Case Report Asma Pada Anak

of 33 /33
Case Report “Asma Pada Anak” Disusun Oleh : Sandrya Deprisicka S 1102009259 Pembimbing : dr. Ani Ariani, SpA

description

KEDOKTERAN

Transcript of Case Report Asma Pada Anak

Page 1: Case Report Asma Pada Anak

Case Report“Asma Pada Anak”

Disusun Oleh :Sandrya Deprisicka S

1102009259

Pembimbing :dr. Ani Ariani, SpA

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAKFAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI JAKARTA

RSUD KABUPATEN BEKASIMARET 2015

Page 2: Case Report Asma Pada Anak

STATUS PASIEN

Identitas Pasien

Nama : An. SA

Tempat/Tanggal Lahir : Bekasi, 6 Juni 2006

Umur : 7 tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

Agama : Islam

Alamat : Kp.Cibuntu No.148 RT/RW 001/007 Dusun 2 Ds.Cibuntu

Kec.Cibitung Kab. Bekasi

Suku Bangsa : Jawa

Tanggal Masuk : 24 Februari 2015

No. RM : 5326xx

Identitas Orang Tua

Ayah Ibu

Nama : Tn. S Ny. T

Umur : 43 tahun 32 tahun

Agama : Islam Islam

Pendidikan : SMA SMA

Pekerjaan : Wiraswasta Ibu rumah tangga

Anamnesis (Autoanamnesis dan Alloanamnesis)

Keluhan utama : Sesak nafas

Riwayat Penyakit Sekarang :

Pasien datang dengan diantar kedua orang tuanya ke IGD RSUD Kabupaten Bekasi

dengan keluhan sesak nafas yang dirasakan sejak ± 3 jam SMRS. Keluhan dirasakan semakin

lama semakin memberat. Keluhan sesak nafas sebenarnya sudah dirasakan hilang timbul

sebanyak 3 kali selama 1 minggu ini. Keluhan sesak hilang ketika pasien diberikan nebulisasi

ventolin. Saat ketiga kali pasien kembali merasakan sesak nafas dan kembali diberikan nebulisasi

keluhan dirasakan tidak kunjung membaik hingga akhirnya pasien dibawa ke rumah sakit.

Keluhan sesak nafas sering dirasakan pasien terutama bila cuaca dingin dan apabila banyak debu.

Page 3: Case Report Asma Pada Anak

Pasien memang sering mengalami keluhan ini sejak 3 tahun yang lalu. Keluhan nyeri dada

disangkal oleh pasien. Keluhan demam disangkal oleh pasien. Pasien juga tidak mengeluhkan

adanya batuk-batuk. Keluhan mual dan muntah juga tidak dirasakan oleh pasien. Keluhan adanya

gangguan buang air besar dan buang air kecil disangkal.

Riwayat Penyakit Dahulu :

Pasien mempunyai riwayat penyakit asma sejak ±3 tahun yang lalu.

Riwayat Penyakit Keluarga :

Orang tua pasien mengaku nenek dari pasien mempunyai penyakit yang sama. Riwayat penyakit

jantung pada keluarga disangkal.

Riwayat Kehamilan dan Kelahiran :

KEHAMILAN

Perawatan Antenatal Rutin kontrol ke bidan dan dokter

Morbiditas Kehamilan Ibu sehat selama kehamilan

Tidak pernah mengkonsumsi obat

yang tidak disarankan oleh dokter

(hanya obat untuk penambah

darah)

Tidak merokok

Tidak mengkonsumsi minuman

keras

KELAHIRAN

Tempat kelahiran Praktek Klinik 24 jam

Penolong persalinan Bidan

Cara persalinan Spontan

Masa gestasi Cukup bulan (9 bulan)

Keadaan bayi o Berat lahir : 3100 gr

o Panjang badan : 51 cm

o Langsung menangis : Ya

o Kelainan bawaan : Tidak ada

Page 4: Case Report Asma Pada Anak

Riwayat Makanan :

Pada saat lahir sampai usia 6 bulan anak mendapatkan ASI. Setelah itu dilanjutkan

dengan tambahan susu formula pada usia 6 bulan-2 tahun. Ibu memberikan bubur halus

sejak anak berusia 2 tahun. Ibu memberikan nasi tim saat anak berusia 3 tahun. Anak sudah

mengikuti menu makanan keluarga saat berusia 5 tahun.

Riwayat Imunisasi Dasar :

Vaksin Dasar (umur)

HEPATITIS B Lahir 1 bulan 6 bulan

DPT / DT 2 bulan 4 bulan 6 bulan

POLIO 2 bulan 4 bulan 6 bulan

BCG 2 bulan

CAMPAK -

Sosial, Ekonomi dan Lingkungan :

Sosial Ekonomi

Pasien tinggal bersama 4 orang anggota keluarga lainnya. Pasien, ibu, ayah, 1 orang

adik. Penghasilan dari hasil pekerjaan ayah menetap.

Lingkungan

Pasien berada di rumah pemberian dari orang tuanya dengan ventilasi dan sanitasi

yang baik dan terdiri dari 3 kamar tidur. Linkungan tempat tinggal pasien bersih.

Sedangkan untuk di rumah pasien sendiri bersih. Sumber air berasal dari air tanah.

