Instrumen dan Pengumpulan Data-Pt.10.pptx

Post on 28-Dec-2015

64 views 2 download

Transcript of Instrumen dan Pengumpulan Data-Pt.10.pptx

INSTRUMEN DAN PENGUMPULAN DATARiset Keperawatan

Pt. 10

Instrumen PenelitianMenurut Suharsimi Arikunto (2000:134), instrumen

pengumpulan data adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan dipermudah olehnya.

Ibnu Hadjar (1996:160) berpendapat bahwa instrumen merupakan alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan informasi kuantitatif tentang variasi karakteristik variabel secara objektif.

Dari beberapa pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa instrumen penelitian adalah alat bantu yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan informasi kuantitatif tentang variabel yang sedang diteliti.

Penyusunan Instrumen PenelitianMenyusun instrumen merupakan langkah penting dalam pola

prosedur penelitian.

Instrumen berfungsi sebagai alat bantu dalam mengumpulkan data yang diperlukan.

Bentuk instrumen berkaitan dengan metode pengumpulan data.Contoh:

1. Metode wawancara, instrumenya menggunakan pedoman wawancara.

2. Metode angket atau kuesioner, instrumennya berupa angket atau kuesioner.

3. Metode tes, instrumennya adalah soal tes,

4. Metode observasi, instrumennya bernama chek-list.

Menyusun instrumen pada dasarnya adalah menyusun alat evaluasi untuk memperoleh data tentang sesuatu yang diteliti, dan hasil yang diperoleh dapat diukur dengan menggunakan standar yang telah ditentukan sebelumnya oleh peneliti.

Dua macam alat evaluasi yang dapat dikembangkan menjadi instrumen penelitian, yaitu:

1. Tes

2. Non-tes

1. Bentuk Instrumen Tes

Tes dapat berupa serentetan pertanyaan, lembar kerja, atau sejenisnya yang dapat digunakan untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, bakat, dan kemampuan dari subjek penelitian.

Berdasarkan sasaran dan objek yang diteliti, terdapat beberapa macam tes, yaitu:

a) Tes kepribadian atau personality test,

digunakan untuk mengungkap kepribadian seseorang yang menyangkut konsep pribadi, kreativitas, disiplin, kemampuan, bakat khusus, dan sebagainya,

b) Tes bakat atau aptitude test,

tes ini digunakan untuk mengetahui bakat seseorang,

Lanjutan…..

c) Tes inteligensi atau intelligence test,

Dilakukan untuk memperkirakan tingkat intelektual seseorang,

d) Tes sikap atau attitude test,

Digunakan untuk mengukur berbagai sikap orang dalam menghadapi suatu kondisi,

e) Tes minat atau measures of interest,

Ditujukan untuk menggali minat seseorang terhadap sesuatu,

f) Tes prestasi atau achievement test,

Digunakan untuk mengetahui pencapaian seseorang setelah ia mempelajari sesuatu.

2. Bentuk Nontest 2. 1. Bentuk Instrumen Angket atau Kuesioner

Angket atau Kuesioner adalah metode pengumpulan data yang instrumennya berbentuk lembaran angket yang berisi sejumlah pertanyaan tertulis yang bertujuan untuk memperoleh informasi dari responden tentang apa yang ia alami dan ia ketahui.

Macam Kuisioner1. Kuesioner terbuka, responden bebas menjawab dengan

kalimatnya sendiri, bentuknya sama dengan kuesioner isian.

2. Kuesioner tertutup, responden tinggal memilih jawaban yang telah disediakan, bentuknya sama dengan kuesioner pilihan ganda.

3. Kuesioner langsung, responden menjawab pertanyaan seputar dirinya.

4. Kuesioner tidak langsung, responden menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan orang lain.

5. Check list, yaitu daftar isian yang bersifat tertutup, responden tinggal membubuhkan tanda check pada kolom jawaban yang tersedia.

6. Skala bertingkat, jawaban responden dilengkapi dengan pernyataan bertingkat, biasanya menunjukkan skala sikap yang mencakup rentang dari sangat setuju sampai sangat tidak setuju terhadap pernyataannya.

2.2. Bentuk Instrumen Interviu Merupakan suatu panduan bentuk dialog yang dilakukan

oleh pewawancara (interviewer) untuk memperoleh informasi dari terwawancara (interviewer) dinamakan interviu.

Sering dinamakan pedoman wawancara atau inter view guide.

