askeb hiperbilirubin

of 46 /46
ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI NY. “N” DENGAN HYPERBILIRUBINEMIA DI RUANG 11 PERINATOLOGI RSSA MALANG 9 JANUARI 2012 Oleh: TRI AJENG ANNISA AIRLANGGA NIM. 0902100088 KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG

Transcript of askeb hiperbilirubin

Page 1: askeb hiperbilirubin

ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI NY. “N”

DENGAN HYPERBILIRUBINEMIA

DI RUANG 11 PERINATOLOGI RSSA MALANG

9 JANUARI 2012

Oleh:

TRI AJENG ANNISA AIRLANGGA

NIM. 0902100088

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG

JURUSAN KEBIDANAN

PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN MALANG

2012

Page 2: askeb hiperbilirubin

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kepada Allah SWT, karena hanya dengan kasih dan rahmat-

Nya penulis dapat menyelesaikan tugas penyusunan Asuhan Kebidanan pada By. Ny.

“N” dengan hiperbilirubinemia di ruang 11 Perinatologi RSSA Malang 9 Januari

2012.

Dalam penyusunan tugas ini tentunya melibatkan berbagai pihak yang secara

langsung maupun tidak langsung turut membantu dalam terselesaikannya asuhan

kebidanan ini. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan

terima kasih kepada :

1. Ibu Suprapti SST, M.Kes selaku Kaprodi DII Kebidanan Malang.

2. Ibu Erni Dwi W, SST, M.Kes, selaku Pembimbing Institusi

3. Ibu Rosdiana Mudji, Amd. Kep selaku Pembimbing Klinik

4. Seluruh kru ruang 11 Perinatologi RSSA Malang

5. Berbagai pihak yang secara langsung maupun tidak langsung ikut membantu

terselesaikannya asuhan kebidanan ini.

Kami menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna. Maka dari itu,penulis

mengharapkan segala saran dan kritik yang membantu. Penulis berharap semoga

asauhan kebidanan ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada

umumnya.

Malang, Januari 2012

Penulis

Page 3: askeb hiperbilirubin

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ikterus terjadi apabila terdapat akumulasi bilirubin dalam darah. Pada

sebagian besar neonatus, ikterus akan ditemukan dalam minggu pertama

kehidupannya. Dikemukakan bahwa angka kejadian ikterus terdapat pada 60 %

bayi cukup bulan dan pada 80 % bayi kurang bulan.

Di Jakrta dilaporkan 32,19 % menderita ikterus. Ikterus ini pada sebagian

penderita dapat berbentuk fisiologis dan sebagian lagi mungkin bersifat patologik

yang dapat menimbulkan gangguan yang menetap atau menyebabkan kematian.

Karenanya setiap bayi dengan ikterus harus mendapatkan perhatian, terutama

apabila ikterus ditemukan dalam 24 jam pertama kehidupan bayi atau bila kadar

bilirubin meningkat > 5 mg/dl dalam 24 jam.

Proses hemolisis darah, infeksi berat, ikterus yang berlangsung >1 minggu serta

bilirubin direct > 1 mg/dl juga merupakan keadaan yang menunjukkan

kemungkinan adanya ikterus patologik. Dalam keadaan tersebut penatalaksanaan

ikterus harus dilakuakn sebaik-baiknya agar akibat buruk dari ikterus dapat

dihindarkan.

Berdasarkan fakta di atas maka penulis tertarik untuk membuat asuhan

kebidanan pada BY. Ny. “N” usia 6 hari dengan hiperbilirubinemia dengan

harapan setelah mendapatkan asuhan ikterus berkurang sampai hilang sehingga

dapat dihindarkan akibat buruk yang dapat dtimbulkan ikterus tadi.

B. Tujuan

1. Tujuan umum

Setelah melakukan praktek klinik mahasiswa mampu melaksanakan asuhan

pada neonatus dengan hiperbilirubinemia dengan pendekatan manajemen

kebidanan.

2. Tujuan khusus

Setelah melakuakn praktik klinik, mahasisiwa dapat:

1) Melaksanakan pengkajian data pada neonatus dengan

hiperbilirubinemia

2) Mengidentifikasi masalah dan diagnosa pada neonatus dengan

hiperbilirubinemia

Page 4: askeb hiperbilirubin

3) Membuat rencana asuhan tindakan

4) Melakukan tindakan asuhan sesuai dengan intervensi yang telah

direncanakan

5) Mengevaluasi hasil pelaksanaan tindakan untuk menentukan asuhan

kebidanan selanjutnya.

C. Metode Penulisan

1. Metode penulisan ini adalah data deskriptif dalam bentuk studi kasus

2. Teknik Penulisan data

a. Wawancara

Tanya jawab kepada keluarga mengenai hal-hal yang berhubungan dengan

kesehatan anak untuk memperoleh data langsung

b. Pemerikasaan

Pengamatan langsung, pemeriksaan inspeksi, palpasi, auskultasi dan

perkusi

c. Studi dokumentasi

Melalui catatan medik

d. Studi Kepustakaan

Melalui buku sumber/literature yang berhubungan dengan

hiperbilirubinemia

D. Sistematika Penulisan

BAB I PENDAHULUAN

Berisi Latar Belakang, Tujuan, Metode Penulisan dan Sistematika

Penulisan

BAB II TINJAUAN TEORI

Berisi Landasan Teori dan konsep Manajemen Kebidanan

BAB III TINJAUAN KASUS

Berisi Pengkajian, Identifikasi Diagnosa/Masalah, Intervensi,

Implementasi dan Evaluasi

BAB IV PEMBAHASAN

BAB V PENUTUP

Berisi Kesimpulan dan Saran

DAFTAR PUSTAKA

Page 5: askeb hiperbilirubin

BAB II

TINJAUAN TEORI

I. KONSEP HIPERBILIRUBINEMIA

A. Pengertian

Hiperbilirubinemia adalah suatu keadaan dimana kadar bilirubinemia

mencapai suatu nilai yang mempunyai potensi menimbulkan kern

ikterus kalau tidak ditanggulangi dengan baik.(Sarwono, 2002: 753)

