Analisa putusan ptun

Click here to load reader

  • date post

    30-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    194
  • download

    9

Embed Size (px)

description

ptun

Transcript of Analisa putusan ptun

Analisa Putusan PTUN

(Studi kasus putusan PTUN Jambi Nomor: 01/ G/ TUN/ 2003/ PTUN JBI)

Disusun Oleh:

Sartika Bani Kharisma

E0011282

Hukum Peradilan Tata Usaha Negara (D)

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

`2013KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kuasa sehingga penyusunan makalah ini dapat berjalan dengan baik dan lancar. Saya juga berterimakasih kepada setiap pihak yang telah terlibat dan membantu kami dalam penyusunan makalah ini.

Makalah ini disusun untuk menambah nilai Mata Kuliah Hukum Peradilan Tata Usaha Negara. Dalam kesempatan ini saya mencoba menganalisis putusan PTUN Jambi Nomor: 01/ G/ TUN/ 2003/ PTUN JBI. Makalah ini saya susun sedemikian rupa dengan mencari dan menggabungkan sejumlah informasi yang kami dapatkan baik melalaui buku, media cetak, elektronik maupun media lainnya. Saya berharap dengan informasi yang di dapat dan kemudian saya sajikan ini dapat memberikan penjelasan yang cukup jelas.Demikian satu dua kata yang bisa kami sampaikan kepada seluruh pembaca makalah ini. Jika ada kesalahan baik dalam penulisan maupun kutipan, saya terlebih dahulu memohon maaf dan saya juga berharap semua pihak dapat memakluminya. Semoga semua pihak dapat menikmati dan mengambil esensi dari makalah ini. Trimakasih.

Surakarta, Mei 2013

Penulis

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

`` Berdasarkan Pasal 1 angka 5 Undang-Undang No. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara menyebutkan bahwa sengketa tata usaha negara adalah sengketa yang timbul dalam bidang Tata Usaha Negara antara orang atau badan hukum perdata dengan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara, baik di pusat maupun di daerah, sebagai akibat dikeluarkannya Keputusan Tata Usaha Negara, termasuk sengketa kepegawaian berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pada dasarnya sengketa Tata Usaha Negara terjadi karena adanya seseorang atau badan hukum perdata yang merasa kepentingannya dirugikan oleh suatu Keputusan Tata Usaha Negara, yaitu suatu penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang berisi tindakan hukum Tata Usaha Negara yang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang bersifat konkret, individual, dan final, yang menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata. Gugatan yang diajukan oleh seseorang atau badan hukum yang merasa dirugikan tersebut haruslah dengan alasan-alasan sesuai yang diatur dalam Pasal 53 ayat (2) UU No 5 Tahun 1986. Secara umum jika kita kaji mengenai Isi atau bagian-bagian dari suatu Putusan, maka hal ini diatur dalam Pasal 109 ayat (1) UU Peradilan Tata Usaha Negara, yaitu memuat: Kepala putusan harus berbunyi: Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa .a. Nama, jabatan, kewarganegaraan, tempat kediaman para pihak yang bersengketa,

b. Ringkasan gugatan dan jawaban Tergugat yang jelas,

c. Pertimbangan dan penilaian setiap bukti yang diajukan dan hal yang terjadi dalam persidangan selama sengketa itu diperiksa,

d. Alasan hakim yang menjadi dasar putusan,

e. Amar putusan tentang sengketa dan biaya perkara, dan

f. Hari, tanggal putusan, nama hakim yang memutus, nama panitera serta keterangan tentang hadir atau tidak hadirnya para pihak.

Putusan Pengadilan Tata Usaha Negera Jambi Nomor: 01/ G/ TUN/ 2003/ PTUN.JBI secara keseluruhan sudah memuat semua bagian-bagian isi dari suatu putusan sesuai Pasal 109 ayat (1) di atas.

B. Rumusan masalah

a. Bagaimanakah putusan tata usaha negara terhadap Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Jambi Nomor: 01/ G/ TUN/ 2003/ PTUN JBI?b. Bagaimanakah pembuktian yang dalam hal ini terhadap Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Jambi Nomor: 01/ G/ TUN/ 2003/ PTUN JBI?BAB II

PEMBAHASANA. Putusan tata usaha negara yang dalam hal ini terhadap Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Jambi Nomor: 01/ G/ TUN/ 2003/ PTUN JBI

Secara keseluruhan kita sudah pada tahap penganalisaan suatu Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara maka secara tidak langsung sudah menunjukkan bahwa prosedur sebelumnya sudah terpenuhi, yaitu seperti mengenai syarat-syarat dari suatu surat gugatan terutama syarat formil, yang jika dalam kasus sengketa tata usaha negara pada contoh salinan Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Jambi di atas adalah diajukan oleh Ir.Sudjarwo (Penggugat), didaftarkan 9 Januari 2003 dengan Register Perkara Nomor : 01/ G/TUN/ 2003/ PTUN.JBI . Tidak mungkin suatu sengketa tata usaha negara dapat diperiksa, diadili, dan diputus di PTUN jika tidak lulus dari pemeriksaan awal suatu surat gugatan di Kepaniteraan PTUN, Karena sebelum surat gugatan dapat di daftarkan di Kepaniteraan Pengadilan Tata Usaha Negara syarat formilnya harus terpenuhi secara lengkap terlebih dahulu, sebagaimana yang diatur dalam Pasal 62 ayat (1) huruf b Jo Pasal 56 UU No.5 Tahun 1986. Beberapa hal lain yang perlu kita cermati adalah:

1. Kompetensi Mengadili

Kewenangan mengadili terbagi dalam :a) Kekuasaan Kehakiman atribusi (attribute van recht smacht-smacht) Kewenangan mutlak atau kompetensi absolute sebagai kewenagan badan pengadilan untuk memeriksa jenis perkara tertentu yang secara mutlak tidaka dapat diperiksa pengadilan lain.b) Kekuasaan Kehakiman Distribusi ( distributie van recht-smacht)Kewenangan nisbi atau kompetensi relatif sebagai kewenagan badan pengadilan untuk memeriksa sesuai asas Actor Sequuitur Forum Rei (yang berwenang pengadilan tempat kedudukan tergugat).

