Bahan Pastoral Care Lengkap (1)

of 33 /33
BAB II LANDASAN TEORI Latihan praktis konseling Pasal ini ditulis untuk menolong konselor-konselor, guru-guru yang mengajar maupun hamba-hamba Tuhan yang mempunyai kerinduan untuk melatih kader-kader gereja dalam pelayanan konseling. Di mana-mana terdengar banyak keluhan, terutama dari alumni sekolah teologi, bahwa teori dan pengetahuan tentang konseling yang dipelajari diruang kelas ternyata tidak bisa dipraktikkan. Prinsip dan kebenaran konseling kurang mendapat perhatian dan dengan cepat terlupakan. Mengapa? a. Karena mata kuliah “Pastoral Konseling” masih dianaktirikan. Kepentingannya masih belum dilihat sehingga dalam banyak sekolah teologi, pengaruhnya sedikit sekali dan kemudian tidak membekas setelah tertelan oleh mata kuliah lain. b. Kurangnya tenaga pengajar yang qualified, yang tahu mengintregasikan teologi dan psikologi dalam mata kuliah ini, dimana belajar konseling sama seperti bagaimana memberi jawaban dan nasihat, atau bahkan menjadi mata kuliah psikologi umum yang tempatnya dalam konteks pelayanan gereja tidak pernah jelas. c. Karena mata kuliah ini boleh diambil oleh sembarang mahasiswa. Padahal mahasiswa yang belum punya dasar pengetahuan teologi, alkitab, psikologi, dan sosiologi

Transcript of Bahan Pastoral Care Lengkap (1)

BAB II

LANDASAN TEORI

Latihan praktis konseling

Pasal ini ditulis untuk menolong konselor-konselor, guru-guru yang mengajar maupun

hamba-hamba Tuhan yang mempunyai kerinduan untuk melatih kader-kader gereja dalam

pelayanan konseling. Di mana-mana terdengar banyak keluhan, terutama dari alumni sekolah

teologi, bahwa teori dan pengetahuan tentang konseling yang dipelajari diruang kelas ternyata

tidak bisa dipraktikkan. Prinsip dan kebenaran konseling kurang mendapat perhatian dan

dengan cepat terlupakan. Mengapa?

a. Karena mata kuliah “Pastoral Konseling” masih dianaktirikan. Kepentingannya masih

belum dilihat sehingga dalam banyak sekolah teologi, pengaruhnya sedikit sekali dan

kemudian tidak membekas setelah tertelan oleh mata kuliah lain.

b. Kurangnya tenaga pengajar yang qualified, yang tahu mengintregasikan teologi dan

psikologi dalam mata kuliah ini, dimana belajar konseling sama seperti bagaimana

memberi jawaban dan nasihat, atau bahkan menjadi mata kuliah psikologi umum

yang tempatnya dalam konteks pelayanan gereja tidak pernah jelas.

c. Karena mata kuliah ini boleh diambil oleh sembarang mahasiswa. Padahal mahasiswa

yang belum punya dasar pengetahuan teologi, alkitab, psikologi, dan sosiologi yang

sehat sebenarnya tidak mungkin dapat mempraktikan pelayanan pastoral konseling.

Oleh karena itu, disamping tugas-tugas pembenahan atas kelemahan-kelemahan yang ada,

seharusnya kuliah pastoral konseling dilengkapi dengan latihan praktis. Dan ini dapat

diberikan dalam beberapa tahap.

Tahap I: Dalam Bentuk Latihan Sensitivitas

Latihan ini perlu diberikan berulang-ulang agar setiap calon konselor betul-betul peka

terhadap dimensi yang tersembunyi dari setiap permasalahan yang diperhadapmukakan

padanya. Peka terhadap:

Perasaan dibalik kata-kata

Jalan pikiran si klien

Aspek-aspek yang bersangkut paut dan ikut menentukan persoalan si klien

Situasi dan kondisi yang ada

Inti dan akar persoalannya

Kebutuhan yang sesungguhnya dari klien

Kesempatan yang Tuhan sediakan baginya

Latihan ini sangat diperlukan karena hanya dengan inilah pengetahuan dan teori konseling

dapat dimengerti kebenarannya. Calon konselor mulai mengenali kebenaran dari sumbangan

psikologi dan teologi.

Latihan ini dapat diberikan dalam bentuk:

Diskusi kelompok

Menganalisis penyelesaian kasus konseling

Diskusi Kelompok

a. Kepada setiap calon konselor diberikan tugas membaca satu topik atau pokok

permasalahan (sebaiknya dipilih topik konseling, seperti perceraian, pendidik anak,

depresi, seks, pernikahan, dsb., supaya sekaligus melengkapi pengetahuan dan

kepekaan terhadap masalah tersebut).

b. Diskusikan dalam kelompok kecil (4-5 orang) dimana sambil berdiskusi, masing-

masing mencatat dan memberikan penilaian mereka terhadap teman yang lain. Baik

penilaian atas sikapnya, apa yang mau dikemukakannya, jalan pikirannya, perasaan

dibalik kata-katanya, dsb.

c. Sharing: masing-masing membagikan evaluasi dan kesan terhadap teman-teman yang

lain.

Misalnya: saya rasa si A tadi sebenarnya mengatakan ini.....

