Laporan Prc Kota

of 46/46
PERENCANAAN KOTA KONSEP PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN KELOMPOK 8 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan kota baru di Indonesia dimulai sejak tahun 1950-an, yaitu melalui pembangunan kota baru, antara lain Kebayoran Baru (Jakarta, 1949), Plan Cipaganti (1953-1955) dan Cijagra (1968) keduanya berada di Bandung, Kota Baru Palangkaraya (Kalimantan Tengah, 1953) serta beberapa kota baru lainnya. Indonesia hingga kini memiliki kota yang jumlahnya mencapai ratusan banyaknya, sama halnya dengan negara-negara lain negara Indonesia juga ingin mewujudkan pembangunan kota yang berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan pada dasarnya sudah menjadi perhatian semua negara di muka bumi ini termasuk negara Indonesia. Berawal dari pernyataan tentang pentingnya kesadaran semua pihak tentang berbagai isu lingkungan global, maka muncul istilah pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Pembangunan berkelanjutan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengorbankan kepentingan dan kebutuhan generasi yang akan datang. Menurut Brundtland (1987) kota berkelanjutan (sustainable city) adalah kota yang mampu memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengabaikan kebutuhan generasi mendatang. Dalam perkembangan konsep selanjutnya, kota berkelanjutan dielaborasi oleh Stern, Whitney & While (1992) sebagai suatu interaksi antara sistem biologis dan sumberdaya, JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH & KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS BRAWIJAYA 1
  • date post

    24-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    228
  • download

    1

Embed Size (px)

description

salah satu konsep pengambangan wilayah perkotaan adalan pembangunan berkelanjutan. kota berkelanjutan (sustainable city) adalah kota yang mampu memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengabaikan kebutuhan generasi mendatang. Dalam perkembangan konsep selanjutnya, kota berkelanjutan dielaborasi oleh Stern, Whitney & While (1992) sebagai suatu interaksi antara sistem biologis dan sumberdaya, sistem ekonomi dan sistem sosial meskipun dalam konsep berkelanjutan yang ada yaitu ekologi, ekonomi, sosial tersebut akan semakin menyulitkan pelaksanaannya

Transcript of Laporan Prc Kota

PERENCANAAN KOTAKONSEP PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN KELOMPOK 8BAB IPENDAHULUAN

1.1 Latar BelakangPembangunan kota baru di Indonesia dimulai sejak tahun 1950-an, yaitu melalui pembangunan kota baru, antara lain Kebayoran Baru (Jakarta, 1949), Plan Cipaganti (1953-1955) dan Cijagra (1968) keduanya berada di Bandung, Kota Baru Palangkaraya (Kalimantan Tengah, 1953) serta beberapa kota baru lainnya. Indonesia hingga kini memiliki kota yang jumlahnya mencapai ratusan banyaknya, sama halnya dengan negara-negara lain negara Indonesia juga ingin mewujudkan pembangunan kota yang berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan pada dasarnya sudah menjadi perhatian semua negara di muka bumi ini termasuk negara Indonesia. Berawal dari pernyataan tentang pentingnya kesadaran semua pihak tentang berbagai isu lingkungan global, maka muncul istilah pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Pembangunan berkelanjutan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengorbankan kepentingan dan kebutuhan generasi yang akan datang. Menurut Brundtland (1987) kota berkelanjutan (sustainable city) adalah kota yang mampu memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengabaikan kebutuhan generasi mendatang. Dalam perkembangan konsep selanjutnya, kota berkelanjutan dielaborasi oleh Stern, Whitney & While (1992) sebagai suatu interaksi antara sistem biologis dan sumberdaya, sistem ekonomi dan sistem sosial meskipun dalam konsep berkelanjutan yang ada yaitu ekologi, ekonomi, sosial tersebut akan semakin menyulitkan pelaksanaannya. Pembangunan berkelanjutan pada aktivitasnya memanfaatkan seluruh sumberdaya, guna meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat. Pelaksanaan pembangunan berkelanjutan pada dasarnya juga merupakan upaya memelihara keseimbangan antara lingkungan alami dan lingkungan binaan sehingga kedua lingkungan tersebut dapat berjalan serasi dan seimbang. Berdasarkan konsep pembangunan kota yang berkelanjutan ini maka akan dibahas studi kasus mengenai kajian permasalahan dan strategi pembangunan lingkungan berkelanjutan di daerah Cekungan Bandung. Permasalahan lingkungan yang terjadi di Cekungan Bandung merupakan akibat dari perencanaan dan pengelolaan tata ruang dan lahan yang tidak tepat. Tekanan penduduk dan aktivitas ekonomi yang terus meningkat telah menyebabkan perubahan tata guna lahan. Selain itu, meningkatnya aktivitas permukiman dan industri juga telah menimbulkan permasalahan lingkungan yang mengakibatkan tercemarnya air sungai Citarum. Memburuknya kualitas air sungai ini diakibatkan masih banyaknya aktivitas industri, perumahan serta peternakan yang membuang limbahnya langsung ke sungai Citarum termasuk limbah padat atau sampah. Kualitas udara kota besar di Cekungan Bandung juga mengalami penurunan akibat meningkatnya industri dan jumlah kendaraan bermotor yang ditandai dengan meningkatnya pemcemaran udara. Dengan demikian, akan dibahas kajian mengenai permasalahan lingkungan yang terjadi di Cekungan Bandung sehingga dapat diperoleh informasi yang memadai dalam menyusun strategi penyelesaian lingkungan untuk pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) terpadu di sekitaran Cekungan Bandung sehingga mewujudkan pembangunan kota yang berkelanjutan. 1.2 Rumusan MasalahRumusan masalah yang akan dibahas yaitu:1. Bagaimana konsep pembangunan berkelanjutan pada studi kasus di Cekungan Bandung?2. Bagaimana indikator pembangunan yang dapat diterapkan pada studi kasus di Cekungan Bandung yang berkaitan dengan pembangunan berkelanjutan?1.3 Tujuan PenulisanTujuan penulisan laporan yaitu :1. Mahasiswa mengetahui konsep pembangunan berkelanjutan2. Mahasiswa mengetahui indikator pembangunan berkelanjutan yang perlu diterapkan.