2.3. Bentuk Instrumen ObservasiObservasi dalam sebuah penelitian diartikan sebagai

pemusatan perhatian terhadap suatu objek dengan melibatkan seluruh indera untuk mendapatkan data.

Observasi merupakan pengamatan langsung dengan menggunakan penglihatan, penciuman, pendengaran, perabaan, atau kalau perlu dengan pengecapan.

Instrumen yang digunakan dalam observasi dapat berupa pedoman pengamatan, tes, kuesioner, rekaman gambar, dan rekaman suara.

2.4. Bentuk Instrumen Skala Bertingkat atau Rating ScaleBentuk instrumen dengan skala bertingkat lebih

memudahkan peneliti untuk mengetahui pendapat responden lebih mendalam tentang variabel yang diteliti.

Rating atau skala bertingkat adalah suatu ukuran subjektif yang dibuat berskala.

Hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan rating scale adalah kehati-hatian dalam membuat skala, agar pernyataan yang diskalakan mudah diinterpretasi dan responden dapat memberikan jawaban secara jujur.

Pengumpulan DataDalam penelitian data yang dikumpulkan oleh peneliti

dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:

1. Fakta (BB, TB, TD, Usia,dll)

2. Pendapat (persepsi)

3. Kemampuan (pengetahuan, sikap).

1. Pengumpulan data melalui Kuesioner atau Angket Metode yang paling sering digunakan dalam penelitian.Menggunakan instrumen kuisioner atau angket.

Prosedur penyusunan kuesioner:

1. Merumuskan tujuan yang akan dicapai dengan kuesioner.

2. Mengidentifikasikan variabel yang akan dijadikan sasaran kuesioner.

3. Menjabarkan setiap variabel menjadi sub-variabel yang lebih spesifik dan tunggal.

4. Menentukan jenis data yang akan dikumpulkan, sekaligus untuk menentukan teknik analisisnya.

2. Pengumpulan data melalui Metode Interviu

Penggunaan metode interviu memerlukan waktu yang cukup lama untuk mengumpulkan data.

Menggunakan instrumen panduan wawancara.

Dalam melakukan interviu, peneliti harus memperhatikan sikap pada waktu datang, sikap duduk, kecerahan wajah, tutur kata, keramahan, kesabaran serta keseluruhan penampilan, akan sangat berpengaruh terhadap isi jawaban responden yang diterima oleh peneliti.

Untuk memperoleh hasil yang objektif maka perlu adanya latihan yang intensif bagi calon interviewer (penginterviu).

Jenis Wawancara dan Pedoman yang diperlukan.

1. Wawancara bebas

Pewawancara bebas menanyakan apa saja kepada terwawancara tanpa harus membawa lembar pedomannya.

Syarat: pewawancara harus tetap mengingat data yang harus terkumpul.

2. Wawancara terpimpin

Pewawancara berpedoman pada pertanyaan lengkap dan terperinci, layaknya sebuah kuesioner.

3. Wawancara bebas terpimpin

Pewawancara bebas melakukan interviu dengan hanya menggunakan pedoman yang memuat garis besarnya saja.

Kekuatan interviu terletak pada keterampilan seorang interviewer dalam melakukan tugasnya, ia harus membuat suasana yang tenang, nyaman, dan bersahabat agar sumber data dapat memberikan informasi yang jujur.

3. Pengumpulan data melalui Metode observasi Menggunakan format pengamatan/observasi berupa

ceklis untuk memudahkan peneliti.Format yang disusun berisi item-item tentang kejadian

atau tingkah laku yang digambarkan akan terjadi.

Pengamat harus jeli dalam mengamati adalah menatap kejadian, gerak atau proses.

Hasil pengamatan harus sama walaupun dilakukan oleh beberapa orang, dengan kata lain pengamatan harus objektif.

4. Pengumpulan Data melalui Metode DokumentasiMetode dokumentasi, yaitu mencari data mengenai hal-

hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda, dan sebagainya.

Metode dokumentasi menggunakan chek-list untuk mencari variabel yang sudah ditentukan.

Pengembangan Instrumen

Langkah pertama yang harus dilakukan oleh peneliti adalah mengkaji secara teoritik tentang substansi yang akan diukur.

Peneliti harus menentukan defenisi konseptual kemudian definisi operasional.

Selanjutnya definisi operasional ini dijabarkan menjadi indikator dan butir-butir.

Lanjutan…..

