Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

of 73 /73
STUDI KERUSAKAN TIMING BELT PADA SISTEM TRANSMISI SHAFT PAYOFF HAR 2000 MESIN CABLING DRUM TWISTER DI PT. XX Laporan ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat menyelesaikan pendidikan Diploma III Program Studi Teknik Mesin Di Jurusan Teknik Mesin Oleh: Jeffry Irwansyah NIM. 3213110092 POLITEKNIK NEGERI JAKARTA 2016

Transcript of Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

Page 1: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

STUDI KERUSAKAN TIMING BELT PADA SISTEM

TRANSMISI SHAFT PAYOFF HAR 2000 MESIN CABLING

DRUM TWISTER DI PT. XX

Laporan ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat menyelesaikan pendidikan

Diploma III Program Studi Teknik Mesin

Di Jurusan Teknik Mesin

Oleh:

Jeffry Irwansyah NIM. 3213110092

POLITEKNIK NEGERI JAKARTA

2016

Page 2: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

i

Page 3: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

ii

Page 4: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

iii

Page 5: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

iv

Page 6: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

v

STUDI KERUSAKAN TIMING BELT PADA SISTEM

TRANSMISI SHAFT PAYOFF HAR 2000 MESIN CABLING

DRUM TWISTER DI PT. XX

Jeffry Irwansyah1, Dewin Purnawa2

1Mahasiswa pada Jurusan Teknik Mesin, Konsentrasi Perawatan, 2Dosen

Pembimbing pada Jurusan Teknik Mesin

Politeknik Negeri Jakarta. Jalan Prof. Dr. GA. Siwabessy, Kampus UI, Depok 16425

Email: [email protected]

ABSTRAK

Mesin Cabling Drum Twister merupakan mesin yang memiliki peran penting dalam

proses produksi kabel dan hanya ada satu pada PT. XX. Berbagai kerusakan pada mesin

tersebut sering terjadi, khususnya pada shaft transmisi Payoff HAR2000. Pada shaft

transmisi tersebut, terdapat berbagai komponen – komponen transmisi seperti timing belt,

timing pulley, bearing, kopling. Salah satu keruskan komponen yang terjadi pada shaft

transmisi tersebut adalah kerusakan pada timming belt. Kerusakan timming belt pada shaft

transmisi bisa terjadi sebulan satu kali. bahkan, permasalahan tersebut dijadikan sebagai

topik QCC (Quality Control Circle) di PT. XX dikarenakan belum ditemukan solusi yang

tepat.

Penelitian ini menggunakan RCFA (Root Cause Failure Analysis) metode Fish

Bones untuk mencari tahu akar permasalahan yang terdapat pada kerusakan timing belt.

Selain itu, penelitian ini juga akan menjelaskan dampak-dampak kerusakan dan

menentukan solusi yang tepat dalam mengatasi kerusakan tersebut.

Dari hasil Failure Analysis dengan metode Fish Bones, kerusakan timing belt

disebabkan oleh sistem perawatan yang sangat buruk dan pengaruh dari komponen lain

pada shaft tersebut, seperti bearing, kopling, pulley timing, shaft dan HAR 2000. Dampak

yang timbul akibat kerusakan timing belt adalah Ketersedian mesin yang buruk dan

Kualitas produk yang buruk. Solusi yang tepat adalah memahami sistem instalasi timing

belt dan mengubah sistem perawatan menjadi Planned Maintenance.

Kata Kunci: Mesin Cabling Drum Twister, Timing Belt, Failure Analysis, Maintenance

Page 7: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

vi

THE STUDY OF THE FAILURE TIMING BELT ON SYSTEM

TRANSMISSION OF HAR 2000 SHAFT PAYOFF CABLING

DRUM TWISTER MACHINE

Jeffry Irwansyah1, Dewin Purnawa2

1The students of Mechanical Engineering, Maintenance and Installation

concentration, 2The Lectures of Mechanical Engineering

Politeknik Negeri Jakarta. Jalan Prof. Dr. GA. Siwabessy, Kampus UI, Depok 16425

Email: [email protected]

ABSTRACT

Drum Twister Cabling Machine is the machine that have important role for the

process of cable and it is the only one in PT. XX. The failure of that machine often occur,

especially in shaft transmission Payoff HAR2000. In that shaft transmission, there are some

components, such as timing belts, timing pulley, bearing and coupling. The one of the

failure that often occur is the failure of timing belt. The failure of timing belt in shaft

transmission could happen once a month. In fact, this problem is being as QCC (Quality

Control Circle) subject in PT. XX because it can’t solve until now.

This research uses the RCFA (Root Cause Failure Analysis) Fish Bones Method

in order to know the root of the problem which occurred in the failure of timing belt.

Furthermore, this research also will explain the effects of the failure and decide the best

solution in order to resolve that failure.

From the result of the failure analysis with Fish Bones Method, the failure of timing

belt caused by the maintenance system which is really bad and the effect from other

components in that shaft, such as bearing, coupling, pulley timing, shaft, and HAR 2000.

The effects that emerged from that failure are having poor availability and bad quality

product. The best solutions are understanding the installation system of timing belt and

changing the maintenance system into Planned Maintenance.

Key Word: Cabling Drum Twister Machine, Timing Belt, Failure Analysis, Maintenance.

Page 8: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

vii

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji syukur atas kehadirat Allah SWT, karena atas

ridho hidayah dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan laporan tugas akhir

ini.

Maksud dari tujuan pembuatan tugas akhir ini adalah untuk memenuhi

persyaratan kelulusan program diploma III pada jurusan Teknik Mesin Politeknik

Negeri Jakarta. Selain itu, penulis juga mengimplementasikan dan membandingkan

ilmu pengetahuan dan keterampilan yang didapat di bangku kuliah dengan

kenyataan yang ada pada dunia industri.

Penulis merasa masih mendapatkan kesulitan dan hambatan pada

penyusunan laporan tugas akhir ini. Disamping itu, penulis juga menyadari bahwa

laporan ini masih banyak terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Untuk

itu, penulis sangat membutuhkan saran dan kritik yang membangun dari semua

pihak.

Penulis menyadari bahwa penyusunan laporan ini tidak lepas dari bantuan

berbagai pihak. Untuk itu, pada kesempatan kali ini penulis ingin manyampaikan

ucapan terima kasih kepada:

1) Ketua Jurusan Teknik Mesin, Bapak Dr. Belyamin, MSc.Eng,

B.Eng. (Hons)

2) Ketua Program Studi Teknik Mesin, Ibu Indriyani Rebet, M.Si.

3) Bapak Dewin Purnama, S.T. M.T. sebagai dosen pembimbing yang

telah meluangkan banyak waktu untuk membimbing penulis dalam

menyusun laporan tugas akhir ini.

4) Bapak Yudha Herlanda, S.T. sebagai dosen pembimbing OJT yang

telah meluangkan banyak waktu untuk membimbing penulis dalam

menyusun laporan tugas akhir ini

5) Staf Administrasi Jurusan Teknik Mesin yang telah membantu

penulis dalam mengurus proposal tugas akhir.

Page 9: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

viii

6) Staf pengajar Jurusan Teknik Mesin yang telah membimbing dan

memberikan materi perkuliahan pada penulis.

7) Staf Perpustakaan Politeknik Negeri Jakarta yang telah membantu

penulis dalam peminjaman buku.

8) Staf PT. Voksel Electric Tbk yang telah membantu penulis dalam

penyusunan laporan tugas akhir ini.

9) Seluruh keluarga saya, khususnya mama dan papa, yang telah

banyak memberikan motivasi, saran dan kritik yang membangun.

10) Seluruh rekan-rekan mahasiswa Jurusan Teknik Mesin, khususnya

angkatan 2013 yang telah memberikan saran dan kritik untuk penulis

11) Seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah

banyak membantu selama ini.

Akhir kata, semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan ridho, hidayah dan

karunia-Nya dan membalas segala amal budi kepada pihak-pihak yang menbantu

penulis dalam penyusunan tugas akhir ini. Dan juga, penyusunan laporan tugas

akhir ini berguna dan bermanfaat bagi pihak yang membutuhkan

Jakarta, Agustus 2016

Penulis

Page 10: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

ix

DAFTAR ISI

Halaman Pengesahan Pembimbing .......................................................................... i

Halaman Pengesahan Penguji ................................................................................. ii

Halaman Pengesahan Ketua Jurusan ...................................................................... iii

Halaman Bebas Plagiasi ......................................................................................... iv

Abstrak ..................................................................................................................... v

Kata Pengantar ...................................................................................................... vii

Daftar isi ................................................................................................................. ix

Daftar Tabel ........................................................................................................... xi

Daftar Gambar ....................................................................................................... xii

Daftar Lampiran ................................................................................................... xiv

BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1

1.1. Latar Belakang ............................................................................................... 1

1.2. Perumusan Masalah ....................................................................................... 2

1.3. Tujuan Penelitian ........................................................................................... 2

1.4. Pembatasan Masalah ..................................................................................... 3

1.5. Lokasi Objek Tugas Akhir ............................................................................ 3

1.6. Garis Besar Metode Penyelesaian ................................................................. 3

1.7. Manfaat Penelitian ......................................................................................... 3

1.8. Sistematika Penulisan Tugas Akhir ............................................................... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................ 6

2.1. Definisi Drum Twister SKET ........................................................................ 6

2.2. Shaft Transmisi Payoff HAR 2000 Mesin Cabling DT ................................. 9

2.2.1. HAR 2000 dan HAR 3000 ................................................................. 9

2.2.2. Transmisi Gearbox ........................................................................... 10

2.2.3. Belt dan Puli ..................................................................................... 12

2.2.4. Poros Transmisi ................................................................................ 13

2.2.5. Bearing ............................................................................................. 14

2.2.6. Kopling ............................................................................................. 16

2.2.7. Motor DC ......................................................................................... 19

Page 11: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

x

2.3. Root Cause Failure Analysis ....................................................................... 19

2.4. Definisi Pemeliharaan ................................................................................. 22

2.4.1. Pemeliharaan Terencana (Planned Maintenance) ............................ 23

2.4.2. Definisi Penjadwalan ....................................................................... 25

BAB III METODOLOGI .................................................................................... 27

3.1. Diagram Alir Penyelesaian Masalah .......................................................... 27

3.1. Metode Pelaksanaan .................................................................................... 28

3.1.1. Observasi Kerusakan Komponen Sistem Transmisi ........................ 28

3.1.2. Metode Pengumpulan Data .............................................................. 28

3.1.3. Root Cause Failure Analysis Metode Fish Bones ............................ 29

3.1.4. Menjelaskan Dampak – Dampak kerusakan .................................... 30

3.1.5. Menentukan Solusi ........................................................................... 30

3.1.6. Menetapkan Kesimpulan .................................................................. 30

BAB IV DATA-DATA DAN PEMBAHASAN .................................................. 31

4.1. Hasil Observasi Kerusakan Komponen Shaft Transmisi ............................ 31

4.2. Analisa Fish Bones Timing Belt .................................................................. 38

4.3. Dampak Akibat Kerusakan Timing Belt ..................................................... 45

4.4. Solusi Penyelesaian Kasus Kerusakan Shaft Timing Belt .......................... 47

4.4.1. Pemahaman Katalog Timing Belt .................................................... 47

4.4.2. Melakukan Proses Instalasi Timing Belt Sesuai Prosedur ............... 48

4.4.3. Menetapkan Planned Maintenance .................................................. 50

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................... 54

5.1. Kesimpulan .................................................................................................. 54

5.2. Saran ............................................................................................................ 55

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 57

LAMPIRAN

Page 12: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

xi

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Frekuensi Kerusakan MesinCabling Drum Twister 2015 .............. 32

