Dr. Jannes Fritz Tan - Konjungtiva

of 47 /47
KONJUNCTIVA JANNES FRITZ TAN

description

Konjungtiva

Transcript of Dr. Jannes Fritz Tan - Konjungtiva

CONJUNCTIVA

KONJUNCTIVAJANNES FRITZ TANGambaran klinisSekret:Serous exudat: viral, toksikExudat kental: konj. Vernalis, kerato konjungtivitis siccaSekret bernanah: infeksi bakteri akutMukopurulen: chlamydia, bakteri ringanPerlengketan kelopak pagi hari Gambaran klinisReaksi konjungtiva:Hiperemis: tidak spesifik,terutama forniksEdem: transudasi cairan fibrin/protein khemosisFollikel: lympnode dikelilingi vaskularisasi, forniks bawah, 0,5-5 mm, 3 bulan, viral/ chlamydia/ toksikPapilla: struktur vaskularisasi/sel radang, CT atas, cobblestone,tidak spesifik,vernalis/bakteriPseudomembran:koagulasi eksudat, adenovirus/ vernalis/gonorhoe,lepas tanpa epithel rusakMembran: difteri,exudat masuk di epithelPerdarahan subkonjungtiva: konj.hemorhagik akut pikorna-adenovirus/ pneumokokus/ hemophylusGranuloma: iritasi kronis

Gambaran klinisLympadenopathia:Preaurikular lympadenopathia pada infeksi virus dan chlamydia, jarang bakteriLaboratorium:Indikasi: ulkus kornea, konjungtivitis berat + pus, konjungtivitis follikularis, konj. residifApusan konjungtiva: gram, giemsa, neutrofil (bakteri akut), monosit (virus), eosinofil (allergi)Kultur: agar darah dll. Infeksi1.Konjungtivitis Bakterial PatogenesisPenularan kontak langsung dengan sekret terinfeksi Staph. epidermidis, Staph. aureus, Strep. pneuomonie, H. influ enzaeDiagnosa1.onset subakut, merah, rasa berpasir, terbakar, sekret, biasanya bilateral2.tanda: lihat gambar 13.kultur tidak perlu, kecuali d/ tidak pastiTherapy1.Antibiotik drop: fucidic acid, kloramfenikol, ciprofloxacin, ofloxasin, iomefloxasin, gentamisin, neomisin, framisetin, tobramisin, neosporin (polimixin B+neomisin+gramisidin), politrim (polimixin+ trime troprim)2. antibiotik ointment: kloramfenikol, gentamisin, tetrasiklin, framisetin, polifax (polimixin B+basitrasin), politrim

Gambar 1: Kelopak berkerak (krusta), hyperemis konjungtiva,sekret mukopurulen,reaksi papil ringanKonjungtivitis GonokokkalPatogenesisPenyakit veneral o/ Neisseria gonorrhoeDiagnosis1. Onset akut, sekret konjungtival, edem palpebra berat2. Tanda (gbr. 2,3,4)3. Laboratorium: pewarnaan Gram (-); kultur agar coklat (+)Therapy1. Cefotaxim IV, 500 mg bd.2. Gentamisin topikal, basitrasinPenyebab pseudomembran lain1. Keratokonjungtivitis Adenovirus2. Steven-Johnson syndrome3. Ligneous konjungtivitis

Gbr.2. konjungtival hyperemi berat, sekret purulen, lymfadenofatiGbr. 3. Pseudomembran bisa terbentukGbr. 4. Keratitis timbul pada kasus berat, perforasi kornea,endoftalmitistandaKeratokonjungtivitis AdenoviralPatogenesis1. adenovirus tipe 3,4,7 dan kadang 5, penyebab Pharyngoconjunctival fever (PCF)2. Adenovirus tipe 8, 19, penyebab keratokonjung tivitis epidemikaPenularan sekresi mata dan pernafasan, dise minasi dari handuk, alat oftalmik seperti tono meterDiagnosa1. onset akut, sering bilateral, epifora, merah, rasa ganjal dan fotofobia2. tanda gbr.5, 6Penyebab lain konjungtivitis follikularisChlamydia, Molluscum contagiosum, Herpes simplex, hipersensitifitas obat lokal, sindr.okulo glandular Parinaud, folliculosis jinak pada anak

Gbr. 5. Konjungtivitis follikularisdengan sekret cair dan limf adenopatiGbr.5. Perdarahan subkonjungtival dan pseudomembran pada kasus berat, tanpa th resolusi spontan dalam 2 minggu

