KOMUNIKASI BUDAYA YANG EFEKTIF · PDF file B. Komunikasi Antarbudaya yang efektif Dalam...

Click here to load reader

  • date post

    30-Oct-2020
  • Category

    Documents

  • view

    4
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of KOMUNIKASI BUDAYA YANG EFEKTIF · PDF file B. Komunikasi Antarbudaya yang efektif Dalam...

  • BAB VI

    KOMUNIKASI BUDAYA YANG EFEKTIF

    A. Ketidakpastian dan Kecemasan

    Menurut teori manajemen ketidakpastian/kecemasan (Anxiety/ uncertainty management theory), Gudykunst berfokus pada pertemuan antara budaya in-group dan orang asing. Gudykunst merupakan seorang professor komunikasi di California State University Fullerton dan dia membangun ketertarikannya dalam komunikasi antarbudaya ketika dia melayani sebagai seorang ahli komunikasi antarbudaya pada US Naay di Jepang

    Gudykunstberasumsi bahwa setidaknya satu orangyangberada dalam pertemuan antarbudaya maka dia akan menjadi seorang asing. Melalui seri krisis inisial, pengalaman seorang asing tentang keraguan dan ketidakpastian - mereka tidak merasakan aman dan mereka tidak merasa yakin bagaimana untuk membiasakan diri. Meskipun orang-orang asing dan anggota in-group mengalami beberapa tingkatan dalam keraguan dan ketidakpastian dalam setiap situasi interpersonal yang baru, ketika mereka pertemuan terjadi diantara orang-oran1 yarr1 berbeda budaya, orang-orang asing tersebut bersikap sangat berhati-hati terhadap perbedaan budaya. Mereka cenderung berpikir terlalu tings tentang efek dari identitas budaya berdasarkan perilaku orang-orurng yang berasal dari masyarakat asing.

    B. Komunikasi Antarbudaya yang efektif

    Dalam pandangan Gudykunst komunikasi efektif akan terjadi apabila kesalahpahameu:r dapat ctiminimalisasi. Penulis yang lain menggunakan istilah yang bervariasi untuk menyatakan ide yang sama yaitu dengan istilah accuracy, fidelity dan understanding. Gudykunst memberikan contoh terrtang komunikasi yang efektif

    111

  • Mi ndful ness dalam Komunikasi Antarbudaya

    berdasarkan tindak komunikasi antara presiden dari Mickelson, Pol Quia dan dirinya. Dalam gambaran ini, Gudykunst menjelaskan bahwa komunikasi yang efektif antara individu-individu yang memiliki latar belakang budaya yffiig berbeda bukan diartikan karena terciptanya keakraban, berbagi kebiasaan yang sama atau bahkanberbicara dengan jelas. Komukasi yang efektif digambarkan pada kondisi dimana kedua belah pihak dapat memprediksikan secara akurat dan menjelaskan perilaku masing-masing (Griffin, 2003:423).

    Triandis dalam (Gudykunst dan Kim, 1997:250), Komunikasi antarbudaya akan efektif apabila dalam komunikasi tersebut dapat menciptakan apa yang disebut sebagai isomorphic attributions, yaitu penetapan kualitas atau karakteristik terhadap sesuatu supaya menjadi sama. (Turnomo, 2005: 68-69).

    William Howell, salah satu mentor dari Gudykunst di University of Minnesota menyarankan 4 tingkatan dalam kompe- tensi komunikasi:

    L. Unconscious lncompetence: kita salah menginterpretasikan perilaku orang lain dan bahkan tidak menyadari apa yang sedang kita lakukan. Pengabadian dianggap sebagai kebahagiaan.

    2. Conscious lncompetence: kita tahu bahwa kita salah mengin- terpretasikan perilaku orang lain tetapi kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan.

    3. Conscious competence: kita berpikir tentang komunikasi kita dan secara terus menerus berusaha mengubah apayang kita lakukan supaya menjadi lebih efektif

    4. Unconscious competence: kita telah mengembangkan kecakapan komunikasi kita untuk menunjukkan bahwa kita tidak lagi hanya berpikir tentang bagaimana kita berbicara atau mendengarkan. (Griffin, 2003:425)

    C. Mindfulness

    Komunikasi antarbudaya akan efektif apabila didalam komunikasi antarbudaya terjadi situasi yang mindful. Komunikasi antarbudaya yang mindful akan muncul apabila masing-masing

    112

  • Rini Damarastuti

    pihakyang terlibat dalamkomunikasi tersebut dapat meminimalkan kesalahpahaman budaya dengan c,rra mereduksi persepsi yang negatif, perilaku etnosentrisme, prasElngka dan stereotipe. Selain itu, situasi mindful ini juga akan tercapai apabila kedua belah pihak dapat mengelola kecemasan dan ketidakpastian yang dihadapi.

    Dalam buku komunikasi organis asi, mindfuln ess diterjemahkan

    sebagai satu bentuk kehati-hatian. Mindfulness ini merupakan

    . Salah satu strategi komunikatif yang paling impresif untuk mengatasi stres adalah strategi kt:hati-hatian.

    o Kehati-hatian adalah seni ntenerima kehidupan ketika kehidupan itu datang dan menikmatinya dari saat ke saat.

    . Kehati-hatian mendorong kita untuk hidup seolah-olah setiap saat itu penting, yang berarti bahwa setiap saat itu penting, yang bearti bahwa setiap saat harus diperhatikan, dijaga, diterima, dan dihargai.

