UTS Semester Ganjil Kurikulum dan Pembelajaran

of 26/26
TUGAS UJIAN TENGAH SEMESTER GANJIL diajukan untuk memenuhi tugas take home Mata Kuliah Kurikulum Pendidikan yang diampu oleh : DR. H. DINN WAHYUDIN, MA. oleh : Nur Afrylyanty 1202788 PERPUSTAKAAN DAN INFORMASI KURUKULUM TEKNOLOGI PENDIDIKAN FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA BANDUNG 2013/2014
  • date post

    09-Jan-2017
  • Category

    Education

  • view

    261
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of UTS Semester Ganjil Kurikulum dan Pembelajaran

  • TUGAS UJIAN TENGAH SEMESTER GANJIL

    diajukan untuk memenuhi tugas take home Mata Kuliah Kurikulum Pendidikan yang diampu oleh :

    DR. H. DINN WAHYUDIN, MA.

    oleh :

    Nur Afrylyanty 1202788

    PERPUSTAKAAN DAN INFORMASI

    KURUKULUM TEKNOLOGI PENDIDIKAN

    FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

    UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

    BANDUNG

    2013/2014

  • SOAL :

    1. Jelaskan keterkaitan kurikulum dan pembelajaran!

    2. Sebutkan dan jelaskan peranan kurikulum!

    3. Sebutkan dan jelskan 4 landasan kurikulum!

    4. Sebutkan dan jelaskan komponen kurikulum!

    5. Jelaskan pengembangan prinsip pengembangan kurikulum!

    6. Jelaskan secara singkat model pengembangan kurikulum menurut Tyler, Taba dan Olifa!

    7. Model konsep pengembangan kurikulum ada 4 . jelaskan secara komprehensif!

    8. Jelaskan sepengetahuan kalian mengenai perbedaan KTSP dan kurikulm 2013!

    Jawaban :

    1. Keterkaitan kurikulum dan pembelajaran

    Kurikulum adalah pengalaman belajar yang terorganisasi dalam bentuk tertentu dibawah

    bimbingann dan pengawasan sekolah, sedangkan pembelajaran adalah serangkaian kegiatan

    yang dilakukan oleh guru untuk membimbng dan mengarahkan pesarta didik agar terjadi

    tindakan belajar sehingga memperoleh pengalaman belajar. Kurikulum merupakan program

    pembelajarnnya sedangkan pembelajaran adalah cara bagaimana mempersiapkan pengalaman

    belajar bagi peserta didik.Hubungan lain antara kurikulum dan pembelajaran dapat juga dilihat

    adri silabus setiap mata pelajaran. Silabus dalam satu semester dan terdiri atas berbagai

    komponen antara lain : standar kompetensi, ko petensi dasar, tujuan pembelajaran, urutan topik-

    topik, skenario pembelajaran, pendekatan dan strategi, media dan sumber belajar serta sistem

    penilaian. Jika diperhatikan, komponen-komponen silabus ini memiliki kesamaan dengan

    komponen-komponen pembelajaran.

    Jika kurikulm programnya, maka pembelajaran merupakan implementasinya. Jika

    kurikulm adalahkonsepnya, maka pembelajaran merupakan penerapannya.Jika kurikulm

    adalahteorinya, maka pembelajaran merupakan praktiknya. Apa yang dilihat dan dilakukan

    dalam pembelajaran, itulah sesungguhnya kurikulum nyata (real currriculum). Kurikulum dan

    pembelajaran merupakan dua istilah yang berbeda tidak dapat dipisahkan satu dengan yang

    lainnya. Keduanya mempunyai posisi yang sama. Apa artinya apabila sebuah kurikulum yang

    sudah dirancang dengan sebaik-baiknya, tetapi tidak ada proses pembelajarannya. Jadi sudahlah

    jelas jika hubungan antara kurikulum dan pembelajaran mempunyai hubungan yang sanga erat.

    2. Peranan kurikulum

  • Kurikulum dalam pendidikan formal di sekolah/madrasah memiliki peranan yang sangat

    strategis dan menentukan pencapaian tujuan pendidikan. Apabila dirinci secara lebih mendetail

    terdapat tiga peranan yang dinilai sangat penting, yaitu peranan konservatif, peranan kreatif, dan

    peranan kritis/evaluative (Oemar Hamalik, 1990)

    a. Peranan Konservatif

    Peranan konservatif menekankan bahwa kurikulum dapat dijadikan sebagai sarana untuk

    mentransmisikan nilai nilai warisan budaya masa lalu yang dianggap masih relevan

    dengan masa kini kepada generas muda, dalam hal ini para siswa. Peranan konservatif ini

    pada hakikatnya menempatkan kurikulum yang berorientasi ke masa lampau. Peranan ini

    sifatnya menjadi sangat mendasar, disesuaikan dengan kenyataan bahwa pendidikan pada

    hakikatnya merupakan proses social. Salah satu tugas pendidikan yaitu mempengaruhi

    dan membina perilaku siswa sesuai dengan nilai-nilai social yang hidup di lingkungan

    masyarakatnya.

    b. Peranan Kreatif

    Perkembangan ilmu pengetahuan dan aspek aspek lainnya senantiasa terjadi setiap saat.

    Peranan kreatif menekankan bahwa kurikulum harus mampu mengembangkan sesatu

    yang baru sesuai dengan perkembangan yang terjadi dan kebutuhan-kebutuhan

    masyarakat pada masa sekarang dan masa mendatang. Kurikulum harus mengandung

    hal-hal yang dapat membantu setiap siswa mengembangkan semua potensi yang ada pada

    dirinya untuk memperoleh pengetahuan-pengetahuan baru, kemampuan-kemampuan

    baru, serta cara berfikir baru yang dibutuhkan dalam kehidupannya.

    c. Peranan kritis dan evaluative

    Peranan ini di latarbelakangi oleh adanya kenyataan bahwa nilai-nilai dan budaya yang

    hidup dalam masyarakat senantiasa mengalami perubahan, sehingga pewarisan nilai-nilai

    dan budaya masa lalu kepada siswa perlu diseusaikan dengan kondisi yang terjadi pada

    masa sekarang. Selain itu, perkembangan yang terjadi pada masa sekarang dan masa

    mendatang belum tentu sesuai dengan apa yang dibutuhkan. Oleh karena itu, peranan

    kurikulum tidak hanya mewariskan nilai dan budaya, melainkan juga memiliki peranan

    untuk menilai dan memilih nilai dan budaya serta pengetahuan baru yang akan

    diwariskan tersebut. Dalam hal ini, kurikulum harus turut aktif berpartisipasi dalam

    control atau filter social. Nilai-nilai social yang tidak sesuai lagi dengan keadaan dan

    tuntutan masa kin dihilangkan dan diadakan modifikasi atau penyempurnaan-

    penyempurnaan.

  • Ketiga peranan kurikulum di atas tentu saja harus berjalan secara seimbang dan harmonis agar

    dapat memenuhi tuntutan keadaan. Jika tidak, akan terjadi ketimpangan-ketimpangan yang

    menyebabkan peranan kurikulum persekolahan menjadi tidak optimal. Menyelaraskan ketiga

    peranan kurikulum tersebut menjadi tanggung jawab semua pihak yang terkait dalam proses

    pendidikan, diantaranya : guru, kepala sekolah, pengawas, orang tua, siswa, dan masyarakat.

    Dengan demikian, pihak-pihak yang terkait tersebut idealnya dapat memahami betul apa yang

    menjadi tujuan dan isi dari kurikulum yang diterapkan sesuai dengan bidang tugas masing-masing.

    3. Ada 4 landasan krikulum, diantaranya:

    a. Landasan filosofis

    Filsafat memegang peranan penting dalam pengembangan kuikulum. Sama halnya

    seperti dalam Filsafat Pendidikan, kita dikenalkan pada berbagai aliran filsafat, seperti :

    perenialisme, essensialisme, eksistesialisme, progresivisme, dan rekonstruktivisme.

    Dalam pengembangan kurikulum pun senantiasa berpijak pada aliran aliran filsafat

    tertentu, sehingga akan mewarnai terhadap konsep dan implementasi kurikulum yang

    dikembangkan. Dengan merujuk kepada pemikiran Ella Yulaelawati (2003), di bawah ini

    diuraikan tentang isi dari-dari masing-masing aliran filsafat, kaitannya dengan

    pengembangan kurikulum.