Gbr. 7. keratitis timbul 70 % kasus pada KCE dan 30% PCF.spesifik dengan pungtata epithal (a), yang hilang dalam 2 mgg.beberapa kasus infiltrat stroma anterior timbul dan bertahan bbrp.bulan (b) th/ dengan steroid lokal dipertimbangkan kalauvisus tergangguMolluscum ContagiosumPatogenesisVirus onkogenik pox dan ditularkan dengan kontak langsung kulit kekulit, jarang veneralDiagnosa1. Onset gradual, unilateral, sekret dan iritasi ringan2. tanda gbr 8TherapyDestruksi lesi kulit dengan expresi, eksisi, kryoth/, kauterisasi

Gbr.8.Konjungtivitis follikularis berhubungan dengan nodul pucat, ipsilateral, berlilin, lekuk ditengah pada margo palpebrab. Keratitis epithel halus dan pembentukan pannus padakasus yang tidak diobati

Konjungtivitis Chlamydial DewasaPatogenesisInfeksi veneral, chlamydia trachomatis serotip D ke KDiagnosa1. khas pada dewasa muda, kronik, unilateral/ bilateral sekret mukopurulen2. tanda gbr.9,10,11Pemeriksaan: apusan konjungtiva dengan mikros kop direk monoklonal fluosesens antibodiTherapy1. topikal: tetrasiklin ointment 4x sehari/6 mgg.2. sistemik: Azithromisin (1 gr. dosis tunggal); Doxysiklin (300 mg/mgg selama 3 mgg,100 mg/ hari selama 1-2 mgg.); Tetrasiklin (4x250mg/ 6 mgg); Eritromisin (4x 250 mg./6 mgg.)

Gbr.9. Follikel besar, terutama di fornix inferior konjungtiva dengan sekret mukopurulen sedikit. limfadenopatiGbr. 10. infiltrat kornea periferGbr.11. Pannus superior padakasus kronis

Oftalmia neonatorumRadang konjungtiva pada bulan I bayiDd/:Khemis (bbrp. Jam),berakhir >, khemosis, membranBakteri (4-5 hari), gram +Herpes simplex (5-7 hari), type 2Trachom (5-14 hari) paling sering, akut, mukopurulen sekret, type papillerKonjungtivitis Chlamydia NeonatalPatogenesisChlamydia trachomatis serotip D ke K didapat dari ibu pada persalinanDiagnosa1. timbul 5-14 hari postpartum2. tanda gbr. 12Pemeriksaan: apusan konjungtiva dan vagina ibu dengan pewarnaan gram dan giemsa.Therapy1.Tetrasiklin topikal 4x sehari2. Eritromisin etilsuksinat oral 25 mg/KG BB/ 2xsehari/ 4mgg.3. Orang tua juga di th/Diferensial diagnosa1.Konjungtivitis bakterial sederhana (5 hari postpartum)2. konjungtivitis Go. 2 hari postpartum dan berhubungan dengan sekret purulen banyak3. Herpes primer (tipe 2) konjungtivitis 3-15 hari postpartum dan sekret cair

Gbr.12. sekret mukopurulen berhubungan dengan konjungtivitis papillarisTrachomaPatogenesisChlamydia trachomatis serotipe A,B,Ba dan C dengan vektor utama lalatDiagnosa1. Masa anak2. tanda gbr 13,14,15, 16, 17TherapyDosis tunggal Azitromisin 1 gr.Higienis perseoranganStadium Trachoma menurut WHOTF: trachoma follikel 5 atau lebih di Tarsus superiorTI: radang konjungtiva diffus dari tarsus superiorTS: sikatriks konnjungtiva trachomatousTT: Trichiasi trachomatous mengenai korneaCO: opasitas kornea

Gbr.13. konjungtivitis follikular/papiller Gbr.14. Arlt line (sikatrik lebar/besar)pada konjungtiva tarsal superiorGbr.15. Herbert pits sikatrik folikel limbus ditutup epithel

Gbr.16. sikatrik berat konjungtiva dan pembentukan pannusGbr.17. Trichiasis, Entropium sikatriks dan kekeruhan korneaRadang allergi kronisKeratokonjungtivitis VernalPredisposisi pasien berhubungan dengan atopik dan 2/3 sejarah famili atopikDiagnosa1. masa anak dengan gatal, lakrimasi, iritasi, fotofobia dan sering berkedip2. tanda gbr. 18,19,20 dan 21Therapy1. topikal: Steroid pada eksaserbasi; stabilisasi sel Mast (nedokromil bd.;iodoxamide qid) untuk profilaxis; antihistamin (levocabastin); acetylcystein 0,5 % - plak formasi; siklosporin 2%-steroid resistens2. inj.steroid supratarsal (kasus berat)3. bedah: keratektomi superfisial, excimer laser keratektomi, transplantasi membran amniotikPenyebab lain konjungtivitis papillarisKonjungtivitis bakterial akut; blefaritis kronik; pemakai KL; toxisitas, keratokonjungtivitis atopik; keratokonjungtivitis limbus superior; floppy eyelid syndrome

