umumnya pelaksanaan pembelajaran diakhiri dengan post

    tes. Sama halnya dengan pre-test, post-test juga memiliki banyak

    kegunaan, terutama dalam melihat keberhasilan pembelajaran. Fungsi

    post tes antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut :

    1) Untuk mengetahui tingkat penguasaan peserta didik terhadap

    kompetensi dasar yang telah ditentukan, baik secara individu

    maupun kelompok. Hal ini dapat diketahui dengan

    membandingkan antara hasil pre-test dan post-test.

    18

    Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( Bandung : PT Remaja Rosdakarya,

    2007), h.258-259

  • 17

    2) Untuk mengetahui kompetensi dasar dan tujuan yang dapat

    dikuasai oleh peserta didik, serta kompetensi dasar dan tujuan yang

    belum dikuasainya. Sehubungan dengan kompetensi dasar dan

    tujuan yang belum dikuasai ini, apabila sebagian besar belum

    menguasainya maka perlu dilakukan pembelajaran kembali

    (remedial teaching).

    3) Untuk mengetahui peserta didik yang perlu mengikuti kegiatan

    remedial dan yang perlu mengikuti kegiatan pengayaan, serta

    untuk mengetahui tingkat kesulitan dalam mengerjakan modul

    (kesulitan belajar).

    4) Sebagai bahan acuan untuk melakukan perbaikan terhadap

    komponen komponen pembelajaran (modul) dan proses

    pembelajaran yang telah dilaksanakan, baik terhadap perencanaan,

    pelaksanaan, maupun penilaian.19

    B. Pembelajaran aktif

    Dalam proses pembelajaran ada beberapa model pembelajaran, salah

    satunya model yang ada yaitu model pembelajaran aktif. Pada pendekatan

    belajar siswa aktif sebenarnya sudah sejak lama dikembangkan. Konsep ini di

    dasari pada keyakinan bahwa hakekat belajar adalah proses membangun

    makna atau pemahaman, oleh si pembelajar, terhadap pengalaman dan

    informasi yang disaring dengan persepsi, pikiran (pengetahuan yang dimiliki)

    dan perasaaanya. Dengan demikian siswalah yang harus aktif dalam mencari

    informasi, pengalaman dan keterampilan dalam rangka membangun sebuah

    makna dari hasil proses pembelajaran.

    Pembelajaran aktif (active learning) yaitu pembalajaran yang lebih

    berpusat kepada siswa dari pada berpusat kepada guru. Belajar aktif adalah

    mempelajari dengan cepat, menyenangkan, penuh semangat dan keterlibatan

    19

    Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2007),

    h.260

  • 18

    secara pribadi untuk mempelajari sesuatu dengan baik, harus mendengar,

    melihat, menjawab pertanyaan, dan mendiskusikannya dengan orang lain.

    Pembelajaran aktif adalah suatu istilah yang memayungi beberapa

    model pembelajaran yang memfokuskan tanggung jawab proses pembelajaran

    pada si pelajar.

    Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa active learning

    adalah suatu pendekatan pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada

    siswa untuk berperan lebih aktif dalam proses pembelajaran (mencari

    informasi, mengolah informasi, dan menyimpulkannya untuk kemudian di

    terapkan atau di praktekkan) dengan menyediakan lingkungan belajar yang

    membuat siswa tidak tertekan dan senang melaksanakan kegiatan belajar.

    C. Ice breaking

    1. Pengertian Ice breaking

    Ice breaking merupakan “permainan atau kegiatan yang berfungsi

    untuk mengubah suasana kebekuan dalam kelompok.”20

    Ice breaking

    adalah “peralihan situasi dari yang membosankan, membuat mengantuk,

    menjenuhkan, dan tegang menjadi rileks, bersemangat, tidak membuat

    mengantuk, serta ada perhatian dan ada rasa senang untuk mendengarkan

    atau melihat orang yang berbicara di depan kelas atau ruangan

    pertemuan.”21

    Berdasarkan beberapa pendapat di atas, Ice breaking dapat

    diartikan sebagai pemecah situasi kebekuan fikiran atau fisik siswa. Ice

    breaking juga dimaksudkan untuk membangun suasana belajar yang

    dinamis, penuh semangat, dan antusiasme. Hal ini Ice breaking adalah

    menciptakan suasana belajar yang menyenangkan (fun) serta serius tapi

    santai.

    2. Macam-macam Ice breaking

    20

    Sunarto, icebreaker dalam pembelajaran aktif. (Surakarta : cakrawala Media, 2012).

    h.2 21

    Adi Soenarno, icebraker permainan atraktif-edukatif untuk pelatihan menejemen

    (Yogyakarta: Andi Offset,2005). h.1

  • 19

    a. Ice breaking jenis Tepuk Tangan

    Contoh : Ice breaking jenis tepuk tangan:

    Pegang kepala > dibalas dengan tepuk tiga kali

    Pegang hidung > dibalas dengan tepuk dua kali

    Pegang mata > dibalas dengan tepuk satu kali

    Pegang mulut > dibalas dengan tepuk tangan tanpa henti

    b. Ice breaking jenis Lagu-Lagu

    Contoh : Ice breaking jenis lagu

    I live alone away antusiastic fuh....

    I live alone away antusiastic fuh....