Tabel 4.2 Data Kerusakan Mesin Cabling Drum Twister Februari 2015 ...... 33

Tabel 4.3 Data Kerusakan Mesin Cabling Drum Twister Maret 2015 .......... 33

Tabel 4.4 Data Kerusakan Mesin Cabling Drum Twister April 2015 ........... 34

Tabel 4.5 Data Kerusakan Mesin Cabling Drum Twister Mei 2015 ............. 34

Tabel 4.6 Data Kerusakan Mesin Cabling Drum Twister Juni 2015 ............. 35

Tabel 4.7 Data Kerusakan Mesin Cabling Drum Twister Juli 2015 .............. 35

Tabel 4.8 Data Kerusakan Mesin Cabling Drum Twister Agustus 2015 ....... 36

Tabel 4.9 Data Kerusakan Mesin Cabling Drum Twister September 2015 ... 36

Tabel 4.10 Data Kerusakan Mesin Cabling Drum Twister jaunari 2016 ......... 37

Tabel 4.11 Data Kerusakan Mesin Cabling Drum Twister Februari 2016 ...... 37

Tabel 4.12 Gearbox Schwermachinenbau Magdeburg GmBH ........................ 39

Tabel 4.13 Beban Drum Twister ...................................................................... 40

Tabel 4.14 Checklist Scheduling Preventive Maintenace ................................ 51

Page 13: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

xii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Proses Cabling Drum twister ........................................................... 6

Gambar 2.2 Proses Cabling Drum twister ........................................................... 6

Gambar 2.3 Proses Screening .............................................................................. 7

Gambar 2.4 Proses Armouring ............................................................................ 7

Gambar 2.5 Konstruksi Drum Twister ................................................................. 8

Gambar 2.6 Komponen Shaft Transmisi Payoff HAR 2000 ............................... 9

Gambar 2.7 Bobbin Twister HAR 2000 ............................................................ 10

Gambar 2.8 Gearbox Payoff Mesin Cabling Drum Twister .............................. 11

Gambar 2.9 Timming Belt S14M 1890 dan Pulley Transmisi .......................... 12

Gambar 2.10 Poros Transmisi Mesin Cabling Drum Twister ............................ 14

Gambar 2.11 Fix Block Bearing .......................................................................... 15

Gambar 2.12 Pillow Block Bearing UCP 211-55 ................................................ 15

Gambar 2.13 Konstruksi Pillow Block Bearing UCP 211-55 ............................ 16

Gambar 2.14 Kopling ........................................................................................... 17

Gambar 2.15 Universal Joint ............................................................................... 18

Gambar 2.16 Motor DC ....................................................................................... 19

Gambar 2.17 Proses RCFA .................................................................................. 20

Gambar 2.18 Proses Analisa Metode Fish Bones ................................................ 22

Gambar 3.1 Diagram Alir Penyelesaian Masalah .............................................. 27

Gambar 3.2 Diagram Fish Bones ....................................................................... 29

Gambar 4.1 Keausan Pada Timing Belt ............................................................. 31

Gambar 4.2 Timing Belt Putus .......................................................................... 31

Gambar 4.3 Diagram Pareto Kerusakan Mesin Cabling Drum Twister ............ 32

Gambar 4.4 Diagram Fish Bones Kerusakan Timing Belt ................................ 38

Gambar 4.5 Diagram Design Timing Belt ......................................................... 39

Gambar 4.6 Pengelasan Pada Kopling, Misalignment dan Kurang Baut .......... 41

Gambar 4.7 Pengelasan Pada Bearing ............................................................... 42

Gambar 4.8 Kerusakan Gear Kopling (aus) ....................................................... 44

Gambar 4.9 Kerusakan HAR 2000 .................................................................... 44

Page 14: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

xiii

Gambar 4.10 Kerusakan Pulley Timing ............................................................... 45

Gambar 4.11 Kabel Longgar Pada Proses Cabling .............................................. 46

Gambar 4.12 Produk Gagal Kabel Medium Voltage ........................................... 46

Gambar 4.13 Kelurusan Kedua Puli .................................................................... 48

Gambar 4.14 Proses Pemasangan Timing Belt .................................................... 49

Gambar 4.15 Proses Pengencangan Belt (Sebelum) ............................................ 49

Gambar 4.16 Proses Pengencangan Belt (Sesudah) ............................................ 50

Gambar 4.17 Prosedur Proses Alignment ............................................................ 50

Page 15: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Gambar Konstruksi Mesin Cabling Drum Twister 2010.

Lampiran 2. Konstruksi Fix Block Bearing.

Lampiran 3. Data Beban Twister HAR 2000.

Lampiran 4. Katalog Maintenance Gearbox

Lampiran 5. Katalog Maintenance Timing Belt dan Puli

Lampiran 6. Katalog Maintenance Gear Kopling

Lampiran 7. Katalog Maintenace Universal Joint

Lampiran 8. Katalog Maintenance Bearing

Page 16: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang.

Mesin Cabling Drum Twister SKET adalah salah satu mesin manufaktur

yang mempunyai peran penting pada proses pembuatan kabel medium voltage.

Proses pada mesin ini merupakan proses kelima pembuatan kabel (setelah Al Cast,

Stranding, Extruder dan Screening), yaitu beberapa kabel digabungkan menjadi

satu (proses cabling). Pada PT XX, tingkat kinerja pada mesin tersebut sangatlah

tinggi karena setiap hari mesin tersebut beroperasi. Hal tersebut dikarenakan Mesin

Cabling Drum Twister SKET hanya ada satu pada perusahaan tersebut. Akibat

kinerja mesin yang sangat tinggi, berbagai kerusakan sering terjadi pada mesin

tersebut.

Salah satu kerusakan yang sering terjadi pada mesin tersebut adalah

kerusakan sistem transmisi pada Shaft Payoff HAR 2000 Mesin Cabling Drum

Twister SKET. Kerusakan tersebut sangatlah fatal mengingat transmisi merupakan

salah satu komponen vital sebagai tenaga penggerak mesin. Pada shaft transmisi

Payoff HAR 2000, terdapat berbagai komponen – komponen transmisi seperti

timming belt, timming pulley, bearing (Fix Block dan Pillow Block), kopling teflon,

dan gear kopling. Salah satu kerusakan yang sering terjadi adalah timming belt

(putus dan aus)

Salah satu hal terpenting yang dikaitkan dengan kerusakan mesin adalah

downtime. Ketika kerusakan timing belt tersebut terjadi, mesin tersebut bisa

mengalami downtime yang cukup lama, hingga mencapai 1-10 jam. Hal tersebut

sangatlah menghambat proses produksi kabel medium voltage pada mesin tersebut

mengingat produk kabel medium voltage adalah salah satu produk unggulan PT

XX. Bahkan, permasalahan kerusakan shaft transmisi ini dijadikan sebagai topik

QCC (Quality Control Circle) 2016 pada devisi maintenance PT XX dikarenakan

belum menemukan solusi terbaik untuk memecahkan permasalahan tersebut hingga

saat ini.

Page 17: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

2

Oleh karena itu, perlu diselidiki sebab akibat kerusakan yang terjadi pada

komponen sistem transmisi tersebut guna memperlancar proses produksi kabel

medium voltage dan terhindar dari downtime. Penulis akan melakukan studi

kerusakan timing belt pada sistem transmisi Shaft Payoff HAR 2000 Mesin Cabling

Drum Twister guna mengetahui akar permasalahan pada kerusakan tersebut,

menganalisis dampaknya dan menentukan solusi terbaik dalam memecahkan

permasalahan tersebut.

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka

permasalahan yang akan ditinjau dan dicari penyelesainnya adalah:

1. Apa penyebab kerusakan timing belt pada sistem transmisi Shaft Payoff

HAR 2000 Mesin Cabling Drum Twister?

2. Dampak apa saja yang ditumbulkan akibat kerusakan timing belt pada

sistem transmisi Shaft Payoff HAR 2000 Mesin Cabling Drum Twister?

3. Bagaimana menentukan solusi terbaik akibat kerusakan timing belt pada

sistem transmisi Shaft Payoff HAR 2000 Mesin Cabling Drum Twister?

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah:

a. Menganalisa kerusakan timing belt pada sistem transmisi Shaft

Payoff HAR 2000 pada mesin Cabling Drum Twister.

b. Menganalisa dampak – dampak yang timbul apabila terjadi

kerusakan timing belt pada sistem transmisi Shaft Payoff HAR 2000

Mesin Cabling Drum Twister.

c. Menentukan solusi terbaik dalam pemecahan masalah kerusakan

timing belt pada sistem transmisi Shaft Payoff Mesin Cabling Drum

Twister.

Page 18: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

3

1.4. Pembatasan masalah

Agar pembahasan pada penelitian ini dapat terfokus, maka penulis

menentukan batasan masalah sebagai berikut:

a. Hanya membahas kerusakan timing belt pada sistem transmisi Shaft

Payoff HAR 2000 Mesin Cabling Drum Twister dengan

menggunakan RCFA (Root Cause Failure Analysis) metode Fish

Bones.

b. Hanya membahas Planned Maintenance dari referensi katalog dan

tinjauan pustaka dalam menentukan solusi untuk mengatasi

kerusakan timing belt pada sistem transmisi Shaft Payoff HAR 2000

Mesin Cabling Drum Twister.

1.5. Lokasi Objek Tugas Akhir.

Nama Perusahaan : PT. VOKSEL ELECTRIC Tbk

Alamat : Jl. Raya Narogong Km. 16 Cileungsi – Bogor,

16820

1.6. Garis Besar Metode Penyelesaian.

Garis besar metode penyelesaian yang akan penulis ambil dalam

menyelesaikan permasalahan adalah RCFA (Root Cause Failure Analysis)

Metode Fish bones untuk menganalisis sebab akibat kerusakan.

1.7. Manfaat penelitian:

a. Mendapat pengetahuan mengenai penggunaan Metode Analisa

Kerusakan (Root Cause Failure Analysis) dalam memecahkan

berbagai permasalahan kerusakan yang terjadi pada Rotating

Equipment, seperti Shaft Transmisi.

b. Mendapat Pengetahuan mengenai Planned Maintenance dalam

menentukan solusi suatu kerusakan.

Page 19: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

4

c. Hasil penelitian akan dijadikan sebagai acuan/referensi untuk Divisi

Maintenance PT.X untuk menganalisis berbagai kerusakan yang

terjadi pada Shaft Transmisi Payoff HAR 2000 Mesin Cabling Drum

Twister guna mengoptimalkan kinerja mesin tersebut dan

menghindari berbagai kerusakan yang mengacu kepada Downtime

1.8. Sistematika Penulisan Tugas Akhir

1. Bagian Awal

Bagian awal tugas akhir terdiri dari halaman judul, halaman pengesahan,

halaman bebas plagiasi, abstrak, kata pengantar, daftar isi, daftar gambar,

daftar tabel, dan daftar lampiran.

2. Bagian Utama

Bagian utama tugas akhir terdiri dari 5 bab yaitu:

BAB I Pendahuluan

Pendahuluan, dalam hal ini penulis menguraikan tentang latar belakang,

permasalahan, tujuan, manfaat penelitian, penegasan istilah, dan sistematika

tugas akhir.

BAB II Studi Pustaka

Studi Pustaka, yaitu bab yang menguraikan tentang kajian pustaka baik dari

buku-buku ilmiah, maupun sumber-sumber lain yang mendukung penelitian

ini.

BAB III Metodologi

Metodologi penelitian, yaitu bab yang menguraikan tentang objek

penelitian, variabel, metode penelitian, metode pengumpulan data, dan

metode analisis data.

BAB IV Data Dan Pembahasan

Data dan pembahasan, yaitu bab yang menguraikan tentang hasil penelitian

dan pembahasan dari data yang telah diperoleh.

BAB V Kesimpulan

Simpulan dan saran, yaitu bab yang berisi simpulan hasil dan saran serta

hasil penelitian.

Page 20: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

5

C. Bagian Akhir

1. Daftar Pustaka

2. Lampiran

3. Riwayat hidup penulis (tanpa foto)

Page 21: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Drum Twister SKET

Gambar 2.1 Proses Cabling Drum Twister

Drum Twister SKET merupakan salah satu mesin manufaktur

produksi kabel yang memiliki berbagai macam proses yang terdapat pada

mesin tersebut. Ada 3 macam proses yang terdapat pada Mesin Drum

Twister tersebut.

