Karya ilmiah4

of 24 /24
Paradigma Sekolah dan Pendekatan Manajemen Komprehensif Sebagai Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Pada SMA Negeri 1 Purwareja Klampok Banjarnegara - Jawa Tengah Disusun Oleh Nama : Supriyadi N I P : 13165024 SMA NEGERI 1 PURWAREJA-KLAMPOK KABUPATEN BANJARNEGARA, JAWA TENGAH JL RAYA PURWAREJA-KLAMPOK Telp. (0286) 479092 BANJARNEGARA 53474

Transcript of Karya ilmiah4

Page 1: Karya ilmiah4

Paradigma Sekolah dan Pendekatan Manajemen Komprehensif Sebagai Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan

Pada SMA Negeri 1 Purwareja Klampok Banjarnegara - Jawa Tengah

Disusun Oleh

Nama : Supriyadi

N I P : 13165024

SMA NEGERI 1 PURWAREJA-KLAMPOK KABUPATEN BANJARNEGARA, JAWA TENGAH

JL RAYA PURWAREJA-KLAMPOK Telp. (0286) 479092 BANJARNEGARA 53474

Page 2: Karya ilmiah4

Paradigma Sekolah dan Pendekatan Manajemen Komprehensif Sebagai Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan

Pada SMA Negeri 1 Purwareja Klampok Banjarnegara - Jawa Tengah

Supriyadi1

Abstrak : Pemahaman Kepala Sekolah terhadap konsep tentang sekolah membawa pengaruh besar terhadap pendekatan pengelolaan sekolah. Agar tidak terjebak pada tradisi dan konvensi pada status quo yang membosankan diperlukan adanya penyegaran pemikiran tentang paradigma sekolah dan pendekatan pengelolaan sekolah sebagai filosofi kinerja sekolah. Untuk menjadikan sekolah itu dinamis dan kreatif, hendaknya sekolah dipandang sebagai pusat layanan pembelajaran, dimana pengelola harus selalu mencari bentuk-bentuk layanan baru yang mendukung pada pengembangan potensi siswa. Melalui proses kreatif dalam usaha penciptaan layanan baru yang kontinyu memungkinkan sekolah mampu menjadi wadah pengembangan beraneka ragam potensi siswa. Bertitik tolak dari paradigma sekolah yang demikian, sekolah tidak bisa dipahami secara parsial untuk itu jawaban yang tepat dengan paradigma tersebut adalah pengelolaan sekolah dengan model pendekatan komprehensif. Sekolah bukan lagi dipandang secara “fisik” belaka namun juga mempunyai “ruh”, sehingga sekolah itu hidup, dinamis dan mempunyai kreativitas.

Kata Kunci : paradigma sekolah, pendekatan pengelolaan sekolah, potensi siswa, penciptaan layanan baru, sekolah dinamis dan kreatif, pendekatan komprehensif.

Pendahuluan

Era globalisasi menyebabkan akselerasi persaingan antar bangsa menjadi

sangat kompetitif. Maknanya bila bangsa Indonesia mau aktif berperan dan

mensejajarkan dengan bangsa-bangsa lain maka persyaratan utama adalah harus

mempunyai sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Sejak awal berdirinya

Republik ini, antisipasi terhadap kualitas SDM Indonesia sudah digagas oleh para

pemimpin bangsa secara baik sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD

1945 yang menyatakan “Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap

bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan 1 Supriyadi, Kepala Sekolah pada SMA Negeri 1 Purwareja-Klampok, Banjarnegara, Jawa Tengah

Page 3: Karya ilmiah4

kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan

ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan

sosial.” (Biro Hukum dan Organisasi. 2003 : 3)

Namun implementasi pada pengembangan SDM masih jauh dari

harapan, hal ini terbukti dari rendahnya anggaran pendidikan pada APBN dari

dulu sampai sekarang. Dan dampaknya sekarang SDM Indonesia terpuruk.

Menurut laporan terakhir (2003) yang dikeluarkan oleh United Nations

Development Program (UNDP), Human Development Index Indonesia ada di

urutan bawah, yaitu 112 dari total 175 Negara. Urutan tersebut jauh di bawah

Malaysia dan Thailand, yang masing-masing menempati urutan 58 dan 74.

(Kompas. 26/06/04 h.4) Data tersebut menunjukkan bahwa pengembangan

sumber daya manusia Indonesia. perlu mendapat penanganan mendesak dan

serius.

Sudah barang tentu, salah satu biang dari rendahnya SDM Indonesia

adalah rendahnya kualitas pendidikan. Dan sekolah sebagai ujung tombak dalam

urusan pengembangan SDM harus mendapatkan prioritas pemikiran. Sekolah

tidak bisa hanya dipandang sebagai wahana pendidikan bersifat statis tetapi lebih

dari itu ia mempunyai “ruh” sehingga sekolah itu hidup, dinamis dan kreatif.

Dan konsep pengembangan sekolah selayaknya seirama dengan konsep

pendidikan sehingga arahnya menyatu harmonis. Pendidikan adalah usaha sadar

dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar

peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki

kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak

mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

(Biro Hukum dan Organisasi. 2003: 5)

Konsep pendidikan yang begitu kompleks, konsekuensi logisnya adalah

sekolah sebagai institusi harus dirancang sedemikian rupa sehingga mampu

memberikan pelayanan yang maksimal sebagaimana yang dituntut dalam konsep

pendidikan tersebut di atas. Namun kenyataannya banyak sekolah yang dikem-

bangkan tidak sesuai dengan konsep tersebut. Faktanya masih banyak orang yang

memandang kualitas sekolah dari segi fisiknya belaka.

Page 4: Karya ilmiah4

Dengan demikian, menurut hemat penulis, diperlukan adanya

penyegaran pemikiran tentang paradigma sekolah dan pendekatan manajemen

sekolah. Hal tersebut sangat penting karena perbedaan pemahaman terhadap

paradigma sekolah berpengaruh terhadap arah pengembangan sekolah. Dengan

mengingat bahwa sekolah bukan sekedar fisik tetapi juga program yang membuat

sekolah itu menjadi hidup, dinamis dan kreatif. Oleh karena itu inovasi pengem-

bangan pada SMA Negeri 1 Purwareja-Klampok selalu merujuk pada

konsep paradigma sekolah sebagai pusat layanan pengembangan potensi

siswa dan konsep pendekatan pengelolaan sekolah secara komprehensip.

