Jurnal Pendidikan Penabur

download Jurnal Pendidikan Penabur

of 127

  • date post

    08-Dec-2016
  • Category

    Documents

  • view

    309
  • download

    31

Embed Size (px)

Transcript of Jurnal Pendidikan Penabur

  • Diterbitkan oleh:

    BADAN PENDIDIKAN KRISTEN PENABUR (BPK PENABUR)

    I S S N : 1412-2588

    Jurnal Pendidikan Penabur (JPP) dapat dipakaisebagai medium tukar pikiran, informasi, dan

    penelitian ilmiah para pemerhati masalah pendidikan.

    Penanggung JawabIr. Suwandi Supatra, MT.

    Pemimpin RedaksiProf. Dr. BP. Sitepu, M.A.

    Sekretaris RedaksiRosmawati Situmorang

    Dewan EditorProf. Dr. BP. Sitepu, M.A.

    Prof. Dr. Theresia K. BrahimDr. Ir. Hadiyanto Budisetio, M.M.

    Dr. Elika Dwi Murwani, M.M.Etiwati, S.Pd., M.M.

    Ir. Budyanto Lestyana, M.Si.

    Alamat Redaksi :Jln. Tanjung Duren Raya No. 4 Blok E Lt. 5, Jakarta Barat 11470

    Telepon (021) 5606773-76, Faks. (021) 5666968http://www.bpkpenabur.or.id

    E-mail : jurnalpenabur@bpkpenabur.or.id

  • iJurnal Pendidikan Penabur - No. 24/Tahun ke-14/Juni 2015

    Jurnal Pendidikan PenaburNomor 24/Tahun ke-14/Juni 2015

    ISSN: 1412-2588

    Daftar Isi, i

    Pengantar Redaksi, ii - v

    Peningkatan Partisipasi dan Prestasi Belajar Drama Dengan Metode Investigasi Kelompok,Yohanes Paiman, 1-26

    Peran Role Playing Berbasis Komputer Pada Kesiapan Belajar Anak Usia Prasekolah 4-5 TahunDilihat Dari Kematangan Emosional, Felucia Hendriette, 27-48

    Bimbingan Belajar Dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa Sekolah Dasar,Fransiska, 49-58

    Implementasi Refleksi Teologis Orasi Daud Bagi Perkembangan Karakter Siswa MelaluiPendidikan Kristen, Maria Evvy Yanti, 59-72

    Pemanfaatan Media Pembelajaran di Sekolah Dasar, Hilda Karli, 73-91

    Penggunaan Fun Multiplication Beads Untuk Meningkatkan Kemampuan Perkalian Siswa,Sih Retno Hastuti, 92-101

    Tantangan Pendidikan Nasional Indonesia di Era AFTA 2015, Kumalasari Onggobawono,102-110

    Isu Mutakhir: Ujian Nasional Berbasis Komputer, Mudarwan, 111-114

    Resensi buku: Guru Gokil Murid Unyu, Wahyu Kris Aries Wirawardana, 115-119

  • ii Jurnal Pendidikan Penabur - No.24/Tahun ke-14/Juni 2015

    Pengantar Redaksi

    etika peserta didik menjadi pusat perhatian dalam prosespembelajaran, berbagai penelitian dilakukan untukmemahami bagaimana sebenarnya manusia belajar. Hasilpenelitian itu dipergunakan mengembangkan pendekatan,

    strategi, metode, dan teknik membelajarkan sehingga memudahkanpemelajar memperoleh, mengembangkan, dan menerapkanpengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dipelajarinya. Berdasarkankajian psikologi, para ahli mengemukakan teori belajar mulai dariteori behavioursme, kognitivisme, konstruktivisme, dan konektivismeserta berbagai teori belajar lainnya. Semua teori itu pada hakikatnyamenjelaskan bagaimana proses belajar terjadi sesuai denganparadigma setiap teori.