Menurut Tim Pusisjian (1997/1998, ada enam langkah untuk mengembangkan instrumen alat ukur, yaitu:

1. Menyusun spesifikasi alat ukur termasuk kisi-kisi dan indikator.

2. Menulis pertanyaan.

3. Menelaah pertanyaan.

4. Melakukan ujicoba.

5. Menganalisis butir instrumen.

6. Merakit instrument dan memberi label.

Spesifikasi InstrumenSpesifikasi alat ukur ini mencakup: tujuan pengukuran,

kisi-kisi instrumen, skala pengukuran, dan panjang instrumen.

Menentukan spesifikasi alat ukur berarti menentukan tujuan instrumen, mengembangkan kisi-kisi instrumen, menentukan skala pengukuran, dan menentukan panjang instrumen.

1. Kisi-kisi Instrumen /Tes Setelah tujuan tes ditetapkan, kegiatan berikutnya adalah

menyusun kisi-kisi tes.Kisi-kisi ini padadasarnya merupakan tabel matrik yang

berisi spesifikasi soal yang akan ditulis. Kisi-kisi berisi tentang tujuan, standar kompetensi,

kompetensi dasar, materi pokok,dan penilaian. Standar kompetensi dijabarkan menjadi kompetensi

dasar, kompetensi dasar dipecah menjadi beberapa iindikator, dan dari indikator inilah dibuat butir-butir instrumen.

Contoh

Tujuan: Mengetahui Gambaran tingkat pengetahuan Siswa SMA X tentang HIV.

Kompetensi:

Mengetahui dan memahami pengertian, tanda dan gejala, kelompok resiko tinggicara pencegahan, cara penularan, pengobatan dan komplikasi.

Kompetensi dasar:

1. Siswa mengetahui tentang pengertian HIV kembangkan menjadi pertanyaan.

2. Siswa mengetahui tentang tanda dan gejala HIV kembangkan menjadi pertanyaan, dst.

2. Kisi-kisi Instrumen nontesPenyusunan instrumen nontes didahului dengan

penentuan definisi konseptual, kemudian dijabarkan lagi kedefinisi operasional.

Dari definisi operasional ini kemudian dijabarkan menjadi beberapa indikator yang selanjutnya dijabarkan menjadi butir-butir instrumen.

Contoh:

Variabel Metode Instrumen yang digunakan

Variabel IndependenPerilaku PHBS Terhadap Cacingan

1. Cuci Tangan Kuisioner, Observasi Lembar observasi, Kuisioner yang berisi pertanyaan tentang cuci tangan.

2. Kebiasaan jajan Kuisioner, Observasi Lembar observasi, Kuisioner yang berisi pertanyaan tentang cuci tangan.

3. Sumber Air dirumah Wawancara, Kuisioner, Observasi, Dokumentasi

Peneliti, Lembar observasi, Kuisioner yang berisi pertanyaan tentang cuci tangan, ceklis dokumentasi sumber air.

Lanjutan……

Variabel Metode Instrumen yang digunakan

Variabel DependenCacingan

Dokumentasi (catatan puskesmas), Observasi (pemeriksaan sampel feses), kuisioner.

Ceklis dokumentasi, kuisioner (berisi pertanyaan tentang riwayat cacingan), hasil pemeriksaan laboratorium sampel feses.

Pengukuran VariabelPengukuran Variabel : adalah pengklasifikasian subyek

ke dalam kategori-kategori (misal; sakit/ tdk sakit), atau penempatan subyek ke dalam nilai berskala kontinum (pengukuran ) misal (umur, BB, TB dll).

Tujuan dari pengukuran suatu variabel (data) adalah

memperoleh gambaran akurat suatu variabel.

Untuk memperoleh gambaran variabel yang akurat, maka data dikumpulkan secara objektif dan sistematis.

ObjektifIndividu yang melakukan pengumpulan data tidak

mempengaruhi data yang sedang dikumpulkan (dengan cara apapun).

Contoh:

1. Enumerator (pengumpul data) mengumpulkan data sesuai yang ditemukan pada subjek penelitian bukan disesuaikan dengan hipotesis yang diinginkan.

2. Enumerator tidak memihak pada kelompok tertentu agar sesuai dengan hipotesis penelitian.

SistematisSistematis mengacu pada konsistensi.

Konsistensi pada metode pengumpulan data, dimana enumerator yang terlibat dalam penelitian menggunakan prosedur yang sama dan alat yang sama dalam pengumpulan data (LoBiondoWood dan Haber, 1998).

Pengukuran Proses menghubungkan konsep-konsep abstrak pada

indikator empiris.