Sayang emosinya naik sehingga berita yang ia mau sampaikan tidak jelas.

Catatan: dalam latihan sensitivitas ini setiap kali kita sebagai pembimbing harus

bertindak sebagai moderator dan sumber informasi yang diperlukan. Kita bukan

hanya menstimulir kreativitas dan partisipasi dari setiap individu, tetapi juga mampu

memberikan input dalam bagian-bagian yang kurang.

Diskusi kelompok ini dibentuk dan isinya bisa dikembangkan sendiri, bisa dalam bentuk:

Film talk-back

Dimana dengan tersedianya video-cassette sekarang ini dengan mudah kita

memutar film watak, dimana kepada setiap calon konselor diberikan tugas untuk

menangkap inti cerita, pokok persoalannya, jalan pikiran si sutradara, perasaan

dibalik kata-kata pemain, mimik, dan akting bahkan kesan dari masing-masing

pribadi terhadap film itu.

Menganalisis cerita

Kita sekarang memiliki banyak perbendaharaan dan kumpulan cerita pendek

yang bermutu, setiap kali kita bisa memilih dan memberikan satu copy pada

setiap calon dengan 3-4 pertanyaan yang harus dijawab, seperti misalnya:

Apa yang sebenarnya mau disampaikan oleh pengarang cerita ini

Kenali watak, perasaan, jalan pikiran si tokoh A atau B dalam cerita ini

Kalau misalnya ia datang pada saudara untuk konseling, pertolongan apa

yang akan saudara berikan, dsb. Kemudian didiskusikan.

Saling menganalisis kawan

Dalam satu kelompok kecil (4-5) orang, kepada setiap orang diberikan tugas

menjawab pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut masalah pribadi, misalnya;

Ceritakan sebuah pengalaman yang paling berkesan dalam hidup saudara.

Ceritakan tentang seseorang yang paling berpengaruh dalam kehidupan saudara.

Kemudian,sementara masing-masing cerita,yang lain membuat analisa;apa yang

sebenarnya ia mau katakanan?motivasi,perasaan,pemikiran apa yang ada dibalik cerita

itu.dan topeng apa yang ia sedang pakai sekarang?

Dalam setiap interpersonal relationship orang selalu berusaha mengenakan ‘topeng’ yang

ia pilih dengan pertimbangan-pertimbangan pribadi,baik yang disadari maupun yang

tidak.maksudnya,topeng yang disadari adalah topeng yang dipakai karena’saya sadar saya

ingin dikenal sebagai….’pihak lain ada orang yang memakai topeng tertentu tanpa benar-

benar disadarinya.yaitu mungkin oleh karena ia sudah terbiasa dan merasa cukup senang

memakai topeng tersebut meskipun mungkin sangat merugikan diri sendiri.

Menganalisa Kasus Konseling

Metode lain lagi dari latihan sensitivitas adalah menganalisa penyelesaian kasus-kasus

konseling yang dimuat dalam surat-surat kabar,majalah,dsb.

Kepada setiap calon konselor diberikan satu copy dari ruang tanya jawab atau

penyelesaian kasus konseling yang dimuat dimajalah atau surat kabar.

Dengan disertai 3-4 pertanyaan yang harus dijawab,misalnya :

Apa yang dilihat konselor sebagai persoalan utama konseli?

Menurut saudara.bagaimana ‘outline’ pendekatan konseling yang dipakai

konselor?buatlah urut-urutan kronologisnya.

Bagian-bagian manakah dari persoalan konseli yang sudah dapat diatasi

dan mana yang belum?

Kalau saudara yang menjadi konselor,langkah-langkah pembimbingan apa

yang akan saudara berikan?

Diskusikan.

Tahap II: Dalam Bentuk Latihan Verbatim

Verbatim adalah catatan lengkap kata demi kata dari percakapan konseling.hal ini sangat

dibutuhkan untuk melatih calon-calon konselor supaya mereka mulai membiasakan diri

dengan prinsip-prinsip dan disiplin konseling yang sehat.tidak lagi berkata-kata

semaunya sendiri dalam percakapan konseling.tidak berkata-kata berdasarkan

mood,perasaan,kesan,atau kebiasaan pribadi,tetapi cobalah mengubah dan

memperbaharui system komunikasinya sebagai konselor dalam hubungannya dengan

konselinya.verbatim juga sangat perlu untuk dapat mengecek sampai dimana sesorang

sudah belajar konselng.sehingga kita bisa membimbing dan menolong calon-calon

konselor secara lebih tepat.meskipun dalam latihan verbatim,kita melatih diri untuk bisa

memakai kata-kata yang tepat pada saat yang tepat,tetapi itu sama sekali tidak

dimaksudkan supaya calon-calon konselor mengesampingkan keunikan identitas

pribadinya,menduplikat,dan mengadoptir pemakaian kata-kata dan susunan kalimat

orang lain.karena yang terpenting dalam latihan ini adalah ‘prinsip pendekatan

konseling’-nya sehingga keunikan tiap pribadi dalam penyusunan dan pemakaian kata-

kata tidak perlu ditinggalkan sama sekali.