Pemeriksaan Fisik

Status Lokalis

Keadaan Umum : Sakit Sedang

Kesadaran : Compos Mentis

Tanda Vital : Frekuensi Nadi : 140 x/menit

Frekuensi Pernafasan : 32 x/menit

Suhu : 36,5oC

Page 5: Case Report Asma Pada Anak

Status gizi

Gizi : BB = 22 kg

TB = 120 cm

Status Generalis

Kepala : Normocephal

Rambut berwarna hitam, tidak mudah dicabut (rontok), tumbuh teratur

Mata : Konjungtiva : Anemis -/-

Sklera : Ikterik -/-

Pupil : bulat, isokor 2 mm

Hidung : Bentuk normal

Tidak ada deviasi septum nasi

Mulut : Sianosis per oral -

Uvula tidak deviasi

Lidah tidak deviasi ke kiri, permukaan bersih

Leher : Pembesaran KGB (-), Kelenjar Thyroid (-)

Trakea ditengah (tidak deviasi kanan atau kiri)

Thorax :

Pulmo : Inspeksi : Kedua hemithorax kanan-kiri simetris pada keadaan statis dan

dinamis. Tidak terdapat sikatrix ataupun jejas

Palpasi : Fremitus vokal simetris kanan-kiri

Fremitus taktil simetris kanan-kiri

Perkusi : Hemitorak kanan : Sonor di seluruh lapang paru kanan

Hemitorak kiri : Sonor di seluruh lapang paru kiri

Auskultasi : Vesikuler +/+

Wheezing +/+

Ronkhi -/-

Cor : Inspeksi : Pulsasi iktus kordis terlihat

Palpasi : Pulsasi iktus kordis teraba di ICS 5 linea midclavicula sinistra

Perkusi : Batas jantung normal

Auskultasi : ▫ BJ 1- BJ 2 murni reguler

Page 6: Case Report Asma Pada Anak

▫ Murmur (-)

▫ Gallop (-)

Abdomen : Inspeksi : Perut tampak datar, pelebaran vena (-), jejas (-)

Auskultasi : BU (+) normal, Undulasi (-), Shiffting Dulness (-)

Palpasi : Hepar : Tidak teraba pembesaran

Lien : Tidak teraba pembesaran

Nyeri tekan (+) kuadran kanan atas

Nyeri lepas (-)

Perkusi : Timpani di seluruh kuadran abdomen

Ekstremitas : ▪Akral hangat + +

+ +

▪ Oedema - -

- -

Pemeriksaan Penunjang

Hasil Lab. Tanggal 24 Februari 2015

Laboratorium darah

Hemoglobin : 13,5 g/dl

Hematokrit : 38,1 %

Leukosit : 24.900 /mm3

Trombosit : 439.000 /mm3

Eritrosit : 4,6 juta/mm3

LED : 9 mm/jam

Resume

Pasien datang dengan diantar kedua orang tuanya ke IGD RSUD Kabupaten Bekasi

dengan keluhan sesak nafas yang dirasakan sejak ± 3 jam SMRS. Keluhan dirasakan semakin

lama semakin memberat. Keluhan sesak nafas sebenarnya sudah dirasakan hilang timbul

sebanyak 3 kali selama 1 minggu ini. Keluhan sesak hilang ketika pasien diberikan nebulisasi

ventolin. Saat ketiga kali pasien kembali merasakan sesak nafas dan kembali diberikan nebulisasi

keluhan dirasakan tidak kunjung membaik hingga akhirnya pasien dibawa ke rumah sakit.

Page 7: Case Report Asma Pada Anak

Keluhan sesak nafas sering dirasakan pasien terutama bila cuaca dingin dan apabila banyak debu.

Pasien mempunyai riwayat penyakit asma sejak 3 tahun yang lalu. Orang tua pasien juga

mengaku nenek dari pasien mempunyai sakit yang sama.

Diagnosis Kerja

Asma Eksaserbasi Akut

Rencana Penatalaksanaan

O2 2 l/menit

Nebulisasi Ventolin 2 amp + Pulmicort 1 amp

IVFD Asering 16 tpm

Aminofilin 2x100mg

Cefrtiaxon 1 x 2g dalam NaCl 100cc

Prognosis

Ad Vitam : Dubia ad Bonam

Ad Fungtionam : Dubia ad Bonam

Ad Sanactionam : Dubia ad Bonam

Page 8: Case Report Asma Pada Anak

ASMA PADA ANAK

Definisi

Asma merupakan suatu kelainan inflamasi kronis pada saluran nafas yang melibatkan sel

dan elemen-elemen seluler. Inflamasi kronis tersebut berhubungan dengan hiperresponsif dari

saluran pernafasan yang menyebabkan episode wheezing, apneu, sesak nafas dan batuk-batuk

terutama pada malam hari atau awal pagi. Episode ini berhubungan dengan luas obstruksi saluran

pernafasan yang bersifat reversibel baik secara spontan ataupun dengan terapi.

Definisi asma menurut WHO pada tahun 1975, yaitu keadaan kronik yang ditandai oleh

bronkospasme rekuren akibat penyempitan lumen saluran napas sebagai respon terhadap

stimulus yang tidak menyebabkan penyempitan serupa pada banyak orang.

Defenisi terbaru yang dikeluarkan oleh Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI

pada tahun 2004 menyebutkan bahwa asma adalah mengi berulang dan/atau batuk persisten

dengan karakteristik sebagai berikut; timbul secara episodik, cenderung pada malam / dini hari

(nokturnal), musiman, setelah aktifitas fisik serta terdapat riwayat asma atau atopi lain pada

pasien dan/atau keluarganya.

