Intoksikasi Karbon Monoksida FIX FIX FIX

download Intoksikasi Karbon Monoksida FIX FIX FIX

of 23

  • date post

    16-Nov-2015
  • Category

    Documents

  • view

    15
  • download

    1

Embed Size (px)

description

INTOKSIKASI CO SANGAT BERBAHAYA, MERUPAKAN SILENT KILLER

Transcript of Intoksikasi Karbon Monoksida FIX FIX FIX

INTOKSIKASI KARBON MONOKSIDAI. PENDAHULUAN

Karbon monoksida adalah suatu gas yang tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa yang merupakan hasil pembakaran yang tidak sempurna dari material karbon.1,2Konsentrasi CO di atmosfer biasanya kurang dari 0,001%, di mana konsentrasinya di daerah perkotaan lebih tinggi bila dibandingkan daerah pedesaan. CO utamanya bersumber dari asap kendaraan bermotor, pemanas ruangan atau air, dan asap yang terinhalasi. Asap tembakau merupakan sumber CO yang penting. Kadar karboksihemoglobin dalam darah perokok mencapai 10% bahkan dapat melebihi 15%, dibandingkan dengan nonperokok yang hanya 1-3%. Salah satu sumber intoksikasi CO yang sering diabaikan yaitu metilen klorida yang dikandung dalam pelarut cat. Metilen klorida dalam bentuk uap langsung diabsorbsi melalui kulit dan paru-paru, masuk dalam sirkulasi, dan dimetabolisme di hati menjadi CO. Selain berasal dari lingkungan (eksogen), CO juga dihasilkan dalam tubuh (endogen) sebagai komponen dari proses biokimia normal melalui katabolisme hemoglobin.3,4

Secara umum bentuk karbon monoksida menunjukkan banyaknya karbon dioksida yang direduksi oleh oksigen selama proses pembakaran. Karbon monoksida memiliki beberapa kemiripan yang signifikan dengan bahan bakar, mudah terbakar di udara dengan karakteristik blue flame, menghasilkan karbon dioksida. Meskipun merupakan racun yang berbahaya, karbon monoksida memiliki peranan penting dalam teknologi moderen, menjadi prekursor untuk beberapa produk seperti kimia pukal (bulk chemical), CO dapat dihirogenasi menjadi bahan bakar hidrokarbon cair sehingga Teknologi ini mengijinkan batu bara dikonversikan menjadi bensin, selain itu karbon monoksidadapat bereaksi dengan metanol dengan keberadaan katalis rodium homogen dan HI sehingga menghasilkan asam asetat, serta Karbon monoksida merupakan komponen dasar dari syngas yang sering digunakan untuk tenaga industri pada proses pemurnian nikel.2Racun ialah suatu zat yang bekerja pada tubuh secara kimiawi dan faali, yang dalam dosis toksik selalu menyebabkan gangguan fungsi tubuh, hal mana dapat berakhir dengan penyakit atau kematian. Racun dapat masuk ke dalam tubuh melalui ingesti, inhalasi, injeksi, penyerapan melalui kulit dan pervaginam atau perektal.5