Icterus adalah keadaan di mana terjadi penimbunan bilirubin lebih dari

5mg %. (Pediatri FKUB.2001:235)

Kern ikterus adalah suatu kerusakan otak akibat perlengketan bilirubin

indirek pada otak terutama pada korpus striatum, thalamus, nucleus

subtalamus, hipokampus, nucleus merah dan nucleus pada dasar

ventrikulus IV.(Sarwono, 2002: 754)

Sebagian besar hiperbilirubinemia ini proses terjadinya mempunyai dasar yang

patologik

B. Batasan Ikterus Fisiologis

dan Patologik

1. Ikterus Fisiologis

Timbul pada hari ke 2-3

Puncaknya terjadi pada hari ke-5

Hilang pada hari ke 10-15

Peningkatan bilirubin < 5 mg %

Lab :

- Kadar bilirubin bayi aterm 12,5 mg %

- Kadar bilirubin bayi premature 10 mg %

- Bilirubin indirect < 1 mg %

Terjadi karena :

- Umur erytrosit lebih pendek

- Volume darah lebih banyak : 100 cc/kg BB

- Albumin << transportasi menurun

- Fungsi hati belum sempurna

Page 6: askeb hiperbilirubin

2. Ikterus Patologik

Timbul hari pertama setelah hari ke-3

Menetap selama 2 minggu

Lab :

- Peningkatan bilirubin > 5 mg % per hari

- Kadar bilirubin bayi aterm > 12,5 mg %

- Kadar bilirubin bayi premature > 10 mg %

- Bilirubin indirect > 1 mg %

C. Etiologi

Penyebab ikterus pada neonatal dapat berdiri sendiri atau disebabkan oleh

beberapa faktor. Secara garis besar, etiologi ikterus neonatorum dapat dibagi:

1. Produksi bilirubin yanhg berlebihan

Misalnya pada hemolisis yang meningkat pada inkompeten Rh, ABO,

perdrahan tertutup dan sepsis

2. Gangguan konjugasi hepar

Gangguan ini dapat disebabkan oleh immaturitas hepar, kurangnya

substrat konjugasibilirubin atau tidak terdapatnya enzim glukonil

transferase.

3. Gangguan transportasi bilirubin

Bilirubin dalam darah terikat pada albumin kemudian diangkut ke hepar

4. Gangguan dalam ekskresi

Dapat terjadi akibat obstruksi dalam hepar atau di luar hepar.

Waktu timbulnya ikterus juga mempunyai arti penting pula dalam diagnosis

dan penatalaksanaan penderita karena saat timbulnya ikterus mempunyai

kaitan yang erat dengan penyebab ikterus.

1. Bila Timbul pada Hari I (24 jam pertama)

Inkompatibilitas darah Rh, ABO atau golongan darah lain

Infeksi intra uterine oleh Toxoplasma, Syphilis, virus atau bakteri yang

menunjukkan ikterus pada hari pertama.

Defisiensi enzim G6PD

2. Bila Timbul pada Hari II (24-72 jam sesudah lahir)

Ikterus fisiologis

Page 7: askeb hiperbilirubin

Masih ada kemingkinan karena inkompatibilitas darah Rh, ABO atau

golongan darah lain jika kadar bilirubin cepat (melebihi 5 mg % per 24

jam)

Defisiensi G6PD

Polisitemia

Hemolisis perdarahan tertutup (perdarahan subaponeurosis,perdarahan

hepar subkapsuler,dll)

Hipoksia

Sferositosis, eliptosis,dll

Dehidrasi asidosis

Defisiensi enzim eritrosit lainnya

3. Bila Timbul Setelah 72 jam sampai Akhir Minggu Pertama

Septicaemia

Dehidrasi asidosis

Defisiensi G6PD

Pengaruh obat

Sindrom Criggler-Najjar

Sindrom Gilbert

4. Bila Timbul pada Akhir Minggu Pertama dan Selanjutnya

Obstruksi

Hipotiroidisme

Breast Milk Jaundice

Infeksi

Neonatal Hepatitis

Galaktosemia

Page 8: askeb hiperbilirubin

D. Patofisiologi

Etiologi

Hiperbilirubinemia

Bilirubin direct tinggi Bilrubiin indirect tinggi

Hepatomegali Penumpukan bilirubin dlm otak

tinggi

Anoreksia Pot. Komplikasi kern - uterus

Intake nutrisi rendah gangguan neurologis

Perubahan Nutrisi Anak tdk mau minum kejang

letargy

Dehidrasi

Kerusakan integritas kulit Defisit Vol. cairan

E. Manifestasi Klinik

Secara klinis, ikterus pada neonatus dapat segera dilihat setelah lahir atau

beberapa hari kemudian

Ikterus yang tampak tergantung penyebab, yaitu:

Gejala klinis yang tampak pada bayi dengan peningkatan kadar bilirubin

indirect, kulit tampak berwarna terang sampai jingga

Pada obstruksi empedu, kulit berwarna kuning terang sampai jingga

Selain warna kulit kuning, sering kali penderita hanya memperlihatkan

gejala minimal seperti:

Tampak lemah dan anoreksia

Anemia

Ptekie

Pembesaran lien dan hepar

Paerdarahan tertutup

Page 9: askeb hiperbilirubin

Gangguan pernapasan, sirkulasi dan saraf

F. Penilaian Kadar Bilirubin

a. Secara laboratories

b. Secara klinis (secara Kramer)

Paling baik pengamatan dilakukan dalam cahaya matahari dan dengan

menekan sedikit kulit yang akan diamati untuk menghilangkan warna

karena pengaruh sirkulasi darah.