Etiologi

1. Alergen

Faktor alergi dianggap mempunyai peranan penting pada sebagian besar anak dengan asma

(William dkk 1958, Ford 1969). Disamping itu hiperreaktivitas saluran napas juga

merupakan factor yang penting. Sensitisasi tergantung pada lama dan intensitas hubungan

dengan bahan alergenik sehingga dengan berhubungan dengan umur. Pada bayi dan anak

kecil sering berhubungan dengan isi dari debu rumah. Dengan bertambahnya umur makin

banyak jenis alergen pencetusnya. Asma karena makanan biasanya terjadi pada bayi dan

anak kecil.

2. Infeksi

Biasanya infeksi virus, terutama pada bayi dan anak kecil. Virus penyebab biasanya

respiratory syncytial virus (RSV) dan virus parainfluenza. Kadang-kadang juga dapat

disebabkan oleh bakteri, jamur dan parasit.

Page 9: Case Report Asma Pada Anak

3. Cuaca

Perubahan tekanan udara (Sultz dkk 1972), suhu udara, angin dan kelembaban (Lopez dan

Salvagio 1980) dihubungkan dengan percepatan dan terjadinya serangan asma.

4. Iritan

Hairspray, minyak wangi, asap rokok, cerutu dan pipa, bau tajam dari cat, SO2, dan polutan

udara yang berbahaya lainnya, juga udara dingin dan air dingin.Iritasi hidung dan batuk dapat

menimbulkan refleks bronkokonstriksi (Mc. Fadden 1980). Udara kering mungkin juga

merupakan pencetus hiperventilasi dan kegiatan jasmani (strauss dkk 1978, Zebailos dkk

1978).

5. Kegiatan jasmani

Kegiatan jasmani yang berat dapat menimbulkan serangan pada anak dengan asma (Goldfrey

1978, Eggleston 1980). Tertawa dan menangis dapat merupakan pencetus. Pada anak dengan

faal paru di bawah normal sangat rentan terhadap kegiatan jasmani.

6. Infeksi saluran napas bagian atas

Disamping infeksi virus saluran napas bagian atas, sinusitis akut dan kronik dapat

mempermudah terjadinya asma pada anak (Rachelesfsky dkk 1978). Rinitis alergi dapat

memperberat asma melalui mekanisme iritasi atau refleks.

7. Refluks gastroesofagitis

Iritasi trakeobronkial karena isi lambung dapat memberatkan asma pada anak dan orang

dewasa (Dess 1974).

8. Psikis

Tidak adanya perhatian dan tidak mau mengakui persoalan yang berhubungan dengan asma

oleh anak sendiri atau keluarganya akan memperlambat atau menggagalkan usaha-usaha

pencegahan. Dan sebaliknya jika terlalu takut terhadap serangan asma atau hari depan anak

juga tidak baik, karena dapat memperberat serangan asma. Membatasi aktivitas anak, anak

sering tidak masuk sekolah, sering bangun malam, terganggunya irama kehidupan keluarga

karena anak sering mendapat serangan asma, pengeluaran uang untuk biaya pengobatan dan

rasa khawatir, dapat mempengaruhi anak asma dan keluarganya. 2

Faktor risiko

Page 10: Case Report Asma Pada Anak

Berbagai faktor dapat mempengaruhi terjadinya serangan asma, kejadian asma, berat

ringannya penyakit, serta kematian akibat penyakit asma.beberapa faktor tersebut sudah

disepakati oleh para ahli, sedangkan sebagian lain masih dalam penelitian. Faktor-faktor tersebut

antara lain :

1. Jenis kelamin, menurut laporan dari beberapa penelitian didapatkan bahwa prevalens

asma pada anak laki-laki sampai usia 10 tahun adalah 1,5 sampai 2 kali lipat anak

perempuan. Namun pada orang dewasa, rasio ini berubah menjadi sebanding antara laki-

laki dan perempuan pada usia 30 tahun.

2. Usia, umumnya pada kebanyakan kasus asma persisten gejala asma timbul pada usia

muda, yaitu pada beberapa tahun pertama kehidupan.

3. Riwayat atopi, adanya riwayat atopi berhubungan dengan meningkatnya risiko asma

persisten dan beratnya asma. Beberapa laporan menunjukan bahwa sensitisasi alergi

terhadap alergen inhalan, susu, telur, atau kacang pada tahun pertama kehidupan,

merupakan prediktor timbulnya asma.

4. Lingkungan, adanya alergen di lingkungan hidup anak meningkatkan risiko penyakit

asma, alergen yang sering mencetuskan asma antara lain adalah serpihan kulit binatang

piaraan, tungau debu rumah, jamur, dan kecoa.

5. Ras, menurut laporan dari amerika serikat, didapatkan bahwa prevalens asma dan

kejadian serangan asma pada ras kulit hitam lebih tinggi daripada kulit putih.

6. Asap rokok, prevalens asma pada anak yang terpajan asap rokok lebih tinggi daripada

anak yang tidak terpajan asap rokok. Risiko terhadap asap rokok sudah dimulai sejak

janin dalam kandungan, umumnya berlangsung terus setelah anak dilahirkan, dan

menyebakan meningkatnya risiko.

7. Outdoor air pollution,

8. Infeksi respiratorik.

Patofisiologi

Obstruksi Saluran Respiratorik

Inflamasi saluran respiratorik yang ditemukan pada pasien asma diyakini merupakan hal

yang mendasari gangguan fungsi : obstruksi saluran respiratorik menyebabkan

keterbatasan aliran udara yang dapat kembali secara spontan atau setelah pengobatan.

