PENERAPAN SANKSI PIDANA TERHADAP PELAKU TINDAK   1 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014

download PENERAPAN SANKSI PIDANA TERHADAP PELAKU TINDAK    1 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014

of 19

  • date post

    31-Jul-2019
  • Category

    Documents

  • view

    214
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of PENERAPAN SANKSI PIDANA TERHADAP PELAKU TINDAK   1 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014

  • i

    PENERAPAN SANKSI PIDANA TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA

    PEMERKOSAAN TERHADAP ANAK YANG MASIH DI BAWAH UMUR

    (Studi Kasus di Pengadilan Negeri Surakarta)

    Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Strata 1 pada

    Jurusan Ilmu Hukum Fakultas Hukum

    Oleh:

    USTIKA HANIS PRAMUDYA

    C100130275

    PROGRAM STUDI ILMU HUKUM

    FAKULTAS HUKUM

    UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

    2017

  • 1

    PENERAPAN SANKSI PIDANA TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA

    PEMERKOSAAN TERHADAP ANAK YANG MASIH DI BAWAH UMUR

    (Studi Kasus di Pengadilan Negeri Surakarta)

    ABSTRAK

    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil peraturan hukum, penerapan

    hukum dan pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan dalam tindak pidana

    pemerkosaan terhadap anak yang masih di bawah umur di Pengadilan Negeri

    Surakarta. Metode penelitian menggunakan pendekatan hukum yuridis normatif

    yang bersifat deskriptif, sumber data terdiri dari sumber data primer dan sekunder.

    Metode pengumpulan data dengan teknik studi kepustakaan dan studi lapangan.

    Model analisis menggunakan interactive model of analisys. Hasil penelitian

    menunjukkan keberadaan peraturan perundang-undangan yang mengatur

    mengenai kejahatan pemerkosaan, telah di atur dalam KUHP maupun dalam

    ketentuan peraturan lain yang lebih khusus, seperti dalam Undang-Undang

    Perlindungan Anak, upaya pemberian sanksi hukuman tambahan juga telah

    diberlakukan dengan dikeluarkannya PERPPU tentang hukuman kebiri.

    Penerapan hukum oleh hakim dalam menjatuhkan putusan adalah dengan mencari

    dan membuktikan kebenaran materiil berdasarkan fakta yang terungkap dalam

    persidangan, dimana hakim akan berpegang teguh pada yang dirumuskan dalam

    surat dakwaan penuntut umum. Dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan

    putusan adalah dengan mempertimbangan mengenai hal-hal yang memberatkan

    maupun hal-hal yang meringankan terdakwa, serta mempertimbangkan nilai

    keadilan baik bagi korban, terdakwa, maupun masyarakat secara umum.

    Kata kunci: anak, pemerkosaan, dan putusan

    ABSTRACT

    This study aimed to determine the profile of the rule of law, implementation of

    laws and consideration of the judge in the verdict in the criminal act of rape

    against children who are still minors in Surakarta District Court. The research

    method uses normative legal approach that is descriptive, the source data consists

    of primary and secondary data sources. Data were collected by technical

    literature studies and field studies. Model analysis using interactive models of

    analisys. The results showed the existence of legislation governing the crime of

    rape, has been set in the Criminal Code and the provisions of other, more

    specialized, such as the Law on Child Protection, the effort sanctioning additional

    sentences have also been imposed by the issuance PERPPU punishment

    emasculated , Application of the law by judges in decisions is to find and validate

    the material based on the facts revealed during the trial, where the judge will

    cling formulated in the indictment the prosecutor. The basic consideration in

    decisions judge is consideration of the aggravating things and the things that

    relieve the defendant, as well as considering the value of justice for victims,

    defendants, and society in general.

    Keywords: children, rape, and the verdict

  • 2

    1. PENDAHULUAN

    Penerapan sanksi pidana terhadap pelaku kejahatan merupakan cara

    terbaik dalam menegakan keadilan. Kejahatan yang menimbulkan penderitaan

    yang berat terhadap korban, seperti kejahatan pemerkosaan harus mendapatkan

    sanksi hukuman yang maksimal, bahkan perlu adanya hukuman tambahan bagi

    pelaku. Korban tindak kejahatan pemerkosaan harus mendapatkan keadilan, baik

    dari segi hukum maupun dari segi pemulihan mental dan psikis. Terlebih yang

    menjadi korban tindak kejahatan pemerkosaan adalah anak yang masih di bawah

    umur.

    Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun,

    termasuk anak yang masih dalam kandungan.1 Keberadaan anak yang mempunyai

    peran sebagai penerus generasi bangsa harus dijaga keberadaanya. Perlu adanya

    perhatian dan perlindungan khusus terhadap kehidupan anak agar terhindar dari

    tindak kejahatan yang akan mengancam keselamatan dirinya. Perlu adanya peran

    dari lingkungan terdekat seperti keluarga untuk menjamin keamanan dan

    kenyamanan anak. Keberadaan keluarga harus mampu melindungi, menyayangi,

    dan mengasihi sebagai satu kesatuan keluarga yang aman dan nyaman bagi

    perkembangan anak.