Rumus Kramer

Daerah/luas icterus Kadar bilirubin (mg%)

Daerah 1 (kepala dan leher) 5

Daerah 2 (daerah 1 + badan bagian atas) 9

Daerah3 (daerah 2 + badan bagian

bawah dan tungkai)

11

Daerah 4 (daerah 3 + lengan dan kaki di

bawah dengkul)

12

Daerah 5 (daerah 4 + tangan dan kaki) 16

G. Penanganan

Agak sulit untuk menentukan tingginya kadar bilirubin yang dianggap sebagai

batas yang berbahaya yang mengharuskan kita mengambil suatu tindakan

pencegahan. Kadar bilirubin yang berbahaya sangat tergantung pada saat

timbulnya akterus dan kecepatan peningkatan kadar bilirubin.

Dalam hal ini penting untuk pengamatan yang ketat dan cermat terhadap

perubahan peningkatan kadar bilirubin terutama yang kemungkinan besar

menjadi patologis.

Cara-cara untuk mencegah dan mengobati hiperbilirubinemia:

1. Mempercepat metabolisme dan pengeluaran bilirubin

Early feeding

Dengan pemberian makanan yang dini terjadi pendorongan gerakan

usus dan mekoneum lebih cepat dikeluarkan sehingga peredaran

enterohepatik bilirubin berkurang.

Pemberian agar-agar

Mekanismenya sama yaitu dengan mengurangi peredaran

enterohepatik

Page 10: askeb hiperbilirubin

Pemberian fenobarbital

Dapat menurunkan kadar bilirubin indirect dalam serum bayi dengan

mengadakan induksi enzim mikrosoma sehingga konjugasi bilirubin

berlangsung lebih cepat.

Penyelidikan menunjukkan bahwa fenobarbital baik yang diberikan

sesudah anak lahir atau diberikan pada ibunya sebelum anak lahir,

dapat mencegah terjadinya ikterus fisiologik.

Pengalaman di RSCM Jakarta menunjukkan bahwa:

Pemberian fenobarbital untuk mengobati hiperbilirubin baru

menurunkan bilirubin serum yang berarti setelah penggunaan

selama 3 hari

Bayi premature lebih banyak memberikan reaksi daripada bayi

cukup bulan.

Dosisnya dapat diberikan 8 mg/kg BB sehari-hari mula-mula parenteral

lalu peroral. Keuntungannya dibanding terapi sinar adalah

pelaksanaannya lebih mudah namun harus menunggu paling kurang 3

hari untuk mendapatkan hasil yang berarti.

2. Mengubah bilirubin menjadi bentuk yang tidak toksik dan dapat

dikeluarkan dengan sempurna melalui ginjal dan traktus digestivus yaitu

melalui photo terapy

Dengan penyinaran, bilirubin dipecah menjadi dypirol yang kemudian

dikeluarkan melalui ginjal dan traktus digestivus. Hasil perusakan

bilirubin ternyata tidak toksik untuk tubuh dan dikeluarkan dari tubuh

dengan sempurna.

Mekanisme utama terapi sinar adalah fotoisomerisasi.

Sebaiknya dipilih sinar dengan spectrum 420-480 nm, sinar UV dicegah

dengan Plexiglas dan bayi jangan sampai kekurangan cairan. Kadar

bilirubin harus diperiksa setiap hari dan cegah bayi dari kepanasan.

Alat terapi sinar diletakkan 45 cm di atas permukaan bayi dan diberikan

selama 72 jam atau sampai kadar bilirubin mencapai 7,5 mg% dan selama

terapi sinar mata dan kelamin bayi ditutupi dengan bahan yang dapat

memantulkan sinar.

3. Transfusi tukar (Exchange Transfussion)

RSCM, transfuse tukar diberikan pada kasusu-kasus berikut ini:

Pada semua kasus ikterus dengan kadar bilirubin indirect >20mg%

Page 11: askeb hiperbilirubin

Pada bayi premature dapat diberikan walaupun kadar albumin < 3,5

g/100ml

Pada kenaikan bilirubin indirect serum bayiu pada hari pertama (0,3-1

mg/jam)

Anemia berat pada neonatus dengan tanda-tanda dekompensasi kordis

Bayi menderita ikterus dengan kadar Hb tali pusat < 14 mg% dan

coomb’s test langsung (+)

Penanganan ikterus neonatorum sangat bergantung pada:

Saat terjadinya ikterus

Kadar bilirubin serum

Jenis bilirubin

Sebab terjadinya ikterus

Oleh karena itu untuk mendapat penanganan yang baik, pengobatan dan

pemeriksaan yang perlu dilakukan pada hal-hal tersebut di atas:

1. Ikterus yang timbul pada 24 jam pertama

Pemeriksaan yang perlu dilakukan:

Bayi - kadar bilirubin serum dan kadar albumin

- pemeriksaan darah lengkap

- golongan darah (ABO, Rh)

- Coomb’s test (langsung dan tidak langsung dengan

titernya)

- Kadar G6PD

Ibu - Golongan darah

- Coomb’s test tidak langsung dengan titernya

Tindakan - Transfusi tukar bila telah dipenuhi syarat-syaratnya

- bila belum dipenuhi syaratnya, diberi terapi sinar dan

bilirubin diperiksa tiap 8 jam dan kalau kenaikan kadar

bilirubin tetap 0,3-1 mg perjam maka dilakukan transfuse

tukar

2. Ikterus yang timbul sesudah 24 jam pertama

Pemeriksaan bilirubin dilakukan hanya sekali selanjutnya pengawasan

klinik. Bila bayi tampak sakit dan ikterus dengan cepat menjadi berat

maka pemeriksaan dan tindakan harus dilakukan seperti pada ikterus hari

pertama

Page 12: askeb hiperbilirubin

3. Ikterus sesudah hari keempat

Pemeriksaan harus ditujukan kea rah sepsis neonatorum, pielonefritis,

hepatitis neonatorum, toksoplasmosis.