BAB IIComment by ayuq: bab 2 diarahkan untuk menjawab kasus (cekungan bandung)TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian dan Karakteristik KotaPengertian mengenai kota yang sering dijadikan acuan di Indonesia adalah tempat dengan konsentrasi penduduk yang kebih padat dengan wilayah sekitarnya karena terjadi pemustan kegiatan fungsional yang berkaitan dengan kegiatan atau aktivitas penduduknya, engan ungkapan yang berbeda definisi kota yang lain adalah permukiman yang berpenduduk relatif besar, luas areal terbatas, pada umumnya bersifat nonagraris, kepadatan penduduk relatif tinggi, tempat sekelompok orang dalam jumlah tertentu dan bertempat tingga dalam wilayah geografis tertentu, cenderung berpola hubungan rasional, ekonomis dan individualistis (Ditjen Cipta Karya: 1997). Berebeda dengan perkotaan yang memeliki pengertian yang lebih luas, dalam hal ini perkotaan atau kawasan perkotaan adalah permukiman yang meliputi kota induk dan daerah pengaruh di luar batas administrasinya yang berupa daerah pinggiran sekitarnya atau daerah suburban sedangkan menurut UU No. 26 Tahun 2007 tentang penataan ruang, kawasan perkotaan merupakan kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi.Berdasarkan uraian pengertian kota yang telah disebutkan maka dapat disimpulkan bahwa pengertian kota dapat dibedakan menjadi dua yaitu, pengertian kota secara fungsional dan pengertian kota sebagai daerah otonom. Pengertian kota yang pertama lebih mengacu pada pengertian fungsional yang terkait dengan pemenuhan ciri-ciri perkotan secara fisik, sosial demografis dan ekonomi. Pengertian yang kedua, lebih terkait dengan salah satu bentuk daerah otonom yang ada dalam sistem pemerintahan daerah di negara kota, yaitu Daerah Kota selain daerah Kabupaten yang dulu sering disebut dengan Kotamadya Daerah Tingkat II.Pembahasan dalam konteks ruang, kota merupakan satu sistem yang tidak berdiri sendiri. Secara internal kota merupakan satu kesatuan sistem kegiatan fungsional didalamnya, semestara secara eksternal, kota dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya, dalam hal ini secara umum kota dapat dikatan sebagai suatu tempat dengan konsentrasi penduduklebih padat dari wilayah sekitarnya, dengan berbagai pengertian kota yang ada, kota mempunyai pengertian dan batasan yang bermacam-macam sesuai dengan sudut pandang tiap ilmuan.Pedoman Penyusunan Penataan Ruang Kawasan Perkotaan, dengn mengacu pada PP No. 129 tahun 2000 memberikan kriteria untuk tiap jenis kawasan perkotaan secara umum yaitu:1. Memiliki fungsi kegiatan utama budidaya bukan pertanian.2. Memiliki jumlah penduduk sekurang-kurangnya 10.000 jiwa.3. Memiliki kepadatan penduduk sekurang-kurangnya 50 jiwa per hektar.4. Memiliki fungsi sebagai pusat koleksi dan distribusi pelayanan barang dan jasa dalam benruk sarana dan prasarana pergantian moda transfortasi.Khususnya untuk kawasan perkotaan metropolitan ciri-cirinya adalah:1. Kawasan-kawasan perkotaan yang terdapat di dua atau lebih daerah otonom yang saling berbatasan.2. Kawasan perkotaan yang terdiri atas satu kota inti bersetatus otonom dan yang disekitarnya membentuk suaty sistem fungsional.3. Kawasan perkotaan dengan jumlah penduduk secara keseluruhan melebihi 1.000.000 jiwa.2.2Perencanaan KotaPerencanaan kota merupakan kegiatan atau proses yang tersusun seccara sistematis, rational atau logis yang bertujuan dalam batas batas tertentu. Perencanaan kota merupakan kegiatan utnuk merumuskan masalah pada suatu kebijakan yang dapat digunakan untuk membuat sebuah rencana. Perencanaan kota akan lebih baik jika terdapat keselarasan dan saling memahami antara kekuatan pemerintah dan non pemerintah. Perencanaan kota secara keseluruhan tidak dapat hanya dilakukan oleh satu atau beberapa orang saja namun dibutuhkan organisasi yang saling mendukung satu sama lain guna mencapi kesuksesan dalam suatu perencanaan. Perencanaan kota harus sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku bagi daerah perkotaan dan wilayah tertentu yang saling berkaitan dengan kesehatan, keamanan, dan kesejahteraan masyarakat, penggunaan tanah, pembagian persil dan kualitas lingkungan. Jika perencanaan kota sesuai dengan suatu kebijakan maka dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat kota sendiri.1. Pengertian PerencanaanMenurut UU No. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat, melalui urutan pilihan dengan memperhitungkan, sumber daya yang tersedia. Perencanaan secara umum dapat diartikan sebagai proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat, melalui urutan pilihan dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia. Dalam konteks perencanaan pembangunan perencanaan merupakan proses kontinu, yang menyangkut pengambilan keputusan atau pilihan mengenai cara memanfaatkan sumberdaya yang ada semaksimal mungkin guna mencapai tujuan-tujuan tertentu dimasa depan (Conyer & Hill, 1984). Maka produk atau output dari perencanaan sebagai rencana, yang merupakan rumusan kegiatan yang akan dilaksanakan secara spesifik di masa yang akan datang, sebagai produk dari suatu proses perencanaan, rencana dapat berbentuk cetak biru yan mempresentasikan tujuan atau sesuatu yang ingin dicapai dan regulasi yaitu alat untuk mencapai tujuan yang dideskripsikan. Sehingga aktivitas perencanaan dipergunakan dalam berbagai lingkup, sektor, skala spasial, serta tingkat operasionalnya. 2. Unsur-unsur PerencanaanTerdapat empat unsur dalam perencanaan menurut Conyer & Hill, 1984 yaitu:a. Merencana berarti memilih artinya perencanaan merupakan suatu proses memilih diantara berbagai kegiatan yang diinginkan, karena tidak semua yang diinginkan itu dapat dilakukan dan dicapai dalam waktu yang bersamaan.b. Perencanaan sebagai alat untuk mengalokasikan sumberdaya artinya penggunaan sumberdaya menunjukkan segala sesuatu yang dianggap berguna dalam pencapaian suatu tujuan tertentu. Dimana sumber daya disini mencakup sumber daya manusia, sumber daya modal dan keuangan. Oleh karena itu kuantitas dan kualitas sumberdaya tersebut berpengaruh dalam proses memilih diantara berbagai pilihan tindakan yang ada.c. Perencanaan sebagai alat untuk mencapai tujuan sebagai alat pencapaian tujuan yang berkenaan sengan sifatdan proses penetapan tujuan.d. Perencanaan adalah untuk masa datang merupakan salah satu unsur dalam perencanaan adalah unsur waktu sehingga tujuan-tujuan perencanaan dirancang untuk mencapai masa yang akan datang.3. Karakteristik PerencanaanKarakteristik perencanaan terdiri dari 5 yaitu:a. Mengarah ke pencapaian tujuanMerencana berarti berpikir tentang situasi aktual dengan cara yang belum pernah ada. Perencanaan juga mengarah pada pencapaian tujuan yan mengandung unsur-unsur motivasi yaitu dinamis, normatif atau kreatif.b. Mengarah ke perubahanc. Perencanaan pada dasarnya mengahasilkan tindakan yang akan dilakukan sehingga tindakan yang dideskripsikan harus dapat mengakomodasikan perubahan.d. Pernyataan pilihan Perencanaan merupakan tindakan memilih strategi, kebijakan, atau program yang akan dilaksanakan.e. Rasionalitas Rasionalitas menjadi pola pikir penting dalam perencanaan. Sehingga pengertian rasionalitas tercakup kriteria:a) Efisiensi: usaha terkecilb) Optimasi : tidak mementingkan salah satu (memaksimasi sasaran)c) Sintetis yang bersifat integrasi (saling melengkapi antar sasaran)f. Tindakan kolektif sebagai dasarPerencanaan menyangkut kepentingan orang banyak sehingga menuntut keterbukaan untuk membangkitkan partisipasi untuk membentuk suatu kebersamaan. 4. Proses perencanaanModel perencanaan merupakan acuan dasar yang mengacu pada pendekatan perencanaan rasional komprehensif. Sehingga dapat ditemukan karakteristik utama proses perencaan yaitu:a. Bersifat siklis artinya proses perencanaan dipandang suatu proses siklis terdiri atas kegiatan yang menjembatani perumusan tujuan dengan penyusunan program dan proyek sebagai implementasinya.b. Kesatuan dalam ragam tahapan dengan kegiatan masing-masing yng dilihat sebagai kesatuan yang berkaitan satu sama lain.c. Tiap tahapan tidak selalu dilakukan secara sekuensial artinya bahwa proses perencanaan dalam situasi di lapangannya lebih kompleks dari proses yang konvensional.Tahapan dalam proses perencanaan terdiri berbagai model proses perencanaan yang secara umum dapat diuaraikan sebagai berikut:1) Pendefinisian persoalan yang terdiri dari latar belakang persoalan yang ada, pembatasan persoalan, perumusan persoalan2) Perumusan tujuan dan sasaran3) Pengumpulan data4) Analisis data5) Identifikasi dan evaluatif alternatif6) Implementasi2.3Pengertian KeberlanjutanKeberlanjutan dalam pembangunan berkelanjutan dinilai melalui tiga aspek, yaitu keberlanjutan ekonomi, keberlanjutan sosial dan keberlanjutan lingkungan, berikut merupakan pengertian masing-masing makna yang terdapat dalam kata keberlanjutan.1. Keberlanjutan Ekonomi Keberlanjutan ekonomi mempunyai dua hal utama dalam pembangunan, yaitu yang pertama Keberlanjutan ekonomi makro untuk menjamin kemajuan ekonomi secara berkelanjutan dan mendorong efisiensi ekonomi melalui reformasi struktural dan nasional. Tiga elemen utama untuk keberlanjutan ekonomi makro yaitu efisiensi ekonomi, kesejahteraan ekonomi yang berkesinambungan, dan meningkatkan pemerataan dan distribusi kemakmuran. Hal tersebut diatas dapat dicapai melalui kebijaksanaan makro ekonomi mencakup reformasi fiskal, meningkatkan efisiensi sektor publik, mobilisasi tabungan domestik, pengelolaan nilai tukar, reformasi kelembagaan, kekuatan pasar yang tepat guna, ukuran sosial untuk pengembangan sumberdaya manusia dan peningkatan distribusi pendapatan dan aset.

