Prosiding Irma Lestari

9
Proceeding ISBN 978-602-1313-80-0 Makalah dipresentasikan dalam Seminar Education Graduate Regional Conference dengan tema Pendidikan Bermutu untuk SDM Berkarakter " pada tanggal 21 Maret 2015 di Konseling Center Universitas Negeri Medan MENUMBUHKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF DAN MINAT BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN PROBLEM POSING DI SMA NEGERI 1 BARUMUN KABUPATEN PADANG LAWAS Irma Lestari Lubis [email protected] Abstrak Dalam proses pembelajaran diperlukan strategi untuk dapat mendorong peserta didik untuk memahami masalah, meningkatkan kemampuan berpikir kreatif peserta didik dalam menyusun rencana penyelesaian, melibatkan peserta didik secara aktif dalam menemukan sendiri penyelesaian masalah, dan mendorong pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dan guru sebagai fasilitator. Salah satu model pembelajaran yang memiliki sifat dan karakter tersebut adalah pembelajaran dengan pengajuan masalah (Problem Posing). Selain itu problem posing juga mampu menumbuhkan minat belajar siswa terhadap matematika. Model pembelajaran ini menekankan siswa untuk membuat soal dan menjawab soal yang diberikan oleh kelompok lain. Dengan model pembelajaran ini siswa diharapkan dapat mengeluarkan pendapat dan mengungkapkan kesulitan-kesulitan yang mereka alami sewaktu proses pembelajaran berlangsung. Pembelajaran matematika dengan metode problem posing dapat membuat siswa aktif dan kreatif, hal itu ditunjukkan melalui kompetensi siswa mengembangkan soal matematika itu sendiri, mengelola, dan untuk menggali informasi untuk masalah matematika 'yang dipecahkan. Melalui pembelajaran dengan metode problem posing juga dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar, terutama berinteraksi dan berbagi ide pada siswa satu sama lain dan guru, sehingga kegiatan belajar menjadi bermakna. Kata kunci: Berpikir kreatif, Minat Belajar, Pendekatan problem-posing PENDAHULUAN Pendidikan merupakan salah satu hal penting untuk menentukan maju mundurnya suatu bangsa. Salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah meningkatkan mutu pendidikan, karena dengan meningkatnya mutu pendidikan dapat meningkatkan sumber daya manusia yang ada. Untuk itu, dunia pendidikan harus mendapatkan perhatian yang lebih besar dari pemerintah, masyarakat maupun pelaku pendidikan yang terkait. Perubahan paradigma dalam pendidikan yaitu dari paradigma mengajar menjadi paradigma belajar mengisyaratkan adanya kemauan untuk berubah menjadi yang lebih baik dari kalangan praktisi pendidikan maupun akademisi yang dimplementasikan dalam perubahan proses dalam pembelajaran di sekolah dari yang sebelumnya hanya berorientasi/berpusat pada guru dalam mengajar menjadi berorientasi/berpusat kepada siswa untuk belajar. Menurut Sudarman, salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, siswa kurang di dorong untuk mengembangkan kemampuan berfikir. Proses pembelajaran di kelas diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghafal informasi. Otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut memahami informasi yang diingatnya itu untuk menghubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Akibatnya, ketika anak lulus dari sekolah, mereka pintar teoritis tetapi miskin aplikasi (Sudarman: 2007). Hal ini disebabkan karena kondisi pembalajaran yang selama ini dilakukan cenderung berpusat kepada guru, kurang berorientasi pada siswa. Siswa hanya mencatat dan mendengarkan serta melakukan kegiatan sesuai perintah guru, sehingga menyebabkan siswa kurang aktif dalam pembelajaran apalagi mengajukan pertanyaan. Oleh karenanya keberhasilan pembelajaran pada umumnya sangat ditentukan oleh strategi mengajar guru. Dalam pembelajaran matematika di SMA Negeri 1 Barumun, banyak guru yang mengeluhkankan rendahnya kemampuan siswa dalam memahami konsep matematika dan mengaplikasikan konsep matematika tersebut dalam pengerjaan soal-soal. Hal ini terlihat dari banyaknya kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa dalam mengerjakan soal-soal latihan dan ulangan harian sehingga prestasi siswa dalam pembelajaran matematika masih rendah. Padahal dalam pelaksanaan pembelajaran guru biasanya telah memberikan latihan yang memadai kepada

description

Makalah dipresentasikan dalam Seminar Education Graduate Regional Conference dengan tema” Pendidikan Bermutu untuk SDM Berkarakter " pada tanggal 21 Maret 2015 di Konseling CenterUniversitas Negeri Medan

Transcript of Prosiding Irma Lestari

Page 1: Prosiding Irma Lestari

Proceeding ISBN 978-602-1313-80-0

Makalah dipresentasikan dalam Seminar Education Graduate Regional Conference dengan tema ” Pendidikan Bermutu untuk SDM Berkarakter " pada tanggal 21 Maret 2015 di Konseling Center Universitas Negeri Medan

MENUMBUHKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF DAN MINAT

BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN PROBLEM

POSING DI SMA NEGERI 1 BARUMUN KABUPATEN PADANG LAWAS

Irma Lestari Lubis

[email protected]

Abstrak

Dalam proses pembelajaran diperlukan strategi untuk dapat mendorong peserta didik untuk

memahami masalah, meningkatkan kemampuan berpikir kreatif peserta didik dalam menyusun

rencana penyelesaian, melibatkan peserta didik secara aktif dalam menemukan sendiri

penyelesaian masalah, dan mendorong pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dan guru

sebagai fasilitator. Salah satu model pembelajaran yang memiliki sifat dan karakter tersebut

adalah pembelajaran dengan pengajuan masalah (Problem Posing). Selain itu problem posing

juga mampu menumbuhkan minat belajar siswa terhadap matematika. Model pembelajaran ini

menekankan siswa untuk membuat soal dan menjawab soal yang diberikan oleh kelompok lain.