    Menurut Buber (dalam Tumomo 2005:64), situasi komunikasi

    yang mindful lebih menekankan patla relasi antar individu. Buber mengkontraskan pada2 tipe relasi: I-It (Aku - Itu) dan I -Thou (Aku-Engkau)

    o J - It : memperlakukan orang lain sebagai benda yang digunakan atau objek yang dimanipulasikan. Seringkali ditutupi dengan ketidakjujuran

    o I - Thou : menghormati orang lain sebagai subyek sebagai ciptaan Tuhan yang berharga. Akan memperlakukan orang lain

    dengan empati. Dengan demikian dibutuhkan pengungkapan

    diri (Self Disclosure)

    Komunikasi budaya tidak ,rkan terjadi dalam konteks yang mindful apabila setiap parttsipan dalam komunikasi itu menempatkan partisipan lainnya sebagai objek atau benda. Komunikasi budaya akan mindful ,lpabila memperlakukan orang

    lain Aku-Engkau.

    113

  • Mi ndful ness dalam Komunikasi Antarbudaya

    D. Komunikasi Antarbudaya yang Mindfulness

    Untuk memahami komunikasi antarbudaya yang mindfulness, kita dapat mempelajari dan membahasnya dari pendapat Gudykunst (dalam Griffin 2003 : 428 - 431). Proses komunikasi antarbudaya yang mindfulness seperti yang ada dalam diagram di bawah ini:

    Gambar 6.1. Proses komunikasi antarbudaya yang mindfulness

    (Sumber : Griffin 2003:428 - 431)

    Selfand Self Concept ldentities Selfconstrusls Self+steem Sbeme

    Uncertainty Manageme

    Motivation to Interact with Strangers Need for group inclusion Ned to sustain self{oEc€pt Need for predictrbility Identity security

    Reactions to Strangers Rigidlty of intergroup .nitudg tourd Stntrgcrs Ability to toleratc ambiguity Abilig to empathize wlth ttrrtrgers Ablllty to ad.pa bchrvior ao ttr.DgeE

    Mindfulnes Comuietion ElT6tiY€ns

    Social Categorization of Strangers Ability to utrderst.Dd group dillercEc6/siEileriti€s P.rc.ivad pe6on.l simileritis Pcitirc cxpst tioB for ltntrgeE P.rcdvcd v.ri.bility io ttr.trge6' group

    Anxiety Management

    Situational processes Complexity of scripts for intencting with iErngcrs Cmpcrrtive sffiure of t lks IEforudity of intemction siturtion Norutive support for irtcnctitrg with sanDgers

    Connection with Strangers Attrrciiotr to strsngeE Qudity rnd quantity ofcotrttct with stnugeN Interdependence with strrogers Intimcy of relationship with strsngers

    11,4

  • Rini Damar;rstuti

    T. Self and Self concepf (Diri dan Konsep Diri) Pemahaman tentang 'self and self concept' ini didasarkan

    pada aksioma kelima merupak.an kemajuan dalam melihat harga diri kita ketika kita berinteraksi dengan orang lain dari budaya yang berbeda akan menghasilkan sebuah kemajuan dalam kemampuan kita untuk mengatur kecemasan kita.

    Dalam pandangan Gudyl:unst, self dan sef concept merupakan kemajuan dalam metihat harga diri kita ketika kita berinteraksi dengan orang lain dari budaya yang berbeda akan menghasilkan sebuah kemajuan dalam kemampuan kita untuk mengafur kecemasan kita.

    Dalam teori interaksionalisme simboliknya, Mead menga- takan bahw aimage tentang diri sendiri terbentuk oleh bagaimana kita melihat orang lain melihat diri kita. Prinsip ini seperti yang dikatakan dalam teoi "the looking-glass self ".

    2. Motiztation to interect utith strangers (motivasi untuk berinteraksi dengan orang asing)

    Untuk memahami motioation to interect with strangers didasarkan pada aksioma 7 yang menyatakan bahwa sebuah kemajuan dalam kebutuhan kita terhadap rasa inklusi kita dalam group ketika kita berinteraksi dengan orang lain yang berasal dari budaya y{E berbeda akan menghasilkan sebuah kemajuan dalam mengatur kecemasan kita.

    Dalam konteks ini, setiap orang yang berada di dalam group akan membutuhkan rasa inklusi di dalam group itu. Terlebih ketika orang tersebut trcrinteraksi dengan orang lain yangberasal dari budaya yang berbeda. Kondisi ini akan meng- hasilkan sebuah kemajuan dalanr mengatur kecemasan kita.

    Menurut William Gudykunst (dalam EM Griffin, 2003: 428), sekalipun dia berasal dari budaya individualistik, keterhubungan merupakan dorongan yang lebih kuat untuk membangun interaksi dengan orang lain yang berasal dari budaya yang berbeda dibandingkan dengan dialektika yang dibangun secara perbagian.

    115

  • Mi ndful ness dalam Komunikasi Antarbudaya

    3. Reactions to strangers (Reaksi kepada orang asing) Gudykunst menjelaskan reactions to strangers dengan

    merujuk pada aksioma 12, aksioma L5 dan aksioma 1'6. Dalam aksioma 12 dikatakan bahwa kemampuan kita dalam memproses inlormasi yang sangat kompleks tentang orang lain yang berasal dari budaya yang berbeda akan membuat kita mampu untuk memprediksi tingkah laku mereka secara akurat. Teori konstruktivisme Delia mengasuruikan bahwa kemampuan kognitif yang sangat komplek yang dimiliki setiap orang merupakan alat yang paling baik untuk mengambil perspektif yang tepat terhadap orang lain.

    Aksioma 15 mengatakan bahwa kemampuan kita untuk bersikap toleran (mentoleransi) ambiguitas ketika kita berinteraksi dengan orang lain yang berasal dari budaya yang berbeda akan membuat kita mampu untuk mengatur kecemasan

    kita dan untuk memprediksi tingkah laku mereka secara akurat. Sedangkan aksioma L6 mengatakan bahwa kemampuan kita berempati dengan orang lain yang b