ANALISA HUKUM TERHADAP KEKUATAN EKSEKUTORIAL

of 95 /95
ANALISA HUKUM TERHADAP KEKUATAN EKSEKUTORIAL SERTIPIKAT JAMINAN FIDUSIA (Berdasarkan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia) Skripsi Diajukan kepada Fakultas Syariah dan Hukum Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Hukum (S.H) Oleh: Ahmad Wahyudi 109048000083 KONSENTRASI HUKUM BISNIS PROGRAM STUDI ILMU HUKUM FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH J A K A R T A 1435 H/2014 M

Embed Size (px)

Transcript of ANALISA HUKUM TERHADAP KEKUATAN EKSEKUTORIAL

(Berdasarkan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia)
Skripsi Diajukan kepada Fakultas Syariah dan Hukum
Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Hukum (S.H)
Oleh: Ahmad Wahyudi
KONSENTRASI HUKUM BISNIS PROGRAM STUDI ILMU HUKUM
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH J A K A R T A 1435 H/2014 M
iii
Dengan ini saya menyatakan bahwa:
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah
satu persyaratan memperoleh strata 1 di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai
dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta.
3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau
merupakam hasil jiplakan dan karya orang lain, maka saya bersedia menerima
sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatulfah Jakarta.
Jakarta, 24 April 2014
iv
ABSTRAK
AHMAD WAHYUDI, NIM : 109048000083 ANALISA HUKUM TERHADAP KEKUATAN EKSEKUTORIAL SERTIPIKAT JAMINAN FIDUSIA (Berdasarkan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia) Program Studi Ilmu Hukum, Konsentrasi Hukum Bisnis, Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 1435 H/2014 M, 75 halaman + lampiran. Penelitian ini menganalisa kekuatan eksekutorial yang melekat pada Sertipikat Jaminan Fidusia sebagaimana tertuang dalam pasal 15 ayat (2) dan (3) Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan untuk khazanah keilmuan dalam bidang hukum fidusia dan tambahan referensi untuk peneliti yang akan datang. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan (library research) atau studi dokumen yang bersifat yuridis normatif. Sertipikat Jaminan Fidusia memiliki kekuatan eksekutorial tanpa melalui proses peradilan, sehingga jika seorang debitor melakukan wanprestasi kreditor bisa melakukan eksekusi benda yang menjadi objek jaminan fidusia tanpa melalui proses peradilan. Namun dalam prakteknya sering terjadi adanya keberatan dari pihak debitor maupun pihak ketiga yang merasa dirugikan dengan adanya eksekusi terhadap benda yang menjadi objek jaminan fidusia, selain itu objek benda yang akan dieksekusi terkadang sudah disita terlebih dahulu oleh orang lain tanpa sepengetahuan pihak kreditor. Jika adanya keberatan terhadap eksekusi benda objek jaminan fidusia atau objek jaminan fidusia sudah terlebih dahulu disita oleh orang lain atau sengaja dipindah tangankan oleh debitor kepada pihak ketiga maka secara otomatis akan melahirkan sengketa (dsipute) sehingga adanya proses peradilan dalam eksekusi benda yang menjadi objek jaminan fidusia sangat memungkinkan. Jika salah satu pihak ada yang keberatan terhadap eksekusi yang akan dilakukan, langkah hukum yang perlu dilakukan adalah mengajukan keberatan ke pengadilan. Pasal 10 ayat (1) Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman menyatakan “Pengadilan dilarang menolak memeriksa, mengadili dan memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalih hukum tidak ada atau kurang jelas, melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya.”
Kata kunci : Fidusia, Kekuatan Eksekutorial Sertipikat Jaminan Fidusia.
Pembimbing : Nahrowi, SH. MH. dan Andi Syafrani, SHI. MCCL.
Daftar Pustaka : Tahun 1965 sampai tahun 2011
v
Segala puji bagi Allah dan syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat
Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, nikmat, serta hidayah-Nya sehingga
penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul ANALISA HUKUM
TERHADAP KEKUATAN EKSEKUTORIAL SERTIFIKAT JAMINAN
FIDUSIA (Berdasarkan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang
Jaminan Fidusia. Sholawat dan salam tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad
SAW yang telah membawa kita kepada jalan yang lurus dan diridhai oleh Allah
SWT.
kesungguhan dan kerja keras. Selanjutnya, dalam kesempatan ini penulis ingin
menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada Bapak Nahrowi, SH.
MH selaku pembimbing I dan Bapak Andi Syafrani, SH.I MCCL selaku
pembimbing II yang telah dengan sabar, tekun, tulus dan ikhlas meluangkan waktu,
tenaga dan pikiran memberikan bimbingan, motivasi, arahan, dan saran-saran yang
sangat berharga kepada penulis selama menyusun skripsi.
Selanjutnya ucapan terima kasih penulis sampaikan pula kepada:
1. Prof. Dr. Komaruddin Hidayat selaku Rektor Universitas Islam Negeri (UIN)
Syarif Hidayatullah Jakarta
2. JM. Muslimin M.A., Ph.D., selaku Dekan Fakultas Syariah dan Hukum
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
vi
3. Dr. Djawahir Hejazziey, S.H., M.A., M.H., selaku ketua prodi Ilmu Hukum.
4. Drs. Abu Tamrin, S.H., M.Hum., selaku sekretaris prodi Ilmu Hukum yang
senantiasa memberikan perhatian kepada skripsi saya ini.
5. Abdurrauf L.c., M.A., selaku dosen pembimbing akademik yang telah
memberikan bimbingan dan masukannya selama beberapa tahun kepada
penulis. Semoga apa yang telah bapak arahkan kepada penulis dapat
bermanfaat dan dibalas oleh Allah SWT.
6. Segenap Dosen beserta Staf Karyawan Fakultas Syariah dan Hukum
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah baik
dan memberikan ilmu pengetahuan kepada penulis, serta memberikan
pehatian dan kasih sayang kepada penulis sehingga meninggalkan kesan
bahagia selama masa studi di lingkungan universitas.
7. Terima kasih sebesar-besaraya kepada ayahanda H.Okar dan Ibunda
Hj.Rosdiana yang telah memberikan doa untuk penulis menyelesaikan skripsi
ini, nafkah dan kasih sayang selama ini, serta pengorbanan kepentingannya
untuk mendahulukan studi penulis.
teman-teman penulis, Asep saepudin, Ade Mulyana, Susilawati, Rian Ahmad
Faisal, S.H., Aris Munandar, Abdul latip Komarudin, S.E., Ahmad Taufik dan
Arland Ahmad Septian yang telah memberikan dorongan berbentuk motifasi
dan inspirasi kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.
9. Kawan-kawan angkatan 2009 Aden Daenuri, Muhamad andriansyah, Prayoza
saputra, Rivianta Putra, Fikri abdullah, Muhamad Andi Firdaus, Madama
Taufiq dan lain lain yang telah saling bantu-membantu selama proses
perkuliahan sehingga tugas-tugas dan penulisan skripsi ini dapat selesai
sebagaimana mustinya.
10. Andini Sri Dewi Mandasari yang tiada henti selalu memberikan semangat
serta motivasi dalam pembuatan skripsi ini sehingga membuat penulis lebih
bersemangat dalam pengerjaan skripsi ini.
vii
11. Teman-teman Fakultas Syariah dan Hukum uin yang mengenal dan berteman
baik dengan penulis, semoga teman-teman semua sukses dan sejahtera di
masa yang akan datang.
12. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini
yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Semoga Allah memberikan
berkah dan karunia-Nya serta membalas semua kebaikan.
Harapan penulis semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis pada
khususnya dan segenap civitas akademika dan masyarakat pada umumnya.
Jakarta, 24 April 2014
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian...............................................
E. Review Kajian Terdahulu.......................................................
A. Hak Tanggungan.....................................................................
A. Tujuan Penyitaan....................................................................
SERTIPIKAT JAMINAN FIDUSIA
B. Eksekusi Jaminan Fidusia.......................................................
D. Dasar Hukum Adanya Proses Peradilan.................................
BAB V PENUTUP
Dalam Penjelasan UU No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia
disebutkan, bahwa dalam rangka meneruskan pembangunan ekonomi yang
berkesinambungan, para pelaku pembangunan baik pemerintah maupun swasta, baik
perorangan maupun badan hukum, memerlukan dana yang sangat besar. Sebagian
besar dana yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut diperoleh melalui
kegiatan pinjam meminjam dari lembaga keuangan, terutama bank.
Tingginya kebutuhan perusahaa-perusahaan dalam rangka mendapatkan
modal segar untuk membiayai kegiatan usahanya mengakibatkan lahirnya persaingan
usaha antar bank semakin tajam. Hal ini mendorong munculnya berbagai jenis
produk, terutama penawaran kredit terhadap perusahaan-perusahaan non jasa
keuangan semakin banyak dan dipermudah.1 Namun sebelum bank memberikan
kredit, bank harus menilai dengan seksama watak, kemampuan, modal, agunan dan
prospek usaha debitor. Faktor-faktor tersebut memegang peranan penting dalam
menentukan pemberian kredit, disamping ketentuan tersebut, di dalam bank berlaku
1 Chaerudin Syah Nasution, “Manajemen Kredit Syariah Bank Muamalat’. Diakses dari : http://www.fiskal.depkeu.go.id/webbkf/kajian%5CChaerudin-3.pdf.
2
menanggung resiko debitor.2
Setiap kegiatan usaha yang memerlukan fasilitas kredit, disyaratkan harus ada
jaminan dalam pelaksanaannya. Kredit akan diberikan kepada nasabah apabila
terdapat jaminan kredit terlebih dahulu. Hal ini dilakukan karena pemberian kredit
mengandung resiko sehingga dalam pelaksanannya harus berdasarkan pemberian
kredit yang sehat.
peraturan yang mengatur tentang jaminan dalam kredit, yang kemudian disebut
dengan “Hukum Jaminan” yang merupakan salah satu bagian dari hukum ekonomi
(the economic law).3 Hukum jaminan mempunyai fungsi sebagai penunjang kegiatan
perekonomian dan kegiatan pembangunan pada umumnya.4
Bagi pihak debitor, bentuk jaminan yang baik adalah jaminan yang tidak akan
mengganggu kegiatan usahanya. Sedangkan bagi kreditor, jaminan yang baik adalah
jaminan yang dapat memberikan rasa aman dan kepastian hukum, bahwa kredit yang
2 Sri Soedewi M Sofwan, Beberapa Masalah Pelaksanaan Lembaga Jaminan Khususnya Fidusaia di Dalam Praktek dan Pelaksanannya di Indonesia, (Jogjakarta : FH UGM, 1980), h. 11.
3 Sri Soedewi Maschoen Sofwan, Hukum Jaminan di Indonesia, Pokok-Pokok Hukum Jaminan dan Jaminan Perorangan (Yogyakarta : Liberti, 1980), h. 33.
4 R. Subekti & R. Tjiptosoedibjo, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Cet XXV, (Jakarta : PT. Pradnya Paramita, 1992), h. 269.
3
diberikan dapat diperoleh kembali tepat pada waktunya sesuai dengan yang
diperjanjikan.
Salah satu bentuk jaminan yang sudah lama diakui adalah fidusia, yang telah
dilembagakan dan diatur secara lengkap dalam Undang-Undang No. 42 Tahun 1999
Tentang Jaminan Fidusia. Fidusia merupakan salah satu sarana untuk membantu
kegiatan usaha dan untuk memberikan kepastian hukum kepada para pihak yang
berkepentingan. Jaminan Fidusia memberikan kemudahan bagi para pihak yang
menggunakannya, khususnya bagi debitor (Pemberi Fidusia). Namun sebaliknya
karena Jaminan Fidusia tidak didaftarkan, kurang menjamin pihak kreditor (Penerima
Fidusia). Pemberi Fidusia mungkin saja menjaminkan benda yang telah dibebani
dengan fidusia kepada pihak lain tanpa sepengetahuan Penerima Fidusia.
