Css Rinitis Dyan

download Css Rinitis Dyan

of 22

  • date post

    29-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    37
  • download

    0

Embed Size (px)

description

pilek

Transcript of Css Rinitis Dyan

Anatomi dan fisiologi hidung

Clinical Science Session

Rhinitis

Dyan Anandac11050201

Mervin O.O

c11050235

Bunga W1301.1206.0062

Preceptor:

Bogi Soeseno, dr., Sp.THT-KL (K)

Bagian Ilmu Kesehatan THT-KL

Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung

2007Anatomi Dan Fisiologi Hidung

Fungsi hidung adalah :

Sebagai jalan nafas

Pada inspirasi, udara masuk melalui nares anterior lalu naik ke atas setinggi konka media dan kemudian turun ke bawah ke arah nasofaring sehingga aliran udara membentuk arkus atau lengkungan. Pada ekspirasi, udara masuk melalui koana kemudian mengikuti jalan yang sama seperti udara inspirasi. Tetapi di bagian depan udara memecah, sebagian melalui nares anterior dan sebagian lain kembali ke belakang membentuk pusaran dan bergabung dengan aliran dari nasofaring.

Alat pengatur kondisi udara (air conditioning)Mucous blanket atau palut lendir melakukan pengaturan kelembaban udara. Sedangkan fungsi pengaturan suhu dimungkinkan karena banyaknya pembulh darah di bawah epitel dan adanya permukaan konka dan septum yang luas sehingga radiasi berlangsung optimal. Dengan demikian suhu udara setelah melalui hidung kurang lebih 370 C.

Penyaring udara

Fungsi ini berguna untuk membersihkan udara inspirasi dari debu dan bakteri yang dialkukan oleh : rambut (vibrissae) oada vestibulum nasi, silia, mucous blanket, dan enzim. Debu dan bakteri akan melekat pada mucous blanket dan partikel-partikel besar akan dikeluarkan dengan refleks bersin. Mucous blanket akan dialirkan ke nasofaring oleh gerakan silia. Enzim lysozyme akan menghancurkan beberapa jenis bakteri.

Indra penghidu

Indra penghidu diatur oleh adanya mukosa olfaktorius pada atap rongga hidung, konka uperior, dan sepertiga bagian atas septum. Partikel bau dapat mencapai daerah ini dengan cara difusi dengan mucous blanket atau bial menarik nafas dengan kuat.

Resonansi suara

Sumbatan pada hidung dapat menyebabkan resonansi berkurang atau hilang sehingga suara terdengar sengau (rinolalia).

Membantu proses bicara

Hidung membantu proses pembentukkan kata-kata. Kata dibentuk oleh lidah, bibir, dan palatum mole. Pada pembentukkan konsonan nasal (m, n, ng) ronga mulut tertutup dan hidung terbuka, palatum mole tertutup untuk aliran udara.

Refleks nasal

Mukosa hidung merupakan reseptor refleks yang berhubungan dengan saluran cerna, kardiovaskuler, dan pernafasan. Iritasi mukosa hidung akan menyebabkan refleks bersin dan nafas berhenti. Rangsang bau tertentu menyebabkan sekresi air liur, lambung, dan pankreas.

Rhinitis

Rhinitis adalah proses peradangan dari membran mukosa yang melapisi hidung. Karakteristik rhinitis yaitu hidung tersumbat, hidung berair, bersin, hidung gatal, post nasal drainage, atau kombinasi dari beberapa gejala tersebut.

Secara garis besar, rhinitis dapat dibagi 2 yaitu rhinitis alergi dan rhinitis non alergi. Rhinitis alergi merupakan rhinitis yang paling umum, kira-kira 20-40 juta penduduk Amerika terkena penyakit ini setiap tahunnya.

Rhinitis berperan dalam penyakit lainnya seperti asma dan rhinosinusitis. Juga berdampak pada kehidupan sosial dan ekonomi, karena mempengaruhi kualitas hidup seseorang akibat gejala yang ditimbulkannya, seperti sakit kepala, rasa lelah, penurunan kognitif, dan efek samping pengobatan. Maka dari itu, rhinitis harus diatasi dengan benar.

Klasifikasi Rhinitis1. Rhinitis alergi

2. Rhinitis non-alergi

Rhinitis infeksi

Rhinitis hormonal

Rhinitis vasomotor

Rhinitis non-alergi dengan sindrom eosinofil

Occupational rhinitis Rhinitis medikamentosa Rhinitis gustatori

Rhinitis pada anak-anak

Rhinitis Alergi

Secara klinis, rhinitis alergi didefinisikan sebagai gangguan fungsi hidung yang terjadi setelah pajanan alergen melalui inflamasi yang diperentarai IgE pada mukosa hidung. Asma dan rhinitis sering timbul bersamaan, yang mendukung prinsip satu saluran napas satu penyakit. Gejala dapat disertai rasa gatal pada mata, hidung, palatum dan atau tenggorokan.

Rhinitis alergi digolongkan sebagai penyakit saluran napas utama kronis karena: Prevalensinya, dampaknya terhadap kualitas hidup, kinerja dan produktivitas di sekolah/ tempat kerja, beban ekonomi yang ditimbulkan, hubungannya dengan asma dan sinusitis, serta co-morbiditas lain seperti konjungtivitis.

Pembagian terbaru dari rhinitis alergi yaitu: intermiten dan persisten. Sedangkan berat ringannya rhinitis alergi tergantung dari berat ringannya gejala dan pengaruhnya terhadap kualitas kehidupan.