Kemungkinan yang lain adalah pengaruh obat (sulfa/novobiosin) dan

defisiensi enzim eritrosit (G6PD)

Pemeriksaan laboratorium adalah kadar bilirubin serum, jenis bilirubin

dalam serum, biakan darah, biakan air kencing dan kalau perlu serologic

terhadap virus dan toksoplasmosis.

Pengobatannya:

- jika kadar bilirubin > 20mg% , transfuse tukar

- jika kadar bilirubin 10-15 mg%, diberi fenobarbital parenteral 6 mg/kg

BB/hari

- jika kadar bilirubin 15-20 mg%, diberi terapi sinar

II. KONSEP MANAJEMEN KEBIDANAN

1. Pengkajian

(tanggal…….,pukul….)

A. Data Subjektif

1. Biodata

Nama bayi : untuk memanggil, mengenal dan menghindari

kekeliruan

Umur : penting untuk identifikasi kapan atau usia berapa hari

bayi mengalami ikterus yang dapat digunakan untuk

memprediksi apakah termasuk ikterus fisiologis atau

patologis dan mempengaruhi terapi yang akan

diberikan

Tanggal lahir: untuk menghitung umur

Jenis Kelamin: untuk menghindari kekeliruan dan untuk membedakan

No. register : untuk hindari kekeliruan

Biodata orang tua

Nama : untuk memanggil, mengenal dan menghindari

kekeliruan

Agama : untuk mengetahui kepercayaan orang tua pada saat

memberikan asuhan atau bimbingan doa pada saat

menghadapi komplikasi atau kegawatan.

Page 13: askeb hiperbilirubin

Pendidikan : untuk mengetahui tingkat pengetahuan yang penting

pada saat konseling

Pekerjaan : untuk mengetahui status ekonomi keluarga

Alamat : untuk mengetahui alamat orang tua jika sewaktu-waktu

ada masalah, bisa langsung menghubungi keluarga di

rumah.

2. Alasan masuk ruang perinatologi

Sebagian atau seluruh tubuh bayi ikterus sejak 24 jam pertama

kehidupan, 2-3 hari, 4-6 hari dan 6-10 setelah dilahirkan

Timbul gejala minimal yang menyertai ikterus seperti:

Tampak lemah dan nafsu makan menurun, anemia, ptekie,

gangguan pernapasan, gangguan sirkulasi dan gangguan saraf

3. Riwayat Kesehatan Yang Lalu

Penyakit-penyakit yang diderita klien

4. Riwayat Kesehatan Sekarang

Biasanya terkait dengan keluhan terkait dengan hiperbilirubinemia

5. Riwayat Kesehatan Keluarga

Mengkaji anggota keluarga baik dari pihak ibu atau ayah yang

menderita penyakit seperti kencing manis dan penyakit kuning.

Kencing manis dikaji jika ibu menderita DM sewaktu hamil bisa

menyebabkan bayi terjadi hipoglikemia saat lahir yang dalam

metabolisme tubuhnya mengguankan metabolisme anaerob yang

memperberat kerja hati sehingga dapat timbul hiperbilirubinemia.

Penyakit kuning terkait dengan kemungkinan ikterusnya disebabkan

penularan perinatal seperti pada hepatitis A dan B

6. Riwayat kebidanan yang lalu

Mengkaji riwayat abortus, IUFD dan bayi kuning sebelumnya

7. Riwayat Kebidanan yang Lalu

Kehamilan :

Ibu dengan rhesus (-) dan ayah (+) dapat menyebabkan rhesus ibu

dan bayi tidak sesuai sehingga dapat timbul hemolisis

Ibu dengan DM kemungkinan bayinya besar dan terjadi hipoglikemia

yang menyebabkan gangguan fungsi hepar

Page 14: askeb hiperbilirubin

Riwayat menggunakan obat-obatan/hormone yang mengurangi

kesanggupan hepar untuk mengadakan konjugasi bilirubin misal

penggunaan norobiosin

Ibu mempunyai penyakit rubella, hepatitis, cytomegalovirus, syphilis,

toxoplasma dan herpes yang mungkin terinfeksi intrauterine melalui

plasenta selama kehamilan.

Persalinan :

Pada persalinan preterm produksi albumin rendah sehingga

transportasi bilirubin ke hepar terganggu sehingga kadar bilirubin

indirect tinggi

Ekstraksi vakum dan trauma persalinan menyebabkan hemolisis

sehingga kadar bilirubin indirect tinggi

Ketuban pecah dini memungkinkan timbul infeksi

Bayi asfiksia menurunkan afinitas bilirubin terhadap albumin

BBL dan UK untuk kaji adanya BBLR akibat prematuritas atau

dismaturiatas

Nifas :

Menyusui yang kurang dapat timbul ikterus pada hari 6-10 kehidupan

bayi.

8. Riwayat nutrisi

Seperti yang disinggung sebelumnya bahwa nutrisi yang kurang dapat

menimbulkan ikterus pada hari 6-10 kehidupan bayi hal ini karena ASI

dapat mendorong usus dan menyebabkan bilirubin keluar lewat feses

dan urin lebih lancar.

B.Data Objektif

1. Pemeriksaan Umum

Keadaan Umum : baik/ kurang/ cukup/ jelek

Kesadaran : compous mentis/apatis/somnolen/koma

TTV RR : terdapat gangguan pernapasan pada

hiperbilirubinemia

Suhu : 36,5 – 37,5 0C ; T > 37,5 0C menunjukkan infeksi

2. Pemeriksaan Fisik

Page 15: askeb hiperbilirubin

Kepala : mungkin terdapat caput succedaneum, cephal hematum

jika terdapat trauma dalam persalinan atau partus tindakan.