    Tindak pidana pemerkosaan merupakan salah satu tindak kejahatan yang

    sangat keji dan tidak berperikemanusiaan. Pengertian perkosaan sendiri adalah

    seseorang pria yang memaksa pada seorang wanita bukan isterinya untuk

    melakukan persetubuhan dengannya dengan ancaman kekerasan, yang mana

    diharuskan kemaluan pria telah masuk ke dalam lubang kemaluan seorang wanita

    yang kemudian mengeluarkan air mani.2 Tindak kejahatan pemerkosaan tidak

    hanya melanggar norma kesusilaan dan norma agama saja, tetapi juga telah

    melanggar hak asasi manusia yang melekat pada diri korban, apalagi yang

    menjadi korban pemerkosaan adalah anak yang masih di bawah umur.

    Pelaku pemerkosaan harus mendapatkan hukuman yang berat, agar

    mampu memberikan efek jera bagi pelaku. Perlu adanya peraturan hukum yang

    1 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Undang-Undang Perlindungan Anak

    Nomor 23 Tahun 2002. 2

    Abdul Wahid dan Muhammad Irfan, Perlindungan Terhadap Korban Kekerasan Seksual,

    Bandung: Refika Aditama, 2011, hal. 41.

  • 3

    mengatur mengenai sanksi hukuman yang berat terhadap pelaku kejahatan

    pemerkosaan, selain itu juga diperlukan ketegasan dari aparat penegak hukum

    dalam memberikan sanksi hukuman tersebut. Tindak kejahatan pemerkosaan

    secara umum telah diatur dalam Kitab Undang Undang Hukum Pidana (KUHP)

    Pasal 286.

    Tindak kejahatan Pemerkosaan dengan korban anak yang masih di bawah

    umur dengan korban orang dewasa tentunya akan berbeda, baik dari penanganan

    korbanya maupun penegakan hukumnya. Korban pemerkosaan terhadap anak di

    bawah umur tentunya masih memiliki masa depan yang panjang yang seharusnya

    mampu dijaga dan dilindungi, karena merupakan generasi penerus kehidupan

    bangsa. Sanksi hukuman terhadap pelaku pemerkosaan terhadap anak yang masih

    di bawah umur telah diatur sendiri di dalam Undang-Undang Perlindungan Anak

    Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Undang-Undang Perlindungan Anak

    Nomor 23 Tahun 2002 Pasal 81 Butir (1),(2),(3).

    Pemberian sanksi hukuman tambahan terhadap pelaku kejahatan

    pemerkosaan terhadap anak yang masih di bawah umur harus dilakukan, agar

    mampu memberikan efek jera bagi pelaku. Pemerintah dalam menanggapi

    meningkatnya jumlah kejahatan pemerkosaan terhadap anak di bawah umur

    adalah dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang

    (PERPPU) Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan ke-2 atas Undang-Undang

    Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Perppu tersebut salah satunya

    mengatur mengenai hukuman kebiri kimia bagi kejahatan seksual.

    Penerapan sanksi pidana harus mampu memberikan efek jera bagi pelaku

    kejahatan pemerkosaan, terutama terhadap pelaku pemerkosaan terhadap anak

    yang masih di bawah umur. Sanksi pidana bertujuan untuk memperbaiki pribadi

    terpidana berdasarkan perlakuan dan pendidikan yang diberikan selama menjalani

    hukuman, terpidana merasa menyesal sehingga ia tidak akan mengulangi

    perbuatannya dan kembali kepada masyarakat sebagai orang yang baik dan

    berguna.3

    Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka penulis dapat

    merumuskan masalah antara lain: (1) Bagaimanakah profil peraturan hukum

    3 Leden Marpaung, Asas Teori Praktik Hukum Pidana,Jakarta: Sinar Grafika, 2009, hal. 4.

  • 4

    tentang tindak pidana pemerkosaan terhadap anak yang masih di bawah umur?,

    (2) Bagaimanakah penerapan hukum oleh hakim dalam menjatuhkan putusan

    perkara tindak pidana pemerkosaan terhadap anak yang masih di bawah umur?,

    dan (3) Apa yang menjadi dasar-dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan

    putusan dalam tindak pidana pemerkosaan terhadap anak yang masih di bawah

    umur? Sedangkan tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui profil peraturan

    hukum tentang tindak pidana pemerkosaan terhadap anak yang masih di bawah

    umur, untuk mengetahui penerapan hukum dan pertimbangan hakim dalam

    menjatuhkan putusan dalam tindak pidana pemerkosaan terhadap anak yang

    masih di bawah umur di Pengadilan Negeri Surakarta. Adapun manfaat dari

    penelitian ini yang bersifat teoritis, diharapkan dapat memberikan sumbangan

    pemikiran bagi pengembangan ilmu hukum di Indonesia dan khususnya hukum

    pidana, terutama mengenai penerapan sanksi pidana terhadap pelaku tindak

    pidana pemerkosaan terhadap anak yang masih di bawah umur. Manfaat yang

    bersifat praktis adalah: (1) Untuk lebih mengembangkan penalaran, membentuk

    pola pikir dinamis, sekaligus untuk mengetahui kemampuan penulis dalam

    menerapkan ilmu yang diperoleh, dan (2) Untuk mengetahui permasalahan yang

    timbul serta berusaha untuk memberikan masukan dalam bentuk