    I live alone away

    Away alone i live

    I live alone away antusiastic fuh....

    c. Ice breaking Audio Visual

    perlu kita ketahui terlebih dahulu tentang pengertian” Audio Visual

    yaitu media instruksional modern yang sesuai dengan perkembangan

    zaman, (kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi), meliputimedia

    yang dapat dilihat dan di dengar.”22

    Contoh : Pemutaran video motivasi 23

    3. Teknik penerapan ice breaking dalam pembelajaran

    Teknik penggunakan ice breaking ada dua cara :

    a. Teknik spontan dalam situasi pembelajaran

    Ice breaking digunakan secara spontan dalam proses

    pembelajaran biasanya digunakan karena situasi pembelajaran

    biasanya digunakan tanpa rencana tetapi lebih banyak digunakan

    karena situasi pembelajaran yang ada pada saat itu butuh penyemangat

    agar pembelajaran dapat fokus kembali. Ice breaking yang demikian

    bisa digunakan kapan saja melihat dituasi dan kondisi yang terjadi

    pada saat pembelajaran berlangsung.

    22

    Rohani, Pengertian media pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipt :1997) h. 97-98 23

    M said, 80+ Ice breaker games kumpulan permainan penggugah semangat

    ,(Yogyakarta :Andi offset,2010)

  • 20

    b. Teknik direncanakan dalam situasi pembelajaran

    Ice breaking yang baik dan efektif membantu proses

    pembelajaran adalah ice breaking yang direncanakan dan dimasukan

    dalam rencana pembelajaran. “Ice breaking yang direncanakan dan

    dimasukan dalam renacana pembelajaran dapat mengoptimalkan

    pencapaian tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.”24

    4. Kelebihan dan kelemahan Ice breaking

    Dalam model pembelajaran pasti ada yang namanya kekurangan

    dan kelebihannya masing-masing, termasuk ice breaking ini.

    Kelebihan dari ice breaking:

    a. Membuat waktu panjang terasa cepat.

    b. Membawa dampak menyenangkan dalam pembelajaran.

    c. Dapat digunakan secara sepontan atau terkonsep.

    d. Membuat suasana kompak dan menyatu.

    Sedangkan kelemahan ice breaking: Penerapan disesuaikan dengan

    kondisi ditempat masing-masing.25

    D. Hasil Penelitian Yang Relavan

    1. Hasil Penelitian Ririn Ayu Wulandari dengan judul “ pengaruh

    penggunaan teknik pembelajaran ice breaker terhadap kemampuan

    menulis pantun siswa kelas VII SMP Swasta Pahlawan Sukaramai. Tahun

    pelajaran 2012-2013. Untuk penelitian tersebut data diambil dari 68

    sampel yang berasal dari 128 populasi. Metode yang digunakan dalam

    penelitian ini adalah metode eksperimen dengan desain Two Group

    Posttest Desain. Instrumen yang digunakan adalah tes menulis pantun

    dalam bentuk tes esai.

    Dari perhitungan uji hipotesis diperoleh to = 5,02 yang dikonsultasikan

    dengan tabel t pada taraf signifikan 5% dan 1% dengan df = (N1+N2) – 2

    24

    Sunarto, icebreaker dalam pembelajaran aktif. (Surakata: Cakrawala Media, 2012). h.

    107 25

    Sunarto, icebreaker dalam pembelajaran aktif. (Surakata: Cakrawala Media, 2012). h.

    106

  • 21

    = (34 +34) – 2 = 66. Pada tabel t dengan df 66 diperoleh taraf signifikan

    5% = 2,00 dan taraf signifikan 1% = 2,65. Artinya to yang diperoleh lebih

    besar dari ttabel, yaitu 2,002,65. Dengan demikian, Ha diterima

    artinya teknik pembelajaran ice breaker berpengaruh terhadap kemampuan

    menulis pantun siswa kelas VII SMP Swasta Pahlawan Sukaramai Tahun

    Pembelajaran 2012/2013.26

    2. Hasil penelitian Diya Rahmatika dengan judul penelitian Pengaruh

    permainan Ice Breaker terhadap motivasi balajar siswa dalam

    pembelajaran IPS di SD Islam Al-Amanah Tangerang Selatan. Metode

    yang digunakan adalah Quasi Eksperimen dengan penelitian One group

    Pretest- posttest design. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa

    permainan ice breaker berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa dalam

    pembelajaran IPS. Rata-rata motivasi belajar siswa dalam pembelajran IPS

    sebelum diberi perlakuan sebesar 38,2 sedangkan rata-rata motivasi belajar

    siswa dalam pembelajaran IPS sesudah diberi perlakuan sebesar 46,89.

    Berdasarkan thitung >ttabel (8.5>2.05), sehingga rata-rata motivasi belajar

    siswa dalam pembelajaran IPS sesudah diberi perlakuan lebih tinggi dari

    rata-rata motivasi belajar siswa dalam pembelajaran IPS sebelum diberi

    perlakuan.27

    3. Hasil penelitian Indriatil mahasiswa FKIP Universitas pendidikan RIAU

    Husni dalam judul “Penerapan ice breaker untuk meningkatkan hasil

    belajar kognitif siswa dalam pembelajaran fisika kelas X SMA

    Babussalam Pekanbaru.” Dengan hasil penelitian: Penelitian ini dilakukan

    dengan rancangan penelitian Intact Group Comparison Design. Populasi

    adalah seluruh siswa kelas X SMA Babussalam Pekanbaru dengan sampel

    penelitian adalah seluruh siswa kelas X SMA Babussalam Pekanbaru

    dengan sampel penelitian ini adalah siswa kelas X ini adalah siswa kelas

    26

    Ririn Ayu Wulandari, Pengaruh penggunaan teknik pembelajaran ice breaker terhadap

    kemampuan menulis pantun siswa kelas VII SMP Swasta pahlawan sukaramai tahun pelajaran

    2012-2013,(Jurnal unimed:2012) 27

    Diya Rahmatika, pengaruh permainan ice breaker terhadap motivasi belajar siswa dalam

    pembelajaran IPS di SD Islam Al-Amanah Tangerang Selatan, (Jakarta: UIN Syarihidayatulloh

    jakarta, 2012).

