Na. Pengelolaan Keuangan

download Na. Pengelolaan Keuangan

of 39

  • date post

    12-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    12
  • download

    5

Embed Size (px)

description

naskah akademik fh unsur

Transcript of Na. Pengelolaan Keuangan

  • 1NASKAH AKADEMIK RAPERDA KABUPATEN CIANJUR

    RAPERDA TENTANGPENGELOLAAN KEUANGAN

    FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SURYAKANCANA CIANJURTAHUN 2011

    JL. Pasir Gede Raya Telp. (0263) 262773 Fax. (0263) 262773 Cianjur 43216

  • 2BAB IPENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Penelitian.Kebijakan Desentralisasi yang efektif dilaksanakan sejak tahun

    2001 pada gilirannya akan meningkatkan kesempatan bagiPemerintahan Daerah untuk memberikan alternatif pemecahansecara inovatif dalam menghadapi tantangan yang dihadapi.Pemerintah Daerah dituntut untuk memberikan perhatian yang lebihbesar terhadap kualitas penyelenggaraan pelayanan publik sertameningkatkan kemandirian dalam melaksanakan pembangunan.1

    Penyelenggaraan pemerintahan sesuai dengan ketentuan Pasal18 UUD 1945 tidak bersifat sentralistik, melainkan denganpemerataan kewenangan secara vertikal yang melahirkanpemerintahan daerah. Beranjak dari ketentuan Pasal 18 UUD 1945nampak bahwa Negara Indonesia sebagai Negara Kesatuan menganutasas desentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan denganmemberi kesempatan dan kewenangan kepada daerah untukmenyelenggarakan otonomi daerah. Dalam Negara Kesatuan

    1 Hamzah Halim dan Kemal Redindo Syahrul Putera, Cara Praktis Menyusun &Merancang Peraturan Daerah; Suatu Kajian Teoritis & Praktis Disertai Manual;Konsepsi Teoritis Menuju Artikulasi Empiris, Kencana Prenada Media Group,Jakarta, 2010, hlm 82

  • 3pembagian kewenangan secara vertikal merupakan pembagiankewenangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah yangdilakukan dengan cara atribusi atau delegasi.2

    Desentralisasi dapat diartikan penyerahan atau pengakuan hakatas kewenangan untuk mengurus rumah tangga daerah sendiri,dalam hal ini daerah diberi kesempatan untuk melakukan suatukebijakan sendiri. Pengakuan tersebut merupakan suatu bentukpartisipasi rakyat dalam pengambilan keputusan yang merupakanciri dari negara demokrasi. Desentralisasi adalah pendelegasianwewenang dalam membuat keputusan dan kebijakan pada levelbawah pada suatu organisasi.3

    Ten Berge mengartikan desentralisasi sebagai suatupenyerahan atau pengakuan hak (mengenai keadaan yang telahdinyatakan) atas kewenangan untuk pengaturan dan pemerintahandan badanbadan hukum publik yang rendahan atau organorgandalam hal mana ini diberi kesempatan untuk melakukan suatukebijaksanaan sendiri. Istilah otonomi lebih cenderung pada PoliticalAspect (aspek politikkekuasaan negara), sedangkan desentralisasilebih cenderung pada administrative aspect (aspek administrasi

    2 Maurice Duverger, dalam Kuntjoro Purbopranoto, Sistem PemerintahanDemokrasi, cet 3. PT.Eresco, Bandung, 1978, hlm 92

    3 Hamzah Halim dan Kemal Redindo, Ibid, hlm 90

  • 4negara). Namun jika dilihat dari konteks pembagian kewenangandalam praktiknya, kedua istilah tersebut mempunyai keterkaitanyang erat dan tidak dapat dipisahkan. Artinya jika berbicaramengenai otonomi daerah tentu akan menyangkut pertanyaanseberapa wewenang yang akan diberikan kepada pemerintah daerahuntuk menyelenggarakan urusan pemerintahan, demikiansebaliknya.4