Dalam undang-undang No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia, diatur
tentang pendaftaran jaminan fidusia guna memberikan kepastian hukum kepada para
pihak yang berkepentingan dan memberikan hak yang didahulukan (preferen) kepada
Penerima Fidusia (kreditor) terhadap kreditor lain. Fidusia dianggap sebagai jaminan
yang lebih cocok bagi bank ataupun nasabahnya untuk barang bergerak, hal ini
dikarenakan kreditor tidak perlu repot-repot merawat dan menyediakan tempat
menyimpan barang jaminan. Dalam sistem jaminan fidusia, barang tidak diserahkan
kepada kreditor, tetapi masih berada dalam kekuasaan debitor, namun sebelum utang
4
dibayar lunas oleh debitor, hak milik barang berpindah untuk sementara waktu
kepada kreditor.5
Fidusia merupakan suatu jenis jaminan yang timbul dari suatu perjanjian,
dalam hal ini adalah perjanjian utang-piutang yang dilakukan antara kreditor dengan
debitor. Setelah ada perjanjian utang-piutang antara kreditor dengan debitor maka
selanjutnya harus dibuat perjanjian fidusia yang dibuat dalam bentuk tertulis dan
dituangkan dalam akta notaris, hal ini dilakukan untuk melindungi dan memudahkan
kreditor dalam pembuktian bahwa telah ada suatu penyerahan hak kepemilikan
terhadap kreditor. Perjanjian ini kemudian sering disebut dengan “akta jaminan
fidusia”. Hal ini sesuai dengan pasal 5 ayat (1) Undang-Undang No. 42 Tahun 1999
tentang Jaminan Fidusia yang berbunyi :
“Pembebanan Benda dengan Jaminan Fidusia dibuat dengan akta notaris
dalam Bahasa Indonesia dan merupakan Akta Jaminan Fidusia”.
Perjanjian fidusia bersifat accesoir (ikutan) karena perjanjian fidusia
merupakan pelengkap dari perjanjian utang-piutang (perjanjian kredit).6 Suatu
perjanjian akan terlaksana dengan baik apabila para pihak telah memenuhi
prestasinya masing-masing seperti yang telah diperjanjikan tanpa ada pihak yang
5 Gatot Suparmono, Perbankan dan Masalah Kredit : Suatu Tinjauan, (Jakarta: Jambatan, 1995), h. 74.
6 Meriam Darus Badrul zaman, Bab-Bab Tentang Creditverband, Gadai dan Fidusia (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1991), h. 89.
5
sendiri adalah suatu keadaan yang dikarenakan kelalaiannya, debitor tidak dapat
memenuhi prestasi seperti yang telah ditentukan dalam perjanjian dan bukan dalam
keadaan memaksa (force majeure).7
yang telah disepakatinya sehingga hal ini menimbulkan suatu permasalahan yang
butuh penyelesaian secara tepat. Selain itu, dengan adanya cederajanji yang dilakukan
oleh debitor tentunya menimbulkan kerugian yang dialami oleh kreditor. Untuk
melindungi hak hukum kreditor jika seorang debitor wanprestasi dalam pasal 15 ayat
(2) dan (3) Undang-undang N0. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia
menyebutkan :
Ayat 2 : “Sertipikat Jaminan Fidusia sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
mempunyai kekuatan eksekutorial yang sama dengan putusan pengadilan
yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap”.
Ayat 3 : “Apabila debitor cidera janji, Penerima Fidusia mempunyai hak
menjual benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia atas kekuasaannya
sendiri”.
7 Nindyo Pramono, Hukum Komersil, (Jakarta: Pusat Penerbitan UT, 2003), h. 21.
6
adalah langsung dapat dilaksanakan tanpa melalui pengadilan dan bersifat final serta
mengikat para pihak untuk melaksanakan putusan tersebut”
Dari penjelasan di atas maka kita dapat memahami bahwa Sertipikat Jaminan
Fidusia memiliki kekuatan eksekutorial tanpa melalui proses peradilan. Namun dalam
prakteknya sering terjadi adanya keberatan dari pihak debitor maupun pihak ketiga
yang merasa dirugikan dengan adanya sita jaminan yang dilakukan terhadap asset
yang menjadi objek jaminan fidusia. Sehingga jika adanya keberatan terhadap
eksekusi maka menurut penulis, hal ini memungkinkan adanya proses peradilan
dalam melakukan eksekusi terhadap benda yang menjadi objek jaminan fidusia.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis memberi judul skripsi ini dengan
judul : ANALISA HUKUM TERHADAP KEKUATAN EKSEKUTORIAL
SERTIPIKAT JAMINAN FIDUSIA (Berdasarkan Undang-Undang Nomor 42 Tahun
1999 tentang Jaminan Fidusia)
prakteknya sering terjadi adanya keberatan dari pihak debitor maupun pihak ketiga
7
yang merasa dirugikan dengan adanya eksekusi yang dilakukan terhadap asset yang
menjadi objek jaminan fidusia. Sehingga jika adanya keberatan terhadap eksekusi
benda objek jaminan fidusia maka menurut penulis, hal ini memungkinkan adanya
proses peradilan dalam eksekusi benda yang menjadi objek jaminan fidusia.
Jika ada salah satu pihak yang keberatan terhadap eksekusi, maka secara
otomatis akan melahirkan sengketa (dispute) sehingga proses peradilan sangat
mungkin terjadi. Namun kemungkinan adanya proses peradilan terhadap eksekusi
benda objek jaminan fidusia ini memerlukan dasar hukum dan alasan-alasan yang
jelas. Oleh karena itu penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian terhadap
masalah ini.
Agar skripsi ini terfokus dan pembahasannya tidak melebar, penulis
membatasi dan merumuskan masalah yang akan dibahas dalam skripsi ini sebagai
berikut:
Fokus pembahasan dalam skripsi ini adalah kekuatan eksekutorial Sertipikat
Jaminan Fidusia menurut pasal 15 ayat (2) dan (3) UU No. 42 Tahun 1999 Tentang
Jaminan Fidusia, yang menyatakan bahwa Sertipikat Jaminan Fidusia mempunyai
kekuatan Eksekutorial layaknya putusan pengadilan. Selain itu penerima fidusia
8
boleh menyita asset yang menjadi objek jaminan fidusia tanpa melalui proses
peradilan jika debitor cederajanji.
Namun menurut penulis hal tersebut tidak berlaku mutlak karena dalam situasi
tertentu memungkinkan adanya proses peradilan seperti keberatan dari pihat debitor
(pemberi fidusia) maupun pihak ketiga yang merasa dirugikan akibat eksekusi asset
objek jaminan fidusia.
2. Perumusan Masalah
Dalam penelitian ini penulis hendak membahas persoalan terkait kekuatan
eksekutorial sertipikat jaminan fidusia yang menurut pasal 15 ayat (2) dan (3) UU
No. 42 Tentang Jaminan Fidusia tidak perlu lagi melalui proses peradilan dalam
melakukan sita jaminan.
a. Bagaimana kekuatan eksekutorial Sertipikat Jaminan Fidusia menurut UU No.
42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia?
b. Apakah kekuatan eksekutorial yang melekat pada sertipikat jaminan fidusia
berlaku mutlak?
1. Tujuan Penelitian
a. Tujuan Umum
menurut UU No. 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia.
b. Tujuan Khusus
Mengetahui kekuatan eksekutorial yang melekat pada Sertipikat Jaminan
Fidusia sebagaimana diatur dalam pasal 15 ayat (2) dan (3) UU No. 42 Tahun 1999
tentang Jaminan Fidusia.
2. Manfaat Penelitian
a. Sebagai sumbangan untuk khazanah keilmuan dalam bidang hukum fidusia;
b. Sebagai tambahan referensi untuk peneliti yang akan datang dalam bidang
hukum fidusia.
E. Review Kajian Terdahulu
Kajian hukum fidusia ini pernah dikaji dalam skripsi yang ditulis oleh
“Ichwan Kurnia” mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum. Skripsi ini diberi judul “
Perjanjian Kredit Dengan Jaminan Fidusia Menurut Undang-Undang No. 42 Tahun
1999 Tentang Jaminan Fidusia dan Hukum Islam”. Skripsi ini menjelaskan
10
perjanjian kredit dengan jaminan secara fidusia menurut Undang-Undang No. 42
Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia dan hukum Islam. Walaupun skripsi ini bersifat
komparasi hukum fidusia menurut hukum positif dan hukum Islam, tetapi skripsi ini
sudah cukup baik dalam memaparkan dasar-dasar hukum fidusia secara umum.
Sedangkan skripsi yang akan disusun oleh penulis tidak bersifat komparatif karena
dalam skripsi ini penulis hanya akan membahas fidusia dalam perspektif hukum
positif saja, selain itu topik pembahasan dalam skripsi ini lebih khusus mengenai
pasal 15 ayat (2) dan (3) UU No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia.
F. Metodologi Penelitian
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian hukum normatif atau penelitian yuridis
normatif. Karena dalam penelitian normatif menelaah asas-asas hukum, meneliti
sistematika hukum, taraf sinkronisasi hukum, dan perbandingan hukum.
2. Teknik Pengumpulan Data
research) atau studi dokumen. Pada penelitian hukum normatif, bahan pustaka
merupakan data dasar yang dalam ilmu penelitian digolongkan dalam data sekunder.
Namun, dalam penelitian hukum, data sekunder ini mencakup bahan hukum primer
(konstitusi, peraturan perundang-undangan, dll).
baik itu buku-buku, peraturan perundang-undangan, dan bahasan-bahasan yang
berkaitan dengan hukum fidusia. Berikut adalah sumber-sumber data yang akan
dikumpulkan dan menjadi rujukan dalam penelitian ini:
a. Data Primer
Data primer adalah data yang dikumpulkan oleh penulis langsung dari sumber
utamanya, data primer yang dimaksud dalam skripsi ini antara lain sebagai berikut:
1) Undang-undang No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia
2) Peraturan Pemerintah No. 86 Tahun 2000 Tentang Tata Cara Pendaftaran
Jaminan Fidusia dan Biaya Pembuatan Akta Jaminan Fidusia
3) Burgerlijk Wetboek (Kitab Undang-Undang Hukum Perdata)
b. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang berasal dari hasil penelitian orang lain yang
penulis gunakan untuk tujuan berbeda. Data ini bersumber dari buku-buku, contoh-
contoh sertipikat jaminan fidusia yang sering digunakan dll.
3. Teknik Analisis Data
Analisis data yang digunakan disini adalah analisis isi (content analysis),
Analisis Isi (Content Analysis) secara sederhana diartikan sebagai metode untuk
12
mengumpulkan dan menganalisis muatan dari sebuah “teks”. Teks dapat berupa kata-
kata, makna gambar, simbol, gagasan, tema dan bermacam bentuk pesan yang dapat
dikomunikasikan. Analisis Isi berusaha memahami data bukan sebagai kumpulan
peristiwa fisik, tetapi sebagai gejala simbolik untuk mengungkap makna yang
terkandung dalam sebuah teks agar memperoleh pemahaman terhadap pesan yang
direpresentasikan.8 Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan teks tersebut tidak
lain adalah peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang jaminan fidusia
yang masih berlaku di Indonesia.
4. Teknik Penulisan Skripsi
Penulisan skripsi ini berpedoman pada buku “Buku Pedoman Penulisan
Skripsi” yang diterbitkan oleh Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta Tahun 2012.
G. Sistematika Pembahasan
Skripsi ini akan disusun menggunakan pembahasan secara sistematis yang
akan dibagi menjadi 5 (lima) bab, adapun sistematika penulisannya adalah sebagai
berikut :
8 Agus s. Ekomadyo, Prospek Penerapan Metode Analisis Isi (Content Analysis) Dalam Penelitian Media Arsitektur. Dimuat dalam Jurnal Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Seni, No.2 Vol.10. Agustus 2006, h. 51-57.
13
Bab pertama berisi pendahuluan. Yang terdiri dari : Latar Belakang Masalah,
Identifikasi Masalah, Pembatasan dan Perumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat
Penelitian, Review Studi Terdahulu, Metodologi Penelitian dan Sitematika Penulisan
Skripsi Ini.
Bab kedua, Tinjauan Umum Tentang Hukum Jaminan. Terdiri dari : Hak
Tanggungan, Hipotik, Gadai, Fidusia.
Execution, non Judicial Execution.
