Manipulasi Kemiskinan : Budaya Korupsi di Kalangan ... ABROR MANIPULASI KEMISKINAN... ·...

download Manipulasi Kemiskinan : Budaya Korupsi di Kalangan ... ABROR MANIPULASI KEMISKINAN... · International

of 22

  • date post

    03-Mar-2019
  • Category

    Documents

  • view

    217
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Manipulasi Kemiskinan : Budaya Korupsi di Kalangan ... ABROR MANIPULASI KEMISKINAN... ·...

MANIPULASI KEMISKINAN(Budaya Korupsi Di Kalangan Masyarakat

Muslim)

Abstarak

Munculnya fenomena yang sangat kuat masyarakat bawahdi sebuah kabupaten, yang mayoritas muslim, yang telah beranimemanipulasi data kemiskinan demi untuk mendapatkansubsidi dari pemerintah. Dengan demikian masyarakattersebut telah membudayakan kufr dan bukan Syufcr atasnikmat yang telah diterimanya. Dan Fenomena tersebutterjadi ridak hanya ketika ada Program Raskin tetapi juga padaBantuan Dana Kompensasi BBM. Subyek dalam penelitianini adalah Masyarakat Muslim penerima Raskin di Kabu-patenM, yang meliputi warga muslim penenerima Raskin dibeberapa kecamatan di kabupatenM, yang selarna inidiindikasikan banyak penyimpangan baik yang dekat dengankantung-kantung pesantren maupun yang jauh atau tidak adapesantrennya. Dengan melalui pendekatan yang bersifatdeskriptif analitik,serta yang lebih menekankan secarakualitatif, penulis berusaha untuk mengungkap praktekmanipulasi data dalam program Raskin, dan ternyata Pro-gram Raskin khususnya juga BLT di kabupatenM banyaktidak tepat sasaran.

A. Pendahuluan

Di Indonesia kinerja dan prestasi korupsi, sungguhfantastis. Karena menurut laporan dari lembaga TranparancyInternational Indonesia (Til), tingkat korupsi di Indonesiabahkan lebih tinggi dari Ethiopia, Senegal, Malawi, Zmabia,yaitu Negara-negara yang paling miskin di dunia. Sernua itu

229

menunjukkan bahwa, sungguh suatu prestasi penyelenggaraannegara yang luar biasa memalukan dan begitu bejat. Hasilpenelitian Pusat Studi dan Pengembangan Kawasan (PKPS)tahun 2001 semakin meyakinkan kita semua, yakni dengan ditemukannya fakta bahwa korupsi di Indonesia telah menjadibudaya bangsa, yang terungkap dalam praktek, kebiasaan danperibahasa1.

Adalah kenyataan yang sulit di bantah memang bahwakorupsi telah menyebar dan dilakukan oleh seluruh komponenbangsa (dalam berbagai bentuknya), di semua level dan lini,mulai dari desa sampai pimpinan negara, sehingga korupsi telahbersifat sistemik. Pola hubungan social tampaknya selalu ter-kontaminasi oleh kebiasaan korupsi, apalagi nyata-nyata me-dia yang digunakan dalam melakukan dan atau membangunhubungan itu berkaitan langsung dengan urusan uang, makakorupsi akan sulit dihindari. Kita bisa buktikan semua itudengan memantau secara langsung samua elemen masyarakatbangsa ini, mulai masyarakat yang mengelola birokrasi peme-rintah, lembaga legislativ, pengusaha, dan kelompok-kelompokmasyarakat juga sudah semakin tak segan-segan dalam melaku-kan korupsi. Makanya, kemudian wilayah-wilayah korupsirumbuh subur di semua lini dan level kehidupan masyarakat:di lingkungan birokrasi pemerintah, termasuk di kalanganpenegak hokum, di kalangan pengusaha, dan bahkan sampaipada kalangan masyarakat akar rumput/masyarakat bawah.2

Bentuk korupsi yang terjadi di kalangan masyarakat muslimdikabupaten M dapat terlihat dalam Program Raskin di Kabu-patenM, sebagaimana yang telah dipaparkan oleh Drs. Susanto,kabid Kependudukan dan Catalan Sipil dan KB KabupatenMpada acara Dialog Publik, yang dilaksanakan pada tanggal 14Desember 2005 yang lalu yang mengambil tema tentang Program

1 Laode Ida, Korupsi di Negeri Kaum Bemgama, flakarta: P3M,2004), him. 582 Ibid., him. 61

230

Raskin (Beras Miskin), yang mana, dalam proses penyalurannyatelah terjadi berbagai penyimpangan (KKN), baik yang dilaku-kan oleh para aparat di tingkat kabupaten, terlebih di tataranaparat desa, dan yang lebih memprihatinkan masyarakat bawahpun ikut-ikutan melakukan penyimpangan.