    1. Perenialisme lebih menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran dan keindahan

    dari pada warisan budaya dan dampak sosial tertentu. Pengetahuan dianggap lebih

    penting dan kurang memperhatikan kegiatan sehari-hari. Pendidikan yang menganut

    faham ini menekankan pada kebenaran absolut , kebenaran universal yang tidak terikat

    pada tempat dan waktu. Aliran ini lebih berorientasi ke masa lalu.

    2. Essensialisme menekankan pentingnya pewarisan budaya dan pemberian pengetahuan

    dan keterampilan pada peserta didik agar dapat menjadi anggota masyarakat yang

    berguna. Matematika, sains dan mata pelajaran lainnya dianggap sebagai dasar-dasar

    substansi kurikulum yang berharga untuk hidup di masyarakat. Sama halnya dengan

    perenialisme, essesialisme juga lebih berorientasi pada masa lalu.

    3. Eksistensialisme menekankan pada individu sebagai sumber pengetahuan tentang

    hidup dan makna. Untuk memahami kehidupan seseorang mesti memahami dirinya

    sendiri. Aliran ini mempertanyakan : bagaimana saya hidup di dunia ? Apa

    pengalaman itu ?

  • 4. Progresivisme menekankan pada pentingnya melayani perbedaan individual, berpusat

    pada peserta didik, variasi pengalaman belajar dan proses. Progresivisme merupakan

    landasan bagi pengembangan belajar peserta didik aktif.

    5. Rekonstruktivisme merupakan elaborasi lanjut dari aliran progresivisme. Pada

    rekonstruktivisme, peradaban manusia masa depan sangat ditekankan. Di samping

    menekankan tentang perbedaan individual seperti pada progresivisme,

    rekonstruktivisme lebih jauh menekankan tentang pemecahan masalah, berfikir kritis

    dan sejenisnya. Aliran ini akan mempertanyakan untuk apa berfikir kritis,

    memecahkan masalah, dan melakukan sesuatu ? Penganut aliran ini menekankan pada

    hasil belajar dari pada proses.

    Aliran Filsafat Perenialisme, Essensialisme, Eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang

    mendasari terhadap pengembangan Model Kurikulum Subjek-Akademis. Sedangkan, filsafat

    progresivisme memberikan dasar bagi pengembangan Model Kurikulum Pendidikan Pribadi.

    Sementara, filsafat rekonstruktivisme banyak diterapkan dalam pengembangan Model

    Kurikulum Interaksional.

    Masing-masing aliran filsafat pasti memiliki kelemahan dan keunggulan tersendiri. Oleh

    karena itu, dalam praktek pengembangan kurikulum, penerapan aliran filsafat cenderung

    dilakukan secara eklektif untuk lebih mengkompromikan dan mengakomodasikan berbagai

    kepentingan yang terkait dengan pendidikan. Meskipun demikian saat ini, pada beberapa

    negara dan khususnya di Indonesia, tampaknya mulai terjadi pergeseran landasan dalam

    pengembangan kurikulum, yaitu dengan lebih menitikberatkan pada filsafat

    rekonstruktivisme.

    b. Landasan psikologis

    Minimal terdapat dua bidang psikologi yang mendasari pengembangan kurikulum yaitu (1)

    psikologi perkembangan dan (2) psikologi belajar. Psikologi perkembangan merupakan ilmu

    yang mempelajari tentang perilaku individu berkenaan dengan perkembangannya. Dalam

    psikologi perkembangan dikaji tentang hakekat perkembangan, pentahapan perkembangan,

    aspek-aspek perkembangan, tugas-tugas perkembangan individu, serta hal-hal lainnya yang

    berhubungan perkembangan individu, yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan

    pertimbangan dan mendasari pengembangan kurikulum. Psikologi belajar merupakan ilmu

    yang mempelajari tentang perilaku individu dalam konteks belajar. Psikologi belajar mengkaji

  • tentang hakekat belajar dan teori-teori belajar, serta berbagai aspek perilaku individu lainnya

    dalam belajar, yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan sekaligus

    mendasari pengembangan kurikulum.

    Masih berkenaan dengan landasan psikologis, Ella Yulaelawati memaparkan teori-teori

    psikologi yang mendasari Kurikulum Berbasis Kompetensi. Dengan mengutip pemikiran

    Spencer, Ella Yulaelawati mengemukakan pengertian kompetensi bahwa kompetensi

    merupakan karakteristik mendasar dari seseorang yang merupakan hubungan kausal dengan

    referensi kriteria yang efektif dan atau penampilan yang terbaik dalam pekerjaan pada suatu

    situasi.

    Selanjutnya, dikemukakan pula tentang 5 tipe kompetensi, yaitu :

    1. motif; sesuatu yang dimiliki seseorang untuk berfikir secara konsisten atau keinginan untuk

    melakukan suatu aksi.

    2. bawaan; yaitu karakteristik fisik yang merespons secara konsisten berbagai situasi atau

    informasi.

    3. konsep diri; yaitu tingkah laku, nilai atau image seseorang;

    4. pengetahuan; yaitu informasi khusus yang dimiliki seseorang; dan

    5. keterampilan; yaitu kemampuan melakukan tugas secara fisik maupun mental.

    Kelima kompetensi tersebut mempunyai implikasi praktis terhadap perencanaan sumber daya

    manusia atau pendidikan. Keterampilan dan pengetahuan cenderung lebih tampak pada

    permukaan ciri-ciri seseorang, sedangkan konsep diri, bawaan dan motif lebih tersembunyi

    dan lebih mendalam serta merupakan pusat kepribadian seseorang. Kompetensi permukaan

    (pengetahuan dan keterampilan) lebih mudah dikembangkan. Pelatihan merupakan hal tepat

    untuk menjamin kemampuan ini. Sebaliknya, kompetensi bawaan dan motif jauh lebih sulit

    untuk dikenali dan dikembangkan.

    Dalam konteks Kurikulum Berbasis Kompetensi, E. Mulyasa (2002) menyoroti tentang aspek

    perbedaan dan karakteristik peserta didik, Dikemukakannya, bahwa sedikitnya terdapat lima

    perbedaan dan karakteristik peserta didik yang perlu diperhatikan dalam Kurikulum Berbasis

    Kompetensi, yaitu : (1) perbedaan tingkat kecerdasan; (2) perbedaan kreativitas; (3)

    perbedaan cacat fisik; (4) kebutuhan peserta didik; dan (5) pertumbuhan dan perkembangan

    kognitif.

  • c. Landasan sosiologis

    Kurikulum dapat dipandang sebagai suatu rancangan pendidikan. Sebagai suatu

    rancangan, kurikulum menentukan pelaksanaan dan hasil pendidikan. Kita maklumi

    bahwa pendidikan merupakan usaha mempersiapkan peserta didik untuk terjun ke

    lingkungan masyarakat. Pendidikan bukan hanya untuk pendidikan semata, namun

    memberikan bekal pengetahuan, keterampilan serta nilai-nilai untuk hidup, bekerja dan

    mencapai perkembangan lebih lanjut di masyarakat,

    Peserta didik berasal dari masyarakat, mendapatkan pendidikan baik formal

    maupun informal dalam lingkungan masyarakat dan diarahkan bagi kehidupan

    masyarakat pula. Kehidupan masyarakat, dengan segala karakteristik dan kekayaan

    budayanya menjadi landasan dan sekaligus acuan bagi pendidikan.

    Dengan pendidikan, kita tidak mengharapkan muncul manusia manusia yang

    menjadi terasing dari lingkungan masyarakatnya, tetapi justru melalui pendidikan

    diharapkan dapat lebih mengerti dan mampu membangun kehidupan masyakatnya. Oleh

    karena itu, tujuan, isi, maupun proses pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan,

    kondisi, karakteristik, kekayaan dan perkembangan yang ada di masyakarakat.

    Setiap lingkungan masyarakat masing-masing memiliki sistem-sosial budaya

    tersendiri yang mengatur pola kehidupan dan pola hubungan antar anggota masyarakat.

    Salah satu aspek penting dalam sistem sosial budaya adalah tatanan nilai-nilai yang

    mengatur cara berkehidupan dan berperilaku para warga masyarakat. Nilai-nilai tersebut

    dapat bersumber dari agama, budaya, politik atau segi-segi kehidupan lainnya.

    Sejalan dengan perkembangan masyarakat maka nilai-nilai yang ada dalam

    masyarakat juga turut berkembang sehingga menuntut setiap warga masyarakat untuk

    melakukan perubahan dan penyesuaian terhadap tuntutan perkembangan yang terjadi di

    sekitar masyarakat.

