USM RELOKASI PEDAGANG KAKI LIMA ( PKL ) DI TERMINAL

Click here to load reader

  • date post

    05-Oct-2021
  • Category

    Documents

  • view

    0
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of USM RELOKASI PEDAGANG KAKI LIMA ( PKL ) DI TERMINAL

DI TERMINAL TERBOYO DI TINJAU BERDASARKAN
PERDA KOTA SEMARANG NOMOR 11 TAHUN 2000
TENTANG PENGATURAN DAN PEMBINAAN PKL
SKRIPSI
Disusun Oleh :
Perpustakaan Fakultas Ilmu Hukum Universitas Semarang dengan ini
menerangkan, bahwa skripsi dibawah dengan keterangan sebagai berikut
dengan Judul :
DI TERMINAL TERBOYO DI TINJAU BERDASARKAN
PERDA KOTA SEMARANG NOMOR 11 TAHUN 2000
TENTANG PENGATURAN DAN PEMBINAAN PKL
Oleh :
dipergunakan sebagaimana mestinya.
( ...................................................... )
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT ( Tuhan Yang Maha Esa )
karenatelah memberkati Penulis dan memberikan pertolongannya dengan
banyak cara dalam penulisan penyusunan skripsi ini, sehingga tugas ini
dapat terselesaikan. Penulis menyadari bahwa penulisan penyusunan skripsi
ini tidak akan terselesaikan tanpa bantuan, bimbingan, dukungan, dan doa
dari berbagai pihak, sejak awal masa perkuliahan hingga akhir penulisan ini.
Oleh karena itu Penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih penulis
kepada seluruh pihak yang telah ikhlas membantu penulis dengan berbagai
cara sehingga Penulis dapat menjalani masa perkuliahan di Fakultas Hukum
Universitas Semarang dengan baik dan lancar hingga menyelesaikan
penulisan ini. Rasa terima kasih tersebut penulis sampaikan kepada :
1. Bapak Andy Krisdasusila, S.E., M.M. Selaku Rektor Universitas
Semarang yang memberi dan menjadi motivasi bagi saya dalam
menuntut ilmu di Universitas Semarang.
2. Ibu B. Rini Heryanti S.H., M.H. selaku Dekan Fakultas Hukum
Universitas. Terima kasih atas ilmu yang telah diberikan kepada saya
dan banyak mahasiswa, khususnya mahasiswa Fakultas Hukum
Universitas.
3. Bapak Muhammad Iftar Aryaputra, S.H., M.H. selaku dosen wali yang
telah memberikan banyak arahan dan masukan. Serta dengan sabar
membimbing dan mengajari saya.
vii
4. Bapak A. Heru Nuswanto, S.H., M.H. selaku Dosen Pembimbing I
dalam penulisan penyusunan skripsi ini. Terima kasih atas arahan judul
akan topik dan pembahasan dalam karya ilmiah ini. Terima kasih telah
dengan sabar meluangkan waktunya untuk membimbing dan
mengarahkan penulis sehingga penyusunan skripsi ini dapat
terselesaikan.
5. Bapak Dr. Amri P. Sihotang, S.S., S.H., M.Hum. selaku Dosen
Pembimbing II dalam penulisan penyusunan skripsi ini. Terima kasih
atas saran-sarannya sehingga penulis dapat membuat pola pikir yang
lebih tepat dalam menyusun materi dan membuat analisis dalam
penyusunan skripsi ini.
6. Kedua orang tua penulis, yang tercinta ayahanda “ Riyanto, S.E.” dan
ibunda “ Siti Faizah “, terima kasih atas kasih sayang, doa, dukungan
yang telah diberikan kepada penulis selama ini.
7. Istriku tersayang “ Erna Yohana Setyo Rini “ dan anakku “ Muhammad
Tirta Al Fatih “, kalian berdua sumber inspirasiku.
8. Adikku yang ku banggakan “ Ismail Zein Nur Fariyanto “ dan “ Afifah
Maulidina Fariyanto “ serta adik iparku “ Irma Febina Anisa “, Ibu
mertuaku “ Hari Suprihatiningsih “, terima kasih atas segala dukungan
nya selama ini.