Ubun-ubun mungkin cekung jika dehidrasi dan menonjol

jika terjadi komplikasi berupa kern ikterus

Muka : wajah pucat, ikterus dan cyanosis pada bayi hipoksia

Mata : sklera ikterus

Hidung : pernapasan cuping hidung (salah satu indicator RDS)

Mulut : kering/tdak, pecah-pecah/tidak (kaji dehidrasi),

kemampuan menghisap dan menelan mungkin turun pada

hiperbilirubinemia

Leher : kulit leher dapat ikterus

Dada : kulit dada dapat ikterus (Kramer derajat II), pernapasan

dapat normal, apnea dan dispnea, dapat timbul retraksi

pada RDS dan bunyi napas tambahan

Perut : perut dapat normal atau hepatomegali, bising usus

hipoaktif, distensi abdomen dengan gambaran usus yang

tampak pada dinding abdomen dan muntah campur

empedu merupakan tanda obstruksi intestinal.

Genetalia : identifikasi bayi aterm atau premature jika perempuan

labia mayora sudah menutupi labia minora atau belum dan

pada laki-laki testis sudah turun di skrotum atau belum.

Ekstrimitas : ikterus/tidak

Reflek moro menurun dan terdapat aktivitas kejang

dapat terjadi pada tahap kritis.

3. Pemeriksaan Penunjang

Bilirubin

Darah lengkap

Golongan darah ibu

Tes coomb’s darah tali pusat

Protein serum total

Glukosa darah

Retikulosit

II. Identifikasi Diagnosa dan masalah

Dx : By. Ny. “…” usia ….. dengan hiperbilirubinemia

Page 16: askeb hiperbilirubin

Ds :-

Do : Dari inspeksi terdapat ikterus pada tubuh sesuai dengan luas derajat

pada rumus kramer

Kadar bilirubiun total ….. mg/dl dengan kadar bilirubin direct …

mg/dl dan kadar bilirubin indirect ….mg/dl

Masalah potensial

1. Potensial terjadi kekurangan cairan akibat foto terapi

Ds : -

Do : Advice dokter, akan dilakukan foto terapi jika hasil lab kadar

bilirubin tinggi

Kadar bilirubiun total pada 20 November 2006 20,08 mg/dl

dengan kadar bilirubin direct 1,76 mg/dl dan kadar bilirubin

indirect 18,32 mg/dl

2. Potensial terjadi gangguan integritas kulit akibat foto terapi

Ds : -

Do : Advice dokter, akan dilakukan foto terapi jika hasil lab kadar

bilirubin tinggi

Kadar bilirubiun total pada 20 November 2006 20,08 mg/dl

dengan kadar bilirubin direct 1,76 mg/dl dan kadar bilirubin

indirect 18,32 mg/dl

Turgor kulit bagus

III. Intervensi

Dx : By. Ny. “S” usia 3 hari dengan hiperbilirubinemia

Tujuan : Hiperbilirubinemia teratasi

K.H. : Setelah menjalani terapi, ikterus berkurang atau hilang

Kadar bilirubin normal yaitu < 10 mg/dl pada bayi premature

dan < 12,5 mg/dl pada bayi aterm.

Intervensi

1. Informasikan pada keluarga tentang kondisi

bayinya dan upaya terapi yang akan dilakuakan

R : Meningkatkan pengetahuan keluarga sehingga lebih kooperatif

terhadap tindakan yang akan dilakukan

2. Kolaborasi untuk memberikan foto terapi

Page 17: askeb hiperbilirubin

R : Foto terapi menyebabkan fotooksidasi bilirubin pada jaringan

subkutan sehingga meningkatkan larut air bilirubin yang

memungkinkan ekskresi cepat bilirubin melalui feses dan urin

sehingga kadar bilirubin tubuh berkurang

3. Lindungi kelamin dan mata saat terapi

R : foto terapi dapat merusak retina dan konjungtiva serta testis yang

dapat berakibat infertilitas

4. Berikan hidrasi yang adekuat selama terapi

R : Foto terapi memungkinkan peningkatan hilangnya air melalui

evaporasi sehingga perlu hidrasi yang adekuat untuk cegah

dehidrasi

5. Monitor konsentrasi kadar bilirubin setelah foto

terapi

R : cek kadar bilirubin setelah foto terapi penting untuk memantau

adanya kern ikterus dan penurunan kadar bilirubin akibat foto

terapi.

Masalah Potensial

1. Potensial terjadi kekurangam cairan akibat foto terapi

Tujuan : Tidak terjadi dehidrasi

K.H. : Kebutuhan minum terpenuhi, BB tetap atau naik, turgor kulit

baik, suhu tubuh tidak naik, input output cairan seimbang,

mata tidak cowong dan fontanella normal

Intervensi

1. Observasi tanda-tanda dehidrasi

R : Foto terapi memungkinkan kehilangan air yang banyak

melalui evaporasi sehingga dapat timbul dehidrasi

2. Observasi input output cairan dan tingkatkan hidrasi oral sedikitnya

25 %

R : Peningkatan kehilangan air melalui feses dan evaporasi

memungkinkan dehidrasi

3. Observasi TTV terutama suhu

R : Fluktuasi perubahan suhu tubuh dapat terjadi sebagai respon

terhadap pemajanan sinar radiasi dan konveksi

Page 18: askeb hiperbilirubin

4. Kolaborasi dengan tim medis untuk memberikan cairan

perparenteral sesuai indikasi

R : Pemberian cairan perparenteral diperlukan untuk

memperbaiki atau mencegah dehidrasi berat

5. Monitor berat badan

R : Berat badan merupakan parameter terjadinya

ketidakseimbangan cairan dalam tubuh

2. Potensial terjadi gangguan integritas kulit akibat foto terapi

Tujuan : Tidak terjadi gangguan integritas kulit

K.H. : Tidak terjadi perubahan pigmen kulit menjadi coklat,

terbakar dan ruam

Intervensi

1. Observasi tanda-tanda kerusdakan integritas kulit

R : Foto terapi memungkinkan kehilangan air yang banyak

melalui evaporasi sehingga dapat timbul kerusakan integritas

kulit

2. Berikan hidrasi yang sesuai

R : Peningkatan kehilangan air menyebabkn turgor kulit kering

sehingga meningkatkn risiko kerusaklan integritas kulit oleh

jkarena itu perlu intake cairan yang intens

3. Jaga area tetap bersih dan kering

R : Dengan mempertahjankan hygiene selama terapi dapat

membantu mengurangi risiko kerusakan integritas kulit

IV. Implementasi

Mengacu pada intervensi

V. Evaluasi

Mengacu pada kriteri hasil

Page 19: askeb hiperbilirubin

BAB III

TINJAUAN KASUS

I. PENGKAJIAN

Tanggal 12 Desember 2006, pukul 09.00 WIB

A. Data Subjektif

1. Biodata

Nama Bayi : By. Ny. “A”