Dengan model pembelajaran ini siswa diharapkan dapat mengeluarkan pendapat dan

mengungkapkan kesulitan-kesulitan yang mereka alami sewaktu proses pembelajaran

berlangsung. Pembelajaran matematika dengan metode problem posing dapat membuat siswa

aktif dan kreatif, hal itu ditunjukkan melalui kompetensi siswa mengembangkan soal

matematika itu sendiri, mengelola, dan untuk menggali informasi untuk masalah matematika

'yang dipecahkan. Melalui pembelajaran dengan metode problem posing juga dapat

meningkatkan aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar, terutama berinteraksi dan berbagi

ide pada siswa satu sama lain dan guru, sehingga kegiatan belajar menjadi bermakna.

Kata kunci: Berpikir kreatif, Minat Belajar, Pendekatan problem-posing

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan salah satu hal penting untuk menentukan maju mundurnya suatu

bangsa. Salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah meningkatkan mutu pendidikan, karena

dengan meningkatnya mutu pendidikan dapat meningkatkan sumber daya manusia yang ada. Untuk

itu, dunia pendidikan harus mendapatkan perhatian yang lebih besar dari pemerintah, masyarakat

maupun pelaku pendidikan yang terkait.

Perubahan paradigma dalam pendidikan yaitu dari paradigma mengajar menjadi paradigma

belajar mengisyaratkan adanya kemauan untuk berubah menjadi yang lebih baik dari kalangan

praktisi pendidikan maupun akademisi yang dimplementasikan dalam perubahan proses dalam

pembelajaran di sekolah dari yang sebelumnya hanya berorientasi/berpusat pada guru dalam

mengajar menjadi berorientasi/berpusat kepada siswa untuk belajar.

Menurut Sudarman, salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita adalah

masalah lemahnya proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, siswa kurang di dorong untuk

mengembangkan kemampuan berfikir. Proses pembelajaran di kelas diarahkan kepada kemampuan

anak untuk menghafal informasi. Otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai

informasi tanpa dituntut memahami informasi yang diingatnya itu untuk menghubungkan dengan

kehidupan sehari-hari. Akibatnya, ketika anak lulus dari sekolah, mereka pintar teoritis tetapi miskin

aplikasi (Sudarman: 2007). Hal ini disebabkan karena kondisi pembalajaran yang selama ini

dilakukan cenderung berpusat kepada guru, kurang berorientasi pada siswa. Siswa hanya mencatat

dan mendengarkan serta melakukan kegiatan sesuai perintah guru, sehingga menyebabkan siswa

kurang aktif dalam pembelajaran apalagi mengajukan pertanyaan. Oleh karenanya keberhasilan

pembelajaran pada umumnya sangat ditentukan oleh strategi mengajar guru.

Dalam pembelajaran matematika di SMA Negeri 1 Barumun, banyak guru yang

mengeluhkankan rendahnya kemampuan siswa dalam memahami konsep matematika dan

mengaplikasikan konsep matematika tersebut dalam pengerjaan soal-soal. Hal ini terlihat dari

banyaknya kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa dalam mengerjakan soal-soal latihan dan

ulangan harian sehingga prestasi siswa dalam pembelajaran matematika masih rendah. Padahal

dalam pelaksanaan pembelajaran guru biasanya telah memberikan latihan yang memadai kepada

Page 2: Prosiding Irma Lestari

Proceeding ISBN 978-602-1313-80-0

Makalah dipresentasikan dalam Seminar Education Graduate Regional Conference dengan tema ” Pendidikan Bermutu untuk SDM Berkarakter " pada tanggal 21 Maret 2015 di Konseling Center Universitas Negeri Medan

siswa, baik yang di kerjakan di sekolah maupun yang dikerjakan di rumah. Pada kenyataannya

pemberian latihan yang memadai tidak sepenuhnya dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam

menerapkan konsep matematika. Rendahnya kualitas pembelajaran dapat diartikan kurang

efektifnya pembelajaran. Menurut pengamatan penulis, masalah yang dihadapi dalam pembelajaran

matematika di SMA Negeri 1 Barumun antara lain;

1. Rendahnya persentase ketuntasan dalam setiap ulangan harian. Rata-rata siswa yang tidak

tuntas dalam setiap ulangan harian mencapai 60%.