2. Keberlanjutan Sosial Keberlanjutan sosial memiliki arti yang sama dengan keadilan sosial, harga diri manusia dan peningkatan kualitas hidup seluruh manusia. Keberlanjutan sosial mempunyai tujuan antara lain :a. Negara sebagai badan sosial konstitusional seharusnya menetapkan dan menjunjung tinggi derajat manusia dan perkembangan karakter manusiasecara bebas untuk sekarang dan masa depan, untuk menjaga kedamaian sosial. b. Setiap anggota masyarakat mendapat manfaat dari masyarakat sesuai dengan kontribusinya untuk sistem jaminan sosial dan juga jika kurang mampu. c. Sistem jaminan sosial (social security system) hanya bisa tumbuh bergantung pada standar ekonomi. d. Potensi produktivitas seluruh masyarakat dan cabangnya seharusnya tetap dilangsungkan juga untuk generasi masa depan. 3. Keberlanjutan Ekologi Keberlanjutan ekologis merupakan prasyarat untuk pembangunan dan keberlanjutan kehidupan. Keberlanjutan ekologis akan menjamin keberlanjutan ekosistem bumi. Untuk menjamin keberlanjutan ekologis harus diupayakan hal-hal sebagai berikut.e. Pemakaian sumber daya yang dapat diperbaharui seharusnya tidak melebihi kemampuan regenerasi sumber daya tersebut. Ini berhubungan dengan kebutuhan performa ekologi yang berkelanjutan, contohnya keberlanjutan kapital ekologis yang ditentukan oleh fungsinya. f. Emisi untuk lingkungan seharusnya tidak melebihi kapasitas ekosistem-ekosistem individu. g. Kurun waktu dampak antropogenik untuk lingkungan harus seimbang dengan kurun waktu kemampuan proses alami dalam lingkungan yang berkaitan untuk bereaksi. 2.3.1Tujuan Pembangunan Kota BerkelanjutanBeberapa tujuan pembangunan berkelanjutan menurut konsep Brundlant dalam Our common future yaitu: Sustainable development is development that meets the needs of the present without compromising the ability of future generation to meet their own needs: yang dapat di aplikasikan pada pembangunan kota Satterwaite (1997) dalam Satterwaite (2001), sebagai berikut:1. Bahwa tujuan pembangunan berkelanjutan pertama: Pemenuhan kebutuhan saat ini, dapat diaplikasikan pada pembangunan kota dengan cara:a. Pemenuhan ekonomi, termasuk akses mata pencaharian yang memadai atau aset produktif; juga keamanan ekonomi ketika tidak memiliki pekerjaan tetap, sakit, cacat atau apa saja untuk suatu keamanan mata pencaharian.b. Pemenuhan akan sosial, budaya, lingkungan dan kesehatan, termasuk suatu perlindungan bagi kesehatan, keselamatan, kemampuan dan keamanan, di dalam suatu kelompok masyarakat dengan persedian pipa seluran air, sanitasi, drainase, transportasi, perlindungan kesehatan, pendidikan dan perkembangan anak. Juga sebuah rumah, tempat bekerja dan tempat tinggal yang terlindungi dari bahaya linkungan, termasuk pencemaran bahan-bahan kimia.c. Pemenuhan politik, termasuk kebebasan berpartisipasi peda politik tingkat nasional dan lokal.2. Tujuan pembangunan berkelanjutan kedua: .... tanpa mengurangi kemampuan generasi akan datang untuk dapat memenuhi kebutuhannya, dapat diaplikasikan dalam pembangunan kota dalam bentuk:a. Meminimalkan penggunaan atau limbah dari sumberdaya yang tidak dapat di perbaharui, termasuk meminimalkan konsumsi bahan bakar fosil pada kegiatan perumahan, komersil, industri dan transportasi di tambah dengan substitusi sumberdaya alam yang dapat diperbaharui apabila memungkinkan. Juga meminimalkan limbah dari sumberdaya alam mineral yang langkah. Melestarikan aset-aset ini menyediakan ruang-ruang bermain, rekreasi dan akses ke alam.b. Pemanfaatan yang berkelanjutan bagi keterbatasan sumberdaya alam terbaharukan. Contoh: kota-kota menarik sumber alam air pada tingkatan yang dapat berlanjut (dengan mengendapkan cara daur-ulang dan pemanfaatan kembali)c. Limbah organik tidak lebih dari batasan kemampuan sumber alam sungai atau danau memperbaharui kembaliLimbah anorganik atau emisi tidak lebih dari batasan kemampuan daya serap area pembuangan daya serap area pembuangan lokal dan global atau menipiskan tanpa memberikan dampak yang merugikan (contoh: dayatahan pestisida; gas-gas rumah kaca dan penipisan ozon)2.4.2Konsep Pembangunan BerkelanjutanMenurut Brundtland (1987) kota berkelanjutan (sustainable city) adalah kota yang mampu memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengabaikan kebutuhan generasi mendatang. Pada pembangunankota berkelanjutan harus mengutamakan sebuah proses yang berjalan secara terus-menerus yang melibatkan seluruh aspek fisik dan non fisik pada suatu wilayah baik secara ekonomi, sosial budaya, politik, sumberdaya dan lingkungan yang ada. Terdapat beberapa ciri atau konsep yang dimiliki oleh kota berkelanjutan yaitu sebagai berikut:Menurut Asas Melbourne (2002) tentang kota berkelanjutan adalah kota yang mampu:1. Merumuskan visi jangka panjang berdasarkan keberlanjutan; keadilan sosial; ekonomi dan politik dan ciri-ciri khas mereka.2. Mencapai keamanan sosial ekonomi jangka panjang3. Mengenali nilai hakiki keanekaragaman hayati dan ekosistem alami, melindungi dan memulihkan kembali.4. Memampukan komunitas agar dapat memperkecil tapak ekologisnya5. Membangun karakteristik ekositem dalam pengembangan dan memelihara kesehatan dan keberlanjutan kota6. Mengenali dan membangun karakteristik khas kota termasuk nilai-nilai kemanusian dan budayanya, sejarah dan sistem alaminya7. Memberdayakan masyarakat dan mempercepat peran sertanya8. Memperluas dan memampukan jaringan kerjasama untuk mencapai masa depan bersama yang berkelanjutan9. Meningkatkan konsumsi dan produksi yang mendukung keberlanjutan, melalui penggunaan teknologi berwawasan lingkungan dan manajemen permintaan yang efektif10. Meningkatkan kemampuan untuk melakukan perbaikan secara terus menerus, berdasarkan pertanggung jawaban, keterbukaan dan penyelenggaraan yang baik.Menurut (Sarosa, 2002) kota berkelanjutan (sustainable city) dicirikan sebagai kota yang :1. Mengurangi kebutuhan energi.2. Mempromosikan swasembada pangan.3. Mempunyai siklus makanan tertutup.4. Permintaanya kecil terhadap air, bahan bakar dan materi lain dari luar.5. Bentuk kotanya compact.6. Mempunyai keseimbangan dengan wilayah lain atau kota lain.Berdasarkan beberapa ciiri-ciri diatas dapat disimpulkan bahwa konsep pembangunan berkelanjutan yaitu, dalam melakukan pembangunan sebuah kota selalu mempertimbangkan tiga hal yaitu, ekonomi, sosial dan lingkungan, dimana ketiganya dalam posisi yang seimbang.2.4.3Prinsip Dasar Kota BerkelanjutanAda beberapa prinsip dasar yang menjadi kunci dalam pembangunan kota berkelanutan. Diperlukan lima prinsip dasar yang dikenal dengan Panca E (Research Triangle Institute, 1996) :1. Environment (ecology)Pembangunan berkelanjutan dalam aktivitasnya memanfaatkan seluruh sumberdaya yang ada, guna meningkatkan kualitas dan kuantitas pada pembangunan tersebut. Ada 2 komponen harus di perhatikan dari segi lingkungan, yang pertama adalah penggunaan sumberdaya yang dapat di kontrol dengan cara melakukan konservasi sumberdaya, pencegahan dan penanggulangan polusi. Selanjutnya adalah penggunaan tanah dan lahan secara tepat dengan mengutamakan penggunaan lahan campuran yang dapat dikoordinasikan dengan sistem transportasi, maupun pembangunan pertamanan. 2. Economy (employment)Dari segi ekonomi perlu di lakukan pengembangan terhadap kerjasama strategis, peningkatan keahlian pekerja, infrastruktur dasar dan informasi. Kerjasama regional, dan pembagian dasar pajak juga dapat menjadi cara yang dapat di utamakan guna membangun pereokonomian jangka panjang. Selain itu, Perlunya menciptakan hubungan antara perkembangan sosial dan ekonomi dengan cara pemberian modal strategis pada tenaga kerja dan membuka kesempatan-kesempatan kerja baru bagi masyarakat guna meningkatkan pendapatan masyarakat agar mampu bersaing dalam perkembangan ekonomi. 3. EquityPemerataan antar berbagai golongan masyarakat dapat di lakukan dengan berbagai cara, yakni dengan mengurangi disparitas antar kelompok income dan ras, pengoptimalan partisipasi rakyat, membuat fasilitas-fasilitas yang terjangkau bagi semua lapisan masyarakat termasuk masyarakat berpenghasilan rendah yang diwujudkan melalui penyediaan fasilitas yang kuantitasnya proporsional dengan setiap kelompok pendapatan masyarakat serta4. EngagementSeluruh pihak baik pemerintah, swasta maupun masyarakat harus terlibat dalam pembangunan yang ada. Hal ini berguna untuk mencegah terjadinya penyimpangan dalam dalam pembangunan. Pemerintah yang memiliki kekuasaan harus menggunakan kebijakan-kebijakannya secara tepat sasaran. Sehingga pembangunan yang ada dapat memenuhi kebutuhan semua pihak. Dari pihak swasta sendiri dapat menjadi berperan sebagai perusahaan yang mengkoordinasikan atau melaksanakan pembangunan dengan caara menyediakan sumber pembiayaan dan permodalan untuk pembangunan. Sedangkan dari masyarakat dapat perperan sebagai pihak netral/objektif yang bertindak sebagai pengawas dan pengontrol pembangunan dan pengelolaan agar tidak terjadi penyimpangan. Selain itu, masyarakat juga dapat menyampaikan aspirasi yang berguna untuk kemajuan bersama. 5. EnergySumberdaya yang ada pada setiap wilayah jumlahnya berbeda-beda satu sama lain, oleh sebab itu, diperlukan berbagai tindakan agar penggunaan sumberdaya yang ada tidak dilakukan secara berlebihan. Penghematan sumberdaya dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti mengutamakan penggunaan berbagai angkutan massal yang hemat energi, melakukan konservasi terhadap sumberdaya yang ada dan mempergunakan energi alternatif sebagai pengganti bahan bakar fosil.Prinsip dasar pembangunan kota berkelanjutan dapat dilihat pada Gambar 2.1.