Umur : 6 hari

Tanggal lahir : 7 Desember 2006

Jenis kelamin : laki-laki

No. register : 629212

Nama Ibu : Ny. “A” Nama ayah : Tn. “K”

Umur : 24 tahun Umur : 26 tahun

Agama : Islam Agama : Islam

Pendidikan : SMP Pendidikan : SMA

Pekerjaan : - Pekerjaan : Pedagang motor

Alamat : Jl. Permadi RT 8/RW 4 Penghasilan : Rp. 850.000,-

Polehan Malang

2. Alasan masuk ruang perinatologi

Page 20: askeb hiperbilirubin

Berdasarkan catatan rekam medik, bayi lahir secara SCTP, tidak langsung

menangis, AS menit pertama 5 dan pada 5 menit pertama 7. BBL 1280

gram sehingga setelah lahir langsung masuk ruang perinatologi

3. Riwayat Kesehatan yang Lalu

Berdasarkan catatan rekam medik, bayi mengalami asfiksia sedang sampai

tanggal 9 Desember 2006

4. Riwayat kesehatan sekarang

Bayi mengalami ikterus seluruh tubuh kecuali tangan dan kaki (Kramer

derajat IV)

5. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas sekarang

Kehamilan

Ini merupakan anak yang pertama. Selama hamil mengkonsumsi vitamain

dan obat yang diberikan saat kunjungan hamil. Ibu periksa hamil di Bidan

5 kali. Selam hamil ibu tudak menderita penyakit seperti penyakit kning,

herpes, dan penyakit infeksi yang lain. Ibu juga tidak pernah menderita

penyakit kencing manis.

Persalinan

Persalinan tanggal 17 Desember 2006 pukul 08.45 WIB ditolong dokter

dengan seksio sesarea karena usia kehamilan kurang bulan (prematur).

Ketuban pecah pukul 08.40 WIB jernih, tidak berbau, bayi lahir laki-laki,

tidal langsung menangis. BBL 1280 gram.

Nifas

Setelah lahir bayi langsung dibawa ke ruang perinatologi sehingga ibu

belum menyusui sama sekali. Bayi diberi susu formula.

6. Riwayat kesehatan keluarga

Tidak ada keturunan kencing manis dan penyakit kuning.

7. Riwayat nutrisi

a. Nutrisi

Bayi mendapatkan minum susu formula untuk BBLR yaitu S.BBLR

1/30 cc dengan frekuensi 10x10 cc

b. Istirahat

Bayi menghabiskan waktunya untuk tidur

c. Eliminasi

BAK : (+) kuning jernih

BAB : (+) kuning konsisitensi lembek

Page 21: askeb hiperbilirubin

d. Personal hygiene

Bayi mandi 1 kali sehari, ganti baju dan popok tiap kali basah dan

sehabis mandi. Bayi diolesi minyak tipa kali habis mandi dan dilkukan

perawatan tali pusat dengan kasa.

B. Data Objektif

1. Pemeriksaan Umum

Keadaan Umum : lemah

TTV Nadi : 140 x/menit

RR : 52 x/menit

Suhu : 36,80C

BB masuk : 1280 gram

BB sekarang : 2000 gram

2. Pemeriksaan Fisik

Kepala : kepala lebih besar daripada badan, ubun-ubun dan sutra

leboih lebar, tidak ada caput succedeneum ataupun cephal

haematom

Muka : Tidak pucat, kulit wajah ikterus

Hidung : Tidak ada pernapasan cuping hidung.