2. Siswa kurang aktif terlibat dalam pembelajaran.

3. Siswa enggan untuk bertanya sekalipun materi pembelajaran belum dipahami olehnya.

4. Siswa kurang memahami materi prasyarat, tetapi tidak diungkapkan dalam pembelajaran.

5. Kemampuan siswa untuk menjawab soal aplikasi sangat rendah.

Kemampuan berpikir kreatif dapat dikembangkan melalui aktivitas-aktivitas kreatif dalam

pembelajaran matematika. Siswa yang memiliki kemampuan berpikir kreatif mempunyai ciri-ciri:

imajinatif, mempunyai prakarsa, mempunyai minat yang luas, mandiri dalam berpikir, senang

berpetualang, penuh energi, percaya diri, bersedia mengambil resiko, berani dalam pendirian dan

keyakinan. Namun dalam pembelajaran matematika yang sarat dengan konsep matematika yang

abstrak, tanpa dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, sering dianggap sebagai salah satu penyebab

kurangnya minat siswa terhadap matematika. Rasa tertarik atau minat siswa terhadap matematika

menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan pembelajaran matematika. Salah

satu pendekatan yang dapat digunakan untuk mengatasi rendahnya minat atau ketertarikan siswa

terhadap matematika yaitu pendekatan problem posing. Di dalam problem posing, siswa diharuskan

untuk menyusun pertanyaan sendiri dengan situasi yang dihadirkan dalam pembelajaran atau

menyelesaikan suatu soal menjadi pertanyaan-pertanyaan yang lebih sederhana yang mengacu pada

penyelesaian soal. Melalui pendekatan ini diharapkan kemampuan berpikir kreatif dan minat siswa

dapat meningkat karena siswa diminta untuk menyusun masalah yang ada menjadi pertanyaan-

pertanyaan yang lebih sederhana sehingga masalah lebih mudah dipahami.

Dalam artikel ini, akan dikaji mengenai pendekatan problem posing untuk menumbuhkan

kemampuan berpikir kreatif dan minat belajar siswa terhadap matematika.

KAJIAN PUSTAKA

Berpikir Kreatif

Dalam pembelajaran matematika, siswa sering dihadapkan pada suatu masalah yang rumit

atau masalah yang tidak rutin. Oleh karena itu berfikir kreatif dalam pembelajaran matematika itu

sangat dibutuhkan. Berfikir kreatif berhubungan erat dengan berfikir kritis. Keduanya merupakan

kemampuan manusia yang sangat mendasar, yang dapat mendorong seseorang untuk senantiasa

memandang setiap masalah secara kritis serta mencoba untuk menyelesaikannya secara kreatif.

Kreativitas seringkali dianggap sebagai sesuatu keterampilan yang didasarkan pada bakat

alam, dimana hanya mereka yang berbakat saja yang bisa menjadi orang kreatif padahal anggapan

tersebut tidak sepenuhnya benar, meskipun dalam kenyataan ada orang tertentu yang memiliki

kemampuan untuk menciptakan ide – ide baru dengan cepat dan beragam namun kreativitas dapat

dimunculkan dari setiap diri seseorang dengan mengembangkan serta memberikan kesempatan

seseorang dalam berkreasi. Pada hakekatnya kreativitas dimiliki oleh setiap orang, tinggal

bagaimana orang tersebut mampu mengeluarkan atau mengaktualisasikan diri sesuai dengan daya

kreasi dan pola berpikir yang dikembangkan orang tersebut.

Proses berpikir terbentuk dari pribadi seseorang, oleh karena itu kemampuan berpikir

kreatif seseorang dipengaruhi juga oleh pribadi yang kreatif yang akan mendorong dari dalam untuk

berkreasi. Menurut Carl Rogers (dalam Munandar 2009 : 34) tiga kondisi dari pribadi kreatif adalah:

1) Keterbukaan terhadap pengalaman. 2) Kemampuan untuk menilai situasi sesuai dengan patokan

pribadi seseorang (Internal locus of evaluation). 3) Kemampuan untuk bereksperimen, untuk ”

bermain “ dengan konsep – konsep. Pada pribadi kreatif seseorang, jika sudah memiliki kondisi

pribadi dan lingkungan yang menunjang atau lingkungan yang memberi kesempatan untuk bersibuk

diri secara kreatif maka diprediksikan akan muncul kreativitas.

Page 3: Prosiding Irma Lestari

Proceeding ISBN 978-602-1313-80-0

Makalah dipresentasikan dalam Seminar Education Graduate Regional Conference dengan tema ” Pendidikan Bermutu untuk SDM Berkarakter " pada tanggal 21 Maret 2015 di Konseling Center Universitas Negeri Medan

Trefingger (dalam Munandar, 2009:35) mengatakan bahwa seseorang yang kreatif

biasanya lebih terorganisir dalam tindakan, rencana inovatif mereka telah dipikirkan dengan matang

lebih dahulu dengan mempertimbangkan masalah yang mungkin timbul dan implikasinya. Tingkat

energi, spontanitas, dan kepetualangan yang luar biasa sering tampak pada orang kreatif. Untuk

menilai kemampuan berpikir kreatif menggunakan acuan yang dibuat Munandar (2009:192) yang

mengemukakan bahwa kemampuan berpikir kreatif dirumuskan sebagai kemampuan yang

mencerminkan aspek – aspek sebagai berikut:

a. Berpikir lancar (Fluent thinking) atau kelancaran yang menyebabkan seseorang mampu

mencetuskan banyak gagasan, jawaban, penyelesaian masalah atau pertanyaan.

b. Berpikr luwes (Flexible thinking) atau kelenturan yang menyebabkan seseorang mampu

menghasilkan gagasan, jawaban atau pertanyaan yang bervariasi

c. Berpikir Orisinil (Original thinking) yang menyebabkan seseorang mampu melahirkan

ungkapan – ungkapan yang baru dan unik atau mampu menemuka kombinasi –kombinasi

yang tidak biasa dar unsur – unsur yang biasa.

d. Keterampilan mengelaborasi (Elaboration ability) yang menyebabkan seseorang mampu

memperkaya dan mengembangkan suatu gagasan.

Minat Belajar

Minat merupakan salah satu aspek kehidupan yang terdapat pada setiap orang. Ada banyak

minat yang dapat di temui dalam kehidupan manusia khususnya dalam lembaga pendidikan.

