NEGOSIASI DAN RESOLUSI KONFLIK INTERNASIONAL: BEBERAPA KASUS YANG TERSELESAIKAN DAN ANALISISNYA

download NEGOSIASI DAN RESOLUSI KONFLIK INTERNASIONAL: BEBERAPA KASUS YANG TERSELESAIKAN DAN ANALISISNYA

of 21

  • date post

    28-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    254
  • download

    0

Embed Size (px)

description

Essay mengenai beberapa konflik internasional yang sudah terselesaikan saat ini.

Transcript of NEGOSIASI DAN RESOLUSI KONFLIK INTERNASIONAL: BEBERAPA KASUS YANG TERSELESAIKAN DAN ANALISISNYA

AMALIA ZATALINI14010411100036 / 035 NEGOSIASI DAN RESOLUSI KONFLIK INTERNASIONALHUBUNGAN INTERNASIONAL

1. Jenis konflik yang mudah diselesaikan:Jenis konflik yang mudah diselesaikan adalah konflik internal atau intrastate conflict karena selama berlangsungnya konflik tidak ada pihak luar yang terlibat sehingga konflik dapat diselesaikan tanpa terlalu banyak campur tangan pihak asing dan tekanan-tekanan yang diakibatkan oleh kepentingan pihak-pihak luar yang berkepentingan dengan konflik tersebut. Beberapa contoh inrastate conflict yang berhasil diselesaikan antara lain:

Konflik Bosnia Awal mula konflikPeristiwa genosida terjadi di Bosnia semasa pemerintahan Slobodan Millosevic. Konflik berawal dari perbedaan cara pandang antara etnis Serbia dengan etnis Bosnia dalam memahami keyakinan dan kepentingan satu sama lain sehingga berujung pada peristiwa pembantaian massal yang dilakukan oleh tentara Ultra nasionalis Serbia terhadap etnis Bosnia yang mayoritas Islam. Melalui referendum, pada tanggal 3 Maret 1992 rakyat BosniaHerzegovina menyepakati pemisahan diri mereka dari Yugoslavia dan mendirikan negara Republik BosniaHerzegovina. Hal ini menimbulkan kekecewaan etnis Serbia yang berada di Bosnia dan menjadi titik awal dari perang etnis terbesar dalam sejarah Eropa kontemporer. Di bawah komando Slobodan Millosevic dukungan terhadap etnis Serbia yang bermukim di Bosnia pun datang dari tentara Ultra nasionalis Serbia dimana mereka menjadikan kaum Muslim Bosnia sebagai sasarannya. Banyak dari tentara Ultra nasionalis yang melakukan kekejaman seperti pembunuhan terhadap penduduk sipil (terutama warga Muslim), pemerkosaan massal, pemindahan penduduk secara paksa, dan pengerusakan fasilitas umum saat peperangan berlangsung.Perang tersebut berlangsung selama 3,5 tahun dan telah menyebabkan 250.000 lebih warga Muslim Bosnia tewas serta 1,5 juta lainnya terpaksa hidup dalam pengungsian. Petinggi militer Serbia dan penguasa rezim fasis di Yugoslavia diduga menjadi otak dari semua peristiwa berdarah tersebut dimana tokohnya seperti Radovan Karadzic, Ratko Mladic, Milan Gvero dan Soblodan Millosevic adalah arsitek utama genosida di BosniaHerzegovina. Analisis konflikPendekatan yang digunakan untuk menganalisis konflik Bosnia yakni rational actor. Hal ini berdasarkan fakta bahwa genosida yang dilakukan oleh pemerintah disebabkan oleh keinginan pemerintah untuk mempertahankan wilayah kedaulatannya. Seperti yang diketahui bahwa pada saat itu Yugoslavia pecah menjadi 6 negara yang didasarkan oleh etnis. Berbeda dengan negara pecahan lainnya yang lebih mudah mendapatkan kemerdekaan, Bosnia mengalami kesulitan untuk mencapai hal tersebut meskipun referendum telah dilakukan. Sebaliknya, Bosnia justru harus menghadapi 2 pilihan sebagai akibat dari hasil referendum tersebut. Pertama, Bosnia tetap menjadi bagian dari Yugoslavia dimana etnis Serbia Bosnia akan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dibandingkan dengan etnis Muslim dan Kroasia yang berada di sana. Kedua, memisahkan diri dari Yugoslavia namun etnis Muslim Bosnia tidak mendapatkan perlindungan dan akses militer. Dipersulitnya Bosnia untuk memisahkan diri dikarenakan sebagai bagian yang memilki etnis yang kompleks, Bosnia terdiri dari tiga etnis yaitu Muslim, Serbia, dan Kroasia dimana etnis Serbia yang bermukim di Bosnia menolak untuk memisahkan diri dari Yugoslavia. Alasan lainnya yakni wilayah Bosnia pada masa Yugoslavia masih dipimpin oleh Broz Tito difokuskan untuk menjadi basis industri yang mana industri militer termasuk di dalamnya sehingga apabila Bosnia melepaskan diri maka akan sangat merugikan bagi Yugoslavia. Resolusi konflikAtas kejahatan terhadap kemanusiaan yang telah dilakukan oleh tentara Ultra nasionalis Serbia maka dibentuklah International Criminal Tribunal for the former Yugoslavia (ICTY) demi mempertanggungjawabkan perbuatan keji tersebut. Keberadaan pengadilan tersebut merupakan hasil dari Resolusi 827 yang dikeluarkan oleh Dewan Keamanan PBB yang dibentuk dengan tujuan menyelidiki, mengadilkan para individu yang telah melakukan pelanggaran hak asasi manusia atau kejahatan terhadap kemanusiaan, genosida di wilayah Yugoslavia. Pada tanggal 25 Mei 1993 anggota Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat memilih untuk mendirikan ICTY serta menilai bahwa pembunuhan massal, pembersihan etnis, penyiksaan, perkosaan dan kejahatan lain yang terjadi pada saat konflik di wilayah Yugoslavia merupakan ancaman bagi perdamaian dan keamanan internasional. ICTY mempekerjakan sekitar 1.200 staff serta mempunyai tiga komponen organisasi yaitu Chambers, Registry, dan Office of The Prosecutor (OTP). Chambers terdiri dari hakim-hakim yang bekerja di pengadilan tingkat pertama dan pengadilan banding. Pengadilan banding dalam ICTY juga merangkap fungsi sebagai pengadilan banding ICTR. Registry merupakan organisasi yang bertanggungjawab terhadap keseluruhan administrasi dari ICTY seperti menyimpan catatan pengadilan, mengalihbahasakan dokumen pengadilan. Registry juga bertanggungjawab atas unit penahanan (Detention Unit) bagi tersangka yang sedang menjalani proses pengadilan dan program Legal Aid bagi tersangka yang tidak mampu membayar untuk pembelaannya. Sementara OTP bertanggungjawab untuk melaksanakan investigasi terhadap