Mulut : Tidak pucat, agak kering, kemampuan menghisap dan

menelan lemah

Leher : Ikterus

Dada : Kulit dada ikterus, putting terlihat samar, tidak ada ronchii

dan wheezing

Perut : Kulit abdomen ikterus, tali pusat berwarna kuning

kehitaman, kulit terlihat terbakar

Genetalia : testis belum turun ke skrotum

Ekstrimitas : Tidak ikterus, gerak aktif

3. Pemeriksaan Penunjang

Tanggal 11 Desember 2006

Kadar bilirubin total 18,64 mg/dl dengan kadar bilirubin direct 0,7 mg/dl

dan kadar bilirubin indirect 17,94 mg/dl

II. IDENTIFIKASI DIAGNOSA / MASALAH

Dx : By. Ny. “S” usia 6 hari dengan hiperbilirubinemia

Ds : -

Page 22: askeb hiperbilirubin

Do : Terdapat ikterus pada muka, leher, dada, perut, paha, lengan kecuali

tangan dan kaki

Pemeriksaan penunjang

Kadar bilirubin total 18,64 mg/dl dengan kadar bilirubin direct 0,7 mg/dl

dan kadar bilirubin indirect 17,94 mg/dl

Masalah potensial

1. Potensial terjadi kekurangan cairan akibat foto terapi

Ds : -

Do : mulut kering, turgor kulit kering, fontanela cekung

2. Potensial terjadi gangguan integritas kulit akibat fototerapi

Ds : -

Do : kulit terbakar, ruam pada kulit

III. Intervensi

Dx : By. Ny. “S” usia 6 hari dengan hiperbilirubinemia

Tujuan : Hiperbilirubinemia teratasi

K.H. : Setelah menjalani terapi, ikterus berkurang atau hilang

Kadar bilirubin normal yaitu < 10 mg/dl

Intervensi

1. Informasikan pada keluarga tentang kondisi bayinya dan upaya terapi yang

akan diberikan

R : Meningkatkan pengetahuan keluarga sehingga lebih kooperatif terhadap

tindakan yang akan dilakukan

2. Kolaborasi untuk memberikan foto terapi

R : Foto terapi menyebabkan fotooksidasi bilirubin pada jaringan subkutan

sehingga meningkatkan larut air bilirubin yang memungkinkan ekskresi

cepat bilirubin melalui feses dan urin sehingga kadar bilirubin tubuh

berkurang

3. Lindungi kelamin dan mata saat terapi

R : foto terapi dapat merusak retina dan konjungtiva serta testis yang dapat

berakibat infertilitas

4. Berikan hidrasi yang adekuat selama terapi

R : Foto terapi memungkinkan peningkatan hilangnya air melalui evaporasi

sehingga perlu hidrasi yang adekuat untuk cegah dehidrasi

Page 23: askeb hiperbilirubin

5. Monitor konsentrasi kadar bilirubin setelah foto terapi

R : cek kadar bilirubin setelah foto terapi penting untuk memantau adanya

kern ikterus dan penurunan kadar bilirubin akibat foto terapi.

Masalah Potensial

1. Potensial terjadi kekurangam cairan akibat foto terapi

Tujuan : Tidak terjadi dehidrasi

K.H. : Kebutuhan minum terpenuhi, BB tetap atau naik, turgor kulit baik,

suhu tubuh tidak naik, input output cairan seimbang, mata tidak

cowong dan fontanella normal

Intervensi

1. Observasi input output cairan dan tingkatkan hidrasi oral sedikitnya 25 %

R : Peningkatan kehilangan air melalui feses dan evaporasi

memungkinkan dehidrasi

2. Observasi TTV terutama suhu

R : Fluktuasi perubahan suhu tubuh dapat terjadi sebagai respon terhadap

pemajanan sinar radiasi dan konveksi

3. Kolaborasi dengan tim medis untuk memberikan cairan perparenteral

sesuai indikasi

R : Pemberian cairan perparenteral diperlukan untuk memperbaiki atau

mencegah dehidrasi berat

2. Potensial terjadi gangguan integritas kulit akibat foto terapi

Tujuan : Tidak terjadi gangguan integritas kulit

K.H. : Tidak terjadi perubahan pigmen kulit menjadi coklat, terbakar dan

ruam pada kulit

Intervensi

1. Berikan hidrasi yang sesuai

R : dehidrasi membuat turgor kulit jelek

2. Jaga lingkungan tetap bersih dan kering

R : Dengan mempertahjankan hygiene selama terapi dapat membantu

mengurangi risiko kerusakan integritas kulit

3. Ganti popok tiap kali basah

R : mencegah ruam pada kulit

IV. IMPLEMENTASI

Page 24: askeb hiperbilirubin

Dx : By. Ny. “S” usia 6 hari dengan hiperbilirubinemia

1. Menginformasikan pada keluarga tentang kondisi bayinya dan upaya terapi

yang akan dilakukan yaitu bayi mengalami keadaan yang dinamakan

hiperbilirubinemia dengan tanda kulit bayi menjadi kuning akibat kadar

bilirubin yang tinggi dalam darah. Hal ini jika dibiarkan dapat menimbulkan

gangguan pada otak mulai dari kecacatan sampai kematian. Upaya yang bisa

dilakukan adalah dengan melakukan foto terapi.