Intoksikasi merupakan suatu keadaan dimana fungsi tubuh menjadi tidak normal yang disebabkan oleh suatu jenis racun atau bahan toksik lain. Intoksikasi karbon monoksida adalah suatu keadaan toksik sebagai akibat dari terhirup dan terserapnya gas karbon monoksida, dimana karbon monoksida berikatan dengan hemoglobin dan menggantikan oksigen dalam darah.6Karena sifat dan gejala klinis tersebut yang tidak khas, intoksikasi CO sulit dideteksi dan dapat menyerupai penyakit lain. Oleh karena itu, kejadian yang sebenarnya dari kasus intoksikasi karbon monoksida sering tidak diketahui dengan pasti. Suatu lingkungan dapat disebut telah terpapar karbon monoksida ketika lebih dari satu orang dan binatang yang terkena, setalah ada peristiwa kebakaran, adanya perapian atau alat-alat pembakaran, atau dengan paparan kerja, dan timbulnya gejala-gejala intoksikasi CO.1II. SENYAWA KARBON MONOKSIDAA. SIFAT KIMIAWIDiantara sifat-sifat Karbonmonoksida adalah : 2 Gas yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa tidak menyebabkan iritasi, beracun dan berbahaya Tidak mudah larut dalam air Perbandingan berat terhadap udara (1 atm derajat C) 0.967 Mudah terbakar dan menghasilkan lidah api berwarna biru Karbon monoksida terdiri dari satu atom karbon yang secara kovalen berikatan dengan satu atom oksigen. Dalam ikatan ini, terdapat dua ikatan kovalen dan satu ikatan kovalen koordinasi atara atom karbon dan oksigen. Molekul CO memiliki panjang ikat 0,1128 nm. Alasannya adalah orbital molekul yang terpenuhi paling tinggi memiliki energi yang lebih dekat dengan orbital p karbon, yang berarti bahwa terdapat rapatan elektron yang lebih besar dekat karbon. Dan sifat ke elektro negativan karbon yang lebih rendah menghasilkan awan elektron yang lebih baur, sehingga menambah momen dipol. Hal ini juga merupakan alasan mengapa kebanyakan reaksi kimia yang melibatkan karbon monoksida terjadi pada atom karbon, bukan pada atom oksigen. 2B. AFINITASAfinitas hemoglobin terhadap CO 210 kali dari afinitasnya terhadap O2. CO dapat dengan mudah memindahkan oksigen yang terikat pada hemoglobin. Di sisi lain, CO-Hb yang sudah berikatan, sangat sulit dan lambat untuk melepaskan CO. kecepatan pengikatan CO oleh hemoglobin adalah 1/10 x kecepatan oksigen, kecepatan disosiasinya adalah 1/2100 x kecepatan oksigen. OLeh kaarena itu afinitas hemoglobin terhadap CO lebih besar daripada terhadap oksigen, yaitu 1/10 x 2100 = 210 x afinitas terhadap oksigen. 2,3,4C. RUMUS KIMIAKarbon monoksida, rumus kimia CO terdiri dari satu atom karbon yang secara kovalen berikatan dengan satu atom oksigen. Dalam ikatan ini, terdapat dua ikatan kovalen dan satu ikatan kovalen koordinasi antara atom karbon dan oksigen, Molekul CO memiliki panjang ikat 0,1128 nm, Panjang ikatan molekul karbon monoksida sesuai dengan ikatan rangkap tiga parsialnya. Molekul ini memiliki momen dipol ikatan yang kecil dan dapat diwakili dengan tiga struktur resonansi: 2

Gambar 1: Rumus Kimia Karbon monoksida(dikutip dari referensi no.2)

D. SEJARAH KARBON MONOKSIDA 2Karbon monoksida pertama kali dihasilkan oleh kimiawan Perancis de Lassone pada tahun 1776 dengan memanaskan seng oksida dengan kokas. Dia menyimpulkan bahwa gas yang dihasilkan adalah hidrogen karena ketika dibakar ia menghasilkan lidah api berwarna biru. Gas ini kemudian diidentifikasi sebagai senyawa yang mengandung karbon dan oksigen oleh kimiawan Inggris William Cumberland Cruikshank pada tahun 1800. 2Sifat-sifat CO yang beracun pertama kali diinvestigasi secara seksama oleh fisiolog Perancis Claude Bernard sekitar tahun 1846. Dia meracuni beberapa anjing dengan gas tersebut, dan mendapatkan bahwa darah anjing-anjing tersebut berwarna lebih merah di seluruh pembuluh darah. 2Selama Perang Dunia II, karbon monoksida digunakan untuk menjaga kendaraan bermotor tetap berjalan di daerah-daerah yang kekurangan bensin. Pembakar batu-bara atau kayu dipasangkan, dan karbon monoksida yang diproduksi dengan gasifikasi dialirkan ke karburetor. CO dalam kasus ini dikenal sebagai "gas kayu". Karbon monoksida juga dilaporkan digunakan dalam skala kecil selama Holocaust di beberapa kamp eksterminasi Nazi dan di program "eutanasia" Aksi T4. 2E. SUMBER KARBON MONOKSIDA 1,2,3,4Karbon monoksida (CO) dapat ditemukan pada hasil pembakaran yang tidak sempurna dari karbon dan bahan-bahan organik yang mengandung karbon. Dalam jumlah yang kecil karbon monoksida juga diproduksi secara endogen.1,31. Sumber Endogen