1. Proses Cabling

Proses Cabling adalah proses menggabungkan beberapa

kabel (penghantar yang sudah ada isolasinya).

Gambar 2.2 Proses Cabling Drum Twister

Page 22: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

7

2. Proses Screening

Screening merupakan proses yang memasangkan bahan

pelindung (tetapi bukan jenis baja, melainkan dengan tembaga

dan alumunium) pada suatu kabel jenis tertentu.

Gambar 2.3 Proses Screening Kabel

3. Proses Armouring

Proses armouring merupakan proses pemberian pelindung

berupa kawat baja pipih atau bulat. Proses ini dilakukan untuk

kabel jenis tertentu yang nantinya membutuhkan perlindungan

ekstra.

Gambar 2.4 Proses Armouring

Page 23: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

8

Gambar 2.5 Konstruksi Drum Twister.

(Arsip Gambar Mesin Cabling Drum Twister, 2016)

Page 24: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

9

Dilihat dari Kontruksi Mesin Drum Twister SKET, terdapat berbagai

proses aplikasi yang ada pada mesin tersebut. Akan tetapi, komponen mesin

seperti Screening, Taping, dan Armouring sudah dilepas karena sering terjadi

kerusakan pada komponen mesin tersebut. Untuk itu, Mesin Drum Twister

SKET hanya digunakan untuk proses Cabling kabel. Oleh karena itu, nama

Mesin Drum Twister SKET berubah nama menjadi Mesin Cabling Drum

Twister SKET dikarenakan hanya digunakan untuk proses Cabling.

2.2. Shaft Transmisi Payoff HAR 2000 Mesin Cabling Drum Twister.

Gambar 2.6 Komponen shaft transmisi Payoff HAR 2000.

Komponen sistem transmisi pada shaft payoff mesin Drum Twister

meliputi:

2.2.1 HAR 2000 dan 3000

HAR 2000 dan 3000 adalah twister pada mesin drum twister

untuk meletakan bobbins payoff dengan memiliki spesifikasi ukuran

diameter bobbins tersebut. Untuk HAR 2000 digunakan untuk

pengangkatan bobbin dengan ukuran diameter 2000[mm],

sedangkan untuk HAR 3000 digunakan untuk pengankatan bobbin

dengan ukuran diameter 3000[mm].

Page 25: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

10

Gambar 2.7 Bobbins Twister HAR 2000.

2.2.2 Transmisi Gearbox

Transmisi pada umumnya dimaksudkan suatu mekanisme

yang dipergunakan untuk memindahkan gerakan dan daya elemen

mesin yang satu ke gerakan elemen mesin yang kedua. Gerakan ini

dapat memiliki berbagai sifat, seperti halnya pada mekanisme

batang hubung engkol, diamana gerakan putar sebuah poros

dipindahkan ke gerakan lurus sebuah torak atau sebaliknya.

Transmisi putar dapat dibagi dalam 2 jenis yaitu:

a. Transmisi langsung, dimana sebuah piringan atau roda pada

poros yang satu dapat menggerakan roda serupa itu pada

poros kedua melalui kontak langsung. Misalnya roda gesek

dan roda gigi.

b. Transmisi dengan mengunakan sabuk atau rantai

Page 26: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

11

Gambar 2.8 Gearbox Payoff Mesin Cabling Drum Twister.

Dalam beberapa unit mesin, mesin memiliki sistem

pemindah tenaga yaitu gearbox. Gearbox berfungsi untuk

menyalurkan tenaga atau daya mesin ke salah satu bagian mesin

lainnya, sehingga unit tersebut dapat bergerak menghasilkan sebuah

pergerakan baik putaran maupun pergeseran. Gearbox merupakan

suatu alat khusus yang diperlukan untuk menyesuaikan daya atau

torsi (momen/daya) dari motor yang berputar dan gearbox juga

adalah alat pengubah daya dari motor yang berputar menjadi tenaga

yang lebih besar. Merubah momen puntir yang akan diteruskan ke

spindel mesin. (Jac Stolk, 1981)

Gearbox atau transmisi roda gigi adalah salah satu

komponen utama motor yang disebut sebagai sistem pemindah

tenaga, transmisi berfungsi untuk memindahkan dan mengubah

tenaga dari motor yang berputar, yang digunakan untuk memutar

spindel mesin maupun melakukan gerakan feeding. Transmisi ini

juga berfungsi untuk mengatur kecepatan gerak, torsi dan membalik

putaran, sehingga dapat bergerak maju dan mundur. Transmisi

manual atau lebih dikenal dengan sebutan gearbox, mempunyai

beberapa fungsi antara lain:

1. Merubah momen puntir yang akan diteruskan ke spindel mesin.

2. Menyediakan rasio gigi yang sesuai dengan beban mesin.

3. Menghasilkan putaran mesin tanpa selip

Page 27: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

12

2.2.3 Belt dan Puli

Penggerak sabuk fleksibel digunakan dalam transmisi power

di industri, khusunya ketika kecepatan dari penggerak dan poros

yang digerakan harus berbeda atau jika poros-poros harus jauh

terpisah. Kecenderungan terhadap penggerak mula kecepatan yang

lebih tinggi dan kebutuhan untuk mencapai yang lebih lambat,

kecepatan yang digerakan yang berguna adalah faktor tambahan

yang mendukung pengunaan sabuk (belts). Sabuk (belt) mempunyai

sejumlah keuntungan diatas transmisi power yang lain. Keuntungan

tersebut meliputi, hemat, bersih, tidak perlu pelumas, biaya

perawatan rendah, instalasi mudah meredam beban kejut, dapat

digunakan untuk clutching dan transmisi power cepat yang

bervariasi antara poros yang berjarak jauh. (Agus Edy Pramono,

2014)

Gambar 2.9 Timming Belt S14M 1890 dan Pulley Transmisi Mesin Cabling

Drum Twister.

Salah satu contoh belt yang digunakan pada shaft transmisi

payoff HAR2000 adalah timing belt. Timing belt merupakan aksi

gabungan antara chain dan sprocket pada bentuk flat belt. Bentuk

dasarnya merupakan flat yang memiliki gigi-gigi berukuran sama

pada permukaan kotak dengan gigi pulley. Sebagaimana penggerak

gear rantai, membutuhkan kelurusan pada perpasangan pulley.

Keuntungan timing belt ini adalah sebagai berikut. (Wikpedia/belt,

2016)

a. Tidak terjadi slip atau variasi kecepatan.

Page 28: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

13

b. Membutuhkan perawatan yang ringan.

c. Mampu digunakan pada range beban yang lebar.

d. Memiliki efficiency mekanis tinggi karena tidak terjadi

gesekan atau slip, initial tension berkurang dan memiliki

kontruksi yang tipis.

2.2.4 Poros transmisi.

Poros transmisi (transmission shaft) atau sering hanya

disebut poros (shaft) digunakan pada mesin rotasi untuk

mentransmisikan putaran dan torsi dari satu lokasi ke lokasi yang

lain. Poros mentransmisikan torsi dari driver (motor atau engine) ke

driven. Komponen mesin yang sering digunakan bersamaan dengan

poros adalah roda gigi, puli dan sproket. Transmisi torsi antar poros

dilakukan dengan pasangan roda gigi, sabuk atau rantai.

Poros bisa menjadi satu dengan driver, seperti pada poros

motor dan engine crankshaft, bisa juga poros bebas yang

dihubungkan ke poros lainnya dengan kopling. Sebagai dudukan

poros, digunakan bantalan. (Agus Edy Pramono, 2014)

Berikut ini adalah tegangan – tegangan yang bisa terjadi pada

poros.

a. Tegangan geser punter yang diakibatkan karena perpindahan

torsi (terjadi akibat dari beban torsi).

b. Tegangan bending (tegangan atau tekanan) yang diakibatkan

karena gaya yang terjadi pada elemen mesin seperti gear, puli

dan sebagainya sama seperti gaya yang terjadi akibat berat dari

poros itu sendiri.

c. Tegangan kombinasi torsi dan bending

Page 29: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

14

Gambar 2.10 Poros Transmisi Mesin Cabling Drum Twister.

2.2.5 Bearing

Bearing adalah suatu elemen mesin yang menumpu poros

berbeban, sehingga putaran atau gerakan bolak-baliknya dapat

berlangsung secara halus, aman, dan berumur panjang. Bearing ini

harus cukup kokoh untuk menahan beban dari poros yang terhubung

dengan komponen mesin lainya sehingga dapat berputar, bekerja

sesuai dengan fungsinya. Jika bantalan tidak berfungsi dengan baik,

maka prestasi seluruh sistem akan menurun bahkan bisa terhenti.

Bantalan dalam permesinan dapat disamakan perannya dengan

pondasi pada gedung.

Untuk bearing dengan jenis bola mempunyai kemampuan

untuk putaran tinggi dan gesekan yang kecil. Bearing ini bisa mudah

didapat dan mudah pula dalam pemasangannya. Bearing

mempunyai bentuk dan ukuran tertentu sesuai dengan kodenya dan

mempunyai ukuran yang presisi. Apalagi untuk yang bentuk bola

dengan cincin yang sangat kecil maka besar per satuan luas menjadi

sangat penting.

Dengan demikian bahan yang dipakai juga harus mempunyai

ketahanan dan kekerasan yang tinggi. Bahan yang biasa dipakai

pada pembuatan bearing adalah baja khrom karbon tinggi. Bearing

Page 30: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

15

ini dapat diklasifikasikan atas Bearing Radial, Bearing axial dan

Bearing Khusus. Menurut jenis elemen gelindingnya dibedakan atas

bentuk bola dan rol. (Arif Firdausi, 2013)

a. Bearing axial: arah beban yang ditumpu adalah tegak lurus

sumbu poros.

b. Bearing Radial: arah beban yang ditumpu sejajar dengan

sumbu poros.

c. Untuk Bearing khusus; dapat menumpu beban yang arahnya

sejajar dan tegak lurus sumbu poros.

Gambar 2.11 Fix Block Bearing Mesin Cabling Drum Twister.

Gambar 2.12 Pillow Block UCP 211-55 Bearing Mesin Cabling Drum Twister.

Page 31: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

16

Gambar 2.13 Konstruksi Pillow Block UCP 211-55

(Katalog Bearing unit ASAHI, 2013)

2.2.6 Kopling

Kopling adalah suatu elemen mesin yang berfungsi untuk

mentransmisikan daya dari poros penggerak (driving shaft) ke poros

yang digerakkan (driven shaft), dimana putaran inputnya akan sama

dengan putaran outputnya. Tanpa kopling, sulit untuk

menggerakkan elemen mesin sebaik-baiknya. Dengan adanya

kopling pemindahan daya dapat dilakukan dengan teratur dan

seefisien mungkin. (Yefri Chan, 2013)

Beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh sebuah kopling

adalah:

a. Mampu menahan adanya kelebihan beban.

b. Mengurangi getaran dari poros penggerak yang

diakibatkan oleh gerakan dari elemen lain.

c. Mampu menjamin penyambungan dua poros atau lebih.

d. Mampu mencegah terjadinya beban kejut.

Page 32: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

17

Gambar 2.14 kopling Mesin Cabling Drum Twister.

Kopling ditinjau dari cara kerjanya dapat dibedakan atas dua jenis:

1. Kopling Tetap

Kopling tetap adalah suatu elemen mesin yang berfungsi

sebagai penerus putaran dan daya dari poros penggerak ke poros

yang digerakkan secara pasti (tanpa terjadi slip), dimana sumbu

kedua poros tersebut terletak pada satu garis lurus atau dapat sedikit

berbeda sumbunya. Kopling tetap selalu dalam keadaan terpasang,

untuk memisahkannya harus dilakukan pembongkaran.

2. Kopling Tak Tetap

Kopling tidak tetap adalah kopling yang digunakan untuk

menghubungkan poros penggerak dan poros yang digerakkan

dengan putaran yang sama saat meneruskan daya. Kopling juga

dapat melepaskan hubungan kedua poros tersebut dalam keadaan

diam maupun berputar tanpa harus menghentikan putaran dari poros

penggerak.