Adapun praktek penyimpangan yang dilakukan olehMasyarakat bawah tersebut adalah dapat dilihat dari data EPSdan Satgas Raskin Kab.M. Dimana jumlah KK Miskin meng-alami kenaikan yang sangat dratis, ketika ada program subsididari Pemerintah. Dan begitu juga sebaliknya jumlah KK Miskinmenjadi mengecil ketika di Kab.M ada pendataan KK Miskinuntuk program trasmigrasi.

Dengan demikian munculnya fenomena yang sangat kuatmasyarakat bawah di KabupatenM, yang mayoritas muslim,bahkan sebagian besar ada di dekat kantung-kantung pesantren,telah berani memanipulasi data kemiskinan demi untuk men-dapatkan subsidi dari pemerintah. Dengan demikian masya-rakat tersebut telah membudayakan kufr dan bukan Sukr atasnikmat yang telah diterimanya. Dan Fenomena tersebut terjaditidak hanya ketika ada Program Raskin tetapi juga pada BantuanDana Kompensasi BBM. Dengan demikian Program Raskinkhususnya juga BLT banyak tidak tepat sasaran. Akhirnya Pro-gram Raskin dan BLT cukup banyak dinikmati oleh KK.PNS,ABRI/TNI, Keluarga mampu bahkan pengusaha. (Disampaikanoleh Drs Susanto, Kabid Kependudukan dan Catatan Sipil danKB KabupatenM pada acara Dialog Publik, yang dilaksanakanpada tanggal 14 Desember 2005, yang mengambil tema tentangProgram Raskin (Beras Miskin))

Dari uraian di atas, jelas bahwa kejahatan korupsi di Indo-nesia sudah sangat sistemik. Yang memprihatinkan, justruketika adanya anggapan membudayakan korupsi ini makinmenguat, sebenarnya posisi keyakinan keberagamaan di negeriini menjadi ironic dan dipertanyakan relevansinya. Tak adakahhubungan kesalehan dalam keberagamaan dengan pengurangan

231

bahkan pencegahan tindak korupsi? Atau sebetulnya memangada yang salah dalam corak keberagamaan masyarakat kita,sehingga bisa dikatakan solat yes, korupsi jalan terus! Per-tanyaan-pertanyaan sejenis itu masih bisa muncul tetapi jelasironis tersebut menunjukkan betapa selama ini kaum beragamadi negeri ini gagal menumbuhkan kepekaan moral dalam petakesadaran umatnya menghadapi kejahatan korupsi.

Oleh karena itu pilihan beberapa sample wilayah pene-litian, diambil wilayah yang ada pesantrennya dan wilayah yangjauh/tidak ada pesantrennya. Dipilihnya wilayah pesantrensebabkan karena pesantren sebagai markas perubahan setidak-nya memiliki dua aspek strategi, Pertama, sebagai lembagapendidikan keagamaan yang berada di luar jangkauan negara,lembaga ini bukan saja memiliki kemandirian dan kenetralanpolitik, tetapi juga sensifitas dalam mewakili kelompok Dhu'afa dan kaum tertindas. Kedua, Krusialnya figure kyai sebagaisymbol moralitas yang memiliki kewibawaan dalam mene-gakkan etika public, termasuk keterlibatannya sebagai agenkebudayaan dalam rnembangun kesadaran social.

Sedangkan dipilihnya wilayah yang tidak ada pesantren-nya/jauh dari pesantren, diharapkan bisa menjadi bahan ban-dingan dari wilayah yang dekat/ada pesantrennya.Setidaknyawilayah yang demikian kehidupan dan pemahaman keagama-annya akan berbeda dengan masyarkat/wilayah pesantren.