    Dengan demikian, kurikulum yang dikembangkan sudah seharusnya mempertimbangkan,

    merespons dan berlandaskan pada perkembangan sosial budaya dalam suatu

    masyarakat, baik dalam konteks lokal, nasional maupun global.

    d. Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)

    Pada awalnya, ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki manusia masih

    relatif sederhana, namun sejak abad pertengahan mengalami perkembangan yang pesat.

    Berbagai penemuan teori-teori baru terus berlangsung hingga saat ini dan dipastikan

    kedepannya akan terus semakin berkembang.

  • Akal manusia telah mampu menjangkau hal-hal yang sebelumnya merupakan

    sesuatu yang tidak mungkin. Pada jaman dahulu kala, mungkin orang akan menganggap

    mustahil kalau manusia bisa menginjakkan kaki di Bulan, tetapi berkat kemajuan dalam

    bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi pada pertengahan abad ke-20, pesawat Apollo

    berhasil mendarat di Bulan dan Neil Amstrong merupakan orang pertama yang berhasil

    menginjakkan kaki di Bulan.

    Kemajuan cepat dunia dalam bidang informasi dan teknologi dalam dua dasa

    warsa terakhir telah berpengaruh pada peradaban manusia melebihi jangkauan pemikiran

    manusia sebelumnya. Pengaruh ini terlihat pada pergeseran tatanan sosial, ekonomi dan

    politik yang memerlukan keseimbangan baru antara nilai-nilai, pemikiran dan cara-cara

    kehidupan yang berlaku pada konteks global dan lokal.

    Selain itu, dalam abad pengetahuan sekarang ini, diperlukan masyarakat yang

    berpengetahuan melalui belajar sepanjang hayat dengan standar mutu yang tinggi. Sifat

    pengetahuan dan keterampilan yang harus dikuasai masyarakat sangat beragam dan

    canggih, sehingga diperlukan kurikulum yang disertai dengan kemampuan meta-kognisi

    dan kompetensi untuk berfikir dan belajar bagaimana belajar (learning to learn) dalam

    mengakses, memilih dan menilai pengetahuan, serta mengatasi siatuasi yang ambigu dan

    antisipatif terhadap ketidakpastian..

    Perkembangan dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, terutama dalam bidang

    transportasi dan komunikasi telah mampu merubah tatanan kehidupan manusia. Oleh

    karena itu, kurikulum seyogyanya dapat mengakomodir dan mengantisipasi laju

    perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga peserta didik dapat

    mengimbangi dan sekaligus mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk

    kemaslahatan dan kelangsungan hidup manusia.

    4. Komponen kurikulum

    a. Tujuan

    Mengingat pentingnya pendidikan bagi manusia, hampir di setiap negara telah

    mewajibkan para warganya untuk mengikuti kegiatan pendidikan, melalui berbagai ragam

    teknis penyelenggaraannya, yang disesuaikan dengan falsafah negara, keadaan sosial-politik

    kemampuan sumber daya dan keadaan lingkungannya masing-masing. Kendati demikian,

    dalam hal menentukan tujuan pendidikan pada dasarnya memiliki esensi yang sama. Seperti

  • yang disampaikan oleh Hummel (Uyoh Sadulloh, 1994) bahwa tujuan pendidikan secara

    universal akan menjangkau tiga jenis nilai utama yaitu:

    1. Autonomy; gives individuals and groups the maximum awarenes, knowledge, and

    ability so that they can manage their personal and collective life to the greatest possible

    extent.

    2. Equity; enable all citizens to participate in cultural and economic life by coverring them

    an equal basic education.

    3. Survival ; permit every nation to transmit and enrich its cultural heritage over the

    generation but also guide education towards mutual understanding and towards what

    has become a worldwide realization of common destiny.)

    Dalam Permendiknas No. 22 Tahun 2007 dikemukakan bahwa tujuan pendidikan tingkat

    satuan pendidikan dasar dan menengah dirumuskan mengacu kepada tujuan umum

    pendidikan berikut.

    1. Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian,

    akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.

    2. Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian,

    akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.

    3. Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan,

    kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti

    pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.

    Tujuan pendidikan institusional tersebut kemudian dijabarkan lagi ke dalam tujuan kurikuler;

    yaitu tujuan pendidikan yang ingin dicapai dari setiap mata pelajaran yang dikembangkan di

    setiap sekolah atau satuan pendidikan.

    Tujuan-tujuan pendidikan mulai dari pendidikan nasional sampai dengan tujuan mata pelajaran

    masih bersifat abstrak dan konseptual, oleh karena itu perlu dioperasionalkan dan dijabarkan

    lebih lanjut dalam bentuk tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran merupakan tujuan

    pendidikan yang lebih operasional, yang hendak dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran dari

    setiap mata pelajaran.

  • Pada tingkat operasional ini, tujuan pendidikan dirumuskan lebih bersifat spesifik dan lebih

    menggambarkan tentang what will the student be able to do as result of the teaching that he

    was unable to do before (Rowntree dalam Nana Syaodih Sukmadinata, 1997). Dengan kata

    lain, tujuan pendidikan tingkat operasional ini lebih menggambarkan perubahan perilaku

    spesifik apa yang hendak dicapai peserta didik melalui proses pembelajaran. Merujuk pada

    pemikiran Bloom, maka perubahan perilaku tersebut meliputi perubahan dalam aspek kognitif,

    afektif dan psikomotor.

    b. Materi Pembelajaran

    Dalam menentukan materi pembelajaran atau bahan ajar tidak lepas dari filsafat dan teori

    pendidikan dikembangkan. Seperti telah dikemukakan di atas bahwa pengembangan

    kurikulum yang didasari filsafat klasik (perenialisme, essensialisme, eksistensialisme)

    penguasaan materi pembelajaran menjadi hal yang utama. Dalam hal ini, materi

    pembelajaran disusun secara logis dan sistematis, dalam bentuk :

    1. Teori; seperangkat konstruk atau konsep, definisi atau preposisi yang saling berhubungan,

    yang menyajikan pendapat sistematik tentang gejala dengan menspesifikasi hubungan

    hubungan antara variabel-variabel dengan maksud menjelaskan dan meramalkan gejala

    tersebut.

    2. Konsep; suatu abstraksi yang dibentuk oleh organisasi dari kekhususan-kekhususan,

    merupakan definisi singkat dari sekelompok fakta atau gejala.

    3. Generalisasi; kesimpulan umum berdasarkan hal-hal yang khusus, bersumber dari analisis,

    pendapat atau pembuktian dalam penelitian.

    4. Prinsip; yaitu ide utama, pola skema yang ada dalam materi yang mengembangkan

    hubungan antara beberapa konsep.

    5. Prosedur; yaitu seri langkah-langkah yang berurutan dalam materi pelajaran yang harus

    dilakukan peserta didik.

    6. Fakta; sejumlah informasi khusus dalam materi yang dianggap penting, terdiri dari

    terminologi, orang dan tempat serta kejadian.

    7. Istilah, kata-kata perbendaharaan yang baru dan khusus yang diperkenalkan dalam materi.

    8. Contoh/ilustrasi, yaitu hal atau tindakan atau proses yang bertujuan untuk memperjelas

    suatu uraian atau pendapat.

    9. Definisi:yaitu penjelasan tentang makna atau pengertian tentang suatu hal/kata dalam garis

    besarnya.

  • 10. Preposisi, yaitu cara yang digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran dalam upaya

    mencapai tujuan kurikulum.

    Terlepas dari filsafat yang mendasari pengembangan materi, Nana Syaodih Sukamadinata

    (1997) mengetengahkan tentang sekuens susunan materi pembelajaran, yaitu :

    1. Sekuens kronologis; susunan materi pembelajaran yang mengandung urutan waktu.

    2. Sekuens kausal; susunan materi pembelajaran yang mengandung hubungan sebab-akibat.

    3. Sekuens struktural; susunan materi pembelajaran yang mengandung struktur materi.

    4. Sekuens logis dan psikologis; sekuensi logis merupakan susunan materi pembelajaran

    dimulai dari bagian menuju pada keseluruhan, dari yang sederhana menuju kepada yang

    kompleks. Sedangkan sekuens psikologis sebaliknya dari keseluruhan menuju bagian-

    bagian, dan dari yang kompleks menuju yang sederhana. Menurut sekuens logis materi

    pembelajaran disusun dari nyata ke abstrak, dari benda ke teori, dari fungsi ke struktur,

    dari masalah bagaimana ke masalah mengapa.

