Menggapai Reruntuhan Sang Legendaris Puncak Garuda Catatan

Click here to load reader

download Menggapai Reruntuhan Sang Legendaris Puncak Garuda Catatan

of 40

  • date post

    31-Dec-2016
  • Category

    Documents

  • view

    217
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Menggapai Reruntuhan Sang Legendaris Puncak Garuda Catatan

  • SALAM DARI REDAKSI

    Terbitan Agustus 2012 memberikan berbagai informasi, baik kegiatan mahasiswa, alumni dan departemen geografi. Berbagai informasi ini pastinya menambah informasi dan pengetahuan bagi para pembaca.

    Kegiatan Departemen Geografi di tahun 2012 terus menjalin kerja sama antar negara terus dijalankan baik dengan Malaysia atau Australia sebagai mitra terdekat sesuai dengan MOU yang telah dibuat antara UI dengan Univ of Malay dan Univ of Sydney

    Catatan perjalan mahasiswa baik kegaitan mendaki gunung, konferensi internasional dan kegaiatan imahagi disampaikan secara jelas apa saja kegiatan kemahasiswaan di Dept Geografi UI tahun 2012 selain belajar dan penelitian.

    Tak lupa informasi dari alumni sebagai pilar hasil produk dari sebuah institusi pendidikan, baik kegiatan alumni, atau pun tulisan dari alumni. Selain itu juga redaksi tetap menerima tulisan dari luar civitas, selama masih ada kaitanya dengan Departemen Geografi.

    Selamat membaca

    REDAKSI GEOSPASIAL

    Dari Redaksi

  • Daftar Isi

    Menggapai Reruntuhan Sang Legendaris Puncak Garuda Catatan Perjalanan Pendakian Gunung Merapi Pasca Erupsi 2010 4

    Mahasiswa Geografi Menjadi Delegasi Indonesia di ICDYV Manila 15

    Sekilas Ringkasan National Workshop On Sustainable Develop-ment Goals (SDG) 19

    When China Rules The World: The End of Western And The Birth of a New Global Order 22

    Menuju Student Exchange Geografi Universitas Indonesia dan University of Malaya 30

    Rakorwil IMAHAGI Regional Dua di UPI 32

    Mengenal Suhu Udara 35

    Interdisiplinary Faculty Development Workshop: Geographically Integrated Disaster Management 37

    PENASEHAT:Dr. Rokhmatuloh, M.Eng

    REDAKSI:Adi Wibowo, Iqbal Putut, Laju Gandharum, Ratri Candra, Weling Suseno, Rendy P., Ardiansyah

    STAF AHLI:Astrid Damayanti, Sugeng Wicahyadi, Supriatna, Triarko Nurlambang

    ADMINISTRASI:Ashadi Nobo

    ALAMAT REDAKSI:Gd. Departemen Geografi,FMIPA Universitas IndonesiaKAMPUS UI DEPOKTelp. (021) 7721 0658, 702 4405Fax. (021) 7721 0659

    Diterbitkan oleh:Forum Komunikasi Geografi Universitas Indonesia

    Redaksi menerima artikel / opini / pendapat dan saran dari pembaca, utamanya yang berkaitan dengan masalah keruangan. Kirimkan tulisanke alamat redaksi atau email dengan disertakan nama, alamat lengkap, nomor teleponserta Biografi.

  • Perjalanan

    Vo l u m e 1 0 / N o . 2 / A g u s t u s 2 0 1 24

    Menjelang akhir bulan Mei, saat itu merupakan minggu minggu terakhir sebelum UAS di Departemen Geografi UI. Tak usah ditanya, tugas yang menggunung, persiapan belajar demi nilai akhir, dan belum lagi laporan Kuliah Lapang yang baru saja berakhir memang sangat menyita waktu, pikiran, dan fisik Saya dan teman teman di Geografi UI. Well, toh itu semua tak menjadi penghalang bagi Saya, Dewa, Hasan, Arga, dan Eron untuk tetap melakukan pendakian ke gunung berapi yang merupakan salah satu yang teraktif di dunia, Gunung Merapi.

    Ya, mungkin karena passion kami untuk naik gunung mengalahkan semua cobaan di atas, kami pun sepakat untuk tetap melakukan perjalanan ini.