Dalam artikel ini penulis tertarik untuk membahas elemen-elemen yang bisa

menyebabkan sekolah itu hidup, dinamis dan kreatif.. Elemen-elemen tersebut

berupa program sekolah, yang diantaranya : (1) Program Kelas Non- Reguler, (2)

Program Quota PSB, (3) Program Rewards (beasiswa), (4) Program Interest

Group, (5) Program sekolah berwawasan bahasa Jepang, (6) Program Vocational

Skills, (7) Program Pembentukan Image sekolah (Radio Sekolah, Majalah

sekolah, dan Internet), (8) Kerjasama dengan Yayasan keagamaan dalam

pembinaan Mental, dan (9) Program pengendalian Ulangan Harian (Komputer on

line),

Tujuan dari penulisan artikel ini, penulis berharap bisa memberikan

masukan kepada para pengelola sekolah untuk dijadikan bahan pertimbangan

dalam kebijakan pengembangan sekolah. Kualitas suatu sekolah tidak hanya di

pandang dari sejauh mana pengembangan fisiknya tetapi seberapa besar kemam-

puan sekolah mampu melayani siswa dalam mengembangkan potensi yang

dimiliki. Dan semoga tulisan ini bermanfaat bagi semua orang yang tertarik pada

pengembangan sekolah.dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan.

Permasalahan

Untuk melaksanakan amanat Pembukaan UUD 1945, maka pemerintah

merumuskan Pendidikan Nasional dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan

Nasional pasal 3 yang bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar

menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan yang Maha Esa,

Page 5: Karya ilmiah4

berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga

negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (Biro Hukum & Organisasi.

2003 : 8)

Tampak jelas bahwa deskripsi manusia Indonesia paripurna di masa

mendatang yang sekaligus sebagai tantangan besar bagi pemerintah Indonesia

dengan segala konsekuensinya. Manusia Indonesia paripurna tidak akan bisa

diwujudkan manakala tidak ada undang-undang yang dijadikan pedoman dalam

penyelenggaraan pendidikan secara nasional. Untuk tujuan tersebut maka

dikeluarkanlah undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan

Nasional sebagai pengganti undang-undang nomor 2 Tahun 1989.

Makna dari berbagai perangkat aturan tersebut diatas bahwa pem-

bentukan manusia Indonesia paripurna haruslah dipandang secara utuh dan juga

dengan pendekatan yang utuh pula, tidak secara parsial. Hal demikian me-

negaskan juga bahwa pengelolaan sekolah, yang secara formal sebagai wadah

untuk memfasilitasi anak menjadi manusia Indonesia paripurna, harus juga

dipandang secara utuh sebagai pusat layanan pembelajaran siswa.

Secara sederhana sekolah yang mampu memberikan pelayanan secara

maksimal sehingga anak dapat mengembangkan potensinya secara maksimal bisa

dikategorikan sebagai sekolah yang efektif. Namun ada beberapa karakteristik

yang menurut pendapat para ahli ditemukan pada sekolah yang efektif :

1. A school climate conducive to learning - one free of disciplanary problems and vandalism;

2. A shoolwide emphasis on basic skills instruction; teachers who hold high expectations for all students to achieve;

3. A system of clear instructional objectives for monitoring and assesing students’ performances; and

4. A school principal who has programatic leader and who sets high standards, observes classroom frequently, maintains students discipline, and create incentives for learning. ( Boyan, 1988 : 346)

Memperhatikan pendapat-pendapat di atas, menjadi sangat jelas bagi kita

bahwa pengelolaan sekolah yang baik, banyak faktor yang harus diperhatikan

secara serentak dan menyeluruh baik mengenai iklim sekolah, pembelajaran dan

guru, supervisi dan kepemimpinan Kepala Sekolah.

Page 6: Karya ilmiah4

Perbaikan dan Reformasi sekolah mendesak dilakukan untuk meng-

hindari stagnansi pengembangan sekolah karena wawasan konsep sekolah. Untuk

menjadikan sekolah efektif Boyer secara rinci mengajukan dua belas usulan, yang

delapan adalah sebagai berikut :

1. More should be done to help students make the transition to work and further education.

2. Students should participate and learn in the community. 3. Working conditions of teachers must be improved. 4. Technologi should be used to enrich curriculum. 5. More flexibility is needed in school size, the use of time, and other or

organization arrangements. 6. Principals should have a greater leadership role that includes selecting and

rewarding teachers. 7. More “connections” are needed with other institutions. 8. There must be a public commitment to excellence. (Orstein dan Levine.

1985 : 543)

Tampak sekali bahwa arah sasaran inovasi sekolah menjadi sangat jelas.

Seluruh aspek yang menjadikan sekolah berkembang lambat dibenahi. Hal

demikian menunjukkan pembenahan sekolah harus secara komprehensif. Dan

fokus akhir yang dijadikan sasaran adalah kualitas sekolah.

Hers sebagaimana dikutip oleh Orlosky (1984) megidentifikasikan

bahwa ada beberapa elemen untuk meningkatkan efektivitas sekolah, yaitu :

1. Clear Academic Goals (Kejelasan Tujuan Akademik) 2. Order and Discipline ( Peraturan dan Disiplin) 3. High Expectations (Cita-cita Tinggi) 4. Teacher Efficacy ( Keefektivan Guru) 5. Pervasive Caring ( Peduli Total) 6. Public Rewards and Incentives ( Penghargaan dan insentif) 7. Community Support ( Dukungan Masyarakat) 8. Administrative Leaderships. (Kepemimpinan) (Orlesky. 1984 : 103-105)

Pengelolaan sekolah menjadi sangat sulit karena memang sejak awal

perencanaan pengembangan sekolah .tidak ditata dengan baik. Keadaan tersebut

kemudian diperbaiki oleh pemerintah :

Pertama, diterbitnya Kep. Men. No. 053/V/2001 tanggal 19 April 2001

tentang Pedoman Penyusunan Standar Pelayanan Minimal Penyelengaraan

Persekolahan Bidang DIKDASMEN (Direktorat Dimenum. 2003). Terbitnya SK

Page 7: Karya ilmiah4

tersebut memperkuat pemikiran tentang pentingnya pengelolaan sekolah secara

terencana dan menyeluruh.