    Pembagian kewenangan secara vertikal yang melahirkandaerah otonom tersebut tentunya tidak lepas sebagai sarana untukmempermudah atau mempercepat terwujudnya kesejahteraan.Menurut Sandy pembentukan daerah otonom bertujuan :1. Mengurangi beban pemerintah pusat dan campur tangan tentang

    masalah masalah kecil pada tingkat lokal serta memberikanpeluang untuk koordinasi pada tingkat lokal;

    2. Meningkatkan pengertian rakyat serta dukungan mereka dalamkegiatan usaha pembangunan sosial ekonomi. Demikian pulapada tingkat lokal, dapat merasakan keuntungan dari kontribusikegiatan mereka itu;

    3. Penyusunan Program program untuk perbaikan sosial ekonomipada tingkat lokal sehingga lebih realistis;

    4 Ibid, hlm 93

  • 54. Melatih rakyat untuk bisa mengatur urusannya sendiri (SelfGoverment);

    5. Pembinaan Kesatuan Nasional.5

    Sedangkan Dann Suganda berpendapat bahwa pembentukandaerah otonom juga didasarkan adanya kemungkinan :1. Pemanfaatan sebesar besarnya potensi daerah sendiri;2. Untuk memusatkan masyarakat didaerahdaerah karena aspirasi

    dan kehendaknya terpenuhi;3. Masyarakat setempat lebih banyak ikut serta didalam

    memikirkan masalah masalah pemerintahan, jadi lebih cocokdengan susunan pemerintahan yang demokratis;

    4. Pembangunan didaerahdaerah akan lebih pesat, karena tiap tiapdaerah akan berusaha untuk menciptakan kebanggaannyasendiri.6

    Berdasarkan pendapat tersebut nampak bahwa otonomi daerahsangat berkaitan dengan demokrasi, kesejahteraan rakyat, efisiensidan efektifitas penyelenggaraan pemerintahan. Dalam usaha untukmewujudkan tujuan Negara, desentralisasi sebagaimana yang di aturdalam Undangundang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan

    5 Jimly Asshiddiqie, Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara, Jilid II, SekretariatJenderal Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, Jakarta, 2006, hlm 16

    6 Daan Suganda, Sistem Pemerintahan Republik Indonesia dan PemerintahanDaerah, Sinar Baru, Bandung, lhm 61

  • 6Daerah, diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraanmasyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan danperan serta masyarakat serta peningkatan daya saing daerah denganmemperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan,keistimewaan dan kekhususan suatu daerah dalam Sistem NegaraKesatuan Republik Indonesia; bahwa efisiensi dan efektifitaspenyelenggaraan pemerintahan daerah perlu ditingkatkan denganlebih memperhatikan aspekaspek hubungan antar susunanpemeritahan dan antar pemerintahan daerah, potensi dankeanegkaragaman daerah, peluang dan tantangan persaingan globaldengan memberikan kewenangan yang seluasluasnya kepadadaerah disertai dengan pemberian hak dan kewajibanmenyelenggarakan otonomi darah dalam kesatuan sistempenyelenggaraan pemerintahan daerah.

    1. Landasan filosofis.Pada dasarnya pembangunan di Negara Indonesia ditopang

    oleh pembangunan di tingkat propinsi, demikian juga majumundurnya pembangunan di propinsi tidak terlepas daripembangunan di Kabupaten-kabupaten yang berada di bawahnya.Dan sudah barang tentu maju mundurnya Kabupaten tergantung

  • 7pada pembangunan di kelurahan dan desa-desa di bawahpemerintahannya. Demikian pula dengan laju pertumbuhanperekonomian disuatu daerah baik Kabupaten maupun propinsitidak terlepas dari kemajuan pembangunan ekonomi di desa-desa.

    Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang PemerintahanDaerah mengatur secara khusus mengenai Keuangan Desa. Pasal212 menyatakan bahwa,

    Keuangan desa adalah semua hak dan kewajiban desayang dapat dinilai dengan uang, serta segala sesuatubaik berupa uang maupun berupa barang yang dapatdijadikan milik desa berhubung dengan pelaksanaan hakdan kewajiban.7

    Adapun yang menjadi sumber pendapatan desa antara lain :a. pendapatan asli desa;b. bagi hasil pajak daerah dan retribusi daerah

    kabupaten/kota;c. bagian dari dana perimbangan keuangan pusat dan

    daerah yang diterima oleh kabupaten/kota;

    7 Pasal 212 ayat (1) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang PemerintahanDaerah

  • 8d. bantuan dari Pemerintah, pemerintah prov7insi, danpemerintah kabupaten/kota;

    e. hibah dan sumbangan dari pihak ketiga.8

    Kenyataan menunjukkan bahwa sumber-sumber keuangandesa sebagaimana dimaksud di atas belum sepenuhnya dikelolasecara optimal, terutama sumber pendapatan desa yang berasal daripendapatan asli desa. Hal ini tidak terlepas dari berbagai faktorpenghambat, yang salah satunya masih terbatas atau lemahnyaSumber Daya Manusia (SDM) aparatur pemerintahan desa itusendiri. Dengan demikian hampir dapat dipastikan, banyak desayang hanya bergantung pada bantuan dari pemerintah pusat,propinsi maupun Kabupaten. Kenyataan ini masih ditambah dengankurangnya peraturan perundang-undangan maupun peraturanlainnya yang secara spesifik mengatur tentang pengelolaan keuangandesa. Padahal tidak sedikit dana yang disalurkan pemerintah pusat,propinsi maupun Kabupaten untuk Desa. Alhasil tujuanpenyelenggaraan otonomi daerah yakni memajukan perekonomian didaerah, menciptakan efisiensi dan evektifitas pengelolaan sumber

    8 Ibid, Pasal 212 ayat (3)

  • 9kekayaan daerah9, sulit untuk dicapai. Tidak jarang Keuangan daripemerintah yang tidak dikelola dengan baik hanya menguntungkansekelompok orang desa saja.

    Sudah menjadi rahasia umum bahwa ketersediaan sumberdaya manusia yang kompeten dan professional. Disamping itusumber pembiayaan yang masih kurang memadai baik yang berasaldari desa itu sendiri maupun dari luar.10

    Pengelolaan keuangan desa harus sesuai dengan prinsip-prinsip pengelolaan keuangan pada umumnya. Disamping itukeberadaan regulasi yang tegas, masih belum bisa diwujudkan. Akantetapi hal ini sangat mendesak untuk segera dibuat berbagaiperangkat hukum yang akan mengatur tata kelola keuangan desaagar

    2. Landasan Yuridis.Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan

    Daerah mengatur secara khusus mengenai Keuangan Desa sebagai,semua hak dan kewajiban desa yang dapat dinilai dengan uang,serta segala sesuatu baik berupa uang maupun berupa barang yang

    9 Mardiasmo. Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah, Penerbit Andi,Yogyakarta, 2004, hlm. 59.

    10 Maryunani, Keuangan dan Ekonomi Desa, Makalah, Fakultas Ekonomi UniversitasBrawijaya, Malang, 2006.

  • 10

    dapat dijadikan milik desa berhubung dengan pelaksanaan hak dankewajiban (desa).

    Ketentuan di atas dipertegas dengan Peraturan Menteri DalamNegeri Nomor 37 Tahun 2007 Tentang Pedoman PengelolaanKeuangan Desa. Dimana dalam peraturan tersebut, PengelolaanKeuangan Desa meliputi:

    1) perencanaan,2) penganggaran,3) penatausahaan,4) pelaporan,5) pertanggung-jawaban; dan6) pengawasan keuangan desa.Perlunya pengaturan yang khusus mengatur mengenai

    pengelolaan keuangan desa tidak terlepas dari ditetapk