    Lebih dari separuh keberhasilan, keselamatan, dan kenyamanan pendakian sangat bergantung pada persiapan pendakian itu sendiri.

    Bukan naik gunung bagi kami, GMCers, jika tidak dengan persiapan yang matang. Perencanaan tentang informasi, peta, hingga persiapan fisik terkait perjalanan kali ini sudah kami rencanakan sebelumnya dari jauh hari tentunya. Maksud perjalanan Saya dan empat orang teman Saya adalah melakukan updating jalur dan pos pos pendakian Gunung Merapi pasca erupsi hebat tahun 2010 silam, selain tentu saja obsesi pribadi kami untuk menyambangi Gunung Merapi, hehe. Mengingat pendakian via selatan, Kaliurang, masih dilarang, jadilah kami merencanakan pendakian via Selo, sisi utara Gunung Merapi.

    Rabu, 16 Mei 2012

    Pukul 09.00 WIB kami berlima berkumpul di kampus. Kebetulan hari itu jadwal kuliah tidak begitu padat, sebenarnya meskipun padat juga tak seberapa berpengaruh sih, karena kami sepakat untuk tidak masuk kelas mulai hari itu demi kelancaran persiapan, haha. Tiket bus menuju Jogja yang kami beli di daerah Pal Depok menuliskan kalau bus akan berangkat pukul 16.00 WIB, jadi kami masih punya cukup waktu untuk mengecek ulang barang bawaan kami.

    Lengkap! Setelah kami lakukan re-check barang bawaan, hampir dipastikan semua peralatan dan perlengkapan tidak ada yang tertinggal. Teman kami, Denis, bersedia mengantarkan kami menuju pangkalan bus yang akan kami naiki. Pukul 15.00 WIB kami pun diantar dengan mobilnya menuju Pal Depok. Doa bersama teman teman GMC sebelum kami berangkat menjadi ritual yang wajib dilakukan.

    Lagu lama. Ya, jadwal keberangkatan yang ngaret dari bus yang kami tumpangi. Seolah menjadi potret kelam transportasi tanah air kita, masalah jadwal transportasi rakyat yang ngaret seperti ini memang biasa terjadi, setidaknya begitulah kenyataan yang Saya alami khususnya selama melakukan perjalanan untuk pendakian.

    Menggapai Reruntuhan Sang Legendaris Puncak GarudaCatatan Perjalanan Pendakian Gunung Merapi Pasca Erupsi 2010

    16 20 Mei 2012GMC UI

  • Vo l u m e 1 0 / N o . 2 / A g u s t u s 2 0 1 2 5

    Foto 1. Menunggu bus Jakarta Jogja di Pal Depok.

    Singkatnya, bus yang membawa kami pun mulai berangkat pada pukul 17.00 WIB. Kesal den-gan waktu yang ngaret, namun ya mau tidak mau..

    Kamis, 17 Mei 2012

    Fajar menjelang, laju bus kami pun memasuki daerah Temanggung. Kokohnya Sindoro dan Sumbing yang terlihat dari kaca bus membuat mata ngantuk kami lumayan segar. Pukul 07.00 WIB kami tiba di Terminal Jombor, Kab. Sleman, Yogyakarta. Sebenarnya, lebih mempersingkat jarak dan waktu tempuh menuju entrance pendakian Gunung Merapi apabila kami turun di Magelang. Namun, dengan mempertimbangkan belum amannya tiket pulang kami ke Jakarta, kami pun sepakat untuk langsung memesan tiket di Terminal Jombor, mengingat pula waktu UAS yang hanya hitungan hari, bahaya jika kami tidak mendapatkan transportasi pulang.

    Tiket pulang pun didapatkan, pun begitu dengan daging segar. Ya, kami memang sengaja membeli daging segar untuk percobaan menu makan malam kami di Pasar Bubrah nanti : Rawon.

    Perjalanan dilanjutkan dengan naik bus Jogja Magelang dari terminal Jombor. Pukul 09.10 WIB kami melanjutkan perjalanan. Jogja Magelang nampaknya menjadi rute commuter layaknya Jakarta Bogor, dengan tiket seharga Rp 7.000,- kami pun meluncur menuju Magelang.

