PBL Komunikasi & Empati - Copy - Copy (2)

download PBL Komunikasi & Empati - Copy - Copy (2)

of 12

  • date post

    24-Nov-2015
  • Category

    Documents

  • view

    7
  • download

    2

Embed Size (px)

description

a

Transcript of PBL Komunikasi & Empati - Copy - Copy (2)

Komunikasi dan Empati Dokter terhadap Pasien

Andrew LoganF1 102012289

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Semester 1Alamat : Jalan Perunggu No.44, Cempaka Putih, Jakarta Pusat 10640Email : andrew_juanda@hotmail.com

Jakarta 2012

PendahuluanDewasa ini, globalisasi dan perkembangan teknologi berkembang cepat dalam setiap bidang, termasuk di bidang kedokteran. Namun dengan berkembangnya globalisasi tersebut, seringkali dalam hubungan dokter-pasien, komunikasi dan empati sering terabaikan. Padahal dalam hubungan antara dokter dengan pasien, diperlukan adanya komunikasi dan empati yang mendalam. Dokter tidak bisa memberikan pengobatan yang maksimal kepada pasien ataupun membuatnya nyaman, tanpa berkomunikasi dengan cara yang benar. Misalnya, tanpa melakukan anamnesis, dokter tidak dapat mendiagnosis pasien, memberikan prognosis, ataupun menentukan terapi pengobatannya. Oleh karena hal itulah, pada kesempatan kali ini penulis akan mencoba membahas komunikasi dan empati dokter terhadap pasien.

