FISIOLOGI HEWAN

download FISIOLOGI HEWAN

of 26

  • date post

    03-Aug-2015
  • Category

    Documents

  • view

    219
  • download

    2

Embed Size (px)

Transcript of FISIOLOGI HEWAN

FISIOLOGI HEWANKadar Gula Darah

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Insulin adalah hormon yang mengendalikan gula darah. Tubuh menyerap mayoritas karohidrat sebagai glukosa (gula darah). Dengan meningkatnya gula darah setelah makan, pankreas melepaskan insulin yang membantu membawa gula darah ke dalam sel untuk digunakan sebagai bahan bakar atau disimpan sebagai lemak apabila kelebihan. Orang-orang yang punya kelebihan berat badan atau mereka yang tidak berolahraga seringkali menderita resistensi insulin. Konsekuensinya, tingkat gula darah meningkat di atas normal (Lopulalan, 2008). Glukagon merupakan hasil dari sel-sel alfa, yang mempunyai prinsip aktivitas fisiologis meningkatkan kadar glukosa darah. Glukagon melakukan hal ini dengan mempercepat konversi dari glikogen dalam hati dari nutrisi-nutrisi lain, seperti asam amino, gliserol, dan asam laktat, menjadi glukosa (glukoneogenesis). Kemudian hati mengeluarkan glukosa ke dalam darah, dan kadar gula darah meningkat. Sekresi dari glukagon secara langsung dikontrol oleh kadar gula darah melalui sistem feed-back negative (Anonimous, 2011). Kadar gula darah dalam tubuh setiap individu berbeda-beda, tinggi rendahnya kadar gula darah dipengaruhi sekresi hormon insulin dan glukagon sebagai peranan terpenting dalam metabolisme. Perbedaan kadar gula darah bagi orang yang berpuasa dan juga orang yang sudah makan perlu diketahui oleh karena itu pada praktikum ini akan menghitung jumlah kadar gula dari kedua sampel darah tersebut.

1.2 Rumusan Masalah Rumusan masalah pada praktikum ini adalah: 1. Bagimana mengukur kadar gula darah saat puasa dan setelah makan? 1.3 Tujuan Tujuan pada praktikum ini adalah: 1. Untuk mengetahui kadar gula darah saat puasa dan setelah makan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Hormon Insulin dan Glukagon Glukosa darah berasal dari absorpsi pencernaan makanan dan pembebasan glukosa dari persediaan glikogen sel. Tingkat glukosa darah akan turun apabila laju penyerapan oleh jaringan untuk metabolisme atau disimpan lebih tinggi daripada laju penambahan. Penyerapan glukosa oleh sel-sel distimulus oleh insulin, yang disekresikan oleh sel beta dari pulau-pulau Langerhans. Glukosa berpindah dari plasma ke sel-sel karena konsentrasi glukosa dalam plasma lebih tinggi daripada dalam sel. Di dalam sel, glukosa dikonversi menjadi glukosa 6 fosfat yang ditahan dalam sel sebagai hasil daripada pengurangan permeabilitas membrane oleh pengaruh kelompok fosfat. Insulin meningkatkan masuknya glukosa ke dalam sel dengan meningkatkan laju transport terbantu dari glukosa melintasi membran sel. Begitu glukosa telah masuk sel, segera difosforilasi untuk menjaganya tanpa control (Soewolo, 2000). Insulin adalah hormon yang mengendalikan gula darah. Tubuh menyerap mayoritas karohidrat sebagai glukosa (gula darah). Dengan meningkatnya gula darah setelah makan, pankreas melepaskan insulin yang membantu membawa gula darah ke dalam sel untuk digunakan sebagai bahan bakar atau disimpan sebagai lemak apabila kelebihan. Orang-orang yang punya kelebihan berat badan atau mereka yang tidak berolahraga seringkali menderita resistensi insulin. Konsekuensinya, tingkat gula darah meningkat di atas normal (Anonimous, 2011). Dalam otot rangka insulin akan meningkatkan pemasukan glukosa ke dalam sel otot yang juga menstimulasi sintesis glikogen. Dengan demikian simpanan glikogen dalam sel otot meningkat. Penyerapan asam amino ke dalam hati, otot dan jaringan adipose juga meningkat setelah makan sebagai respon adanya insulin (Soewolo, 2000). Penolakan insulin adalah kondisi pada jumlah normal insulin yang tidak mencukupi untuk menanggapi respon insulin normal dari lemak, otot dan sel hati. Penolakan insulin pada sel lemak merupakan akibat dari hidrolisis. Penolakan insulin pada otot mengurangi pengambilan glukosa, dan penolakan insulin pada hati mengurangi stok glukosa, dengan akibat pada penyediaan glukosa darah. Penolakan insulin dapat disebabkan oleh sindrom metabolisme dan diabetes melitus tipe 2 (Lopulalan, 2008).