Page 11: Case Report Asma Pada Anak

Perubahan fungsional yang dihubungkan dengan gejala khas pada asma : batuk, sesak,

wheezing dan disertai hipereaktivitas saluran respiratorik terhadap berbagai rangsangan.

Batuk sangat mungkin disebabkan oleh stimulasi saraf sensoris pada saluran respiratorik

oleh mediator inflamasi dan terutama pada anak, batuk berulang bisa jadi merupakan

satu-satunya gejala asma yang ditemukan. Penyempitan saluran respiratorik pada asma

dipengaruhi oleh banyak faktor. Penyebab utama penyempitan saluran respiratorik adalah

kontraksi otot polos bronkus yang diprovokasi oleh pelepasan agonis dari sel-sel

inflamasi. Yang termasuk agonis adalah histamine, triptase, prostaglandin D2 dan

leukotrien C4 dari sel mast; neuropeptida dari saraf aferen setempat, dan asetilkolin dari

saraf eferen postganglionic. Kontraksi otot polos saluran respiratorik diperkuat oleh

penebalan dinding saluran napas akibat edema akut, inflamasi sel-sel inflamasi dan

remodeling, hiperplasia dan hipertrofi kronis otot polos, vaskuler, dan sel-sel sekretori

serta deposisi matriks pada dinding saluran respiratorik. Selain itu, hambatan saluran

respiratorik juga bertambah akibat produksi secret yang banyak, kental, dan lengket oleh

sel goblet dan kelenjar submukosa, protein plasma yang keluar melalui mikrovaskular

bronkus dan debris selular.

Hiperreaktivitas Saluran Respiratorik

Penyempitan saluran respiratorik secara berlebihan merupakan patofisiologis yang secara

klinis paling relevan pada penyakit asma. Mekanisme yang bertanggung jawab terhadap

reaktivitas yang berlebihan atau hiperreaktivitas ini belum diketahui tetapi mungkin

berhubungan dengan perubahan otot polos saluran napas (hiperplasi dan hipertrofi) yang

terjadi secara sekunder yang menyerbabkan perubahan kontraktilitas. Selain itu, inflamasi

dinding saluran respiratorik terutama daerah peribronkial dapat memperberat

penyempitan saluran respiratorik selama kontraksi otot polos.

Hiperreaktivitas bronkus secara klinis sering diperiksa dengan memberikan stimulus

aerosol histamin atau metakolin yang dosisnya dinaikan secara progresif kemudian

dilakukan pengukuran perubahan fungsi paru (PFR atau FEV1). Provokasi/stimulasi lain

seperti latihan fisik, hiperventilasi, udara kering dan aerosol garam hipertonik, adenosine

tidak mempunyai efek langsung terhadap otot polos (tidak seperti histamin dan

metakolin), akan tetapi dapat merangsang pelepasan mediatordari sel mast, ujung serabut

Page 12: Case Report Asma Pada Anak

saraf, atau sel-sel lain pada saluran respiratorik. Dikatakan hipereaktif bila dengan cara

histamin didapatkan penurunan FEV1 20% pada kosentrasi histamine kurang dari 8mg%.

Klasifikasi

Pembagian derajat penyakit asma yang dibuat oleh Phelan dkk, (dikutip dari Konsensus

Pediatri Internasional III tahun 1998). Klasifikasi ini membagi derajat asma menjadi 3 (tiga),

yaitu sebagai berikut :

1. Asma episodik jarang ( Asma ringan)

Golongan ini merupakan 70–75% dari populasi asma anak. Biasanya terdapat pada anak

umur 3–6 tahun. Serangan umumnya dicetuskan oleh infeksi virus saluran napas atas.

Banyaknya serangan 3–4 kali dalam satu tahun. Lamanya serangan paling lama hanya

beberapa hari saja dan jarang merupakan serangan yang berat. Gejala-gejala yang timbul

lebih menonjol pada malam hari. Mengi dapat berlangsung sekitar 3–4 hari dan batuknya

dapat berlangsung 10–14 hari. Waktu remisinya bermingu-minggu sampai berbulan-bulan.

Manifestasi alergi lainnya misalnya eksim jarang didapatkan. Tumbuh kembang anak

biasanya baik. Di luar serangan tidak ditemukan kelainan lain.

2. Asma episodik sering (Asma sedang)

Golongan ini merupakan 28% dari populasi asma anak. Pada dua pertiga golongan ini

serangan pertama terjadi pada umur sebelum 3 tahun. Pada permulaan, serangan

berhubungan dengan infeksi saluran pernapasan atas. Pada umur 5–6 tahun dapat terjadi

serangan tanpa infeksi yang jelas. Biasanya orang tua menghubungkannya dengan perubahan

udara, adanya alergen, aktivitas fisik dan stress. Banyaknya serangan 3−4 kali dalam satu

tahun dan tiap kali serangan beberapa hari sampai beberapa minggu. Frekuensi serangan

paling banyak pada umur 8−13 tahun. Pada golongan lanjut kadang-kadang sukar dibedakan

dengan golongan asma kronik atau persisten. Umumnya gejala paling buruk terjadi pada

malam hari dengan batuk dan mengi yang dapat mengganggu tidur.

Pemeriksaan fisik di luar serangan tergantung pada frekuensi serangan. Jika waktu

serangan lebih dari 1−2 minggu, biasanya tidak ditemukan kelainan fisik. Hay fever dan

eksim dapat ditemukan pada golongan ini. Pada golongan ini jarang ditemukan gangguan

pertumbuhan.