Page 33: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

18

Salah satu jenis kopling yang terdapat pada Shaft Transmisi

Payoff HAR2000 Mesin Cabling Drum twister adalah Kopling

Universal (Universal Joint)

Gambar 2.15 Universal Joint Mesin Cabling Drum twister.

Kopling universal atau kopling hook digunakan untuk

menggabungkan dua poros yang porosnya bersilang pada sudut yang

kecil. Inclination pada kedua poros adalah konstan, namun pada

kenyataannya bervariasi saat gerakan bertransmisi dari satu poros ke

poros lainnya. aplikasi utama kopling ini ditemukan pada transmisi dari

gearbox ke differential atau axle. Pada kasus demikian kita gunakan dua

kopling, satu di tiap ujung propeller poros yang menghubungkan

gearbox satu diujung dan differential pada ujung lainnya. Kopling hook

juga digunakan untuk transmisi daya ke different spindle dari mesin

drill multiple yaitu sebagai knee yang bergabung pada mesin milling.

(Agus Edy Pramono, 2014)

Page 34: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

19

2.2.7 Motor DC Utama Mesin Cabling Drum Twister

Gambar 2.16 Motor DC Utama Mesin Cabling Drum Twister

Motor DC (Direct Current) adalah peralatan elektromagnetik

dasar yang berfungsi untuk mengubah tenaga listrik menjadi tenaga

mekanik yang desain awalnya diperkenalkan oleh Michael faraday

lebih dari seabad yang lalu (E. Pitowarno, 2006). Motor DC

dikendalikan dengan menentukan arah dan kecepatan putarnya. Arah

putaran motor DC adalah searah dengan arah putaran jarum jam (Clock

Wise/CW) atau berlawanan arah dengan arah putaran jarum jam

(Counter Clock Wise/CCW), yang bergantung dari hubungan kutub

yang diberikan pada motor DC. Kecepatan putar motor DC diatur

dengan besarnya arus yang diberikan. (Qory Hidayati, 2014)

2.3. Root Cause Failure analysis (analisis kerusakan)

Root Cause Failure analysis (analisis kerusakan) merupakan salah

satu metode untuk mengetahui dan membahas sebuah kerusakan yang

belum diketahui sebab kerusakannya. Apabila metode tersebut

diterapkan/digunakan, kita bisa memperbaiki atau mengurangi sebab

kerusakan dan mencegah masalah tersebut terjadi lagi. RCFA juga kita

kenal sebagai sebuah aplikasi berantai untuk membuat sebuah sistem analisa

kerusakan, identifikasi data – data yang seusai dengan kerusakan tersebut,

Page 35: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

20

proses pemahaman dan pemecahan pokok kerusakan tersebut. Untuk lebih

jelasnya, urutan dapat dilihat pada gambar dibawah ini

Gambar 2.17 Proses RCFA

(Mini Guide to Root Cause Analysis, 2008)

Mengapa menggunakan RCFA pada analisis kerusakan? Ketika

salah satu komponen mesin terjadi kerusakan, sebab-sebab dari kerusakan

itu harus kita investigasi dan analisis. Dengan memahami kerusakan dari

konsep bagaimana, mengapa, apa, dan kapan, hal tersebut dapat mencegah

terjadinya kerusakan lagi. Terdapat beberapa keuntungan yang bisa diambil

dari penggunaan RCFA:

a. Meningkatkan OEE (Overall Equipment Effectiveness). Mesin –

mesin produksi akan bekerja secara optimal, sistem produksi tidak

terganggu, dan kualitas produk terjaga.

b. Mengurangi biaya pengeluaran. Kurangnya operasioanal,

maintenance dan administrasi adalah hal yang diperlukan untuk

menjaga pengoperasian mesin.

c. Pembelajaran. Siapapun yang terlibat dalam analisis RCFA akan

memperoleh kemampuan/skill bagus dalam memahami bagaimana

mesin tersebut beroperasi dan apa saja yang dapat mempengaruhi

Page 36: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

21

kinerjanya. Pengetahuan ini didokumentasikan dan diajarkan

kepada orang lain. Pengetahuan ini juga bisa diimplementasikan

kepada setiap mesin. Sehingga, tenaga kerja pada suatu perusahaan

sangat mengenal/familiar dengan RCFA dan akan memilih metode

RCFA dalam menganalisis kerusakan.

d. Kesalamatan kerja dan lingkungan. Beberapa kerusakan dapat

mempengaruhi lingkungan dan kinerja mesin terebut. Mengurangi

atau menghilangkan kerusakan tersebut dapat mencegah terjadinya

kecelakaan disekitar lingkungan mesin.

e. Kesehatan mental. Permasalahan yang sangat sulit dapat

menyebabkan karyawan yang mengoperasikan dan merawat mesin

tersebut frustasi. Permasalahan komponen yang diperbaiki dengan

metode RCFA dapat meningkatkan moral karyawan dan

menggunakan RCFA setiap terjadi kerusakan.

Banyak sekali bentuk – bentuk metode yang terdapat pada materi

RCFA, salah satu metode RCFA yang sering diterapkan dalam pemecahan

akar permasalahan kerusakan yaitu Metode Fish Bones.

Metode Diagram Fish Bones atau bisa disebut sebagai diagram

sebab akibat dan diagram ishikawa (penemu metode tersebut adalah Karou

Ishikawa). Ini adalah salah satu teknik/metode yang sangat berguna untuk

permasalahan kerusakan yang sangat komplex. Tipe diagram seperti ini

dapat mengidentifikasi semua faktor – faktor potensial yang berpengaruh

pada permasalahan tersebut. (Geoff Vorley, 2008)

Page 37: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

22

Gambar 2.18 Proses Analisa Metode Fish Bones

(Mini Guide to Root Cause Analysis, 2008)

2.4. Definisi Pemeliharaan

Beberapa definisi pemeliharaan (maintenance) menurut para ahli:

Menurut Patrick (2001, p407), maintenance adalah suatu kegiatan

untuk memelihara dan menjaga fasilitas yang ada serta

memperbaiki, melakukan penyesuaian atau penggantian yang

diperlukan untuk mendapatkan suatu kondisi operasi produksi agar

sesuai dengan perencanaan yang ada.

Menurut Corder (1988, p1), maintenance adalah suatu kombinasi

dari berbagai tindakan yang dilakukan untuk menjaga suatu barang

atau memperbaikinya, sampai pada suatu kondisi yang bisa diterima.

Menurut Assauri (2008, p134), maintenance merupakan kegiatan

untuk memelihara atau menjaga fasilitas atau peralatan pabrik

dengan mengadakan perbaikan atau penyesuaian atau penggantian

yang diperlukan supaya tercipta suatu keadaan operasional produksi

yang memuaskan sesuai dengan apa yang telah direncanakan.

Suatu kalimat yang perlu diketahui oleh orang pemeliharaan dan bagian

lainnya bagi suatu pabrik adalah pemeliharaan (maintenance) murah

sedangkan perbaikan (repair) mahal. (Setiawan F.D, 2008). Menurut Daryus

Page 38: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

23

A, (2008) dalam bukunya manajemen pemeliharaan mesin Tujuan

pemeliharaan yang utama dapat didefenisikan sebagai berikut:

a. Untuk memperpanjang kegunaan asset,

b. Untuk menjamin ketersediaan optimum peralatan yang dipasang

untuk produksi dan mendapatkan laba investasi maksimum yang

mungkin,

c. Untuk menjamin kesiapan operasional dari seluruh peralatan yang

diperlukan dalam keadaan darurat setiap waktu,

d. Untuk menjamin keselamatan orang yang menggunakan sarana

tersebut.

Sedangkan Menurut Sofyan Assauri, 2004, tujuan pemeliharaan yaitu:

a. Kemampuan produksi dapat memenuhi kebutuhan sesuai dengan

rencana produksi.

b. Menjaga kualitas pada tingkat yang tepat untuk memenuhi apa yang

dibutuhkan oleh produk itu sendiri dan kegiatan produksi yang tidak

terganggu.

c. Untuk membantu mengurangi pemakaian dan penyimpangan yang di

luar batas dan menjaga modal yang di investasikan tersebut.

d. Untuk mencapai tingkat biaya pemeliharaan serendah mungkin, dengan

melaksanakan kegiatan pemeliharaan secara efektif dan efisien.

e. Menghindari kegiatan pemeliharaan yang dapat membahayakan

keselamatan para pekerja.

f. Mengadakan suatu kerja sama yang erat dengan fungsi-fungsi utama

lainnya dari suatu perusahaan dalam rangka untuk mencapai tujuan

utama perusahaan yaitu tingkat keuntungan (return on investment) yang

sebaik mungkin dan total biaya yang terendah

2.4.1. Pemeliharaan terencana (Planned Maintenance)

Pemeliharaan terencana adalah pemeliharaan yang

dilakukan secara terorginisir untuk mengantisipasi kerusakan

peralatan di waktu yang akan datang, pengendalian dan pencatatan

sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya. Menurut

Page 39: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

24

Corder, Antony, K. Hadi, (1992) Pemeliharaan terencana dibagi

menjadi dua aktivitas utama yaitu:

a. Pemeliharaan pencegahan (Preventive Maintenance)

Pemeliharaan pencegahan (preventive maintenance) adalah

inspeksi periodik untuk mendeteksi kondisi yang mungkin

menyebabkan produksi terhenti atau berkurangnya fungsi mesin

dikombinasikan dengan pemeliharaan untuk menghilangkan,

mengendalikan, kondisi tersebut dan mengembalikan mesin ke

kondisi semula atau dengan kata lain deteksi dan penanganan diri

kondisi abnormal mesin sebelum kondisi tersebut menyebabkan

cacat atau kerugian.

Menurut Jay Heizer dan Barry Render, (2001) dalam

bukunya “Operations Management” preventive maintenance adalah:

“A plan that involves routine inspections, servicing, and keeping

facilities in good repair to prevent failure”. Artinya preventive

maintenance adalah sebuah perencanaan yang memerlukan inspeksi

rutin, pemeliharaan dan menjaga agar fasilitas dalam keadaan baik

sehingga tidak terjadi kerusakan di masa yang akan datang. Ruang

lingkup pekerjaan preventive termasuk: inspeksi, perbaikan kecil,

pelumasan dan penyetelan, sehingga peralatan atau mesin-mesin

selama beroperasi terhindar dari kerusakan.

b. Pemeliharaan korektif (Corrective Maintenance)

Pemeliharaan secara korektif (corrective maintenance)

adalah pemeliharaan yang dilakukan secara berulang atau

pemeliharaan yang dilakukan untuk memperbaiki suatu bagian

(termasuk penyetelan dan reparasi) yang telah terhenti untuk

memenuhi suatu kondisi yang bis diterima. (Corder, Antony, K.

Hadi, 1992). Pemeliharaan ini meliputi reparasi minor, terutama

untuk rencana jangka pendek, yang mungkin timbul diantara

pemeriksaan, juga overhaul terencana.

Page 40: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

25

Menurut Jay Heizer dan Barry Reder, 2001 pemeliharaan

korektif (Corrective Maintenance) adalah: “Remedial maintenance

that occurs when equipment fails and must be repaired on an

emergency or priority basis”. Pemeliharaan ulang yang terjadi akibat

peralatan yang rusak dan harus segera diperbaiki karena keadaan

darurat atau karena merupakan sebuah prioritas utama. Menurut

Dhillon B.S, (2006) Biasanya, pemeliharaan korektif (Corrective

Maintenance) adalah pemeliharaan yang tidak direncanakan,

tindakan yang memerlukan perhatian lebih yang harus ditambahkan,

terintegrasi, atau menggantikan pekerjaan telah dijadwalkan

sebelumnya.