  • 22

    X2 sebagai kelas eksperimen dan siswa X1 sebagai kelas kontrol. Hasil

    analisis data deskriptif, untuk kelas yang menerapkan k kelas yang

    menerapkan ice breaker diperoleh daya serap rata – rata 72,22 % dengan

    kategori baik dan efektivitas rata 72,22 % pembelajaran berkategori

    efektif. Ketuntasan belajar siswa 58,33 % dan ketuntasan tujuan

    pembelajaran 61,54 % dengan kategori tidak tuntas. Sedangkan dari

    analisis inferensial melalui uji t diperoleh inferensial diperoleh thitung =

    2,516 ttabel = 2,030.. Berdasarkan kriteria pengujian hipotesis t thitung < t< t<

    tabel atau (2,516 < atau < 2,030), sehingga terdapat 2,030), sehingga

    terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar fisika siswa setelah

    pembelajaran menggunakan ice breaker dibandingkan hasil belajar fisika

    siswa secara konvensional pada taraf kepercayaan 95 %.28

    4. Hasil penelitian Dian Arshinta. Dengan judul “strategi Penerapan Ice

    breaking sebagai kreativitas guru dalam mengatasi kebosanan siswa dalam

    pembelajaran bahasa China di SMAN 1 Karanganyar.” Dari hasil

    penelitian ini dapat ditunjukkan bahwa dalam proses belajar bahasa China

    siswa – siswi SMAN 1 Karanganyar pernah dilanda rasa bosan. cara untuk

    mengatasi atau bahkan menghindari hal tersebut dibutuhkan kreatifitas

    guru dan sarana yang mendukung dalam proses belajar. Salah satu yang

    bisa dilakukan oleh guru adalah dengan memberikan ice breaking dalam

    proses belajar bahasa China. Dengan demikian hasil penelitian dapat

    ditarik kesimpulan bahwa penerapan strategi ice breaking mampu

    mengatasi kebosanan siswa dalam proses pembelajaran bahasa China di

    SMAN 1 Karanganyar.29

    5. Hasil penelitian Kisma Fawzea (Fakultas Psikologi Universitas Islam

    Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2008) dengan judul: pengaruh

    permainan ice breaker terhadap self disclosure pada remaja Pondok

    28

    Indriatil, Penerapan ice breaker untuk meningkatkan hasil belajar kognitif siswa dalam

    pembelajaran fisika kelas X SMA Babussalam pekanbaru, (Pekanbaru: Universitas Pendidikan

    Riau, 2012) 29

    Dian Arshinta, strategi penerapan icebreaking sebagai kreativitas guru dalam mengatasi

    kebosanan siswa dalam pembelajaran bahasa china di SMAN 1 Karanganyar,(Surakarta:

    Universitas sebelas maret, 2010)

  • 23

    Pesantren Daarul Rahman Jakarta Selatan, diperoleh kesimpulan bahwa:

    pada kelompok eksperimen, ada kenaikan jumlah skor mean pada post-

    testnya, hanya selisish 13.2 angka, sedangkan kelompok kontrol malah

    mengalami penurunan nilai skor mean dari 117.5000 menjadi 111.5000

    pada post-testnya. Karena kedua kelompok memiliki taraf signifikasi

    dibawah 0.05, sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian di atas

    bahwa penerapan ice breaking dapat meningkatan hasil belajar atau

    terhadap penelitiannya.30

    E. Kerangka Berfikir

    Belajar merupakan perubahan tingkah laku yang mengarahkan

    seseorang menjadi lebih baik. Dalam belajar, peran guru sangatlah penting

    untuk mencapai hasil belajar yang baik, seperti: 1). Guru Sebagai Pendidik,

    Guru adalah pendidik, yang menjadi tokoh, panutan dan identifikasi bagi para

    peserta didik, dan lingkungannya. Oleh karena itu, guru harus memiliki

    standar kualitas tertentu, yang mencakup tanggung jawab, wibawa, mandiri

    dan disiplin. 2). Guru Sebagai Pengajar, guru adalah pengajar, dimana dari

    mulai menyusun, mengaplikasikan, dan diakhiri dengan mengevaluasi. 3).

    Guru sebagai pembimbing, Dalam hal ini, istilah perjalanan tidak hanya

    menyangkut fisik tetapi juga perjalanan mental, emosional, kreatifitas, moral

    dan spiritual yang lebih dalam dan kompleks. 4). Guru Sebagai Pelatih, Proses

    pendidikan dan pembelajaran memerlukan latihan keterampilan, baik

    intelektual maupun motorik, sehingga menuntut guru untuk bertindak sebagai

    pelatih. 5). Guru Sebagai Penasehat, Guru adalah seorang penasehat bagi

    peserta didik juga bagi orang.

    Di dalam pembelajaran, ada beberapa model untuk menunjang

    pencapaian belajar, seperti pembelajaran aktif dan pembelajaran efektif.

    Pembelajaran aktif adalah pembelajaran dimana para siswa secara individu

    didukung untuk terlibat aktif dalam proses membangun model mentalnya

    30

    Kisma Fauzea, pengaruh permainan ice breaker terhadap self disclosure pada remaja pondok

    pesantrean Daarul rahman Jakarta Selatan, (Jakarta: UIN Jakrta, 2008)

  • 24

    sendiri dari informasi yang mereka peroleh. Sedangkan pembelajaran efektif

    adalah pembelajaran yang mampu memberikan konstribusi optimal terhadap

    pencapaian tujuan belajar yang telah ditetapkan. Ada beberapa model

    pembelajaran aktif, seperti, snowball, role playing, mind mapping,dan ice

    breaking, peneliti memfokuskan pada model pembelajaran aktif untuk ice

    breaking.