    Dilihat dari kronologinya, teori itu dapat dikenali sebagai teorilama, baru, dan mutakhir. Akan tetapi, pada hakikatnya kebenarandan penggunaan teori tidaklah semata-mata ditentukan oleh waktuteori itu ditemukan. Sebagai contoh, teori behaviorisme yang munculjauh sebelum teori belajar lainnya tidaklah berarti teori itu tidak berlakudan tidak dipakai lagi sekarang. Untuk keperluan pembelajarantertentu, teori itu lebih tepat dipergunakan daripada teori lainnya.Misalnya, pembelajaran yang bertujuan untuk memperolahkemampuan mekanistik, teori pembelajaran berdasarkanbehaviorisme paling sesuai. Sedangkan untuk kemampuan yangbersifat kreatif/inovatif, pembelajaran yang berbasis teori kognitivismedan konstruktivisme lebih efektif. Dengan demikian, desainpembelajaran dibuat berdasarkan dan ditentukan oleh tujuanpembelajaran, karakteristik pemelajar, serta lingkungan belajar.

    Di samping memperoleh kemampuan yang dikehendaki,pengalaman belajar diharapkan dapat menambah keterampilanpemelajar belajar sehingga pada waktunya dapat menjadikannyapemelajar mandiri sepanjang hayatnya. Dalam kaitannya denganpengalaman belajar, berbagai gagasan juga berkembang. Edgar Dale(19001985) misalnya mengemukakan Cone of Experience berdasarkankajiannya atas berbagai desain pembelajaran dan proses belajar. Coneof Experience mengungkapkan perbedaan retensi atau kemampuanmengingat manusia melalui pengalaman yang berbeda. Manusiamengingat 10% dari membaca (membaca buku pelajaran), 20% darimendengar (penjelasan atau ceramah), 30% dari melihat (gambar),50% dari mendengar dan melihat (pameran), 70% dari mengatakandan menulis (pembicara, pemapar), serta 90% dari melakukan sesuatu(praktek, pemeran peran). Gambaran ini kemudian mengembangkanteori belajar aktif, belajar dengan/sambil berbuat, belajar berdasarkanpengalaman, belajar kontekstual dan berbagai teori lainnya yangmenekankan keaktifan pemelajar secara utuh. Berbagai strategipembelajaran dikembangkan oleh pembelajar agar pemelajar berperansecara aktif dalam proses pembelajaran, misalnya dengan modelpembelajaran simulasi/bermain peran, pembelajaran berbasis

    K

  • iiiJurnal Pendidikan Penabur - No.24/Tahun ke-14/Juni 2015

    masalah, pembelajaran kooperatif atau kolaboratif, dan pembelajaranberbasis proyek.

    Dalam hubungannya dengan pengalaman belajar ini juga, jauhSebelum Masehi, Kong Hu Chu (Confucius) yang hidup 551 479Sebelum Masehi, berpendapat, apa yang hanya didengar akan cepatdilupakan, apa yang hanya dilihat akan diingat, tetapi apa yangdikerjakan akan dipahami. Pendapat ini menunjukkan keaktifanpemelajar menentukan keberhasilan pembelajaran. Pembelajaransecara verbalisme (hanya mendengar) sangat tidak efektif dibandingkandengan secara aktif menggunakan berbagai indera manusia. Pendapatlain berkaitan dengan pentingnya keaktifan mental dan fisik pemelajarterlihat dari pendapat Siberman yang mengatakan bahwa seseorangakan lupa kalau hanya mendengar; mengingat sedikit apa yangdidengar dan dilihat; mulai memahami kalau mendengar, melihat, danmendiskusikan; memperoleh pengetahuan dan keterampilan kalaumendengar, melihat, mendiskusikan, dan melakukan; serta akanmenguasai kalau mengajarkannya kepada orang lain.

    Teori belajar dan membelajarkan menunjukkan pengalaman kong-krit tidak hanya memudahkan, tetapi memotivasi pemelajar belajar danmenambah rasa ingin tahu secara terus menerus serta membuat belajarmenjadi kegiatan menyenangkan. Berbagai teori dan pendapat sepertiyang telah diungkapkan juga mendorong penggunaan alat peraga sertamedia dalam proses pembelajaran. Terlebih-lebih perkembangan cepatteknologi informasi dan komunikasi (TIK), mendorong lembaga pendi-dikan memanfaatka berbagai produk TIK dalam proses pembelajaran,mulai dari yang sederhana sampai paling canggih. Tidak sedikit orangberpendapat bahwa semakin canggih TIK yang diterapkan, semakinmeningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran.