Gambar 2.1diagram sustainable developmentSumber: Deka(2011)

2.4.4Indikator pembangunan berkelanjutanIndikator pembangunan berkelanjutan pada dasarnya tidak dapat di lepaskan dari aspek ekonomi, sosial budaya, politik dan linkungan. Sehingga dalam penerapan pembangunan, aspek-aspek tersebut menjadi prioritas utama yang harus di perhatikan. Berikut ini adalah beberapa kriteria ideal indikator pembangunan berkelanjutan:1. Merefleksikan suatu dasar atau fundamen ekonomi dalam jangka panjang dan sosial-linkungan bagi generasi yang akan datang2. Mudah di pahami dan jelas: sederhana, dapat dimengerti dan diterima oleh masyarakat3. Dapat di kuantifikasikan4. Sensitif terhadap perubahan lokasi atau grup masyarakat5. Prediktif dan antisipasi6. Memiliki acuan atau nilai ambang relatif mudah membangun indikator harus jelas terdefinisikan dengan akurat, secara ilmiah dan sosial diterima7. Sensitif terhadap waktu: jika di aplikasikan setiap tahun indikator dapat menunjukkan trend yang representatif.Selain itu, ada beberapa indikator dari setiap aspek pembangunan berkelanjutan yang juga harus di perhatikan, yaitu:

1. Aspek lingkunganTetap terjaganya keberlanjutan fungsi-fungsi ekologis, terjaganya keanekaragaman hayati dan tidak terjadi pencemaran genetika, serta di patuhinya peraturan tata guna lahan.2. Aspek ekonomiTidak menurunkan pendapatan masyarakat lokal, tidak menurunkan kualitas pelayanan umum untuk masyarakat, serta adanya upaya mengatasi dampak penurunan pendapatan3. Aspek sosialAdanya proses konsultasi ke masyarakat, adanya tanggapan terhadap aspirasi masyarakat, dan tidak adanya konflik di tengah masyarakat.Kunci tema yang akan diterapkan dalam pengembangan kota yang berkelanjutan adalah dengan nilai-nilai berikut :1. Open vs closed resource flowsDalam point ini menjelaskan tentang bagaimana seorang actor kota atau stakeholder dalam membuat kebijakan mengenai pengurangan gas emisisi yang dihasilkan oleh beberapa subjek tertentu seperti transportasi, industry, dan domestic. Tidak semudah yang kita bayangkan dalam menangani hal tersebut. Pengurangan polusi baik polusi cari, gas, maupun sampah padat harus membuat sebuah analisis yang kuat dalam memperhitungkannya, mulai dari input data polusi, evaluasi polusi, dan analisis pengembangan dampak yang akan dihasilkan. Beberapa kosep yang sudah pernah ada dalam mengrungai polusi udara adalah dengan cara mengungari sumbernya yaitu memperkecil jumlah pengguna transportasi seperti meningkatkan kualitas dan kuantitas prasarana pejalan kaki (pedestrian), sehingga banyak masyarakat yang akan berpindah dari menggunakan automobile menjadi pejalan kaki yang ramah lingkungan, atau bisa juga dengan cara menutup sementara jalur-jalur automobile tertentu, misalnya event Car Free Day. Penangan dalam pengurangan polusi padat yaitu dengan membuat kebijakan pada setiap perusahaan untuk wajib memiliki lisensi eco label product, sehingga product-product yang dihasilkan khususnya barang-barang rumah tangga akan bersifat ramah lingkungan dan mudah untuk diuraikan atau didaur ulang.Sedangkan pada polusi air dapat dikurangi dengan mencegah dan membuat undang-undang tentang pengelolaan dan perlindungan lingkungan agar tidak membuah limbah sembarangan kedalam saluran drainase.2. Integration of human and natural systemAspek ini difokuskan kepada manusia agar selalu memiliki mental untuk melindungi alam sebagaimana mestinya. Dalam artian alam merupakan unsur kehidupan yang memiliki komponen biotik dan abiotic yang saling terkait dan memiliki hubungan timbal balik satu dengan yang lain. Sehingga dalam pengertian itu manusia diwajibkan untuk memelihara dan mengelola atau memanfaatkan apa yang telah diberikan alam secara maksimal tanpa harus ada perusakan sedikitpun. Apabila manusia telah serakah dalam melakukan kerusakan demi kepentingan pribadi maka alam tak segan-segan akan memberikan kerusakan pula pada manusia. Beberapa Negara sudah membuat undang-undang pengelolaan dan perlindungan lingkungan disertai dengan instrument-instrument diberbagai bidang seperti administrasi, pidana dan perdata.3. Emphasis on both diversity and connectionPoint ini dimaksudkan kepada sifat-sifat masyarakat yang pada umumnya berisfat heterogen.Berbeda hal dengan masyarakat pedesaan yang bersifat homogeny, dimana dalam kesamaan tersebut juga menimbulkan suatu interaksi yang baik dan dapat menjalin hubungan yang kuat pula. Sedangkan dikota secara abstrak mayoritas masyarakat sebearnya mengalai gangguan psikologis akibat kondisi social mereka dimana mkehidupan yang terjadi antar individu satu dengan yang lain saling berbeda. Bahkan antar tetangga pun mereka tidak saling menjalin hubungan yang baik.Hal tersebut juga memicu adanya tekanan psikologi pada masing-masing individu yang mana membutuhkan koneksi yang baik dalam suatu kawasan.4. A balance of public and privatKesimbangan antara aspek public dan prifat harus seimbang dalam beberapa hal.Misalnya pada jumlah penggunaan lahan perkotaan yang diperuntukan sebagai kawasan lindung dan budidaya. Pada dalam kedua peruntukan tersebut harus memiliki jumlah proporsi yang seimbang hal ini tujukan agar tidak terjadi pembangunan illegal yang tidak rapi dan akan menjadi sprawl di masa yang akan dating. Hal lain adalah transportasi dimana hasur memiliki kebijakan tentang proporsi moda prifat dengan public. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi kemacetan ataupun overshoot of road quantity.5. Human scaleSkala manusia adalah fenomena pergerakan tingkah laku manusia dalam movement. Bebrapa unsur yang mempengaruhi tingkat human scale adalah tingkat kenyamanan, kelancaran, keamanan jalan, lokasi sarana dan prasarana, dan human needs. Aktivitas pergerakan yang baik adalah seimbang sesuai dengan daya tampung disetiap kawasan.6. Ecological stewardship and restorationKonsep ini sangat berhubungan sekali dengan recycling of nature, dimana pemerintah diwajibkan untuk membuat kebijakan mengenai kepengurusan atau membuat lembaga atau organisasi yang mengurus ekosistem alam pada lingkungan perkotaan. Sehingga lingkungan ekosistem akan terjaga dan terlindungi secara keberlanjutan. Dan melakukan kegiatan perbaikan terhadap lingkungan alami yang rusak akibat ulah manusia, misal reboisasi hutan, taman, dan lingkungan lainnya.7. Fullfilling human potentialSelain pengembangan kempuan dan keseuailahan perkotaan, stakeholder juga harus melakukan pengembangan terhadap kemampuan dan potensi masyarakat. Dalam hal ini lebih mengacu pada kegiatan partispatif masyarakat dalam melakukan pembangunan pengembangan kota yang berkelanjutan. Dengan begitu sumberdaya untuk membangun kota yang melibatkan masyarakat akan menjadi kekuatan (streght) dan memberikan kesempatan (opportunity) bagi planner dalam membuat kebijakan pengembangan kota dalam jangka waktu yang lama.Beberapa Dorodjatu Kuncoro (2011) upaya yang bisa dilakukan untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan yaitu:1. Pemerataan manfaat hasil-hasil pembangunan antar generasi (intergenaration equity) yang berarti bahwa pemanfaatan sumberdaya alam untuk kepentingan pertumbuhan perlu memperhatikan batas-batas yang wajar dalam kendali ekosistem atau sistem lingkungan serta diarahkan pada sumberdaya alam yang replaceable dan menekankan serendah mungkin eksploitasi sumber daya alam yang unreplaceable.2. Safeguarding atau pengamanan terhadap kelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup yang ada dan pencegahan terjadi gangguan ekosistem dalam rangka menjamin kualitas kehidupan yang tetap baik bagi generasi yang akan datang.3. Pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya alam semata untuk kepentingan mengejar pertumbuhan ekonomi demi kepentingan pemerataan pemanfaatan sumberdaya alam yang berkelanjutan antar generasi.4. Mempertahankan kesejahteraan rakyat (masyarakat) yang berkelanjutan baik masa kini maupun masa yang mendatang (inter temporal).5. Mempertahankan manfaat pembangunan ataupun pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan yang mempunyai dampak manfaat jangka panjang ataupun lestari antar generasi.6. Menjaga mutu ataupun kualitas kehidupan manusia antar generasi sesuai dengan habitatnya.7. Pembangunan berkelanjutan dapat dilihat dari kemampuan suatu negara dalam meningkatkan produksi pangan yang mampu mengimbangi kecepatan dari laju pertumbuhan penduduk8. Secara general pembangunan berkelanjutan merupakan perubahan positif sosial dan ekonomi dengan tidak mengabaikan lingkungan tempat manusia hidup di dalamnya.9. Diwujudknnya konsep ekonomi mikro yang menjadikan masyarakat sebagai pelaku utama perekonomian.2.4.5Strategi Pembangunan Berkelanjutan1. Pembangunan yang Menjamin Pemerataan dan Keadilan SosialPembangunan yang berorientasi pemerataan dan keadilan sosial harus dilandasi hal-hal seperti ; meratanya distribusi sumber lahan dan faktor produksi, meratanya peran dan kesempatan perempuan, meratanya ekonomi yang dicapai dengan keseimbangan distribusi kesejahteraan, Namun pemerataan bukanlah hal yang secara langsung dapat dicapai. Pemerataan adalah konsep yang relatif dan tidak secara langsung dapat diukur. Dimensi etika pembangunan berkelanjutan adalah hal yang menyeluruh, kesenjangan pendapatan negara kaya dan miskin semakin melebar, walaupun pemerataan dibanyak negara sudah meningkat.2. Pembangunan yang Menghargai KeanekaragamanPemeliharaan keanekaragaman hayati adalah prasyarat untuk memastikan bahwa sumber daya alam selalu tersedia secara berkelanjutan untuk masa kini dan masa datang. Keanekaragaman hayati juga merupakan dasar bagi keseimbangan ekosistem.3. Distribusi keadilan sosial ekonomipembangunan berkelanjutan menjamin adanya pemerataan ekonom2.7Compact CityPada saat ini banyak negara maju yang menerapkan konsep kota yang berkelanjutan yang mana bentuk kota yang kompak. Kota kompak tidak hanya dirumuskan untuk menghemat konsumsi energi, namun juga diyakini lebih menjamin keberlangsungan generasi yang akan datang. Dalam konsep kota kompak ini terdapat gagasan yang kuat pada perencanaan urban containment, dimana menyediakan suatu konsentrasi dari penggunaan campuran secara sosial berkelanjutan, mengkonsentrasikan pembangunan dan mereduksi kebutuhan perjalanan sehingga dapat mereduksi juga gas emisi kendaraa. Ciri-ciri kota kompak (compact city) menurut Dantzig da Saaty (1978) dapat dilihat dari tiga aspek, antara lain.1. Bentuk ruang (Form of space)2. Karakteristik ruang (Space Characteristic)3. Fungsi ruang (Function)Berdasarkan cirri kota kompak diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang dekat antara bentuk kota kompak dengan keberlanjutan, diantaranya.1. Pengurangan ketergantungan pada kendaraan bermotor2. Penyediaan infrastruktur dan servis public yang efisien 3. Komunitas yang aktif melalui hunian berkepadatan tinggi4. Revitalisasi pusat kotaJenks menyebutkan bahwa terdapat suatu hubungan yang sangat kuat antara bentuk kota dengan pembangunan berkelanjutan, namun sebenarnya tidaklah sesederhana itu atau bahkan langsung berbanding lurus. Hal ini seolah-olah telah dikesankan bahwa kota yang berkelanjutan adalah harus terdapat suatu ketepatan dalam bentuk dan skala untuk berjalan kaki, bersepeda, efisien transportasi masal dan dengan kekompakan dan ketersediaan interaksi sosial (Elkin et.al., 1991, p.12). namun demikian dalam kota yang kompak ini juga terdapat gagasan kuat pada perencanaan urban containment yakni menyediakan suatu konsentrasi dari fungsi-fungsi campuran secara sosial berkelanjutan (socially sustainable mixed uses), mengkonsentrasikan pembangunan-pembangunan dan mengurangi kebutuhan perjalanan hingga mengurangi emisi kendaraan. Oleh karena itu, promosi penggunaan transportasi public atau umum, kenyamanan berlalu-lintas, berjalan kaki dan bersepeda adalah sering dijadikan sebagai solusi (Elkin, et.al., 1991; Newman, 1994). Berikut salah satu contoh compact city di Calgarian:

Gambar2.2 Compact city di Calgarian, Canada.Sumber: maya (2012)

Gambar 2.3Compact city di Calgarian, Canada.Sumber: maya, 2011Masalah utama yang terjadi pada penerapan ide kota kompak saat ini adalah anggapan bahwa ide ini bisa secara instan diterapkan tanpa melihat kasus per kasus permasalahan yang dihadapi oleh sebuah kota, disamping keharusan penyesuaian terhadap karakter kota. Beberapa kebijakan transportasi dan tata guna lahan yang erta hubungannya dengan ide kota kompak menunjukkan pentingnya melihat kondisi perkembangan kota (pola pergerakan/ transportasi, pola tata guna lahan, selain itu juga optimalisasi kebijakan yang diambil oleh pemerintah setempat. Munculnya kota-kota yang tersebar ke dalam wilayah pinggiran kota berakibat kepada tersebarnya dan kurang meratanya penyediaan pelayanan-pelayanan dari sub-sub urban. Akibat yang lainnya adalah mahalnya biaya pembangunan infrastruktur, meningkatnya kemacetan karena bertambahnya volume lalu lintas, hilangnya banyak lahan pertanian, berkurangnya kenyamanan hidup baik di kora maupun wilayah pinggiran dan terancamnya kondisi stabilitas pedesaan. Pada akhirnya, konsumsi energi bagi kota dan warganya juga akan semakin besar dan tidak terelakkan. Kepadatan populasi penduduk yang tinggi maka konsentrasi persoalan-persoalan lingkungan, konsumsi sumber-sumber alam termasuk minyak khususnya akan menjadi masalah dalam sebuah kota. Oleh karena itu, merencana, mengelola dan mengatur bentuk dan ruang kota dengan kebijakan public yang benar, akan menjadi satu factor kunci keberhasilan penghematan. Pada akhirnya, jika kebijakan dan prakteknya dapat ditemukan dan dijalankan dengan benar, sudah dapat dipastikan akan melipatkan efisien dan keuntungan yang besar.Penerapan konsep kota kompak (compact city) sulit dilaksanakan atau diterapkan secara utuh di negara berkembang karena banyaknya permasalahan yang ada, antara lain.1. Kurangnya infrastruktur sosial yang disebabkan oleh pertumbuhan penduduk yang melebihi pertumbuhan ekonomi.2. Meningkatnya hunian liar (sgutter)3. Spekulasi tanah4. Sulitnya urban redevelopment melalui demosili permukiman kumuh5. Lemahnya system transportasi public6. Kurangnya kapasitas perencanaan kota

