Angga Pratama uas PHI

download Angga Pratama uas PHI

If you can't read please download the document

  • date post

    22-Nov-2015
  • Category

    Documents

  • view

    30
  • download

    6

Embed Size (px)

description

UAS pengantar Hubungan internasional

Transcript of Angga Pratama uas PHI

  • Realisme Dan Pandangan Terhadap Perang

    Dunia Ke Dua

    Disusun oleh:

    Angga Pratama Praditya 170210130095

    Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

    Universitas Padjadjaran 2014

  • Realisme Dan Pandangan Terhadap Perang

    Dunia Ke Dua

    Sejarah Realisme

    Walaupun Studi hubungan Internasional sebagai ilmu baru diwujudkan pada paska

    Perang dunia pertama, namun prinsip realisme pertama diutarakan Pada kisah

    Tuchydides pada zaman yunani kuno pada dialognya The Peloponnesian War. Dalam

    dialog, tersebut penggambaran paling tepat mengenai Realisme ada pada dialog

    Melian, yaitu antara Pasukan Athena yang datang Ke Pulau Malos, Dengan Melian,

    Polis atau city state yang ada di Pulau Tersebut. Pasukan Athena yang mempunyai

    kekuatan militer yang jauh lebih superior dibanding Melian, mencoba

    bernegosiasi .Tunduk pada Athena dengan damai dan dibiarkan tetap hidup, atau

    Melawan dan Dimusnahkan. Para Pemimpin Melian mencoba berargumen dengan

    membawa masalah hukum, Nurani dan etika. Namun Athen dengan Kekuatan

    Militer yang Superiornya dapat menekan Polis Melian untuk tunduk. Melian yang

    tidak memiliki kekuatan militer yang berarti, jelas tidak dapat mencegah Invasi

    Athena. Hal ini menyiratkan Prinsip dasar Realis yang menganggap bahwa Dunia

    adalah anarki, dan hanya yang terkuat yang bisa bertahan. Selain Tuchydides,

    Niccol Machiavelli dan Thomas Hobbes merupakan tokoh yang penting dalam

    membangun fondasi Realisme.

    Realisme sebagai Teori dalam hubungan internasional itu sendiri berawal dari

    Penolakan terhadap Ide-Ide dari Kaum Idealis pada masa Inter-war ( Periode antara

    Perang Dunia Ke 1 dan Perang Dunia Ke 2). Kaum Idealis pada saat itu menganggap

    Bahwa manusia pada dasarnya baik dan rasional, dan Fokus Ilmu Hubungan

    Internasional haruslah untuk memahami penyebab dari perang dan mencegah

    terjadinya perang di masa yang akan datang. Realist dimasa itu menganggap bahwa

  • pandangan kaum Idealis ini memiliki beberapa kesalahan, diantaranya adalah

    Mengabaikan peran dari Kekuasaan / Power, Terlalu percaya pada tingkat

    rasionalitas manusia, dengan salah meyakini bahwa setiap Negara memiliki

    Kesamaan Kepentingan (Common Interest) sehingga dapat hidup damai bersama,

    dan yang terakhir kaum idealis sangatlah yakin bahwa Umat Manusia telah

    merasakan kehancuran dari perang sehingga perang skala besar tidak akan terulang

    kembali. Pecahnya Perang dunia Kedua pada 1939 dengan telak mematahkan

    argumen kaum idealis.

    Pendekatan Realisme pada lebih banyak dianut oleh penstudi HI setelah Teori

    Idealis terbantahkan dengan pecahnya perang dunia ke dua. Dan nantinya pada

    akhir 1930an sampai awal 1940an ini akan memunculkan The Great Debate antara

    Kaum Idealis inter-war dan Para penulis Realis generasi baru seperti E.H Carr, Hans J

    Morgenthau dan lain sebagainya, yang lebih menitikberatkan pada pentingnya

    Power dan Persaingan antar negara. Pada akhirnya Great Debate Ini dimenangkan

    Oleh Para Realis, dan banyak dari kebijakan Negara-Negara barat diambil dari sudut

    pandang realis. Realisme Mengajarkan Pemimpin Amerika Serikat untuk lebih

    mengejar Kepentingan bangsa (National Interest) dibandingkan dengan Ideologi.

    Seperti yang terjadi pada Perang dingin, yang sebenarnya merupakan Konflik

    Kepentingan dibanding konflik Ideologi. Pandangan Realis yang memberi panduan

    untuk mengejar Kepentingan Nasional dalam kondisi dunia yang Kompetitif

    membuat Pandangan Realis menjadi pandangan yang sering dianut oleh para

    pemimpin dunia.

    Teori Realisme seperti yang sudah diutarakan sebelumnya, berasal dari Pemikiran

    Klasik yang dapat dirunut dari tokoh-tokoh terkenal dalam Ilmu Politik dimasa

    lampau seperti Tuchydides, (460-406 SM), Nicolo Machiavelli (1469-527, Thomas

    Hobbes (1588-1679), dan Rosseau (1712-1778). Para Tokoh-Tokoh Ini memilki suatu

    kesamaan pandangan. Yaitu bahwa setiap pemimpin negara harus Mengedepankan

  • National Interest dalam Interaksi antar negara untuk menjaga Keamanan/Security

    negara itu sendiri dari Ancaman Negara Lain. Karena Realis menganggap Dunia ini

    penuh dengan negara negara yang saling mengejar National Interest nya masing

    masing dan sering kali kepentingan tersebut saling bertabrakan, dan pada akhirnya

    mengakibatkan perang. Patut Digaris bawahi bahwa bagi realis, perang dianggap

    sebagai Instrumen yang legal untuk mempertahankan Kepentingan Nasional serta

    eksistensi dari negara itu sendiri. Dengan Pandangan Realis terhadap dunia yang

    begitu kejam ini maka timbul masalah tentang bagaimana Intepretasi National

    Interest dan Realisme Klasik Secara keseluruhan bila dihadapkan dengan Isu Moral

    dan Etika yang ada pada Politik Internasional.