Dengan demikian, dalam pemeliharaan terencana yang harus

diperhatikan adalah jadwal operasi pabrik, perencanaan

pemeliharaan, sasaran perencanaan pemeliharaan, faktor-faktor

yang diperhatikan dalam perencanaan pekerjaan pemeliharaan,

sistem organisasi untuk perencanaan yang efektif, dan estimasi

pekerjaan. (Daryus A, 2007).

2.4.2. Definisi Penjadwalan

Baker mendfinisikan penjadwalan sebagai proses

pengalokasian sumber-sumber untuk memilih sekumpulan tugas

dalam jangka waktu tertentu. Jadi penjadwalan berfungsi sebagai

alat pengambil keputusan yakni menetapkan jadwal kerja.

Sedangkan, arti penjadwalan dalam sistem kerja perawatan

merupakan rencana kerja yang tersusun dan saling terkait satu sama

lainnya dengan berbasis waktu guna mengefeftifkan kerja, sehingga

akan diperoleh hasil yang baik. Penjadwalan ini dibuat, dalam

bentuk suatu daftar komprehensif dari tugas perawatan,

pemeliharaan ataupun perbaikan untuk menghindari dari kerusakan

yang akan terjad, tujaun dari penjadwalan perawatan adalah:

Page 41: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

26

1. Meningkatkan utilitas sumber yang dimiliki, meningkatnya

utilitas berarti berkurangnya waktu menggangur sumber

tersebut.

2. Mengurangi jumlah pekerjaan yang menunggu dan jumlah

pekerjaan yang terlambat.

Dalam suatu jadwal dapat pula dievaluasi dengan beberapa

macam besaran, biasanya besaran yang digunakan adalah besaran

yang melibatkan informasi tentang waktu penyelesaian pekerjaan.

Ada dua hal penting dalam penjadwalan perawatan, yaitu:

1. Dalam upaya untuk mengurangi pengaruh interaktif terhadap

produksi, dibuatlah suatu cara perawatan terencana yang

didefinisikan sebagai pekerjaan yang terorganisir dan

dilakukan dengan pemikiran ke masa datang, berikut

pengendalian dan pencatatan. Suatu sistem perawatan

terencana, dalam pengolahannya disediakan peralatan yang

secara teknis dan ekonomis mengarah pada pengendalian

operasional, dengan tujuan meningkatkan standar perawatan

dan efisiensi. Sehingga penjadwalannya dibuat, dalam

bentuk suatu daftar komprehensif dari tugas perawatan,

pemeliharaan ataupun perbaikan untuk menghindar dari

kerusakan yang akan terjadi.

2. Pada pekerjaan perawatan yang sifatnya proyek perbaikan

penjadwalan dibuat berbasis waktu

Dalam sistem perawatan terdapat empat kategori yang

merupakan tahapan dasar dalam melakukan pekerjaan perawatan,

yaitu (I/Inspection), Reparasi Kecil (S/Small Repair), Reparasi

menengah (M/Medium Repair), dan Perbaikan Menyeluruh

(C/Complete Repair). Penjadwalan perawatan bisa mengikuti urutan

yang harus didefinisikan secara benar pada sistem/equipment

tertentu.

Page 42: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

27

BAB III

METODOLOGI

3.1. Diagram Alir Penyelesaian Masalah.

Gambar 3.1 Diagram Alir Penyelesaian Masalah

Observasi Keruskan Komponen Sistem

Transmisi Pada Shaft Payoff HAR 2000

Pengumpulan

Data

Data-Data

kerusakan

Tinjauan

Pustaka

RCFA (Failure Analysis) Metode Fish

Bones

Finish

Wawancara

Menetapkan Kesimpulan

Menentukan Solusi:

1. Pemahaman Katalog Timing Belt

2. Sistem Perawatan Terencana

Dampak – Dampak Kerusakan

Start

Page 43: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

28

3.2. Metode Pelaksanaan

3.1.1. Observasi kerusakan komponen sistem transmisi pada shaft

Payoff.

Pada metode ini, peneliti akan melakukan obsesrvasi pada

Mesin Cabling Drum Twister tersebut, yaitu:

1. Observasi sistem kerja Mesin Cabling Drum Twister

2. Observasi kerusakan komponen sistem transmisi pada Shaft

Payoff

Metode ini sangat bermaanfaat yang nantinya penulis akan

mengetahui sebab-sebab permasalahan muncul pada mesin tersebut.

Metode ini akan menyangkut analisa terjadinya kerusakan

komponen sistem transmisi pada Shaft Payoff mesin Cabling Drum

Twister.

3.1.2. Metode Pengumpulan Data

Pada metode ini, peneliti melakukan:

A. Pengumpulan data-data kerusakan.

Pada tahap ini, penulis melakukan pengumpulan data-

data kerusakan yang terkait pada transmisi mesin cabling Drum

Twister. Data tersebut berbentuk gambar kerusakan dari

observasi, dan data-data kerusakan yang tersedia pada devisi

maintenance yang menyangkut kerusakan komponen tersebut.

Nantinya, data-data yang sudah dikumpulkan akan dibuat

kajian-kajian yang akan dikembangkan ke metode selanjutnya.

B. Studi Pustaka.

Pada tahap ini, peneliti membuat studi pustaka yang akan

dijadikan sebagai referensi dan kajian - kajian dalam

menganalisis kerusakan kerusakan komponen sistem transmisi

pada shaft Payoff mesin Cabling Drum Twister.

C. Wawancara.

Pada tahap ini, peneliti akan melakukan proses

wawancara kepada sebagian teknisi yang mengoperasikan atau

Page 44: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

29

yang mengetehaui secara menyeluruh mengenai Mesin Cabling

Drum Twister tersebut. Peneliti melakukan hal ini dikarenakan

apabila tidak tersedianya data/arsip yang meyangkut kerusakan

tersebut, cara yang lebih efektif adalah melakukan wawancara.

3.1.3. Root Cause Failure Analysis Metode Fish Bones

Pada metode ini, peneliti akan melakukan analisa kerusakan

dengan metode fish bones. Berikut ini beberapa tahap-tahap

pembahasannya:

A. Menjelaskan data - data kerusakan. Data - data kerusakan

tersebut berupa bentuk gambar kerusakan, data perusahaan yang

menyangkut kerusakan tersebut, dan hasil wawancara

B. Menganalisa dengan menggunakan fish bones. Data - data yang

sudah dikumpulkan akan dianalisa dengan menggunakan

metode fish bones dan berbagai teori yang dijelaskan pada BAB

II. Penulis akan melakukan pemeriksaan kegagalan atau

keruskaan pada komponen tersebut, dengan cara mencari tahu

SEBAB-AKIBAT dari keruskan komponen sistem transmisi

pada Shaft Payoff tersebut. sehingga akar dari permasalahan /

kerusakan komponen shaft transmisi dapat diketahui. Dibawah

ini merupakan bentuk metode fish bones.

Gambar 3.2 Diagram Fish Bones

Page 45: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

30

3.1.4. Menjelaskan Dampak-Dampak Kerusakan.

Pada tahap ini, penulis akan mencari tahu berbagai dampak

yang timbul akibat kerusakan komponen sistem transmisi pada Shaft

Payoff. Dampak tersebut berupa gambar-gambar kegagalan pada

proses produksi.

3.1.5. Menetukan Soulsi

Pada tahap ini, peneliti akan mencoba memberikan solusi

untuk mengatasi agar kerusakan komponen sistem transmisi pada

Shaft Payoff tersebut tidak terjadi lagi. Solusi tersebut berupa

pembahasan Planned Maintenance pada komponen shaft transmisi

tersebut.

3.1.6. Menetapkan Kesimpulan

Pada tahap ini, peneiti akan menyampaikan seluruh analisa

yang terkait pada penelitian tugas akhir ini. Analisa tersebut berupa

3 macam sesuai dengan tujuan yang dijelaskan pada BAB I:

1. Menyampaikan kesimpulan mengenai analisa fish bones,

menyampaikan akar permasalahan dari keruskan komponen

sistem transmisi pada shaft tersebut.

2. Menyampaikan kesimpulan mengenai dampak akibat kerusakan.

3. Menyampaikan kesimpulan mengenai solusi agar kerusakan

komponen tidak terjadi lagi.

Page 46: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

31

BAB IV

DATA – DATA DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Observasi Kerusakan Komponen Shaft Transmisi.

Dari observasi yang telah dilakukan, penulis menemukan

permasalahan yang sangat sering terjadi pada shaft transmisi Mesin Cabling

Drum Twister, yaitu kerusakan pada timing belt. Dibawah ini merupakan

bentuk kerusakan timing belt.

Gambar 4.1 Keausan Pada Timing Belt

Gambar 4.2 Timing Belt Putus.

Page 47: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

32

Kerusakan timing belt merupakan kerusakan yang tidak wajar.

Karena, dari data – data yang telah dikumpulkan oleh penulis, kerusakan

timing belt bisa mencapai dalam range satu bulan sekali. Bahkan, kerusakan

timing belt dijadikan sebagai topik QCC (Quality Control Circle)

dikarenakan belum menemukan pokok permasalahan dari kerusakan

tersebut.

Tabel 4.1 Frekuensi Kerusakan MesinCabling Drum Twister 2015

No. Defect Type Frequency Defect

1 Timing Belt 19

2 HAR 2000 Drum twister 17

3 Komponen Take up 14

4 Start Mesin 5

5 lampu Alarm 3

6 Travers 3

7 Tuper Lock 1

Total 62

Gambar 4.3 Diagram Pareto Kerusakan Mesin Cabling Drum Twister 2015

0%

10%

20%

30%

40%

50%

60%

70%

80%

90%

100%

0

2

4

6

8

10

12

14

16

18

20

Timing Belt HAR 2000Drum twister

KomponenTake up

Start Mesin lampu Alarm Travers Tuper Lock

Pareto Defect Cabling Drum twister Machine

Frequency Defect Percentage

Page 48: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

33

Tabel 4.2 Data Kerusakan Mesin Cabling Drum Twister Februari 2015

(Arsip Maintenance, 2015)

Tabel 4.3 Data Kerusakan Mesin Cabling Drum Twister Maret 2015

(Arsip Maintenance, 2015)

No Tanggal Equipment Location Description Tindakan Downtime (Jam)

1208 2/27/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV LAMPU ALARM PAY OFF TIDAK MAU MATI CHECK KABEL KONTROL 0.5

1171 2/25/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV TIMING BELT PAY OFF WARNA KUNING PUTUS GANTI BELT 1

820 2/5/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV TIMING BELT PAY OFF WARNA KUNING TIDAK PAS PERBAIKI ADJUSTER BELT 0.7

1022 2/13/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV BEARING UNDER ROLL PAY OFF KUNING MACET (PECAH) GANTI BEARING 22324 DAN UNDERROLLER 25.76666667

953 2/5/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV TRAVERSE DRUM TWISTER TIDAK MAU JALAN PERBAIKI LOCKNUT 1.25

1224 2/27/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV TIMING BELT PAY OFF WARNA KUNING PUTUS SETTING SOLENOID DAN GANTI BELT 3.25

998 2/11/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV TRAVERSE DRUM TWISTER TIDAK MAU GESER GANTI BUSHING DAN AS TRAVESER 6.183333333

DATA KERUSAKAN MESIN CABLING DRUM TWISTER FEBRUARI 2015

No Tanggal Equipment Location Description Tindakan Downtime (jam)

1434 3/7/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV LAMPU ALARM NYALA TERUS DAN MESIN TIDAK BISA START CEK KABEL CONTROL 0.883333333

1650 3/16/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV TRAVERSE TIDAK BISA GESER CHECK CONTROL /RESET 0.583333333

1363 3/2/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV TIMING BELT PAY OFF BIRU DRUMTWISTER PUTUS GANTI TIMING BELT 0.45

1543 3/11/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV BLOWER MOTOR TRAVERSE TAKE UP JATUH PERBAIKI DUDUKAN DAN GANTI MOTOR 2.016666667

1504 3/10/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV PEN PINTEL PAY OFF KUNING LEPAS PERBAIKI LOCKNUT 0.516666667