Gbr.18. mulai papilar hipertrofi diffus tarsal superior dengan sekret mukoid Gbr.19. berlanjut dengan cobblestone papil pada kasus berat

Gbr.20. Limbitis khas dengan nodul mukoid limbus dengan Trantas dot(spot putih superfisial dan halus)-jarangGbr.21. ulkus bentuk perisai denganpembentukan plak pada kasus beratKeratokonjungtivitis AtopikPredisposisiPasien muda dengan Dermatitis atopik (eczema)Diagnosa1. masa anak atau dewasa muda dengan iritasi kronis dan fotofobia2. tanda gbr.22,23,24 dan 253. hubungan peny.lain: staphylococcal blepharitis; angular blepharitisTherapy1. Topikal: antibiotik dan higiene palpebra pd.blefaritis; lubrikans tanpa pengawet selama exaserbasi; steroid pada exaserbasi dan keratopathie; stabilisasi sel mast utk. profilaksis; siklosporin 2% pada kasus berat2. Injeksi steroid supratarasal kalau topikal tidak efektif3. sistemik: antihistamin pada gatal berat, azitromisin 500 mg/hari/ 3 hari; siklosporin pada kasus berat

Gbr.22. konjungtiva tarsal pucattanpa bentukGbr.24. pemendekan fornix inferiorsymblefaron pada kasus beratGbr.23. hipertrofi papiller pada fornixsuperior & inferiorGbr. 25. Sikatrix bentuk perisai dari stroma anterior

Penyakit MukokutaneusPemphigoid SikatriksPatogenesisAutoimmun hipersensitifitas tipe 2, khas dengan autoantibodi yang terikat di membran basalDiagnosa1. usia tua, bilateral dan lesi mukokutaneus2. tanda gbr.26, 27, 28 &293. perjalanan penyakit progresif dengan episode aktivitas subakut, prognosa terjagaTherapy1. topikal: steroid pada kasus dini, lubrikans2. inj.SC mitomisin pada sikatrix konjungtiva progresif3. sistemik: steroid (manisfestasi akut), dapson (ringan-sedang); sitotoxik (metotrexat, siklopospamid); immuno globulin IV kasus resisten

Gbr.26. fibrosis subepithel, plika dan karunkel menipisGbr. 28. AnkyloblefaronGbr. 27. symblefaronGbr.29. keratinisasi kornea danvaskularisasiSindrom Stevens-JohnsonPatogenesisReaksi hipersensitifitas tipe 3, dipicu o/ infeksi seperti herpes simplex dan mycoplasma pneu monie, obat terutama sulfonamid dan anti convulsantDiagnosa1. setiap umur, gangguan tenggorokan2. tanda gbr 30,313. perjalanan penyakit self-limited dan prognose visus baik pada sebagian besarTherapy1. topikal: steroid pada permulaan; lubrikans2. sistemik: steroid penting; asiklovir pada herpes simplex3. yll. therapeutik KL, oklusi punctum lacrimalis, operasi memperbaiki deformitas permanen

Gbr.30. mulai dgn konjungtivitisakut papiler yang bisa diikutipseudomembranGbr.31. fokal fibrosis konjungtivalRadang lainToxik KonjungtivitisPatogenesisPemakaian dekongestan berlebihan self medication pada mata merah dan rasa tidak nyamanTherapy1. diskontinu obat topikal2. konjungtivitis folikuler menghilang setelah bbrp. minggu3. steroid lokal memperpendek recovery

Gbr.32. hiperemis konjungtiva danpapilla tarsal kemungkinan karenarebound phenomenGbr. 33. Konjungtivitis folikuler terutama di inferior, kemungkinan effek toksik

Gbr. 34. hipertrofi papiler limbus dan tarsal superior,hiperemis konjungtiva bulbi sup. dan filamen korneadry eye pada 25 % kasusDegenerasiPinguekulaTanda gbr. 37TherapyTidak perlu. bertumbuh pelan atau (-)Fluorometolon topikal pd. Pinguekulitis

Gbr. 37. Deposit putih-kuning padakonj. bulbi dekat limbus temporalatau nasal, dapat meradang akut(pinguekulitis)Pterygium Tanda gbr.38TherapyEksisi pterygium dan menutup defek dengan konj. autograft, membran amniotikMitomisin, beta iradiasi mengurangi angka rekurrens

Gbr.38. pertumbuhan fibrovaskular, segitiga dari konjungtiva (ekor) ke kornea (kepala) deposit besi dalam epithel kornea (garis-Stocker) anterior kepala pterygiumterima kasih