Pengukuran, pada dasarnya, mengacu pada hubungan antara konseptual dan tingkat operasional dari penelitian.

Dua isu utama dalam pengukuran:

validitas dan reliabilitas.

ValiditasValiditas didefinisikan sebagai sejauh mana suatu ukuran

mencerminkan konsep dari variabel tersebut.

Mencerminkan secara tepat apa yang tersirat oleh definisi konseptual (tidak lebih dan tidak kurang).

Validitas harus dilakukan dan selaras dengan konsep dan indikator.

Instrumen dianggap valid jika mengukur apa yang seharusnya diukur menurut konsep (teori).

Jenis Validitas

1. Face Validity

2. Content Validity

3. Concurrent Validity

4. Construct Validity

1. Face Validity (Validitas Muka)Definisi adalah kesahihan yang mempersoalkan

kemampuan model pertanyaan dalam suatu instrumen, untuk

merefleksikan variabel yang hendak diukur, dan untuk dapat

ditafsirkan responden dengan benar.

Mudah dipahami responden, tidak menimbulkan tafsiran yang salah

bagi responden.

Exp; ingin mengukur tanda dan gejala hipertensi:Apakah ibu sering merasakan gejala tengkuk merasa tegang?

Tengkuk tegang yang dimaksud peneliti harus ditafsirkan sama oleh subjek penelitian bukan tengkuk pegal.

Cara mengukur validitas

Opini para Ahli (dibidang penelitian yang dilakukan) untuk mengetahui apakah instrumen yang akan dipakai dapat mengukur dengan benar variabel yang diteliti.

2. Content Validity (Validitas Isi)Definisi: kesahihan yang mempersoalkan kemampuan instrumen meliput semua

substansi variabel yang hendak diukur.

Contoh:

1. Ingin mengetahui tingkat pengetahuan Hipertensi, maka instrumen penelitian harus berisi indikator yang mengukur hal-hal yang terkait dengan hipertensi. (pengertian, tanda-gejala, penanganan, komplikasi, dll).

2. Ingin mengukur Kecemasan :

- Fisiologik (frek.nafas, detak jantung , tensi, warna kulit)

- Kognitif (susah mengingat dll).

Cara mengukur validitas

1. Melakukan verifikasi dari penelitian terdahulu untuk mengetahui indikator apa saja yang harus diukur pada variabel yang akan diteliti.

2. Penggunaan pendapat ahli,

3. Review konsep (buku, jurnal) terkait variabel yang diteliti untuk menjamin instrumen telah berisi indikator-indikator yang tepat untuk mengukur variabel tersebut.

3. Criterion Validity (Validitas Kriteria) Definisi: Kemampuan dari segi praktis (mudah,murah) tapi keakuratannya tinggi, dibanding dengan

“Gold Standard”

Contoh:

1. Metode pengukuran intake Natrium

- Gold standard: 24 jam selama 7 hari

- Metode baru : Satu malam

2. Metode pengukuran Anemia

- Gold standar : Pemeriksaan Hb.

- Metode lain: observasi konjungtiva dan mukosa.

Criterion Validity dibagi menjadi dua:

2. Concurrent validity

Korelasi/ hubungan antara satu pengukuran dengan pengukuran lain terhadap variabel yang sama.

Contoh: Untuk mengukur variabel hipertensi maka peneliti menggunakan instrumen kuisioner yang berisi ceklist tanda gejala dan melakukan pengukuran dengan spigmomanometer untuk mengukur tekanan darah.

Cara menguji validitas

Dengan melakukan tes terhadap satu pengukuran dengan cara pengukuran lainnya yang mengukur fenomena/variabel yang sama untuk mengetahui validitas alat ukur yang dipakai.

2. Predictive validity

Instrumen dapat memprediksi fenomena secara akurat.

Contoh: Suatu kuisioner yang berisi pertanyaan2 terkait

pengetahuan tentang hipertensi dapat secara akurat digunakan untuk memprediksi tingkat pengetahuan masyarakat terhadap hipertensi.

Kuisioner SF-36 dapat secara akurat digunakan untuk memprediksi kualitas hidup manusia.

Cara menguji validitas:

Malakukan uji kuisioner terlebih dahulu (uji validitas) pada kelompok lain (bukan sampel penelitian) untuk kemudian dievaluasi hasilnya.

4. Contruct ValidityDefinisi: kesahihan yang mempersoalkan relevansi

pengukuran instrumen terhadap konteks teori yang berlaku.

