maria martina nahak

of 99 /99
TESIS EKSTRAK ETANOL DAUN BELUNTAS (Pluchea indica. L.) DAPAT MENGHAMBAT PERTUMBUHAN BAKTERI Streptococcus mutans MARIA MARTINA NAHAK PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR 2012

Embed Size (px)

Transcript of maria martina nahak

  • TESIS

    EKSTRAK ETANOL DAUN BELUNTAS (Pluchea indica. L.) DAPAT MENGHAMBAT

    PERTUMBUHAN BAKTERI Streptococcus mutans

    MARIA MARTINA NAHAK

    PROGRAM PASCASARJANA

    UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR

    2012

  • TESIS

    EKSTRAK ETANOL DAUN BELUNTAS (Pluchea indica. L.) DAPAT MENGHAMBAT PERTUMBUHAN

    BAKTERI Streptococcus mutans

    MARIA MARTINA NAHAK NIM 1090761025

    PROGRAM MAGISTER PROGRAM STUDI ILMU BIOMEDIK

    PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS UDAYANA

    DENPASAR 2012

  • EKSTRAK ETANOL DAUN BELUNTAS

    (Pluchea indica. L.) DAPAT MENGHAMBAT PERTUMBUHAN BAKTERI Streptococcus mutans

    Tesis untuk Memperoleh Gelar Magister pada Program Magister, Program Studi Ilmu Biomedik,

    Program Pascasarjana Universitas Udayana

    MARIA MARTINA NAHAK NIM 1090761025

    PROGRAM MAGISTER PROGRAM STUDI ILMU BIOMEDIK

    PROGRAM PASCASARJANA

  • UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR

    2012

  • Tesis ini Telah Diuji pada

    Tanggal 26 Juni 2012

    Panitia Penguji Tesis Berdasarkan SK Rektor Universitas Udayana

    No: 1034/UN14.4/HK/2012, Tanggal: 25 Mei 2012

    Ketua : Prof. dr. I Gusti Made Aman, Sp.FK

    Anggota :

    1. Dr. dr. Bagus Komang Satriyasa, M.Repro

    2. Prof. Dr. dr. J. Alex Pangkahila, M.Sc., Sp.And

    3. Dr. dr. Ida Sri Iswari, Sp.MK., M.Kes

    4. Dr. dr. Wayan Putu Sutirta Yasa, M.Si

  • UCAPAN TERIMAKASIH

    Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat-Nya penulis dapat menyusun laporan Tesis yang berjudul Ekstrak Etanol Daun Beluntas (Pluchea indica. L.) dapat Menghambat Pertumbuhan Bakteri Streptococcus mutans tepat pada waktunya. Tesis ini disusun sebagai syarat untuk meraih gelar Magister pada Program Pascasarjana Ilmu Biomedik dengan Kekhususan Ilmu Kedokteran Dasar Bidang Farmakologi Universitas Udayana. Tesis ini tidak mungkin diselesaikan tanpa bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini dengan tulus penulis ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Prof. dr. I Gusti Made Aman, Sp.FK., selaku pembimbing I dan Dr. dr. Komang Bagus Satriyasa, M.Repro., selaku pembimbing II yang dengan penuh perhatian dan kesabaran telah memberikan bimbingan, arahan dan saran serta semangat kepada penulis sehingga laporan Tesis ini dapat diselesaikan dengan baik.

    Ucapan terimakasih yang sama juga ditujukan kepada Rektor Universitas Udayana, Direktur Program Pascasarjana Universitas Udayana, Ketua Program Studi Pascasarjana Ilmu Biomedik Universitas Udayana dan Direktur Politeknik Kesehatan Denpasar, atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan Program Magister di Universitas Udayana. Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada para penguji Tesis yaitu Prof. dr. I Gusti Made Aman, Sp.FK., Dr. dr. Komang Bagus Satriyasa, M.Repro., Prof. Dr. dr. J. Alex Pangkahila, M.Sc., Sp.And., Dr. dr. Ida Sri Iswari, Sp.MK., M.Kes., Dr. dr. Wayan Putu Sutirta Yasa, M.Si., yang telah memberikan koreksi, masukan dan saran yang sangat berguna untuk penyempurnaan Tesis ini.

    Pada kesempatan ini pula penulis mengucapkan terimakasih kepada para dosen Program Studi Ilmu Biomedik kekhususan Ilmu Kedokteran Dasar yang dengan penuh kesabaran telah banyak memberikan dorongan dan semangat kepada penulis untuk menyelesaikan program studi ini tepat pada waktunya. Ucapan terimakasih yang sama penulis sampaikan kepada Dr. dr. I Dewa Made Sukrama, M.Si., Sp.MK(K)., selaku Kepala Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana yang telah mengijinkan penulis menggunakan fasilitas Laboratorium Mikrobiologi untuk penelitian Tesis. Ucapan terimakasih juga penulis sampaikan kepada Ibu Amy Yelly Kusmawati, SKM, MP., atas kesabaran dan ketekunannya melakukan penelitian tesis ini bersama penulis di Laboratorium Mikrobiologi FK Universitas Udayana.

    Terimakasih juga penulis sampaikan kepada staf administrasi, teman-teman mahasiswa Program Magister Ilmu Biomedik kekhususan Ilmu Kedokteran Dasar, teman-teman di Jurusan Kesehatan Gigi Poltekkes Denpasar yang telah banyak memberikan dorongan dan semangat kepada penulis. Akhirnya penulis menyampaikan terimakasih sebesar-besarnya kepada suami tercinta, Simon Nahak, SH, MH., anak-anak tercinta, Anastasia Maria Prima Nahak, Teresita Marselina Nahak, Albertus Joseph Nahak yang dengan penuh pengorbanan telah memberikan

  • kesempatan kepada penulis untuk lebih berkonsentrasi dalam menyelesaikan studi di Program Magister ini.

    Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada semua pihak yang telah membantu pelaksanaan dan penyelesaian Tesis ini.

    Denpasar Juni 2012

    Penulis

  • ABSTRAK

    EKTRAK ETANOL DAUN BELUNTAS (Pluchea indica. L.) DAPAT MENGHAMBAT PERTUMBUHAN BAKTERI Streptococcus

    mutans

    Karies merupakan penyakit jaringan keras gigi yang disebabkan oleh demineralisasi lapisan email dan dentin akibat asam yang dihasilkan melalui proses fermentasi substarat oleh Streptococcus mutans. Bakteri ini menghasilkan asam laktat yang berperan penting untuk merubah lingkungan rongga mulut menjadi lebih asam (pH 5,2 5,5) sehingga email mulai mengalami proses demineralisasi dan terjadilah karies gigi. Hasil Survey Kesehatan Rumah tangga tahun 2004 menyatakan bahwa prevalensi karies di Indonesia mencapai 90,05% penduduk. Hasil Riset Kesehatan Dasar menunjukkan prevalensi karies aktif penduduk Indonesia mencapai 43,4%. Karies harus dirawat dengan baik dan dicegah agar gigi yang sehat tidak sampai terserang karies. Salah satu cara pencegahannya adalah menggunakan obat kumur yang mengandung antiseptik yang berasal dari ekstrak tumbuh-tumbuhan yaitu ekstrak etanol daun beluntas untuk mencegah pertumbuhan dan akulumasi plak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ekstrak etanol daun beluntas dapat menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans.

    Penelitian ini adalah eksperimen menggunakan completely randomized post test only control group design. Mula-mula disiapkan isolat bakteri Streptococcus mutans dan ekstrak etanol daun beluntas dengan konsentrasi 25%, 50%, 75% dan 100% untuk mengetahui kemampuan daya hambat ekstrak tehadap pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans dan dilakukan uji daya hambat menggunakan metode difusi disk.

    Data yang terkumpul dianalisis menggunakan One Way Anova, dilanjutkan dengan uji Least Significant Difference dengan tingkat kepercayaan 95% dan analisis kualitatif menggunakan Chi-Square. Hasil uji One Way Anova menunjukkan terdapat perbedaan daya hambat yang signifikan antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan menggunakan ekstrak etanol daun beluntas dengan konsentrasi 25%, 50%, 75% dan 100% dengan nilai p = 0,000. Konsentrasi ekstrak 25% mempunyai daya hambat setara dengan kontrol positif, dan kekuatan daya hambat meningkat seiring dengan peningkatan konsentrasi ekstrak. Hasil analisis kualitatif menggunakan Chi-Square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara peningkatan konsentrasi ekstrak etanol daun beluntas dengan kualitas daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans dengan nilai p = 0,000.

    Kesimpulan dari penelitian ini adalah Ekstrak etanol daun beluntas dengan konsentrasi 25%, 50%, 75% dan 100% dapat menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans. Konsentrasi minimal yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri adalah 25%. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan MIC dan MBC dari ekstrak etanol daun beluntas dan manfaatnya sebagai obat kumur antiseptik pada manusia. Kata kunci: Ekstrak etanol daun beluntas, Streptococcus mutans, daya hambat

    ABSTRACT

  • ETHANOL EXTRACT OF BELUNTAS LEAVES (Pluchea indica.L.) CAN INHIBIT THE GROWTH OF Streptococcus mutans

    Caries is a common disease of the teeth, caused by lactic acid produced by bacteria plaque through fermentation of substrate rich of sucrose and glucose. This bacteria plaque especially Streptococcus mutans produced acid from substrate and in a period of time change the oral cavity environment to become more acidity (pH 5.2-5.5) and at the time, demineralization process beginning and caries occurred. Indonesian Health Survey in the year 2004, found that caries prevalence in Indonesia achieved 90.05%. Basic Health Research in Indonesia in the year 2007, found that prevalence of tooth decay achieved 43,4%. According to this fact caries must be treated and prevented. Preventing caries must be done in many ways, one of this is using antiseptic mouth rinsing from plant extract that is ethanol extract of beluntas leaves to prevent plaque formation and accumulation in tooth surface. The aim of this study is to know that ethanol extract of beluntas leaves can inhibit the growth of Streptococcus mutans.

    This is an experimental study with completely randomized post test only control group design. Firstly, preparation of isolate of Streptococcus mutans and then preparation of ethanol extract of beluntas leaves in difference concentration, they are: 25%, 50%, 75% and 100%. To know an inhibitory effect of this extract against the growth of Streptococcus mutans was used diffusion disk method.

    Data was analyzed by One Way Anova, continuing by Least Significant Difference test. Qualitative analysis was used Chi-Square. This study found that there is a significant difference between control group and ethanol extract of beluntas leaves in varying concentration, they are 25%, 50%, 75% and 100% to inhibit the growth of Streptococcus mutans with p = 0.000. This study also found that ethanol extract with 25% of concentration shown the same inhibitory effect with chlorhexidine 0,12% as positive control and the inhibitory effect raising following the increasing of concentration of extract. Chi-Square analysis shown that there is a significant correlation between an inhibitory effect with the increasing of concentration of extract with p = 0.000.

    The conclusion is Ethanol Extract of beluntas leaves in varying concentration, they are 25%, 50%, 75% and 100%, can inhibit the growth of Streptococcus mutans. Minimal inhibitory concentration in this study is 25%. An advanced study need to determine minimal inhibitory concentration (MIC) and minimal bactericidal concentration (MBC) of this extract and also the benefits of this extract as antiseptic mouth rinsing.

    Key Words: Ethanol Extract of Beluntas Leaves, Streptococcus mutans, an Inhibitory Effect.