    5. Sekuens spiral ; susunan materi pembelajaran yang dipusatkan pada topik atau bahan

    tertentu yang populer dan sederhana, kemudian dikembangkan, diperdalam dan diperluas

    dengan bahan yang lebih kompleks.

    6. Sekuens rangkaian ke belakang; dalam sekuens ini mengajar dimulai dengan langkah akhir

    dan mundur kebelakang. Contoh pemecahan masalah yang bersifat ilmiah, meliputi 5

    langkah sebagai berikut : (a) pembatasan masalah; (b) penyusunan hipotesis; (c)

    pengumpulan data; (d) pengujian hipotesis; dan (e) interpretasi hasil tes.

    7. Dalam mengajarnya, guru memulai dengan langkah (a) sampai (d), dan peserta didik

    diminta untuk membuat interprestasi hasilnya (e). Pada kasempatan lain guru menyajikan

    data tentang masalah lain dari langkah (a) sampai (c) dan peserta didik diminta untuk

    mengadakan pengetesan hipotesis (d) dan seterusnya.

    8. Sekuens berdasarkan hierarki belajar; prosedur pembelajaran dimulai menganalisis

    tujuan-tujuan yang ingin dicapai, kemudian dicari suatu hierarki urutan materi

    pembelajaran untuk mencapai tujuan atau kompetensi tersebut. Hierarki tersebut

    menggambarkan urutan perilaku apa yang mula-mula harus dikuasai peserta didik,

    berturut-berturut sampai dengan perilaku terakhir.

    c. Strategi pembelajaran

  • Strategi pembelajaran yang berorientasi pada guru tersebut mendapat reaksi dari

    kalangan progresivisme. Menurut kalangan progresivisme, yang seharusnya aktif dalam

    suatu proses pembelajaran adalah peserta didik itu sendiri. Peserta didik secara aktif

    menentukan materi dan tujuan belajarnya sesuai dengan minat dan kebutuhannya,

    sekaligus menentukan bagaimana cara-cara yang paling sesuai untuk memperoleh materi

    dan mencapai tujuan belajarnya. Pembelajaran yang berpusat pada peserta didik

    mendapat dukungan dari kalangan rekonstruktivisme yang menekankan pentingnya

    proses pembelajaran melalui dinamika kelompok.

    Dalam hal ini, guru tidak banyak melakukan intervensi. Peran guru hanya sebagai

    fasilitator, motivator dan guider. Sebagai fasilitator, guru berusaha menciptakan dan

    menyediakan lingkungan belajar yang kondusif bagi peserta didiknya. Sebagai motivator,

    guru berupaya untuk mendorong dan menstimulasi peserta didiknya agar dapat

    melakukan perbuatan belajar. Sedangkan sebagai guider, guru melakukan pembimbingan

    dengan berusaha mengenal para peserta didiknya secara personal.

    d. Organisasi Kurikulum

    Beragamnya pandangan yang mendasari pengembangan kurikulum memunculkan

    terjadinya keragaman dalam mengorgansiasikan kurikulum. Setidaknya terdapat enam

    ragam pengorganisasian kurikulum, yaitu:

    1. Mata pelajaran terpisah (isolated subject); kurikulum terdiri dari sejumlah mata pelajaran

    yang terpisah-pisah, yang diajarkan sendiri-sendiri tanpa ada hubungan dengan mata

    pelajaran lainnya. Masing-masing diberikan pada waktu tertentu dan tidak

    mempertimbangkan minat, kebutuhan, dan kemampuan peserta didik, semua materi

    diberikan sama

    2. Mata pelajaran berkorelasi; korelasi diadakan sebagai upaya untuk mengurangi

    kelemahan-kelemahan sebagai akibat pemisahan mata pelajaran. Prosedur yang ditempuh

    adalah menyampaikan pokok-pokok yang saling berkorelasi guna memudahkan peserta

    didik memahami pelajaran tertentu.

    3. Bidang studi (broad field); yaitu organisasi kurikulum yang berupa pengumpulan beberapa

    mata pelajaran yang sejenis serta memiliki ciri-ciri yang sama dan dikorelasikan

    (difungsikan) dalam satu bidang pengajaran. Salah satu mata pelajaran dapat dijadikan

    core subject, dan mata pelajaran lainnya dikorelasikan dengan core tersebut.

    4. Program yang berpusat pada anak (child centered), yaitu program kurikulum yang

    menitikberatkan pada kegiatan-kegiatan peserta didik, bukan pada mata pelajaran.

  • 5. Inti Masalah (core program), yaitu suatu program yang berupa unit-unit masalah, dimana

    masalah-masalah diambil dari suatu mata pelajaran tertentu, dan mata pelajaran lainnya

    diberikan melalui kegiatan-kegiatan belajar dalam upaya memecahkan masalahnya. Mata

    pelajaran-mata pelajaran yang menjadi pisau analisisnya diberikan secara terintegrasi.

    6. Ecletic Program, yaitu suatu program yang mencari keseimbangan antara organisasi

    kurikulum yang terpusat pada mata pelajaran dan peserta didik.

    e. Evaluasi Kurikulum

    Evaluasi merupakan salah satu komponen kurikulum. Dalam pengertian terbatas,

    evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa tingkat ketercapaian tujuan-tujuan

    pendidikan yang ingin diwujudkan melalui kurikulum yang bersangkutan. Sebagaimana

    dikemukakan oleh Wright bahwa : curriculum evaluation may be defined as the

    estimation of growth and progress of students toward objectives or values of the

    curriculum.

    Sedangkan dalam pengertian yang lebih luas, evaluasi kurikulum dimaksudkan

    untuk memeriksa kinerja kurikulum secara keseluruhan ditinjau dari berbagai kriteria.

    Indikator kinerja yang dievaluasi tidak hanya terbatas pada efektivitas saja, namun juga

    relevansi, efisiensi, kelaikan (feasibility) program. Sementara itu, Hilda Taba

    menjelaskan hal-hal yang dievaluasi dalam kurikulum, yaitu meliputi ; objective, its

    scope, the quality of personnel in charger of it, the capacity of students, the relative

    importance of various subject, the degree to which objectives are implemented, the

    equipment and materials and so on.

    Pada bagian lain, dikatakan bahwa luas atau tidaknya suatu program evaluasi

    kurikulum sebenarnya ditentukan oleh tujuan diadakannya evaluasi kurikulum. Apakah

    evaluasi tersebut ditujukan untuk mengevaluasi keseluruhan sistem kurikulum atau

    komponen-komponen tertentu saja dalam sistem kurikulum tersebut. Salah satu

    komponen kurikulum penting yang perlu dievaluasi adalah berkenaan dengan proses dan

    hasil belajar siswa.

    5. Pengembangan prinsip pengembangan kurikulum

    Secara bahasa, prinsip berarti asas atau kebenaran yang menjadi pokok dasar berpikir,

    bertindak, dan sebagainya. Nah, dalam pelaksanaan pengambangan kurikulum pun

  • membutuhkan prinsip-prinsip mengapa suatu kurikulum harus dikembangan. Dalam

    kenyataannya prinsip tidak bisa hadir begitu saja, karma pada dasarnya sebuah prinsip haruslah

    bersumber dari sesuatu. Adapun macam-macam sumber prinsip pengembangan kurikulum

    merupakan hal yang menunjukkan dari mana asal muasal lahirnya suatu prinsip. Setidaknya

    ada empat sumber yang menjadi prinsip pengembangan kurikulum, yaitu: dala empiris

    (empirical data), data eksperimen (experiment data), cerita/ legenda yang hidup dari

    masyarakat (folklore of curriculum), dan akal sehat (common sense). Dengan demikian, ke

    empat prinsip tersebut dapat digunakan sebagai dasar dalam pelaksanaan pengembangan

    kurikulum.

    Selanjutnya ialah tipe-tipe pengembangan kurikulum, hal ini sangat berkaitan erat dengan

    tingkat ketepatan (validity) dan ketetapan (realibility) mengenai prinsip yang digunakan.

    Berdasarkan hal tersebut, tipe-tipe prinsip tersebut dapat diklasifikasikan menjadi tiga tipe

    prinsip, yaitu: anggapan kebenaranutuh atau menyeluruh (whole truth), anggapan kebenaran

    parsial (partial truth), dan anggapan kebenaran yang masih memerlukan pembuktian

    (hypothesis truth).