Tetapi dinamika pemerintahan dari sentralisasi ke arah desentralisasi

menimbulkan masalah tersendiri dalam bidang pendidikan. Karena pengelolaan

pendidikan berubah sesuai dengan semangat otonomi daerah (Sinar Grafika. 2001

: 9) Pergeseran pengelolaan pendidikan tersebut di atas bisa membawa dampak

yang kurang baik bila mana tidak dibarengi dengan keluarnya peraturan peme-

rintah sebagai landasan untuk mengatur pengelolaan pendidikan. Alasannya

adalah rendahnya Sumber Daya Manusia yang ada pada birokrasi Dinas Pen-

didikan yang pada mulanya sebagai pelaksana pekerjaan (The Doers) berubah

menjadi Pengambil Kebijakan (Decision Makers). Kemungkinan resiko yang

terjadi adalah lemahnya penguasaan masalah, dinamika terasa lambat dan

rendahnya kreativitas. Padahal dengan otonomi diharapkan kreativitas dan dina-

mika itu muncul.

Kedua, diperkenalkan model pengelolaan sekolah yang disebut Manaje-

men Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Pengertiannya adalah suatu

model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan

mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan secara langsung

semua warga sekolah untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan

pendidikan nasional. (Direktorat Dikmenum. 2001 : 5). Pada dasarnya bahwa

pengelolaan sekolah yang mencakup beberapa aspek harus digarap secara

berbarengan.

Ketiga, Adanya komitmen dari Pemerintah untuk menaikkan anggaran

pendidikan dalam APBN secara bertahap menjadi 20 %. Namun sampai tahun ka-

pan angka 20% bisa terwujud adalah tergantung dari kemauan politik pemerintah,

sedangkan pengembangan SDM sudah sangat mendesak. Belum lagi permasa-

lahan otonomi apakah daerah juga mempunyai komitmen terhadap pendidikan

yang serupa? Lepas dari semua itu, iktikat baik dari pemerintah selayaknya

dihargai.

Page 8: Karya ilmiah4

Harapan pemerintah dengan adanya standar acuan, model manajemen,

dan dana dimaksudkan agar bisa memaksimalkan pengembangan sekolah secara

tepat. Sehingga keberhasilan suatu sekolah tidak dipandang hanya dari segi

pengembangan fisik belaka namun lebih dari itu, yaitu kemampuan sekolah untuk

memberikan pelayanan kepada siswa dalam mengembangkan potensinya.

Berkait dengan potensi siswa, Gardner (1993) mengemukan teori

intelegensi majemuk, yang membedakan intelegensi menjadi delapan macam,

yaitu, (1) logis-matematis, (2) linguistik, (3) Musikal, (4) Visual-Spasial, (5)

Kinestetik, ( 6) Interpersonal, (7) Intraperonal, dan (8) kecerdasan

naturalis.(Sofyan. 2004 : 9)

Dari berbagai latar tersebut di atas diperlukan adanya dasar pemikiran

tentang paradigma sekolah dan pendekatan pengelolaan sekolah yang menjadi

filosofi kinerja sekolah. Dengan demikian sekolah itu tidak terjebak pada tradisi

dan konvensi yang cenderung pada status quo yang membosankan.

Untuk menjadikan sekolah itu dinamis dan kreatif, pengelola sekolah

hendaknya mempunyai pandangan bahwa sekolah sebagai pusat layanan

pembelajaran, dimana pengelola harus selalu mencari bentuk-bentuk layanan

baru yang mendukung pada pengembangan potensi siswa. Melalui proses kreatif

dalam usaha penciptaan layanan baru yang terus menerus memungkinkan sekolah

mampu menjadi wadah pengembangan beraneka ragam potensi siswa.

Bertitik tolak dari paradigma sekolah yang demikian tentu membawa

konsekuensi logis terhadap model pendekatan terhadap pengelolaan sekolah.

Sebagaimana disampaikan di depan bahwa sekolah tidak bisa dipahami secara

parsial untuk itu jawaban yang tepat dengan paradigma tersebut adalah

pengelolaan sekolah dengan model pendekatan komprehensif. Sekolah bukan lagi

dipandang secara “fisik” belaka namun juga mempunyai “ruh”, sehingga sekolah

itu hidup, dinamis dan mempunyai kreativitas.

Pemahaman konsep tersebut di atas, kemudian digunakan untuk

mengevaluasi kondisi pada SMA Negeri 1 Purwareja-Klampok, Banjarnegara,

Jawa Tengah.

Page 9: Karya ilmiah4

1. Kondisi Kelas

Pada umumnya kelas berkisar antara 40 sampai 44 siswa. Pertimbangan ju-

mlah siswa yang melebihi dari 40 siswa per kelas adalah : (1) angka drop out

masih relatif tinggi, dan (2) besarnya siswa berarti pemasukan dana sekolah

yang berasal dari masyarakat. Secara formal system pengajarannya di-

laksanakan secara klasikal dimana seorang guru melayani siswa sebanyak itu.

2. Program Penerimaan siswa baru (PSB)

Program PSB dilaksanakan sesuai dengan aturan dari pemerintah tanpa ada

modifikasi. Seleksi penerimaan melalui perangkingan NEM SMP secara

transparan. Kebanyakan siswa yang mempunyai NEM tinggi kurang berminat

bersekolah di SMA Negeri Purwareja-Klampok. Tetapi upaya recruitmen

lain agar tamatan siswa SLTP yang mempunyai NEM tinggi mau mendaftar

pada sekolah ini tidak ada.

3. Penghargaan Sekolah

Penghargaan terhadap siswa berprestasi secara nyata dilakukan dalam bentuk

beasiswa yang berasal dari Pemerintah. Pada hal alokasi beasiswa jumlahnya

terbatas akibatnya ada anak yang berprestasi tidak memperoleh beasiswa

tersebut. Kondisi demikian bisa mempengaruhi turunnya motivasi berprestasi

siswa yang berdampak pada sepinya prestasi sekolah. Kita ketahui bersama

bahwa produk sekolah yang bisa dibanggakan adalah prestasi, baik akademis

maupun non-akademis. .

4. Olympiade Mata Pelajaran

Prestasi akademik yang dinilai prestice salah satunya adalah pretasi hasil

lomba olimpiade mata pelajaran. Usaha ke arah itu biasanya dilakukan melalui

penunjukkan terhadap siswa yang mempunyai rangking nilai tinggi di sekolah.

Setelah dilakukan pembinaan secukupnya siswa mengikuti lomba, dan hasil

lomba yang dicapai tidak pernah dipermasalahkan. Dengan demikian evaluasi

terhadap hasil lomba olympiade dan Program pembinaan yang intens tidak

dilakukan.