Fidusia. Terdiri dari : Sertipikat Jaminan Fidusia Menurut UU Jaminan Fidusia,
Eksekusi Jaminan Fidusia, Kemungkinan Adanya Proses Peradilan Dalam Eksekusi
dan Dasar Hukum Adanya Proses Peradilan.
Bab kelima, Penutup. Terdiri dari : Kesimpulan dan Saran.
14
Hukum Jaminan merupakan suatu peraturan yang mengatur mengenai
hubungan timbal balik antara seorang debitor selaku orang yang berhutang dengan
seorang kreditor selaku orang yang mempunyai piutang. Hubungan kreditor dengan
debitor melahirkan suatu perikatan yang menimbulkan hak dan kewajiban untuk
masing-masing pihak. Hak seorang kreditor adalah menerima pembayaran untuk
pelunasan utang sebagaimana tertuang dalam perjanjian baik tertulis maupun tidak
tertulis. Sedangkan hak seorang debitor adalah menerima objek benda yang dijadikan
pinjaman.
Untuk memberikan rasa aman dan kepastian seorang kreditor agar benda yang
dijadikan objek pinjamannya bisa kembali sesuai dengan perjanjian maka seorang
debitor memberikan suatu benda yang dijaminkan kepada kreditor, benda jaminan ini
bersifat preventif agar jika debitor tidak mampu melunasi utang-utangnya sesuai
dengan perjanjian yang telah disepakati, kreditor bisa melakukan sita eksekusi
terhadap benda yang dijadikan objek jaminan. Untuk lebih jelasnya berikut penulis
jelaskan beberapa macam Hukum Jaminan yang ada di Indonesia.
15
A. Hak Tanggungan
Berdasarkan UU No. 4 Tahun 1996 bahwa Hak Tanggungan atas tanah
beserta benda-benda yang berkaitan dengan tanah, yang selanjutnya disebut Hak
Tanggungan, adalah hak jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah sebagaimana
dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar
Pokok-Pokok Agraria, berikut atau tidak berikut benda-benda lain yang merupakan
satu kesatuan dengan tanah itu untuk pelunasan utang tertentu, yang memberikan
kedudukan yang diutamakan kepada kreditor tertentu terhadap kreditor-kreditor lain
(preferen).
Hak Tanggungan adalah sebagai hak jaminan atas tanah beserta benda-benda
yang berkaitan dengan tanah yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun
1996. Adanya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 diamanatkan dari Pasal 51
Undang-Undang Pokok Agraria yang menyediakan lembaga hak jaminan yang kuat
yang dapat dibebankan pada hak atas tanah sebagai pengganti hipotek. Berdasarkan
pasal 4 pada Undang-Undang Hak Tanggungan, objek hak tanggungan adalah hak
milik, hak guna usaha, hak guna bangunan, dan hak pakai.
B. Hipotek
(Burgerlijk Wetboek) adalah suatu hak kebendaan atas benda-benda tak bergerak,
16
untuk mengambil penggantian bagi pelunasan suatu perikatan. Ada dua pihak yang
berkaitan dalam perjanjian pembebanan hipotek, yaitu pemberi hipotek
(hypotheekgever) dan penerima hipotek. Pemberi hipotek adalah mereka yang sebagai
jaminan memberikan suatu hak kebendaan (hipotek) atas bendanya yang tidak
bergerak. Penerima hipotek disebut juga hypotheekbank, hypotheekhouder atau
hypotheeknemer. Hypotheekhouder atau Hypotheeknemer, yaitu pihak yang
menerima hipotek, pihak yang meminjamkan uang di bawah ikatan hipotek biasanya
adalah lembaga perbankan dan atau lembaga keuangan nonbank.1
Benda yang bisa dijadikan objek hipotek diatur dalam pasal 1164 KUH
Perdata, yaitu : barang-barang tak bergerak yang dapat diperdagangkan beserta semua
yang termasuk bagiannya, sejauh hal yang tersebut terakhir ini dianggap sebagai
barang tak bergerak; hak pakai barang-barang itu dengan segala sesuatu yang
termasuk bagiannya; hak numpang karang dan hak usaha; bunga tanah yang terutang
baik dalam bentuk uang maupun dalam bentuk hasil tanah; hak sepersepuluh; bazar
atau pekan raya yang diakui oleh pemerintah beserta hak istimewanya yang melekat.
Sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak
Tanggungan, maka hipotek atas tanah tidak berlaku lagi, tetapi yang digunakan dalam
pembebanan hak atas tanah tersebut adalah hak tanggungan. Sedangkan benda tidak
bergerak, seperti kapal laut tetap berlaku ketentuan-ketentuan tentang hipotek
1Salim, PerkembanganHukumJaminandi Indonesia, (Jakarta : PT. Raja GrafindoPersada, 2007), h. 200.
17
sebagaimana diatur dalam Buku II Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH
Perdata). Ukuran minimal kapal lautnya 20 m3 (dua puluh meter kubik), sedangkan
di bawah itu berlaku ketentuan yang termasuk benda-benda bergerak dengan jaminan
fidusia.2
Di dalam Pasal 1209 KUH Perdata diatur tentang hapusnya hipotek.
Hapusnya hipotek karena 3 hal, yaitu : Hapusnya perikatan pokoknya, pelepasan
hipotek oleh kreditor dan Pengaturan urutan tingkat oleh pengadilan.
C. Gadai
Berdasarkan Pasal 1150 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (burgerlijk
wetboek) gadai adalah suatu hak yang diperoleh seorang berpiutang atas suatu barang
bergerak, yang diserahkan kepadanya oleh seseorang berutang atau seorang lain atas
namanya dan yang memberikan kekuasaan kepada si berpiutang itu untuk mengambil
pelunasan dari barang tersebut secara didahulukan daripada orang-orang berpiutang
lainnya dengan kekecualian biaya untuk melelang barang tersebut dan biaya yang
telah dikeluarkan untuk menyelamatkannya setelah barang itu digadaikan, biaya-
biaya mana harus didahulukan.
Objek dari hak gadai adalah benda bergerak. Benda bergerak yang
dimaksudkan meliputi benda bergerak yang berwujud (lichamelijke zaken) dan benda
bergerak yang tidak berwujud (onlichamelijke zaken) yang merupakan hak untuk
2Ibid, h. 200.
mendapatkan pembayaran uang yang berwujud surat-surat berharga, hal ini diatur
dalam pasal 1152 dan 1153 KUH Perdata (Burgerlijk Wetboek).
D. Fidusia
Istilah jaminan fidusia terdiri dari 2 kata, yaitu kata ‘jaminan” dan kata
“fidusia”. Kata jaminan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai arti
tanggungan atas pinjaman yang diterima.3 Sedangkan dalam Kamus Manajemen
disebutkan bahwa kata fidusia (fiduciare) mempunyai arti suatu hak tanggungan atas
barang bergerak, di mana barang jaminan dikuasai oleh debitor tetapi kepemilikannya
diserahkan kepada kreditor.4
Dalam kamus English-Indonesia, fidusia berasal dari kata fiduciary yang
mempunyai tiga arti, yaitu : yang berkenaan dengan wali atau orang kepercayaan
dalam hubungan perwalian, dikuasai atau dipegang oleh wali dan tergantung pada
kesepakatan bersama. Dalam istilah hukum agraria, fidusia berarti hak jaminan yang
berupa penyerahan hak atas benda berdsarkan kepercayaan yang disepakati sebagai
jaminan bagi pelunasan piutang kreditor.5 Dalam hukum perdata, arti fidusia secara
bahasa adalah kepercayaan sedangkan arti menurut istilah adalah barang yang oleh
debitor dipercayakan kepada kreditor sebagai jaminan utang.6 Kata fidusia menurut
3 Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga, Cet II, (Jakarta : Balai Pustaka, 2002), h. 456.
4 BN. Marbun, Kamus Manajemen, Cet I, (Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 2003), h. 78. 5 CST Kansil dan Christian ST Kansil, Kamus Istilah Aneka Hukum, Cet I, (Jakarta : Pustaka
Sinar Harapan, 2000), h. 65. 6 Ibid, h. 159.
19
uang dari pemilik kepada pihak yang didelegasi.
Dari berbagai macam definisi di atas, penulis menyimpulkan bahwa jaminan
fidusia merupakan suatu bentuk jaminan terhadap perjanjian utang-piutang dimana
barang yang menjadi objek jaminan tetap di bawah kekuasaan debitor, sedangkan
kepemilikan sementara dialihkan kepada kreditor selama utang belum dapat dilunasi.
Apabila debitor cederajanji, maka kreditor sebagai penerima fidusia tidak dapat
memiliki benda yang menjadi objek jaminan tersebut, melainkan benda tersebut harus
terlebih dahulu dijual/lelang untuk kemudian mengambil hak pelunasan piutangnya
sesuai dengan hak preferen yang diberikan oleh undang-undang kepada kreditor.7
Dengan demikian dapat disimpulkan dalam perjanjian jaminan fidusia,
konstruksi yang terjadi adalah pemberi fidusia bertindak sebagai pemilik manfaat
sedangkan penerima fidusia bertindak sebagai pemilik yuridis.8 Dari berbagai
pengertian di atas mengenai jaminan fidusia, maka jaminan fidusia memiliki unsur-
unsur berikut :
a. Adanya hak jaminan;
b. Adanya objek, yaitu benda bergerak baik yang berwujud maupun tidak
berwujud maupun benda tidak bergerah yang tidak dibebani hak tanggungan;
7 Tan Kamelo, Hukum Jaminan Fidusia Suatu Kebutuhan Yang Didambakan, (bandung: Alimni, 2004), h. 18.
8 Kamelo, Hukum Jaminan Fidusia Suatu Kebutuhan Yang Didambakan, h. 22.
20
c. Benda yang menjadi objek jaminan tetap berada di bawah kekuasaan pemberi
fidusia (debitor);
preferen).
Dari uraian di atas mengenai jaminan fidusia dan fidusia, jelas sekali bahwa
fidusia dibedakan dari jaminan fidusia, dimana fidusia merupakan suatu proses
pengalihan hak kepemilikan sedangkan jaminan fidusia adalah jaminan yang
diberikan dalam bentuk fidusia.9
Fidusia merupakan lembaga jaminan yang sudah lama dikenal dalam
masyarakat Romawi yang berakar dari hukum kebiasaan, kemudian lahir dalam
yurisprudensi dan sekarang ini diformalkan dalam Undang-Undang. Fidusia adalah
lembaga yang berasal dari sistem hukum perdata barat yang eksistensi dan
perkembangannya selalu dikaitkan dengan sistem civil law.10
Menurut hukum Romawi dikenal 2 bentuk fidusia yaitu, fidusia Cum
creditore dan fidusia cum amico. Kedua bentuk fidusia tersebut timbul dari perjanjian
yang disebut pactum fiduciary kemudian diikuti dengan penyerahan hak atau in iurre
cession. Dari kata cum creditore dapat diduga bahwa penyerahan bukan dimaksudkan
9 Gunawan Widjaya & Ahmad Yani, Jaminan Fidusia, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2003), h. 39.
10 Kamelo, Hukum Jaminan Fidusia Suatu Kebutuhan Yang Didambakan, h. 35.
21
untuk sungguh-sungguh peralihan pemilikan, tetapi hanya sebagai jaminan saja.