    Tipe yang pertama yaitu kebenaran utuh atau menyeluruh adalah fakta. Artinya konsep dan

    prinsipnya telah diuji dalam penelitian ketat, berulang, sehingga dapat digeneralisasikan. Yang

    kedua, anggapan kebenaran parsial juga merupakan suatu fakta dan telah di uji, naman

    kebenaran ini tidak dapat di generalisasikan. Yang ketiga ialah hipotesis, di mana tipe ini

    didasarkan pada dugaan-dugaan sehingga membutuhkan pembuktian terlebih dahulu.

    Berdasarkan hal tersebut di atas maka terdapat berbagai macam prinsip pengembangan

    kurikulum. Terdapat banyak prinsip yang mungkin saja digunakan dalam pengembangan

    kurikulum. Sehingga macam-macam prinsip ini dapat dibedakan menjadi dua kategori, yaitu:

    prinsip umum dan prinsip khusus. Namun, prinsip khusus hanya bisa berlaku di tempat tertentu

    dan situasi tertentu..

    a. Prinsip Umum

    Prinsip umum biasanya digunakan hampir dalam setiap pengembangan kurikulum dimanapun

    dan bagaimanapun. Menurut Sukmadinata (2000: 150-151) menjelaskan bahwa terdapat lima

    prinsip umum pengembangan kurikulum, yaitu:

    1.Prinsip relevansi

    Prinsip relevansi artinya prinsip kesesuaian. Di mana terdapat dua jenis prinsip relevansi,

    yaitu: relevansi eksternal dan relevansi internal. Relevansi eksternal ialah kurikulum harus

  • sesuai dengan kebutuhan masyarakat, baik kebutuhan masyarakat masa kini maupun masa

    yang akan datang. Sedangkan relevansi eksternal internal ialah kesesuaian antara komponen

    kurikulum itu sendiri.

    2.Prinsip fleksibilitas

    Prinsip feksibilitas berarti suatu kurikulum harus lentur (tidak kaku) tertutama dalam

    pelaksanaannya. Hal ini bermaksud agar kurikulum didesain untuk mencapai suatu tujuan

    tertentu sesuai dengan jenis dan jenjang pendidikan.

    3.Prinsip kontinuitas

    Prinsip kontinuitas artinya kurikulum dikembangkan secara berkesinambungan, yang meliputi

    sinambung antarkelas maupun sinambung natar jenjang pendidikan. Hal ini dimaksudkan agar

    proses pendidikan atau belajar siswa bisa maju secara berkesinambungan.

    4. Prinsip praktis atau efisiensi.

    Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan prinsip praktis, yaitu dapat dan mudah

    diterapkan di lapangan.

    5. Prinsip efektifitas

    Prinsip ini menunjukkan pada suatu pengertian bahwa kurikulum selalu berorientasi pada

    tujuan tertentu yang ingin dicapai. Kurikulum merupakan instrument untuk mencapai tujuan.

    b. Prinsip Khusus

    Prinsip khusus hanya bisa berlaku di tempat tertentu dan situasi tertentu. Prinsip ini juga

    merujuk pada prinsip-prinsip yang digunakan dalam pengembangan komponen kurikulum

    secara khusus (tujuan,, isi, metode, dan evaluasi) yang disesuaikan dengan situasi dan

    kondisi tertentu.

    6. Model pengembangan kurikulum

    a. Model Tyler

    Pengembangan kurikulum model Tyler yang dapat ditemukan dalam buku klasik yang

    sampai sekarang banyak dijadikan rujukan dalam proses pengembangan kurikulum yang

    berjudul Basic Principles of Curriculum and Insturction.

    Sesuai dengan bukunya, model pengembangan kurikulum Tyler ini, lebih bersifat

    bagaimana merancanng suatu kurikulum sesuai dengan tujuan dan misi suatu institusi

    pendidikan. Dengan demikian, model ini tidak menguraikan pengembangan kurikulum

    dalam bentuk langkah-langkah konkrit atau tahapan-tahapan secara rinci. Tyler hanya

    memberikan dasar-dasar pengembangannya saja.

  • Menurut Tyler ada empat hal yang dianggap fundamental untuk mengembangkan

    kurikulum. Pertama, berhubungan dengan tujuan pendidikan yang ingin dicapai;

    kedua,berhubungan dengan pengalaman belajar untuk encapai tujuajn;

    ketiga,pengorganisasian pengalaman belajar, dan ke empat, berhubungan dengan

    evaluasi.

    a) Menentukan Tujuan

    Dalam langkah penyusunan suatu kurikulum, merumuskan tujuan merupakan

    langkah pertama dan utama yang harus dikerjakan. Sebab, tujuan merupakan arah atau

    sasaran pendidikan. Tyler memang tidak menjelaskan secara detail tentang sumber

    tujuan. Namun demikian, Tyler menjelaskan bahwa sumber perumusan tujuan dapat

    berasal dari siswa, studi kehidupan masa kini, disiplin ilmu, filosofis, dan psikologi

    belajar.

    Merumuskan tujuan kurikulum, sebenarnya sangat tergantung dari teori dan filsafat

    pendidikan serta model kurikulum apa yang dianut. Bagi pengembang kurikulum subjek

    akademis, maka penguasaan berbagai konsep dan teori seperti yang tergambar dalam

    disiplin ilmu merupakan sumber tujuan utama. Kurikulum yang demikian yang kemudian

    dinamakan sebagai kurikulum yang bersifat discipline oriented. Berbeda dengan

    pengembang kurikulum model humanistic yang lebih bersifat child centered, yaitu

    kurikulum yang lebih berpusat kepada pengembangan pribadi siswa, maka yang menjadi

    sumber utama dalam perumusan tujuan tentu saja siswa itu sendiri, baik yang

    berhubungan dengan pengembangan minat dan bakat serta kebutuhan untuk membekali

    hidupnya. Lain lagi dengan kurikulum rekonstruksi social. Kurikulum yang lebih bersifat

    society centered ini memosisikan kurikulum sekolah sebagai alat untuk memperbaiki

    kehidupan masyarakat, maka kebutuhan dan masalah-masalah social kemasyarakatan

    merupakan sumber tujuan utama kurikulum.

    b) Menentukan Pengalaman Belajar

    Langkah kedua dalam proses pengembangan kurikulum adalah menentukan

    pengalaman belajar (learning experiences) sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan.

    Pengalaman belajar adalah segala aktivitas siswa dalam berinteraksi dengan lingkungan.

    Pengalaman belajar bukanlah isi atau materi pelajaran dan bukan pula aktivitas guru

    memberikan pelajaran. Tyler (1990:41) mengemukakan Pengalaman belajar menunjuk

    kepada aktivitas siswa di dalam proses pembelajaran. Dengan demikian yang harus

    dipertanyakan dalam pengalaman ini adalahapa yang akan atau telah dikerjakan

    siswabukanapa yang akan atau telah diperbuat guru. Untuk itulah guru sebagai

  • pengembang kurikulum mestinya memahami apa minat siswa,serta bagaimana latar

    belakangnya. Dengan pemahaman tersebut, akan memudahkan bagi guru dalam

    mendesain lingkungan yang dapat mengaktifkan siswa memperoleh pengalaman belajar.

    c) Mengorganisasi Pengalaman Belajar

    Langkah ketiga dalam merancang suatu kurikulum adalah mengorganisasikan

    pengalaman belajarbaik dalam bentuk unit mata pelajaran, maupun dalam bentuk

    program.Langkah pengorganisasian ini sangat penting, sebab dengan penbgorganisasian

    yang jelas akan memberikan arah bagi pelaksanaan proses pembelajaran sehingga

    menjadi pengalaman belajar yang nyata bagi siswa. Ada dua jenis pengorganisasian

    pengalaman belajar. Pertama, pengorganisasian secara vertikaldan kedua secara

    horizontal. Pengorganisasian secara vertical apabila menghubungkan pengalaman belajar

    dalam satu kajian yang sama dalam tingkat yang berbeda. Sedangkan pengorganisasian

    secara horizontal jika kita menhubungkan pengalaman belajar dalam bidang geografi dan

    sejarah dalam tingkat yang sama. Ada tiga prinsip menurut Tyler (1950:55) dalam

    mengorganisasi pengalaman belajar, yaitu kontinuitas, urutan isi, dan integrasi.

    d) Evaluasi

    Ada dua aspek yang perlu diperhatikan sehubungan dengan evaluasi. Pertama, evaluasi

    harus menilai apakah telah terjadi perubahan tingkah laku siswa sesuai dengan tujuan

    pendidikan yang telah dirumuskan. Kedua, evaluasi sebaiknya menggunakan lebih dari

    satu alat penilaian dalam suatu waktu tertentu. Ada dua fungsi evaluasi : Pertama,

    evaluasi digunakan untuk memperoleh data tentang ketercapaian tujuan oleh peserta

    didik. Fungsi ini dinamakan sebagai fungsi sumatif. Kedua, untuk melihat efektivitas

    proses pembelajaran. Fungsi ini dinamakan fungsi formatif.

    b. Model Taba

    Model taba lebih menitik beratkan kepada bagaimana mengembangkan

    kurikulum sebagai suatu proses perbaikan dan peyempurnaan. Oleh karena itu, dalam

    model ini dikembangkan tahapan-tahapan yang harus dilakukan oleh para pengembang

    kurikulum.