Mencakup 2 aspek :

a) Validitas Konvergen

b) Validitas Diskriminan

Validitas Konvergen

kesahihan yang mempersoalkan kemampuan instrumen mengukur variabel-variabel yang berkorelasi kuat dengan variabel yang seharusnya diukur.

Validitas Diskriminan

Kesahihan yang mempersoalkan kemampuan suatu instrumen untuk tidak mengukur variabel yang tidak berkorelasi dengan variabel yang seharusnya diukur.

Penilaian Validitas

1. Sensitivitas

2. Spesifisitas

Sensitivitas : akurasi test untuk mengklasifikasikan sakit

terhadap subyek yang sakit.

Spesifisitas : akurasi test untuk mengklasifikasikan tidak sakit terhadap subyek tidak sakit.

Idealnya : Sensitivitas tinggi dan Spesifitas tinggi ,tetapi sulit dicapai, karena meningkatkan sensitivitas, akan menurunkan spesifitas dan sebalikanya .

Uji Validitas Uji validitas digunakan untuk mengetahui kelayakan butir-butir pertanyaan dalam suatu

daftar (konstruk) pertanyaan dalam mendefinisikan suatu variabel.

Uji validitas berguna untuk mengetahui apakah alat ukur tersebut valid, valid artinya ketepatan dan kecermatan mengukur atau alat ukur tersebut tepat untuk mengukur sebuah variable yang akan diukur.

“Ketepatan dan kecermatan”

a. Tepat : kemampuan mencapai tujuan pengukuran dengan tepat.Contoh :Meteran untuk ukur panjang, tidak tepat untuk mengukur

berat . Penggaris tidak tepat untuk mengukur tinggi badan.

b. Cermat : memberi gambaran sekecil kecilnya dalam membedakan subyek Contoh :Alat timbang badan berat badan, tidak cermat untuk

menimbang emas dalam gram.

RealibilitasDidefinisikan sebagai kemampuan suatu instrumen dapat

menghasilkan hasil ukur yang sama pada tindakan berulang.

Realibilitas dikaitkan dengan konsistensi dan stabilitas alat ukur.

Contoh: Jika seorang pasien ditimbang dengan hasil 48 Kg, maka jika dilakukan pengulangan pengukuran maka akan memberikan hasil yang sama (48 kg).

Akurasi merupakan terminologi yang berbeda dengan reabilitas.

Akurasi merupakan kemampuan alat ukur untuk dapat benar-benar mengukur true value (nilai yang sebenarnya) dari suatu variabel.

True value (nilai yang sebenarnya) adalah nilai yang diperoleh dalam pengukuran ketika alat ukur sempurna (sesuai dan tidak error).

Tipe Realibilitas

1. Stabilitas (Stability)

2. Kesamaan (equivalence)

1. Stabilitas Hasil konsisten yang diperoleh dari pengukuran yang

dilakukan berulang.

konsisten hasil pengukuran ke pengukuran lainnya oleh seorang pengamat, terhadap subyek penelitian yang sama dengan instrumen yang sama. (Konsistensi Intra- Pengamat).

Cara mengukur:

a. Melakukan prosedur test-retest yaitu melakukan tes pada orang yang sama pada waktu yang berbeda dan menilai konsistensi dari jawaban yang diberikan.

b. Paralel Form: menggunakan 2 form atau kuisioner pembanding untuk mengukur variabel yang sama.

2. Kesamaan

Adalah konsistensi antara hasil pengukuran seorang pengamat dan hasil pengukuran oleh pengamat lainnya, terhadap subyek dan dengan instrumen yang sama (Konsistensi Antar-Pengamat).

Uji RealibilitasReliabilitas merupakan ukuran suatu kestabilan dan

konsistensi.Terdapat kesamaan hasil (data) dalam waktu yang berbeda.

Contoh

1. Hasil pengukuran suhu melalui aksila diperoleh : 39o C , 35o C dan37o C

2. Hasil pengukuran suhu melalui oral diproleh : 37,9 o C , 37o C dan 36,8o C

Terdapat variasi yang besar di aksila tidak reliabel

Terdapat variasi yang kecil melalui oral reliabel

Uji reliabilitas dapat dilakukan secara bersama sama terhadap seluruh butir pertanyaan dengan menggunakan nilai Cronbach’s Alpha (dengan program software SPSS) .