3. Asma kronik atau persisten (Asma Berat)

Page 13: Case Report Asma Pada Anak

Pada 25% anak serangan pertama terjadi sebelum umur 6 bulan, 75% sebelum umur 3

tahun. Pada 50% anak terdapat mengi yang lama pada 2 tahun pertama dan pada 50% sisanya

serangan episodik. Pada umur 5−6 tahun akan lebih jelas terjadinya obstruksi saluran napas

yang persisten dan hampir selalu terdapat mengi setiap hari. Dari waktu ke waktu terjadi

serangan yang berat dan memerlukan perawatan di rumah sakit. Obstruksi jalan napas

mencapai puncaknya pada umur 8–14 tahun.

Pada umur dewasa muda 50% dari golongan ini tetap menderita asma persisten atau

sering. Jarang yang betul-betul bebas mengi pada umur dewasa muda. Pada pemeriksaan

fisik dapat terjadi perubahan bentuk toraks seperti dada burung (pigeon chest), dada tong

(barrel chest) dan terdapat sulkus Harrison. Pada golongan ini dapat terjadi gangguan

pertumbuhan, yaitu bertubuh kecil. Kemampuan aktivitas fisiknya sangat berkurang, sering

tidak dapat melakukan kegiatan olahraga dan kegiatan biasa lainnya. Sebagian kecil ada juga

yang mengalami gangguan psikososial.

Selain itu juga pembagian asma menurut GINA adalah sebagai berikut :

Tabel klasifikasi derajat berat asma berdasarkan gambaran klinis

Derajat

asma

Gejala Gejala

malam

Faal paru

Intermitten Bulanan

Gejala < 1x/minggu

Tanpa gejala diluar serangan

Serangan singkat

≤ 2x/bulan APE ≥ 80%

VEP1 ≥ 80% nilai

prediksi APE ≥ 80%

nilai terbaik

Variabilitas APE <

20%

Persisten

ringan

Mingguan

Gejala > 1x/minggu tetapi <

1x/hari

Serangan dpt mengganggu

aktivitas dan tidur

> 2x/bulan APE > 80%

VEP1 ≥ 80%

nilai prediksi APE ≥

80% nilai terbaik

Variabilitas APE

20-30%

Persisten Harian > APE 60-80%

Page 14: Case Report Asma Pada Anak

sedang Gejala setiap hari

Serangan mengganggu

aktivitas dan tidur

membutuhkan bronkodilator

setiap hari

1x/minggu VEP1 60-80% nilai

prediksi APE 60-80%

nilai terbaik

Variabilitas APE >

30%

Persisten

berat

Kontinua

Gejala terus menerus

Sering kambuh

Aktivitas fisik terbatas

Sering APE ≤ 60%

VEp1 ≤ 60% nilai

prediksi ≤ 60% nilai

terbaik

Variabilitas APE >

30%

Pada umumnya penderita sudah dalam pengobatan, dan pengobatan yang telah

berlangsung seringkali tidak adekuat. Pengobatan akan mengubah gambaran klinis bahkan faal

paru, oleh karena itu penilaian berat asma pada penderita dalam pengobatan juga harus

mempertimbangkan pengobatan itu sendiri.

Manifestasi Klinis

Gejala asma terdiri dari trias dispnea, batuk dan mengi. Pada bentuk yang paling khas,

asma merupakan penyakit episodik dan keseluruhan tiga gejala tersebut dapat timbul bersama-

sama. Berhentinya episode asma kerapkali ditandai dengan batuk yang menghasilkan lendir atu

mukus yang lengket seperti benang yang liat.

Pada serangan asma ringan:

Anak tampak sesak saat berjalan.

Pada bayi: menangis keras.

Posisi anak: bisa berbaring.

Dapat berbicara dengan kalimat.

Kesadaran: mungkin irritable.

Tidak ada sianosis (kebiruan pada kulit atau membran mukosa).

Mengi sedang, sering hanya pada akhir ekspirasi.

Biasanya tidak menggunakan otot bantu pernafasan.

Page 15: Case Report Asma Pada Anak

Retraksi interkostal dan dangkal.

Frekuensi nafas: cepat (takipnea).

Frekuensi nadi: normal.

Tidak ada pulsus paradoksus (< 10 mmHg)

SaO2 % > 95%.

PaO2 normal, biasanya tidak perlu diperiksa.

PaCO2 < 45 mmHg

Pada serangan asma sedang:

Anak tampak sesak saat berbicara.

Pada bayi: menangis pendek dan lemah, sulit menyusu/makan.

Posisi anak: lebih suka duduk.

Dapat berbicara dengan kalimat yang terpenggal/terputus.

Kesadaran: biasanya irritable.

Tidak ada sianosis (kebiruan pada kulit atau membran mukosa).

Mengi nyaring, sepanjang ekspirasi ± inspirasi.

Biasanya menggunakan otot bantu pernafasan.

Retraksi interkostal dan suprasternal, sifatnya sedang.

Frekuensi nafas: cepat (takipnea).

Frekuensi nadi: cepat (takikardi).

Ada pulsus paradoksus (10-20 mmHg)

SaO2 % sebesar 91-95%.

PaO2 > 60 mmHg.

PaCO2 < 45 mmHg

Pada serangan asma berat tanpa disertai ancaman henti nafas:

Anak tampak sesak saat beristirahat.

Pada bayi: tidak mau minum/makan.

Posisi anak: duduk bertopang lengan.

Dapat berbicara dengan kata-kata.

Kesadaran: biasanya irritable.

Terdapat sianosis (kebiruan pada kulit atau membran mukosa).