Glukagon merupakan hasil dari sel alfa, yang berperan untuk meningkatkan derajad glukosa darah ketika kadar glukosa darah turun di bawah normal. Target dari glukagon adalah hati. Glukagon mempercepat perubahan glikogen menjadi glukosa (glikogenesis), mendorong pembentukan glukosa dari asam laktat dan asam amino tertentu (glukoneogenesis) dan mempertinggi penglepasan glukosa dalam darah. Sebagai hasilnya derajad glukosa darah naik (Soewolo, 2005). Insulin dan glukagon adalah hormon yang bekerja secara antagonis dalam mengatur konsentrasi glukosa dalam darah. Hal ini merupakan suatu fungsi bioenergetik dan homeostasis yang sangat penting, karena glukosa merupakan bahan bakar utama untuk respirasi seluler dan sumber kunci kerangka karbon untuk sintesis senyawa organik lainnya. Keseimbangan metabolisme bergantung pada pemeliharaan glukosa darah pada konsentrasi yang dekat dengan titik pasang, yaitu sekitar 90 mg/ 100 mL pada manusia. Ketika glukosa darah melebihi kadar tersebut, insulin dilepaskan dan bekerja menurunkan konsentrasi glukosa. Ketika glukosa turun dibawah titik pasang, glukagon meningkatkan konsentrasi glukosa. Melalui umpan balik negatif, konsentrasi glukosa darah menentukan jumlah relatif insulin dan glukagon (Campbell, 2004).

2.2 Diabetes Mellitus Penyakit diabetes adalah merupakan penyakit akibat gangguan kelenjar endokrin. Diabetes muncul karena adanya gangguan keseimbangan hormon, dimana terjadi penurunan produksi hormon insulin. Jumlah yang kurang dari hormon insulin menyebabkan kandungan glukosa dalam plasma darah tetap tinggi (hyperglicemia), karena sebenarnya insulin berperanan membantu proses perubahan glukosa dalam darah menjadi glikogen sebagai gula otot (Soewolo, 2000). Penderita diabetes memerlukan hormon insulin dari luar guna mengembalikan kondisi gula tubuhnya menjadi normal kembali. Insulin ini dimasukkan dengan cara penyuntikan atau injeksi. Sumber insulin ini bisa berasal dari kelenjar mamalia atau dari mikroorganisme hasil rekayasa genetika. Jika dari mamalia, insulin yang paling mirip dengan insulin manusia adalah dari babi (lihat strukturnya). Insulin manusia : C256H381N65O76S6 MW=5807,7 Insulin babi : C257H383N65O77S6 MW=5777,6 (hanya 1 asam amino berbeda)