    Ice breaking adalah peralihan situasi dari yang membosankan,

    membuat mengantuk, menjenuhkan, dan tegang menjadi rileks, bersemangat,

    tidak membuat mengantuk, serta ada perhatian dan ada rasa senang untuk

    mendengarkan atau melihat orang yang berbicara didepan kelas atau ruangan

    pertemuan. Sedangkan jenis-jenis ice breaking diantaranya: tepuk tangan,

    lagu, dan audio visual.

    Untuk ice breaking audio visual, dipilih bentuk video. Dimana vidio

    ini menceritakan tentang bagaimana sekelompok orang yang mempunyai

    kekurangan, bisa di pandng keberadaannya oleh masyarakat luas. Dari

    penerapan model pembelajaran ini, maka diperoleh suatu hasil belajar. Hasil

    belajar merupakan seluruh kecakapan yang dicapai melalui proses belajar di

    sekolah yang dinyatakan dengan nilai atau angka berdasarkan tes hasil belajar.

    Penilaian hasil belajar pada dasarnya adalah “untuk mengetahui sejauh mana

    pembelajaran (learner) telah mengerti bahan yang telah diajarkan atau sejauh

    mana tujuan atau kompetensi dari kegiatan pembelajaran yang dikelola dapat

    dicapai.” 31

    Menurut Gagne, ada lima jenis tipe hasil belajar yakni: Belajar

    Kognitif, Informal Verbal, mengatur kegiatan intelektual, Belajar Sikap, dan

    Belajar Ketrampilan Motorik. Ada beberapa strategi untuk melihat hasil

    belajar yaitu Tingkat Nasional, Tingkat Sekolah, dan Tingkat Kelas. Untuk

    penilaian melalui tingkat kelas, Menurut Mulyasa, bahwa: “Penilaian kelas

    dilakukan dengan ulangan harian, ulangan umum, dan ujian akhir”.32

    31

    Ahmad Sofyan, Tonih Feronika, dan Burhanudi Milama, Evaluasi pembelajaran IPA

    Berbasis kompetensi, (Ciputat : UIN Jakarta Press, 2006 ), h.4 32

    Wina Sanjaya, Penelitian Tindakan Kelas, (Jakarta: Kencana, 2010), h.36

  • 25

    Bagan 2.1

    Kerangka Berfikir

    PROSES BELAJAR

    MODEL PEMBELAJARAN

    PERAN GURU

    PENDIDIK PEMBIMBING PENASEHAT

    PENGAJAR PELATIH

    ROLE PLAYING MIND MAPPING ICE BREAKING SNOW BALL

    TEPUK TANGAN AUDIO VISUAL LAGU

    HASIL BELAJAR

    PEMBELAJARAN

    EFEKTIF

    PEMBELAJARAN AKTIF

    HASIL PENELITIAN

    INDRIATIL, MATA

    PELAJARAN FISIKA.

    RANCANGAN

    PENELITIAN IGCD

    NASIONAL SEKOLAH KELAS

    PENELITIAN : “ PENGARUH PENERAPAN ICE BREAKING

    TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN

    SOSIOLOGI DI SMA DARUSSALAM CIPUTAT.”

  • 26

    F. Hipotesis Penelitian

    Hipotesis pada penelitian ini adalah:

    Ho: Tidak dapat pengaruh antara penerapan ice breaking terhadap hasil belajar

    dalam pembelajaran sosiologi.

    Ha: Terdapat pengaruh antara penerapan ice breaking terhadap hasil belajar

    dalam pembelajaran sosiologi.

  • 27

    BAB III

    METODOLOGI PENELITIAN

    A. Waktu dan Tempat Penelitian

    Penelitian ini dilaksanakan pada semester ganjil tahun ajaran 2013-

    2014, antara bulan November sampai Desember 2013, kemudian Tempat

    Penelitiannya adalah Sekolah SMA Darussalam Ciputat.

    B. Metode Penelitian

    Metode penelitian sering disebut sebagai metodologi penelitian. Yaitu

    “cara-cara yang digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis data, yang

    dikembangkan untuk memperoleh pengetahuan dengan menggunakan

    prosedur yang terpercaya, dan kemudian dikembangkan secara sistematis

    sebagai suatu rencana untuk menghasilkan data tentang masalah penelitian

    tertentu.”1

    Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Quasi

    Experimen (eksperimen semu) dimana dalam rancangan ini melibatkan 2

    kelompok, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Pengukuran

    dilakukan sebelum dan sesudah perlakuan, pengaruh dari perlakuan diukur

    dari perbedaan antara pengukur awal dan pengukur akhir. 2

    Dalam metode ini terdapat dua kelompok, yaitu kelompok kontrol

    diberi perlakuan tanpa menggunakan penerapan ice breaking sedangkan

    kelompok eksperimen diberi perlakuan dengan menggunakan ice breaking.

    Tabel 3.1

    Desain Penelitian

    Kelompok Pre-tesT Treatmen PostesT

    Eksperimen O1 X1 O2

    Kontrol O1 X2 O2

    1 IbnuHajar.Dasar-dasarMetodologiPenelitianKwantitatifDalamPendidikan (Jakarta: PT.

    Raja GrafindoPersada, 1999), cet ke-2, h. 10 2 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Kuantitatif, Kualitatif, dan R &D, Cet. Ke-3

    (Bandung: Alfabeta, Maret 2007), h.112.

  • 28

    Keterangan:

    O1 = Pre-test diberikan kepada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol

    sebelum diberikan perlakuan.

    O2 = Post-test diberikan kepada kelompok eksperimen dan kelompok

    kontrol sesudah diberikan perlakuan

    X1 = Perlakuan terhadap kelas eksperimen berupa pembelajaran sosiologi

    dengan penerapan ice breaking.

    X2 = Perlakuan terhadap kelas kontrol berupa pembelajaran sosiologi tanpa

    menggunakan penerapan ice breaking.

