CR Easy Made

download CR Easy Made

of 34

  • date post

    05-Sep-2015
  • Category

    Documents

  • view

    220
  • download

    1

Embed Size (px)

description

jkhkjh

Transcript of CR Easy Made

CASE REPORTKEKERASAN TUMPUL

Disusun oleh:

Disusun oleh :Easy Orient Dewantari1018011055Ni Made Dwi Adnyani1018011083

Pembimbing:

dr. Winda Trijayanthi Utama

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KEDOKTERAN FORENSIKRUMAH SAKIT UMUM DAERAH DR. H. ABDUL MOELOEKBANDAR LAMPUNG2015KATA PENGANTARBAB I PENDAHULUAN

Trauma atau kecelakaan merupakan hal yang biasa dijumpai dalam kasus forensik. Hasil dari trauma atau kecelakaan adalah luka, perdarahan dan/atau skar atau hambatan dalam fungsi organ. Agen penyebab trauma diklasifikasikan dalam beberapa cara, antara lain kekuatan mekanik, aksi suhu, agen kimia, agen elektromagnet, asfiksia dan trauma emboli. Dalam prakteknya nanti seringkali terdapat kombinasi trauma yang disebabkan oleh satu jenis penyebab, sehingga klasifikasi trauma ditentukan oleh alat penyebab dan usaha yang menyebabkan trauma.2Pada pasal 133 ayat (1) KUHAP dan pasal 179 ayat (1) KUHAP dijelaskan bahwa penyidik berwenang meminta keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau bahkan ahli lainnya. Keterangan ahli tersebut adalah Visum et Repertum, dimana di dalamnya terdapat penjabaran tentang keadaan korban, baik korban luka, keracunan, ataupun mati yang diduga karena tindak pidana. Bagi dokter yang bekerja di Indonesia perlu mengetahui ilmu kedokteran Forensik termasuk cara membuat Visum et Repertum. Seorang dokter perlu menguasai pengetahuan tentang mendeskripsikan luka, tujuannya untuk mempermudah tugas-tugasnya dalam membuat Visum et Repertum yang baik dan benar sehingga dapat digunakan sebagai alat bukti yang bisa meyakinkan hakim untuk memutuskan suatu tindak pidana. Pada kenyataannya dalam praktek, dokter sering mengalami kesulitan dalam membuat Visum et Repertum karena kurangnya pengetahuan tentang luka. Padahal Visum et Repertum harus di buat sedemikian rupa, yaitu memenuhi persyaratan formal dan material , sehingga dapat dipakai sebagai alat bukti yang sah di sidang pengadilan.1,2,3

BAB IIRESUME

Korban seorang wanita diterima di ruang forensik Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Abdul Moeloek, atas permintaan lisan untuk dilakukan pemeriksaan luka dan dibuatkan Visum Et Repertum (VER) luka.Pada hari Rabu, tanggal 1 Juli 2015, pukul 09.30 WIB, dilakukan pemeriksaan korban penganiayaan seorang perempuan berusia 20 tahun dan didapatkan jahitan pada bibir atas, luka memar pada bibir bawah, luka lecet tipe gores pada pipi kiri dan telinga kiri.Korban diperiksa oleh dokter muda Ilmu Kedokteran Forensik dan dokter di Pusat Pelayanan Terpadu RSUD Dr. H. Abdul Moeloek dan dari hasil pemeriksaan terhadap Korban, maka dokter Pusat Pelayanan Terpadu membuat Visum et Repertum demi kepentingan peradilan.

BAB IIIILUSTRASI KASUS

Pada hari Rabu, tanggal 1 Juli 2015, pukul 14.30 WIB, datang seorang wanita di ruang forensik Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Abdul Moeloek, untuk dibuatkan Visum Et Repertum (VER).