Dalam fidusia cum creditore isi janji yang dibuat oleh debitor dan kreditornya adalah
bahwa debitor akan mengalihkan kepemilikan atas suatu benda kepada kreditornya
sebagai jaminan untuk utangnya dengan kesepakatan bahwa bilamana utangnya
terbayar, benda terebut akan dikembalikan kepada debitor.11
Selain bentuk fidusia cum creditore dikenal juga bentuk fidusia cum amico,
yang terjadi bilamana seseorang menyerahkan kewenangannya kepada pihak lain atau
menyerahkan suatu barang kepada pihak lain untuk diurus. Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa fidusia cum amico merupakan hubungan yang tidak ditujukan untuk
jaminan utang melainkan untuk urusan pengurusan harta.12
Ketika hukum Romawi diresepsi oleh hukum Belanda, lembaga fidusia tidak
turut diambil alih, oleh karena itu tidak mengherankan bahwa fidusia sebagai
lembaga jaminan tidak terdapat dalam Burgelijk Wetboek (BW). Dengan
berkembangnya gadai dan hipotek, lembaga fidusia yang berasal dari Romawi ini
tidak populer dan tidak digemari dan kemudian hilang dari lalu lintas perkreditan.13
Namun demikian setelah sekian lama praktek jaminan fidusia tidak lagi
digunakan, pada abad ke-19 di Eropa terjadi kelesuan ekonomi akibat kemerosotan
hasil panen, sehingga semua perusahaan-perusahaan pertanian membutuhkan modal,
sementara lembaga hipotek tidak dapat diandalkan sebab para petani mempunyai luas
11 Ibid, h. 42. 12 Ibid, h. 45. 13 Ibid, h. 47.
22
tanah yang sangat terbatas untuk dapat dijadikan jaminan hutang. Disisi lain agar
petani dapat mengambil kreditnya pihak perbankan juga meminta jaminan lain dalam
bentuk gadai, akan tetapi para petani tidak dapat menyerahkan barang-barangnya
karena dibutuhkan untuk proses produksi pertanian, di sisi lain pihak bank juga tidak
membutuhkan barang-barang tersebut untuk diserahkan kepada pihak bank sebagai
jaminan hutang.14
tersebut melahirkan upaya-upaya untuk mencari jalan keluar dan terobosan secara
yuridis, maka di Belanda mulailah dihidupkan kembali kosntruksi hukum pengalihan
hak kepemilikan secara kepercayaan atas barang-barang bergerak sebagaimana telah
dipraktekan oleh masyarakat Romawi yang dikenal dengan fiducia cum creditore.
Pengakuan terhadap eksistensi jaminan fidusia bermula dari adanya yurisprudensi
melalui putusan pertamanya tentang fidusia dalam perkara yang dikenal dengan nama
Bier Brouwrij Arrest tanggal 25 Januari 1929 yang menyatakan bahwa jaminan
fidusia tidak dimaksudkan untuk menyelundupkan/menggagalkan tujuan-tujuan yang
hendak dicapai oleh undang-undang dengan secara tidak pantas. Sistem hukum
Indonesia mempunyai hubungan yang erat dengan hukum Belanda karena adanya
pertautan sejarah yang didasarkan kepada asas konkordasi (concordantie beginsel).15
14 Munir Fuady, Jaminan Fidusia, (Bandung : PT Citra Aditya Bakti, 2000), h. 11. 15 C.S.T. Kansil, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, (Jakarta : Balai
Pustaka, 1982) hal 198.
23
Seperti halnya di Belanda, keberadaan fidusia di Indonesia juga diakui oleh
yurisprudensi berdasarkan keputusan Hooggerrecht (HGH) tanggal 18 Agustus 1932
dalam kasus sebagai berikut :
”Pedro Clignent meminjam uang dari Bataafsche Petroeum Maatschapji (BPM) dengan jaminan hak milik atas sebuah mobil berdasarkan kepercayaan. Clignent tetap menguasai mobil itu atas dasar perjanjian pinjam pakai yang akan berakhir jika Clignent lalai membayar utangnya dan mobil tersebut akan diambil BPM. Ketika Clignent benar-benar tidak melunasi utang-utangnya pada waktu yang ditentukan, BPM menuntut penyerahan mobil dari Clignent,namun ditolaknya dengan alasan perjanjian yang dibuat tidak sah. Menurut Clignent perjanjian yang ada adalah gadai, tetapi karena barang gadai dibiarkan tetap dalam kekuasaan debitor maka gadai tersebut menjadi tidak sah sesuai dengan Pasal 1152 ayat (2) BW. Dalam putusannya HGH menolak alasan Clignent bukanlah gadai, melainkan penyerahan hak milik secara kepercayaan atau fidusia yang telah diakui oleh Hoggeraad dalam Bier Brouwrij Arrest, Clignent diwajibkan untuk menyerahkan jaminan itu kepada BPM”.16
Dalam perjalanannya fidusia telah mengalami perkembangan yang cukup
berarti. Perkembangan itu misalnya menyangkut kedudukan para pihak. Pada zaman
Romawi dulu, kedudukan penerima fidusia adalah sebagai pemilik atas barang yang
difidusiakan, akan tetapi sudah diterima bahwa penerima fidusia hanya sebagai
pemegang jaminan saja.
kedudukan debitor, hubungannya dengan pihak ketiga dan mengenai objek jaminan
fidusia. Mengenai objek jaminan fidusia ini, Hoogeraad Belanda maupun Mahkamah
16 Yasmine Nurul Fitriasti, Analisi Yuridis Hukum Jaminan Fidusia, ( FH UI: Skripsi, 2010), h. 16
24
Agung Indonesia secara konsekuen berpendapat bahwa fidusia hanya dapat dilakukan
terhadap barang-barang bergerak saja. Namun pada praktek kemudian orang juga
melakukan fidusia terhadap barang tidak bergerak, apalagi sejak diberlakukannya
Undang-Undang Pokok Agraria (UU No 5 Tahun 1960) perbedaan antara bergerak
dengan tidak bergerak menjadi kabur karena undang-undang tersebut menggunakan
pembedaan berdasarkan tanah dan bukan tanah.
Dengan lahirnya Undang-Undang Jaminan Fidusia maka objek jaminan
fidusia meliputi benda bergerak baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud
dan benda tidak bergerak khususnya bangunan dan hak-hak atas tanah yang tidak
dapat dibebani hak tanggungan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Hak
Tanggungan.17
Objek yang menjadi jaminan fidusia biasanya adalah barang bergerak. Namun
dalam perkembangannya barang tidak bergerak juga dapat diikat dengan fidusia.
Pendapat MA pada mulanya membatasi fidusia hanya terbatas pada barang-barang
bergerak saja, hal ini tampak pada putusan No. 372K/Sip/1970. Namun kemudian
dalam UU No. 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun mengakui fidusia terhadap
tanah hak pakai atas tanah negara (pasal 12 ayat (1) huruf a).18
17Ibid, h. 18. 18 Gatot Supramono, Perbankan dan Masalah Kredit, Suatu Tinjauan yuridis, (Jakarta :
Djambatan, 1997), h. 93.
diperluas bukan hanya barang-barang bergerak, tetapi undang-undang menetapkan
objeknya dapat pula barang-barang tidak bergerak yaitu tanah hak pakai atas negara
beserta bangunan di atasnya. Selanjutnya objek fidusia terus mengalami
perkembangan dalam praktek sampai kepada tanah yang belum didaftarkan/belum
bersertipikat. Dalam praktek juga dapat ditemui dimana bank-bank menerima tanah
yang belum bersertipikat sebagai jaminan fidusia terutama untuk kredit yang
jumlahnya kecil.19
Dengan berlakunya undang-undang Jaminan Fidusia, maka objek jaminan
fidusia diberikan pengertian yang luas: berdasarkan Pasal 1 butir 2 Undang-
undang Jaminan Fidusia, Objek jaminan Fidusia dapat dibagi menjadi 2 macam,
yaitu:
1. Benda bergerak; baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud; Semua
benda bergerak yang dapat dijadikan jaminan. Kenderaan bermotor, barang-
barang persediaan, hasil tanaman dan lainnya. Sedangkan barang bergerak
tidak berwujud contohnya adalah piutang/tagihan, hak merek, paten dll.
2. Benda tidak bergerak, khususnya bangunan yang tidak dapat dibebani hak
tanggungan. Bangunan yang tidak dibebani tanggungan disini maksudnya
adalah bangunan yang berdiri di atas tanah yang bukan tanah hak milik, hak
guna bangunan, atau hak pakai atas tanah negara. Sebagai contohnya yaitu
19Ibid, h. 93.
26
bangunan seperti gedung yang berdiri di atas tanah milik orang lain, dimana
gedung tersebut dijaminkan, akan tetapi tanahnya tidak, karena gadai, hipotek
dan hak tanggungan tidak bisa menampung kebutuhan jaminan untuk itu,
maka fidusia bisa menjadi jalan keluarnya.
Dalam pasal 1 ayat (2) UU No. 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia
disebutkan, bahwa objek fidusia adalah segala sesuatu yang dapat dimiliki dan
dialihkan, baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud, yang bergerak maupun
tidak bergerak yang tidak dapat dibebani hak tanggungan dan hak hipotek.
Sedangkan yang dimaksud dengan subjek fidusia adalah pemberi dan
penerima fidusia. Pemberi fidusia bisa perorangan atau bedan hukum/korporasi yang
menjadi pemilik benda yang dijadikan objek jaminan fidusia. Begitupun dengan
penerima fidusia bisa orang perorangan atau badan hukum/korporasi yang
mempunyai piutang yang pembayarannya dijamin dengan jaminan fidusia.20
3. Asas-asas Jaminan Fidusia
Jaminan Fidusia sesuai Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 adalah hak
jaminan atas benda bergerak baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud dan
tidak bergerak khususnya bangunan yang tidak dapat dibebani hak tanggungan yang
tetap berada dalam penguasaan Pemberi Fidusia, sebagai agunan bagi pelunasan
20 H. Salim, HS, Perkembangan Hukum Jaminan di Indonesia, (Jakarta : Rajawali Pers, 2008), h. 64.
27
terhadap kreditor lainnya.
mencantumkan secara tegas asas-asas hukum jaminan fidusia yang menjadi fundamen
dari pembentukan norma hukumnya. Oleh karena itu untuk menemukan asas-asas
hukum jaminan fidusia dicari dengan jalan menelaah pasal demi pasal dari Undang-
Undang Jaminan Fidusia tersebut.21 Adapun asas pokok dalam Jaminan Fidusia,
yaitu:
1. Asas Spesialitas atas Fixed Loan
Asas ini ditegaskan dalam Pasal 1 dan 2 Undang-Undang Jaminan Fidusia.
Objek jaminan fidusia merupakan agunan atau jaminan atas pelunasan utang tertentu
yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada penerima fidusia terhadap
kreditor lainnya. Oleh karena itu, objek jaminan fidusia harus jelas dan tertentu pada
satu segi, dan pada segi lain harus pasti jumlah utang debitor atau paling tidak
dipastikan atau diperhitungkan jumlahnya.
perjanjian ikutan dari perjanjian pokok (principal agreement). Perjanjian pokoknya
adalah perjanjian utang. Dengan demikian keabsahan perjanjian jaminan fidusia
21 Tan Kamelo, Hukum Jaminan Fidusia Suatu Kebutuhan Yang Didambakan, h. 19.
28
tergantung pada perjanjian pokok, dan penghapusan benda objek jaminan fidusia
tergantung pada penghapusan perjanjian pokok.
3. Asas Droit de Suite
Menurut Pasal 27 ayat (2) Undang-Undang Jaminan Fidusia dinyatakan
Jaminan Fidusia tetap mengikuti benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia dalam
tangan siapapun berada, kecuali keberadaannya pada tangan pihak ketiga berdasarkan
pengalihan hak atas piutang atau cessie berdasarkan Pasal 613 KUH Perdata. Dengan
demikian, hak atas jaminan fidusia merupakan hak kebendaan mutlak atau in rem
bukan hak in personam.
Pengertian Asas Preferen atau hak didahulukan ditegaskan dalam Pasal 27
ayat (1) Undang-Undang Jaminan Fidusia yaitu memberi hak didahulukan atau
diutamakan kepada penerima fidusia terhadap kreditor lain untuk mengambil
pemenuhan pembayaran pelunasan utang atas penjualan benda objek fidusia. Kualitas
hak didahulukan penerima fidusia tidak hapus meskipun debitor pailit atau dilikuidasi
sebagaimana diatur dalam Pasal 27 ayat (3) Undang-Undang Jaminan Fidusia.22
22Ibid, h. 20-22.