    C. Populasi dan Sampel

    1. Populasi

    Populasi adalah ” keseluruhan objek penelitian yang dapat terdiri

    dari manusia, hewan, tumbuhan, gejala nilai tes atau peristiwa sebagai

    sumber data yang mewakili karakteristik tertentu dalam suatu penelitian.”3

    Populasi penelitian ini menggunakan seluruh siswa SMA Darussalam

    Ciputat, Tahun Pelajaran 2012/2013.

    2. Sampel

    Sampel adalah” bagian dari populasi, menurut Suharsimi Arikuto,

    sample adalah sebagian atau wakil dari populasi yang terpilih.”4 Teknik

    sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah “teknik purposive

    sampling, yaitu pengambilan sampel dilakukan atas pertimbangan

    peneliti.”5 berdasarkan nilai terendah rata-rata kelas. sampel dalam

    penelitian ini adalah kelas X1 Sebanyak 20 siswa sebagai kelas

    eksperimen dengan menggunakan ice breaking dan kelas X2 sebanyak 20

    siswa sebagai kelas kontrol tanpa menggunakan ice breaking.

    3 M. Suban, dkk., statistik pendidikan, (Bandung: Pustaka Setia, 2000), h.24

    4 Arikunto Suharsimi, prosedur penelitian suatu pendekatan praktek (Jakarta:

    PT.RinekCipta,1993), h.104 5 Nana Sudjana Dan Ibrohim, penelitian dan penilaian pendidkan, (Bandung: sinar baru:

    1988) h. 96

  • 29

    D. Prosedur Penelitian

    1. Tahap persiapan sebelum penelitian

    Sebelum melakukan penelitian, penulis melakukan beberapa

    persiapan awal, yaitu:

    a. Mengurus surat izin penelitian dari Fakultas Ilmu Tarbiyah dan

    Kegurua (FITK) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

    b. Karakteristik populasi yang akan diteliti.

    c. Sampel penelitian menggunakan teknik purposive sampling.

    d. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Sosiologi

    dengan penerapan ice breaking pada materi interaksi sosial.

    e. Menyusun kisi-kisi soal untuk instrument penelitian.

    f. Menyusun instrument penelitian berdasarkan kisi-kisi soal yang telah

    dibuat.

    g. Melakukan konsultasi kepada dosen pembimbing mengenai RPP dan

    instrumen yang telah dibuat.

    h. Setelah RPP dan Instrumen penelitian telah disusun, langkah

    selanjutnya adalah melakukan koordinasi dengan pihak sekolah untuk

    uji coba di luar kelas eksperimen dan kelas kontrol.

    i. Setelah melakukan uji coba, mengolah data dengan hasil uji coba

    dengan mencari validitas, daya pembeda, tingkat kesukaran butir soal,

    dan reabilitas instrument.

    j. Menentukan butir soal yang layak untuk dijadikan instrument

    penelitian.

    2. Tahap pelaksanan penelitian

    a. Langkah awal tahap pelaksanan penelitian adalah menentukan dua

    kelompok sampel yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol,

    selanjutnya diadakan tes awal (pre-test) kepada kedua kelompok

    penelitian menggunakan soal-soal hasil analisis data uji coba

    instrument penelitian.

    b. Setelah tes awal (pre-test) dilaksanakan pada kedua kelompok

    penelitian, kegiatan belajar mengajar dapat dilaksanakan untuk

  • 30

    kelompok eksperimen diberikan perlakuan menggunakan penerapan

    ice breaking dan kelompok kontrol dengan tidak menggunakan ice

    breaking.

    c. Setelah dari perlakukan diadakan tes akhir (post-test) untuk kedua

    kelompok penelitian menggunakan soal-soal yang sama ketika

    dilakukan tes awal (pre-test).

    3. Tahap akhir penelitian

    Setelah tahap pelaksanaan kegiatan berhasil dilakukan, tahap

    selanjutnya adalah mengolah hasil penelitian dengan melakukan beberapa

    kegiatan, yaitu:

    a. Melakukan analisis data hasil tes awal (pre-test) kedua kelompok

    penelitian dengan menggunakan uji statistik.

    b. Menganalisis data hasil tes akhir (post-test) kedua kelompok penelitian

    dengan menggunakan uji statistik

    c. Setelah itu dilakukan penarikan kesimpulan berdasarkan hasil uji

    statistik yang telah dilakukan sebelumnya. Penarikan kesimpulan

    merupakan langkah paling akhir dalam prosedur penelitian.

    E. Teknik Pengumpulan Data

    1. Observasi

    Pengamatan dan pencatatan sistematis tentang fenomena fenomena

    yang diselidiki.6 Dalam hal ini peneliti mengadakan observasi yaitu

    mengadakan pengamatan secara langsung ke SMA Darussalam Ciputat

    untuk mengetahui mengenai pelaksanakan pendidikan sosiologi dlam

    mencapai hasil belajar yang maksimal.

    2. Wawancara terhadap guru

    Ialah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk

    memperoleh informasi dari yang diwawancarai. Wawancara dilakukan

    pada guru pelajaran Sosiologi dengan mengajukan pertanyaan mengenai

    6 Suharsimi Arikunto, Manajement penelitian, (Jakarta: Rieneka cipta,, 2007), h. 298

  • 31

    sistem pembelajaran yang diberikan dan metode pembelajaran yang

    diterapkan dalam mencapai hasil belajar yang maksimal.

    3. Teknik pengumpulan data adalah cara yang digunakan oleh peneliti untuk

    memperoleh data. Dalam pengumpulan data terdapat beberapa tahapan,

    diantaranya:

    a. Persiapan

    1) Menganalisis Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar

    (KD) Mata pelajaran Sosiologi SMA Darussalam Ciputat Kelas X.