1417 3/5/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV STOP KONTAK MOTOR POMPA LIFT RUSAK (TERBAKAR) SAMBUGN KABEL 2.15

DATA KERUSAKAN MESIN CABLING DRUM TWISTER MARET 2015

Page 49: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

34

Tabel 4.4 Data Kerusakan Mesin Cabling Drum Twister April 2015

(Arsip Maintenance, 2015)

Tabel 4.5 Data Kerusakan Mesin Cabling Drum Twister Mei 2015

(Arsip Maintenance, 2015)

No Tanggal Equipment Location Description Tindakan Downtime (jam)

1921 4/27/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV MESIN TIDAK MAU START CEK CONTROL LIFTER DAN SETTING LIMIT SWITCH 0.65

2228 4/30/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV BEARING PAY OFF PECAH.. GANTI BEARING 1.15

2019 4/10/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV AS PAY OFF MERAH TIDAK MAU MUTER GANTI BEARING 51308 1.383333333

2319 4/28/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV TIMING BELT PAY OFF DRUM TWISTER WARNA KUNING PUTUS GANTI TIMING BELT SETTING TIMING BELT 3.45

1258 4/8/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV TIMING BELT PAY OFF KUNING RUSAK GANTI TIMING BELT PAY OFF 0.833333333

2216 4/21/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV RANTAI PENGHUBUNG MOTOR DAN PINTEL PUTUS PERBAIKI GANTI SAMBUNGAN RANTAI 1.666666667

2185 4/21/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV TIMING BELT LEPAS PERBAIKI GANTI TIMING BELT 6.6

1870 4/8/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV TAKE UP TIDAK MAU NARIK PERBAIKI MODULE FIELD 0.816666667

DATA KERUSAKAN MESIN CABLING DRUM TWISTER APRIL 2015

No Tanggal Equipment Location Description Tindakan Downtime (jam)

2672 5/15/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV PINTEL PAY OFF WARNA MERAH TIDAK BISA NGUNCI (MUNDUR) GANTI BEARING PINTEL WARNA KUNING 3.3

2468 5/19/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV PEN PAY OFF WARNA MERAH COPOT BONGKAR PINTLE LAS KEMBALI PEN 1.233333333

2617 5/11/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV BEARING PAY OFF DRUM TWISTER YANG WARNA HITAM PECAH GANTI BEARING 51308 2.35

2512 5/5/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV TIMING BELT PAY OFF 2000 WARNA HITAM PUTUS, GANTI BELT 0.066666667

2576 5/6/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV COUPLE MOTOR LIFT PAY OFF RUSAK GANTI RANTAI 0.933333333

2838 5/27/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV TIMING BELT PAY OFF WARNA KUNING PUTUS GANTI TIMING BELT 1.766666667

2823 5/25/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV TIMING BELT PAY OFF MERAH DAN HITAM GANTI TIMING BELT 1890 0.683333333

2819 5/23/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV TIMING BELT PAYOFF WARNA HITAM RONTOK GANTI TIMING BELT PAYOFF HITAM 1.233333333

2758 5/19/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV TUPER LOCK RUSAK (TERBELAH DUA) GANTI TUPER LOCK 0.683333333

2704 5/13/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV RANTAI TAKE UP PINTEL PUTUS PERBAIKI DUDUKAN MOTOR 1.083333333

2709 5/18/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV TIMING BELT PAY OFF WARNA KUNING PUTUS PERBAIKI GANTI TIMNG BELT 1.333333333

2560 5/7/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV BEARING PINTEL PAY OFF WARNA HITAM HANCUR (PECAH) GANTI BEARING PINTEL WARNA HITAM 8.733333333

2685 5/12/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV PERBAIKAN PAGER PEMBATAS DRUMTWISTER PEMASANGAN PIPA BARU 10.73333333

2641 5/11/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV PULLEY TAKE UP LEPAS PULLY TRAVERSE TAKE UP DT 0.883333333

DATA KERUSAKAN MESIN CABLING DRUM TWISTER MEI 2015

Page 50: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

35

Tabel 4.6 Data Kerusakan Mesin Cabling Drum Twister Juni 2015

(Arsip Maintenance, 2015)

Tabel 4.7 Data Kerusakan Mesin Cabling Drum Twister Juli 2015

(Arsip Maintenance, 2015)

No Tanggal Equipment Location Description Tindakan Downtime (jam)

6855 6/8/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV TIMING BELT PAY OFF WARNA KUNING PUTUS GANTI TIMING BELT 1890 1.133333333

6964 6/16/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV SOCKET PANEL KE PAY OFF MERAH KONSLET PERBAIKI KABEL CONTROL 0.566666667

6885 6/9/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV TAKE UP BERMASALAH (KONSLET) PERBAIKI KABEL YG SHORT 0.416666667

6937 6/13/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV LAMPU ALARM NYALA SEMUA. MESIN MATI TOTAL RESET DAN SETTING DRIVE PLC 2.65

DATA KERUSAKAN MESIN CABLING DRUM TWISTER JUNI 2015

No Tanggal Equipment Location Description tindakan Downtime (jam)

3444 7/29/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV COPLE PAY OFF LEPAS GANTI BAUT BEKAS 6.533333333

3454 7/31/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV BOBBIN JATUH SAAT BEROPERASI. BAUT PINTLE PATAH. GANTI BEARING PATAH 21.75

3445 7/30/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV TIMING BELT PUTUS WARNA HITAM GANTI TIMING BELT 11.33333333

3314 7/2/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV BAUT KOPEL RUSAK GANTI MUR BAUT M10 6PCS 0.633333333

3328 7/6/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV PINTLE WARNA MERAH EROR PERBAIKI KABEL KONTROL 2.466666667

3298 7/6/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV MESIN TIDAK MAU START RESET 0.566666667

3329 7/6/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV MESIN TRIPED RESET KONTROL 0.333333333

3366 7/6/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV SWITCH PANEL TIDAK BERFUNGSI (TIDAK BISA START) RESET PLC 0.45

DATA KERUSAKAN MESIN CABLING DRUM TWISTER JULI 2015

Page 51: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

36

Tabel 4.8 Data Kerusakan Mesin Cabling Drum Twister Agustus 2015

(Arsip Maintenance, 2015)

Tabel 4.9 Data Kerusakan Mesin Cabling Drum Twister September 2015

(Arsip Maintenance, 2015)

No Tanggal Equipment Location Description Tindakan Downtime (jam)

3707 8/10/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV BAUT COUPLE PATAH GANTI BAUT 1.5

3830 8/26/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV PINTLE WARNA KUNING MUNDUR GANTI BEARING 1BS 9

3877 8/27/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV LIFT TAKE UP TIDAK BERFUNGSI (TIDAK BISA NAIK) GANTI BEARING DAN PERBAIKI AS 5

3775 8/15/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV PINTEEL WARNA MERAH TIDAK BISA MUTAR GANTI BEARING PINTLE 51308 2.5

3675 8/6/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV SHAFT COUPLE UNTUK PINTLE PAY OFF WARNA HITAM LEPAS. GANTI COPLE PINTLE 1 BUAH 6

3896 8/31/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV COUPLE SHAFT PATAH GANTI COUPLE 2.25

3719 8/7/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV TAKE UP DRUM TWISTER TIDAK DAPAT MENARIK GANTI MUR BAUT M14-9BE 1.266666667

3864 8/28/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV TIMING BELT PAY OFF WARNA MERAH DAN KUNING PUTUS GANTI TIMING BELT 1890 0.5

3854 8/26/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV LIFT TAKE UP TIDAK MAU NAIK. KENCENGKAN BAUT AS 0.633333333

3816 8/24/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV LIFT TAKE UP TIDAK MAU NAIK. LAS COUPLE MOTOR 6

3754 8/31/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV MOTOR PINTEL MESIN DRUM TWISTER TRIP PERBAIKI KABEL KONTROL 2.5

3759 8/10/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV PANEL TAKE UP TURUN ( KONSLET) SETTING OVERLOAD DAN DRIVE 8.5

DATA KERUSAKAN MESIN CABLING DRUM TWISTER AGUSTUS 2015

No. Tanggal Equipment Location Description Tindakan Downtime (jam)

922 9/8/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV TAKE UP TIDAK BERFUNGSI CEK GLARHOR 0.766666667

991 9/22/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV MESIN TIDAK BISA START CHEK KONTROL DAN SETTING 0.5

932 9/10/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV LAS AS PINTLE LEPAS PAY OFF KUNING DI LAS KEMBALI 12.7

1095 9/22/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV TIMING BELT WARNA KUNING PUTUS GANTI BARU TIMING BELT 2

928 9/10/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV PINTLE TIDAK BISA BUKA, LIFT TIDAK BISA TURUN GANTI CABLE 22.66666667

1028 9/21/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV TIMING BELT WARNA HITAM PUTUS GANTI TIMNY BELT 1890-14 M 1.25

570 9/3/2015 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV MESIN TIBA-TIBA MATI SETTING PLC 5.5

DATA KERUSAKAN MESIN CABLING DRUM TWISTER SEPTEMBER 2015

Page 52: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

37

Tabel 4.10 Data Kerusakan Mesin Cabling Drum Twister Januari 2016

(Arsip Maintenance, 2016)

Tabel 4.11 Data Kerusakan Mesin Cabling Drum Twister Februari 2016

(Arsip Maintenance, 2016)

No Tanggal Equipment Location Description Tindakan Downtime (jam)

1037 1/27/2016 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV SOCKET KABEL PAY OFF BIRU RUSAK GANTI SOCKET 2.25

994 1/26/2016 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV TAKEUP KENDOR GAK MAU NARIK SETTING PARAMETER DRIVE 1.383333333

940 1/21/2016 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV MOTOR PINTLE PAYOFF WARNA BIRU SEBELAH KIRI TIDAK BERPUTAR CHEK CONTROL 3

928 1/21/2016 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV BEARING PINTLE PAY OFF WARNA MERAH PECAH GANTI BEARING 1

815 1/16/2016 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV LIFT TAKE UP TIDAK BISA NAIK PERBAIKI CONTROL GANTI AS GANTI GEAR 50

694 1/7/2016 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV PINTLE PAY OFF WARNA BIRU OLINYA BOCOR DC CONTROL CONECTION 1

647 1/5/2016 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV TIMING BELT PAY OFF HITAM PUTUS GANTI TIMING BELT BARU 13.5

610 1/20/2016 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV TIMING BELT PAY OFF KUNING PUTUS GANTI TIMING BELT 1890 1.333333333

DATA KERUSAKAN MESIN CABLING DRUM TWISTER JANUARI 2016

No Tanggal Equipment Location Description Tindakan Downtime (jam)

1613 2/28/2016 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV TIMING BELT PAY OFF WARNA BIRU PUTUS GANTI VANBELL 1890-14M40 (N246) 1

1449 2/20/2016 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV BEARING PAY UP 2000 MESIN DRUM TWISTER PECAH GANTI BEARING BARU 3.75

1222 2/5/2016 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV TAKE UP TIDAK MAU NARIK PERBAIKI MODUL FIELD WINDER 0.5

952 2/2/2016 CABLING5BDRUMTWISTERSKETMV MV TIDAK ADA ANGIN PASANG KOMPRESOR 0.583333333

DATA KERUSAKAN MESIN CABLING DRUM TWISTER FEBRUARI 2016

Page 53: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

38

Sebuah lifetime timing belt tersebut tergantung pada:

1. Aplikasi / peruntukan

2. Alignment

3. Kondisi pulley

4. Cara pasang

5. Penyimpanan

6. Lokasi penggunaan (indoor atau outdoor)

7. Frekuensi on / off

8. Tension, dll

Apabila semua dalam kondisi normal, lifetime timing belt minimal 6

bulan. Apabila dilihat dari data downtime dan frekuensi kerusakan timing belt

pada Shaft Payoff mesin Cabling Drum Twister tersebut, kerusakan timing belt

tidak sesusai dengan data ketentuan lifetime timing belt terebut.

4.2. Analisa fish bone timing belt.

Berikut ini adalah pembahasan analisa kerusakan dengan menggunakan

metode Fish Bones.