I. IDENTITAS PASIEN/KORBANa. Nama: Dela Anggrainib. Usia: 20 tahunc. Jenis kelamin: Perempuand. Warga Negara: Indonesiae. Agama: Islamf. Pekerjaan : Karyawati Swastag. Alamat: Jl. Keramat, Labuhan Ratu, Bandar Lampung

II. IDENTITAS PELAKUa. Nama: Nikenb. Usia: -c. Jenis Kelamin : Perempuand. Warga Negara : Indonesiae. Agama : -f. Pekerjaan : Karyawan swastag. Hubungan dengan klien : Teman kerja

III. ANAMNESIS/WAWANCARAKorban datang dalam keadaan sadar dan keadaan umum baik. Korban mengaku dianiaya oleh satu orang perempuan yang dikenal. Korban mengaku dipukul dengan gelas kaca bening berukuran besar di kantin Chandra, Mall Boemi Kedaton Bandar Lampung, pada hari Minggu, tanggal 28 Juni 2015 pukul 15.00 WIB. Korban mengalami luka robek pada bagian bibir atas dan telah dilakukan tindakan penjahitan luka di Klinik Kosasih, Bandar Lampung pada hari Minggu, tanggal 28 Juni 2015 pukul 17.00 WIB.

IV. PEMERIKSAAN FISIK UMUMa. Keadaan Umum: Baik, kesadaran sadar penuh, emosi stabil, kooperatif.b. Tekanan Darah: 110/80 mmHgc. Nadi: 86 bpmd. Pernafasan: 18 kali permenit

V. PEMERIKSAAN FISIKStatus Lokalis1. Pada bibir atas, tepat pada garis pertemgahan depan, terdapat luka jahitan sebanyak empat simpul berwarna kebiruan dengan tepi bengkak sepanjang 1 cm. (Lihat Lampiran Gambar 3.1)2. Pada bibir bawah, tepat pada garis pertemgahan depan, terdapat luka lecet berwarna kebiruan sepanjang 0,5 cm. (Lihat Lampiran Gambar 3.2)3. Pada pipi kiri, 6 cm dari garis pertengahan depan, 6 cm dibawah sudut mata, terdapat luka lecet gores berwarna merah dengan ukuran 3,5 cm x 2,5 cm. (Lihat Lampiran Gambar 3.3)4. Pada telinga kiri, 13 cm dari garis pertengahan depan, 0,5 cm diatas liang telinga, terdapat luka lecet gores berwarna merah kehitaman dengan diameter 0,3 cm. (Lihat Lampiran Gambar 3.4)

VI. PEMERIKSAAN PENUNJANGTidak dilakukan

VII. TINDAKAN/PENGOBATANTelah dilakukan penjahitan luka pada bibir atas sepanjang 1 cm di klinik Kosasih Bandar Lampung.VIII. KESIMPULANPada korban perempuan usia 20 tahun didapatkann luka akibat kekerasan tumpul berupa luka robek pada bibir atas dan luka lecet pada bibir bawah, pipi kiri, dan telinga kiri. Perlukaan ini tidak menyebabkan penyakit dan halangan pekerjaan namun memerlukan tindakan medis.