    2) Menentukan materi pembelajaran yang dapat diintegrasikan

    dengan ice breaking.

    b. Pelaksanaan

    1) Memberikan pretest pada kelas kontrol dan kelas eksperimen.

    2) Memberikan perlakuan berupa pembelajaran Sosiologi

    menggunakan Ice breaking pada materi interaksi sosial untuk

    kelompok eksperimen dan pembelajaran tanpa menggunakan ice

    breaking pada kelompok kontrol.

    3) Pemberian post-test pada kelas kontrol dan kelas eksperimen.

    c. Tahap pengolahan data

    Mengolah data hasil belajar siswa yang telah dilakukan.

    F. Instrumen Penelitian

    Instrumen penelitian merupakan alat pengumpul data. Penelitian yang

    dapat menunjang sejumlah data yang diasumsikan dapat digunakan untuk

    menjawab pertanyaan-pertanyaan dan menguji hipotesis penelitian.

    Alat ukur tes sebelum diberikan kepada siswa perlu diketahui terlebih

    dahulu apakah tes tersebut baik dan sudah siap diberikan kepada siswa untuk

    diambil datanya. Pada penelitian ini sebelum digunakan soal (tes) tersebut

    diuji cobakan, guna mengetahui apakah soal-soal tersebut memenuhi standar

    persyaratan validitas dan reliabilitas. Instrumen yang digunakan dalam

    penelitian ini adalah tes tertulis.

  • 32

    Tes berperan untuk menjaring konsep awal dan konsep akhir siswa

    sebelum dan sesudah pembelajaran yang dilakukan. Kisi-kisi untuk soal dibuat

    berdasarkan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) disesuaikan dengan

    materi yang diajarkan pada aspek interaksi sosial pada semester 1 tahun

    pelajaran 2012-2013, Penjabaran konsep untuk menjadi butir-butir soal

    memperhatikan kompetensi dasar, materi dan indikatornya.

    Tabel 3.2

    kisi-kisi instrument interaksi sosial

    No. Kompetensi Dasar Indikator No Butir soal

    1. Mendeskripsikan proses interaksi sosial sebagai

    dasar pengembangan

    pola ketaraturan sosial.

    Materi : Interaksi Sosial

    1. Mendefinisikan interaksi social

    1, 5, 8, 10, 14, 16, 19, 21,

    25,28, 31, 33, 36

    2. Menjelaskan faktor yang

    mendorong

    terjadinya

    interaksi sosial

    3, 4, 9, 11, 13, 18, 23, 26,

    29, 30, 32, 34, 37, 40

    3. Menjelaskan hubungan antara

    interaksi sosial dan

    ketaraturan sosial.

    2, 6, 7, 12, 15, 17, 20, 22,

    24, 27, 35, 38, 39.

    G. Teknik Pengolahan Data

    1. Validitas

    Menurut Sumarna Surapranata Validitas (kesahihan) adalah “suatu

    konsep yang berkaitan dengan sejauh mana tes telah mengukur apa yang

    seharusnya di ukur.”7 Validitas merupakan syarat yang terpenting dalam

    suatu alat evaluasi. “Suatu teknik evalusi dikatakan mempunyai validitas

    yang tinggi jika teknik evaluasi atau tes dapat mengukur apa yang

    sebenarnya akan diukur.”8 Rumus yang digunakan untuk menguji validitas

    tes objek adalah rumus korelasi product moment. Rumus ini digunakan

    7Sumarna Surapranata, Analisis, validitas, reliabilitas, dan interpretasi hasil tes,

    (Bandun: PT Remaja Rosyda Karya, 2006), cet. Ke-III, h.50 8 Ngalim Purwanto, Prinsip-prinsip dan teknik evaluasi pengajaran, (Bandung:

    PT.Remaja Rosdakarya, 2004), h.137-138

  • 33

    karena skor tiap item sama yaitu item benar diberi skor satu dan item salah

    diberi skor nol.9

    Rumus korelasi product moment adalah sebagai berikut :

    =

    2222

    yynxxn

    yxxyn

    Keterangan :

    rxy = koefisien korelasi antara variabel X dan Variabel Y

    n = Jumlah siswa

    ∑x = skor tiap butir soal

    ∑y = skor total

    ∑xy = jumlah hasil kali skor x dan y yang berpasangan

    ∑x2

    = jumlah skor yang dikuadratkan dalam sebaran x

    ∑y2

    = jumlah skor yang dikuadratkan dalam sebaran y

    Untuk menguji signifikan tidaknya koefisien korelasi validitas

    digunakan distribusi kurva normal dengan menggunakan uji skor-t

    t hitung =

    keterangan:

    t hitung = nilai hitung koefisien validitas

    rxy = koefisien korelasi tiap butir soal

    N = jumlah siswa uji coba

    Kemudian hasil diatas dibandingkan dengan t dari tabel pada

    signifikan 5 % (ɑ = 0,05) dan derajat kebebasan (dk = n-2) kaidah

    keputusannya jika t hitung > t tabel berarti valid. Sebaliknya jika t hitung < t tabel

    berarti tidak valid. Jika instrument itu valid, maka dapat dilihat kriteria

    penafsiran mengenai indeks korelasi (r) sebagai berikut:

    9 Suharsimi Arikunto, Prosedur penelitian suatu pendekatan, Jakarta: PT.Rineka Cipta,

    2002 Cet.Ke-12 hal.144.

  • 34

    Tabel 3.3

    Kriteria Indeks Korelasi

    Rentang Keterangan

    0.8 < r < 1.00

    0.60< r < 0.80

    0.40 < r < 0.60

    0.20 < r < 0.40

    0.00 < r < 0.20

    Sangat tinggi

    Tinggi

    Sedang

    Rendah

    Sangat rendah

    2. Reliabilitas

    Reliabilitas merupakan salah satu bentuk khusus dari korelasi yang

    menggambarkan keajegan alat ukur (tes).10

    Suatu instrument (tes) dapat

    dipercaya untuk digunakan sebagi alat pengumpul data, jika tes tersebut

    telah diuji kreabilitasannya. “Instrument penelitian dapat dikatakan

    mempunyai nilai reliabilitas yang tinggi, apabila tes yang dibuat

    mempunyai hasil yang konsisten dalam mengukur yang hendak diukur.”11

    Untuk mengukur reliabilitas soal rumus yang digunakan adalah Kuder

    Richardson-20 (KR-20):

    r11 =

    keterangan:

    r 11 = koefisien reliabilitas instrument

    p = proporsi subjek yang menjawab item dengan benar

    q = proporsi subjek yang menjawab item dengan salah

    ∑pq = jumlah hasil perkalian antara p dan q

    n = banyakanya item

    s = standar deviasi dari tes

    untuk mengetahui keberartian koefisien reliabilitas dilakukan uji-t

    dengan rumus:

    10

    A. Zainal dan Nasution, penelitian hasil belajar , (Jakarta: Departemen pendidikan

    Nasional: 2001) h. 187 11

    Sukardi, Metodelogi penelitian pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara: 2009) h. 127

  • 35

    t hitung =

    keterangan:

    t hitung = nilai hitung koefisien validitas

    rxy = koefisien korelasi tiap butir soal

    N = jumlah siswa uji coba.

    Kemudian hasil diatas dibandingkan dengan t dari tabel

    pada signifikan 5 % (ɑ = 0,05) dan derajat kebebasan (dk = n-2)

    kaidah keputusannya jika t hitung > t tabel maka instrument dikatakan baik

    dan dapat dipercaya. jika instrument itu reliabilitas, makan dilihat

    kriteria penafsiran indeks reliabilitasnya sebagai berikut:

    Tabel 3.4

    Kriteria Reliabilitas

    Rentang Keterangan

    0.80 < r 11 < 1.00

    0.60< r 11 < 0.80

    0.40 < r 11 < 0.60

    0.20 < r 11 < 0.40

    0.00 < r 11 < 0.20

    Sangat tinggi

    Tinggi

    Sedang

    Rendah

    Sangat rendah

    3. Taraf Kesukaran

    Anas Sudijono mengatakan, “butir-butir item hasil belajar dapat

    dinyatakan baik apabila butir-butir item tersebut tidak terlalu sukar dan

    tidak pula terlalu mudah.”12

    Taraf kesukaran dihitung dengan

    menggunakan rumus:

    P =

    Keterangan:

    P = indeks kesukaran

    B = banyaknya siswa yang menjawab benar

    N = Jumlah seluruh siswa peserta tes

    12

    Anas Sudijono, pengantar evaluasi pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo: 1994)

    h.370

  • 36

    Kriteria yang digunakan adalah semakin kecil indeks yang

    diperoleh, maka soal tersebut tergolong sukar. Sebaliknya semakin besar

    indeks yang diperoleh, maka soal tergolong mudah. Adapun Kriteria

    indeks taraf kesukaran soal tersebut adalah:

    Tabel 3.5.

    Indeks kesukaran

    Indeks Keterangan

    0,00 – 0,30

    0,31 – 0,70

    0,71 - 1,00

    Soal kategori Sukar

    Soal kategori Sedang

    Soal kategori Mudah

    4. Daya Pembeda

    Pengujian daya pembeda soal digunakan untuk mengetahui

    kemampuan soal dalam membedakan siswa yang pandai dengan siswa

    yang kurang pandai. Indeks daya pembeda dihitung atas dasar pembagian

    kelompok menjadi dua bagian, yaitu kelompok atas yang merupakan

    kelompok peserta tes yang berkemampuan tinggi dengan kelompok bawah

    yaitu kelompok peserta tes yang berkemampuan rendah. Rumus yang

    digunakan:

    D = -

    Keterangan:

    D = Daya pembeda soal

    JA= Banyaknya peserta kelompok atas

    JB= Banyaknya peserta kelompok bawah

    BA= Banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab benar

    BB= Banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab benar

  • 37

    Tabel 3.6

    Klasifikasi daya pembeda

    Rentang Keterangan

    0,00 – 0,20

    0,21 – 0,40

    0,41 – 0,71

    0,71 – 1,00

    Buruk

    Cukup

    Baik

    Baik Sekali

    H. Teknik Analisis Data Hasil Belajar

    Analisis Data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikan

    ke dalam suatu pola kategori dan satuan uraian dasar. Dalam teknik analisis

    data dilakukan beberapa pengujian dengan urutan sebagai berikut:

    1. Uji normalitas

    Uji normalitas dilakukan” untuk mengetahui apakah sampel yang

    diteliti berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas yang digunakan

    yaitu uji liliefors.”13

    Langkah-langkah yang ditempuh dalam penelitian ini adalah:

    a. Urutkan data sampel dari yang terkecil hingga terbesar

    b. Menentukan nilai Z dari tiap-tiap data dengan rumus

    Z =

    c. Menentukan besar peluang untuk masing-masing nilai Z berdasarkan

    tabel Z dan sebut dengan F (Z) = 0,5± Z

    d. Menghitung frekuensi kumulatif dari masing-masing nilai Z dan

    disebut dengan S (Z)

    e. Tentukan nilai Lo dengan rumus Lo = F (Z) – S(Z)

    f. Ambil nilai terbesar dari selisih tersebut sehingga diperoleh nilai Lo

    g. Memberikan interpretasi Lo dengan membandingkan dengan Lt (nilai

    yang diambil dari tabel harga kritis uji liliefors) dengan aturan:

    13

    Sudjana, Metode Statistik, Cet. Ke-3 (Bandung: Tarsito, Mei 2005), hal.466.

