BAB IV GAMBARAN UMUM UNI PAPUA FOOTBALL CLUB · PDF file GAMBARAN UMUM UNI PAPUA FOOTBALL CLUB...

Click here to load reader

  • date post

    08-Sep-2020
  • Category

    Documents

  • view

    5
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of BAB IV GAMBARAN UMUM UNI PAPUA FOOTBALL CLUB · PDF file GAMBARAN UMUM UNI PAPUA FOOTBALL CLUB...

  • 23

    BAB IV

    GAMBARAN UMUM UNI PAPUA FOOTBALL CLUB

    4.1. Sekilas Tentang Wilayah Desa Tajuk

    Desa Tajuk merupakan salah satu Dusun dari 13 desa di Kecamatan

    Getasan, Kabupaten Semarang. Desa Tajuk berada di kaki Gunung Merbabu

    bagian utara, dengan ketinggian 1500-1737 mdpl dan memiliki luas Desa 1235,

    89 Ha 1 . Desa ini berbatasan langsung dengan Desa Samirono di sebelah Utara,

    Desa Batur di sebelah Barat dan Desa Jetak di sebelah Timur. Kota terdekat

    adalah Salatiga dengan jarak kurang lebih 60 km. Desa Tajuk terdiri dari 35 RT,

    4 RW dan 11 Dusun, yaitu Dusun Puyang, Pulihan, Kaliajeng, Banaran,

    Ngeroto, Macanan, Cengkok, Tajuk, Sokowolu, Gedong, Ngaduman.

    Gambar 2

    Peta Desa Tajuk (Kel. Tajuk, 2017)

    Untuk menjelaskan Dusun Tajuk Kecamatan Getasan diatas dapat

    dipetakan bahwa yang berwarna orange adalah pemukiman, yang kuning adalah

    1 Data luas daerah Desa Tajuk yang diambil pada 10 January 2017 di Kelurahan Desa Tajuk,

    Getasan

  • 24

    tegal atau yang disebut sebagai lahan pertanian, warna hijau adalah hutan, warna

    merah adalah jalan Desa, warna biru langit adalah sawah serta warna biru adalah

    sungai yang berada di Desa Tajuk (pemerintah Desa Tajuk, 2017)

    4.2. Jumlah Penduduk Getasan

    Pada Akhir tahun 2015, penduduk Kecamatan Getasan berjumlah 49.407

    orang, dimana jumlah penduduk laki-laki sebesar 24.373 sedangkan jumlah

    penduduk perempuan sebesar 25.034. Sebaran kelompok umur penduduk

    sebagian besar terdapat pada usia 50 tahun kebawah dimana proporsi penduduk

    masih didominasi oleh penduduk perempuan. Penduduk terbanyak terdapat pada

    Desa Sumogawe yaitu 8.550 orang, namun tingkat kepadatan tertinggi ada di

    Desa Jetak dan Getasan. Laju pertumbuhan penduduk tertinggi ada di Desa

    Sumogawe sebesar 0,64% dimana laju kelahiran penduduk pada tahun 2015

    sangat mempengaruhi laju pertumbuhan penduduk di Desa Sumogawe ini. Pada

    Desa Nogosaren laju pertumbuhan mengalami pengurangan sebesar 0,07 %. Hal

    ini disebabkan oleh faktor kematian penduduk yang tinggi di Desa Nogosaren.

    Secara keseluruhan Kecamatan Getasan memiliki tingkat kepadatan

    sebesar 750,92 orang per Km2, yang menandakan penduduk di daerah ini masih

    tergolong jarang bila dibandingkan dengan luas wilayah yang ada. Sedangkan

    laju pertumbuhan penduduk Kecamatan Getasan rata-rata sebesar 0,34% selama

    tahun 2015 laju pertumbuhan penduduk di Kecamatan Getasan sangat

    dipengaruhi oleh banyaknya angka kelahiran dan kematian penduduk.

    Tabel 4.1.