Secara umum korupsi memiliki beberapa definisi. Dalampengertian yang sempit korupsi berarti "Penyalahgunaankekuasaan public bagi kepentingan pribadi (Misuse of public forprivate gain) Ada juga yang mengartikan secara lebih luas, yaknisebagai penyalahgunaan urusan public, pelanggaran kepen-tingan public, pencelaan opini public, dan penggunaan urusanpublic secara illegal bagi kepentingan pribadi.

Dengan kata lain, korupsi dapat dimengerti sebagai tin-dakan mengambil tau menggunakan uang atau fasilitas negarauntuk kepentingan pribadi, kerlompok dan golongannya. Ter-

232

masuk dalam hal ini adalah: Perebutan kebijakan yang koruptif(BLBI, Penjualan asset negara/Privatisasi), suap menyuap,mark-up proyek, tender pinjam bendera, berdagang hokum, me-nurunkan kwalitas proyek, proyek fiktif, politik uang, menaik-kan harga kwitansi, manipulasi data, menjual lowongan pekerja-an, membuat laporan ganda, merekayasa laporan bersamaBPKP, mengubah nilai agunan pinjaman di bank, pem,anfaatanpinjaman bank untuk usaha di luar proposal.

Dalam berbagai dokumen keagamaan Islam, terutama dilingkungan kaum sufi, selalu disebut 3 hal, sebagai sumberkejahatan dalam kehidupan manusia.Yang pertama adalahkemiskinan, disusul oleh ketidaktahuan dan terakhir adalahkerakusan. Pertama, Alasan kemiskinan sebagai pendorong ataupenggoda untuyk menerima suap atau melakukan praktek ko-rupsi lain, telah digarisbawahi dalam sebuah hadits Nabi.Kemiskinan tidak hanya dapat menjerumuskan seseorang kedalam tindak kejahatan, namun dapat juga menjerumuskanseseorang ke dalam kekufuran, yakni pengingkaran total ter-hadap Tuhan dan nilai-nilai kebenaran dan keluhuran lainnya.Kaada al-Faqr an yaksama kufra, hampir-hampir kefakiran itumenjelma menjadi kekufuran itu sendiri. Memang tidak terlalusulit untuk menjelaskan kenapa rakyat yang rata-rata serbakekurangan, tanpa piker panjang bersedia mempertukarkankeimanannya demi untuk mendapatkan sebuah materi.

Sungguh rapuh gagasan terwujudnya kehidupan masya-rakat yang taat beragama, bermoral dan berbudi luhur tanpaditopang tingkat kesejahteraan ekonomi yang menjaminpemenuhan keburuhan pokok warganya. Al Qur'an menegas-kan bahwa kesejatian beragama seseorang tidak diukur dengantingkat kesetiaannya dating ke masjid, melainkan dengan ke-sungguhan dalam upaya memecahkan persoalan pangan dankebutuhan pokok lainnya.

Alasan tidak tahu, bahwa manipulasi, suap, dan bentukkorupsi lainnya melanggar norma moral dan akidah agama

233

berkaitan dengan npola budaya suatu nasyarakat. Ada indikasikuat bahwa bagi kebanyakan masyarkat kita, baik yang miskinmaupun yang berkecukupan, masih merasa samar tentang sta-tus imoralitas (jahatnya) korupsi terutama bentuk manipulasidata. Dalam kamus etika dan moral mayoiritas orang Indone-sia, yairtu mereka yang dianggap "Orang Jawa", yang secaraeksplisit-definitif dicela sebagai tindakan kejahatan yang wajibdimusuhi masyarkat, yakni hanya 5(Lima) perkara. Yangterkenal dengan sebutan "Mo Limo" dalamm masyarkat Jawaterdiri atas Main (Judi), Maling (Mencuri), Madon (berzina),Madat (Mabuk alcohol, Narkoba) dan Mateni (Membunuh).

Definisi kejahatan adalah segala sesuatu yang mence-lakakan diri sendiri/oranglain.Adapunmasih sulitnya mereka,yakni masyarkat muslim memahami bahwa manipuylasi dataadalah merupakan bentuk korupsi yangmerugikan orang lain,merupakan salah