PembahasanAnalisa transaksionalAnalisa transaksional diperkenalkan oleh Eric Berne, seorang psikiater dan psiko-analisis, pada tahun 1961. Analisa transaksional menurut Eric Berne adalah suatu pendekatan untuk menganalisis dan mengubah hubungan pengaruh antar individu, yang menekankan interaksi kedua pihak dan kesadaran diri sendiri melalui pengaturan dan pengekspresian diri.1 Analisa transaksional menganalisa pasien melalui lima tahap, yaitu analisis struktural, analisis transaksional yang pantas, analisis permainan, analisis tulisan, dan kontrol sosial.2 Analisa transaksional menentukan ego dominan yang sedang berlangsung dalam diri seseorang. Di dalam diri manusia, terdapat tiga ego atau oknum, yaitu :1. Orangtua, yaitu tahap menyerupai figur orangtua.2 Pada oknum ego ini, individu berperasaan dan bertindak seperti yang dilakukan oleh orangtua. Di dalam oknum ini terdapat proteksi, kritik, bimbingan, dan arahan bagaimana melakukan sesuatu. Jika oknum ini terlalu dominan, maka seseorang akan menjadi sangat kritikal, sok tahu, mau menang sendiri, dan tidak mau dikritik oleh orang lain.2. Dewasa, yaitu masa kedewasaan dan kematangan dimana seseorang menghadapi dan menghargai otonomi, serta menghadapi dunia apa adanya.2 Seseorang yang menampilkan oknum dewasa, akan mengolah suatu persoalan berdasarkan data, analisa, dan logika. Di dalam oknum ini juga terdapat pengambilan keputusan dan bio-komputer. Oknum ini berorientasi pada realita / kenyataan, memberi keterangan yang diperlukan, menganalisa situasi, membandingkan berbagai alternatif penyelesaian, dan percaya diri sendiri. Namun jika seseorang menampilkan oknum ini terlalu dominan, maka ia akan terlalu rasional, dimana dalam pergaulan menjadi seseorang yang tidak menyenangkan. Ia tidak mempunyai banyak teman, tidak bisa bergembira karena selalu menggunakan otaknya. 3. Kanak-kanak, yaitu masa menyerupai seorang anak, dimana terdapat perilaku kekanakan di dalam diri seseorang. Oknum kanak-kanak ini terdapat berbagai aspek yang menonjol, yaitu perasaan, emosi, intuisi-fantasi, dan merespons sesuai petunjuk yang diberikan oleh orang lain. Namun, jika oknum ini yang paling dominan, maka seseorang akan bermain-main saja dan tidak bisa serius.Analisa transaksional dipandang sangat baik dan cocok dalam pertemuan sosial (transaksional), yaitu pertemuan dua atau lebih individu.2 Individu pertama memberikan stimulus transaksional, dan individu yang menjadi lawan bicara merespon dengan respon transaksional.2 Transaksi terbagi menjadi 3 jenis, yaitu complementary transaction, crossed transaction, dan ulterior transaction.Complementary transaction merupakan komunikasi yang paling sehat dimana ada pesan yang dikirim dari suatu oknum ego, dan respon yang diberikan sesuai dengan yang diharapkan. Crossed transaction terjadi ketika respon transaksi tidak sesuai dengan yang diharapkan agen pembicara, sehingga akan terjadi perselisihan, terdapat kemarahan, rasa bersalah, keributan, menghindar, dll. Ulterior transaction adalah komunikasi yang terdapat makna tersembunyi di dalam komunikasi yang diberikan dan orang lain dapat menerima dan mengerti apa yang disampaikan. Transaksi ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dengan memberikan isyarat ketika berbicara sehingga lawan bicara dapat mengerti makna tersembunyi yang dimaksudkan.Analisa transaksional sebaiknya diterapkan dan digunakan dalam kehidupan setiap orang. Dengan analisa transaksional, maka seseorang dapat belajar mempercayai, berpikir matang, mengambil keputusan sendiri secara mandiri, dan mengekspresikan perasaannya dengan baik. Tujuan diterapkannya analisa transaksional adalah untuk memperkaya kemampuan menghadapi dan mengatur situasi yang terdalam dalam interaksi di kehidupan nyata.1Unsur komunikasi dokter-pasienDi dalam komunikasi antara dokter dengan pasien, terdapat unsur-unsur yang esensial, yaitu manusiawi, empati, simpati, dan antipati.Manusiawi. Di dalam era kemajuan teknologi kedokteran yang berlangsung dengan cepat ini, timbul sebuah masalah dimana hubungan dokter-pasien sering tidak terjalin dengan baik. Dokter sering memperlakukan pasien secara tidak manusiawi. Hal ini dapat terjadi mungkin karena dokter tersebut telah kecapaian, mengalami suatu masalah, terdesak waktu, atau hal lainnya yang membuat dokter tersebut memperlakukan pasien secara tidak manusiawi. Jika dokter tidak memperlakukan pasien secara manusiawi, maka hal ini akan merusak hubungan dokter-pasien. Seorang