    DAFTAR ISI

  • Halaman

    SAMPUL DALAM... i

    PRASYARAT GELAR ii

    LEMBAR PERSETUJUAN iii

    PENETAPAN PANITIA PENGUJI .. iv

    UCAPAN TERIMAKASIH . v

    ABSTRAK . vii

    ABSTRACT ... viii

    DAFTAR ISI . ix

    DAFTAR TABEL . xiii

    DAFTAR GAMBAR xiv

    DAFTAR SINGKATAN xv

    DAFTAR LAMPIRAN . xvi

    BAB I PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang 1

    1.2 Rumusan Masalah Penelitian . 7

    1.3 Tujuan Penelitian . 8

    1.3.1 Tujuan umum . 8

    1.3.2 Tujuan khusus . 8

    1.4 Manfaat Penelitian . 8

    1.4.1 Manfaat ilmiah 8

  • 1.4.2 Manfaat aplikasi . 9

    BAB II KAJIAN PUSTAKA

    2.1 Karies . 10

    2.1.1 Pengertian .. .. 10

    2.1.2 Penyebab dan proses terjadinya karies.. 11

    2.1.3 Akibat karies.. 12

    2.1.4 Penanggulangan karies .. 13

    2.2 Streptococcus mutans.. 14

    2.2.1 Klasifikasi ilmiah Streptococcus mutans .. 14

    2.2.2 Efek patologis Streptococcus mutans .. 16

    2.3 Beluntas (Pluchea indica.L.) .. 17

    2.3.1 Deskripsi dan sistematika tumbuhan beluntas .. 17

    2.3.2 Sifat senyawa aktif daun beluntas . 19

    2.3.3 Farmakologi zat berkhasiat dalam ekstrak daun beluntas 27

    2.3.4 Cara ekstraksi zat berkhasiat dalam daun beluntas . 33

    2.4 Chlorhexidine . 35

    2.4.1 Farmakologi chlorhexidine 0,12% 36

    2.4.2 Indikasi penggunaan chlorhexidine 0,12% .. 37

    2.4.3 Efek samping chlorhexidine 0,12% .. 37

  • BAB III KERANGKA BERPIKIR, KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN

    3.1 Kerangka Berpikir .. 38

    3.2 Konsep Penelitian.. 40

    3.3 Hipotesis Penelitian 40

    BAB IV METODE PENELITIAN

    4.1 Rancangan Penelitian .. 42

    4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian .. 43

    4.3 Sampel Penelitian 43

    4.3.1 Sampel penelitian .. 43

    4.3.2 Besar sampel penelitian 43

    4.4 Variabel Penelitian . 44

    4.4.1 Variabel bebas 44

    4.4.2 Variabel tergantung 44

    4.4.3 Variabel kendali .. 44

    4.5 Definisi Operasional Variabel 46

    4.6 Bahan dan Instrumen Penelitian 47

    4.6.1 Bahan utama 47

    4.6.2 Bahan penunjang 47

    4.6.3 Instrumen penelitian ... 48

    4.7 Alur Penelitian 49

    4.8 Prosedur Penelitian 50

  • 4.8.1 Pembuatan ekstrak etanol daun beluntas 50

    4.8.2 Pembuatan konsentrasi ekstrak etanol daun beluntas 51

    4.8.3 Prosedur kerja di laboratorium .. 51

    4.8.4 Penilaian kemampuan ekstrak 56

    4.9 Analisis Data .. 56

    4.9.1 Analisis deskriptif . 57

    4.9.2 Uji normalitas dan homogenitas 57

    4.9.3 Uji Komparabilitas 57

    4.9.4 Analisis kualitatif . 57

    BAB V HASIL PENELITIAN

    5.1 Gambaran Umum Hasil Penelitian 58

    5.2 Hasil Uji Normalitas Data .. 60

    5.3 Hasil Uji Homogenitas Data Antar Kelompok .. 60

    5.4 Hasil Uji Komparabilits Data Antar Kelompok . 61

    5.5 Hasil Uji Kualitatif Terhadap Kualitas Daya Hambat 64

    BAB VI PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN 67

    BAB VII SIMPULAN DAN SARAN

    7.1 Simpulan . 73

    7.2 Saran ... 73

    DAFTAR PUSTAKA 75

  • DAFTAR TABEL

    Halaman

    Tabel 2.1 Aktivitas Biologis Alkaloid 22

    Tabel 5.1

    Tabel 5.2

    Tabel 5.3

    Tabel 5.4

    Tabel 5.5

    Rerata Daya Hambat Kelompok Kontrol dan Kelompok

    Esktrak Terhadap Pertumbuhan S. mutans

    Analisis Komparasi Daya Hambat Kelompok Esktrak

    dengan Kelompok Kontrol..

    Analisis Komparasi Daya Hambat Kelompok Esktrak pada

    Berbagai Konsentrasi..

    Hasil Tabulasi Silang Kualitas Daya Hambat Kelompok

    Kontrol dan Kelompok Ekstrak Terhadap Pertumbuhan

    Bakteri S. mutan

    Tingkat Signifikansi Hubungan Antara Konsentrasi Ekstrak

    dengan Kualitas Daya Hambat Terhadap Pertumbuhan

    Bakteri S.mutans.

    61

    62

    64

    65

    66

  • DAFTAR GAMBAR

    Halaman

    Gambar 2.1 Streptococcus mutans . 15

    Gambar 2.2

    Gambar 2.3

    Gambar 2.4

    Tumbuhan Beluntas.

    Hasil Uji Fitokimia untuk Mengetahui Zat Aktif Fenolat..

    Hasil Uji Fitokimia untuk Mengetahui Zat Aktif Steroid..

    18

    21

    21

    Gambar 2.5 Struktur Kimia Chlorhexidine 36

    Gambar 3.1 Konsep Penelitian... 40

    Gambar 4.1

    Gambar 4.2

    Gambar 4.3

    Rancangan Penelitian.

    Hubungan Antar Variabel .

    Alur Penelitian ..

    42

    45

    49

  • DAFTAR SINGKATAN

    Singkatan Kepanjangannya

    DMF-T Decay, Missing, Filling-Teeth

    dmf-t

    DepKes RI

    FDI

    WHO

    Decay, missing, fillingteeth

    Departemen Kesehatan Republik Indonesia

    Federation Dental International

    World Health Organization

    NaCl Natrium Chlorida

    ATCC American Type Culture Collection

    Da Dalton

    HTs Hydrosable Tannins

    CTs Condensed Tannins

    pH Power of Hidrogen (derajat keasaman)

    HDL High Density Lipoprotein

    VLDL Very Low Density Lipoprotein

    DNA Deoxyribonucleic Acid

    HIV Human Immunodeficiency Virus

    NSAIDs

    CYP 450

    Non Steroid Anti Inflamation Drugs

    Cytochrome P-450

    Ditjen PM Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan

    ATPase

    r

    Adenosintriphosphatase

    Replikasi (pengulangan)

    CFU Colony Forming Unit

  • VP

    Voges Proskauer

    DAFTAR LAMPIRAN

    Lampiran 1

    Lampiran 2

    Lampiran 3

    Lampiran 4

    Lampiran 5

    Lampiran 6

    Lampiran 7

    Lampiran 8

    Lampiran 9

    Lampiran 10

    Hasil uji Fitokimia Ekstrak Etanol Daun Beluntas

    Hasil Pengukuran Zona Hambatan

    Kriteria Zona Hambatan Menurut Davis & Stout (1971)

    Hasil uji Deskriptif

    Hasil Uji Normalitas dan Homogenitas Data

    Hasil Uji dengan One Way Anova

    Hasil Uji Least Significant Difference

    Hasil Uji Crosstab dan Chi-Square

    Ethical Clearance

    Foto Hasil Penelitian

  • BAB I

    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang

    Karies gigi atau dikenal dengan gigi berlubang adalah suatu penyakit pada jaringan keras

    gigi yang sudah dikenal umum oleh masyarakat. Karies gigi merupakan penyakit yang paling

    banyak ditemui di dalam rongga mulut, dapat mengenai semua populasi tanpa memandang umur,

    jenis kelamin, ras ataupun keadaan sosial ekonomi dan merupakan penyebab utama hilangnya

    gigi. Karies gigi bersifat kronis dan membutuhkan waktu yang lama dalam perkembangannya

    sehingga sebagian besar penderita tidak menyadari bahwa giginya telah berlubang sampai

    munculnya gejala-gejala berupa ngilu atau sakit gigi ketika memakan makanan yang manis,

    dingin atau panas yang menandakan bahwa karies gigi telah mencapai fase lanjut.

    Karies gigi adalah kerusakan pada jaringan keras gigi yang disebabkan oleh aktivitas jasad

    renik dengan cara meragikan karbohidrat dalam mulut. Tandanya adalah adanya demineralisasi

    bahan-bahan anorganik yang diikuti oleh kerusakan bahan organik dari email dan dentin.

    Demineralisasi jaringan keras tersebut bersifat lokal, progresif dan terjadi pada bagian mahkota

    yaitu pada email dan dentin serta bagian akar yaitu pada sementum dan dentin (Parmar et al.,

    2007).

    Menurut Rosenberg (2010), penyakit karies menduduki urutan kedua setelah commmon cold.

    Pengalaman karies gigi sangat bervariasi antar negara, tergantung pada faktor perilaku, usia,

    keadaan sosial-ekonomi dan pola hidup serta pola makan masyarakatnya (Parmar et al., 2007).

    Prevalensi karies di negara-negara maju semakin menurun seiring dengan pesatnya

    industrialisasi, pola hidup yang sehat dan terjangkaunya pelayanan kesehatan, sedangkan di

  • negara-negara berkembang cenderung terjadi peningkatan oleh karena meningkatnya konsumsi

    makanan yang banyak mengandung gula olahan dan bersifat lengket serta jangkauan pelayanan

    kesehatan gigi yang belum memadai. Suatu penelitian di Jepang yang dilakukan terhadap siswa

    sekolah dasar dari anak-anak keturunan Brazilia-Jepang yang berumur 12 tahun diketahui bahwa

    rata-rata DMFT-nya 3 yang artinya rata-rata setiap anak menderita karies pada gigi tetapnya

    tidak lebih dari tiga gigi (Hashizume et al., 2006). Penelitian lain yang dilakukan di Mexico

    terhadap anak-anak sekolah berusia 6-9 tahun didapatkan bahwa 52% anak-anak telah menderita

    karies pada usia 6 tahun (Beltrn-Valladares et al., 2006). Suatu Survei Kesehatan Nasional yang

    dilakukan secara ekstensif dan menyeluruh pada tahun 2004 di India menunjukkan bahwa 51,9%

    anak-anak usia 5 tahun dan 53,8% anak-anak berusia 12 tahun telah menderita karies gigi

    (Moses et al., 2011).

    Data penyakit karies gigi di Indonesiapun sangat bervariasi. Suatu penelitian yang dilakukan

    pada tahun 1990 di Jawa Barat terhadap anak-anak yang usianya di bawah lima tahun

    menunjukkan angka yang sangat mencengangkan dengan rata-rata dmft (decay, missing dan

    filling-teeth) sebesar 7,98 yang artinya rata-rata setiap anak tersebut memiliki 7-8 gigi susu yang

    terkena karies (Koloway & Kailis, 1992). Berdasarkan laporan hasil Survei Kesehatan Rumah

    Tangga DepKes RI tahun 2004 menyatakan bahwa prevalensi karies di Indonesia mencapai

    90,05% penduduk (Anonim, 2005). Hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 dalam bidang

    kesehatan gigi dan mulut menunjukkan prevalensi karies aktif penduduk Indonesia adalah

    sebesar 43,4% belum termasuk angka pengalaman karies, sedangkan di Provinsi Bali

    prevalensi karies penduduk mencapai 53% (Anonim, 2011). Angka ini masih jauh dari harapan

    apabila dibandingkan dengan target FDI/WHO pada tahun 2000 yang mengatakan bahwa 50%

    anak berusia 6 tahun harus bebas karies (Anonim1982).

  • Karies disebabkan oleh empat faktor utama yaitu diet yang banyak mengandung karbohidrat

    terutama sukrosa, anatomi dan morfologi gigi, bakteri yang bersifat asidogenik dan faktor waktu.

    Karies terjadi akibat proses demineralisasi permukaan email yang disebabkan oleh asam yang

    diproduksi oleh bakteri dalam plak utamanya yaitu Streptococcus mutans dan mungkin juga

    oleh Lactobacillus. Bakteri-bakteri tersebut mengadakan fermentasi terhadap diet yang banyak

    mengandung karbohidrat, menyebabkan pembentukan dan penimbunan asam yang

    mengakibatkan dekalsifikasi dan destruksi jaringan gigi di bawah plak dan kondisi inilah yang

    ditemui pada proses pembentukan karies gigi (Lewis & Ismail, 1993).

    Streptococcus mutans adalah suatu bakteri Gram positif, bersifat facultatively anaerobic,

    berbentuk coccus (bulat), tersusun seperti rantai, umumnya didapatkan di dalam rongga mulut

    dan termasuk flora normal serta berperan penting dalam proses terjadinya karies. Bakteri ini

    termasuk phylum dari Firmicutes dan merupakan kelompok bakteri yang menghasilkan asam

    laktat dan pertama kali ditemukan pada tahun 1924 oleh J. Kilian Clarke (Clarke, 1924;

    Vinogradov et al., 2004; Biswas & Biswas, 2011).