I. Kompetensi AbsolutKompetensi absolut Pengadilan Tata Usaha Negara adalah memeriksa sengketa tata usaha Negara yang timbul akibat dikeluarkannya keputusan tata usaha Negara (Pasal 1 angka 9 Undang-Undang Nomor 51 tahun 2009 danPasal 3 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986, kecuali (secara limitatif) keputusan tata usaha negara yang dimaksud dalam ketentuan pasal 49 Undang-Undang Nomor 5 tahun 1986 oleh Badanatau Pejabat Tata Usaha Negara (Pasal 1 angka 8 Undang-Undang Nomor Tahun 2009) antara orang atau badan hukum perdata dengan badan atau pejabat tata usaha negara. Dasar hukum pasal 47 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 menyatakan: Pengadilan bertugas dan berwenang memeriksa, memutus dan menyelesaikan sengketa tata usaha negara.Pasal 18 UU Nomor 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman menyatakan: kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada dibawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha Negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi. Jadi, dibawah lingkungan peradilan Mahkamah Agung terdapat 4 (empat) lingkungan peradilan (Piramida Peradilan):1. Lingkungan peradilan umum,2. Lingkungan peradilan agama,3. Lingkungan peradilan militer, dan4. Lingkungan Peradilalan Tata Usaha Negara.Selanjutnya kekuasaan kehakiman di lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara dilaksanakan oleh:

a. Pengadilan Tata Usaha Negara;b. Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara.

Kekuasaan Kehakiman di lingkungan peradilan Tata Usaha Negara berpuncak pada Mahkamah Agung sebagai pengadilan Negara Tinggi.

Ketentuan pasal 4 UU Nomor 9 Tahun 2004 dan Pasal 5 UU Nomor Tahun 1986, menegaskan, bahwa Peradilan Tata Usaha Negara adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan (setiap orang baik warga negara Indonesia maupun orang asing, dan badan hukum perdata yang mencari keadilan pada peradilan Tata Usaha Negara) terhadap sengketa tata usaha negara.

II. Kompetensi Relatif

Kompetensi relatif Pengadilan Tata Usaha Negara adalah kewenagan pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat kedudukan tergugat (pasal 54 ayat (1) UU No.5 Tahun 1986).Ketentuan pasal 54 ayat (1) UU No.5 Tahun 1986, menentukan: Gugatan sengketa tata usaha Negara diajukan kepada pengadilan yang berwenang yang daerah hukumnya meliputi tempat kedudukan tergugat.Dalam penjelasannya, ketentuan Pasal 54 ayat (1) menegaskan , bahwa yang dimaksudkan dengan tempat kedudukan tergugat adalah tempat kedudukan secara nyata atau tempat kedudukan menurut hukum, namun demikian jika tempat kedudukan tergugat berada diluar daerah hukum pengadilan tempat kediaman penggugat, gugatan dapat disampaikan kepada pengadilan tata usaha negara tempat kediaman penggugat untuk diteruskan kepada pengadilan yang bersangkutan. Demikian pula, apabila penggugat dan tergugat berkedudukan atau berada diluar negeri, gugatan diajukan kepada pengadilan di Jakarta. Penggugat yang ber ada diluar negeri dapat mengajukan gugatannya dengan surat atau menunjuk seseorang yang diberi kuasa yang berada di Indonesia. Selanjutnya ketentuan pasal 6 UU no. 9 Tahun 2004 menetukan, tempat kedudukan pengadilan tata usaha negara:

1) Pengadilan Tata Usaha Negara berkedudukan di ibukota kabupaten/Kota dan daerah hukumnya meliputi wilayah kabupaten/Kota.2) Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara berkedudkan di ibukoya provinsi dan daerah hukumnya meliputi wilayah provinsi.

Berkaitan dengan pembentukannya, ketentuan pasal 9 UU no. 5 Tahun 1986 menetukan pengadilan tatat usaha negara dibentuk dengan keputusan presiden dan pasal 10 UU no. 5 Tahun 1986 menetukan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara dibentuk dengan undang-undang.

Sengketa Tata Usaha Negara pada contoh salinan Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Jambi di atas, Penulis sependapat dengan eksepsi Tergugat dan putusan Hakim, karena jenis sengketa tersebut adalah sengketa kepegawaian, sehingga berdasarkan pada Pasal 48 Jo Pasal 51 ayat (3) Undang-Undang No.5 Tahun 1986 seharusnya gugatan tersebut di ajukan ke Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara. Maka Pengadilan Tata Usaha Negara Jambi tidak berwenang memeriksa perkara tersebut. 2. Subjek Sengketa

Ketentuan mengenai pencantuman pihak-pihak dalam sengketa tata usa