    Pengembangan kurikulum biasanya dilakukan secara deduktif yang di mulai dari

    langkah penentuan prinsip-prinsip dan kebijakan dasar, merumuskan desainkurikulum,

    menyusun unit-unit kurikulum, dan mengimplementasikan kurikulum di dalam kelas.

    Hilda Taba tidak sependapat dengan langkah tersebut. Alasannya, pengembangan

    kurikulum secara deduktif tidak dapat menciptakan pembaruan kurikulum.oleh karena

    itu, menurut Hilda Taba, sebaiknya kuirikulum dikembangkan secara terbalik yaitu

  • dengan pendekatan induktif. Ada lima langkah moel pengembangan kurikulum terbalik

    dari Taba ini.

    a) Menghasilkan unit-unit percobaan (pilot unit) melalui langkah-langkah:

    Mendiagnosiskebutuhan. Pada langkah ini pengembangan kurikulum memulai

    dengan menentukan kebutuhan-kebutuhan siswa melalui diagnosis tentang gaps,

    berbagai kekurangan (defeciencies), dan perbedaan latar belakang siswa.

    Memformulasikan tujuan. Setelah kebutuhan-kebutuhan siswa didiagnosis,

    selanjutnya para pengembang kurikulum merumuskan tujuan.Memilih isi.

    Pemilihan isi kurikulum sesuai dengan tujuan merupakan langkah

    berikutnya.Mengorganisasiisi. Melalui penyeleksian isi, selanjutnya isi kurikulum

    yang telah ditentukanitu disusun urutannya, sehingga tampak pada tingkat atau

    kelas berapa sebaiknya kurikulum ini diberikan. Memilih pengalaman belajar. Pada

    tahap ini ditentukan pengalaman-pengalaman belajar yang harus dimiliki siswa

    untuk mencapai tujuan kurikulum. Mengorganisasi pengalaman

    belajar.Menentukan alat-alat evaluasi serta prosedur yang harus dilakukan

    siswa.Menguji isi keseimbangan kurikulum.

    b) Menguji unit eksperimen untuk memperoleh data dalam rangka menemukan

    validitas dan kelayakan penggunaannya.

    c) Merevisi dan mengonsolidasikan unit-unit eksperimen berdasarkan data yang

    diperoleh dalam uji coba.

    d) Mengembangkan seluruh kerangka kurikulum.

    e) Implementasi dan diseminasi kurikulum yang telah teruji

    c. Model Oliva

    Menurt Oliva suatu model kurikulum harus bersifat simple, komprehensif dan sistematik.

    Komponen-komponen seperti yang tampak di bawah ini menurut Oliva adalah komponen pokok

    saja. Namun dalam kenyataannya yang dikemukakan oleh Oliva dalam mengembangkan suatu

    kurikulum ada 12 komponen yang satu sama lain saling berkaitan

    Komponen I adalah perumusan filosofis, sasaran, misi serta visi lembaga pendidikan,

    yang kesemuanya bersumber dari analisis kebutuhan siswa, dan analisis kebutuhan

    masyarakat.

    Komponen II adalah analisis kebutuhan masyarakat di mana sekolah itu berada,

    kebutuhan siswa dan urgensi dari disiplin ilmu yang harus diberikan oleh sekolah.

  • Komponen III dan IV, berisi tentang tujuan umum dan tujuan khusus kurikulum yang

    didasarkan kepada kebutuhan seperti yang tercabtum pada komponen kesatu dan kedua.

    Komponen V adalah bagaimana mengorganisasikan rancangan dan

    mengimplementasikan kurikulum.

    Komponen VI dan VII mulai menjabarkan kurikulum dalam bentuk perumusan tujuan

    umum dan tujuan khusus pembelajaran.

    Apabila tujuan pembelajaran telah dirumuskan, maka selanjutnya menetapkan strategi

    pembelajran yang dimungkinkan dapat mencapai tujuan seperti yang terdapat pada komponen

    kedelapan. Selama itu pula dapat dilakukan studi awal tentang kemungkinan strategi atau

    teknik penilaian yang akan digunakan (komponen IX A). Selanjutnya pengembangan

    kurikulum dilanjutkan pada komponen X yaitu mengimplementasikan strategi pembelajaran.

    Setelah strategi diimplementasikan, pengembangan kurikulum kembali pada komponen IX

    Buntuk menyemb\purnakan alat atau teknik penilaian. Teknik penilaian seperti yang telah

    ditetapkan pada komponen IX A bias ditambah atau direvisi setelah mendapatkan masukan

    dari pelaksanaan atau implementasi kurikulum.Dari penetapan alat dan teknik penilaian itu,

    maka selanjutnya pada komponen XI dan XII dilakukan evaluasi terhadap pembelajaran dan

    evaluasi kurikulum.

    Menurut Oliva, model yang dikembangkan ini dapat digunakan dalam beberapa

    dimensi:

    Pertama, untuk menyempurnakan kurikulum sekolah dalam bidang-bidang khusus,

    misalkan penyempunaan kurikulum bidang studi tertentu di sekolah, baik dalam

    tataran perencanaan kurikulum maupun dalam proses pembelajarannya.

    Kedua model ini model ini juga dapat digunakan untuk membuat keputusan dalam

    merancang suatu program kurikulum.

    Ketiga model ini dapat digunakan dalam mengembangkan program pembelajaran

    secar khusus.

    7. Model konsep pengembangan kurikulum ada 4

    a. Kurikulum Disiplin Ilmu

    Menurut Longstreet(1993) (Wina Sanjaya,2010:64) desain kurikulum ini

    merupakan desai kurikulum yang berpusat kepada pengetahuan (the knowledge centered

    design) yang dirancang berdasarkan struktur ilmu, oleh krena itu model desain ini

    dinamakan juga model kurikulum subjek akademis yang penekanannya diarahkan untuk

  • pengembangan inteektual siswa. Para ahli memandang desain kurikulum ini berfungsi

    mengembagkan proses kognitif atau pengembangan kemampuan berpikir siswa melalui

    latihan menggunakan gagasan dan melakukan proses penelitian ilmiah (McNeil1990).

    Model kurikulum yang berorientasi pada pengembangan intelektual siswa,

    dikembangkan oleh para ahli mata pelajaran sesuai dengan disiplin ilmu masing-masing.

    Mereka menyusun materi pelajaran apa yang harus dikuasai oleh siswa baik k

    menyangkut data dan fakta, konsep, maupun teori yang ada dalam setiap disiplin ilmu

    mereka masing-masing. Materi pembelajran tentu saja disusun sesuai dengan tingkat

    perkembangan siswa. Selain memenentukan materi kurikulum, juga para pengembang

    kurikulum menyusun bagaimana melakukan pengkajian materi pembelajaran melalui

    proses penelitian ilmiah sesuai dengan corak atau masalah yang terkandung dalam

    disiplin ilmu. Jadi, dengan demikkian dalamdesain ini bukan hanya diharapkan siswa

    semata-mata dapat menguasai materi pelajaran sesuai dengan disiplin ilmu, akan tetapi

    juga melatih proses berpikir melalui proses penelitian ilmiah yang sistematis.