Page 10: Karya ilmiah4

5. Program Bahasa Jepang

Salah satu SMA di Kabupaten Banjarnegara yang menyelenggarakan program

bahasa adalah SMAN 1 Purwareja-Klampok. Jumlah kelasnya ada satu kelas

dengan siswa sekitar 35 anak. Gurunya hanya satu orang dengan basis

pendidikan S1 Bimbingan dan konseling. Tetapi guru tersebut pernah

mendapatkan pendidikan di Jepang selama 2 tahun. Pembelajaran bahasa

Jepang untuk kelas X dan II tidak ada, sehingga anak tidak pernah

mendapatkan gambaran program bahasa Jepang. Sedangkan usaha secara

terencana agar siswa memilih program bahasa juga tidak ada. Keadaan

demikian dikhawatirkan bisa mengurangi minat siswa mengambil program

bahasa, bila dibiarkan semakin lama bisa kolep.

6. Program vocational skills

Seperti sekolah SMA pada umumnya adanya program karena adanya proyek.

Program life skills tidak bisa jalan untuk tahun berikutnya karena rancangan

awal yang tidak baik. Padahal program tersebut sangat tepat untuk SMA

Negeri 1 Purwareja-Klampok karena sekitar 75% tidak melanjutkan studi ke

Perguruan Tinggi. Program vocational skills belum sepenuhnya mengena pada

sasaran karena baru sebagian kecil siwa yang terjaring. Oleh karena itu perlu

ada program yang bisa dilakukan secara mudah, efisien, applicable dan

keahliannya mendesak dibutuhkan pada saat ini.

7. Promosi sekolah

Keberhasilan apapun yang dilakukan oleh sekolah bila tidak pernah kita

informasikan ke masyarakat, mereka akan tetap menganggap sekolah dengan

tanpa perubahan. Masyarakat berhak mendapatkan informasi apa saja tentang

sekolah, sehingga mereka bisa menilai seberapa besar kredibel dan

akuntabilitasnya. Orang tua tidak merasa sanksi untuk menyekolahkan

anaknya bila memang sekolah tersebut kredibel. Yang perlu dicari adalah

dengan cara bagaimana masyarakat mendapatkan informasi sekolah tetapi

sekaligus bisa digunakan oleh siswa untuk mengembangkan potensinya.

Page 11: Karya ilmiah4

8. Pembinaan Mental Keagamaan

Kegiatan keagamaan siswa dikoordinir oleh seksi bidang keagamaan dalam

OSIS sehingga kegiatan yang ditangani lebih banyak yang bersifat seremonial.

Pembinaan keagamaan secara intensif di luar KBM belum dilakukan tetapi

baru sebatas insidental. Adapun yang argumen yang mendasarinya adalah

tidak tersedianya guru yang mencukupi untuk sejumlah 800 anak serta tidak

adanya wadah tersendiri untuk ekstra keagamaan. Akibatnya fungsi sekolah

sebagai pusat layanan kepada siswa dalam bidang keagamaan belum

berfungsi maksimal.

9. Ulangan Harian

Semua guru sudah memahami bahwa setelah melakukan pembelajaran mereka

harus melakukan evaluasi kemajuan belajar. Namun tidak semua guru tertib

melakukan hal yang demikian. Yang sering terjadi evaluasi banyak dilakukan

mendekati test akhir semester. Akibatnya siswa harus mempelajari tumpukan

materi cukup banyak, serta harus merecall ingatannya atas materi yang pernah

dipelajari karena tenggang waktunya yang cukup lama.

Pembahasan

Dari fakta-fakta yang penulis temukan di SMA Negeri 1 Purwareja-

Klampok, tampak bahwa kondisi demikian akan menghambat perkembangan

sekolah. Sekolah memerlukan perubahan yang bersifat mendasar karena

menyangkut filosofi tentang sekolah. Perubahan cara memandang terhadap

sekolah tentu berpengaruh bagaimana kita bersikap dan berperilaku.

Konsep paradigma sekolah sebagai pusat layanan pengembangan potensi

siswa membawa perubahan prioritas. Titik focus perhatian adalah potensi siswa

setelah itu baru dicarikan bentuk solusi pengembangannya. Dan dampaknya

terhadap manejemen pun berubah, yang biasanya selalu berorientasi pada fisik

tetapi sekarang dilakukan secara komprehensif. Kalau kita ibaratkan komputer

yang berbentuk fisik kita sebut Hardware sedangkan programnya kita sebut

Page 12: Karya ilmiah4

Software. Software yang berbentuk program-program sekolah inilah yang

membuat sekolah jadi hidup, dinamis dan kreatif.

Berdasarkan temuan-temuan di atas dan merujuk pada konsep sekolah

sebagai pusat layanan potensi dan manajemen komprehensif, penulis membuat

program sebagai jawaban masalah yang di hadapi sekolah. Program tersebut

adalah :

1. Program Kelas Non-Reguler

Bermula dari sebuah pengalaman ketika penulis menjadi kepala sekolah

di SMA 1 Negeri Karangkobar. Pada saat itu ada kesulitan dalam penjurusan

siswa, karena jumlah masukan tidak sesuai dengan jumlah yang dikendaki.

Rancangan semula untuk program IPA ditambah sedangkan Program IPS

dikurangi. Namun Jumlah masukan ke IPA tidak memadai akhirnya dikurangi,

resikonya program IPA ada 2 kelas gemuk ( lebih dari 40 anak per kelas).

Jumlah masukan IPS jadi bertambah banyak melebihi dari 2 kelas gemuk.

Akhirnya diputuskan IPS menjadi 3 kelas yang perkelasnya 35 anak.

Pertimbangan lainnya adalah masukan dari guru-guru yang mengajar di kelas

III IPS, bahwa jumlah siswa lebih dari 40 anak merupakan beban berat.