Menurut Marsell (1954) mengatakan minat belajar adalah suka memahami sesuatu pelajaran dan

ingin mengetahui pelajaran itu secara keseluruhan. Ini berarti minat duhubungkan dengan suatu

objek di mana perhatian ditujukan untuk bertindak atau dengan sadar melakukan sesuatu

sehubungan dengan objek yang dimaksud. Winkel (1983;224) bahwa minat adalah gejala psikis

yang berkaitan dengan objek atau aktifitas yang menstimulus perasaan sesorang pada individu.

Pendapat ini mengemukakan pada rangsangan yang mengakibatkan perasaan seseorang terhadap

objek atau aktivitas-aktivitas serta aktivitas ini dipilih secara bebas oleh individu.

Secara umum Hurlock (1992) memandang minat merupakan salah satu faktor psikologis

yang mendorong seseorang dalam mencapai tujuan. Minat merupakan sumber motivasi yang

mendorong seseorang untuk melalukan apa yang diinginkan, bila mereka bebas memilih maka

mereka akan cenderung berminat dan akan mendatangkan kepuasaan, tetapi bila kepuasan itu

berkurang maka minat yang dimilikinya akan berangsur-angsur berkurang juga. Minat yang dimiliki

tiap-tiap individu adalah berbeda secara tingkatan maupun jenisnya.

Minat dapat timbul karena daya tarik dari luar dan dari dalam hati sanubari maing-masing

individu. Minat yang besar dan kuat terhadap sesuatu merupakan modal yang besar untuk mencapai

atau memperoleh tujuan yang diminatinya. Seseorang yang memiliki minat terhadap sesuatu tertentu

akan bersikap cenderung untuk memberikan perhatian yang lebih terhadap sesuatu tersebut. Dan

sesorang individu akan berusaha untuk lebih mengetahui dan memperdalam pengetahuannya

tentang sesuatu tersebut. Apabila individu tersebut berminat besar maka dia akan semakin mudah

untuk mencapai atau memperolehnya.

Dari beberapa pendapat ahli diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa minat adalah

ketertarikan atau kecenderungan seseorang terhadap suatu objek atau aktivitas tertentu. Minat dapat

diekspresikan melalui suatu pernyataan yang menunjukkan bahwa siswa lebih memilih suatu hal

daripada hal lainnya. Minat merupakan alat motivasi utama yang dapat membangkitkan kegairahan

belajar siswa dalam rentang waktu tertentu. Oleh karena itu, guru perlu membangkitkan minat siswa

agar pelajaran yang diberikan mudah dipahami. Menurut Syaiful B. Djamarah (2002:133) beberapa

macam cara yang dapat digunakan oleh guru untuk membangkitkan minat siswa adalah sebagai

berikut:

a. Membangkitkan adanya suatu kebutuhan, artinya siswa diberi masukan bahwa mempelajari

matematika merupakan suatu kebutuhan agar siswa dapat mempelajari pelajaran lainnya

dengan mudah yang berhubungan dengan matematika.

b. Menghubungkan dengan masalah persoalan, pengalaman yang lampau, artinya guru dapat

berbagi pengalaman yang telah ia dapatkan dengan siswa dengan tujuan memunculkan minat

belajar dalam diri siswa.

c. Memberi kesempatan untuk mendapatkan hasil yang baik dengan cara menyediakan

lingkungan belajar yang kreatif dan kondusif.

Page 4: Prosiding Irma Lestari

Proceeding ISBN 978-602-1313-80-0

Makalah dipresentasikan dalam Seminar Education Graduate Regional Conference dengan tema ” Pendidikan Bermutu untuk SDM Berkarakter " pada tanggal 21 Maret 2015 di Konseling Center Universitas Negeri Medan

d. Menggunakan berbagai macam bentuk mengajar misalnya dengan metode pembelajaran

yang bervariasi, fasilitas pembelajaran yang lengkap dan menarik, serta situasi pembelajaran

yang menyenangkan.

Pendekatan problem-posing

Salah satu metode pembelajaran yang dapat memotivasi peserta didik untuk berpikir kritis

sekaligus dialogis, kreatif dan interaktif yakni problem posing atau pengajuan masalah-masalah

yang dituangkan dalam bentuk pertanyaan. Problem posing merupakan model pembelajaran yang

mengharuskan siswa menyusun pertanyaan sendiri atau memecah suatu soal menjadi pertanyaan-

pertanyaan yang lebih sederhana yang mengacu pada penyelesaian soal tersebut.

Problem posing adalah salah satu metode dalam mempelajari matematika yang disarankan

oleh NCTM (National Cauncil of Teacher of Mathematics). Hal tersebut dikemukakan oleh NCTM

karena problem posing merupakan ”The heart of doing mathematics”, inti dari bermatematika. Oleh

karenanya, NCTM (As’ari, 2000: 42) merekomendasikan agar para siswa diberi kesempatan yang

sebesar-besarnya untuk mengalami membuat soal sendiri (problem posing).

Metode problem posing diharapkan memancing peserta didik untuk menemukan

pengetahuan yang bukan diakibatkan dari ketidaksengajaan melainkan melalui upaya peserta didik

untuk mencari hubungan-hubungan dalam informasi yang dipelajarinya. Semakin luas informasi

yang dimiliki akan semakin mudah pula menemukan hubungan-hubungan tersebut. Pada akhirnya,

penemuan pertanyaan serta jawaban yang dihasilkan terhadapnya dapat menyebabkan perubahan

dan ketergantungan pada penguatan luar pada rasa puas akibat keberhasilan menemukan sendiri,

baik berupa pertanyaan atau masalah maupun jawaban atas permasalahan yang diajukan.