    Dalam implementasinya, strategi yang banyak digunakan adalah strategi

    ekspositori. Melalui strategi ini, gagasan atau informasi disampaikan oleh guru secara

    langsung oleh guru kepada siswa. Selanjutnya siswa dituntut untuk memahami, mencari

    landasan logika, dan dukungan fakta yang dianggap relevan. Siswa dituntut untuk

    membaca buku-buku atau karya-karya besar dalam bidangnya untuk dimegerti, dipahami,

    dan dikuasai . selanjutnya, penguasaan materi disiplin ilmu itu dijadikan kriteria dalam

    keberhasilan implementasi kurikulum.

    Evaluasi yang digunakan bervariasi sesuai dengan tujuan mata pelajaran. Dalam

    pelajaran humaniora evaluasi dilakukan dalam bentu essay. Mata pelajaran kesenian

    diukur berdasarkan unsur subyektifitas. Matematika dinilai berdasrkan penguasaan

    aksiomanya bukan sekedar kebenaran dalam menghitung. Penilaian ilmu alam diberikan

    dalam bentuk pengujian proses berpikir bukan sekedar benar dalam jawaban.

    Terdapat 3 bentuk organisasi kurikulum yang berorientasi pada disiplin ilmu

    (Wina Sanjaya,2010:65), yaitu :

    1) Subject Centered Curriculum

    Pada Subject Centered Curriculum, bahan atau isi kurikulum disusun dalam bentuk

    mata pelajaran yang terpisah-pisah, misalnya mata pelajaran sejarahj ilmu bumi,

    kimia, fisika berhitung dan sebagainya.

    2) Correlated Curriculum

  • Pada organisasi kurikulum ini, mata pelajaran tidak disajikan secara terpisah, akan

    tetapi mata peajaran-mata pelajaran yang memiliki kedekatan atau mata pelajaran

    sejenis dikelompokkan sehingga menjadi suatu bidang studi(broadfield), seperti

    misalnya mata pelajaran geografi, sejarah, ekonomi dikelompokkan dalam bidang

    studi IPS

    3) Integrated Curriculum

    Pada organisasi kurikulum ini, tidak lagi menampakkan nama-nama mata pelajaran

    atau bidangn studi. Belajar berangkat dari suatu pokok masalah yang harus

    dipecahkan. Masalah ter sebut kemudian dinamakan unit. Belajar berdasarkan unit

    bukan hanya menghafal sejumlah fakta, akam tetapi juga mencari dan menganalisis

    fakta sebagai bahan untuk memecahkan masalah. Belajar melalui pemecahan masalah

    itu diharapkan perkembangan siswa tidak hanya terjadi pada segi intelektual saja akan

    tetapi seluruh aspek seperti sikap, emosi, atau keterampilan.

    b. Kurikulum Berorientasi pada Masyarakat

    Asumsi yang mendasari bentuk rancangan kurikulum ini adalah bahwa tujuan

    dari sekolah adalah untuk melayani kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, kebutuhan

    masyarakat harus dijadikan dasar dalam melakukan isi kurikulum. (Wina

    Sanjaya,2010:67)

    Contoh desain kurikulum ini seperti yang dikembangkan oleh Smith, Stanley, dan

    Shores dalam buku mereka yang berjudul Fundamental of Curriculum(1950) atau dalam

    buku Curriculum Theory yang disusun oleh Beauchamp(1981). Mereka merumuskan

    kurikulum sebagai sebuah desain kelompok sosial untuk dijadikan pengalaman belajar

    anak di dalam sekolah. Artinya, permasalahan yang dihadapi dan dibutuhkan oleh suatu

    kelompok sosial, harus menjadi bahan kajian anak didik di sekolah

    Ada 3 kriteria yang harus diperhatikan dalam proses mengimplementasikan

    kurikulum ini(Wina Sanjaya,2010:70). Ketiganya menuntut oembelajaran nyata (real)

    berdasarkan tindakan(action), dan mengandung nilai (values). Ketiga kriteria tersebut

    adalah pertama, siswa harus memfokuskan kepada salah satu aspek yang ada di

    masyarakat yang dianggapnya perlu untuk diubah, kedua, siswa harus melakukan

    tindakan terhadap masalah yang dihadapi masyarakat itu, dan ketiga, tindakan siswa

    harus didasarkan kepada nilai(values), apakah tindakan itu patut dlaksanakan atau tidak,

    apakah memerlukan kerja individual atau keompok tau bahkan keduanya.

    Dalam mengorganisasi kegiatan belajar siswa disusun berdasarkan tema utama.

    Selanjutnya tema itu dibahas kedalam beberapa topik yang relevan. Topik itulah

  • selanjutnya ditindaklanjuti, dibahas, dan dicari penyelesaian melalui latihan-latihan dan

    kunjungan-kunjungan.Mengenai evaluasi pembelajaran diarahkan kepada kemapuan

    siswa mengartikulasi isu atau masalah, mencari pemecahan masalah, mendefinisikan

    ulang tentang problema, memiliki kemauan untuk mengambil tindakan-tindakan tertentu.

    Oleh karena itu evaluasi pembelajaran kurikulum rekonstrusi sosial dilakukan secara

    terus-menerus pada setiap saat

    c. Kurikulum Berorientasi pada Siswa

    Asumsi yang mendasari desain ini adalah bahwa pendidikan diselenggarakan

    untuk membantu anak didik. Oleh karenanya, pendidikan tidak boleh terlepas dari

    kehidupan anak didik. Kurikulum yang berorientasi pada siswa menekankan kepada

    siswa sebagai sumber isi kurikulum tidak boleh terlepas dari kehidupan peserta didik.

    (Wina Sanjaya,2010:71)

    Anak didik adalah manusia yang sangat unik. Mereka memiliki karakteristik

    tertentu. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan, anak adalah makhluk yag

    berkembang, yang memiliki minat dan bakata yang beragam. Kurikulum harus dapat

    menyesuaikan dengan irama perkembangan mereka. Dalam mendesain kurikulum yang

    berorientasi pada siswa, Alice Crow (Crow & Crow, 1995) menyarankan hal-hal sebagai

    berikut :

    1) Kurikulum harus disesuaikan dengan perkembangan anak

    2) Isi kurikulum harus mencakup keterampilan, pengetahuan, dan sikap yang dianggap

    berguna untuk masa sekarang dan masa yang akan datang.

    3) Anak hendaknya ditempatkan sebagai subjek belajar yang berusaha untuk belajar

    sendidri. Artinya siswa harus didorong untuk melakukan berbagai aktivitas belajar,

    bukan sekedar menerima informasi dari guru.

    4) Diusahakan apa yang dipelajari siswa sesuai dengan minat, bakat, dan tingkat

    perkembangan mereka. Artinya apa yang seharusnya dipelajari bukan ditentukan dan

    dipandang baik dari sudut guru atau sudut orang lain tetapi ditentukan dari sudut anak

    itu sendiri.

    Desain kurikulum yang berorientasi pada anak didik, dapat dilihat minimal dari dua

    perspektif, yaitu :

    1) Perspektif Kehidupan Anak di Masyarakat

    Dalam perspektif ini, menharapkan materi kurikulum yang dipelajari di sekolah

    serta pengalaman belajar, didesain sesuai dengan kebutuhan anak sebagai persiapan

  • agar mereka dapat hidup dimasyarakat. Anak dituntut untuk mempelajari berbagai

    macam yang bersifat abstrak, akan tetapi teori atau berbagai konsep yang dihubungkan

    dengan kehidupan nyata. Dengan demikian, apa yang dipelajari di sekolah relevan

    dengan kenyataan dimasyarakat.

    2) Perspektif Psikologis

    Dalam perpektif sikologis, desai kurikulum yang berorientasi kepada siswa, sering

    diartikan juga sebagai kurikulum yang bersifat humanistik, yang muncul sebagai reaksi

    terhadap proses pendidikan yang hanya mengutamakan segi intelektual. Dalam

    perspektif ini, tugas dan tanggung jawab pendidikan di sekolah bukan hanya

    mengembangkan intelektual siswa saja, akan tetapi mengembangkan seluruh pribadi

    siswa sehingga dapat membentuk manusia yang utuh

    Kurikulum humanistik menekankan kepada integrasi, yaitu kesatuan pribadi secara utuh

    antara intelektual, emosional, dan tindakan. Oleh karena prinsipnya demikian, maka kurikulum

    humanistik harus dapat memberikan pengalaman yang menyeluruh dan utuh, bukan

    pengalaman yang terpenggal-penggal. Organisasi kurikulum tidak mementingkan sequence,

    sebab, dengan sequence yang kaku siswa tidak mungkin dapat mengembangkan seluruh

    potensi yang dimilikinya. Sequence dalam kurikulum humanistik harus menckup elemen-

    elemen tentang nilai, konsep, sikap, dan masalah. Dari hal-hal tersebut, disusun kegiatan-

    kegiatan yang memungkinkan siswa mengembangkan elemen-elemen itu.