Setelah berjalan satu tahun pelajaran barulah diketahui hasil yang

diharapkan, yaitu dari sejumlah 5 kelas, hanya satu anak yang harus

mengulang ujian. Berdasarkan pengalaman dimungkinkan sekali yang tidak

lulus bisa lebih dari 8 anak. Menurut pemikiran penulis ada beberapa alasan

mengapa kelas gemuk tidak menguntungkan dalam pembelajaran.

a. Siswa tidak mendapatkan pelayanan secara maksimal

Dalam pembelajaran sangat dimungkinkan bila seorang guru dengan anak

yang berjumlah di atas 40, tentu ada sebagian yang tidak bisa dibantu

dengan baik. Akibat selanjutnya adalah porsi bantuan yang diberikan oleh

guru kepada siswa juga tidak merata, dan hasilnya kedalaman penguasaan

suatu bahan pelajaran yang dipelajari sangat variatif. Dan sesuai dengan

perjalanan waktu akumulasi ketidaktuntasan belajar semakin besar karena

guru harus mengejar target kurikulum. Keputusan tersebut menyebabkan

guru mengabaikan fungsi pelayanan terhadap sebagian besar siswa yang

Page 13: Karya ilmiah4

kurang berpotensi karena target kurikulum. Dampaknya terhadap prestasi

akademik daya serapnya menjadi rendah, dan terjadilah manajemen nilai.

b. Permasalahan yang timbul dari kelas padat lebih besar

Sangat dimungkinkan bahwa dalam satu kelas terdapat beberapa anak

yang sangat aktif (untuk tidak menyebut anak nakal). Meskipun tidak

banyak bila mereka berkumpul dan berinteraksi tentu suasana kelas

menjadi gaduh dan bising. Bila kondisi ini tidak bisa diatasi dengan baik

tentu akan mengganggu proses pembelajaran di kelas. Concern guru lebih

banyak terganggu untuk mengelola anak yang aktif tersebut dari pada

memfasilitasi penguasaan materi pelajaran, dan akibatnya pembelajaran

berjalan sangat lambat. Dampaknya terhadap guru menjadi cepat capai

karena menangani lebih banyak masalah yang timbul di kelas.

Berdasarkan pengalaman dan masukan-masukan tentang kelemahan

kelas gemuk, kemudian kami menawarkan kepada guru-guru untuk membentuk

kelas Non-Reguler. Pemilihan nama tersebut lebih pada pertimbangan untuk

menghindari kesan eksklusif. Pembentukan kelas Non-Reguler diharapkan agar

siswa bisa mendapatkan layanan maksimal dalam mengembangkan potensinya.

Dengan demikian konsep kelas Non-Reguler harus dibuat sebagai berikut :

1. Siswa dalam kelas tidak boleh lebih dari 30 anak.

2. Batas tuntas lebih tinggi dari pada kelas Reguler.

3. Penerimaan siswa berdasarkan pilihan siswa pada waktu pendaftaran.

4. Dari jumlah pendaftar dirangking sampai rangking 30. Rangking 30 ke

bawah dimasukkan kelas reguler.

5. Guru yang mengajar pada kelas Non-Reguler merupakan guru pilihan.

6. Rangking pada kelas Non-Reguler tidak berdiri sendiri tetapi disebar

dimasukan pada kelas reguler. Hal ini untuk mensiasati masuk ke PTN

melalui jalur PMDK.

7. Di kelas Non-Reguler diberikan layanan konsultasi pembelajaran.

8. Media pembelajaran yang digunakan juga lebih terpenuhi

9. Karena dalam satu kelas hanya terdiri dari 30 anak, pembayaran dana

komite sekolah juga lebih besar.

10. Menempati ruang kelas yang representatif.

Page 14: Karya ilmiah4

2. Program Quota Penerimaan Siswa Baru (PSB)

Letak SMA Negeri 1 Purwareja-Klampok sebetulnya sangat strategis

berada ditengah segitiga kabupaten, yaitu Banjarnegara, Purbalingga dan

Banyumas. Tetapi letak yang demikian, sekolah kurang diuntungkan dalam

penjaringan bibit unggul. Masyarakat mampu Purwareja-Klampok, bila

anaknya mempunyai potensi besar, lebih cenderung mengirimkan anaknya

bersekolah di SMA lain di luar kecamatan Purwareja-Klampok.

Dampaknya terhadap SMA Negeri 1 Purwareja-Klampok, jumlah input

berpotensi yang masuk sangat sedikit. Kondisi demikian menyebabkan

sekolah kesulitan keluar dari stigma sebagai subordinate sekolah lain di

sekitarnya. Upaya apapun yang ditempuh dalam meningkatkan prestasinya

akan terasa berat untuk mengungguli SMA 1 Purbalingga, Banyumas dan

Banjarnegara. Dengan demikian harus ada cara lain untuk mengangkat nama

SMA Negeri 1 Purwareja-Klampok yang selanjutnya bisa digunakan untuk

membuat opini publik.

Dari dasar pemikiran itu maka muncullah wacana adanya Quota PSB.

Maksudnya SMA Negeri 1 Purwareja-Klampok memberikan Quota yang

berbeda kepada SLTP sesuai dengan peringkat image sekolah tersebut di

masyarakat. Quota tersebut diperuntukkan bagi siswa yang berprestasi agar

mau masuk ke SMA. Jumlah Quota berkisar antara 10 sampai dengan 15 anak

berhak mendapat keringanan keuangan sekolah selama satu semester. Dan

bahkan apa bila salah satu diantara mereka menempati ranking tertinggi dalam

pendaftaran ia berhak mendapatkan keringanan keuangan operasional sekolah

selama satu tahun. Meskipun demikian tawaran inipun belum direspond

dengan baik oleh masyarakat, bahkan mereka mengira sekolah lain melakukan

hal yang sama.

3. Program Rewards

Page 15: Karya ilmiah4

Agar SMA Negeri 1 Purwareja-Klampok memperoleh banyak prestasi

maka sekolah harus kreatif membuat wadah-wadah kegiatan yang diantaranya

dengan memperbanyak jenis kegiatan ekstra kurikuler. Selain itu untuk

meningkatkan motivasi berprestasi baik bidang akademik maupun non-

akademik, sekolah menyediakan hadiah bagi siswa dan guru yang berprestasi.

Pengaturan besarnya dana tersebut ditetapkan dengan keputusan Kepala

Sekolah. Dengan demikian Beasiswa Prestasi yang ada di sekolah bukan saja

berasal dari Pemerintah tetapi juga berasal dari dana operasional sekolah

sumbangan orang tua murid.

Dampaknya sungguh di luar dugaan, karena yang tadinya tidak pernah

diperhitungkan dalam berbagai perlombaan sekarang hasilnya menjadi Juara

Umum II PORSENI Kabupaten dan Juara Umum II Olimpiade Sain dan

Astronomi Kabupaten. Berikut ini saya sajikan tabel beasiswa prestasi yang

dijadikan acuan selama ini. Meskipun tampak kecil namun secara kumulatif

pengeluarannya besar.