Gambar 4.4 Diagram Fish Bones Kerusakan Timing Belt.

Page 54: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

39

Menurut analisa diatas, peluang terjadinya kerusakan pada timing belt

ada 8 point. Namun, peluang besar terjadinya kerusakan timing belt ada 5

faktor. dibawah ini berikut penjelasannya yaitu:

1. Desain dan material.

Desain timing belt menentukan apakah sepsifikasi belt tersebut

layak digunakan atau tidak dalam mesin tersebut. Material bahan dari

timming belt tersebut juga mempengaruhi kekuatan tension belt. Namun,

apabila dilihat dari referensi Timing Belt Mitsuboshi, yang merupakan

produk timing belt yang mesin tersebut gunakan, diagram menunjukan

bahwa jenis timing belt S14M 1890 yang dipakai pada mesin Cabling Drum

Twister tersebut sudah sesuai dengan standar.

Tabel 4.12 Spesifikasi Gearbox Schwermachinenbau Magdeburg GmBH

Transmission Power

P 12 KW

n 630 rpm

Gambar 4.5 Diagram Design Timing Belt

(Design Manual Timing Belt Mitsuboshi, 2016)

Page 55: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

40

Dari diagram diatas, spesifikasi transmisi power yang ada pada shaft

tersebut berada pada range S14M. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kerusakan

timing belt bukan merupakan dari jenis timing belt itu sendiri.

2. Loading.

Beban yang terdapat pada shaft tersebut juga berpengaruh besar

dengan tension belt tersebut. Dibawah ini merupakan data beban yang

diterima oleh shaft transmisi tersebut.

Tabel 4.13 Beban Drum Twister

(Arsip Quality Contol, 2016)

No Material Weight (kg)

1. Conductor AL 636.06

2. WBP 2

3. Conduct Screen 58.37

4. XLPE Insulation 425.93

5. Insulat. Screen 76.94

6. Semi-Cond WBT (black) 11.08

7. Copper Wire 227.90

8. Copper tape 33.46

9. Non-Cond WBT (white) 14.51

10. PVC Outer sh. 521.83

Overall Weight 2008.07

Dari data tabel diatas, dinyatakan bahwa berat yang diterima oleh

shaft transmisi tersebut sebesar 2008,07 kg. Namun, dari hasil wawancara

yang penulis dapatkan selama observasi, berat tersebut merupakan berat

yang sesuai dengan standar Drum Twister tersebut. Jadi, bisa disimpulkan

bahwa beban yang diterima oleh shaft tersebut bukan merupakan penyebab

utama putusnya timing belt.

Page 56: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

41

3. Maintenance

Perawatan merupakan salah satu faktor yang menyebabkan

kerusakan timing belt. Dari segi perawatan, penulis menyimpulkan bahwa

perawatan pada sistem transmisi sangatlah buruk. Penulis menemukan

berbagai kesalahan yang disebabkan oleh tenaga kerja ketika melakukan

proses perawatan pada komponen sistem transmisi tersebut. Dibawah ini

merupakan bukti kesalahan ketika melakukan proses perawatan:

Gambar 4.6 Pengelasan Pada Kopling, Misalignment dan Kurang Baut

Kasus diatas merupakan hal yang sangat fatal apabila terjadi pada

suatu mesin. Apabila terdapat misalignment pada suatu kopling, hal tersebut

dapat menyebabkan:

a. Gesekan pada bagian kopling tersebut juga berlebihan

b. Gesekan antara bearing dan shaft berlebihan

Akibatnnya, timbulah efek seperti vibrasi yang secara langsung

menggangu kinerja timing belt tersebut yang dapat berakibat putusnya

timing belt.

Page 57: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

42

Gambar 4.7 Pengelasan Pada Bearing

Kasus diatas juga merupakan hal yang sangat fatal apabila terjadi

pada suatu mesin. Apabila terjadi kerusakan pada suatu bearing, pengelasan

bukan hal yang tepat untuk mengatasi/memperbaiki kerusakan tersebut,

melainkan harus menggantinya. Jelas sekali bahwa bearing tersebut sudah

rusak dipaksakan kembali untuk beroperasi pada shaft tersebut. Hasilnya,

kinerja bearing yang salah satu fungsinya sebagai pengurangan beban kejut

tidak berfungsi yang secara langsung berakibat pada putusnya timing belt

tersebut.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa kerusakan timing belt disebabkan

oleh perawatan yang sangat buruk

4. Pengaruh komponen lain.

kerusakan timming belt juga bisa disebabkan oleh komponen –

komponen lain pada shaft tersebut.

Beberapa komponen dapat mempengaruhi kerusakan pada timing belt,

karena:

1. Bearing

Bearing juga bisa berfungsi sebagai pengurangan beban –

beban yang terjadi secara tiba – tiba, salah satunya adalah beban

kejut. Fungsi bearing sebagai penahan berbagai beban kejut juga

mempengaruhi kejutan pada belt tersebut.

Page 58: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

43

Kerusakan pada bearing bisa mempengaruhi kerusakan pada

timing belt. bearing yang berfungsi sebagai bantalan dan digunakan

untuk menahan berbagai beban kejut yang terjadi selama proses

permesinan menjadi komponen yang berpengaruh pada timing belt.

Seperti yang dijelaskan pada latar belakang bahwa Mesin Cabling

Drum Twister beroperasi setiap hari 24 jam membuat suhu bearing

tersebut dapat mepengaruhi kondisi bearing. Apalagi, bearing

tersebut tidak memiliki perawatan terencana seperti Re-lubrication.

Akibatnya, bearing tidak berfungsi secara normal dan timbullah

reaksi yang ditimbulkan akibat kerusakan bearing seperti vibrasi

dan beban kejut. hasilnya, hal tersebut mengacu kepada kerusakan

pada timing belt tersebut. Dari segi perawatan bearing pun sangatlah

buruk, kita bisa lihat sendiri pada Gambar 4.7

2. Shaft.

Sebagai unit utama dalam transmisi ini, shaft merupakan

salah satu komponen utama yang kemungkinan besar kerusakan

timing belt berasal dari shaft tersebut. Apabila dilihat pada Gambar

4.6 dan Gambar 4.8 yang menjelaskan misalignment pada sebuah

kopling dapat menyebabkan gesekan antara kopling dan juga shaft

berlebihan. Akibatnya, shaft akan menjadi rusak dan bahkan terjadi

keausan (wear). Apabila shaft tersebut rusak, hal tersebut akan

menimbulkan efek pada timing belt seperti vibrasi dan unbalance

yang mana efek tersebut tidak boleh terjadi ketika timing belt

bekerja.

3. Kopling.

Perakitan atau pemasangan kopling harus kita perhatikan

sebaik mungkin karena kesejajaran adalah hal terpenting dalam

sistem rotating equipment. Kembali lagi pada pembahasan shaft

diatas dimana Apabila terjadi kerusakan pada kopling, Hal tersebut

Page 59: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

44

dapat mempengaruhi kerusakan shaft yang dapat menimbulkan efek

seperti vibrasi dan unbalance pada timing belt. Dibawah ini

merupakan salah satu bentuk kerusakan kopling.

Gambar 4.8 kerusakan gear kopling (aus)

4. HAR 2000.

HAR 2000, yaitu Drum Twister dengan ukuran 2000 [mm],

juga bisa menjadi penyebab kerusakan timing belt tersebut. Penulis

pernah menemukan suatu kasus dimana bobbin pada sebuah HAR

2000 tersebut jatuh, yang secara langsung menyebabkan putusnya

timing belt tersebut. Secara tidak langsung, kerusakan tersebut bisa

kita simpulkan sebagai beban kejut yang terjadi ketika bobbin

tersebut terjatuh. Bukan hanya itu, sistem pengereman yang ada

pada HAR 2000 tersebut memiliki beban kejut yang sangat besar.

Apabila terdapat beban kejut yang diterima oleh Timing Belt, hal

tersebut dapat mengakibatkan belt putus Dibawah ini merupakan

bukti kerusakan HAR 2000.

Gambar 4.9 Kerusakan HAR 2000

Page 60: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

45

Dari keseluruhan pembahasan diatas, penulis mengambil

kesimpulan bahwa kerusakan timing belt disebabkan oleh kerusakan dari

komponen-komponen lain yang ada pada sistem transmisi tersebut.

5. Keausan pada Pulley Timing.

Pulley pada timing belt merupakan salah satu komponen utama pada

timing belt. Sebagai komponen utama yang mempengaruhi kinerja belt,

kerusakan Pulley Timing juga bisa menyebabkan belt putus. Kerusakan

pada timing pulley bisa disebabkan dari material, lifetime, belt tension dan

beban yang berlebihan yang terima oleh pulley tersebut.

Apabila pulley timming terdapat berbagai kerusakan seperti aus

dan crack, itu bisa mempengaruhi kinerja timing belt ketika beroperasi dan

berakibat putus. Dibawah ini merupakan salah satu bentuk kerusakan pulley

timing (keausan)

Gambar 4.10 Kerusakan Pulley Timing

Jadi dapat disimpulkan bahwa kerusakan timing belt disebabkan

oleh kerusakan pada pulley timing.

4.3. Dampak Akibat Kerusakan Timing Belt.

Beberapa dampak timbul akibat kerusakan pada timing belt tersebut. dibawah

ini merupakan hasil observasi mengenai dampak kerusakan timing belt.

1. Ketersediaan (Availability) mesin menjadi buruk.

Page 61: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

46

Dari data yang penulis dapatkan, data tersebut menunjukan bahwa

kerusakan timing belt berpengaruh pada ketersediaan (Availability) mesin

tersebut karena disebabkan oleh downtime akibat kerusakan timing belt.

Range downtime akibat kerusakan timing belt bisa mencapai 1-10 jam.

2. Kualitas produk menjadi buruk.

Berhetinya mesin akibat terjadinya suatu kerusakan pada sebuah

mesin dapat mempengaruhi kualitas produk yang di produksi. Karena

ketika pada proses cabling, proses produksi harus sesuai dengan ketentuan

waktu produksi tersebut. Dibawah ini merupakan bukti bahwa kerusakan

timing belt dapat berdampak buruk pada kualitas produk yang secara

langsung membuat mesin tersebut berhenti.

Gambar 4.11 Kabel Longgar Pada Proses Cabling

Gambar 4.12 Produk Gagal Kabel Medium Voltage

Page 62: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

47

Apabila terdapat kegagalan pada proses produksi, hal tersebut akan

berakibat pada kualitas produk. Dan apabila produk memiliki kualitas pada

produk, hal tersebut berdampak pada nilai jual kabel tersebut karena harga

1 [m] kabel bisa mencapai Rp. 800.000,00-.

4.4. Solusi Penyelesaian Kasus Kerusakan Timing Belt.

4.4.1. Pemahaman Katalog Timing Belt Mitsuboshi.

Dari referensi katalog timing belt Mitshuboshi, apabila terdapat

kerusakan pada belt, ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dan

dilakukan untuk mengatasi kerusakan terjadi kembali, seperti:

1. Desain

Desain timing belt akan berpengaruh pada kinerja suatu

mesin. Untuk menentukan desain timing belt, kita harus mengetahui

daya dan putaran yang diterima oleh timing belt tersebut. cara

penentuan spesifikasi desain bisa ditentukan pada diagram desain

pada Gambar 4.5

2. Perluas jarak belt

Jarak antara kedua puli yang bertautan dengan belt akan

berpengaruh pada kinerja belt karena hal tersebut berpengaruh pada

Tension belt tersebut yang mana Tension pada belt tersebut harus

sesuai dengan spesifikasi timing belt tersebut

3. Periksa tempat penyimpanan dan kondisi sistem pengantaran

Kondisi penyimpanan dan sistem pengantaran timing belt

harus sesuai dengan ketemtuan yang berlaku pada katalog timing

belt tersebut karena hal tersebut dapat mempengarhui kondisi baha

timing belt tersebut.