    Jumlah Penduduk Kecamatan Getasan Tahun 2015

    No

    Desa

    Penduduk

    Kepadatan

    Laju

    Pertumbuhan

    1 Kopeng 6 679 834,25 0,01

    2 Batur 7 008 644.30 0,55

    3 Tajuk 3 693 298,83 0,41

    4 Jetak 3 990 1 357,14 0,10

    5 Samirono 2 296 687,43

    0,00

    6 Sumogawe 8 550 1 068,75 0,64

    7 Polobogo 4 107 844,19 0,34

    8 Manggihan 1 634 833,67 0,00

  • 25

    9 Getasan 2 868 1 102,23 0,00

    10

    Wate

    s

    Wates 2 943 1 059,78 0,62

    11

    Tolok

    an

    Tolokan 2 720 782,06 0,33

    12

    Ngra

    wan

    Ngrawan 1 438 787,30 0,91

    13

    Nogo

    saren

    Nogosaren 1 481 535,43 0,20

    Jml/Rata2

    49 407

    750,92

    0,34

    Sumber: Statistik Daerah Kecamatan Getasan 2016, diolah.

    4.3. Jumlah Pemeluk Agama di Getasan

    Agama mayoritas penduduk di Kecamatan Getasan adalah Islam, yaitu sebesar

    39.550 orang. Secara prosentase agama Islam sebesar 80,0 % dari total penduduk

    Kecamatan Getasan. Urutan kedua adalah agama Kristen dengan prosentase sebesar

    14,6% atau sejumlah 7.213 orang. Agama Katholik memiliki penganut sebanyak

    673orang atau sebesar 1,4 % penduduk. Penganut Budha hanya ada 1.945 orang yang

    merupakan 3,9 % dari total penduduk Kecamatan secara keseluruhan. Penganut

    agama Islam terbesar ada di Desa Sumogawe yaitu sebesar 6.067 orang. Sedangkan

    yang jumlah penganut agama Islam yang paling sedikit ada di Desa Ngrawan sebesar

    1.358 orang. Untuk agama Kristen dan Katholik mayoritas ada di Desa Sumogawe

    sejumlah 1.729 orang. Di desa Kopeng sebanyak 1.530 orang. Dan di Desa Manggihan

    hanya 4 orang penganut Agama Kristen. (Statistik Daerah Kecamatan Getasan, 2016)

    Tabel 4.2.

    Jumlah Pemeluk Agama di Getasan Tahun 2015

    AGAMA JUMLAH PERSEN

    (%) Islam 39550 80,0

    Kristen 7213 14,6

    Katholik 673 1,4

    Hindu 0 0

    Budha 1945 3,9

    Khong Hu Cu 0 0,0

    Lainnya 26 0,1

    TOTAL 49407 100,0

    Sumber : BPS Kab. Semarang,2015

  • 26

    Penganut agama Kristen dan Katholik umumnya adalah para pendatang yang

    berasal dari luar wilayah Kecamatan Getasan. Agama Budha hanya ada di Desa

    Kopeng, Batur, Jetak, Samirono, Sumogawe, Getasan, Wates, Tolokan, Ngrawan. Hal

    ini berbanding lurus dengan jumlah penduduk pada masing-masing Desa. Dimana

    semakin banyak jumlah penduduk suatu desa maka semakin banyak juga penganut

    agama Islam di dalamnya. Begitupun sebaliknya, semakin sedikit penduduk suatu desa

    maka jumlah penganut agama Islam akan semakin sedikit juga. Meskipun demikian dari

    penjabaran di atas dapat diketahui bahwa agama Islam merupakan agama mayoritas

    penduduk Kecamatan Getasan. Secara keagamaan dapat dilihat bahwa hampir semua

    penduduk Kecamatan Getasan adalah penganut agama Islam.