BAB IIIPEMBAHASAN

Permasalahan dan Strategi Pembangunan Lingkungan BerkelanjutanStudi Kasus: Cekungan Bandung3.1 Review Studi kasusPermasalahan lingkungan yang terjadi di Cekungan Bandung merupakan akibat dari perencanaandan pengelolaan tata ruang dan lahan yang tidak tepat. Masalah lingkungan yang timbul mencakupgangguan fungsi hidrologi DAS, kualitas dan kuantitas air, baik air permukaan dan air tanah, maupunsampah, serta kualitas udara. Di kawasan DAS Citarum Hulu mengalir sungai utama yaitu Citarum yang dimanfaatkan sebagai sumber air minum, pertanian, perikanan, air waduk, irigasi dansebagai pembangkit tenaga listrik Pulau Jawa dan Bali.Tekanan penduduk dan aktivitas ekonomi yangterus meningkat telah menyebabkan perubahanpenggunaan lahan. Perubahan guna lahan yang terjadi yaitu meningkatnya lahan terbangun terutama bangunan untuk perumahan dan aktivitas industri yang menyebabkan meningkatnya koefisirn run off sehingga menumbulkan permaslahan lingkungan berupa banjir dan permasalahan lingkungan lainnya. Kualitasudara kota besar di Cekungan Bandung juga mengalamipenurunan akibat meningkatnya industri danjumlah kendaraan bermotor, yang ditandai denganterjadinya fenomena hujan asam, dan meningkatnyakonsentrasi pencemar udara. Permasalahan lingkungan yang terjadi yaitu:1. Perubahan guna lahanTidak terkendalinya perubhan lahan menjadi lahan terbangun menyebabkan hilangnya lahan untuk resapan air sehingga menyebabkan terganggunya fungsi hidrologi di DAS Citarum. Hasil analisis menunjukkan bahwa sejak tahun 1983-2002 area huta dan lahan bervegetasi berjurang sebesar 54% dan lahan terbangun meningkat sebesr 223%.2. Kualitas air permukaan menurunPerubahan guna lahan berpengaruh terhadap koefisien run off yang berati makin sedikitnya porsi presipitasi yang tersimpan dalm tanah, apabila koefisien run off meningkat hal tersebut akan menyababkan bertambahnya debit maksimum sungai dan sedikitnya air hujan yang meresap mdalam tanah akan berakibat pada menurutnya debit aliran dasar (base flow) sungai. Kejadian tersebut akan menyebabkan masalah banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau yang berdampak pada kulaitas air sungai.3. Air tanahKondisi air permukaan juga berpengaruh terhadapair tanah di Cekungan Bandung, jumlah sumur bor di Cekungan Bandung terus meningkat yang menyebabkan persediaan air tanah terus menurun. Artinya jumlah sumur bor dan persediaan air tanah di Cekungan Bandung sudah tidak seimbang.Penurunan permukaan air tanah dan dalam jangkapanjang akan menimbulkan penurunan permukaantanah (land subsidence). Berkurangnya air tanah di di Cekungan Bandung di sebabkan oleh banyaknya idustri-industri yang memanfaatkan air tanah untuk menjalankan usahanya, terdapat 550 indurtri dan 80% mengambil kebutuhan airnya dari tanah, dan terdapat beberapa proses pegambilan air tanah yang dilakukan tanpa izin dari pemerintah.4. Persampahan Permasalahan mengenai sampah yang terjadi di Cekungan Bandung terjadi pada pelayanannya. Sampah yang tidak terangkut oleh petugas, pengelolaa yang dilakukan oleh masyarakat dengan cara mengubur di pekarangan, di bakar dan bahkan di buang ke sungai, dan belum ada pengelolaan sampah secara intensif.5. Kualitas udaraMenurunnya kualitas udara di Cekungan Bandung disebabkan oleh peningkatan beragam aktivitas termasuk transportasi, industri, perumahan.Jadi dapat disimpulkan bahwa permaslahan yang terjadi di Cekungan Bandung disebebkan olah bertambahnya penduduk yang menyebabkan timbulnya aktivitas-aktivitas baru yang berdampak negatif bagi lingkungan, dan sebagai faktor utama dalam perubahan guna lahan yang memberikan pengeruh terhadap struktur ruang kota.3.2 Contoh Kota yang Sudah BerkelanjutanTerdapat beberapa kota yang dapat dijadikan contoh sebagai kota yang berkelanjutan (Sustainable Urban Development) antara lain sebagai berikut.1. Kota Dongtan, Pulau Chongmin, ChinaPada tahun 2005, pemerintah kota Shanghai menyerahkan pengelolaan tanah di Pulau Chongming kepada Shanghai Industrial Investment Company (SIIC), lembaga investasi milik pemerintah. Pulau Chongming terteletak sekitar 14 km dari distrik keuangan Shanghai dengan luas mencapai 50 km2 atau sekitar tiga perempat luas Kota Manhattan. Pemerintah Kota Dongtan ingin menjadikan Kota Dongtan sebagai sebuah kota hijau yang memiliki sumber energi terbarukan, bebas kendaraan bermotor dan dengan sumber daya air yang bisa di daur ulang. Kota Dongtan diharapkan dapat menjadi contoh sebuah kota hijau yang ideal di dunia dan mampu menampung 500.000 penduduk 2050.2. Kota Masdar, Masdar, Abu Dhabi

Gambar3.1Kota MasdarSumber: Exploring Masdar City (2010)Kota Masdar merupakan salah satu kota yang paling terkenal dan paling banyak mendapat kritikan hingga saat ini. Kota yang memiliki luas 3,5 km2 yang terletak di sebuah gurun 30 km dari Abu Dhabi ini dirancang untuk menampung 47.000 penduduk dan 1.500 perusahaan. Kota Masdar dibangun dengan tujuan mewujudkan dan memberikan sebuah contoh dalam menciptakan kota dengan kapasitas ramah lingkungan. Kota Masdar telah dirancang akan bebas dari emisi CO2 dan sampah. Energi yang akandigunakan berasal dari sel surya, panas bumi, tenaga angin dan juga tenaga air.

Gambar 3.2 Panel Surya, Kota MasdarSumber: Exploring Masdar City (2010)Segala jenis energi yang digunakan Kota Masdar adalah energi yang ramah lingkungan dan sumber energi terbarukan serta berkelanjutan. Kota Masdar dirancang akan memiliki fasilitas untuk mengolah limbah hingga ke titik nol. Kota Masdar akan memaksimalkan usaha penghematan air dengan cara menerapkan system Grey Water (Air Daur Ulang) sehingga kota ini dapat menghemat jumlah air bersih sebanyak 60% dari biasanya. Dengan semua perancangan ini diharapkan Kota Masdar dapat memperbarui sumber daya alam. Tingkat pencemaran udara yang saat ini sudah sangat memprihatinkan menjadi ancaman serius bagi seluruh kehidupan terutama makhluk hidup yang ada tak terkecuali manusia. Kota Masdar tengah dibangun di Abu Dhabi menjadikan sebuah inspirasi bagi kota-kota lain di belahan dunia untuk berpikir serius bagaimana memberikan kehidupan lebih sehat pada penghuninya.

Gambar 3.3 Konsep Bangunan Kota MasdarSumber: Exploring Masdar City (2010)Konsep bangunan yang modern ditambah nuansa ramah lingkungan yang menjadi ciri Kota Masdar. Selain aspek lingkungan yang sangat diperhatikan dalam perencanaan pembangunan kota, aspek pengembangan transportasi pun serta penyediaan energi semua berorientasi pada konsep ramah lingkungan yang mana di Kota Masdar telah terdapat moda transportasi tanpa bahan bakar fosil secara otomatis.