    Realis memandang skeptis terhadap Isu moral dan etika universal, dan menentang

    usaha untuk mengorbankan National Interest demi masalah Etika semata. Realis

    bahkan menganjurkan bahwa kebutuhan suatu negara untuk Bertahan hidup,

    pemimpin negara perlu menjauhkan diri dari Norma dan etika yang berlaku. Hal ini

    dikemukakan oleh Machiavelli. Namun yang dimaksud realis ini adalah Standar

    moral ganda, yaitu negara bersifat baik terhadap penduduk dan warganya, namun

    dapat melakukan hal-hal kotor bila berhubungan dengan negara lain (Seperti

    Pembunuhan, Intelejen dan lain sebagainya). Namun Realisme tidaklah sebagai

    suatu teori yang Kejam dan tidak bermoral. Pendukung dari Raison detat

    (National Interest) berpendapat bahwa eksistensi negara sendiri sebagai suatu

    Komunitas Politik yang ada untuk mempertahankan Moral, etika dan order.

    Sehingga Mempertahankan eksistensi negara tersebut merupakan suatu tugas mulia

    bagi Pemimpinnya.

  • Walaupun pada nantinya realisme klasik berkembang menjadi teori lain seperti

    Realisme Struktural dan Neo Realisme, Namun ada beberapa kesamaan antara teori-

    teori tersebut. Diantaranya adalah Statism (Dominasi Negara), Survival

    (Keberlangsungan hidup), dan Self-Help (Kemandirian). Konsep-Konsep inilah yang

    membentuk Realisme.

    Fokus Level Analisis Realisme adalah pada tingkat negara, dan negara sebagai aktor

    yang paling utama dalam politik internasional. Realisme berargumen demikian

    karena Negara dianggap sebagai Instrumen Politik yang telah mendapat legitimasi

    dari rakyat. Sehingga dapat menggunakan kekuasaannya baik ke dalam negeri

    maupun ke luar. Namun di Luar Negara, Realis menganggap bahwa Politik

    Internasional merupakan anarki, dimana tidak ada otoritas Internasional yang

    memiliki otoritas yang mutlak kepada negara negara lain. Sehingga setiap negara

    perlu meningkatkan keamanannya masing.

    Inilah gambaran secara garis besar bagaimana Realis memandang Dunia. Keadaan

    dunia yang Anarki ini berkesimpulan bahwa Tujuan utama bagi pemimpin ialah

    menjaga Keamanan dan Ekistensi negaranya (Survival). Karena tidak ada pihak lain

    yang dapat menjamin keamanan negara tersebut. Kejadian ini sudah dialami Oleh

    Polandia dimana Polandia telah dijajah dan dikuasai 4 kali kali selama kurun waktu 3

    abad terakhir. (Karena dikepung Oleh Kekaisaran Rusia, Jerman dan Austria,

    Kekuatan besar di Eropa). Serupa dengan kisah Tuchydides yang telah dipaparkan

    sebelumnya, dimana Negara Yang lemah akan dimakan oleh negara yang kuat.

    Sementara Self-Help menjelaskan bahwa karena Prinsip dari hubungan internasional

    sendiri adalah Anarki dan tidak ada semacam Organisasi global yang dapat

    menjamin Keamanan dan Eksistensi Suatu negara, maka Suatu negara harus dapat

    membangun kekuatan dan kapabilitas mereka secara mandiri, karena organisasi

  • Internasional seperti PBB menurut Realis tidak dapat diandalkan mencegah hasrat

    ekspansionis negara negara besar. Namun Tidak semua negara memiliki Kapabilitas

    yang mumpuni untuk membangun Kekuatan Detterent Terhadap negara lain. Ada

    beberapa negara yang secara ekonomi tidak begitu besar sehingga tidak dapat

    membangun pertahanan yang tangguh seperti Luxembourg, Belgia dan Belanda

    pada Masa Perang dingin, dan Eksistensi Mereka terancam dengan Hegemoni Uni

    Soviet dan Negara Bonekanya.

    Lalu bagaimana solusinya? Realis memberi solusi agar negara kecil tersebut

    Bergabung dan membentuk aliansi dengan Negara Besar. maka keamanan negara

    (Luxembourg, Belgia dan Belanda pada akhirnya bergabung dengan NATO, North

    Atlantic Treaty Organisation). Mekanisme Ini yang sebenarnya merupakan hal yang

    paling penting bagi Realis Untuk mempertahankan Perdamaian, yaitu Balance Of

    Power Atau perimbangan Kekuatan. Untuk mencegah dominasi dari suatu Negara

    atau Koalisi yang mengancam, maka negara negara yang terancam perlu untuk

    membangun koalisi bersama untuk menangkal ancaman tersebut. Hal Ini Terjadi

    pada Masa Perang dingin, Dimana NATO didirikan untuk mencegah Ekspansi Dari

    Uni Soviet dan Pakta Warsawa di eropa. Dan pada akhirnya Konsep Balance of

    power ini terbukti berhasil mencegah terjadinya perang terbuka Di Eropa. Karena

    kedua pihak baik NATO maupun Pakta warsawa memahami bahwa kekuatan militer

    kedua kubu relatif setara, Jika salah satu pihak memulai perang, maka bisa

    dipastikan Keduanya akan Hancur. Walau kondisi eropa relatif damai, namun perang

    di berbagai belahan negara di dunia tetaplah terjadi dalam bentuk proxy war

    sebagai akibat dari persa