    Streptococcus mutans merupakan bakteri yang memulai terjadinya pertumbuhan plak pada

    permukaan gigi. Terjadinya hal itu disebabkan karena kemampuan spesifik yang dimiliki oleh

    bakteri tersebut menggunakan sukrosa untuk menghasilkan suatu produk ekstraseluler yang

    lengket yang disebut dextran yang berbasis polisakarida dengan perantaraan enzim

    dextransucrase (hexocyltransferase) yang memungkinkan bakteri-bakteri tersebut membentuk

    plak, sedangkan untuk menghasilkan asam laktat, Streptococcus mutans bersama-sama dengan

    Streptococcus sabrinus dan Lactobacillus, memainkan peran yang sangat penting melalui enzim

    glucansucrase yang dihasilkan oleh bakteri-bakteri tersebut. Asam yang dihasilkan terus-

    menerus melalui pemecahan substrat yang selalu tersedia, akan merubah lingkungan rongga

  • mulut menjadi lebih asam (pH 5,2 5,5), maka email mulai mengalami proses demineralisasi

    sehingga terjadilah karies (Vinogradof et al., 2004; Argimn & Caufiled, 2011).

    Berdasarkan fakta di atas, karies harus segera ditanggulangi dengan berbagai upaya

    kesehatan yang menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan. Upaya kuratif yang dilakukan

    adalah dengan merawat dan menambal semua gigi yang belubang. Upaya promotif dilakukan

    dengan cara memberikan informasi dan edukasi yang benar tentang cara memelihara kesehatan

    gigi, sedangkan upaya preventif dapat dilakukan dengan berbagai cara mekanis dan kimiawi

    dengan tujuan untuk mengurangi akumulasi plak yang mengandung berbagai macam bakteri

    terutama Streptococcus mutans yang menyebabkan karies gigi (Kustiawan, 2002; Anonim,

    2011).

    Upaya preventif yang dilakukan secara mekanis misalnya dengan menyikat gigi pada waktu

    yang tepat dengan cara yang benar, sedangkan cara kimiawi dapat dilakukan dengan aplikasi

    larutan fluor, penggunaan bahan antiseptik lain misalnya chlorhexidine atau dapat juga

    menggunakan ekstrak tumbuh-tumbuhan sebagai obat kumur yang mengandung antiseptik. Obat

    kumur chlorhexidine yang biasa digunakan adalah chlorhexidine dengan konsentrasi 0,12%.

    Obat kumur ini merupakan antimikroba dengan spektrum luas yang efektif terhadap bakteri

    Gram positif maupun Gram negatif tetapi lebih efektif terhadap bakteri Gram positif (Kustiawan,

    2002; Shahani & Reddy, 2011).

    Banyak penelitian yang telah dilakukan untuk membuktikan keampuhan chlorhexidine

    sebagai bahan antimikroba dalam rongga mulut. Menendez et al. (2005), mengatakan bahwa

    obat kumur chlorhexidine 0,12% dapat menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans

    dalam rongga mulut. Penelitian lain yang dilakukan oleh Joyston-Bechal & Hernaman (1993),

  • membuktikan bahwa chlorhexidine 0,05% yang dicampur dengan Natrium fluorida 0,05% dapat

    menghambat pertumbuhan plak dan mengobati gingivitis.

    Penelitian lain yang dilakukan oleh Seymour dan Heasman (1995), membuktikan bahwa

    penggunaan chlorhexidine 0,1% selama 6 minggu dapat menghambat pertumbuhan plak

    sebanyak 54% dan dapat menghilangkan bau mulut yang berasal dari produk metabolit kuman

    (plak) yang berada di dorsum lidah atau saliva. Keampuhan chlorhexidine 0,1% tidak diragukan

    lagi, namun demikian obat kumur ini mempunyai beberapa efek samping yang merugikan yaitu

    menimbulkan pewarnaan (staining) pada gigi, restorasi ataupun pada lidah, juga dapat

    mengganggu rasa kecap setelah pemakaian meskipun tidak bersifat permanen (Peterson, 2011).

    Pencegahan akumulasi plak dalam rongga mulut dapat digunakan obat-obatan kimiawi, juga

    dapat digunakan ekstrak tumbuh-tumbuhan atau obat-obat tradisional yang telah banyak diteliti

    saat ini, salah satu diantaranya adalah daun beluntas (Pluchea indica Less).

    Beluntas (Pluchea indica Less) adalah tumbuhan yang mudah dijumpai di Indonesia,

    umumnya tumbuh liar di daerah kering pada tanah yang keras dan berbatu, atau ditanam sebagai

    tanaman pagar. Tumbuhan ini berbau khas aromatis dan rasanya getir. Bagian yang digunakan

    dari tanaman ini adalah daun dan akarnya yang berkhasiat untuk menghilangkan bau badan dan

    bau mulut, meningkatkan nafsu makan, mengatasi gangguan pencernaan pada anak-anak,

    menghilangkan nyeri pada rematik dan sebagainya. Senyawa aktif yang terkandung dalam daun

    beluntas adalah flavonoid, triterpenoid dan fenol serta turunan minyak atsiri lainnya (Dalimartha,

    1999; Nahak et al., 2007).

    Flavonoid dalam daun beluntas memiliki aktivitas antibakteri, demikian juga senyawa fenol

    yang terkandung di dalamnya merupakan suatu alkohol yang bersifat asam sehingga disebut juga

    asam karbolat, yang mempunyai sifat antibakteri yakni menghambat pertumbuhan sel bakteri

  • Escherichia coli (Susanti, 2006). Penelitian yang dilakukan oleh Sulistiyaningsih (2009),

    menunjukkan bahwa ekstrak daun beluntas mempunyai aktivitas antibakteri terhadap Methicillin

    Resistant Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa Multi Resistant dengan

    konsentrasi daya hambat minimal masing-masing adalah 20% dan 52%.

    Hasil penelitian Nahak et al. (2007), menunjukkan bahwa ekstrak murni daun beluntas

    dapat menurunkan 70% jumlah bakteri dalam saliva dan tidak ada perbedaan bermakna dalam

    penurunan jumlah bakteri setelah ekstrak diencerkan pada konsentrasi 10%, 20% dan 30%.

    Namun demikian dalam penelitian tersebut belum dapat dibuktikan jenis bakteri spesifik dalam

    saliva yang dapat dihambat pertumbuhannya menggunakan ekstrak etanol daun beluntas.

    Berdasarkan hal tersebut peneliti ingin mengetahui khasiat ekstrak etanol daun beluntas pada

    berbagai tingkat konsentrasi untuk menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans

    penyebab karies.

    1.2 Rumusan Masalah Penelitian

    Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dibuat rumusan masalah penelitian sebagai

    berikut:

    1. Apakah ekstrak etanol daun beluntas dengan konsentrasi 25% dapat menghambat

    pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans?

    2. Apakah ekstrak etanol daun beluntas dengan konsentrasi 50% dapat menghambat

    pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans?

    3. Apakah ekstrak etanol daun beluntas dengan konsentrasi 75% dapat menghambat

    pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans?

  • 4. Apakah ekstrak etanol daun beluntas dengan konsentrasi 100% dapat menghambat

    pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans?

    1.3 Tujuan Penelitian

    1.3.1. Tujuan umum

    Tujuan umum penelitian ini adalah: untuk mengetahui ekstrak etanol daun beluntas dapat

    menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans.

    1.3.2. Tujuan khusus

    Tujuan khusus penelitian ini adalah:

    1. Untuk mengetahui ekstrak etanol daun beluntas dengan konsentrasi 25% dapat

    menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans

    2. Untuk mengetahui ekstrak etanol daun beluntas dengan konsentrasi 50% dapat

    menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans

    3. Untuk mengetahui ekstrak etanol daun beluntas dengan konsentrasi 75% dapat

    menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans

    4. Untuk mengetahui ekstrak etanol daun beluntas dengan konsentrasi 100% dapat

    menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans

    1.4 Manfaat Penelitian

    1.4.1 Manfaat ilmiah

    1. Dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan tentang manfaat ekstrak etanol daun beluntas

    untuk menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans.

  • 2. Dapat mengembangkan penggunaan obat tradisional yaitu ekstrak etanol daun beluntas

    sebagai bahan penghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans.

    1.4.2 Manfaat aplikasi

    1. Ekstrak daun beluntas dapat dimanfaatkan untuk menunjang program kesehatan gigi di

    masyarakat, yakni sebagai salah satu alternatif upaya pencegahan terhadap pertumbuhan

    dan akumulasi plak yang banyak mengandung bakteri Streptococcus mutans.

    2. Dapat dijadikan masukan untuk penelitian lebih lanjut.

    BAB II

    KAJIAN PUSTAKA

  • 2.1. KARIES

    2.1.1 Pengertian

    Karies gigi adalah kerusakan pada jaringan keras gigi yang disebabkan oleh aktivitas jasad

    renik dengan cara meragikan karbohidrat dalam mulut. Tandanya adalah adanya demineralisasi

    bahan-bahan anorganik yang kemudian diikuti oleh kerusakan bahan organik dari email dan

    dentin. Demineralisasi jaringan keras tersebut bersifat lokal, progresif dan terjadi pada bagian

    mahkota yaitu pada email dan dentin serta bagian akar yaitu pada sementum dan dentin (Parmar

    et al., 2007). Penyakit ini menyerang permukaan gigi-geligi yang mengakibatkan kerusakan

    mahkota gigi dan apabila tidak dilakukan perawatan akan meluas ke pulpa dan dapat merusak

    seluruh mahkota gigi. Hal ini kemudian akan menimbulkan rasa sakit, terganggunya fungsi

    mastikasi, terjadi inflamasi jaringan gingiva dan pembentukan abses pada jaringan sekitar gigi

    (Eccles & Green, 1994; Rosenberg, 2010).

    Karies gigi atau dikenal dengan gigi berlubang sudah dikenal umum oleh masyarakat,

    paling banyak ditemui di dalam rongga mulut dan dapat mengenai semua populasi tanpa

    memandang umur, jenis kelamin, ras ataupun keadaan sosial ekonomi serta merupakan penyebab

    utama hilangnya gigi. Karies gigi bersifat kronis dan membutuhkan waktu yang lama dalam

    perkembangannya sehingga sebagian besar penderita tidak menyadari bahwa giginya telah

    berlubang sampai munculnya gejala-gejala berupa ngilu atau sakit gigi ketika memakan makanan

    yang manis, dingin atau panas yang menandakan bahwa karies gigi telah mencapai fase lanjut

    (Parmar et al., 2007; Rosenberg, 2010; Moses et al., 2011).

    2.1.2 Penyebab dan proses terjadinya karies

  • Karies disebabkan oleh empat faktor utama yaitu: substrat yang mengandung karbohidrat

    jenis sukrosa, bakteri dalam rongga mulut, kondisi host dalam hal ini struktur dan morfologi gigi

    serta faktor waktu. Beberapa jenis karbohidrat dalam makanan yaitu sukrosa dan glukosa yang

    banyak terdapat pada makanan yang manis dan mudah melekat, dapat difermentasikan oleh

    bakteri Streptococcus mutans, Streptococcus sabrinus dan Lactobacillus yang terdapat di dalam

    rongga mulut dan membentuk asam sehingga dalam tempo satu sampai tiga menit pH plak akan

    menurun dibawah lima. Seseorang yang mengabaikan kebersihan gigi dan mulutnya dan

    mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung sukrosa secara terus-menerus, maka proses

    fermentasi akan terus berlanjut sehingga pH lingkungan rongga mulut tetap dalam keadaan asam.

    Lingkungan pH rongga mulut akan kembali ke tingkat yang normal, memerlukan waktu 30

    menit. Penurunan pH yang berulang-ulang dalam waktu tertentu mengakibatkan demineralisasi

    permukaan email gigi yang rentan, sehingga proses kariespun dimulai (Kidd & Joiston-Bechal,

    1992; Eccles & Green, 1994).

    Beberapa faktor yang lain yang turut berperan dalam terjadinya karies adalah oral hygiene

    perorangan, usia, jenis kelamin, perubahan hormonal, keadaan xerostomia, pola makan, faktor

    ekonomi dan sosial budaya, tingkat pendidikan serta keadaan geografis. Xerostomia adalah

    suatu keadaan dimana produksi saliva sangat sedikit sehingga mulut terasa kering. Keadaan ini

    dapat meningkatkan frekuensi karies karena fungsi saliva sebagai buffer dalam rongga mulut

    menjadi berkurang (Kustiawan, 2002; Rosenberg, 2010).