    Dengan demikian, dari data jumlah pemeluk agama karena memiliki keterkaitan

    dengan adanya isu SARA di Getasan. Masyarakat Getasan menganggap hadirnya Uni

    Papua cabang Getasan sebagai gerakan agama yang menyebarkan doktrin-doktrin

    tentang ajaran salah satu agama. Hal ini yang mengakibatkan terjadinya kurang

    kepercayaannya orang tua kepada Uni Papua Getasan dengan tidak mengikutsertakan

    anak-anaknya ke Uni Papua.

    4.4. Gambaran Umum Uni Papua Papua Football Club

    Sepak bola sosial di Indonesia berkembang pesat dengan tersebarnya

    Komunitas Sepak bola dari perkumpulan sepak bola Uni Papua atau Uni Papua

    Football Community yang didirikan pada tahun 2001 lalu. Sepak bola sosial Uni

    Papua bertujuan menggunakan sepak bola untuk pembentukan karakter,

    pemibinaan anak-anak dari usia 6 sampaing dengan 21 tahun, dengan

    menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, perdamaian, melatih anggotanya untuk

    memahami tentang bahaya HIV/AIDS, menjauhi minuman keras, mendidik

    dalam disiplin, tanggung jawab dan respek, peduli lingkungan hidup, persamaan

    gender, serta melibatkan peran masyarakat luas untuk terlibat dalam tanggung

    jawab untuk mengatasi masalah-masalah sosial yang ada. Materi dan program

    Uni Papua diterapkan melalui permainan sepak bola dalam latihan 2-3 kali

    seminggu di seluruh cabang komunitas. Uni Papua FC menyakini bahwa melalui

    pembinaan dan proses pendidikan karakter akan lahir dan terebntuk generasi

    masa depan Indonesia yang “menang” sesuai motto Uni Papua FC “ The

    Champion of Life”.

  • 27

    Reputasi Uni Papua Football Club di tingkat Internasional telah

    mendapatkan pengakuan yang membanggakan, dengan diterimanya Uni Papua

    Football Club sebagai anggota FIFA Football For Hope, dan anggota dari Street

    Football World yang bermarkas di Berin, Jerman. Beberapa mitra strategis Uni

    Papua Football Club yang bekerjasama sejak didirikan tahun 2003 lalu antara

    lain, organisasi pelatihan untuk pelatih sepak bola sosial dari USA yaitu Coaches

    Across Continents, dimana pada tahun 2016 sedikitnya 2.000 anak Indonesia,

    penggiat, pecinta, dan para pelatih sepak bola usia dini mengikuti pelatihan yang

    telah digelar selama 4 tahun berturut-turut. Uni Papua Football Club juga bekerja

    sama dengan Internasional Sports Alliance dari Belanda, salama 2 tahun terkhir

    Uni Papua Football Club mengirimkan anggotanya untuk studi Sport

    Management di UCAM Murcia, Spanyol dengan gelar MBA.

    Hingga tahun 2016, Uni Papua Football Club telah membagikan ke seluruh

    Indonesia, lebih dari 20.000 buah bola dari One World Project, USA yaitu

    yayasan yang memproduksi “magic ball” bola untuk bermain untuk anak-anak

    yang tidak perlu di pompa dan anti pecah. Bola ini juga digunakan anak-anak di

    Manchester United, Old Trafford, Inggris untuk bermain. Selain itu, kepercayaan

    yang besar juga diterima Uni Papua Football Club dengan diundangnya Uni

    Papua sebagai peserta dalam World Football Summit di Madrid, tanggal 26-27

    Oktober 2016 lalu dengan dukungan KBRI di Madrid, Spanyol. Uni Papua

    Football Club mempunyai duta Uni Papua yang memperkenalkan Uni Papua

    dengan cara yang kreatif secara luas di sosial media, antara lain duta Uni Papua

    adalah Gabriel Edoway, 11 tahun asal Jayapura, Ortisan Salosa pemain timnas

    Indoensia dan Persipura yang berasal dari Sorong, Papua Barat, Moresby Sawor,

    mahasiswa asal Biak. Isak Kogoya asal Wamena yang tahun 2017 ini disiapkan

    untuk mengikuti training di Afrika Selatan.

    Jajaran