9. Segenap keluarga besar yang tak dapat penulis sebutkan satu-persatu,
berbangga hati menjadi bagian dari semuanya.
ix
tidak, maka lepaskan dan tinggalkanlah. Jika setengah-setengah, maka
anggaplah itu tidak, lalu carilah yang membuatmu yakin dan merasa pantas
untuk diperjuangkan. Karena kepastian akan menentukan apa yang kamu
dapat dari buah keyakinanmu .... “
Setiap orang berhak menentukan apa pada setiap pilihanya sendiri
tanpa intervensi dari orang lain. Yang perlu di ingat adalah konsekwensi
dari apa yang kita pilih sekarang untuk bagaimana kedepan. Karena
penyesalan memang selalu datang terlambat, kalau itu masih bisa kita
perbaiki sekarang, maka perbaikilan. Tuhan selalu memberikan jalan bagi
orang-orang yang mau memperbaiki dirinya ke arah yang lebih positif.
Saya persembahkan Skripsi ini kepada :
Yang terkasih dan tersayang :
Istriku “ Erna Yohana Setyo Rini “ dan anakku “ Muhammad Tirta Al
Fatih “ ;
Fariyanto “ serta adik iparku “ Irma Febina Anisa “.
x
ABSTRAK
Keberadaan pedagang kaki lima di Kawasan Terminal Terboyo sering
kali menimbulkan masalah. Kesan kumuh, liar, merusak keindahan, seakan
menjadi paten yang melekat pada usuha mikro ini. Seiring pengalihan status
terminal Terboyo yang semula dari terminal penumpang menjadi terminal
angkutan barang untuk pemindahan PKL. Berdasarkan hal tersebut maka
bagaimana Relokasi Pedagang Kaki Lima (PKL) di Terminal Terboyo dan
apa saja kendala-kendala dalam pembinaan Pedagang Kaki Lima (PKL) di
Terminal Terboyo Ditinjau Berdasarkan Perda Kota Semarang Nomor 11
Tahun 2000 tentang Pengaturan Dan Pembinaan PKL dan bagaimana upaya
mengatasinya. Jenis / tipe panelitian yang menggunakan yuridis empiris,
spesifikasi penelitian menggunakan deskriptif analitis, metode pengumpulan
data menggunakan penelitian lapangan dan penelitian kepustakaan, dan
menggunakan analisis kualitatif. Relokasi Pedagang Kaki Lima (PKL) di
Terminal Terboyo pada dasarnya konsep Relokasi dilaksanakan karena alih
fungsi lahan yang di peruntukan bagi pembangunan Terminal Terboyo
menjadi terminal barang. Dalam proses penataan ke lokasi yang sudah
disediakan pemerintah untuk mereka yaitu ke Pasar Banjardowo yang sudah
dikoordinasikan dengan Dinas Perdagangan, dan ke Terminal Mangkang
seperti yang direncanakan sebelumnya yang sesuai dengan jenis-jenis usaha
yang mereka jalankan. Kendala-kendalanya adalah rendahnya kesadaran
hukum PKL, lemahnya Pengawasan oleh Aparat Kota Semarang, relokasi
tempat jualan PKL yang tidak strategis dan memadai, serta faktor ekonomi
PKL. Upaya-upaya yang dilakukan adalah memberikan penyuluhan dan
pembinaan, meningkatkan pengawasan dengan mengadakan penertiban
mengupayakan lokasi atau lahan baru, serta memberikan pelatihan dan
bantuan modal bagi PKL.
xi
ABSTRACT
The presence of street vendors in the Terboyo Terminal Area often
creates problems. Shabby impression, wild, damaging beauty, seems to be a
patent attached to this micro. Along with the transfer of the Terboyo
terminal status from the passenger terminal to the goods transportation
terminal for the transfer of street vendors. Based on this, how is the
Relocation of Street Vendors (PKL) in Terboyo Terminal and what are the
constraints in the construction of Street Vendors (PKL) in Terboyo
Terminal?. Types / types of research that use empirical juridical, research
specifications use analytical descriptive, methods of data collection using
field research and library research, and using qualitative analysis.