Ada pun fokus utama dalam latihan ini adalah melatih calon konselor dalam kemampuan

refleksi,yaitu kemampuan untuk menangkap perasaan di balik kata-kata konseli dan

merefleksikan dalam kata-kata yang jelas,sederhana,dan tepat.Maksudnya ialah supaya

konseli ditolong untuk mengenali dirinya sendiri,kondisinya saat itu,perasaannya,dan

cara berpikirnya bahkan sikapnya terhadap hal-hal yang dianggapnya sebagai masalah

saat itu.karena hanya dengan refleksi yang tepat,konselor dan konseli bisa masuk dalam

proses konseling yang sesungguhnya.

Contoh : seorang pemuda,anggota jemaat saudara minta berkonsultasi.saudara tahu

kalau pemuda ini sedang berpacaran dengan seorang janda (cerai secara sah

dari suaminya).pemuda ini punya pekerjaan yang baik dan maju sekali.

Konseli : saya ingin minta nasehat bapak tentang persoalan saya,tentunya bapak tahu

kalau saya dekat dengan Rita.

Yah,kami sudah membicarakan untuk menikah…..

Tetapi akhir-akhir ini saya bingung…saya tidak tahu apakah saya harus

menikahi dia atau tidak.

Konselor : maksudmu….kau tidak begitu yakin dengan pernikahan itu?

Konseli : yah…sebenarnya ibuku yang selalu bilang,seharusnya jangan menikah

dengan janda,apalagi bekas suaminya masih hidup.kata-kata itu sebenarnya

sangat menyakitkan hati saya,saya rasa saya sudah dewasa dan bisa

menentukan sendiri hidupku.tetapi,tak tahu saya jadi bingung sekali.si A

bilang begini,si B bilang begitu….

Konselor ( refleksi) : apakah kau mau mengatakan bahwa kau sebenarnya jengkel

dengan dirimu sendiri?di satu pihak kau merasa dewasa dan mampu

menetukan hidupmu sendiri….tapi dipihak lain ternyata tidak berani

menentang kehendak orang-tua….karena dalam hati kecil kau rasakan

kebenarannya….

Dengan melakukan refleksi berulang-ulang,konseli akan dituntun untuk menemukan

dirinya sendiri.kemungkinan besar setelah itu pokok persoalan dapat berubah sama

sekali.apa yang semula tidak terlihat sebagai persoalan ternya justru pokok

persoalannya,dsb.barulah saat itu proses pembimbingan menemukan arahnya yang jelas.

Latihan verbatim ini dapat diberikan dalam bentuk seperti :

Latihan melengkapi verbatim

Latihan menganalisa verbatim

Latihan menyusun verbatim.

Latihan melengkapi verbatim

Setiap kali calon konselor diberi 2-3 kasus untuk dilengkapi.

Contoh : saudara mengunjungi seorang anggota jemaat saudara yang

memungut anak laki-laki dan adiknya yang baru saja meninggal karena

kecelakaan.saudara mendengar adanya kesulitan dalam penyesuaian diri

dengan si anak ini karena ia sekarang sudah berusia 10 tahun.

Konseli : yah…saya sebenarnya tidak tahu apa yang akan saya

ceritakan,memang dia anak yang baik,dan kami mengasihi dia,tetapi….dia

sebenarnya tidak merasa bahagia di rumah ini,saya dan suami saya bekerja dan

kedua anak kami sudah berumah tangga,jadi memang tidak ada orang lain

yang bisa bermain dengan dia….seperti almarhum ibunya sendiri yang sehari-

harian di rumah.

Konselor : ………………………………………………………………. (apa jawaban saudara

dan mengapa saudara menjawab).

Latihan menganalisis verbatim:

Dalam hal ini kepada calon konselor diberikan 2-3 contoh verbatim yang harus dinilai dan

dianalisis.

Contoh :

Saudara pergi ke rumah sakit bermaksud mengunjungi seorang anggota jemaat yang istrinya

akan melahirkan anak pertama. Ketika saudara tiba, saudara bertemu dengan suaminya di

depan kamar bedah, wajahnya murung, dia mengajak saudara pergi ke tempat lain, dan

berkata, kalau istrinya masih didalam. Kemudian ia duduk di bangku dan mullai menangis.

Konseli :

Anak itu tidak hidup. Bayi laki-laki……tetapi lahir terus tiada……aku tahu Tuhan punya

maksud. Tapi rasanya sukar bagiku untuk mengerti kenapa…. Kenapa Tuhan membiarkan

semuanya ini terjadi….

Konselor :

Saya mengerti apa yang saudara rasakan….(diam sejenak). Memang kadang-kadang dalam

hidup ini…. Kita mengalami hal-hal yang tidak kita inginkan. Tetapi sudahlah, tabahkanlah

hatimu….maksud Tuhan selalu baik…..

Baca verbatim di atas baik-baik, berikan penilaian saudara, apakah jawaban konselor tetap

atau tidak…. Berikan alasanmu kenapa? Dan bagaimana jikalau saudara sendiri konselornya?

Latihan menyusun verbatim :

Dari seluruh latihan tahap II ini, latihan menyusun verbatim barangkali merupakan latihan

yang terberat. Oleh karena itu sebaiknya latihan ini diberikan setelah sekian kali calon-calon

mengerjakan latihan-latihan verbatim yang lainnya.