Dari sini kita bisa katakan bahwa problem posing merupakan suatu pembentukan soal atau

pengajuan soal yang dilakukan oleh siswa dengan cara membuat soal tidak jauh beda dengan soal

yang diberikan oleh guru ataupun dari situasi dan pengalaman siswa itu sendiri.

Pemilihan dan penerapan metode pembelajaran problem posing ini akan mempengaruhi

cara belajar siswa yang semula cenderung untuk pasif kearah yang lebih aktif. Ini bertujuan untuk

mengembangkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa karena dalam metode problem

posing soal dan penyelesaiaannya dirancang sendiri oleh siswa.

Pada prinsipnya, model pembelajaran problem posing adalah suatu model pembelajaran

yang mewajibkan para siswa untuk mengajukan soal sendiri melalui belajar soal (berlatih soal)

secara mandiri. Dengan demikian, penerapan model pembelajaran problem posing adalah sebagai

berikut.

a. Guru menjelaskan materi pelajaran kepada para siswa. Penggunaan alat peraga untuk

memperjelas konsep sangat disarankan.

b. Guru memberikan latihan soal secukupnya.

c. Siswa diminta mengajukan 1 atau 2 buah soal yang menantang, dan siswa yang bersangkutan

harus mampu menyelesaikannya. Tugas ini dapat pula dilakukan secara kelompok.

d. Pada pertemuan berikutnya, secara acak, guru menyuruh siswa untuk menyajikan soal

temuannya di depan kelas. Dalam hal ini, guru dapat menentukan siswa secara selektif

berdasarkan bobot soal yang diajukan oleh siswa.

e. Guru memberikan tugas rumah secara individual.

(Suyitno, 2004:31-32).

Silver dan Cai mnjelaskan bahwa pengajuan soal mandiri dapat diaplikasikan dalam 3

bentuk aktivitas kognitif matematika yakni sebagai berikut.

a. Pre solution posing

Pre solution posing yaitu siswa membuat pertanyaan berdasarkan pernyataan yang dibuat oleh

guru.

Contoh 1 :

“ Dari 85 anak diketahui hanya 12 anak yang tidak menyukai biskuit dan cokelat, 45 anak

menyukai cokelat, dan 38 anak menyukai biskuit”

Kemungkinan pertanyaan yang dibuat oleh siswa sebagai berikut.

1) Berapakah banyaknya anak yang hanya menyukai biskuit?

2) Berapakah banyaknya anak yang hanya menyukai cokelat?

Page 5: Prosiding Irma Lestari

Proceeding ISBN 978-602-1313-80-0

Makalah dipresentasikan dalam Seminar Education Graduate Regional Conference dengan tema ” Pendidikan Bermutu untuk SDM Berkarakter " pada tanggal 21 Maret 2015 di Konseling Center Universitas Negeri Medan

3) Berapakah banyaknya anak yang menyukai biskuit dan cokelat?

Contoh 2 :

Tentukan persamaan garis yang melalui (2,4) dan sejajar dengan garis 3x + 2y =10!”.

Untuk mengetahui bagaimana siswa menyelesaikan soal itu, apakah mereka menguasai soal

tersebut dan bagaimana mereka merencanakan penyelesaian soal itu, maka diberikan tugas:

“ Buatlah soal lain berdasarkan soal di atas yang mengarah pada penyelesaian soal itu.”

Kemungkinan soal-soal yang dibuat siswa adalah:

a. Apakah syarat agar dua garis dikatakan sejajar?

b. Berapakah gradien garis 2x + 3y - 8 = 0?

c. Bagaimana membuat persamaan garis, bila diketahui sebuah titik dan gradiennya?

b. Within solution posing

Within solution posing yaitu siswa memecah pertanyaan tunggal dari guru menjadi sub-sub

pertanyaan yang relevan dengan pertanyaan guru.

Contoh 1 :

“Dari 85 anak diketahui hanya 12 anak yang tidak menyukai biskuit dan cokelat, 45 anak

menyukai cokelat, dan 38 anak menyukai biskuit. Berapakah banyaknya anak yang menyukai

biskuit dan cokelat?”

Kemungkinan pertanyaan yang dibuat oleh siswa sebagai berikut.

a) Berapakah banyaknya anak yang hanya menyukai cokelat?

b) Berapa banyaknya anak yang hanya menyukai biskuit?

Contoh 2:

Diketahui soal sebagai berikut.

Sebanyak 20.000 galon air diisikan ke kolam renang dengan kecepatan tetap. Setelah 4 jam

pengisian, isi kolam renang tersebut menjadi 5/8 nya. Jika sebelum pengisian kolam tersebut

telah berisi seperempatnya, berapakah kecepatan aliran air tersebut?

Soal-soal yang mungkin disusun siswa yang dapat mendukung penyelesaian soal tersebut adalah

sebagai beirkut.

a. Berapa galon air di kolam renang ketika kolam itu berisi seperempatnya?

Berapa galon air di kolam renang ketika kolam renang itu bersisi 5/8 nya?

b. Berapakah perubahan banyaknya air dalam kolam renang setelah 5 jam pengisian?

c. Berapakah rata-rata perubahan banyaknya air di kolam renang itu?

d. Berapa waktu yang diperlukan untuk mengisi kolam renang tersebut sampai penuh?

c. Post solution posing

Post solution posing yaitu siswa membuat soal yang sejenis, seperti yang dibuat oleh guru. Jika

guru memberikan pertanyaan sebagai berikut.