    Frekuensi karies akan meningkat seiring bertambahnya umur. Hal ini dapat dijelaskan bahwa

    semakin lama permukaan gigi berkontak dengan faktor-faktor risiko maka risiko untuk

    terjadinya kariespun akan semakin meningkat. Perubahan hormonal misalnya pada masa

    pubertas dan kehamilan dapat menyebabkan terjadinya gingivitis yang mengakibatkan sisa

  • makanan sukar dibersihkan sehinggga frekuensi kariespun dapat meningkat pada periode ini

    (Tarigan, 1990).

    2.1.3 Akibat karies

    Karies pada tahap awal tidak akan menimbulkan keluhan yang berarti, namun bila tidak

    dilakukan penambalan pada tahap awal, maka lubang gigi akan menjadi tempat menumpuknya

    sisa makanan dan bakteri, sehingga proses karies akan berlanjut dan bertambah parah. Karies

    pada tahap lanjut akan menyebabkan kematian pulpa dan menimbulkan keluhan rasa sakit yang

    cukup mengganggu aktivitas sehari-hari, terjadinya abses di jaringan sekitar gigi serta timbulnya

    halitosis yang dapat mengganggu pergaulan. Perawatan karies tahap lanjut memerlukan waktu

    yang panjang serta biaya yang besar dan apabila tidak dirawat maka gigi tidak dapat

    dipertahankan lagi sehingga harus dicabut yang mengakibatkan cacatnya fungsi mastikasi dan

    terganggunya fungsi estetik. Karies tahap lanjut yang tidak dirawat dapat juga menimbulkan

    komplikasi terhadap organ tubuh yang lain yaitu menjadi fokal infeksi terjadinya sinusitis

    maksilaris, kerusakan katup jantung dan artritis (Lewis & Ismail, 1993; Kustiawan, 2002;

    Rosenberg, 2010).

    2.1.4 Penanggulangan karies

    Diagnosa dan rencana perawatan karies bertujuan untuk mengembalikan bentuk dan fungsi

    gigi serta mencegah terjadinya kerusakan lebih lanjut. Struktur gigi yang telah rusak tidak dapat

    sembuh sempurna meskipun pada karies tahap awal masih terjadi proses remineralisasi.

    Perawatan karies pada tahap awal yaitu karies yang baru mencapai email dan dentin dapat

    dilakukan dengan cara membuang struktur gigi yang sudah rusak menggunakan high speed drill,

    kemudian mengembalikan bentuk anatomi gigi dengan menggunakan bahan restorasi yang

    sesuai. Kerusakan yang sudah mencapai pulpa akan menyebabkan terjadinya kematian pada

  • pulpa sehingga diperlukan perawatan saraf gigi terlebih dahulu dan selanjutnya gigi direstorasi

    dengan bahan tambal yang sesuai (Ritter, 2004; Rosenberg, 2010).

    Pencegahan karies dapat dilakukan dengan banyak cara diantaranya yang paling murah dan

    mudah adalah menjaga personal oral hygiene dengan cara menyikat gigi secara benar dengan

    waktu yang tepat yakni segera setelah makan menggunakan pasti gigi yang mengandung fluor,

    penggunaan dental floss untuk menghilangkan food debris dan food impacted di antara gigi

    serta mengatur pola makan. Disarankan juga untuk memeriksakan kesehatan gigi secara rutin ke

    fasilitas pelayanan kesehatan gigi untuk deteksi dini karies, kontrol plak, penutupan fissure gigi

    yang dalam (fissure sealant), topical application dengan larutan fluor serta penggunaan obat

    kumur yang mengandung antiseptik baik yang kimiawi maupun yang berasal dari ekstrak

    tanaman obat untuk mengurangi jumlah plak (Lewis & ismail, 1993; Rosenberg 2010).

    Penelitian yang dilakukan oleh Carson et al. (2006), menunjukkan bahwa ekstrak teh hijau

    dan tea tree oil apabila digunakan sebagai obat kumur dapat menghambat pertumbuhan

    Streptococcus mutans dan membunuh bakteri yang lain dalam plak. Penelitian lain yang

    dilakukan oleh Yanti et al. (2008), menunjukkan bahwa zat Macelignan yang terdapat dalam

    daging buah pala dapat mengurangi biofilm level dari Streptococcus mutans.

    2.2 Streptococcus mutans

    2.2.1 Klasifikasi ilmiah Streptococcus mutans

    Streptococcus mutans adalah suatu bakteri yang bersifat facultatively anaerobic, Gram

    positif, berbentuk coccus (bulat), tersusun seperti rantai, umumnya didapatkan di dalam rongga

    mulut dan termasuk flora normal serta berperan penting dalam proses terjadinya karies. Bakteri

    ini termasuk phylum dari Firmicutes dan merupakan kelompok bakteri yang menghasilkan asam

  • laktat dan pertama kali ditemukan pada tahun 1924 oleh J. Kilian Clarke (Clarke, 1924;

    Vinogradov et al., 2004; Biswas & Biswas, 2011).

    Struktur dinding sel bakteri ini terdiri atas beberapa lapisan peptidoglikan yang tebal dan

    kaku (20-80m) sehingga membedakannya dari dinding sel bakteri Gram negatif. Dinding sel

    bakteri ini mengandung berbagai polisakarida juga mengandung substansi dinding sel yang

    disebut dengan asam teikoat (teichoic acid) yang diperkirakan berperan dalam pertumbuhan dan

    pembelahan sel. Bakteri ini juga mempunyai sifat antigen spesifik sehingga dapat dimanfaatkan

    untuk mengidentifikasi spesies bakteri tersebut secara serologi (Radji, 2010).

    Gambar 2.1 Strain Streptococcus mutans dalam kultur Thioglycollate broth (Clarke, 1924)

    Klasifikasi ilmiah dari Streptococcus mutans adalah sebagai berikut (Clarke, 1924):

    Kingdom : Bacteria

    Phylum : Firmicutes

    Class : Bacilli

    Order : Lactobacillales

  • Family : Streptococcaceae

    Genus : Streptococcus

    Species : Streptococcus mutans

    2.2.2 Efek patologis dari Streptococcus mutans

    Streptococcus mutans bersama-sama dengan Streptococcus sabrinus serta Lactobacillus

    memainkan peran yang sangat penting melalui enzim glucansucrase yang dihasilkan oleh

    bakteri-bakteri tersebut untuk menghasilkan asam laktat. Asam yang dihasilkan terus menerus

    melalui pemecahan substrat yang selalu tersedia, akan merubah lingkungan rongga mulut

    menjadi lebih asam (pH 5,2 5,5), maka email mulai mengalami proses demineralisasi sehingga

    terjadilah karies (Vinogradof et al., 2004; Argimn & Caufiled, 2011).

    Streptococcus mutans merupakan koloni bakteri pertama yang dijumpai pada permukaan gigi

    segera setelah gigi pertama erupsi dan merupakan bakteri yang memulai terjadinya pertumbuhan

    plak pada permukaan gigi. Terjadinya hal tersebut disebabkan karena kemampuan spesifik yang

    dimiliki oleh bakteri tersebut menggunakan sukrosa untuk menghasilkan suatu produk

    ekstraseluler yang lengket yang disebut dextran yang berbasis polisakarida dengan perantaraan

    enzim dextransucrase (hexocyltransferase). Produk bakteri berupa gel ekstraseluler yang lengket

    tersebut memungkinkan bakteri-bakteri yang lain ikut menempel pada permukaan gigi sehingga

    terbentuklah plak. Plak terdiri dari berbagai mikroorganisme yang selain menyebabkan karies

    gigi dapat juga menyebabkan terjadinya gingivitis, periodontitis, abses dan halitosis.

    (Vinogradof et al., 2004; Argimn & Caufiled, 2011).

    Streptococcus mutans selain menyebabkan karies gigi juga terimplikasi sebagai patogenesis

    dari penyakit cardiovaskuler tertentu. Bakteri ini merupakan spesies terbanyak yang terdeteksi

  • dari hasil ekstirpasi jaringan klep jantung yaitu sebanyak 68,6% dan dari atheromathous plaque

    didapatkan 74,1% bakteri (Nakano et al., 2006).

    Penelitian lain yang dilakukan oleh Kojima et al. (2012), menunjukkan bahwa Streptococcus

    mutans strain on dextran sodium sulfate (DSS) menyebabkan ulcerative colitis pada tikus

    percobaan. Sedangkan strain TW 295 akan memperparah ulcerative colitis dan dalam penelitian

    yang sama strain Streptococcus mutans ini ditemukan juga pada sel-sel hati (hepatocytes) yang

    mengindikasikan bahwa sel-sel hatipun menjadi target organ dari strain tersebut.

    2.3 Beluntas (Pluchea indica Less)

    2.3.1 Deskripsi dan sistematika tumbuhan beluntas

    Beluntas merupakan tumbuhan semak yang bercabang banyak, berusuk halus dan berbulu

    lembut. Umumnya ditanam sebagai tanaman pagar atau bahkan tumbuh liar, tingginya bisa

    mencapai dua hingga tiga meter apabila tidak dipangkas. Beluntas dapat tumbuh di daerah kering

    pada tanah yang keras dan berbatu, di daerah dataran rendah hingga dataran tinggi pada

    ketinggian 1000 meter di atas permukaan laut, memerlukan cukup cahaya matahari atau sedikit

    naungan dan perbanyakannya dapat dilakukan dengan stek pada batang yang sudah cukup tua.

    Beluntas termasuk tumbuhan berakar tunggang, akarnya bercabang dan berwarna putih kotor.

    Batangnya berambut halus, berkayu, bulat, bercabang, pada tumbuhan yang masih muda

    berwarna ungu dan setelah tua berwarna putih kotor (Dalimartha, 1999; Anonim, 2010).

    Daun beluntas bertangkai pendek, letaknya berseling, tunggal dan berbentuk bulat telur

    dengan ukuran 2,5 8 cm x 1-5 cm. Pangkal daun menirus, ujung daun meruncing, tepi daun

    bergerigi, tangkai daun semi duduk tidak ada penumpu dengan warna hijau terang dan berbau

    harum ketika dihancurkan. Bunganya terdiri dari banyak bongkol pada terminal hemisferikal

  • atau gundungan aksiler. Bunganya berbentuk tabung dengan panjang mahkota 3,5 5 mm.

    Buahnya berbentuk silinder dengan panjang 1 mm dengan biji yang kecil berwarna coklat

    keputih-putihan (Dalimartha, 1999; Anonim 2010).

    Gambar 2.2 Tumbuhan Beluntas (Anonim, 2010)

    Sistematika tumbuhan beluntas adalah sebagai berikut (Ferdian, 2010):

    Kingdom : Plantae

    Phylum : Magnoliaphyta

    Class : Magnoliopsida

    Ordo : Asterales

    Family : Asteraceae

    Genus : Pluchea

    Species : Pluchea indica (L.)Less

    2.3.2 Sifat senyawa aktif daun beluntas

    Penggunaan tumbuhan sebagai obat sangat berkaitan dengan kandungan kimia yang terdapat

    dalam tumbuh-tumbuhan tersebut terutama zat bioaktifnya. Senyawa bioaktif yang terdapat

    dalam tumbuhan biasanya merupakan senyawa metabolit sekunder. Metabolit primer biasanya

  • mengandung asam amino, gugusan gula sederhana, asam nukleat dan lemak yang berguna untuk

    proses-proses dalam sel misalnya pertumbuhan, fotosintesis, reproduksi dan metabolisme serta

    fungsi-fungsi primer lainnya, sedangkan metabolit sekunder dalam bentuk senyawa-senyawa

    aktif, berguna untuk mempertahankan diri. Tumbuhan dapat memproduksi sendiri berbagai jenis

    metabolit sekunder yang sering dieksploitasi oleh manusia untuk berbagai kepentingan.

    Metabolit sekunder terbagi atas tiga bagian besar yaitu: terpen dan terpenoid yang terdiri dari

    25.000 tipe, alkaloid yang terdiri dari 12.000 tipe, senyawa phenolic yang terdiri dari 8000

    tipe (Zwenger & Basu, 2008; Schultz, 2011; Hassanpour et al., 2011).