No.

Uraian Beasiswa Tingkat Individu Individu Kelompok Keterangan

Kompetisi Seleksi Kompetisi

1 Juara I Nasional Bebas OP Bebas OP Bebas OP 1 OP = Rp 50,000

2 Juara II Nasional 12 OP 12 OP 12 OP 3 Juara III Nasional 7 OP 7 OP 6 OP 4 Juara I Propinsi 6 OP 2 OP 3 OP 5 Juara II Propinsi 5 OP 1 OP 2.5 OP 6 Juara III Propinsi 2 OP 4/5 OP 2 OP 7 Juara I Kabupaten 2 OP 1 OP 8 Juara II Kabupaten 1 OP 4/5 OP 9 Juara III Kabupaten 4/5 OP 3/5 OP

10 Pendaftar Tertinggi 12 OP

11 Program Kuota 6 OP

12 Juara Paralel 6 OP

Page 16: Karya ilmiah4

Saya katakan bahwa rewards ini juga berlaku untuk guru dan staf TU yang berprestasi, dan tabelnya adalah sebagai berikut :

No. Reward Guru Tingkat Individu Kelompok Keterangan Kompetisi Kompetisi

1 Juara I Nasional 900,000 900,000 Setiyadi S.Pd 2 Juara II Nasional 800,000 800,000 3 Juara III Nasional 700,000 700,000 Untuk Kelom- 4 Juara I Propinsi 600,000 600,000 pok dibagi 5 Juara II Propinsi 500,000 500,000 jml anggotanya 6 Juara III Propinsi 400,000 400,000 7 Juara I Kabupaten 300,000 300,000 8 Juara II Kabupaten 200,000 200,000 9 Juara III Kabupaten 100,000 100,000

10 Teacher 300,000 of the Year

4. Program Interest Groups

Konsep pembinaan interest groups bermula dari pengalaman dalam

lomba Olimpiade mata pelajaran dimana SMA Negeri 1 Purwareja-Klampok

kurang mendapatkan posisi yang menguntungkan. Salah satu penyebab yang

bisa dipertanggungjawabkan adalah pembinaan yang lemah di sekolah.

Keadaan demikian tentu secepatnya harus dibenahi dengan pola

pembinaan berbeda dari yang selama ini digunakan. Kemudian Pola Interest

Groups diketengahkan. Dalam Interest Group guru diberi kebebasan mencari

dan membina siswa-siswa yang berprestasi dari kelas X dan II, yang

berjumlah berkisar 10 anak untuk setiap mata pelajaran. Rancangannya

pembinaan kelas II untuk lomba tahun sekarang sedangkan kelas X untuk

tahun berikutnya. Bila rencana ini berjalan baik tentu tidak ada alasan untuk

tidak menjadi yang terbaik. Terbukti untuk tahun ini mampu menempati Juara

Umum II Kabupaten.

Namun kendalanya sebagian guru tidak mudah berubah dari kebiasaan

yang sebelumnya dijalankan. Pembinaan rutin secara kontinyu menjadi

tersendat. Berikutnya yang diperlukan adalah system pengendalian kegiatan

yang bisa menjamin pembinaan itu lancar.

Page 17: Karya ilmiah4

5. Program sekolah berwawasan bahasa Jepang

Di SMA lain mungkin juga ada pembelajaran bahasa Jepang namun jelas

SMA Negeri 1 Purwareja-Klampok mempunyai arah yang berbeda. Pelajaran

bahasa Jepang diperkenalkan sejak kelas X dikandung maksud untuk

mendukung penjurusan program Bahasa pada kelas XI, sedangkan

pembelajaran pada kelas II untuk mendukung program bahasa pada kelas III.

Dengan demikian pembelajaran Bahasa Jepang ditangani serius bukan sekedar

semacam lip services di mata masyarakat.

Dasar pemikiran praktis ditetapkannya bahasa Jepang sebagai wawasan

khusus sekolah selain logika di atas yaitu adanya kecenderungan masyarakat

menjadikan Jepang sebagai tempat tujuan kerja. Last but not least sekolah

selalu concern mewadahi keinginan anak yang ingin mengembangkan

potensinya di bidang bahasa untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi.

6. Program vocational skills

Mayoritas tingkat penghidupan orang tua/wali murid SMA Negeri

Purwareja Klampok berekonomi lemah. Sangat bisa dipahami bila siswa yang

melanjutkan ke Perguruan Tinggi juga sedikit ( 25%). Agar siswa yang telah

lulus nantinya berketrampilan dan bisa mandiri, sekolah menerapkan program

vocational skills. Dan ketrampilan yang dikembangkan adalah Komputer dan

Elektronika.

Sepintas kilas mungkin tidak berbeda dengan sekolah lain dalam

menerapkan vocational skills, tetapi sebetulnya ada perbedaan yang mendasar.

Perbedaan tersebut adalah sebagai berikut :

1. Program vocational skills di SMA Negeri 1 Purwareja-Klampok

dimasukkan ke dalam intra kurikuler.

2. Program komputer diberikan untuk seluruh kelas, dari kelas X, II dan

III. Pada akhir kelas X dan II diharapkan siswa sudah mahir MS Word

dan Excel, sedangkan siwa kelas III terampil pada Komputer

Akuntansi.

3. Program Elektronika sedang dikembangkan pada seluruh kelas X.

Pilihan Elektronika diambil karena pertama, bidang ini bisa dikuasai

Page 18: Karya ilmiah4

baik oleh anak putra maupun putri sehingga guru mudah mengelola

kelas. Kedua, Guru sudah tersedia. Ketiga, Tenaga kerja bidang

elektronika pada masa ini banyak dibutuhkan.

4. Program Elektronika dirancang berkelanjutan sampai kelas XII.

7. Program Pembentukan Image sekolah (Radio Sekolah, Majalah sekolah,

Internet dan Web site )

Sekolah mungkin sudah berusaha banyak hal dan memperoleh banyak

kesuksesan namun image masyarakat terhadap SMA Negeri 1 Purwareja-

Klampok sebagai sekolah alternatif belum berubah. Keadaan demikian tentu

menyulitkan bagi sekolah untuk berkembang dan mendapatkan kepercayaan

yang lebih besar.