Contoh 1:

“Dari 85 anak diketahui hanya 12 anak yang tidak menyukai biskuit dan cokelat, 45 anak

menyukai cokelat, dan 38 anak menyukai biskuit

1) Berapakah banyaknya anak yang hanya menyukai biskuit?

2) Berapakah banyaknya anak yang hanya menyukai cokelat?

3) Berapakah banyaknya anak yang menyukai biskuit dan cokelat?”

Kemungkinan pertanyaan yang dibuat oleh siswa sebagai berikut.

Dari 42 siswa, 45 siswa menyukai atletik, 38 siswa menyukai senam, dan hanya 8 siswa

yang tidak menyukai atletik dan senam.

1) Berapakah banyaknya anak yang hanya menyukai atletik?

2) Berapakah banyaknya anak yang hanya menyukai senam?

3) Berapakah banyaknya anak yang menyukai atletik dan senam?

Contoh 2 :

Luas persegi panjang dengan panjang 2 m dan lebar 4 m adalah 8 m2 .

Page 6: Prosiding Irma Lestari

Proceeding ISBN 978-602-1313-80-0

Makalah dipresentasikan dalam Seminar Education Graduate Regional Conference dengan tema ” Pendidikan Bermutu untuk SDM Berkarakter " pada tanggal 21 Maret 2015 di Konseling Center Universitas Negeri Medan

Soal-soal yang dapat disusun adalah sebagai berikut.

a. Bagaimana jika lebarnya bukan 2 m tetapi 3 m? Bagaimana luasnya?

b. Apa yang terjadi jika mengubah panjang dan lebarnya masing-masing menjadi dua kali?

Apakah luasnya juga akan menjadi dua kali luas semula?

c. Bagaimana jika kita mengubah panjangnya menjadi dua kali dan mengurangi lebarnya

menjadi setengahnya? Apakah luasnya akan tetap?

d. Tentukan panjang dan lebar suatu persegi panjang yang luasnya sama dengan dua kali

luas persegi panjang semula.

Dalam model pembelajaran pengajuan soal (problem posing) siswa dilatih untuk

memperkuat dan memperkaya konsep-konsep dasar matematika. Dengan demikian, kekuatan-

kekuatan model pembelajaran problem posing sebagai berikut.

a. Memberi penguatan terhadap konsep yang diterima atau memperkaya konsep-konsep dasar.

b. Diharapkan mampu melatih siswa meningkatkan kemampuan dalam belajar.

c. Orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah

pemecahan masalah.

(Suyitno, 2003:7-8).

Langkah-Langkah Pembelajaran Problem Posing

Langkah-langkah pembelajaran menggunakan pendekatan problem posing menurut

Budiasih dan Kartini dalam Syarifulfahmi adalah sebagai berikut:

1. Membuka kegiatan pembelajaran.

2. Menyampaikan tujuan pembelajaran.

3. Menjelaskan materi pelajaran.

4. Memberikan contoh soal.

5. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang hal-hal yang belum jelas

6. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk membentuk soal dan menyelesaikannya

7. Mengarahkan siswa untuk membuat kesimpulan

8. Membuat rangkuman berdasarkan kesimpulan yang dibuat siswa.

9. Menutup kegiatan pembelajaran.

Menurut Srini M. Iskandar dalam Syarifulfahmi, batasan mengenai pembentukan soal

adalah sebagai berikut:

1. Perumusan ulang soal yang sudah ada dengan perubahan agar menjadi lebih sederhana dan

mudah dipahami dalam rangka memecahkan soal yang rumit.

2. Perumusan atau pembentukan soal yang berkaitan dengan syarat-syarat pada soal yang telah

diselesaikan dalam rangka mencari alternatif pemecahan yang lain.

3. Perumusan atau pembentukan soal dari kondisi yang tersedia, baik dilakukan sebelum, ketika,

atau sesudah penyelesaian soal.

Adapun kondisi dalam pembentukan soal, menurut Srini M. Iskandar dalam Syarifulfahmi

dibagi menjadi tiga golongan yakni:

1. Kondisi bebas, yakni jika kondisi tersebut memberi kebebasan sepenuhnya kepada siswa untuk

membentuk soal, karena siswa tidak diberi kondisi yang harus dipenuhi.

2. Kondisi semi terstruktur, yakni jika siswa diberi suatu kondisi dengan menggunakan

pengetahuan yang dimilikinya.

3. Kondisi terstruktur, adalah jika kondisi yang digunakan berupa soal atau penyelesaian soal.

Menurut Terry Dash dalam Syarifulfahmi, penyusunan soal-soal baru dapat digali dari soal

yang sudah ada. Artinya, soal yang sudah ada dapat menjadi bibit untuk soal baru dengan mengubah,

menambah, atau mengganti satu atau lebih karakteristik soal yang terdahulu. Adapun langkah-

langkahnya sebagai berikut:

1. Change the numbers

Salah satu cara membuat soal dari soal yang sudah ada adalah dengan mengubah bilangan.

2. Change the operations

Cara lain membuat soal dari soal yang sudah tersedia adalah dengan mengubah operasi

hitungnya.