    Daun beluntas berbau khas aromatik dan rasanya getir, banyak mengandung zat berkhasiat

    yang sering digunakan untuk menghilangkan bau badan, bau mulut, mengatasi kurang nafsu

    makan, mengatasi gangguan pencernaan pada anak, mengobati TBC kelenjar, menghilangkan

    nyeri pada rematik, nyeri tulang dan sakit pinggang, menurunkan demam, mengobati keputihan

    dan mengatasi haid yang tidak teratur (Dalimartha, 1999).

    Kandungan kimia dalam daun beluntas adalah: Alkaloid, flavonoid, tannin, minyak atsiri,

    asam chlorogenik, natrium, kalium, aluminium, kalsium, magnesium dan fosfor. Sedangkan

    akar beluntas mengandung tannin dan flavonoid (Dalimartha, 2005). Daun beluntas yang akan

    digunakan dalam penelitian ini diambil dari daerah Jalan Tukad Badung, Kelurahan Renon

    Kecamatan Denpasar Timur. Hasil uji fitokimia yang dilakukan pada tanggal 22 November 2011

    di UPT Laboratorium Pengembangan Sumber daya Genetik Kelautan dan Rekayasa Genetik

    (Marine Biology) Universitas Udayana Denpasar, menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun

    beluntas yang akan dipakai pada penelitian ini mengandung beberapa metabolit sekunder yaitu:

    Tannin (+), Alkaloid (+), Flavonoid (++), Steroid (+++) dan Fenolat (+++). Tanda (+)

    menunjukkan banyaknya kandungan zat aktif. Positif satu (+) menandakan bahwa kandungan zat

  • aktif dalam metabolit sekunder hanya sedikit, positif dua (++) menandakan kandungan zat aktif

    yang banyak dalam metabolit sekunder, dan positif tiga (+++) menandakan kandungan zat aktif

    yang sangat dalam metabolit sekunder. Wang et al. (2010), mengatakan bahwa senyawa dengan

    struktur kimia yang hampir sama akan mempunyai profil farmakokinetik yang sama pula.

    Gambar 2.3 Hasil Uji Fitokimia untuk Mengetahui Zat Aktif Fenolat

    Gambar 2.4 Hasil Uji Fitokimia untuk Mengetahui Zat Aktif Steroid

    2.3.2.1 Sifat senyawa aktif alkaloid

    Alkaloid adalah senyawa metabolit sekunder yang bersifat basa, yang mengandung satu atau

    lebih atom nitrogen, biasanya dalam cincin heterosiklik. Alkaloid merupakan senyawa organik

  • bahan alam yang terbesar jumlahnya mempunyai struktur yang beraneka ragam dari yang

    sederhana sampai yang rumit. Kebanyakan alkaloid berbentuk padatan kristal dengan titik lebur

    tertentu. Berdasarkan biogenetik, alkaloid diketahui berasal dari sejumlah kecil asam amino

    yaitu ornitin dan lisin yang menurunkan alkaloid alisiklik dan isokuinolin, serta triptofan yang

    menurunkan alkaloid indol (Putra, 2007).

    Alkaloid tidak mempunyai tatanan sistematik oleh karena itu suatu alkaloid dinyatakan

    dengan nama trivial, misalnya kuinin, morfin dan stiknin, Hampir semua nama trivial berakhiran

    dengan in yang mencirikan alkaloid. Berdasarkan lokasi atom nitrogen di dalam struktur

    alkaloid, alkaloid dibagi menjadi lima golongan yaitu: 1) Alkaloid heterosiklis; 2) Alkaloid

    dengan nitrogen eksosiklis dan amina alifatis; 3) Alkaloid putressina, spermidina dan spermina;

    4) Alkaloid peptida dan 5) Alkaloid terpena (Lenny, 2006).

    Hampir semua alkaloid yang ditemukan di alam mempunyai keaktivan biologis tertentu, ada

    yang sangat beracun tetapi ada pula yang sangat berguna dalam pengobatan, misalnya kuinin,

    morfin, stiknin dan nikotin adalah alkaloid yang terkenal dan mempunyai efek fisiologis serta

    psikologis (Harborne dan Turner, 1984) dalam Ferdian (2010).

    Berikut ini adalah aktivitas biologis dari beberapa senyawa alkaloid:

    Tabel 2.1

    Aktivitas Biologis Alkaloid (Putra, 2007)

    Senyawa Alkaloid (Nama Trivial) Aktivitas Biologis

    Nikotin Stimulan pada saraf otonom

    Morfin Analgesik

    Kodein Analgesik, antitusif

    Kokain Analgesik

    Piperin Antifeedant (bioinsektisida)

  • Quinin Obat malaria

    Ergotamin Analgesik pada migrain

    Mitraginin Analgesik dan antitusif

    Saponin Antibakteri 2.3.2.2 Sifat senyawa aktif tannin

    Tannin adalah suatu senyawa phenolic dengan berat molekul yang cukup besar, berkisar

    antara 5003000 Da, bersifat larut dalam air, banyak didapatkan pada daun, kulit, buah, kayu dan

    akar tanaman dan umumnya didapatkan pada vakuola-vakuola dalam jaringan. Tannin

    berhubungan erat dengan mekanisme pertahanan tumbuhan terhadap mammalia herbivora,

    burung dan serangga. Sampai dengan saat ini definisi tentang tannin masih sukar dirumuskan

    secara tepat (Hassanpour et al., 2011).

    Tannin digolongkan berdasarkan kemampuannya untuk membentuk suatu kompleks dengan

    ptotein, sedangkan berdasarkan struktur kimianya tannin dibagi menjadi dua kelompok besar

    yaitu: hydrosable tannins (HTs) dan condensed tannins (CTs) yang dibedakan oleh berat

    molekul dan struktur serta efeknya yang berbeda terhadap herbivora khususnya hewan

    memamahbiak. HTs biasanya ditemukan dalam konsentrasi yang rendah pada tumbuhan

    dibandingkan dengan CTs. HTs dapat membentuk senyawa pyrogallol yang bersifat toksik

    terhadap mamalia. Observasi yang telah dilakukan menunjukkan bahwa apabila senyawa toksik

    yang terbentuk dalam diet melebihi 20% dapat menyebabkan nekrosis pada hati, kerusakan

    ginjal disertai dengan nekrosis pada tubulus proksimalis, lesi yang dihubungkan dengan

    perdarahan gastroenteritis dan dapat menimbulkna kematian pada domba dan ternak (Patra &

    Saxena, 2010; Hassanpour et al., 2011).

    CTs atau dikenal juga sebagai proanthocyanidines adalah jenis tannin yang umumnya

    didapatkan pada berbagai macam tumbuhan. CTs mempunyai struktur kimia yang bervariasi

  • yang mempengaruhi aktivitas fisik dan biologiknya. CTs mengandung unit flavonoid yakni

    flavan-3-ol yang dihubungkan dengan ikatan karbon-karbon. Tannin merupakan suatu substansi

    polyphenolic yang mempunyai kemampuan untuk berikatan dengan protein membentuk tannin-

    protein complex yang bersifat mudah larut, membentuk complex tannin-poylscharides misalnya

    dengan selulosa, hemiselulosa dan pectin. Tannin juga dapat membentuk kompleks dengan asam

    nukleat, steroid, alkaloid dan saponin (Hassanpour et al., 2011). Penelitian-penelitian sekarang

    pada hewan coba menunjukkan bahwa tannin mempunyai efek yang menguntungkan yaitu

    sebagai anti mikroba, antioksidan dan anthelmintic (Patra & Saxena, 2010; Hassanpour et al.,

    2011).

    2.3.2.3 Sifat senyawa aktif flavonoid

    Senyawa flavonoid adalah suatu kelompok senyawa fenol yang terbanyak di alam.

    Senyawa-senyawa ini bertanggungjawab terhadap zat warna merah, ungu, biru dan kuning pada

    mahkota bunga dengan tujuan untuk menarik serangga yang membantu penyerbukan. Flavonoid

    khususnya flavanoid seperti katekin merupakan senyawa polyphenolic yang umum didapatkan

    pada tumbuhan yang banyak dikonsumsi oleh manusia. Flavonols terdapat dalam jumlah kecil

    merupakan bioflavonoid yang asli contohnya adalah quercetin. Flavonoid tersebar luas pada

    berbagai macam tanaman, toksisitasnya rendah dibandingkan dengan senyawa aktif yang lain,

    membuatnya banyak dikonsumsi oleh hewan dan manusia.

    Berdasarkan ikatannya dengan gula, flavonoid terdiri dari dua kelompok yaitu glikosida

    yang berikatan dengan satu atau lebih molekul gula, dan yang lain yaitu aglikon adalah flavonoid

    yang tidak berikatan dengan gula. Kebanyakan flavonoid yang berasal dari tumbuh-tumbuhan

    adalah dalam bentuk glikosida (Williamson, 2004).

  • Aktivitas farmakologis dari flavonoid dianggap berasal dari rutin (glikosida flavonol).

    Flavonoid dapat digunakan sebagai obat karena mempunyai bermacam-macam bioaktifitas

    seperti: antiinflamasi, anti bakteri, anti kanker, anti fertilitas, anti viral, anti diabetes, anti

    depresan dan anti diare (Spencer & Jeremy, 2008; Cushnie & Lamb, 2011).

    2.3.2.4 Sifat senyawa aktif steroid

    Senyawa steroid adalah suatu senyawa organik yang terdapat dalam metabolit sekunder

    yang didapatkan pada tumbuhan dan hewan. Senyawa ini berasal dari senyawa triterpen yang

    merupakan derivat dari terpen dengan kerangka dasarnya adalah sistem cincin siklopentana

    perhidrofenantrena. Triterpenoid adalah senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari enam

    satuan isoprena dan secara biosintesis diturunkan dari hidrokarbon C30 asiklik, yaitu skualena.

    Senyawa ini berstruktur siklik yang rumit, kebanyakan berupa alkohol, aldehid atau asam

    karboksilat, berupa senyawa tanpa warna, berbentuk kristal, sering kali bertitik leleh tinggi.

    Triterpenoid dapat dipilah menjadi sekurang-kurangnya empat golongan senyawa yakni:

    triterpenoid sebenarnya, steroid, saponin, dan glikosida jantung. Saponin dan glikosida jantung

    merupakan triterpenoid sedangkan steroid yang terutama terdapat sebagai glikosida (Rustaman et al.,

    2006).

    Dahulu steroid dianggap sebagai senyawa satwa berupa hormon kelamin dan asam empedu,

    namun sekarang makin banyak senyawa tersebut ditemukan dalam jaringan tumbuhan. Steroid

    yang terdapat dalam jaringan hewan berasal dari triterpen lanosterol sedangkan yang terdapat

    dalam jaringan tumbuhan berasal dari triterpen sikloartenol. Tahap awal dari biosintesis steroid

    adalah sama bagi steroid alam yakni pengubahan asam asetat melalui asam mevalonat dan

    skualen menjadi lanosterol atau sikloartenol yang kemudian mengalami lagi beberapa tahap

    perubahan sampai terbentuk senyawa steroid (Rustaman et al., 2006; Zwenger & Basu, 2008).

  • Steroid sebagai salah satu metabolit sekunder yang terdapat pada ekstrak daun beluntas,

    merupakan derivat senyawa terpene yaitu triterpenoid mempunyai aktivitas antibakteri,

    antiparasit, antiinflamasi, antijamur, kardiotonik dan efek anabolik (Islam et al., 2003;

    Prabuseenivasan et al., 2006; Praptiwi et al., 2006; John et al., 2007). Mekanisme aktivitas

    antibakteri steroid diduga berhubungan dengan kemampuan steroid menyebabkan kebocoran

    pada bagian aqueous (cair) dari phosphatidylethanolamine yang kaya akan liposome (Epand et

    al., 2007; Mohamed et al., 2010).

    2.3.2.5 Sifat senyawa aktif fenolat

    Senyawa fenol banyak didapatkan di alam, berasal dari tumbuh-tumbuhan, biasanya

    terdapat di dalam vegetative foliage tumbuhan yang berguna untuk menakut-nakuti herbivora.

    Umumnya, senyawa fenolat terbagi menjadi dua senyawa, yaitu fenol sederhana dan polifenol

    misalnya flavonoid dan tannin, namun masih banyak senyawa-senyawa lain yang merupakan

    turunan dari senyawa fenol misalnya: eugenol, estradiol, thymol dan lain-lain. Berdasarkan kimia

    organic, fenol disebut juga phenolic adalah suatu klas senyawa kimia yang terdiri dari gugus

    hidroksil (OH) terikat secara langsung pada suatu kelompok hidrokarbon aromatik. Senyawa

    fenolat mampu menetralkan radikal bebas yang membahayakan tubuh, sehingga spektrum

    aktivitas biokimia senyawa fenolat cukup luas, yaitu sebagai antioksidan, antimutagen,

    antimikroba, antikarsinogenik, dan mampu memodifikasi ekspresi gen (Devi, 2011).