Basically, the Relocation of Street Vendors (PKL) in Terboyo Terminal was
carried out due to the conversion of land designated for the construction of
the Terboyo Terminal to become a goods terminal. In the structuring
process to the location that the government has provided for them, namely
to Banjardowo Market, which has been coordinated with the Trade Office,
and to Mangkang Terminal as planned in advance according to the types of
businesses they run. The obstacles are the low legal awareness of street
vendors, the weak supervision by Semarang City officials, the relocation of
street vendors selling places that are not strategic and adequate, and the
economic factors of street vendors. Efforts are made to provide counseling
and guidance, improve supervision by organizing control to seek new
locations or land, and provide training and capital assistance for street
vendors.
xii
B. Rumusan Masalah ..................................................................... 4
D. Keaslian Penelitian ................................................................... 6
E. Sistematika Penulisan ............................................................... 8
A. Tinjauan Umum Tentang Sektor Informal ............................ 10
B. Tinjauan Umum Tentang PKL .............................................. 13
C. Tinjauan Umum Tentang Pembinaan PKL ............................ 18
D. Tinjauan Umum Tentang Kebijakan Relokasi PKL ............. 22
E. Tinjauan Umum Tentang Peraturan Daerah .......................... 26
F. Tinjauan Mengenai Efektivitas Berlakunya Hukum .............. 29
G. Tinjauan Umum Tentang Penataan Ruang ............................ 33
xiii
B. Spesifikasi Penelitian ............................................................. 41
BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ......................... 48
A. Relokasi Pedagang Kaki Lima (PKL) di Terminal Terboyo
Ditinjau Berdasarkan Perda Kota Semarang Nomor 11 Tahun
2000 tentang Pengaturan Dan Pembinaan PKL .................... 48
B. Kendala-Kendala Dalam Pembinaan Pedagang Kaki Lima
(PKL) Di Terminal Terboyo Ditinjau Berdasarkan Perda Kota
Semarang Nomor 11 Tahun 2000 Tentang Pengaturan Dan
Pembinaan PKL Dan Bagaimana Upaya Mengatasinya ....... 60
1. Kendala-kendala yang timbul dalam Pembinaan dan
Penataan PKL Di Terminal Terboyo Kota Semarang ...... 60
2. Upaya-upaya yang dilakukan untuk mengatasi kendala-
kendala yang timbul dalam Pembinaan dan Pelaksanaan
Penataan PKL di kawasan Terminal Terboyo Kota
Semarang .......................................................................... 63
berurbanisasi ke kota dalam rangka beralih profesi dari petani menjadi
pedagang kecil-kecilan. Untuk menjadi pedagang kaki lima (PKL) tidak
membutuhkan pendidikan tinggi, tidak membutuhkan modal yang besar,
namun dapat menghasilkan pendapatan yang kadang melebihi sektor formal.
PKL cenderung mengelompok dengan pekerjaan yang sejenisnya. Jenis
usaha yang paling banyak diminati adalah makanan dan minuman.
Pedagang Kaki Lima (PKL) merupakan salah satu alternatif mata
pencaharian sektor informal yang termasuk ke dalam golongan usaha kecil.
Usaha kecil dalam Penjelasan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1995
tentang Usaha Kecil. Usaha kecil adalah kegiatan usaha yang mampu
memperluas lapangan kerja dan memberikan pelayanan ekonomi yang luas
kepada masyarakat, dapat berperan dalam proses pemerataan dan
peningkatan pendapatan masyarakat serta mendorong pertumbuhan
ekonomi dan berperan dalam mewujudkan stabilitas nasional pada
umumnya dan stabilitas ekonomi pada khususnya.
Penduduk yang datang ke kota dari pedesaan untuk mencari kerja,
pada umumnya adalah urban miskin. Namun demikian, mereka merasakan
bahwa kesempatan hidup, mendapat pekerjaan dan gaji yang lebih baik,
lebih memungkinkan daripada jika mereka tetap tinggal di desa. Tekanan
2
arus penduduk dari desa ke kota setiap tahun yang semakin meningkat,
berdampak pada kurangnya lapangan pekerjaan yang disediakan di
perkotaan terutama Kota Semarang. Hal tersebut disebabkan pula karena
umumnya orang-orang yang masuk ke kota tidak dipersiapkan dengan
pendidikan dan keterampilan yang memadai. Mencari pekerjaaan yang tidak
memerlukan persyaratan salah satunya adalah dengan berjualan sebagai
pedagang kaki lima. Lalu beberapa masalah yang ditimbulkan oleh PKL di
kota biasanya seperti masalah kebersihan serta keindahan kota.
Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 11 Tahun 2000 tentang
Pengaturan dan Pembinaan Pedagang Kaki Lima, peraturan daerah ini
digunakan sebagai dasar kebijakan Pemerintah Kota Semarang untuk
mengatur, menata, dan menertibkan PKL Penegakan hukum dan ketertiban,
agar PKL tertib dan patuh pada ketentuan Perda tersebut. Pengaturan PKL
dilakukan sesuai Pasal (2) yaitu pengadaan, pemindahan dan penghapusan
lokasi PKL ditetapkan oleh Walikota, lokasi dan pengaturan tempat-tempat
usaha PKL ditunjuk dan ditetapkan oleh Walikota, penunjukan dan
penetapan tempat usaha adalah milik atau dikuasai oleh Pemerintah Daerah
atau pihak lain.
Salah satu area penelitian yaitu PKL di Kawasan Terminal Terboyo
yang sering menjadi perbincangan karena keberadaannya. Keberadaan
pedagang kaki lima di Kawasan Terminal Terboyo sering kali menimbulkan
masalah-masalah. Kesan kumuh, liar, merusak keindahan, seakan menjadi
paten yang melekat pada usuha mikro ini. Terminal Terboyo sebenarnya
adalah daerah perindustrian, namun berubah menjadi kawasan Terminal
3
atau transit bus antar kota dalam provinsi maupun luar provinsi dan daerah
atau area perdagangan.
penumpang menjadi terminal angkutan barang untuk pemindahan PKL,
Dishub tengah berkoordinasi dengan Dinas Perdagangan Kota Semarang
agar para PKL direlokasi ke Pasar Banjardowo yang sudah dikoordinasikan
dengan Dinas Perdagangan, selain ke Terminal Mangkang seperti yang
direncanakan sebelumnya. 1
Terminal Penggaron, sudah dikomunikasikan dengan Dishub provinsi.
Sementara bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) ke Terminal
Mangkang koordinasi dengan kementerian. Ini disebabkan, Terminal
Mangkang saat ini pengelolaanya dipegang pemerintah pusat bukan
lagi Pemkot Semarang. Begitu juga Terminal Penggaron pengelolaan
nya menjadi kewenangan Pemprov Jateng. Kami sudah kirim surat ke
Dishub provinsi dan Kemenhub untuk pemindahan bus AKDP ke
Terminal Penggaron dan bus AKAP ke Terminal Mangkang. Kalau
dari kami, ya, berharap secepatnya dimulai pembangunan. 2
Pemerintah kota Semarang harus tegas dalam menangani masalah
pedagang kaki lima, seperti kebijakan yang belum lama terjadi tentang
penggusuran PKL di Sekitaran Kawasan Terminal Terboyo Kota Semarang,
ketika pedagang kaki lima mendatangi Kantor Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah (DPRD) Kota Semarang untuk menolak penggusuran tersebut
padahal ditempat tersebut akan beralih fungsi dari terminal penumpang
menjadi terminal angkutan barang.
_______________________ 1 “ Sudah Mulai Dibongkar, PKL Terminal Terboyo Belum Mau Pindah “, ( http://
Muria News. Blogspot / 2018 / 06. html ), diakses pada tanggal 22 September 2018. 2 Ibid.