4. Pembuatan cover sistem transmisi belt agar terhindar dari aktivitas

lainnya.

Page 63: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

48

Pembuatan cover pada sistem transmis belt sangat

diperlukan karena untuk menghindari berbagai aktivitas yang

menganggu kinerja timing belt tersebut.

5. Perhatikan kondisi suhu Ambient.

Kondisi suhu ruangan, baik itu tempat penyimpanan maupun

ketika sudah beroperasi, sangat mempengaruhi kondisi bahan timing

belt tersebut. Dari katalog tersebut, suhu yang dianjurkan adalah

dalam range -30˚C - 80˚C

6. Hindari beban kejut yang secara tidak sengaja diterima pada belt

tersebut.

Ketika timing belt sedang beroperasi, pastikan bahwa timing

belt tersebut tidak menerima beban kejut secara tiba tiba. Biasanya

hal tersebut dipengaruhi oleh komponen lain yang berada pada

sistem transmisi tersebut, seperti bearing.

4.4.2. Melakukan Proses Instalasi Timing Belt Sesuai Dengan Prosedur

Katalog

Solusi yang kedua adalah mengikuti prosedur yang benar ketika

melakukan proses instalasi Timing Belt. Dibawah ini merupakan

langkah – langkah proses instalasi belt.

1. Matikan Mesin Cabling Drum Twister

2. Set up kelurusan antara kedua puli.

Gambar 4.13 Kelurusan Kedua Puli

(Katalog Timing Belt Mitsuboshi, 2016)

Page 64: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

49

3. Melakukan proses pendekatan antara kedua puli

Gambar 4.14 Proses Pemasangan Timing Belt.

(Katalog Timing Belt Mitsuboshi, 2016)

Longgarkan Base kedua puli dengan memperhatikan

kelurusannya, lalu lakukan proses pendekatan kedua puli sampai

belt tersebut regang.

4. Proses pengencangan belt

Gambar 4.15 Proses Pengencangan Belt (sebelum).

(Katalog Timing Belt Mitsuboshi, 2016)

Suaikan belt dengan puli, lakukan secara perlahan proses

pengencangan belt tersebut. ketika belt dalam kondisi regang,

kondisi belt dan puli belum saling bertautan. Untuk itu, lakukan

proses pengencangan secara perlahan sampai belt dan puli tersebut

berhubungan.

Page 65: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

50

Gambar 4.16 Proses Pengencangan Belt (sesudah)

(Katalog Timing Belt Mitsuboshi, 2016)

5. Lakukan proses alignment

Ketika belt sudah kencang, lakukan pengecekan kembali

kelurusan belt dengan pengukur kelurusan. Apabila belum

Alignment, lepas belt dan lakukan proses pemasangan kembali.

Gambar 4.17 Prosedur Proses Alignment

(Katalog Timing Belt Mitsuboshi, 2016)

6. Pasang sebuah cover agar belt tidak terganggu oleh aktivitas

lainnya.

7. Lakukan pengecekan kembali kelurusan belt dan ketautan antara

belt dengan puli

4.4.3. Menetapkan Planned Maintenance

Ketika penulis melakukan observasi, penulis menemukan

bahwa sistem transmisi pada Shaft Payoff tersebut sama sekali tidak

Page 66: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

51

pernah melakukan planned maintenance. Perusahaan tersebut hanya

melakukan breakdown maintenance, yaitu perawatan yang hanya

dilakukan pada proses terjadinya keruskan. Hal tersebut merupakan

salah satu strategi perawatan yang salah karena hal tersebut akan

berdampak buruk pada ketersediaan keseluruhan mesin.

Untuk itu, penulis membuat suatu sistem perawatan terencana,

yaitu Checklist Scheduling Preventive Maintenance (sistem

penjadwalan perawatan preventif) agar mengatasi/menghidari

kerusakan timing belt. Dibawah ini merupakan tabel Checklist

Scheduling Preventive Maintenance.

Tabel 4.14 Checklist Scheduling Preventive Maintenance

CHECKLIST PREVENTIVE MAINTENANCE SHAFT TRANSMISSION

COMPONENT

Komponen Pekerjaan Harian Bulanan 6 Bulan ≤ 1 tahun

(Inspeksi (I) Perbaikan (C))

Bearing Check Temperatur I

Check Lubrikasi C (50˚C) C (˃100˚C)

Kebisingan I

Vibrasi I

Ganti Bearing Sesuai Life time

Timing Belt Tension Belt I

Gigi Belt I

Permukaan Belt I

Zigzagging Belt I

Keausan I

Kelonggaran I

Kebisingan I

Suhu I

Ganti belt Sesuai Life time

Timing Pulley Gigi Puli I

Alignment C

Keausan I

Page 67: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

52

Tabel 4.14 Checklist Scheduling Preventive Maintenance

Karat I

Ganti Timing Pulley Sesuai Life time

Gear Coupling Alignment I

(laser)

C (Dial

indicator)

Lubrikasi C

Vibrasi I

Noise I

pengencengan baut C

Keausan dan

keretakan C

Kerataan Permukaan C

Overhaul C (≥ 8000 jam atau 2 tahun)

Coupling Vibrasi I

Noise I

Pengencengan baut C

Keausan dan

keretakan C

Alignment I

(laser)

C (Dial

indicator)

Kerataan Permukaan C

Ganti Kopling Sesuai Life time

Gearbox Oil Level I

Temperatur I

Seals C

Vibrasi I

Noise I

Keausan dan

keretakan C

Bearing Sesuai Life time

Ganti Lubrikasi Sesuai life time (˃ 60˚C 2500 jam ,˂ 60˚C

5000 jam)

HAR 2000 Adaptor C

Lifter C

Rem Bobbin C

Page 68: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

53

Tabel 4.14 Checklist Scheduling Preventive Maintenance

Universal

Joint Noise I

Vibrasi I

lubrikasi bearing C

Ganti Bearing Sesuai Life Time

Overhaul C

Alignment C

Page 69: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

54

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Dari seluruh pembahasan, penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa:

1. Dari pembahasan Failure Analysis dengan menggunakan metode Fish

Bones, penulis menyimpulkan bahwa kerusakan timing belt disebabkan

oleh,

a. Perawatan

Dari segi perawatan, perusahaan memilik sistem perawatan

yang sangat buruk. Salah satu contoh yang cukup fatal ialah

perawatan pada kopling dan bearing, dimana komponen tersebut

merupakan komponen yang sangat berpengaruh pada kinerja timing

belt. Bukit perawatan yang salah ditunjukan pada Gambar 4.6 dan

Gambar 4.7, dimana gambar tersebut menjelaskan pengelasan pada

kopling dan beaing. Hal tersebut sangatlah salah karena apabila dua

komponen tersebut rusak, harus diganti dengan komponen baru.

Akibatnya, komponen tersebut berpengaruh pada kerusakan timing

belt.

b. Pengaruh Komponen lain.

Kerusakan pada salah satu komponen transmisi berkaitan

antara satu dengan yang lainnya. Apabila komponen A rusak, hal

tersebut bisa mengacu pada komponen B atau C. artinya, sebab

kerusakan pada suatu komponen shaft transmisi bisa kita dapatkan

dari pengaruh kerusakan komponen lainnya. Komponen tersebut

adalah:

a. Bearing

b. Shaft

c. Pulley Timing

Page 70: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

55

d. Kopling, dan

e. HAR 2000

Jadi, kerusakan timing belt disebabkan oleh berbagai komponen

yang ada pada shaft tersebut

2. Dari hasil observasi dan analisa, kerusakan timing belt dapat menyebabkan

dampak buruk yang berpengaruh pada:

a. Availability

b. Kualitas Produk

3. Solusi yang tepat untuk menghindari kerusakan timing belt adalah:

a. Memahami Prosedur Timing Belt.

Penulis memberikan solusi untuk melakukan proses instalasi

pada timing belt sesuai prosedur yang telah ditentukan oleh katalog

Mitsuboshi karena hal tersebut dapat berpengaruh pada kinerja belt

tersebut.

b. Melakukan perawatan terencana.

Suatu mesin akan berjalan baik apabila mempunyai sistem

perawatan yang terencana. Penulis menentukan Checklist

Scheduling Preventive Maintenance (sistem penjadwalan perawatan

preventif) pada komponen shaft transmisi tersebut. Data tersebut

dapat dilihat pada Tabel 4.14

5.2. Saran

Adapun saran yang ingin diberikan pada pihak perusahaan adalah:

Menetapkan Planned Maintenance

Sistem perawatan yang dipakai pada perusahaan, Breakdown

Maintenance, sangatlah buruk dan harus diubah menjadi perawatan

terencana (Planned Maintenance) karena apabila masih menggunakan

Breakdown Maintenance, hal tersebut berpengaruh pada downtime dan

OEE mesin tersebut. Untuk itu, Planned Maintenance merupakan hal yang

Page 71: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

56

tepat untuk diterapkan pada sistem perawatan perusahan tersebut. Adapun

keuntungan lainya yaitu:

1. Pengurangan pemeliharaan darurat.

2. Pengurangan waktu nganggur.

3. Menaikkan ketersediaan (Availability) untuk produksi.

4. Meningkatkan penggunaan tenaga kerja untuk pemeliharaan dan

produksi.

5. Memperpanjang waktu antara Overhaul.

6. Pengurangan penggantian suku cadang, membantu pengendalian

sediaan.

7. Meningkatkan efisiensi mesin.

8. Memberikan pengendalian anggaran dan biaya yang bisa diandalkan.

9. Memberikan informasi untuk pertimbangan penggantian mesin.

Page 72: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

57

DAFTAR PUSTAKA

[1]. Agus Edy Pramono, “ELEMEN MESIN II,” Politeknik Negeri Jakarta, 2014

[2]. Khurmi. R.S, and J. K. Grupta, “A Text Book of Machine Design,” Eurasia

Publishing House, Ram Nagar, New Delhi, 1988.

[3]. Jac. STOLK and C. KROS. 1981. Elemen Mesin 21. PT. Gelora aksara

pratama. Jakarta.

[4]. Mitsuboshi, “Design Manual Timing Belt,” 2016

[5]. Arsip Maintenance, “Data Downtime,” PT Voksel Electric Tbk, 2016

[6]. Arsip Maintenance, “Drum Twister,” PT Voksel Electric Tbk, 2016

[7]. Arsip QCC, “Data Quality Control,” PT Voksel Electric Tbk, 2016

[8]. Arif Firdausi, “Mekanika dan Elemen Mesin 1”, Katalog Dalam Terbitan, 2013

[9]. Yefri Chan, “Jurnal Kopling”, Universitas Darma Persada,” 2016

[10]. Qory Hidayati, “Pengaturan Kecepatan Motor DC dengan Menggunakan

Mikrokontroler Atmega 8535,” Politeknik Negeri Balikpapan, 2012

[11]. Geoff Vorley, “Mini Guide to Root Cause Analysis,” Quality Management and

Training (Publication) Ltd, 2008

[12]. Ahmad Nur Fauzi, “Analisa Total Productive Maintenance pada Mesin

Machining Center pada PT. Hitachi Power System Indonesia (HPSI) Dengan

Menggunakan Metode Overall Equipment Effectiveness (OEE),” Universitas

Mercu Buana, 2015

[13]. NSK, “Table Singel Row Deep Groove Ball Bearing,” 2016

[14]. Katalog Gearbox, “Operating, lubrication and maintenance instructions for

gearboxes and motors,” Walther Flender Gruppe, Deutschland, 2016.

[15]. TOS ZNOJMO, “INSTALLATION, OPERATION AND MAINTENANCE

MANUAL FOR GEARBOXES AND VARIATORS,” TUV Management

Service, 2016

Page 73: Tugas akhir - Jeffry Irwansyah - 3213110092 burning

58

[16]. MAINA GEAR COUPLINGS, “Installation and Maintenance (summary),”

Johnson Power Ltd.

[17]. Ameridrive Couplings, “High Capacity Industrial Universal Joints Installation

and Maintenance Manual”, Industrial Magza Dist Autorizado, 2016