    2.3.3 Farmakologi dari zat berkhasiat dalam ekstrak daun beluntas

    2.3.3.1 Farmakologi senyawa alkaloid

    Senyawa alkaloid yang terkandung dalam berbagai ekstrak tumbuhan mempunyai khasiat

    yang sangat berguna bagi manusia, misalnya kuinin yang terdapat dalam ekstrak kulit tumbuhan

    chincona, artemisinin yang terdapat dalam ekstrak tumbuhan Artemisia annua mempunyai

  • aktivitas terhadap Plasmodium falciparum. Morfin dan kodein juga adalah suatu alkaloid yang

    mempunyai aktivitas biologis yang berguna yaitu sebagai analgesik yang kuat. Sintesis

    senyawa-senyawa alkaloid dari tumbuhan tersebut sudah dilakukan sehingga sekarang

    ditemukan obat-obatan anti malaria sintesik seperti quinine, artemisinin, obat narkotik analgesik

    dan antitusif sintesik seperti opioid, yang mempunyai efek farmakodinamik, farmakokinetik

    yang jelas terhadap berbagai penyebab penyakit pada manusia (Putra, 2007).

    Senyawa alkaloid opioid misalnya morfin tidak dapat menembus kulit utuh, tetapi apabila

    kulit mengalami luka maka akan terjadi absorbsi obat lewat kulit yang luka dan lewat mukosa

    yang masih utuh. Absorbsi obat lewat usus sedikit sekali sehingga efek analgesiknya sangat

    rendah dibandingkan dengan pemberian perparenteral pada dosis yang sama. Alkaloid opioid

    yang diberikan secara intra vena akan berikatan dengan protein plasma yaitu -1-acid

    glycoprotein, mengalami biotransformasi di hati lewat dua fase yaitu fase oksidasi dan reduksi

    yang dikatalisis oleh enzim CYP 450. Fase konyugasi akan menghasilkan D-glucoronic acid

    sebagai metabolitnya yang tidak aktif selanjutnya diekskresi lewat ginjal, sistem empedu dan

    juga feses. Opioid akan berinteraksi dengan reseptornya untuk menimbulkan efeknya dan potensi

    analgesik tergantung pada afinitasnya terhadap reseptor opioid spesifik (Sardjono et al., 2004;

    Putra, 2007).

    2.3.3.2 Farmakologi senyawa tannin

    Tannin yang berasal dari ekstrak tumbuhan diabsorbsi dengan cepat dari saluran cerna

    kemudian mengalami distribusi dan eliminasi yang cukup cepat pula. Bioavailabilitasnya sangat

    rendah setelah pemberian peroral. Konsentrasi dalam plasma adalah 213 ng/ml setelah 55 menit

    pemberian peroral 0,8 g/kg BB ekstrak yang mengandung tannin. Hidrolisisnya kebanyakan

  • terjadi di usus besar pada pH alkalin. Senyawa tannin khususnya oligomeric proanthocianidines

    dapat menembus sawar darah otak (Wang et al., 2010).

    Senyawa-senyawa tannin misalnya ellagic acid dapat bereaksi dengan radikal bebas oleh

    karena kemampuannya untuk berikatan dengan ion-ion metal sehingga mempunyai efek

    antioksidan yang poten terhadap lipid peroksidasi di dalam mitokondria dan mikrosom. Aksinya

    sebagai antioksidan ditandai oleh kemampuannya untuk menyediakan elektron sehingga

    mengeliminasi radikal bebas hasil peroksidasi lipid (Wang et al., 2010). Senyawa tannin juga

    berfungsi untuk menurunkan kolesterol total, VLDL dan triglicerid dan meningkatkan HDL

    sehingga memainkan peranan yang penting untuk mengatasi gangguan metabolisme lemak dan

    obesitas (Lei et al., 2007).

    Senyawa tannin juga mempunyai efek astringent. Beberapa penelitian membuktikan bahwa

    senyawa tannin dapat berikatan dengan protein sehingga mempercepat penyembuhan ulcer

    (Murthy et al., 2004; Ajaikumar et al., 2005). Ellagitannins adalah suatu derivat senyawa tannin

    mempunyai aktivitas antibakteri dengan cara membentuk kompleks dengan proline yaitu sejenis

    protein pada dinding sel bakteri, menyebabkan protein leakage, terjadi kerusakan dinding sel

    bakteri sehingga menyebabkan kematian sel bakteri (Machado et al., 2003; Braga et al., 2005;

    Mohamed et al., 2010). Tannin mempunyai aktivitas menghambat cara kerja enzim yang

    berperan dalam replikasi RNA virus, mengendapkan protein virus yang sangat berguna untuk

    siklus hidup virus sehingga menyebabkan kematian virus (Haidari et al., 2009).

    Tumbuhan herbal yang mengandung banyak tannin dianjurkan untuk tidak diberikan

    bersama-sama dengan herbal yang banyak mengandung alkaloid, karena campuran kedua

    senyawa tersebut akan menyebabkan terjadinya presipitasi. Pemberian tannin bersama-sama

    dengan ekstrak yang banyak mengandung protein kemungkinan akan terjadi reaksi presipitasi

  • juga oleh karena interaksi farmakologik sehingga akan mengurangi bioavailabilitas bahan aktif

    dalam ekstrak (Ajaikumar et al., 2005; Haidari et al., 2009). Penelitian yang dilakukan Serafini

    et al. (1996), menunjukkan bahwa pemberian susu yang dicampur dengan teh hijau dan teh

    hitam akan terjadi interaksi farmakologik sehingga meniadakan efek antioksidan dari kedua jenis

    teh.

    2.3.3.3 Farmakologi senyawa flavonoid

    Flavonoid meskipun telah dimasak, dapat mencapai usus halus dalam keadaan utuh,

    diabsorbsi secara terbatas di usus halus, mengalami metabolisme dengan cepat dan terbentuk

    metabolit dari hasil metilasi, glucoronidasi dan sulphatasi. Umumnya bioavailabilitas flavonoid

    sangat rendah oleh karena absorbsinya yang terbatas dan eliminasinya yang cepat namun

    bervariasi diantara berbagai jenis flavonoid. Isoflavon mempunyai bioavailabilitas paling baik

    sedangkan flavanol mempunyai absorbsi paling rendah (Manach et al., 2005). Pemberian soy

    isoflavons dan citrus flavanones peroral pada manusia menunjukkan bahwa konsentrasi puncak

    dalam plasma tidak melebihi 10 micromoles/liter, sedangkan setelah mengkonsumsi

    anthocyanines, flavanol dan flavonol, konsentrasi puncak dalam plasmanya kurang dari 1

    micromole/liter (Manach et al., 2004).

    Flavonoid mempunyai aktivitas antioksidan. Mekanisme kerjanya secara in vitro dapat

    dijelaskan sebagai berikut, flavonoid mempunyai kemampuan untuk mengikat ion-ion metal

    seperti besi dan tembaga yang berfungsi mengkatalisis pembentukan radikal bebas sehingga

    membatasi pembentukan radikal bebas, namun belum diketahui apakah fungsinya sebagai methal

    chelators agent efektif juga secara in vivo, masih diperlukan penelitian lebih lanjut (Frei &

    Higdon, 2003).

  • Efek flavonoid yang lain yaitu mempengaruhi cell signaling pathways. Semua sel

    mempunyai kemampuan untuk memberikan respon atas berbagai macam stres atau signal dengan

    cara meningkatkan atau mengurangi ketersediaan protein spesifik. Reaksi cascade yang

    kompleks yang menyebabkan perubahan dalam ekspresi gen spesifik disebut dengan cell

    signaling pathway atau signal transduction pathways. Alur ini mengatur sejumlah proses dalam

    sel misalnya pertumbuhan, proliferasi dan apoptosis (kematian sel). Beberapa penelitian

    menunjukkan bahwa kemampuan flavonoid untuk mempengaruhi cell signaling pathway lebih

    besar dibandingkan efeknya sebagai antioksidan (Spencer et al., 2003).

    Sejumlah hasil penelitian terhadap kultur sel menunjukkan bahwa flavonoid mempunyai

    efek terhadap penyakit-penyakit kronis dengan cara menghambat secara selektif pembentukan

    protein kinase yang berperan dalam mengkatalisis reaksi fosforilasi dari target protein (William

    et al., 2004; Hou et al., 2004). Pertumbuhan dan proliferasi sel juga diatur growth factor yang

    melakukan insiasi cell signaling cascade dengan cara berikatan dengan reseptor spesifik dalam

    membran sel. Flavonoid diduga mempengaruhi growth factor signaling dengan cara

    menghambat secara kompetitif reseptor binding dalam membran sel (Lambert & Yang, 2003).

    Penelitian yang lain menunjukkan bahwa flavonoid mempunyai aktivitas antimikroba

    melalui beberapa mekanisme yaitu: 1) menghambat sintesa dinding sel bakteri; 2) menyebabkan

    protein leakage akibatnya terjadi kebocoran dinding sel bakteri; 3) menghambat sintesis protein

    bakteri; dan 4) kemungkinan mengintervensi fungsi DNA sel bakteri (Hussain et al., 2010;

    Mohamed et al., 2010).

    Jus anggur yang mengandung bahan aktif furanocoumarins, dihydroxybergamottin,

    flavonoids naringenin dan quercetin dapat berinteraksi dengan berbagai macam obat dengan cara

    menghambat secara ireversibel enzim CYP 450 3A4 in vitro (Bailey & Dresser, 2004). Beberapa

  • flavonoid misalnya: quercetin, naringenin, flavanol dalam teh hijau dan epigallocathechine

    gallate menghambat aktivitas P-glikoprotein sehingga apabila mengkonsumsi suplemen

    flavonoid dalam jumlah yang banyak maka bioavailabilitasnya akan meningkat sehingga

    meningkatkan toksisitasnya. Obat-obat yang transport aktifnya menggunakan P-glikoprotein

    misalnya digoxin, obat-obat antihipertensi, obat antiaritmia, obat-obat kemoterapi, obat-obat anti

    jamur dan HIV protease inhibitors, apabila diberikan bersama-sama dengan flavonoid, akan

    meningkatkan toksisitas obat-obat tersebut (Marzolini et al., 2004).

    Penelitian ex vivo assay yang telah dilakukan membuktikan bahwa, mengkonsumsi jus

    anggur ungu (500 ml/hari) dan dark chocolate (235 mg/ hari) yang banyak mengandung

    flavonoid, dapat terjadi penghambatan agregasi platelet, sehingga meningkatkan risiko

    perdarahan terutama pada pasien yang sedang menggunakan obat-obat antikoagulan misalnya

    clopidogrel, dipyridamole, NSAIDs, aspirin dan lain-lain (Freedman et al., 2001; Murphy et al.,

    2003). Flavonoid juga dapat mengurangi absorbsi nonheme iron yang terdapat dalam makanan,

    demikian pula diketahui bahwa quercetin serta flavonoid yang terdapat dalam teh dapat

    menghambat absorbsi vitamin C dari saluran cerna dan menghambat transport vitamin C ke

    dalam sel (Song et al., 2002). Flavonoid yang berasal dari makanan nabati relatif tidak

    menimbulkan efek samping. Hal ini dapat dijelaskan karena absorbsinya yang sangat sedikit dan

    metabolisme serta eliminasi yang sangat cepat (Higdon et al., 2008).

    2.3.4 Cara ekstraksi zat berkhasiat dalam daun beluntas

    2.3.4.1 Pengertian

    Ekstraksi adalah proses pengambilan/pemisahan komponen yang larut dari suatu bahan atau

    campuran dengan menggunakan pelarut seperti air, alkohol, aseton dan sebagainya. Ekstraksi

    dilakukan untuk mendapatkan bahan cair atau padat misalnya bahan alam yang sukar sekali

  • dipisahkan dengan metode pemisahan mekanis atau termis, misalnya karena komponennya

    saling bercampur secara sangat erat, komponen peka terhadap panas, perbedaan sifat-sifat

    fisiknya sangat kecil, atau tersedia dalam konsentrasi yang terlalu rendah (Rahayu, 2009).