    Penelitian penggunaan TIK dalam pembelajaran, ternyatamembuktikan media pembelajaran bukanlah penentu hasil dan mutupembelajaran. Media pembelajaran secanggih apapun hanya berfung-si mengantarkan pesan (bahan pelajaran) kepada pemelajar. Sebagaipengangkut dan pengantar, media tidak dapat mengubah bahan pelajar-an yang salah menjadi benar, yang acak-acakan menjadi sistematis,yang membosankan menjadi menarik. Karakter dan cara pengemasanbahan pelajaran, karakter pemelajar, serta lingkungan pembelajaranjuga merupakan faktor penentu yang perlu diperhatikan pembelajar.Dengan demikian, bukan kecanggihan media yang menentukan, tetapibagaimana pembelajar kreatif menggunakan media yang ada(sesederhana apa pun) sehingga membuat proses pembelajaran dapatmemudahkan pemelajar aktif, tertarik, dan termotivasi belajar.

    Dengan menggunakan media yang tepat, berbagai kesulitan belajarpemelajar dapat diatasi. Penjelasan verbal dapat diganti denganmenghadirkan objek atau gambar (visual), sehingga tidak memerlukanwaktu yang lama (lebih efisien) dan pemelajar dapat mengerti/memahaminya lebih akurat serta termotivasi belajar (lebih efektif).Menggunakan fasilitas internet pembelajar dan pemelajar dapatmemperoleh berbagai informasi berkaitan dengan pokok bahasan.Kemudahan menggali dan memperoleh berbgai informasi melalui TIKmendorong semakin maraknya penggunaan TIK di lembaga pendidikan.

  • iv Jurnal Pendidikan Penabur - No.24/Tahun ke-14/Juni 2015

    Harga produk TIK yang semakin murah membuat beberapa negaramenerapkan Program Satu Laptop Untuk Setiap Anak (One Laptop PerChild/OLPC) seperti di Peru, Spanyol, dan Cina. Belakangan ini diIndonesia sejumlah sekolah juga menerapkan program ini. Akan tetapipenelitian UNESCO dan Inter-american Development Bank (2010 - 2012)di berbagai negera sedang berkembang menyimpulkan antara lain prog-ram penggunaan komputer untuk setiap anak (a) secara drastis mening-katkan kesempatan bagi anak menggunakan komputer, (b) tidak adabukti meningkatkan kemampuan matematika dan bahasa anak secarasignifikan, dan (c) dapat meningkatkan pengetahuan kognitif anak.

    Setiap disiplin ilmu terus berkembang termasuk pendekatan, strate-gi, metode, dan teknik belajar dan membelajarkan. Dalam kenyataannyajarang terdapat karakteristik pemelajar sepenuhnya homogen tetapiberada pada rentang heterogen. Di lain pihak, keberhasilanpembelajaran diukur dengan standar tertentu: standar lembagapendidikan, standar wilayah, atau standar nasional. Dengan demikianapabila karakteristik masukan (pemelajar, sarana dan prasarana, danpembelajar) bervariasi sedangkan kualitas hasil pembelajaranterstandar maka kegiatan dalam proses pembelajaran harus disesuaikandengan kondisi yang ada dan tidak dapat diseragamkan. Berarti,pembelajar perlu jeli dan kreatif merancang dan mengembangkanpendekatan, strategi, metode, atau teknik pembelajaran.

    Mengacu pada pemikiran perlunya merancang dan menggunakanpendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran yang bervariasi,pembelajar dalam hal ini guru di sekolah mengatasi berbagai masalahpembelajaran dengan memodifikasi atau mengembangkan prosespembelajaran. Sebagai contoh, guru melakukan penelitian tindakankelas (PTK) dengan menerapkan strategi dan metode pembelajaran