Pengalihan Jaminan Fidusia diatur dalam Pasal 19 Undang-Undang Jaminan
Fidusia yang menetapkan bahwa pengalihan hak atas piutang yang dijamin dengan
Jaminan Fidusia mengakibatkan beralihnya demi hukum segala hak dan kewajiban
penerima fidusia kepada kreditor baru. Peralihan itu didaftarkan oleh kreditor baru
kepada Kantor Pendaftaran Fidusia.23
Dalam ilmu hukum, ”Pengalihan hak atas piutang” seperti yang diatur dalam
Pasal 19 Undang-Undang Jaminan Fidusia tersebut dikenal dengan istilah ”cessie”
yaitu pengalihan piutang yang dilakukan dengan akta otentik atau akta di bawah
tangan. Dengan adanya cessie terhadap perjanjian dasar yang menerbitkan utang-
piutang tersebut, maka Jaminan Fidusia sebagai perjanjian assesoir demi hukum juga
beralih kepada penerima hak cessie dalam pengalihan perjanjian dasar. Ini berarti
pula segala hak dan kewajiban kreditor (sebagai penerima fidusia) lama beralih
kepada kreditor (sebagai penerima fidusia) baru.24 Sedangkan hapusnya jaminan
fidusia diatur dalam pasal 25 ayat (1) UU No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan
Fidusia. Basarkan pasal tersebut maka jaminan fidusia hapus dengan sendirinya
apabila :
2. Pelepasan hak atas jaminan fidusia oleh penerima fidusia; atau
3. Musnahnya benda yang menjadi objek jaminan fidusia.
23 Gunawan Widjaya & Ahmad Yani, Jaminan Fidusia, h. 148. 24Ibid, h. 148.
30
perjanjian hutang piutangnya tersebut hapus karena sebab apapun maka jaminan
fidusia tersebut menjadi hapus pula. Sementara itu hapusnya jaminan fidusia karena
pelepasan hak atas Jaminan Fidusia oleh penerima jaminan fidusia adalah wajar
karena sebagai pihak yang mempunyai hak ia bebas untuk mempertahankan atau
melepaskan haknya tersebut. Hapusnya jaminan fidusia karena musnahnya barang
jaminan fidusia tersebut dapat dibenarkan karena tidak ada manfaat lagi fidusia itu
dipertahankan, jika barang objek jaminan fidusia tersebut sudah tidak ada, akan tetapi
jika ada asuransi maka hal tersebut menjadi hak dari penerima fidusia dan pemberi
fidusia tersebut harus membuktikan bahwa musnahnya barang yang menjadi objek
jaminan fidusia tersebut adalah diluar dari kesalahannya.
Jika membaca UU Hak Tanggungan dan UU Jaminan Fidusia, maka Hak
Tanggungan dan Fidusia mempunyai banyak sekali kemiripan, namun yang paling
membedakan dari keduanya adalah objek bendanya, hak tanggungan lebih khusus
pada tanah dan benda yang berkaitan dengan tanah tersebut, sedangkan fidusia lebih
umum termasuk benda bergerak dan tidak bergerak, benda berwujud dan benda tidak
berwujud. Untuk dapat mengetahui perbedaan dan persamaan dari masing-masing
bentuk jaminan dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
31
Bentuk Jaminan Objek Jaminan Keterangan Hak Tanggungan Tanah yang berstatus hak milik, hak guna
usaha, hak guna bangunan, dan hak pakai. hak jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, berikut atau tidak berikut benda-benda lain yang merupakan satu kesatuan dengan tanah itu, untuk pelunasan utang tertentu, yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditor tertentu terhadap kreditor- kreditor lain (preferen).
Hipotek barang-barang tak bergerak yang dapat diperdagangkan beserta semua yang termasuk bagiannya, sejauh hal yang tersebut terakhir ini dianggap sebagai barang tak bergerak; hak pakai barang- barang itu dengan segala sesuatu yang termasuk bagiannya; hak numpang karang dan hak usaha; bunga tanah yang terutang baik dalam bentuk uang maupun dalam bentuk hasil tanah; hak sepersepuluh; bazar atau pecan raya yang diakui oleh pemerintah beserta hak istimewanya yang melekat
suatu hak kebendaan atas benda-benda tak bergerak, untuk mengambil penggantian daripadanya bagi pelunasan bagi suatu perikatan
Gadai Benda bergerak baik berwujud maupun tidak berwujud
suatu hak yang diperoleh seorang berpiutang atas suatu barang bergerak, yang diserahkan kepadanya oleh seseorang berutang atau seorang lain atas namanya, dan yang memberikan kekuasaan kepada si berpiutang itu untuk mengambil pelunasan dari barang tersebut secara didahulukan daripada orang-orang berpiutang lainnya.
Fidusia Benda bergerak; baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud, Benda tidak bergerak, khususnya bangunan yang tidak dapat dibebani hak tanggungan.
pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa bendayang hak kepemilikannya dialihkan tersebut tetap dalam penguasaan pemilik benda.
32
Dalam hukum jaminan tindakan penyitaan merupakan suatu hal yang sangat
umum dilakukan. Tindakan penyitaan biasanya dilakukan ketika seorang debitor
tidak mampu memenuhi kewajibannya untuk melakukan pembayaran hutang
sebagaimana telah disepakati dalam perjanjiannya dengan kreditor, mengenai
perjanjian diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek)
pasal 1338 menyatakan : “semua persetujuan yang dibuat secara sah berlaku sebagai
undang-undang bagi mereka yang membuatnya”.
Dalam jaminan fidusia, tindakan penyitaan merupakan suatu hal yang biasa
dilakukan karena seorang pemberi fidusia tidak mampu memenuhi kewajibannya
untuk melakukan pembayaran hutang. Proses penyitaan dalam hukum jaminan
fidusia diatur dalam pasal 29 UU No. 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia.
A. Tujuan Penyitaan
Penyitaan berasal dari terminologi Beslag (Belanda), namun istilah bakunya
ialah kata sita atau penyitaan. Sita merupakan tindakan hukum yang diambil
pengadilan mendahului pemeriksaan pokok perkara atau mendahului putusan. Sering
sita itu dilakukan pada saat proses pemeriksaan perkara sedang berjalan.
33
Tujuan utama dari penyitaan adalah agar tergugat tidak memindahkan atau
membebankan harta kekayaan kepada pihak ke tiga. Inilah yang menjadi salah satu
tujuan sita jaminan yaitu untuk menjaga keutuhan keberadaan harta atau harta
kekayaan tergugat selama proses pemeriksaan perkara berlangsung sampai perkara
memperoleh putusan yang berkekuatan hukum tetap.1
Berdasarkan uraian tersebut di atas, sita jaminan merupakan upaya agar
tercipta keutuhan dan keberadaan harta yang disita sampai keputusan dapat di
eksekusi, hal ini menjaga agar gugatan pada saat proses eksekusi tiba tidak hampa
(Pasal 213 Rbg). Sedangkan perbuatan seorang tergugat yang memindah tangankan
benda yang menjadi objek sitaan diatur dalam Pasal 215 Rbg yaitu :
“Demi hukum melarang tergugat untuk menjual, memindahkan barang sitaan
kepada siapa pun”.
1. Akibat hukum dari segi perdata
Apabila barang menjadi objek sengketa dilakukan tindakan jual beli atau
penindasan hak atau barang tersebut maka tindakan atau perbuatan tersebut batal
demi hukum. Akibat dari batalnya demi perbuatan tindakan tersebut, secara hukum,
status barang tersebut kembali menjadi dalam keadaan semula sebagai barang sitaan,
1 Abdul Kadir Muhammad, Hukum Acara Perdata Indonesia, (Bandung : PT. Citra Aditya Bakti , 2000), h. 57.
34
sehingga tindakan atau perbuatan pemindahan hak atas barang dianggap tidak
pernah terjadi (never existed). Ini diatur dalam Pasal 215 Rbg.
2. Akibat hukum dari segi pidana
Dalam hukum pidana, apabila pihak tergugat / yang kena sita melakukan
penjualan atau pemindahan hak dan barang-barang menjadi sengketa, diancam sesuai
Pasal 231 KUHP, tindakan pidana yang diancam dengan Pasal 231 KUHP ini adalah
berupa tindak kejahatan yang dengan sengaja melepas barang yang telah dijatuhi sita
menurut peraturan-peraturan perundang-undangan yang berlaku. Tindak kejahatan
ini diancam dengan pidana penjara maksimal 4 tahun.
Dengan mengaitkan tujuan penyitaan dengan ketentuan Pasal 215 Rbg
dan Pasal 231 KUH Perdata, tujuan penyitaan adalah jaminan perlindungan yang
kuat bagi penggugat atas terpenuhinya pelaksanaan putusan pengadilan pada saat
eksekusi dijalankan.2 Namun selain itu ada tujuan lain yang tidak kalah penting
dalam penyitaan, yaitu untuk memastikan objek eksekusi atas kemenangan
penggugat, atau disimpulkan objek eksekusi sudah pasti. Hal ini menjaga agar
kemenangan penggugat tidak ilusioner (hampa) sehingga kemenangan penggugat
ada suatu materinya. Barang yang menjadi objek sitaan dapat langsung menjadi
objek eksekusi. Ini dapat kita lihat pada Pasal 214 Rbg yang menegaskan bahwa
2 M. Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata, h. 286.
35
setiap barang yang disita dilarang diperjual belikan atau dipindahkan tergugat
kepada pihak ketiga atau pihak lain.
Dalam hal ini perbuatan jual beli merupakan salah satu perbuatan yang
dilarang dalam Pasal 214 Rbg, dimana jual beli akan batal demi hukum apabila
terlebih dahulu telah didaftarkan dan diumumkan. Dalam kasus seperti itu, sita
masih tetap menjangkau pihak ketiga atau pihak lain yang ingin memiliki harta
sitaan tersebut, sehingga eksekusi dapat dilaksanakan dan tanpa halangan.3 Kepastian
objek eksekusi atas barang sitaan semakin sempurna sesuai dengan penegasan
MA yang menyatakan, bila putusan telah berkekuatan hukum tetap maka barang
yang disita demi hukum langsung menjadi sita eksekusi. Penegasan MA memberi
kepastian atas objek eksekusi yang apabila telah berketentuan hukum tetap
kemenangan atas penggugat dapat langsung dijamin dengan pasti terhadap adanya
barang sitaan tersebut. Apabila kita lihat penjelasan di atas, kita bisa memahami
tentang tujuan pokok dari penyitaan yaitu : Pertama, untuk melindungi kepentingan
penggugat dari itikad buruk tergugat sehingga gugatan menjadi tidak hampa
(ilusioner), pada saat putusan telah berkekuatan hukum tetap. Kedua, memberi
jaminan kepastian hukum bagi Penggugat terhadap kepastian terhadap objek
eksekusi apabila keputusan telah berkekuatan hukum tetap. 4
3 M. Yahya Harahap, Permasalahan dan Penerapan Sita Jaminan Conservatoir Beslag, ( Bandung,: Pustaka, 1990), h. 9.
4 Himpunan Tanya Jawab Rakerda, MA RI, 1987-1962, h. 177.
36
Penyitaan tidaklah mungkin dapat dilakukan tanpa memenuhi syarat-syarat
yang telah ada dan berlaku sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Namun kecukupan syarat-syarat tidaklah cukup dan sempurna apabila tidak
dibarengi dengan adanya alasan-alasan penyitaan.
Syarat penyitaan harus melalui adanya permohonan sita kepada hakim.
Hakim tentunya akan mempelajari permohonan sita tersebut sesuai dengan tata cara
pengajuan permohonan yang berlaku. Syarat penyitaan berdasarkan permohonan sita
merupakan hal yang mendasar, sebab hakim tidaklah akan menjatuhkan sita apabila
tidak ada inisiatif dari pengugat yang mengajukan permohonan sita.
Biasanya dalam suatu permohonan sita diajukan bersama-sama dalam surat
gugatan. Bentuk dan tata cara pengguna permohonan sita jaminan yang seperti
ini lazim dijumpai. Penggugat mengajukan permohonan sita secara tertulis dalam
bentuk surat gugatan, sekaligus bersamaan dengan pengajuan gugatan pokok.
Pengajuan permohonan sita dalam bentuk ini tidak dapat dipisahkan dari dalil
gugatan pokok.