  • 38

    1) Hipotesis

    Ho = sampel berdistribusi normal

    HI = sampel berdistribusi tidak norml

    2) Jika L o< L t maka sampel berdistribusi normal

    Jika L o > L t maka sampel berdistribusi tidak normal

    2. Uji Homogenitas

    Uji homogenitas bertujuan untuk mengetahui apakah data sampel

    tersebut homogeny (sama) atau tidak. “Pengujian homogenitas dalam

    penelitian ini adalah pengujian mengenai sama tidaknya variasi-variasi

    dari dua buah distribusi.”14

    Uji homogenitas dilakukan setelah data

    persyaratan normalitas terpenuhi, yakni data dinyatakan berdistribusi

    normal. Uji homogenitas dilakukan dengan menggunakan uji Fishe.

    rumus: F = =

    Keterangan:

    S12 x = nilai standar deviasi pre-test yang nilainya paling besar

    S22 x = nilai standar deviasi post-test yang nilainya paling besar

    Tentukan Kriteria pengujian:

    a. Jika Fhitung< Ftabel, maka Ho diterima, kedua kelompok berasal dari

    populasi yang homogen.

    b. Jika Fhitung< Ftabel, maka Hi diterima, kedua kelompok dapat dikatakan

    berasal dari populasi yang tidak homogen.

    Untuk taraf signifikan (ɑ ) = 0,05 dan derajak kebebasan

    pembilang dk=nb-1 serta penyebut dk = nk-1, dengan nb merupakan

    ukuran sampel yang variansya besar dan nk merupakan ukuran sampel

    yang variansnya kecil.

    3. Uji Hipotesis

    Menganalisis data pre-test dan post-tes secara statistik untuk

    mengetahui apakah kenaikan hasil belajar sosiologi tersebut signifikan

    14

    Ruseffendi, Statistik Dasar: untuk penelitian pendidikan Cet.1 (Bandung: IKIP

    Bandung Press, Mei 1998) h. 294.

  • 39

    atau tidak. Dalam hal ini digunakan uji-t karena data tersebut berdistribusi

    normal dengan taraf signifikasi ɑ = 0,05 untuk itu menguji kebenaran

    hipotesis dalam penelitian menggunakan rumus sebagai berikut:

    t hitung = dengan dsg = √

    keterangan:

    x1 = nilai rata-rata kelompok eksperimen

    x2 = nilai rata-rata kelompok kontrol

    n1 = jumlah siswa kelas eksperimen

    n2 = jumlah siswa kelas kontrol

    v1 = standar deviasi nilai posttest kelas eksperimen yang dikuadratkan

    v2 = standar deviasi nilai posttest kelas kontrol yang dikuadratkan.

    Adapun kriteria ttabel jika:

    t hitung < ttabel maka Ho diterima dan Ho ditolak

    t hitung > ttabel maka Ho diterima dan Ho diterima

    4. Uji normal Gain

    Gain adalah “selisih antara posttest dan pretest, gain menunjukkan

    peningkatan pemahaman atau pengusaha konsep siswa setelah

    pembelajaran dilakukan guru.” 15

    Untuk menghindari hasil kesimpulan yang akan menimbulkan bisa

    penelitian, karena pada nilai pretest kedua kelompok penelitian sudah

    berbeda, digunakan uji normalitas gain.

    Rumus normal Gain menurut Meltzer, yaitu:

    Ngain =

    15

    Yanti Herlanti, Tanya Jawab Seputar Penelitian Tindakan Sains, (Jakarta: Jurusan

    Pendidikan IPA,FITK,UIN Syarif Hidayatullah, 2006). Hal.70.

  • 40

    Tabel 3.7

    Kategorisasi Perolehan nilai Gain

    Rentang nilai Keterangan

    1 > 0,70

    0,70 ≥ 0,30

    0 < 0.30

    G-Tinggi

    G-Sedang

    G-Rendah

    Untuk mengetahui apakah ada perbedaan normal gain atara dua

    kelompok dilakukan uji-t sebagai berikut:

    t hitung = dengan dsg = √

    kemudian hasil t-hitung diatas dibandingkan dengan nilai t tabel

    pada signifikasi 5 % (ɑ = 0,05) dan derajat kebebasan (dk) = (n1-1)+(n2-

    2). Jika ttabel < t hitung maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat

    perbedaan norml gain antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

    Jika t hitung ≤ t tabel atau t tabel ≤ t hitung, maka dapat disimpulkan terdapat

    perbedaan normal gain antara kelompok eksperimen dan kelompok

    kontrol.

    I. Hipotesis Statistik

    Hipotesis Statistik yang digunakan adalah:

    Ha : penerapan ice breaking berpengaruh secara signifikan terhadap hasil

    belajar siswa pada pembelajaran sosiologi pada materi interaksi sosial.

    Ho : Penerapan ice breaking tidak berpengaruh secara signifikan terhadap

    hasil belajar siswa pada pembelajaran sosiologi pada materi interaksi

    sosial.

  • 41

    BAB IV

    HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

    A. Deskripsi Data

    Hasil penelitian di SMA Darussalam Ciputat dengan penerapan Ice

    breaking membuktikan bahwa ice breaking dapat menambah gairah siswa

    untuk lebih fokus terhadap pelajaran karena mereka sendiri pada nantinya

    akan memvisualisasikan apa yang telah dipelajari dengan sebaik-baiknya.

    Dengan demikian siswa lebih memperhatikan penjelasan secara

    mendalam agar dapat berperan yang mungkin akan dimainkannya. Siswa

    dapat belajar s