Contoh :

Konseli :

Sejak Papa meninggal dua tahun yang lalu, Mama tinggal bersama kami, maklumlah saya

anak tunggal. Tetapi akhir-akhir ini kami menghadapi sedikit masalah, yaitu pendidikan

anak-anak. Istri saya merasa keberatan kalau Mama ikut-ikutan menangani soal-soal

pendidikan anak-anak itu. Padahal menurut pengamatan saya, Mama sangat pendiam dan

biasanya tidak mau tahu soal-soal rumah tangga. Bagaimana menurut pendapat Bapak/Ibu,

apakah baik kalau kami minta mama tinggal bersama dengan Tante (adik mama) yang hidup

seorang diri (Mama sendiri sebenarnya ingin tinggal disana). Perlu diketahui bahwa istri saya

masih kuliah, soal keluarga sebenarnya sebagian besar ditangani pembantu rumah tangga

yang sudah 5 tahun ikut kami.

Konselor :………………….

Konseli :…………………….

Konselor :………………….

Konselor :………………….

Konseli :…………………….

Konselor :………………….

Isilah semua kolom yang sudah tersedia bagi konselor maupun konseli. Coba susunlah

verbatim ini sehingga menjadi percakapan yang menurut saudara, “jalanya akan demikian”.

Perlu saudara perhatikan, sebelum saudara menyusun verbatim ini, cobalah renungkan

terlebih dahulu beberapa pertanyaan ini:

Apa sebenarnya pokok persoalan di sini

Menurut saudara “apa yang dianggap sebagai masalah oleh konseli ini?

Apa kira-kira jalan keluarnya (apa goal dari konseling ini)?

Tahap III : Dalam Bentuk Latihan mengklasifikasikan Kasus

Kemampuan untuk mengklasifikasikan kasus adalah syarat mutlak bagi seorang konselor.

Karena dalam pertemuan pertama pada saat kasus diberikan kepada konselor, ia seharusnya

bisa langsung mengenali apakah kasus ini menjadi tanggung jawabnya sebagai hamba Tuhan

(bukan professional konselor) atau menjadi tanggung jawab dari professional lain seperti

dokter, psikiater, dsb, atau kerja sama antara kita dengan mereka. Apakah kasus ini short-

term atau long-term (dapat segera diselesaikan atau mesti berkala). Apakah konseli betul-

betul membutuhkan pertolongan atau ia datang dengan motivasi-motivasi yang lain.

Disinilah teori-teori dan informasi yang sudah dipelajari di pasal I s/d IV sangat

diperlukan. Karena tanpa pengetahuan itu kita tidak mungkin bisa mengenali apakah kasus

yang diberikan pada kita adalah kasus abnormalitas yang seharusnya ditangani oelh dokter

atau kasus-kasus dari individu yang normal. apakah perlu pengobatan terlebih dahulu dari

seorang dokter atau langsung dapat kita tangani (missal, kasus-kasus depresi). Apakah

konsseli betul-betul membutuhkan pertolongan kita atau ada motivasi-motivasi lain sehingga

ia menunjukkan gejaa resistant atau reluctant. Apakah kasus yang diberikan betul-betul

adalah poko persoalan (sehingga dapat ditanggani secara short-term) atau hanya sytoms

(gejala) dari masalah yang sudah terkubur oleh pengalaman-pengalaman lain sehingga perlu

dilakukan pelayanan long term.

Memang secara umum dalam pertemuan pertama kita sudah dapat megklasifikasikan

kasus, tetapi sering kali kita justru menemukan kasus-kasus yang sangat sulit untuk segera

diklasifikasikan. Untuk itu mau tidak mau kita harus masuk dalam fase “penjelajahan

persoalan” yang dapat memakan waktu dan berbelit-belit. Meskipun demikian, kita tidak

perlu kecil hati oleh karena ada beberapa prinsip yang dapat kita pegang.

Sebagai contoh kasus di bawah ini :

Kasus : nama saya siti, saya anak kedua dari satu keluarga dengan 5 orang anak. Saya rasa

orang tua saya tidak mengasihi saya, sejak kecil saya tidak pernah mendapat belaian kasih

saying dari mereka.

Sekarang usia saya 23 tahun, saya sudah bekerja di suatu kantor sebagai seorang sekretaris.

Di tempat inilah saya

Bertemu dengan teman sekantor saya, pria M 20 thn lebih tua dari saya, sudah menikah dab

punya beberapa orang anak.

Tetapi memang seperti kata orang 'cinta itu buta' saya rasakan semakin hari, saya semakin

mencintai dia. Dan dia berterus terang bahwa sudah lama ia tidak tinggal serumah dengan

istrinya... Katanya ia menikah bukan atas dasar cinta.

Beberapa hari yang lalu dia datang kerumah dan secara baik-baik melamar kepada orang tua

saya. Tetapi orang tua saya marah sekali....dan mengusir dia dengan kata-kata yang sangat

tidak sopan. Bahkan mengancam saya untuk segera memutuskan hubungan dan disertai

ancaman kalau saya tetap meneruskan hubungan dengan pria tersebut.

Apakah yang harus saya perbuat?

Prinsip I : menyimpan praduga kita

Pada saat mendapat kasus ini, muncul dalam pikiran konselor macam-macam dugaan tentang

'apa sebenarnya yang menjadi persoalannya.'