4
Pemerintah Kota dalam hal ini Dinas Kebersihan, Satpol PP, Dinas
Tata Ruang dan Bangunan Kota Semarang seharusnya dapat berperan aktif
dalam merumuskan, membina dan mengelola pedagang kaki lima. Berbagai
kebijakan telah dibuat oleh pemerintah kota untuk mengatasi masalah
pedagang kaki lima namun terkadang penerapannya di lapangan tidak sesuai
dengan yang diinginkan. Bertitik tolak dari latar belakang masalah yang
telah dikemukakan di atas, maka dalam penelitian ini penulis mengambil
judul : “ Relokasi Pedagang Kaki Lima ( PKL ) Di Terminal Terboyo Di
Tinjau Berdasarkan Perda Kota Semarang Nomor 11 Tahun 2000 Tentang
Pengaturan Dan Pembinaan PKL “.
permasalahan yang akan dibahas sebagai berikut :
1. Bagaimana Relokasi Pedagang Kaki Lima (PKL) di Terminal Terboyo
Ditinjau Berdasarkan Perda Kota Semarang Nomor 11 Tahun 2000
tentang Pengaturan Dan Pembinaan PKL ?
2. Apa saja kendala-kendala dalam pembinaan Pedagang Kaki Lima (PKL)
di Terminal Terboyo Ditinjau Berdasarkan Perda Kota Semarang Nomor
11 Tahun 2000 tentang Pengaturan Dan Pembinaan PKL dan bagaimana
upaya mengatasinya ?
Tujuan utama yang hendak dicapai peneliti dalam melakukan
penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui Relokasi Pedagang Kaki Lima (PKL) di Terminal
Terboyo Ditinjau Berdasarkan Perda Kota Semarang Nomor 11 Tahun
2000 tentang Pengaturan Dan Pembinaan PKL.
2. Untuk mengetahui kendala-kendala dalam pembinaan Pedagang Kaki
Lima (PKL) di Terminal Terboyo Ditinjau Berdasarkan Perda Kota
Semarang Nomor 11 Tahun 2000 tentang Pengaturan Dan Pembinaan
PKL dan bagaimana upaya mengatasinya.
Manfaat penelitian diharapkan dapat dipergunakan baik secara teoritis
maupun praktis.
a. Dapat memberikan sumbangan dan masukan pemikiran di bidang ilmu
pengetahuan hukum, khususnya mengenai Relokasi Pedagang Kaki
Lima (PKL) di Terminal Terboyo.
b. Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan khasanah
pengetahuan di bidang hukum khususnya dalam pembinaan Pedagang
Kaki Lima (PKL).
2. Manfaat Praktis :
di Terminal Terboyo Ditinjau Berdasarkan Perda Kota Semarang
Nomor 11 Tahun 2000 tentang Pengaturan Dan Pembinaan PKL.
6
Peradilan termasuk Aparatur Penegak Hukum lainnya dalam rangka
menerapkan dan menegakkan Perda dalam pembinaan Pedagang
Kaki Lima (PKL) berdasarkan Perda Kota Semarang Nomor 11
Tahun 2000 tentang Pengaturan Dan Pembinaan PKL.
D. Keaslian Penelitian
Dalam penelitian ini penulis mengambil topik : Relokasi Pedagang
Kaki Lima (PKL) Di Tinjau Berdasarkan Perda Kota Semarang Nomor 11
Tahun 2000 tentang Pengaturan Dan Pembinaan PKL. Penelitian ini
mengambil Studi Kasus PKL Terminal Terboyo Kota Semarang.
Berdasarkan hasil penelusuran yang Penulis lakukan terdapat penulisan
yang serupa secara karakteristik, namun meskipun hampir sama tetap
terdapat perbedaan. Adapun Karya Ilmiah yang hampir serupa di maksud
adalah sebagai berikut :
1. Implementasi Kebijakan Pemerintah Daerah Dalam Pembinaan Pedagang
Kaki Lima : Studi Kasus Pada Pedagang Kaki Lima Di Kelurahan Paropo
Kecamatan Panakukang Kota Makassar ( Nurul Azizah Syam / Nim : E
121 11 609 / Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas
Hasanuddin 2016 ), dengan rumusan masalah sebagai berikut :
a. Bagaimanakah implementasi kebijakan pemerintah dalam pembinaan
pedagang kaki lima di Kota Makassar ( studi kasus di Kelurahan
Paropo Kecamatan Panakukang Kota Makassar ) ?
7
kaki lima di Kota Makassar ( studi kasus di Kelurahan Paropo
Kecamatan Panakukang Kota Makassar ) ?