    Menurut Ditjen POM (1995), ekstraksi adalah kegiatan pengambilan kandungan kimia yang

    dapat larut sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair, sedangkan

    ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi senyawa aktif dari simplisia

    nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai kemudian semua atau hampir

    semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian rupa

    sehingga memenuhi baku yang telah ditetapkan (Ginting, 2010). Prinsip ekstraksi adalah

    melarutkan senyawa polar dalam pelarut polar dan senyawa non polar dalam pelarut non polar.

    Umumnya ekstraksi dilakukan secara berturut-turut mulai dengan pelarut non polar misalnya n-

    heksana, lalu pelarut dengan kepolarannya sedang misalnya ethyl-acetate dan dichlormethane,

    kemudian pelarut yang bersifat polar misalnya etanol atau metanol (Ginting, 2010).

    2.3.4.2 Metode ekstraksi

    Beberapa metode ekstraksi yang biasa digunakan untuk mengekstraksi metabolit sekunder

    bahan alam yaitu: maserasi, perkolasi, sokletasi, refluks, digestasi dan infus (Ginting, 2010).

    Metode ekstraksi metabolit sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah maserasi

    menggunakan pelarut etanol.

    Maserasi berasal dari kata bahasa latin macerare yang berarti perendaman, sehingga

    maserasi adalah proses pengekstraksian simplisia dengan cara perendaman sampel

    menggunakan pelarut organik dengan beberapa kali pengocokan dan pengadukan pada

    temperatur ruangan. Teknik maserasi digunakan terutama jika senyawa organik metabolit

    sekunder yang ada dalam bahan tersebut cukup banyak persentasinya dan ditemukan suatu

  • pelarut yang dapat melarutkan senyawa tersebut tanpa dilakukan pemanasan. Proses ini sangat

    menguntungkan karena dengan proses perendaman, akan terjadi pemecahan dinding dan

    membran sel akibat perbedaan tekanan di dalam dan di luar sel sehingga metabolit sekunder

    yang ada dalam sitoplasma akan terlarut dalam pelarut organik dan ekstraksi senyawa akan

    sempurna karena dapat diatur lama perendaman yang dilakukan. Pemilihan bahan pelarut dalam

    proses maserasi akan memberikan efektivitas yang tinggi dengan memperhatikan kelarutan

    senyawa bahan alam dalam pelarut tersebut (Harborne, 1987; Pasaribu, 2009; Dewi, 2010).

    Etanol adalah senyawa dengan sifat polar dan semi polar maksudnya adalah dapat berfungsi

    sebagai pelarut air dan minyak. Penambahan air pada etanol akan mengurangi daya larut minyak

    di dalam etanol. Kebanyakan senyawa yang molekulnya menghasilkan rasa misalnya manis,

    pahit atau asam biasanya bersifat polar sedangkan senyawa yang molekulnya menghasilkan

    aroma biasanya bersifat non polar. Etanol dapat mengekstraksi senyawa-senyawa aktif dalam

    jumlah kecil yang terdapat dalam sediaan bahan alam (Lersch, 2008).

    2.4 Chlorhexidine

    Salah satu cara untuk mengobati halitosis adalah menggunakan obat kumur yang bertujuan

    untuk mengurangi dental plak dan bakteri yang hidup dalam rongga mulut. Obat kumur yang

    biasa digunakan adalah Chlorhexidine gluconate 0,12% yang mengandung: 1.1-hexamethylene

    bis [5-(p-chlorophenyl) biguanide] di-D-gluconate) dalam basis yang mengandung air, alkohol

    11,6%, glycerine, PEG-40 sorbitan diisostearate, flavour, sodium saccharine dan FD&C Blue

    No.1. Chlorhexidine diproduksi dengan pH antara 5-7 berupa suatu garam chlorhexidine dan

    gluconic acid. Struktur kimianya terlihat pada gambar dibawah ini (Kuyyakanond & Quenel,

    1992):

  • Gambar 2.5 Struktur Kimia Chlorhexidine gluconate

    2.4.1 Farmakologi chlorhexidine 0,12%

    Obat kumur Chlorhexidine mempunyai aktivitas antibakteri selama penggunaannya sebagai

    oral rinsing. Kemampuannya untuk mengurangi bakteri baik aerobic maupun anaerobic

    mencapai 54 97%. Obat kumur ini efektif terhadap bakteri Gram positif dan Grram negatif

    meskipun terhadap beberapa bakteri Gram negatif kurang efektif (Shahani & Reddy, 2011).

    Mekanisme kerja chlorhexidine dahulu diduga bersifat bakterisid dengan cara menginaktifkan

    ATPase bakteri namun ada pendapat lain yang mengatakan bahwa chlorhexidine bersifat

    bakterisid kemudian menjadi bakteriostatik dengan cara merusak dinding sel bakteri,

    menghambat sistem enzimatik bakteri, mengeluarkan lipopolisakarida bakteri sehingga

    menyebabkan kematian sel bakteri (Kuyyakanond & Quenel, 1992; Mandel, 1994).

    Penelitian-penelitian terhadap farmakokinetik chlorhexidine gluconate menunjukkan bahwa

    30% bahan aktif obat kumur ini akan tetap berada dalam rongga mulut setelah dilakukan kumur-

    kumur. Bahan aktif yang tertinggal ini selanjutnya akan dilepaskan perlahan-lahan ke dalam

    cairan rongga mulut. Chlorhexidine gluconate sangat sedikit diabsorbsi dalam saluran cerna.

    Setelah 30 menit seseorang menelan chlorhexidine gluconate dengan dosis 300 mg maka rata-

    rata kadar puncak dalam plasma mencapai 0.206 mikrogram/L dan setelah 12 jam kadar obat

    dalam plasma tidak terdeteksi lagi. Kurang lebih 90% chlorhexidine gluconate diekskresi lewat

    feses dan sisanya diekskresi lewat urine (Kolahi & Soolari, 2006).

    2.4.2 Indikasi penggunaan chlorhexidine 0,12%

  • Chlorhexidine gluconate diindikasikan sebagai obat kumur untuk mengurangi jumlah

    bakteri dalam rongga mulut pada pasien yang menderita gingivitis, periodontitis, dental trauma,

    kista rongga mulut dan setelah pencabutan gigi. Obat kumur ini digunakan dua kali sehari

    (Kuyyakanond & Quenel, 1992; Kolahi & Soolari, 2006).

    2.4.3 Efek samping chlorhexidine 0,12%

    Efek samping penggunaan chlorhexidine gluconate sebagai obat kumur telah banyak

    dilaporkan. Efek samping yang umum dialami oleh pasien yaitu: 1) terjadinya staining pada

    permukaan gigi, restorasi, gigi tiruan dan bagian dorsum lidah. Efek staining ini akan lebih

    parah pada pengguna obat kumur yang juga perokok atau punya kebiasaan mengkonsumsi teh

    dan kopi; 2) gangguan rasa pengecapan yang bersifat reversibel; 3) ulcerasi dan deskuamasi pada

    mukosa; 4) rasa kering dalam mulut; 5) paresthesia; 6) geographic tongue dengan angka

    kejadian 1% (Menegon et al., 2011; Peterson, 2011) .

    BAB III

    KERANGKA BERPIKIR, KONSEP DAN HIPOTESIS

    3.1 Kerangka Berpikir

    Streptococcus mutans merupakan bakteri Gram positif, bersifat anaerob fakultatif,

    merupakan bakteri yang memulai terjadinya pertumbuhan plak pada permukaan gigi. Terjadinya

    hal tersebut disebabkan karena kemampuan spesifik dari bakteri tersebut untuk menggunakan

    sukrosa untuk menghasilkan suatu produk ekstraseluler yang lengket yang disebut dextran.

    Produk ekstraseluler yang lengket tersebut memungkinkan bakteri-bakteri yang lain ikut

  • menempel pada permukaan gigi membentuk koloni yang terdiri dari berbagai bakteri yang

    disebut dengan plak. Bakteri ini juga menghasilkan asam laktat yang berperan penting untuk

    merubah lingkungan rongga mulut menjadi lebih asam (pH 5,2 5,5) sehingga email mulai

    mengalami proses demineralisasi dan terjadilah karies gigi.

    Karies mempunyai dampak yang luas apabila tidak dirawat pada tahap awal. Berbagai

    komplikasi dapat terjadi misalnya timbul rasa sakit yang mengganggu aktivitas sehari-hari dan

    terjadi abses pada mukosa sekitar gigi. Pada fase lanjut, gigi harus dicabut karena tidak dapat

    dipertahankan lagi dan seseorang akan kehilangan giginya sehingga terjadi gangguan fungsi

    mastikasi dan estetik. Berdasarkan fakta di atas maka karies harus dirawat dengan baik dan

    dicegah agar gigi yang sehat tidak sampai terserang karies. Salah satu cara pencegahannya

    adalah menggunakan obat kumur yang mengandung antiseptik yang berasal dari ekstrak tumbuh-

    tumbuhan yaitu ekstrak etanol daun beluntas untuk mencegah pertumbuhan dan akulumasi plak.

    Daun beluntas merupakan jenis obat tradisional yang banyak dijumpai di Indonesia.

    Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun beluntas mempunyai aktivitas antibakteri

    terhadap beberapa bakteri diantaranya adalah Escherichia coli, Psuedomonas aeruginosa multi

    resistant dan Methicillin resistant Staphylococcus aureus. Uji pendahuluan yang telah dilakukan

    diketahui bahwa daun beluntas mengandung beberapa zat aktif diantaranya adalah: tannin,

    flavonoid, steroid dan fenolat yang berfungsi sebagai antibakteri sehingga apabila digunakan

    diharapkan dapat menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans penyebab karies.

  • 3.2 Konsep Penelitian

    Gambar 3.1 Konsep Penelitian

    Ekstrak etanol daun beluntas dengan konsentrasi 25%, 50%,

    75% dan 100% yang mengandung: tannin, steroid,

    flavonoid dan fenolat

    Faktor Eksternal:

    - Lingkungan rongga mulut

    - Suhu - media

    Faktor Internal:

    - Struktur dinding sel yang kompleks

    - Kemampuan beradaptasi dengan perubahan lingkungan dalam rongga mulut

    Streptococcus mutans

    Pertumbuhan

    (Zona hambatan)

  • 3.3 Hipotesis Penelitian

    1. Ekstrak etanol daun beluntas dengan konsentrasi 25% menghambat pertumbuhan bakteri

    Streptococcus mutans.

    2. Ekstrak etanol daun beluntas dengan konsentrasi 50% menghambat pertumbuhan bakteri

    Streptococcus mutans.

    3. Ekstrak etanol daun beluntas dengan konsentrasi 75% menghambat pertumbuhan bakteri

    Streptococcus mutans.

    4. Ekstrak etanol daun beluntas dengan konsentrasi 100% menghambat pertumbuhan bakteri

    Streptococcus mutans.

  • BAB IV

    METODE PENELITIAN

    4.1. Rancangan Penelitian

    Rancangan yang dipilih pada penelitian adalah completely randomized menggunakan post-

    test only control group design (Pocock, 2008).

    P0 O1

    P1

    R O2

    RA P2

    P P3

    S O3

    O4

    P4 O5

    P5

    O6

  • Gambar 4.1 Rancangan Penelitian

    Keterangan:

    P : Populasi

    S : sampel

    R : Random

    RA : Random Alokasi

    P0 : Perlakuan dengan kontrol negatif (Aquades steril)

    P1 : Perlakuan dengan kontrol positif (Chlorhexidine 0,12%)

    P2 : Perlakuan dengan ekstrak etanol daun beluntas konsentrasi 25%

    P3 : Perlakuan dengan ekstrak etanol daun beluntas konsentrasi 50%

    P4 : Perlakuan dengan ekstrak etanol daun beluntas konsentrasi 75%

    P5 : Perlakukan dengan ekstrak etanol daun beluntas konsentrasi 100%

    O1 : Daya hambat pertumbuhan bakteri setelah P0

    O2 : Daya hambat pertumbuhan bakteri setelah P1

    O3 : Daya hambat pertumbuhan bakteri setelah P2

    O4 : Daya hambat pertumbuhan bakteri setelah P3

    O5 : Daya hambat pertumbuhan bakteri setelah P4

    O6 : Daya hambat pertumbuhan bakteri setelah P5

    4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

    Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas

    Udayana Denpasar pada bulan Mei tahun 2012.