    Pertigaan Blabak, kami tiba di tempat itu pukul 10.10 WIB, dilanjtutkan dengan menyewa angkutan umum menuju Klatar. Awalnya kami berusaha melakukan negosiasi agar langsung diantar ke Selo, namun supir angkutan umum Blabak tidak menyanggupi karena medan yang akan dilalui. Takut gak kuat Mas.. begitu ujarnya.

    Sesampainya di Klatar setelah 30 menit perjalanan, kami langsung menyewa angkutan lagi untuk menuju ke entrance pendakian di Selo. Angkutan dengan warna merah muda memang mel-ayani trayek Klatar Selo.

  • Foto 2. Angkutan Klatar Selo.

    Sepanjang perjalanan menuju Basecamp Pendakian Merapi di Selo, kami berbincang bin-cang dengan supir kami, Pak Ahmad. Beliau bercerita tentang arti nama Selo. Rupa rupanya, bagi masyarakat setempat Selo berarti sela atau celah, mengingat letak dari Selo sendiri yang berada di sela sela gunung Merbabu dan Merapi, sadle begitu kita lebih mengenalnya.

    Pukul 11.40 WIB kami pun tiba di Basecamp Barameru, dimana para pendaki biasa melapor sebelum melakukan pendakian via Selo. Selesai melapor, kami pun melanjutkan perjalanan menuju New Selo (11027'9,2"BT 730'56,4"LS, 1700 mdpl). New Selo sendiri merupakan titik awal start pendakian Gunung Merapi via Selo. Rencananya, kami akan langsung melakukan pendakian pada hari itu juga. Jadilah kami beristirahat sejenak di New Selo. New Selo sendiri memiliki fasilitas yang lumayan baik untuk dijadikan tempat istirahat sebelum melakukan pendakian. Terdapat warung dan pendopo untuk para pendaki berisitirahat sebelum mulai mendaki.

    Foto 3 & 4 (Kiri-Kanan). Basecamp Barameru Merapi & New Selo.

    Vo l u m e 1 0 / N o . 2 / A g u s t u s 2 0 1 26

  • Foto 5 & 6 (Kiri-Kanan). Kondisi jalur New Selo-Pos 1.

    Dua setengah jam kami berjalan, kami pun sampai di Pos 1 (11027'4"BT 731'36,1"S, 2300 mdpl). Pos 1 ditandai dengan adanya patok triangulasi yang telah roboh. Kondisi medan berupa dataran yang sempit, hanya bisa digunakan untuk mendirikan 1 buah tenda dome kapasitas 4-5 orang. Kami pun tidak lama-lama berisitirahat di Pos 1 untuk menghindari perjalanan pada malam hari.

    Foto 7 & 8 (Kiri-Kanan). Pos 1 & patok triangulasi yang telah roboh.

    Vo l u m e 1 0 / N o . 2 / A g u s t u s 2 0 1 2 7

  • Lanjut mendaki. Kali ini langkah kami seolah sudah menemukan ritme-nya, tidak lagi bergerak lamban seperti sebelumnya. Total kami berjalan selama 1 jam 30 menit dari Pos 1, melewati jalur yang berganti dari dominasi tanah berdebu menjadi tanah berbatu, mulai dari kerikil hingga batuan yang lumayan besar, hingga akhirnya kami sampai di ketinggian 2500 mdpl. Ya, kami sampai di Pos 2 (11027'7"BT 731'52"LS, 2500 mdpl) pada malam hari, pukul 18.30 WIB.

    Foto 9. Kondisi jalur Pos 1-Pos 2.

    Kami tidak kaget, karena dalam rencana perjalanan kami memang estimasi kami sampai di Pasar Bubrah sekitar pukul 21.00 WIB. Sempat terjadi diskusi di Pos 2 karena cuaca yang seketika berubah drastis. Kabut tebal pun mulai menyelimuti jalur pendakian hingga membatasi jarak pandang kami. Namun, mengingat kurang tersedianya campsite di sekitar Pos 2 kami pun sepakat untuk menembus kabut tebal tersebut. Sontak adrenalin Saya pribadi pun terpacu, Ini seru! gumam Saya dalam hati. Meskipun jalur lumayan jelas, namun karena keterbatasan jarak pandang, kam