Page 7: Prosiding Irma Lestari

Proceeding ISBN 978-602-1313-80-0

Makalah dipresentasikan dalam Seminar Education Graduate Regional Conference dengan tema ” Pendidikan Bermutu untuk SDM Berkarakter " pada tanggal 21 Maret 2015 di Konseling Center Universitas Negeri Medan

Kemampuan siswa dalam membentuk soal dapat dikembangkan dengan cara guru

memberikan beberapa contoh seperti berikut:

1. Membentuk soal dari soal yang sudah ada atau memperluas soal yang sudah ada.

2. Menyusun soal dari suatu situasi, atau berdasarkan gambar di majalah atau surat kabar, atau

membuat soal mengenai benda-benda konkret yang dapat dimanipulasi (dikutak-kutik).

3. Memberikan soal terbuka.

4. Menyusun sejumlah soal yang mirip tetapi dengan taraf kesilitan yang bervariasi.

Kegiatan yang berkaitan dengan pembentukan soal, secara teknis yang dapat dilakukan

adalah:

1. Siswa menyusun soal secara individu. Dalam penyusunan soal ini, hendaknya siswa tidak asal

menyusun soal, akan tetapi juga mempersiapkan jawaban dari soal yang sedang disusunnya.

Dengan kata lain, setelah siswa tersebut dapat membuat soal, maka dia juga dapat

menyelesaikan soal tersebut.

2. Siswa menyusun soal. Soal yang telah tersusun tersebut kemudian diberikan kepada teman

sekelasnya. Distribusi soal-soal yang telah tersusun tersebut dapat menggunakan cara

penggeseran atau dengan cara bertukar dengan teman semeja. Artinya, distribusi soal tersebut

secara individu.

3. Agar lebih bervariasi dan lebih menumbuhkan sikap aktif, interaktif, dan kretaif, maka dapat

dibentuk kelompok-kelompok kecil untuk menyusun soal dan soal tersebut didistribusikan

kepada kelompok lain untuk diselesaikan. Soal dari kelompok tersebut, diharapkan tingkat

kesulitannya lebih tinggi dari soal yang disusun secara individu.

PEMBAHASAN

Berbagai kajian analitis maupun hasil studi yang menunjukkan keterkaitan antara

kemampuan pembuatan soal (problem posing) dan kemampuan pemecahan masalah dapat dijadikan

dasar bagi guru untuk menerapkan problem posing dalam pembelajaran dalam rangka

mengembangkan kemampuan pemecahan masalah. Pembelajaran demikian perlu dilakukan secara

terus-menerus untuk memperoleh hasil optimal. Guru dapat memvariasikan berbagai metode

problem posing sebagaimana diuraikan di atas guna lebih memperkaya pembelajaran tersebut.

Berdasarkan kajian teori yang telah dikemukakan di atas, pendekatan problem posing telah

diterapkan di beberapa sekolah, misalnya penelitian yang berjudul “Penggunaan Metode Problem

Posing dalam Proses Pembelajaran Matematika” oleh Aryanti Aeni Hidayah (2013) menyimpulkan

bahwa Pembelajaran matematika dengan metode problem posing mampu membuat siswa aktif dan

kreatif, hal ini terlihat dari kemampuan siswa mengembangkan soal matematika sendiri berdasarkan

informasi yang diberikan. Siswa mampu mengolah dan mengeksplorasikan informasi yang ada dan

mengajukan masalah atau soal-soal matematika yang dapat diselesaikan. Begitu pula penelitian yang

dilaksanakan oleh Gilang Anjar Permatasari (2013), “ Keefektifan Model Pembelajaran Problem

Posing Dengan Pendekatan PMRI Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Di Smp Negeri 2

Karanganyar Kabupaten Demak “ menyimpulkan bahwa model pembelajaran Problem Posing

efektif terhadap kemampuan berpikir kreatif peserta didik kelas VII SMP Negeri 2 Karanganyar

Kabupaten Demak tahun pelajaran 2012/ 2013 pada materi pokok segiempat. Selain itu Hardita Citra

Hutama (2014) juga mengembangkan melalui penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Pendekatan

Problem Posing Terhadap Pemahaman Konsep Matematika Siswa”, hasilnya menyimpulkan bahwa

pemahaman konsep matematika siswa yang diajarkan dengan pendekatan problem posing lebih

tinggi daripada pemahaman konsep matematika siswa yang diajarkan dengan pendekatan

ekspositori. Beberapa penelitian yang telah penulis ungkapkan di atas menunjukkan bahwa

pendekatan problem posing masih banyak diterapkan pada pembelajaran Matematika.

Kelebihan dan Kekurangan Problem Posing

Dalam setiap pembelajaran pasti ada sisi kelebihan ataupun keunggulan dan kekuruangan

atau kelemahan. Begitu juga didalam pembelajaran melalui pendekatan problem posing mempunyai

beberapa kelebihan dan kelemahan menurut Rahayuningsih, 2002:18 dalam Sutisna, diantaranya

adalah:

Page 8: Prosiding Irma Lestari

Proceeding ISBN 978-602-1313-80-0

Makalah dipresentasikan dalam Seminar Education Graduate Regional Conference dengan tema ” Pendidikan Bermutu untuk SDM Berkarakter " pada tanggal 21 Maret 2015 di Konseling Center Universitas Negeri Medan

a. Kelebihan Problem Posing

1) Kegiatan pembelajaran tidak terpusat pada guru, tetapi dituntut keaktifan siswa.

2) Minat siswa dalam pembelajaran matematika lebih besar dan siswa lebih mudah memahami

soal karena dibuat sendiri.

3) Semua siswa terpacu untuk terlibat secara aktif dalam membuat soal.

4) Dengan membuat soal dapat menimbulkan dampak terhadap kemampuan siswa dalam

menyelesaikan masalah.

