makalah lukisan

download makalah lukisan

of 3

  • date post

    25-Nov-2015
  • Category

    Documents

  • view

    57
  • download

    6

Embed Size (px)

description

lukisan

Transcript of makalah lukisan

Latar Belakang Pelukis

Latar Belakang Pelukis

Priyanto S.

Priyanto Sunarto lahir di Magelang, 10 Mei 1947. Lulus Seni Rupa ITB pada tahun 1973, kemudian bersama AD. Pirous, G. Sidharta, Adri Palar, T. Sutanto, Sunaryo mendirikan PT. Decenta, dan bekerja sebagai Perancang Grafis, di samping membantu mendirikan, beliau menjadi staf pengajar di program studi Desain Grafis di ITB. Mulai tahun 1978 menjadi staf pengajar Studio Komunikasi Grafis dan Seni Grafis, FSR-IKL, dan pada tahun 1979 membantu mendirikan program studi Desain Grafis di Jurusan Desain, FTSP Trisakti.

Pada tahun 2005 lulus Doktor Seni Rupa ITB, dan tahun 2006 hingga tahun 2012, menjadi ketua Program Pasca Sarjana Doktor, Ilmu Seni Rupa dan Desain ITB. Hingga kini masih membimbing mahasiswa S2 dan kandidat doktor di almamaternya dan perguruan tinggi lain di Bandung dan Jakarta.

Priyanyo S. Aktif dalam penelitian tentang kartun, ilustrasi dan budaya rupa nusantara dengan lembaga-lembaga LPPM ITB, Dikmenjur, Sumitomo, Unicef dan FISIP UI dan Perumpel. Selain itu juga menjadi juri, konsultan, berpameran, memberi ceramah dan menciptakan karya-karya desain grafis, buku, ilustrasi, corporate identitu dan logo.

Sejak tahun 1977 sampai sekarang, Priyanto S. Menjadi kontributor editorial cartoon untuk majalah Tempo, Jakarta. Aktif dalam berbagai asosiasi, seperti IPGI, Asosiasi Desainer Grafis Indonesia, Anggota Kehormatan PAKARTI, Persatuan Kartunis Indonesia. Bersama PAKARTI menyelenggarakan pameran keliling Indonesia bertema Pemilu dengan tajuk Kartun untuk Demokrasi. Pada tahun 2007 bersama GM. Sudarta, Pramono Pr. Dan Istio Adi mendirikan Museum kartun Indonesia di Kuta, Bali. Pada tahun 2008 menjadi Kurator Pameran Agustin Sibarani di Bali.

Syahrinur Prinka

Syahrinur Prinka atau lebih dikenal luas sebagai S. Prinka dilahirkan pada 27 Februari 1947 di Bogor, Jawa Barat. Pada tahun 1967 ia masuk Jurusan Teknik Mesin ITB, tetapi hanya bertahan satu tahun. Tahun 1968 S. Prinka pindah ke Jurusan Seni Rupa, Fakultas Teknik Sipil dan Perancangan ITB yang kemudian menjadi Fakultas Seni Rupa dan Desain seperti yang kita kenal sekarang. Bersama sahabatnya, Priyanto Soenarto, Prinka bergabung dalam Studi Teater Mahasiswa Seni Rupa ITB di bawah pimpinan Sanento Yuliman.

Bersana teman-teman lainnya, Prinka membentuk persekutuan Seniman Gambar Indonesia pada 9 Desember 1976 di Bandung. Persekutuan ini bertujuan menempatkan seni menggambar sebagai media yang kedudukannya setara dengan media seni rupa lainnya, agar memberi perhatian dan penghargaan yang pantas kepada seni menggambar.

Prinka mengawali pengalaman profesionalnya di bidang periklanan di beberapa perusahaan seperti WIN Advertising, Matari Advertising, serta Sanggar Pratiwi. Tahun 1976 ia mulai mengsisi ilustrasi untuk majalah tempo dan tahun 1977 secara resi bergabung dengan majalah Tempo sebagai ilistrator, desainer, dan redaktur artistik yang membuat arah baru dalam editorial art and design. Sistem pratitur majalah Tempo diterapkan pada 1981 dengan membuat rencana desain dengan cara merancang kerangka majalah, yang olehnya disebut dengan sistem pratitur dalam mendesain, yaitu halaman demi halaman, untuk menentukan distribusi penempatan artikel, menentukan jumlah halaman, panjang naskah untuk sebuah rubrik, infografis, serta lokasi untuk penempatan surat pembaca, opini, kartun, bahkan iklan. Dalam duni akademis Prinka dikenal sebagai tokoh pendiri, guru, dan pelopor pengembangan pendidikan Desain Komunikasi Visual.

Perang Agama (Karya Priyanto S.)

Lukisan ini merupakan salah satu karya dari Priyanto S. Lukisan ini menggambarkan keadaan perang agama dan penyebab terjadinya perang agama. Lukisan diatas menggmbarkan 2 orang dengan perbedaan agama saling berperang, dan terdapat2 orang yang melihat kejadian tersebut beropini Yang jahat bukan agamanya. Makna lukisan tersebut adalah penggambaran tentang citra buruk dari perang agama. Dimana sebenarnya tidak ada agama yang salah di dunia ini, melainkan orang-orang penganut agama tersebut yang salah dalam arti kata jahat sehingga menimbulkan perang agama. Agama tidak dapat dijadikan alasan dalam sebuah pertikaian, karena pada dasarnya semua agama sama bertujuan pada Tuhan Yang Maha Esa. Namun sering sekali orang menyebut sebuah pertikaian karena agama. Padahal dalam kenyataannya pemicu perang agama ada pada orang-orang yang menganut agama tersebut, banyak orang ingin agamanya dianggap paling hebat. Hal tersebut dapat memicu peperangan antar penganut agama. Pdhal agama tidaklah salah dalam arti kata jahat, namun orang-orang yang ingi agmaanya dianggap hebatlah yang salah dalam arti kata jahat. Itulah makna dari lukisan Priyanto S. Yang mengkritik tentang perang agama yang sering terjadi.

Lukisan karya Prinka

Ini adalah salah satu lukisan karya Prinka. Disini digambarkan suasana remaja-remaja jaman sekarang. Digambarkan bahwa pelajar-pelajar sekarang bukan terlihat dalam hal pendidikan, melainkan kekerasan. Banyak sekali terjadi tawuran antar pelajar, perkelahian antar pelajar. Hal tersebut digambarkan Prinka dalam karyanya ini. Prinka ingin mengatakan bahwa, kultur pelajar sekarang sudah sangat melenceng jauh. Pencitraan pelajar sebagai manusia yang bertujuan meraih pendidikan demi masa depan, berubah menjadi manusia yang menjunjung kekerasan dan menimbulkan perkelahian. Hal tersebut disampaikan olah Prinka dalam Lukisannya untuk menegur pelajar, agar mreka tetap menjunjung tujuan awalnya dalam pendidikan untuk masa depan, bukan mengedepankan kekerasan. Semua hal-hal kekerasan yang ditonjolkan pelajar hanya membuat jelek citra pendidikan Indonesia. Pelajar sekarang terkenal dengan kekerasannya, bukan kepintaraanya. Padahal orang tua mereka menyekolahkan mreka untuk belajar dan menjadi orang yang pintar, bukan menjadi preman yang mengedepankan kekerasan semata untuk kepuasan atau kebanggaan di golonganya. Banyak pelajar yang mengikuti geng motor yang sekarang marak dengan kekerasannya. Hal itu membuat Prinka mendapat ide untuk melukiskan kultur kekerasan pada pelajar.