ITB Nyastra

download ITB Nyastra

of 67

  • date post

    23-Jul-2016
  • Category

    Documents

  • view

    233
  • download

    6

Embed Size (px)

description

 

Transcript of ITB Nyastra

  • 1

    Ini hanyalah kata-kata terserak yang butuh dipelihara

    Agar tak sekedar larut dalam sungai maya

    Dalam sebangun rumah bernama ITB Nyastra

  • 2

    Para Pencipta

    Riyani Jana Yanti David Satya Hartato

    Ozi Fahmi P Fardian Thofani

    Angga Adytia Sutarwan Erwin Meilaska Dinata

    Angga Adytia Sutarwan Naufal Darari

    Rilis Eka Perkasa Atollah Renanda Yafi

    Meiya Narulita Suyasman Aditya Firman Ihsan

    Rony Del Bachty Fauzan Anwar

    Kurnia Sandi Girsang Allissa Rivanni Richky

    Asra Wijaya Lubis Rama Firdaus Ikhsan S. Hadi

    Muhammad Irfan Ilmy Wahyu Ok

    Aurora Rahmani Senartogok

    Hamdi Alfansuri Rifadina Kamila Yasmin

    Choirul Muttaqien Kartini F. Astuti

  • 3

  • 4

    Daftar Konten

    Daftar Konten ...................................................... 4

    Si Asep ................................................................. 5

    Kata Hati di Ujung Senja ...................................... 8

    Aku Iri .................................................................. 9

    Yang tak hingga untuk D ................................... 10

    Impression de la vie .......................................... 11

    Jalan Taubat ...................................................... 12

    Abdi ................................................................... 14

    Seperti Bumi ...................................................... 15

    Mengejar Kenikmatan ....................................... 16

    Subuh ................................................................ 20

    Angin Yang Memburai ....................................... 22

    Doa Lindu Tembeliung ...................................... 25

    Gurauan'saat tidur ............................................ 26

    Syukur ............................................................... 27

    Selangkah .......................................................... 28

    Merak Jingga Padang Bulan .............................. 29

    Selamat Tidur .................................................... 32

    Goresan Pena Asyila .......................................... 34

    bertanya aku ..................................................... 38

    Kembang Kaktus ................................................ 39

    Tuhan ................................................................ 41

    Kwek Bebek ...................................................... 42

    Tentang Mengenang : Tingkah Manusia .......... 44

    Tuhan ................................................................ 46

    Salam Tahunan ................................................. 47

    Antara ............................................................... 48

    Sejak 17 ............................................................. 49

    Terakhir ............................................................. 50

    Tanpa Huruf P ................................................... 51

    Tergesa ............................................................. 53

    Benarkah? ......................................................... 54

    Sederhana ......................................................... 55

    Diam .................................................................. 56

    Ketika malaikat berbicara... .............................. 57

    Hikayat Purnama .............................................. 58

    Sudah ................................................................ 59

    Senandung Ketiadaan ....................................... 60

    Tentang tertawan: perasaan. ........................... 63

    Gurun ................................................................ 64

    Soneta Android dan Pengantinnya ................... 65

    Rumah Senja ..................................................... 66

  • 5

    Si Asep

    Fauzan Anwar

    Asep Sodikin seorang pemuda usia belasan asal Wanaraja kab Garut

    kini mengadu nasib ke kota Bandung. Bukan tanpa alasan ia pergi meningalkan desanya.

    Seperti lelaki proletar pedesaan pada umumnya Asep ingin membantu meringankan

    beban ekonomi keluarga yang hanya bisa mengandalkan dari upah buruh hasil mengarap

    sawah para juragan di desanya. Sebelum hijrah ke Bandung, Asep pernah

    bekerja serabutan di Garut sebagai kuli bangunan.

    .

    Di kota Bandung, Asep bekerja sebagai Tukang baso cuanki tangul yang menjajakan

    daganganya dari satu tempat ke tempat lainya. Pekerjaan ini sudah ia lakukan

    selama satu tahun. Dimalam hari terkadang ia menyendiri ia berusaha

    mencoba meraih makna tentang nasib hidupnya.

    .

    Setelah ia berada jauh dari kampung halamanya, ia baru menyadari bahwa

    realitas dunia itu amatlah luas. Ia merasakan keterasingan yang amat liar

    saat ia menjajakan daganganya ke perumahan-perumaha elit.

    Bagaimana sibuk dan anehnya mereka sampai-sampai

    mereka tidak akrab bahkan tidak kenal dengan tetangga disampingnya.

    Sudah tentu hal yang seperti itu tidak pernah terjadi dikampung halamanya.

    Pernah juga suatu hari ia merasakan bahwa ia bukanlah manusia.

    Hal itu ia rasakan saat ia menjajakan daganganya di sebuah perumahan.

  • 6

    Seorang ibu-ibu paruh baya memandangnya sinis dengan tatapan

    yang terasa begitu menghinakan. Si Asep pun hanya bisa menundukan kepalanya.