Jika nilai Cronbach’s Alpha > 0,60 maka item (pertanyaan) tersebut reliabel

Jika nilai Cronbach’s Alpha < 0,60 maka item (pertanyaan) tersebut tidak reliable

Cara menguji reabilitas instrument

1. Repeated Measure atau ukur ulang. Dilakukan dengan menyodorkan pertanyaan yang sama pada waktu berbeda, dan kemudian dilihat apakah subjek tetap konsisten dengan jawabannya. Reliabilitas diukur angka koefisien korelasi antara percobaan pertama dengan berikutnya (Korelasi Product MomentTabel R).

2. One short atau sekali saja. Pengukuran dilakukan hanya sekali dan

kemudian hasilnya dibandingkan dengan hasil pertanyaan lain.

Kesimpulan Uji Reabilitas dan Validitas

Uji validitas dan realibilitas digunakan untuk menguji data yang berasal dari daftar pertanyaan atau kuesioner responden.

Validitas dan reliabilitas dapat membuktikan bahwa daftar pertanyaan dalam kuesioner yang diisi oleh responden sudah mewakili populasi atau belum.

Hasil Pengukuran Hasil valid

Ada kesamaan antara data terkumpul dengan data yang sesungguhnya pada obyek.

Hasil reliabel

Terdapat kesamaan data dalam waktu yang berbeda.

Instrumen valid

Dapat mengukur apa yang hendak diukur .

Instrumen reliabel

Digunakan beberapa kali mengukur obyek yang sama memberikan hasil yang sama.

Uji validitas dilakukan pada setiap butir pertanyaan, dan hasilnya dapat dilihat melalui hasil r-hitung yang dibandingkan dengan r-tabel, dimana r-tabel dapat diperoleh melalui df (degree of freedom) = n-2 (signifikan 5%, n= jumlah sampel).

Jika r-tabel < r-hitung maka valid Jika r-tabel > r-hitung maka tidak valid

Kesalahan PengukuranDalam penelitian, jenis kesalahan yang sering terjadi

adalah:

1. Kesalahan random.

2. Kesalahan sistematik.

Kesalahan AcakAdalah kesalahan riset yang disebabkan peran peluang

(kebetulan, probability, acak), yang mengakibatkan ketidaktelitian (ketidak persisan) penaksiran parameter populasi sasaran.

Sumber Kesalahan Acak :

1. Ukuran sampel tidak cukup besar.

2. ketidak ajekan dalam pengukuran variabel

3. kesalahan manusiawi (letih)

Kesalahan SistematikDefinisi: kesalahan riset yang dilakukan oleh peneliti dan

atau subyek penelitian, baik disadari maupun tidak, yang mengakibatkan distorsi penaksiran parameter populasi sasaran.

Kesalahan sistematik akan merusak validitas dan kualitas penelitian.

Kesalahan sistematik dapat terjadi pada semua tahap penelitian, baik perencanaan, pelaksanaan dan interpretasi hasil).

Sumber kesalahan sistematik

1. Perumusan pertanyaan penelitian yang tidak jelas apa sebenarnya masalah yang ingin diungkapkan melalui riset.

2. Masalah yang dirumuskan bukan merupakan masalah esensi dalam pengembangan pengetahuan.

3. Perumusan hipotesis yang tidak tajam dan terbuka untuk penyanggahan.

4. pemilihan subyek penelitian yang mengalami bias atau ngawur.

5. Pemilihan desain penelitian yang lemah.

6. Pengamatan dan pengukuran yang tidak akurat, mengalami bias, bahkan ngawur.

7. kelalaian memperhitungkan pengaruh faktor luar yang merancukan penaksiran parameter populasi sasaran.

8. pemilihan uji statistik terhadap hipotesis yang salah/ tidak tepat.

9. kesalahan manusiawi dalam pengolahan data.

10. Penarikan kesimpulan yang keliru atau tidak konsisten dengan hasil pengamatan dll.

Langkah-langkah mengurangi kesalahan dalam penelitian1. Mengambil hasil rata-rata dari beberapa pengukuran

kali.

2. Gunakan beberapa indikator yang berbeda untuk mengukur suatu fenomena.

3. Gunakan prosedur pengambilan sampel secara random.

4. Gunakan alat ukur yang sensitif (dapat mengidentifikasi dengan benar kelompok yang sakit).

5. Menggunakan instruksi yang jelas bagaimana suatu variabel harus diukur atau bagaimana suatu pertanyaan harus dijawab.

6. Teliti dalam mengecek data sebelum maupun dalam waktu pengolahan.

7. Menghindari subjektifitas terhadap hipotesis penelitian.

Terima Kasih