Mengi sangat nyaring, terdengar tanpa stetoskop sepanjang ekspirasi dan inspirasi.

Page 16: Case Report Asma Pada Anak

Menggunakan otot bantu pernafasan.

Retraksi interkostal dan suprasternal, sifatnya dalam, ditambah nafas cuping hidung.

Frekuensi nafas: cepat (takipnea).

Frekuensi nadi: cepat (takikardi).

Ada pulsus paradoksus (> 20 mmHg)

SaO2 % sebesar < 90 %.

PaO2 < 60 mmHg.

PaCO2 > 45 mmHg 

Pada serangan asma berat disertai ancaman henti nafas:

Kesadaran: kebingungan.

Nyata terdapat sianosis (kebiruan pada kulit atau membran mukosa).

Mengi sulit atau tidak terdengar.

Penggunaan otot bantu pernafasan: terdapat gerakan paradoks torakoabdominal.

Retraksi dangkal/hilang.

Frekuensi nafas: lambat (bradipnea).

Frekuensi nadi: lambat (bradikardi).

Tidak ada pulsus paradoksus; tanda kelelahan otot nafas.

Diagnosis

Diagnosis asma didasari oleh gejala yang bersifat episodik, gejala berupa batuk, sesak

napas, mengi, rasa berat di dada dan variabilitas yang berkaitan dengan cuaca. Anamnesis yang

baik cukup untuk menegakkan diagnosis, ditambah dengan pemeriksaan jasmani dan pengukuran

faal paru terutama reversibiltas kelainan faal paru akan lebih meningkatkan nilai diagnostik.

Riwayat penyakit atau gejala :

1. Bersifat episodik, seringkali reversibel dengan atau tanpa pengobatan.

2. Gejala berupa batuk berdahak, sesak napas, rasa berat di dada.

3. Gejala timbul/memburuk terutama malam/dini hari.

4. Diawali oleh faktor pencetus yang bersifat individu.

5. Responsif terhadap pemberian bronkodilator.

Hal lain yang perlu dipertimbangkan dalam riwayat penyakit

1. Riwayat keluarga (atopi).

Page 17: Case Report Asma Pada Anak

2. Riwayat alergi/atopi.

3. Penyakit lain yang memberatkan.

4. Perkembangan penyakit dan pengobatan.

Serangan batuk dan mengi yang berulang lebih nyata pada malam hari atau bila ada

beban fisik sangat karakteristik untuk asma. Walaupun demikian cukup banyak asma anak

dengan batuk kronik berulang, terutama terjadi pada malam hari ketika hendak tidur, disertai

sesak, tetapi tidak jelas mengi dan sering didiagnosis bronkitis kronik. Pada anak yang demikian,

yang sudah dapat dilakukan uji faal paru (provokasi bronkus) sebagian besar akan terbukti

adanya sifat-sifat asma.

Batuk malam yang menetap dan yang tidak tidak berhasil diobati dengan obat batuk biasa

dan kemudian cepat menghilang setelah mendapat bronkodilator, sangat mungkin merupakan

bentuk asma.

Pemeriksaan fisik

o Gejala asma bervariasi sepanjang hari sehingga pada asma ringan dan sedang

tidak ditemukan kelainan fisik di luar serangan.

o Pada inspeksi terlihat pernapasan cepat dan sukar, disertai batuk-batuk

paroksismal, kadang-kadang terdengar suara mengi, ekspirasi memanjang, terlihat

retraksi daerah supraklavikular, suprasternal, epigastrium dan sela iga. Pada asma kronik

bentuk toraks emfisematous, bongkok ke depan, sela iga melebar, diameter

anteroposterior toraks bertambah.

o Pada perkusi terdengar hipersonor seluruh toraks, terutama bagian bawah

posterior. Daerah pekak jantung dan hati mengecil.

o Pada auskultasi bunyi napas kasar/mengeras, pada stadium lanjut suara napas

melemah atau hampir tidak terdengar karena aliran udara sangat lemah. Terdengar juga

ronkhi kering dan ronkhi basah serta suara lender bila sekresi bronkus banyak.

o Pada serangan ringan, mengi hanya terdengar pada waktu ekspirasi paksa. Mengi

dapat tidak terdengar (silent chest) pada serangan yang sangat berat disertai gejala

sianosis, gelisah, sukar bicara, takikardi, hiperinflasi dan penggunaan obat bantu napas.

Page 18: Case Report Asma Pada Anak

o Tinggi dan berat badan perlu diperhatikan dan bila mungkin bila hubungannya

dengan tinggi badan kedua orang tua. Asma sendiri merupakan penyakit yang dapat

menghambat perkembangan anak. Gangguan pertumbuhan biasanya terdapat pada asma

yang sangat berat. Anak perlu diukur tinggi dan berat badannya pada tiap kali kunjungan,

karena akibat pengobatan sering dapat dinilai dari perbaikan pertumbuhannya.

Uji faal paru

Berguna untuk menilai asma meliputi diagnosis dan penatalaksanaannya. Pengukuran

faal paru digunakan untuk menilai :

1. Derajat obstruksi bronkus

2. Menilai hasil provokasi bronkus

3. Menilai hasil pengobatan dan mengikuti perjalanan penyakit.

Pemeriksaan faal paru yang penting pada asma adalah PEFR, FEV1, PVC, FEV1/FVC.