Mungkin persoalannya adalah:

- pemberontakan terhadap orang tuanya (keinginan untuk membalas dendam

mempermalukan orang tua) sehingga ia sengaja memilih pria yang ia tau pasti tidak akan

disukai orang tuanya.

- kebutuhan status sosial, dimana sebagai gadis umur 23 tahun ia merasakan tekanan

lingkungan untuk segera punya suami.

-kebutuhan kasih orangtua sehingga ia memilih laki-laki yang jauh lebih tua daripada dirinya

sendiri, dll.

Praduga ini harus disimpan dulu. Konselor yang baik tidak akan memaksakan dugaannya

untuk diakui sebagai persoalan konseli, atau memanipulir konseli supaya membenarkan

dugaannya

Misal dengan cara, seperti:

Saudari sudah berusia 23 tahun, sebagai pemudi normal pasti sadar atau tidak sadar saudari

membutuhkan seorang suami. Persoalan saudari yang utama sebenarnya disini. Oleh karena

itu sebaiknya..., dst. (Ini adalah manipulasi, kemungkinan besar konseli akan menyetujui

dugaan konselor karena ia tidak mau disebut "abnormal".)

Prinsip II : menyimpan nasihat-nasihat yang akan kita berikan

Pada saat mendapatkan kasus ini, secara wajar muncul dalam pikiran konselor perkiraan-

perkiraan tentang way out dan nasihat-nasihat yang akan diberikan

Kalau persoalan A ....... Kira-kira wayoutnya A1.

Kalau persoalan B ....... Kira-kira wayoutnya B1

Ini wajar, tetapi perkiraan-perkiraan itu juga harus disimpan dulu, oleh karena persoalan yang

sesungguhnya belum jelas.

Dalam bagian ini seorang konselor baru betul-betul menyadari bahwa tanpa bekal

pengetahuan teologi, Alkitab, dan psikologi yang cukup, tidak mungkin ia menjadi konselor

yang baik, yang dapat memberi way out dan nasihat yang tepat.

Prinsip III : Menjalajahi persoalan

Kita belum tahu apa persoalan yang sebenarnya. Bahkan kita sadar bahwa kemungkinan

besar apa yang konseli ceritakan sebenarnya cuma "apa yang dianggap sebagai persoalan

olehnya sendiri saat itu".

Disini kita harus waspada, satu pihak kita punya banyak dugaan tentang 'apa persoalan yang

sebenarnya'. Dan dugaan-dugaan ini mesti kita uji kebenarannya.

Pihak lain kita kita diperhadapmukakan dengan 'sesuatu' yang menurut konseli adalah

persoalannya, ini pun harus kita uji kebenarannya.

Oleh karena itu, kita harus :

- menguji kebenaran dugaan konseli

- menguji kebenaran dugaan kita

A. Menguji kebenaran dugaan konseli

Dengan prinsip 'refleksi' (liat latihan tahap II), kita coba melakukan pendekatan dan menguji

kebenaran dugaan si konseli terlebih dahulu. Apakah yang ia anggap sebagai 'persoalan'

sungguh-sungguh adalah persoalannya?

Contoh: (lihat kasus)

Konselor : rasanya saudari begitu marah terhadap orang tua saudari........(Fokuskan pada

perasaan saat itu)

Konseli : yah.... Saya merasa sangat "sakit hati" dengan sikapnya itu....

Konselor : sikapnya atau sikap mereka?

Konseli : terutama ayah saya... Ibu sih sebenarnya ikut-ikutan saja...

Konselor: jadi.... Terhdap ibu sebenarnya saudari tidak sakit hati?

Konseli : tidak.... Cuma jengkel kenapa dia diam saja

Konselor: jadi.... Sebenarnya saudari merasa ibu saudari dapat mengerti perasaan saudari?

Konseli : ya.....

Konselor : saudari pernah membicarakan secara pribadi persoalan ini pada ibu?

Konseli : ya... Beberapa kali. ( Emosi kemarahan mulai menurun)

Konselor: apa yg saudari bicarakan dengan ibu..... Dan bagaimana tanggapannya?

Konseli: dia bisa mengerti perasaan saya .... Cuma berkali-kali dia memperingatkan saya

supaya lebih berhati-hati.

Konselor : dan dalam hati kecil sebenarnya saudari setuju dengan nasihatnya?

Konseli: ya.... (Lirih)

Kita mulai melihat bahwa persoalannya sudaj berubah. Dan kebutuhan untuk menuntut

keadilan kepada kebutuhan pengertian dari kedua orang tuanya.... Kita mulai melihat titik-

titik terang untuk mengerti

Persoalan yang sebenarnya, kemungkinan besar pemudi ini tidak betul-betul cinta laki-laki

tadi.

Kebutuhannya akan seorang siamu tidak lebih besar daripada kebutuhannya akan cinta kasih,

perlindungan, dan pengertian dari kedua orangtuanya.

b. Menguji kebenaran dugaan kita

Dengan langsung menguji dugaan konseli secara langsung kita akan disadarkan yang

mana dari dugaan-dugaan kita yang lebih mendekati kebenaran.

Sepertinya misalnya contoh diatas. Kita telah sampai pada kesan bahwa sebenranya

kebutuhan akan cinta kadih dan perlindungan, pengertian dari orang-tua adalah kebutuhan

primer bagi siti.