kejahatan, mengumpulkan bukti, dan menuntut tersangka.Tahun 2011, penangkapan terhadap Ratko Mladic yang merupakan komandan senior militer Angkatan Darat Serbia-Bosnia baru dilakukan sejak ia didakwa tahun 1995 oleh ICTY. Ratko Mladic didakwa dengan 15 tuduhan genosida dan kejahatan perang terhadap kemanusiaan, terutama terhadap warga sipil Muslim Bosnia, Kroasia Bosnia dan nonSerbia di wilayah Bosnia-Herzegovina tahun 1992-1995 dengan kejahatan meliputi:a. Pembunuhan hampir 8.000 pria Muslim Bosnia dan anak laki-laki di Srebrenica pada tahun 1995.b. Pembunuhan, penganiayaan, pemindahan paksa, penahanan dan penganiayaan terhadap kaum Muslim Bosnia dan Kroasia Bosnia selama kampanye dengan tujuan menghapus permanen orang tersebut dari wilayahnya di bawah kendali kekuatan Republika Srpska.c. Kampanye teror dan penembakan dan mengecam warga sipil di Sarajevo oleh pasukan Serbia Bosnia di bawah komandonya dan kontrol yang mengakibatkan pembunuhan dan melukai ribuan warga sipil, termasuk banyak wanita dan anak.d. Pengambilan pengamat militer PBB dan personil pemelihara perdamaian sebagai sandera Mei dan Juni 1995. Ratko Mladic diadili lebih lanjut oleh pengadilan di Den Haag Belanda dan mendapatkan perhatian dunia internasional. Selain Mladic, ICTY juga menghukum mantan Jenderal Serbia Bosnia Zdravko Tolimir dengan hukuman penjara seumur hidup atas tuduhan genosida terhadap Muslim selama perang Bosnia. Ada pula Stanko Kojic yang dijatuhi hukuman penjara selama 43 tahun karena keterlibatannya dalam eksekusi massal ratusan Muslim Bosnia di Srebrenica. Selanjutnya tiga mantan tentara Serbia-Bosnia yang dieksekusi karena kasus yang sama yakni Kos Franc dan Zoran Goronja dimana masing-masing dipenjara selama 40 tahun serta Vlastimir Golijan selama 19 tahun karena dia berusia di bawah 21 tahun saat itu. Pun begitu ketiganya dibebaskan dari tuduhan genosida karena kurangnya bukti tentang niat mereka untuk melakukan genosida. Kojic mendapatkan hukuman terlama karena hakim menilai ia telah melakukan pembantaian secara kejam dari yang lain dan kemudian berbohong tentang jumlah orang-orang yang telah dibunuhnya. Keempatnya bertugas di unit komando 10 tentara Serbia-Bosnia dan total hukuman 142 penjara yang dijatuhkan pada mereka merupakan tuntutan terpanjang yang pernah dijatuhkan oleh pengadilan kejahatan perang Bosnia. Pengadilan bagi Millosevic sendiri baru dimulai di Den Haag pada 12 Februari 2002 dimana Millosevic bertindak sebagai pembela dirinya sendiri dan tidak mengakui yurisdiksi ICTY. Jaksa penuntut membutuhkan dua tahun untuk menyampaikan tuntutannya pada bagian pertama dari pengadilan itu yang mencakup perang di Kroasia, Bosnia dan Kosovo. Selama masa itu sakit yang didera Millosevic semakin parah hingga menyebabkan jeda dan pengadilan yang diperpanjang hingga sekurang-kurangnya enam bulan. Awal 2004, ketika Millosevic muncul di pengadilan untuk mulai menyampaikan pembelaanya dengan menyebutkan lebih dari 1.200 orang saksi, kedua hakim ICTY memutuskan untuk menunjuk dua orang pengacara dimana tindakan ini ditentang oleh Miloevi sendiri serta kedua pengacara Britania yang ditunjuk mendampinginya. Ia pun dijatuhi dakwaan atas kejahatan perang serta kejahatan terhadap kemanusiaan yang ia lakukan di Kosovo. Kemudian pada tanggal 11 Maret 2006 Millosevic meninggal di sel tahanannya di Den Haag sehingga vonis terhadapnya tidak pernah terjadi.Dalam kasus Bosnia ini menurut pengamatan International Court Justice (ICJ) Serbia tidak bertanggungjawab atas pemusnahan massal dimana ICJ hanya memutuskan bahwa Serbia melakukan kealalaian dengan membiarkan terjadinya genosida di daerah negaranya sendiri. Tuntutan Bosnia agar Serbia bertanggungjawab menganti rugi kepada para muslim korban di desa-desa Bosnia Timur pun tidak disetujui oleh pihak ICJ. Namun ICJ telah menemukan beberapa bukti bahwa pembunuhan secara masif benar-benar terjadi di kamp-kamp konsentrasi di wilayah yang terjadi konflik, terjadinya pemerkosaan, serta pencacatan secara fisik dengan sengaja. Sayangnya ICJ belum menemukan bukti kuat kejadian ini terjadi atas dasar keinginan Serbia untuk menghilangkan etnis Muslim Bosnia. Hal ini menyebabkan munculnya spekulasi bahwa keputusan Mahkamah Internasional membatalkan tuntutan Bosnia kepada Serbia agar bertanggung jawab atas genosida terhadap warga Muslim Bosnia di kota Srebenica telah diintervensi oleh beberapa pihak. Opini yang beredar juga beranggapan bahwa apabila rakyat Bosnia mayoritas beragama Kristen mungkin negara-negara Barat tidak akan tinggal diam menyaksikan pembantaian massal pada puluhan ribu warga Muslim Bosnia dan lambat dalam menanganinya.

Konflik Sri Lanka Awal mula konflikSebelum menjadi negara merdeka, sejak tah