Sebaiknya tiap anak dengan asma di uji faal parunya pada tiap kunjungan. “peak flow meter”

adalah yang paling sederhana, sedangkan dengan spirometer memberikan data yang lebih

lengkap. Volume kapasitas paksa (FVC), aliran puncak ekspirasi (PEFR) dan rasio FEV1/FVC

berkurang > 15% dari nilai normalnya. Perpanjangan waktu ekspirasi paksa biasanya ditemukan,

walaupun PEFR dan FEV1/FVC hanya berkurang sedikit. Inflasi yang berlebihan biasanya

terlihat secara klinis, akan digambarkan dengan meningginya isi total paru (TLC), isi kapasitas

residu fungsional dan isi residu. Di luar serangan faal paru tersebut umumnya akan normal

kecuali pada asma yang berat. Uji provokasi bronkus dilakukan bila diagnosis masih diragukan.

Tujuannya untuk menunjukkan adanya hiperreaktivitas bronkus. Uji Provokasi bronkus dapat

dilakukan dengan :

1. Histamin

2. Metakolin

3. Beban lari

4. Udara dingin

5. Uap air

6. Alergen

Yang sering dilakukan adalah cara nomor 1, 2 dan 3. Hiperreaktivitas positif bila PEFR, FEV1

turun > 15% dari nilai sebelum uji provokasi dan setelah diberi bronkodilator nilai normal akan

Page 19: Case Report Asma Pada Anak

tercapai lagi. Bila PEFR dan FEV1 sudah rendah dan setelah diberi bronkodilator naik > 15%

yang berarti hiperreaktivitas bronkus positif dan uji provokasi tidak perlu dilakukan.

Foto rontgen toraks

Tampak corakan paru yang meningkat. Atelektasis juga sering ditemukan. Hiperinflasi

terdapat pada serangan akut dan pada asma kronik. Rontgen foto sinus paranasalis perlu juga bila

asmanya sulit dikontrol.

Pemeriksaan darah eosinofil dan uji tuberkulin

Pemeriksaan eosinofil dalam darah, sekret hidung dan dahak dapat menunjang diagnosis

asma. Dalam sputum dapat ditemukan kristal Charcot-Leyden dan spiral Curshman. Bila ada

infeksi mungkin akan didapatkan leukositosis polimormonuklear.

Uji kulit alergi dan imunologi

1. Komponen alergi pada asma dapat diidentifikasi melalui pemeriksaan uji kulit atau

pengukuran IgE spesifik serum.

2. Uji kulit adalah cara utama untuk mendignosis status alergi/atopi, umumnya dilakukan

dengan prick test. Alergen yang digunakan adalah alergen yang banyak didapat di

daerahnya. Walaupun uji kulit merupakan cara yang tepat untuk diagnosis atopi, dapat

juga mendapatkan hasil positif palsu maupun negative palsu. Sehingga konfirmasi

terhadap pajanan alergen yang relevan dan hubungannya dengan gejala klinik harus

selalu dilakukan. Untuk menentukan hal itu, sebenarnya ada pemeriksaan yang lebih

tepat, yaitu uji provokasi bronkus dengan alergen yang bersangkutan. Reaksi uji kulit

alergi dapat ditekan dengan pemberian antihistamin

3. Pemeriksaan IgE spesifik dapat memperkuat diagnosis dan menentukan

penatalaksaannya. Pengukuran IgE spesifik dilakukan pada keadaan uji kulit tidak dapat

dilakukan (antara lain dermatophagoism, dermatitis/kelainan kulit pada lengan tempat uji

kulit dan lain-lain). Pemeriksaan kadar IgE total tidak mempunyai nilai dalam diagnosis

alergi/atopi.

Page 20: Case Report Asma Pada Anak

Penatalaksanaan

Pengobatan asma menurut GINA ( Global initiative for Asma). Program penatalaksanaan

asma diantaranya melalui 6 komponen dalam dibawah ini :

1. Edukasi pada anak / keluarganya

Dengan bantuan dokter dan tenaga kesehatan lainnya, anak dan keluarganya akan secara

aktif turut serta dalam penatalaksanaan penyakit asmanya untuk mencegah timbulnya

masalah dan dapat hidup secara produktif. Sehingga dapat menjauhi faktor resiko,

berobat dengan benar, mengetahui perbedaan obat ‘controller’ dan ‘reliever’, monitoring,

mengenali gejala serangan asma dan mencari pertolongan medis secara apropriate.

2. Menilai dan monitor berat asma secara berkala

penilaian dan monitor berat asma baik melalui pengukuran gejala, pemeriksaan uji faal

paru, dan analisis gas darah sangat diperlukan untuk menilai hasil pengobatan. Seperti

telah dikemukakan sebelumnya, banyak penderita asma yang tanpa gejala, ternyata pada

pemeriksaan faal parunya menunjukkan adanya obstruksi saluran nafas.

3. Mengidentifikasi dan menghindari factor pencetus

Mengidentifikasi dan menghindari factor pencetus yang dapat menimbulkan proses

inflamasi saluran nafas merupakan tahap pertama pada penatalaksaan penyakit asma.

Menghindari factor pencetus dapat mengurangi gejala dan dalam jangka panjang dapat

menekan proses inflamasi maupun hiperreaktivitas saluran nafas. Yang termasuk induced

trigger antara lain allergen, bahan-bahan kimia yang iritatif, obat-obatan, infeksi virus.

Sedang inciter trigger antara lain exercise, udara dingin, dan emosi, dll.

4. Program penatalaksanaan asma jangka panjang

Program ini meliputi 3 hal yang harus dipertimbangkan yaitu obat-obatan asma,

pengobatan secara farmakologis berdasarkan system anak tangga, pengobatan

berdasarkan sistem zona atau wilayah bagi penderita.