    Tidak seperti pada kurikulum subjek akademis dimana pelaksanaan evaluasi diarahkan

    untuk melihat keberhasilan siswa dalam menguasai matri pelajaran, pelaksnaan evaluasi dalam

    kurikulm humanistik lebih ditekankan kepada proses belajar. Kriteria keberhasilan ditentukan

    oeh perkembangan anak supaya menjadi manusia yang terbuka dan berdiri sendiri. Kurikulum

    hunanistik mengevaluasi berbagai kegiatan yang telah dilaksanakan, dan bagaimana kegiatan

    tersebut mampu memberikan nilai untuk kehidupan yang masa datang. Proses

    pembelajaranyang bagus menurut kurikulum ini dalah manakala memberikan kesempatan

    kepada siswa untuk tumbuh berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

    d. Kurikulm Teknologis

    Model desain kurikulum teknologis difokuskan kepada efektifitas program,

    metode, dan bahan-bahan yang dianggap dapat mencapai tujuan. Perspektif teknologi

    telah banyak dimanfaatkan pada berbagai konteks, misalnya pada program pelatihan di

    lapangan industri dan militer. Desain sistem instruksional menekankan kepada

    pencapaian tujuan yang mudah diukur, aktivitas, dan tes, serta pengembangan bahan-

    bahan ajar.

  • Teknologi mempengaruhi kurikulum dapat dilihat dari dua sisi yaitu sisi

    penerapan hasil-hasil teknologi dan penerapan teknologi sebagai suatu sistem. Sisi

    pertama yang berhubungan penerapan adalah perencanaan yang sistematis dengan

    menggunakan media atau alat dalam kegiatan pembelajaran. Penggunaan dan

    pemanfaatan alat tersebut semata-mata untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi

    pembelajaran. Dengan penerapan hasil-hasil teknologi sebagai alat, diasumsikan

    pembelajaran akan berhasil secara efektif dan efisien. Contohnya pembelajaran dengan

    bantuan komputer. Sisi kedua, teknologi sebagai suatu sistem, menekankan kepada

    penyusunan progam pembelajaran dengan menggunakan pendekatan sistem yang

    ditandai dengan perumusan tujuan khusus sebagai tujuan tingkah laku yang harus

    dicapai. Proses pembelajaran diarahkan untuk mencapai tujuan. Dengan demikian,

    keberhasilan pembelajaran itu diukur sejauh mana siswa dapat menguasai tujuan khusus

    tersebut. Jadi, penerapan teknologi sebagai suatu sistem itu tidak ditentukan oleh

    penerapan hasil-hasil teknologi akan tetapi bagaimana merancang implementasi

    kurikulum dengan pendekatan sistem. (Wina Sanjaya,2010:75)

    Kurikulum teknologi, banyak dipengaruhi oleh psikologi belajar behavioristik.

    Salah satu ciri dari teori belajar ini adalah menekankan pola tingkah laku yang bersifat

    mekanis seperti yang digambarkan dalam teori Stimulus-Respon. Lebih lanjut dalam

    pandangan tentang beljara kurikulum ini memiliki karakteristik sebagai berikut (Wina

    Sanjaya,2010:76):

    Belajar dipandang sebagai proses respon terhadap rangsangan.

    Belajar diatur berdasarkan langkah-langkah tertentu dengan sejumlah tugas yang harus

    dipelajari

    Secara khusus siswa belajar secara individual, neskipun dalam hal-hal tertentu bisa saja

    belajar secara kelompok.

    Menurut McNeil(1990) (Wina Sanjaya,2010:76), tujuan kurikulum teknologis ditekankan

    kepada pencapaian perubahan tingkah laku yang dapat diukur. Oleh karena itu tujuan umum

    dijabarkan kedalam tujuan-tujuan khusus. Tujuan-tujuan itu biasanya diambil dari setiap mata

    pelajaran (disiplin ilmu). Tujuan yang berorientasi kepada tujuan kemasyarakatan jarang dgunakan.

    Semua siswa diharapkan dapat menguasai secara tuntas tujuan pengajaran yang ditentukan.

    Ciri-ciri kurikulum teknologis adalah :

    Pengorganisasian materi kurikulum berpatokan kepada rumusan tujuan

    Materi kurikulum disusun secara bejenjang

    Materi kurikulum disusun dari mulai yang sederhana menuju yang kompleks

  • Hal hal yang perlu diperhatikan dalam implementasi kurikulum teknologis adalah sebagai

    berikut :

    Kesadaran akan tujuan, artinya perlu memahami bahwa pembelajaran diarahkan untuk mencpai

    tujuan . oleh karena itu, siswa perlu diberi penjelasan tujuan apa yang harus dicapai.

    Dalam pembelajaran siswa diberi kesempatan mempraktikkan kecakapan sesuai dengan tujuan.

    Siswa perlu diberi tahu hasil yang telah dicapai. Dengan demikian siswa perlu menyadari apakah

    pembelajran sudah dianggap cukup atau masih perlu bantuan.

    8. Perbedaan KTSP dan kurikulm 2013

    No KTSP Kurikulum 2013

    1 Mata pelajaran tertentu mendukung

    kompetensi tertentu

    Tiap mata pelajaran mendukung semua kompetensi

    (Sikap, Keteampilan, Pengetahuan)

    2 Mata pelajaran dirancang berdiri sendiri dan

    memiliki kompetensi dasar sendiri

    Mata pelajaran dirancang terkait satu dengan yang lain

    dan memiliki kompetensi dasar yang diikat oleh

    kompetensi inti tiap kelas

    3 Bahasa Indonesia sejajar dengan mapel lain Bahasa Indonesia sebagai penghela mapel lain (sikap

    dan keterampilan berbahasa)

    4 Tiap mata pelajaran diajarkan dengan

    pendekatan berbeda

    Semua mata pelajaran diajarkan dengan pendekatan

    yang sama (saintifik) melalui mengamati, menanya,

    mencoba, menalar

    5 Tiap jenis konten pembelajaran diajarkan

    terpisah

    Bermacam jenis konten pembelajaran diajarkan terkait

    dan terpadu satu sama lainKonten ilmu pengetahuan

    diintegrasikan dan dijadikan penggerak konten

    pembelajaran lainnya

    6 Tematik untuk kelas I-III (belum integratif) Tematik integratif untuk kelas I-III

    7 TIK mata pelajaran sendiri TIK merupakan sarana pembelajaran, dipergunakan

    sebagai media pembelajaran mata pelajaran lain

    8 Bahasa Indonesia sebagai pengetahuan Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi dan carrier

    of knowledge

    9 Untuk SMA ada penjurusan sejak kelas XI Tidak ada penjurusan SMA. Ada mata pelajaran

    wajib, peminatan, antar minat, dan pendalaman minat

    10 SMA dan SMK tanpa kesamaan kompetensi SMA dan SMK memiliki mata pelajaran wajib yang

    sama terkait dasar-dasar pengetahuan, keterampilan

    dan sikap.

    11 Penjurusan di SMK sangat detil Penjurusan di SMK tidak terlalu detil sampai bidang

    studi, didalamnya terdapat pengelompokkan

    peminatan da

  • Sumber Bacaan:

    ________. 2003. Kegiatan Belajar Mengajar yang Efektif; Pelayanan Profesional Kurikulum

    Berbasis Kompetensi. Jakarta: Puskur Balitbang

    _________. 2006. Kurikulum yang Disempurnakan. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya

    E. Mulyasa.2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Konsep; Karakteristik dan Implementasi.

    Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya.

    Nana Syaodih Sukmadinata. 1997. Pengembangan Kurikum; Teori dan Praktek. Bandung: P.T.

    Remaja Rosdakarya.

    Tim Dosen Pengembang Kurikulum dan Pembelajaran (2009) Kurikulum dan Pembelajaran.

    Bandung: FIP

    Tim Pengembang MKDK Kurikulum dan Pembelajaran.2002. Kurikulum dan Pembelajaran.

    Bandung : Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan UPI.

    Uyoh Sadulloh.1994. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: P.T. Media Iptek