Oleh karena itu dari sekian banyak dugaan kita tentang pokok persoalan kita sekarang

dapat fokuskan perhatian kita pada dugaan bahwa persoalan terletak pada hubungan siti

dengan orangtuanya.

Meskipun demikian, inti persoalannya belum kita ketahui, dan kita belum dapat

memberikan nasihat apa-apa. Kita belum mengetahui apa yang menyebabkan ia seperti

sengaja meneruskan pergaulan dengan laki-laki yang sudah berkeluarga itu.

Kita teruskan verbatim bagian a.

Konselor : Dan saudari tetap meneruskan pergaulan dengan laki-laki itu.... mengapa ?

Konseli : kami saling mencinta ......

Konselor : tadi saudari mengatakan........ bahwa saudari mengakui kebenaran nasihat ibu.....

dan sekarang saudari mengatakan saudari sudah terikat dengan perasaan cinta pada laki-laki

itu..... Apakah saudari terpakas dalam bercinta ini?.... atau saudari mau mengatakan bahwa

saudari Cuma berbohong kalau mengatakan ‘mengakui kebenaran nasihat Ibu’.....

Konseli : Tidak... saya tidak berbohong.

Konselor : jadi sebenarnya saudara sendiri tahu mana yang benar.... tetapi saudari tetap

meneruskan pergaulan itu... sehingga rasa cinta melibatkan kalian berdua.....

Konseli : ya.....

Konselor : mengapa.... saudari sengaja melawan nasihat Ibu yang Saudari akui

kebenarannya....?

Konseli : tidak tahu... pengen gitu aja kok...

Konselor : Saudari... pengen melihat ibu susah...?

Konseli : Tidak...

Konselor : Apa yang saudari maksudkan dengan “pengennya gitu aja kok”....?

Konseli : nggak tahu.. rasanya ingin saja melawan Ayah dan Ibu yang kolot itu....

Konselor : Ayahh....?

Konseli : ya.. sebenarnya semuanya Ayah yang menentukan ...!

Konselor : apakah tidak baik kalau Ayah sebagai kepala rumah tangga itu menentukan

semuannya..?

Konseli : persoalannya bukan baik atau tidak baik.... bapak pendeta tidak tahu kalau ia sangat

keterlaluan....

Konselor : misalnya...?

Konseli : yah... baju ini saja misalnya (sambil pegang lengan bajunya ).... kalau tidak sampai

menangis ... tidak boleh saya pakai...

Konselor : kenapa....?

Konseli : yah... selalu bilang ini tidak cocoklah... yang itulah... pokoknya keterlaluan sekali

(menangis).... apa saja haruslah ia yang menentukan.. tak ada sedikitpun hak saya...

Sampai disini kita bisa meraba inti persoalannya. Kemungkinan besar kebutuhan

‘independence’ sebagai gadis yang dewasa adalah pokok persoalan yang utama. Sekarang

tugas kita adalah melihat apakah benar pokok persoalannya disini. Mungkin dengan bertemu

dengan kedua orangtuanya, persoalan akan menjadi lebih jelas; termaksuk kategori apa kasus

ini, apakah kita dapat selesaikan short-term atau long-term dimana nasihat way-out baru

diberikan pada saat yang tepat.

Latihan ini sebaiknnya juga dilakukan berulang-ulang dengan kasus yang berbeda-

beda supaya prinsip-prinsip konselingnya dapat dijiai betul-betul.

Tahap IV : Dalam bentuk “Latihan menangani kasus-kasus konseling yang

sesungguhnya”.

Setelah kita belajar teori-teori dan melakukan latihan dengan kasus-kasus buatan,

maka sekarang calon-calon konselor harus mencoba menangani kasus-kasus yang

sesungguhnya. Ini adalah mata kuliah menangani kasus-kasus konseling yang sesungguhnya

dengan cara praktis yang dapat dilaksanakan dengan:

a. Kerja sama dengan salah satu gereja lokal untuk mendapatkan klien. (misalnya, dengan

ikut pada team kunjungan)

b. Menulis verbatim lengkap dari percakapan konseling itu atau dengan merekam

percakapan itu.

Catatan : verbatim yang lengkap, bukan hanya kata-kata dari konselor dan konseli..

tetapi termaksuk bagaimana suasana hati saat itu, hal-hal yang mempengaruhi jalannya

konseling itu, dan alasan di belakang setiap kalimat yang diucapkan konselor.

(mengapa konselor mengucapkan kata-kata itu)

c. Mendiskusikan verbatim itu

d. Memberikan tugas penulisan papper untuk melengkapi pengetahuan sekitar kasus itu.

Misalnya : verbatim itu berisi kasus ‘penceraian’

Agar supaya pengetahuan calon konselor dalam subyek itu dilengkapi, maka ia harus

menulis papper atau melakukan riset tentang hal itu.

Dalam latihan ini perlu calon-calon konselor dibekali dengan satu pegangan yang

jelas sehingga mereka tidak terombang-ambing kebingungan dalam memerankan role-nya

sebagai pastoral konselor, ditengah banyaknya macam pelayanan konseling diluar gereja

dewasa ini. Mereka bukan calon-calon konselor profesional, mereka ini adalah calon-calon

hamba Tuhan. Ini harus jelas bagi mereka, oleh karena itu :

a. Kalau tidak sangat terpaksa, maka mereka Cuma melakukan pelayanan short-term

dalam konseling. (bertemu tidak lebih dari 5 kali dalam konseling yang formal dengan

konseli).