  • 4.3 Sampel Penelitian

    4.3.1 Sampel penelitian: Bakteri Streptococcus mutans ATCC 35668 yang dibiakkan dalam

    plate agar darah

    4.3.2 Besar sampel

    Besar sampel ditentukan dengan menggunakan rumus besar sampel menurut Frederer

    (1977), sebagai berikut: (t-1)(r-1) 15, dimana t adalah jumlah perlakuan dan r adalah jumlah

    pengulangan (replikasi) tiap kelompok perlakuan. Penelitian ini terdiri dari empat kelompok

    perlakuan dan dua kelompok kontrol, sehingga t = 6 dan setelah dimasukkan ke dalam rumus

    menjadi:

    (6-1)(r-1) 15

    (r-1) 15 : 5

    (r-1) 3

    Besar pengulangan (r) 4

    Jadi jumlah pengulangan yang dilakukan adalah sebanyak empat kali untuk tiap kelompok

    sehingga jumlah sampel keseluruhan untuk empat kelompok perlakuan dan dua kelompok

    kontrol adalah 24 plate, namun untuk menjaga kemungkinan terjadinya hal-hal yang tidak

    diinginkan maka jumlah sampel akan ditambahkan 25% sehingga jumlah keseluruhan menjadi

    30 plate atau 5 kali pengulangan untuk setiap kelompok perlakuan dan kelompok kontrol.

    4.4 Variabel Penelitian

    4.4.1 Variabel bebas: Ekstrak etanol daun beluntas dengan konsentrasi 25%, 50%, 75% dan

    100%

  • 4.4.2 Variabel tergantung: Diameter zona hambatan bakteri Streptococcus mutans

    4.4.3 Variabel kendali:

    1. Suhu pengeraman

    2. Waktu pengeraman

    3. Media pengeraman

    4. Jumlah bakteri Streptococcus mutans

    Hubungan antar variabel terlihat pada gambar di bawah ini:

    Gambar 4.2 Hubungan Antar Variabel

    Variabel Bebas

    Ekstrak etanol daun beluntas dengan konsentrasi 25%, 50%, 75% dan 100% yang mengandung: tannin, steroid, flavonoid dan fenolat

    Variabel Tergantung

    Diameter zona hambatan bakteri Streptococcus

    mutans

    Variabel Kendali

    Suhu pengeraman Waktu pengeraman Media pengeraman Jumlah bakteri

    Streptococcus mutans

  • 4.5 Definisi Operasional Variabel

    Variabel-variabel penelitian perlu didefinisikan untuk mendapatkan keseragaman

    pengertian. Definisi operasional variabel penelitian adalah sebagai berikut:

    1. Ekstrak etanol daun beluntas adalah sediaan pekat yang didapat dengan mengekstraksi zat

    aktif daun beluntas menggunakan pelarut etanol 96%. Daun beluntas yang digunakan

    adalah yang tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua dan dipetik saat berbunga. Konsentrasi

    ekstrak yang digunakan dalam penelitian ini adalah 25%, 50%, 75% dan 100%

    2. Diameter zona hambatan bakteri Streptococcus mutans adalah adanya zona bening yang

    terbentuk pada difusi disk yang diukur dengan jangka sorong (dalam mm) untuk mengetahui

    kekuatan daya hambat ekstrak etanol daun beluntas terhadap pertumbuhan bakteri

    Streptococcus mutans. Davis dan Stout (1971), mengatakan bahwa ketentuan daya

    antibakteri adalah sebagai berikut: daerah hambatan 20 mm kategorinya: sangat kuat,

    daerah hambatan 10 20 mm kategorinya: kuat, daerah hambatan 5 10 mm kategorinya:

    sedang dan daerah hambatan 5 mm kategorinya: lemah.

    3. Suhu adalah: satuan besaran yang menyatakan derajat panas yang diperlukan untuk

    pertumbuhan optimal bakteri Streptococcus mutans yang diukur menggunakan termometer

    dengan skala derajat celcius yaitu 370C.

  • 4. Waktu adalah: besaran yang menunjukkan lamanya peristiwa mulai dari masuknya media

    pertumbuhan Streptococcus mutans ke dalam inkubator, selama proses inkubasi sampai

    dikeluarkannya media dengan satuan jam yaitu antara 18-24 jam menggunakan timer.

    5. Media pengeraman adalah: media yang digunakan untuk menumbuhkan bakteri

    Streptococcus mutans yaitu media padat Mueller Hinton ditambah 5% darah kambing yang

    tidak mengandung fibrin pada plate agar dengan diameter 10 cm dan ketebalan 4 mm.

    6. Jumlah koloni Streptococcus mutans adalah: jumlah bakteri Streptococcus mutans yang

    sesuai dengan 108 CFU/ml diperoleh dengan membuat kekeruhan bakteri yang setara

    dengan 0,5 Mc Farland dalam larutan NaCl 0,9% dan dilihat dengan spektrofotometer.

    4.6 Bahan dan Instrumen Penelitian

    4.6.1 Bahan utama

    1. Daun beluntas

    2. Bakteri Streptococcus mutans ATCC 35668

    4.6.2 Bahan penunjang

    1. Media isolasi dan numerasi: Media agar Mueller Hinton yang diperkaya dengan 5% darah

    kambing yang tidak mengandung fibrin, untuk bakteri Streptococcus mutans

    2. Media thioglycollate broth untuk refresh bakteri

    3. Etanol 96% untuk ekstraksi daun beluntas

    4. NaCl 0,9% untuk membuat kekeruhan

    4.6.3 Instrumen penelitian

    1. Erlenmeyer untuk pembuatan media

  • 2. Autoclave untuk sterilisasi alat dan media

    3. Mikroskop untuk melihat pertumbuhan bakteri

    4. Spektrofotometer untuk melihat kekeruhan

    5. Mikropipet ukuran 0,1 ml/0,01 ml untuk pembuatan konsentrasi ekstrak

    6. Tabung-tabung reaksi untuk tempat media cair, media semi solid, media agar miring untuk

    perlakuan

    7. Difusi disk untuk melihat zona hambatan

    8. Penjepit dan spatula

    9. Cawan petri untuk tempat media padat datar atau agar

    10. Bahan pengecatan Gram

    11. Lampu spiritus

    12. Jangka sorong

    13. Sarbitol Broth

    14. Manitol Broth

    15. Voges Proskauer

    4.7 Alur Penelitian

    Streptococcus mutans

    ATCC 35668

  • Gambar 4.3 Alur Penelitian

    4.8 Prosedur Penelitian

    4.8.1 Pembuatan ekstrak etanol daun beluntas

    Mueller Hinton agar darah 5%

    Pembuatan kekeruhan sebanding 108

    Random difusi disk

    Ekstrak 25%

    Chlorhexidine 0,12 %

    Ekstrak 100%

    Ekstrak 75%

    Ekstrak 50%

    Aquades steril

    Diameter zona hambatan Streptococcus mutans

    Tabulasi

    Analisis data

  • Daun beluntas yang digunakan dalam penelitian ini didapatkan dari Jalan Tukad Badung,

    Kelurahan Renon, Kecamatan Denpasar Timur, Kotamadya Denpasar. Daun yang digunakan

    adalah yang tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua serta dipetik pada saat tumbuhan sedang

    berbunga, selanjutnya ditimbang sebanyak 1000 g daun segar, dicuci bersih, diiris halus

    kemudian dikering-anginkan selama 3 hari. Daun beluntas dipetik saat berbunga karena pada

    masa tersebut akan terbentuk banyak metabolit sekunder yang berguna untuk mempertahankan

    diri (Zwenger & Basu (2008). Selanjutnya daun beluntas kering diblender untuk mendapatkan

    bubuk daun beluntas. Ekstrak etanol daun beluntas didapatkan dengan cara 100 gram bubuk

    kering daun beluntas, dimaserasi (direndam) menggunakan 1 liter pelarut etanol 96% selama 48

    jam sambil dilakukan pengocokan agar lebih banyak zat aktif yang terikat oleh pelarut. Pelarut

    etanol dipilih karena mudah diuapkan, bersifat polar sehingga dapat melarutkan senyawa-

    senyawa yang bersifat polar, dan tidak bersifat toksik (Ginting, 2010). Pelarut etanol juga dipilih

    karena dapat melarutkan zat-zat aktif dalam jumlah kecil yang terkandung dalam bahan alam

    (Lersch, 2008). Proses ekstraksi yang digunakan adalah proses maserasi atau perendaman

    dengan tujuan untuk mengurangi pengaruh pemanasan yang dapat merusak senyawa aktif, selain

    itu dengan proses perendaman akan terjadi pemecahan dinding dan membran sel sehingga

    metabolit sekunder yang berada dalam sitoplasma akan terlarut dalam pelarut organik dan

    ekstraksi senyawa aktif akan sempurna karena dapat diatur lamanya perendaman. Setelah 48 jam,

    dilakukan penyaringan menggunakan kertas saring Whatman 2 untuk mendapatkan filtrat.

    Perendaman diulang sampai 3 kali untuk mendapatkan semua zat aktif yang terkandung pada

    simplisia. Filtrat yang terkumpul selanjutnya diuapkan pelarutnya menggunakan rotary vacuum

    evaporatour dan didapatkan ekstrak kasar. Ekstrak kasar yang diperoleh selanjutnya diencerkan

    sesuai dengan konsentrasi yang diinginkan (Pasaribu, 2009).

  • 4.8.2 Pembuatan konsentrasi ekstrak etanol daun beluntas

    Konsentrasi ekstrak etanol daun beluntas yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 25%,

    50%, 75% dan 100% dan untuk mendapatkan konsentrasi tersebut dilakukan dengan cara: 1) 25

    g ekstrak kasar, ditambahkan pelarut aquades steril sampai didapatkan volume 100 ml sehingga

    didapatkan konsentrasi ekstrak 25%; 2) untuk mendapatkan konsentrasi ekstrak 50% : 50 g

    ekstrak kasar, ditambahkan aquades steril sampai didapatkan volume 100 ml; 3) untuk

    konsentrasi 75%: 75 g ekstrak kasar, ditambahkan aquades steril sampai didapatkan volume 100

    ml; 4) untuk konsentrasi 100%: 100 g ekstrak kasar ditambahkan aquades steril sampai

    didapatkan volume 100 ml (Arief, 2000).

    4.8.3 Prosedur kerja di laboratorium

    1. Menimbang Mueller Hinton Agar 3,4 gram dalam 100 ml aquades, dilarutkan dan

    dimasukkan dalam autoclave dengan suhu 1210C selama 15 menit

    2. Diletakkan di waterbath hingga suhu 500C selanjutnya ditambahkan 5% darah kambing

    yang tidak mengandung fibrin

    3. Dituang pada cawan petri dengan diameter 10 cm dengan ketebalan 4 mm

    4. Kemudian 5% dari media Mueller Hinton Agar + 5% darah kambing yang tidak

    mengandung fibrin di atas diinkubasi pada suhu 370C selama 24 jam untuk mengetahui

    sterilitas media

    5. Bila media dalam keadaan steril, bisa langsung digunakan sebagai media penanaman bakteri

    Streptococcus mutans

    6. Penanaman bakteri Streptococcus mutans pada media di atas, kemudian diinkubasi pada

    suhu 370C selama 24 jam

  • 7. Koloni yang tumbuh dilakukan pengecatan Gram dengan prosedur pengecatan sebagai

    berikut:

    a. Buat olesan tipis suspensi dari koloni murni bakteri pada object glass yang bersih,

    dikering-anginkan. Setelah kering difiksasi dengan cara melewatkan bagian bawah object

    glass di atas api bunsen 2 kali

    b. Genangi olesan bakteri dengan larutan kristal violet selama 1 menit

    c. Bilas dengan air keran selama beberapa detik, kering-anginkan

    d. Genangi dengan larutan iodine dan biarkan selama 1 menit

    e. Bilas dengan air kran selama beberapa detik dan kering-anginkan

    f. Bilas dengan alkohol 95% selama 30 detik, kemudian kering-anginkan

    g. Bilas dengan air keran selama 2 detik

    h. Genangi dengan safranin selama 10 detik, bilas dengan air kran dan kering-anginkan

    i. Amati hasil pewarnaan di bawah mikroskop kompon dengan pembesaran 1000x

    menggunakan minyak emersi. Sel-sel bakteri Gram positif akan berwarna ungu hingga

    biru gelap sedangkan bakteri Gram negatif akan berwarna merah (Anonim, 2008).

    8. Identifikasi bakteri dengan uji Streptococcus Grouping Kit:

    a. Enzim dipipet 0,4 ml dimasukkan ke dal