Agar image mayarakat terhadap sekolah berubah, sekolah harus

produktif dan aktif memberikan informasi tentang inovasi, prestasi, dan

aktivitas sekolah terhadap masyarakat. Untuk itulah diperlukan adanya sarana

sebagai pusat informasi dan sekaligus sebagai sarana pengembangan potensi

siswa. Sarana tersebut adalah Majalah sekolah, Radio Sekolah, dan Internet.

Majalah Sekolah dikembangkan dari majalah dinding. Terbit 2 kali

setahun pada akhir semeter gasal dan genap. Melalui majalah ini masyarakat

mendapatkan banyak informasi perkembangan sekolah dalam kurun waktu

satu semester. Sedangkan bakat siswa dalam tulis menulis mendapat tempat

pengembangan.

Efektifitas majalah dirasa kurang, maka muncullah Radio Sekolah yang

setiap sore melakukan siaran. Radio Sekolah mengudara dengan Frequensi

FM 89,7 dan daya jangkau sampai 5 km di sekitar sekolah. Dengan banyaknya

informasi dari sekolah diharapkan masyarakat lebih rasional dalam

memandang SMA Negeri 1 Purwareja-Klampok.

Tetapi melalui radio sekolah informasi lebih cenderung satu arah yaitu

dari sekolah ke masyarakat. Supaya sekolah juga memperoleh akses dari luar,

sekarang sekolah sedang merancang web site untuk di launching. Meskipun

demikian untuk memenuhi kebutuhan informasi penting saat ini sudah bia

diatasi dengan internet sekolah.

Page 19: Karya ilmiah4

8. Kerjasama dengan Yayasan keagamaan dalam pembinaan Mental

Tenaga guru agama terbatas hanya ada 3 orang dengan siswa lebih dari

800. Tidak bisa dipungkiri bahwa pada bulan puasa pembinaan agama tidak

bisa dilakukan dengan intensif mendalam. Untuk mengatasi permasalahan

tersebut sekolah melakukan kerja sama dengan lembaga keagamaan untuk

pembinaan.

Dalam kerja sama ini sekolah hanya sekedar memberikan sumbangan ala

kadarnya. Sedangkan pihak Yayasan bertanggung jawab pada pembinaan

program yang sudah disetujui oleh pihak sekolah. Dalam kegiatan keagamaan

ini, guru agama sekolah bertindak sebagai koordinator.

Tindak lanjut pembinaan keagamaan ini kemudian diteruskan tidak

hanya pada bulan puasa, namun dalam bentuk kegiatan yang berbeda. Dengan

demikian anak mendapatkan layanan kegiatan ekstra keagamaan dalam wadah

Rohani Islam (Rohis).

9. Program pengendalian Ulangan Harian (Komputer on line)

Karena berbagai alasan yang tidak rasional, keteraturan ulangan harian

sering tidak dilakukan dan yang terjadi penumpukan ulangan harian. Untuk

mempermudah pengendalian ulangan harian, sekolah mengaplikasikan

manajemen on line. Dalam program ini guru disediakan beberapa komputer

untuk mengimput hasil ulangan harian.dengan password yang dimiliki.

Selanjutnya Kepala Sekolah dan Bagian Biro bisa mengetahui siapa-

siapa guru yang belum melakukan ulangan harian sesuai jadwal yang

ditentukan. Dan melalui pembinaan briefing Kepala Sekolah dapat

menyampaikan program ulangan harian untuk dilaksanakan secara teratur.

Sebetulnya Komputer on line ini bukan sekedar dimaksudkan untuk

pengendalian ulangan harian saja tetapi untuk kepentingan yang lebih luas

karena komputer on line menyangkut masalah manajemen. Pada saat ini yang

sudah bisa diakses melalui on line adalah Komputer Kurikulum, Biro

Akademik, Kepala Sekolah¸Tata Usaha Sekolah, Guru, Piket dan BP/BK.

Page 20: Karya ilmiah4

Kesimpulan, Implikasi, dan Saran

Kesimpulan. Kondisi awal pada saat penulis bertugas di SMA Negri 1

Purwareja-Klampok menunjukkan bahwa sekolah miskin layanan baik dalam

bentuk fisik maupun non-fisik. Untuk fisik bisa ditelusuri dari minimnya sarana

layanan misalnya tidak representatifnya WC, Kantin, ruang-ruang kegiatan

siswa. Sedangkan untuk Non-Fisik ditunjukkan oleh sedikitnya program layanan

yang berupa ekstra kurikuler, program peningkatan mutu sekolah, program

vocational skills, program pembinaan mental dan program hubungan masyarakat.

Permasalahan sarana layanan sangat mudah dipecahkan karena asal

sekolah punya dana, perbaikan dan pengadaan sarana langsung bisa dilakukan

oleh siapa saja. Tetapi permasalahan program layanan adalah permasalahan

kreativitas dan kredibilitas wawasan Kepala Sekolah. Dan keragaman program

layanan karena menyangkut masalah pemahaman Kepala Sekolah terhadap

Paradigma Sekolah.

Pemahaman pengelola sekolah terhadap paradigma sekolah berpengaruh

besar terhadap model pendekatan pengelolaan sekolah. Konsekuensi paradigma

sekolah sebagai pusat layanan siswa dalam mengembangkan potensinya secara

maksimal maka orientasi pengembangan sekolah harus merujuk pada kebutuhan

siswa. Oleh karena itu pengelolaan sekolah harus dilakukan secara berkese-

imbangan antara pembenahan fisik dan Non-Fisik.

Sekolah bukan lagi dipandang secara fisik belaka namun sesuatu hal

hidup yang mampu memberikan layanan. Karena beragam kebutuhan siswa perlu

mendapatkan layanan maka sekolah berkewajiban mengembangkan berbagai

macam program Layanan tersebut berupa program yang applicable dan efisien.

Sekolah dikatakan efektif bilamana semua siswa bisa mendapatkan layanan

penuh. Melalui program-program tersebut sekolah menjadi hidup dinamis penuh

dengan kreativitas dan semangat, sehingga bersekolah itu menyenangkan,

mengasyikkan dan mencerdaskan.

Implikasi. Paradigma Sekolah dan Konsep pengelolaan Sekolah Secara

Komprehensif menuntut Kepala Sekolah kreatif membuat produk-produk layanan

dalam bentuk wadah kegiatan siswa. Dan konsisten terhadap komitmen sekolah

sebagai pusat layanan, konsekuensinya sekolah harus mengadakan banyak

Page 21: Karya ilmiah4

program layanan dengan dana yang tidak sedikit. Berbagai masukan dari guru,

karyawan atau murid sepanjang menyangkut pelayanan siswa demi kemajuan

sekolah sedapat mungkin diusahakan.