    Beberapa hari Setelah kejadian itu,di gerbang masuk perumahan tersebut kini terdapat

    tulisan yang mengatakan Pedagang dilarang masuk!

    kasihan. Si Asep kini tidak bisa memasuki perumahan itu lagi.

    Sebenarnya tidak pernah ada pelanggan ataupun

    pembeli di perumahan elit yang dipenuhi pepohonan besar itu. Namun entah

    kenapa Si Asep selalu ingin memasuki kompleks perumahan yang penuh dengan

    pepohonan itu. Ahhh Mungkin saja Si Asep bermimpi suatu saat ia ingin tinggal

    dan memiliki rumah di perumahan elit seperti itu. Entahlah

    Hari sudah malam namun dagangan si Asep masih tersisa amat banyak. Tapi apa daya

    namanya juga manusia. Si Asep sudah lelah dan malam semakin larut.

    Semua malam memang sama. Malam diciptakan oleh Tuhan untuk istirahat.

    Namun bedanya malam yang dirasakan orang-orang diperumahan elit tersebut

    tentunya berbeda dengan malam yang dirasakan oleh Si Asep.

    Keesokan harinya seperti biasa si Asep kembali berkeliling menjajakan daganganya hingga

    suatu ketika si Asep berhenti didepan sebuah Sekolah menengah atas (SMA) yang belum

    pernah ia lihat sebelumnya. Ia menyaksikan kumpulan siswa siswi yang sedang bercanda

    tawa dan semacamnya. Ia berfikir di usianya yang masih belasan, sebenarnya ia berhak

  • 7

    mengalami pengalaman dan kesan yang seperti itu. Tapi ya mau gimana lagi?

    toh nasibnya sudah termaktub dalam lembaran kehidupan.

    .

    Kini si Asep merenung. Ia diam melihat suasana yang begitu

    indahnya yaitu membayangkan dirinya menjadi seorang siswa.

    Duh gusti iraha teuing abdi mah tiasa kitu (YaTuhan entah kapan aku bisa seperti itu)[i]

    Bisik Si Asep didalam hati.

    Tak terasa air matanya berlinang. Ia menyeka air matanya dengan tangan dan handuk kecil

    yang ia gantungkan dilehernya. Saat Asep hendak memangul kembali barang daganganya,

    terdengar suara seorang siswi dari kejauhan Mang beli !!!

    Si Asep terkejut. Entah kenapa Ia merasa amat bahagia

    dengan spontan ia mengatakan Muhun Mangga neng (Oh silahkan neng) sambil

    menyeka kembali air matanya yang masih tersisa.

    [i] Stylistik Kalimat dalam Bahasa Sunda yang sejatinya sering bermakna ketidakmungkinan

  • 8

    Kata Hati di Ujung Senja

    Allissa Rivanni Richky

    Saat kebohongan mengambil alih kisah kita apakah itu cinta?

    Ajar aku mengerti bagaimana cinta bersandiwara Karena setahuku di dalam cinta tak ada kepura-puraan

  • 9

    Aku Iri

    Fardian Thofani

    Aku iri, terhadap mereka yang diam Mereka yang berjalan tak memperhatikan

    Mereka yang berlari tak bertujuan Mereka yang hidup tak mempertanyakan

  • 10

    Yang tak hingga untuk D

    Kurnia Sandi Girsang

    Tahukah kenapa manusia degil berpuisi cinta?

    Padahal (si)apapun tahu

    Di luar sana ada jutaan bait cinta yang berserakan

    Yang terengkuh dan yang terhempas

    Karenanya dunia hampir muak menemui batas

    Sederhana, D..

    Sebab semesta selalu melahirkan kamu

  • 11

    Impression de la vie

    Fauzan Anwar

    Kini aku merasa asing terhadap hembusan udara namun aku semakin akrab dengan dedaunan jatuh

    yang melayang digiring angin

    Aku semakin tidak mengerti dengan keramaian hingar bingar namun ternyata senyap sepi

    kutelusuri setiap pelosok jalan ternyata semuanya sama

    Seperti waktu yang membedakan hanyalah sebuah kesan

    kesan-kesan kehidupan dengan berbagai penafsiran

  • 12

    Jalan Taubat

    Rony Del Bachty

    Baru setengah perjalanan dimulai Ada rasa

    Antara dua langkah dunia Satu menuju tempat terindah

    Dua menuju kematian Dan, diriku terperangkap diantaranya.

  • 13

  • 14

    Abdi

    Aditya Firman Ihsan

    Ke masjid bersama Buddha Ke wihara bersama Yesus

    Ke gereja bersama Muhammad Apalah artinya

    Kita tetap manusia Mungkin Zeus hanya tertawa

  • 15

    Seperti Bumi

    Meiya Narulita Suyasman

    seperti bumi yang perlahan mundur menjauhi matahari perlahan; tak terlihat secara kasat mata

    matahari terang matahari bersinar

    matahari memiliki energi sendiri matahari s