Karena :

- Hamba tuhan adalah gembala dari banyak orang. Tanggung jawabnya bukan hanya

pembimbingan pada satu orang saja. Ia tidak boleh mengorbankan domba-domba

lain dan tugas-tugas yang lain (seperti administrasi , khotbah, pengajaran , dsb). Ia

tidak boleh membiarkan dirinya dimanipulir oleh domba-dombanya.

- Kita percaya bahwa domba-domba Allah adalah orang-orang yang sudah menerima

anugrah Roh Kudus dalam hidup mereka. Hamba Tuhan tidak perlu sebagai

konselor sekuler yang menelusuri persoalan untuk menemukan akarnya dan

menolong konseli mencabut akar itu (yang mungkin merupakan infatile trauma).

Karena dengan menolong konseli menemukan pokok persoalannya , menyadarkan

akan tanggung jawabnya, mengingatkan akan kebenaran-kebenaran Firman Allah ,

maka dengan sendirinya ia akan bergumul dan menyelesaikan persoalan-persoalan

hidupnya.

- Hanya orang yang berkanjang dalam dosa , yang akan menolak untuk bergumul

dan memikul tanggungjawab dalam hidupnya. Mereka akan selalu menemukan

alasan untuk memaafkan untuk memaafkan dirinya sendiri . sekali lagi hamba

Tuhan tidak boleh mengambil alih tanggungjawab konseli dan membiarkan dirinya

dimanipulir oleh mereka

b. Sebaiknya mereka memakai langka-langkah pendekatan konseling yang paling aman

untuk konselor “non-profesional” sebagai dasar yaitu :

Langkah I : membina hubungan baik dengan konselor. Konseli harus dapat merasakan

kehangatan sikapkonselor yang bisa mengerti dan menerima dia sebagai satu pribadi

dengan persoalan yang patut ditanggapi secara sungguh-sungguh. Tanpa itu konseli

tidak akan terbuka dan berani mempercayakan persoalan hidupnya pada konselor.

Langkah II : menjelajahi persoalan

Langkah III : konfrontasi. Setelah menemukan pokok persoalannya dan menolong

koseli melihat dan menyadari persoalan itu , maka tugas konselor adalah menciptakan

“condusive atmosphere” sekali lagi , yaitu saat mempersiapkan saat yang tepat dimana

konselor dapat mengkronfontir konseli dengan kebenaran-kebenaran firman Tuhan.

Menyadarkan dia akan tanggungjawab yang harus dipikul langkah demi langkah.

Dalam bagian ini kadang-kadang konselor dapat minta tolong dokter untuk mengobati

penyakit tubuhnya lebih dahulu . bisa juga bekerja sama dengan pekerja-pekerja sosial

untuk mendapatkan lapangan pekerjaan ,dsb. Sehingga tidak lagi ada alasan yang

prinsiple bagi konselor untuk menolak tanggung jawabnya.

Langkah IV : menolong melakukan tindakan konkret . seringkali konseli sudah

mengerti goal dari penyelesaian persoalannya bahkan bersedia memikul tanggung

jawab, tetapi kemungkinan ia mengalami kesulitan dalam mengambil langka-langkah

konkret . kemungkinan besar ia berkali-kali datang lagi mencari konselor, oleh karena

muculnya pengalaman-pengalaman baru yang mempersulit proses penyesuaian diri

dengan sistem kehidupannya yang baru. Dalam hal ini tugas konselor sekali lagi bukan

mengambil alih tanggungjawab, tetapi ia harus dengan sabar bisa mengerti kesulitan

konseli dan menolong dia dalam mengambil langkah-langkah yang konkret.

Langkah V : terminasi. Dimana secara formal konseling itu sudah diakhiri.

Catatan :

Latihan dalam tahap IV ini akan menjadi semakin sempurna jikalau kita bisa

memanfaatkan peralatan perfilman. Percakapan konseling yang bisa dilakukan

diruangan khusus untuk konseling bisa direkam di video-cassete sehingga setiap

praktek konseling dapa betul-betul dipelajari bersama.

Disamping itu dalam latihan tahap ini setiap calon konselor harus dibiasakan

menangani kasus-kasus konseling secara bersungguh-sungguh dan bertanggungjawab.

Yaitu dengan :

a. Menetapkan peraturan-peraturan konseling

Appointment :- Hari dan jam pertemuan

- Tempat pertemuan

Persetujuan : - Mengerjakan tugas-tugas yang harus dilaksanaka

- Jujur dan terbuka dalam memberikan informasi

- Bersedia bekerjasama dengan konselor , termasuk tidak

berkeberatan jika perlu mengikutsertakan oranglain seperti

dokter, anggota keleuarga dsb

- Bersedia dibimbing sampai terminasi (konseling formal

selesai)

- Bersedia dibimbing secara kristen (sadar bahwa kita adalah

hamba-hamba Tuhan yang memiliki standar kebenaran yang

mutlak)

b. Membuat formulir pengumpulan data.

Contoh :

Nama:.......................................................................................................................................

Alamat :............................................................................................. No. Telp. ........................

Tempat/Tanggal lahir : ...................................................................... Umur ............................