5) Dapat membantu siswa untuk melihat permasalahan yang ada dan yang baru diterima

sehingga diharapkan mendapatkan pemahaman yang mendalam dan lebih baik,

merangsang siswa untuk memunculkan ide yang kreatif dari yang diperolehnya dan

memperluan bahasan/ pengetahuan, siswa dapat memahami soal sebagai latihan untuk

memecahkan masalah.

b. Kekurangan Problem Posing

1) Persiapan guru lebih karena menyiapkan informasi apa yang dapat disampaikan

2) Waktu yang digunakan lebih banyak untuk membuat soal dan penyelesaiannya sehingga

materi yang disampaikan lebih sedikit.

KESIMPULAN

Pembelajaran dengan pendekatan problem posing tidak dapat dilepaskan dari kegiatan

memecahkan masalah/soal, karena memecahkan masalah adalah salah satu unsur utama dalam

pembelajaran matematika.Dalam problem posing, siswa diberi kegiatan untuk membuat/membentuk

soal kemudian menyelesaikan/memecahkan soal tersebut sesuai dengan konsep atau materi yang

telah dipelajari.

Persoalan yang harus dipecahkan oleh siswa datang dari siswa itu sendiri atau siswa yang

lain dalam Pembelajaran menggunakan pendekatan problem posing. Pemecahan masalah memacu

fungsi otak anak, mengembangkan daya pikir secara kreatif untuk mengenali masalah, dan mencari

alternatif pemecahannya.

Proses pemecahan masalah terletak pada diri pelajar, variabel dari luar hanya merupakan

intruksi verbal yang bersifat membantu atau membimbing pelajar untuk memecahkan masalah.

Memecahkan masalah dapat dipandang sebagai proses dimana pelajar menemukan kombinasi-

kombinasi aturan yang telah dipelajarinya lebih dahulu kemudian menggunakannya untuk

memecahkan masalah. Namun memecahkan masalah tidak hanya menerapkan aturan-aturan yang

telah diketahui tetapi juga memperoleh pengetahuan baru.

Berdasarkan analisis terhadap kajian teori dan beberapa penelitian yang telah dilakukan

oleh beberapa peneliti maka dapat penulis simpulkan bahwa Model pembelajaran problem posing

dapat digunakan sebagai salah satu usaha peningkatan kemampuan siswa aktif, karena dari hasil

penelitian menunjukkan siswa cenderung terdorong untuk aktif selama proses pembelajaran

matematika.

SARAN

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dan pentingnya pengembangan pembelajaran

matematika, ada beberapa saran yang dapat diperhatikan.

1. Secara teoritis pengajuan soal atau masalah (problem posing) merupakan aktivitas yang

penting dan mempunyai pengaruh positif terhadap proses pembelajaran matematika, sehingga

perlu ada perhatian khusus terhadap peran problem posing dalam meningkatkan kualitas proses

pembelajaran matematika.

2. Problem posing suatu pendekatan dalam pembelajaran yang terbilang masih baru berada di

Indonesia, yaitu sekitar tahun 2000 baru masuk ke Indonesia. Oleh karena itu diharapkan

implementasi dari model pembelajaran ini, karena dengan pendekatan problem posing siswa

dilatih untuk memperkuat dan memperkaya konsep-konsep dasar matematika. Selain itu

pembelajaran problem posing merupakan keterampilan mental, siswa menghadapi suatu

kondisi dimana diberikan suatu permasalahan dan siswa memecahkan masalah tersebut.

Page 9: Prosiding Irma Lestari

Proceeding ISBN 978-602-1313-80-0

Makalah dipresentasikan dalam Seminar Education Graduate Regional Conference dengan tema ” Pendidikan Bermutu untuk SDM Berkarakter " pada tanggal 21 Maret 2015 di Konseling Center Universitas Negeri Medan

DAFTAR PUSTAKA

Aryanti dan Leonard. (2013). Penggunaan Metode Problem Posing Dalam Proses Pembelajaran

Matematika. Majalah Ilmiah Faktor Vol. 1 No. 1 Januari 2013

As’ari, Abdul Rahman.2000. Pembelajaran matematika dengan pendekatan problem posing. Buletin

Pelangi Pendidikan, 17(2), 42–45.

Djamarah, S.B. 2002. Psikologi belajar. Jakarta : Rineka Cipta.

Hurlock, E.B. 1992. Psikologi Perkembangan. Jakarta : Erlangga

Munandar, U. 2009.Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: PT.Rineka Cipta.

Sudarman.2007. Problem Based Learning : Suatu Model Pembelajaran untuk Mengembangkan dan

Meningkatkan Kemampuan Memecahkan Masalah, Jurnal Pendidikan Inovatif , 2 : 68-73

Sutisna. (2010). Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran dengan Pendekatan Problem Posing.

[Online]. Tersedia : http://sutisna.com/artikel/artikel - kependidikan/kelebihan - dan -

kelemahan-pembelajaran-dengan-pendekatan-problem-posing/ (01 Maret 2015).

Suyitno, A. 2004. Dasar-dasar Proses Pembelajaran Matematika. Semarang : Pendidikan

Matematika FMIPA UNNES.

Syarifulfahmi. (2009). Pendekatan Pembelajaran Problem Posing. [Online]. Tersedia ;

http://syarifulfahmi.blogspot.com/2009/09/pendekatan-pembelajaran-problem-

posing.html. (21 Februari 2015).

Winkel W.S. 1983. Psikologi dan Evaluasi Belajar. Jakarta : PT. Gramedia.