Namun ada kalanya permohonan sita diajukan terpisah dari pokok perkara,
pada bentuk permohonan ini penggugat membuatnya atau menyiapkannya dalam
bentuk tersendiri yang terpisah dari gugatan pokok perkara. Disamping gugatan
perkara, penggugat dapat mengajukan permohonan sita dalam surat yang lain,
37
lisan. Namun didalam prakteknya, bentuk permohonan sita tersendiri secara lisan
jarang terjadi. Tetapi pada hakekatnya, kelangkaan praktek itu bukan berarti dapat
melenyapkan hak penggugat untuk mengajukan permohonan sita secara lisan.5
Sedangkan penentuan tenggang waktu pengajuan permohonan sita diatur
dalam Pasal 261 ayat 1 Rbg. Yang mana tenggang waktu untuk mengajukan
permohonan sita jaminan adalah selama putusan belum dijatuhkan atau selama belum
ada berkekuatan hukum tetap. Jadi selama putusan perkara belum diputus oleh
hakim atau selama putusan belum mempunyai kekuatan hukum yang tetap, masih
terbuka hak dan kesempatan untuk mengajukan permohonan sita.
Permohonan sita yang telah dimohonkan tadi selayaknya disempurnakan
dengan adanya alasan sita. Sangat mustahil sekali hakim mau mengabulkan sita
apabila tidak dibarengi dengan suatu alasan sita yang kuat. Mengingat sangat
eksepsionalnya sifat sita atau penyitaan, maka hakim harus benar-benar
mengamati, memperhatikan, serta menimbang alasan sita tersebut dengan
teliti. Jangan sampai permohonan sita itu dikabulkan tanpa mengkaji alasan yang
dibenarkan oleh hukum.
terdapat perbedaan pendapat diantara praktisi hukum. Pendapat pertama, mutlak
5 M. Yahya Harahap, Permasalahan dan Penerapan Sita Jaminan Conservatoir Beslag, h. 25.
38
menjadi kewenangan Pengadilan Negeri. Menurut pendapat ini, hanyalah Pengadilan
Negeri yang mempunyai kewenangan atas sita. Di dalam undang-undang tidak ada
kewenangan yang diberikan kepada Pengadilan Tinggi (PT) sebagai instansi tingkat
banding. Pendapat kedua, Pengadilan Tinggi (PT) berwewenang memerintah sita.
Menurut pendapat Prof. R. Subekti6, Permohonan penyitaan dapat diajukan kepada
Pengadilan Tinggi (PT) selama pokok perkaranya belum diputus oleh pengadilan
tingkat banding. Alasan beliau berpijak pada Pasal 261 Rbg yang di dalamnya
terdapat kalimat “Sebelum putusan memperoleh kekuatan hukum tetap”. Di sini Prof.
R. Subekti menyimpulkan kalimat tersebut menunjukan bahwa permohonan sita
dapat juga ditujukan kepada PT selama pokok perkaranya sebelum diputus dalam
tingkat banding.
Seperti kita ketahui sebelumnya, permohonan sita hanya boleh dikabulkan
dan diletakan terhadap barang-barang yang ditunjuk penggugat. Penunjukan ini
diwajibkan terhadap barang yang ditunjuk secara jelas dan pasti, baik mengenai sifat,
letak, ukuran yang berkaitan dengan identitas barang. Kewajiban penggugat
sehubungan dengan penunjukan barang yang diminta untuk disita harus
menjelaskan letak, sifat, dan ukuran barang, mengemukakan surat-surat yang
berkenaan dengan identitas barang (bukti surat barang), penegasan positif status
barang adalah milik tergugat.
6 R. Subekti, Hukum Acara Perdata, (Jakarta : Bina Cipta ,1977), h. 49.
39
Namun di antara beberapa unsur kewajiban di atas, ada yang berpendapat
tidak mutlak penggugat harus dapat menunjukan atau mengajukan surat identitas
atau surat bukti barang. Menurut praktek yang sudah ada, dianggap cukup bila
penggugat telah mampu menjelaskan unsur, sifat, letak dan ukurannya, ditambah
dengan unsur penegasan yang positif bahwa barang itu milik tergugat atau setidak-
tidaknya dalam kekuasan tergugat. Intinya adalah penggugat tidak boleh
menyebutkan barang objek sita secara umum, meskipun Pasal 1311 KUH
Perdata menegaskan segala harta kekayaan kreditor menjadi tanggungan untuk
membayar utangnya.7
Pada diri hakim tidak ada kewajiban hukum untuk mencari dan menemukan
identitas atau rincian barang yang menjadi objek sita. Hal ini adalah mutlak
kewajiban penggugat. Oleh karena itu, sangat mustahil bagi penggugat meminta
hakim mencari dan menemukan identitas barang yang hendak disita, karena
penyitaan adalah untuk kepentingan penggugat maka dialah yang mesti
menyebut identitasnya secara terang dan pasti.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa upaya penyitaan adalah
tindakan yang bersifat eksepsional dan merupakan perampasan harta kekayaan
tergugat. Jadi permohonan sita atau penyitaan harus berdasarkan alasan yang kuat.
Di dalam pengajuan gugatan, penggugat harus dapat menunjukan kepada hakim
7 M. Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata, h. 291.
40
tentang adanya relevansi dan urgensi penyitaan dilakukan dalam perkara yang
bersangkutan. Ditinjau dari ketentuan Pasal 261 Rbg maupun Pasal 720 Rv,
alasan-alasan pokok permintaan sita, yaitu : Pertama, adanya kekhawatiran atau
persangkaan bahwa tergugat berusaha mencari akal guna menggelapkan atau
mengasingkan harta kekayaannya, di mana dilakukan selama proses pemeriksaan
perkara berlangsung. Kedua, kekhawatiran atau persangkaan itu harus nyata dan
mempunyai sifat yang objektif, yaitu Penggugat harus mampu menunjukan fakta-
fakta tentang adanya langkah-langkah tergugat untuk menggelapkan atau
mengasingkan harta kekayaannya, selama proses pemeriksaan perkara berlangsung.
Sekurang-kurangnya, penggugat dapat menunjukan adanya indikasi objektif tentang
adanya upaya untuk menghilangkan atau mengasingkan barang-barangnya guna
menghindari isi gugatan penggugat. Sesuai dengan pendapat Prof. Supomo yang
menjelaskan bahwa dalam peradilan perdata tugas hakim adalah mempertahankan
tata hukum perdata. Hakim harus mampu melihat bahwa seandainya sita tidak
diajukan akan menimbulkan kerugian dari pihak penggugat.8
Kesimpulannya, penggugat tidak dibenarkan mendasarkan kekhawatiran dan
persangkaan secara pribadi saja terhadap tergugat untuk mengajukan sita.
Berdasarkan Pasal 261 Rbg atau Pasal 720 Rv, alasan dapat dikatakan objektif
apabila dilengkapi dengan fakta-fakta atau petunjuk-petunjuk yang nyata. Hal ini
diharuskan karena hakim dapat menolak permohonan sita apabila alasan sita tidak
8 K. Wantjik Saleh, Hukum Acara Perdata RBG/HIR, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2002), h. 9.
41
kuat. Karena menurut undang-undang, yang berhak menilai alasan sita adalah
hakim.9
C. Macam-macam penyitaan (Beslag)
Secara garis besar penyitaan bisa dikategorikan ke dalam dua bentuk. Yaitu
penyitaan yang melalui proses peradilan dan penyitaan yang tidak melalui proses
peradilan, berikut penulis paparkan kedua bentuk penyitaan tersebut.
1. Judicial Execution
macam bentuk penyitaan yang dilakukan melalui proses peradilan, berikut penulis
paparkan macam-macam bentuknya.
Permintaan untuk mengajukan permohonan sita revindikasi dapat diajukan
secara lisan maupun tertulis kepada ketua Pengadilan Negeri (PN), dimana tempat
orang yang memegang barang tersebut tinggal. Hal ini agar penyitaan atas barang
sitaan jauh lebih mudah. Menurut Pasal 1977 ayat (2) KUH Perdata dan Pasal 1751
KUH Perdata disebutkan bahwa hanyalah pemilik benda yang bergerak yang
9 Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, (Yogyakarta : Universitas Atma Jaya, 2010) h. 89.
42
barangnya dikuasai orang lain yang dapat mengajukan sita revindikasi. Hal ini
juga berlaku kepada hak reklame, yaitu hak daripada penjual barang bergerak
untuk meminta kembali barangnya apabila harga barang tidak dibayar. Pemilik
barang tersebut juga dapat mengajukan sita revindikasi (Pasal 1145 KUH Perdata
dan Pasal 232 KUH Dagang).
Tuntutan revindikasi ini dapat dikabulkan langsung terhadap orang yang
menguasai barang sengketa tanpa meminta pembatalan lebih dahulu tentang jual
beli dan barang yang dilakukan oleh orang tersebut dengan pihak lain. 10 Ada
beberapa ciri khas dari bentuk sita revindikasi yaitu antara lain benda yang menjadi
objek sengketa tersebut telah dikuasai atau berada di tangan tergugat secara
tidak sah atau dengan cara melawan hukum atau dengan mana tergugat tidak berhak
atasnya.
Ciri khas lainnya pada bentuk sita revindikasi adalah, sita revindikasi
hanya terbatas pada benda bergerak saja, sehingga tidak mungkin diajukan dan
dikabulkan terhadap benda tidak bergerak, walaupun dalil gugatan berdasarkan hak
milik. Menurut Pasal 505 KUH Perdata barang bergerak ini dapat dibagi atas
benda yang dapat dihabiskan dan benda yang tidak dapat dihabiskan.11
10 R. Subekti, Kumpulan Putusan MA, (Jakarta : Gunung Agung, 1965), h. 243. 11 P. N. H. Simanjuntak, Pokok-Pokok Hukum Perdata Indonesia, (Jakarta : Djambatan,
2009), h. 206.
b. Sita marital (Maritale beslag)
Sita Marital adalah sita yang didasarkan pada sengketa yang timbul antara
suami istri, seperti pada perkara perceraian, pada perkara pembagian harta bersama
atau pada perbuatan yang membahayakan harta bersama. Apabila kita mengaitkan
Undang-Undang Perkawinan No.1 Tahun 1974 dan PP No .9 Tahun 1975, ada
isyarat hak bagi istri atau suami yang mengajukan permintaan sita terhadap harta
perkawinan selama proses pemeriksaan perkara perceraian berlangsung.
Penerapan sita marital meliputi seluruh harta perkawinan terutama apabila
terjadi perceraian (huwelijksantbinding) yang diartikan bagi seluruh harta kekayaan
bersama (harta gono-gini) baik yang ada pada suami maupun yang ada pada istri.
Jadi, maritale beslag tidak meliputi harta bawaan atau harta pribadi suami atau
istri. Tentang penjualan harta bersama yang telah disita adalah atas izin hakim
berdasarkan putusan.12
tersebut bersifat voluntair bukan bersifat contentiosa atau bersifat partai. 13 Ini
diajukan guna mempermudah proses beracara dalam permohonan izin untuk
penjualan barang sitaan oleh pengadilan.
12 M. Yahya Harahap, Permasalahan dan Penerapan Sita Jaminan Conservatoir Beslag, h. 149.
13 Ibid, h. 150.
Prof. R. Subekti dalam bukunya Hukum Acara Perdata,14 beliau mengatakan
bahwa istilah sita jaminan sama dengan conservatoir beslag. Hal ini diperkuat
dengan adanya SEMA No. 05/1975 Tanggal 1 Desember 1975, yang telah mengalih
bahasakan consevatoir beslag menjadi sita jaminan. Yurisprudensi juga menguatkan
istilah consevatoir beslag menjadi sita jaminan. Seperti contohnya pada Putusan
Mahkamah Agung (MA) Tanggal 11 November 1976 No. 607/K/Sip/1974.
Sita Jaminan adalah penyitaan harta kekayaan tergugat pada perkara hak
milik, utang-piutang atau pada tuntutan ganti-kerugian. Objek sita jaminan dapat
berupa barang bergerak dan barang tidak bergerak baik terhadap benda berwujud
maupun tidak berwujud (lychammelijk on lychammelijk).15 Namun di lain sisi, sita
juga dapat meliputi seluruh harta kekayaan tergugat sampai mencukupi seluruh
jumlah tagihan apabila gugatan didasarkan atas utang piutang atau tuntutan ganti
kerugian.
Sita jaminan dapat dijalankan sebelum putusan memperoleh kekuatan hukum
tetap, jadi sita jaminan ini adalah upaya hukum yang bersifat eksepsional.