Klasifikasi Rhinitis Alergi

Klasifikasi Rhinistis Alergi menurut ARIA-WHO 2000

Trigger Rhinitis Alergi

1. Alergen

a. Aeroalergen : tungau debu rumah, hewan peliharaan, serangga, tepung sari dan jamur.b. Rhinitis akibat kerja : pekerja pabrik tekstil.

c. Lateks2. Polutan: secara epidemiologi dapat memperberat rhinitis. Misalnya: asap rokok, sulfur dioksida dan gas emisi buangan mesin diesel.

3. Aspirin dan NSAID lainnya umumnya memicu terjadinya rhinitis dan asma.

Patofisiologi Rhinitis Alergi

Reaksi alergi khas ditandai dengan infiltrat inflamasi (respon seluler) berupa:

Kemotaksis, pengerahan selektif dan migrasi sel-sel transendotelial

Pelepasan sitokin dan kemokin

Aktivasi dan diferensiasi bermacam-macam tipe sel meliputi eosinofil, sel mast, sel T, dan sel epitel.

Perpanjangan masa hidup sel-sel.

Pelepasan mediator-mediator oleh sel-sel yang diaktifkan seperti, histamin dan cysteinyl leukotrin.

Hubungan antara sistem imun dan sumsum tulang.

Reaksi inflamasi alergi terdapat 2 fase yaitu:

Fase sensitisasi

Fase reaksi alergi: cepat/early & lambat/late.

Reaksi alergi primer yang terjadi hidung adalah reaksi hipersensitifitas tipe I (cepat/ anaphylatic). Imunoglobulin E spesifik alergen yang diproduksi setelah terpapar alergen akan berikatan dengan sel mast atau basofil (fase sensitisasi). IgE ini bereksi dengan alergen spesifiknya sehingga menyebabkan degranulasi sel mast dan pelepasan histamin serta mediator inflamasi lainnya seperti prostaglandin (PGE2) dan leukotrien. Reaksi antigen-antibodi ini dimulai dalam 2-5 menit dan mencapai puncaknya setelah 15 menit (reaksi alergi fase cepat). Fase lambat merupakan akibat pelepasan mediator oleh sel-sel (neutrofil san eosinofil) dan timbul 4-6 jam setelah fase cepat. Reaksi ini terjadi akibat pengaruh mediator cytokine.

Patofisiologi reaksi alergi tipe 1

Diagnosis Rhinitis Alergi

Riwayat khas keluhan alergi Sneezers and Runners.

Sneezers and runnersBlockers

Bersin

Rhinorrhea

Gatal

Sumbatan hidung

Irama diurnal

konjungtivitis Terutama paroksismal

Cair, anterior dan posterior

Ya

Bervariasi

Memburuk sepanjang hari, membaik malam hari

Seringkali ada Sedikit atau tidak ada

Mukus kental lebih ke posterior

Tidak

Sering berat

Menetap sepanjang hari dan malam, mungkin memburuk malam hari.

Tanda rhinitis alergi Pasien dengan obstruksi saluran napas karena alergi memiliki open-mouthed adenoid facies.

membran yang gatal menyebabkan involuntary grimacing dengan gerakan berulang mengusap ke arah atas dari ujung hidung dengan tangan allergic salute.

Kongesti infraorbital allergic shiners and puffiness around the eyes.

Rhinoskopi Anterior : mukosa hidung pucat/ livid, dengan rhinorrhea jernih tanpa infeksi sekunder, polip bisa +/-.

Uji diagnostik

Fiberoptic endoskopi, untuk melihat polip yang kecil.

Uji in-vivo dan in-vitro untuk menemukan IgE yang bebas atau terikat sel. Diagnosis alergi telah ditingkatkan dengan melakukan standardisasi alergen inhalan,

Mucous smears: apus mukus + pewarnaan Hansel (campuran eosin & methylene blue). Jika terdapat >25% eosinofil cenderung alergi. Grade (0-4+). Jika eosinofil, sel mast, dan sel goblet (+) nasal allergy. Jika neutrofil dan epitel debris lebih banyak curiga infeksi. Harus diperhatikan bahwa penggunaan kortikosteroid jangka panjang dapat menurunkan jumlah eosinofil.

Tes sensitivitas kulit: prick test, skin end-point titration/ intradermal dilutional testing (titik akhir titrasi menandakan konsentrasi imunoterapi teraman).

Uji provokasi nasal dengan alergen inhalan. Pemeriksaan ini mungkin berguna terutama dalam diagnosis rhinitis akibat kerja.

CT-scan: biasanya tidak perlu.

Ko-morbiditas Rhinitis Alergi

Asma Berkembangnya asma sering mengikuti operasi pada sinusitis kronis, dan hubungan antara hiperreaksi penyakit saluran napas bawah dan rhinosinusitis alergika karena memiliki benyak kesamaan pada mukosa .

Konjungtivitis

Polip Isolated antrochoanal polyps biasanya disebabkan oleh infeksi. Yang lainnya 1/3 nya berhubungan dengan alergi inhalan. Walaupun farmakoterapi dan imunoterapi tidak menghasilkan kesembuhan sempurna namun, terapi yang diberikan sebelum operasi hidung dan sinus dan terapi kelanjutan setelahnya setidaknya dapat mengurangi kemungkinan terjadinya rekurensi.

SinusitisKebanyakan sinusitis rekuren berhubungan dengan obstruksi dari kompleks osteomeatal yang penyebabnya bervariasi, termasuk edem mukosa karena alergi. Rhinosinositis kronis hiperplastis dapat disebabkan oleh reaksi alergi berulang. Otitis Media: terjadi karena obstruksi tuba eustachia oleh infeksi atau alergi. Infeksi Saluran Napas AtasTidak ada hubungan sebab-akibat antara alergi pernapasan dengan infeksi saluran napas atas yang rekuren, namun gejala awal rhinosinusitis e.c