BAB IVPEMBAHASAN

Korban datang ke ruang forensik RSUD dr. H. Abdul Moeloek, dengan permintaan untuk dibuatkan Visum et Repertum luka tanpa membawa surat pengantar dari Kepolisian. Pemeriksaan korban ini kurang sesuai dengan prosedur medikolegal yaitu tanpa adanya permintaan tertulis dari penyidik sesuai dengan pasal 133 KUHAP.4Dengan adanya surat permintaan visum yang dibuat oleh penyidik maka doker berkewajiban memberikan keterangan ahli sesuai dengan pasal 179 (1) KUHAP yaitu Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan. Hasil pemeriksaan ini tertuang dalam Visum et Repertum yang dapat digunakan sebagai alat bukti yang sah.Terdapat sangsi pidana kepada dokter yang menolak ataupun menghalang-halangi melaksanakan kewajibannya membantu peradilan. Sangsi tersebut sesuai dengan yang telah disebutkan pada pasal 216, 222, 224, dan 522 KUHP.Sebagai seorang dokter, hendaknya dapat membantu pihak penegak hukum dalam melakukan pemeriksaan terhadap pasien atau korban perlukaan. Dokter sebaiknya dapat menyelesaikan permasalahan mengenai : Jenis luka apa yang ditemui Jenis kekerasan/senjata apakah yang menyebabkan luka dan Bagaimana kualifikasi dari luka ituSebagai seorang dokter, ia tidak mengenal istilah penganiayaan. Jadi istilah penganiayaan tidak boleh dimunculkan dalam Visum et Repertum. Akan tetapi sebaiknya dokter tidak boleh mengabaikan luka sekecil apapun. Sebagai misalnya luka lecet yang satu-dua hari akan sembuh sendiri secara sempurna dan tidak mempunyai arti medis, tetapi sebaliknya dari kaca mata hukum.Dalam hal hasil pemeriksaan pada korban ini sudah memuat hasil pemeriksaan yang objektif sesuai dengan apa yang diamati terutama dilihat dan ditemukan pada korban atau benda yang diperiksa. Pemeriksaan juga dilakukan dengan baik secara sistematis dari atas ke bawah sehingga tidak ada yang tertinggal. Deskripsinya juga tertentu yaitu mulai dari letak anatomisnya, koordinatnya (absis adalah jarak antara luka dengan garis tengah badan, ordinat adalah jarak antara luka dengan titik anatomis permanen yang terdekat), jenis luka atau cedera, karakteristiknya serta ukurannya. Rincian ini terutama penting pada pemeriksaan korban mati yang pada saat persidangan tidak dapat dihadirkan kembali.Pada korban ditemukan luka robek pada bibir atas, dan luka lecet pada bibir bawah, pipi kiri, dan telinga kiri akibat kekerasan tumpul. Benda-benda yang dapat mengakibatkan luka dengan sifat luka seperti ini adalah benda yang memiliki permukaan tumpul. Luka yang terjadi dapat berupa memar (kontusio, hematom), luka lecet (ekskoriasi, abrasi) dan luka terbuka/robek (vulnus laseratum).2Luka robek merupakan luka terbuka akibat trauma benda tumpul, yang menyebabkan kulit teregang ke satu arah dan bila elastisitas kulit terlampaui, maka akan terjadi robekan pada kulut. Luka ini mempunyai ciri bentuk luka yang umumnya tidak beraturan, tepi atau dinding tidak rata, tampak jembatan jaringan antara kedua tepi luka, bentuk dasar luka tidak beraturan, sering tampak luka lecet atau luka memar di sisi luka.2Luka lecet terjadi akibat cedera pada epidermis yang bersentuhan dengan benda yang memiliki permukaan kasar atau runcing, misalnya pada kejadian kecelakaan lalu lintas, tubuh terbentur aspal jalan, atau sebaliknya benda tersebut yang bergerak dan bersentuhan dengan kulit. Manfaat interpretasi luka lecet di tinjau dari aspek medikolegal sering kali di remehkan, padahalpemeriksaan luka lecet yang teliti disertai pemeriksaan di TKP dapat mengungkapkan peristiwayang sebenarnya terjadi. Misalnya suatu luka lecet yang semula di perkirakan sebagai akibat jatuhdan terbentur aspal jalan atau tanah, seharusnya di jumpai pula aspal atau debu yang menempeldi luka tersebut. Bila setelah di lakukan pemeriksaan secara teliti, tidak di jumpai benda asingtersebut, maka harus timbul pemikiran bahwa luka tersebut bukan terjadi akibat jatuh ke aspalatau tanah, tapi mungkin akibat tindakan kekerasan.Sesuai dengan mekanisme terjadinya, luka lecet dapat diklasifikasikan sebagai luka lecet gores(scratch), luka lecet serut(graze), luka lecet tekan(impression,impact abrasion)dan luka lecetgeser(friction abrasion).2Pada korban luka tidak menyebabkan kematian, kecacatan, penyakit dan halangan pekerjaan, namun memerlukan tindakan medis berupa penjahitan luka maka luka pada korban masuk kedalam klasifikasi drajat luka sedang. Pada pasal 352 KHUP, penganiayaan ringan adalah korban dengan tanpa luka atau dengan luka lecet atau memar kecil dilokasi yang tidak berbahaya/ yang tidak menurunkan fungsi alat tubuh tertentu. Dan juga tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan jabatan atau pekerjaan.