Kewenangan memerintahkan pelaksanaan sita jaminan terletak pada tangan ketua
majelis yang memeriksa perkara tersebut. Ini karena hakim diperintahkan undang-
14 R. Subekti, Hukum Acara Perdata, (Jakarta: Bina Cipta, 1977), h. 48. 15 C. S. T. Kansil, Pengantar Ilmu Hukum Umum dan Tata Hukum Indonesia, (Jakarta : Balai
Pustaka, 2002), h. 244.
undang sebagai penilai unsur persangkaan suatu permohonan sita jaminan. Menurut
Sudikno Mertokusumo,16 sita consevatoir ini merupakan tindakan persiapan dari
pihak penggugat dalam bentuk permohonan kepada ketua pengadilan untuk
menjamin dapat dilaksanakannya putusan perdata dan untuk menjaga barang agar
tidak dialihkan atau tidak dijual.
Sita jaminan menurut asasnya otomatis menjadi sita eksekusi apabila telah
mempunyai kekuatan hukum yang tetap.17 Tentang masalah penjagaan harta sitaan
dalam sita jaminan diatur tegas dalam Pasal 508 Rv dan Pasal 212 Rbg diberikan
pada tersita (tergugat). Tersitalah yang menjadi penjaganya demi hukum. Tersita
boleh memakai barang yang telah disita dengan syarat harga barang tersebut tidak
boleh turun. Menurut Sudikno Mertokusumo dalam bukunya Hukum Acara
Perdata Indonesia,18 yang dapat disita berdasarkan sita jaminan adalah : Sita jaminan
atas barang-barang bergerak milik kreditor, sita jaminan atas barang-barang tetap
milik kreditor, sita jaminan atas barang-barang bergerak milik kreditor yang ada pada
pihak ketiga, Sita jaminan atas kreditor, sita gadai (panden beslag), sita atas barang-
barang kreditor yang tidak mempunyai tempat tinggal yang dikenal di indonesia
atau orang yang bukan penduduk indonesia, sita jaminan terhadap pesawat terbang,
16 Sudikno Mertokusumo,Hukum Acara Perdata Indonesia, h. 93. 17 M. Yahya Harahap, Ruang Lingkup Permasalahan Eksekusi Bidang Perdata, (Jakarta :
Sinar Grafika, 2009), h. 70. 18 Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia., h. 95.
46
sita jaminan terhadap barang milik negara, ditambah sita jaminan atas kapal (menurut
pendapat M. Yahya Harahap).19
Rijdende Beslag adalah sita jaminan yang diletakan atas harta kekayaan
tergugat atas permintaan penggugat. Dalam rijdende beslag yang disita adalah
sarana perusahaan. Penjagaan dan pengusahaan atas perusahaan tidak boleh
diserahkan pada penggugat, jadi kegiatan usaha dari si tergugat tidak dilarang.
Contohnya apabila pengadilan mengabulkan sita jaminan atas suatu perusahaan,
maka yang boleh disita adalah sarana dan peralatannya saja.
Pada jenis penyitaan ini, ruang lingkupnya terbatas, karena rijdende beslag
adalah salah satu dari bentuk sita jaminan yang bersifat khusus. Oleh karena itu
rijdende beslag dapat diletakan terhadap benda-benda bergerak dan benda-benda
tidak bergerak.
Rijdende beslag juga bisa didasarkan atas sengketa hak milik, utang-
piutang dan tuntutan ganti kerugian. Rijdende juga dapat meliputi seluruh harta
kreditor maupun hanya sebagian dari hartanya. Namun rijdende beslag terbatas pada
benda-benda yang berbentuk sarana perusahaan saja, contohnya adalah sita terhadap
gedung-gedung, mobil, dan sebagainya.
47
sita tidak diketemukan dilapangan pada saat pelaksanaan penyitaan atau barang
sitaan tersebut berbeda jenis dan sifatnya antara apa yang dikemukakan oleh si
penggugat dengan yang ada dilapangan. Bisa juga terdapat perbedaan batas maupun
luas, sehingga mengakibatkan pelaksanaan sita jaminan menjadi gagal.
Dalam SEMA Tanggal 25 April 1961 No.2 Tahun 1962 ditentukan tentang
pengertian niet bevinding dan serta tata cara pembuatan pernyataan niet bevinding,
yaitu secara nyata barang tidak ditemukan, secara nyata barang tidak ada, sifat dan
jenisnya berbeda dengan apa yang dikemukakan penggugat, batas- batas maupun
luas yang di kemukakan penggugat tidak sesuai dengan pernyataan di lapangan.
f. Sita Persamaan (Vergelijkende Beslag)
Vergelijkende Beslag merupakan permohonan sita yang kedua, yang
bertujuan untuk menyesuaikan diri pada sita pertama, dimana barang secara nyata
telah dipertanggungkan kepada pihak lain. Jadi barang yang telah diletakan sita,
tidak bisa dilakukan sita untuk yang kedua kalinya. Tindakan yang dibenarkan adalah
dilakukan sita persamaan.
Sita Persamaan hanya bisa diletakan pada keadaan barang yang menjadi objek
sengketa telah lebih dahulu disita oleh orang lain. Jadi sita persamaan hanya bisa
48
terjadi karena ada upaya hukum sita yang telah ada terlebih dahulu sebelum pemohon
sita persamaan meminta permohonan sita. Barang yang menjadi objek sengketa
harus sama antara barang yang menjadi permohonan pemohon sita pertama dengan
pemohon sita yang selanjutunya. Barang yang telah menjadi objek sita tersebut atau
barang yang menjadi sengketa tersebut sudah didaftar di Pengadilan Negeri sebagai
barang yang telah diletakan sita. Tentang objek sita persamaan tidak terbatas pada
benda-benda bergerak saja, terhadap benda-benda tidak bergerak juga bisa. Sita
persamaan bisa didasarkan atas sengketa hak milik, utang-piutang, dan tuntutan
ganti-kerugian. Apabila sita jaminan dicabut atau dinyatakan tidak berkuatan hukum,
maka sita persamaan sesuai dengan urutannya menjadi sita jaminan (sita jaminan
utama).20 Sedangkan dasar hukum yang mengatur tentang sita persamaan adal dalam
Pasal 463 Rv.
Sita eksekusi lanjutan terjadi apabila barang- barang yang disita sebelumnya
dengan sita conservatoir, yang dalam rangka eksekusi telah berubah menjadi sita
eksekusi dan dilelang, hasilnya tidak cukup untuk membayar jumlah uang yang harus
dibayar berdasarkan Putusan Pengadilan, maka akan dilakukan sita eksekusi lanjutan
terhadap barang-barang milik tergugat, untuk kemudian dilelang. Ruang lingkup
penerapan sita lanjutan terbatas pada suatu keadaan dimana barang- barang yang
20 Pedoman Teknis Administrasi dan Teknis Peradilan Agama/Mahkamah Syar'iyah :Buku II, Edisi 2007, (Jakarta : Mahkamah Agung RI, 2008), h. 419-422.
49
menjadi barang sitaan tersebut tidak cukup untuk melunasi seluruh utang-utang
dari para kreditor. Sita lanjutan bisa diletakan terhadap benda-benda bergerak dan
benda-benda tidak bergerak. Sita ini juga dapat meliputi seluruh harta kekayaan
kreditor sampai semua tagihan para kreditor bisa dilunasi atau terpenuhi. 21
h. Sita Eksekusi
apabila keputusan telah berkekuatan hukum yang tetap. Sita eksekusi yang
merupakan sita yang sesungguhnya, dalam artian sita yang dapat melaksanakan
sebuah isi dari putusan pengadilan. Sita eksekusi hanya terbatas pada sengketa
utang-piutang dan tuntutan ganti-kerugian saja. Dari segi kewenangan, kewenangan
memerintahkan sita eksekusi berada pada pimpinan Ketua Pengadilan Negeri. Hal
ini diatur dalam Pasal 206 Rbg.
Tentang tata cara pelaksanaan sita eksekusi sama dengan tata cara sita
jaminan. Sita eksekusi timbul akibat tergugat (pihak yang kalah) tidak mau
melaksanakan isi putusan secara sukarela. Dengan demikian salah satu prinsip
yang melekat pada eksekusi merupakan tindakan yang timbul apabila pihak
tergugat tidak mau menjalankan isi putusan secara sukarela.22
21 Proses Acara Penyitaan, Pengadilan Negeri Slawi. Artikel diakses pada tgl 18-11-2013 dari : http://pn-slawi.go.id/?page_id=499
22 M. Yahya Harahap, Ruang Lingkup Permasalahan dan Penerapan Eksekusi Bidang Perdata, h. 12.
50
Ruang lingkup sita eksekusi hanya terbatas pada telah adanya keputusan
yang berkukatan hukum tetap. Jadi bila suatu putusan telah berkekuatan hukum
tetap, maka sita eksekusi bisa dilaksanakan. Pemohon sita eksekusi biasanya pihak
yang memenangkan pokok perkara di sidang peradilan. Objek sita eksekusi bisa
berupa benda-benda yang bergerak maupun terhadap benda-benda yang tidak
bergerak. Ada pengecualian dalam perkara yang bisa diajukan dalam sita eksekusi.
Sita eksekusi hanya bisa dimajukan terhadap perkara sengketa utang-piutang dan
tuntutan ganti kerugian saja. Sedangkan dalam sengketa hak milik tidak bisa. Sita
eksekusi tidak bisa diterapkan pada jenis sengketa hak milik.23
2. Non Judicial Execution (Parate Eksekusi)
Non Judicial Execution atau Parate Eksekusi adalah proses eksekusi terhadap
suatu barang dengan menjalankan sendiri atau mengambil sendiri apa yang menjadi
haknya, dalam arti tanpa perantaraan hakim, yang ditujukan atas sesuatu barang
jaminan untuk selanjutnya mejual sendiri barang tersebut.24 Parate Eksekusi adalah
eksekusi yang dilaksanakan sendiri oleh pemegang hak jaminan tanpa melalui
bantuan atau campur tangan dari Pengadilan. Atau dengan perkataan lain, Parate
Eksekusi dilaksanakan tanpa meminta fiat eksekusi atau ijin dari Pengadilan Negeri.
Apabila kreditor cidera janji, kreditor berhak untuk menjual objek hak tanggungan
23 M. Yahya Harahap, Permasalahan dan Penerapan Sita Jaminan Conservatoir Beslag, h. 17.
24 R. Subekti, Pelaksanaan Perikatan Eksekusi Riil dan Uang Paksa, Dalam : Penemuan Hukum dan Pemecahan Masalah Hukum, Proyek Pengembangan Teknis Yustisial, MA RI, Jakarta, h. 69.
51
atas kekuasaan sendiri melalui pelelangan umum menurut tata cara yang ditentukan
dalam peraturan perundang-undangan untuk pelunasan piutangnya dari hasil
penjualan yang dilakukan. Melalui penjualan objek jaminan di muka umum
diharapkan dapat diperoleh harga terbaik.25
Parate Eksekusi secara implisit tersurat dan tersirat dalam Undang-undang
Hak Tanggungan, khususnya diatur dalam Penjelasan Umum Pasal 9 Undang-undang
Hak Tanggungan, yang menyebutkan :
”Salah satu ciri Hak Tanggungan yang kuat adalah mudah dan pasti dalam
Pelaksanaan eksekusinya, jika kreditor cidera janji. Walaupun secara umum
ketentuan tentang eksekusi telah diatur dalam Hukum Acara Perdata yang
berlaku, dipandang perlu untuk memasukkan secara khusus ketentuan tentang
eksekusi Hak Tanggungan dalam undang-undang ini, yaitu yang mengatur
lembaga parate executie sebagaimana dimaksud dalam Pasal 224 Reglement
Indonesia yang Diperbarui (Het Herzeine Inlands Reglement) dan Pasal 258
Reglemen Acara Hukum Untuk Daerah Luar Jawa dan Madura (Reglement
tot Regeling van het Rechtswezen in de Gewesten Buiten Java en Madura)”.
Dalam batang tubuh Undang-undang Hak Tanggungan dasar berpijaknya
pengaturan parate eksekusi hak tanggungan adalah Pasal 20 ayat (1) yang
menyatakan sebagai berikut :
a. Hak pemegang Hak Tanggungan pertama untuk menjual obyek Hak
Tanggungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, atau;
25 Yordan Demesky, Pelaksanaan Parate Eksekusi Hak Tanggungan Sebagai Alternatif Penyelesaian Kredit Bermasalah di PT Bank Permata Tbk, (Tesis, FH UI : 2011), h. 62.