5. Merencanakan pengobatan asma akut

Serangan asma ditandai dengan gejala sesak nafas, batuk, mengi atau kombinasi dari

gejala-gejala tersebut. Derajat serangan asma bervariasi dari yang ringan sampai berat

yang dapat mengancam jiwa. Serangan bisa mendadak atau bisa juga perlahan-lahan

dalam jangka waktu berhari-hari. Satu hal yang perlu diingat bahwa serangan asma akut

Page 21: Case Report Asma Pada Anak

menunjukan rencana pengobatan jangka panjang telah gagal atau pasien sedang terpajan

faktor pencetus.

6. Berobat secara teratur

Untuk memperoleh tujuan pengobatan yang diinginkan, pasien asma pada umumnya

memerlukan pengawasan yang teratur dari tenaga kesehatan. Kunjungan yang teratur

diperlukan untuk menilai hasil pengobatan, cara pemakaian obat, cara menghindari factor

pencetus serta penggunaan alat peak flow meter. Makin baik hasil pengobatan, kunjungan

ini akan semakin jarang.

Penatalaksanaan Serangan Asma

Serangan asma akut merupakan kegawatan medis yang lazim dijumpai di ruang gawat

darurat. Perlu ditekankan bahwa serangan asma berat dat dicegah, setidaknya dapat dikurangi

dengan pengenalan dini dan terapi intensif.

Pada serangan asma, tujuan tatalaksananya adalah untuk :

meredakan penyempitan saluran respiratorik secepat mungkin

mengurangi hipoksemia

mengembalikan fungsi paru ke keadaan normal secepatnya

rencana re-evaluasi tatalaksana jangka panjang untuk mencegah kekambuhan.

Tahapan Tatalaksana Serangan Asma

Alur tatalaksana serangan asma terhadap anak

Nilai derajat serangan

Tatalaksana awalNebulisasi b-agonis 1-3x, selang 20 menitNebulisasi ketiga + antikolinergikJika serangan berat, nebulisasi b-agonis + antikolinergik

Serangan ringan:(nebulisasi 1x, respon baik) Observasi 1 jam Efek bertahan, boleh

Serangan sedang:(nebulisasi 2x, respon parsial) Berikan oksigen

Serangan berat:(nebulisasi 3x, respon buruk) Sejak awal berikan O2

Page 22: Case Report Asma Pada Anak

pulang Gejala timbul lagi,

perlakukan sebagai serangan sedang

Nilai kembali derajat serangan, jika sesuai dengan serangan sedang, observasi di Ruang Rawat Sehari

Steroid oral Pasang jalur parenteral

saat/di luar nebulisasi Pasang jalur parenteral Steriod intravena Nilai ulang klinisnya,

jika sesuai dengan serangan berat, rawat di Ruang Rawat Inap

Foto rontgen toraks

Boleh pulang: Bekali obat-obat b-

agonis (hirupan/oral) Jika sudah ada obat

pengendali, teruskan Jika infeksi virus

sebagai pencetus, beri steroid oral (3-5 hari)

Dalam 24-48 jam kontrol ke klinik R. Jalan, untuk reevaluasi

Ruang rawat sehari / observasi Oksigen teruskan Steroid oral dilanjutkan Nebulisasi tiap 2 jam Bila dalam 12 jam

perbaikan klinis, stabil, boleh pulang, tetapi jika klinis tetap belum membaik/bahkan memburuk, alih ke Ruang Rawat Inap

Ruang Rawat Inap: Oksigen teruskan Atasi dehidrasi dan

asidosis jika ada Steroid IV tiap 6-8 jam Nebulisasi tiap 1-2 jam Aminofilin iv awal,

lanjutkan rumatan Jika membaik dalam 4-

6x nebulisasi, interval jadi 4-6 jam

Jika dalam 24 jam perbaikan klinis stabil, boleh pulang

Jika dengan steroid dan aminofilin parenteral tidak membaik, bahkan timbul ancaman henti nafas, alih rawat ke Ruang Rawat Intensif

Catatan:

Jika tidak ada alatnya, nebulisasi dapat diganti dengan adrenalin subkutan 0,01 ml/kgBB/kali,

maksimal 0,3 ml/kali

Untuk serangan sedang dan terutama berat, oksigen 2-4 l/menit

Page 23: Case Report Asma Pada Anak

DAFTAR PUSTAKA

1. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Asma : Pedoman Diagnosis dan Penatalaksaan di

Indonesia. Balai Penerbit FKUI : Jakarta, 2004.

2. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Buku Kuliah

3 Ilmu Kesehatan Anak. Cetakan Ke 7. Percetakan Infomedika : Jakarta, 2002.

3. Isselbacher. Harrison Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit dalam. Edisi 13. Volume 3. Editor Edisi

bahasa Indonesia : Ahmad H. Asdie. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta, 2000.

4. Robbins dkk. Buku Ajar Patologi II. Edisi 4. Alih Bahasa : Staf pengajar Laboratorium

Patologi Anatomik Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Penerbit Buku Kedokteran

EGC : Jakarta, 1995.

5. Adi Utomo Suardi,Dr, SpA (K), dkk, Buku Ajar Respirologi Anak Edisi Pertama. Cetakan

Pertama : Ikatan Dokter Anak Indonesia. Badan Penerbit IDAI : Jakarta, 2008.

6. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Pedoman Nasional Asma Anak . Balai Penerbit FUI : Jakarta,

2004.