Secara endogen karbon monoksida diproduksi dari hasil degradasi heme menjadi pigmen empedu, hasil katalisasi dari oksigenasi heme. Jumlah karbon monoksida di dalam darah berkisar 1-3% bagi yang bukan perokok dan 10-15% bagi perokok. Karbon monoksida endogen yang dihasilkan ini berfungsi sebagai molekul yang terlibat dalam beberapa fungsi seluler, seperti proses inflamasi, proliferasi, dan apoptosis. Gas ini juga memiliki efek sitoprotektif termasuk induksi dari vasorelaksan, degradasi agregasi trombosit, dan menghambat fenotip pro-inflamasi monosit dan makrofag. Karbon monoksida, seperti nitrit oksida, juga berfungsi sebagai neurotransmitter dalam sistem saraf pusat (SSP).12. Sumber EksogenJumlah karbon monoksida setiap tahunnya di dunia diperkirakan sekitar 2600 juta ton, dimana sekitar 60% berasal dari kegiatan manusia dan sekitar 40% dari proses alami. Emisi antropogenik manusia terutama berasal dari pembakaran tidak sempurna bahan karbon. Proporsi terbesar dari emisi ini diproduksi pada knalpot kendaraan, terutama oleh kendaraan bermotor dengan bahan bakar bensin, karena campuran bahan yang terbakar mengandung bahan bakar yang lebih banyak daripada udara sehingga gas yang dikeluarkan mengandung 3-7% CO.1,3Sumber lainnya berasal dari berbagai proses industri, pembangkit listrik yang menggunakan batubara, dan insinerator limbah. Emisi yang berasal dari petroleum sangat meningkat selama beberapa tahun terakhir. Beberapa sumber nonbiologik dan biologik tersebar alami, seperti tanaman, lautan dan oksidasi hidrokarbon.1 Gas alam jarang sekali mengandung CO, tetapi pembakaran gas alam yang tidak sempurna tetap akan menghasilkan CO. Pada kebakaran juga akan terbentuk CO. Selain itu, asap rokok dalam orofaring juga menyebabkan konsentrasi CO yang diinhalasi sebesar 500 ppm.1,4Pada alat pemanas air berbahan bakar gas, jelaga yang tidak dibersihkan pada pipa air yang dibakar akan memudahkan terbentuknya produksi gas CO yang berlebihan.4Karbon monoksida yang berasal dari kendaraan bermotor dapat menyebabkan kematian tidak hanya pada ruangan tertutup tetapi juga pada ruangan semi tertutup. Hal ini menandakan bahwa ventilasi pasif belum adekuat dalam menurunkan risiko keracunan karbon monoksida. Dalam ruangan atau garasi tertutup, konsentrasi letal karboksihemoglobin dapat dicapai dalam waktu sepuluh menit.3,4III. PATOMEKANISME/PATOGENESIS INTOKSIKASI CO 3,4,7,8Efek toksik dari karbon monoksida disebabkan pengikatannya oleh hemoglobin, dengan membentuk kompleks carboxy-hemoglobin. Dalam bentuk baru ini, hemoglobin tidak dapat lagi melakukan fungsinya untuk transportasi oksigen ke jaringan tubuh.(Hemoglobin dapat mengikat molekul CO sama banyak seperti pada pengikatan oksigen. Kedua gas ini diikat pada gugus yang samadalam molekul hemoglobin, bereaksi dengan besi dalam gugus porphiria).3,4,7,8Dengan cara yang sama, selain pada hemoglobin, CO juga dapat bereaksi dengan myoglobin, cytochrome oxidase serta cytochrome P-450. Meskipun kecepatan pengikatan CO oleh hemoglobin adalah 1/10 x kecepatan oksigen, kecepatan disosiasinya adalah 1/2100 x kecepatan oksigen. OLeh kaarena itu afinitas hemoglobin terhadap CO lebih besar daripada terhadap oksigen, yaitu 1/10 x 2100 = 210 x afinitas terhadap oksigen