dokter harus memiliki sikap atau unsur manusiawi. Di dalam unsur manusiawi ini, seorang dokter harus bertingkah laku atau bersikap sebagai berikut. Menerima orang lain sebagaimana adanya. Seorang dokter tidak boleh menolak keberadaan pasien karena tidak sesuai dengan harapan dokter. Dokter harus menerima kelebihan dan kekurangan setiap pasien. Memandang pasien sama rata atau secara adil, tanpa memandang identitas, status sosial, ataupun materi yang dimiliki pasien. Menghargai perbedaan pendapat pasien. Jika pasien memiliki pendapat berbeda yang ia pegang kukuh, maka dokter harus menghargainya dan tidak memaksakan kehendaknya. Namun dokter boleh melakukan persuasi terhadap pasien dengan cara yang halus. Tidak berprasangka / bersikap apriori terhadap pasien. Tidak menghakimi pasien. Sebagai seorang dokter tidak boleh sok tahu akan diri pasien, apalagi menghakiminya.Empati. Empati adalah suatu respon yang menyadari dan memahami perasaan pasien, serta tidak mencelanya.3 Namun empati adalah sebuah pengertian, berbeda dengan simpati emosional.3 Penerapan empati dapat memperkuat dan mempererat hubungan dokter dengan pasien, serta menjadikan anamnesis atau wawancara berjalan dengan lancar.3 Jika dokter melakukan anamnesis secara benar dan lengkap, maka dokter akan timbul rasa empati terhadap penderitaan pasien.4 Seorang dokter harus memiliki sifat empati ini, dimana dokter harus memahami, menghayati, dan mampu menempatkan diri di tempat orang lain sesuai dengan identitas, pikiran, perasaan, keinginan, perilaku, kondisi mental, dan kondisi fisiknya. Di dalam melakukan empati, diperlukan tiga kemampuan sebagai berikut.1. Kemampuan kognitif, yaitu dimana dokter mampu mengerti akan kebutuhan pasien.2. Kemampuan afektif, yaitu dimana dokter memiliki kepekaan akan perasaan pasien.3. Kemampuan perilaku, yaitu dimana dokter mampu mengungkapkan / memperlihatkan empatinya kepada pasien.Keterampilan seorang dokter untuk berempati bukanlah hanya bermanis mulut kepada pasien, melainkan harus mendengarkan secara aktif, responsif terhadap kebutuhan dan kepentingan pasien, serta berusaha memberikan pertolongan sebisa mungkin pada pasien. Empati haruslah dimulai dari diri sendiri.Dengan empati, maka kita dapat meningkatkan pertumbuhan kerohanian pasien, dan menolong pasien untuk menjadi lebih kuat, mandiri, dan mampu melihat realitas yang dihadapi. Dengan empati pasien juga mendapat kepastian bahwa masalah yang ia hadapi adalah masalah umum dan sudah diketahui penyebabnya, dimana gejalanya tidak berbahaya bila cepat diterapi, metode perawatannya pun sudah tersedia, masalahnya bisa dipecahkan, dan hal-hal yang buruk dapat terjadi jika tidak mengikuti terapi yang diberikan.Simpati. Simpati berbeda dengan empati. Simpati berasal dari bahasa Yunani, yaitu syn, yang artinya bersama, dan pathos, yang artinya perasaan. Jadi, simpati artinya adalah ikut larut dalam perasaan orang lain sehingga memiliki emosi dan perasaan yang sama dengan orang lain. Simpati biasanya didahului oleh empati yang dilanjutkan dengan terlarut di dalam perasaan atau penderitaan orang lain, sedangkan empati hanya terbatas pada pengertian dan pemahaman saja. Di sinilah letak perbedaannya. Misalnya ketika pasien menceritakan penyelewengan suaminya sambil menangis. Jika dokter berempati, maka dokter memahami dan mengerti akan keadaan pasien dengan baik, dan mendukungnya dengan memberi solusi. Namun jika dokter bersimpati, maka dokter akan terlarut dalam perasaan pasien, ikut menangis, tidak dapat berpikir jernih, atau bahkan bisa menghakimi dan membenci suami dari pasien tersebut.Dokter dalam menghadapi pasien harus memiliki empati, bukan simpati. Jika dokter bersimpati terhadap pasien, maka dokter akan terlarut dalam perasaan dan penderitaan pasien, terpengaruh pikiran dan emosinya, tidak berpikir jernih, menambah beban pikiran dokter, dll. Oleh karena itu, sikap simpati ini harus dihindarkan oleh dokter dalam menghadapi pasien.Antipati. Antipati berasal dari bahasa Yunani, yaitu anti, yang artinya berlawanan atau bertentangan, dan pathos, yang artinya perasaan. Jadi antipati adalah lawannya simpati. Antipati merupakan penolakan terhadap suatu pandangan tertentu. Ketika pasien mengemukakan perasaannya, pendapatnya, ataupun pandangannya, dokter menolak pandangan pasien tersebut dengan alasan tertentu. Misalnya ketika pasien berkata bahwa penyelasaian masalahnya adalah bunuh diri, maka dokter dengan tegas menolak pandangan pasien dan mem