Insulin sapi : C254H377N65O75S6 MW=5733,6 (ada 3 asam amino berbeda) Kita tahu bahwa produksi insulin pada diabetesi turunan (Tipe1) tidak mencukupi, atau tiada sama sekali. Pabrik insulinnya memang gagal berproduksi. Cara rasional dipikirkan bagaimana memacu agar kelenjar yang berada di dekat lambung ini lebih giat berproduksi, sekiranya masih memungkinkan (Nurachman, 2003). Penanganan Diabetes mellitus memerlukan pemeliharaan jangka panjang kadar gula darah yang sedekat mungkin dengan kadar normal untuk memperkecil resiko vaskular. Pengukuran kadar gula darah puasa tunggal merupakan indikasi tercepat keadaan pasien beberapa jam sebelumnya, tetapi tidak mewakili status sebenarnya dari pengaturan gula darah. Indeks akurat rata-rata konsentrasi gula darah diperoleh dengan pengukuran hemoglobin A1C (HbA1C) setiap dua sampai tiga bulan. HbA1C merupakan suatu glikohemoglobin yang dibentuk dalam dua tahap oleh glikasi nonenzimatik dari hemoglobin A (HbA). Kadar HbA1C sebanding dengan rata-rata konsentrasi glukosa serta jangka waktu sirkulasi hemoglobin (Anonimous, 2011).

BAB III METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat Praktikum Kadar Glukosa Dalam Darah ini dilaksanakan pada Hari Senin pukul 10.0011-30 WIB dan bertempat di Laboratorium Jurusan Biologi Dasar B Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang.

3.2 Alat dan Bahan 3.2.1 Alat Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah : 1. Glukometer 2. Strip glukotest 3. Blood Lancet 4. Kapas 3.2.2 Bahan Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah : 1. Alkohol 70 % 2. Darah probandus perempuan puasa 3. Darah probandus perempuan setelah makan 4. Darah probandus laki-laki puasa 5. Darah probandus laki-laki setelah makan 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Gulung

3.3 Cara Kerja 3.3.1 Pengukuran kadar glukosa puasa 1. Melakukan puasa minimal 8 jam sebelum mengambil darah puasa pada probandus. 2. Menyiapkan glukometer dan strip glukotest. 3. Membersihkan ujung jari dengan kapas beralkohol. 4. Membiarkan ujung jari mengering. 5. Menusuk ujung jari dengan menggunakan lancet steril dan membiarkan darah keluar. 6. Memasukkan strip glukotest pada glukometer.

7. Menunggu hingga terlihat gambar tetesan darah. 8. Meneteskan darah pada tempat reagen di strip glukotest. 9. Menunggu gambar proses (gambar jam pasir) sampai selesai. 10. Membaca kadar glukosa darah.

3.3.2 Pengukuran kadar glukosa tidak puasa 1. Melakukan makan dalam jumlah cukup, menunggu selama 2 jam. 2. Menyiapkan glukometer dan strip glukotest. 3. Membersihkan ujung jari dengan kapas beralkohol. 4. Membiarkan ujung jari mengering. 5. Menusuk ujung jari dengan menggunakan lancet steril dan membiarkan darah keluar. 6. Memasukkan strip glukotest pada glukometer. 7. Menunggu hingga terlihat gambar tetesan darah. 8. Meneteskan darah pada tempat reagen di strip glukotest. 9. Menunggu gambar proses (gambar jam pasir) sampai selesai. 10. Membaca kadar glukosa darah.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Berdasarkan pengamatan pada praktikum ini diperoleh hasil sebagai berikut :

Nama/ Golongan Darah Fitroh Sani/ A Hakim/ Indah Setyo Rini/ B Enni Mutiati/O Yogama Tetrasani/O Mulyo Sejati/O Samsul Bahri/B Aniqul Mutho/AB Arif Lukmanul Hakim/O Warda/A Arum sekar Buana/O Mursidi/B Lukman Baihaqi

Tinggi & Berat 46/160 50/161 42/155

Puasa 96 Mg/ DL 56 Mg/DL

Makan 102 Mg/DL -

48/150 58/170

108 Mg/DL -

80 Mg/DL

60/155 52/167 45/163

90 Mg/DL -

74 Mg/DL 134 Mg/DL

55/170

-

73 Mg/DL

45/160 43/154

-

122 Mg/DL 48 Mg/DL

68/1