Pekerjaan : ...............................................................................................................

Latar belakang pendidikan : ........................................................................................................

Status : Menbujang / menikah / cerai

Anak – anak : 1. ............................................................... Umur .........................................

2. ................................................................. Umur ......................................

3. ............................................................. Umur .........................................

4. ................................................................. Umur .........................................

5. ................................................................. Umur .....................................

........................................................................ (kalau lebih)

Agama : ................................................ anggota Gereja .....................................

Baptis / Sidi ........................................ tahun ....................................................

Keaktifan rohani .................................................................................................

Hobby : ...........................................................................................................................

Nama istri/suami : ...............................................................................................................

Alamat : ...............................................................................................................

Umur : ...............................................................................................................

Pekerjaan : ...............................................................................................................

Pendidikan : ...............................................................................................................

Keterangan lain : ...................................................................................................

Nama orang-tua : ...............................................................................................................

Masih hidup ayah – ibu / meninggal ayah – ibu

Alamat / No. Telp. : ...............................................................................................................

Pekerjaan : ...............................................................................................................

Pendidikan : ...............................................................................................................

Anak – anak : 1. .............................................................. Umur .........................................

2. ................................................................. Umur .........................................

3. ................................................................ Umur .........................................

4. ............................................................... Umur .........................................

5. .................................................................. Umur ..........................................

........................................................................ (kalau lebih)

Catatan kesehatan keluarga :

a. Kakak/Nenek/Ayah/Ibu/Paman/Bibi/Kakak/Adik pernah dirawat di rumah sakit

jiwa ................tahun ..........................

karena .................................................................................................

b. Saya pernah menderita sakit berat .................................tahun ............................................

Pernah operasi ........................................................... tahun ..............................................

Pernah kecelakaan ..................................................... tahun ...............................................

c. Dalam keluarga ada penyakit turunan : - Tekanan darah tinggi

- Diabetes

- Epilepsi

- .............. ( kalau ada )

d. Keluahan/alasan saya mencari bimbingan konseling dari hamba Tuhan :

1. .........................................................................................................................................

2. .........................................................................................................................................

3. .........................................................................................................................................

e. Sebelum ini, saya pernah konsultasi dengan

1. ................................................................. tahun .......................................................

2. ................................................................ tahun .........................................................

3. ................................................................. tahun .......................................................

Malang, .............................................19...

ttd

( nama konseling )

b. Memakai “file-system” untuk pengarsipan

Di mana konselor menyediakan satu file (map) tersendiri untuk setiap

konseli. Ini akan menolong konselor mencapai kemajuan juga dalam

perencanaan pelayanan konseling pada konseli yang bersangkutan.

Sebagai hamba Tuhan dengan kesibukan-kesibukan yang demikian

banyak dalam pelayanan gerejani, konselor seringkali tergoda untuk

merasa bosan dengan konseli, apalagi kalau dirasakan kemajuan konseling

itu dirasakan terlalu lambat. Di sini penggunaan file system akan sangat

menolong; konselor terpaksa akan mendisiplin diri sendiri, mengikuti

perkembangan si konselor, dan bertanggung jawabpenuh dalam pelayanan

konselingnya. Ia tidak akan mengulang-ulangi kesalahan yang sama,

kembali ke fase-fase sebelumnya atau menanyakan hal-hal yang sudah

pernah ditanyakan. Bahkan dapat melihat dan memikirkan goal dari

pelayanan konseling itu secara lebih jelas.

Tahap V: Latihan lanjutan

Latihan mengenali teknik-teknik konseling dari sekolah-sekolah psikoterapi diberikan

setelah calon konselor mempunyai konsep konseling yang sehat dan jelas. Karena tanpa itu

maka latihan ini tidak akan berfaedah dan bahkan hanya akan menghasilkan kebingungan

pada mereka saja.

Setipa calon konselor harus dibekali dengan latihan-latihan untuk kelak dapat

mengembangkan sendiri ketrampilan mereka dalam pelayanan konseling. Sebelum mereka

meninggalkan bangku kuliah mereka sudah harus menyadari bahwa setiap kasus yang akan

mereka tangani adalah kasus yang unik. Dan tidak ada satu teknik dan pendekatan konseling

pun yang sempurna yang dapat dipakai untuk semua kasus.

Oleh karena itu setelah mereka menguasai prinsip-prinsip dasar konseling, mereka

perlu berkenalan dan mempelajari teknik-teknik pendekatan yang sudah dikembangkan

secara sistematis di masing-masing sekolah psikoterapi itu. Supaya pengetahuan mereka

diperlengkapi dan mereka bisa menjadi ‘man of understanding’ atau orang yang berakal budi

(Ams, 1:5; 15:14; 17:27; DSB.) yang tahu bagaimana, kapan, dan kepada siapa teknik

konseling tertentu dapat dipakai. Tahu menyeleksi dan menggunakan sumbangan dari

sekolah-sekolah psikoterapi, dan tahu kapan firman Tuhan harus dinyatakan dengan terang.

Latihan tahap V sangat penting, karena Tuhan menghendaki hamba-hambaNya diperlengkapi

dengan segala pengetahuan (II Tim. 2:7; Dan. 1:17 dsb.) untuk perbuatan-perbuatan yang

baik (Kol. 1:10; Ibr. 13:21).