Pembentukkan banyak program layanan memerlukan banyak SDM yang

kredibel, akibatnya sekolah harus mencari SDM tersebut untuk menutupi

kekurangannya. Untuk memastikan semua kegiatan berjalan dengan baik maka

pengendalian program segera dilakukan.

Saran-saran. Wawasan Kepala Sekolah tentang paradigma sekolah

membawa pengaruh pada pola pikir dalam pengembangan sekolah. Pemikiran

inovasi sekolah agar bisa diaplikasikan memerlukan dukungan warga sekolah.

Kepala sekolah harus mampu meyakinkan bahwa konsep yang ditawarkan bisa

dilaksanakan dengan efektif dan efisien.

Inovasi dalam banyak hal berarti perubahan dengan banyak pekerjaan.

Ada kecenderungan manusia untuk menghindari pekerjaan baru karena ia harus

mengkonsentrasikan pikiran dan tenaga untuk mempelajari pekerjaan baru

tersebut. Kendala yang bakal muncul adalah kurangnya dukungan yang berakibat

tidak lancarnya kegiatan sehingga hasilnya tidak maksimal. Agar program layanan

berjalan baik maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan, diantaranya :

1. Ada argumen yang kuat mengapa suatu program layanan perlu diadakan.

2. Program layanan yang ditawarkan sebelumnya disosialisasikan kepada

guru sebelum ada kesepakatan.

3. Setelah mendapatkan dukungan, tim program layanan bisa dibentuk.

4. Ada aturan dan prosedur kerja sehingga tim bekerja sesuai dengan

jobnya.

5. Dana kegiatan disediakan.

6. Bila mana kegiatan sudah berjalan maka monitoring sebagai sarana

pengendalian harus dilakukan dengan baik.

7. Evaluasi program dilakukan untuk perbaikan program.

8. Hasil program layanan harus segera diinformasikan kepada masyarakat.

Page 22: Karya ilmiah4

Daftar Pustaka Biro Hukum dan Organisas Depdiknas. 2003. Undang-Undang Republik

Indonesia : Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta Boyan, Norman J. (ed). 1988. Handbook of Research on Educational

Administration. New York : Longman Inc. Direktorat Dikmenum Depdiknas. 2003. Pedoman Penyusunan StandarPelayanan

minimal Penyelenggaraan Persekolahan Bidang Dikdasmen. Jakarta Direktorat Dikmenum Depdiknas. 2001. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis

Sekolah Ed. 3. Jakarta Hasibuan, Bara. 2004. 26 Juni. Human development : Siapa Peduli? Kompas, h.

4. Sofyan, Herminanto. 2004. Pedoman Khusus : Penelusuran Potensi Siswa.

Jakarta : Depdiknas Orstein, Allan C. and Levine, Danile U. 1985. An Introduction to the Foundations

of Education. Boston : Houghton Miffin Company. Orlosky, Donald E .et al. 1984. Educational Administration Today. Ohio : Charles

E. Merill Publising Company Sinar Grafika. 2001. Undang-Undang Otonomi Daerah 1999. Jakarta

Page 23: Karya ilmiah4

SMA NEGERI 1 PURWAREJA-KLAMPOK

KABUPATEN BANJARNEGARA, JAWA TENGAH JL RAYA PURWAREJA-KLAMPOK Telp. (0286) 479092

BANJARNEGARA 53474

BIO DATA

N a m a : Supriyadi

N I P : 131650243

Tempat/ Tgl Lahir : Wonogiri 4 Mei 1960

Jenis Kelamin : Laki-Laki

Pendidikan Terakhir : S2

Jurusan : Administrasi Pendidikan

Nama Sekolah : SMA Negeri 1 Purwareja-Klampok, Banjarnegara

Alamat Sekolah : Jl. Raya Purwareja-Klampok, Banjarnegara 53474

Jabatan sekarang : Kepala Sekolah.

Mengajar Mata Pelajaran : Bahasa Inggris

Prestasi Sebagai Guru SMA : Mewakili Jawa Tengah sebagai Exchange Teacher

Jawa Tengah-Quensland, Australia

Prestasi sebagai Kepala SMA : ---

Banjarnegara, 1 juli 2005

S U P R I Y A D I NIP 131650243

Page 24: Karya ilmiah4

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Supriyadi. lahir di Wonogiri, 4 Mei 1960. Pendidikan Dasar di selesaikan di Desa

Ngarjosari Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri pada tahun 1972.

Kemudian melanjutkan sekolah ke SMP Sultan Agung Tirtomoyo, selesai tahun

1975. Dan pada tahun 1979 menyelesaikan sekolah di SPG Negeri Wonogiri.

Pada tahun 1980 bekerja sebagai guru SD Arjosari 2, sambil kuliah di

Unuiversitas Muhammadiyah Surakarta jurusan Bahasa Inggris, dan gelar sarjana

mudanya diperoleh pada tahun 1983. Gelar sarjana pendidikan Bahasa Inggris

diraih pada tahun 1986 pada universitas yang sama. Pada akhir tahun 1986

diangkat sebagai guru SMU Negeri 1 Banjarnegara.

Selama mengajar di SMU Negeri 1 Banjarnegara ikut juga mengajar di SMU

Muhammadiyah 1 Banjarnegara dan SMU Negeri Wanadadi. Terakhir mengajar

di kedua sekolah tersebut saat diangkat sebagai Guru Inti bidang studi Bahasa

Inggris di Banjarnegara. Pada tahun1996 dipilih sebagai Exchange Teacher

mewakili Jawa Tengah bertugas di Queensland, Australia selama 1 tahun.

Kemudian pada tahun 1999 diangkat sebagai Kepala Sekolah di SMU Negeri 1

Karangkobar sampai dengan Juli 2002, kemudian dimutasikan di SMU Negeri

Wanadadi untuk 1,5 tahun, dan sekarang sebagai Kepala Sekolah di SMA Negeri

1 Purwareja Klampok , Banjarnegara.

Menikah dengan Sri Handayani, S.Pd. pada tahun1991 dan saat ini di

karuniai 2 anak, yaitu Diyan Luqman Nur Fatoni Banjaransari dan Meutia

Setyowati Mahanani Lestari. Pada tahun 2001 mendapat izin belajar meneruskan

pendidikan pada program pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof. Dr.

HAMKA, Program Studi Administrasi Pendidikan.