MODEL-MODEL

11
MODEL-MODEL ’’KLAB’’

description

MODEL-MODEL. ’’KLAB’’. ADA TIGA MODEL “KLAB”. 1) culture centred model, 2)  integrative model, 3) ethnomedical model. culture centred model. Model ini menjadikan budaya menjadi pusat perhatian. - PowerPoint PPT Presentation

Transcript of MODEL-MODEL

Page 1: MODEL-MODEL

MODEL-MODEL’’KLAB’’

Page 2: MODEL-MODEL

ADA TIGA MODEL “KLAB”

1) culture centred model, 2)  integrative model, 3) ethnomedical model.

Page 3: MODEL-MODEL

CULTURE CENTRED MODEL

Model ini menjadikan budaya menjadi pusat perhatian.

Dalam konteks ini, harus ada pemahaman yang tepat atas nilai-nilai budaya yang telah menjadi keyakinan bagi kedua pihak (konselor dan klien) dan menjadi pola perilaku individu.

Page 4: MODEL-MODEL

LANJUTAN.........................

Dalam proses “KLAB” penemuan dan pemahaman  konselor dan klien terhadap akar budaya menjadi sangat penting.

Dengan cara inilah mereka dapat mengevaluasi diri masing-masing sehingga terjadi pemahaman terhadap identitas dan keunikan cara pandang masing-masing.

Page 5: MODEL-MODEL

LANJUTAN..............

Pengajuan model “KLAB” yang pertama ini didasarkan pada suatu bentuk hubungan budaya antara konselor dan klien:

1. adanya kemungkinan terjadinya ketidaksejalanan antara asumsi konselor dengan klien atau kelompok klien tentang budaya, bahkan dalam budayanya sendiri.

2. adanya kemungkinan konselor tidak mengerti keyakinan-keyakinan budaya yang fundamental dari kliennya, begitu juga sebaliknya,.

Page 6: MODEL-MODEL

INTEGRATIVE MODEL Model integrasi ini meyakini bahwa keberhasilan

sebuah proses “KLAB” adalah terkait dengan asesmen yang tepat terhadap pengalaman-pengalaman budaya dan agama sebagai suatu sumber perkembangan pribadi.

Pengalaman budaya/agama (tradisional) yang dimaksud adalah pengalaman yang memfasilitasi seseorang bisa berkembangan, baik secara disadari ataupun tidak disadari (seperti nilai-nilai budaya yang diturunkan dari generasi ke generasi, yang dikenal dengan istilah colective uncosious.

Kekuatan model ini terletak pada kemampuan mengases nilai-nilai budaya/agama (tradisional) dimiliki individu dari berbagai varibel di atas. 

Page 7: MODEL-MODEL

LANJUTAN...........

Dalam model integratif ini ada empat unsur yang menjadi panduannya:

1. Reaksi terhadap tekanan-tekanan rasial (reactions to racial oppression).

2. Pengaruh budaya mayoritas (influence of the majority culture). 

3. Pengaruh budaya tradisional (influence of traditional culture).

4. Pengalaman dan anugerah individu dan keluarga (individual and family experiences and endowments).

Page 8: MODEL-MODEL

ETHNOMEDICAL MODEL

Model etnomedikal ini merupakan alat konseling transkultural yang berorientasi pada paradigma memfasilitasi dialog terapeutik dan peningkatan sensitivitas transkultural.

Model ini menempatkan individu (klien) dalam konsepsi sakit dalam budaya.

Page 9: MODEL-MODEL

ADA BEBERAPA UNSUR ..........

1) Konsepsi sakit (sickness conception) Seseorang dikatakan sakit secara

budaya/agama ketika dia melakukan penyimpangan norma-norma budaya, melanggar batas-batas keyakinan agama dan berdosa, melakukan pelanggaran hukum, mengalami masalah interpersonal.

2) Causal/healing beliefs Model healing dengan cara mengembangkan

pendekatan yang cocok dengan keyakinan klien,  menjadikan keyakinan klien sebagai hal familiar bagi konselor, menunjukkan bahwa semua orang dari berbagai budaya perlu berbagi (share)  tentang keyakinan yang sama.

Page 10: MODEL-MODEL

LANJUTAN....

3) Kriteria sehat (wellbeing criteria) Individu yang sehat (mental) adalah

seseorang yang harmonis antara dirinya sendiri dengan alamnya. Artinya, fungsi-fungsi pribadinya adaftif dan secara utuh dapat mematuhi aturan-aturan sosial  dalam komunitasnya.

4) Body function beliefs Adanya keyakinan terhadap sebuah

kerangka pikir lebih bermakna secara sosial, dan penerimaan klien semakin membaik dalam kehidupan sehari-hari, sehingga muncul intrapsikis yang efektif pada diri klien .

Page 11: MODEL-MODEL

PENDEKATAN DALAM “KLAB”

1. Pendekatan etik (universal) yang menekankan inklusivitas, komunalitas atau keuniversalan kelompok-kelompok individu atau klien.

2. Pendekatan emik (ke-khasan budaya) yang menyoroti karakteristik yang khas dari suatu populasi secara spesifik dan kebutuhan-kebutuhan konseling yang khusus bagi mereka.

3. Pendekatan transcultural, yakni gabungan dari keduanya yang lebih menekankan bahwa keterlibatan seseorang dalam konseling merupakan proses yang aktif dengan mempertimbangkan keuniversalan dan kekhasaan dari budaya/agama klien..