52
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (2), obyek Hak Tanggungan
dijual melalui pelelangan umum menurut tata cara yang ditentukan dalam
peraturan perundang-undangan untuk pelunasan piutang pemegang Hak
Tanggungan dengan hak mendahulu dari pada kreditor-kreditor lainnya”.
Pada Pasal 20 ayat (1) huruf a di atas, dinyatakan bahwa apabila kreditor
cidera janji, maka pemegang Hak Tanggungan pertama mempunyai hak untuk
menjual objek Hak Tanggungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 Undang-
undang Hak Tanggungan.
mempunyai hak untuk menjual obyek Hak Tanggungan atas kekuasaan sendiri
melalui pelelangan umum serta mengambil pelunasan piutangnya dari hasil
penjualan tersebut”.
Secara substansial unsur-unsur yang terdapat dalam Pasal 6 tersebut
menunjukkan adanya dua hal penting manakala kreditor wanprestasi, yaitu peralihan
hak dan pelaksanaan hak bagi kreditor pemegang Hak Tanggungan pertama. Dalam
pasal tersebut, hak kreditor dalam hal kreditor cidera janji, untuk menjual obyek Hak
Tanggungan melalui lelang sudah diberikan oleh undang-undang sendiri kepada
kreditor pemegang Hak Tanggungan yang pertama.
Dalam praktiknya saat ini, Parate Eksekusi Hak Tanggungan merupakan
alternatif penyelesaian kredit bermasalah yang banyak digunakan oleh lembaga
keuangan di Indonesia, khususnya oleh perbankan. Alternatif penyelesaian kredit
53
bermasalah menggunakan Parate Eksekusi Hak Tanggungan ini lebih disukai oleh
perbankan karena proses penyelesaiannya relatif lebih sederhana dan cepat, serta
biaya yang dikeluarkan relatif kecil.26
Sedangkan dalam UU No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia parate
eksekusi disebut dalam pasal 15 ayat 2 dan 3 yang berbunyi sebagai berikut :
(2) Sertifikat Jaminan Fidusia sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
mempunyai kekuatan eksekutorial yang sama dengan putusan pengadilan
yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.
(3) Apabila debitor cidera janji, Penerima Fidusia mempunyai hak menjual
Benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia atas kekuasaannya sendiri.
Dalam penjelasan UU ini yang dimaksud dengan kekuatan eksekutorial adalah
langsung dapat dilaksanakan tanpa melalui pengadilan dan bersifat final serta
mengikat para pihak untuk melaksanakan putusan tersebut.
26 Ibid, h. 63-64.
Sertipikat Jaminan Fidusia yang dipegang oleh penerima fidusia sebagai tanda
bukti adanya hak hukum yang dimiliki oleh penerima fidusia tidak serta merta ada
setelah perjanjian kedua belah pihak lahir. Adanya Sertipikat Jaminan Fidusia harus
melalui proses sebagaimana diatur oleh undang-undang.
1. Proses Lahirnya Sertipikat Jaminan Fidusia
Proses lahirnya Sertipikat Jaminan Fidusia harus melalui tiga tahap, adapun
tahap-tahap itu adalah sebagai berikut :
Tahap pertama adalah lahirnya perjanjian pokok yaitu perjanjian utang
piutang (perjanjian kredit) yang disepakati oleh pihak kreditor selaku orang yang
mempunyai piutang dan pihak debitor selaku orang yang mempunyai hutang. Seperti
yang telah penulis jelaskan dalam bab satu bahwa untuk menjamin debitor agar
membayar utangnya, maka kreditor membutuhkan benda yang bisa dijadikan
jaminan, sehingga apabila debitor cedera janji kreditor mempunyai kepastian hukum
agar uang yang dipinjamkan kepada debitor mampu terlunasi.
55
Tahap kedua adalah lahirnya Akta Jaminan Fidusia, Pasal 5 UU No. 42 Tahun
1999 menyatakan bahwa benda yang dibebani dengan jaminan fidusia harus dibuat
dalam akta notaris. Adapun bunyi dari pasal tersebut adalah sebagai berikut :
“Pembebanan Benda dengan Jaminan Fidusia dibuat dengan akta notaris
dalam Bahasa Indonesia dan merupakan akta Jaminan Fidusia”.
Berdasarkan bunyi pasal di atas, maka benda yang akan dijadikan objek
jaminan fidusia wajib dituangkan dalam akta notaris berbahasa Indonesia. Dengan
begitu akta jaminan fidusia itu wajib adanya karena merupakan perintah dari undang-
undang. Adapun isi dari akta jaminan fidusia tersebut sekurang-kurangnya memuat
hal-hal sebagai berikut :
c. Uraian mengenai Benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia;
d. Nilai penjaminan;
e. Nilai Benda yang menjadi objek jaminan Fidusia.
(Lihat pasal 6 UU No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia)
Tahap ketiga adalah tahap pendaftaran, setelah para pihak (kreditor dan
debitor) melakukan kesepakatan yang dituangkan dalam perjanjian kredit, kemudian
membuat akta jaminan fidusia ke notaris, hal selanjutnya yang harus dilakukan adalah
melakukan pendaftaran. Pasal 11 ayat (1) UU No. 42 Tahun 1999 menyatakan :
“Benda yang dibebani dengan Jaminan Fidusia wajib didaftarkan”.
56
Berdasarkan pasal 11 dan 12 UU No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan
Fidusia dan pasal 2-4 Peraturan Pemerintah No. 86 tahun 2000 Tentang Tata Cara
Pendaftaran Jaminan Fidusia dan Biaya Pembuatan Akta Jaminan Fidusia,
Pendaftaran benda yang menjadi objek jaminan fidusia harus dilakukan oleh
penerima fidusia, kuasa atau wakilnya. Pendaftaran itu sendiri dilakukan pada Kantor
Pendaftaran Fidusia kemudian ditujukan kepada Menteri Kehakiman dan Hak Asasi
Manusia. Proses pendaftarannya adalah sebagai berikut :
a. Permohonan pendaftaran Jaminan Fidusia diajukan kepada Menteri Hukum
dan HAM oleh Penerima Fidusia.
b. Permohonan pendaftaran diajukan secara tertulis dalam Bahasa Indonesia
melalui Kantor Pendaftaran Fidusia dengan melampirkan pernyataan
pendaftaran Jaminan Fidusia.
d. Permohonan pendaftaran Jaminan Fidusia sebagaimana dilengkapi dengan :
1) Salinan akta notaris tentang pembebanan Jaminan Fidusia;
2) Surat kuasa atau surat pendelegasian wewenang untuk melakukan
pendaftaran Jaminan Fidusia (jika diwakilkan);
3) Bukti pembayaran biaya pendaftaran Jaminan Fidusia;
4) Mengisi formulir Pernyataan pendaftaran Jaminan Fidusia yang bentuk
dan isinya telah ditetapkan.
telah dipenuh, pejabat mencatat Jaminan Fidusia dalam Buku Daftar, kemudian
setelah dilakukan pencatatan dalam buku daftar maka terbitlah Sertipikat Jaminan
Fidusia.
Sebagai upaya untuk memperkuat perlindungan bagi para pihak, maka kantor
pendaftaran fidusia mengeluarkan alat tanda bukti tentang adanya jaminan fidusia
atas barang atau benda tersebut, yang di antaranya mencantumkan nama pemberi dan
pemegang fidusia, objek jaminan, nilai penjaminan, akta fidusia serta perjanjian
pokok yang mendasari adanya akta fidusia, dimana surat itu disebut dengan Sertipikat
Jaminan Fidusia sebagai salinan dari Buku Daftar Fidusia.
Sertipikat Jaminan Fidusia sebagai alat bukti jaminan fidusia yang di
dalamnya tercantum irah-irah “DEMI KEADILAN BERDASARKAN
KETUHANAN YANG MAHA ESA”, sehingga memiliki kekuatan eksekutorial yang
dipersamakan dengan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum
yang tetap. Kekuatan eksekutorial yang melekat pada Sertipikat Jaminan Fidusia
memberikan keleluasaan kepada penerima fidusia untuk melakukan pelaksanaan
eksekusi tanpa perlu adanya suatu putusan pengadilan jika pemberi fidusia
melakukan cedera janji, dalam hal ini penerima fidusia memiliki kekuatan yang kuat
dan dilindungi oleh undang-undang. Hal ini akan memberikan rasa aman bagi
58
atas Sertipikat Jaminan Fidusia memberikan hak kepada penerima fidusia untuk dapat
mengeksekusi jaminan fidusianya dengan syarat debitor atau pemberi fidusia cidera
janji.1 Pasal 15 UU No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia menyatakan :
“Sertipikat Jaminan Fidusia mempunyai kekuatan eksekutorial yang sama
dengan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap”.
Dalam penjelasan ayat 15 tersebut dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan
"kekuatan eksekutorial" adalah langsung dapat dilaksanakan eksekusi tanpa melalui
pengadilan dan bersifat final serta mengikat para pihak untuk melaksanakan putusan
tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Sertipikat Jaminan Fidusia
dapat langsung dipergunakan untuk mengeksekusi objek jaminan fidusia apabila
debitor cidera janji atau wanprestasi tanpa diperlukan adanya proses persidangan dan
pemeriksaan melalui pengadilan dan bersifat final serta mengikat para pihak untuk
melaksanakan putusan tersebut.
Pelaksanaan eksekusi objek jaminan fidusia berdasarkan ketentuan Pasal 29
UU No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia dapat dilakukan dengan cara :
1. Melaksanakan titel eksekutorial;
59
2. Penjualan benda yang menjadi objek jaminan fidusia melalui lelang atas
kekuasaan penerima fidusia melalui pelelangan umum serta mengambil
pelunasan piutangnya dari hasil penjualan;
3. Menjual objek jaminan fidusia secara dibawah tangan atas dasar kesepakatan
pemberi dan penerima fidusia jika dengan cara demikian diperoleh harga
tertinggi yang menguntungkan para pihak.
Pelaksanaan eksekusi sesuai dengan Pasal 29 tersebut pada intinya
dilaksanakan dengan cara melalui pelelangan di depan umum atau dengan cara
penjualan di bawah tangan, disesuaikan dengan perkiraan memperoleh hasil
penjualan yang dapat menghasilkan nilai penjualan yang lebih tinggi. Untuk
penjualan di bawah tangan harus dengan persetujuan dari pemberi dan penerima
fidusia serta dilakukan setelah lewat waktu 1 (satu) bulan sejak diberitahukan secara
tertulis oleh pemberi dan penerima fidusia kepada pihak-pihak yang berkepentingan
serta diumumkan sedikitnya dalam 2 (dua) surat kabar yang beredar di daerah yang
bersangkutan. Selanjutnya Pasal 30 menyatakan pemberi fidusia diwajibkan
menyerahkan objek jaminan fidusia dalam rangka pelaksanaan eksekusi jaminan
fidusia, apabila objek jaminan fidusia tidak diserahkan oleh pemberi fidusia, maka
pemberi fidusia berhak mengambil objek jaminan dan bila perlu meminta bantuan
pihak yang berwenang.
dilakukan dengan penjualan di bawah tangan. Cara penyelesaian ini lebih
menguntungkan debitor/pemberi Fidusia dan kreditor, sebab penyelesaian bisa lebih
cepat dan biaya-biaya jauh lebih ringan, seperti biaya perkara, dan bea lelang tidak
dikenakan dengan cara ini. Dengan penjualan di bawah tangan dapat diharapkan
harga akan mencapai nilai yang sewajarnya, sehingga piutang kreditor dapat dilunasi
dan apabila masih tersisa dari harga jual itu maka sisa pembayaran akan menjadi
milik debitor.
Seperti yang sudah diuraikan di atas bahwa Sertipikat Jaminan Fidusia
mempunyai kekuatan eksekutorial, sehingga penerima fidusia (kreditor) dapat
langsung melakukan sita eksekusi terhadap benda yang menjadi objek jaminan
fidusia tanpa melalui proses peradilan. Artinya jika debitor