Kaki Lima Terhadap Usaha Pedagang Kaki Lima Di Surakarta ( Nur
Fatnawati / Nim : 8111409233 / Fakultas Hukum Universitas Negeri
Semarang 2013 ), dengan rumusan masalah sebagai berikut :
a. Bagaimanakah langkah Pemerintah Kota Surakarta dalam penerapan
Peraturan Daerah No. 3 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Pedagang
Kaki Lima ?
b. Bagaimanakah cara Relokasi PKL menurut Peraturan Daerah No. 3
Tahun 2008 tentang Pengelolaan Pedagang Kaki Lima ?
c. Bagaimanakah dampak relokasi bagi Pedagang Kaki Lima dan
masyarakat sekitar ?
Semarang ( Yonathan Katon Adinugroho / Nim : 7465407 / Pascasarjana
Universitas Diponegoro Semarang 2015 ), dengan rumusan masalah
sebagai berikut :
Tlogosari Semarang ?
Peraturan Daerah tersebut ?
4. Implementasi Peraturan Daerah Kota Palembang Nomor 13 Tahun 2007
Pasal 22 Ayat (1) Dan (2) Tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah
Kota Palembang Nomor 44 Tahun 2002 Tentang Ketentraman Dan
Ketertiban Terhadap Pedagang Kaki Lima Di Area Kambang Iwak Kota
Palembang ( Ratika Desyarani / Nim : 02121401095 / Fakultas Hukum
Universitas Sriwijaya Kampus Palembang 2017 ), dengan rumusan
masalah sebagai berikut :
Kaki Lima di area Kambang Iwak ?
b. Upaya-upaya apasaja yang dilakukan Pemerintah Kota Palembang
dalam menangani keberadaan Pedagang Kaki Lima di area Kambang
Iwak Palembang ?
BAB I : Pendahuluan, pada bab ini diuraikan tentang latar belakang
penelitian, rumusan permasalahan, tujuan penelitian, manfaat
penelitian, keaslian penelitian serta sistematika penulisan.
BAB II : Tinjauan Pustaka, pada bab ini berisi tinjauan umum tentang
pedagang kaki lima, tinjauan umum tentang pembinaan
pedagang kaki lima, dan tinjauan umum tentang kebijakan
relokasi pedagang kaki lima.
BAB III : Metode Penelitian, metode penelitian terdiri dari jenis / tipe
panelitian yang menggunakan yuridis empiris, spesifikasi
penelitian menggunakan deskriptif analitis, metode
pengumpulan data menggunakan teknik pengumpulan data
penelitian lapangan dan penelitian kepustakaan yang meliputi
bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, metode
analisis datanya menggunakan analisis kualitatif.
BAB IV : Hasil Penelitian Dan Pembahasan, uraian mengenai Relokasi
Pedagang Kaki Lima (PKL) di Terminal Terboyo serta kendala-
kendala dalam pembinaan Pedagang Kaki Lima (PKL) di
Terminal Terboyo Ditinjau Berdasarkan Perda Kota Semarang
Nomor 11 Tahun 2000 tentang Pengaturan Dan Pembinaan PKL
dan bagaimana upaya mengatasinya.
10
Pada saat ini keberadaan sektor informal di daerah perkotaan pada
khususnya di Kota Semarang telah menjadi masalah yang penting, terbukti
dengan angka pertumbuhan yang cukup pesat. Selain itu, sektor informal
juga mempunyai peranan yang cukup besar dalam menyerap angkatan kerja.