2. Memberikan fototerapi. Fototerapi dilaksanakan selama 24 jam mulai tanggal

12 Desember 2006 pukul 19.30 WIB sampai tanggal 13 Desember 2006 pkul

19.30 WIB

3. melindungi kelamin dan mata saat terapi dengan menggunkan karbon ynag

dilapisi dengan kasa

4. Memberikan hidrasi yang adekuat selama terapi yaitu S>BBLR 1/30 cc

sebnayak 10 cc pada pukul 09.00 WIB dan 10 cc pada pukul 12.00 WIB

5. Memonitor konsentrasi kadar bilirubin setelah foto terapi

Masalah Potensial

1. Potensial terjadi kekurangan cairan akibat foto terapi

1. Mengobservasi input output cairan dan tingkatkan

hidrasi oral sedikitnya 25 %

2. Mengobservasi TTV antara lain HR 140 x/menit, RR

52 x/menit, suhu 36,80C

3. Memberikan cairan perparenteral sesuai indikasi yaitu

infus CN 10% sebnayak 9 tetes per menit

2. Potensial terjadi gangguan integritas kulit akibat foto terapi

1. Memberikan hidrasi yang sesuai dnagn kebutuhan

bayi yaitu dengan memberikan S>BBLR 1/30 cc sebanyak 10 cc pada

pukul 09.00 WIB dan sebanyak 10 cc pada pukul 12.00WIB

2. Menjaga area tetap bersih dan kering untuk

mengurangi resiko terjadinya gangguan integritas kulit

3. Mengganti popok tiap kali basah saat bayi BAB atau

BAK

V. EVALUASI

Tanggal 13 Desember 2006 pukul 11.00 WIB

Page 25: askeb hiperbilirubin

Dx : By. Ny. “A” usia 7 hari dengan hiperbilirubinemia

S : -

O : KU cukup

HR 140x/menit

RR 58 x/menit

Inspeksi tubuh ikterus kecuali tangan dan kaki (Kramer IV) dan sekarang

sedang dilakukan foto terapi dengan mata dan kelamin tertutup

A : By. Ny. “A” usia 7 hari dengan hiperbilirubinemia

P : - lanjutkan intervensi foto terapi sampai 13 Desember 2006 pukul 19.30

- Terapi infuse CN 10 % 9 tetes/ menit

- ASI / PASI 10x10 cc

- Jaga bayi tetap bersih dan kering selama terapi

- cek bilirubin setelah foto terapi

Masalah potensial

1. Potensial terjadi kekurangam cairan akibat foto terapi

S : -

O : mulut sedikit kering, turgor kulit baik, fontanella normal, mata tidak

cowong

A : tidak terjadi dehidrasi

P : - lanjutkan intervensi terapi infus CN 10% 9 tetes

- observasi tanda-tanda dehidrasi

2. Potensial terjadi gangguan integritas kulit

S : -

O : tidak terjadi perubhana pigmen kulit seperti kulit menjadi coklat, kulit

terbakar dan timbul ruam

A : tidak terjadi gangguan integritas kulit

P : lanjutkan intervensi sampai foto terapi selesai

Catatan perkembangan

Tanggal 14 Desember 2006 pukul 12.00 WIB

Dx : By. Ny. “A” usia 8 hari dengan hiperbilirubinemia

S : -

O : KU cukup

HR 140x/menit

Page 26: askeb hiperbilirubin

RR 48 x/menit

Suhu 36,60C

Inspeksi seluruh tubuh tidak ikterus

Hasil laboratorium

- bilirubin total 5,84 mg/dl (direct 1,55 mg/dl dan indirect 4,29 mg.dl)

- albumin 3,36

- direct coomb’s test –

A : Observasi bilirubin direct

P : - upayakan berjemur tiap pagi mulai pukul 8-9 pagi

- pertahankan hidrasi adekuat

- infus CN 10% 9 tetes permenit

- ASI/PASI 10x15 cc

Masalah potensial

1. Potensial terjadi kekurangam cairan akibat foto terapi

S : -

O : mulut lembab, turgor kulit baik, fontanella normal, mata tidak cowong

A : tidak terjadi dehidrasi

P : - pertahankan hidrasi yang adekuat sesuai anjuran

2. Potensial terjadi gangguan integritas kulit

S : -

O : tidak terjadi perubhaan pigmen kulit seperti kulit menjadi coklat, kulit

terbakar dan timbul ruam

A : tidak terjadi gangguan integritas kulit

P : pastikan kebersihan dan kekeringan lingkungan

Page 27: askeb hiperbilirubin

BAB IV

PEMBAHASAN

Dalam BAB ini disajikan analisis penulis mengenai ada tidaknya kesenjangan

antara teori dan praktik yang ditemui di lapangan.

Setelah melakukan asuhan kebidanan pada By. Ny. “A” usia 6 hari dengan

hiperbilirubinemia terdapat beberapa kesenjangan antara praktek dan teori. Adapun

kesenjangan itu adalah:

Penilaian kadar bilirubin dapat dilakuakn secara laboratories dan secara

klinis dimana pada kasus ini keduanya tidak saling mendukung.

Secara klinis, disebutkan bahwa menurut rumus Kramer luas ikterus

mencapai derajat IV yang terdiri dari kepala, leher, badan bagian atas,

badan bagian bawah dan tungkai, lengan dan kaki di bawah lutut

menunjukkan perkiraan kadar bilirubin ± 12 mg/dl

Page 28: askeb hiperbilirubin

Secara laboratories didapatkan hasil kadar bilirubin total 18,64 mg/dl

dengan kadar bilirubin direct 0,7 mg/dl dan kadar bilirubin indirect 17,94

mg/dl.

Pada teori disebutkan manifestasi klinik dari hyperbilirubinemia adalah

anemia, petekia, pembesaran lien dan hepar, gangguan pernapasan,

gangguan syaraf tetapi pada Bayi Ny. “A” tidak terjadi hal-hal tersebut.

Menifestasi klinik yang ada hanya kulit berwarna kunung kecuali pad kai

dan tangan.

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dalam membuat dan menegakkan diagnosa diperlukan pengkajian data yang

lengkap baik data subjektif maupun data objektif termasuk juga data penunjang.

Dari data – data tersebut kemudian dipadukan dan disimpulkan masalah atau

diagnosa yang muncul baru kemudian ditentukan intervensi sesuai dengan

diagnosa atau masalah yang muncul tadi.

Dari hasil pengkajian yang dilakukan, penulis dapat menyimpulkan bahwa

neonatus dengan hiperbilirubinemia membutuhkan penanganan yang tepat dan

cepat untuk menghindari akibat buruk yang dapat ditimbulkan oleh ikterus

tersebut.

Page 29: askeb hiperbilirubin

Hal ini menjadi sangat essensial mengingat akibat yang ditimbulkan dapat brupa

gangguan yang menetap bahkan kematian.

B. Saran

Kepada nakes sebaiknya lebih memperhatikan kebutuhan nutrisi / hidrasi

neonatus terutama yang berisiko untuk yttimbulnya hiperbilirubinemia

(BBLR. Premature, ibu dengan DM, asfiksia dsb) begitu juga dengan

neonatus dengan hiperbilirubinemia yang menjalani foto terapi mengingat

sangat potensial untuk terjadinya dehidrasi.

DAFTAR PUSTAKA

Doengoes, Marilynn, E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC

Prawirohardjo, Sarwono. 2002. Ilmu Kebidanan. Jakarta : EGC

____________________. 2002. Buku Acuan Pela6yanan Kesehatan Maternal

dan Neonatal. Jakrta : EGC

Staf Pengajar IKA FKUI. 1985. IKA Jilid 2. Jakarta : Infomedika

Page 30: askeb hiperbilirubin

LEMBAR PENGESAHAN

ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI Ny “A”

DENGAN HYPERBILIRUBUNEMIA

DI RUANG 11 PERINATOLOGI RSSA MALANG

12 Desember 2006

MAHASISWA

MARDIA ASTANA

Page 31: askeb hiperbilirubin

NIM. 0402100032

Mengetahui

Pembimbing institusi Pembimbing klinik

Elizabeth Soetarini D,S.ST Agustin Liestyoningsih, Amd.Keb

NIP :140 046 827 NIP. 140 132 413