Gambar 3.4 Transportasi Ramah Lingkungan, Kota MasdarSumber: Exploring Masdar City (2010)Konsep kendaraan ramah lingkungan yang dirancang serba otomatis di Kota Masdar dapat mengurangi polusi yang dihasilkan dari kendaraan bermotor. Selain biaya, yang tidak akan lepas dari politik serta komitmen untuk mewujudkannya.Selain difungsikan sebagai tempat tinggal, Kota Masdar ini juga difungsikan sebagai salah satu pusat kegiatan ekonomi seperti Usaha Manufaktur dan juga akan menjadi salah satu pusat pendidikan yaitu the Masdar Institute of Science and Technology.3.3Pembahasan Studi KasusPermasalahan utama yang terdapat di Cekungan Bandung yaitu pertambahan jumlah penduduk yang menyebabkan perubahan guna lahan yang akhirnya menimbulkan permasalahan lingkungan lainnya. Pertumbuhan penduduk meningkat tentunya kebutuhanakan sarana dan prasarana kota akan bertambah.Pertumbuhan penduduk diperkotaan yang semakin meningkat dari tahun ke tahun akan menimbulkan permasalahan diberbagai aspek kehidupan perkotaan, karena meningkatnya jumlah penduduk akan menuntut aspek ekonomi, sosial, dan lingkungannya akan hal penyediaan infrastruktur perkotaan yang memadai, termasuk didalamnya adalah penyediaan akan kebutuhan air, energi, telekomunikasi, transportasi publik, perumahan, dan lain-lainnya. Masalah lain yang dihadapi terkait dengan perkembangan penduduk perkotaan tentunya adalah berkembangnya wilayah yang semakin tersebar tidak merata atau acak (sprawl). Berbagai permasalahan tersebut tidak dapat diselesaikan secara parsial karena satu aspek lingkngan akan berdampk pada aspek lainnya, untuk mengetasi hal tersebut dibutuhkannya perencanaan pembangunan yang memperhatikan dampak terhadap lingkungan. Pembangunan yang mampu mengatasi hal tersebut yaitu pembangunan yang mempertimbangkan tiga aspek penting yaitu masalah sosial, ekonomi dan lingkungan, dimana ketiga aspek tersebut harus dalam keadaan seimbang.Munculnya konsep kota berkelanjutan (sustainable city), menuntut suatu kota yang mampu memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengabaikan kebutuhan generasi yang akan datang. Kota yang memiliki interaksi antara sistem lingkungan dan sumberdaya, sistem ekonomi dan sistem sosialnya, tidak lagi terpaku pada konsep awal yang hanya mementingkan kelestarian keseimbangan lingkungan saja atau ekonomi saja. Berkembangnya konsep kota berkelanjutan juga memunculkan lagi dengan apa yang dikenal dengan konsep kota yang kompak (compact city), dimana kota ini memiliki kawasan yang kompak, komplit dan terintegrasi. Kota yang kompak ditunjukkan dengan adanya berbagai pusat kegiatan yang berada di pusat kota. Compact citymampu mengendalikan pembangunan kota yang tidakterkendali sehingga mampu menurunkan laju konversi lahan yang tidak terbangun menjadi lahan terbangun.Konsep kota yang kompak harus didukung dengan penyebaran fasilitas umum dan permukiman yang merata, selain kepadatan yang tinggi sehingga bisa mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi. Hal ini akan mengurangi pergerakan penduduk dan mengurangi potensi kemacetan karena volume lalu lintas berkurang serta mampu mengurangi pencemara udara akibat kendaraan bermotor. Dengan demikian usaha untuk menghemat konsumsi energi yang termasuk dalam prinsip konsep kota yang kompak, juga diyakini lebih menjamin keberlangsungan generasi yang akan datang.Indikator dalam pembanguna berkelanjutan yang diterapkan selama ini terkadang lebih condong kepada bidang ekonomi saja, masalah sosial dan lingkungan terkadang dilupakan contohnya pada laporan pertanggungjawaban pemerintah atas kinerjanya hanya berisikan masalah ekonomi saja, selain hal tersebut indikator pembangunan yang ada tidak dijalankan dengan baik, indikator belum fokus terhadap lingkungan terutama permasalahan yang terdapat di Cekungan Bandung, dalam pengaplikasian indikatornya berbeda dengan konsep perumusannya. Oleh karena itu diperlukan indikator pembangunan yang yang menyeimbangkan sistem ekonomi, sosial dan lingkungan, dan peka terhadap kebutuhan masyarakat sekitar.Berdasarkan permasalahan yang terdapat di Cekungan Bandung, beberapa hal yang harus ada dalam indikator pembangunan yang memiliki kecocokan dengan konsep pembangunan berkelanjutannya yitu:1. Kelestarian air tanah dan permukaan sebagai ukuran dalam kelestarian lingkungan membuat semua aktivitas sosial dan ekonomi (yang tidak lepas dari kebutuhan akan air) dapat terus berjalan dengan lancar dan seimbang.2. Pengendalian pertumbuhan permukiman perkotaan, pengendalian laju urbanisasi dan pengaturan lahan bagi pembangunan perumahan baru.3. Pergerakan orang yang dilakukan dengan menggunakan moda transportasi memberikan efek melalui penggunaan bahan bakar yang menyebabkan polusi udara, hal tersebut dapat diatasi dengan ketepatan dalam memilih moda transportasi yang digunakan, moda yang dimaksud yaitu moda yang menjadikan pergerakan masyarakat menjadi efisien, pergerakan yang dilakukan tetap optimal dan memberikan manfaat bagi segi sosial, ekonomi dan lingkungan.4. Menambah jumlah pohon yang terdapat di jalanan dan memperluas area taman perkotaan yang memberikan efek positif bagi kenyamanan dan kualitas kesehatan masyarakat pemakai jalan, hal tersebut juga mampu mengurangi konsentrasi polutan udara dan emisi gas rumah kaca.5. Pengelolaan sampah dengan berbagai cara yang inovatif (daur ulang), hal tersebut dapat memberikan keuntungan baik dari segi sosial (tenaga kerja) maupun ekonomi.6. Pemerintah mampu mengendalikan ijin penambangan, pengambilan Air Bawah Tanah (ABT) dan mengarahkan kebijakan daerah yang berorientasi pada perlindungan lingkungan.7. Perumusan kebijakan yang akuntabel, transparan dan berorientasi pada kepentingan publik yang mempertimbangkan partisipasi masyarakat.3.3.1Membandingkan Studi Kasus dengan Kota yang Sudah BerkelanjutanKondisi di Cekungan Bandung apabila dibandingkan dengan Kota Masdar tentunya mimiliki perbedaan yang sangat jauh, konsep pembangunan di Cekungan Bandung lebih fokus kepada perekonomian masyarakat dan tanpa memperhatikan dampak lingkungan yang terjadi akibat dari perilaku ekonomi masyarakat sendiri, sedangkan di Kota Masdar konsep pembangunan berkelanjutan telah di aplikasikan secara utuh, hal tersebut terbukti dengan tujuan dibangunnya Kota Masdar yaitu mewujudkan dan memberikan sebuah contoh dalam menciptakan kota dengan kapasitas ramah lingkungan yang bebas dari emisi CO2 dan sampah, energi yang akan digunakan berasal dari sel surya, panas bumi, tenaga angin dan juga tenaga air, memiliki fasilitas pengolahan limbah hingga titik nolserta konsep kendaraan yang ramah lingkungan.Berdasrkan perbedaan yang telah disebutkan, tentunya kondisi masing-masing kota memiliki ciri atau karakteristik yang berbeda, dan tentunya pada hal konsep pembangunan kota yang berkelanjutanpun memiliki perbedaan. Kesulitan untuk menerapkan pembangunan berkelanjutan seperti yang terdapat di Kota Masdar yaitu membutuhkan dana yang tidak sedikit dan teknologi-teknologi yang mampu mendukung konsep keberanjutan yang diinginkan, selain dari ketersedian dana dan teknologi, partisipasi masyarakat juga sangat menentukan keberhasilan dalam konsep pembangunan keberlanjutan, namun kota-kota di Indonesia (Cekungan Bandung) belum memiliki hal tersebut dan partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan sangat minim, sehingg belum mampu untuk melaksanakan konsep pembangunan berkelanjutan secara utuh.

BAB IVPENUTUP

4.1 Simpulan dan SaranPermasalahan yang terdapat di Cekungan Bandung merupakan masalah umum yang terjadi di perkotaan, hal tersebut merupakan akibat dari perencanaan dan pengelolaan tata ruang dan lahan yang tidak tepat atau masih menganut paradigma lama yaitu dalam melakukan aktivitas masyarakat cenderung selalu mementingkan ekonomi tanpa memperhatikan dampak lingkungan yang terjadi untuk selanjutnya, jadi untuk memperbaiki hal tersebut, masyarakat perlu memperbaharui paradigma yang dipahami menjadi paradigma baru dalam pembangunan sebuah kota, yaitu pembangunan kota yang berkelanjutan yang artinya pembangunan yang dilakukan berorietai kepada masa depan dan untuk generasi selanjutnya, dimana dalam pembangunan harus mempertimbangkan sistem ekonomi, sosial dan lingkungan, dan ketiga hal tersebut harus dalam keadaan yang seimbang, selain hal tersebut pembangunan yang harus dilakukan yaitu sesuai dengan kondisi yang terdapat di Cekungan Bandung, dan indikator-indikator pembangunan harus jelas sehingga dalam proses pambangunan menjadi terarah.

JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH & KOTAFAKULTAS TEKNIKUNIVERSITAS BRAWIJAYA29