Tadjudin Noer Effendi, menyatakan bahwa ada kecenderungan pada
proporsi pekerja-pekerja sektor informal yang semakin kecil dengan
semakin besarnya suatu kota. Perbedaan ini terkait dengan konsentrasi
kegiatan ekonomi. Kegiatan ekonomi moderen dari sektor industri
cenderung mengelompok di kota-kota besar, akibatnya sifat
permintaan atas pelayanan barang dan jasa di kota-kota besar lebih
bersifat formal dari pada informal. Kegiatan sektor informal memiliki
karasteristik sebagai berikut :
2. Menggunakan sumber-sumber asli ;
4. Skala operasinya kecil ;
6. Keterampilan yang diperoleh di luar pendidikan formal ; dan
7. Pasar yang kompetitif dan tak terlindungi oleh undang-undang. 3
Ciri-ciri dari sektor informal pada umumnya dapat dilihat dari
kacenderungan masyarakat pada umumnya, yang dapat dihubungkan
dengan ada tidaknya bantuan secara ekonomi dari pemerintah, yaitu ciri-
cirinya antara lain sebagai berikut :
1. Aktivitasnya tidak terorganisisir secara baik, karena timbulnya tak
berlangsung melalui lembaga yang ada pada perekonomian moderen ;
_______________________
3 Tadjudin Noer Effendi, “Sumber Daya Manusia Peluang Kerja Dan Kemiskinan“,
Cetakan Ke-II, ( Yogyakarta : PT. Tiara Wacana Yogya, 2016 ), halaman 190.
11
2. Tidak mempunyai hubungan langsung dengan pemerintah ;
3. Pada umumnya setiap unit usaha tidak mempunyai izin usaha dari
pemerintah ;
4. Pola kegiatannya tidak teratur, baik dalam arti tempat maupun mengenai
jam kerja ;
5. Mudah untuk keluar dan masuk dari satu sub ke sub sektor yang lain ;
6. Karena modal dan peralatan serta perputaran usaha relatif kecil, maka
skala operasinya kecil ;
8. Untuk mengelola usaha tidak diperlukan tingkat pendidikan tertentu,
karena pendidikan yang diperlukan dapat diperoleh dari pengalaman saat
melakukan perdagangan ;
9. Kebanyakan termasuk one man enterprise, buruh yang berasal dari
lingkungan keluarga, maka bersifat family enterprise ;
10. Sumber dana untuk modal umumnya berasal dari tabungan sendiri atau
dari sumber keuangan tidak resmi ; dan
11. Hasil produksi atau jasa terutama dikonsumsi oleh golongan
masyarakat kota maupun desa berpenghasilan rendah dan kadang-
kadang golongan menengah.
informal adalah sebagai berikut :
a) Pola kegiatannya tidak teratur, baik dalam arti waktu, permodalan,
maupun penerimaannya ;
b) Tidak tersentuh oleh peraturan atau ketentuan yang ditetapkan oleh
pemerintah ;
kecil dan diusahakan atas dasar perhitungan harian ;
d) Umumnya tidak mempunyai tepat usaha yang permanen dan
terpisah dari tempat tinggalnya ;
f) Umumnya dilakukan oleh dan untuk melayani golongan
masyarakat yang berpenghasilan rendah ;
dapat dengan mudah menyerap bermacam-macam tingkat
pendidikan tenaga kerja ;
kenalan atau berasal dari daerah yang sama ; serta
i) Tidak menganal sistem perbankan, pembukuan, perkreditan, dan
lain sebagainya. 4
Dari definisi yang telah dikemukakan di atas dengan beberapa ciri,
tampak bahwa sektor informal merupakan suatu istilah yang mencakup
berbagai kegiatan usaha yang bersifat wiraswasta dimana campur tangan
pemerintah terutama dalam hal permodalan sangatlah kurang. Begitu juga
dengan aturan-aturan hukum yang tampaknya jauh dari jangkauan sehingga
kehadirannya dianggap melanggar norma terutama ketertiban umum. Oleh
karena itu banyak pihak yang memposisikan sektor informal sebagai bagian
dari sektor ekonomi minor yang seolah-olah mengurangi kemanfaatan
sektor informal itu sendiri.
sektor ekonomi yang dapat dibina dan dikembangkan menjadi kekuatan
ekonomi riil. Hal tersebut disebabkan karena ditinjau dari daya serapnya,
ternyata jumlah pekerja sektor informal ini semakin meningkat. Besarnya
daya serap tersebut sebenarnya merupakan cerminan bahwa sektor formal
dirasa sudah tidak mampu lagi untuk menampung penambahan angkatan
_______________________
Cetakan Ke-V, ( Jakarta : LP3ES, 2015 ), halaman 5.
13
informal. Hanya saja apabila sudah tidak tersedia lagi…